Sunday, May 24, 2026

Ladang-ladang Beri Jerami Ini Selamanya Memberi


Masihkah terlintas dalam angan, kenangan akan tempat penampungan sementara pengungsi korban rezim, komisi tinggi persatuan bangsa-bangsa untuk pengungsi. Astaga itu sudah dari kira sepuluh tahun yang lalu, sedangkan sudah sepuluh hari goblog ini tidak diperbarui. Pagi sudah demikian larutnya sedang ia bermendung. Udara memang tidak tepat sejuk namun setidaknya tidak merebus mengukus. Akan halnya teringat tempat penampungan itu karena jez kuasa otak berkeletak beroser-oser di telinga kanan dan kiri secara stereo. Suatu teknologi yang masih sekadar impian sampai lima tahun lalu, kini kenyataan sehari-hari waktu berlalu.
Akankah menetes sepatah dua cerita mengenai sepuluh tahun lalu, tidak ingat pun apa penyumpal telinganya. Pada waktu itu mungkin berbagai-bagai. Sempat agak lama, sebelum ke Amsterdam, yang agak mahal, seharga stereo nirkabel sejati saat ini namun masih berkabel, boleh beli di Wellcomm. Penjualnya berkata sampai tidak bunyi sampai putus kabel kami ganti. Namun itu tidak pernah terjadi karena sampai hampir lima tahun terus bunyi dan tidak kunjung putus kabel. Begitulah kisah cerita mengenai penyumpal telinga, mengapa jadi mengenainya siapa tahu juga.

Segala sesuatu ada waktunya. Segala waktu ada sesuatunya. Begitu saja terus tak mengapa. Buat apa kembali ke tempat penampungan sementara itu. Namanya saja sementara. Dalam kesementaraan ini cinta adalah lubang melalui mana keabadian dapat diintip. Jika sampai ada yang mengatakan inti agamanya adalah cinta sedang pikiran, sikap, perkataan, dan perbuatannya justru berbau busuk, kasihan dia. Cinta harum baunya seperti dupa cendana dicampur misik kasturi berkapur barus pula. Cinta manis-manis gurih rasanya seperti susu diberi madu, lembut jua mendayu.

Berbahagialah orang buta yang tidak pernah tahu seperti betapa bentuk kekasihnya. Simetriskah wajahnya, besar membulatkah hidungnya dengan cuping-cuping lebar membelalak lubang-lubangnya, caplangkah telinga-telinganya kuyu pada ujung-ujungnya, merongos gigi-geligi saling tumpuk tak karuan mendower-domblekan bibirnya. Ia tidak tahu dan tidak peduli itu semua. Yang ia tahu suaranya yang lembut penuh kasih, desahnya melenguh menggairahkan, erangannya membangkitkan hasrat merengkuh mendekapnya erat-erat. Bau badan, mulut bau terasi kena memicu birahi.

Telinga-telinga caplang berkibar-kibar atau bahkan terlipat-lipat cuwil gumpil masih sanggup mengumpulkan gelombang suara, mengalirkannya menggetar-getarkan gendang-gendang telinga. Terlebih jika ditingkahi alunan sagita, sedikit atau banyak berlemak, tulang berbalut kulit kisut keriput pun tidak akan terlalu berbeda. Selesai memadu kasih seperti salamander raksasa atau fossa, meraba-raba meja nan serba bersahaja. Dua cangkir kaleng lurik berisi air sekadarnya pelepas dahaga. Dahaga birahi terpuaskan, haus kerongkong dibasahi tirta pawitra sari kehidupan.

Maka ketika mata-mata terbuka mengerjap-ngerjap, membiasakan diri dengan terangnya dunia, ia akan memejam lagi. Bisa dipahami ketika John bersyair: Hidup terasa mudah dengan mata tertutup, salah paham pada apapun yang kau lihat. Cinta terasa benar ketika dibelai pendengarannya, dibelai diraba-raba permukaan kulitnya di lipatan yang mana saja. Meski ada rambut-rambutnya atau gundul belaka sama saja. Belaian itu, merayap sempoyongan meraba-raba, terkena di situnya. Di situ ada cinta, bagai bayi dibelai ibunya, disusui buah dada kanan kirinya.

