Wednesday, September 30, 2026

Bulan Kuning dan Serumpun Bambu Tepi Ciliwung


Jiwa untuk diperas membawaku kembali ke pertengahan sampai akhir 1993 itu, atau bahkan mungkin awal 1994. Yang jelas aku sudah pindah agak di seberang pintu kamar mandi. Tidak tepat di depannya, karena yang di situ Rully dan Yusuf Maulana. Aku ke kiri sedikit bersama Eri Budiman, ke kanan Goklas dan Candra Wijaya. Begitulah tata-letak Graha 5 setelah Angkatan 3 pergi untuk segraha bersama Angkatan 4. Kelas III dibiarkan sendiri untuk mempersiapkan kelulusannya atau semacam itu. Tak ada yang benar-benar menyenangkan dari masa ini 'tuk dikenangkan.
Maka aku melompat jauh sekitar 30 tahunan ke depan untuk dimanjakan oleh cinta Anita. Heh, ini 'kan majalah yang isinya cerpen melulu itu 'kan, yang baik sampul maupun ilustrasi-ilustrasi di dalamnya adalah gambar tangan. Astaga, sudah lompat jauh masih saja balik ke 30 tahunan yang lalu. Seingatku, aku sudah nyaris tidak pernah melihatnya di Graha 5. Waktu di Graha 3 pernah. Tentu mustahil aku membelinya. Entah punya siapa. Aku yang hampir-hampir saja tidak butuh wanita. Mungkin yang paling sanggup begitu aku, namun kemudian aku memilih menjadi baik.

Maka dari waktu-waktu di Graha 5 itu aku melompat lagi, kali ini tidak jauh-jauh, hanya 2 tahun ke depan. Ini malah lebih mengerikan lagi, awal 1996 itu sampai aku ternyata diterima di FHUI. Selesai, jelas belum. Dekade 1990-an buatku memang mengerikan. Dibuka dengan harapan akan kegemilangan, ditutup dengan keterpurukan di sini. Namun ini pertengahan 1997, salah satu episode El Nino terkuat. Aku ingat waktu itu di kosan entah di Kapuk atau di mana tempatnya David Sibuea anak poltek. Tidak lama daku disitu kembali lagi ke Kukusan lalu Srengseng.

Ke sebuah rumah di tepi tebing sungai Ciliwung yang curam dan dipenuhi hutan bambu. Rumah Pak Saman yang diwariskan kepada anaknya, Pak Rinan. Jadi Saman itu bukan judul novelet entah-entahnya Ayu Utami, melainkan nama bapak semangku. Di rumah itu ada meja tulis bagus bekas Aerex atau entah apa-apa, puing-puing impian bapakku. Di bawah kacanya 'ku letak entah-entah apa, salah satunya gambar oret-oretanku mengenai seorang prajurit Marinir dan juga bahkan potret diriku dalam seragam pemimpin besar revolusi, berdiri di depan Sang Merah Putih.

Di atas meja itu sering 'ku letak mesin tik bapak atau yang hijau terbang itu. Mungkin tidak seberapa sering, namun pasti adalah hari-hari, atau mungkin lebih seringnya malam-malam aku memberondongkan huruf-huruf pada kertas di atas bantalan rolnya. Agak ke belakang ada kompor minyak tanah tempat memasak entah lodeh atau sarden bertahu. Jika tidak maka sampai berutang pada Acep Sugiana Rp 20,000 untuk membeli Abrakebab, waktu itu masih cukup. Apakah ketika itu juga membawa nasi dipadat-padatkan dalam kotak bekas es krim ke Hokben.

Menunggu angkot di depan Gang Realita sambil mengeluarkan sebungkus rokok Crystal yang sumpah tidak enak, seperti Mustang. Aku lupa apakah 'ku habiskan. Ya, pasti pertengahan 1997 itu, akhir kemarau, disusul dengan musim penghujan yang lumayan bahkan sampai ke Mei tahun berikutnya. Aku masih ingat menduduki MPR sedang masih ada hujan. Apa yang terjadi pada libur antara Semester 3 dan 4 itu. Semester 4 IP-ku bagus, sampai 3 lewat, setiap hari pergi dan pulang melalui Gang Realita, menyeberang rel, naik bis kuning sampai kampus dan pula sebaliknya lagi.

Mungkin dari September atau Oktober 1997 itu sampai Agustus atau September 1998. Aku ambyar ke dalam sebuah ngarai berair di bawahnya, sebuah fjord. Angin dingin berkesiuran pada wajah, kepala, dan telingaku. Aku terjun kepala dulu, tangan-tangan kurentang-bentangkan. 'Ku resapi semua perasaan nyaman yang pernah 'ku rasakan dalam hidupku. Aku sudah tidak peduli lagi pada hidup, bahkan ngarai dan air di bawahnya. Aku serasa terbang dalam kenyamanan, bukan ke bawah, ke dasar ngarai, melainkan ke awan-awan yang entah benar ada atau hanya dalam khayal.

Monday, September 21, 2026

Senin Gembira, Bahagia Tiada Tara, Suka 'mBahana


Seperti Asus Vivobook yang sudah entah di mana, Axioo Hype-R X8 ini juga ada lampu di belakang papan-kuncinya, jadi dalam gelapnya kamarku sudah setengah lima petang ini masih kelihatan kunci apa yang kutekan. Meski dibesut Palank Merah, biarlah kemarin sekali lagi selalu cantik, entah sesuai entah tidak suasananya. Dulu kami suka saling bertanya, aku dan adikku, jika mendengar suatu lagu, suasana apa yang terbayang. Bersama Cantik aku juga terkadang begitu, namun karena masa kecil kita tidak sama terkadang tidak terlalu 'nyambung; hanya kemarin sekali lagi.
Sinar matahari yang sudah tersisa sekitar 45 menit lagi, sudahlah disaput awan, masih harus menembus dedaunan pepayaan, mangga, dan ketapang yang lumayan rapat. Sampai di kamarku yang jendelanya sudah diberi stiker cermin di luarnya, ia tidak lagi sanggup menerangi. Kau hanya mendapat apa yang kau beri, begitu kata Radikal-radikal Baru. Uah, aku sudah tua begini masih saja radikal. Anak-anakku hanya bisa terlongong-longong memandangiku. Seperti kata Ustadz Ghun, aku tidak memberi kuliah, tetapi memprovokasi. Apa memang cuma itu bisaku. Aduhsedihku.

Radikal-radikal baru memang sempat membawaku kembali ke Crea, berjalan menyusurinya ke arah halte Alexanderplein. Apakah ketika itu kau membuatku merasa gres bermain di kepalaku. Hawa seperti ini, cahaya seperti ini, seharusnya sudah malam. Apa pernah aku dari kantor jam delapan atau setengah sembilan malam namun masih terang karena bulan-bulan musim panas. 'Ku rasa pernah beberapa kali pada 2018 itu. Kau hanya hidup dua kali atau seperti itulah. Satu hidup untukmu sendiri, satu lagi untuk mimpi-mimpimu. Tanpa mimpi, orang seperti ikan asin.

Pada titik ini aku berhenti entah mengapa. Mungkin mendekati maghrib memang seharusnya menyimak sholawatan atau ayat-ayat suci yang berkumandang dari pengeras suara masjid ketimbang bermimpi. Namun jelasnya aku meneruskan keesokan pagi yang sudah sangat tua menjelang siang, setelah menikmati teh lemah buatan Pak Nardi. Ia merasa perlu memastikan padaku apakah aku menghendaki teh buatannya yang terkenal lemah atau aku membawa kantung tehku sendiri. Aku tadi memang membawa sesaset-kantung kopi Flores Bajawa dari Kak Natalina.

Begitulah maka aku pulang setelah enak Togar day off seperti abangdanya, memutar ke depan, ke tugu buku. ke pangkal Margonda (atau itu ujungnya), membelok kiri ke Juanda, memutar setelah lewat Peseq, pendek kata, mampir ke warteg sederhana. Belanja acar kuning, tahu jamur, sayur udang, teri kacang, telor dadar empat habis Rp 40,000. Sampai di rumah begitu saja aku menyeduh teh melati Jawa secara memadai. Tidak bisa dibilang lemah tetapi tidak kuat juga seperti teh sarapan Inggris, lagipula pagi sudah sangat tua. Itulah adanya daku kitiki. 

