Seorang lelaki dan seorang perempuan, keduanya jelita (jelang lima puluh tahun). Ketika sulit memastikan hidup beruntung, maka setidaknya jangan sampai merugi. Impas saja, sedang Paul Mauriat dari hampir sepuluh tahun lalu masih saja melantunkan bunyi-bunyian cantik. Jika kau heran mengapa ragaan indrawi di sini lebih sering mengenai bebauan dan bebunyian, karena memang pemandangannya selalu begitu-begitu saja. Seperti sekarang ini, aku duduk di kursi favorit semua orang; setidaknya Bu Cici, Hari Prasetiyo, Bang Son jika sedang ke mari, dan aku.
Sepanjang minggu ini akhirnya hari-hari berhujan dari minggu kemarin sudah berakhir, digantikan dengan cuaca cerah cenderung terik namun tidak gerah apalagi memanggang. Ya, ketika shalat bahkan sebelum tidur di malam hari badan agak berkeringat, tapi itu pun sudah begitu dalam hari-hari berhujan kemarin. Jika sekadar dapat memandang hijaunya dedaunan di luar apabila melirik ke kanan, itu sudah cukup. Tidak perlu sampai gunung hijau kebiruan menjulang tinggi dengan sawah hutan menghampar di kakinya, apalagi sampai repot-repot mendatangi ke sana.
Itu dulu pemandanganku sehari-hari selama sekitar tiga tahun, antara 1991 sampai 1994 ditambah beberapa bulan. Kenangan mengenainya saja sudah cukup bagus. Masih dapat 'ku rasakan segarnya udara 'ku hirup ke dalam paru-paruku, sejuknya hawa membelai kulitku, dinginnya air mengguyur badanku. Bahkan ketika aku tidak sikat gigi sekalipun selama empat bulan lebih, semua sensasi itu masih bersamaku, 'ku rasa. Sejuknya ruangan berpendingin udara dari sepuluh tahun lalu, dengan bunyi-bunyian cantik dan pemandangan berganti-ganti di rumah aku dilahirkan.
Keponakanku laki=laki ketika itu baru saja masuk sekolah dasar, dan kakeknya masih ada. Sepuluh tahun kemudian, ia akan segera masuk sekolah lanjutan tingkat atas, dan kakeknya sudah tiada. Perutku sepuluh tahun lalu masih nyaman-nyaman saja diikat dengan gesper. Sekarang aku membutuhkan penggantung celana agar ia tidak melorot. 'Ku rasa memang banyak entriku mengenai perjalanan waktu. Nyatanya memang aku sudah hidup nyaris setengah abad. Jadi memang sudah cukup banyak waktu 'ku jalani. Oya, habis ini akan 'ku pelajari lagi mengenai teori dawai.
Oya ya, nasib, nasibku jelas bukan nasibmu membawaku kembali ke Cipinang Jaya. Entah di lantai berapa, Pak Guru menggenjreng gitarnya malam-malam, terkadang malah meniup seruling Sunda yang menyayat hati bunyinya. Aku tidak tahu bagaimana untuk mencintaimu, Yesus Kristus Superstar. Begitu banyak waktu, begitu banyak tempat telah aku lalui, kunjungi. Aku pernah berak di Istana Bogor, Kementerian Pertahanan sampai Mabes ABRI di Cilangkap. Sampai kini aku ngeri membayangkan berak di Museum Waspada Purbawisesa di Lubang Buaya.
Aku bahkan pernah terbirit-birit ke kakus terdekat dari balsem FISIP UI. Tanpa 'ku sadari aku termencret-mencret di WC perempuan saking kebeletnya. Keluarnya itu yang susah. Setelah 'ku tunggu agak lama, setelah ada satu dua yang mengetuk-ngetuk pintu dan 'ku ketuk balik, setelah benar-benar sepi aku menyelinap keluar. 'Ku rasa tiada yang menyadari. Aku bahkan pernah berlari mendahului barisan untuk menyelinap masuk ke dalam kebun singkong melepas hajat dalam pakaian dinas lapangan tempur lengkap. Seorang ibu memandangi aku keheranan.
Permainan terlarang itu adanya di selamat tinggal, Cintaku, selamat tinggal bersama sakit cinta. Aku tidak pernah mengizinkan diriku terjangkitnya. Jangankan sakit, jatuh cinta saja aku tidak pernah kecuali kepada istriku cantik sendiri satu-satunya. Jangan-jangan aku tidak pernah membiarkan diriku menginginkan apapun yang bukan milikku. Karena kalau sudah milik sendiri buat apa diinginkan lagi. Cukup dinikmati sekadarnya sambil terus berterima kasih kepada yang telah menitipkannya kepadaku, selalu sadar bahwa titipan harus dikembalikan.
