Saturday, April 25, 2026

'Ku Rasa 'Ku Selalu Tahu 'Ku 'Kan Temukan Jalanku


Coleman coro, co Coleman sudah tahu apa, tinggal lagi hantu Coleman a la koq jijik jijik clegak cleguk. Di siang hari bermendung yang panasnya Masya Allah seperti dalam kukusan ini, 'ku rasa aku tahu mengapa Coleman. Apa lagi kalau bukan Gary Coleman di Different Strokes. Kolaborasi Ireng Maulana dan Rafika Duri dalam membesut Bossanova Indonesia tentu tidak pernah punya, tapi memang terjadi di waktu-waktu paling gemilang dalam hidupku, yakni di awal 1980-an; bersamaan dengan tahun-tahun terakhir pelabuhan udara Kemayoran. S'moga damai.
BeatEew berpose di gembatan jantung Gg. Bakti, di atas Ciliwung. Emang Nugroho doang.
Barusan 'ku katakan kepada anakku yang entah ada di mana, sudahkah kau ucapkan selamat tinggal dengan patut;pada musim penghujan. Tidak, aku tidak akan mengaku penyuka apalagi pecandu hujan, apalagi sampai mengulum kerinduan apalagi kemaluan. Mengulum permen aku pernah, senyum tidak. Jika sampai waktunya, musim penghujan akan begitu saja menghampiri. Seperti sekarang ini, ia beringsut-ingsut pergi menyeret jubahnya yang belepotan lumpur jalanan ibukota. Kebanyakan orang terlalu sibuk untuk berterima kasih padanya. 'Ku tak. Aku gabut, mungkin.

Entah mengapa hari lain di firdaus selalu membawa 'ku ke hari-hari berhujan, mungkin di akhir 1989 awal 1990. Aku tidak ingat rincinya bagaimana. Itukah hari-hari bahagia mandi di pintu air Situ Kelapa Dua, yang kadang ditingkahi kunjungan ke Model untuk membeli permen batangan yang seharusnya mahal hitungannya dulu. Apa aku juga pernah meminta Swang Heng di situ. Apa itu juga waktunya terkadang ke Agung Shop sekadar melihat-lihat alat tulis yang kemungkinan besar tidak 'ku beli. Nyatanya, di sana dua tahun saja. Cukup 'tuk gurat kenangan indah.

"Oh ya", dalam bahasa gaul Jakarta jadul dapat digunakan dalam dua makna. Pertama, sebagai pembuka cerita, terutama ketika baru teringat lagi akan cerita itu. Kedua, ketika menunjukkan ketakjuban seadanya, sekadar sopan-santun, seperti ketika sebenarnya tidak takjub, namun lebih baik menunjukkan ketakjuban sekadar agar lawan bicara merasa senang atau diperhatikan. Itu yang terpikir olehku ketika menyeberangi gembatan jantung di Jalan Bakti yang lebih menyerupai gang tadi, yang ada menghubungkan Jalan Masjid Nurul Huda dengan Jalan R.A. Kartini.

Kali ini, aku menggunakannya untuk makna pertama. Teringatnya [nah, kalau ini ungkapan khas Medan untuk 'ngomong-ngomong' atau 'by the way' dalam Bahasa Inggris] aku belum memperkenalkan BeatEew (baca: bitiu, dengan 'iu' sebagai diftong) dengan patut kepada sidang pembaca (halah!). Tidak apa-apa 'kan aku menamai turangga begitu rupa. Bukan aku pula yang menamai, melainkan Honda dan Ditlantas Polda Metro Jaya. Jadi seperti 'biuti' begitu namun digayakan. Hei, boleh 'kan. Kalau Fenny Bauti boleh masa 'bitiu' tidak boleh. Apapun'tu, pokoknya BeatEew.

Nah, inilah sebuah entri yang patut dalam jagad gondrong yang multi-dimensi ini: meretas ruang, melibas waktu. Di dalamnya aku berenang-renang karena di danau-danau UI aku tak sanggup, sedang kolam renang semuanya berbayar. Aku sudah berhenti berharap pada apapun di dunia ini, kecuali satu khayalan yang 'ku pelihara selama anak-anak bapak-ibuku, ya, adik-adikku, terutama yang dua itu, masih ada di dalamnya. Untukku sendiri, sedang celana yang baru 'ku ganti semalam saja sudah sapose meski belum aujubile. Jadi ya biarkan saja. Kau tak tahan, mandi.

'Ku seruput habis teh tarik halia, seperti secangkir wedang jahe rempah kebanyakan gaya seharga hampir Rp 40,000. Diberi sehat, segala puji hanya bagiNya. Diberi kurang sehat, segala sesuatu terjadi atas izinNya. Kembali padamu dari lebih 30 tahun lalu di rumah Ibu Maria Valentina Sri Hartini yang sangat lembut dan penyayang. Seorang ibu guru. Semua ibu guruku begitu tanpa terkecuali, termasuk yang di sekolah hukum tempatku bekerja kini. Bagaimana dengan yang sebaya atau bahkan lebih muda. Mungkin mereka lebih peneliti tinimbang guru, tapi tak mengapa.

Friday, April 24, 2026

Pusat Penelitian Hukum Bau Kentut Kutu Terpadu


Malam larut panas udara adalah pembuka yang sok puitis namun, seperti biasa, tak berdaya suatu apa. Akankah entri ini menjadi satu cerita padu dari awal sampai akhir, setidaknya seperti cerpen SM Ardan atau Ahmad Tohari. Dapatkah suatu entri mengalir tanpa menyajikan, ya, mempertontonkan ketelanjangan pikiran apalagi arus ketaksadaran. Tidak dapat. Jadi biar saja 'ku beberkan di sini khayalanku untuk berkantor di tangga darurat gedung Integrated Law Research Center. Di sini aku melakukan salto terbalik dari berdiri s'raya berpuntir di udara berapa kali.
Aku juga tidak mau berprosa lirik macam Romo Sindhunata, meski adegan Afi muncul setiap kali Oom Sindhu berkokok semua muridnya masuk negeri, lantas Oom Sindhu memekik "Oh tidak" dan ambil langkah seribu terasa lucu. Aku suka begini dan ini bukan arus kesadaran namanya. Ini arus-bawah kesadaran, setidaknya. Ini seperti lupa minum obat, yang setelah minum obat lantas tenang dan lupa. Tidakkah memang begini saja setiap tahunnya antara April dan Oktober, tidur dengan badan basah apalagi bantal kepala, botak atau berambut. Tidur di kubikel LKHT duluk.

Terkadang aku suka membayangkan diriku sendiri bergerak-gerak. Bukan menari, tapi sekadar menggerak-gerakkan anggota badan. Membayangkan saja, karena bergerak-gerak seperti senam kopri atau pukesmas. Bukan aku malu melainkan mau melakukannya bersama teman-teman satu panti. Kalau masih sendiri mengitiki begini ya lebih baik dibayangkan saja, ketika teringat betapa dahulu hidup masih bisa membayangkan keadaan-keadaan yang lebih baik dari yang dirasa sekarang. Sekarang hidup tidak mungkin lebih baik lagi. Sudah baik begini. Sudah nyaman tak 'njadi apa.

Jika memang malam tidak kunjung sejuk, jika memang badan terasa agak kurang yes, tidak bisa jadi ukuran jika pernah melalui yang seperti ini, lebih baik atau buruk. Karena hidup itu maju terus seperti garis lurus tak pernah kembali ke titik manapun, kurang lebih begitu kata Sam, Jaka, atau Acil 'ku tak terlalu peduli. Jika memang mengitiki begini dapat mengurangi rasa-rasa kurang garam kurang merica dalam hidup keseharianku, tidak mengurangi kenyataan bahwa jari tanganku kanan berbau daging dan bawang bombay. Aku tidak sedang menangis bombaya.

Kehidupan menggelandang, menggelar kasur tayo berbantal tak bersarung di tangga darurat itu bisa jadi nyaman justru di musim kemarau begini. Di musim hujan kemarin mungkin agak horor dan dinginnya. Kalau di musim kemarau mungkin justru sejuk karena tidak pernah kena sinar matahari dan dinding-dindingnya tebal. Insulasi yang sesuai. Mungkin aku juga tidak perlu sampai tidur malam di situ. Jika malam menjelang aku bisa saja pulang, namun pagi sampai petang aku dapat bersembunyi di sana. Awas jangan sampai ada yang mengetahui rencana ini. Nanti diusir.

