Monday, September 21, 2026

Senin Gembira, Bahagia Tiada Tara, Suka 'mBahana


Seperti Asus Vivobook yang sudah entah di mana, Axioo Hype-R X8 ini juga ada lampu di belakang papan-kuncinya, jadi dalam gelapnya kamarku sudah setengah lima petang ini masih kelihatan kunci apa yang kutekan. Meski dibesut Palank Merah, biarlah kemarin sekali lagi selalu cantik, entah sesuai entah tidak suasananya. Dulu kami suka saling bertanya, aku dan adikku, jika mendengar suatu lagu, suasana apa yang terbayang. Bersama Cantik aku juga terkadang begitu, namun karena masa kecil kita tidak sama terkadang tidak terlalu 'nyambung; hanya kemarin sekali lagi.
Sinar matahari yang sudah tersisa sekitar 45 menit lagi, sudahlah disaput awan, masih harus menembus dedaunan pepayaan, mangga, dan ketapang yang lumayan rapat. Sampai di kamarku yang jendelanya sudah diberi stiker cermin di luarnya, ia tidak lagi sanggup menerangi. Kau hanya mendapat apa yang kau beri, begitu kata Radikal-radikal Baru. Uah, aku sudah tua begini masih saja radikal. Anak-anakku hanya bisa terlongong-longong memandangiku. Seperti kata Ustadz Ghun, aku tidak memberi kuliah, tetapi memprovokasi. Apa memang cuma itu bisaku. Aduhsedihku.

Radikal-radikal baru memang sempat membawaku kembali ke Crea, berjalan menyusurinya ke arah halte Alexanderplein. Apakah ketika itu kau membuatku merasa gres bermain di kepalaku. Hawa seperti ini, cahaya seperti ini, seharusnya sudah malam. Apa pernah aku dari kantor jam delapan atau setengah sembilan malam namun masih terang karena bulan-bulan musim panas. 'Ku rasa pernah beberapa kali pada 2018 itu. Kau hanya hidup dua kali atau seperti itulah. Satu hidup untukmu sendiri, satu lagi untuk mimpi-mimpimu. Tanpa mimpi, orang seperti ikan asin.

Pada titik ini aku berhenti entah mengapa. Mungkin mendekati maghrib memang seharusnya menyimak sholawatan atau ayat-ayat suci yang berkumandang dari pengeras suara masjid ketimbang bermimpi. Namun jelasnya aku meneruskan keesokan pagi yang sudah sangat tua menjelang siang, setelah menikmati teh lemah buatan Pak Nardi. Ia merasa perlu memastikan padaku apakah aku menghendaki teh buatannya yang terkenal lemah atau aku membawa kantung tehku sendiri. Aku tadi memang membawa sesaset-kantung kopi Flores Bajawa dari Kak Natalina.

Begitulah maka aku pulang setelah enak Togar day off seperti abangdanya, memutar ke depan, ke tugu buku. ke pangkal Margonda (atau itu ujungnya), membelok kiri ke Juanda, memutar setelah lewat Peseq, pendek kata, mampir ke warteg sederhana. Belanja acar kuning, tahu jamur, sayur udang, teri kacang, telor dadar empat habis Rp 40,000. Sampai di rumah begitu saja aku menyeduh teh melati Jawa secara memadai. Tidak bisa dibilang lemah tetapi tidak kuat juga seperti teh sarapan Inggris, lagipula pagi sudah sangat tua. Itulah adanya daku kitiki. 

Akhirnya aku day off juga. Tidak juga. Aku berangkat pagi tadi, santai menyusuri jalan belakang, masuk lewat PNJ. Sesantai itu masih punya 20 menit sebelum kelas mulai, sarapan dulu bersama Kak Nat dan Kak Tiur. Bersama kami merasa masih muda saja, entah apa dalam pikiran bocil-bocil di sekitar kami. Emak-emak dua dan bapak-bapak gendut botak sarapan bersama. 'Ku rasa hidup memang begitu saja, dari kecil beranjak dewasa kemudian berangsur tua. Dari dulu aku tidak pernah tertarik dengan awet muda apalagi panjang umur; aku dari remaja dipanggil 'pak'.

Beginilah aku ditemani secawan kecil dari kayu berisi secauk tanah lembab untuk mencolokkan sebatang dupa Jepang. Harum lembut baunya, tidak seperti dupa Cina apalagi India atau bahkan dupa lokal, Bali mungkin atau entah apa. Lewat tengah hari dan matahari malu-malu memancar dari balik saputan awan, aku mengitiki di kamar sendiri. Kembali ke sedia kala, belum sampai 24 jam. Kamarku tidak terang, namun tidak segelap petang kemarin. Mungkin karena ini masih tengah hari. Gerah terasa badanku, jariku rampak mengitiki. Asap dupaku keluar.

No comments: