Saturday, October 06, 2012

...ini masih tentang Hujan, cinta dan Cinta


Maafkan mulut kotorku, kawan-kawan, tetapi aku benar-benar harus mengatakannya! Terpaksa membaca dan mencoba memahami buku-buku mengenai perdagangan bebas global itu sama seperti dipaksa mengoral penis seorang homoseks. Terpaksa menulis dukungan terhadap perdagangan bebas global itu sama seperti diperkosa, dianal oleh seorang homoseks. Sebenarnya buat apa sih membuat catatan harian? Aku baru tahu bahwa naskah buku harian Anne Frank ternyata ada beberapa versi, yakni (a) versi asli sebagaimana ia tulis sendiri sejak sekitar 1942; (b) versi suntingan Anne Frank sendiri, setelah mendengar siaran radio oleh Gerrit Bolkestein, anggota pemerintah Belanda dalam pembuangan pada 1944, bahwa ia ingin mengumpulkan kesaksian-kesaksian langsung rakyat Belanda selama berada di bawah kekuasaan Jerman yang dituangkan, misalnya, dalam surat atau buku harian; dan, (c) versi suntingan Otto Frank, bapaknya Anne, setelah Anne mati sebelum perang selesai sedangkan bapaknya selamat sampai perang berakhir.

Dan menulis itu bukan pekerjaan gampang. Setidaknya, menghentakkan jari-jari pada tuts kibor itu lebih memakan waktu daripada nyangkem [tuh kan kotor lagi mulutku]. Terlebih lagi, membaca juga bukan perkara gampang, setidaknya, lebih sulit daripada menonton, misalnya. Nah, bayangkan saja, kawan-kawan, untuk dapat menulis sepanjang kira seratusan halaman A4, berapa banyak buku yang harus dibaca? Berapa banyak artikel? Dan homoseks keparat ini memang betul-betul menikmatinya. Ia mendapatkan kenikmatan dari memaksa orang-orang heteroseks memuaskan syahwatnya yang menyalahi ketentuan alam itu. Setiap kuluman, setiap jilatan, ditingkahinya dengan desahan atau geraman, seakan memaksakan pemahamannya yang sakit. Dan ketika ia mulai memaksakan kelamin laknatnya untuk menerobos lubang yang salah, bukan erangan atau jeritan yang membuat birahinya terbakar; melainkan mimik muka yang menahan marah karena perbuatannya itu, tetapi tidak berdaya melakukan apa-apa. Dilaknat Allah kalian semua, penganjur perdagangan bebas global, sama seperti dilaknatnya orang-orang homoseks!

Lalu, bagaimana dengan yang bukan penganjur? Bagaimana mereka yang mendukung semata karena terlalu sederhana berpikir, karena kurang wawasan [ini istilah yang bagus untuk menggantikan "tidak visioner"] atau... kurang cerdas? Itukah yang sedang kuusahakan, mencoba berbagi sudut-pandang dengan mereka ini? Itukah tujuan hidupku? Kebanyakan orang, dari bocah baru lulus SMA sampai ibu-ibu bergelar Profesor, bukanlah merupakan penganjur aktif perdagangan bebas, setidaknya di Indonesia. Kebanyakan mereka sekadar... bagaimana caraku mengatakannya... kurang suka sejarah. Kebanyakan mereka sekadar menjalani hidup seperti apa adanya. Untuk mereka ini, aku berdoa, sebagaimana dan terutama untuk diriku sendiri yang bodoh lagi miskin ini, semoga Allah mengaruniakan petunjuk dan senantiasa melindungi dan menolong, terutama sekali mengampuni jika salah maupun khilaf, dalam menjalani hari-hari di akhir jaman yang penuh fitnah ini. Amin. Kasihanilah kami, Ya Allah... kasihani... [mengguguk]

Jadi buat apa menulis buku harian? Terus-terang, aku belum pernah membaca sendiri buku harian Anne Frank yang begitu terkenal itu. Kini padaku ada buku itu, akan kucoba membacanya, daripada terus-menerus membaca Teriakan Perangnya Leon Uris, seorang Yahudi juga. Ada yang pernah berkata, atau mengatakan padaku, bahwa Hitler sengaja menyisakan orang Yahudi, tidak semuanya dibasmi, agar umat manusia tahu betapa tidak bergunanya mereka, betapa mudarat saja yang bisa mereka bawa. Hah! Konspirasi. Tidaklah. Kalau tidak salah sudah pernah kutulis juga di sini, aku menolak percaya bahwa ada suku bangsa tertentu yang memang tercipta untuk membuat onar saja di muka bumi. [lalu Yakjuj Makjuj itu apa?] Segala keonaran ini, begitulah yang kupercayai, disebabkan oleh kerakusan, ketamakan. Rakus dan tamak akan apapun. Dan siapapun, dari suku bangsa apapun, dapat saja menjadi rakus, menjadi tamak. Kini, rakus atau tamak disebut dengan istilah lain: rasional. Untunglah aku irasional, jadi aku tidak perlu khawatir menjadi rakus.

Jadi buat apa menulis catatan harian, Anne?

Friday, October 05, 2012

Sebentar Lagi Mengajar Perdata Dagang


Jadi, tadi setelah shalat Jumat, Dita tiba-tiba menghampiri kubikelku dan memberitahukan kalau ada mahasiswa mencariku. Mereka, katanya, ingin bertanya mengenai UU BPJS. Ha?! Apaan tuh? sahutku. Itu Bang, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. Kenapa tanya ke saya? Abang kan ngajar macem-macem, jadi mungkin yang ini tahu juga. What?! Begitulah reputasiku telah terbentuk. Mengajar apa saja. So much about being Dosen Inti Pengajaran. Kini sudah jam 15.02, yang berarti kurang dari satu jam lagi aku harus mengajar mata kuliah Hukum Perdata Dagang di Vokasi Program Studi Administrasi Perkantoran dan Sekretari. Aku tidak pernah menyangka akan mengatakan ini, tapi, menilik keadaanku kini, memang hanya ini yang dapat kukatakan.

Aku hanya sekrup kecil dalam sistem yang besar dan tua ini... Tambahan lagi, Khatib tadi berbicara mengenai menegur kemunkaran, dengan tangan, dengan lidah, dengan hati. Tegurlah dengan tangan, selama tanganmu tidak terikat. Bila tanganmu terikat, tegur dengan lidah, selama lidahmu belum terpotong. Jika lidahmu terpotong, maka camkan dalam hati bahwa itu adalah kemunkaran. Apa yang kuhadapi kini... aku bahkan tidak tahu dan tidak berani mengatakan apakah ini kemunkaran atau bukan. Mungkin yang lebih tepat adalah aku sudah apatis. Masa bodoh. Sesuatu sikap yang sungguh mudah saja bagiku. Aku hanya mencoba bertahan hidup. Standar hidupku, kurasa, naik sedikit, tetapi memang tidak turun. Aku tidak terlalu suka sekali makan sekarang. Perutku mudah sakit kalau diisi terlalu banyak. Lainnya, aku tidak ingin apa-apa.

Kirov reporting. Airship ready. Bombardier to your station.
Baru saja selesai mengajar perdata dagang, sok-sokan menembus hujan, celana jadi lembab dingin begini. Francis Goya mendentingkan Concerto D'Aranjuez. Akhirnya hujan juga, hujan lagi. Hujan selalu membawa suasana hati yang khas, dari tahun ke tahun. Waktu aku kecil di Kemayoran, hujan di sore hari membangunkanku dari tidur siang, sementara Ibu sedang menyetel kaset-kaset. Waktu aku SD di Kebayoran, hujan ketika pulang sekolah membuat talang air di Kompleks AL jadi pancuran yang seru. Waktu aku SMP di Tangerang, hujan menemaniku menghadapi hari-hari penuh kebingungan gara-gara perubahan hormonal. Waktu aku SMP kembali ke Kebayoran, hujan mendinginkan hatiku yang selalu terbakar tekad harus masuk SMA Taruna Nusantara. Waktu aku SMA di Magelang, hujan di senja hari menjelang penurunan Bendera meningkahi Awan Sudiro dan kawan-kawan lain mendengarkan acara curhat-curhatan di GKL FM Radio Magelang.

Waktu aku menjadi anggota Resimen Chandradimuka '94, hujan membasahiku di atas truk ketika bergeser dari satu tempat latihan ke tempat latihan lain, sementara di pinggir jalan sebuah keluarga menonton TV di rumah mereka yang tampak hangat. Waktu aku mengikuti pelayaran Pra Jalasisya sebagai Pratar AAL, hujan membuat laut bergelora di lepas pantai Kalimantan Barat, sebelum menghulu Kapuas ke Pontianak. Waktu aku bertugas sebagai PD Sarasan sebagai seorang Koptar, hujan menemaniku menghabiskan "somay," yakni makanan yang terdiri dari telur rebus, tahu goreng dan bumbu kacang, sambil mendengarkan Roxette menyanyikan What's She Like. Waktu aku menghuni Ruang Karantina Menular, hujan rintik-rintik mengiringi dijemputnya aku oleh, ketika itu, Lettu Yayok Subagyo untuk dibawa ke Rinjani. Waktu aku... hujan...

Hari ini, 67 tahun yang lalu, TKR lahir.

Thursday, October 04, 2012

...akhirnya Menyamai 2008, Tahun yang...


Pagi ini, jam setengah delapan aku sudah sarapan di kantin FHUI. Menunya nasi Padang dengan lauk telor dadar dan terong balado. Jadi, suatu hari dalam kesempatan makan siang, Mas Narno Bapaknya Galan bertanya kepadaku, koq senang makan terong sih, Mas? Itu kan bikin lembek. Saya jawab, justru itu Mas Narno, saya sedang bingung, ini koq selalu keras begini. Jadi, saya makan terong agar tidak terlalu sering keras. Entah makan nasi Padang untuk sarapan ide yang baik atau bukan. Namun, bila tidak nasi Padang, maka pilihan lain adalah bubur ayamnya Ian atau lontong sayur, yang mana aku sedang tidak berselera. Ada satu makanan di kantin FHUI bawah yang aku tidak pernah kepingin, yakni soto mie. Gak satu ding, ayam-ayaman goreng Mas Agus juga aku gak pernah pesan, juga makanan sok Jepang atau Barat yang sering dipesan Mas Wirok itu.

Inilah apartemen itu, dipandang dari Lakenweversplein. Tanda panah kuning menunjukkan jendela kamar I Made Budi Arsika, selanjutnya ke kanan adalah jendela di belakang sofa di ruang tengah, kemudian, ke sisi Timur, jendela kecil di belakang tivi, sebelah kanannya balkon, kemudian jendela kamar Bu Supasti, kemudian jendela kamar Ni Gusti Ayu Dyah Saraswati.
Ini adalah entri yang keenambelas dalam tahun ini, yang berarti menyamai produktivitas 2008, tahun yang... Ya, semua entri pada tahun itu kenyataannya kubuat pada paruh keduanya, ketika aku sedang di Belanda. Duh, Neil Sedaka mendendangkan riang Gadis Nakal lagi... Pertama kali aku mendengar lagu ini di Zwanenstraat, Maastricht, akhir Desember, hari-hari terakhir 2008. Sendirian saja di apartemen itu... dan kutemukan lagu ini di Youtube! Iesu Cristo! They don't make no song merrier than this! Splendid! Sublime! Gadis Nakal, aku jatuh cinta padamu, begitu katanya. Gadis Nakal... Kemudian, ketika itu seingatku sudah Januari 2009, malam hari dan salju baru saja turun dengan lebatnya. Sebelum tidur kuputar dulu lagu Gadis Nakal ini dum dum dum wow wow... Dini hari rombongan backpackers pulang dari keliling Eropa Tengah dan menulariku flu yang sangat parah.

