Masihkah terlintas dalam angan, kenangan akan tempat penampungan sementara pengungsi korban rezim, komisi tinggi persatuan bangsa-bangsa untuk pengungsi. Astaga itu sudah dari kira sepuluh tahun yang lalu, sedangkan sudah sepuluh hari goblog ini tidak diperbarui. Pagi sudah demikian larutnya sedang ia bermendung. Udara memang tidak tepat sejuk namun setidaknya tidak merebus mengukus. Akan halnya teringat tempat penampungan itu karena jez kuasa otak berkeletak beroser-oser di telinga kanan dan kiri secara stereo. Suatu teknologi yang masih sekadar impian sampai lima tahun lalu, kini kenyataan sehari-hari waktu berlalu.
Akankah menetes sepatah dua cerita mengenai sepuluh tahun lalu, tidak ingat pun apa penyumpal telinganya. Pada waktu itu mungkin berbagai-bagai. Sempat agak lama, sebelum ke Amsterdam, yang agak mahal, seharga stereo nirkabel sejati saat ini namun masih berkabel, boleh beli di Wellcomm. Penjualnya berkata sampai tidak bunyi sampai putus kabel kami ganti. Namun itu tidak pernah terjadi karena sampai hampir lima tahun terus bunyi dan tidak kunjung putus kabel. Begitulah kisah cerita mengenai penyumpal telinga, mengapa jadi mengenainya siapa tahu juga.
Segala sesuatu ada waktunya. Segala waktu ada sesuatunya. Begitu saja terus tak mengapa. Buat apa kembali ke tempat penampungan sementara itu. Namanya saja sementara. Dalam kesementaraan ini cinta adalah lubang melalui mana keabadian dapat diintip. Jika sampai ada yang mengatakan inti agamanya adalah cinta sedang pikiran, sikap, perkataan, dan perbuatannya justru berbau busuk, kasihan dia. Cinta harum baunya seperti dupa cendana dicampur misik kasturi berkapur barus pula. Cinta manis-manis gurih rasanya seperti susu diberi madu, lembut jua mendayu.
Berbahagialah orang buta yang tidak pernah tahu seperti betapa bentuk kekasihnya. Simetriskah wajahnya, besar membulatkah hidungnya dengan cuping-cuping lebar membelalak lubang-lubangnya, caplangkah telinga-telinganya kuyu pada ujung-ujungnya, merongos gigi-geligi saling tumpuk tak karuan mendower-domblekan bibirnya. Ia tidak tahu dan tidak peduli itu semua. Yang ia tahu suaranya yang lembut penuh kasih, desahnya melenguh menggairahkan, erangannya membangkitkan hasrat merengkuh mendekapnya erat-erat. Bau badan, mulut bau terasi kena memicu birahi.
Telinga-telinga caplang berkibar-kibar atau bahkan terlipat-lipat cuwil gumpil masih sanggup mengumpulkan gelombang suara, mengalirkannya menggetar-getarkan gendang-gendang telinga. Terlebih jika ditingkahi alunan sagita, sedikit atau banyak berlemak, tulang berbalut kulit kisut keriput pun tidak akan terlalu berbeda. Selesai memadu kasih seperti salamander raksasa atau fossa, meraba-raba meja nan serba bersahaja. Dua cangkir kaleng lurik berisi air sekadarnya pelepas dahaga. Dahaga birahi terpuaskan, haus kerongkong dibasahi tirta pawitra sari kehidupan.
Maka ketika mata-mata terbuka mengerjap-ngerjap, membiasakan diri dengan terangnya dunia, ia akan memejam lagi. Bisa dipahami ketika John bersyair: Hidup terasa mudah dengan mata tertutup, salah paham pada apapun yang kau lihat. Cinta terasa benar ketika dibelai pendengarannya, dibelai diraba-raba permukaan kulitnya di lipatan yang mana saja. Meski ada rambut-rambutnya atau gundul belaka sama saja. Belaian itu, merayap sempoyongan meraba-raba, terkena di situnya. Di situ ada cinta, bagai bayi dibelai ibunya, disusui buah dada kanan kirinya.
