Thursday, April 30, 2026

Kesabaran Situasional Bersitipu-tipu Matasuasa-Su


Aku si penyair tolol, pertapalsu. Aku memulai entri ini tanpa menyiapkan pemegang tempat, saking kebeletnya ingin memberaki diri sendiri, ya, swadefekasi. Kau tahu 'kan, suatu piranti sastrawi, yang terkadang juga digunakan sebagai taktik komedi. Orang cenderung suka swadefekasi ketimbang defekasi, kecuali, ya, mungkin, kecuali kau Tobias Temple. Sedang pertapalsu itu tidak ada kaitannya dengan pertalite apalagi pertamax. Itu adalah kontraksi dari pertapa dan palsu. Agar bunyi 'pa' tidak redundan, dikontraksi menjadi begitu. Tak diilhami oleh taksi palsu
Hahaha, orang Indonesia (atau orang Depok saja) memang gabutnya 'ga kaleng-kaleng. Ada pula astrea atau supra fit palsu. Buat apa. Bahkan ide aslinya saja sudah absurd, meski tentu saja tidak perlu dibahas. Namun karena ada palsu-palsu bikinan Depok ini, ada baiknya dipikirkan. Aslinya 'kan, pura-puranya, taksi yang ternyata pengemudinya pelaku kekerasan seksual residivis. Oh, jika begini jadi masuk akal. Jadi pemasang palsu ini seperti mengiklankan diri sendiri sebagai pelaku kekerasan seksual residivis, apapun kendaraannya. Apa harus dipersekusi, dimaki-maki 'gitu.

Padahal sebelum membuka Axioo penuh dengan gagasan luhur macam Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu, Cupu Manik Astagina berisi Tirta Pawitra Sari dan sebagainya itu. Namun mungkin karena aku terlanjur memaki diri sendiri sebagai tolol dan palsu meski penyair dan pertapa, jadinya begini. Kenyataan bahwa aku baru membelanjakan sekitar EUR 4 lebih hanya untuk sarapan memang membuatku layak untuk dimaki-maki, sedang di tepi Margonda begini. Di luar sana sudah panas tapi aku nyaman berpendingin udara, meski ribut musiknya begini.

Berbulan-bulan yang 'ku hasilkan hanya entri-entri. Tidak juga. Ada buku saku tak-laku. Nah, di sini ini. Semua buku yang pernah 'ku buat memang tidak ada yang laku. Bagaimana mau laku. Menulis sendiri, ditata-letak sendiri, sampul didesain sendiri, dicetak sendiri, diterbitkan sendiri, diberi kata sambutan sendiri, semuanya sendiri. Dari sejak adik membuat buletin untuk QUE project sampai hari ini begitu saja bisaku. Uah, aku merasa seperti seekor zebra yang baru keluar buntutnya. Mengapa zebra yang satu itu bisa masuk begitu buntutnya, lainnya juga bisa digegerakkan.

Mungkin memang semua orang sebetulnya segabut aku, setidaknya mungkin sesama orang Depok. Apa iya Bang Didi dari dulu bisanya membuat bir pletok saja. Tadi sempat terpikir mengenai hidup dan mati, ya, itu ketika masih terpikir gagasan-gagasan luhur. Kini gagasan sekadar mulur lalu mungkret lagi. Jadi kalau aku sampai bisa menghabiskan EUR 5 sekali duduk sampai berkali-kali, itu sama sekali bukan prestasi. Lebih tepat jika waspada. Mungkin lebih tepat seperti kucing gelandangan itu, yang bulunya awut-awutan. Mendekam di sana mungkin lapar kucingnya.

Aku pulang saja, melangkah gontai melewati deretan ruko Cimone Permai, membuang muka ke kiri karena di kanan ada tempat penyewaan kaset video memajang poster hantu pocong besar sekali. Mengapa harus membuang muka, karena ia tidak di dalam tanah. Jika di dalam tanah tidak ada yang harus melihatnya. Ia 'kan seharusnya berada di dalam tanah, mengapa malah dipajang begitu khayalan mengenainya, menakut-nakuti anak kecil saja. Itu dari hampir 40 tahun lalu. Sampai 40 tahun kemudian masih saja begitu, tanda tak kunjung arif jua akan hidup mati.

