Langsung aja 'nih perkenalan: Kekasih, andai saja kau mengerti. Harusnya kita mampus lewati itu semua. Hahaha. Puas. Tidak. Biasa saja. Ini bahkan sebiasa terpuruk 'ku di sini. Jika ia dirilis pada Juli 1993, berarti aku sering mendengarnya justru di musim penghujan akhir tahun itu, di Graha 3. Betapa sedikit kenanganku mengenai tempat ini. Apakah karena aku tidak menyukainya. Apa entri ini akan 'ku isi dengan kenanganku mengenainya. Malas. Terlalu ngeffort. Aku begini, seperti biasa, karena kesepian sangat, kegabutan sangat sampai-sampai tak'da ide lagi mau apa.
Uah, intro terompet ini asli sok cerdiknya, 'ga kaleng-kaleng! 'Tuh sampai 'ku beri tanda seru begitu. Jangan-jangan dulu Cecak benar-benar beli, atau Aris Yudhi teman sekamarnya. Aku juga beli kaset sekitar waktu itu, tapi isinya mudah untuk jatuh cinta sampai pusing 'ku baktikan bagi yang 'ku cintai alah tokai. Aku beli di Gardena seharusnya waktu itu, mungkin sembari beli kaset kosong untuk merekam kaset Nat King Cole-nya Bu Eko. Aku ingat kok pulang pesiar sekitar Ashar, sekitar waktu Quantum Leap diputar. Tapi mana pernah sholat waktu itu, sholat apapun. Prahara.
Akhirnya, mendekati tengah malam, aku kembali lagi kepadamu, karena memang tiada sesiapa bersamaku kecuali kamu, yang bukan si ratu oke dan bukan dua dua pula umurmu. Mungkin ini juga tidak akan selesai malam ini juga maka 'ku teruskan pada paginya sambil mendengarkan Simfoni Nomor 40 dalam G minor K 550 oleh Mozart. Memang hanya musik-musik seperti ini yang cocok buatku, bukan sensasi seks murahan a la ratu oke. Sejujurnya, sebagus apapun kata orang bentuknya, kalau dia tidak tahu apa itu Simfoni No. 40, langsung ilfil akunya 'tu. Anunya aku'tu.
Widis, apalagi dilanjut dengan Rapsodi tentang Sebuah Tema Paganini, Opus 43 oleh Sergei Rachmaninoff begini, sedap-sedapnya 'tu langsung terasa begitu, meski entah mengapa bahan celana ini cepat sekali sapose kolor babe baunye aujubile. Kalau sudah begini, secantik apapun musim semi dalam khayalan Antonio Vivaldi baunya ya tetap sapose. Ini sebetulnya mudah diatasi, tinggal dibakari saja dengan dupa cendana Jepang, meski ada cara yang lebih tepat: segera mandi dan ganti baju dan celana. Memang sudah beberapa hari, sih. Sebentar lah. 'Ku kelikitiki dulu.
Sedap-sedapnya begini tidak perlu juga disebut-sebut judul-judulnya jika semata-mata terdengar gaya-gaya'an. Semua juga sudah tahu kalau seleraku tinggi. Tidak ada yang tahu juga tidak apa-apa karena bagiku komposisi-komposisi klasik begini patutnya bersanding dengan nasi uduk bang Edoy yang jarang sekali mencapai angka Rp 15,000 ketimbang steak ala-ala atau Beef Welingtonia. Sebentar. yang makanan itu Beef 'kan, bukan Windy. Lebih baik begini, melonjak-lonjak diiringi Dansa Hongaria Nomor 5 sampai menguar sapose ke mana-mana, lebih suka dari apapun.
Melonjak-lonjak begini, berputar-putar berdansa menurut Waltz dalam A mol major, Opus 39 Nomor 15 ah biar saja 'ku tak peduli. Perut buncit begini tak berbaju, celana pendek ada centang Nike-nya meski jelas palsu dan berbau aduhai begini siapa peduli. Apa ini waktunya segelas teh tarik halia meski baru saja sejebung besar teh melati Jawa biar saja. Aku tidak pernah lupa bahagia meski tidak pernah benar-benar mengusahakannya. Tepatnya, aku tidak pernah benar-benar mengusahakan apapun, karena hobiku mengundi nasib. Aku biarkan saja apapun lewat di depan mulutku.
Aku caplok, ya, aku 'aem. Aku berhenti dulu untuk membuat semug Norwegia teh tarik halia sementara Carmen sudah sibuk memainkan kastanyet sedang aku monyetnya. Baru menyebut Carmen saja sudah ada yang menguik-uik, atau menguwik-uwik di bawah sana. Apakah seorang mezzo-sopranis berkulit tembaga mengilat, bergaun bahu terbuka jelas mempertontonkan tulang-tulang selangka dan belahan dada, sedang yang menyenandung ini Kwartet Gesek Nomor 2 dalam D Mayor: 3. Notturno. Andante. Aduduh sakit sekali digigit sapi. Mau bunuh diri tapi takut mati.
