Meski Fanny Soegi membuat Gunung Kidul terasa begitu cantik, tetap saja yang 'ku lihat adalah seekor tikus Miki besar yang kumuh, kumal, kusam, dan ku- lainnya, kecuali kutu kupret, dan mungkin juga kusut, ya, nasibnya. Tikus Miki ini berkalung sebuah etiket bertulis "jual balon seikhlasnya". Ia memang membawa beberapa utas balon yang mungkin ditiup dengan ababnya sendiri. Jika Fanny dan Heruwa digoda angin dirayu malam, maka seorang anak digoda tikus Miki. Melambai-lambai ia bergoyang-goyang sedikit agar bapak si anak membelikannya balon sesatu.
Waktu itu aku mencoba menelusurnya dengan pencarian digoda angin kita di Jogjakarta. Aku tidak dengar lantai duanya, karena memang itu dari radio taksi. Tunggu, aku sekarang tidak yakin. Adakah itu ketika pergi ke Suryakancana atau Cibinong. Apapun itu, akhirnya 'ku temukan juga Jogja lantai dua siakle ini. Ini 'ku ulang untuk ketiga kalinya. Seekor kucing betina hitam dengan dlemok-dlemok samar kuning dan putih mengeong lemah minta dilempari sedekah sisa-sisa ayam goreng. Bapak tukang parkir gendut minum segelas kola dingin, bangkit demi dua ribu Rupiah.
Ini sudah keempat kalinya 'ku putar ulang digoda angin dirayu malam. Jangan sampai entri berjudul begitu. Gengsi benar aku, meski tak gentar 'ku akui betapa iriku pada yang begini ini, dari mulai Mocca, White Shoes and the Couples Company. Lagu-laguku yang juga manis tidak pernah diproduksi. Lagu-lagu mereka yang manis diproduksi. Tidak, ketenaran tidak penting bagiku. Aku hanya ingin mendengar lagu-laguku dengan aransemen yang lebih cantik daripada cuma iringan gitar kopongku yang begitu-begitu saja. He, lagu Beatles juga begitu saja jika belum diproduksi.
Aku juga tidak akan rewel jika digoda angin dirayu malam ini melodinya mirip dengan roman ketiganya White Shoes. Aku memang suka lagu dengan melodi dan progresi kunci seperti ini, mau apa lagi. Bahkan boleh dikata, aransemen digoda angin lebih amboi dibanding roman ketiga yang sok cerdik. Cantik. tapi sok cerdik. Liriknya memang sama-sama semlohai, harus diakui, tanpa harus membayangkan Aprilia, Aprimela, atau Fanny. Vokal-vokal mereka bolehlah disebut bagus oleh Pak Tino Sidin. Aku benci membuat entri hampir-hampir mengenai satu lagu saja. Harus lebih lagi.
Caranya adalah dengan memutar daftar-main Selekta Pop-ku. Setelah roman ketiga dilanjut saat bahagianya Andien yang keunguan. Ini adalah kenangan pulang dari Pulau Pramuka malam-malam, naik kereta dari Kota sampai Depok, tampias kehujanan sampai kering lagi sesampai di Gang Pepaya. Setiap saat adalah saat bahagia meski tanpa senandung Andien ditingkahi Sigit Purnomo Said. Jika saat itu terasa agak lebih bahagia dari sekarang, itu karena waktu itu aku jauh lebih muda, masih 35 tahun. Uah, apalagi yang ini, salahnya Melly Goeslaw, mungkin 25 tahun.
Waktu itu malah sulit dikatakan bahagia. Uah, malah 21 tahun. Kenapa aku ingatnya 25, karena waktu itu dalam bentuk koleksi MP3 di salah satu komputernya LKHT yang hanya dapat 'ku akses di malam hari. Sudahlah, sampai di sini saja sudah syukur Alhamdulillah; yang penting sudah lewat. Aduhsay ini lagi malah mundur, saling setia dengan Rita Effendy. Ini malah lebih mengerikan lagi. Jadi sekarang, meski sakit-sakitan, tentu lebih bahagia dari masa-masa itu. Hidup tinggal dijalani. Selalunya memang seperti itu, hari ke hari, jam ke jam, terang jadi gelap jadi terang.
Tidak. Ini bukan entri mengenai digoda angin dirayu malam. Ini entri mengenai Ramadhan yang sudah jauh menua sedang 'ku abaikan. Astaghfirullah. Aku menulis-nulis begini seakan waktuku masih banyak. Sedang di luar tiba-tiba hujan menderas seperti diguyurkan dari surga. Besok aku harus ke Cikini, mungkin mengomentari catatan akhir tahunnya Kiara. Tidak ada gunanya menebak-nebak jalannya hidup ini, apalagi sampai merencanakan, terlebih berharap berkhayal. Andi Liani sudah mati dan banyak lagi, padahal setua ini sanggupkah terasa nyaman.