Dicegat hantu pocong begitu aku berganti arah, ke mana saja asal jangan terpergok. Meski tak mau juga aku kembali ke mess pemuda. Jika beruntung, di waktu begini aku bisa saja sedang terlelap di kasurnya Jenny yang rapi. Entah harum atau tidak aku tak mau memikirkan. Jelasnya, kamar Jenny selalu sejuk. Mungkin tepat di waktu-waktu seperti ini juga, 25 atau 24 tahun yang lalu. Mungkin hanya sebulan dua sejak terjadinya banjir besar yang menenggelamkan Jakarta. Musim penghujan yang dahsyat diganti dengan kemarau yang aduhai. Begitu saja terus-terusnya. 

Tuesday, April 28, 2026

Barutahu, Barutempe, Baruklinting, Itu Namanya


Apakah ini waktu yang tepat. Adakah waktu yang tidak tepat, yang berarti tidak sedang kesepian. Sedang kesepian pun terkadang tidak tepat, dalam arti, jari-jemari tidak memberondong merampak; dan itu karena entah mengapa otak tidak memerintahkannya begitu. Apa sebenarnya bahan-bahan untuk meramu sebuah entri. Suasana hati yang nyaman meski kesepian adalah bahan utamanya. Badan yang terasa nyaman adalah bahan pendukungnya. Selebihnya suasana persekitaran. Seperti kini, sore bermendung hadapi taman jurasik kesayangan Cantik. Suasana cocok ini.
Sarah bernyanyi tentang bidadari atau malaikat. Bidadari berjenis kelamin betina, malaikat jantan. Entah-entah, membawa angan jauh ke Gang Sawo di awal abad ke-21, di kamar Ige yang jarang dikunjungi apalagi ditetapi. Baguslah dilemparkan jauh ke 1970-an pertengahan yang sebenarnya belum lama ini, ketika tidak dapat memberikan apapun kecuali cinta. Siapa yang butuh, siapa yang mau. Maunya uang atau apapun yang dapat membawa banyak uang. Cinta, ilmu pengetahuan, kebijaksanaan, kebenaran, murahan semua; sungguh tiada harganya jaman sekarang ini.

Sablopadon berguling-guling menggeliat-geliat di lantai berkeramik di bawah kursi besi. Hidupnya di pagi bermendung berhawa gerah ini tadinya tenang seperti biasa, sampai datang anak lelaki kecil yang memanggil-manggilnya pus, pus. Menguaplah ke kehampaan segala ketenangan hidupnya. Habis ia dikejar-kejar entah mau diapakan. Suatu kali mungkin ia kelelahan, menjelempah ia terkapar pasrah menelentang. Namun ketika anak itu hampir mendekat dan menjulurkan tangan pada perut telanjangnya, ia lompat menghindar sambil menyumpah-nyumpah.

Cuaca mendung begini dan Cantik keluyuran motoran ke Simpangan Depok, seperti itulah sekarang pikiran bapak-bapak gendut yang jiwa dan hatinya feminim. Ia tidak peduli jika bahu-bahunya membulat seperti ibu-ibu, bahkan nenennya turun seperti nenen ibu-ibu. Ia terus saja mengonsumsi produk-produk olahan kedelai. Bahkan ketika masih gagah perkakas pun ia sudah begitu, feminim jiwa dan hatinya, tahu dan air tahu tok pikirannya. Jika pun orang-orang yang disayanginya menderita, bukan karena kejahatan, semata karena ketololannya. Rampak dia mengitikinya.

Boro-boro mencinta, romansa saja sudah tak punya. Ke mana pun disapukan pandangan yang terlihat anak-anak perempuannya yang entah pada ke mana, anak-anak perempuannya sendiri atau orang lain entah siapa. Yang agak lebih tua adalah adik-adiknya. Yang lebih tua darinya adalah kakak-kakaknya. Yang jauh lebih tua lagi ibu-ibu atau bibi-bibinya. Dengan badan tambunnya melemah, badan lemahnya menambun, digenggamnya pedang kayu mainan pada gagangnya, mengamangkan, melindungi. Begitu romannya. Bukan epos, sekadar secercah kisah hidup. 