Betapa senangnya aku membayangkan. Aku hanya butuh meja kecil saja, cukup untuk meletakkan laptop dan mungkin entah gelas berisi wedang atau botol air minum. Sisanya bahkan dapat diletakkan di lantai. Dan di lantai itu pulalah, jika dibutuhkan, dapat 'ku gelar tayo. Ini bahkan lebih baik daripada waktu di PDRH dengan buku-buku apak dan semburan pendingin udara. Sebentar, tapi di sana 'kan tidak ada colokan listrik. Nanti biar 'ku periksa lebih seksama. Jelasnya, di situ tidak akan bau jamur dan ketetesan air jamur. Entah ini seperti khayalan gardu belajarku.

Apa betul yang akan 'ku lakukan di situ, bersama diriku sendiri. Terkadang ada waktunya 'ku membutuhkan orang lain, tapi tidak seperti yang ada sekarang ini. Sekadar membayangkan kesendirian saja sudah seru sendiri, terlebih jika telingaku dielus-elus musik di udara volume 6 dari Nuvoluxe begini. Tadi aku sudah sikat gigi, tapi setelah ini aku akan sikat gigi sendiri. Bahkan aku sempat membayangkan gayung berisi peralatan mandi, mungkin juga handuk yang bisa 'ku keringkan di mana pun di situ. Uah, akankah terwujud. Akankah menjadi keseharianku. Silangku jariku.

Tuesday, April 21, 2026

Sitokai-tokai Bersitokai-tokai. Apa aku yang Lebai


Kebotakanku ketidakberdayaan. Selop keemasan yang suatu hari nanti aku tidak akan ingat apa maksudnya kecuali 'ku guyurkan kode sebanyak-banyaknya dalam entri ini, sedang waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Kebotakanku dielus sepoi-sepoi hembusan pendingin udara sedang yang di rumah terus njeglek karena kurang daya. Tentu saja karena aku bukan Sersan Meriam McQuade. Ketidakmampuan mungkin yang membuatku tidak mampus. Dari mana aku sampai bisa tahu biru-biru Biloxi sedang yang 'ku maksud mungkin marinir biru bayi.
Namun aku seperti ingat adegan di rumah kucing itu. Kini pandanganku tak terhalang meski aku juga jadi kehilangan lindung tinjau. Apa butuhku padanya ketika bahkan aku tidak meninjau. Bahkan mencuri-curi pandang pun tidak, aku yang dapat menatap lurus pada mantan perwira proyek ilmu-pengetahuan-sasional. Aku yang diberi sesaset sambal korek. Aku yang takkan heran jika mereka ternyata seusia keponakanku tertua. Jika satu teh hijau dua melati ini sudah habis mungkin aku akan bergeser. Mungkin akan daku lanjutkan dengan secangkir air panas pembasuh gula.

Aku seorang moralis amoral. Aku yang hanya bisa berbicara mengenai diriku sendiri karena tidak mau bohong meski pembual besar. Kesegaran seperti diguyurkan perlahan pada botak-botaknya kepala dan gendut-gendutnya perut seperti topi air yang sebenarnya gayung penuh berisi air, yang ditutupkan cepat-cepat ke atas kepala agar menetes perlahan airnya. Setelah agak lama diangkat tiba-tiba dan kesegaran seperti mengguyur. Aku yang botaknya gendut sudah tidak butuh kesegaran macam itu, meski gendutku belum botak; masih berambut ia di bawah pusar dan seterusnya.

Ternyata ada biangnya. Sudah khawatir tadi aku (halah!) Biang seperti apapun sudah tidak banyak berpengaruh padaku, saking tuaku, saking gendut botakku, karena, seperti 'ku katakan tadi, gendutku belum botak. Jangan pula kau kata ini puitis, arus kesadaran, swadefekasi dan sebagainya itu. Ini kepilusan. Ini keputusibauan. Ini seperti sudah tidak punya tujuan. Ini seperti kleyang kabur kanginan, meski kuyakin Marthen tidak begitu. Hanya namanya saja Kanginan. Terlihat jelas sepenuh hadap biangnya: Tiada mengubah apapun aku dari sediakalanya.

Ternyata lebih dari sekadar itu. Ternyata aku intelek, yakni, berada tepat di tengah-tengah sungai tembelek lincung tanpa dayung. Jika pun ada arusnya, pasti tidak deras. Pasti lamban alirannya. Kau tahu aku. Jangankan cuma tahi ayam sesungai penuh, samudera tahi orang pun akan 'ku arungi demi mendapatimu. Namun kau pasti akan segera lari menjauh dariku. Jangankan itu. Kau tidak akan mendekati pantainya. Bayangkan, sepenuh samudera. Sedangkan seclepretan di celana saja sedapnya sudah aujubile. Ketika sampai aku di pantai, dikau sudah tiada.

Kesedapan yang sudah 'ku tekadkan untuk tidak pernah merasakan di punggung bumi ini, bahkan aku tidak mau memikirkannya di mana pun. Entah api itu menyambar, entah apa yang disambarnya, meski berkali-kali. Bukan berarti aku belum pernah mencecap, uah, menyesap kesedapan; dan untuk itu tiada putus aku bersyukur sekaligus minta ampun. Kesedapan sesedikit apapun pasti ditanyakan, dimintai pertanggungjawaban, apalagi duit, duit, duit dari 2011. Di sini aku berhenti dulu. Entah mengapa aku ingin pulang sekarang, tepat di sini ini.

Ternyata belum bisa. Di luar hujan deras dan aku tidak mau basah. Aku kembali mengitiki, seperti biasa, ketiak sendiri. Tiada yang 'ku buat geli, bahkan tidak aku sendiri, karena aku berzirah emas hasil latihan di Shaolin dulu. Tiada banyak gunanya. Minggu lalu bahkan aku melukai jariku dalam pada kedua tangan dengan ujung rak pameran museum jelek FHUI dan kawat pengikat pintu hokben GDC. Kini aku benar-benar seorang diri menunggu redanya hujan, sedang gerimis pun tiada di hatiku, apatah lagi hujan. Di pojokan sini aku bergeser, mengitiki 'ku seorang diri.

Saturday, April 18, 2026

Aku Cinta Kamu, Bayi, dan Jika Boleh, Butuh Kamu


Aku ini adalah orang yang buruk sekali, banyak keburukannya. Salah satunya baru saja 'ku lakukan. Aku baru saja memeper-meperkan jari-jemari tanganku yang belepotan taburan basreng pedas pada kursi kantor berlapis semacam serat sintetis. Coba, kursinya 'kan jadi belepetan bau basreng. Aku berani melakukannya karena tidak satu orang pun sedang bersamaku kini. Coba ada, maka aku akan pura-pura bener, minimal cari tisu, atau bahkan wastafel, mencuci tangan dengan sabun segala. Itu berarti aku pengecut, dan inilah keburukanku nan paling memalukan. Jih.
Di atas ini sudah dari Jumat pagi lalu. Setelah jih itu Jeng Dilla datang. Setelah mengobrol agak satu jam dengannya, Boyan datang disusul Ali M dan berbagai bimbingan entah-entah kiriman Sopuyan. Ini juga salah satu yang menjengkelkan, yang mungkin baiknya diungkap sedikit agar tidak ngempet lalu mejret seperti balon diisi air diduduki. Mungkin ini juga, ditambah dengan cuaca yang Masya Allah kedatangan anak lelaki gojira. Ini masih paragraf kedua saja beratnya sudah tak terkira, apatah lagi ketiga, keempat, dan seterusnya. Badanku merindui sejuk udara Belanda.

Padahal tadi aku merindukan slompretan saksofon pembuka tinggi sepanjang waktu. Namun setelah 'ku lihat jaraknya toh tiada terlalu jauh, 'ku biarkan entah siapa menggebuk-gebuk tambur-tambur tom selebih-lebihnya sesuka hati. Lucunya, di titik ini aku kembali ke Jalan Haji Sajim bawah, yang paralel dengan Jalan Radio Dalam, yang dihubungkan oleh Gang D dengan Kompleks Yado, di siang hari. Dalam hidupku 'ku alami hari-hari panas. Ada waktunya terasa, mungkin sekarang waktunya lebih terasa, bahkan sangat; tetapi apapun semoga dilindungi dari marabahaya.