Akhirnya aku day off juga. Tidak juga. Aku berangkat pagi tadi, santai menyusuri jalan belakang, masuk lewat PNJ. Sesantai itu masih punya 20 menit sebelum kelas mulai, sarapan dulu bersama Kak Nat dan Kak Tiur. Bersama kami merasa masih muda saja, entah apa dalam pikiran bocil-bocil di sekitar kami. Emak-emak dua dan bapak-bapak gendut botak sarapan bersama. 'Ku rasa hidup memang begitu saja, dari kecil beranjak dewasa kemudian berangsur tua. Dari dulu aku tidak pernah tertarik dengan awet muda apalagi panjang umur; aku dari remaja dipanggil 'pak'.

Beginilah aku ditemani secawan kecil dari kayu berisi secauk tanah lembab untuk mencolokkan sebatang dupa Jepang. Harum lembut baunya, tidak seperti dupa Cina apalagi India atau bahkan dupa lokal, Bali mungkin atau entah apa. Lewat tengah hari dan matahari malu-malu memancar dari balik saputan awan, aku mengitiki di kamar sendiri. Kembali ke sedia kala, belum sampai 24 jam. Kamarku tidak terang, namun tidak segelap petang kemarin. Mungkin karena ini masih tengah hari. Gerah terasa badanku, jariku rampak mengitiki. Asap dupaku keluar.

Tuesday, September 15, 2026

Begitu Aku Sampai Phoenix Belum Selesai Putus Pun


Tulisan "Incl. Song Book" dalam suatu heksagon berwarna keemasan dengan lis merah menjanjikan sesuatu yang menyenangkan di balik sampul kaset. Karena itu, sampul kasetnya bisa kandel nggedibel sampai terkadang agak sulit ditutup atau dikeluar-masukkan kasetnya. Maka harus hati-hati, jika tidak bisa terlipat atau bahkan robek sehingga mengecewakan. Di dalam sampul itu juga biasanya dijilid staples sebuah buklet berisi syair lagu-lagu yang ada dalam kaset, terkadang bahkan dengan kordnya sekalian; meski kadang syair maupun kordnya pun ngaco.
Namun biasanya itu baru disadari lama kemudian, yakni ketika sudah mulai belajar bahasa Inggris secara sistematis sehingga semakin baik pula keterampilan tata-bahasa maupun perbendaharaan kosakata. Pula, ketika kemampuan bermain gitar juga sudah lumayan meski dapatnya dari tongkrongan satu ke pengkolan lainnya. Namun tidak berarti pula hanya GS Pardede yang sudah jago main gitar gara-gara buku "Gitar Modern untuk Pemula"-nya. Mungkin seperti "Kunci Ibadah"-nya SA Zainal Abidin, "Gitar Modern" sudah menghasilkan entah berapa gitaris amatir.

Maksud saya, "Kunci Ibadah" sudah membantu banyak orang, Insya Allah, untuk bisa berwudhu, mandi junub, sholat wajib dan sunnah, mungkin sampai zakat dan haji (saya lupa isi tepatnya hahaha). Pokoknya, entah itu SA Zainal Abidin atau GS Pardede, mereka tidak seperti entah siapa itu yang menulis buku mengenai binaraga, yang kata adikku mungkin hanya penulisnya yang sudah jadi badannya gara-gara buku itu hahaha. Sampai kini adikku tetap kurus panjang, sedang aku, yang selalu menang panco atasnya, selalu pendek bulat karena memang tidak pernah membinaragai.

