Makjang bodong, variasi rasa tersendiri, dibuat dari gula murni, pasti lebih nikmat. Ini dari hari Kamis minggu lalu, sedang ini masih awal September. Apa pula yang 'ku tunggu. Minggu pagi aku bangun subuh menemui lantai dapur sangat berdebu seperti ada yang sedang bongkar bangunan. Aku keluar mengambil handuk dan ternyata di parkiran motor juga begitu, berdebu. 'Ku rasa, setelah subuh itu aku tidur lagi atau bagaimana, yang jelas tak lama kemudian Mbake datang disusul Bang Ade. Di situlah baru 'ku tersadar jangan-jangan ini Anak Krakatau batuk.
Ini Aria apa, sedih melangutkan begini. Mengapa aku jadi teringat Rita yang bukan keong racun, yang mana sebenarnya Didik Nini Thowok. Untunglah segera disusul dengan Brasil, jadi lupa sedihnya. Ini adalah kitikanku di Gedung Baru Lantai 5 Ruang B. Takkan 'ku sebut gedung baru itu Interdisciplinary Legal Research Center (ILRC). Sungguh memalukan. Di depannya ada patung dada yang katanya Soepomo, dibuat kawan Soel Dalam. Namun gedung itu tidak jadi diberi nama Soepomo karena keluarga Soepomo tidak mau bayar hahaha. Kocak. Sial. Bikin malu saja.
Sekarang sudah Selasa siang dan katanya subuh tadi Anak Krakatau batuk lagi. Kasihan. Istriku dan Mbak Dina juga batuk-batuk tiada berkesudahan sejak musim kemarau menjelang. Sedang aku kenyang begini tadi pagi menandaskan nasi uduk Bang Edoy. Seperti biasa, semur tahu telur, tapi ini tahunya dua, masih berkentang balado, sejumput mie goreng kampung disiram sambal kecap. Alhamdulillah. Minumnya teh melati Jawa dengan gula Indomaret satu saset saja untuk sekadar menyamarkan rasa sepet. Kalau di Belanda dulu setara dua kotak gula Jumbo atau Albert Heijn. Sip.
Senin lalu, meski rektor menyuruh pembelajaran jarak jauh (PJJ), aku tetap datang ke kampus. Aku khawatir kantin tidak ada yang buka, maka mampir dulu di warung tegal sederhana seberang PLN Sukmajaya, membungkus nasi, acar, tahu jamur, telur dadar diselepet bumbu rendang sedikit. Sampai kampus langsung ke ruang tamu fakultas menyiapkan kuliah kapita selekta masalah-masalah aktual hukum adat. Sebelumnya menghabiskan sarapan dulu. Alhamdulillahi. Sarapanku yang hampir selalu begitu selalu mantap. Semoga juga sehat. Nasinya hanya setengah.
Selesai itu melangkah ke kantin. Betapa terkejutnya aku melihat rak Mang Ade dan Mbak Lela penuh hidangan terpajang rapi, begitu pula bubur snar guitar, mie ayam tantrum, gado-gado Lek Mino, ayam goreng Ameera. Mencelos hatiku. Didorong rasa kasihan aku membeli sayur-mayur di Mang Ade. Ternyata Boyan sudah di G5B, maka ke sana aku, maka paragraf ke dua itu. Tak lama Rico Novianto bergabung, lalu seperti biasa ngalor-ngidul entah-entah sampai Rico lapar. Shalat dhuhur dulu maka beranjak kami ke kantin. Aku memesan bubur ayam, lagi karena kasihan.
Mengenai bubur ayam ini, ada standar NATO baru. Memang segala sesuatu itu harus ada standar NATO-nya termasuk bubur ayam kampus. Dedaunan seledri dan bawang goreng boleh berada di mangkok bubur, begitu pula sambal, yang kali ini terlihat kental berlendir, dan kecap manis. Namun cakwe, cistik, dan cacahan dada ayam entah ungkep entah goreng harus di pisah di pisin tersendiri. Boyan berkomentar, wah ini tim bubur gak diaduk yang paling ekstrim. Aku juga tidak tahu mengapa. Namun Bazz Beto menjelaskan: Pak Bono pasti apa-apa lain sendiri. Yake?
Ya sutra lah les duit again. Memesan empat mie ayam tantrum komplit untuk dibungkus sudah cukup lama setelah mengobrol dan terutama menemani Bazz Beto selesai makan. Kami adalah orang-orang tua berhadapan dengan Boyan apalagi Rico, meski Pak Bazz masih sanggup meladeni Rico main tenis. Siang-siang bolong terik bukan alang-kepalang aku pulang. Mungkin sambal kental berlendir itu membuatku sepanjang sisa hari sampai malam merasa refluks. Namun seperti itulah tipikal hari-hariku selalu. Diisi penuh dengan suka-suka ayah Eddie pernah di TVRI.
Ini Aria apa, sedih melangutkan begini. Mengapa aku jadi teringat Rita yang bukan keong racun, yang mana sebenarnya Didik Nini Thowok. Untunglah segera disusul dengan Brasil, jadi lupa sedihnya. Ini adalah kitikanku di Gedung Baru Lantai 5 Ruang B. Takkan 'ku sebut gedung baru itu Interdisciplinary Legal Research Center (ILRC). Sungguh memalukan. Di depannya ada patung dada yang katanya Soepomo, dibuat kawan Soel Dalam. Namun gedung itu tidak jadi diberi nama Soepomo karena keluarga Soepomo tidak mau bayar hahaha. Kocak. Sial. Bikin malu saja.
Sekarang sudah Selasa siang dan katanya subuh tadi Anak Krakatau batuk lagi. Kasihan. Istriku dan Mbak Dina juga batuk-batuk tiada berkesudahan sejak musim kemarau menjelang. Sedang aku kenyang begini tadi pagi menandaskan nasi uduk Bang Edoy. Seperti biasa, semur tahu telur, tapi ini tahunya dua, masih berkentang balado, sejumput mie goreng kampung disiram sambal kecap. Alhamdulillah. Minumnya teh melati Jawa dengan gula Indomaret satu saset saja untuk sekadar menyamarkan rasa sepet. Kalau di Belanda dulu setara dua kotak gula Jumbo atau Albert Heijn. Sip.
Senin lalu, meski rektor menyuruh pembelajaran jarak jauh (PJJ), aku tetap datang ke kampus. Aku khawatir kantin tidak ada yang buka, maka mampir dulu di warung tegal sederhana seberang PLN Sukmajaya, membungkus nasi, acar, tahu jamur, telur dadar diselepet bumbu rendang sedikit. Sampai kampus langsung ke ruang tamu fakultas menyiapkan kuliah kapita selekta masalah-masalah aktual hukum adat. Sebelumnya menghabiskan sarapan dulu. Alhamdulillahi. Sarapanku yang hampir selalu begitu selalu mantap. Semoga juga sehat. Nasinya hanya setengah.
Selesai itu melangkah ke kantin. Betapa terkejutnya aku melihat rak Mang Ade dan Mbak Lela penuh hidangan terpajang rapi, begitu pula bubur snar guitar, mie ayam tantrum, gado-gado Lek Mino, ayam goreng Ameera. Mencelos hatiku. Didorong rasa kasihan aku membeli sayur-mayur di Mang Ade. Ternyata Boyan sudah di G5B, maka ke sana aku, maka paragraf ke dua itu. Tak lama Rico Novianto bergabung, lalu seperti biasa ngalor-ngidul entah-entah sampai Rico lapar. Shalat dhuhur dulu maka beranjak kami ke kantin. Aku memesan bubur ayam, lagi karena kasihan.
Mengenai bubur ayam ini, ada standar NATO baru. Memang segala sesuatu itu harus ada standar NATO-nya termasuk bubur ayam kampus. Dedaunan seledri dan bawang goreng boleh berada di mangkok bubur, begitu pula sambal, yang kali ini terlihat kental berlendir, dan kecap manis. Namun cakwe, cistik, dan cacahan dada ayam entah ungkep entah goreng harus di pisah di pisin tersendiri. Boyan berkomentar, wah ini tim bubur gak diaduk yang paling ekstrim. Aku juga tidak tahu mengapa. Namun Bazz Beto menjelaskan: Pak Bono pasti apa-apa lain sendiri. Yake?
Ya sutra lah les duit again. Memesan empat mie ayam tantrum komplit untuk dibungkus sudah cukup lama setelah mengobrol dan terutama menemani Bazz Beto selesai makan. Kami adalah orang-orang tua berhadapan dengan Boyan apalagi Rico, meski Pak Bazz masih sanggup meladeni Rico main tenis. Siang-siang bolong terik bukan alang-kepalang aku pulang. Mungkin sambal kental berlendir itu membuatku sepanjang sisa hari sampai malam merasa refluks. Namun seperti itulah tipikal hari-hariku selalu. Diisi penuh dengan suka-suka ayah Eddie pernah di TVRI.