Capuccino Nestle itu selalu manis, yang dari dispenser di Faculty Lounge itu. Manis sekali, yuck! Ya, memang aku sengaja menghindar dari membicarakan 2008 lebih jauh dan lebih rinci. Kini aku punya masa depan membentang di hadapanku, bersama Cantik, satu-satunya yang cukup berarti dari hidup di dunia ini selain, tentu saja, Bapak Ibuku. Lalu Mama. Lalu Tante Lin. Aku tidak tahu apa yang menghadangku esok dari harapan-harapan dan khayalan-khayalan dan kekhawatiran dan... Tafsir Neil Sedaka mengenai Because of You ini manis juga. Termasuk manis. Lamat-lamat manisnya, tidak seperti Capuccino Nestle ini. Oh no! Breaking up is Hard to Do! Aku akan memulai segalanya yang baru. Sama-sekali baru. Meninggalkan masa laluku... dan masa lalunya? Semoga aku bisa melakukannya. Amin. Aku tidak mau menyakitinya. Aku tidak rela kalau ia sampai sakit.

Wednesday, October 03, 2012

Maret dan September Sama-sama Tujuhnya


Aku memulai entri ini ditemani oleh Emma Bunton menyanyikan Samba Musim Panas, di sore hari yang nyaman ini. Setelah menyantap Sarimi Duo Ayam Goreng Kecap yang ternyata porsinya besar sekali itu, aku menikmati secangkir Nescafe Pas. Memang mengetik yang paling enak itu kalau mengenakan celana pendek dan kaos oblong saja, sambil berkeringat-keringat. Kata-kata meluncur begitu saja, secepat peluh yang membanjir di sekujur tubuhku. Jadi tidak perlu AC. Aku perlu ruang kerja yang tepat seperti ini. Jendela terbuka lebar, lebih baik lagi bila pemandangannya lepas ke alam bebas... yah... setidaknya ada satu dua batang pohon, atau dedaunan, pokoknya alam bebas.

Kini Glen Campbell meratap-ratap agar Kekasihnya Kembali. Kasihan dia. Kekasihku tidak pergi. Ada. Ya, ia sedang bepergian, tetapi tidak lama pasti akan kembali. Ia sangat mencintaiku, setidaknya begitulah katanya. Ia harus begitu, karena aku sangat mencintainya. Cinta itu apa? Suatu pagi aku terbangun dengan kata "kapilawastu" terngiang-ngiang dalam benakku. Lucunya, ketika itu aku sama sekali tidak ingat apa itu kapilawastu. Segera saja kugugel ["gugel" adalah sebuah kata serapan dari google, yaitu sebuah kata kerja yang artinya menelusur mengenai sesuatu di Internet] dan ingatlah aku! Itu adalah tempat kelahiran Shiddarta Gautama. Kapilawastu! Jadi, invensi Buddha Gautama berkenaan dengan cara beragama orang sejamannya adalah moderasi; artinya, di tengah-tengah antara mengumbar hawa nafsu dan mengekangnya terlalu ketat.

Tadi aku berhenti sebentar, lalu melanjutkan lagi. Sekarang ditemani dengan seduhan pepermin dari Lipton. Barang mahal. Pepermin murni diseduh saja, tidak ditambah apapun. Gula juga tidak. Wow, sekarang Sleepy Shores! Bagaimana pun itu menyedihkanku. Sedih. Aku tidak punya anak. Kalaupun pernah, aku sudah lupa rasanya ...dan dari apa yang kurasakan sekarang... sepertinya aku tidak akan pernah punya anak. Aku tidak tahu rasanya punya anak ...dan... Aku benci mengajar! Mereka, mahasiswa-mahasiswa itu, seperti biasa, memanggilku "Pak". Mereka seperti anak-anakku. Yang terbaru di antara mereka rata-rata kelahiran 1993. Pada saat itu, aku memang sudah mampu membuahi telur perempuan. Beberapa di antara mereka memanggilku "Bang", mungkin karena aku sok funcky.

Sudah Maghrib. Shalat dulu.

SK Rektor UI tentang Pengangkatan Bono Budi Priambodo menjadi Pegawai BHMN UI
Gimana? Keren 'kan? Biar kuabadikan dalam entri ini. Pada Kamis, 27 September 2012, ketika aku sedang mendongeng mengenai visi Kertanegara, dalam Bahasa Inggris kepada anak-anak KKI 2012, dalam kesempatan Civic Education, aku menerima sms dari Pak Jemari. Bunyinya kurang-lebih begini: SK BHMN sudah bisa diambil di Bagian Kepegawaian. Oh My Goodness... begitu kukatakan ketika aku membacanya. Demikianlah maka aku bergegas ke ruangann Pak Jemari setelah selesai mendongeng. Singkat cerita, akhirnya kulihat juga yang namanya SK BHMN seperti apa. Alhamdulillah. Kata Bu Myra, aku beruntung. Alhamdulillah. Kuadukan pada Bang Andhika. Gue udah tau, katanya. Lalu beliau membuka SIAK saktinya dan menunjukkan bahwa statusku sudah Dosen Inti Pengajaran dengan kewajiban mengajar sekurangnya 18 sks dalam satu tahun.

Senang? ...ya... kesenangan itu sempat ada, kegairahan itu. Beberapa menit saja. Tidak sampai sejam kurasa. Alhamdulillah, aku sudah pegawai BHMN UI. Dulu Sopuwan yang mau jadi pegawai BHMN. Kapan itu? Empat atau lima tahun yang lalu. Aku berstatus pegawai BHMN UI terhitung mulai 1 Maret 2010. Nah, kemarin sore, sehabis mengajar Hukum Lingkungan Kelas B-nya Mbak Wiwiek, aku bertemu dengan anggota MWA Mas Akhmad Mukhtarul Huda, dan beliau menjelaskan mengenai berbagai kemungkinan bentuk UI kelak dan pengaruh masing-masing pada status kepegawaian. Keterangan Mas Huda merupakan satu alasan lagi untuk mengucap Alhamdulillah wa syukrulillah; seraya berdoa untuk kawan-kawan yang lain, terlebih yang sangat mendambakan kejelasan status kepegawaian, agar kelak status mereka juga jelas sejelas-jelasnya. Amin.

Begitu banyak di sekitarku dan padaku sendiri yang harus disyukuri. Sungguh melimpah-ruah belas-kasih sayangMu pada hamba-hambaMu ya Maharaja yang Maha Pemurah. Perasaan nyaman ini, karena mendengarkan Frank Sinatra bertutur mengenai Gelombang, lalu Donny Osmond meratap-ratap mengenai Cinta Kirik, laptop HP 520 yang, entah mengapa, hari ini tidak mengeluarkan bunyi hujan, [mungkin karena baru hujan beneran] udara yang nyaman sehabis hujan... Terlalu banyak alasan di dunia ini untuk merasa nyaman, senang dan bahagia. Kita hanya harus memusatkan perhatian pada alasan-alasan ini, seraya mengabaikan godaan untuk merasa gelisah, sedih dan merana.

Tak pernahkah kau santai
Tak pernahkah kaucoba
mencari nyaman di dalammu

Tak pernahkah kau bahagia
hanya mendengar lagumu sendiri
Tak pernahkah kaubiarkan orang lain menang

Friday, September 21, 2012

Piano untuk Serius, Gitar untuk Senggang


Biasanya kalau aku memulai menulis entri dengan sebuah judul, maka judul itu berarti suatu emosi yang tiba-tiba mendesak dadaku ingin diledakkan, tetapi tidak ada pelampiasan. Sekarang aku sedang duduk di belakang mejaku sebagai staf Sekretaris Fakultas sambil menunggu shalat Jumat. [buset... masih jam 10.52 sudah nunggu shalat Jumat? Padahal PNS pun bukan hahaha] Gara-gara tidak sengaja mendengarkan You are So Beautiful-nya Joe Cocker dimainkan dengan piano, aku jadi ingin main piano! Piano adanya di Yado. Di Faculty Lounge ada sih kibor, tapi malas betul kalau harus menyalakan ampli dan sebagainya itu. Lagipula mau ditegor Bu Eti?! Ya sudahlah, daripada tidak tersalurkan, mending nulis entri di Kemacangondrongan.

Tiap kali aku mendengar atau melihat orang main piano, terlebih yang "terdengar" sederhana seperti You are So Beautiful itu, aku selalu merasa, sepertinya aku juga bisa memainkannya. Dari dahulu aku sudah tahu sih, bahkan Ibuku yang tidak saget main pun pirsa, bahwa tangan kiriku terlalu ribut. Memang masalahnya selalu adalah seberapa sering latihan. Di Yado piano itu mangkrak, masa harus kubawa ke calon rumahku? Kurasa Qoryatussalam Sani yang terlalu Islami itu perlu sedikit sentuhan gerejawi juga. [lho?!] Bukan begitu, maksudku, tidak apa kan kalau sekali-sekali dari rumah di pojokan itu terdengar Have Yourself a Merry Little Christmas ...hohoho. Atau beli kibor? Well, sepertinya tidak seniat itu deh. Meski, kurasa, waktu yang diperlukan untuk menguasai sama banyaknya, lebih baik aku berlatih piano lebih keras, daripada mulai dengan kibor.

Sekarang aku sudah lebih tenang. Entah bagaimana, setibanya di ruanganku aku teringat Laverne and Shirley dan kemudian Mork and Mindy. Entah perasaanku saja atau memang benar begitu, acara TV Amerika pada masa itu jauh lebih sopan daripada yang ada sekarang. Selain itu, aku juga jadi kasihan pada anak jaman sekarang. Jamanku dahulu, TV itu hanya ada pada jam 17.30 sampai 18.00, terkadang ada lagi dari 20.00 sampai 21.00, dan yang paling ekstrim 22.30 sampai 24.00. Sepanjang siang, jika pun ada, adalah suara radio. Banyak waktu senggang untuk melakukan berbagai macam hal. Banyak ruang untuk mengembangkan imajinasi dan kreativitas. Sekarang, seorang anak sejak panca inderanya bekerja sudah menjadi tawanan televisi, dari bangun tidur sampai berangkat tidur! Betapalah beberapa di antara mereka tidak menjadi autis?!

