Sunday, July 12, 2026

Kanal-kanal Amsterdam di Malam Hari-Hari Gelap


Aku tidak pernah mengatakan aku tidak pernah senang di sana. Seperti di mana pun pasti adalah senangnya; sama seperti ada pula kurang senangnya di mana-mana pun. Aku tidak ingat tepatnya kanal yang mana. Pernahkah aku memandangi Nieuwe Achtergracht ketika hari telah gelap, mungkin dari De Brug, atau mungkin menyusurinya di depan Crea sambil berjalan pulang. Entah sekali dua pasti pernah di akhir 2018 itu. Paling sering tentu saja riool di depan Kees Broekman, atau yang di sekitaran Uilenstede itu. Semuanya ada bebek atau angsanya. Liar semuanya bebas.
Entah mengapa aku malah terlontar ke depan Aryaduta yang sudah tidak Hyatt itu mendekati tengah malam, sama seperti ketika menyusuri Handelstraat Bogor atau Gelatik Bintaro. Di mana pun aku terpaksa menginap pasti begitulah kejadiannya. Bahkan di Cakra Kusuma di Raya Kaliurang sana. Di Kees Broekman atau Kraanspoor ada juga waktuku terbangun malam-malam, tapi tentu saja tidak jalan-jalan ke luar. Dingin. Di dekat Tugu Tani atau Suryakencana atau Gelatik aku keluar agar tidak kedinginan. Di Kees Broekman atau Kraanspoor idih amit-amit dinginnya.

Waktu aku di Amsterdam tidak pernah terpikir olehku memandangi kanal mana pun dari jembatan mana pun setelah hari gelap. Aku hanya berani melakukannya terhadap gambar-gambar mati atau hidup, terlindung dalam kehangatan kamar berpenghangat atau memang sudah hangat dari sananya. Malam-malam turun dari Metro malah ke Damrak tidak pernah 'ku lakukan. Aku pasti langsung menuju halte Tram 26 yang akan membawaku ke Zeeburgereiland atau ke tempat feri arah NDSM. Aku tidak berkata tidak senang, hanya tak pernah 'ku lakukan ketika di sana.

Ini tentang kanal-kanal Amsterdam di malam hari, ketika hari sudah gelap. Jangankan hari gelap. Hari terang saja airnya keruh tak terlihat dasar. Bahkan 'ku dengar dari dalamnya dapat diambil jasad manusia, yang kemudian dimandikan, dikafani, dishalati, dikuburkan, diberi beberapa ribu Euro. Hahaha aku suka Euro namun tidak sampai segitunya juga. Biarlah 'ku tunggu saja ia masuk ke dalam rekening bank. Rupiah saja tidak pernah 'ku cari-cari apalagi Euro, apalagi sampai begitu caranya. Aku tidak pernah melihat tempat pemakaman umum di Belanda, iya 'kah.

Dalam dinginnya malam musim gugur yang sudah nyaris berakhir aku bergegas menuju tukang penjual kapsalon, mungkin bamischijf juga atau entah apalah itu. Mustahil aku berani melakukannya kalau Gerben dan Laurens belum mengatakan sesuatu yang positif mengenai rancangan babku, atau mungkin saking stresnya, atau entahlah. April 2021 itu aku juga beberapa kali nekad pesan antar, atau masih di awal tahun sekali. Aku ingat di tengah cuaca berbadai salju seorang anak Belanda mengantarkan pesananku. Hahaha pengantar makananku tetapi besar dan bulai begitu.

Amsterdam dan Maastricht seperti Jakarta dan Magelang bagiku, atau Depok dan Tangerang. Seperti sekarang ini, jangankan Amsterdam atau Maastricht, membayangkan Jakarta saja bergidik bulu roma kelapaku; bahkan meski itu rumah kelahiranku sekalipun. Karena bantalku sayang ada di sini, kasurku sayang hanya sepelemparan batu dariku. Aku tidak mau jauh-jauh dari mereka. Bahkan aku bisa saja meninggalkan kamar hotelku nan permai di Karawang, setelah membaluri sekujur tubuh dengan minyak gandapura, untuk bersikebut menuju bau kasur bantalku.

Tidak banyak yang 'ku ingat dari kasurku di lantai dua Laathofpad Zes itu. Justru karpet hitam berbulu di Sint Antoniuslaan selalu terkenang. Di situ aku bisa berguling bergulung-gulung ke mana suka ke segala arah. Tidak, di situ tidak ada kulkas apalagi kompor karena mereka semua adanya di seberang, di dapur bersama. Musim panas 2009 itu aku sempat merasakan dapur baru setelah direnovasi. Aku lupa apakah setelahnya sekarung bawang bombay yang sering 'ku embat masih ada. Entah apa saja yang 'ku masak di situ. Jarang gagalnya. Tidak seperti di Amsterdam.

Wednesday, July 08, 2026

Malam-malam dalam Satin Putih. Siang-siang Apa


Lagumu lagu siapa. Apa ini membawaku ke hari-hari terakhir 2017 atau awal 2018 ketika di sebelah perpus HAN masih ada ruang rapat yang aku lupa namanya. Di pojokan itulah suka ada almarhum Bang Andhika dan entah mengapa lagumu selalu mengingatkanku pada suasana itu di situ. Di petang hari menjelang Isya' yang sungguh nyaman ini, Alhamdulillah, dengan lagumu didentingkan oleh dawai-dawai gitar senyap Francis Goya, anganku terbang melayang ke waktu-waktu yang telah lalu; selalunya saja begitu. Di sampingku menemani secangkir coklat hangat nu memanjakan.
Hadi pernah berkata bahwa jika kita mencapai usia setengah abad akan datang tenaga baru untuk menjalani babak yang sama sekali baru dalam kehidupan. Sebelum mencapainya memang terasa berat dan semakin berat. Pak Hadi juga punya teori yang mirip-mirip. Siklus empat tahunan katanya. Jika dalam empat tahun itu berat, maka berat terus sepanjang empat tahun itu. Jika ringan, umurnya pun selama empat tahun. Mirip dengan segitiga afinitas horoskop Cina. Adzan Isya' sekonyong-konyong berkumandang. Aku belum mandi. Sholat baru mandi. Mandi baru sholat.

Aku suka memandang-mandangi anak perempuan orang. 'Ku akui, ini sudah 'ku lakukan lama sekali. Mungkin sejak 'ku sadari bahwa anak perempuanku sendiri terlepas dari jangkauan. Sejak itu tanpa 'ku sadar aku suka termangu memandangi anak-anak perempuan orang. Yang paling 'ku ingat tentu Intan. Mungkin karena rambutnya keriting seperti anak perempuanku. Sampai sekarang setua ini, setelah ada teknologi yang namanya Yutub, semakin parah kebiasaan burukku ini. Ya, meski kini aku punya ponakan perempuan bernama Jiung. 'Ku rindu anak perempuanku.

Mungkin akan ada yang mengatakanku ngemeng atau bacot. Yah, memang tidak pernah ada yang percaya. Sungguh sedih hatiku jika mengingat sedikit sekali kenanganku mengenai anak perempuanku. Mungkin memang sengaja 'ku bunuh sekadar untuk bertahan hidup. Kenangan favoritku tentu di petang seperti ini juga, ketika aku menimang bayi merah sambil berputar-putar di lantai ubin merah. Mengapa Georgia on My Mind besutan James Brown yang 'ku ingat. Apa bisa lagu itu dibawa berdansa. Entahlah. Namun begitu ingatanku. Kini saja masih terasa sakit.

Kini bekicot anak Wak Karib yang terasa olehku seperti anak perempuan. Memang beda ia dari hama padi yang artikelnya baru saja diterbitkan Padjadjaran Law Review. Bekicot masih suka 'ku ajak pergi meski sekadar ke Indomaret di depan perumahan. Sudarmanto pastilah laki-laki yang lebih baik dariku sampai dipercaya dengan Alira dan Zahli, apalagi Franz dengan Charielou dan Franzene, Secan dengan Naces, Neisha, dan Stacey. Aku hanya bisa berkhayal dengan Kin, Ququq, dan Becikot. Aku memang pendosa besar. Semua nikmat sekecil apapun terasa begitu raksasa bagiku.

Melihat Sudarmanto diperebutkan anak-anak perempuannya, Alira (13) dan Zahli (5), meski hangat hatiku, tak ayal membuatku teringat betapa aku tepat sebaliknya: dilepeh-lepeh. Memang ada dua sisi yang sangat bertentangan dalam diriku. Di satu sisi, aku pernah menulis mengenai kemenangan absolut. Di lain sisi, aku sering merasa seperti makanan koprofil. 'Ku rasa Iwan Goya ada benarnya. Aku memang naga yang ekstrim, suka membesar-besarkan persoalan. Yang junior dibelikan Akung, Yang senior ada di perpus HAN. Aku rindu perpus HAN yang dulu.

Imam sudah mengucap salam di Masjid Qoryatussalam sedang aku berada pada paragraf terakhir entri ini. Parah. Bukannya sholat malah mengitiki. Kembali dilema lama. Sholat dulu atau mandi dulu. Mau sampai kapan begitu, seakan waktu takkan pernah ada akhirnya. Selalu mengejar kepentingan diri sendiri lalu cuek akan derita sekitarnya. Oh, oh, astaga apa yang sedang terjadi. Oh, oh, astaga hendak ke mana semua ini. Bila kaum muda sudah tak mau lagi peduli. Mudah putus asa dan kehilangan arah. Segera kembali ke UUD 1945. Jiwa & semangatnya, bukan teksnya. 

Saturday, July 04, 2026

Burung Manyar Terbang Melayar Melamar Makanan


Entah mengapa aku merasa seperti memulai makalah ini dengan suatu pernyataan bahwa aku seorang kapiten. Namun aku seorang kopral dan selalu bangga dengan kenyataan itu. Aku Kopral Bono. Gadis mana yang tak kenal akan daku. Aksiku oh very good seperti Mas Robin Hood. Senyuman manisku membuat wanita kalang-kabut. Apa gunanya pedang panjang dan berjalan prok prok prok tanpa semua gadis dan wanita yang kalang-kabut ini. Ini semua bahkan 'ku lakukan di tengah-tengah semua keributan inkoheren di sekitarku. Belum terlalu ribut. Tunggu sejam lagi.
Tadi ketika mengunyah entah nasi entah telur teringat olehku adikku. Bapak sangat menginginkan kami, bahkan sudah merencanakannya sejak jauh hari. Ia tahu bahwa ia membutuhkan Ibu untuk mewujudkan kami. Bapak Ibu, hidup mereka habis hanya untuk kami, aku dan adikku; dan kedua adik perempuan kami rela hati untuk itu. Kami diadakan di atas dunia ini untuk sebuah tujuan yang... Yah, kenyataan bahwa kami ganteng, gagah, dan pandai itu hanya syarat-syarat yang dibutuhkan untuk tujuan itu; atau malah tidak relevan. Itulah kami: cita-cita dahsyat Bapak.

Mungkin karena kedahsyatan cita-cita itu, kami--setidaknya aku--tidak pernah terpikir menginginkan lain kecuali tercapainya cita-cita itu; termasuk menginginkan penerus yang ganteng, gagah, dan pandai. Dulu memang ada waktunya aku sering berkata tola tole, namun aku tahu itu hanya olok-olok saja. Bukan terutama itunya, namun seluruh hidupku saat itu--bahkan mungkin sampai hari ini--sekadar olok-olok. Seperti kata Cantik, aku membuat suatu kelakar yang membuat seluruh dunia menangis; di mana ketika 'ku mulai mewek, seluruh dunia malah tertawa.

Ya, aku adalah lelucon bagi dunia, badut tidak lucu yang kadang-kadang saja lucu untuk diri sendiri. Perasaan ini membuatku menginginkan spaghetti dan milo dengan sedikit es, namun itu dulu. Dulu ada waktu-waktunya membayangkan burger keju ganda dengan sundae coklat sekalian. Sebentar, minumnya apa. Apa jaman segitu aku memang jarang minum air bening [bukan air putih. Air putih itu susu atau peju]. Edan betul itu burger keju ganda sundae coklat. Jangan-jangan jaman segitu pakai kentang gorengnya sekalian, yang mana kemungkinan besar. Gila.

Jika aku sudah bisa mengitiki begini, berarti hatiku sudah agak bahagia sedikit, atau setidaknya senang lah. Bisa jadi setelah ini aku segera menyongklang BeatEew menghambur ke stasiun-kerjaku yang di-atas-meja; yang entah mengapa malah membuatku teringat pada adik-adikku sayang. Semuanya 'ku sayang, ketiga-tiganya. Merekalah penerus Bapak Ibu. Tidak perlu diingatkan, 'kan 'ku panggul kalian semua pada pundak-pundak lebarku. Tak gendong ke mana-mana, dan takkan mati 'ku karenanya. Karena bukan ketenaran atau uang 'ku cari, melainkan cinta.

Ya, betul. Setelah ini mungkin segera ngacir, karena tempat ini sebenarnya tidak pernah ideal untuk apapun kecuali membuang uang. Hei, jangan begitulah. Masa kau lupa waktu-waktu menyenangkan yang pernah 'kau habiskan di sini bersama Farnsworth dan kawan-kawannya; dan masih banyak lagi. Belum lagi berbagai gagasan yang setidaknya membuat hati terasa ringan jikapun tidak benar-benar berguna. Mungkin tidak langsung ngacir. Mungkin setelah ini menghabiskan teh hitam pahit sambil membincangkannya dengan kecerdasan buatan, seperti biasa kita.

Teh hitam pahit tidak pernah benar-benar pahit, bahkan mungkin sama sekali tidak dapat dikatakan pahit. Mungkin lebih tepat hambar, bahkan ada rasa gurih-gurih hampir seperti rebusan daun salam. Apapun itu semoga berkhasiat. Yang jelas, teh, seperti kopi, mengandung kafein. Badanku mungkin sudah kebal terhadap kafein yang berasal dari teh, sedang lambungku meringis berjengit ketakutan membayangkan akan disiram dengan kopi apapun bentuknya. Yang jelas, ini sudah Juli, dan Juni ternyata hanya punya tiga entri. BKD masih lama lagi mau apadikata.