Saturday, July 04, 2026

Burung Manyar Terbang Melayar Melamar Makanan


Entah mengapa aku merasa seperti memulai makalah ini dengan suatu pernyataan bahwa aku seorang kapiten. Namun aku seorang kopral dan selalu bangga dengan kenyataan itu. Aku Kopral Bono. Gadis mana yang tak kenal akan daku. Aksiku oh very good seperti Mas Robin Hood. Senyuman manisku membuat wanita kalang-kabut. Apa gunanya pedang panjang dan berjalan prok prok prok tanpa semua gadis dan wanita yang kalang-kabut ini. Ini semua bahkan 'ku lakukan di tengah-tengah semua keributan inkoheren di sekitarku. Belum terlalu ribut. Tunggu sejam lagi.
Tadi ketika mengunyah entah nasi entah telur teringat olehku adikku. Bapak sangat menginginkan kami, bahkan sudah merencanakannya sejak jauh hari. Ia tahu bahwa ia membutuhkan Ibu untuk mewujudkan kami. Bapak Ibu, hidup mereka habis hanya untuk kami, aku dan adikku; dan kedua adik perempuan kami rela hati untuk itu. Kami diadakan di atas dunia ini untuk sebuah tujuan yang... Yah, kenyataan bahwa kami ganteng, gagah, dan pandai itu hanya syarat-syarat yang dibutuhkan untuk tujuan itu; atau malah tidak relevan. Itulah kami: cita-cita dahsyat Bapak.

Mungkin karena kedahsyatan cita-cita itu, kami--setidaknya aku--tidak pernah terpikir menginginkan lain kecuali tercapainya cita-cita itu; termasuk menginginkan penerus yang ganteng, gagah, dan pandai. Dulu memang ada waktunya aku sering berkata tola tole, namun aku tahu itu hanya olok-olok saja. Bukan terutama itunya, namun seluruh hidupku saat itu--bahkan mungkin sampai hari ini--sekadar olok-olok. Seperti kata Cantik, aku membuat suatu kelakar yang membuat seluruh dunia menangis; di mana ketika 'ku mulai mewek, seluruh dunia malah tertawa.

Ya, aku adalah lelucon bagi dunia, badut tidak lucu yang kadang-kadang saja lucu untuk diri sendiri. Perasaan ini membuatku menginginkan spaghetti dan milo dengan sedikit es, namun itu dulu. Dulu ada waktu-waktunya membayangkan burger keju ganda dengan sundae coklat sekalian. Sebentar, minumnya apa. Apa jaman segitu aku memang jarang minum air bening [bukan air putih. Air putih itu susu atau peju]. Edan betul itu burger keju ganda sundae coklat. Jangan-jangan jaman segitu pakai kentang gorengnya sekalian, yang mana kemungkinan besar. Gila.

Jika aku sudah bisa mengitiki begini, berarti hatiku sudah agak bahagia sedikit, atau setidaknya senang lah. Bisa jadi setelah ini aku segera menyongklang BeatEew menghambur ke stasiun-kerjaku yang di-atas-meja; yang entah mengapa malah membuatku teringat pada adik-adikku sayang. Semuanya 'ku sayang, ketiga-tiganya. Merekalah penerus Bapak Ibu. Tidak perlu diingatkan, 'kan 'ku panggul kalian semua pada pundak-pundak lebarku. Tak gendong ke mana-mana, dan takkan mati 'ku karenanya. Karena bukan ketenaran atau uang 'ku cari, melainkan cinta.

Ya, betul. Setelah ini mungkin segera ngacir, karena tempat ini sebenarnya tidak pernah ideal untuk apapun kecuali membuang uang. Hei, jangan begitulah. Masa kau lupa waktu-waktu menyenangkan yang pernah 'kau habiskan di sini bersama Farnsworth dan kawan-kawannya; dan masih banyak lagi. Belum lagi berbagai gagasan yang setidaknya membuat hati terasa ringan jikapun tidak benar-benar berguna. Mungkin tidak langsung ngacir. Mungkin setelah ini menghabiskan teh hitam pahit sambil membincangkannya dengan kecerdasan buatan, seperti biasa kita.

Teh hitam pahit tidak pernah benar-benar pahit, bahkan mungkin sama sekali tidak dapat dikatakan pahit. Mungkin lebih tepat hambar, bahkan ada rasa gurih-gurih hampir seperti rebusan daun salam. Apapun itu semoga berkhasiat. Yang jelas, teh, seperti kopi, mengandung kafein. Badanku mungkin sudah kebal terhadap kafein yang berasal dari teh, sedang lambungku meringis berjengit ketakutan membayangkan akan disiram dengan kopi apapun bentuknya. Yang jelas, ini sudah Juli, dan Juni ternyata hanya punya tiga entri. BKD masih lama lagi mau apadikata.