Aku kucur mungkin tidak, tapi cemen, aleman, jelas iya. Aku suka nduwel di rumah, atau tempat apapun yang terasa rumah olehku, meski itu kamar terkecil di Uilenstede atau sebuah studio ukuran 26 m2 di Kees Broekman atau Kraanspoor. Ini jelas suara-suara Tangerang, mungkin di tuyul atau warung pancong. Jika 7-10 tahun kemudian masih 'ku dengar, mungkin di tempat-tempat mengerikan seperti bis malam, warung remang-remang, atau malah diskodut atau tempat pelacuran sekalian. Aku ingin pulang. Ada waktu-waktunya pulang terasa jauh sekali, bagai Bubba di tepi danau.
Dulu aku suka beres-beres rumah. Ada waktu-waktu dalam seminggu yang tepat untuk membereskan rumah. Lebih dari itu terasa seperti pekerjaan berat. Kalau tiap hari terlalu sering karena biasanya rumahku tidak ada apa-apanya. Debu pun belum terlalu mengumpul. Aku masih ingat rak entah-entah di balik kamar mandinya Mbak Kris, di paviliun itu. Di situ pasti 'ku letakkan buku-buku yang suka 'ku baca. Selebihnya di mana aku lupa, atau memang semuanya di situ. Kaset-kaset selalu berada dalam rak yang ada sejak kapan daku tidak yakin; hanya ingat warnanya biru langit.
Akhirnya berhasil 'ku copot seujung kuku yang masih tersisa di pojok lipatan kulit jempol kaki kananku. Setelah diplintir, dikorek, diuwik-uwik, dicongkel, copot juga ia. Cocok betul pekerjaan ini diiringi Bahtera Cinta oleh Bang Haji dan Nur Halimah. Uah, nama yang terdengar sederhana, tidak seperti Hree Dharma Shanty yang padahal Hari Dharma Samudera. Teh tarik halia sudah hampir habis. Sebentar lagi 'ku isi ulang mug hitam ini penuh dengan air hangat. 'Ku isi sendiri, tidak perlu minta siapa-siapa dan tidak perlu menunggu, karena 'ku di rumah sendiri. Nyamman, ta'iye.
Akhirnya keedanan dangdutan berakhir sudah, dilanjut cinta adalah sesuatu keindahan yang megah. Nah, ini aku sudah di rumah. Apakah ini ubin abu-abu gelap atau kuning kusam atau mengilat, pokoknya aku di rumah. Gesekan dawai dan kelenting piano lebih akrab denganku daripada ketepak-ketepuk ketipung. Diketuk terbuka berbunyi 'dang', disleding pakai tumit tangan jadi 'dut'. Kenangan mengenai nasi berlauk telur dicabein dan perkedel kentang yang ada serpih-serpih kulit cabenya, disiram kuah agak pedas entahapa, bersama bapak, aduhai'mak manisnya.
Meski emakku 'ku panggil 'mammie' seperti orang-orang kebelanda-belandaan. Itu pun bercanda karena panggilan resminya adalah 'ibu' yang takzim seperti dalam pedalangan wayang begitu. Ibuku cantik bukan buatan, tidak manis seperti Eufrosina emaknya Memin Penguin. Suasananya jadi seperti di rumah peristirahatan pembesar publik maupun partikelir di zaman kolonial dulu, meski tidak pernah pada hari Minggu setelah Perang Dunia Kedua (atau malah Perang Korea?). Sarapanku tidak omelet hari ini, seperti biasa, tetapi bubur ayam 'Sunda' kalau tidak salah.
Sungai bulan, bagiku diriku, tidak identik dengan pelacur kelas atas, tetapi dengan tante Connie yang cantik seperti ibuku. Sungai bulan selalu membelai, membuaiku dengan suara, meski aku tidak ingat kapan terakhir 'ku dibelai dan dibuai oleh ibuku sendiri. Namun begitu cara ibuku membelai dan membuaiku, dengan sungai bulan didendangkan oleh tante Connie. Di situlah hebatnya. Cinta bagiku tidak pernah visual. Ia membelai pendengaran, meresap ke dalam jantung hati, membuatnya berdetak nyaman, sebau dan sekumuh apapun badanku pada ketika-ketika tertentu.
