Aku memang selalu merindukanmu, sampai daku buatkan pemegang-tempat begini entah sejak kapan. Memang selalu begini, betapa banyak hari 'ku buka engkau dan 'ku pandang-pandangi. Bahkan dibaca pun seringnya tidak, hanya dipandangi. Terkadang disalin-tempel ke sikembar, setelah dua-tiga kali berbalas-sapa dihapus sama-sekali, hambar terasa. Sekarang pun rasanya kurang dan lebih seperti itu, namun aku sedang tidak merasa terlalu cerdik pagi ini atau kapan pun. Yang 'ku rasa kini, seperti sudah terlalu sering, sekadar hampa, sekadar ikutkan arus gerakan.
Wik wik wik. Sebelum terkenal gara-gara lagu Thai entah-entah bertema erotik, ini adalah bunyi ketawa setan menurut K.T. Ahmar dalam komiknya Taman Firdaus. Mengapa tertawa, karena aku berhasil menahan Juli agar tetap tiga entrinya. Aku. Menahan. Tidak. Putaran waktu dan keadaanlah yang menahanku. Betapa banyak kejadian, seperti yang tergambar dalam gambaran di atas ini. Bukan sengaja tidak 'ku catat, tetapi keadaanlah yang membuatku tidak mencatatnya. Seperti sekarang, keadaan yang membuatku mengitiki dini hari begini. Kantuk masih jauh.
Hanya satu doaku, semoga jauh sebelum lima paragraf tertulis ia sudah menjelang, kantuk itu. Baru kali ini aku mendengar hembusan kipas Axioo Hype-R X8 OLED. Sebegitu panasnyakah hari, atau tepatnya dini hari, sampai-sampai Mama Leone menyejukkan hati tapi tidak badanku dan kepalaku yang sudah gondrong. Apapun itu, ini lebih baik ketimbang 1225 atau 1619 di Menara Salak yang kini dikelola Swiss Belhotel itu. Ya, meski di dalam sana sejuk tapi itu bukan rumah. Rumah adalah di mana kasur dan bantal bauku berada, meski aku suka harum-haruman lift hotel juga.
Di titik ini entah mengapa teringat Republik Indonesia Serikat atau ban serep (hahaha suatu hari nanti mungkin aku benar-benar lupa apa yang 'ku sandi ini, apalagi jika tidak diganti 'z'). Seperti pojokan A&W CCM tadi, beberapa kali melepas dan memasang kembali tabir sutra ungu (ini lebih gila lagi, sandinya). Sudahlah, memang harus begini. Biar 'ku tanggung sendiri semua duka derita ini ketika Gigliola Cinquetti berkata ia belum cukup umur, yang penting selesai (L'importante è finire, biar tidak lupa). Ini paragraf penuh kode penuh sandi biar saja. Peduli apa tua apa muda.
Melodi-melodi mimpi Italia ini sudah menemaniku semenjak España '82. Tahulah aku mengapa dahulu sampulnya begitu, siluet kepala seorang laki-laki. Ternyata aslinya seorang perempuan muda Kaukasian berambut pirang, telanjang bulat, menelungkup sambil mengangkat sedikit badan sebelah kanannya, memperlihatkan buah dada kanannya yang bercangkir A dan perutnya yang rata sekalian dengan pusarnya. Bisa tidak diberi izin oleh Kejaksaan, Kepolisian, dan Kopkamtib sekaligus jika begitu. Apakah itu juga bagian dari mimpi Italia, ketelanjangan itu, sungguh 'ku tak tahu.
Sudah tinggal dua paragraf dan kantuk belum juga datang. Kipas Axioo Hype-R X8 OLED berbunyi lagi, apa harus 'ku beri nama ia seperti Gomer Pyle memanggil M-14-nya Charlene. Ah, mimpi-mimpi Italia ini malah membawaku pada mimpi-mimpi Kemayoran. Apa yang akan 'ku impikan darinya, impian mengenai masa lalu atau kembalinya masa lalu ke masa kini atau masa depan. Kamu, hanya kamu. Kamu siapa. Ya, kamu. Siapa mencintaiku, menyayangiku, merabaiku. Entah mengapa di titik ini jari-jariku berhenti meraba-raba papan-kunci, berhenti mengetuk-ngetukimu.