Kau tahu ini terdengar lucu, namun sekadar tidak tahan sakitnya. Padahal setiap kali sakit, toleransi padanya meningkat. Begitu seterusnya sampai tidak terasa. Dipikulnya beban dunya pada bahu-bahu lebarnya sambil menyeringai tolol. Terkadang murung menekuri langkah jika tersengat keindahan hidup, mengingat betapa jasad membiru lantas mengabu-abu kehijauan. Santuy seperti minggu pagi, sarapan nasi goreng buatan ibu lalu adik perempuan sendiri, terkadang bertelur ceplok mata sapi atau dadar sekalian. Selalu hijau lestari, rimbun di pelupuk mata, seperti bulu.

Lampu dioda besar kini menerangi karena mendung menggelapi. Daya ditambahi Pak Qosim mendatangi entah pakai Nurseha atau tidak. Sampai habis satu sentolop yang memang sudah lama tidak diisi daya. Disalam-tempeli diambil dari amplop bertuliskan Bang Ade yang sudah lama tidak pernah datang lagi, semenjak sakit tifus. Memang mengerikan, lemasnya seperti tidak akan hidup lagi. Taman jurasik jadi tidak ada yang merawati kecuali Peyang yang nama aslinya Rustamaji. Orang keahliannya bongkar bangunan tua malah disuruh menjuru-tamani. Ini entri tak ada mengakui.

Saturday, April 25, 2026

'Ku Rasa 'Ku Selalu Tahu 'Ku 'Kan Temukan Jalanku


Coleman coro, co Coleman sudah tahu apa, tinggal lagi hantu Coleman a la koq jijik jijik clegak cleguk. Di siang hari bermendung yang panasnya Masya Allah seperti dalam kukusan ini, 'ku rasa aku tahu mengapa Coleman. Apa lagi kalau bukan Gary Coleman di Different Strokes. Kolaborasi Ireng Maulana dan Rafika Duri dalam membesut Bossanova Indonesia tentu tidak pernah punya, tapi memang terjadi di waktu-waktu paling gemilang dalam hidupku, yakni di awal 1980-an; bersamaan dengan tahun-tahun terakhir pelabuhan udara Kemayoran. S'moga damai.
BeatEew berpose di gembatan jantung Gg. Bakti, di atas Ciliwung. Emang Nugroho doang.
Barusan 'ku katakan kepada anakku yang entah ada di mana, sudahkah kau ucapkan selamat tinggal dengan patut;pada musim penghujan. Tidak, aku tidak akan mengaku penyuka apalagi pecandu hujan, apalagi sampai mengulum kerinduan apalagi kemaluan. Mengulum permen aku pernah, senyum tidak. Jika sampai waktunya, musim penghujan akan begitu saja menghampiri. Seperti sekarang ini, ia beringsut-ingsut pergi menyeret jubahnya yang belepotan lumpur jalanan ibukota. Kebanyakan orang terlalu sibuk untuk berterima kasih padanya. 'Ku tak. Aku gabut, mungkin.

Entah mengapa hari lain di firdaus selalu membawa 'ku ke hari-hari berhujan, mungkin di akhir 1989 awal 1990. Aku tidak ingat rincinya bagaimana. Itukah hari-hari bahagia mandi di pintu air Situ Kelapa Dua, yang kadang ditingkahi kunjungan ke Model untuk membeli permen batangan yang seharusnya mahal hitungannya dulu. Apa aku juga pernah meminta Swang Heng di situ. Apa itu juga waktunya terkadang ke Agung Shop sekadar melihat-lihat alat tulis yang kemungkinan besar tidak 'ku beli. Nyatanya, di sana dua tahun saja. Cukup 'tuk gurat kenangan indah.

"Oh ya", dalam bahasa gaul Jakarta jadul dapat digunakan dalam dua makna. Pertama, sebagai pembuka cerita, terutama ketika baru teringat lagi akan cerita itu. Kedua, ketika menunjukkan ketakjuban seadanya, sekadar sopan-santun, seperti ketika sebenarnya tidak takjub, namun lebih baik menunjukkan ketakjuban sekadar agar lawan bicara merasa senang atau diperhatikan. Itu yang terpikir olehku ketika menyeberangi gembatan jantung di Jalan Bakti yang lebih menyerupai gang tadi, yang ada menghubungkan Jalan Masjid Nurul Huda dengan Jalan R.A. Kartini.