Maka ketika bersama pelacur, sejelek apapun paras wajahnya, karena biasanya jika bersama pelacur maka bercinta kegiatannya, tidak pernah menjadi masalah. Paras wajah dalam bercinta tidak amat penting, meski belakangan raut muka ternyata cukup berperan penting. Namun yang utama tetap suara, karena suara tidak pernah berbohong. Suara selamanya jujur. Awas, bukan kata-kata sok bermakna. Ini tentang suara. Suara juga bisa pura-pura, tapi lama-kelamaan kau akan tahu mana suara pura-pura, mana suara sesungguhnya. Suara cinta seperti dibuai-belai tante Connie...
Dulu aku suka beres-beres rumah. Ada waktu-waktu dalam seminggu yang tepat untuk membereskan rumah. Lebih dari itu terasa seperti pekerjaan berat. Kalau tiap hari terlalu sering karena biasanya rumahku tidak ada apa-apanya. Debu pun belum terlalu mengumpul. Aku masih ingat rak entah-entah di balik kamar mandinya Mbak Kris, di paviliun itu. Di situ pasti 'ku letakkan buku-buku yang suka 'ku baca. Selebihnya di mana aku lupa, atau memang semuanya di situ. Kaset-kaset selalu berada dalam rak yang ada sejak kapan daku tidak yakin; hanya ingat warnanya biru langit.
Akhirnya berhasil 'ku copot seujung kuku yang masih tersisa di pojok lipatan kulit jempol kaki kananku. Setelah diplintir, dikorek, diuwik-uwik, dicongkel, copot juga ia. Cocok betul pekerjaan ini diiringi Bahtera Cinta oleh Bang Haji dan Nur Halimah. Uah, nama yang terdengar sederhana, tidak seperti Hree Dharma Shanty yang padahal Hari Dharma Samudera. Teh tarik halia sudah hampir habis. Sebentar lagi 'ku isi ulang mug hitam ini penuh dengan air hangat. 'Ku isi sendiri, tidak perlu minta siapa-siapa dan tidak perlu menunggu, karena 'ku di rumah sendiri. Nyamman, ta'iye.
Akhirnya keedanan dangdutan berakhir sudah, dilanjut cinta adalah sesuatu keindahan yang megah. Nah, ini aku sudah di rumah. Apakah ini ubin abu-abu gelap atau kuning kusam atau mengilat, pokoknya aku di rumah. Gesekan dawai dan kelenting piano lebih akrab denganku daripada ketepak-ketepuk ketipung. Diketuk terbuka berbunyi 'dang', disleding pakai tumit tangan jadi 'dut'. Kenangan mengenai nasi berlauk telur dicabein dan perkedel kentang yang ada serpih-serpih kulit cabenya, disiram kuah agak pedas entahapa, bersama bapak, aduhai'mak manisnya.
Meski emakku 'ku panggil 'mammie' seperti orang-orang kebelanda-belandaan. Itu pun bercanda karena panggilan resminya adalah 'ibu' yang takzim seperti dalam pedalangan wayang begitu. Ibuku cantik bukan buatan, tidak manis seperti Eufrosina emaknya Memin Penguin. Suasananya jadi seperti di rumah peristirahatan pembesar publik maupun partikelir di zaman kolonial dulu, meski tidak pernah pada hari Minggu setelah Perang Dunia Kedua (atau malah Perang Korea?). Sarapanku tidak omelet hari ini, seperti biasa, tetapi bubur ayam 'Sunda' kalau tidak salah.
Sungai bulan, bagiku diriku, tidak identik dengan pelacur kelas atas, tetapi dengan tante Connie yang cantik seperti ibuku. Sungai bulan selalu membelai, membuaiku dengan suara, meski aku tidak ingat kapan terakhir 'ku dibelai dan dibuai oleh ibuku sendiri. Namun begitu cara ibuku membelai dan membuaiku, dengan sungai bulan didendangkan oleh tante Connie. Di situlah hebatnya. Cinta bagiku tidak pernah visual. Ia membelai pendengaran, meresap ke dalam jantung hati, membuatnya berdetak nyaman, sebau dan sekumuh apapun badanku pada ketika-ketika tertentu.
Maka ketika bersama pelacur, sejelek apapun paras wajahnya, karena biasanya jika bersama pelacur maka bercinta kegiatannya, tidak pernah menjadi masalah. Paras wajah dalam bercinta tidak amat penting, meski belakangan raut muka ternyata cukup berperan penting. Namun yang utama tetap suara, karena suara tidak pernah berbohong. Suara selamanya jujur. Awas, bukan kata-kata sok bermakna. Ini tentang suara. Suara juga bisa pura-pura, tapi lama-kelamaan kau akan tahu mana suara pura-pura, mana suara sesungguhnya. Suara cinta seperti dibuai-belai tante Connie...





















