Masa habis dikasih Dedi kepada yang 'ku cintai dilanjut warna yang lebih putih dari pucat. Kaset apa ini. Kalau yang dikasih Dedi itu mungkin salah satu dari sedikit sekali kaset yang pernah 'ku beli sendiri dalam hidupku. Sekarang ini aku ingat cuma dua. Itu dan satu lagi yang 'ku beli di Pondok Indah Mall, instrumentalia begitu, ada memulai Beguine, ada penghibur. Mengapa judul-judul harus diterjemahkan, karena aku menulis dalam Bahasa Indonesia. Kalau lebih putih dari pucat begini aku jadi ingat waktu baru pindah ke Graha Lima, awal musim hujan di akhir 1993 seketika itu.
Ini apa dilanjut dan aku mencintainya. Di siang terik begini apalah artinya fakta bahwa aku mencintainya. Pernahkah aku bercinta di terik siang hari begini, ketika selangkangan baunya aujubile sapose kolor babe. Uah, mana dilanjut sebuah tempat musim panas yang merupakan bagian dari musik instrumental dansa ruang-bola besutan orkestra dawai-dawai huliwud sego liwud semlidud. Maka 'ku hentikan daftar-main acak-acakan spotifai dan langsung daku minta sepenuh albumnya. Dimulai dengan berkeliling dunia 'ku mencarimu. Memang cucok untuk siang terik begini.
Mana dilanjut dengan April di Portugal pulak. Ini memang hampir April meski tidak di Portugal, tetapi di tepian Cikumpa. Ini tempat yang jauh lebih nyaman menyenangkan ketimbang bagian manapun dari Portugal, aku yakin, meski semalaman jantungku terbakar gara-gara makan kuah gulai telur dan tahu dari telaga indah. Uah! Sampai. Sampai manapun aku tidak peduli jika semanis ini, secantik ini, 'ku beli bekas entah di mana, Senen atau Cikini. Aku berdansa berputar-putar dengan kenangan manisku sendiri, dengan khayalan-khalayan cinta yang tiada pernah nyata.
Sedang indera penciumanku terkadang dibelai harumnya cendana Jepang, aku tidak pernah mencium bunga kecil yang manapun. Jangankan kecil, bunga saja 'ku rasa tak pernah kucium. Mengendus diam-diam mungkin pernah, ketika sekelebat feromon menggelitik hidung. Sampai mencium tidak pernah, padahal aku tidak pernah terlalu pemilih mengenai bentuk. Mungkin aku seperti nenek moyangku yang tidak keberatan untuk melepas hajat pada Neanderthal betina, bahkan mungkin Erectus atau Ergaster sekalipun. Siapa pula peduli wajah asal susunya sebesar bola voli.
Ini mengapa cinta Aprilnya begini sampai nyaris tidak dikenali, dipercepat agak dua kali ketukannya. Biarlah terkadang konduktor atau aranjer suka sok cerdik, sepanjang dilanjut lagu dari kincir merah yang menanyakan di mana hatimu ketika kau melumat bibirku, lidahmu membelit lidahku, liurku bercampur dengan liurmu, terasa olehku gado-gadomu, terasa olehmu bir hitamku. Uah, ini entri karnal sekali aku tak peduli. Terkadang yang karnal begini memang rampak diketik begitu lancarnya. Di titik ini aku ambyar dari tepi jurang ke awan-awan tiada peduli dasar ngarai entah.
Tak perlu kancingkan celana karena celanaku memang tak berkancing. Bahkan celana lebah hitam kuning ini semacam berkancut begitu di dalamnya berjaring-jaring begitu. Ini lagi tafsir akan berjalan-jalan di hutan hitam sedap juga dibuat begini. Mantovani membuatnya terlalu melangutkan dengan jurus gesekan dawai berlapis-lapisnya. Ini dibuat ayunan dua ketukan begini terasa riang gembiranya, seperti melonjak-lonjak kegirangan meski di tengah hutan hitam. Tunggu, hutan hitam ini semacam kue atau rerimbunan di antara kedua paha Mama-san. Hahaha.