Berikutnya mengenai Qoryatussalam Sani. Seharusnya aku menyertakan gambar-gambarnya di sini. Daerah itu terasa seperti kawasan pedesaan yang sekarat. Sekarat, karena sudah tidak ada lagi kegiatan bertani. Sawah sudah tidak terlihat di mana pun. Akan tetapi, sisa-sisa suasana pedesaan masih sangat terasa. Rumah-rumah gaya pinggiran khas orang Betawi masih mudah ditemui di mana-mana. Mungkin dahulu penghuninya adalah keluarga-keluarga tani. Di sepanjang Jalan Raya KSU yang bersambung dengan Jalan Raya Parung-Serab memang dapat ditemui toko-toko, yang dahulu pada tahun '90-an terdapat di sepanjang Jalan Margonda. Teringat akan hal ini, aku menjadi ngeri sendiri. Aku ngeri membayangkan tempat ini suatu hari nanti akan menjadi seperti Margonda sekarang.

Dahil Sa Iyo, Ako'y Lumigaya

Thursday, September 20, 2012

Pilgub DKI Jakarta #2. Ciyus? Miapa?


Hari ini sedang terjadi, seperti kata media, pertarungan jilid dua Foke-Nara versus Jokowi-Ahok. Kenapa gak Ahok aja sih, Pak Basuki. Saya lebih senang kalau Bapak dipanggil dengan nama itu. Terlebih kalau Bapak suka menggunakan nama Tionghoa Bapak, Zhong Wan Xie. Saya gak tau aturan memanggil nama Tionghoa dengan maksud menghormati, Pak Zhong kah? Mungkin orang banyak mengenalku sebagai seorang yang rasis, tetapi sesungguhnya aku sekadar sangat berminat pada masalah eks-golongan Timur Asing di Indonesia. Ya, khususnya golongan Timur Asing, meski golongan Eropa juga tidak luput dari minatku. Contohnya, aku punya seorang sahabat bernama Januar Jean Merel Bruinier. Ia menggunakan nama yang sangat Eropa, karena bapaknya dan kakeknya pun adalah Bruinier.

Sayangnya, saudara-saudara kita Tionghoa pernah mengalami sejarah yang, menurutku, pahit, ketika mereka harus mengubah nama-nama mereka, bahkan kebiasaan dan budaya mereka secara keseluruhan. Jadilah mereka terpaksa menggunakan nama-nama yang kiranya lebih "terdengar" Indonesia. Padahal, sungguh harus kita hormati dan hargai setinggi-tingginya pilihan saudara-saudara kita ini untuk menyebut diri mereka sendiri Bangsa Indonesia. Sesungguhnya memang itulah hakikat bangsa ini. Bangsa ini lahir dari orang-orang yang dengan penuh sadar mengikuti kata hatinya untuk menyebut diri sendiri orang Indonesia. Saya pun keturunan Jawa, dan secara sadar menyebut diri sebagai Bangsa Indonesia!

Mengenai Pemilihan Gubernur DKI Jakarta itu sendiri, yang jelas aku tidak punya hak pilih, karena aku menurut KTP adalah warga Kampung Gedong, Kemirimuka, Beji, Depok, Jawa Barat. Namun seandainya saja aku punya hak pilih, siapa yang akan kupilih? Foke-Nara atau Jokowi-Ahok. Itulah yang susah... Aku tidak suka Nara karena beliau lulusan Akabri Darat seangkatan SBY lagi. Aku tidak suka Jokowi karena... setuju dengan Mama dan Ibu, bentuknya ora pokro hahaha. Jadi aku mendukung Foke dan Ahok, tapi sayangnya tidak begitu pasangannya. Mungkin kalau pun aku datang ke TPS, akan kucoblos gambar Nara dan Jokowi karena aku tidak suka mereka, dan kubiarkan wajah-wajah Foke dan Ahok tetap mulus baik-baik saja. Akibatnya, kartu suaraku akan menjadi tidak sah pun.


Ciyus? Enelan? Cumpelo? Miapa?
Baru saja Paul Mauriat mengakhiri Mon Amie La Rose-nya. Teringatnya, shubuh tadi aku bermimpi! Jadi, dalam mimpi itu sepertinya aku sedang mau naik pesawat terbang. Suasananya seperti Terminal Bandara Kemayoran ketika masih beroperasi di awal tahun '80-an dulu. Aku berjalan melintasi tarmac dan naik tangga ke dalam pesawat, yang sepertinya B737 tetapi bukan, karena bentuknya lebih kuno lagi. Namun yang kuingat mesinnya dua, meski lebih mirip B737 varian-varian baru. Begitu saja lepas landas dan sejurus kemudian aku terlelap. Entah berapa lama, aku seperti bermimpi [mimpi dalam mimpi] karena aku tiba-tiba melihat kami terbang dekat sekali dengan sisi sebuah bangunan bertingkat dengan jendela-jendala kaca di sisinya. Namun aku tidak melihat kursi-kursi penumpang lain. Aku seperti melayang di udara begitu saja.

Sambil melayang, tetap dalam posisi duduk, aku seperti menembus ke dalam bangunan itu dan melayang di atas dan sekitar orang-orang yang sedang makan. Tampaknya lantai tempat aku "masuk" itu semacam food court. Aku terus melayang menembusi dinding, sampai masuk ke suatu tempat yang seperti dapur, dengan meja-meja stainless steel-nya. Selama aku melayang itu, tampaknya tak seorang pun menyadari kehadiranku. Tiba-tiba saja aku berhenti melayang, terduduk di atas salah satu meja stainless itu, dan seseorang begitu saja menyiramiku dengan sesuatu yang mirip kecap dan saus tomat sampai bajuku kotor penuh dengannya. Ia terkejut bukan alang-kepalang dan meminta-minta maaf sambil berusaha membersihkanku. Kemunculanku tiba-tiba di dapur itu sepertinya menimbulkan kehebohan.

Aku keluar dari dapur itu dalam keadaan kotor dan bau, meski mereka sudah berusaha membersihkanku. Aku celingukan di food court yang ramai, dan entah kenapa aku merasa bahwa ini adalah Madiun. [aku belum pernah ke Madiun!] Sejurus kemudian muncul, dengan tiba-tiba juga, Bayu Mursito dan Budi Pru, dan sepertinya beberapa kawan-kawan alumni SMATN Angkatan II. Mereka menyerbuku dengan pertanyaan sedang apa di sini dan kenapa begitu keadanku. Aku bingung harus menjawab apa, namun seingatku yang keluar dari mulutku adalah, aku ingin bergegas ke Surabaya untuk mengejar penerbangan. Oh ya, aku berangkat dari yang seperti Kemayoran itu pagi-pagi sekali, jadi entah bagaimana kupikir aku bisa mengejar penerbangan dari Surabaya siang ini, dan sepertinya tujuanku adalah Papua.

Tak lama aku menemukan diriku di sebuah bangku besi, sepertinya di pelataran parkir gedung itu, masih kebingungan. Aku mencoba mencari informasi. Tiba-tiba saja BB-ku berbunyi menandakan ada BBM masuk. Ketika kubaca, entah dari siapa aku lupa atau tidak tahu, pesan itu berbunyi: Semoga musibah ini menjadi pelajaran bagi kita semua. Aku terkejut setengah hidup. Otomatis kuraih tabletku entah dari mana, dan ketika kunyalakan yang terlihat di layarnya adalah video sebuah pesawat terbang hancur terbakar di tengah laut entah di mana. Ketika itulah aku tak sengaja mendengar beberapa orang membicarakan berita kecelakaan pesawat terbang yang sepertinya ditayangkan di televisi. Begitulah maka aku terbangun...

Je Pense a Toi

Wednesday, September 19, 2012

Dari Sekian Juta Keindahan Dunia


Mampukah aku menyelesaikannya dalam tiga jam...? Baru saja, setelah shalat Maghrib yang sangat tepat waktu, (...sungguh memalukan!) aku bergegas ke parkiran motor untuk memindahkan Vario ke depan Bagian SDM, daripada ia menginap lagi semalaman di sana dalam keadaan dirantai. Ketika aku keluar dari parkiran, kuperhatikan suasana senja yang sangat sedap. Langitnya mendung berwarna kekuningan. Ini membuatku ingin sekali mengabadikannya sebagai sebuah entri. Setelah selesai dengan yang ini langsung beresin proposal ya. [Whoah, sedap! Sekarang blogger berkelakuan seperti Word!] [Tapi] bagaimana dengan tawaran Bu Arie? Bukuku sendiri. Ikan untuk Nelayan, yang sudah demikian lama mangkrak sehingga semakin banyak saja rincian yang harus dimutakhirkan. Apakah aku punya waktu untuk itu semua? Punya dong. Insya Allah. Meski urusan membangun mood selalu saja memakan waktu sangat lama. Terlalu lama. Namun, menurut apa yang kurasakan saat ini, suasana hatiku tepat untuk menulis!

Purfect! Should've done this early on! Al Jarreau sedang mendendangkan Af telor di tabletku. Subhanallah Alhamdulillah wa Syukru lillah. Apalah yang kurang padaku sekarang ini? Masih ada. Satu yang sangat mengganjal. Semoga Allah memudahkan, melancarkan urusan yang satu itu. Ampuni hamba Ya Allah. Sekarang After the Love is Gone. Sedap betul! Gadget punya. Workstation yang nyaman juga punya. Kurang apa lagi? Tinggal yang satu itu. Bayu Handoko mengaplot sebuah foto dari masa yang telah lama berlalu. Masa yang, sedihnya, tidak ingin kuingat-ingat. Tak ayal aku pun memikirkannya. Lihatlah wajahku di foto itu. Muda... dan dungu! Baru saja ia melakukan suatu kedunguan besar, terus saja ditambahnya dengan berbagai kedunguan yang lebih besar lagi, tak henti-hentinya hingga kini... Ya Rabb... Itulah sebabnya, bertahun-tahun Si Dungu ini hanya mampu membatin jika melihat pasangan muda yang terlihat sakinah, terlebih bersama anak-anaknya... Ya... kedunguan-kedunguankulah yang membuatku tidak berhak merasakannya. Sering aku mendoa untuk mereka. Ikhlaskah? Atau muncul dari hati yang sakit penuh iri dengki?

Almarhumah Withney Houston menyanyikan All at Once, berkumandang dari ZTE LightTab V9 Plus-ku. Dalam foto itu ada Bobby Akuba Gani di sebelah kananku, dan Bayu Handoko di sebelah kiriku. Bayu memberi kepsyen foto ini "Penguasa B1". Menurutku kurang tepat. Jika harus begitu judulnya, maka aku tidak boleh ada di foto itu. Justru Iwan Sofyan-lah yang harus berada di situ, karena ia adalah penguasa Koridor Selatan B1. Bobby dalam foto ini lantas adalah penguasa Koridor Utara, Bayu Koridor Barat... Lhah, siapa penghuni Koridor Timur yaa...? Menurut Adikku, aku mirip sekali dengan Bapak di foto ini. Baguslah itu. Aku anak tertuanya. Pantaslah aku sangat mirip dengannya. Kembali ke masalah penguasa, aku dahulu adalah PTG (Penghuni Terang-terangan Gelap). Maksudnya, sudah jelas penghuni gelap, gaul lagi! Sungguh, suatu masa yang sangat tidak enak jika sampai terkenang. Bahkan episode AAL yang jelas memalukan itu saja lebih tertahankan. Seorang tolol akan kehilangan esok dan justru menggapai kemarin, begitu kata Tante Dionne Warwick. Sekitar sepuluh menit menuju pukul tujuh. Jika aku tidak segera mengakhiri ini, mungkin aku akan kehilangan esok.

