Kebahagianku adalah pernah berdefile dengan iringan Mars Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Dahulu ada ALRI dan AURI, tetapi tidak ada ADRI. Yang ada adalah TNI-AD. Sekarang semuanya jadi TNI, termasuk TNI-AL dan TNI-AU, tetapi tanpa Polri. Meski kebahagiaan ini singkat dan aku tidak yakin apakah aku berbahagia jika almamaterku setia berjasa. Berjasa apa. Bapakku lahir di Lodoyo dimakamkan di Rorotan, ratusan kilometer jauhnya. 'Ku rasa bapakku yang telah membuatku begini, terpukau oleh kisah-kisah kepahlawanan, bukan pahlawan super.
Aku dulu malah djarum super. Alangkah aduhainya jika sarabba gula aren ini dapat 'ku teguk-teguk sambil mengepul-ngepul asap djarum super atau malah minak djinggo sekalian. Meski bulan biru bersenandung di kedua telingaku, semua tak sama lagi. Adakah di siang hari September 1997 itu aku mengetik-ngetik atau membaca-baca. Masih terkenang bau debu apaknya, lembab-lembabnya, cukup untuk menahan panas terik el Nino di luar saja. Di dalam tetap lembab sejuknya. Apakah libur semester gasal ke genap itu pulangnya membawa udang galah, semua terasa buram samar.
Apakah ketika itu aku menggelandang di seputaran kapuk pinang sampai sakit agak parah. Bilakah, di manakah itu. Apakah ketika itu almarhum Ale mengetuk-ngetuk gulungan teslanya yang dihajar tank mammoth sedang diketuk sekali saja sebenarnya sudah cukup. Apakah ketika itu aku mengemudikan robot perang melawan robot-robot perang lainnya. Aku mengeluyur dari satu kost ke kost lainnya tanpa tujuan pasti, entah di mana tidurku ketika itu. Lebih entah lagi dari mana datangnya uang pembeli makan dan rokokku. Tak'da surat apatah pula panggilan telepon.
Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, pada ketika itu menemui hari-hari terakhirnya. Cinta, 'ku yakin, tidak pernah salah; hanya caranya. Aku yakin, pada ketika itu, ada malam-malam seperti ini, hangat, sedang aku memintamu untuk melakukannya padaku, sekali lagi. Seperti ketika kita melakukannya di ruang santai Pak Moussa Elkhadoum yang berstereo set Sony, dari situ juga 'ku mendapatkannya. Saat itu adalah pengobat bagi sekitar dua tahunan sebelumnya, rasa sakit itu. Bisa jadi aku mengitari taman di depan E8 itu sambil mengepul-ngepulkan asap Sampoerna King.
Pada ketika itu aku bertemu dengan komandan-komandan peleton dari sebuah satuan setingkat kompi marinir di gerbang belakang MPR. Mandi tidak benar, tidur tidak benar, pulang ke tepi Ciliwung mandi air dingin segar menyegarkan, tidur nyenyak. Keesokan harinya ke kampus untuk mendengar pidato berhentinya Pak Harto atau entah bagaimana. Nasi padang yang selalu berlauk telur, bulat atau dadar, dari suara ibu peduli entah siapa. Tidak ada yang berbeda setelahnya kecuali aku menyelesaikan semester keempatku dengan gilang-gemilang, seperti juga semester kedua.
Ah, semester kedua membuatku lupa pada Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, karena ketika itu rasanya seperti ilmuwan benar meski tentu saja pura-pura. Rumah petakan di tepi kebun coklat itu, di bilangan Palakali, dengan Asatron dan Delta FM 99.5 the Best Oldies Station in Town-nya. Astaga, sampai ke Gang Pancoran masih ada. Tidak segera beranjak ke mesjid meski adzan dhuhur Jumat sudah berkumandang demi mendengarkan My Love, Forgive Me besutan Nancy Wilson. Astaga, betapa profetik permintaan maaf yang tak pernah diberi. Amore, Scusami.