Ini mengenai buklet syair lagu atau buku-buku murah legendaris pada masanya. Astaga, buku-buku itu murah namun jelas tidak murahan. Semoga Allah terus mengalirkan pahala bagi penulis-penulisnya meski sudah berpulang. Akan halnya buklet syair lagu di balik sampul kaset, semoga para pembuatnya mendapatkan upah memadai atas jerih-payahnya. Mungkin pada zaman itu memang sedikit sekali orang yang bahkan cuma kelihatannya saja menguasai bahasa Inggris. Akan halnya IELTS-ku mencatatkan 7.5 untuk overall band, tak semata kemampuanku.

Segala puji hanya bagi Allah yang membuatku lahir dari bapak ibu yang sangat cerdas-cerdas, baik kemampuan bahasa Inggrisnya. Dari kecil aku belajar dari mereka syair-syair lagu berbahasa Inggris kesukaan mereka yang menjadi kesukaanku juga. Seperti anak jaman sekarang, aku dan adikku sudah belajar bahasa Inggris sejak prasekolah di rumah, meski sesuai kurikulum yang berlaku kami baru mempelajarinya secara sistematis di sekolah mulai tingkat lanjutan pertama. Semua buku pelajaran bahasa Inggris utama guru-gurunya juga tidak boleh dilupakan.

Begitu pula, aku belajar gitar setidaknya sejak kelas 4 SD, dengan gitar putih senar kawat kagungan swargi Pakde Binto. Ke mana pun kami pindah, Tangerang kembali lagi ke Radio Dalam, kubawa-bawa gitar itu sampai dibelikan Bapak sebuah Yamaha CG-40 made in Japan asli ketika kelas 3 SMP. Waktu itu permainan gitarku sudah agak lumayan bisa mengiringiku bernyanyi. Di malam-malam Minggu, Bapak suka juga bernyanyi dengan iringan gitarku, aku memberi harmoni. Permainanku tapi meningkat pesat setelah bertemu suhu Herbert Situmorang di SMA.

Sedang buku "Kunci Ibadah", itulah satu-satunya warisan kebendaan dari Bang Mustopa bagi kami murid-murid mengajinya. Harus diakui, melalui beliaulah aku dan adikku bisa membaca huruf hijaiyah sampai hampir tamat satu juz amma. Semoga Allah berbelas kasihan kepadanya, Bang Guru Mustopa, memafkan semua salah dosanya baik yang disengaja maupun tidak, melipatgandakan pahalanya. Adakah aku benar-benar membaca buku itu, aku tidak seberapa ingat. Dulu aku berpikir ini sekadar buku agama yang tidak menarik, padahal ia kunci ibadah sesuai judulnya.

Sunday, September 13, 2026

Masaku Mengitiki Lagi Mengurek-urek Udel Sendiri


Di suatu malam yang panas gerah aku tergolek-golek telanjang dada telanjang perut di kaki istriku yang sedang memencet dan menowel layar gawai, sedang kami di depan televisi yang memutar video-video dua bersaudari Tika dan Sesil atau emak mereka Rusma. Karena aku tidak punya sesuatu pun yang lebih baik untuk dilakukan, maka jari telunjukku begitu saja mengurek-urek udel. Tentu saja udel sendiri, masa udel siapa. Ketika itulah ternyata aku berhasil menggali entah apa itu barang galian tipe C atau lainnya, yang setelah dipilin-pilin, dihirup, aduduhsay baunya.
Ketika itu pula 'lah istriku berseru, "bau apa ini?!" Aku sambil terus memilin-milin menghirup-hirup menyahut, "Ini. Bau udel." "Najis!" seru istriku. "Kenapa sampai bisa begitu baunya? Kamu ga pernah cuci udel ya kalau mandi?" Ia menyumpah-nyumpah najis beberapa kali lagi sedang aku sendiri tersenyum simpul sambil menghirup bau yang jauh lebih memabukkan dari lem aibon, bengsin, atau minyak tanah sekalipun. Begitulah kesibukan seorang cendekiawan, seorang yuris di Republik Indonesia. Istrinya pengajar bahasa Inggris sedang menyiapkan kuliahnya.

