Apalah arti seharian semalaman. Semalaman sampai fajar menjelang bisa lebih baik dari seribu bulan jika itu adalah malam kekuatan, malam ketentuan. Namun ini tidak sampai malam, bahkan seharian juga tidak. Aku tiba di dalem Jalan Radio selewat dhuhur. Ibu seperti biasa lenggah di depan tivi. Belum lama duduk, Mang Imas mengetuk-ngetuk pintu pagar dengan gemboknya. Ia datang bersama Zaula. Seperti hampir 12 tahunan lalu, namun kali ini berdua saja dengan Zaula. Aku dan Mang Imas sama-sama bapak-bapak gendut dengan satu saja anak perempuan.
Sepertinya hidup kami, aku dan Mang Imas sedang berlayar lancar pada kecepatan jelajah masing-masing, terpaut sepulun kilogram. Aku tidak tahu dua puluh tahun lalu, yang jelas sekarang Mang Imas banyak berjalan keliling-keliling kota kecil Bojonegoro. Bisa berkilometer-kilometer sekali jalan. Ia bahkan jogging di antara persawahan, sebagaimana pagi tadi ia jogging bersama anak perempuannya di Bekasi. Semoga ia selalu sehat lahir-batin. Ibu pun Alhamdulillah sehat lahir-batin. Apalagi keinginan seorang anak lelaki selain ibunya dikaruniai Allah kesehatan lahir-batin.
Segala kegojlekan masa lalu, segala kepedihan yang telah berlalu, tidak perlu lagi diingat-ingat apalagi dibicarakan. Mang Imas tinggal bertiga saja bersama Mbak Vira dan Dinda mengarungi sisa dunia. Aku masih ada Ibu. Ibulah sumber kekuatanku. Ibulah pusat jagadku. Aku masih ada Muyung. Daftar mengenai segala yang ada dan tiada tidak perlu diperpanjang jika tidak ditotal-jendral menjadi rasa syukur dan kepasrahan mendalam. Adjie, Aryo, dan Sodjo punya ibu mereka yang gagah perkasa. Jimbung punya maminya yang juga gagah perkasa. Aman.
Maka begitu saja 'ku kenakan kacamata bacaku yang mahal, boleh beli di Optik Melawai pakai uang dari LPDP. Aku tidak berada jauh di negeri orang. Aku hanya sejam perjalanan naik Grabcar dari tempatku dilahirkan. Apa yang perlu dikeluhkan. Meski di sini, di tepi Ciliwung, sarapanku gegayaana la Amsterdam. Seiris kippenworst ditumpangi roerei dislepet Amerikaanse kaas dibalut plat brood masih ditingkahi sak dlemok nasi uduk berbawang goreng bertelur orak-arik bersambal terasi. Semua lima puluh ribu Rupiah masih kembali lima ratus. Maumu apa lagi.
Kemarin malah sarapanku lebih epik lagi: sampah kulkas. Capcay agak kecut sudah semingguan umurnya, sayur labu a la Betawi dan telur dadar gulung Padang Jaya sejak hari Arafah. Ada penyesalan ketika dua tiga sendok makan kentang jeroan pedes 'ku buang ke tempat biawak karena aku mencurigainya asam. Namun sepanjang hari Minggu bersama Ibu makanku berjaya, terutama sayur asamnya. Ada kentang lagi, pedas namun bercumi asin. Ada telur ceplok cabe ijo Yu Supi. Ada sawi tahu. Ah, kalau di dalem Jalan Radio makan memang selalu jaya, jaya, jaya. Auuah!
Mang Imas pakai bawa krentenbrood dan runderflossbrood pula. Flossbrood aku tak coba karena baru kemarin makan begituan amat machtig-nya, dibelikan Muyung; tapi krentenbrood aku selalu suka. Bahkan di Belanda dulu sering aku menyimpan krentenbollen di koelkast. Terakhir kali seminggu di Amsterdam seplastik panjangkrentenbollen so pasti menemaniku, meski Muyung pakai bawa rendang dan terong teri cabe ijo Padang Jaya. Menulis mengenai makanan begini hatiku hangat seperti berdekat-dekat Ibu sejak kecilku. Apalagi Adjie hanya punya ibu.
Selebihnya, selalu ingat kata Ryan D'Masiv: jangan menyerah, jangan menyerah... till fade. Till fade ini tidak berarti menyerah loh. Ini sekadar tulisan di akhir lagu yang sebenarnya tidak pernah berakhir, hanya volumenya saja dipelankan secara bertahap. Apakah lagunya berakhir, tidak. Lagunya tetap ada. Hanya kau saja yang tidak lagi mendengarnya. Maka jangan dengan telinga, dengarlah dengan hatimu. Kau akan terus mendengarnya melantun berdendang melembutkan jiwa selama-lamanya. Ibu Bobi pulang bersama Adjie, Aryo, Sodjo sudah jam sembilan malam.
