Hai, Penelope. Lama juga kita tidak menghabiskan waktu bersama-sama, ya. Aku ingat betapa aku takut sekali berdua-duaan saja denganmu ketika di Amsterdam atau Amstelveen, apakah itu di Zeeburgereiland, Uilenstede, atau NDSM. Aku takut suasananya terlalu melangutkan sampai tak tertahankan. Kini aku berani saja, karena aku di tepian Cikumpa sini. Entah mengapa kalau di sini aku tidak takut. Rasa sakit asalkan tumpul aku sudah biasa. Sakit yang tajam mengiris apalagi intens amit-amit aku berlindung padaNya dari yang seperti itu. Biar saja begini.
Burung kecil mekanik, memang begitulah nasibmu kini. Kecil dan mekanis saja, artinya, tidak organik-fungsional. Sehebat apapun dunia di luar sana memukau membahana, aku akan tetap begini saja. 'Ku rasa aku tetap lelucon kini bahkan untuk anak-anakku sendiri. Lelucon yang sudah semakin parah tidak lucunya, semakin tidak relevan. Seperti leluconnya Fozzie Beruang. Untung saja bukan seorang wanita jalang bernama Flo, bisa dicibir habis-habisan aku, bahkan diludahi. Uah, swadefekasi lagi. Cepirit di celana meski bolong 'tu di belakang sana, tidak pas di lubangnya.
Seperti biasa, melodi kecil yang tidak terlalu kecil-kecil amat. Ia adanya dalam koleksi hapsicord dan cembalo bergambar keran warna marun. Jika kau pembaca setia goblog ini (halah!) kau pasti sering bertemu dengan ragaan ini, setidaknya beberapa kali. Bersamamu, Cintaku, yang tidak pernah ada pada kenyataannya. Cintaku selalu ada dalam khayal, hasil daya ciptaku sendiri. Maka mudah bagiku membersamaimu, 'ku buat seperti apapun mukamu, baumu, suaramu. Semua terserah padaku. Maka daku laungkan saja madah pujian untuk Cinta, dengan 'C' besar tentunya.
Jika Engkau mengujiku, 'kan 'ku lakukan apapun yang Kau minta. Hanya bagian itu yang 'ku ingat, namun aku hanya seekor rayap celaka yang sudah terinjak mejret pula. Perutku terburai njepeprek di lantai sedang kepalaku saja yang masih bergeleng-geleng dan keenam kaki-kaki bergerayangan serabutan tak berdaya. Uah, cantik betul memang madah pujian ini. Ahaha, tidak ada asap tanpa api, maka 'ku gosok-gosok kedua belah ketiakku dengan bedak Herocyn agar terasa segar. Berangkat tidur malam itu memang baiknya dalam keadaan segar meski pikiranmu tidak.
Di awal musim gugur ini, malah musim semi yang bernyanyi. Uah, memang musim-musim ini terasa nyaman jika badan muda dan hati dipenuhi romansa. Aku ingat satu musim gugur ketika entah bagaimana kami makan ayam tanduri di dekat Rembrandtplein, aku dan Cantik. Kami berangkat dari Kees Broekman waktu itu, naik trem tentunya. Awal musim gugur 2018 dan udara sudah dingin menggigit sampai aku memakai sarung tangan. Awal musim gugur 2020 aku bersepeda ke Molenwijk dari Kraanspoor, berangkat masih terang, pulang telah gelap padahal sebentar.
Ada lagi awal musim gugur 2008 berbelanja di San Wah, Sint Antoniuslaan. Bagaimana caranya ke situ dan pulangnya. Sepertinya aku berjalan menyeberangi Wilhelminabrug untuk menunggu bis Veolia di halte Mosae Forum/ Centrum yang akan membawaku pulang ke Malberg. Jajan di San Wah manisan cumi dan keripik ikan gurami aneka rasa, buatan Thailand; ada rasa tom yam, apa lagi, ya. Gara-gara umek dengan San Wah, Toccata berlalu begitu saja dilanjut Copacabana. Apakah ketika itu daftar-main ini sudah ada, 'ku rasa belum; baru pukulan terbesar 1-4.
Ini entri dikitik dalam kamarku yang sejuk seakan sudah musim gugur. Berani sekali aku bertelanjang dada hanya bercelana pendek saja. Jika ini musim gugur sungguh-sungguh, sudah pasti aku akan mengigil kedinginan. Memasuki musim gugur, bahkan di dalam kamar sudah pakai baju hangat melapis kaus di dalam, celana panjang bahkan berkaus kaki. Jika ini terasa sejuk, itu karena AC Daikin menyembur lembut dengan kipas paling lemah pada suhu 20 derajat selsius. Kalau belum tidur aku masih berani begini. Jika nanti 'udah mau tidur dimatikan seperti di hotel.