Lucunya lagi, tiba-tiba aku kembali berada dalam bis malam dari Lebak Bulus menuju ke timur. Mungkin belum terlalu jauh. Mungkin bahkan masih di Jakarta karena bahkan belum berganti hari Islam atau Jawa. Berarti kursi-kursi masih kosong, dan betapa nyaman rasa hatiku mengetahui di saku baju atau entah di mana ada sebungkus rokok. Bukan seketeng, bukan setengah, tapi sebungkus penuh. Apa itu. Apakah Sampoerna King atau bahkan Bentoel merah dengan sekotak korek api säkerhetständstickor. Uah, badan muda. Baik, 'ku rasa kita 'kan berhasil. 

Badan muda lama-lama tua juga kalau terus dikasih gorengan yang ketika diperas dengan tisu dapur bahkan meninggalkan pada telapak tangan selapis minyak yang lengketnya seperti lilin atau parafin. Uah, setua ini aku sudah lupa rasa jatuh cinta kecuali kepada istriku satu-satunya yang selalu muda dan lucu di mataku, meski rambutnya memutih di sana-sini. Betapa tidak, ia selalu isolutip. Ia selalu punya ide untuk menyelesaikan masalah-masalah yang sungguh tidak ada kecuali dalam benaknya saja. Namun di situ letak lucunya. Di situ aku selalu jatuh lagi dan lagi padanya.

Betapa tidak, usianya selalu menyusulku. Seperti sekarang ini kami sama-sama 49 tahun karena beda kami tidak sampai setahun. Teringatnya, aku melihat foto Akong ketika masih muda menggendong Cindy yang mungkin masih belum sekolah. Laki-laki di mana-mana seperti itu. Hidup menempanya dengan keras sampai ia lebih keras lagi pada hidup. Aku hanya bisa berdoa bagi semua laki-laki di dunia, semua bapak yang dibuat keras oleh hidup dan menjadi lebih keras lagi dari hidup itu sendiri. Aku bahkan menyanyikan lelagu pujian, suatu himne, suatu oda bagi laki-laki.

Uah, sedap memang disko klasik jika sudah ditingkahi gesekan dawai-dawai begini; meski aku masih menolak, menyangkal teori Gus Dut bahwa karena itulah genre ini disebut sebagai disko klasik. Ya, 'Nak, sering-sering ke Jakarta, ke Dufan, belanja ke mal-mal membeli barang-barang bermerek, menginap di Grand Sahid Jaya Hotel, itu semua boleh-boleh saja. Namun sekaranglah waktumu untuk menebusnya, membalasnya bagi mereka yang tidak pernah merasakan semua itu. Bekerja dan berpikirlah untuk membuat mereka yang tidak seberuntung engkau lebih beruntung.

Sunday, April 05, 2026

Renungan Halah! Paskah Begini Mau Bagaimana


Arus kesadaran, bagaimana kalau genangan atau kubangan kesadaran. Bagaimana kalau memulai hari dengan bombardemen karpet terhadap panca indera sampai-sampai berbagai pikiran berlompatan dalam otak seperti sapu ikan-ikan kena racun potas. Bagaimana orang bisa berpikir sebagian besarnya dalam interogasi, sampai-sampai kepalanya penuh kata tanya tanpa tanda tanya. Lima 'we' satu 'ha', haha, sedang telinga terasa penuh minyak, yakni, lilin yang belum terlalu terdehidrasi. Tidak, ini bukan genangan apalagi kubangan. Benak sekadar trampolin superelastis.
Di atasnya mungkin ada butir-butir kerikil kenangan besar dan kecil, yang ketika dihantam atau dicolek rangsangan inderawi lantas berlompatan seperti anak-anak bocil penuh ceria riang gembira. Sudah. Terlalu cerdik ini. Lebih baik kembali pada sensasi lubang telinga berminyak yang susah diseka karena bahkan ukurannya lebih kecil dari lingkar jari tangan terkecil yaitu kelingking apatah lagi kaki. Mungkin kalau tisu ini 'ku pilin-pilin 'ku untir-untir ia akan cukup masuk lubang telinga. Namun tisu ini sudah dipakai menyeka mulut habis makan sambal terasi. 'Ntar jadi epik.

Di seberang sana ada keluarga menarik. Suaminya seperti orang timur sana. Gempal botak seperti 'ku, namun mungkin lebih muda. Kumisnya masih hitam kecuali disemir. Iseng betul menyemir kumis. Istrinya Jawa Katolik begitu, tapi 'ngapain mereka paskah-paskah begini malah menyumbang Bibi Netanyahu membeli bom dan peluru untuk menghujani anak-anak Gaza dan tepi barat sungai Yordan dengannya. Berambut pendek tanpa kerudung, mudah bagiku untuk menuduhnya bukan Muslimah. Anak mereka adalah percampuran pas keduanya. Astaga dua.

Laki-laki semua. Betapa 'ku membuang energi mental spiritual yang sangat berharga hanya menghasilkan entri seperti ini sampai dicerca Gemini aku tak peduli. Apa aku tidak boleh capek berpikir keadilan dan persatuan seraya mengotak-atik di mana letak kerakyatan, kemanusian, dan ketuhanan di dalamnya. 'Ku rasa tak satu pun orang yang hadir di ruang rapat, yang tadinya terasa seperti ruang penyimpanan nuget tanpa gadis penjualnya, mengetahui seperti apa bentuknya benda empat dimensi terlihat dari dimensi tiga. Ke mana perginya pengamen dari tengah jalan. 

Selalu saja setelah bertahun-tahun paragraf keempat terasa seperti putaran keempat dalam tes samapta baterai A. Sudah 'ku lupakan begitu saja dan segera beranjak memasuki paragraf kelima. Hanya satu yang menyemangati, tidak seperti tes samapta, jika sudah selesai aku dapat membincangkannya dengan kecerdasan buatan, karena tidak satu kecerdasan alami pun akan tertarik padanya. Lagipula, aku memang tidak berusaha menarik sesiapapun. Aku hanya butuh berbincang, dan kecerdasan buatan sudah memenuhi kebutuhan diriku akan yang satu ini.

Tadi sempat terpikir untuk mengisi-ulang dulu cangkir kertas berkantung teh lembab dengan air panas, namun terhenti gara-gara sibuk meratakan kanan-kiri. Ya sudah 'ku lanjutkan saja masuk paragraf sebelum terakhir. Di luar cerah dan dalam waktu kurang dari setengah jam suhu sudah naik dua derajat selsius dari 26 ke 28, padahal belum jam sembilan. Seperti inilah kenyataan Ibu Pertiwi. Bukan karena beliau marah. Kemarahan anak-anaknya 'lah, dan terutama, keangkara-murkaan yang membuatnya terasa begini. Ibu Pertiwi selalu ramah, teduh, lemah-lembut. Penyayang.

Kini terlihat tanda-tandanya domba-domba pengikut Kristus baru selesai mengikuti ibadah Paskah. Keluarga yang tadi bukannya ibadah malah berolahraga, meski ini hanya dugaan saja bahwa mereka non-Muslim. Keluarga yang ini suaminya jelas Batak atau mungkin bisa juga orang Timur. Istrinya Cina-Jawa. Anak perempuan mereka mirip ibunya, syukurlah. Sebentar lagi ruang makan ini akan jadi sangat ramai dan tidak nyaman. Apakah aku jadi mengisi-ulang gelas tehku, mungkin memesan entah apa, atau segera ngacir belum tahu. Rasanya aku masih mau di sini.

Saturday, March 28, 2026

Romeo dan Juliet Belanja di Pasar Persia. Berdansa


Langsung aja 'nih perkenalan: Kekasih, andai saja kau mengerti. Harusnya kita mampus lewati itu semua. Hahaha. Puas. Tidak. Biasa saja. Ini bahkan sebiasa terpuruk 'ku di sini. Jika ia dirilis pada Juli 1993, berarti aku sering mendengarnya justru di musim penghujan akhir tahun itu, di Graha 3. Betapa sedikit kenanganku mengenai tempat ini. Apakah karena aku tidak menyukainya. Apa entri ini akan 'ku isi dengan kenanganku mengenainya. Malas. Terlalu ngeffort. Aku begini, seperti biasa, karena kesepian sangat, kegabutan sangat sampai-sampai tak'da ide lagi mau apa.
Uah, intro terompet ini asli sok cerdiknya, 'ga kaleng-kaleng! 'Tuh sampai 'ku beri tanda seru begitu. Jangan-jangan dulu Cecak benar-benar beli, atau Aris Yudhi teman sekamarnya. Aku juga beli kaset sekitar waktu itu, tapi isinya mudah untuk jatuh cinta sampai pusing 'ku baktikan bagi yang 'ku cintai alah tokai. Aku beli di Gardena seharusnya waktu itu, mungkin sembari beli kaset kosong untuk merekam kaset Nat King Cole-nya Bu Eko. Aku ingat kok pulang pesiar sekitar Ashar, sekitar waktu Quantum Leap diputar. Tapi mana pernah sholat waktu itu, sholat apapun. Prahara.