Kali ini, aku menggunakannya untuk makna pertama. Teringatnya [nah, kalau ini ungkapan khas Medan untuk 'ngomong-ngomong' atau 'by the way' dalam Bahasa Inggris] aku belum memperkenalkan BeatEew (baca: bitiu, dengan 'iu' sebagai diftong) dengan patut kepada sidang pembaca (halah!). Tidak apa-apa 'kan aku menamai turangga begitu rupa. Bukan aku pula yang menamai, melainkan Honda dan Ditlantas Polda Metro Jaya. Jadi seperti 'biuti' begitu namun digayakan. Hei, boleh 'kan. Kalau Fenny Bauti boleh masa 'bitiu' tidak boleh. Apapun'tu, pokoknya BeatEew.

Nah, inilah sebuah entri yang patut dalam jagad gondrong yang multi-dimensi ini: meretas ruang, melibas waktu. Di dalamnya aku berenang-renang karena di danau-danau UI aku tak sanggup, sedang kolam renang semuanya berbayar. Aku sudah berhenti berharap pada apapun di dunia ini, kecuali satu khayalan yang 'ku pelihara selama anak-anak bapak-ibuku, ya, adik-adikku, terutama yang dua itu, masih ada di dalamnya. Untukku sendiri, sedang celana yang baru 'ku ganti semalam saja sudah sapose meski belum aujubile. Jadi ya biarkan saja. Kau tak tahan, mandi.

'Ku seruput habis teh tarik halia, seperti secangkir wedang jahe rempah kebanyakan gaya seharga hampir Rp 40,000. Diberi sehat, segala puji hanya bagiNya. Diberi kurang sehat, segala sesuatu terjadi atas izinNya. Kembali padamu dari lebih 30 tahun lalu di rumah Ibu Maria Valentina Sri Hartini yang sangat lembut dan penyayang. Seorang ibu guru. Semua ibu guruku begitu tanpa terkecuali, termasuk yang di sekolah hukum tempatku bekerja kini. Bagaimana dengan yang sebaya atau bahkan lebih muda. Mungkin mereka lebih peneliti tinimbang guru, tapi tak mengapa.

Friday, April 24, 2026

Pusat Penelitian Hukum Bau Kentut Kutu Terpadu


Malam larut panas udara adalah pembuka yang sok puitis namun, seperti biasa, tak berdaya suatu apa. Akankah entri ini menjadi satu cerita padu dari awal sampai akhir, setidaknya seperti cerpen SM Ardan atau Ahmad Tohari. Dapatkah suatu entri mengalir tanpa menyajikan, ya, mempertontonkan ketelanjangan pikiran apalagi arus ketaksadaran. Tidak dapat. Jadi biar saja 'ku beberkan di sini khayalanku untuk berkantor di tangga darurat gedung Integrated Law Research Center. Di sini aku melakukan salto terbalik dari berdiri s'raya berpuntir di udara berapa kali.
Aku juga tidak mau berprosa lirik macam Romo Sindhunata, meski adegan Afi muncul setiap kali Oom Sindhu berkokok semua muridnya masuk negeri, lantas Oom Sindhu memekik "Oh tidak" dan ambil langkah seribu terasa lucu. Aku suka begini dan ini bukan arus kesadaran namanya. Ini arus-bawah kesadaran, setidaknya. Ini seperti lupa minum obat, yang setelah minum obat lantas tenang dan lupa. Tidakkah memang begini saja setiap tahunnya antara April dan Oktober, tidur dengan badan basah apalagi bantal kepala, botak atau berambut. Tidur di kubikel LKHT duluk.

Terkadang aku suka membayangkan diriku sendiri bergerak-gerak. Bukan menari, tapi sekadar menggerak-gerakkan anggota badan. Membayangkan saja, karena bergerak-gerak seperti senam kopri atau pukesmas. Bukan aku malu melainkan mau melakukannya bersama teman-teman satu panti. Kalau masih sendiri mengitiki begini ya lebih baik dibayangkan saja, ketika teringat betapa dahulu hidup masih bisa membayangkan keadaan-keadaan yang lebih baik dari yang dirasa sekarang. Sekarang hidup tidak mungkin lebih baik lagi. Sudah baik begini. Sudah nyaman tak 'njadi apa.