Meski tak mungkin kembali ke tempat penampungan sementara, semoga di mana pun berada menemui cinta. Karena selama rongga dada dan kepala dipenuhi cinta, di mana pun menyambut cinta. Cinta itu memberi dan memberi. Cinta itu hanya memberi tak minta pengganti, bagai Sang Surya menyinari dunia. Mana ada Sang Surya minta kembali segala cahaya kehidupan yang sudah disambrahkan pada dunia. Yang ada, Sang Surya marah karena dunia manusia tidak tahu berterima kasih, maka diberi banyak-banyak (Jw.: dilulu; Ar.: istidraj) cahayanya sampai panas sekali.

Thursday, May 14, 2026

Semarak Taman Buah-buahanmu Nusantara Semua


Ada jamannya orang 'gak seneng banget kalau 'nulis daging, maunya dagienks. Bahkan sampai jadi tempoe doeloe, padahal 'kan bacanya jadi 'tempu dulu'. Itu kira-kira sejaman dengan tas selempangku merek Esprit warna biru. Itu tasku sepanjang di SMP Islamic Village 1988-1990, seingatku. Aku lupa pakai apa ketika sudah pindah ke SMPN 56. Tapi tas Esprit itu memang membuat pojok-pojok buku menjadi keriting, menjengkelkan 'ku. Beberapa memang disampul plastik, tapi kalau sampai terlipat ya sama saja. Pojok buku harus tetap lurus kaku. Habis plekara!
Mau kronologis? Bisa. Ayo ke Cipinang. Di sanalah aku bertemu dengan selebihnya koleksi Mbak Tiput, majalah-majalah Gadis itu. Sebelumnya, lungsuran album-album perangko telah menemani hari-hariku sejak dari SD sampai SMP itu. Entah mengapa perangko bergambar lukisan Czobel Bela berjudul Mimi itu yang paling menancap dalam ingatan. Majalah Gadis aku tidak suka, karena itu mengenai gadis. Aku tidak pernah benar-benar suka gadis sampai hari ini. Mereka terlalu berbeda dariku yang selalu menginginkan sepucuk pistol semi otomatis dan sebutir granat ini.

Sepanjang menjadi sekretaris lalu ketua OSIS SMP Isvill aku terlalu sibuk memurnikan diri sendiri dan pengawal pribadiku, aku tidak punya waktu memikirkan yang lain. Bahkan sekarang ini jika 'ku paksakan tetap tidak bisa. Jadi memang tidak pernah penting. Lantas apa benar yang mendorongku memutar telepon di Cipinang itu pada suatu petang hari. Untung tidak ada orangnya, atau ada aku sudah lupa. Jelasnya, tersisa padaku hanya kemaluan yang besar, bahkan sampai hari ini. Sama, di 56 pun aku terlalu sibuk berusaha meringankan beban orangtua. Meskipun...

Ya, meski bau terasi ternyata sungguh kuatnya menggoda. Demikian juga donat kampung bertabur gula halus di pinggir kolam renang, demikian juga sekuntum bunga angsoka di tepi comberan kering. Tidak ada yang bisa disalahkan untuk ini semua kecuali aku sendiri, karena bahkan sejak di Kemayoran pun buah-buahan telah menjadi bagian dari khayalanku yang tak berdaya. Untungnya khayalanku banyak. Bayangkan orang yang tidak sanggup berkhayal selain buah-buahan. Pasti ia tidak akan sanggup menyembunyikannya. Uh, aku juga tidak perlu menyembunyikan apapun.

Hei, ini 'kan ceritanya kronologis. Baik. Ayo balik. Akhirnya aku berhasil meringankan beban orangtua. Oleh itu, tiada lain kesibukanku selain itu. Meski aku tidak terlalu paham sampai saat terakhir apa urusannya lari 10 km dengan meringankan beban orangtua. Aku memang tidak pernah terlalu suka membina fisikku. Ya, 'ku akui itu kekuranganku, kesalahanku. Aku bahkan tidak akan membuat pembenaran apapun. Hanya saja, aku memang terlalu suka berpikir-pikir yang tidak-tidak begitu. Berpikir-pikir mengenai berpikir-pikir itu sendiri bahkan. Ya, diriku ini seorang pemikir.