Kapankah itu, 5 Oktober 1992 atau 1993, menonton upacara peringatan hari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia di Ruang Baca Perpustakaan bersama seluruh Paradua. Di situ 'ku dapati brosur STPDN dan Akpol dengan Batalyon Dhirotsaha-nya. Sampai kini hati ini tidak pernah tak membuncah jika mendengar, bahkan sekadar mengingat dalam benak, mars Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Tidak TNI tetapi angkatan bersenjata benar-benar, angkatan perang. 'Ku dapati diriku di atas geladak entah Teluk Penyu, Semangka, Sampit memandang mentari di ufuk barat.
Aku dulu malah djarum super. Alangkah aduhainya jika sarabba gula aren ini dapat 'ku teguk-teguk sambil mengepul-ngepul asap djarum super atau malah minak djinggo sekalian. Meski bulan biru bersenandung di kedua telingaku, semua tak sama lagi. Adakah di siang hari September 1997 itu aku mengetik-ngetik atau membaca-baca. Masih terkenang bau debu apaknya, lembab-lembabnya, cukup untuk menahan panas terik el Nino di luar saja. Di dalam tetap lembab sejuknya. Apakah libur semester gasal ke genap itu pulangnya membawa udang galah, semua terasa buram samar.
Apakah ketika itu aku menggelandang di seputaran kapuk pinang sampai sakit agak parah. Bilakah, di manakah itu. Apakah ketika itu almarhum Ale mengetuk-ngetuk gulungan teslanya yang dihajar tank mammoth sedang diketuk sekali saja sebenarnya sudah cukup. Apakah ketika itu aku mengemudikan robot perang melawan robot-robot perang lainnya. Aku mengeluyur dari satu kost ke kost lainnya tanpa tujuan pasti, entah di mana tidurku ketika itu. Lebih entah lagi dari mana datangnya uang pembeli makan dan rokokku. Tak'da surat apatah pula panggilan telepon.
Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, pada ketika itu menemui hari-hari terakhirnya. Cinta, 'ku yakin, tidak pernah salah; hanya caranya. Aku yakin, pada ketika itu, ada malam-malam seperti ini, hangat, sedang aku memintamu untuk melakukannya padaku, sekali lagi. Seperti ketika kita melakukannya di ruang santai Pak Moussa Elkhadoum yang berstereo set Sony, dari situ juga 'ku mendapatkannya. Saat itu adalah pengobat bagi sekitar dua tahunan sebelumnya, rasa sakit itu. Bisa jadi aku mengitari taman di depan E8 itu sambil mengepul-ngepulkan asap Sampoerna King.
Pada ketika itu aku bertemu dengan komandan-komandan peleton dari sebuah satuan setingkat kompi marinir di gerbang belakang MPR. Mandi tidak benar, tidur tidak benar, pulang ke tepi Ciliwung mandi air dingin segar menyegarkan, tidur nyenyak. Keesokan harinya ke kampus untuk mendengar pidato berhentinya Pak Harto atau entah bagaimana. Nasi padang yang selalu berlauk telur, bulat atau dadar, dari suara ibu peduli entah siapa. Tidak ada yang berbeda setelahnya kecuali aku menyelesaikan semester keempatku dengan gilang-gemilang, seperti juga semester kedua.
Ah, semester kedua membuatku lupa pada Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, karena ketika itu rasanya seperti ilmuwan benar meski tentu saja pura-pura. Rumah petakan di tepi kebun coklat itu, di bilangan Palakali, dengan Asatron dan Delta FM 99.5 the Best Oldies Station in Town-nya. Astaga, sampai ke Gang Pancoran masih ada. Tidak segera beranjak ke mesjid meski adzan dhuhur Jumat sudah berkumandang demi mendengarkan My Love, Forgive Me besutan Nancy Wilson. Astaga, betapa profetik permintaan maaf yang tak pernah diberi. Amore, Scusami.
Kapankah itu, 5 Oktober 1992 atau 1993, menonton upacara peringatan hari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia di Ruang Baca Perpustakaan bersama seluruh Paradua. Di situ 'ku dapati brosur STPDN dan Akpol dengan Batalyon Dhirotsaha-nya. Sampai kini hati ini tidak pernah tak membuncah jika mendengar, bahkan sekadar mengingat dalam benak, mars Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Tidak TNI tetapi angkatan bersenjata benar-benar, angkatan perang. 'Ku dapati diriku di atas geladak entah Teluk Penyu, Semangka, Sampit memandang mentari di ufuk barat.