Sepertinya hidup kami, aku dan Mang Imas sedang berlayar lancar pada kecepatan jelajah masing-masing, terpaut sepulun kilogram. Aku tidak tahu dua puluh tahun lalu, yang jelas sekarang Mang Imas banyak berjalan keliling-keliling kota kecil Bojonegoro. Bisa berkilometer-kilometer sekali jalan. Ia bahkan jogging di antara persawahan, sebagaimana pagi tadi ia jogging bersama anak perempuannya di Bekasi. Semoga ia selalu sehat lahir-batin. Ibu pun Alhamdulillah sehat lahir-batin. Apalagi keinginan seorang anak lelaki selain ibunya dikaruniai Allah kesehatan lahir-batin.
Segala kegojlekan masa lalu, segala kepedihan yang telah berlalu, tidak perlu lagi diingat-ingat apalagi dibicarakan. Mang Imas tinggal bertiga saja bersama Mbak Vira dan Dinda mengarungi sisa dunia. Aku masih ada Ibu. Ibulah sumber kekuatanku. Ibulah pusat jagadku. Aku masih ada Muyung. Daftar mengenai segala yang ada dan tiada tidak perlu diperpanjang jika tidak ditotal-jendral menjadi rasa syukur dan kepasrahan mendalam. Adjie, Aryo, dan Sodjo punya ibu mereka yang gagah perkasa. Jimbung punya maminya yang juga gagah perkasa. Aman.
Maka begitu saja 'ku kenakan kacamata bacaku yang mahal, boleh beli di Optik Melawai pakai uang dari LPDP. Aku tidak berada jauh di negeri orang. Aku hanya sejam perjalanan naik Grabcar dari tempatku dilahirkan. Apa yang perlu dikeluhkan. Meski di sini, di tepi Ciliwung, sarapanku gegayaana la Amsterdam. Seiris kippenworst ditumpangi roerei dislepet Amerikaanse kaas dibalut plat brood masih ditingkahi sak dlemok nasi uduk berbawang goreng bertelur orak-arik bersambal terasi. Semua lima puluh ribu Rupiah masih kembali lima ratus. Maumu apa lagi.
Kemarin malah sarapanku lebih epik lagi: sampah kulkas. Capcay agak kecut sudah semingguan umurnya, sayur labu a la Betawi dan telur dadar gulung Padang Jaya sejak hari Arafah. Ada penyesalan ketika dua tiga sendok makan kentang jeroan pedes 'ku buang ke tempat biawak karena aku mencurigainya asam. Namun sepanjang hari Minggu bersama Ibu makanku berjaya, terutama sayur asamnya. Ada kentang lagi, pedas namun bercumi asin. Ada telur ceplok cabe ijo Yu Supi. Ada sawi tahu. Ah, kalau di dalem Jalan Radio makan memang selalu jaya, jaya, jaya. Auuah!
Mang Imas pakai bawa krentenbrood dan runderflossbrood pula. Flossbrood aku tak coba karena baru kemarin makan begituan amat machtig-nya, dibelikan Muyung; tapi krentenbrood aku selalu suka. Bahkan di Belanda dulu sering aku menyimpan krentenbollen di koelkast. Terakhir kali seminggu di Amsterdam seplastik panjangkrentenbollen so pasti menemaniku, meski Muyung pakai bawa rendang dan terong teri cabe ijo Padang Jaya. Menulis mengenai makanan begini hatiku hangat seperti berdekat-dekat Ibu sejak kecilku. Apalagi Adjie hanya punya ibu.
Selebihnya, selalu ingat kata Ryan D'Masiv: jangan menyerah, jangan menyerah... till fade. Till fade ini tidak berarti menyerah loh. Ini sekadar tulisan di akhir lagu yang sebenarnya tidak pernah berakhir, hanya volumenya saja dipelankan secara bertahap. Apakah lagunya berakhir, tidak. Lagunya tetap ada. Hanya kau saja yang tidak lagi mendengarnya. Maka jangan dengan telinga, dengarlah dengan hatimu. Kau akan terus mendengarnya melantun berdendang melembutkan jiwa selama-lamanya. Ibu Bobi pulang bersama Adjie, Aryo, Sodjo sudah jam sembilan malam.














