Ancene kudu mencep ngene opo piye? begitu tanyaku pada diriku sendiri dalam bahasa Espiritu Santo. Ya, tentu saja bukan. Apa aku sedang ingin ingat bahwa aku selalu kesepian atau bagaimana, sampai berbicara pada diriku sendiri begitu rupa, dalam bahasa ibuku. Betapa tidak sepi ketika aku bertemu dengan Sang Penguasa, Gusti Pangeran karya Niccolo yang bukan Polo, yang tidak berkelana jauh ke timur bersama Maffeo dan Marco. Membuatku rindu kepada Bapak, apalagi denganku memulai sebuah lelucon begini. Hampir saja 'ku bawa pulang tadi bersama Mikhail.
Buku adalah cinta pertamaku sampai aku jadi penulis buku begini. Namun aku sudah sangat terlambat. Seandainya 'ku turuti kata-kata Sarwendo pada ketika umurku masih 19 dulu, bahwa mengarang itu gampang, mungkin tidak akan setelat ini. Namun aku menurutinya kok. Sejak itu aku tidak pernah berhenti mengarang. Apapun 'ku karang, dari kebangsaan Indonesia di awal Abad ke-21 yang waktu itu belum, kemenangan absolut, sampai kekuatan pikiran. Ah, aku memang selalu mengarang. Debut kepengaranganku sudah mulai sejak kuning-kuning itu.
Ngomong-ngomong apa yang dipikirkan Mayor Harmin Sarana, si dokter batalyon infanteri marinir itu, ketika itu. Mengapa sampai ada omong kosong Sarwendo, yang gambar sampulnya sungguh menjengkelkan, di kantornya. Apapun itu, baiklah aku melanjutkannya di pavilyun, yang di pintunya ada stiker fly navy tapi seingatku gambarnya bendera Australia. Lantas aku, seperti Andri Wahyudi, harus mengikuti jejak Mentor Gering Sapto Sambodo atau Mentor Kicky Salvachdie begitu. 'Ku rasa tidak mau aku. Lebih masuk akal bagiku 'ngikut jejak Roosevelt bersaudara-sepupu.
Akhirnya memang di kaca jendela atau di manapun memang tidak pernah ada stiker Universitas Indonesia apapun, manapun, bahkan Universiteit Maastricht dan Universiteit van Amsterdam, karena stiker-stiker memang konyol. Maafkan aku, pembuat stiker dan penjualnya. Bahkan sekeren apapun Uilenstede apalagi Kraanspoor hanya untuk ditahankan. Meja hitam itu menemaniku setahun lebih empat bulan, terlebih dengan benderang gemintang hatinya Lyodra dan Tiara. Sanggupkah diriku ini mengulangi, maukah. Cantik minta ke sana kembali. Jika memang rejeki.
Haruskah 'ku teteskan air mantap di pipit. Haruskah 'ku curahkan s'gala isi kantong menyan. Oh, haruskah kau 'ku peluk dan tak 'ku lepas lagi. Agar tiada pernah ada kata berpisah, 'duh 'duh 'duh 'duh 'duh 'duh (gancet dong). Coba, malah ini yang terpikir olehku begitu bangun keesokan harinya. Aku mengitiki dalam keremangan pagi, dan ini bukan kali pertama. Aku bahkan pernah mengitiki di pagi hari musim panas di Kees Broekman dengan jendela 'ku biarkan terbuka sedikit. Kalau tidak salah akibatnya kemasukan gelombang kamikaze. Amit-amit segala sesuatunya.
Apa semengerikan itu penerbangan panjang ke Amsterdam, tidur dalam keadaan duduk, bangun dalam keadaan duduk. Lagipula hanya sekitar 15-an jam. Apalah artinya. Mungkin jaraknya jangan terlalu dekat. Seminggu terlalu dekat. Seingatku, membutuhkan dua minggu untuk sembuh dari pengar jet dan sebaliknya itu yang mana tahan. Jam enam pagi di Cikumpa sama dengan jam 12 tengah malam di Belanda. Uah, sungguh amit-amit aku tidak mau mengulanginya. Ini saja sekarang aku bangun tidak pernah begitu segar, apalagi kacau irama sirkadian gegara pengar jet.
