Jangan asal bangsat. Ada beberapa pilihan selain ini, bangsa dan bangga setidaknya. Namun bagaimana mau berbangga jika tidak berbangsa. Apa yang dapat dibanggakan dari kebangsatan. Yang ada malah blingsatan. Sitipu-tipu berjongkok penuh sampai paha menempel pada betis, bahkan kedua lututnya dipeluk. Ia memonyongkan bibir seperti meminta sehisap Djarum Cokelat atau Gudang Garam Merah. Yugembit menyumpalkan sebatang ke bibir monyongnya. Sitipu-tipu berkepul-kepul lepas tangan, sedang Yugembit telentang menutupi bagian pribadi dengan secarik kain.
Benar-benar secarik. Sitipu-tipu melirik, mencoba mengukur hanya dengan sudut mata. Seratus sentimeter persegi paling banyak. Yugembit, demi lihat mata Sitipu-tipu melirik bagian pribadinya, menempeleng Sitipu-tipu dengan kakinya yang gemuk. Ditempeleng kaki segemuk itu, Sitipu-tipu yang hanya selembar dua baris melayang setidaknya dua tombak masuk comberan. Ketika melayang itu ia sempat menganga melepas rokok dari bibirnya, yang segera dipetik di udara dengan jari-jari kaki Yugembit. Rokok disumpal bibir, Yugembit membetulkan letak kain.
Yugembit adalah mamanya Siti Aisah, atau Yugembit itu nama anaknya, atau itulah panggilan Siti Aisah. Tiada seorang pun mengetahui dengan pasti. Namun orang sering memanggilnya Mama Yugembit. Demikian pula, Sitipu-tipu yang kini tersuruk kepalanya masuk comberan, sering disangka suaminya dan papa Siti Aisah, maka ia pun dipanggil Papa Yugembit. Memang tidak penting apa nama-nama mereka sebenarnya. Jika terlihat papa-papa selembar dua baris, itu mungkin Papa Yugembit. Jika ada mama-mama gemuk serba sentosa, itu mungkin Mama Yugembit.
Siti Aisah, ah, apa harus dikata. Apa arti hahu alaisaisu atau desadesu. Apapun itu, satu kali satu sinyorita. Sinyorita-sinyorita dari Afrika dioles jinggo-jinggo remason berkali-kali sampai mereka ngetril ngacir tak habis pikir. Kali lain ketika mencoba membuat sinyorita-sinyorita ini menggeleng, cukup ditanya saja apa mau jinggo-jinggo remason. Bahkan mungkin tidak perlu sampai ditanya. Cukup dibisiki dari belakang: Jinggo Remason. Kontan sinyorita-sinyorita ini akan menggeleng sambil meringkik lemah, meringkih lemak. Manasuka siaran niaga bagian kedua.
Di titik ini entah mengapa Dian Sastrowa hampir mendatangi (atau datang menghampiri). Telinga-telinga caplangnya berkelepak-kelepak. Ini sama saja dengan Cut Walang Keke yang hidung atau apanya seperti tikus. Memang tikus seperti apa mengendus-endus, kumis misainya dihembus-hembus. Papa Yugembit mencabut kepala celakanya dari dalam comberan demi merasakan kelepakan dan pengendusan. Ia memang seorang perasa. Tak dirasakannya lagi sakit tempelengan Mama Yugembit yang entah istrinya entah bukan itu. Ia hanya ingin kelepakan dan endusan sekarang.
Mama Yugembit setengah acuh seperempat tak-acuh bangkit dari ketelentangannya. Telah dilupakannya secarik kain yang menutupi bagian pribadinya, yang memang seperti bahan tertawaan ketika empal gondrongnya ke mana-mana. Entah dari mana sehelai benang menghiasi ubun-ubunnya, mungkin agar ia tidak cegukan. Kali ini, Mama Yugembit menarik tinggi-tinggi kaki gemuknya ke belakang seperti seorang pegulat sumo. Sampai condong badan tambunnya ke depan, menjejak tanah nangka-nangka belanda. Dia ancang-ancang menendang Papa Yugembit.
Dhiesh! Untunglah hanya selembar dua baris, maka ditendang dengan energi kinetik sebesar itu Papa Yugembit hanya berhahu alaisaisu. Melayang ia melambai-lambai. Siti Aisah melihatnya seperti sedang melambai-lambai kepadanya. Apa pedulinya jika ia suami mamanya atau bukan. Bahkan ia tidak peduli jika Yugembit benar-benar mamanya atau tidak. Siti balas melambai-lambai. Ketika Mama Yugembit mengangkat lengannya, dikira akan melambai juga, ternyata rambut-rambut ketiaknya melambai-lambai. Kali ini Papa Yugembit tidak lagi nyusruk ke comberan.