Uah, intro terompet ini asli sok cerdiknya, 'ga kaleng-kaleng! 'Tuh sampai 'ku beri tanda seru begitu. Jangan-jangan dulu Cecak benar-benar beli, atau Aris Yudhi teman sekamarnya. Aku juga beli kaset sekitar waktu itu, tapi isinya mudah untuk jatuh cinta sampai pusing 'ku baktikan bagi yang 'ku cintai alah tokai. Aku beli di Gardena seharusnya waktu itu, mungkin sembari beli kaset kosong untuk merekam kaset Nat King Cole-nya Bu Eko. Aku ingat kok pulang pesiar sekitar Ashar, sekitar waktu Quantum Leap diputar. Tapi mana pernah sholat waktu itu, sholat apapun. Prahara.
Akhirnya, mendekati tengah malam, aku kembali lagi kepadamu, karena memang tiada sesiapa bersamaku kecuali kamu, yang bukan si ratu oke dan bukan dua dua pula umurmu. Mungkin ini juga tidak akan selesai malam ini juga maka 'ku teruskan pada paginya sambil mendengarkan Simfoni Nomor 40 dalam G minor K 550 oleh Mozart. Memang hanya musik-musik seperti ini yang cocok buatku, bukan sensasi seks murahan a la ratu oke. Sejujurnya, sebagus apapun kata orang bentuknya, kalau dia tidak tahu apa itu Simfoni No. 40, langsung ilfil akunya 'tu. Anunya aku'tu.
Widis, apalagi dilanjut dengan Rapsodi tentang Sebuah Tema Paganini, Opus 43 oleh Sergei Rachmaninoff begini, sedap-sedapnya 'tu langsung terasa begitu, meski entah mengapa bahan celana ini cepat sekali sapose kolor babe baunye aujubile. Kalau sudah begini, secantik apapun musim semi dalam khayalan Antonio Vivaldi baunya ya tetap sapose. Ini sebetulnya mudah diatasi, tinggal dibakari saja dengan dupa cendana Jepang, meski ada cara yang lebih tepat: segera mandi dan ganti baju dan celana. Memang sudah beberapa hari, sih. Sebentar lah. 'Ku kelikitiki dulu.
Sedap-sedapnya begini tidak perlu juga disebut-sebut judul-judulnya jika semata-mata terdengar gaya-gaya'an. Semua juga sudah tahu kalau seleraku tinggi. Tidak ada yang tahu juga tidak apa-apa karena bagiku komposisi-komposisi klasik begini patutnya bersanding dengan nasi uduk bang Edoy yang jarang sekali mencapai angka Rp 15,000 ketimbang steak ala-ala atau Beef Welingtonia. Sebentar. yang makanan itu Beef 'kan, bukan Windy. Lebih baik begini, melonjak-lonjak diiringi Dansa Hongaria Nomor 5 sampai menguar sapose ke mana-mana, lebih suka dari apapun.
Melonjak-lonjak begini, berputar-putar berdansa menurut Waltz dalam A mol major, Opus 39 Nomor 15 ah biar saja 'ku tak peduli. Perut buncit begini tak berbaju, celana pendek ada centang Nike-nya meski jelas palsu dan berbau aduhai begini siapa peduli. Apa ini waktunya segelas teh tarik halia meski baru saja sejebung besar teh melati Jawa biar saja. Aku tidak pernah lupa bahagia meski tidak pernah benar-benar mengusahakannya. Tepatnya, aku tidak pernah benar-benar mengusahakan apapun, karena hobiku mengundi nasib. Aku biarkan saja apapun lewat di depan mulutku.
Aku caplok, ya, aku 'aem. Aku berhenti dulu untuk membuat semug Norwegia teh tarik halia sementara Carmen sudah sibuk memainkan kastanyet sedang aku monyetnya. Baru menyebut Carmen saja sudah ada yang menguik-uik, atau menguwik-uwik di bawah sana. Apakah seorang mezzo-sopranis berkulit tembaga mengilat, bergaun bahu terbuka jelas mempertontonkan tulang-tulang selangka dan belahan dada, sedang yang menyenandung ini Kwartet Gesek Nomor 2 dalam D Mayor: 3. Notturno. Andante. Aduduh sakit sekali digigit sapi. Mau bunuh diri tapi takut mati.














