Tulisan "Incl. Song Book" dalam suatu heksagon berwarna keemasan dengan lis merah menjanjikan sesuatu yang menyenangkan di balik sampul kaset. Karena itu, sampul kasetnya bisa kandel nggedibel sampai terkadang agak sulit ditutup atau dikeluar-masukkan kasetnya. Maka harus hati-hati, jika tidak bisa terlipat atau bahkan robek sehingga mengecewakan. Di dalam sampul itu juga biasanya dijilid staples sebuah buklet berisi syair lagu-lagu yang ada dalam kaset, terkadang bahkan dengan kordnya sekalian; meski kadang syair maupun kordnya pun ngaco.
Namun biasanya itu baru disadari lama kemudian, yakni ketika sudah mulai belajar bahasa Inggris secara sistematis sehingga semakin baik pula keterampilan tata-bahasa maupun perbendaharaan kosakata. Pula, ketika kemampuan bermain gitar juga sudah lumayan meski dapatnya dari tongkrongan satu ke pengkolan lainnya. Namun tidak berarti pula hanya GS Pardede yang sudah jago main gitar gara-gara buku "Gitar Modern untuk Pemula"-nya. Mungkin seperti "Kunci Ibadah"-nya SA Zainal Abidin, "Gitar Modern" sudah menghasilkan entah berapa gitaris amatir.
Maksud saya, "Kunci Ibadah" sudah membantu banyak orang, Insya Allah, untuk bisa berwudhu, mandi junub, sholat wajib dan sunnah, mungkin sampai zakat dan haji (saya lupa isi tepatnya hahaha). Pokoknya, entah itu SA Zainal Abidin atau GS Pardede, mereka tidak seperti entah siapa itu yang menulis buku mengenai binaraga, yang kata adikku mungkin hanya penulisnya yang sudah jadi badannya gara-gara buku itu hahaha. Sampai kini adikku tetap kurus panjang, sedang aku, yang selalu menang panco atasnya, selalu pendek bulat karena memang tidak pernah membinaragai.
Ini mengenai buklet syair lagu atau buku-buku murah legendaris pada masanya. Astaga, buku-buku itu murah namun jelas tidak murahan. Semoga Allah terus mengalirkan pahala bagi penulis-penulisnya meski sudah berpulang. Akan halnya buklet syair lagu di balik sampul kaset, semoga para pembuatnya mendapatkan upah memadai atas jerih-payahnya. Mungkin pada zaman itu memang sedikit sekali orang yang bahkan cuma kelihatannya saja menguasai bahasa Inggris. Akan halnya IELTS-ku mencatatkan 7.5 untuk overall band, tak semata kemampuanku.
Segala puji hanya bagi Allah yang membuatku lahir dari bapak ibu yang sangat cerdas-cerdas, baik kemampuan bahasa Inggrisnya. Dari kecil aku belajar dari mereka syair-syair lagu berbahasa Inggris kesukaan mereka yang menjadi kesukaanku juga. Seperti anak jaman sekarang, aku dan adikku sudah belajar bahasa Inggris sejak prasekolah di rumah, meski sesuai kurikulum yang berlaku kami baru mempelajarinya secara sistematis di sekolah mulai tingkat lanjutan pertama. Semua buku pelajaran bahasa Inggris utama guru-gurunya juga tidak boleh dilupakan.
Begitu pula, aku belajar gitar setidaknya sejak kelas 4 SD, dengan gitar putih senar kawat kagungan swargi Pakde Binto. Ke mana pun kami pindah, Tangerang kembali lagi ke Radio Dalam, kubawa-bawa gitar itu sampai dibelikan Bapak sebuah Yamaha CG-40 made in Japan asli ketika kelas 3 SMP. Waktu itu permainan gitarku sudah agak lumayan bisa mengiringiku bernyanyi. Di malam-malam Minggu, Bapak suka juga bernyanyi dengan iringan gitarku, aku memberi harmoni. Permainanku tapi meningkat pesat setelah bertemu suhu Herbert Situmorang di SMA.
Sedang buku "Kunci Ibadah", itulah satu-satunya warisan kebendaan dari Bang Mustopa bagi kami murid-murid mengajinya. Harus diakui, melalui beliaulah aku dan adikku bisa membaca huruf hijaiyah sampai hampir tamat satu juz amma. Semoga Allah berbelas kasihan kepadanya, Bang Guru Mustopa, memafkan semua salah dosanya baik yang disengaja maupun tidak, melipatgandakan pahalanya. Adakah aku benar-benar membaca buku itu, aku tidak seberapa ingat. Dulu aku berpikir ini sekadar buku agama yang tidak menarik, padahal ia kunci ibadah sesuai judulnya.