Selalu dan selamanya
setiap saat bersamamu
bagiku seakan mimpi
yang menjadi nyata

Sunday, September 16, 2012

Berani Sumpah tapi Takut Mati


Aku sedang berada dalam suatu krisis yang bolehlah disebut sebagai "berani sumpah tapi takut mati." Artinya, jangan percaya omongan lelaki, meski sampai beberapa menit yang lalu aku masih laki-laki. Ya Allah, ampunilah hamba. Ketika orang seperti hamba ini disebut guru, pengajar dan dikatakan mengilhami, membangkitkan, mengilhamkan, mengobarkan... Ya Allah apa jadinya dunia ini... Seandainya saja aku bisa membangkitkan dan atau mengobarkan nafsu syahwat alias birahi mungkin urusannya jauh lebih sederhana. Hamba adalah pemalas dan pendosa. Sedangkan malas itu saja sudah sebuah dosa yang mematikan, masih saja hamba menambahnya dengan dosa-dosa dari berbagai jenisnya. Ya Allah... ampun Illahi Rabbi Ya Ghafur ar-Rahiim ampuni hamba. Langkah menuju taubat an-nasuha harus segera diayun, dan itu Insya Allah adalah besok! Ya Allah, jangan biarkan hamba terus berkubang dalam dosa. Engkau lebih tahu bukan itu yang hamba inginkan. Hamba ingin menjadi hambaMu yang suka mengingatMu, bersyukur padaMu dan menjadi hambaMu yang lebih baik lagi. Kasihanilah hamba Ya Maha Berbelas Kasih, Pencipta Iba dan Belas Kasih itu sendiri...

Terima kasih, Dik, atas perhatianmu. Aku hanya bisa berterima kasih dan berdoa, memohon ampun untuk kita dan terutama untukku. Dalam kesempatan ini perlu juga kucatat bahwa kemarin, Sabtu 15 September 2012, Parlindungan Harahap, kawanku seangkatan FHUI '96 telah berpulang ke hadiratNya pada usia yang belum genap 35 tahun, kabarnya karena menderita sakit ginjal. Semoga Allah menerima semua amalnya, melipatgandakan pahalanya, mengampuni dan menghapuskan semua dosanya, melapangkan kuburnya, sedangkan seluruh keluarga sanak kerabat yang ditinggalkan olehnya dikaruniai ketabahan. Tidak banyak yang kuingat mengenai kawanku ini, kecuali bahwa ia dan teman-teman dekatnya Geng Homo itu Insya Allah adalah orang-orang yang lebih baik akhlaqnya dan lebih baik agamanya dibandingkan denganku. Seingatku, Parlin selalu bertutur kata lembut, dan aku tidak pernah mendengarnya memaki. Semoga berpulangnya Parlin ini menjadi nasihat bagiku, menjadi pemicu dan pemacu untuk lebih cerdik hidup di dunia fana ini. Katakan, beruntunglah orang yang membersihkan diri dan mengingat nama Tuhannya kemudian shalat. Akan tetapi, kebanyakan lebih memilih kehidupan dunia, padahal akhirat lebih baik dan kekal.

Di paragraf ketiga ini, kepalang kuaminkan juga doamu, Dik, setidaknya pada bagian yang ada doktornya. Sampai hari ini, setelah pada 9 Juli 2012 lalu aku bertemu muka dengan Adriaan Bedner, aku belum lagi menghubunginya. Sama-sekali. Sampai hari ini, bahkan melirik apa yang harus kutulis untuk Mbak Emmy pun belum kulakukan. Get busy yang kutulis seminggu yang lalu ternyata belum juga menjadi kenyataan. Dapatkah aku melakukannya setelah ini juga? Memang ada juga aku berharap, siapa tahu, dengan menyusun disertasi, aku bisa memiliki sesuatu yang cukup berguna untuk kusebut sebagai keahlian. Siapa tahu, meski segala sesuatu yang membuat hati merasa senang adalah nikmat sedangkan yang sebaliknya adalah dosa. Hati hanya akan merasa tidak senang jika kita berdosa, itu yang kutahu. Keahlian... Sungguh pekerjaan mengajar ini menyiksaku. Tidak lebih dan tidak kurang, yang kulakukan adalah cingcong. Aku berharap, jika aku sampai berhasil meraih gelar doktor, dan itu tentu saja karena aku meneliti sesuatu, ada sesuatu yang kusampaikan, yang berguna, yang benar dan baik, jika pun harus aku mengajar. Ini juga selayaknya menjadi motivasiku. Aku malu cingcong terus, tapi mau bagaimana lagi, aku dibayar karena itu... dan duit membuat hatiku senang.

Wallahua'lam

Saturday, September 15, 2012

Francis Goya: Bulan Biru Bersalah Lagi


Malam ini sungguh panas terasa udara. Aku terbangun tadi sekitar jam satu dengan perut perih, setelah kurang lebih pada jam sembilan atau setengah sepuluh tadi terasa mengantuk sekali. Sekitar jam satu aku terbangun dengan kepala basah. Rambut di belakang kepalaku memang sudah gondrong. Memang hanya di belakang dan samping karena yang depan dan atas sudah tidak mau tumbuh lagi. Terbangun dan bingung mau makan apa, akhirnya, ujung-ujungnya, mie instan lagi. Entah bagaimana ketika terbangun tadi terngiang di kepalaku You're Gonna Lose that Girl. Jadilah aku menonton konser Beatles di Washington Coliseum pada 1964. Namun kini aku mendengarkan Elvira Mardigan yang dimainkan oleh Francis Goya. Kini, ditingkah manisnya petikan gitar, (ooh... sekarang Concerto d'Aranjuez), dini hari sekitar jam tiga, aku terpikir mengenai perceraian. Mungkin aku juga akan menulis separagraf mengenai SMA Taruna Nusantara. Namun biarlah untuk sejenak kukenang terlebih dulu Kemayoran di awal tahun '80-an. Apa yang ingin kukenang darinya? Entahlah. Mengapa aku tidak shalat tahajud saja?

Tidak pernah kusangka dan kurencanakan. Tidak pernah terlintas dalam benak sampai kapanpun, bahkan kini juga tidak. Terlebih juga mendengar lagu-lagu yang telah membentukku, membentuk kejiwaanku sedari kecil, sungguh tidak habis pikir. Aku hanya ingin mencintai satu orang perempuan saja dalam hidupku. Satu saja, dan aku ingin melakukannya sesempurna mungkin. Aku selalu yakin bahwa telah tercipta bagiku seorang perempuan, yang memang terlahir hanya untukku, seperti halnya aku terlahir hanya untuknya. Sampai ajal memisahkan kami untuk sementara, semoga bersatu kembali di keabadian. Sampai kini pun aku masih meyakininya. Akan tetapi, sungguh berbeda apa yang kualami sejauh ini, dengan segala luka yang entah bagaimana caranya agar sembuh. Masih saja terus nyeri. Apakah pengingkaran merupakan satu-satunya cara? Sleepy Shores ini sungguh menyakitkan. Sungguh terasa sangat segar dalam ingatanku, seakan baru saja terjadi. Sungguh menyakitkan. Apakah aku lebih menyukai rasa sakit itu? Tentu saja tidak. Aku ingin hidup, meski kini aku sudah kurang yakin mengapa aku harus terus hidup, karena berbagai hal yang terjadi belakangan ini.

Lalu SMA Taruna Nusantara. Sampai kini, entah bagaimana, setahuku kampus SMATN itu berada di bekas dusun Mbarepan. Seingatku itulah yang pernah diceritakan oleh Almarhum Pak Sadja; atau hanya khayalanku? Lantas mengapa mereka menyebutnya sebagai Pirikan sekarang? Sudahlah, tidak penting. SMATN itu identik dengan prestasi. Prestasi? Kurasa, aku adalah salah satu dari segelintir siswa dan kemudian lulusan sekolah itu yang tidak pernah berprestasi, selama bersekolah di situ dan sesudahnya. Aku yakin aku tidak sendirian. Sejujurnya, entah bagaimana caranya, entah sejak kapan, aku tidak pernah merasa perlu berprestasi. Aku tidak tahu mengapa beberapa kawanku tidak berprestasi, namun, dalam halku, mungkin karena aku memaknai prestasi dengan cara yang berbeda dari kebanyakan orang. Hahaha... jadi ingat tulisanku jaman edan dulu, "Kemenangan Absolut." Tidak penting apa kata orang, selama engkau yakin kau menang, bahkan kaulah sendiri pemenang itu, maka pada saat itu jugalah kau mencapai kemenangan absolut. Hahaha... sungguh naif. Sungguh aku bersyukur tidak begitu lagi cara berpikirku mengenai kemenangan dan prestasi.

Lalu bagaimana caraku sekarang memaknai kemenangan dan prestasi? Kemenangan akan dicapai kelak di "hari besar" itu, sedangkan prestasi ya sama saja dengan cara semua orang memahaminya. Aku berprestasi, misalnya, kalau sampai dapat meraih gelar doktor dari institusi tujuanku itu. Amin. Aku berprestasi, misalnya, kalau sampai jadi profesor, seperti yang kiranya sangat diinginkan Bang Andri hohoho. Itulah prestasi. Aku menang jika kelak di hari besar itu, aku tahu bahwa Allah mengampuniku atau yang sejenis dengan itu. Selebihnya, aku mencoba menjalani hidupku dari hari ke hari, dari minggu ke minggu, dari bulan ke bulan. Sudah. Begitu saja siklusku. Aku tidak punya siklus tahunan kecuali harapan untuk sampai ke Ramadhan berikutnya dan menjalaninya dengan lebih baik dari tahun sebelumnya. Pemberhentian-pemberhentian tentu saja ada, dan terus diusahakan dan didoakan. Biarlah orang menganggapku lebay ketika aku merasa (walau terpaksa) telah bersumpah mengusahakan kejayaan nusantara, sebagaimana telah dilakukan oleh ribuan orang yang lulus dari SMA Taruna Nusantara. Biarlah kutulis di sini agar orang yang mengunjungi blog ini saja yang tahu, bahwa yang kumaksud dengan kejayaan nusantara itu adalah ketika tidak ada lagi orang susah lahir batin di tanah air negeri pusaka ini.

Karena memperjuangkan kejayaan nusantara jasadnya saja hanya akan mendapati setumpuk bangkai

Wednesday, September 12, 2012

HP 520 Mencoba Melampaui 2010


Kasihan... HP 520-ku ini mungkin memang sudah tua. Umur empat tahun untuk sebuah laptop mungkin memang sudah terbilang tua. Bunyinya sudah seperti hujan. Namun mungkin jika dibawa ke tukang servis laptop masih bisa diperbaiki. Kipasnya mungkin jadi tidak seribut ini. Dia ribut pasti karena prosesornya panas. Prosesornya panas karena apa? Entahlah. Prosesornya masih Intel Core Duo. Pada jamannya saja tidak termasuk yang tercanggih. Aku membelinya karena bentuknya sederhana, walaupun fungsinya juga ternyata sederhana. Masa colokan usb-nya cuma dua?! Hari ini panas sekali. Sama-sekali bukan berita. Ini memang sedang musim kemarau. Sambil menulis, aku mendengarkan If You Understand-nya George Baker Selection. Sedap dan manis selalu lagu ini. Belanda sekali. Nyaman. Terasa sepoi-sepoi di tengah panas menyengat dan kegerahan ini. Posisi dudukku tidak bisa dikata yang ternyaman. Sepertinya, meja ini justru lebih tinggi dari meja tulisku yang kini berada di Margonda Residence, kamarnya Sopiwan. Barang-barang itu. Seperti halnya meja tulis bekas Aerex-nya Bapak yang pernah begitu akrabnya denganku, awal 1996. Betapa dungunya aku waktu itu. Betapa dungu...