Anjay sungguh karnal viseral entri ini apa peduliku. Siang hari Minggu terik begini baguslah aku sepanjang hari berteduh di rumah dari pagi, tidak perlu sembalap dari mana ke manapun. Di bawah terik begini memang tidak ada pilihan lain kecuali bersembalap sembrani, berjalan justru di tepi sebelah kanan karena pembatas tengah-tengah jalan sering ditanami pepohonan yang sudah cukup rindang. Untung tidak habis dipangkas ketika masih musim badai kemarin. Meski mungkin tidak seindah sebuah tempat musim panas versi rendisi siapapun, ini rendisiku.
Ini apa dilanjut dan aku mencintainya. Di siang terik begini apalah artinya fakta bahwa aku mencintainya. Pernahkah aku bercinta di terik siang hari begini, ketika selangkangan baunya aujubile sapose kolor babe. Uah, mana dilanjut sebuah tempat musim panas yang merupakan bagian dari musik instrumental dansa ruang-bola besutan orkestra dawai-dawai huliwud sego liwud semlidud. Maka 'ku hentikan daftar-main acak-acakan spotifai dan langsung daku minta sepenuh albumnya. Dimulai dengan berkeliling dunia 'ku mencarimu. Memang cucok untuk siang terik begini.
Mana dilanjut dengan April di Portugal pulak. Ini memang hampir April meski tidak di Portugal, tetapi di tepian Cikumpa. Ini tempat yang jauh lebih nyaman menyenangkan ketimbang bagian manapun dari Portugal, aku yakin, meski semalaman jantungku terbakar gara-gara makan kuah gulai telur dan tahu dari telaga indah. Uah! Sampai. Sampai manapun aku tidak peduli jika semanis ini, secantik ini, 'ku beli bekas entah di mana, Senen atau Cikini. Aku berdansa berputar-putar dengan kenangan manisku sendiri, dengan khayalan-khalayan cinta yang tiada pernah nyata.
Sedang indera penciumanku terkadang dibelai harumnya cendana Jepang, aku tidak pernah mencium bunga kecil yang manapun. Jangankan kecil, bunga saja 'ku rasa tak pernah kucium. Mengendus diam-diam mungkin pernah, ketika sekelebat feromon menggelitik hidung. Sampai mencium tidak pernah, padahal aku tidak pernah terlalu pemilih mengenai bentuk. Mungkin aku seperti nenek moyangku yang tidak keberatan untuk melepas hajat pada Neanderthal betina, bahkan mungkin Erectus atau Ergaster sekalipun. Siapa pula peduli wajah asal susunya sebesar bola voli.
Ini mengapa cinta Aprilnya begini sampai nyaris tidak dikenali, dipercepat agak dua kali ketukannya. Biarlah terkadang konduktor atau aranjer suka sok cerdik, sepanjang dilanjut lagu dari kincir merah yang menanyakan di mana hatimu ketika kau melumat bibirku, lidahmu membelit lidahku, liurku bercampur dengan liurmu, terasa olehku gado-gadomu, terasa olehmu bir hitamku. Uah, ini entri karnal sekali aku tak peduli. Terkadang yang karnal begini memang rampak diketik begitu lancarnya. Di titik ini aku ambyar dari tepi jurang ke awan-awan tiada peduli dasar ngarai entah.
Tak perlu kancingkan celana karena celanaku memang tak berkancing. Bahkan celana lebah hitam kuning ini semacam berkancut begitu di dalamnya berjaring-jaring begitu. Ini lagi tafsir akan berjalan-jalan di hutan hitam sedap juga dibuat begini. Mantovani membuatnya terlalu melangutkan dengan jurus gesekan dawai berlapis-lapisnya. Ini dibuat ayunan dua ketukan begini terasa riang gembiranya, seperti melonjak-lonjak kegirangan meski di tengah hutan hitam. Tunggu, hutan hitam ini semacam kue atau rerimbunan di antara kedua paha Mama-san. Hahaha.
Anjay sungguh karnal viseral entri ini apa peduliku. Siang hari Minggu terik begini baguslah aku sepanjang hari berteduh di rumah dari pagi, tidak perlu sembalap dari mana ke manapun. Di bawah terik begini memang tidak ada pilihan lain kecuali bersembalap sembrani, berjalan justru di tepi sebelah kanan karena pembatas tengah-tengah jalan sering ditanami pepohonan yang sudah cukup rindang. Untung tidak habis dipangkas ketika masih musim badai kemarin. Meski mungkin tidak seindah sebuah tempat musim panas versi rendisi siapapun, ini rendisiku.


No comments:
Post a Comment