Sepanjang belajar menjadi calon pemimpin bangsa ini nyaris tidak ada buah-buahan mengganggu. Kalau pun ada dua atau empat, semua di luar batas. Tidak ada yang terlalu terkenang dari masa-masa ini dalam hal itu. Seperti biasa aku terlalu sibuk dengan khayalan-khayalanku yang lain. Jika pun pernah ada selintas dua buah-buahan, sama sekali tidak teringat olehku kini. Oh, 'ku rasa sejak lahir aku memang ditakdirkan hidup bersama dengan khayalan-khayalan ini, yang terus saja menjadi khayalan karena memang tidak mungkin pula diwujudkan sekeras apapun usahaku.

Namun aku merasa beruntung sebagai penyuka fanatik buah-buahan, jadi tidak banyak yang sanggup mengalihkan perhatian. Kemampuanku untuk fokus memang sangat baik. 'Ku rasa ini bukan karena aku sangat suka buah-buahan. Namun memang kesukaanku itu membantu fokusku. Dan memang aku orangnya fokus banget. Buah-buahan seranum apapun, berat menggelantung bagaimanapun tidak pernah benar-benar menggangguku. Keributan, kekusutan selalu menggangguku. Buah-buahan tidak pernah. Selain itu aku jadi orang masa-bodohan. Tidak beri koitus mudah bagiku. 

Monday, May 11, 2026

Suatu Mantra Prosaik Boleh 'Ngkritik Karya Sendiri


Jangan asal bangsat. Ada beberapa pilihan selain ini, bangsa dan bangga setidaknya. Namun bagaimana mau berbangga jika tidak berbangsa. Apa yang dapat dibanggakan dari kebangsatan. Yang ada malah blingsatan. Sitipu-tipu berjongkok penuh sampai paha menempel pada betis, bahkan kedua lututnya dipeluk. Ia memonyongkan bibir seperti meminta sehisap Djarum Cokelat atau Gudang Garam Merah. Yugembit menyumpalkan sebatang ke bibir monyongnya. Sitipu-tipu berkepul-kepul lepas tangan, sedang Yugembit telentang menutupi bagian pribadi dengan secarik kain.
Benar-benar secarik. Sitipu-tipu melirik, mencoba mengukur hanya dengan sudut mata. Seratus sentimeter persegi paling banyak. Yugembit, demi lihat mata Sitipu-tipu melirik bagian pribadinya, menempeleng Sitipu-tipu dengan kakinya yang gemuk. Ditempeleng kaki segemuk itu, Sitipu-tipu yang hanya selembar dua baris melayang setidaknya dua tombak masuk comberan. Ketika melayang itu ia sempat menganga melepas rokok dari bibirnya, yang segera dipetik di udara dengan jari-jari kaki Yugembit. Rokok disumpal bibir, Yugembit membetulkan letak kain.

Yugembit adalah mamanya Siti Aisah, atau Yugembit itu nama anaknya, atau itulah panggilan Siti Aisah. Tiada seorang pun mengetahui dengan pasti. Namun orang sering memanggilnya Mama Yugembit. Demikian pula, Sitipu-tipu yang kini tersuruk kepalanya masuk comberan, sering disangka suaminya dan papa Siti Aisah, maka ia pun dipanggil Papa Yugembit. Memang tidak penting apa nama-nama mereka sebenarnya. Jika terlihat papa-papa selembar dua baris, itu mungkin Papa Yugembit. Jika ada mama-mama gemuk serba sentosa, itu mungkin Mama Yugembit.

Siti Aisah, ah, apa harus dikata. Apa arti hahu alaisaisu atau desadesu. Apapun itu, satu kali satu sinyorita. Sinyorita-sinyorita dari Afrika dioles jinggo-jinggo remason berkali-kali sampai mereka ngetril ngacir tak habis pikir. Kali lain ketika mencoba membuat sinyorita-sinyorita ini menggeleng, cukup ditanya saja apa mau jinggo-jinggo remason. Bahkan mungkin tidak perlu sampai ditanya. Cukup dibisiki dari belakang: Jinggo Remason. Kontan sinyorita-sinyorita ini akan menggeleng sambil meringkik lemah, meringkih lemak. Manasuka siaran niaga bagian kedua.

Di titik ini entah mengapa Dian Sastrowa hampir mendatangi (atau datang menghampiri). Telinga-telinga caplangnya berkelepak-kelepak. Ini sama saja dengan Cut Walang Keke yang hidung atau apanya seperti tikus. Memang tikus seperti apa mengendus-endus, kumis misainya dihembus-hembus. Papa Yugembit mencabut kepala celakanya dari dalam comberan demi merasakan kelepakan dan pengendusan. Ia memang seorang perasa. Tak dirasakannya lagi sakit tempelengan Mama Yugembit yang entah istrinya entah bukan itu. Ia hanya ingin kelepakan dan endusan sekarang.

Mama Yugembit setengah acuh seperempat tak-acuh bangkit dari ketelentangannya. Telah dilupakannya secarik kain yang menutupi bagian pribadinya, yang memang seperti bahan tertawaan ketika empal gondrongnya ke mana-mana. Entah dari mana sehelai benang menghiasi ubun-ubunnya, mungkin agar ia tidak cegukan. Kali ini, Mama Yugembit menarik tinggi-tinggi kaki gemuknya ke belakang seperti seorang pegulat sumo. Sampai condong badan tambunnya ke depan, menjejak tanah nangka-nangka belanda. Dia ancang-ancang menendang Papa Yugembit.

Dhiesh! Untunglah hanya selembar dua baris, maka ditendang dengan energi kinetik sebesar itu Papa Yugembit hanya berhahu alaisaisu. Melayang ia melambai-lambai. Siti Aisah melihatnya seperti sedang melambai-lambai kepadanya. Apa pedulinya jika ia suami mamanya atau bukan. Bahkan ia tidak peduli jika Yugembit benar-benar mamanya atau tidak. Siti balas melambai-lambai. Ketika Mama Yugembit mengangkat lengannya, dikira akan melambai juga, ternyata rambut-rambut ketiaknya melambai-lambai. Kali ini Papa Yugembit tidak lagi;nyusruk ke comberan.

Saturday, May 09, 2026

Sekali 'Ku Punya Cinta Rahasia Hidup dalam Hatiku


Aku kucur mungkin tidak, tapi cemen, aleman, jelas iya. Aku suka nduwel di rumah, atau tempat apapun yang terasa rumah olehku, meski itu kamar terkecil di Uilenstede atau sebuah studio ukuran 26 m2 di Kees Broekman atau Kraanspoor. Ini jelas suara-suara Tangerang, mungkin di tuyul atau warung pancong. Jika 7-10 tahun kemudian masih 'ku dengar, mungkin di tempat-tempat mengerikan seperti bis malam, warung remang-remang, atau malah diskodut atau tempat pelacuran sekalian. Aku ingin pulang. Ada waktu-waktunya pulang terasa jauh sekali, bagai Bubba di tepi danau.
Dulu aku suka beres-beres rumah. Ada waktu-waktu dalam seminggu yang tepat untuk membereskan rumah. Lebih dari itu terasa seperti pekerjaan berat. Kalau tiap hari terlalu sering karena biasanya rumahku tidak ada apa-apanya. Debu pun belum terlalu mengumpul. Aku masih ingat rak entah-entah di balik kamar mandinya Mbak Kris, di paviliun itu. Di situ pasti 'ku letakkan buku-buku yang suka 'ku baca. Selebihnya di mana aku lupa, atau memang semuanya di situ. Kaset-kaset selalu berada dalam rak yang ada sejak kapan daku tidak yakin; hanya ingat warnanya biru langit. 

Akhirnya berhasil 'ku copot seujung kuku yang masih tersisa di pojok lipatan kulit jempol kaki kananku. Setelah diplintir, dikorek, diuwik-uwik, dicongkel, copot juga ia. Cocok betul pekerjaan ini diiringi Bahtera Cinta oleh Bang Haji dan Nur Halimah. Uah, nama yang terdengar sederhana, tidak seperti Hree Dharma Shanty yang padahal Hari Dharma Samudera. Teh tarik halia sudah hampir habis. Sebentar lagi 'ku isi ulang mug hitam ini penuh dengan air hangat. 'Ku isi sendiri, tidak perlu minta siapa-siapa dan tidak perlu menunggu, karena 'ku di rumah sendiri. Nyamman, ta'iye.