Siapa bilang seorang ahli hukum di Republik ini tidak dihargai, dihormati. Nyatanya, aku sendiri di mana-mana digilai dan dielu-elukan: Gila lu! Gila lu! Aku mengoceh entah apa sambil menyelipkan bahasa Belanda sok-sokan di mana-mana sampai mahasiswaku terlongong-longong tidak mengerti. Bahkan di kesejukan auditorium Djokosutono yang disembur AC di segala penjurunya, beberapa duduk menggelesot tidur seperti menonton film membosankan di bioskop. Bedanya bioskop gelap sedang auditorium ini terang-benderang sedang layar bertebaran di mana-mana.

Teringatnya, aku bahkan baru-baru ini, selaku doktor berpangkat lektor, ditugasi menjadi kopromotor. Promovendusku entah bagaimana caranya menemukan macan gondrong ini dan memujiku dengan menggelariku sastrawan. Wah, tak terkira betapa kembang-kempis semua lubang pada tubuhku atas-bawah. Aku tahu apa yang 'ku usulkan padanya untuk diteliti aneh. Aku tahu seluruh dunia mengganggap Profesor Soepomo penjahat fasis. Jangan-jangan hanya aku dan guruku, almarhum Pak AB Kusuma yang tidak mengganggapnya demikian. Aku sungguh tidak tahu mengapa.

Maksudku, orang secerdas Qodir saja percaya Profesor Soepomo fasis; Qodir yang belajar main bridge secara swadidik, bahkan meretas email Sofyan. Jangankan itu, Profesor Adriaan Bedner pun membela Adnan Buyung dan Todung Mulya mati-matian, sedang Profesor Padmo Wahyono katanya pernah diadili oleh bangsanya Marsillam, Rachland, Rahman itu karena membela "Pandangan Negara Integralistik". Hei, bahkan Mbak Fit bosku curiga aku mengusulkan menghapus pemilu. Yah, begitulah memang hidup seorang yuris di Republik ini: berwarna-warni.

Beruntunglah di samping hidup profesional wasainalku yang penuh warna aku juga masih sempat menekuni berbagai hobi, seperti mengupili lubang hidung sendiri kanan-kiri atau, seperti 'ku ceritakan di atas, mengurek-urek lubang udel sendiri. Dengan ini aku membuat pernyataan resmi bahwa udelku bolong alih-alih bodong. Kalau mengurek-urek lubang kuping dengan jari kelingking bukan hobi, melainkan suatu kebutuhan karena kalau ia terlalu lembab atau berminyak suka gatal. Pula, kurang menyenangkan, tidak karena kurang sedap baunya, tetapi karena gatal itu.

Oh ya, selain itu aku juga hobi menggubah komposisi onomatope atau mungkin kalau mau gaya-gaya'an bolehlah disebut scat singing. Sebenarnya tidak juga. Kalau scat singing 'kan orang suka menirukan bunyi gitar atau alat tiup kuningan, meski entah alat musik apa yang bunyinya ditirukan dokter Tompi. Komposisi onomatopeku seringnya menirukan bunyi perkusi yang terkadang aku sendiri juga bingung, perkusi apa bunyinya seperti ini. Jadi sebenarnya sama saja dengan dokter Tompi. Bedanya dia keren kalau aku luarnya aja kusut, dalemnya ancur.

Tuesday, September 08, 2026

Sehari Setelah Anak Krakatau Batukku di Ketinggian


Makjang bodong, variasi rasa tersendiri, dibuat dari gula murni, pasti lebih nikmat. Ini dari hari Kamis minggu lalu, sedang ini masih awal September. Apa pula yang 'ku tunggu. Minggu pagi aku bangun subuh menemui lantai dapur sangat berdebu seperti ada yang sedang bongkar bangunan. Aku keluar mengambil handuk dan ternyata di parkiran motor juga begitu, berdebu. 'Ku rasa, setelah subuh itu aku tidur lagi atau bagaimana, yang jelas tak lama kemudian Mbake datang disusul Bang Ade. Di situlah baru 'ku tersadar jangan-jangan ini Anak Krakatau batuk.
Ini Aria apa, sedih melangutkan begini. Mengapa aku jadi teringat Rita yang bukan keong racun, yang mana sebenarnya Didik Nini Thowok. Untunglah segera disusul dengan Brasil, jadi lupa sedihnya. Ini adalah kitikanku di Gedung Baru Lantai 5 Ruang B. Takkan 'ku sebut gedung baru itu Interdisciplinary Legal Research Center (ILRC). Sungguh memalukan. Di depannya ada patung dada yang katanya Soepomo, dibuat kawan Soel Dalam. Namun gedung itu tidak jadi diberi nama Soepomo karena keluarga Soepomo tidak mau bayar hahaha. Kocak. Sial. Bikin malu saja.

