Friday, May 08, 2026

Cintaku Terpana di Bibir Merona. Bima Sakti Cisarua


Aku teringat padamu. Aku ingat kamu. Tidak perlu teringat karena setiap hari selalu terlihat. Sejauh mata memandang, ke mana saja pandangan diarahkan bahkan ditebarkan, yang ada hanya engkau. Bukan kau yang terasa nyaman. Mungkin kau memang indah, tapi kenyamanan ini tidak mungkin dihasilkan dari pandangan saja. Ini kenyamanan yang membelai gendang-gendang telinga, menembusi pori-pori seperti udara sejuk pegunungan atau mandi air yang hangat sekali. Ini kenyamanan yang justru dialami ketika memejamkan mata, karena bebunyian 'tu 'ngilhami.
Terkadang aku berkhayal mengenai rasa. Terkadang, dalam khayalku, rasanya manis. Mustahil. Rasanya pasti asin lagi getir. Gurih masih mungkinlah. Ketika bahkan bau pencretan kering dapat tercium seperti terasi atau ikan asin, maka bau adalah tantangan tersendiri. Seperti kentang ketantang, seperti itulah aku menyambut bebauan. Namun ini bebauan yang tentu saja sedap. Sungguh bermacam-macam kini baunya. Tidak seperti dahulu. Terkadang malah bau manis seperti kue. Mungkin itulah sebabnya terasa manis dalam khayal: Bau vanila juga bebumbuan.

Rasa gurih itu tergantung pada makanan terakhirnya. Jika baru memakan permen atau pencuci mulut yang variasinya bisa coklat, kue, atau permen, tentu manis rasanya. Jika habis sikat gigi apalagi berkumur dengan obat rasanya kesat dan kelat, atau tidak ada rasanya sama sekali. Begitu juga dengan nafas dapat tercium gurih atau manis tergantung khayalanmu. Bernafas di mana pun, terutama di telinga dapat membuat telinga menjadi basah kuyup, karena nafasmu menghembuskan juga uap air selain zat asam arang. Terganggu ia, terpaksa berhenti dulu mengucek-ucek telinga.

Astaga, memang sedap bukan buatan suatu malam yang mempesona Arthur Garfunkel. Apakah akan selalu dikaitkan dengan seekor merpati putih dalam bahasa Spanyol, aduh, ini kode kebangetan. Di sini aku tak berdaya, merentangkan tangan, meraihkannya tinggi-tinggi ke awan-awan. Tidak ada niatku menyusul merpati putih atau belang sekalipun. Aku tak peduli ia terbang ke mana atau malah sudah jadi merpati goreng kering dipenyet di atas peperan sambal korek. Ketika aku angkat tinggi-tinggi lengan-lenganku, ketiak-ketiakku putih feminim. Sudah daku duga.

Segelas besar McCafe ukuran 400 ml teh dandang gula sudah hampir habis. Sebentar lagi akan 'ku seduh ulang dengan air yang hangat sekali dari dispenser yang tidak membosankan, karena warnanya hitam. Senyaman-nyamannya malam yang mempesona membuatku enggan beranjak mengangkat pantat, maka 'ku biarkan ia tetap menempel di situ. Apalagi sekarang hidup cuma sekadar mimpi, buruk atau indahnya tidak pernah dapat dikendalikan. Jalani saja impian seperti engkau menjalani hidup. Baik-buruknya suka-dukanya kau 'ndiri yang merasakan, meureun.

Lidah menjalari leher sekujurnya, dari depan, kanan, belakang, kiri kembali ke depan lagi, mengumpulkan garam-garam lebih baik daripada bedak atau apapun itu. Lidahku melata-lata malah engkau yang mendesis-desis. Apa kita semacam penghuni Slytherin atau penutur parseltongue sekalian. Anakonda, titanoboa, bahkan kini ada Vasuki Indica. Tidak perlu gaya-gaya'an. Aku ular kau kadutnya. Aku badut kau ancolnya. Pagut-memagut, gigit-geligit jangan sampai meninggalkan cupangan, karena kita ular bukan ikan aduan. Kloaka-kloaka kita saling bertangkup berpagutan.

Aku hanya punya mata-mata untukmu, Sayang. Kau tahu mata ular 'kan: membius mempesonakan, tidak merah seperti mata Voldemort. Dia sih bukan ular melainkan anak tongkrongan begadang semalaman minum arak campur anggur obat. Kita ini ular-ular sungguh-sungguh. Iwan Fals pasti bukan anak biologi ketika bersyair bapakku harimau ibuku ular. Bagaimana bisa. Ular melata-lata menjalar-jalar selalu kian-kemari jangan dikira tidak punya harkat dan martabat. Ular tidak pernah berbohong apalagi berkhianat. Ular-ular perang selalunya dipasang pada tiang utama.

No comments: