Saturday, August 15, 2026

Hanya Anggota Wak Uwak Uwak Tidak Butuh Uang


Aku ini siapa. Memang aku ini apa. Gide Lusinan atau Komodus sekali, Bruno Mars atau Bi-O-Bi juga. 'Ku tenggak sisa teh melati lebay dari dasar gelas permata sepat terasa. Akankah 'ku penuhi lagi dengan air panas. Namun ini bukan cangkir kertas dan sarapanku tadi tidak nasi uduk dikepret sambal terasi bertabur bawang goreng dan suwiran ayam goreng dan sak'dlemok orak-arik telur masih ditambah roti tipis lipat berisi sak'templok orak-arik telur, sekerat keju cheddar Amerika dan sosis ayam. Bukan. Tadi nasi singkong-jagung, setengah kentang kecil disemur, sebutir telur disemur masih dengan kuah semurnya, acar kuning, tumis labu siam.
Kini, di Sabtu pagi yang telah larut ini, yang panas gerah membalsemi, aku berkeringat-keringat berdursastra. Burung-burung malam tiba-tiba saja berkelepak berseliweran di atas kepala setelah tak lagi berima. Bukan. Mereka bukan lawa, codot, kampret dan sebangsanya, meski mungkin kelakuan mereka mirip: mengeremus buah-buahan, menghisap sari-sarinya, atau sekadar mencaplok nyamuk sial yang kebetulan lewat di hadapan moncong mulutnya. Kau mungkin harus memaafkan mulut kampret ini. Memang begitu kelakuannya jika sampai bertemu bebuahan.

Di usia pertengahan 40-an, seorang lelaki berkumis gagah perkakas, yang biasa menuntun arah pergi-pulangnya pesawat udara sampai seluruh bangsa, berada pada persimpangan jalan. Sesuai pengalamanku sendiri, itulah titik di mana seorang lelaki berubah menjadi bapak. Namun sang lelaki berkumis gagah perkakas memilih untuk menjadi lelaki karena ia memang tidak pernah menjadi bapak. Bahkan ketika ia menjadi lelaki untuk kedua kalinya tak kunjung pula menjadi bapak, meski sampai ada dua anak lelaki. Begitulah lakon nan harus dijalaninya di panggung dunia.

Kepulangan itu jua yang ditunggu-tunggu. Aku tidak akan pulang seperti Admiral Ugaki. Ia menentukan oleh diri sendiri hari kepulangannya. Hari kepulangan setiap orang sudah ada, sama seperti hari kedatangannya. Seperti hari kedatangan yang disembunyikan dari semua orangnya sendiri, begitu pula hari kepulangan. Memang begitu aturan mainnya. Namun ada satu yang dapat ditiru dari kelakuan Admiral Ugaki: ketetapan hatinya dan hati entah berapa orang yang berjubel dalam Yokosuka D4Y-nya. Ayo kita pulang. Pelaut-pelaut Amerika itu tidak mau pulang, pokokmen kita mau.

Ah, Mbak Niken terlalu memuji menyebut ini sastra. Kalaupun iya, ini dursastra. Mungkin ia begitu karena aku menyatakan setuju pada formulir yang disodorkannya kemarin dan menandatanganinya. Aku saja tidak setuju pada segala kemacangondrongan yang terjadi di sekitarku. Lagipula, ini sekadar cara untuk melampau waktu menunggu datangnya jemputan sambil termangu-mangu. Seperti Sunan Kalijaga menjaga kali, mau tidak mau ditumbuhi lumut, kumis misai cambang bauk. Ah, Tante Geri lagi dari kecilku selalu hampir membelai-belai jiwa-jiwa nan merana.

Jiwa yang berkhayal melakukan penghormatan lambung kiri kepada Arizona dari atas kapal induk bertenaga nulik kelas Nimitz, sementara Ma Cherie Amor berkumandang dalam angan, betapa merana. Seperti Slote tua menyiapkan ramuan malam yang kuat, menghidangkannya pada Natalie sambil menyenggol piringan hitam mengumandangkan serenata cahaya bulan [lho, serenata kok bulan?]. Masih jauh lebih mending daripada kecerdikan serenata jiwa lara, mana yang nyanyi bintang iklan lifebuoy. Uah. putri duyung. Ini mengapa jadi laut-lautan begini paragraf. 

Dalam anganku, aku mencebur ke dalam lautan teduh nan tenang dari geladak hangar, karena geladak terbang terlalu tinggi. Bisa juga di bawah naungan Suribachi ketika sudah tidak ada perlawanan lagi dari tentara kekaisaran, aku bermandi-mandi telanjang di dingin asinnya air lautan teduh dengan ombaknya yang nyaman menyapu-nyapu. Apapun yang dilakukan Doc Bradley tidak akan sanggup menghapus gambar bentuk Iggy ketika akhirnya ditemukan, sampai hari kepulangannya. Mister B ditemukan tersengal di tangga, dipanggilkan ambulans, sudah itu pulang. 

Sunday, August 09, 2026

Wanita dalam Merah Menari Bersamaku Pipi-ke-pipi


Di Belanda aku diperlengkapi dengan ketenangan dan kesendirian, kesejukan yang nyaman karena dihangatkan, kehangatan yang nyaman. Aku juga diperlengkapi dengan uang secukupnya sampai tidak pernah benar-benar merasa kekurangan. Biasa saja terasa. Namun tidak lama perlengkapan itu segera berubah menjadi kekosongan dan kesepian. Aku tidak bermaksud kufur nikmat, namun teman-teman seringnya terasa sedikit sekali di sana. Terlebih ketika di koridor kuning, baik di Kees Broekman maupun Kraanspoor. Kenangan manis, tepatnya manis-pahit.

Maka yang sedikit itu 'kan 'ku kenang selamanya. Tivinya Japri yang sok cerdik, sotonya Gerardus, gitarnya Pak Greg, harumnya Jeng Arum. Selebihnya pemandangan ke luar jendela yang tidak ada apa-apanya bagiku. Akankah aku lebih senang memandangi kantor pusat Hema ketimbang halaman dalam dan kamar-kamar seberang, aku tidak yakin. Jadi tidak banyak berguna memang. Sejujurnya, aku lebih sering bergidik kengerian mengingat waktu-waktu yang 'ku habiskan di dalam studio itu, mungkin sama ngerinya seperti kambing membayangkan harus di UBK++.

WSD singkatan apa, bukan warung sate domba, melainkan wanita sungai dalam. Perasaan yang mendalam memang suka tiba-tiba timbul ke permukaan. Namun dengan derasnya aliran kesadaran, perasaan itu tenggelam lagi entah ke mana, tergulung oleh arus gelombangnya, tersangkut entah di ceruk atau relung yang mana, yang kemudiannya bisa saja muncul kembali. Timbul-tenggelam, itulah jadinya perasaan paling mendalam. Terpendam mungkin karena malu atau takut atau berbagai perasaan buruk lainnya, asal jangan sampai menjadi kanker saja. Amit 2x.

Ya, bisa jadi ini. Dua puluh lagu cinta keemasan edisi ke-6. Lagu-lagu cinta terbaik dari tahun-tahun [yang telah berlalu] hanya diingat dua pertama saja. Seperti semua tahun yang telah berlalu, seperti itulah tahun-tahun dijalani, tidak dari hari ke harinya, tetapi dari satu saat ke saat berikutnya. Seperti ini, aku mengitiki, saat berikutnya mungkin aku berperang bagi bangsa-bangsa besar dan kecil dari seluruh dunia. Seperti segelas permata teh melati bergula dilanjut tawar. Aku selalu suka tehku panas, tetapi tidak terlalu manis dan kental. Manis sekadar penyamar rasa kelat, teh ala Cina.

Dua puluhan tahun lalu, tivi, atau pisi kata orang kampung Jombang hanya bisa untuk menonton siaran terestrial berbagai-bagai saluran televisi nasional. Uah, masih lengkap. Ada TVRI, RCTI, SCTV, TPI, ANTV, Indosiar, MetroTV, TransTV, GlobalTV, Lativi, dan tepat pada akhir tahun ini TV7 berubah menjadi Trans7. Pada saat-saat seperti ini 20 tahun lalu, Empat Mata sudah tayang hampir setahun yang segera saja membunuh Om Farhan. Itu sebenarnya pertanda bahwa penonton tivi pada saat itu saja sudah lebih banyak bangsanya Doni Brasco dan sebagainya. Kiamat.

Kini, 20 tahunan setelah masa-masa itu, aku mengitiki di komputer pribadi semua-jadi-satu, tidak ada unit pengolah pusatnya yang terpisah dari layar, sedangkan menyetel 20 lagu cinta keemasan edisi ke-6 dengan tivi sok cerdik yang sekarang kerjanya memutar politik dan orang-orang Cina atau seperti Cina. Apakah 20 tahunan lalu aku sudah menyanding segelas besar teh seperti sekarang ini. 'Ku rasa dulu lebih berani. Namun setelah 2002 'ku rasa aku sudah tidak gila kopi jikapun aku pernah begitu sebelumnya. Apa yang 'ku minum bersama mie goreng entah apa kala itu.

Mie goreng cahaya bintang yang 'ku salahkan untuk sakitku. Tidak tidur semalaman, baru tidur sekitar satu jam dibangunkan Gus Dut, diajak makan. Agar gratis aku makan, sudah pasti merokok juga. Seingatku starmild menthol ketika itu, sebungkus rokok terakhirku [tidak benar-benar terakhir, masih ada agak beberapa bungkus pernah 'ku beli pada tahun-tahun kemudiannya]. Tanggal yang selalu 'ku ingat, 10 Oktober 2002. Tanggal 'ku berjanji untuk berusaha menjadi hamba yang lebih baik. Adakah aku masih berusaha sampai hari ini. Akankah 'ku teruskan.

Thursday, August 06, 2026

Let It Go, Kempeitai Anymore Aatchoo Slurp [Ingus]


Ini baru empat hari, masa kau mau menggumulinya lagi. Jika ini adalah pengantin barumu, muda lagi, aku bisa mengerti. Ini macan, gondrong pula. Ya, se-kesepian itulah aku di pagi yang cerah ini, hanya berteman diriku sendiri yang akan kembali (tornero), meski itu takkan terjadi lagi (non succederà più). Ini pun tidak benar-benar boleh disebut teman. Jikapun teman maka lebih mirip seekor kucing yang pada dasarnya tidak peduli pada manusianya. Anjing merasa manusianya teman sekawanan bahkan pimpinan. Kucing merasa manusia budaknya, atau kucing aneh.

Setidaknya, melodi-melodi mimpi Italia ini tidak akan berak atau pipis, sembarangan atau di pasir. Memang ia tidak mendengkur, namun ia mendayu merayu, mengelus merambati seperti jemari lentik pengantin baru muda yang aku tidak pernah punya. Kemarin di hadapanku ada dua perempuan muda seumuran anak-anakku. Seperti biasa mereka terpukau terkagum-kagum dengan dongenganku, dongengan orang tua yang hanya bisa mendongeng lain tidak. Aku tidak pernah meratapi hilangnya kejantananku seperti aku tidak peduli ketika masih ada. Sama saja bagiku.

Untuk Lucia. Satu-satunya Lucia yang 'ku ingat adalah anak '95 itu yang kini sudah jadi ibu-ibu, yang ditulis 'Lusya'; mirip dengan Gracia yang ditulis 'Greysia' atau David yang ditulis 'Deyvid' atau special yang ditulis 'speysial'. Orang mengingat Gigliola ketika ia berdendang masih belum cukup umur pada 1964, masih berusia 16 tahun kurang lebih. Sir Arthur mendeskripsikan Lucy Ferrier ketika ia berumur kurang lebih. Ketika aku berumur kurang lebih ideku hanya sebutir granat dan sepucuk pistol bagi mereka yang diriku sangka menertawai kecanggungan dan kekikukanku.

Sungai kesadaran, aku kesal atau tidak ya aliran Mas Toni Edi Suryanto dikatakan bengawan kesadaran. Atau mungkin orang waras adalah yang memodifikasi aliran sungai kesadarannya sedemikian rupa sehingga menyenangkan atau sekurangnya tidak membahayakan [sungai kesadaran] orang lain. Ahli surga adalah orang yang tetangganya selamat dari mulut dan tangannya. Uah, sudah lah biar 'ku nikmati sendiri bunyi ketik-kelitik papan-kunci 'ku ketik-ketik sebagai pengganti gicik-gericik sungai kesadaranku yang mungkin hanya diriku khayalkan saja bunyinya.

Awas, Toni Edi Suryanto bukan Riwanto, karena kalau Riwanto tidak ada Edinya. Betapa jahatku padanya, ya Allah, semoga ia memaafkanku. Aku pembuli jahat. Seburuk apapun mulutnya harusnya 'ku balas dengan mulut juga, tidak dengan menelanjangi, membuang celana dalamnya ke rumah kosong, mengikatnya di pohon di atas sarang semut api. Ya Allah betapa jahatnya. Ton, di mana pun kau berada sekarang, 'ku mohon maafkan aku. Aku memang jahat. Aku suka membuang celana orang, dalam dan luarnya sekalian, ke tanah pekuburan sampai orang malu hati.

Di waktu sendirian beginilah segala dosa dan kejahatan masa lalu seakan terpampang di layar citra maksimum di hadapanku. Melengkung ia lebar melingkungi, berdentam-dentam berdebam menakuti. Tuhan ampuni aku, betapa jahat diriku ini, menelanjangi baik diriku sendiri maupun orang lain. Setiap pagi Engkau membangunkanku dari tadir, setiap itulah 'ku rasa Engkau memberiku kesempatan untuk bertobat. Betapa banyak kejahatanku yang bahkan aku sendiri tidak berani menghadirkannya dalam cipta, 'ku terjun menghambur ke dalam ngarai entah apa di bawah.

Di bawah sana tidak ada apa-apa. Aku tidak tahu apakah ini tanah kering berpasir atau endapan lumpur lembut bawah air, yang jelas aku beringsut-ingsut menggeliat-geliat. 'Ku coba rentangkan tangan dan kaki ternyata tidak ada, bahkan torso atau kepala yang mana aku sudah tidak tahu. Aku seperti bisa bergerak dalam tiga atau empat dimensi atau bahkan lebih. Memang di bawah sini selalunya aku bertemu lagi dengan Sharazan. Betapa riang melodi ini namun sendu pada saat yang sama, meningkahi geliat ingsutku. 'Ku rasa aku cuma seclepretan ingus let it go, Kempeitai.

Sunday, August 02, 2026

Dari Ketinggian Menara Salak Itu Garis Langit Bogor


Aku memang selalu merindukanmu, sampai daku buatkan pemegang-tempat begini entah sejak kapan. Memang selalu begini, betapa banyak hari 'ku buka engkau dan 'ku pandang-pandangi. Bahkan dibaca pun seringnya tidak, hanya dipandangi. Terkadang disalin-tempel ke sikembar, setelah dua-tiga kali berbalas-sapa dihapus sama-sekali, hambar terasa. Sekarang pun rasanya kurang dan lebih seperti itu, namun aku sedang tidak merasa terlalu cerdik pagi ini atau kapan pun. Yang 'ku rasa kini, seperti sudah terlalu sering, sekadar hampa, sekadar ikutkan arus gerakan.
Wik wik wik. Sebelum terkenal gara-gara lagu Thai entah-entah bertema erotik, ini adalah bunyi ketawa setan menurut K.T. Ahmar dalam komiknya Taman Firdaus. Mengapa tertawa, karena aku berhasil menahan Juli agar tetap tiga entrinya. Aku. Menahan. Tidak. Putaran waktu dan keadaanlah yang menahanku. Betapa banyak kejadian, seperti yang tergambar dalam gambaran di atas ini. Bukan sengaja tidak 'ku catat, tetapi keadaanlah yang membuatku tidak mencatatnya. Seperti sekarang, keadaan yang membuatku mengitiki dini hari begini. Kantuk masih jauh.

