Aku ini adalah orang yang buruk sekali, banyak keburukannya. Salah satunya baru saja 'ku lakukan. Aku baru saja memeper-meperkan jari-jemari tanganku yang belepotan taburan basreng pedas pada kursi kantor berlapis semacam serat sintetis. Coba, kursinya 'kan jadi belepetan bau basreng. Aku berani melakukannya karena tidak satu orang pun sedang bersamaku kini. Coba ada, maka aku akan pura-pura bener, minimal cari tisu, atau bahkan wastafel, mencuci tangan dengan sabun segala. Itu berarti aku pengecut, dan inilah keburukanku nan paling memalukan. Jih.
Di atas ini sudah dari Jumat pagi lalu. Setelah jih itu Jeng Dilla datang. Setelah mengobrol agak satu jam dengannya, Boyan datang disusul Ali M dan berbagai bimbingan entah-entah kiriman Sopuyan. Ini juga salah satu yang menjengkelkan, yang mungkin baiknya diungkap sedikit agar tidak ngempet lalu mejret seperti balon diisi air diduduki. Mungkin ini juga, ditambah dengan cuaca yang Masya Allah kedatangan anak lelaki gojira. Ini masih paragraf kedua saja beratnya sudah tak terkira, apatah lagi ketiga, keempat, dan seterusnya. Badanku merindui sejuk udara Belanda.
Padahal tadi aku merindukan slompretan saksofon pembuka tinggi sepanjang waktu. Namun setelah 'ku lihat jaraknya toh tiada terlalu jauh, 'ku biarkan entah siapa menggebuk-gebuk tambur-tambur tom selebih-lebihnya sesuka hati. Lucunya, di titik ini aku kembali ke Jalan Haji Sajim bawah, yang paralel dengan Jalan Radio Dalam, yang dihubungkan oleh Gang D dengan Kompleks Yado, di siang hari. Dalam hidupku 'ku alami hari-hari panas. Ada waktunya terasa, mungkin sekarang waktunya lebih terasa, bahkan sangat; tetapi apapun semoga dilindungi dari marabahaya.
Lucunya lagi, tiba-tiba aku kembali berada dalam bis malam dari Lebak Bulus menuju ke timur. Mungkin belum terlalu jauh. Mungkin bahkan masih di Jakarta karena bahkan belum berganti hari Islam atau Jawa. Berarti kursi-kursi masih kosong, dan betapa nyaman rasa hatiku mengetahui di saku baju atau entah di mana ada sebungkus rokok. Bukan seketeng, bukan setengah, tapi sebungkus penuh. Apa itu. Apakah Sampoerna King atau bahkan Bentoel merah dengan sekotak korek api säkerhetständstickor. Uah, badan muda. Baik, 'ku rasa kita 'kan berhasil.
Badan muda lama-lama tua juga kalau terus dikasih gorengan yang ketika diperas dengan tisu dapur bahkan meninggalkan pada telapak tangan selapis minyak yang lengketnya seperti lilin atau parafin. Uah, setua ini aku sudah lupa rasa jatuh cinta kecuali kepada istriku satu-satunya yang selalu muda dan lucu di mataku, meski rambutnya memutih di sana-sini. Betapa tidak, ia selalu isolutip. Ia selalu punya ide untuk menyelesaikan masalah-masalah yang sungguh tidak ada kecuali dalam benaknya saja. Namun di situ letak lucunya. Di situ aku selalu jatuh lagi dan lagi padanya.
Betapa tidak, usianya selalu menyusulku. Seperti sekarang ini kami sama-sama 49 tahun karena beda kami tidak sampai setahun. Teringatnya, aku melihat foto Akong ketika masih muda menggendong Cindy yang mungkin masih belum sekolah. Laki-laki di mana-mana seperti itu. Hidup menempanya dengan keras sampai ia lebih keras lagi pada hidup. Aku hanya bisa berdoa bagi semua laki-laki di dunia, semua bapak yang dibuat keras oleh hidup dan menjadi lebih keras lagi dari hidup itu sendiri. Aku bahkan menyanyikan lelagu pujian, suatu himne, suatu oda bagi laki-laki.
Uah, sedap memang disko klasik jika sudah ditingkahi gesekan dawai-dawai begini; meski aku masih menolak, menyangkal teori Gus Dut bahwa karena itulah genre ini disebut sebagai disko klasik. Ya, 'Nak, sering-sering ke Jakarta, ke Dufan, belanja ke mal-mal membeli barang-barang bermerek, menginap di Grand Sahid Jaya Hotel, itu semua boleh-boleh saja. Namun sekaranglah waktumu untuk menebusnya, membalasnya bagi mereka yang tidak pernah merasakan semua itu. Bekerja dan berpikirlah untuk membuat mereka yang tidak seberuntung engkau lebih beruntung.
