Hampir saja anjing nong montong digerhanakan oleh samiyono. Namun aku segera ambil tindakan. Segera 'ku nyalakan Lenovo Aio 520 dan 'ku kelikitiki tanpa ampun: Anjing nong montong, camp mangkong merang, murning dan guring. Anjing nong montong! Coba katakan padaku mengapa dari kecilku aku suka membuat bunyi-bunyi tak bermakna seperti ini, yang bila 'ku bunyikan keras-keras sekurangnya bisa dikata kucluk bahkan bisa kena jitak. Seperti Aryo sekarang yang kalau ceritanya tertawa berbunyi helhelhel. Apapun peduliku ya sutra 'lah let's do it again.
Samiyono memang menjengkelkan karena di balik sarungnya dia tidak mengenakan apapun. Itulah sebabnya jadi samiyono samiyono, gondal-gandul gondal-gandul. Mungkin karena ia melihatnya berdiri di sana, baru tujuh belas tahun. Tidak berarti juga harus dilihat 'kan. Maka 'ku usir dia begitu saja. 'Ku ganti dengan jez positif biar terasa seperti di kafe-kafe. Meski di sebelah-menyebelah 'ku sanding sejebung besar teh jawa. 750 ml tidak ke mana, dimaniskan dengan biang gula. Agak lumayan 'lah jez positif ini, ada gitar listriknya, ditingkahi pianonya, dioser-oser dramnya.
Aku sekadar bapak-bapak Jawa botak gendut berbaju asal-asalan yang tampak baik hati. Merangkak 'ku merona tiba-tiba melintas begitu saja di kepala. Kalimat sebelum ini sebenarnya tidak berhenti di kata hati. Ada selarik cukup panjang yang 'ku hapus darinya. Apakah sekarang aku sudah punya malu, atau sesungguhnya ini usahaku untuk menghindari siksa kubur dan neraka. Aku tak tahu. Biar 'ku nikmat-nikmati saja kepalaku berambut beberapa helai seperti saringan kamar mandi dioser-oser stik adukan telor. Nyaman di hati sudah baik meski belakang empot-empotan.
Jika memang kecenderungannya, atau lebih tepatnya, bawaan oroknya miring ke kiri, meski sudah dibalancing spooring bolak-balik tabrak lari, maka lebih baik diarahkan ke pemikiran kiri. Toh lekuk-likunya, simpang-siurnya sudah hafal. Tidak pernah ada yang benar-benar baru dari itu semua. Toh ujung-ujungnya menghasilkan dopamin juga. Jadi pemikiran lebih baik dari kepikiran. Dan pemikiran Insya Allah tidak pernah membuat kepala serasa ingin meledak demikian juga dengan perut. Apalagi sampai timbul sensasi tidak bisa nafas. Pemikiran itu tidak begitu.
Disimpang disiuri, ditelisik tusuk-jelujuri, diasam-kandis digeluguri, jari-jemari melumuri. Jangan suka menggunakan ungkapan-ungkapan jorok. Gemini tidak suka. Aku sebenarnya tidak peduli kalau orang lain sampai berjengit kejijikan. Namun aku sudah bosan Gemini yang sebentuk kecerdasan buatan itu bolak-balik merinding kegelian dengan alegori dan metafora cairan tubuh atau pelimbahan. Ya sudah aku meliuk menjebik, merangsek mendengking, melonjak-lonjak menari, untuk tiba-tiba berdiri tegap bergeming. Kepala tengadahi 'nyenyumi lelangit mengawan-awani.
Kekecewaanku pada dunia yang penuh dukkha, yang sejatinya samsara, menuntun kembali Antareja pada ibunda Nagagini, Antasena pada ibunda Urangayu, sedang Gatotkaca menuntun Kunta Wijaya ke dalam pusarnya. Pusar Gatotkaca sesungguhnya adalah pusaran samsara itu sendiri. Dewi Arimbi memandang sedih pada madu-madunya, berkasih-kasih dengan buah hati masing-masing, sedang putranya bermandi darah tertembus Kunta Wijaya. Dipandangi wajah raksasa perkasa yang baginya selalu tampak seperti bayi bungkus itu. Dibelai sepenuh kasihnya. Bobo ya, 'Nak.
Tubuh ksatria Basukarna, sementara itu, menggelimpang tak berkepala. Kepalanya menggelinding tak bertubuh, setelah leher sebatang tempatnya bertengger dipapras Pasopati yang dilepas Janaka, adiknya sendiri. Dewi Kuntiboja memandangi kepala tak bertubuh itu, dipungutnya sebutir. Didekapkan pada dadanya seakan ia ingin menyusui kepala bayi yang tak sempat disusuinya. Dari kejauhan, Radha membiarkannya. Ada sungging sesenyum lirih berkata, air susuku yang direguknya puas-puas, ya Dewi. Dia adalah Radheya, dikatakannya sendiri. Bapaknya Adirata si kusir hina.
Samiyono memang menjengkelkan karena di balik sarungnya dia tidak mengenakan apapun. Itulah sebabnya jadi samiyono samiyono, gondal-gandul gondal-gandul. Mungkin karena ia melihatnya berdiri di sana, baru tujuh belas tahun. Tidak berarti juga harus dilihat 'kan. Maka 'ku usir dia begitu saja. 'Ku ganti dengan jez positif biar terasa seperti di kafe-kafe. Meski di sebelah-menyebelah 'ku sanding sejebung besar teh jawa. 750 ml tidak ke mana, dimaniskan dengan biang gula. Agak lumayan 'lah jez positif ini, ada gitar listriknya, ditingkahi pianonya, dioser-oser dramnya.
Aku sekadar bapak-bapak Jawa botak gendut berbaju asal-asalan yang tampak baik hati. Merangkak 'ku merona tiba-tiba melintas begitu saja di kepala. Kalimat sebelum ini sebenarnya tidak berhenti di kata hati. Ada selarik cukup panjang yang 'ku hapus darinya. Apakah sekarang aku sudah punya malu, atau sesungguhnya ini usahaku untuk menghindari siksa kubur dan neraka. Aku tak tahu. Biar 'ku nikmat-nikmati saja kepalaku berambut beberapa helai seperti saringan kamar mandi dioser-oser stik adukan telor. Nyaman di hati sudah baik meski belakang empot-empotan.
Jika memang kecenderungannya, atau lebih tepatnya, bawaan oroknya miring ke kiri, meski sudah dibalancing spooring bolak-balik tabrak lari, maka lebih baik diarahkan ke pemikiran kiri. Toh lekuk-likunya, simpang-siurnya sudah hafal. Tidak pernah ada yang benar-benar baru dari itu semua. Toh ujung-ujungnya menghasilkan dopamin juga. Jadi pemikiran lebih baik dari kepikiran. Dan pemikiran Insya Allah tidak pernah membuat kepala serasa ingin meledak demikian juga dengan perut. Apalagi sampai timbul sensasi tidak bisa nafas. Pemikiran itu tidak begitu.
Disimpang disiuri, ditelisik tusuk-jelujuri, diasam-kandis digeluguri, jari-jemari melumuri. Jangan suka menggunakan ungkapan-ungkapan jorok. Gemini tidak suka. Aku sebenarnya tidak peduli kalau orang lain sampai berjengit kejijikan. Namun aku sudah bosan Gemini yang sebentuk kecerdasan buatan itu bolak-balik merinding kegelian dengan alegori dan metafora cairan tubuh atau pelimbahan. Ya sudah aku meliuk menjebik, merangsek mendengking, melonjak-lonjak menari, untuk tiba-tiba berdiri tegap bergeming. Kepala tengadahi 'nyenyumi lelangit mengawan-awani.
Kekecewaanku pada dunia yang penuh dukkha, yang sejatinya samsara, menuntun kembali Antareja pada ibunda Nagagini, Antasena pada ibunda Urangayu, sedang Gatotkaca menuntun Kunta Wijaya ke dalam pusarnya. Pusar Gatotkaca sesungguhnya adalah pusaran samsara itu sendiri. Dewi Arimbi memandang sedih pada madu-madunya, berkasih-kasih dengan buah hati masing-masing, sedang putranya bermandi darah tertembus Kunta Wijaya. Dipandangi wajah raksasa perkasa yang baginya selalu tampak seperti bayi bungkus itu. Dibelai sepenuh kasihnya. Bobo ya, 'Nak.
Tubuh ksatria Basukarna, sementara itu, menggelimpang tak berkepala. Kepalanya menggelinding tak bertubuh, setelah leher sebatang tempatnya bertengger dipapras Pasopati yang dilepas Janaka, adiknya sendiri. Dewi Kuntiboja memandangi kepala tak bertubuh itu, dipungutnya sebutir. Didekapkan pada dadanya seakan ia ingin menyusui kepala bayi yang tak sempat disusuinya. Dari kejauhan, Radha membiarkannya. Ada sungging sesenyum lirih berkata, air susuku yang direguknya puas-puas, ya Dewi. Dia adalah Radheya, dikatakannya sendiri. Bapaknya Adirata si kusir hina.