Kini kuputar I've Been Away Too Long, masih dari George Baker Selection. Bagus, tapi tidak manis dan sedap dan nyaman seperti lagu sebelumnya... eh... tapi harmoni vokalnya tetap manis ding. Yah... sedap juga lah. Bangun tidur pagi ini aku langsung sarapan Nasi Uduk Baba Gembul di Perpustakaan Pusat UI. Nasi uduk, telor ceplok sambel, tahu semur, tumis pare teri... ketika aku minta tambah telor dadar rajang, kata Bu Baba Gembul, itu berarti paket plus. Lalu ternyata sekarang ada ekstra teh tawar hangat tjap Prendjak. Jalan sebentar, ternyata masih haus, maka kubelilah Fatigon Hydro Orange Coco, yang sepertinya sudah tidak ada Fatigonnya itu. Wara-wiri sebentar... mungkin tidak sampai satu jam, melintas di depan warung mie ayam. Maka makan lagilah semangkuk mie ayam, ditambah segelas es kelapa muda dan S-tee. Masya Allah, banyak sekali makanku! Tadi malam, setelah membantu Sopiwan menyiapkan stan FH di Gelar Ilmu UI di Balairung, pergi makan ke Kopi Medan. Makan burger satu dan kentang mayo yang mungkin setidaknya habis satu porsi. Barusan aku ngopi White Koffie. Sungguh sangat mengganggu merek ini. White Coffee atau Witte Koffie, pilih salah satu! Ah sudahlah.

Rambutku sudah gondrong, pantas selalu berkeringat. Setiap kali cukur setidaknya delapan sampai sepuluh ribu rupiah. Mengapa begitu berhitung? Karena kenyataannya uangku tidak banyak sekarang. Ya Allah lancarkanlah, mudahkanlah semua urusan hamba. Tolonglah hamba ya Allah Illahi Rabbi. Kini Demis Roussos mendendangkan Goodbye, My Love, Goodbye. Eh, jadi ingat. Aku punya MP3-nya. Satu album lengkap Paul Mauriat Goodbye, My Love, Goodbye 1974, seperti kagungan-nya Ibu. Kaset yang sangat mengharu-biruku. Melodi-melodi yang membentuk suasana kejiwaanku. Sayang, sisi B-nya aku tidak pernah ingat orkestranya siapa... padahal seingatku aku justru lebih menyukai sisi itu. Dimulai dengan Tie a Yellow Ribbon yang teramat sangat manis, dilanjutkan oleh My Love yang aransemennya menyihir dan menghipnotis, kemudian Killing Me Softly yang... ah, tak mudah dilukiskan dengan kata-kata. Kini Demis Roussos membawakan From Souvenir to Souvenir. Ternyata tak satu lagunya pun kuhafal. Dan kurasa, kini aku sudah merasakannya, aku sudah terlalu tua untuk menghafal. Hafalanku semakin lemah dan aku semakin enggan menghafal... Ya Allah... Untunglah Forever and Ever menerobos relung kelam benakku, menenangkannya, menyamankannya...

Bawalah daku jauh melampaui khayal
Kaulah impianku menjadi nyata, pelipur lara

Sunday, September 09, 2012

Ketoprak yang Menyamai Produktivitas 2011


Minggu-minggu begini kuhabiskan di kampus, di ruanganku kini sebagai staf Sekretaris Fakultas di Gedung A Lantai 2. Seperti biasa selalu bingung mau makan apa, apalagi kalau uang a la kadarnya. Sempat terpikir tadi, toge goreng sepertinya enak. Namun mencari makanan ini kan susahnya minta ampun akhir-akhir ini. Next best option adalah ketoprak. Nah, biar kuceritakan pengalamanku makan ketoprak yang kubeli di depan Mesjid UI ini. Maafkan aku, Pak Penjual Ketoprak, tapi sejujurnya bentukmu langsung membuatku kehilangan selera makan, yang sebelumnya memang sudah sedikit itu. Lipatan lehernya yang dekil dan ngethel, kuku-kukunya yang kotor kehitaman, belum gerobak dan perabotan-perabotannya yang seperti tidak pernah dicuci, tahu yang direndam minyak. Pendek kata, ketopraknya pun tidak enak. Termakan, tetapi tidak enak. Ataukah karena aku sudah kehilangan sama sekali selera makan? Untunglah tahu gorengnya agak mendingan --beli di tempat lain. Kalau panas mungkin lebih enak.

Subhanallah, lagu ini tidak pernah tidak bagus! Fools Rush In. Selalu membangkitkan perasaan nyaman yang menyejukkan. Sepoi-sepoi. Suaranya Matt Monro memang syuper sekali. Sekarang ini lagu From Russia with Love. Ini adalah lagu pertama di Sisi A dari kaset Matt Monro pertama yang kupunya. Sebenarnya entah dari mana, kalau tidak salah punya Mas Yanto Cirebon. Lhah sekarang malah Gonna Build a Mountain. Aku lupa di sisi yang mana lagu ini. Ini juga syuper dahsyat! Waktu-waktu yang dahsyat ketika itu. Umur masih empat belas tahun. Empat belas tahun, Ya Allah, dua puluh dua tahun yang lalu. Jelas aja syuper dahsyat. Nggak ada keluhan ga ada masalah. Paling, jika memikirkan hal ini, jadi terpikir betapa setelah dua puluh dua tahun berselang masih saja aku menyia-nyiakan waktuku. Masih saja kendor lagi. Ya Allah... lancarkanlah segala urusanku dan mudahkanlah. Tolonglah hamba. Eh, tadi malam sempat lihat sebentar sekilas Bruce Almighty. Orang tidak menunggu datangnya mukjizat, mereka melakukannya! Mukjizat apa yang akan kulakukan dalam waktu dekat ini? Shalat Ashar tepat pada waktunya. Dan itu berarti SEKARANG!!!

---jeda shalat---

GET BUSY! Ini adalah pesan yang sangat sesuai untukku. Banyak sekali yang dapat kuselesaikan dan kuperbaiki kalau aku selalu menyibukkan diri. Banyak sekali! Tapi... ya... itu... Jangan berhenti sampai di semboyan saja. Setidaknya, Alhamdulillah, aku sudah berhasil shalat Ashar tepat pada waktunya, baru saja. Aku memang sedang merasa kurang sehat sekarang. Rasanya seperti masuk angin. Ini kurasa karena kemarin malam, sejak Maghrib aku berolahraga, berhenti sebentar makan Beef Spaghetti dan Surimi Wrap-nya PHD ditambah satu liter (?!) Teh Botol Sosro dingin, terus sampai jam dua pagi. Ah, lagu ini.... How Little We Know. Untuk sedikit inspirasi, bolehlah dicatat di sini, kemarin waktu Rapat Bidang Studi Hukum Administrasi Negara FHUI Kamis, 6 September 2012 bertemu Ibu Prof. Arie Sukanti. Beliau menanyakan bukuku.... Buku?! Buku!! Kata beliau, bilang Mas Jo, nanti saya yang bayar. Wah, bagaimana menyusun prioritasnya? Ada Mbak Emmy, Ada Pak Ambar... setidaknya dua ini yang harus diberi prioritas, selain Bu Arie tentunya. Kalau urusannya sama Mas Jo, bagaimana dengan Sofyan...?

PerhimPUnan Studi Hukum dan MasyarAKAt
untuk KesatuAn BAngsa dan KeaDIlan Sosial

Saturday, March 31, 2012

Stoller dan Göring Ngiler Liat Ayam Goring


Tidak usah repot-repot, Eric Alexander sudah suka Hitler. Serahkan saja padanya. Judul entri ini sedianya seperti yang sudah tertulis di atas itu. Akan tetapi, berminggu-minggu sudah berlalu dari suasana hati itu. Suasana hati ketika aku menonton The Winds of War di tengah hari bolong. Hermann Göring jelas merupakan tokoh faktual dalam sejarah, sedangkan Wolf Stoller jelas adalah tokoh rekaan. Bahkan baru terpikir olehku malam ini, nama itu jelas merupakan permainan kata. Wolf jelas untuk serigala. Stoller adalah plesetan dari Stealer. Sangat sugestif. Aku mungkin tidak akan bisa sepenuhnya tahu perasaan seorang Yahudi mengenai Holocaust, tetapi Herman Wouk kentara sekali bencinya... dan ketika ini kutulis, sudah berminggu-minggu lagi lamanya berlalu. Topik di atas memang masih menjadi kegemaranku. Sulit untuk tidak menunjukkan minat ketika ia dibahas. Ya sudahlah, tidak apa-apa. Yang jelas kini aku sedang duduk di ambang pintu pavilyun, seperti yang pernah kulakukan beberapa kali selama beberapa tahun yang lalu, di rumah Yado, Radio Dalam.

...dan... ternyata ketika aku meneruskan menulis lagi entri ini, sudah lebih dari lima bulan berlalu. Pagi ini aku menggunakan tempat-kerjanya (workstation) Mas Milson Kamil, karena komputerku tiba-tiba ngadat tidak mau hidup. Tak dinyana tiba-tiba datang Pak Amin Mubarok, sedianya mencari Mas Milson mau pinjam penginstal Windows 7. Jadilah kutanyakan padanya kenapa komputerku. Ini kalau tidak memori ya VGA-nya, kata Pak Amin. Jadilah komputerku digotong ke bengkelnya di bawah. Hari ini saya ke Salemba, jadi besok saya kerjakan, begitu katanya. Sekarang apa yang akan kulakukan? Masa aku harus kembali untuk mengambil laptopku? Tapi mungkin begini lebih baik. Siapa tahu, aku justru bisa membaca sesuatu yang berguna tanpa benda itu, yang selama ini hanya punya satu guna untukku, yaitu membangun peradaban dan mengusili peradaban orang lain hohoho... Setidaknya, gara-gara komputerku mati, aku jadi terpikir untuk menengok blog ini, yang sudah lima bulan sekurangnya kubiarkan menganggur.

Ini adalah gambar pasang surut (ebb tide). Sebuah lagu yang sangat indah, yang selalu membuatku tercekik bila menyanyikannya penuh penghayatan. I'm at peace in the web of your arms.

