Sarabba lagi, gula aren lagi, menghadapi Lenovo Aio 520 lagi aku. Tadi seselesainya kapita selekta masalah-masalah aktual dalam hukum adat malah mematung di hadapan entah Aio apa di G5B, begitu juga ketika bocah-bocah itu pada mantog. Kini, kembali memunggungi Istriku yang sedang bercengkerama dengan keluarga Novia Haerustika, sedang Jon Secada meratap-ratap jika kau pergi, ucap selamat tinggal, kau harus tahu 'kan ada yang hilang dari hidupku. Sekitar 31 tahun lalu bukan Sarabba yang dihirup-hirup, melainkan sadukan torpedo sersannya di bawah meja.
Ini lagi radio-radio menitikkan air-air mata, atau air mata-mata, terasa begitu melangutkan. Uah, jalur-jalur suara Sarasan ini. Bubuk sarabba gula aren dua sendok munjung madu dari Sofyan diseduh air pengser panas dalam gelas plastik merah ukuran 200 ml, yang entah sejak kapan 'ku bacakan al-Fatihah dan doa-doa. Tiap teguk membawa rasa gula aren yang khas, dengan jahe dan parutan kelapa kering, sedikit krimer nabati. Seperti apa dia ketika berputar menghadapimu dan menciummu selamat malam. Secara khusus aku membawamu ke mana-mana dari Sarasan itu.
Aku ingat kopral-kopral dinas jaga dibawa ke Salahutu malam minggu itu, karena kami tidak pesiar. Di situ kami bisa membeli gorengan. Apakah bakwan, apapun itu terasa nikmatnya meski harus selalu pasang muka berak. Pernah juga dibantai Sersan Mayor Taruna (A) Hotlomo Roland Manalu gara-gara bermuka berak justru ketika kami tampil, grup vokal kami, di hadapan mentor-mentor AAL 19 bersama ibu-ibu jalanya sekalian. Marx memetik gitarnya, menyatakan, sekarang dan selamanya, 'ku 'kan jadi lelakimu. Mengapa 'ku kembali ke situ menyusuri bilur-bilur.
Nah, ini dia. Objek-objek pada cermin tampak belakang dapat terlihat lebih dekat daripada sebenarnya. Apakah itu hari-hari berhujan di awal 1995 atau sudah memasuki kemaraunya, ia meratap lantas menggelegar. Aku tidak ingat mendengarnya ketika masih di Magelang. Padahal ia sudah rilis pada April 1994. Pada saat itu mungkin aku sudah tidak sempat berpikir mengenai apapun kecuali masa depan yang entahlah. Ini tidak menyenangkan, dari Magelang ke Surabaya Juni 1991-November 1995. Aku sedang apa sebenarnya menelusur bilur-bilur kemaluan pada wajah.
Melon jingga funky-funky. Lagi-lagi adiknya Mikey 'nyanyi Lagi. Setelah menyicil mie goreng spesial tanpa sayur masih ditambah baso ikan dua gluntung, masih menyantap kroket isi apa entah agak asam begitu. Itulah yang 'ku makan sebagai makan malam sebelum 'nyeruput sarabba. Lebih baik aku kembali ke sekarangku saja daripada terhuyung-huyung merintang masa lalu, meski telingaku disumpal pukulan mega tujuh. Kalau tidak salah ingat aku pernah melakukan ini di ruang makan spesialku di waktu pagi. Sering dulu melakukannya, kini 'ku tak mau lagi.
Jika aku jatuh cinta, tak pernah 'ku sangka aku 'kan sejauh ini, jatuh cinta kepadamu. Melelahkan. Aku tidak mau lelah. Mungkin aku tidak berlalu, namun aku ingin berjalan-jalan menyusuri seputaran Uilenstede atau NDSM biarlah, tapi di sini. Di tepi Cikumpa sini. Aku tidak mau jauh-jauh ke Belanda seorang diri meski di tepi Cikumpa sini juga aku seringnya seorang diri. Memang apa bedanya. Dulu satu-satunya jalan menuju Kukusan kelurahan adalah melalui samping gymnasium itu, di bawah rindangnya pepohonan. Sungguh sedikit pun kendaraan bermotor kala itu.
Kau membuatku tersenyum. Tidak. Jih! Aku tidak sudi senyum-senyum, apalagi karena kau atau siapapun. Aku mau tersenyum melihat sahabat satwa, flora dan fauna, tidak melihatmu atau siapapun. Suatu malam atau entah waktu apa aku masuk ke dalam sarang jembel mudlarat. Mas Gitosh sedang entah apa di depan komputernya sedang kau membuatku tersenyum membahana. Begitu banyak waktu 'ku lalui sampai aku tidak tahu lagi mau melalui apa lagi. Lagi-laginya sampai dua kali. Memandangi dari belakang C406, mengantuk-antuk di belakang C306. Mau apa dikata.
