Saturday, June 06, 2026

Sabtu di Taman Hati Serasa Ini Tanggal Empat Juni


Panas dan dingin berganti-ganti saja. Hangat atau sejuk tetap masih bisa mencinta atau dilanda duka. Jadi sama saja. Di petang hari yang amat hangat ini, setelah shalat maghrib, seorang tetangga tetap saja mendaras ayat-ayat suci al-Qur'an. Mesjid-mesjid sini entah bagaimana bungkam, mungkin karena ini Sabtu malam. Sejuknya air membasahi kerongkongan. Sepoi-sepoinya angin membelah pangkal malam. Ada hari-hari berjaket, bersarung, masih pula berkaus kaki. Bahkan terkadang dengan keset lantai dilapisi. Ada hari-hari, seperti ini, bertelanjang dada, basah peluh sekali.
Sungguh Sabtu malam ini lengang sunyi begini. Suara jangkrik sampai terdengar jelas sekali. Tadi Chris Cross sempat berkata "Baiklah" namun langsung berhenti demi teringat betapa syahdu suasana hati. Dari kejauhan memang masih terdengar suara-suara jalan raya, namun itu jauh sekali. Hanya keletak-keletik papan kunci dirampaki jari-jari, selain suara dedaunan dibelai angin sesekali. Asap kobunboku buatan Baikōdō berlalu melintas di hadapan layar, melalui hidung menggelitiki. Ah, petang ini memang hangat namun nyaman, senyaman malam kemarau yang hangat.

Kini kobunboku sudah terbakar habis. Bunyinya seperti Kubontubuh, kau tak tahu. Lebih baik kau. Daripada menyimpan berbagai hal dalam loteng benakmu sampai lotengmu runtuh sendiri. Loteng benak, kata Sherlock, harus dijaga tetap rapi dan diisi hanya yang diperlukan saja. Buat apa mengisi benak dengan pengetahuan praktis populer mengenai tatasurya dan bimasakti misalnya. Lebih baik kau mengetahui berbagai jenis racun, bagaimana cara bekerjanya, apa penawarnya, dan seperti Leonardo da Vinci, pengetahuan terinci tentang anatomi; 'tuk melukis dan mematung.

Ini Sabtu-sabtu di taman hati, di bawah terik matahari. Tidak juga. Di atasku masih ada langit-langit, di atasnya lagi loteng, di atasnya lagi atap, di atasnya lagi atmosfer, di atasnya lagi angkasa luar, baru matahari. Ini jelas tidak berbadai. Hari-hari berbadai telah lama berlalu, tiga bulan setidaknya. Tidak, Berbadai, tidak perlu kau bawa kembali hari-hari bermatahari. Mereka sudah di sini bersamaku setiap hari. Aku berkeringat begini sedang hanya jari-jari tangan merampaki papan-kunci. Itu pun tidak sepuluh-sepuluhnya. Tidak tepat sebelas jari juga. Ada 'lah beberapa.

Maka kembali ke hari-hari berhujan di akhir 1990 awal 1991, tepatnya petang hari setelah maghrib ketika Dan memintaku untuk mendengarkan ritme jatuhnya hujan. Betapa Ibu sampai pada saat itu dan beberapa puluh tahun lagi setelahnya harus memutar otak mencari ide masak apa hari ini. Bapak suka semur tahu encer berkuah banyak bersambal tomat. Aduh, siapa tidak suka. Petang setelah maghrib juga, mungkin pada 2003, Mang Imas megap-megap kepedasan diberi banyak-banyak sambal Lily. Ya, Lily bukan penyihir pembuat tembikar, lainkan sambal pedas khas Lampung.

Pembetot durian-durian malah John sedang vokalisnya Simon Rebon. Berkejar-kejaran di tangga-tangga menara Eiffel. Baru teringat -tidak juga, sudah lama juga- maju jaya kembali menemani. Jika dulu 2004, sekarang malah 2024. Asaptaga, apanya yang jaya dari 2024 seperti apanya yang jaya dari 2004. Sekarang saja sudah 2026, apa yang ditunggu. Akankah ada 2086 ketika burung-burung petir beterbangan sedang bentuknya seperti pesawat ruang angkasa ulang-alik. Siapa pula yang menciptakan istilah itu, sedang 'shuttle' diterjemahkan balik lagi menjadi antar-jemput.

Ditambah bass ngeloncoknya ngelunjak, memang lucu rata kanan kiri ini. Uah, masa paragraf pungkasan ini harus mengenai dunia biasa. Memang mengapa kalau biasa. Mengapa harus selalu luar biasa. Mengapa tidak dalam biasa. Biasa di dalam jangan dibiasakan. Jangan biasa-biasa didalamkan. Aku akan belajar sintas di dunia biasa. Kebiasaanku untuk biasa di luar akan 'ku perdalam. Ini betul-betul seperti aku tidak bisa meninggalkan anak-anakku yang idiil. Apa-apa hanya bisa meninggalkan aku; aku yang kuliah S1 12 tahun. Untunglah cintaku tumbuh tepat di sini.