Ini baru empat hari, masa kau mau menggumulinya lagi. Jika ini adalah pengantin barumu, muda lagi, aku bisa mengerti. Ini macan, gondrong pula. Ya, se-kesepian itulah aku di pagi yang cerah ini, hanya berteman diriku sendiri yang akan kembali (tornero), meski itu takkan terjadi lagi (non succederà più). Ini pun tidak benar-benar boleh disebut teman. Jikapun teman maka lebih mirip seekor kucing yang pada dasarnya tidak peduli pada manusianya. Anjing merasa manusianya teman sekawanan bahkan pimpinan. Kucing merasa manusia budaknya, atau kucing aneh.
Setidaknya, melodi-melodi mimpi Italia ini tidak akan berak atau pipis, sembarangan atau di pasir. Memang ia tidak mendengkur, namun ia mendayu merayu, mengelus merambati seperti jemari lentik pengantin baru muda yang aku tidak pernah punya. Kemarin di hadapanku ada dua perempuan muda seumuran anak-anakku. Seperti biasa mereka terpukau terkagum-kagum dengan dongenganku, dongengan orang tua yang hanya bisa mendongeng lain tidak. Aku tidak pernah meratapi hilangnya kejantananku seperti aku tidak peduli ketika masih ada. Sama saja bagiku.
Untuk Lucia. Satu-satunya Lucia yang 'ku ingat adalah anak '95 itu yang kini sudah jadi ibu-ibu, yang ditulis 'Lusya'; mirip dengan Gracia yang ditulis 'Greysia' atau David yang ditulis 'Deyvid' atau special yang ditulis 'speysial'. Orang mengingat Gigliola ketika ia berdendang masih belum cukup umur pada 1964, masih berusia 16 tahun kurang lebih. Sir Arthur mendeskripsikan Lucy Ferrier ketika ia berumur kurang lebih. Ketika aku berumur kurang lebih ideku hanya sebutir granat dan sepucuk pistol bagi mereka yang diriku sangka menertawai kecanggungan dan kekikukanku.
Sungai kesadaran, aku kesal atau tidak ya aliran Mas Toni Edi Suryanto dikatakan bengawan kesadaran. Atau mungkin orang waras adalah yang memodifikasi aliran sungai kesadarannya sedemikian rupa sehingga menyenangkan atau sekurangnya tidak membahayakan [sungai kesadaran] orang lain. Ahli surga adalah orang yang tetangganya selamat dari mulut dan tangannya. Uah, sudah lah biar 'ku nikmati sendiri bunyi ketik-kelitik papan-kunci 'ku ketik-ketik sebagai pengganti gicik-gericik sungai kesadaranku yang mungkin hanya diriku khayalkan saja bunyinya.
Awas, Toni Edi Suryanto bukan Riwanto, karena kalau Riwanto tidak ada Edinya. Betapa jahatku padanya, ya Allah, semoga ia memaafkanku. Aku pembuli jahat. Seburuk apapun mulutnya harusnya 'ku balas dengan mulut juga, tidak dengan menelanjangi, membuang celana dalamnya ke rumah kosong, mengikatnya di pohon di atas sarang semut api. Ya Allah betapa jahatnya. Ton, di mana pun kau berada sekarang, 'ku mohon maafkan aku. Aku memang jahat. Aku suka membuang celana orang, dalam dan luarnya sekalian, ke tanah pekuburan sampai orang malu hati.
Di waktu sendirian beginilah segala dosa dan kejahatan masa lalu seakan terpampang di layar citra maksimum di hadapanku. Melengkung ia lebar melingkungi, berdentam-dentam berdebam menakuti. Tuhan ampuni aku, betapa jahat diriku ini, menelanjangi baik diriku sendiri maupun orang lain. Setiap pagi Engkau membangunkanku dari tadir, setiap itulah 'ku rasa Engkau memberiku kesempatan untuk bertobat. Betapa banyak kejahatanku yang bahkan aku sendiri tidak berani menghadirkannya dalam cipta, 'ku terjun menghambur ke dalam ngarai entah apa di bawah.
Di bawah sana tidak ada apa-apa. Aku tidak tahu apakah ini tanah kering berpasir atau endapan lumpur lembut bawah air, yang jelas aku beringsut-ingsut menggeliat-geliat. 'Ku coba rentangkan tangan dan kaki ternyata tidak ada, bahkan torso atau kepala yang mana aku sudah tidak tahu. Aku seperti bisa bergerak dalam tiga atau empat dimensi atau bahkan lebih. Memang di bawah sini selalunya aku bertemu lagi dengan Sharazan. Betapa riang melodi ini namun sendu pada saat yang sama, meningkahi geliat ingsutku. 'Ku rasa aku cuma seclepretan ingus let it go, Kempeitai.
Setidaknya, melodi-melodi mimpi Italia ini tidak akan berak atau pipis, sembarangan atau di pasir. Memang ia tidak mendengkur, namun ia mendayu merayu, mengelus merambati seperti jemari lentik pengantin baru muda yang aku tidak pernah punya. Kemarin di hadapanku ada dua perempuan muda seumuran anak-anakku. Seperti biasa mereka terpukau terkagum-kagum dengan dongenganku, dongengan orang tua yang hanya bisa mendongeng lain tidak. Aku tidak pernah meratapi hilangnya kejantananku seperti aku tidak peduli ketika masih ada. Sama saja bagiku.
Untuk Lucia. Satu-satunya Lucia yang 'ku ingat adalah anak '95 itu yang kini sudah jadi ibu-ibu, yang ditulis 'Lusya'; mirip dengan Gracia yang ditulis 'Greysia' atau David yang ditulis 'Deyvid' atau special yang ditulis 'speysial'. Orang mengingat Gigliola ketika ia berdendang masih belum cukup umur pada 1964, masih berusia 16 tahun kurang lebih. Sir Arthur mendeskripsikan Lucy Ferrier ketika ia berumur kurang lebih. Ketika aku berumur kurang lebih ideku hanya sebutir granat dan sepucuk pistol bagi mereka yang diriku sangka menertawai kecanggungan dan kekikukanku.
Sungai kesadaran, aku kesal atau tidak ya aliran Mas Toni Edi Suryanto dikatakan bengawan kesadaran. Atau mungkin orang waras adalah yang memodifikasi aliran sungai kesadarannya sedemikian rupa sehingga menyenangkan atau sekurangnya tidak membahayakan [sungai kesadaran] orang lain. Ahli surga adalah orang yang tetangganya selamat dari mulut dan tangannya. Uah, sudah lah biar 'ku nikmati sendiri bunyi ketik-kelitik papan-kunci 'ku ketik-ketik sebagai pengganti gicik-gericik sungai kesadaranku yang mungkin hanya diriku khayalkan saja bunyinya.
Awas, Toni Edi Suryanto bukan Riwanto, karena kalau Riwanto tidak ada Edinya. Betapa jahatku padanya, ya Allah, semoga ia memaafkanku. Aku pembuli jahat. Seburuk apapun mulutnya harusnya 'ku balas dengan mulut juga, tidak dengan menelanjangi, membuang celana dalamnya ke rumah kosong, mengikatnya di pohon di atas sarang semut api. Ya Allah betapa jahatnya. Ton, di mana pun kau berada sekarang, 'ku mohon maafkan aku. Aku memang jahat. Aku suka membuang celana orang, dalam dan luarnya sekalian, ke tanah pekuburan sampai orang malu hati.
Di waktu sendirian beginilah segala dosa dan kejahatan masa lalu seakan terpampang di layar citra maksimum di hadapanku. Melengkung ia lebar melingkungi, berdentam-dentam berdebam menakuti. Tuhan ampuni aku, betapa jahat diriku ini, menelanjangi baik diriku sendiri maupun orang lain. Setiap pagi Engkau membangunkanku dari tadir, setiap itulah 'ku rasa Engkau memberiku kesempatan untuk bertobat. Betapa banyak kejahatanku yang bahkan aku sendiri tidak berani menghadirkannya dalam cipta, 'ku terjun menghambur ke dalam ngarai entah apa di bawah.
Di bawah sana tidak ada apa-apa. Aku tidak tahu apakah ini tanah kering berpasir atau endapan lumpur lembut bawah air, yang jelas aku beringsut-ingsut menggeliat-geliat. 'Ku coba rentangkan tangan dan kaki ternyata tidak ada, bahkan torso atau kepala yang mana aku sudah tidak tahu. Aku seperti bisa bergerak dalam tiga atau empat dimensi atau bahkan lebih. Memang di bawah sini selalunya aku bertemu lagi dengan Sharazan. Betapa riang melodi ini namun sendu pada saat yang sama, meningkahi geliat ingsutku. 'Ku rasa aku cuma seclepretan ingus let it go, Kempeitai.