Akhirnya, mendekati tengah malam, aku kembali lagi kepadamu, karena memang tiada sesiapa bersamaku kecuali kamu, yang bukan si ratu oke dan bukan dua dua pula umurmu. Mungkin ini juga tidak akan selesai malam ini juga maka 'ku teruskan pada paginya sambil mendengarkan Simfoni Nomor 40 dalam G minor K 550 oleh Mozart. Memang hanya musik-musik seperti ini yang cocok buatku, bukan sensasi seks murahan a la ratu oke. Sejujurnya, sebagus apapun kata orang bentuknya, kalau dia tidak tahu apa itu Simfoni No. 40, langsung ilfil akunya 'tu. Anunya aku'tu.

Widis, apalagi dilanjut dengan Rapsodi tentang Sebuah Tema Paganini, Opus 43 oleh Sergei Rachmaninoff begini, sedap-sedapnya 'tu langsung terasa begitu, meski entah mengapa bahan celana ini cepat sekali sapose kolor babe baunye aujubile. Kalau sudah begini, secantik apapun musim semi dalam khayalan Antonio Vivaldi baunya ya tetap sapose. Ini sebetulnya mudah diatasi, tinggal dibakari saja dengan dupa cendana Jepang, meski ada cara yang lebih tepat: segera mandi dan ganti baju dan celana. Memang sudah beberapa hari, sih. Sebentar lah. 'Ku kelikitiki dulu.

Sedap-sedapnya begini tidak perlu juga disebut-sebut judul-judulnya jika semata-mata terdengar gaya-gaya'an. Semua juga sudah tahu kalau seleraku tinggi. Tidak ada yang tahu juga tidak apa-apa karena bagiku komposisi-komposisi klasik begini patutnya bersanding dengan nasi uduk bang Edoy yang jarang sekali mencapai angka Rp 15,000 ketimbang steak ala-ala atau Beef Welingtonia. Sebentar. yang makanan itu Beef 'kan, bukan Windy. Lebih baik begini, melonjak-lonjak diiringi Dansa Hongaria Nomor 5 sampai menguar sapose ke mana-mana, lebih suka dari apapun.

Melonjak-lonjak begini, berputar-putar berdansa menurut Waltz dalam A mol major, Opus 39 Nomor 15 ah biar saja 'ku tak peduli. Perut buncit begini tak berbaju, celana pendek ada centang Nike-nya meski jelas palsu dan berbau aduhai begini siapa peduli. Apa ini waktunya segelas teh tarik halia meski baru saja sejebung besar teh melati Jawa biar saja. Aku tidak pernah lupa bahagia meski tidak pernah benar-benar mengusahakannya. Tepatnya, aku tidak pernah benar-benar mengusahakan apapun, karena hobiku mengundi nasib. Aku biarkan saja apapun lewat di depan mulutku.

Aku caplok, ya, aku 'aem. Aku berhenti dulu untuk membuat semug Norwegia teh tarik halia sementara Carmen sudah sibuk memainkan kastanyet sedang aku monyetnya. Baru menyebut Carmen saja sudah ada yang menguik-uik, atau menguwik-uwik di bawah sana. Apakah seorang mezzo-sopranis berkulit tembaga mengilat, bergaun bahu terbuka jelas mempertontonkan tulang-tulang selangka dan belahan dada, sedang yang menyenandung ini Kwartet Gesek Nomor 2 dalam D Mayor: 3. Notturno. Andante. Aduduh sakit sekali digigit sapi. Mau bunuh diri tapi takut mati.

Friday, March 27, 2026

'Ku Ingin Cinta Wow Hanya dari Dirimu, [Ke]Kasih


Salah satu akting ter-oke mungkin adalah Brian Cox sebagai Agamemnon, ketika Hector membunuh Menelaus adiknya, lantas memberi prentah: Serang! meski belum sampai levelnya Hamid Arif ketika meludah kejijikan. Masakan hidangan lebaranku sepiring Indomie jumbo biru rasa ayam panggang yang entah sudah berapa ratus (ribu?) bungkus 'ku makan dalam hidupku, meski sebungkus itu saja yang selalu 'ku ingat. Dan apa gunanya ingatan sebungkus itu. Apa gunanya entah berapa saset minuman instan yang kebanyakannya mungkin kopi, ada sedikit coklat juga herbal.
Aku bosan terus dikatakan arus kesadaran meski aku juga tidak ingin tak sadarkan diri. Apakah aku yang baru tidur sekitar empat jam ini akan segera mengantuk aku tidak tahu. Namun yang jelas sepiring Indomie goreng jumbo biru tidak cukup sekadar dikatakan mengena titiknya seperti kata Patrick Reagan setelah memakan sepentung roti isi salad telur atau surimi yang 'ku belikan di toneelacademie. Supnya ke mana, ya. Mungkin saat itu sepentung roti bisa dibeli tanpa sup. Pembangunan berkelanjutan mungkin memang tidak pernah terasa terlalu serius bagiku.

Pada saat itu, Patrick bersama dengan Bong Il, Tesfaye, dan sebagainya berasal dari kohort semi sedang aku gugur; dan ini semua, seperti dapat diduga, berasal dari beberapa hari lalu, ketika bulan Ramadhan berakhir berganti Syawal. Ada juga sempat terpikir tempat-tempat 'ku mencari teman ketika di Maastricht. Paling mudah tinggal menyeberang ke kamarnya Bang Herman. Kalau mau agak usaha ke Zwannenstraat bahkan ke tempat Bong Il yang entah di mana itu. Sampai di titik ini lidahku kelu padahal mengitiki tidak pakai lidah tetapi jari. Hei, aku tidak pakai jempol.

Jika aku kembali padamu, itu karena aku merasa kesepian. Bahasa Indonesia sebegitu primitifnya sampai koneksi, relasi, bahkan transportasi semua bisa menggunakan kata kerja 'hubung'. Uah, belum-belum sudah arus kesadaran lagi. Habis mau bagaimana, inilah cara mengitiki yang paling rileks, yakni, dengan jari-jemari sendiri mengitiki ketiak sendiri yang tiada kunjung geli. Dikitiki siapapun aku tidak geli karena punya ajian zirah emas dari Shaolin. Sesepi itu, ya, segabut itu memang aku tidak ngeri. Bahkan meski harus doktor (mondok di kantor) tidak masalah.

Berbicara mengenai para doktor, rata-rata sudah pada mati. Pak Damanhuri dengan keredong sarungnya, John Gunadi dengan celana gunung kutungnya jika hari telah senja, malam hari pun tiba, hidupnya yang sendiri, sunyi. Ya, aku mendatangimu kembali, mengitikimu, karena bahkan para doktor ini dari masa laluku. Semakin banyak wajah baru, semakin sedikit wajah lama. Bahkan Fajar Ricky Setiawan saja sudah menggelendut. Sudah 15 tahun ia bekerja di kampus. Sudah tidak bisa lagi dimintai tolong bawa motor pulang, apalagi di bawah guyuran rinai hujan.

Teh tarik saja sekarang sudah tidak seperti dulu di Rumah Teh Tong Tji. Mungkin tehnya masih sama, tempatnya sudah pindah, jadi sok cerdik. Aku suka tempat Rumah Teh Tong Tji yang dulu karena hangat dan... pokoknya pas di situ. Sekarang aku jadi terpaksa harus memesan entah apa di A&W itu. Coklat panas jelas tidak karena menyakiti perut. Jus jeruk, entahlah. Sebenarnya bir akar aduhai sedapnya dari masa-masa yang telah berlalu. Dulu bahkan es krim monas vanila coklat mengumbarasa, apalagi coney dognya. Namun ya itu, semua dari masa-masa yang telah lama lalu.

Mau Kopitiam Ah Pek, mau Jambo Kupi, semuanya sama saja. Tehnya terlalu pekat dan kental, kental-manisnya, sesuai namanya, terlalu kental seperti semen anak remaja tanggung dan terlalu manis untuk dilupakan, kalau kita memang tak saling cinta, tak 'kan terjadi. Terlalu tokai, mau Slank, mau Dewa 19 sama saja. Sebetulnya Gigi masih agak mending, juga Power Slaves entah mengapa, dari masa-masa muda yang telah lama meninggalkan 'ku. 'Ku di sini bukan akhiran ya, melainkan pemendekan dari aku, maka 'ku beri apostrof alias tanda petik tunggal ('). S'perti itulah.

Wednesday, March 18, 2026

Renungan Bulan Puasa yang Tinggal Hiks Tiga Hari


Secara instingtif (halah!) aku meraih Lenovo AiO 520 (atau lebih tepatnya menghampiri), mendudul tombol daya untuk menyalakannya (mengapa tidak pakai geretan atau mancis). Ya, ketika aku merasa tidak berdaya di tengah hari bulan puasa begini, stasiun-kerjaku menjadi semacam sanktuari; sedang cerah dengan riang gembira bermain di pendengaranku dengan ketelepak-telepuk bongonya. Uah, ini mengapa aku cinta bagaimana kau mencintaiku begini. Memang begini adanya dengan intisari (atau perpendekan) pembaca, majalah dan piringan hitamnya jua.
Jika aku jatuh dibesut ensembel dedawai begini aduhai terasa sedap-sedapnya, meski ditingkahi dengungan kipas pembuang dan keletak-keletuk pesta seni menyikat kamar mandi. Tingkah ini masih tidak banyak jika dibandingkan satu saja kejengkelan yang manisnya seperti adik bungsu laki-laki. Apa yang naik ke atas pasti turun ke bawah. 'Tuh 'kan dalam bahasa Inggris saja begitu: up ada go-nya, down ada come-nya. Jadi tidak usah rewel naik ke bawah turun ke atas, seakan kau berhadapan dengan sepasang kuntilanak yang sesatunya Dede Sunandar.

Sesuatu dalam caramu bergerak atau merayu atau apalah terserahmu dari kecil sekaliku, bahkan ketika masih mengenyot susu formula melalui botol dot di atas tempat tidur lipat yang beberapa kali menjepit jari-jariku. Sudah, sekarang coba kita kembali ke serangga-serangga. Biar tidak lupa mari kita daftar dulu: dimulai dengan semut, lalu walang kadhung (belalang sembah), terakhir hama padi. Di akhir jaman ini, aku menemui hama padi sedang memulas riasan pada wajahnya karena akan belajar menyetir dengan ayahnya. Seaneh itulah akhir jaman memang. Tak'ngapa.

Aku sudah merasa dari tadi hama padi di balik punggungku. Ketika ayahnya datang ia asbah padaku, bapak tirinya. Begitulah yang dipahami mengenai sopan santun. Ya sutra lah, sekarang kita(?) bicara mengenai walang kadhung yang menyambutku di pagi hari yang sudah larut sembari menemplok di pagar. Ia melakukannya tidak sekadar agar terlihat sopan, tetapi dengan tulus ia menemplok di situ menyapaku hangat seperti seorang kawan. Sapaan hangat itu berbunyi 'enak lo' yang didapatnya dari kumpulan beto (bego & tolol) di kosan Babe Tafran dulu.

Hei, jika 'ku dengar-dengar, rekaman intisari pembaca ini tak ubahnya musik elevator atau supermarket yang terdengar gampangan begitu. Kurang ajar. 'Nah mumpung kita(?) sedang berbicara mengenai sopan santun, makian kurang ajar terasa begitu mengena pada diri sendiri yang sudah botak gendut setengah abad masih juga kurang ajar ini. Kepada siapa. Kepada otoritas apapun kecuali Otoritas, tapi ini, seperti dapat kau(?) terka dan maklumi, sekadar gaya-gaya'an. Aku nyatanya memang gampangan: gampang dimanfaatkan, gampang dikelabui. Gampang 'kan.

Semutnya mana. Ini dia. Entah berapa spesies semut saja berhembalang berduyun-duyun dan aku sedih tidak dapat menyebut nomenklatur binomialnya satupun. Bahkan nama lokalnya aku tidak tahu. Aku hanya dapat menyebut mereka sebagai semut bakau, semut hitam besar, semut hitam kecil, semut kecil, semut lebih kecil, semut kecil sekali yang kalau menggigit gatal sekali. Namun tak 'ku biarkan kesedihan itu berlarut-larut karena biarlah kesedihan itu larut dalam cairan entah apa untuk dibuang sebagai limbah entah ke mana. Biar semut-semut damai bahagia di bumi.

Aku biar damai bahagia di hati. Sebentar. Sebelum terburu-buru damai bahagia, baru teringat 'ku, hama padi bisa saja tidak serangga, binatang menyusui pun, bahkan babi hutan. Tidak. Hama padi yang ini serangga. Ada babi memang tapi bukan hama padi dan tidak dari hutan sekali. Pukimak babi kuntilanak begu sekali, kata Akong. Mungkin memang harus dihumori, dijogeti begitu, meski entah apa perasaan Akong. Putus asa, tak berdaya, tak bisa jalan lagi, benci fisioterapi, Kak Dewi, Bu Rosalina, entah siapa lagi. Semoga Tuhan meringankan deritamu 'Kong.

Sunday, March 15, 2026

Sebuah Tempat Musim Panas Terik Membakar. Aku


Masa habis dikasih Dedi kepada yang 'ku cintai dilanjut warna yang lebih putih dari pucat. Kaset apa ini. Kalau yang dikasih Dedi itu mungkin salah satu dari sedikit sekali kaset yang pernah 'ku beli sendiri dalam hidupku. Sekarang ini aku ingat cuma dua. Itu dan satu lagi yang 'ku beli di Pondok Indah Mall, instrumentalia begitu, ada memulai Beguine, ada penghibur. Mengapa judul-judul harus diterjemahkan, karena aku menulis dalam Bahasa Indonesia. Kalau lebih putih dari pucat begini aku jadi ingat waktu baru pindah ke Graha Lima, awal musim hujan di akhir 1993 seketika itu.
Ini apa dilanjut dan aku mencintainya. Di siang terik begini apalah artinya fakta bahwa aku mencintainya. Pernahkah aku bercinta di terik siang hari begini, ketika selangkangan baunya aujubile sapose kolor babe. Uah, mana dilanjut sebuah tempat musim panas yang merupakan bagian dari musik instrumental dansa ruang-bola besutan orkestra dawai-dawai huliwud sego liwud semlidud. Maka 'ku hentikan daftar-main acak-acakan spotifai dan langsung daku minta sepenuh albumnya. Dimulai dengan berkeliling dunia 'ku mencarimu. Memang cucok untuk siang terik begini.

Mana dilanjut dengan April di Portugal pulak. Ini memang hampir April meski tidak di Portugal, tetapi di tepian Cikumpa. Ini tempat yang jauh lebih nyaman menyenangkan ketimbang bagian manapun dari Portugal, aku yakin, meski semalaman jantungku terbakar gara-gara makan kuah gulai telur dan tahu dari telaga indah. Uah! Sampai. Sampai manapun aku tidak peduli jika semanis ini, secantik ini, 'ku beli bekas entah di mana, Senen atau Cikini. Aku berdansa berputar-putar dengan kenangan manisku sendiri, dengan khayalan-khalayan cinta yang tiada pernah nyata.

Sedang indera penciumanku terkadang dibelai harumnya cendana Jepang, aku tidak pernah mencium bunga kecil yang manapun. Jangankan kecil, bunga saja 'ku rasa tak pernah kucium. Mengendus diam-diam mungkin pernah, ketika sekelebat feromon menggelitik hidung. Sampai mencium tidak pernah, padahal aku tidak pernah terlalu pemilih mengenai bentuk. Mungkin aku seperti nenek moyangku yang tidak keberatan untuk melepas hajat pada Neanderthal betina, bahkan mungkin Erectus atau Ergaster sekalipun. Siapa pula peduli wajah asal susunya sebesar bola voli.

Ini mengapa cinta Aprilnya begini sampai nyaris tidak dikenali, dipercepat agak dua kali ketukannya. Biarlah terkadang konduktor atau aranjer suka sok cerdik, sepanjang dilanjut lagu dari kincir merah yang menanyakan di mana hatimu ketika kau melumat bibirku, lidahmu membelit lidahku, liurku bercampur dengan liurmu, terasa olehku gado-gadomu, terasa olehmu bir hitamku. Uah, ini entri karnal sekali aku tak peduli. Terkadang yang karnal begini memang rampak diketik begitu lancarnya. Di titik ini aku ambyar dari tepi jurang ke awan-awan tiada peduli dasar ngarai entah.