Sekarang sudah Selasa siang dan katanya subuh tadi Anak Krakatau batuk lagi. Kasihan. Istriku dan Mbak Dina juga batuk-batuk tiada berkesudahan sejak musim kemarau menjelang. Sedang aku kenyang begini tadi pagi menandaskan nasi uduk Bang Edoy. Seperti biasa, semur tahu telur, tapi ini tahunya dua, masih berkentang balado, sejumput mie goreng kampung disiram sambal kecap. Alhamdulillah. Minumnya teh melati Jawa dengan gula Indomaret satu saset saja untuk sekadar menyamarkan rasa sepet. Kalau di Belanda dulu setara dua kotak gula Jumbo atau Albert Heijn. Sip.

Senin lalu, meski rektor menyuruh pembelajaran jarak jauh (PJJ), aku tetap datang ke kampus. Aku khawatir kantin tidak ada yang buka, maka mampir dulu di warung tegal sederhana seberang PLN Sukmajaya, membungkus nasi, acar, tahu jamur, telur dadar diselepet bumbu rendang sedikit. Sampai kampus langsung ke ruang tamu fakultas menyiapkan kuliah kapita selekta masalah-masalah aktual hukum adat. Sebelumnya menghabiskan sarapan dulu. Alhamdulillahi. Sarapanku yang hampir selalu begitu selalu mantap. Semoga juga sehat. Nasinya hanya setengah.

Selesai itu melangkah ke kantin. Betapa terkejutnya aku melihat rak Mang Ade dan Mbak Lela penuh hidangan terpajang rapi, begitu pula bubur snar guitar, mie ayam tantrum, gado-gado Lek Mino, ayam goreng Ameera. Mencelos hatiku. Didorong rasa kasihan aku membeli sayur-mayur di Mang Ade. Ternyata Boyan sudah di G5B, maka ke sana aku, maka paragraf ke dua itu. Tak lama Rico Novianto bergabung, lalu seperti biasa ngalor-ngidul entah-entah sampai Rico lapar. Shalat dhuhur dulu maka beranjak kami ke kantin. Aku memesan bubur ayam, lagi karena kasihan.

Mengenai bubur ayam ini, ada standar NATO baru. Memang segala sesuatu itu harus ada standar NATO-nya termasuk bubur ayam kampus. Dedaunan seledri dan bawang goreng boleh berada di mangkok bubur, begitu pula sambal, yang kali ini terlihat kental berlendir, dan kecap manis. Namun cakwe, cistik, dan cacahan dada ayam entah ungkep entah goreng harus di pisah di pisin tersendiri. Boyan berkomentar, wah ini tim bubur gak diaduk yang paling ekstrim. Aku juga tidak tahu mengapa. Namun Bazz Beto menjelaskan: Pak Bono pasti apa-apa lain sendiri. Yake?

Ya sutra lah les duit again. Memesan empat mie ayam tantrum komplit untuk dibungkus sudah cukup lama setelah mengobrol dan terutama menemani Bazz Beto selesai makan. Kami adalah orang-orang tua berhadapan dengan Boyan apalagi Rico, meski Pak Bazz masih sanggup meladeni Rico main tenis. Siang-siang bolong terik bukan alang-kepalang aku pulang. Mungkin sambal kental berlendir itu membuatku sepanjang sisa hari sampai malam merasa refluks. Namun seperti itulah tipikal hari-hariku selalu. Diisi penuh dengan suka-suka ayah Eddie pernah di TVRI.