Biar kucatat di sini, hari ini adalah hari pertama Cantik mengajar di UI. Insya Allah, semoga ini bisa menjadi tengara bagi peningkatan karirnya. Aku sendiri membayangkan baginya, ia akan melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Aku sudah menelusur Internet untuk mencari program master yang kiranya sesuai baginya. Ada beberapa, yang pertama adalah Master of Arts in Applied Linguistics and English Language Teaching di St. Mary's University College Maastricht. Ini kurasa adalah pilihan terbaik karena yang paling relevan dengan taraf karirnya sekarang. Akan tetapi, mungkin akan ada beberapa kesulitan untuk mengikuti program ini. Dari sudut pandangku, tempatnya sangat jauh dari Leiden. Nah, berbicara mengenai dekat dengan Leiden, pilihan terbaik kedua mungkin ini, Master of Arts in English Language and Culture di University of Amsterdam. Setelah kubaca-baca lagi, ini bahkan bisa jadi pilihan terbaik. Selain karena tempatnya di Amsterdam, program ini menawarkan cakrawala yang lebih luas dan generalis, sehingga, mungkin, membuka kemungkinan pengembangan karir yang lebih beragam daripada sekadar mengajarkan bahasa Inggris sebagai bahasa asing atau bahasa kedua. Aku bahkan sudah terpikir ide untuk topik tesis ...kutulis di sini tidak ya... petunjuknya saja deh... cincha laouwra. Semoga aku ingat apa yang kumaksud dengannya hohoho.

Harus kucatat di sini juga bahwa aku menyelesaikan entri ini kembali dengan komputerku sendiri. Tadi sudah sempat dibawa ke bawah, ke bengkel Pak Amin. Sejurus kemudian datang Mas Milson. Ia menawarkan diri untuk memeriksa komputerku dan... ajaib! Hanya karena dipanggul olehnya kembali ke atas, komputer itu kembali hidup dengan sendirinya! Ini adalah godaan besar untuk membangun peradaban hohoho tetapi tidak. Sambil mencangkung tadi akhirnya aku membuka plastik buku Hukum Lingkungan di Indonesia oleh Prof. Takdir Rahmadi dari Universitas Andalas. Terlepas dari apapun kekurangannya, jika pun ada, dia sudah menulisnya! Aku jadi ingat bahwa aku pun harus menyiapkan diri untuk membuka kelas Environmental Law besok di KKI Angkatan Kedua. Tidak ada pentingnya menggunakan bahasa Indonesia dalam mata kuliah ini, karena memang, bagiku, subjek ini sama-sekali tidak ada Indonesia-Indonesianya.

cukuplah tiga paragraf ditambahkan pada 6 September 2012 jam 11.00

Friday, March 30, 2012

Anak Anjing Agar Mengibing


Dengan ini, terlampauilah 2009 dengan 5 entrinya!
Masih ada 2011 dengan 8 entri...


Judul entri ini ada beberapa versi. Versi pertama adalah "Anak Bajing Menggiring Angan." Ini yang paling biasa. Bahkan tidak orisinal, karena Shawn juga pernah menggunakannya, kalau tidak salah. Kemudian terlintas olehku "Anak Anjing Mengiba Garing." Ini saja sudah membuatku tertawa senang. "Anak Anjing Agar Mengibing"-lah yang terpikir terakhir, dengan tertawa-tawa riang. Itulah yang kupakai untuk judul entri ini. Setelah kupikir-pikir, dua yang terakhir itu sebenarnya sama lucunya. Dulu, entah bagaimana caranya, membaca karya Romo Sindhu yang judulnya kuanagram ini rasanya menyenangkan. Kini sedang kubaca lagi, ternyata melelahkan. Ia terlalu banyak berpuisi! Namun terus kubaca juga, setidaknya setiap perut mulas.

Dalam entri ini, aku ingin bercerita mengenai The Winds of War, yang novelnya ditulis oleh Herman Wouk, demikian juga skrip filmnya. Aku berkenalan kali pertama dengan mini serinya, diputar di TVRI sekitar 1986. Waktu itu aku masih kelas 4 atau 5 SD. Cukup larut lah jika aku menonton film ini, karena biasanya diputar pada jam 22.30. Aku lupa setiap hari apa. Seingatku, aku pernah bercerita, entah di mana, entah kepada siapa, bahwa di situlah aku pertama kali jatuh cinta. Jatuh cinta yang aneh. Sampai hari ini pun, tiap kutonton lagi dan lagi, tiap kali itulah aku jatuh cinta pada kisah cinta Byron Henry dan Natalie Jastrow, dihidupkan dengan sangat hidup oleh Jan-Michel Vincent dan Ali McGraw. Kurasa, sejak itu pulalah aku ngefans pada Jan Michel Vincent. Yang kuingat kini, Baby Blue Marine dan, tentu saja, Airwolf.

Di Maastricht-lah aku temukan lagi film ini, melalui Internet. Di kota ini pulalah kutemukan novelnya versi paperback. Hidup di kota itu... HP 520-ku inilah teman sejatiku. Ia selalu bersamaku di kala senang dan susah. Film itu kudapat melalui file torrent. Aku lupa aplikasi apa dulu yang biasa kugunakan untuk mendonlot torrent. Seingatku, kudapat dari Frederik Marmann waktu mencari salinan Stata di Internet. Belakangan kusadari, aplikasi ini dapat digunakan untuk bersenang-senang juga. Entah sudah berapa ratus musik, berapa puluh film kudonlot dengannya. Dan novelnya... kutemukan ketika di sekolahku dijual buku bekas, di ruang bawah tanah. Berapa harganya? Satu Euro? Aku lupa, tetapi yang jelas tidak sampai EUR 5. Kubaca novelnya sambil melepas mulas juga, meski belakangan aku lebih suka menonton filmnya. Novelnya, tentu saja, lebih detil ketimbang filmnya.

Kembali pada jatuh cinta... Aku tidak secara khusus jatuh cinta pada Natalie Jastrow apalagi Ali McGraw. Mungkin Ali McGraw lebih terkenal ketika ia main di Love Story, waktu itu juga masih lebih muda. Aku tidak tahu dan tidak berusaha tahu, karena memang aku tidak secara khusus jatuh cinta padanya. Aku jatuh cinta, seperti telah kukatakan, pada kisah cintanya sebagai Natalie Jastrow dengan Byron Henry. Tidak ada film yang lebih berkesan dari masa kecilku, kurasa, daripada film ini. Mungkin karena latarnya. Heman Wouk menggunakan hari-hari pertama Perang Dunia Kedua sampai Penyerbuan Pearl Harbour sebagai latar bagi ceritanya mengenai dua keluarga, Henrys dan Jastrows. Orang bilang, The Winds of War adalah untuk Perang Dunia Kedua sebagaimana Gone with the Wind untuk Perang Saudara. Aku belum pernah membaca Gone with the Wind, jadi percaya saja.

Ndikane Ibu dulu, Ali McGraw koyo wong lanang. Ketika aku menontonnya, aku tidak pernah memperhatikannya. Ndikane Ibu juga, Ibu wegah nonton, sing main tuwo-tuwo. Waktu itu aku juga tidak seberapa memperhatikan. Entah bagaimana caranya, sepertinya film ini benar-benar membentuk persepsiku mengenai perempuan, dalam bawah sadarku. Sejujurnya, aku selalu tertarik pada bad girls, seperti bahagianya aku ketika menemukan lagu Neil Sedaka lainnya yang juga berjudul Bad Girl. Aku tidak pernah begitu tertarik pada perempuan yang lemah lembut, medoki... mungkin juga karena ibuku tidak begitu. Begitu bertambah dewasa, aku suka perempuan yang... bagaimana caraku menggambarkannya... Aku suka yang 'liar'! Ah, lihatlah sendiri Natalie Jastrow. Seperti itulah! Namun, sekali lagi, bukan karena Natalie Jastrow-nya semata. Kisah cintanya dengan Byron Henry-lah yang membuatku jatuh cinta.

Kemudian... jelas aku menyukai tema-tema perang dan keprajuritan. Namun, sepanjang yang kuingat, aku tidak pernah membayangkan diri menjadi... sniper, misalnya, atau penerbang tempur... The Winds of War membuatku tertarik pada... perang itu sendiri, Perang Eropa 1939-1945 khususnya. Kepada penyebabnya. Kepada... Adolf Hitler. Kepada... Nazi. Kurasa, dalam hal ini, Swargi Akung R. Talkoeto berperan penting. Aku tidak pernah bisa benar-benar mengingat detilnya, tapi samar-samar terlintas Akung beberapa kali menemaniku, atau kami, bersama adikku, menonton film ini. Sama-samar dalam ingatanku, aku ngobrol dengan Akung mengenai topik-topik dalam film ini. Aku ingat dulu kami punya komik seri Perang Dunia Dua. Ada Dari Stalingrad ke Berlin, lalu ada kisah Rommel si Rubah Gurun; pastilah Akung yang membelikan.

Demikianlah, pendek kata, The Winds of War sangat berarti bagiku. Dan bukan suatu kebetulan. Ia kembali padaku justru ketika aku berada di Eropa, tempat itu semua terjadi. Kini topik kualihkan pada masa depanku. Entah bagaimana, siang ini terlintas padaku, Leiden. Dengan tenggat yang sangat ketat, kurasa sulit Selandia Baru diusahakan. Lagipula, Selandia Baru. Apa itu? Tidak ada hubungan sesuatu apa dengan apapun! Leiden. Ya, mungkin Leiden juga akhirnya. Kedua pendorong hidupku menginginkannya. Insya Allah, Leiden juga akhirnya... seperti dahulu Maastricht. Namun, sebelum itu, masih ada yang harus dibereskan. Pusaka! Tadi juga sempat terlintas, apakah karena kubagi semua rahasia perusahaan, maka selalu kusut urusannya? Jadi, sistemnya penggajian? Wallahu'alam. Kita coba Insya Allah besok, meski kalau yang ini juga tidak, sejujurnya, aku tidak terbayang harus bagaimana lagi...

Thursday, March 29, 2012

Teh Hijau Gelombang-mikro dan Cinta Kirik


Yah
, akhirnya inilah idenya. Gelombang-mikro datang terlebih dahulu, gara-gara melihat setumpuk wadah pizza hut yang dapat digunakan di maikrowev. Aku jadi ingat ingin membeli benda itu. Tidak perlu yang besar-besar. Sudah kulihat-lihat harganya, masih di bawah satu setengah juta. Selain itu, ada juga teh hijau. Ternyata white koffie tidak cukup memberikan tendangan, dan aku masih menginginkan minuman hangat. Tapi apa? Teh hijau jawabannya! Sebelum white koffie, aku sudah minum teh hitam Sari Wangi pakai gula sedikit. White koffie pasti banyak gulanya. Maka sekarang, teh hijau. Lionel Richie bernyanyi, "Kaulah matahari, kaulah hujan. Kau membuat hidupku seperti permainan tolol!" Sedap betul memang lagu ini. Sejak kecil kusuka.

Maikrowev, alias Microwave, alias Magnetron, alias gelombang -mikro. Sangat tolol! Kenapa aku merasa membutuhkan benda ini? Yang jelas, kulkasku kosong. Aku tidak pernah memasak. Keinginan memasak itu hilang begitu saja. Satu tomat sudah mulai berjamur. Berkantong-kantong sambal aneka rupa sudah mangkrak berminggu-minggu. Jadi... idenya, jika punya maikrowev, maka semua bisa ditimbun di dalam kulkas. Kalau mau dimakan, tinggal dipanaskan di dalamnya. Begitu. Segitu saja. Setolol itu. Aku memang harus memikirkan suatu rumah. Aku harus tinggal di sebuah rumah. Tidak bisa terus-menerus begini. Nah, di rumah itulah, baru relevan jika aku memikirkan maikrowev, bahkan televisi. Televisi datar, LCD. Buat apa barang-barang itu semua? Terutama televisi aku tidak pernah, atau jarang sekali, menonton.

