Aku si penyair tolol, pertapalsu. Aku memulai entri ini tanpa menyiapkan pemegang tempat, saking kebeletnya ingin memberaki diri sendiri, ya, swadefekasi. Kau tahu 'kan, suatu piranti sastrawi, yang terkadang juga digunakan sebagai taktik komedi. Orang cenderung suka swadefekasi ketimbang defekasi, kecuali, ya, mungkin, kecuali kau Tobias Temple. Sedang pertapalsu itu tidak ada kaitannya dengan pertalite apalagi pertamax. Itu adalah kontraksi dari pertapa dan palsu. Agar bunyi 'pa' tidak redundan, dikontraksi menjadi begitu. Tak diilhami oleh taksi palsu
Hahaha, orang Indonesia (atau orang Depok saja) memang gabutnya 'ga kaleng-kaleng. Ada pula astrea atau supra fit palsu. Buat apa. Bahkan ide aslinya saja sudah absurd, meski tentu saja tidak perlu dibahas. Namun karena ada palsu-palsu bikinan Depok ini, ada baiknya dipikirkan. Aslinya 'kan, pura-puranya, taksi yang ternyata pengemudinya pelaku kekerasan seksual residivis. Oh, jika begini jadi masuk akal. Jadi pemasang palsu ini seperti mengiklankan diri sendiri sebagai pelaku kekerasan seksual residivis, apapun kendaraannya. Apa harus dipersekusi, dimaki-maki 'gitu.
Padahal sebelum membuka Axioo penuh dengan gagasan luhur macam Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu, Cupu Manik Astagina berisi Tirta Pawitra Sari dan sebagainya itu. Namun mungkin karena aku terlanjur memaki diri sendiri sebagai tolol dan palsu meski penyair dan pertapa, jadinya begini. Kenyataan bahwa aku baru membelanjakan sekitar EUR 4 lebih hanya untuk sarapan memang membuatku layak untuk dimaki-maki, sedang di tepi Margonda begini. Di luar sana sudah panas tapi aku nyaman berpendingin udara, meski ribut musiknya begini.
Berbulan-bulan yang 'ku hasilkan hanya entri-entri. Tidak juga. Ada buku saku tak-laku. Nah, di sini ini. Semua buku yang pernah 'ku buat memang tidak ada yang laku. Bagaimana mau laku. Menulis sendiri, ditata-letak sendiri, sampul didesain sendiri, dicetak sendiri, diterbitkan sendiri, diberi kata sambutan sendiri, semuanya sendiri. Dari sejak adik membuat buletin untuk QUE project sampai hari ini begitu saja bisaku. Uah, aku merasa seperti seekor zebra yang baru keluar buntutnya. Mengapa zebra yang satu itu bisa masuk begitu buntutnya, lainnya juga bisa digegerakkan.
Mungkin memang semua orang sebetulnya segabut aku, setidaknya mungkin sesama orang Depok. Apa iya Bang Didi dari dulu bisanya membuat bir pletok saja. Tadi sempat terpikir mengenai hidup dan mati, ya, itu ketika masih terpikir gagasan-gagasan luhur. Kini gagasan sekadar mulur lalu mungkret lagi. Jadi kalau aku sampai bisa menghabiskan EUR 5 sekali duduk sampai berkali-kali, itu sama sekali bukan prestasi. Lebih tepat jika waspada. Mungkin lebih tepat seperti kucing gelandangan itu, yang bulunya awut-awutan. Mendekam di sana mungkin lapar kucingnya.
Aku pulang saja, melangkah gontai melewati deretan ruko Cimone Permai, membuang muka ke kiri karena di kanan ada tempat penyewaan kaset video memajang poster hantu pocong besar sekali. Mengapa harus membuang muka, karena ia tidak di dalam tanah. Jika di dalam tanah tidak ada yang harus melihatnya. Ia 'kan seharusnya berada di dalam tanah, mengapa malah dipajang begitu khayalan mengenainya, menakut-nakuti anak kecil saja. Itu dari hampir 40 tahun lalu. Sampai 40 tahun kemudian masih saja begitu, tanda tak kunjung arif jua akan hidup mati.
Dicegat hantu pocong begitu aku berganti arah, ke mana saja asal jangan terpergok. Meski tak mau juga aku kembali ke mess pemuda. Jika beruntung, di waktu begini aku bisa saja sedang terlelap di kasurnya Jenny yang rapi. Entah harum atau tidak aku tak mau memikirkan. Jelasnya, kamar Jenny selalu sejuk. Mungkin tepat di waktu-waktu seperti ini juga, 25 atau 24 tahun yang lalu. Mungkin hanya sebulan dua sejak terjadinya banjir besar yang menenggelamkan Jakarta. Musim penghujan yang dahsyat diganti dengan kemarau yang aduhai. Begitu saja terus-terusnya.