Ini paragraf terakhir dan sudah setengah tiga dini hari, dan kedua ketiakku malah berkeringat. Percuma semua impian mengenai Republik Indonesia Serikat dan sebangsanya itu, semua hanya 'ku kulum dalam hati, seperti senyum tersungging di bibir yang tak pernah dikecup kecuali oleh bibir gelas atau botol. Dudukku sudah melorot begini, sedang aku terlanjang dada telanjang perut buncit begini. Aku menggapai-gapai, bukan tangan melainkan jiwaku meminta-minta. Cintaiku aku, Sharazan. Berhenti bercerita. Cintai aku (terus bercerita sampai datang kantukku).
Wik wik wik. Sebelum terkenal gara-gara lagu Thai entah-entah bertema erotik, ini adalah bunyi ketawa setan menurut K.T. Ahmar dalam komiknya Taman Firdaus. Mengapa tertawa, karena aku berhasil menahan Juli agar tetap tiga entrinya. Aku. Menahan. Tidak. Putaran waktu dan keadaanlah yang menahanku. Betapa banyak kejadian, seperti yang tergambar dalam gambaran di atas ini. Bukan sengaja tidak 'ku catat, tetapi keadaanlah yang membuatku tidak mencatatnya. Seperti sekarang, keadaan yang membuatku mengitiki dini hari begini. Kantuk masih jauh.
Hanya satu doaku, semoga jauh sebelum lima paragraf tertulis ia sudah menjelang, kantuk itu. Baru kali ini aku mendengar hembusan kipas Axioo Hype-R X8 OLED. Sebegitu panasnyakah hari, atau tepatnya dini hari, sampai-sampai Mama Leone menyejukkan hati tapi tidak badanku dan kepalaku yang sudah gondrong. Apapun itu, ini lebih baik ketimbang 1225 atau 1619 di Menara Salak yang kini dikelola Swiss Belhotel itu. Ya, meski di dalam sana sejuk tapi itu bukan rumah. Rumah adalah di mana kasur dan bantal bauku berada, meski aku suka harum-haruman lift hotel juga.
Di titik ini entah mengapa teringat Republik Indonesia Serikat atau ban serep (hahaha suatu hari nanti mungkin aku benar-benar lupa apa yang 'ku sandi ini, apalagi jika tidak diganti 'z'). Seperti pojokan A&W CCM tadi, beberapa kali melepas dan memasang kembali tabir sutra ungu (ini lebih gila lagi, sandinya). Sudahlah, memang harus begini. Biar 'ku tanggung sendiri semua duka derita ini ketika Gigliola Cinquetti berkata ia belum cukup umur, yang penting selesai (L'importante è finire, biar tidak lupa). Ini paragraf penuh kode penuh sandi biar saja. Peduli apa tua apa muda.
Melodi-melodi mimpi Italia ini sudah menemaniku semenjak España '82. Tahulah aku mengapa dahulu sampulnya begitu, siluet kepala seorang laki-laki. Ternyata aslinya seorang perempuan muda Kaukasian berambut pirang, telanjang bulat, menelungkup sambil mengangkat sedikit badan sebelah kanannya, memperlihatkan buah dada kanannya yang bercangkir A dan perutnya yang rata sekalian dengan pusarnya. Bisa tidak diberi izin oleh Kejaksaan, Kepolisian, dan Kopkamtib sekaligus jika begitu. Apakah itu juga bagian dari mimpi Italia, ketelanjangan itu, sungguh 'ku tak tahu.
Sudah tinggal dua paragraf dan kantuk belum juga datang. Kipas Axioo Hype-R X8 OLED berbunyi lagi, apa harus 'ku beri nama ia seperti Gomer Pyle memanggil M-14-nya Charlene. Ah, mimpi-mimpi Italia ini malah membawaku pada mimpi-mimpi Kemayoran. Apa yang akan 'ku impikan darinya, impian mengenai masa lalu atau kembalinya masa lalu ke masa kini atau masa depan. Kamu, hanya kamu. Kamu siapa. Ya, kamu. Siapa mencintaiku, menyayangiku, merabaiku. Entah mengapa di titik ini jari-jariku berhenti meraba-raba papan-kunci, berhenti mengetuk-ngetukimu.
Ini paragraf terakhir dan sudah setengah tiga dini hari, dan kedua ketiakku malah berkeringat. Percuma semua impian mengenai Republik Indonesia Serikat dan sebangsanya itu, semua hanya 'ku kulum dalam hati, seperti senyum tersungging di bibir yang tak pernah dikecup kecuali oleh bibir gelas atau botol. Dudukku sudah melorot begini, sedang aku terlanjang dada telanjang perut buncit begini. Aku menggapai-gapai, bukan tangan melainkan jiwaku meminta-minta. Cintaiku aku, Sharazan. Berhenti bercerita. Cintai aku (terus bercerita sampai datang kantukku).

