Di Belanda aku diperlengkapi dengan ketenangan dan kesendirian, kesejukan yang nyaman karena dihangatkan, kehangatan yang nyaman. Aku juga diperlengkapi dengan uang secukupnya sampai tidak pernah benar-benar merasa kekurangan. Biasa saja terasa. Namun tidak lama perlengkapan itu segera berubah menjadi kekosongan dan kesepian. Aku tidak bermaksud kufur nikmat, namun teman-teman seringnya terasa sedikit sekali di sana. Terlebih ketika di koridor kuning, baik di Kees Broekman maupun Kraanspoor. Kenangan manis, tepatnya manis-pahit.
Maka yang sedikit itu 'kan 'ku kenang selamanya. Tivinya Japri yang sok cerdik, sotonya Gerardus, gitarnya Pak Greg, harumnya Jeng Arum. Selebihnya pemandangan ke luar jendela yang tidak ada apa-apanya bagiku. Akankah aku lebih senang memandangi kantor pusat Hema ketimbang halaman dalam dan kamar-kamar seberang, aku tidak yakin. Jadi tidak banyak berguna memang. Sejujurnya, aku lebih sering bergidik kengerian mengingat waktu-waktu yang 'ku habiskan di dalam studio itu, mungkin sama ngerinya seperti kambing membayangkan harus di UBK++.
WSD singkatan apa, bukan warung sate domba, melainkan wanita sungai dalam. Perasaan yang mendalam memang suka tiba-tiba timbul ke permukaan. Namun dengan derasnya aliran kesadaran, perasaan itu tenggelam lagi entah ke mana, tergulung oleh arus gelombangnya, tersangkut entah di ceruk atau relung yang mana, yang kemudiannya bisa saja muncul kembali. Timbul-tenggelam, itulah jadinya perasaan paling mendalam. Terpendam mungkin karena malu atau takut atau berbagai perasaan buruk lainnya, asal jangan sampai menjadi kanker saja. Amit 2x.
Ya, bisa jadi ini. Dua puluh lagu cinta keemasan edisi ke-6. Lagu-lagu cinta terbaik dari tahun-tahun [yang telah berlalu] hanya diingat dua pertama saja. Seperti semua tahun yang telah berlalu, seperti itulah tahun-tahun dijalani, tidak dari hari ke harinya, tetapi dari satu saat ke saat berikutnya. Seperti ini, aku mengitiki, saat berikutnya mungkin aku berperang bagi bangsa-bangsa besar dan kecil dari seluruh dunia. Seperti segelas permata teh melati bergula dilanjut tawar. Aku selalu suka tehku panas, tetapi tidak terlalu manis dan kental. Manis sekadar penyamar rasa kelat, teh ala Cina.
Dua puluhan tahun lalu, tivi, atau pisi kata orang kampung Jombang hanya bisa untuk menonton siaran terestrial berbagai-bagai saluran televisi nasional. Uah, masih lengkap. Ada TVRI, RCTI, SCTV, TPI, ANTV, Indosiar, MetroTV, TransTV, GlobalTV, Lativi, dan tepat pada akhir tahun ini TV7 berubah menjadi Trans7. Pada saat-saat seperti ini 20 tahun lalu, Empat Mata sudah tayang hampir setahun yang segera saja membunuh Om Farhan. Itu sebenarnya pertanda bahwa penonton tivi pada saat itu saja sudah lebih banyak bangsanya Doni Brasco dan sebagainya. Kiamat.
Kini, 20 tahunan setelah masa-masa itu, aku mengitiki di komputer pribadi semua-jadi-satu, tidak ada unit pengolah pusatnya yang terpisah dari layar, sedangkan menyetel 20 lagu cinta keemasan edisi ke-6 dengan tivi sok cerdik yang sekarang kerjanya memutar politik dan orang-orang Cina atau seperti Cina. Apakah 20 tahunan lalu aku sudah menyanding segelas besar teh seperti sekarang ini. 'Ku rasa dulu lebih berani. Namun setelah 2002 'ku rasa aku sudah tidak gila kopi jikapun aku pernah begitu sebelumnya. Apa yang 'ku minum bersama mie goreng entah apa kala itu.
Mie goreng cahaya bintang yang 'ku salahkan untuk sakitku. Tidak tidur semalaman, baru tidur sekitar satu jam dibangunkan Gus Dut, diajak makan. Agar gratis aku makan, sudah pasti merokok juga. Seingatku starmild menthol ketika itu, sebungkus rokok terakhirku [tidak benar-benar terakhir, masih ada agak beberapa bungkus pernah 'ku beli pada tahun-tahun kemudiannya]. Tanggal yang selalu 'ku ingat, 10 Oktober 2002. Tanggal 'ku berjanji untuk berusaha menjadi hamba yang lebih baik. Adakah aku masih berusaha sampai hari ini. Akankah 'ku teruskan.
