Kemarin atau kapan sempat terpikir untuk menulis entri berjudul bebas seperti burung cinta sejati, kini dan nanti. Namun entah mengapa tidak jadi. Apakah akan 'ku lakukan sekarang, entahlah. Yang jelas, aku jadi pagi-pagi di kampus begini karena Bang Jay memintaku menyidang seminar hasil penelitian, yang ternyata masih Rabu. Kambing berangkat ke kampusnya lebih pagi lagi. Aku masih menunggu karena 'ku pikir jadwalku jam sembilan. Namun bukan itu benar sebabnya. Badanku dingin dan seperti masih enggan bangun. Daku perlu yang hangat-hangat.
Begitu saja aku bangkit dari sofa, merobek kemasan ekonomis mie sedap goreng isi lima, dan memasaknya berkuah. 'Ku biarkan agak lama di atas api agar agak benyek seperti kesukaanku dan kembalilah aku ke depan tivi beryutub, kali ini dengan menyangga semangkuk mie sedap goreng berkuah. Kalian 'kan tahu (halah!) mie sedap goreng ada ekstra bawang gorengnya. Nah, selesai makan itu, sudahlah lambungku menunjukkan tanda-tanda mengembung, selembar kulit bawang menyangkut di tekakku. Kau 'kan tahu sampai ada fobia makanan menempel di langit-langit mulut.
Begitulah tadi aku mandi sambil menahankan perasaan itu. Setelah beberapa kali 'ku colok dalam-dalam rongga mulutku, rasa-rasanya kulit bawang itu turun juga masuk kerongkongan. Jika kau kira drama selesai ini, sepatuku basah karena atap di atasnya bocor. Aku sudah sempat lewat pos satpam bersandal ketika aku teringat Rapid Under Armor biru boleh dibelikan Kolonel Infantri Dr. Sigit Purwanto. Aku balik lagi minta diambilkan itu oleh Cantik. Begitulah maka hari ini aku bersepatu sangat kasual. Sebenarnya Skechers Massage Fit aku juga kasual namun ia hitam.
Ya sutra 'lah kita kembali ke bebas seperti burung tadi, burung cinta sejati, kini dan nanti. Tiga lagu Beatles terbaru, atau mungkin lebih tepatnya lagu John Lennon terakhir alangkah sufistiknya. Coba, bebas seperti burung. itulah hal terbaik kedua yang mungkin terjadi: Bebas seperti burung. Pulang, pulang dan kering seperti burung pulang aku terbang. Seperti seekor burung pada sayap-sayapnya. Aduhai, baru syairnya saja sudah membebaskan, apalagi melodi dan progresi kuncinya. Seperti diambil dari kekayaan esoterik yang sangat mistis. Daku tiada pernah meragukan John.
Lantas apa yang lebih baik dari bebas seperti burung? Cinta Sejati! Semua rencana dan skema kecilku hilang seakan mimpi yang terlupakan. Seakan semua yang 'ku lakukan hanya menunggumu. Seperti gadis dan anak kecil bermain dengan mainan kecil mereka. Seakan semua yang mereka lakukan hanya menunggu Cinta. Tak perlu merasa sendiri, inilah Cinta Sejati. Dari saat ini aku tahu tepatnya kemana 'ku kan pergi. Seakan semua yang 'ku lakukan hanya menunggu Cinta. Tak perlu takut, inilah Cinta Sejati. Meski aku pernah jatuh cinta sebelumnya, tapi dalam hatiku ingin lebih [dari itu]. Seakan semua yang 'ku lakukan hanya 'tuk menungguMu.
Edan! Lalu ini: Aku tahu itu benar. Semua karenaMu. Dan bila 'ku berhasil melaluinya, semua karenaMu. Dan kini dan nanti, jika kami harus memulai lagi, ya, kami akan tahu pasti bahwa aku akan mencintaiMu. Kini dan nanti 'ku merindukanMu. Oh, kini dan nanti 'ku ingin Kau ada di sana untukku, selalu Kembali padaku. Aku tahu itu benar. Semua karenaMu. Dan jika Kau pergi aku tahu Kau takkan pernah tinggal. Ini yang paling meditatif dari ketiganya. Inilah pengalaman fana dalam Dzat seperti yang dialami oleh Mansyur al-Hallaj dan Siti Jenar. Ini jelas kerasuk-rawuhan.
Maka ketika Togar berkata akan ada empat film biopik dari sudut pandang John, Paul, George, Ringo masing-masingnya, yang akan diproduksi Sony, mungkin aku akan menontonnya, namun sangat bisa jadi mungkin tidak. Kalaupun aku sampai menonton, bisa jadi tidak sengaja seperti Rapsodi Gelandangan. Aku ingin menontonnya ketika baru diputar pada 2018 di Amsterdam. Aku baru menontonnya gratis setelah diputar Nexmedia pada 2019. Lagipula, buat apa menonton biopik jika ternyata semua yang 'ku lakukan hanya tinggal menungguMu, Cinta Sejati. Tak perlu merasa takut.
