Kebotakanku ketidakberdayaan. Selop keemasan yang suatu hari nanti aku tidak akan ingat apa maksudnya kecuali 'ku guyurkan kode sebanyak-banyaknya dalam entri ini, sedang waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Kebotakanku dielus sepoi-sepoi hembusan pendingin udara sedang yang di rumah terus njeglek karena kurang daya. Tentu saja karena aku bukan Sersan Meriam McQuade. Ketidakmampuan mungkin yang membuatku tidak mampus. Dari mana aku sampai bisa tahu biru-biru Biloxi sedang yang 'ku maksud mungkin marinir biru bayi.
Namun aku seperti ingat adegan di rumah kucing itu. Kini pandanganku tak terhalang meski aku juga jadi kehilangan lindung tinjau. Apa butuhku padanya ketika bahkan aku tidak meninjau. Bahkan mencuri-curi pandang pun tidak, aku yang dapat menatap lurus pada mantan perwira proyek ilmu-pengetahuan-sasional. Aku yang diberi sesaset sambal korek. Aku yang takkan heran jika mereka ternyata seusia keponakanku tertua. Jika satu teh hijau dua melati ini sudah habis mungkin aku akan bergeser. Mungkin akan daku lanjutkan dengan secangkir air panas pembasuh gula.
Aku seorang moralis amoral. Aku yang hanya bisa berbicara mengenai diriku sendiri karena tidak mau bohong meski pembual besar. Kesegaran seperti diguyurkan perlahan pada botak-botaknya kepala dan gendut-gendutnya perut seperti topi air yang sebenarnya gayung penuh berisi air, yang ditutupkan cepat-cepat ke atas kepala agar menetes perlahan airnya. Setelah agak lama diangkat tiba-tiba dan kesegaran seperti mengguyur. Aku yang botaknya gendut sudah tidak butuh kesegaran macam itu, meski gendutku belum botak; masih berambut ia di bawah pusar dan seterusnya.
Ternyata ada biangnya. Sudah khawatir tadi aku (halah!) Biang seperti apapun sudah tidak banyak berpengaruh padaku, saking tuaku, saking gendut botakku, karena, seperti 'ku katakan tadi, gendutku belum botak. Jangan pula kau kata ini puitis, arus kesadaran, swadefekasi dan sebagainya itu. Ini kepilusan. Ini keputusibauan. Ini seperti sudah tidak punya tujuan. Ini seperti kleyang kabur kanginan, meski kuyakin Marthen tidak begitu. Hanya namanya saja Kanginan. Terlihat jelas sepenuh hadap biangnya: Tiada mengubah apapun aku dari sediakalanya.
Ternyata lebih dari sekadar itu. Ternyata aku intelek, yakni, berada tepat di tengah-tengah sungai tembelek lincung tanpa dayung. Jika pun ada arusnya, pasti tidak deras. Pasti lamban alirannya. Kau tahu aku. Jangankan cuma tahi ayam sesungai penuh, samudera tahi orang pun akan 'ku arungi demi mendapatimu. Namun kau pasti akan segera lari menjauh dariku. Jangankan itu. Kau tidak akan mendekati pantainya. Bayangkan, sepenuh samudera. Sedangkan seclepretan di celana saja sedapnya sudah aujubile. Ketika sampai aku di pantai, dikau sudah tiada.
Kesedapan yang sudah 'ku tekadkan untuk tidak pernah merasakan di punggung bumi ini, bahkan aku tidak mau memikirkannya di mana pun. Entah api itu menyambar, entah apa yang disambarnya, meski berkali-kali. Bukan berarti aku belum pernah mencecap, uah, menyesap kesedapan; dan untuk itu tiada putus aku bersyukur sekaligus minta ampun. Kesedapan sesedikit apapun pasti ditanyakan, dimintai pertanggungjawaban, apalagi duit, duit, duit dari 2011. Di sini aku berhenti dulu. Entah mengapa aku ingin pulang sekarang, tepat di sini ini.
Ternyata belum bisa. Di luar hujan deras dan aku tidak mau basah. Aku kembali mengitiki, seperti biasa, ketiak sendiri. Tiada yang 'ku buat geli, bahkan tidak aku sendiri, karena aku berzirah emas hasil latihan di Shaolin dulu. Tiada banyak gunanya. Minggu lalu bahkan aku melukai jariku dengan pada kedua tangan dengan ujung rak pameran museum jelek FHUI dan kawat pengikat pintu hokben GDC. Kini aku benar-benar seorang diri menunggu redanya hujan, sedang gerimis pun tiada di hatiku, apatah lagi hujan. Di pojokan sini aku bergeser, mengitiki 'ku seorang diri.
