Ada jamannya orang 'gak seneng banget kalau 'nulis daging, maunya dagienks. Bahkan sampai jadi tempoe doeloe, padahal 'kan bacanya jadi 'tempu dulu'. Itu kira-kira sejaman dengan tas selempangku merek Esprit warna biru. Itu tasku sepanjang di SMP Islamic Village 1988-1990, seingatku. Aku lupa pakai apa ketika sudah pindah ke SMPN 56. Tapi tas Esprit itu memang membuat pojok-pojok buku menjadi keriting, menjengkelkan 'ku. Beberapa memang disampul plastik, tapi kalau sampai terlipat ya sama saja. Pojok buku harus tetap lurus kaku. Habis plekara!
Mau kronologis? Bisa. Ayo ke Cipinang. Di sanalah aku bertemu dengan selebihnya koleksi Mbak Tiput, majalah-majalah Gadis itu. Sebelumnya, lungsuran album-album perangko telah menemani hari-hariku sejak dari SD sampai SMP itu. Entah mengapa perangko bergambar lukisan Czobel Bela berjudul Mimi itu yang paling menancap dalam ingatan. Majalah Gadis aku tidak suka, karena itu mengenai gadis. Aku tidak pernah benar-benar suka gadis sampai hari ini. Mereka terlalu berbeda dariku yang selalu menginginkan sepucuk pistol semi otomatis dan sebutir granat ini.
Sepanjang menjadi sekretaris lalu ketua OSIS SMP Isvill aku terlalu sibuk memurnikan diri sendiri dan pengawal pribadiku, aku tidak punya waktu memikirkan yang lain. Bahkan sekarang ini jika 'ku paksakan tetap tidak bisa. Jadi memang tidak pernah penting. Lantas apa benar yang mendorongku memutar telepon di Cipinang itu pada suatu petang hari. Untung tidak ada orangnya, atau ada aku sudah lupa. Jelasnya, tersisa padaku hanya kemaluan yang besar, bahkan sampai hari ini. Sama, di 56 pun aku terlalu sibuk berusaha meringankan beban orangtua. Meskipun...
Ya, meski bau terasi ternyata sungguh kuatnya menggoda. Demikian juga donat kampung bertabur gula halus di pinggir kolam renang, demikian juga sekuntum bunga angsoka di tepi comberan kering. Tidak ada yang bisa disalahkan untuk ini semua kecuali aku sendiri, karena bahkan sejak di Kemayoran pun buah-buahan telah menjadi bagian dari khayalanku yang tak berdaya. Untungnya khayalanku banyak. Bayangkan orang yang tidak sanggup berkhayal selain buah-buahan. Pasti ia tidak akan sanggup menyembunyikannya. Uh, aku juga tidak perlu menyembunyikan apapun.
Hei, ini 'kan ceritanya kronologis. Baik. Ayo balik. Akhirnya aku berhasil meringankan beban orangtua. Oleh itu, tiada lain kesibukanku selain itu. Meski aku tidak terlalu paham sampai saat terakhir apa urusannya lari 10 km dengan meringankan beban orangtua. Aku memang tidak pernah terlalu suka membina fisikku. Ya, 'ku akui itu kekuranganku, kesalahanku. Aku bahkan tidak akan membuat pembenaran apapun. Hanya saja, aku memang terlalu suka berpikir-pikir yang tidak-tidak begitu. Berpikir-pikir mengenai berpikir-pikir itu sendiri bahkan. Ya, diriku ini seorang pemikir.
Sepanjang belajar menjadi calon pemimpin bangsa ini nyaris tidak ada buah-buahan mengganggu. Kalau pun ada dua atau empat, semua di luar batas. Tidak ada yang terlalu terkenang dari masa-masa ini dalam hal itu. Seperti biasa aku terlalu sibuk dengan khayalan-khayalanku yang lain. Jika pun pernah ada selintas dua buah-buahan, sama sekali tidak teringat olehku kini. Oh, 'ku rasa sejak lahir aku memang ditakdirkan hidup bersama dengan khayalan-khayalan ini, yang terus saja menjadi khayalan karena memang tidak mungkin pula diwujudkan sekeras apapun usahaku.
Namun aku merasa beruntung sebagai penyuka fanatik buah-buahan, jadi tidak banyak yang sanggup mengalihkan perhatian. Kemampuanku untuk fokus memang sangat baik. 'Ku rasa ini bukan karena aku sangat suka buah-buahan. Namun memang kesukaanku itu membantu fokusku. Dan memang aku orangnya fokus banget. Buah-buahan seranum apapun, berat menggelantung bagaimanapun tidak pernah benar-benar menggangguku. Keributan, kekusutan selalu menggangguku. Buah-buahan tidak pernah. Selain itu aku jadi orang masa-bodohan. Memberi koitus mudah bagiku.
Mau kronologis? Bisa. Ayo ke Cipinang. Di sanalah aku bertemu dengan selebihnya koleksi Mbak Tiput, majalah-majalah Gadis itu. Sebelumnya, lungsuran album-album perangko telah menemani hari-hariku sejak dari SD sampai SMP itu. Entah mengapa perangko bergambar lukisan Czobel Bela berjudul Mimi itu yang paling menancap dalam ingatan. Majalah Gadis aku tidak suka, karena itu mengenai gadis. Aku tidak pernah benar-benar suka gadis sampai hari ini. Mereka terlalu berbeda dariku yang selalu menginginkan sepucuk pistol semi otomatis dan sebutir granat ini.
Sepanjang menjadi sekretaris lalu ketua OSIS SMP Isvill aku terlalu sibuk memurnikan diri sendiri dan pengawal pribadiku, aku tidak punya waktu memikirkan yang lain. Bahkan sekarang ini jika 'ku paksakan tetap tidak bisa. Jadi memang tidak pernah penting. Lantas apa benar yang mendorongku memutar telepon di Cipinang itu pada suatu petang hari. Untung tidak ada orangnya, atau ada aku sudah lupa. Jelasnya, tersisa padaku hanya kemaluan yang besar, bahkan sampai hari ini. Sama, di 56 pun aku terlalu sibuk berusaha meringankan beban orangtua. Meskipun...
Ya, meski bau terasi ternyata sungguh kuatnya menggoda. Demikian juga donat kampung bertabur gula halus di pinggir kolam renang, demikian juga sekuntum bunga angsoka di tepi comberan kering. Tidak ada yang bisa disalahkan untuk ini semua kecuali aku sendiri, karena bahkan sejak di Kemayoran pun buah-buahan telah menjadi bagian dari khayalanku yang tak berdaya. Untungnya khayalanku banyak. Bayangkan orang yang tidak sanggup berkhayal selain buah-buahan. Pasti ia tidak akan sanggup menyembunyikannya. Uh, aku juga tidak perlu menyembunyikan apapun.
Hei, ini 'kan ceritanya kronologis. Baik. Ayo balik. Akhirnya aku berhasil meringankan beban orangtua. Oleh itu, tiada lain kesibukanku selain itu. Meski aku tidak terlalu paham sampai saat terakhir apa urusannya lari 10 km dengan meringankan beban orangtua. Aku memang tidak pernah terlalu suka membina fisikku. Ya, 'ku akui itu kekuranganku, kesalahanku. Aku bahkan tidak akan membuat pembenaran apapun. Hanya saja, aku memang terlalu suka berpikir-pikir yang tidak-tidak begitu. Berpikir-pikir mengenai berpikir-pikir itu sendiri bahkan. Ya, diriku ini seorang pemikir.
Sepanjang belajar menjadi calon pemimpin bangsa ini nyaris tidak ada buah-buahan mengganggu. Kalau pun ada dua atau empat, semua di luar batas. Tidak ada yang terlalu terkenang dari masa-masa ini dalam hal itu. Seperti biasa aku terlalu sibuk dengan khayalan-khayalanku yang lain. Jika pun pernah ada selintas dua buah-buahan, sama sekali tidak teringat olehku kini. Oh, 'ku rasa sejak lahir aku memang ditakdirkan hidup bersama dengan khayalan-khayalan ini, yang terus saja menjadi khayalan karena memang tidak mungkin pula diwujudkan sekeras apapun usahaku.
Namun aku merasa beruntung sebagai penyuka fanatik buah-buahan, jadi tidak banyak yang sanggup mengalihkan perhatian. Kemampuanku untuk fokus memang sangat baik. 'Ku rasa ini bukan karena aku sangat suka buah-buahan. Namun memang kesukaanku itu membantu fokusku. Dan memang aku orangnya fokus banget. Buah-buahan seranum apapun, berat menggelantung bagaimanapun tidak pernah benar-benar menggangguku. Keributan, kekusutan selalu menggangguku. Buah-buahan tidak pernah. Selain itu aku jadi orang masa-bodohan. Memberi koitus mudah bagiku.