Begitu saja aku bangkit dari sofa, merobek kemasan ekonomis mie sedap goreng isi lima, dan memasaknya berkuah. 'Ku biarkan agak lama di atas api agar agak benyek seperti kesukaanku dan kembalilah aku ke depan tivi beryutub, kali ini dengan menyangga semangkuk mie sedap goreng berkuah. Kalian 'kan tahu (halah!) mie sedap goreng ada ekstra bawang gorengnya. Nah, selesai makan itu, sudahlah lambungku menunjukkan tanda-tanda mengembung, selembar kulit bawang menyangkut di tekakku. Kau 'kan tahu sampai ada fobia makanan menempel di langit-langit mulut.
Begitulah tadi aku mandi sambil menahankan perasaan itu. Setelah beberapa kali 'ku colok dalam-dalam rongga mulutku, rasa-rasanya kulit bawang itu turun juga masuk kerongkongan. Jika kau kira drama selesai ini, sepatuku basah karena atap di atasnya bocor. Aku sudah sempat lewat pos satpam bersandal ketika aku teringat Rapid Under Armor biru boleh dibelikan Kolonel Infantri Dr. Sigit Purwanto. Aku balik lagi minta diambilkan itu oleh Cantik. Begitulah maka hari ini aku bersepatu sangat kasual. Sebenarnya Skechers Massage Fit aku juga kasual namun ia hitam.
Ya sutra 'lah kita kembali ke bebas seperti burung tadi, burung cinta sejati, kini dan nanti. Tiga lagu Beatles terbaru, atau mungkin lebih tepatnya lagu John Lennon terakhir alangkah sufistiknya. Coba, bebas seperti burung. itulah hal terbaik kedua yang mungkin terjadi: Bebas seperti burung. Pulang, pulang dan kering seperti burung pulang aku terbang. Seperti seekor burung pada sayap-sayapnya. Aduhai, baru syairnya saja sudah membebaskan, apalagi melodi dan progresi kuncinya. Seperti diambil dari kekayaan esoterik yang sangat mistis. Daku tiada pernah meragukan John.
Lantas apa yang lebih baik dari bebas seperti burung? Cinta Sejati! Semua rencana dan skema kecilku hilang seakan mimpi yang terlupakan. Seakan semua yang 'ku lakukan hanya menunggumu. Seperti gadis dan anak kecil bermain dengan mainan kecil mereka. Seakan semua yang mereka lakukan hanya menunggu Cinta. Tak perlu merasa sendiri, inilah Cinta Sejati. Dari saat ini aku tahu tepatnya kemana 'ku kan pergi. Seakan semua yang 'ku lakukan hanya menunggu Cinta. Tak perlu takut, inilah Cinta Sejati. Meski aku pernah jatuh cinta sebelumnya, tapi dalam hatiku ingin lebih [dari itu]. Seakan semua yang 'ku lakukan hanya 'tuk menungguMu.
Edan! Lalu ini: Aku tahu itu benar. Semua karenaMu. Dan bila 'ku berhasil melaluinya, semua karenaMu. Dan kini dan nanti, jika kami harus memulai lagi, ya, kami akan tahu pasti bahwa aku akan mencintaiMu. Kini dan nanti 'ku merindukanMu. Oh, kini dan nanti 'ku ingin Kau ada di sana untukku, selalu Kembali padaku. Aku tahu itu benar. Semua karenaMu. Dan jika Kau pergi aku tahu Kau takkan pernah tinggal. Ini yang paling meditatif dari ketiganya. Inilah pengalaman fana dalam Dzat seperti yang dialami oleh Mansyur al-Hallaj dan Siti Jenar. Ini jelas kerasuk-rawuhan.
Maka ketika Togar berkata akan ada empat film biopik dari sudut pandang John, Paul, George, Ringo masing-masingnya, yang akan diproduksi Sony, mungkin aku akan menontonnya, namun sangat bisa jadi mungkin tidak. Kalaupun aku sampai menonton, bisa jadi tidak sengaja seperti Rapsodi Gelandangan. Aku ingin menontonnya ketika baru diputar pada 2018 di Amsterdam. Aku baru menontonnya gratis setelah diputar Nexmedia pada 2019. Lagipula, buat apa menonton biopik jika ternyata semua yang 'ku lakukan hanya tinggal menungguMu, Cinta Sejati. Tak perlu merasa takut.