Di luar ada seorang ibu-ibu berjalan naik turun Blok M yang jalannya memang manurung ke bawah sampai M14 sebagai titik terendahnya. Jika hujan deras, jalan depan rumah bisa berubah menjadi sungai yang deras alirannya. Tiada guna meratapi apapun termasuk gerisik dauh bambu. Yang berat dari kehidupan di dunia ini memang jika harus berurusan dengan orang yang terlalu banyak. Jika sekadarnya saja, maka sepenuhnya dapat tertahankan. Mengapa tidak pernah pas. Di Amsterdam sana terlalu sedikit sampai kesepian. Di Depok sini terlalu banyak sampai sakit kepala.
Buku adalah cinta pertamaku sampai aku jadi penulis buku begini. Namun aku sudah sangat terlambat. Seandainya 'ku turuti kata-kata Sarwendo pada ketika umurku masih 19 dulu, bahwa mengarang itu gampang, mungkin tidak akan setelat ini. Namun aku menurutinya kok. Sejak itu aku tidak pernah berhenti mengarang. Apapun 'ku karang, dari kebangsaan Indonesia di awal Abad ke-21 yang waktu itu belum, kemenangan absolut, sampai kekuatan pikiran. Ah, aku memang selalu mengarang. Debut kepengaranganku sudah mulai sejak kuning-kuning itu.
Ngomong-ngomong apa yang dipikirkan Mayor Harmin Sarana, si dokter batalyon infanteri marinir itu, ketika itu. Mengapa sampai ada omong kosong Sarwendo, yang gambar sampulnya sungguh menjengkelkan, di kantornya. Apapun itu, baiklah aku melanjutkannya di pavilyun, yang di pintunya ada stiker fly navy tapi seingatku gambarnya bendera Australia. Lantas aku, seperti Andri Wahyudi, harus mengikuti jejak Mentor Gering Sapto Sambodo atau Mentor Kicky Salvachdie begitu. 'Ku rasa tidak mau aku. Lebih masuk akal bagiku 'ngikut jejak Roosevelt bersaudara-sepupu.
Akhirnya memang di kaca jendela atau di manapun memang tidak pernah ada stiker Universitas Indonesia apapun, manapun, bahkan Universiteit Maastricht dan Universiteit van Amsterdam, karena stiker-stiker memang konyol. Maafkan aku, pembuat stiker dan penjualnya. Bahkan sekeren apapun Uilenstede apalagi Kraanspoor hanya untuk ditahankan. Meja hitam itu menemaniku setahun lebih empat bulan, terlebih dengan benderang gemintang hatinya Lyodra dan Tiara. Sanggupkah diriku ini mengulangi, maukah. Cantik minta ke sana kembali. Jika memang rejeki.
Haruskah 'ku teteskan air mantap di pipit. Haruskah 'ku curahkan s'gala isi kantong menyan. Oh, haruskah kau 'ku peluk dan tak 'ku lepas lagi. Agar tiada pernah ada kata berpisah, 'duh 'duh 'duh 'duh 'duh 'duh (gancet dong). Coba, malah ini yang terpikir olehku begitu bangun keesokan harinya. Aku mengitiki dalam keremangan pagi, dan ini bukan kali pertama. Aku bahkan pernah mengitiki di pagi hari musim panas di Kees Broekman dengan jendela 'ku biarkan terbuka sedikit. Kalau tidak salah akibatnya kemasukan gelombang kamikaze. Amit-amit segala sesuatunya.
Apa semengerikan itu penerbangan panjang ke Amsterdam, tidur dalam keadaan duduk, bangun dalam keadaan duduk. Lagipula hanya sekitar 15-an jam. Apalah artinya. Mungkin jaraknya jangan terlalu dekat. Seminggu terlalu dekat. Seingatku, membutuhkan dua minggu untuk sembuh dari pengar jet dan sebaliknya itu yang mana tahan. Jam enam pagi di Cikumpa sama dengan jam 12 tengah malam di Belanda. Uah, sungguh amit-amit aku tidak mau mengulanginya. Ini saja sekarang aku bangun tidak pernah begitu segar, apalagi kacau irama sirkadian gegara pengar jet.
Di luar ada seorang ibu-ibu berjalan naik turun Blok M yang jalannya memang manurung ke bawah sampai M14 sebagai titik terendahnya. Jika hujan deras, jalan depan rumah bisa berubah menjadi sungai yang deras alirannya. Tiada guna meratapi apapun termasuk gerisik dauh bambu. Yang berat dari kehidupan di dunia ini memang jika harus berurusan dengan orang yang terlalu banyak. Jika sekadarnya saja, maka sepenuhnya dapat tertahankan. Mengapa tidak pernah pas. Di Amsterdam sana terlalu sedikit sampai kesepian. Di Depok sini terlalu banyak sampai sakit kepala.


No comments:
Post a Comment