Namun aku seperti ingat adegan di rumah kucing itu. Kini pandanganku tak terhalang meski aku juga jadi kehilangan lindung tinjau. Apa butuhku padanya ketika bahkan aku tidak meninjau. Bahkan mencuri-curi pandang pun tidak, aku yang dapat menatap lurus pada mantan perwira proyek ilmu-pengetahuan-sasional. Aku yang diberi sesaset sambal korek. Aku yang takkan heran jika mereka ternyata seusia keponakanku tertua. Jika satu teh hijau dua melati ini sudah habis mungkin aku akan bergeser. Mungkin akan daku lanjutkan dengan secangkir air panas pembasuh gula.
Aku seorang moralis amoral. Aku yang hanya bisa berbicara mengenai diriku sendiri karena tidak mau bohong meski pembual besar. Kesegaran seperti diguyurkan perlahan pada botak-botaknya kepala dan gendut-gendutnya perut seperti topi air yang sebenarnya gayung penuh berisi air, yang ditutupkan cepat-cepat ke atas kepala agar menetes perlahan airnya. Setelah agak lama diangkat tiba-tiba dan kesegaran seperti mengguyur. Aku yang botaknya gendut sudah tidak butuh kesegaran macam itu, meski gendutku belum botak; masih berambut ia di bawah pusar dan seterusnya.
Ternyata ada biangnya. Sudah khawatir tadi aku (halah!) Biang seperti apapun sudah tidak banyak berpengaruh padaku, saking tuaku, saking gendut botakku, karena, seperti 'ku katakan tadi, gendutku belum botak. Jangan pula kau kata ini puitis, arus kesadaran, swadefekasi dan sebagainya itu. Ini kepilusan. Ini keputusibauan. Ini seperti sudah tidak punya tujuan. Ini seperti kleyang kabur kanginan, meski kuyakin Marthen tidak begitu. Hanya namanya saja Kanginan. Terlihat jelas sepenuh hadap biangnya: Tiada mengubah apapun aku dari sediakalanya.
Ternyata lebih dari sekadar itu. Ternyata aku intelek, yakni, berada tepat di tengah-tengah sungai tembelek lincung tanpa dayung. Jika pun ada arusnya, pasti tidak deras. Pasti lamban alirannya. Kau tahu aku. Jangankan cuma tahi ayam sesungai penuh, samudera tahi orang pun akan 'ku arungi demi mendapatimu. Namun kau pasti akan segera lari menjauh dariku. Jangankan itu. Kau tidak akan mendekati pantainya. Bayangkan, sepenuh samudera. Sedangkan seclepretan di celana saja sedapnya sudah aujubile. Ketika sampai aku di pantai, dikau sudah tiada.
Kesedapan yang sudah 'ku tekadkan untuk tidak pernah merasakan di punggung bumi ini, bahkan aku tidak mau memikirkannya di mana pun. Entah api itu menyambar, entah apa yang disambarnya, meski berkali-kali. Bukan berarti aku belum pernah mencecap, uah, menyesap kesedapan; dan untuk itu tiada putus aku bersyukur sekaligus minta ampun. Kesedapan sesedikit apapun pasti ditanyakan, dimintai pertanggungjawaban, apalagi duit, duit, duit dari 2011. Di sini aku berhenti dulu. Entah mengapa aku ingin pulang sekarang, tepat di sini ini.
Ternyata belum bisa. Di luar hujan deras dan aku tidak mau basah. Aku kembali mengitiki, seperti biasa, ketiak sendiri. Tiada yang 'ku buat geli, bahkan tidak aku sendiri, karena aku berzirah emas hasil latihan di Shaolin dulu. Tiada banyak gunanya. Minggu lalu bahkan aku melukai jariku dengan pada kedua tangan dengan ujung rak pameran museum jelek FHUI dan kawat pengikat pintu hokben GDC. Kini aku benar-benar seorang diri menunggu redanya hujan, sedang gerimis pun tiada di hatiku, apatah lagi hujan. Di pojokan sini aku bergeser, mengitiki 'ku seorang diri.


No comments:
Post a Comment