Sunday, June 28, 2026

Ini Kisah Tentang Feromon Chinta. Meski, Ya, Meski


Seperti biasa, isi kelapa-mudaku meledak-ledak, mencelat-celat, karena bukan sekadar melompat-lompat, seperti jagung-ledak ditaruh di atas penggorengan panas. 'Ku rasa sudah dari dulu seperti itu, karena seingatku sudah lama sekali aku melihat pantulan wajahku pada cermin sambil berkata "yes, Sir", meski 'yes'-nya nyaris tak terdengar, menyisakan hanya bunyi 'e' pepet yang lemah. Aku berkata pada pantulan wajahku sendiri di cermin: "Yes, Sir! No, Sir! Yes or no doesn't make any difference, Sir!" Kelas 9 'ku bisa membuat kalimat semacam itu dalam bahasa Inggris.
Ini kisah tentang Feromon Chinta, meski, ya, meski seharusnya 'ku ketahui sejak lama bahwa aku tidak cocok jadi tentara, setidaknya tidak di Indonesia. Seperti kata Mayor (ketika itu) Harmin, mungkin kalau di Amerika sana bisa. Itu yang diingat Ibuku. Ah, aku baru ingat mengapa namanya begitu, Feromon Chinta: ya, karena feromonnya. Jika kau bekerja demikian keras, bergegas ke sana ke mari, naik turun tangga lantai satu dan dua, mau tidak mau feromon pasti menguar. Ketika itulah cuping hidung berkembang-kempis menghirup-hirup tiap kali berlalu berkesiur.

Aku yang masih saja mencoba berdamai dengan perempuan dari mulai anakan, muda, tidak-lagi-muda, sampai tua; sedang dunia sudah berkelebat begitu cepat sampai pernah memacari perempuan yang punya pacar perempuan juga. Mungkin memang tidak akan pernah ada damai. Di punggung bumi ini selalu orang saling mengucap salam damai satu sama lain. Mungkin itu cara mereka mengingatkan betapa damai tidak akan ditemukan di bumi. Damai itu nanti, tujuan kita semua. Maka jangan sampai menuju lainnya, amit-amit. Damai Indonesiaku tujuan kita semua.

Ini kisah tentang Feromon Chinta, meski, ya, meski aku tidak berapa ingat di mana 'h'-nya harus diletakkan. Hanya tiga 'h' yang 'ku ingat tepat di mana harus meletakkannya seumur hidupku. 'H' pertama di suku kata kedua. 'H' kedua dan ketiga di suku kata pertama. 'Ku ingat, Insya Allah, seperti mengingat 'lailatil' pertama, lalu 'lailatul' kedua dan ketiga. Mungkin sampai matiku takkan pernah kuasai Nahwu apalagi Shorof, seperti Bapakku mungkin tidak pernah benar-benar bisa membaca huruf Hijaiyah sampai meninggalnya. Akan tapi aku tahu di mana tempatnya 'h'.

Gondrongkah, pendekkah, tidak akan pernah ada bedanya bagiku, kecuali rambut kasar bergelombang yang tidak pernah berhenti lucu bagiku. Aku suka rasa sayang itu. Berhubung aku tidak punya kucing apalagi anjing, aku tidak akan tahu apa bedanya rasa itu dengan rasa sayang pada kucing atau anjing. Rasa itu melebihi rasa sayangku pada diriku sendiri, sedang yang terakhir ini aku tidak yakin punya. Aku sudah lupa rasanya menggendong Schmong apalagi anakku sendiri. Mungkin ini hanya khayalanku saja mengenai rasa sayang. Apalah bedanya khayal dan nyata.

Ini kisah tentang Feromon Chinta, meski, ya, meski rambut (sering dikata bulu) ketiaknya aduhai gondrong kriwil-kriwil begitu, seperti rambut (yang ini mengapa tidak pernah dikata bulu?) kepalanya jika tidak di-smooth di-wolf cut begitu. Betapa yang seperti ini menyakitiku. Namun buat apa bertanya ketika apapun bisa menyakitiku, apapun kecuali kesakitanku sendiri. Bahkan ketika orangnya yang 'ku pikir kesakitan merasa biasa-biasa saja, aku tetap kesakitan. Jadi, ya, mungkin memang kesakitanku sendiri. Kesentimentilanku sendiri. Keromantisanku sendiri.

Rasanya seperti terjadi pada diriku sendiri atau seseorang yang 'ku sayangi. Atau memang aku menyayanginya. Aku menyayangi kalian seperti anak-anakku sendiri, mungkin karena anak-anakku sendiri, biologis maupun bukan, tidak ada yang menyayangiku. Sudah lama susah-payah 'ku sayangi diri sendiri. Belajar mencintai diri sendiri, itulah cinta terbesar dari semua, begitu kata Whitney. Itulah maka harus ditulis Chinta, karena memang bukan cinta. Cinta pada diri sendiri, besar ataupun kecil. Seekor lalat hinggap di bibir cangkir berisi teh hitam pahit. 

Friday, June 19, 2026

Kontrakan Rumah Petakan Sekitaran Juragan Sinda


Apa yang dirasakan seorang lelaki pertengahan dua puluh tahunan, menyewa rumah petakan di sekitaran Juragan Sinda seperti dilakukannya ketika masih awal dua puluh tahunan di sekitaran Palakali. Apakah kesamaan rumah petakan akan membawa padanya kenyamanan hidup dari beberapa tahun yang lalu, hampir lima tahun. Apakah karena rumah petakan itu maka cinta akan kembali kepadanya, kali ini lengkap dengan seorang buah hati. Setelah berbagai kontrakan sampai kamar kos-kosan, sampai rumah mungil berlangit-langit rendah sebelah kandang kambing.
Apa yang dilakukan seorang lelaki, menghabiskan hampir lima belas tahun hidupnya dari akhir belasan sampai hampir pertengahan tiga puluhan dari satu kontrakan ke kontrakan lain, satu rumah, satu kamar, bulanan atau tahunan. Bukan kontrakan itu benar yang penting, ketika ia sekadar pengalih perhatian, agar lupa kesakitan yang tidak pernah benar-benar pergi, luka yang tidak pernah benar-benar menaut mengering. Entah berapa tahun berapa bulan berlalu begitu saja mengenang hari-hari bahagia berselimut cinta. Cinta tak pernah salah, hanya caranya ngawur.

Bukan sekadar cinta, bahkan seluruh hidupnya ngawur. Betapa sakitnya menghancurkan kehidupan sendiri ketika tidak pernah benar-benar tahu mau apa dan bagaimana. Ketika akhirnya tahu hanya dapat diungkap dalam satu kata: bijaksana. Dokter seperti kebanyakan bocah cilik, tertarik pada metanarasi, ditarik ke dunia penerbangan sipil maupun militer, infanteri berkualifikasi kelautan, korps pelaut, gelandangan jalanan, ilmuwan, suami, bapak, gelandangan jalanan lagi, proyektor, dosen, tabib, entahlah. Padahal lelaki hanya ingin bijaksana. Mencinta itulah bijaksana.

Apa yang dilakukan seorang lelaki pertengahan dua puluhan tahun, sendiri di rumah petakan kontrakannya. Berbaring junub di kasur kapuk lusuh tipis kempis, langsung tidur setelah melepas penat biji-bijian sendiri, tidak mandi. Berapa tahun tidak pernah mandi junub. Apakah ketika akhirnya tobat lantas mandi junub, tidak ingat. Ketika itu kemarau. Mahasiswa baru 2002 baru saja masuk. Setiap tahun mahasiswa baru masuk, setiap tahun pula terasa semakin abadi. Sendiri entah apa yang dikerjakan di rumah petakan yang lengang, kadang jlaga iman pun Shawn.

Berjalan ke arah Juragan Sinda belok kanan, apakah ada warung indomie. Seperti biasa berkepul-kepul asap rokok kretek seraya berbual-bual entah segala apa. Kemungkinan mengenai abri-abrian karena ketika itu ABRI baru ulang tahun ke-57, sudah jadi TNI. Dari mana datangnya uang pembeli indomie, makan di warteg, terus beli rokok setiap hari tiada henti. Ketika itu pasti sudah pancet Djarum Super atau sedang sok istirahat maka Starmild menthol. Istri pergi membawa serta anak perempuan satu-satunya. Akankah rumah petakan bawa mereka kembali, termangu ragu.

Bukan mencari uang sungguh malah membuat kelompok studi hukum dan masyarakat sesuai dengan arahan Paduka Yang Maha Mulia Terkultus-individukan Bagus Suryahutama Sarjana Hukum (PYMMTi. Bagus S.H. kuadrat). Ya, hanya karena PYMM sudah SH kuadrat maka dibuatlah suatu kelompok studi entah bagaimana untuk menghidupi anak istri. Maka sekitar lima hari kemudian terjadilah apa yang harus terjadi, yang tidak pernah benar-benar hilang sehingga kini. Sebelum 10 Oktober 2002 tidak pernah kenal takut. Setelahnya rasa takut tetap selalu menggelayut.

Tidak seperti almarhum Pak Sugeng Hardjo Taruno, bukan Fretilin yang 'ku hadapi, melainkan aku sendiri. Tidak seperti almarhum Mayor KKO (Anm.) Sugeng, aku tidak mati dan tidak dinaikkan pangkat lebih tinggi satu tingkat. Aku tetap saja pecatan kopral taruna laut pelaut. Kolonel Laut (E) Teguh Rumiyarto pernah mau mengusulkanku menjadi Kolonel Laut (Hor.). Aku tak mau. Kalau boleh aku mau jadi Sersan Taruna (P) (Hor.) (Purn,) saja. Aku mau mengenakan lagi PDU I-ku lengkap dengan webbingnya, dengan perut menggelendutku pasti teramat lucu. Dirikuini.  

Saturday, June 06, 2026

Sabtu di Taman Hati Serasa Ini Tanggal Empat Juni


Panas dan dingin berganti-ganti saja. Hangat atau sejuk tetap masih bisa mencinta atau dilanda duka. Jadi sama saja. Di petang hari yang amat hangat ini, setelah shalat maghrib, seorang tetangga tetap saja mendaras ayat-ayat suci al-Qur'an. Mesjid-mesjid sini entah bagaimana bungkam, mungkin karena ini Sabtu malam. Sejuknya air membasahi kerongkongan. Sepoi-sepoinya angin membelah pangkal malam. Ada hari-hari berjaket, bersarung, masih pula berkaus kaki. Bahkan terkadang dengan keset lantai dilapisi. Ada hari-hari, seperti ini, bertelanjang dada, basah peluh sekali.
Sungguh Sabtu malam ini lengang sunyi begini. Suara jangkrik sampai terdengar jelas sekali. Tadi Chris Cross sempat berkata "Baiklah" namun langsung berhenti demi teringat betapa syahdu suasana hati. Dari kejauhan memang masih terdengar suara-suara jalan raya, namun itu jauh sekali. Hanya keletak-keletik papan kunci dirampaki jari-jari, selain suara dedaunan dibelai angin sesekali. Asap kobunboku buatan Baikōdō berlalu melintas di hadapan layar, melalui hidung menggelitiki. Ah, petang ini memang hangat namun nyaman, senyaman malam kemarau yang hangat.

Kini kobunboku sudah terbakar habis. Bunyinya seperti Kubontubuh, kau tak tahu. Lebih baik kau. Daripada menyimpan berbagai hal dalam loteng benakmu sampai lotengmu runtuh sendiri. Loteng benak, kata Sherlock, harus dijaga tetap rapi dan diisi hanya yang diperlukan saja. Buat apa mengisi benak dengan pengetahuan praktis populer mengenai tatasurya dan bimasakti misalnya. Lebih baik kau mengetahui berbagai jenis racun, bagaimana cara bekerjanya, apa penawarnya, dan seperti Leonardo da Vinci, pengetahuan terinci tentang anatomi; 'tuk melukis dan mematung.

Ini Sabtu-sabtu di taman hati, di bawah terik matahari. Tidak juga. Di atasku masih ada langit-langit, di atasnya lagi loteng, di atasnya lagi atap, di atasnya lagi atmosfer, di atasnya lagi angkasa luar, baru matahari. Ini jelas tidak berbadai. Hari-hari berbadai telah lama berlalu, tiga bulan setidaknya. Tidak, Berbadai, tidak perlu kau bawa kembali hari-hari bermatahari. Mereka sudah di sini bersamaku setiap hari. Aku berkeringat begini sedang hanya jari-jari tangan merampaki papan-kunci. Itu pun tidak sepuluh-sepuluhnya. Tidak tepat sebelas jari juga. Ada 'lah beberapa.

Maka kembali ke hari-hari berhujan di akhir 1990 awal 1991, tepatnya petang hari setelah maghrib ketika Dan memintaku untuk mendengarkan ritme jatuhnya hujan. Betapa Ibu sampai pada saat itu dan beberapa puluh tahun lagi setelahnya harus memutar otak mencari ide masak apa hari ini. Bapak suka semur tahu encer berkuah banyak bersambal tomat. Aduh, siapa tidak suka. Petang setelah maghrib juga, mungkin pada 2003, Mang Imas megap-megap kepedasan diberi banyak-banyak sambal Lily. Ya, Lily bukan penyihir pembuat tembikar, lainkan sambal pedas khas Lampung.

Pembetot durian-durian malah John sedang vokalisnya Simon Rebon. Berkejar-kejaran di tangga-tangga menara Eiffel. Baru teringat -tidak juga, sudah lama juga- maju jaya kembali menemani. Jika dulu 2004, sekarang malah 2024. Asaptaga, apanya yang jaya dari 2024 seperti apanya yang jaya dari 2004. Sekarang saja sudah 2026, apa yang ditunggu. Akankah ada 2086 ketika burung-burung petir beterbangan sedang bentuknya seperti pesawat ruang angkasa ulang-alik. Siapa pula yang menciptakan istilah itu, sedang 'shuttle' diterjemahkan balik lagi menjadi antar-jemput.

Ditambah bass ngeloncoknya ngelunjak, memang lucu rata kanan kiri ini. Uah, masa paragraf pungkasan ini harus mengenai dunia biasa. Memang mengapa kalau biasa. Mengapa harus selalu luar biasa. Mengapa tidak dalam biasa. Biasa di dalam jangan dibiasakan. Jangan biasa-biasa didalamkan. Aku akan belajar sintas di dunia biasa. Kebiasaanku untuk biasa di luar akan 'ku perdalam. Ini betul-betul seperti aku tidak bisa meninggalkan anak-anakku yang idiil. Apa-apa hanya bisa meninggalkan aku; aku yang kuliah S1 12 tahun. Untunglah cintaku tumbuh tepat di sini.