Benar-benar secarik. Sitipu-tipu melirik, mencoba mengukur hanya dengan sudut mata. Seratus sentimeter persegi paling banyak. Yugembit, demi lihat mata Sitipu-tipu melirik bagian pribadinya, menempeleng Sitipu-tipu dengan kakinya yang gemuk. Ditempeleng kaki segemuk itu, Sitipu-tipu yang hanya selembar dua baris melayang setidaknya dua tombak masuk comberan. Ketika melayang itu ia sempat menganga melepas rokok dari bibirnya, yang segera dipetik di udara dengan jari-jari kaki Yugembit. Rokok disumpal bibir, Yugembit membetulkan letak kain.
Yugembit adalah mamanya Siti Aisah, atau Yugembit itu nama anaknya, atau itulah panggilan Siti Aisah. Tiada seorang pun mengetahui dengan pasti. Namun orang sering memanggilnya Mama Yugembit. Demikian pula, Sitipu-tipu yang kini tersuruk kepalanya masuk comberan, sering disangka suaminya dan papa Siti Aisah, maka ia pun dipanggil Papa Yugembit. Memang tidak penting apa nama-nama mereka sebenarnya. Jika terlihat papa-papa selembar dua baris, itu mungkin Papa Yugembit. Jika ada mama-mama gemuk serba sentosa, itu mungkin Mama Yugembit.
Siti Aisah, ah, apa harus dikata. Apa arti hahu alaisaisu atau desadesu. Apapun itu, satu kali satu sinyorita. Sinyorita-sinyorita dari Afrika dioles jinggo-jinggo remason berkali-kali sampai mereka ngetril ngacir tak habis pikir. Kali lain ketika mencoba membuat sinyorita-sinyorita ini menggeleng, cukup ditanya saja apa mau jinggo-jinggo remason. Bahkan mungkin tidak perlu sampai ditanya. Cukup dibisiki dari belakang: Jinggo Remason. Kontan sinyorita-sinyorita ini akan menggeleng sambil meringkik lemah, meringkih lemak. Manasuka siaran niaga bagian kedua.
Di titik ini entah mengapa Dian Sastrowa hampir mendatangi (atau datang menghampiri). Telinga-telinga caplangnya berkelepak-kelepak. Ini sama saja dengan Cut Walang Keke yang hidung atau apanya seperti tikus. Memang tikus seperti apa mengendus-endus, kumis misainya dihembus-hembus. Papa Yugembit mencabut kepala celakanya dari dalam comberan demi merasakan kelepakan dan pengendusan. Ia memang seorang perasa. Tak dirasakannya lagi sakit tempelengan Mama Yugembit yang entah istrinya entah bukan itu. Ia hanya ingin kelepakan dan endusan sekarang.
Mama Yugembit setengah acuh seperempat tak-acuh bangkit dari ketelentangannya. Telah dilupakannya secarik kain yang menutupi bagian pribadinya, yang memang seperti bahan tertawaan ketika empal gondrongnya ke mana-mana. Entah dari mana sehelai benang menghiasi ubun-ubunnya, mungkin agar ia tidak cegukan. Kali ini, Mama Yugembit menarik tinggi-tinggi kaki gemuknya ke belakang seperti seorang pegulat sumo. Sampai condong badan tambunnya ke depan, menjejak tanah nangka-nangka belanda. Dia ancang-ancang menendang Papa Yugembit.
Dhiesh! Untunglah hanya selembar dua baris, maka ditendang dengan energi kinetik sebesar itu Papa Yugembit hanya berhahu alaisaisu. Melayang ia melambai-lambai. Siti Aisah melihatnya seperti sedang melambai-lambai kepadanya. Apa pedulinya jika ia suami mamanya atau bukan. Bahkan ia tidak peduli jika Yugembit benar-benar mamanya atau tidak. Siti balas melambai-lambai. Ketika Mama Yugembit mengangkat lengannya, dikira akan melambai juga, ternyata rambut-rambut ketiaknya melambai-lambai. Kali ini Papa Yugembit tidak lagi nyusruk ke comberan.


No comments:
Post a Comment