Maka yang sedikit itu 'kan 'ku kenang selamanya. Tivinya Japri yang sok cerdik, sotonya Gerardus, gitarnya Pak Greg, harumnya Jeng Arum. Selebihnya pemandangan ke luar jendela yang tidak ada apa-apanya bagiku. Akankah aku lebih senang memandangi kantor pusat Hema ketimbang halaman dalam dan kamar-kamar seberang, aku tidak yakin. Jadi tidak banyak berguna memang. Sejujurnya, aku lebih sering bergidik kengerian mengingat waktu-waktu yang 'ku habiskan di dalam studio itu, mungkin sama ngerinya seperti kambing membayangkan harus di UBK++.
WSD singkatan apa, bukan warung sate domba, melainkan wanita sungai dalam. Perasaan yang mendalam memang suka tiba-tiba timbul ke permukaan. Namun dengan derasnya aliran kesadaran, perasaan itu tenggelam lagi entah ke mana, tergulung oleh arus gelombangnya, tersangkut entah di ceruk atau relung yang mana, yang kemudiannya bisa saja muncul kembali. Timbul-tenggelam, itulah jadinya perasaan paling mendalam. Terpendam mungkin karena malu atau takut atau berbagai perasaan buruk lainnya, asal jangan sampai menjadi kanker saja. Amit 2x.
Ya, bisa jadi ini. Dua puluh lagu cinta keemasan edisi ke-6. Lagu-lagu cinta terbaik dari tahun-tahun [yang telah berlalu] hanya diingat dua pertama saja. Seperti semua tahun yang telah berlalu, seperti itulah tahun-tahun dijalani, tidak dari hari ke harinya, tetapi dari satu saat ke saat berikutnya. Seperti ini, aku mengitiki, saat berikutnya mungkin aku berperang bagi bangsa-bangsa besar dan kecil dari seluruh dunia. Seperti segelas permata teh melati bergula dilanjut tawar. Aku selalu suka tehku panas, tetapi tidak terlalu manis dan kental. Manis sekadar penyamar rasa kelat, teh ala Cina.
Dua puluhan tahun lalu, tivi, atau pisi kata orang kampung Jombang hanya bisa untuk menonton siaran terestrial berbagai-bagai saluran televisi nasional. Uah, masih lengkap. Ada TVRI, RCTI, SCTV, TPI, ANTV, Indosiar, MetroTV, TransTV, GlobalTV, Lativi, dan tepat pada akhir tahun ini TV7 berubah menjadi Trans7. Pada saat-saat seperti ini 20 tahun lalu, Empat Mata sudah tayang hampir setahun yang segera saja membunuh Om Farhan. Itu sebenarnya pertanda bahwa penonton tivi pada saat itu saja sudah lebih banyak bangsanya Doni Brasco dan sebagainya. Kiamat.
Kini, 20 tahunan setelah masa-masa itu, aku mengitiki di komputer pribadi semua-jadi-satu, tidak ada unit pengolah pusatnya yang terpisah dari layar, sedangkan menyetel 20 lagu cinta keemasan edisi ke-6 dengan tivi sok cerdik yang sekarang kerjanya memutar politik dan orang-orang Cina atau seperti Cina. Apakah 20 tahunan lalu aku sudah menyanding segelas besar teh seperti sekarang ini. 'Ku rasa dulu lebih berani. Namun setelah 2002 'ku rasa aku sudah tidak gila kopi jikapun aku pernah begitu sebelumnya. Apa yang 'ku minum bersama mie goreng entah apa kala itu.
Mie goreng cahaya bintang yang 'ku salahkan untuk sakitku. Tidak tidur semalaman, baru tidur sekitar satu jam dibangunkan Gus Dut, diajak makan. Agar gratis aku makan, sudah pasti merokok juga. Seingatku starmild menthol ketika itu, sebungkus rokok terakhirku [tidak benar-benar terakhir, masih ada agak beberapa bungkus pernah 'ku beli pada tahun-tahun kemudiannya]. Tanggal yang selalu 'ku ingat, 10 Oktober 2002. Tanggal 'ku berjanji untuk berusaha menjadi hamba yang lebih baik. Adakah aku masih berusaha sampai hari ini. Akankah 'ku teruskan.