Akhirnya keedanan dangdutan berakhir sudah, dilanjut cinta adalah sesuatu keindahan yang megah. Nah, ini aku sudah di rumah. Apakah ini ubin abu-abu gelap atau kuning kusam atau mengilat, pokoknya aku di rumah. Gesekan dawai dan kelenting piano lebih akrab denganku daripada ketepak-ketepuk ketipung. Diketuk terbuka berbunyi 'dang', disleding pakai tumit tangan jadi 'dut'. Kenangan mengenai nasi berlauk telur dicabein dan perkedel kentang yang ada serpih-serpih kulit cabenya, disiram kuah agak pedas entahapa, bersama bapak, aduhai'mak manisnya.

Meski emakku 'ku panggil 'mammie' seperti orang-orang kebelanda-belandaan. Itu pun bercanda karena panggilan resminya adalah 'ibu' yang takzim seperti dalam pedalangan wayang begitu. Ibuku cantik bukan buatan, tidak manis seperti Eufrosina emaknya Memin Penguin. Suasananya jadi seperti di rumah peristirahatan pembesar publik maupun partikelir di zaman kolonial dulu, meski tidak pernah pada hari Minggu setelah Perang Dunia Kedua (atau malah Perang Korea?). Sarapanku tidak omelet hari ini, seperti biasa, tetapi bubur ayam 'Sunda' kalau tidak salah.

Sungai bulan, bagiku diriku, tidak identik dengan pelacur kelas atas, tetapi dengan tante Connie yang cantik seperti ibuku. Sungai bulan selalu membelai, membuaiku dengan suara, meski aku tidak ingat kapan terakhir 'ku dibelai dan dibuai oleh ibuku sendiri. Namun begitu cara ibuku membelai dan membuaiku, dengan sungai bulan didendangkan oleh tante Connie. Di situlah hebatnya. Cinta bagiku tidak pernah visual. Ia membelai pendengaran, meresap ke dalam jantung hati, membuatnya berdetak nyaman, sebau dan sekumuh apapun badanku ketika tertentu.

Maka ketika bersama pelacur, sejelek apapun paras wajahnya, karena biasanya jika bersama pelacur maka bercinta kegiatannya, tidak pernah menjadi masalah. Paras wajah dalam bercinta tidak amat penting, meski belakangan raut muka ternyata cukup berperan penting. Namun yang utama tetap suara, karena suara tidak pernah berbohong. Suara selamanya jujur. Awas, bukan kata-kata sok bermakna. Ini tentang suara. Suara juga bisa pura-pura, tapi lama-kelamaan kau akan tahu mana suara pura-pura, mana suara sesungguhnya. Suara cinta seperti dibuai-belai tante Connie... 

Friday, May 08, 2026

Cintaku Terpana di Bibir Merona. Bima Sakti Cisarua


Aku teringat padamu. Aku ingat kamu. Tidak perlu teringat karena setiap hari selalu terlihat. Sejauh mata memandang, ke mana saja pandangan diarahkan bahkan ditebarkan, yang ada hanya engkau. Bukan kau yang terasa nyaman. Mungkin kau memang indah, tapi kenyamanan ini tidak mungkin dihasilkan dari pandangan saja. Ini kenyamanan yang membelai gendang-gendang telinga, menembusi pori-pori seperti udara sejuk pegunungan atau mandi air yang hangat sekali. Ini kenyamanan yang justru dialami ketika memejamkan mata, karena bebunyian 'tu 'ngilhami.
Terkadang aku berkhayal mengenai rasa. Terkadang, dalam khayalku, rasanya manis. Mustahil. Rasanya pasti asin lagi getir. Gurih masih mungkinlah. Ketika bahkan bau pencretan kering dapat tercium seperti terasi atau ikan asin, maka bau adalah tantangan tersendiri. Seperti kentang ketantang, seperti itulah aku menyambut bebauan. Namun ini bebauan yang tentu saja sedap. Sungguh bermacam-macam kini baunya. Tidak seperti dahulu. Terkadang malah bau manis seperti kue. Mungkin itulah sebabnya terasa manis dalam khayal: Bau vanila juga bebumbuan.