Benar-benar tidak mungkin kukerjakan sendiri. Mustahil. Tapi, berapa akan kubagi? Satu berbanding dua, atau gaji bulanan? Lima juta sebulan untuk tiga bulan? Sangat menarik! Okay. Akan kucoba tawarkan. Lima juta itu uang yang tidak sedikit loh. Sedangkan Sofyan, entah apa yang dikerjakannya. Pikirannya jualan tanah, dan, sapi. Tapi, kurasa ia pun berpikir bagaimana agar Pusaka tetap hidup. Pusaka pun kesayangannya. Ia tidak akan membiarkannya lepas percuma. Akankah nama-nama itu kutulis di sini? Sekarang? Nama-nama yang akan kutawari pekerjaan ini? Jangan dulu. Biar di dalam benak saja dulu. Setelah ini, aku mandi, dan kucari dia. Kalau ada, kutawari. Paragraf ini tentang Pusaka dan masa depannya. Kuakui, mungkin masih jauh lebih peduli Sofyan pada Pusaka dibandingkan aku...

Oh ya, sebaiknya kuabadikan juga di sini bahwa kemarin Selasa, 27 Maret 2012 adalah kali pertama aku mengajar di Program Magister Hukum, di hadapan hakim-hakim, di Gedung IASTH Salemba, membawakan materi Pertanggungjawaban Korporasi. Alhamdulillah. Aku harus memeriksa jadwal lainnya. Ya, aku baru sadar apa yang dimaksud oleh Mas Huda. Di daftar kelasku sudah tidak ada Politik Hukum. Apakah itu berarti aku tidak akan menyampaikan materi apapun dalam mata kuliah itu? Baguslah bila begitu. Depok - Salemba itu tidak dekat. Ini pun perlu disyukuri. Alhamdulillah. Hari ini, sore nanti, adalah jadwalnya UTS Hukum Lingkungan untuk Ekstensi. Aku sendiri yang akan mengurusnya, karena cuma satu kelas. Kemarin, untuk reguler, aku bersama Mas Harsanto.

Otago, New Zealand. Leiden, Netherlands. Dengan semua kesibukan ini, terasalah sulitnya. Pengalaman terdahulu, keduanya tidak mungkin beriringan. Salah satu harus ditinggalkan. Kaderisasi. Kader. Orang gila mana lagi? Mana lagi orang gila? Tidak ada! Kasihan kalau ada. Nama itu, ya, hanya nama itu dan satunya lagi. Oh iya, kan bisa di-split jadi masing-masing dua setengah juta. Itu juga masih banyak. Yang satunya kita tugaskan untuk mengurus Hukum Koperasi Indonesia. Mungkin itu jawabannya. Atau... am I being greedy? I don't think so... Sepertinya, memang jumlah yang dapat diterima itu segitu. Lebih kecil lagi, maka kita tidak dapat mengharapkan apa-apa. Jika berjalan baik, mungkin dapat segera pergi dari sini. Aku pun tidak nyaman. Aku ingin rumah sendiri. Aku ingin berangkat dari rumah, menuju kantor.

Siapapun, kumohon, tolonglah, tolonglah aku
Inilah jawaban dari Dewata
Betapalah dapat kukatakan pada mereka
Ini bukan cinta kirik


Sunday, March 25, 2012

Berdandan a la Fantastik, Walaupun Drop Out


Sekali lagi, dan seperti biasa, selalu kuulangi, menulisi macangondrong itu tidak ada gunanya. Seharusnya malam ini aku buat outline untuk setidaknya dua tulisan. Itu juga yang tidak kukerjakan. Sampai saat ini, mengetik dengan HP 520 tetap masih enak; dan aku yakin mengetik dengan tablet tidak akan seenak ini. Aku baru saja memandangi foto-foto adikku Andri Dwi Sukmawijaya. Maafkan aku, Dik. Mungkin aku telah mengecewakanmu. Mungkin banyak di antara kalian adik-adikku angkatan 3 yang telah kukecewakan, apalagi yang di AAL. Sekali lagi, maafkan aku, Adik-adik. Tak ada yang dapat kukatakan selain, aku keple. Mungkin, kalian sudah melupakanku, di tengah kesibukan kita sehari-hari. Janganlah lupa kalian itu meluputkan dari menerima permintaan maafku ini.

Bertemu Bagus Suryahutama itu memang tidak akan membuat hati bertambah lega. Tambah kusut, iya. Wuanjrit mana lagunya Menepis Bayang Kasih... Menye abis dah lagu ini parah! Parah. Tiba-tiba aku teringat adikku yang lain lagi. Ega Windratno. Yang baru saja tadi Dwi Saputro Nugroho. Kurasa ini harusnya entri mengenai adik-adik. Banyak sekali adik yang kuingat di dalamnya, kecuali Bagus Suryahutama. Terlepas dari gelarnya yang Paduka Yang Maha Mulia, dia tidak lebih dari anak sulung Mas Bambang dan Tante Tita. Terserah lah, Gus. Aku juga tidak tahu kenapa aku ingin bertemu denganmu malam ini. Mungkin sekadar ingin membuang uang hahaha... Jangan tersinggung, Gus. Dwi Saputro ini lebih kusut. Entahlah apa yang terjadi padanya. Entah bagaimana dulu dia tersangkut urusan dengan Aulia Rahman. Aku lupa dan tidak berminat untuk menanyakan. Yang jelas, dia punya daya dorong. Yang jelas, tidak jelas bagiku, ke mana akan ia arahkan daya itu. Terserah lah, Wi.

Sekarang sudah lewat dari setengah dua dini hari. Begini terus aku setiap hari. Apakah aku akan terus menyalahkan cuaca? Tenggorokanku pun masih terasa tak enak. Malah mulai batuk-batuk. Kualitas hidupku merosot dan terus merosot. Ah, kalau bicara ini sih tidak akan melegakan hati. Lagu Irianti Erningpraja ini terpaksa kulewati daripada menambah kusut rasa hatiku, setelah agak tertata oleh lantunan Ratih Purwasih. Ternyata, berikutnya adalah Andi Meriem. Mana judulnya Bimbang lagi... Sekali lagi, selalu masa lalu, masa kecil, yang nyaman dikenang-kenang. Membuat hati terasa begitu nyaman. Membuatku teringat tekadku, akan kukembalikan perasaan nyaman masa kecilku. Apa saja unsur-unsurnya? Entahlah. Ndikane Bapak, seperti suara seruling yang merintih rindu pada buluh bambu yang menjadi asalnya. Pulang ke rumah. Itu selalu yang kurindukan.

Ratu Sejagad-nya Vonny Sumlang dan Gejolak Jiwa-nya Ramona Purba terpaksa juga kulongkapi. Gila apa?! Aku tidak pernah ingin jadi ratu apalagi sejagad, dan jiwaku sedang ingin tenang tidak bergolak. Maka sampailah aku pada Biru-nya Vina Panduwinata. Kekasihku, padamukah terletak kebahagiaanku? Setidaknya meringankan beban hidup dunia ini sampai tiba masaku? Padamukah? Sungguh aku sedih. Biarlah tak kusebut namanya, tetapi ada seorang teman yang pernah berkata padaku: "Perkawinan itu seperti berjudi." Ia meninggal tidak lama setelah mengatakannya. Istrinya, kurasa mencintainya. Apakah ia tidak mencintainya? Tidak! Insya Allah, ia mencintainya. Saling mencintai, mereka. Aku mohon pada Allah semoga dilapangkan kuburnya, diampuni dan dihapus semua dosanya, diterima dan dilipatgandakan semua perbuatan baiknya. Temanku itu. Abangku.

Tinggi menuju nirwana
Lembut menembus rahasia
Kukuh menahan putaran waktu
Bersatu dalam damai


Tuesday, March 13, 2012

I Can't Believe It's True, Really You!


Dear Diary.


Hari ini suasana hatiku tidak menyenangkan. Entah kenapa. Aku tidak senang dengan keadaanku sekarang. Aku ingin seperti mereka. Mereka berbahagia. Mereka pulang kepada keluarganya masing-masing. Mereka punya kehidupan. Aku tidak. Aku malas sekali. Aku tidak ingin mengerjakan apa-apa. Aku hanya ingin mencurahkan perasaan hatiku padamu, Diary-ku. Hanya kamu yang mengerti perasaanku ini. Yang lain tidak peduli. Yang lain tidak mau tahu. Aku hanya ingin berbahagia seperti mereka. Aku ingin punya kehidupan. Aku ingin hidup normal.

Aku... mungkin gara-gara ini, maka hatiku tidak merasa senang. Segala sesuatunya selalu mengenai aku. Tapi... sebelum ganti topik, aku ingin bercerita tentang lagunya Phil Collins, I can't believe it's true. Lagu ini sepertinya cukup membekas dalam ingatanku. Selalu saja, kalau membekas, itu berarti jaman aku kecil. Lagu ini memang sudah cukup lama, rilis pada 1982. Berarti bahkan jaman di Kemayoran. Tadi aku ingin tahu, apa sih ceritanya lagu ini? Ada yang komentar di Youtube, "That sure is happy music for such sad and angry lyrics!"Kurasa aku setuju padanya. Tidak benar-benar gembira sih, hanya saja memang agak tidak nyambung antara musik dan liriknya, menurutku. Kira-kira cerita apa yang cocok untuk musik seperti ini ya? Apakah mungkin justru tentang jatuh cinta?


Ini di belakang rumah aqyuwh. Tuh ada Grand Lucky-nya.
(Kenapa ada tulisan Ray White Tebet?! Ngepestz!)


Bicara tentang jatuh cinta... Kembali pada Dear Diary itu tadi... Tadinya aku ingin pura-pura jadi abege. Ternyata aku memang sudah bukan abege lagi. Ada juga anakku sekarang sudah abege. Kemarin ketemu Intan. Ada Cik Wen juga di situ. Aku tanya pada Intan, lahir tahun berapa. 1996 jawabnya. Lebih tua tiga tahun dari anakku. Mereka berdua mirip. Rambutnya yang keriting. Bentuk badannya yang kurus panjang. Warna kulitnya. Abege-nya... I can't believe it's true! Tidak lama lagi, anakku sendiri yang Insya Allah akan duduk di bangku kuliah, seperti anak-anaknya entah siapa ini yang kudongengi setiap minggu. Akankah aku masih hidup ketika itu terjadi? Wallahua'lam. Kalau aku harus jatuh cinta lagi, aku hanya ingin jatuh cinta lagi padaMu. Tidak ada kurasa di dunia ini yang sanggup benar-benar membahagiakanku. Tidak akan ada...

