Tuesday, April 28, 2026

Barutahu, Barutempe, Baruklinting, Itu Namanya


Apakah ini waktu yang tepat. Adakah waktu yang tidak tepat, yang berarti tidak sedang kesepian. Sedang kesepian pun terkadang tidak tepat, dalam arti, jari-jemari tidak memberondong merampak; dan itu karena entah mengapa otak tidak memerintahkannya begitu. Apa sebenarnya bahan-bahan untuk meramu sebuah entri. Suasana hati yang nyaman meski kesepian adalah bahan utamanya. Badan yang terasa nyaman adalah bahan pendukungnya. Selebihnya suasana persekitaran. Seperti kini, sore bermendung hadapi taman jurasik kesayangan Cantik. Suasana cocok ini.
Sarah bernyanyi tentang bidadari atau malaikat. Bidadari berjenis kelamin betina, malaikat jantan. Entah-entah, membawa angan jauh ke Gang Sawo di awal abad ke-21, di kamar Ige yang jarang dikunjungi apalagi ditetapi. Baguslah dilemparkan jauh ke 1970-an pertengahan yang sebenarnya belum lama ini, ketika tidak dapat memberikan apapun kecuali cinta. Siapa yang butuh, siapa yang mau. Maunya uang atau apapun yang dapat membawa banyak uang. Cinta, ilmu pengetahuan, kebijaksanaan, kebenaran, murahan semua; sungguh tiada harganya jaman sekarang ini.

Sablopadon berguling-guling menggeliat-geliat di lantai berkeramik di bawah kursi besi. Hidupnya di pagi bermendung berhawa gerah ini tadinya tenang seperti biasa, sampai datang anak lelaki kecil yang memanggil-manggilnya pus, pus. Menguaplah ke kehampaan segala ketenangan hidupnya. Habis ia dikejar-kejar entah mau diapakan. Suatu kali mungkin ia kelelahan, menjelempah ia terkapar pasrah menelentang. Namun ketika anak itu hampir mendekat dan menjulurkan tangan pada perut telanjangnya, ia lompat menghindar sambil menyumpah-nyumpah.

Cuaca mendung begini dan Cantik keluyuran motoran ke Simpangan Depok, seperti itulah sekarang pikiran bapak-bapak gendut yang jiwa dan hatinya feminim. Ia tidak peduli jika bahu-bahunya membulat seperti ibu-ibu, bahkan nenennya turun seperti nenen ibu-ibu. Ia terus saja mengonsumsi produk-produk olahan kedelai. Bahkan ketika masih gagah perkakas pun ia sudah begitu, feminim jiwa dan hatinya, tahu dan air tahu tok pikirannya. Jika pun orang-orang yang disayanginya menderita, bukan karena kejahatan, semata karena ketololannya. Rampak dia mengitikinya.

Boro-boro mencinta, romansa saja sudah tak punya. Ke mana pun disapukan pandangan yang terlihat anak-anak perempuannya yang entah pada ke mana, anak-anak perempuannya sendiri atau orang lain entah siapa. Yang agak lebih tua adalah adik-adiknya. Yang lebih tua darinya adalah kakak-kakaknya. Yang jauh lebih tua lagi ibu-ibu atau bibi-bibinya. Dengan badan tambunnya melemah, badan lemahnya menambun, digenggamnya pedang kayu mainan pada gagangnya, mengamangkan, melindungi. Begitu romannya. Bukan epos, sekadar secercah kisah hidup. 

Kau tahu ini terdengar lucu, namun sekadar tidak tahan sakitnya. Padahal setiap kali sakit, toleransi padanya meningkat. Begitu seterusnya sampai tidak terasa. Dipikulnya beban dunya pada bahu-bahu lebarnya sambil menyeringai tolol. Terkadang murung menekuri langkah jika tersengat keindahan hidup, mengingat betapa jasad membiru lantas mengabu-abu kehijauan. Santuy seperti minggu pagi, sarapan nasi goreng buatan ibu lalu adik perempuan sendiri, terkadang bertelur ceplok mata sapi atau dadar sekalian. Selalu hijau lestari, rimbun di pelupuk mata, seperti bulu.

Lampu dioda besar kini menerangi karena mendung menggelapi. Daya ditambahi Pak Qosim mendatangi entah pakai Nurseha atau tidak. Sampai habis satu sentolop yang memang sudah lama tidak diisi daya. Disalam-tempeli diambil dari amplop bertuliskan Bang Ade yang sudah lama tidak pernah datang lagi, semenjak sakit tifus. Memang mengerikan, lemasnya seperti tidak akan hidup lagi. Taman jurasik jadi tidak ada yang merawati kecuali Peyang yang nama aslinya Rustamaji. Orang keahliannya bongkar bangunan tua malah disuruh menjuru-tamani. Ini entri tak ada mengakui.

No comments: