Maikel Bolot mungkin sedang, ugh, bolot ketika ia meraung-raung bagaimana ia harus hidup... tanpaMu. Ini 'kan contradictio in terminis, ketika 'Mu tiada lain adalah Hidup sendiri, yang membuat semua selainNya tampak seperti hidup. Jika ia sekadar meratap meraung bagaimana ia harus hidup, itu baru benar. Ia, aku, apapun, siapapun yang tampak hidup sejatinya bangkai, sisa-sisa membusuk diurai menjadi tanah. Tentu saja bangkai, sisa-sisa, tanah mendesah, mengeluh, berkesah ketika disabda hidup. Mereka akan terus 'ngungun: Sucilah Sang Hidup.
Maka pendurhaka celaka diajari, sebelum mensimulasikan mati, untuk mensugesti diri sendiri: Dengan NamaMu Sang Hidup, aku hidup, dan dengan NamaMu pula aku mati. Begitu simulasi mati itu berakhir maka diajari untuk meyakinkan diri sendiri: Segala puji hanya pantas bagi Sang Hidup yang telah menghidupkan 'ku kembali setelah matiku, dan kepadaNya aku dikembalikan. Tahukah kamu apa itu simulasi mati, itulah pemberi hidup. Maha Suci Ia Maha Tinggi, Sang Hidup pemberi hidup, yang mengajarkan kita cara yang tepat, cara yang patut untuk memujiNya.
Mengapa kita harus hidup. Ya, mengapa bangkai, sisa-sisa debu-abu harus merasakan sensasi kehidupan. Hanya satu alasannya: karena kita hamba. Betapa tidak, kita hanya ciptaan, yang terserah pada Sang Pencipta untuk menciptakan atau tidak. Namun ketika kita tercipta, maka seluruhnya kecuali Ia adalah semacam cermin yang memantulkanNya. Sesungguhnya, Ia Memuji DiriNya Sendiri, karena hanya Ia yang Ada. Aduhai, betapatah ciptaan akan hidup jika tidak karena Kehendak Sang Hidup, semata untuk memujiNya, sebenarnya ialah PujianNya bagi Diri Sendiri, Sang Terpuji.
Semua selainnya mengaduh-kesah, merintih mensucikanNya, memujiNya, mengesakanNya, mengagungkanNya. Semua kecuali pendurhaka celaka, merasa diri hidup, dan, karenanya, merasa diri suci, terpuji, tersendiri, agung. Namun justru di situ letak permainannya. Pendurhaka celaka diberi hidup agar menyadari Adanya Sang Hidup, dibuat sanggup merasakan kesucian agar menyadari Sucinya Sang Suci, dibuat senang dipuji benci dicaci agar sadar akan Adanya Sang Terpuji, dibuat sanggup merasa khas, tersendiri, lain daripada yang lain, agar sadar KeesaanNya.
Karena hidup untuk selain Sang Hidup adalah kesakitan, penderitaan, rasa malu yang mendalam; seperti kotoran lembu dihiasi mahkota, berjubah sutera beledu, diusung tandu kencana, dielu-elukan, disembah-sembah. Seandainya kotoran lembu sedurhaka si celaka, ia akan lungkrah, luluh, terburai menjadi butiran debu yang sekecil-kecilnya, hilang musnah, terbang dibawa angin entah ke mana saking malunya. Lembu yang mengeluarkannya, sementara itu, terus saja mensucikan Hidup, memuji Hidup, mengesakan Hidup sampai ia lungkrah bersama kotoran sendiri.
Jika pun hidup terasa tertahankan, tiada lain karena Hidup Pemurah, Dermawan, Penyantun. Lebih dari itu semua, Hidup Pengasih lagi Penyayang. Hidup adalah rasa sayang yang ditumbuhkanNya dalam dada semua ibu kepada apapun yang keluar dari guagarbanya. Hidup adalah manis teduhnya senyum seorang ibu kepada anak-anak yang dilahirkannya, sujana atau durjana, subuddhi atau durbuddhi. Hidup Mengasihi semua, yang mempercantik cantiknya ciptaan maupun yang merusaknya; karena ciptaan selalu secantik Penciptanya, dan Ia Cantik!
Maka, Maikel Bolot, mustahil hidup tanpaMu. jangan takut. Jika kau masih bangun dari tidur, itu artinya Kau masih Hidup, karena mustahil hidup tanpa Hidup. Apa mati yang kau takutkan, kau bangkai, kau sisa-sisa, kau debu-abu tanah. Dari debu asalmu, jadi debu kembalimu. Dari abu asalmu, jadi abu kembalimu. Hidup akan selalu Hidup, bahkan hidup akan selalu Hidup selama dikehendakiNya. Temukan Hidup dalam setiap relung, setiap langkah hidupmu, dimulai dengan bangunmu dari matimu, yang sehari-hari, maupun yang sekali seumur hidupmu. Damai hidupmu.
