Coleman coro, co Coleman sudah tahu apa, tinggal lagi hantu Coleman a la koq jijik jijik clegak cleguk. Di siang hari bermendung yang panasnya Masya Allah seperti dalam kukusan ini, 'ku rasa aku tahu mengapa Coleman. Apa lagi kalau bukan Gary Coleman di Different Strokes. Kolaborasi Ireng Maulana dan Rafika Duri dalam membesut Bossanova Indonesia tentu tidak pernah punya, tapi memang terjadi di waktu-waktu paling gemilang dalam hidupku, yakni di awal 1980-an; bersamaan dengan tahun-tahun terakhir pelabuhan udara Kemayoran. S'moga damai.
Barusan 'ku katakan kepada anakku yang entah ada di mana, sudahkah kau ucapkan selamat tinggal dengan patut;pada musim penghujan. Tidak, aku tidak akan mengaku penyuka apalagi pecandu hujan, apalagi sampai mengulum kerinduan apalagi kemaluan. Mengulum permen aku pernah, senyum tidak. Jika sampai waktunya, musim penghujan akan begitu saja menghampiri. Seperti sekarang ini, ia beringsut-ingsut pergi menyeret jubahnya yang belepotan lumpur jalanan ibukota. Kebanyakan orang terlalu sibuk untuk berterima kasih padanya. 'Ku tak. Aku gabut, mungkin.
![]() |
| BeatEew berpose di gembatan jantung Gg. Bakti, di atas Ciliwung. Emang Nugroho doang. |
Entah mengapa hari lain di firdaus selalu membawa 'ku ke hari-hari berhujan, mungkin di akhir 1989 awal 1990. Aku tidak ingat rincinya bagaimana. Itukah hari-hari bahagia mandi di pintu air Situ Kelapa Dua, yang kadang ditingkahi kunjungan ke Model untuk membeli permen batangan yang seharusnya mahal hitungannya dulu. Apa aku juga pernah meminta Swang Heng di situ. Apa itu juga waktunya terkadang ke Agung Shop sekadar melihat-lihat alat tulis yang kemungkinan besar tidak 'ku beli. Nyatanya, di sana dua tahun saja. Cukup 'tuk gurat kenangan indah.
"Oh ya", dalam bahasa gaul Jakarta jadul dapat digunakan dalam dua makna. Pertama, sebagai pembuka cerita, terutama ketika baru teringat lagi akan cerita itu. Kedua, ketika menunjukkan ketakjuban seadanya, sekadar sopan-santun, seperti ketika sebenarnya tidak takjub, namun lebih baik menunjukkan ketakjuban sekadar agar lawan bicara merasa senang atau diperhatikan. Itu yang terpikir olehku ketika menyeberangi gembatan jantung di Jalan Bakti yang lebih menyerupai gang tadi, yang ada menghubungkan Jalan Masjid Nurul Huda dengan Jalan R.A. Kartini.
Kali ini, aku menggunakannya untuk makna pertama. Teringatnya [nah, kalau ini ungkapan khas Medan untuk 'ngomong-ngomong' atau 'by the way' dalam Bahasa Inggris] aku belum memperkenalkan BeatEew (baca: bitiu, dengan 'iu' sebagai diftong) dengan patut kepada sidang pembaca (halah!). Tidak apa-apa 'kan aku menamai turangga begitu rupa. Bukan aku pula yang menamai, melainkan Honda dan Ditlantas Polda Metro Jaya. Jadi seperti 'biuti' begitu namun digayakan. Hei, boleh 'kan. Kalau Fenny Bauti boleh masa 'bitiu' tidak boleh. Apapun'tu, pokoknya BeatEew.
Nah, inilah sebuah entri yang patut dalam jagad gondrong yang multi-dimensi ini: meretas ruang, melibas waktu. Di dalamnya aku berenang-renang karena di danau-danau UI aku tak sanggup, sedang kolam renang semuanya berbayar. Aku sudah berhenti berharap pada apapun di dunia ini, kecuali satu khayalan yang 'ku pelihara selama anak-anak bapak-ibuku, ya, adik-adikku, terutama yang dua itu, masih ada di dalamnya. Untukku sendiri, sedang celana yang baru 'ku ganti semalam saja sudah sapose meski belum aujubile. Jadi ya biarkan saja. Kau tak tahan, mandi.
'Ku seruput habis teh tarik halia, seperti secangkir wedang jahe rempah kebanyakan gaya seharga hampir Rp 40,000. Diberi sehat, segala puji hanya bagiNya. Diberi kurang sehat, segala sesuatu terjadi atas izinNya. Kembali padamu dari lebih 30 tahun lalu di rumah Ibu Maria Valentina Sri Hartini yang sangat lembut dan penyayang. Seorang ibu guru. Semua ibu guruku begitu tanpa terkecuali, termasuk yang di sekolah hukum tempatku bekerja kini. Bagaimana dengan yang sebaya atau bahkan lebih muda. Mungkin mereka lebih peneliti tinimbang guru, tapi tak mengapa.


No comments:
Post a Comment