Jika memang malam tidak kunjung sejuk, jika memang badan terasa agak kurang yes, tidak bisa jadi ukuran jika pernah melalui yang seperti ini, lebih baik atau buruk. Karena hidup itu maju terus seperti garis lurus tak pernah kembali ke titik manapun, kurang lebih begitu kata Sam, Jaka, atau Acil 'ku tak terlalu peduli. Jika memang mengitiki begini dapat mengurangi rasa-rasa kurang garam kurang merica dalam hidup keseharianku, tidak mengurangi kenyataan bahwa jari tanganku kanan berbau daging dan bawang bombay. Aku tidak sedang menangis bombaya.

Kehidupan menggelandang, menggelar kasur tayo berbantal tak bersarung di tangga darurat itu bisa jadi nyaman justru di musim kemarau begini. Di musim hujan kemarin mungkin agak horor dan dinginnya. Kalau di musim kemarau mungkin justru sejuk karena tidak pernah kena sinar matahari dan dinding-dindingnya tebal. Insulasi yang sesuai. Mungkin aku juga tidak perlu sampai tidur malam di situ. Jika malam menjelang aku bisa saja pulang, namun pagi sampai petang aku dapat bersembunyi di sana. Awas jangan sampai ada yang mengetahui rencana ini. Nanti diusir.

Betapa senangnya aku membayangkan. Aku hanya butuh meja kecil saja, cukup untuk meletakkan laptop dan mungkin entah gelas berisi wedang atau botol air minum. Sisanya bahkan dapat diletakkan di lantai. Dan di lantai itu pulalah, jika dibutuhkan, dapat 'ku gelar tayo. Ini bahkan lebih baik daripada waktu di PDRH dengan buku-buku apak dan semburan pendingin udara. Sebentar, tapi di sana 'kan tidak ada colokan listrik. Nanti biar 'ku periksa lebih seksama. Jelasnya, di situ tidak akan bau jamur dan ketetesan air jamur. Entah ini seperti khayalan gardu belajarku.

Apa betul yang akan 'ku lakukan di situ, bersama diriku sendiri. Terkadang ada waktunya 'ku membutuhkan orang lain, tapi tidak seperti yang ada sekarang ini. Sekadar membayangkan kesendirian saja sudah seru sendiri, terlebih jika telingaku dielus-elus musik di udara volume 6 dari Nuvoluxe begini. Tadi aku sudah sikat gigi, tapi setelah ini aku akan sikat gigi sendiri. Bahkan aku sempat membayangkan gayung berisi peralatan mandi, mungkin juga handuk yang bisa 'ku keringkan di mana pun di situ. Uah, akankah terwujud. Akankah menjadi keseharianku. Silangku jariku.

Tuesday, April 21, 2026

Sitokai-tokai Bersitokai-tokai. Apa aku yang Lebai


Kebotakanku ketidakberdayaan. Selop keemasan yang suatu hari nanti aku tidak akan ingat apa maksudnya kecuali 'ku guyurkan kode sebanyak-banyaknya dalam entri ini, sedang waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Kebotakanku dielus sepoi-sepoi hembusan pendingin udara sedang yang di rumah terus njeglek karena kurang daya. Tentu saja karena aku bukan Sersan Meriam McQuade. Ketidakmampuan mungkin yang membuatku tidak mampus. Dari mana aku sampai bisa tahu biru-biru Biloxi sedang yang 'ku maksud mungkin marinir biru bayi.
Namun aku seperti ingat adegan di rumah kucing itu. Kini pandanganku tak terhalang meski aku juga jadi kehilangan lindung tinjau. Apa butuhku padanya ketika bahkan aku tidak meninjau. Bahkan mencuri-curi pandang pun tidak, aku yang dapat menatap lurus pada mantan perwira proyek ilmu-pengetahuan-sasional. Aku yang diberi sesaset sambal korek. Aku yang takkan heran jika mereka ternyata seusia keponakanku tertua. Jika satu teh hijau dua melati ini sudah habis mungkin aku akan bergeser. Mungkin akan daku lanjutkan dengan secangkir air panas pembasuh gula.

