Friday, March 06, 2026

Payung Kecil Dalam Tas Ransel Hijau Rina-Rini. Aku


Mana yang mau 'ku tulis lebih dulu, fakta bahwa Februari sudah berlalu dan sekarang sudah Maret, maka Februari berhentilah di tujuh, atau kenanganku mengenai payung dan satu set bolpoin dan pensil mekanik yang 'ku beli di tokonya Bang Ippul Barel. Ini sudah masuk Maret, Imlek sudah lama berlalu, tetapi hujan masih saja mengguyur. Gerimis halus menderas atau hujan deras sekalian. BMKG menyebutnya cuaca ekstrem. Mengapa tidak hari-hari berhujan saja. Mau ringan, sedang, lebat, sangat lebat sama saja, asalkan ada tempat berteduh, asalkan bajuku tetap kering.
Terasa agak menyenangkan juga, di pagi hari dingin berhujan begini, mengenang-ngenang awal 2008. Ketika itu baru saja aku menyandang gelar sarjana hukum. 'Ku rasa rasanya sama saja. Mau sarjana hukum, mau emesce dalam kebijakan publik dan pembangunan manusia dengan spesialisasi pembangunan berkelanjutan, mau doktor antropologi hukum, sama saja. Puji Tuhan aku merasa sehat-sehat saja, meski tumitku agak sakit jika dibawa berjalan. Ah, lebih baik kembali lagi ke awal 2008 itu. Rian dan Togar baru saja menyelesaikan semester satu. Aku masih muda.

Payung itu 'ku rasa juga 'ku beli di tempatnya Santiago dan Lemonado. Pensil mekanik itu 'ku rasa yang terakhir 'ku beli dalam hidupku, kalau bukan yang pertama pula. Seingatku isinya tidak habis-habis sampai lama sekali. Jangan-jangan masih ada sampai sekarang. Bolpoinnya dari beli sudah rusak. Kalau tidak salah pada saat itu aku baru punya bolpoin Pilot warna hijau yang dulu sangat disukai Ibu, yang 'ku hilangkan waktu kelas 3 SD, yang tidak berani 'ku laporkan pada Ibu sampai lama, yang ketika akhirnya ketahuan aku dicubiti habis-habisan sampai lepas kulit dagingku.

Payung itu dulu seingatku ringan, 'ku bawa-bawa dalam tas hijau rina-riniku, yang 'ku rasa tak mungkin 'ku beli sendiri, atau mungkin saja. Tas itu aku suka karena kesederhanaannya. Sebetulnya tidak banyak yang betul-betul terjadi dalam hidupku, sampai tas hijau sederhana itu saja 'ku kenang-kenang. Ia dibuang oleh adikku agar aku mau memakai tas ransel darinya, yang akhirnya 'ku bawa pula ke Maastricht, robek pula ketika aku jatuh dari motor agak di depan Pancasila. Astaga, dalam waktu hanya tiga tahun, 2007-2009, ternyata banyak juga kenangan aduhai terjadi padaku.

Ya, mungkin pada saat itu masih cukup banyak saputanganku warna merah jambu membawa berjuta kenangan ayu. Di sekitar waktu itu pula ada pembuat kue tergila-gila padaku. Ini tergila-gila sungguh-sungguh, bukan menggilai dan mengelu-elukan. Ah, kembali ke payung, adakah ia 'ku bawa ke PTUN Jakarta di Pulo Gebang itu, di 2007, yang masih banyak tanah lapang, yang ada sapi ditambatkan di bawah hujan deras tak henti-henti, yang membuatku kasihan kepadanya, yang membuatku menunggu seharian di sana. yang 'ku kunjungi lagi di 2025 'dah berubah sama sekali.

Ketika itu ke Pulo Gebang aku naik kendaraan umum. Bagaimana caranya 'ku tahu sasaran (trayek/rute) kendaran umum ke sana. Sudah adakah google map ketika itu. Aku masih muda ketika itu, baru 31 tahun belum juga lulus kuliah sarjana. Ditugasi Bu Anna mencari putusan spesifik nomornya, yang harus membayar untuk mendapatkannya. Seingatku aku menunggu di mesjid. Aku tidak ingat makan apa ketika itu. Yang 'ku ingat, bangunan pengadilannya masih jelek. Tidak jauh dari SD inpres. Tahun 2025 ketika aku ke sana lagi sudah sebegitu megahnya, AC di mana-mana.

Ini cuma kenangan mengenai bagaimana waktu berlalu. Tahun-tahun berkelebatan seperti pemandangan dari jendela woosh yang aku belum pernah naik, apalagi shinkansen hayabusha, tidak kepingin juga. Hidup yang 'ku sangka begini-begini saja ternyata banyak kejadiannya sedih dan gembira. Terasa begini-begini saja karena tidak seperti yang 'ku khayalkan atau 'ku percaya. Padahal aku pernah menunggu lama di LIA Pramuka, sampai berjalan-jalan ke belakangnya mencari ATM, sholat di mesjid entah apa. Cukup banyak juga tempat telah daku kunjungi dalam hidupku.

No comments: