Di era revolusi industri fo' poin o ini produktivitas saja belum menentukan apa-apa. Selain produktivitas wajib, kita juga membutuhkan tidak saja kondusivitas tetapi juga agresivitas. Jadi yang sangat dibutuhkan adalah produsivitas, jelas Mario Teluh dalam kesempatan jalan-jalan emas-emasan, yaitu, semacam kepik rawa (Charidotella sexpunctata). Padahal jaman kecilku emas-emasan bisa bebas 'ku temukan di kompleks baru. Dahulu dari kompleks apron timur yang lebih baru dari apron barat ke kompleks baru yang lebih baru penuh dipisahkan rawa-rawa yang luasnya.
Kau mencoba sangat keras untuk tidak membuatnya tampak, namun Bayi, percayalah, aku tahu itu, kau telah kehilangan perasaan mencinta itu. Oh, perasaan mencinta itu. Kau telah kehilangan perasaan mencinta itu, sekarang ia pergi, pergi, pergi, oh oh. Dum durum durum durum dum dum. Rawa-rawa luas itu kini telah pergi, hilang, lenyap, musnah tak berbekas, digantikan oleh kekumuhan kota. Gersang melanda wajah rawaku. Semakin pucat pasi tiada berseri, kata Teh Nicky mencoba menenangkan 'ku, mengelus punggung lebarku. Enak gue menang banyak.
Itulah maka di pagi bermendung ini, jauh ke selatan di hilir Ciliwung, 'ku kenakan kemeja Kaesang warna hijau lumut kerawa-rawaan, untuk menunjukkan tidak sekadar solidaritas, tetapi sekaligus soliditas pada almarhum rawa-rawa di sekeliling apron timur bandar udara internasional Kemayoran, di mana penerbangan 714 tujuan Sidney pernah transit. Seaindanya saja rombongan Snowy tidak bertemu hartawan Laszlo Carreidas, mungkin petualangan dari masa kecilku itu tidak akan pernah terjadi. Engkau tahu betapa populernya komik Tintin di Indonesia 1980an.
Inilah entri mengenai rawa-rawa emas-emasan 1980-1985, bukan 2045, karena jangankan sampai memasuki Abad ke-21, pada 1990an saja rawa-rawa sudah awarahum, kata Asmuni. Baunya, kawan-kawan, bau rawa-rawa itu menolak hapus dari bulir-bulir penciuman dalam rongga hidungku, atau dari ingatanku. Chanel nomor lima, Bvlgari, bahkan minyak sinyongnyong cap air mata duyung yang nomor satu pun tak sanggup menghapus sayup-sayup aroma metana campur oli bekas yang menguar dari air hitam; maka daku tak terkejut ketika melihat air gambut.
Meski berendam dalam seember penuh air hangat bersabun bersama pelacur, bau rawa-rawa itu enggan melepaskanku, mendekap erat hati sanubariku. Betapa tidak, ketika nangkring di tembok belakang rumah, aroma itu saja yang setia menemani pemandanganku ke arah utara sana. Terlihat layar besar drive in Ancol dan bianglala dunia fantasi yang tidak pernah membuatku berfantasi. Fantasiku yang menjulang tidak pernah dibatasi dunia apapun, apalagi yang mendaku dunia fantasi. Tidak. Aku bahkan tidak mau berfantasi mengenai dunia akhirat, apalagi fantasi seks.
Rawa-rawa itu dalam, Kawan, sedalam perasaanku padamu, yang bahkan lebih dalam dari palung Mariana yang bukan Dina apalagi iguana. Dina bisa orang 'India' istri Babah Hong yang kemudian main gila dengan adik iparnya, Maureen. Atau Dina bisa juga anak Pak Bakti bahkan dosen Fakultas Hukum Universitas Khairun. Namun, seperti sudah 'ku kata barusan, ini tentang rawa bukan Dina. Rawa-rawa itu, Kawan, dulu mungkin sawah, karena lebih ke timur ke arah Serdang sana dulu masih bisa ditemukan sawah-sawah. Asaptaga, itu sudah kira-kira 45 tahun lalu.
Rawa-rawa itu luas, Kawan. Pada 1970an mungkin memenuhi seluruh sisi timur landasan pacu utama 17/35. Aku paling banyak baru menjelajahi sisi selatannya saja, sebatas landasan 08/26 yang melintangi landasan pacu utama. Bahkan pada awal 1980an itu, sebagian besarnya sudah menjadi apron timur, lalu kompleks perumahan Angkasa Pura Kemayoran Gempol. Itulah sebabnya aku bisa menjelajahi. Namun apalah bisanya anak kecil tujuh sampai sembilan tahun. Masih mending aku tidak mati dililit ular sawah raksasa atau bermuka bopeng kena disembur ular sendok peludah.
Kau mencoba sangat keras untuk tidak membuatnya tampak, namun Bayi, percayalah, aku tahu itu, kau telah kehilangan perasaan mencinta itu. Oh, perasaan mencinta itu. Kau telah kehilangan perasaan mencinta itu, sekarang ia pergi, pergi, pergi, oh oh. Dum durum durum durum dum dum. Rawa-rawa luas itu kini telah pergi, hilang, lenyap, musnah tak berbekas, digantikan oleh kekumuhan kota. Gersang melanda wajah rawaku. Semakin pucat pasi tiada berseri, kata Teh Nicky mencoba menenangkan 'ku, mengelus punggung lebarku. Enak gue menang banyak.
Itulah maka di pagi bermendung ini, jauh ke selatan di hilir Ciliwung, 'ku kenakan kemeja Kaesang warna hijau lumut kerawa-rawaan, untuk menunjukkan tidak sekadar solidaritas, tetapi sekaligus soliditas pada almarhum rawa-rawa di sekeliling apron timur bandar udara internasional Kemayoran, di mana penerbangan 714 tujuan Sidney pernah transit. Seaindanya saja rombongan Snowy tidak bertemu hartawan Laszlo Carreidas, mungkin petualangan dari masa kecilku itu tidak akan pernah terjadi. Engkau tahu betapa populernya komik Tintin di Indonesia 1980an.
Inilah entri mengenai rawa-rawa emas-emasan 1980-1985, bukan 2045, karena jangankan sampai memasuki Abad ke-21, pada 1990an saja rawa-rawa sudah awarahum, kata Asmuni. Baunya, kawan-kawan, bau rawa-rawa itu menolak hapus dari bulir-bulir penciuman dalam rongga hidungku, atau dari ingatanku. Chanel nomor lima, Bvlgari, bahkan minyak sinyongnyong cap air mata duyung yang nomor satu pun tak sanggup menghapus sayup-sayup aroma metana campur oli bekas yang menguar dari air hitam; maka daku tak terkejut ketika melihat air gambut.
Meski berendam dalam seember penuh air hangat bersabun bersama pelacur, bau rawa-rawa itu enggan melepaskanku, mendekap erat hati sanubariku. Betapa tidak, ketika nangkring di tembok belakang rumah, aroma itu saja yang setia menemani pemandanganku ke arah utara sana. Terlihat layar besar drive in Ancol dan bianglala dunia fantasi yang tidak pernah membuatku berfantasi. Fantasiku yang menjulang tidak pernah dibatasi dunia apapun, apalagi yang mendaku dunia fantasi. Tidak. Aku bahkan tidak mau berfantasi mengenai dunia akhirat, apalagi fantasi seks.
Rawa-rawa itu dalam, Kawan, sedalam perasaanku padamu, yang bahkan lebih dalam dari palung Mariana yang bukan Dina apalagi iguana. Dina bisa orang 'India' istri Babah Hong yang kemudian main gila dengan adik iparnya, Maureen. Atau Dina bisa juga anak Pak Bakti bahkan dosen Fakultas Hukum Universitas Khairun. Namun, seperti sudah 'ku kata barusan, ini tentang rawa bukan Dina. Rawa-rawa itu, Kawan, dulu mungkin sawah, karena lebih ke timur ke arah Serdang sana dulu masih bisa ditemukan sawah-sawah. Asaptaga, itu sudah kira-kira 45 tahun lalu.
Rawa-rawa itu luas, Kawan. Pada 1970an mungkin memenuhi seluruh sisi timur landasan pacu utama 17/35. Aku paling banyak baru menjelajahi sisi selatannya saja, sebatas landasan 08/26 yang melintangi landasan pacu utama. Bahkan pada awal 1980an itu, sebagian besarnya sudah menjadi apron timur, lalu kompleks perumahan Angkasa Pura Kemayoran Gempol. Itulah sebabnya aku bisa menjelajahi. Namun apalah bisanya anak kecil tujuh sampai sembilan tahun. Masih mending aku tidak mati dililit ular sawah raksasa atau bermuka bopeng kena disembur ular sendok peludah.