Aku seorang moralis amoral. Aku yang hanya bisa berbicara mengenai diriku sendiri karena tidak mau bohong meski pembual besar. Kesegaran seperti diguyurkan perlahan pada botak-botaknya kepala dan gendut-gendutnya perut seperti topi air yang sebenarnya gayung penuh berisi air, yang ditutupkan cepat-cepat ke atas kepala agar menetes perlahan airnya. Setelah agak lama diangkat tiba-tiba dan kesegaran seperti mengguyur. Aku yang botaknya gendut sudah tidak butuh kesegaran macam itu, meski gendutku belum botak; masih berambut ia di bawah pusar dan seterusnya.

Ternyata ada biangnya. Sudah khawatir tadi aku (halah!) Biang seperti apapun sudah tidak banyak berpengaruh padaku, saking tuaku, saking gendut botakku, karena, seperti 'ku katakan tadi, gendutku belum botak. Jangan pula kau kata ini puitis, arus kesadaran, swadefekasi dan sebagainya itu. Ini kepilusan. Ini keputusibauan. Ini seperti sudah tidak punya tujuan. Ini seperti kleyang kabur kanginan, meski kuyakin Marthen tidak begitu. Hanya namanya saja Kanginan. Terlihat jelas sepenuh hadap biangnya: Tiada mengubah apapun aku dari sediakalanya.

Ternyata lebih dari sekadar itu. Ternyata aku intelek, yakni, berada tepat di tengah-tengah sungai tembelek lincung tanpa dayung. Jika pun ada arusnya, pasti tidak deras. Pasti lamban alirannya. Kau tahu aku. Jangankan cuma tahi ayam sesungai penuh, samudera tahi orang pun akan 'ku arungi demi mendapatimu. Namun kau pasti akan segera lari menjauh dariku. Jangankan itu. Kau tidak akan mendekati pantainya. Bayangkan, sepenuh samudera. Sedangkan seclepretan di celana saja sedapnya sudah aujubile. Ketika sampai aku di pantai, dikau sudah tiada.

Kesedapan yang sudah 'ku tekadkan untuk tidak pernah merasakan di punggung bumi ini, bahkan aku tidak mau memikirkannya di mana pun. Entah api itu menyambar, entah apa yang disambarnya, meski berkali-kali. Bukan berarti aku belum pernah mencecap, uah, menyesap kesedapan; dan untuk itu tiada putus aku bersyukur sekaligus minta ampun. Kesedapan sesedikit apapun pasti ditanyakan, dimintai pertanggungjawaban, apalagi duit, duit, duit dari 2011. Di sini aku berhenti dulu. Entah mengapa aku ingin pulang sekarang, tepat di sini ini.

Ternyata belum bisa. Di luar hujan deras dan aku tidak mau basah. Aku kembali mengitiki, seperti biasa, ketiak sendiri. Tiada yang 'ku buat geli, bahkan tidak aku sendiri, karena aku berzirah emas hasil latihan di Shaolin dulu. Tiada banyak gunanya. Minggu lalu bahkan aku melukai jariku dalam pada kedua tangan dengan ujung rak pameran museum jelek FHUI dan kawat pengikat pintu hokben GDC. Kini aku benar-benar seorang diri menunggu redanya hujan, sedang gerimis pun tiada di hatiku, apatah lagi hujan. Di pojokan sini aku bergeser, mengitiki 'ku seorang diri.

Saturday, April 18, 2026

Aku Cinta Kamu, Bayi, dan Jika Boleh, Butuh Kamu


Aku ini adalah orang yang buruk sekali, banyak keburukannya. Salah satunya baru saja 'ku lakukan. Aku baru saja memeper-meperkan jari-jemari tanganku yang belepotan taburan basreng pedas pada kursi kantor berlapis semacam serat sintetis. Coba, kursinya 'kan jadi belepetan bau basreng. Aku berani melakukannya karena tidak satu orang pun sedang bersamaku kini. Coba ada, maka aku akan pura-pura bener, minimal cari tisu, atau bahkan wastafel, mencuci tangan dengan sabun segala. Itu berarti aku pengecut, dan inilah keburukanku nan paling memalukan. Jih.
Di atas ini sudah dari Jumat pagi lalu. Setelah jih itu Jeng Dilla datang. Setelah mengobrol agak satu jam dengannya, Boyan datang disusul Ali M dan berbagai bimbingan entah-entah kiriman Sopuyan. Ini juga salah satu yang menjengkelkan, yang mungkin baiknya diungkap sedikit agar tidak ngempet lalu mejret seperti balon diisi air diduduki. Mungkin ini juga, ditambah dengan cuaca yang Masya Allah kedatangan anak lelaki gojira. Ini masih paragraf kedua saja beratnya sudah tak terkira, apatah lagi ketiga, keempat, dan seterusnya. Badanku merindui sejuk udara Belanda.