Di atas ini sudah dari Jumat pagi lalu. Setelah jih itu Jeng Dilla datang. Setelah mengobrol agak satu jam dengannya, Boyan datang disusul Ali M dan berbagai bimbingan entah-entah kiriman Sopuyan. Ini juga salah satu yang menjengkelkan, yang mungkin baiknya diungkap sedikit agar tidak ngempet lalu mejret seperti balon diisi air diduduki. Mungkin ini juga, ditambah dengan cuaca yang Masya Allah kedatangan anak lelaki gojira. Ini masih paragraf kedua saja beratnya sudah tak terkira, apatah lagi ketiga, keempat, dan seterusnya. Badanku merindui sejuk udara Belanda.
Padahal tadi aku merindukan slompretan saksofon pembuka tinggi sepanjang waktu. Namun setelah 'ku lihat jaraknya toh tiada terlalu jauh, 'ku biarkan entah siapa menggebuk-gebuk tambur-tambur tom selebih-lebihnya sesuka hati. Lucunya, di titik ini aku kembali ke Jalan Haji Sajim bawah, yang paralel dengan Jalan Radio Dalam, yang dihubungkan oleh Gang D dengan Kompleks Yado, di siang hari. Dalam hidupku 'ku alami hari-hari panas. Ada waktunya terasa, mungkin sekarang waktunya lebih terasa, bahkan sangat; tetapi apapun semoga dilindungi dari marabahaya.
Lucunya lagi, tiba-tiba aku kembali berada dalam bis malam dari Lebak Bulus menuju ke timur. Mungkin belum terlalu jauh. Mungkin bahkan masih di Jakarta karena bahkan belum berganti hari Islam atau Jawa. Berarti kursi-kursi masih kosong, dan betapa nyaman rasa hatiku mengetahui di saku baju atau entah di mana ada sebungkus rokok. Bukan seketeng, bukan setengah, tapi sebungkus penuh. Apa itu. Apakah Sampoerna King atau bahkan Bentoel merah dengan sekotak korek api säkerhetständstickor. Uah, badan muda. Baik, 'ku rasa kita 'kan berhasil.
Badan muda lama-lama tua juga kalau terus dikasih gorengan yang ketika diperas dengan tisu dapur bahkan meninggalkan pada telapak tangan selapis minyak yang lengketnya seperti lilin atau parafin. Uah, setua ini aku sudah lupa rasa jatuh cinta kecuali kepada istriku satu-satunya yang selalu muda dan lucu di mataku, meski rambutnya memutih di sana-sini. Betapa tidak, ia selalu isolutip. Ia selalu punya ide untuk menyelesaikan masalah-masalah yang sungguh tidak ada kecuali dalam benaknya saja. Namun di situ letak lucunya. Di situ aku selalu jatuh lagi dan lagi padanya.
Betapa tidak, usianya selalu menyusulku. Seperti sekarang ini kami sama-sama 49 tahun karena beda kami tidak sampai setahun. Teringatnya, aku melihat foto Akong ketika masih muda menggendong Cindy yang mungkin masih belum sekolah. Laki-laki di mana-mana seperti itu. Hidup menempanya dengan keras sampai ia lebih keras lagi pada hidup. Aku hanya bisa berdoa bagi semua laki-laki di dunia, semua bapak yang dibuat keras oleh hidup dan menjadi lebih keras lagi dari hidup itu sendiri. Aku bahkan menyanyikan lelagu pujian, suatu himne, suatu oda bagi laki-laki.
Uah, sedap memang disko klasik jika sudah ditingkahi gesekan dawai-dawai begini; meski aku masih menolak, menyangkal teori Gus Dut bahwa karena itulah genre ini disebut sebagai disko klasik. Ya, 'Nak, sering-sering ke Jakarta, ke Dufan, belanja ke mal-mal membeli barang-barang bermerek, menginap di Grand Sahid Jaya Hotel, itu semua boleh-boleh saja. Namun sekaranglah waktumu untuk menebusnya, membalasnya bagi mereka yang tidak pernah merasakan semua itu. Bekerja dan berpikirlah untuk membuat mereka yang tidak seberuntung engkau lebih beruntung.




