Tak perlu kancingkan celana karena celanaku memang tak berkancing. Bahkan celana lebah hitam kuning ini semacam berkancut begitu di dalamnya berjaring-jaring begitu. Ini lagi tafsir akan berjalan-jalan di hutan hitam sedap juga dibuat begini. Mantovani membuatnya terlalu melangutkan dengan jurus gesekan dawai berlapis-lapisnya. Ini dibuat ayunan dua ketukan begini terasa riang gembiranya, seperti melonjak-lonjak kegirangan meski di tengah hutan hitam. Tunggu, hutan hitam ini semacam kue atau rerimbunan di antara kedua paha Mama-san. Hahaha.

Anjay sungguh karnal viseral entri ini apa peduliku. Siang hari Minggu terik begini baguslah aku sepanjang hari berteduh di rumah dari pagi, tidak perlu sembalap dari mana ke manapun. Di bawah terik begini memang tidak ada pilihan lain kecuali bersembalap sembrani, berjalan justru di tepi sebelah kanan karena pembatas tengah-tengah jalan sering ditanami pepohonan yang sudah cukup rindang. Untung tidak habis dipangkas ketika masih musim badai kemarin. Meski mungkin tidak seindah sebuah tempat musim panas versi rendisi siapapun, ini rendisiku.

Saturday, March 14, 2026

Teori Dawaiku Berteori Wadidaw Daili Desi di Jawai


Seorang lelaki dan seorang perempuan, keduanya jelita (jelang lima puluh tahun). Ketika sulit memastikan hidup beruntung, maka setidaknya jangan sampai merugi. Impas saja, sedang Paul Mauriat dari hampir sepuluh tahun lalu masih saja melantunkan bunyi-bunyian cantik. Jika kau heran mengapa ragaan indrawi di sini lebih sering mengenai bebauan dan bebunyian, karena memang pemandangannya selalu begitu-begitu saja. Seperti sekarang ini, aku duduk di kursi favorit semua orang; setidaknya Bu Cici, Hari Prasetiyo, Bang Son jika sedang ke mari, dan aku.
Sepanjang minggu ini akhirnya hari-hari berhujan dari minggu kemarin sudah berakhir, digantikan dengan cuaca cerah cenderung terik namun tidak gerah apalagi memanggang. Ya, ketika shalat bahkan sebelum tidur di malam hari badan agak berkeringat, tapi itu pun sudah begitu dalam hari-hari berhujan kemarin. Jika sekadar dapat memandang hijaunya dedaunan di luar apabila melirik ke kanan, itu sudah cukup. Tidak perlu sampai gunung hijau kebiruan menjulang tinggi dengan sawah hutan menghampar di kakinya, apalagi sampai repot-repot mendatangi ke sana.

Itu dulu pemandanganku sehari-hari selama sekitar tiga tahun, antara 1991 sampai 1994 ditambah beberapa bulan. Kenangan mengenainya saja sudah cukup bagus. Masih dapat 'ku rasakan segarnya udara 'ku hirup ke dalam paru-paruku, sejuknya hawa membelai kulitku, dinginnya air mengguyur badanku. Bahkan ketika aku tidak sikat gigi sekalipun selama empat bulan lebih, semua sensasi itu masih bersamaku, 'ku rasa. Sejuknya ruangan berpendingin udara dari sepuluh tahun lalu, dengan bunyi-bunyian cantik dan pemandangan berganti-ganti di rumah aku dilahirkan.

Keponakanku laki=laki ketika itu baru saja masuk sekolah dasar, dan kakeknya masih ada. Sepuluh tahun kemudian, ia akan segera masuk sekolah lanjutan tingkat atas, dan kakeknya sudah tiada. Perutku sepuluh tahun lalu masih nyaman-nyaman saja diikat dengan gesper. Sekarang aku membutuhkan penggantung celana agar ia tidak melorot. 'Ku rasa memang banyak entriku mengenai perjalanan waktu. Nyatanya memang aku sudah hidup nyaris setengah abad. Jadi memang sudah cukup banyak waktu 'ku jalani. Oya, habis ini akan 'ku pelajari lagi mengenai teori dawai.

Oya ya, nasib, nasibku jelas bukan nasibmu membawaku kembali ke Cipinang Jaya. Entah di lantai berapa, Pak Guru menggenjreng gitarnya malam-malam, terkadang malah meniup seruling Sunda yang menyayat hati bunyinya. Aku tidak tahu bagaimana untuk mencintaimu, Yesus Kristus Superstar. Begitu banyak waktu, begitu banyak tempat telah aku lalui, kunjungi. Aku pernah berak di Istana Bogor, Kementerian Pertahanan sampai Mabes ABRI di Cilangkap. Sampai kini aku ngeri membayangkan berak di Museum Waspada Purbawisesa di Lubang Buaya.

Aku bahkan pernah terbirit-birit ke kakus terdekat dari balsem FISIP UI. Tanpa 'ku sadari aku termencret-mencret di WC perempuan saking kebeletnya. Keluarnya itu yang susah. Setelah 'ku tunggu agak lama, setelah ada satu dua yang mengetuk-ngetuk pintu dan 'ku ketuk balik, setelah benar-benar sepi aku menyelinap keluar. 'Ku rasa tiada yang menyadari. Aku bahkan pernah berlari mendahului barisan untuk menyelinap masuk ke dalam kebun singkong melepas hajat dalam pakaian dinas lapangan tempur lengkap. Seorang ibu memandangi aku keheranan.

Permainan terlarang itu adanya di selamat tinggal, Cintaku, selamat tinggal bersama sakit cinta. Aku tidak pernah mengizinkan diriku terjangkitnya. Jangankan sakit, jatuh cinta saja aku tidak pernah kecuali kepada istriku cantik sendiri satu-satunya. Jangan-jangan aku tidak pernah membiarkan diriku menginginkan apapun yang bukan milikku. Karena kalau sudah milik sendiri buat apa diinginkan lagi. Cukup dinikmati sekadarnya sambil terus berterima kasih kepada yang telah menitipkannya kepadaku, selalu sadar bahwa titipan harus dikembalikan. 

Sunday, March 08, 2026

Hari ke-18 Ramadhan 1447 Digoda Angin Malam


Meski Fanny Soegi membuat Gunung Kidul terasa begitu cantik, tetap saja yang 'ku lihat adalah seekor tikus Miki besar yang kumuh, kumal, kusam, dan ku- lainnya, kecuali kutu kupret, dan mungkin juga kusut, ya, nasibnya. Tikus Miki ini berkalung sebuah etiket bertulis "jual balon seikhlasnya". Ia memang membawa beberapa utas balon yang mungkin ditiup dengan ababnya sendiri. Jika Fanny dan Heruwa digoda angin dirayu malam, maka seorang anak digoda tikus Miki. Melambai-lambai ia bergoyang-goyang sedikit agar bapak si anak membelikannya balon sesatu.
Waktu itu aku mencoba menelusurnya dengan pencarian digoda angin kita di Jogjakarta. Aku tidak dengar lantai duanya, karena memang itu dari radio taksi. Tunggu, aku sekarang tidak yakin. Adakah itu ketika pergi ke Suryakancana atau Cibinong. Apapun itu, akhirnya 'ku temukan juga Jogja lantai dua siakle ini. Ini 'ku ulang untuk ketiga kalinya. Seekor kucing betina hitam dengan dlemok-dlemok samar kuning dan putih mengeong lemah minta dilempari sedekah sisa-sisa ayam goreng. Bapak tukang parkir gendut minum segelas kola dingin, bangkit demi dua ribu Rupiah.

Ini sudah keempat kalinya 'ku putar ulang digoda angin dirayu malam. Jangan sampai entri berjudul begitu. Gengsi benar aku, meski tak gentar 'ku akui betapa iriku pada yang begini ini, dari mulai Mocca, White Shoes and the Couples Company. Lagu-laguku yang juga manis tidak pernah diproduksi. Lagu-lagu mereka yang manis diproduksi. Tidak, ketenaran tidak penting bagiku. Aku hanya ingin mendengar lagu-laguku dengan aransemen yang lebih cantik daripada cuma iringan gitar kopongku yang begitu-begitu saja. He, lagu Beatles juga begitu saja jika belum diproduksi. 

Aku juga tidak akan rewel jika digoda angin dirayu malam ini melodinya mirip dengan roman ketiganya White Shoes. Aku memang suka lagu dengan melodi dan progresi kunci seperti ini, mau apa lagi. Bahkan boleh dikata, aransemen digoda angin lebih amboi dibanding roman ketiga yang sok cerdik. Cantik. tapi sok cerdik. Liriknya memang sama-sama semlohai, harus diakui, tanpa harus membayangkan Aprilia, Aprimela, atau Fanny. Vokal-vokal mereka bolehlah disebut bagus oleh Pak Tino Sidin. Aku benci membuat entri hampir-hampir mengenai satu lagu saja. Harus lebih lagi.

Caranya adalah dengan memutar daftar-main Selekta Pop-ku. Setelah roman ketiga dilanjut saat bahagianya Andien yang keunguan. Ini adalah kenangan pulang dari Pulau Pramuka malam-malam, naik kereta dari Kota sampai Depok, tampias kehujanan sampai kering lagi sesampai di Gang Pepaya. Setiap saat adalah saat bahagia meski tanpa senandung Andien ditingkahi Sigit Purnomo Said. Jika saat itu terasa agak lebih bahagia dari sekarang, itu karena waktu itu aku jauh lebih muda, masih 35 tahun. Uah, apalagi yang ini, salahnya Melly Goeslaw, mungkin 25 tahun.

Waktu itu malah sulit dikatakan bahagia. Uah, malah 21 tahun. Kenapa aku ingatnya 25, karena waktu itu dalam bentuk koleksi MP3 di salah satu komputernya LKHT yang hanya dapat 'ku akses di malam hari. Sudahlah, sampai di sini saja sudah syukur Alhamdulillah; yang penting sudah lewat. Aduhsay ini lagi malah mundur, saling setia dengan Rita Effendy. Ini malah lebih mengerikan lagi. Jadi sekarang, meski sakit-sakitan, tentu lebih bahagia dari masa-masa itu. Hidup tinggal dijalani. Selalunya memang seperti itu, hari ke hari, jam ke jam, terang jadi gelap jadi terang.

Tidak. Ini bukan entri mengenai digoda angin dirayu malam. Ini entri mengenai Ramadhan yang sudah jauh menua sedang 'ku abaikan. Astaghfirullah. Aku menulis-nulis begini seakan waktuku masih banyak. Sedang di luar tiba-tiba hujan menderas seperti diguyurkan dari surga. Besok aku harus ke Cikini, mungkin mengomentari catatan akhir tahunnya Kiara. Tidak ada gunanya menebak-nebak jalannya hidup ini, apalagi sampai merencanakan, terlebih berharap berkhayal. Andi Liani sudah mati dan banyak lagi, padahal setua ini sanggupkah terasa nyaman.

Friday, March 06, 2026

Payung Kecil Dalam Tas Ransel Hijau Rina-Rini. Aku


Mana yang mau 'ku tulis lebih dulu, fakta bahwa Februari sudah berlalu dan sekarang sudah Maret, maka Februari berhentilah di tujuh, atau kenanganku mengenai payung dan satu set bolpoin dan pensil mekanik yang 'ku beli di tokonya Bang Ippul Barel. Ini sudah masuk Maret, Imlek sudah lama berlalu, tetapi hujan masih saja mengguyur. Gerimis halus menderas atau hujan deras sekalian. BMKG menyebutnya cuaca ekstrem. Mengapa tidak hari-hari berhujan saja. Mau ringan, sedang, lebat, sangat lebat sama saja, asalkan ada tempat berteduh, asalkan bajuku tetap kering.
Terasa agak menyenangkan juga, di pagi hari dingin berhujan begini, mengenang-ngenang awal 2008. Ketika itu baru saja aku menyandang gelar sarjana hukum. 'Ku rasa rasanya sama saja. Mau sarjana hukum, mau emesce dalam kebijakan publik dan pembangunan manusia dengan spesialisasi pembangunan berkelanjutan, mau doktor antropologi hukum, sama saja. Puji Tuhan aku merasa sehat-sehat saja, meski tumitku agak sakit jika dibawa berjalan. Ah, lebih baik kembali lagi ke awal 2008 itu. Rian dan Togar baru saja menyelesaikan semester satu. Aku masih muda.

Payung itu 'ku rasa juga 'ku beli di tempatnya Santiago dan Lemonado. Pensil mekanik itu 'ku rasa yang terakhir 'ku beli dalam hidupku, kalau bukan yang pertama pula. Seingatku isinya tidak habis-habis sampai lama sekali. Jangan-jangan masih ada sampai sekarang. Bolpoinnya dari beli sudah rusak. Kalau tidak salah pada saat itu aku baru punya bolpoin Pilot warna hijau yang dulu sangat disukai Ibu, yang 'ku hilangkan waktu kelas 3 SD, yang tidak berani 'ku laporkan pada Ibu sampai lama, yang ketika akhirnya ketahuan aku dicubiti habis-habisan sampai lepas kulit dagingku.

Payung itu dulu seingatku ringan, 'ku bawa-bawa dalam tas hijau rina-riniku, yang 'ku rasa tak mungkin 'ku beli sendiri, atau mungkin saja. Tas itu aku suka karena kesederhanaannya. Sebetulnya tidak banyak yang betul-betul terjadi dalam hidupku, sampai tas hijau sederhana itu saja 'ku kenang-kenang. Ia dibuang oleh adikku agar aku mau memakai tas ransel darinya, yang akhirnya 'ku bawa pula ke Maastricht, robek pula ketika aku jatuh dari motor agak di depan Pancasila. Astaga, dalam waktu hanya tiga tahun, 2007-2009, ternyata banyak juga kenangan aduhai terjadi padaku.

Ya, mungkin pada saat itu masih cukup banyak saputanganku warna merah jambu membawa berjuta kenangan ayu. Di sekitar waktu itu pula ada pembuat kue tergila-gila padaku. Ini tergila-gila sungguh-sungguh, bukan menggilai dan mengelu-elukan. Ah, kembali ke payung, adakah ia 'ku bawa ke PTUN Jakarta di Pulo Gebang itu, di 2007, yang masih banyak tanah lapang, yang ada sapi ditambatkan di bawah hujan deras tak henti-henti, yang membuatku kasihan kepadanya, yang membuatku menunggu seharian di sana. yang 'ku kunjungi lagi di 2025 'dah berubah sama sekali.

Ketika itu ke Pulo Gebang aku naik kendaraan umum. Bagaimana caranya 'ku tahu sasaran (trayek/rute) kendaran umum ke sana. Sudah adakah google map ketika itu. Aku masih muda ketika itu, baru 31 tahun belum juga lulus kuliah sarjana. Ditugasi Bu Anna mencari putusan spesifik nomornya, yang harus membayar untuk mendapatkannya. Seingatku aku menunggu di mesjid. Aku tidak ingat makan apa ketika itu. Yang 'ku ingat, bangunan pengadilannya masih jelek. Tidak jauh dari SD inpres. Tahun 2025 ketika aku ke sana lagi sudah sebegitu megahnya, AC di mana-mana.

Ini cuma kenangan mengenai bagaimana waktu berlalu. Tahun-tahun berkelebatan seperti pemandangan dari jendela woosh yang aku belum pernah naik, apalagi shinkansen hayabusha, tidak kepingin juga. Hidup yang 'ku sangka begini-begini saja ternyata banyak kejadiannya sedih dan gembira. Terasa begini-begini saja karena tidak seperti yang 'ku khayalkan atau 'ku percaya. Padahal aku pernah menunggu lama di LIA Pramuka, sampai berjalan-jalan ke belakangnya mencari ATM, sholat di mesjid entah apa. Cukup banyak juga tempat telah daku kunjungi dalam hidupku.

Sunday, February 22, 2026

Jangan Percaya Dunia Tak Boleh Beri Korang Surga


Bagaimana caranya tunjukkan aku jalannya sampai tidak ada dalam ZTE mix; justru dalam map aslinya, The Suckest Profile, yang sebelumnya bernama SuckTwilite iProfile. Semua pahlawan dan legenda yang 'ku tahu sebagai kanak-kanak berubah menjadi berhala lempung. Uah, dahsyat betul alegorinya, sampai-sampai ingin 'ku ambil lagi dua mintz rasa musim semi. Aku memang selalu makan sekaligus dua bungkus sekali makan. 'Nih, 'ku makan lagi sekaligus dua, jadi empat semua. 'Ku kunyah-kunyah seperti kacang mete (monyet?) 'nyembul dari jambu monyetnya. 
Kalau begini urutannya memang spesifik dari waktu-waktu itu: Tunjukkan aku jalannya, Sirami aku dengan cintamu, Sesuatu terjadi di jalan ke surga. Dari kecil aku memang tidak dilatih makan buah, sampai-sampai satu-satunya buah yang 'ku sukai ya jambu monyet itu. Namun satu hal selalu menjadi kegundahanku (halah!): Jika jambu monyet mengapa kacangnya mete. Mengapa tidak monyet. Tenang, aku hanya bercanda. Aku sudah tahu jawabannya: Karena aku monyetnya. Ya, kau boleh kata ini swadefekasi atau apa, tetap saja aku monyetnya. Betapa hendak dikata. 