Rasa gurih itu tergantung pada makanan terakhirnya. Jika baru memakan permen atau pencuci mulut yang variasinya bisa coklat, kue, atau permen, tentu manis rasanya. Jika habis sikat gigi apalagi berkumur dengan obat rasanya kesat dan kelat, atau tidak ada rasanya sama sekali. Begitu juga dengan nafas dapat tercium gurih atau manis tergantung khayalanmu. Bernafas di mana pun, terutama di telinga dapat membuat telinga menjadi basah kuyup, karena nafasmu menghembuskan juga uap air selain zat asam arang. Terganggu ia, terpaksa berhenti dulu mengucek-ucek telinga.

Astaga, memang sedap bukan buatan suatu malam yang mempesona Arthur Garfunkel. Apakah akan selalu dikaitkan dengan seekor merpati putih dalam bahasa Spanyol, aduh, ini kode kebangetan. Di sini aku tak berdaya, merentangkan tangan, meraihkannya tinggi-tinggi ke awan-awan. Tidak ada niatku menyusul merpati putih atau belang sekalipun. Aku tak peduli ia terbang ke mana atau malah sudah jadi merpati goreng kering dipenyet di atas peperan sambal korek. Ketika aku angkat tinggi-tinggi lengan-lenganku, ketiak-ketiakku putih feminim. Sudah daku duga.

Segelas besar McCafe ukuran 400 ml teh dandang gula sudah hampir habis. Sebentar lagi akan 'ku seduh ulang dengan air yang hangat sekali dari dispenser yang tidak membosankan, karena warnanya hitam. Senyaman-nyamannya malam yang mempesona membuatku enggan beranjak mengangkat pantat, maka 'ku biarkan ia tetap menempel di situ. Apalagi sekarang hidup cuma sekadar mimpi, buruk atau indahnya tidak pernah dapat dikendalikan. Jalani saja impian seperti engkau menjalani hidup. Baik-buruknya suka-dukanya kau 'ndiri yang merasakan, meureun.

Lidah menjalari leher sekujurnya, dari depan, kanan, belakang, kiri kembali ke depan lagi, mengumpulkan garam-garam lebih baik daripada bedak atau apapun itu. Lidahku melata-lata malah engkau yang mendesis-desis. Apa kita semacam penghuni Slytherin atau penutur parseltongue sekalian. Anakonda, titanoboa, bahkan kini ada Vasuki Indica. Tidak perlu gaya-gaya'an. Aku ular kau kadutnya. Aku badut kau ancolnya. Pagut-memagut, gigit-geligit jangan sampai meninggalkan cupangan, karena kita ular bukan ikan aduan. Kloaka-kloaka kita saling bertangkup berpagutan.

Aku hanya punya mata-mata untukmu, Sayang. Kau tahu mata ular 'kan: membius mempesonakan, tidak merah seperti mata Voldemort. Dia sih bukan ular melainkan anak tongkrongan begadang semalaman minum arak campur anggur obat. Kita ini ular-ular sungguh-sungguh. Iwan Fals pasti bukan anak biologi ketika bersyair bapakku harimau ibuku ular. Bagaimana bisa. Ular melata-lata menjalar-jalar selalu kian-kemari jangan dikira tidak punya harkat dan martabat. Ular tidak pernah berbohong apalagi berkhianat. Ular-ular perang selalunya dipasang pada tiang utama.