Maka pendurhaka celaka diajari, sebelum mensimulasikan mati, untuk mensugesti diri sendiri: Dengan NamaMu Sang Hidup, aku hidup, dan dengan NamaMu pula aku mati. Begitu simulasi mati itu berakhir maka diajari untuk meyakinkan diri sendiri: Segala puji hanya pantas bagi Sang Hidup yang telah menghidupkan 'ku kembali setelah matiku, dan kepadaNya aku dikembalikan. Tahukah kamu apa itu simulasi mati, itulah pemberi hidup. Maha Suci Ia Maha Tinggi, Sang Hidup pemberi hidup, yang mengajarkan kita cara yang tepat, cara yang patut untuk memujiNya.
Mengapa kita harus hidup. Ya, mengapa bangkai, sisa-sisa debu-abu harus merasakan sensasi kehidupan. Hanya satu alasannya: karena kita hamba. Betapa tidak, kita hanya ciptaan, yang terserah pada Sang Pencipta untuk menciptakan atau tidak. Namun ketika kita tercipta, maka seluruhnya kecuali Ia adalah semacam cermin yang memantulkanNya. Sesungguhnya, Ia Memuji DiriNya Sendiri, karena hanya Ia yang Ada. Aduhai, betapatah ciptaan akan hidup jika tidak karena Kehendak Sang Hidup, semata untuk memujiNya, sebenarnya ialah PujianNya bagi Diri Sendiri, Sang Terpuji.
Semua selainnya mengaduh-kesah, merintih mensucikanNya, memujiNya, mengesakanNya, mengagungkanNya. Semua kecuali pendurhaka celaka, merasa diri hidup, dan, karenanya, merasa diri suci, terpuji, tersendiri, agung. Namun justru di situ letak permainannya. Pendurhaka celaka diberi hidup agar menyadari Adanya Sang Hidup, dibuat sanggup merasakan kesucian agar menyadari Sucinya Sang Suci, dibuat senang dipuji benci dicaci agar sadar akan Adanya Sang Terpuji, dibuat sanggup merasa khas, tersendiri, lain daripada yang lain, agar sadar KeesaanNya.
Karena hidup untuk selain Sang Hidup adalah kesakitan, penderitaan, rasa malu yang mendalam; seperti kotoran lembu dihiasi mahkota, berjubah sutera beledu, diusung tandu kencana, dielu-elukan, disembah-sembah. Seandainya kotoran lembu sedurhaka si celaka, ia akan lungkrah, luluh, terburai menjadi butiran debu yang sekecil-kecilnya, hilang musnah, terbang dibawa angin entah ke mana saking malunya. Lembu yang mengeluarkannya, sementara itu, terus saja mensucikan Hidup, memuji Hidup, mengesakan Hidup sampai ia lungkrah bersama kotoran sendiri.
Jika pun hidup terasa tertahankan, tiada lain karena Hidup Pemurah, Dermawan, Penyantun. Lebih dari itu semua, Hidup Pengasih lagi Penyayang. Hidup adalah rasa sayang yang ditumbuhkanNya dalam dada semua ibu kepada apapun yang keluar dari guagarbanya. Hidup adalah manis teduhnya senyum seorang ibu kepada anak-anak yang dilahirkannya, sujana atau durjana, subuddhi atau durbuddhi. Hidup Mengasihi semua, yang mempercantik cantiknya ciptaan maupun yang merusaknya; karena ciptaan selalu secantik Penciptanya, dan Ia Cantik!
Maka, Maikel Bolot, mustahil hidup tanpaMu. jangan takut. Jika kau masih bangun dari tidur, itu artinya Kau masih Hidup, karena mustahil hidup tanpa Hidup. Apa mati yang kau takutkan, kau bangkai, kau sisa-sisa, kau debu-abu tanah. Dari debu asalmu, jadi debu kembalimu. Dari abu asalmu, jadi abu kembalimu. Hidup akan selalu Hidup, bahkan hidup akan selalu Hidup selama dikehendakiNya. Temukan Hidup dalam setiap relung, setiap langkah hidupmu, dimulai dengan bangunmu dari matimu, yang sehari-hari, maupun yang sekali seumur hidupmu. Damai hidupmu.