Ini lagi radio-radio menitikkan air-air mata, atau air mata-mata, terasa begitu melangutkan. Uah, jalur-jalur suara Sarasan ini. Bubuk sarabba gula aren dua sendok munjung madu dari Sofyan diseduh air pengser panas dalam gelas plastik merah ukuran 200 ml, yang entah sejak kapan 'ku bacakan al-Fatihah dan doa-doa. Tiap teguk membawa rasa gula aren yang khas, dengan jahe dan parutan kelapa kering, sedikit krimer nabati. Seperti apa dia ketika berputar menghadapimu dan menciummu selamat malam. Secara khusus aku membawamu ke mana-mana dari Sarasan itu.
Aku ingat kopral-kopral dinas jaga dibawa ke Salahutu malam minggu itu, karena kami tidak pesiar. Di situ kami bisa membeli gorengan. Apakah bakwan, apapun itu terasa nikmatnya meski harus selalu pasang muka berak. Pernah juga dibantai Sersan Mayor Taruna (A) Hotlomo Roland Manalu gara-gara bermuka berak justru ketika kami tampil, grup vokal kami, di hadapan mentor-mentor AAL 19 bersama ibu-ibu jalanya sekalian. Marx memetik gitarnya, menyatakan, sekarang dan selamanya, 'ku 'kan jadi lelakimu. Mengapa 'ku kembali ke situ menyusuri bilur-bilur.
Nah, ini dia. Objek-objek pada cermin tampak belakang dapat terlihat lebih dekat daripada sebenarnya. Apakah itu hari-hari berhujan di awal 1995 atau sudah memasuki kemaraunya, ia meratap lantas menggelegar. Aku tidak ingat mendengarnya ketika masih di Magelang. Padahal ia sudah rilis pada April 1994. Pada saat itu mungkin aku sudah tidak sempat berpikir mengenai apapun kecuali masa depan yang entahlah. Ini tidak menyenangkan, dari Magelang ke Surabaya Juni 1991-November 1995. Aku sedang apa sebenarnya menelusur bilur-bilur kemaluan pada wajah.
Melon jingga funky-funky. Lagi-lagi adiknya Mikey 'nyanyi Lagi. Setelah menyicil mie goreng spesial tanpa sayur masih ditambah baso ikan dua gluntung, masih menyantap kroket isi apa entah agak asam begitu. Itulah yang 'ku makan sebagai makan malam sebelum 'nyeruput sarabba. Lebih baik aku kembali ke sekarangku saja daripada terhuyung-huyung merintang masa lalu, meski telingaku disumpal pukulan mega tujuh. Kalau tidak salah ingat aku pernah melakukan ini di ruang makan spesialku di waktu pagi. Sering dulu melakukannya, kini 'ku tak mau lagi.
Jika aku jatuh cinta, tak pernah 'ku sangka aku 'kan sejauh ini, jatuh cinta kepadamu. Melelahkan. Aku tidak mau lelah. Mungkin aku tidak berlalu, namun aku ingin berjalan-jalan menyusuri seputaran Uilenstede atau NDSM biarlah, tapi di sini. Di tepi Cikumpa sini. Aku tidak mau jauh-jauh ke Belanda seorang diri meski di tepi Cikumpa sini juga aku seringnya seorang diri. Memang apa bedanya. Dulu satu-satunya jalan menuju Kukusan kelurahan adalah melalui samping gymnasium itu, di bawah rindangnya pepohonan. Sungguh sedikit pun kendaraan bermotor kala itu.
Kau membuatku tersenyum. Tidak. Jih! Aku tidak sudi senyum-senyum, apalagi karena kau atau siapapun. Aku mau tersenyum melihat sahabat satwa, flora dan fauna, tidak melihatmu atau siapapun. Suatu malam atau entah waktu apa aku masuk ke dalam sarang jembel mudlarat. Mas Gitosh sedang entah apa di depan komputernya sedang kau membuatku tersenyum membahana. Begitu banyak waktu 'ku lalui sampai aku tidak tahu lagi mau melalui apa lagi. Lagi-laginya sampai dua kali. Memandangi dari belakang C406, mengantuk-antuk di belakang C306. Mau apa dikata.