Hahaha, orang Indonesia (atau orang Depok saja) memang gabutnya 'ga kaleng-kaleng. Ada pula astrea atau supra fit palsu. Buat apa. Bahkan ide aslinya saja sudah absurd, meski tentu saja tidak perlu dibahas. Namun karena ada palsu-palsu bikinan Depok ini, ada baiknya dipikirkan. Aslinya 'kan, pura-puranya, taksi yang ternyata pengemudinya pelaku kekerasan seksual residivis. Oh, jika begini jadi masuk akal. Jadi pemasang palsu ini seperti mengiklankan diri sendiri sebagai pelaku kekerasan seksual residivis, apapun kendaraannya. Apa harus dipersekusi, dimaki-maki 'gitu.
Padahal sebelum membuka Axioo penuh dengan gagasan luhur macam Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu, Cupu Manik Astagina berisi Tirta Pawitra Sari dan sebagainya itu. Namun mungkin karena aku terlanjur memaki diri sendiri sebagai tolol dan palsu meski penyair dan pertapa, jadinya begini. Kenyataan bahwa aku baru membelanjakan sekitar EUR 4 lebih hanya untuk sarapan memang membuatku layak untuk dimaki-maki, sedang di tepi Margonda begini. Di luar sana sudah panas tapi aku nyaman berpendingin udara, meski ribut musiknya begini.
Berbulan-bulan yang 'ku hasilkan hanya entri-entri. Tidak juga. Ada buku saku tak-laku. Nah, di sini ini. Semua buku yang pernah 'ku buat memang tidak ada yang laku. Bagaimana mau laku. Menulis sendiri, ditata-letak sendiri, sampul didesain sendiri, dicetak sendiri, diterbitkan sendiri, diberi kata sambutan sendiri, semuanya sendiri. Dari sejak adik membuat buletin untuk QUE project sampai hari ini begitu saja bisaku. Uah, aku merasa seperti seekor zebra yang baru keluar buntutnya. Mengapa zebra yang satu itu bisa masuk begitu buntutnya, lainnya juga bisa digegerakkan.
Mungkin memang semua orang sebetulnya segabut aku, setidaknya mungkin sesama orang Depok. Apa iya Bang Didi dari dulu bisanya membuat bir pletok saja. Tadi sempat terpikir mengenai hidup dan mati, ya, itu ketika masih terpikir gagasan-gagasan luhur. Kini gagasan sekadar mulur lalu mungkret lagi. Jadi kalau aku sampai bisa menghabiskan EUR 5 sekali duduk sampai berkali-kali, itu sama sekali bukan prestasi. Lebih tepat jika waspada. Mungkin lebih tepat seperti kucing gelandangan itu, yang bulunya awut-awutan. Mendekam di sana mungkin lapar kucingnya.
Aku pulang saja, melangkah gontai melewati deretan ruko Cimone Permai, membuang muka ke kiri karena di kanan ada tempat penyewaan kaset video memajang poster hantu pocong besar sekali. Mengapa harus membuang muka, karena ia tidak di dalam tanah. Jika di dalam tanah tidak ada yang harus melihatnya. Ia 'kan seharusnya berada di dalam tanah, mengapa malah dipajang begitu khayalan mengenainya, menakut-nakuti anak kecil saja. Itu dari hampir 40 tahun lalu. Sampai 40 tahun kemudian masih saja begitu, tanda tak kunjung arif jua akan hidup mati.
Dicegat hantu pocong begitu aku berganti arah, ke mana saja asal jangan terpergok. Meski tak mau juga aku kembali ke mess pemuda. Jika beruntung, di waktu begini aku bisa saja sedang terlelap di kasurnya Jenny yang rapi. Entah harum atau tidak aku tak mau memikirkan. Jelasnya, kamar Jenny selalu sejuk. Mungkin tepat di waktu-waktu seperti ini juga, 25 atau 24 tahun yang lalu. Mungkin hanya sebulan dua sejak terjadinya banjir besar yang menenggelamkan Jakarta. Musim penghujan yang dahsyat diganti dengan kemarau yang aduhai. Begitu saja terus-terusnya.


No comments:
Post a Comment