Meski tak mungkin kembali ke tempat penampungan sementara, semoga di mana pun berada menemui cinta. Karena selama rongga dada dan kepala dipenuhi cinta, di mana pun menyambut cinta. Cinta itu memberi dan memberi. Cinta itu hanya memberi tak minta pengganti, bagai Sang Surya menyinari dunia. Mana ada Sang Surya minta kembali segala cahaya kehidupan yang sudah disambrahkan pada dunia. Yang ada, Sang Surya marah karena dunia manusia tidak tahu berterima kasih, maka diberi banyak-banyak (Jw.: dilulu; Ar.: istidraj) cahayanya sampai panas sekali.
Akankah menetes sepatah dua cerita mengenai sepuluh tahun lalu, tidak ingat pun apa penyumpal telinganya. Pada waktu itu mungkin berbagai-bagai. Sempat agak lama, sebelum ke Amsterdam, yang agak mahal, seharga stereo nirkabel sejati saat ini namun masih berkabel, boleh beli di Wellcomm. Penjualnya berkata sampai tidak bunyi sampai putus kabel kami ganti. Namun itu tidak pernah terjadi karena sampai hampir lima tahun terus bunyi dan tidak kunjung putus kabel. Begitulah kisah cerita mengenai penyumpal telinga, mengapa jadi mengenainya siapa tahu juga.
Segala sesuatu ada waktunya. Segala waktu ada sesuatunya. Begitu saja terus tak mengapa. Buat apa kembali ke tempat penampungan sementara itu. Namanya saja sementara. Dalam kesementaraan ini cinta adalah lubang melalui mana keabadian dapat diintip. Jika sampai ada yang mengatakan inti agamanya adalah cinta sedang pikiran, sikap, perkataan, dan perbuatannya justru berbau busuk, kasihan dia. Cinta harum baunya seperti dupa cendana dicampur misik kasturi berkapur barus pula. Cinta manis-manis gurih rasanya seperti susu diberi madu, lembut jua mendayu.
Berbahagialah orang buta yang tidak pernah tahu seperti betapa bentuk kekasihnya. Simetriskah wajahnya, besar membulatkah hidungnya dengan cuping-cuping lebar membelalak lubang-lubangnya, caplangkah telinga-telinganya kuyu pada ujung-ujungnya, merongos gigi-geligi saling tumpuk tak karuan mendower-domblekan bibirnya. Ia tidak tahu dan tidak peduli itu semua. Yang ia tahu suaranya yang lembut penuh kasih, desahnya melenguh menggairahkan, erangannya membangkitkan hasrat merengkuh mendekapnya erat-erat. Bau badan, mulut bau terasi kena memicu birahi.
Telinga-telinga caplang berkibar-kibar atau bahkan terlipat-lipat cuwil gumpil masih sanggup mengumpulkan gelombang suara, mengalirkannya menggetar-getarkan gendang-gendang telinga. Terlebih jika ditingkahi alunan sagita, sedikit atau banyak berlemak, tulang berbalut kulit kisut keriput pun tidak akan terlalu berbeda. Selesai memadu kasih seperti salamander raksasa atau fossa, meraba-raba meja nan serba bersahaja. Dua cangkir kaleng lurik berisi air sekadarnya pelepas dahaga. Dahaga birahi terpuaskan, haus kerongkong dibasahi tirta pawitra sari kehidupan.
Maka ketika mata-mata terbuka mengerjap-ngerjap, membiasakan diri dengan terangnya dunia, ia akan memejam lagi. Bisa dipahami ketika John bersyair: Hidup terasa mudah dengan mata tertutup, salah paham pada apapun yang kau lihat. Cinta terasa benar ketika dibelai pendengarannya, dibelai diraba-raba permukaan kulitnya di lipatan yang mana saja. Meski ada rambut-rambutnya atau gundul belaka sama saja. Belaian itu, merayap sempoyongan meraba-raba, terkena di situnya. Di situ ada cinta, bagai bayi dibelai ibunya, disusui buah dada kanan kirinya.
Meski tak mungkin kembali ke tempat penampungan sementara, semoga di mana pun berada menemui cinta. Karena selama rongga dada dan kepala dipenuhi cinta, di mana pun menyambut cinta. Cinta itu memberi dan memberi. Cinta itu hanya memberi tak minta pengganti, bagai Sang Surya menyinari dunia. Mana ada Sang Surya minta kembali segala cahaya kehidupan yang sudah disambrahkan pada dunia. Yang ada, Sang Surya marah karena dunia manusia tidak tahu berterima kasih, maka diberi banyak-banyak (Jw.: dilulu; Ar.: istidraj) cahayanya sampai panas sekali.


No comments:
Post a Comment