Di suatu malam yang panas gerah aku tergolek-golek telanjang dada telanjang perut di kaki istriku yang sedang memencet dan menowel layar gawai, sedang kami di depan televisi yang memutar video-video dua bersaudari Tika dan Sesil atau emak mereka Rusma. Karena aku tidak punya sesuatu pun yang lebih baik untuk dilakukan, maka jari telunjukku begitu saja mengurek-urek udel. Tentu saja udel sendiri, masa udel siapa. Ketika itulah ternyata aku berhasil menggali entah apa itu barang galian tipe C atau lainnya, yang setelah dipilin-pilin, dihirup, aduduhsay baunya.
Ketika itu pula 'lah istriku berseru, "bau apa ini?!" Aku sambil terus memilin-milin menghirup-hirup menyahut, "Ini. Bau udel." "Najis!" seru istriku. "Kenapa sampai bisa begitu baunya? Kamu ga pernah cuci udel ya kalau mandi?" Ia menyumpah-nyumpah najis beberapa kali lagi sedang aku sendiri tersenyum simpul sambil menghirup bau yang jauh lebih memabukkan dari lem aibon, bengsin, atau minyak tanah sekalipun. Begitulah kesibukan seorang cendekiawan, seorang yuris di Republik Indonesia. Istrinya pengajar bahasa Inggris sedang menyiapkan kuliahnya.
Ketika itu pula 'lah istriku berseru, "bau apa ini?!" Aku sambil terus memilin-milin menghirup-hirup menyahut, "Ini. Bau udel." "Najis!" seru istriku. "Kenapa sampai bisa begitu baunya? Kamu ga pernah cuci udel ya kalau mandi?" Ia menyumpah-nyumpah najis beberapa kali lagi sedang aku sendiri tersenyum simpul sambil menghirup bau yang jauh lebih memabukkan dari lem aibon, bengsin, atau minyak tanah sekalipun. Begitulah kesibukan seorang cendekiawan, seorang yuris di Republik Indonesia. Istrinya pengajar bahasa Inggris sedang menyiapkan kuliahnya.
Siapa bilang seorang ahli hukum di Republik ini tidak dihargai, dihormati. Nyatanya, aku sendiri di mana-mana digilai dan dielu-elukan: Gila lu! Gila lu! Aku mengoceh entah apa sambil menyelipkan bahasa Belanda sok-sokan di mana-mana sampai mahasiswaku terlongong-longong tidak mengerti. Bahkan di kesejukan auditorium Djokosutono yang disembur AC di segala penjurunya, beberapa duduk menggelesot tidur seperti menonton film membosankan di bioskop. Bedanya bioskop gelap sedang auditorium ini terang-benderang sedang layar bertebaran di mana-mana.
Teringatnya, aku bahkan baru-baru ini, selaku doktor berpangkat lektor, ditugasi menjadi kopromotor. Promovendusku entah bagaimana caranya menemukan macan gondrong ini dan memujiku dengan menggelariku sastrawan. Wah, tak terkira betapa kembang-kempis semua lubang pada tubuhku atas-bawah. Aku tahu apa yang 'ku usulkan padanya untuk diteliti aneh. Aku tahu seluruh dunia mengganggap Profesor Soepomo penjahat fasis. Jangan-jangan hanya aku dan guruku, almarhum Pak AB Kusuma yang tidak mengganggapnya demikian. Aku sungguh tidak tahu mengapa.
Maksudku, orang secerdas Qodir saja percaya Profesor Soepomo fasis; Qodir yang belajar main bridge secara swadidik, bahkan meretas email Sofyan. Jangankan itu, Profesor Adriaan Bedner pun membela Adnan Buyung dan Todung Mulya mati-matian, sedang Profesor Padmo Wahyono katanya pernah diadili oleh bangsanya Marsillam, Rachland, Rahman itu karena membela "Pandangan Negara Integralistik". Hei, bahkan Mbak Fit bosku curiga aku mengusulkan menghapus pemilu. Yah, begitulah memang hidup seorang yuris di Republik ini: berwarna-warni.
Beruntunglah di samping hidup profesional wasainalku yang penuh warna aku juga masih sempat menekuni berbagai hobi, seperti mengupili lubang hidung sendiri kanan-kiri atau, seperti 'ku ceritakan di atas, mengurek-urek lubang udel sendiri. Dengan ini aku membuat pernyataan resmi bahwa udelku bolong alih-alih bodong. Kalau mengurek-urek lubang kuping dengan jari kelingking bukan hobi, melainkan suatu kebutuhan karena kalau ia terlalu lembab atau berminyak suka gatal. Pula, kurang menyenangkan, tidak karena kurang sedap baunya, tetapi karena gatal itu.
Oh ya, selain itu aku juga hobi menggubah komposisi onomatope atau mungkin kalau mau gaya-gaya'an bolehlah disebut scat singing. Sebenarnya tidak juga. Kalau scat singing 'kan orang suka menirukan bunyi gitar atau alat tiup kuningan, meski entah alat musik apa yang bunyinya ditirukan dokter Tompi. Komposisi onomatopeku seringnya menirukan bunyi perkusi yang terkadang aku sendiri juga bingung, perkusi apa bunyinya seperti ini. Jadi sebenarnya sama saja dengan dokter Tompi. Bedanya dia keren kalau aku luarnya aja kusut, dalemnya ancur.


No comments:
Post a Comment