Burung kecil mekanik, memang begitulah nasibmu kini. Kecil dan mekanis saja, artinya, tidak organik-fungsional. Sehebat apapun dunia di luar sana memukau membahana, aku akan tetap begini saja. 'Ku rasa aku tetap lelucon kini bahkan untuk anak-anakku sendiri. Lelucon yang sudah semakin parah tidak lucunya, semakin tidak relevan. Seperti leluconnya Fozzie Beruang. Untung saja bukan seorang wanita jalang bernama Flo, bisa dicibir habis-habisan aku, bahkan diludahi. Uah, swadefekasi lagi. Cepirit di celana meski bolong 'tu di belakang sana, tidak pas di lubangnya.
Seperti biasa, melodi kecil yang tidak terlalu kecil-kecil amat. Ia adanya dalam koleksi hapsicord dan cembalo bergambar keran warna marun. Jika kau pembaca setia goblog ini (halah!) kau pasti sering bertemu dengan ragaan ini, setidaknya beberapa kali. Bersamamu, Cintaku, yang tidak pernah ada pada kenyataannya. Cintaku selalu ada dalam khayal, hasil daya ciptaku sendiri. Maka mudah bagiku membersamaimu, 'ku buat seperti apapun mukamu, baumu, suaramu. Semua terserah padaku. Maka daku laungkan saja madah pujian untuk Cinta, dengan 'C' besar tentunya.
Jika Engkau mengujiku, 'kan 'ku lakukan apapun yang Kau minta. Hanya bagian itu yang 'ku ingat, namun aku hanya seekor rayap celaka yang sudah terinjak mejret pula. Perutku terburai njepeprek di lantai sedang kepalaku saja yang masih bergeleng-geleng dan keenam kaki-kaki bergerayangan serabutan tak berdaya. Uah, cantik betul memang madah pujian ini. Ahaha, tidak ada asap tanpa api, maka 'ku gosok-gosok kedua belah ketiakku dengan bedak Herocyn agar terasa segar. Berangkat tidur malam itu memang baiknya dalam keadaan segar meski pikiranmu tidak.
Di awal musim gugur ini, malah musim semi yang bernyanyi. Uah, memang musim-musim ini terasa nyaman jika badan muda dan hati dipenuhi romansa. Aku ingat satu musim gugur ketika entah bagaimana kami makan ayam tanduri di dekat Rembrandtplein, aku dan Cantik. Kami berangkat dari Kees Broekman waktu itu, naik trem tentunya. Awal musim gugur 2018 dan udara sudah dingin menggigit sampai aku memakai sarung tangan. Awal musim gugur 2020 aku bersepeda ke Molenwijk dari Kraanspoor, berangkat masih terang, pulang telah gelap padahal sebentar.
Ada lagi awal musim gugur 2008 berbelanja di San Wah, Sint Antoniuslaan. Bagaimana caranya ke situ dan pulangnya. Sepertinya aku berjalan menyeberangi Wilhelminabrug untuk menunggu bis Veolia di halte Mosae Forum/ Centrum yang akan membawaku pulang ke Malberg. Jajan di San Wah manisan cumi dan keripik ikan gurami aneka rasa, buatan Thailand; ada rasa tom yam, apa lagi, ya. Gara-gara umek dengan San Wah, Toccata berlalu begitu saja dilanjut Copacabana. Apakah ketika itu daftar-main ini sudah ada, 'ku rasa belum; baru pukulan terbesar 1-4.
Ini entri dikitik dalam kamarku yang sejuk seakan sudah musim gugur. Berani sekali aku bertelanjang dada hanya bercelana pendek saja. Jika ini musim gugur sungguh-sungguh, sudah pasti aku akan mengigil kedinginan. Memasuki musim gugur, bahkan di dalam kamar sudah pakai baju hangat melapis kaus di dalam, celana panjang bahkan berkaus kaki. Jika ini terasa sejuk, itu karena AC Daikin menyembur lembut dengan kipas paling lemah pada suhu 20 derajat selsius. Kalau belum tidur aku masih berani begini. Jika nanti 'udah mau tidur dimatikan seperti di hotel.