Namun biasanya itu baru disadari lama kemudian, yakni ketika sudah mulai belajar bahasa Inggris secara sistematis sehingga semakin baik pula keterampilan tata-bahasa maupun perbendaharaan kosakata. Pula, ketika kemampuan bermain gitar juga sudah lumayan meski dapatnya dari tongkrongan satu ke pengkolan lainnya. Namun tidak berarti pula hanya GS Pardede yang sudah jago main gitar gara-gara buku "Gitar Modern untuk Pemula"-nya. Mungkin seperti "Kunci Ibadah"-nya SA Zainal Abidin, "Gitar Modern" sudah menghasilkan entah berapa gitaris amatir.
Maksud saya, "Kunci Ibadah" sudah membantu banyak orang, Insya Allah, untuk bisa berwudhu, mandi junub, sholat wajib dan sunnah, mungkin sampai zakat dan haji (saya lupa isi tepatnya hahaha). Pokoknya, entah itu SA Zainal Abidin atau GS Pardede, mereka tidak seperti entah siapa itu yang menulis buku mengenai binaraga, yang kata adikku mungkin hanya penulisnya yang sudah jadi badannya gara-gara buku itu hahaha. Sampai kini adikku tetap kurus panjang, sedang aku, yang selalu menang panco atasnya, selalu pendek bulat karena memang tidak pernah membinaragai.
Ini mengenai buklet syair lagu atau buku-buku murah legendaris pada masanya. Astaga, buku-buku itu murah namun jelas tidak murahan. Semoga Allah terus mengalirkan pahala bagi penulis-penulisnya meski sudah berpulang. Akan halnya buklet syair lagu di balik sampul kaset, semoga para pembuatnya mendapatkan upah memadai atas jerih-payahnya. Mungkin pada zaman itu memang sedikit sekali orang yang bahkan cuma kelihatannya saja menguasai bahasa Inggris. Akan halnya IELTS-ku mencatatkan 7.5 untuk overall band, tak semata kemampuanku.
Segala puji hanya bagi Allah yang membuatku lahir dari bapak ibu yang sangat cerdas-cerdas, baik kemampuan bahasa Inggrisnya. Dari kecil aku belajar dari mereka syair-syair lagu berbahasa Inggris kesukaan mereka yang menjadi kesukaanku juga. Seperti anak jaman sekarang, aku dan adikku sudah belajar bahasa Inggris sejak prasekolah di rumah, meski sesuai kurikulum yang berlaku kami baru mempelajarinya secara sistematis di sekolah mulai tingkat lanjutan pertama. Semua buku pelajaran bahasa Inggris utama guru-gurunya juga tidak boleh dilupakan.
Begitu pula, aku belajar gitar setidaknya sejak kelas 4 SD, dengan gitar putih senar kawat kagungan swargi Pakde Binto. Ke mana pun kami pindah, Tangerang kembali lagi ke Radio Dalam, kubawa-bawa gitar itu sampai dibelikan Bapak sebuah Yamaha CG-40 made in Japan asli ketika kelas 3 SMP. Waktu itu permainan gitarku sudah agak lumayan bisa mengiringiku bernyanyi. Di malam-malam Minggu, Bapak suka juga bernyanyi dengan iringan gitarku, aku memberi harmoni. Permainanku tapi meningkat pesat setelah bertemu suhu Herbert Situmorang di SMA.
Sedang buku "Kunci Ibadah", itulah satu-satunya warisan kebendaan dari Bang Mustopa bagi kami murid-murid mengajinya. Harus diakui, melalui beliaulah aku dan adikku bisa membaca huruf hijaiyah sampai hampir tamat satu juz amma. Semoga Allah berbelas kasihan kepadanya, Bang Guru Mustopa, memafkan semua salah dosanya baik yang disengaja maupun tidak, melipatgandakan pahalanya. Adakah aku benar-benar membaca buku itu, aku tidak seberapa ingat. Dulu aku berpikir ini sekadar buku agama yang tidak menarik, padahal ia kunci ibadah sesuai judulnya.


No comments:
Post a Comment