Friday, May 01, 2026

Madukisma, Madudarma, Maduratna, Maduwanti


Air madu hangat ini terlalu manis, atau karena memang ia bukan air madu. Ia sekadar air hangat bergula berperisa madu dengan sedikit aroma herbal-herbalan. Apapun itu, baiknya diencerkan dengan ditambahi air panas sampai penuh. Coba kita paksakan, kita pasrahkan saja ilustrasi musik sepenuhnya di luar kendali. Sampai sejauh mana dapat bertahan. Sampai sejauh mana ia membangkitkan rasa yang telah hilang: mengharu-birunya kisah cinta serasa menyandera seluruh jiwa raga. Diliputi cinta yang membirahikan, birahi nan mengilhamkan rasa cinta insani dua sejoli.
Cinta memang dua. Lebih dari itu bukan cinta namanya, entah apa. Cinta sepasang seperti siang malam, lelaki dan perempuan, lingga dan yoni. Maka terlelaplah malam pada sekitar tengah-tengahnya sampai pagi bermendung menjelang. Kejantanan mengacung menantang langit tanpa kemalu-maluan. Air wudhu pun belum sanggup meredakannya. Push up beberapa kali baru membuatnya lemas 'ndlesep masuk kembali dalam rongga perutnya. Apatah lagi jika hanya bersarung, sedangkan anak-anak kesekretariatan rapat, perempuan semua. Kejantanan tiada kemaluannya.

Adalah kejantanan juga yang secara tak sengaja melihat rambut-rambut jagungnya, mengintip dari balik kain tipis nan lapuk rantasnya; karena sembarangan duduknya. Dianya menggeleng membantah telah melubangi selaputnya, karena memang secara alami tentu ada lubangnya. Tangannya ditepis ketika gerayangan ke bawah sana, teraba lembab-lembabnya; dikembalikan pada telur ceplok, kenyal di cetakannya. Semua ini terasa muspra ketika mata memandangi langit dunia bertabur gemintang alam semesta. Tangan berlumur lendir a la saujananya katon bagaskara. Entah.

Nyatanya, tubuh manusia tidak hanya terdiri dari torso tetapi juga ada kepala dan anggota-anggota geraknya. Nyatanya, entah di mana terdapat jiwa, terlebih jika mau dikata ruh, bahkan sukma dan atma. Mengapa fokus hanya pada lubang-lubang yang tidak saling terhubung di bawah sana. Ketika mata dua, lubang hidung dua, lubang telinga dua, lubang mulut dan lubang duburnya, lubang-lubang yang menjadi muara atau hulu dari vas deferens dan serviksnya nyata ada. Mata ditutup masih dengar. Lubang hidung ditutupi tinggal menganga. Lubang telinga disumpali tuli.

Mulut disumpal kaus kaki berbulan-bulan tidak dicuci. Dua lubang lagi tidak dikata nanti pornografi. Entah mengapa berbicara kejantanan lebih selesa daripada kewanitaan, salah-salah kekerasan seksual yang terjadi. Bahkan membayangkan kewanitaan sebagai kelembutan bisa disangka bias gender yang melukai hati. Cinta seharusnya biner, seperti dikata di atas tadi. Jika tidak biner entah apa namanya, orang suka merancukan cinta dengan birahi; sedang kini birahi dapat dipicu oleh apapun jua tiada terkecuali. Ada kalanya birahi kepada sisa-sisa tembok Berlin ia meratapi.

Ini kursi apa ngetril begini, bikin bingung bagaimana mau menduduki. Mana mejanya sok cerdik enam bersegi. Terpaksa diganti dari tangga darurat, di mana para tenaga kebersihan sedang mengepung nasi bungkus empat sekali. Kursi ini pun masih agak ngetril, meski tidak separah yang asli punya kelas sini. Ngetril tidak sampai seperti Boneng atau Eli Sugigi, masih di level Kiwil ketika oleh Olga giginya diobati. Dari waktu-waktu yang telah terlampaui, tiada rindu dendam hanya mengenangi. Waktu-waktu ketika ajakan untuk sahur malah dipenuhi tawa-canda sesuka hati.

Menguji hasil penelitian calon-calon notaris, meski tidak sampai terbahak-bahak, hatiku terasa geli. Sudah jelas salah kedaden negeri ini, seperti Kabul mengganti nama sendiri menjadi Tessy. Jangankan negeri, membuat lelah jiwa raga kini dunia ini. Ketika orang-orang mudah dengan rakusnya berebut menelan dunia, tiada satupun, yang seperti Anoman, menelan matahari. Ketika bagaskara baru terbit atau sesaat menjelang tenggelamnya, bulatannya bak buah delima matang berpendar-pendar menyinari seisi dunia ini, setelah serta sebelum gulita malam menggelapi.