Hanya satu doaku, semoga jauh sebelum lima paragraf tertulis ia sudah menjelang, kantuk itu. Baru kali ini aku mendengar hembusan kipas Axioo Hype-R X8 OLED. Sebegitu panasnyakah hari, atau tepatnya dini hari, sampai-sampai Mama Leone menyejukkan hati tapi tidak badanku dan kepalaku yang sudah gondrong. Apapun itu, ini lebih baik ketimbang 1225 atau 1619 di Menara Salak yang kini dikelola Swiss Belhotel itu. Ya, meski di dalam sana sejuk tapi itu bukan rumah. Rumah adalah di mana kasur dan bantal bauku berada, meski aku suka harum-haruman lift hotel juga.

Di titik ini entah mengapa teringat Republik Indonesia Serikat atau ban serep (hahaha suatu hari nanti mungkin aku benar-benar lupa apa yang 'ku sandi ini, apalagi jika tidak diganti 'z'). Seperti pojokan A&W CCM tadi, beberapa kali melepas dan memasang kembali tabir sutra ungu (ini lebih gila lagi, sandinya). Sudahlah, memang harus begini. Biar 'ku tanggung sendiri semua duka derita ini ketika Gigliola Cinquetti berkata ia belum cukup umur, yang penting selesai (L'importante è finire, biar tidak lupa). Ini paragraf penuh kode penuh sandi biar saja. Peduli apa tua apa muda.

Melodi-melodi mimpi Italia ini sudah menemaniku semenjak España '82. Tahulah aku mengapa dahulu sampulnya begitu, siluet kepala seorang laki-laki. Ternyata aslinya seorang perempuan muda Kaukasian berambut pirang, telanjang bulat, menelungkup sambil mengangkat sedikit badan sebelah kanannya, memperlihatkan buah dada kanannya yang bercangkir A dan perutnya yang rata sekalian dengan pusarnya. Bisa tidak diberi izin oleh Kejaksaan, Kepolisian, dan Kopkamtib sekaligus jika begitu. Apakah itu juga bagian dari mimpi Italia, ketelanjangan itu, sungguh 'ku tak tahu.

Sudah tinggal dua paragraf dan kantuk belum juga datang. Kipas Axioo Hype-R X8 OLED berbunyi lagi, apa harus 'ku beri nama ia seperti Gomer Pyle memanggil M-14-nya Charlene. Ah, mimpi-mimpi Italia ini malah membawaku pada mimpi-mimpi Kemayoran. Apa yang akan 'ku impikan darinya, impian mengenai masa lalu atau kembalinya masa lalu ke masa kini atau masa depan. Kamu, hanya kamu. Kamu siapa. Ya, kamu. Siapa mencintaiku, menyayangiku, merabaiku. Entah mengapa di titik ini jari-jariku berhenti meraba-raba papan-kunci, berhenti mengetuk-ngetukimu.

Ini paragraf terakhir dan sudah setengah tiga dini hari, dan kedua ketiakku malah berkeringat. Percuma semua impian mengenai Republik Indonesia Serikat dan sebangsanya itu, semua hanya 'ku kulum dalam hati, seperti senyum tersungging di bibir yang tak pernah dikecup kecuali oleh bibir gelas atau botol. Dudukku sudah melorot begini, sedang aku terlanjang dada telanjang perut buncit begini. Aku menggapai-gapai, bukan tangan melainkan jiwaku meminta-minta. Cintaiku aku, Sharazan. Berhenti bercerita. Cintai aku (terus bercerita sampai datang kantukku).