Sepanjang minggu ini akhirnya hari-hari berhujan dari minggu kemarin sudah berakhir, digantikan dengan cuaca cerah cenderung terik namun tidak gerah apalagi memanggang. Ya, ketika shalat bahkan sebelum tidur di malam hari badan agak berkeringat, tapi itu pun sudah begitu dalam hari-hari berhujan kemarin. Jika sekadar dapat memandang hijaunya dedaunan di luar apabila melirik ke kanan, itu sudah cukup. Tidak perlu sampai gunung hijau kebiruan menjulang tinggi dengan sawah hutan menghampar di kakinya, apalagi sampai repot-repot mendatangi ke sana.
Itu dulu pemandanganku sehari-hari selama sekitar tiga tahun, antara 1991 sampai 1994 ditambah beberapa bulan. Kenangan mengenainya saja sudah cukup bagus. Masih dapat 'ku rasakan segarnya udara 'ku hirup ke dalam paru-paruku, sejuknya hawa membelai kulitku, dinginnya air mengguyur badanku. Bahkan ketika aku tidak sikat gigi sekalipun selama empat bulan lebih, semua sensasi itu masih bersamaku, 'ku rasa. Sejuknya ruangan berpendingin udara dari sepuluh tahun lalu, dengan bunyi-bunyian cantik dan pemandangan berganti-ganti di rumah aku dilahirkan.
Keponakanku laki=laki ketika itu baru saja masuk sekolah dasar, dan kakeknya masih ada. Sepuluh tahun kemudian, ia akan segera masuk sekolah lanjutan tingkat atas, dan kakeknya sudah tiada. Perutku sepuluh tahun lalu masih nyaman-nyaman saja diikat dengan gesper. Sekarang aku membutuhkan penggantung celana agar ia tidak melorot. 'Ku rasa memang banyak entriku mengenai perjalanan waktu. Nyatanya memang aku sudah hidup nyaris setengah abad. Jadi memang sudah cukup banyak waktu 'ku jalani. Oya, habis ini akan 'ku pelajari lagi mengenai teori dawai.
Oya ya, nasib, nasibku jelas bukan nasibmu membawaku kembali ke Cipinang Jaya. Entah di lantai berapa, Pak Guru menggenjreng gitarnya malam-malam, terkadang malah meniup seruling Sunda yang menyayat hati bunyinya. Aku tidak tahu bagaimana untuk mencintaimu, Yesus Kristus Superstar. Begitu banyak waktu, begitu banyak tempat telah aku lalui, kunjungi. Aku pernah berak di Istana Bogor, Kementerian Pertahanan sampai Mabes ABRI di Cilangkap. Sampai kini aku ngeri membayangkan berak di Museum Waspada Purbawisesa di Lubang Buaya.
Aku bahkan pernah terbirit-birit ke kakus terdekat dari balsem FISIP UI. Tanpa 'ku sadari aku termencret-mencret di WC perempuan saking kebeletnya. Keluarnya itu yang susah. Setelah 'ku tunggu agak lama, setelah ada satu dua yang mengetuk-ngetuk pintu dan 'ku ketuk balik, setelah benar-benar sepi aku menyelinap keluar. 'Ku rasa tiada yang menyadari. Aku bahkan pernah berlari mendahului barisan untuk menyelinap masuk ke dalam kebun singkong melepas hajat dalam pakaian dinas lapangan tempur lengkap. Seorang ibu memandangi aku keheranan.
Permainan terlarang itu adanya di selamat tinggal, Cintaku, selamat tinggal bersama sakit cinta. Aku tidak pernah mengizinkan diriku terjangkitnya. Jangankan sakit, jatuh cinta saja aku tidak pernah kecuali kepada istriku cantik sendiri satu-satunya. Jangan-jangan aku tidak pernah membiarkan diriku menginginkan apapun yang bukan milikku. Karena kalau sudah milik sendiri buat apa diinginkan lagi. Cukup dinikmati sekadarnya sambil terus berterima kasih kepada yang telah menitipkannya kepadaku, selalu sadar bahwa titipan harus dikembalikan.


No comments:
Post a Comment