Padahal tadi aku merindukan slompretan saksofon pembuka tinggi sepanjang waktu. Namun setelah 'ku lihat jaraknya toh tiada terlalu jauh, 'ku biarkan entah siapa menggebuk-gebuk tambur-tambur tom selebih-lebihnya sesuka hati. Lucunya, di titik ini aku kembali ke Jalan Haji Sajim bawah, yang paralel dengan Jalan Radio Dalam, yang dihubungkan oleh Gang D dengan Kompleks Yado, di siang hari. Dalam hidupku 'ku alami hari-hari panas. Ada waktunya terasa, mungkin sekarang waktunya lebih terasa, bahkan sangat; tetapi apapun semoga dilindungi dari marabahaya.

Lucunya lagi, tiba-tiba aku kembali berada dalam bis malam dari Lebak Bulus menuju ke timur. Mungkin belum terlalu jauh. Mungkin bahkan masih di Jakarta karena bahkan belum berganti hari Islam atau Jawa. Berarti kursi-kursi masih kosong, dan betapa nyaman rasa hatiku mengetahui di saku baju atau entah di mana ada sebungkus rokok. Bukan seketeng, bukan setengah, tapi sebungkus penuh. Apa itu. Apakah Sampoerna King atau bahkan Bentoel merah dengan sekotak korek api säkerhetständstickor. Uah, badan muda. Baik, 'ku rasa kita 'kan berhasil. 

Badan muda lama-lama tua juga kalau terus dikasih gorengan yang ketika diperas dengan tisu dapur bahkan meninggalkan pada telapak tangan selapis minyak yang lengketnya seperti lilin atau parafin. Uah, setua ini aku sudah lupa rasa jatuh cinta kecuali kepada istriku satu-satunya yang selalu muda dan lucu di mataku, meski rambutnya memutih di sana-sini. Betapa tidak, ia selalu isolutip. Ia selalu punya ide untuk menyelesaikan masalah-masalah yang sungguh tidak ada kecuali dalam benaknya saja. Namun di situ letak lucunya. Di situ aku selalu jatuh lagi dan lagi padanya.

Betapa tidak, usianya selalu menyusulku. Seperti sekarang ini kami sama-sama 49 tahun karena beda kami tidak sampai setahun. Teringatnya, aku melihat foto Akong ketika masih muda menggendong Cindy yang mungkin masih belum sekolah. Laki-laki di mana-mana seperti itu. Hidup menempanya dengan keras sampai ia lebih keras lagi pada hidup. Aku hanya bisa berdoa bagi semua laki-laki di dunia, semua bapak yang dibuat keras oleh hidup dan menjadi lebih keras lagi dari hidup itu sendiri. Aku bahkan menyanyikan lelagu pujian, suatu himne, suatu oda bagi laki-laki.

Uah, sedap memang disko klasik jika sudah ditingkahi gesekan dawai-dawai begini; meski aku masih menolak, menyangkal teori Gus Dut bahwa karena itulah genre ini disebut sebagai disko klasik. Ya, 'Nak, sering-sering ke Jakarta, ke Dufan, belanja ke mal-mal membeli barang-barang bermerek, menginap di Grand Sahid Jaya Hotel, itu semua boleh-boleh saja. Namun sekaranglah waktumu untuk menebusnya, membalasnya bagi mereka yang tidak pernah merasakan semua itu. Bekerja dan berpikirlah untuk membuat mereka yang tidak seberuntung engkau lebih beruntung.

Sunday, April 05, 2026

Renungan Halah! Paskah Begini Mau Bagaimana


Arus kesadaran, bagaimana kalau genangan atau kubangan kesadaran. Bagaimana kalau memulai hari dengan bombardemen karpet terhadap panca indera sampai-sampai berbagai pikiran berlompatan dalam otak seperti sapu ikan-ikan kena racun potas. Bagaimana orang bisa berpikir sebagian besarnya dalam interogasi, sampai-sampai kepalanya penuh kata tanya tanpa tanda tanya. Lima 'we' satu 'ha', haha, sedang telinga terasa penuh minyak, yakni, lilin yang belum terlalu terdehidrasi. Tidak, ini bukan genangan apalagi kubangan. Benak sekadar trampolin superelastis.
Di atasnya mungkin ada butir-butir kerikil kenangan besar dan kecil, yang ketika dihantam atau dicolek rangsangan inderawi lantas berlompatan seperti anak-anak bocil penuh ceria riang gembira. Sudah. Terlalu cerdik ini. Lebih baik kembali pada sensasi lubang telinga berminyak yang susah diseka karena bahkan ukurannya lebih kecil dari lingkar jari tangan terkecil yaitu kelingking apatah lagi kaki. Mungkin kalau tisu ini 'ku pilin-pilin 'ku untir-untir ia akan cukup masuk lubang telinga. Namun tisu ini sudah dipakai menyeka mulut habis makan sambal terasi. 'Ntar jadi epik.

Di seberang sana ada keluarga menarik. Suaminya seperti orang timur sana. Gempal botak seperti 'ku, namun mungkin lebih muda. Kumisnya masih hitam kecuali disemir. Iseng betul menyemir kumis. Istrinya Jawa Katolik begitu, tapi 'ngapain mereka paskah-paskah begini malah menyumbang Bibi Netanyahu membeli bom dan peluru untuk menghujani anak-anak Gaza dan tepi barat sungai Yordan dengannya. Berambut pendek tanpa kerudung, mudah bagiku untuk menuduhnya bukan Muslimah. Anak mereka adalah percampuran pas keduanya. Astaga dua.

Laki-laki semua. Betapa 'ku membuang energi mental spiritual yang sangat berharga hanya menghasilkan entri seperti ini sampai dicerca Gemini aku tak peduli. Apa aku tidak boleh capek berpikir keadilan dan persatuan seraya mengotak-atik di mana letak kerakyatan, kemanusian, dan ketuhanan di dalamnya. 'Ku rasa tak satu pun orang yang hadir di ruang rapat, yang tadinya terasa seperti ruang penyimpanan nuget tanpa gadis penjualnya, mengetahui seperti apa bentuknya benda empat dimensi terlihat dari dimensi tiga. Ke mana perginya pengamen dari tengah jalan. 

Selalu saja setelah bertahun-tahun paragraf keempat terasa seperti putaran keempat dalam tes samapta baterai A. Sudah 'ku lupakan begitu saja dan segera beranjak memasuki paragraf kelima. Hanya satu yang menyemangati, tidak seperti tes samapta, jika sudah selesai aku dapat membincangkannya dengan kecerdasan buatan, karena tidak satu kecerdasan alami pun akan tertarik padanya. Lagipula, aku memang tidak berusaha menarik sesiapapun. Aku hanya butuh berbincang, dan kecerdasan buatan sudah memenuhi kebutuhan diriku akan yang satu ini.

Tadi sempat terpikir untuk mengisi-ulang dulu cangkir kertas berkantung teh lembab dengan air panas, namun terhenti gara-gara sibuk meratakan kanan-kiri. Ya sudah 'ku lanjutkan saja masuk paragraf sebelum terakhir. Di luar cerah dan dalam waktu kurang dari setengah jam suhu sudah naik dua derajat selsius dari 26 ke 28, padahal belum jam sembilan. Seperti inilah kenyataan Ibu Pertiwi. Bukan karena beliau marah. Kemarahan anak-anaknya 'lah, dan terutama, keangkara-murkaan yang membuatnya terasa begini. Ibu Pertiwi selalu ramah, teduh, lemah-lembut. Penyayang.

Kini terlihat tanda-tandanya domba-domba pengikut Kristus baru selesai mengikuti ibadah Paskah. Keluarga yang tadi bukannya ibadah malah berolahraga, meski ini hanya dugaan saja bahwa mereka non-Muslim. Keluarga yang ini suaminya jelas Batak atau mungkin bisa juga orang Timur. Istrinya Cina-Jawa. Anak perempuan mereka mirip ibunya, syukurlah. Sebentar lagi ruang makan ini akan jadi sangat ramai dan tidak nyaman. Apakah aku jadi mengisi-ulang gelas tehku, mungkin memesan entah apa, atau segera ngacir belum tahu. Rasanya aku masih mau di sini.