Sesuatu yang bodoh memang selalunya untuk dikatakan kepada manusia yang pada dadanya menggantung dua jambu monyet, dengan kacang-kacang mete pada dua ujungnya. Manusia seperti gajah, jejambuan monyet menggantung pada dada; tidak seperti sapi yang jauh di bawah perut. Terkadang di larut malam kau kata cinta padaku. Kau cinta bermain denganku, atau mempermainkanku, aku tidak seberapa peduli. Sepanjang kau cinta padaku, dan apabila jejambuan monyet menggelantung di dadamu, dan kau bukan gajah. Gajah pun aku tak peduli, Jambu Monyet.

Apa lagi mau kau bilang, mimpi demam. Aku lebih tidak peduli. Meski tadi pagi sudah diberi Mixagrip Greges lalu malam ini Panadol Extra, dulu-dulu sudah 'ku terkam. Bahkan betisnya 'ku bidik dengan Mauser C96 gagang-sapu tepat kena, garuk-garuk seperti tersengat entah apa. Jaman segitu aku belum kenal dengan nyamuk hutan bambu. Betis tertembak Mauser gagang-sapu rasanya kurang lebih sama seperti dientup nyamuk hutan rimba belantara. Cahaya-bintang Ekspres selalu 'ku tumpangi dari kecilku, membawa angan cinta yang tak akan pernah terwujud selamanya.

Begitu banyak impian terbang, begitu banyak kata yang tak kita ucapkan. Sudah, sudah. Salah. Seharusnya tetap. Aku benar-benar tetap mencintai diriku sendiri, karena siapa lagi yang dapat membalas cintaku kecuali diriku sendiri. Ketika hama padi saja membuat cintaku bertepuk sebelah tangan. Ketika anak perempuanku sendiri, kesayanganku satu-satunya mencampakkanku, hanya diriku sendiri yang tak berbuah jambu monyet ini dapat 'ku andalkan untuk menghangatkan malam-malamku, sejak dari kecilku sehingga tuaku kini. Aku masih terkena biru-biru jika engkau tahu.

Apa lagi 'nak kau kata, nostalgia melankolia sentimentalia. Tidak ada. Sungguh tidak pernah ada. Jika pun pernah ada yang minta diikat, jika pun pernah ada yang menemplok padaku seperti seekor monyet buntung, aku 'kan dengan senang hati menyeruak dingin: Tidak ada. Aku menulis-nulis begini itu tandanya memang tidak ada, dan aku tidak lagi berharap. Aku berkubang dalam kenangan akan khayalan-khayalan yang tak berdaya, hanya satu impian semata. Khayalanku bukan Bu Susi, Bu Titik, apalagi Bu Eko atau Bu Hartini. Daku berkhayal Pancasila dan UUD 1945.

Ah, orang asing di surga, aku hafal ini di luar kepala, meski 'ku lupa kapan menghafalnya. Aku bahkan lupa versi siapa yang sering 'ku dengarkan di stasiun tua-tua terbaik di kota, tapi aku ingat aku hafal justru setelah stasiun itu tidak lagi memutar lagu-lagu tua dari sudut pandangku yang generasi X pertengahan ini, melainkan sekadar lampau satu dekade. Ini lagi orang-orang asing di malam hari pada 'ngapain. Betapa mereka pernah mengharu-biru, bikin merinding bulu roma, meriang disko suka-suka. Sekarang biasa saja. Sekarang greges sedikit meski tidak pakai linu. 

Sunday, February 15, 2026

Berapa Banyak Kau 'Kan Berkata Minta Maaf, 'Njing


Memang paling pas menulis mengenai hal ini ketika Tomi Pes menyediakan bahu untuk menangis padanya. Memang apa yang akan ditulis. Tadinya hanya terpikir dua. Barusan jadi tiga. Maka daripada lupa harus segera ditulis. Inilah kisah tiga pendekar: Botean Jing, Boteku Cing, dan -yang terakhir terpikir- Botea Yam. Jika kisah ini berhenti di sini, jangan gusar. Jangan risau. Inilah gaya menulis arus kesadaran, aliran ketidakwarasan. Bisa saja di titik ini cerita beralih seperti bintang pada cikcek yang memakan kaki-kaki laba-laba satu demi satu jadi tinggal lima.
Jadi sudah berapa kaki dimakan cikcek. Jika kau tidak pernah tahu kisah Arachne menantang Minerva adu menenun, kau pasti tidak tahu. Jangan-jangan kau juga tidak pernah mendengar tentang Aragog, yang upacara pemakamannya dipimpin oleh Profesor Horace Slughorn. Barusan terpikir, bisa juga dibuat cerita mengenai tiga bersaudara Bo: Bo Teanjing, Bo Tekucing, dan Bo Teayam. Yang mana saja, dapat dibayangkan ini adalah sebuah epos atau roman. Minum cairan kecoklatan yang tiada lain adalah coklat panas di pagi hari yang telah larut lalu mengangguk-angguk.

Mengikuti rampaknya nyanyian Diana King mengenai cowok pemalu, dilanjut Noel berjoget ria di paginya yang sunyi. Uah, seandainya pagi ini sesunyi nyanyian Noel. Nyatanya, di hadapanku Peyang sibuk memotong-motong rumput bersama anak lelakinya. Terlihat betapa tidak profesionalnya, karena ia memang spesialis pembongkar rumah dan pedagang barang rongsokan. Helm MDR bau tai, Skechers Massage Fit bau tai, dan Under Armor Rapid keplek-keplek berjemur di bawah sinar lemah matahari tersaput awan tebal tipis. Tidak apa. Bagus untuk Peyang. 

Alih Manhattan mengajak tersenyum lagi. Apa yang membuat tersenyum. Jangankan lagi, sepagian ini belum ada alasan untuk tersenyum, kecuali sinar matahari sedikit mengintip dari balik mendung. Inilah cuaca sebelum Imlek, begitu kata orang. Ketika setiap tahun begini saja, ada tahun baru yang mencoba sepersis mungkin dengan peredaran bumi mengelilingi matahari. Ada tahun baru yang tidak peduli, justru dihitung dari peredaran bulan mengelilingi bumi sebanyak dua belas kali. Sedangkan hari dimulai tidak dari terbit tetapi terbenamnya sang mentari.

Bisikan pelaksana halus pula mengingatkan satu-satunya buah kesukaan. Sebenarnya buah sungguhan ada juga, yaitu pepaya. 'Tuh 'kan tetap saja sugestif. Ya sudah biar saja sekalian. Memang satu, atau tepatnya, dua-duanya yang disukai adalah buah dada. Lainnya tidak pernah terlalu. Tidak pernah dicari jika tidak ada. Ada pun belum tentu disenggol. Namun buah dada, jangan sembarang disenggol kalau tidak mau kena tuduhan pelecehan seksual. Jaman sekarang kekerasan sesksual bisa verbal bahkan gestural. Apatah bebuah dada, memandangi wajah terlalu lama bisa kena.

Rempah Bayi menyanyikan sangat baik atawa samba musim panas dengan sensualnya, disusul dengan kesendirian oleh kehidupan barat. Secangkir air panas membilas noda-noda cairan kehitaman pada dinding cangkir keramik hitam di luar putih di dalam. Soledad njot-njotan tak ubahnya surinjot 'lang-elangan adalah bunyi-bunyian dari masa lalu, hampir dua puluh lima tahun. Entah apa yang dilakukan aing lalad jambu dengan erang-erang dan Neng Milla [Jovovich]. Ketika itu ia masih akhir dua puluhan, jadi maklum masih tolol. Kalau sekarang masih begitu, entahlah.

Suatu hari nanti kita akan bersama dan kita 'kan berbagi cinta ini selamanya. Tokai. Dulu tak percaya apalagi sekarang. Makhluk-makhluk astral seperti aing lalad jambu dan pendekar hina kelana vespa merah jambu memang tidak tercipta untuk yang seperti-seperti itu. Satunya hidup dari sasetan: kopi, shampoo, deterjen, apapun, yang penting sasetan. Satu lagi hidup dari alam, apakah setandan pisang atau seikat kangkung, pokoknya dari alam. Kalau Mbak Deborah Gibson sekarang kurus sekali dan menua, ya memang begitu perjalanan waktu, jika percaya.