I cannot believe it's true. Dulu aku suka bermain khayal-khayalan bersama Adikku. Kami mendengarkan lagu, lalu kutanyakan padanya, suasana apa yang cocok dengan lagu itu. I can't believe it's true... yang terbayang olehku adalah Jalan Yado II depan rumah, ketika aku SD, mungkin sekitar 1987, Akung sudah seda. Siang hari. Tidak terlalu terik. Sudah lewat tengah hari, bahkan mungkin sudah Ashar. Al-Mukhlisin sudah mengumandangkan adzan Asharnya yang khas itu. Atau mungkin sebelum Ashar. Mungkin aku sedang atau baru saja diutus Ibu ke warung, mungkin warung ting klambruk yang belakangan namanya Ayat itu (kenapa sekarang sudah tidak pernah belanja ke situ ya?) Aku ingat... terakhir aku beberapa kali membeli susu kedelai di situ, beberapa tahun yang lalu...

Besok, Insya Allah, ada kesenangan kecil. Tiga novel bajakanku akan selesai dikerjakan Cano. Arus Balik. Anak Bajang Menggiring Angin. Para Priyayi. Tiga novel bajakan dengan hard cover, untuk sampulnya saja masing-masing seharga Rp 25,000. Mahal. Kamar mandi kering. Ya Allah, akankah dalam hidupku ini aku boleh merasakan punya kamar mandi kering? Dua-duanya bukan punyaku sendiri, tentunya. Aku tidak begitu peduli apakah kamar mandiku kering atau basah. Eh, aku juga tidak tahu apakah Ibu kersa siram pakai shower. Terserah. Pokoknya, ndalemnya Ibu, dan rumah"ku", Insya Allah, harus lux. Dua-duanya bukan punyaku. Aku tidak peduli. Apa lagi yang sanggup membuatku senang? Berita bahwa Allah menyayangiku, itulah yang PASTI membuatku senang. Bagaimana caranya?

Wallahu'alam bissawab.

Shalat Ashar dulu. Sudah hampir jam lima sore...

Wednesday, March 07, 2012

Suatu Sore Bersama Dangdut Italia


Kemarin, Selasa, 6 Maret 2012, aku bergegas menuju gedung E tempatku akan memberi kuliah mengenai Sistem Ekonomi Koperasi. Di bawah tangga aku bertemu dengan Pak Arman Bustaman dan Bu Farida Prihatini. Kusempatkan untuk menyapa mereka dulu. Aku tidak tahu apa yang mereka percakapkan sebelumnya, tetapi Pak Arman minta diri pada Bu Ida sambil berkata: Mau jual obat dulu. Pak Arman ini pengajar yang sangat sangat senior, entahlah angkatan berapa beliau. Kurasa tidak jauh-jauh dari Shogun Bakti. Entah sudah berapa tahun ia mengajar, berpuluh-puluh kurasa; dan menurutnya, mengajar itu jual obat.

Itulah juga yang saya rasakan, Pak. Entah apa yang kulakukan. Tahu apa aku tentang sistem ekonomi koperasi. Jika kupikirkan, wewenang apa, hak apa yang kumiliki, sehingga aku boleh menghasut anak-anak kelahiran awal '90-an ini. Akan tetapi, aku tidak suka memikirkannya. Lebih baik kusyukuri saja, apapun ini. Allah mengijinkanku melakukannya. Apakah Ia meridhainya? Wallahua'lam. Apakah artinya menjadi seorang ilmuwan? Apakah itu berarti aku harus percaya pada prosedur ilmiah, apapun itu? Apakah aku harus percaya pada imparsialitas ilmiah, apapun itu? Sakit kepala aku memikirkannya. Entah siapa, salah satu orang ICIS itulah, entah yang mana, mengatakan aku "deterministik". Apa peduliku!

Aku memang menyandang gelar Master of Science, sebagaimana mereka berikan padaku. Namun itu tidak akan menghentikan determinismeku, seperti halnya, Insya Allah, aku berketetapan hati, berkeras hati bahwa Allah Tuhanku, Islam agamaku dan Muhammad adalah Nabi dan RasulNya! RidhaNyalah yang penting bagiku, dan itu, Insya Allah, dapat dicapai dengan menepati perintahNya dan petunjuk RasulNya. Sistem Ekonomi Koperasiku, harus kuakui, memang propaganda. Aku menyampaikannya dengan berapi-api. Selalu. Salah satu mahasiswa berkomentar: Bapak membela rakyat kecil. Ha?! Aku hanya bicara. Aku hanya mendongeng. Tiada padaku daya upaya untuk "membela rakyat kecil." Aku hanya bisa cingcong.

---sudah adzan Maghrib, shalat dulu---

Aku sedang bungah! Kurasa ada hikmahnya library.nu sekarang jadi begitu. Itu bukan akhir dari kemajuan ilmu pengetahuan dan seni. Masih ada Candi Gumilar yang merampas buku-buku dari semua perpustakaan yang ada di UI. Ternyata, dengan begitu, aku dengan mudah dapat mengakses semua koleksi yang sebelumnya hanya ada di perpustakaan-perpustakaan fakultas. Persik ganda! Dan tempatnya nyaman pula! Sistem akses langsung seperti perpustakaan Sastra dulu memang nyaman. Aku bisa berjalan di antara rak-rak buku itu, benar-benar merasakan mataku menelusur judul-judul itu, menemukan yang menarik hatiku. Aku benar-benar bungah!

Ada satu lagi. Ini membuatku semakin mendambakan komputer tablet. Apa kubeli saja yang murah itu? Ternyata ada juga aplikasi pengolah kata untuk sistem operasi Android. Seandainya saja ada yang punya dan aku bisa mencobanya dahulu. Mungkin mengetiknya tidak akan senyaman aku mengetik dengan HP 520-ku ini. Akan tetapi, dengan sedikit pembiasaan, lama-kelamaan juga akan terbiasa. Satu pertimbangan lagi, kurasa aku harus membeli yang dapat dipasangi kartu GSM untuk koneksi internetnya. Wi-fi boleh juga, tapi kalau bisa terkoneksi dengan kartu GSM, kurasa lebih praktis. Kata Doel, kalau punya tablet, yang langganan internet cukup tabletnya saja. Blackberry cukup untuk BBM saja.

Namun... semua ini kembali kepada pertanyaan: Apa sebenarnya yang kulakukan? Siapa aku? Betapa senangnya jika aku bisa menghabiskan waktu seharian di dalam Candi Gumilar, yakni dari jam delapan tiga puluh sampai sembilan belas setiap hari kerjanya. Bahkan Minggu pun ia buka! Benar-benar superb candi yang satu ini. Mengerjakan segala sesuatu itu harus senang. Orang sukses adalah yang menyukai apa yang dikerjakannya, katanya. Terserahlah. Kalau begitu definisi orang sukses, tak sukses pun tak apalah. Lalu apa namanya orang yang mengerjakan apa yang disukainya? Namanya, semau gue alias sak karepe dewek. Tidak baik juga itu...

...dan dengan taufik dan hidayah Allah, keselamatan atasmu, dan rahmat Allah, dan berkahNya.

Sunday, March 04, 2012

Menanti Ajal di Bawah Pohon Kamboja


Semoga ini benar menjadi entri pertama di 2012. Wah, lagunya adjieb! Suatu hari nanti, aku akan pergi keliling dunia. Aku ingat ketika masih remaja belasan tahun. Betapa dadaku bisa sesak menyanyikan lagu ini dengan sekuat paru-paruku. Dan kau akan berkata, aku dapat dibanggakan. Dan kau senang karena mengenalku. Dan aku akan berkata, semua yang kulakukan ini adalah untuk...mu!

Di bagian ini suaraku biasanya sudah tidak terkendali lagi. Biasanya, aku akan menangis sepuas-puasnya. Lalu, siapa "mu" itu? Dulu, ketika aku masih remaja belasan tahun, "mu" adalah Bapak Ibu. Sampai hari ini pun masih begitu. Aku sulit memikirkan sesuatu yang kuinginkan untuk diriku sendiri. Kurasa aku beruntung dilahirkan sebagai anak tertua. Kurasa memang benar, dan itu sangat wajar, alami. Anak tertua tentu mendapat perhatian lebih banyak dari adik-adiknya. Anak tertua tentu menjadi tumpuan harapan orangtua, lebih dari adik-adiknya. Dan, menurutku, memang begitulah nasib anak tertua. Alhamdulillah, aku bersyukur terlahir sebagai anak tertua. Semoga Allah menolongku dalam menjalani suratanku ini.

Bayang-bayang senyummu... kembali ke lagu "Suatu Hari" tadi... terkadang, dulu, terselip angan. Mungkin karena kebanyakan nonton pelem, meski aku tidak bisa dibilang doyan nonton. Ya, dulu kurasa beberapa kali terselip angan, "mu" itu seorang perempuan. Perempuanku. Ibu dari anak-anakku, begitu pernah kukatakan pada Ajo. MoMC. Aku memang tukang cingcong. Cuma itu kebisaanku. Akan tetapi... yaa... kenyataannya tidak seindah angan. Meski begitu, kurasa itulah memang tujuan hidupku. Aku hidup hanya untuk membahagiakan orangtuaku dan membahagiakan...mu! Ya, kamu, Cantik.

Buatku sendiri... aku tidak tahu. Aku bahkan sulit membayangkan punya anak lagi. Entah bagaimana caranya, aku merasa sudah terlalu tua untuk memulai dari awal sama-sekali. Mungkin karena itu juga aku sangat menginginkanmu... Namun... yaa... kenyataannya tidak seindah angan. Sungguh sangat mudah bagiku menerima hal ini. Insya Allah. Alhamdulillah. Semoga Allah tidak menjadikanku panjang angan. Ada ding yang kuinginkan untuk diriku sendiri. Aku ingin mati! Itu pun aku tidak perlu payah-payah ingin. Aku pasti mati. Tinggal menunggu waktunya saja.

Kalau keinginanku itu harus diceritakan, mungkin begini ceritanya. Aku ingin dikenang, olehMu Ya Rabb, sebagai seorang anak yang berbakti kepada orangtuanya. Jika masih boleh ditambah... Aku ingin dikenang sebagai seorang suami yang sangat sayang kepada istrinya. Jika masih boleh ditambah... Inilah yang membuatku gamang... Seandainya... seandainya diperkenankan... Aku ingin dikenang sebagai bapak yang... Aku berdoa kepadaMu Ya Allah Maha Memelihara, agar anakku menjadi hambaMu yang teguh imannya dan suka beramal shalih. Doa yang sama tentu saja kupanjatkan bagi diriku sendiri.

Ya Allah, sungguh hamba sangat merindukanMu, hamba yang durhaka dan berlumur dosa ini... Ampuni hamba Ya Allah... Kasihanilah hamba Ya Allah... Tolonglah hamba Ya Allah... Sungguh hamba sangat merindukan berdua-duaan denganMu saja... Hamba tidak tahu hidup macam apa yang tengah hamba jalani kini. Namun... sungguh hamba takut, janganlah hamba diberi penyakit atau kekurangan... Sungguh kurang-ajar hamba memohon ini. Ampuni hamba Ya Allah... Engkau lebih tahu apa yang menyusahkan hamba, Ya Maha Memberi Pertolongan dan Perlindungan... Kasihanilah, Tolonglah hamba...