Waktu itu aku mencoba menelusurnya dengan pencarian digoda angin kita di Jogjakarta. Aku tidak dengar lantai duanya, karena memang itu dari radio taksi. Tunggu, aku sekarang tidak yakin. Adakah itu ketika pergi ke Suryakancana atau Cibinong. Apapun itu, akhirnya 'ku temukan juga Jogja lantai dua siakle ini. Ini 'ku ulang untuk ketiga kalinya. Seekor kucing betina hitam dengan dlemok-dlemok samar kuning dan putih mengeong lemah minta dilempari sedekah sisa-sisa ayam goreng. Bapak tukang parkir gendut minum segelas kola dingin, bangkit demi dua ribu Rupiah.
Ini sudah keempat kalinya 'ku putar ulang digoda angin dirayu malam. Jangan sampai entri berjudul begitu. Gengsi benar aku, meski tak gentar 'ku akui betapa iriku pada yang begini ini, dari mulai Mocca, White Shoes and the Couples Company. Lagu-laguku yang juga manis tidak pernah diproduksi. Lagu-lagu mereka yang manis diproduksi. Tidak, ketenaran tidak penting bagiku. Aku hanya ingin mendengar lagu-laguku dengan aransemen yang lebih cantik daripada cuma iringan gitar kopongku yang begitu-begitu saja. He, lagu Beatles juga begitu saja jika belum diproduksi.
Aku juga tidak akan rewel jika digoda angin dirayu malam ini melodinya mirip dengan roman ketiganya White Shoes. Aku memang suka lagu dengan melodi dan progresi kunci seperti ini, mau apa lagi. Bahkan boleh dikata, aransemen digoda angin lebih amboi dibanding roman ketiga yang sok cerdik. Cantik. tapi sok cerdik. Liriknya memang sama-sama semlohai, harus diakui, tanpa harus membayangkan Aprilia, Aprimela, atau Fanny. Vokal-vokal mereka bolehlah disebut bagus oleh Pak Tino Sidin. Aku benci membuat entri hampir-hampir mengenai satu lagu saja. Harus lebih lagi.
Caranya adalah dengan memutar daftar-main Selekta Pop-ku. Setelah roman ketiga dilanjut saat bahagianya Andien yang keunguan. Ini adalah kenangan pulang dari Pulau Pramuka malam-malam, naik kereta dari Kota sampai Depok, tampias kehujanan sampai kering lagi sesampai di Gang Pepaya. Setiap saat adalah saat bahagia meski tanpa senandung Andien ditingkahi Sigit Purnomo Said. Jika saat itu terasa agak lebih bahagia dari sekarang, itu karena waktu itu aku jauh lebih muda, masih 35 tahun. Uah, apalagi yang ini, salahnya Melly Goeslaw, mungkin 25 tahun.
Waktu itu malah sulit dikatakan bahagia. Uah, malah 21 tahun. Kenapa aku ingatnya 25, karena waktu itu dalam bentuk koleksi MP3 di salah satu komputernya LKHT yang hanya dapat 'ku akses di malam hari. Sudahlah, sampai di sini saja sudah syukur Alhamdulillah; yang penting sudah lewat. Aduhsay ini lagi malah mundur, saling setia dengan Rita Effendy. Ini malah lebih mengerikan lagi. Jadi sekarang, meski sakit-sakitan, tentu lebih bahagia dari masa-masa itu. Hidup tinggal dijalani. Selalunya memang seperti itu, hari ke hari, jam ke jam, terang jadi gelap jadi terang.
Tidak. Ini bukan entri mengenai digoda angin dirayu malam. Ini entri mengenai Ramadhan yang sudah jauh menua sedang 'ku abaikan. Astaghfirullah. Aku menulis-nulis begini seakan waktuku masih banyak. Sedang di luar tiba-tiba hujan menderas seperti diguyurkan dari surga. Besok aku harus ke Cikini, mungkin mengomentari catatan akhir tahunnya Kiara. Tidak ada gunanya menebak-nebak jalannya hidup ini, apalagi sampai merencanakan, terlebih berharap berkhayal. Andi Liani sudah mati dan banyak lagi, padahal setua ini sanggupkah terasa nyaman.













