Arus kesadaran, bagaimana kalau genangan atau kubangan kesadaran. Bagaimana kalau memulai hari dengan bombardemen karpet terhadap panca indera sampai-sampai berbagai pikiran berlompatan dalam otak seperti sapu ikan-ikan kena racun potas. Bagaimana orang bisa berpikir sebagian besarnya dalam interogasi, sampai-sampai kepalanya penuh kata tanya tanpa tanda tanya. Lima 'we' satu 'ha', haha, sedang telinga terasa penuh minyak, yakni, lilin yang belum terlalu terdehidrasi. Tidak, ini bukan genangan apalagi kubangan. Benak sekadar trampolin superelastis.
Di atasnya mungkin ada butir-butir kerikil kenangan besar dan kecil, yang ketika dihantam atau dicolek rangsangan inderawi lantas berlompatan seperti anak-anak bocil penuh ceria riang gembira. Sudah. Terlalu cerdik ini. Lebih baik kembali pada sensasi lubang telinga berminyak yang susah diseka karena bahkan ukurannya lebih kecil dari lingkar jari tangan terkecil yaitu kelingking apatah lagi kaki. Mungkin kalau tisu ini 'ku pilin-pilin 'ku untir-untir ia akan cukup masuk lubang telinga. Namun tisu ini sudah dipakai menyeka mulut habis makan sambal terasi. 'Ntar jadi epik.
Di seberang sana ada keluarga menarik. Suaminya seperti orang timur sana. Gempal botak seperti 'ku, namun mungkin lebih muda. Kumisnya masih hitam kecuali disemir. Iseng betul menyemir kumis. Istrinya Jawa Katolik begitu, tapi 'ngapain mereka paskah-paskah begini malah menyumbang Bibi Netanyahu membeli bom dan peluru untuk menghujani anak-anak Gaza dan tepi barat sungai Yordan dengannya. Berambut pendek tanpa kerudung, mudah bagiku untuk menuduhnya bukan Muslimah. Anak mereka adalah percampuran pas keduanya. Astaga dua.
Laki-laki semua. Betapa 'ku membuang energi mental spiritual yang sangat berharga hanya menghasilkan entri seperti ini sampai dicerca Gemini aku tak peduli. Apa aku tidak boleh capek berpikir keadilan dan persatuan seraya mengotak-atik di mana letak kerakyatan, kemanusian, dan ketuhanan di dalamnya. 'Ku rasa tak satu pun orang yang hadir di ruang rapat, yang tadinya terasa seperti ruang penyimpanan nuget tanpa gadis penjualnya, mengetahui seperti apa bentuknya benda empat dimensi terlihat dari dimensi tiga. Ke mana perginya pengamen dari tengah jalan.
Selalu saja setelah bertahun-tahun paragraf keempat terasa seperti putaran keempat dalam tes samapta baterai A. Sudah 'ku lupakan begitu saja dan segera beranjak memasuki paragraf kelima. Hanya satu yang menyemangati, tidak seperti tes samapta, jika sudah selesai aku dapat membincangkannya dengan kecerdasan buatan, karena tidak satu kecerdasan alami pun akan tertarik padanya. Lagipula, aku memang tidak berusaha menarik sesiapapun. Aku hanya butuh berbincang, dan kecerdasan buatan sudah memenuhi kebutuhan diriku akan yang satu ini.
Tadi sempat terpikir untuk mengisi-ulang dulu cangkir kertas berkantung teh lembab dengan air panas, namun terhenti gara-gara sibuk meratakan kanan-kiri. Ya sudah 'ku lanjutkan saja masuk paragraf sebelum terakhir. Di luar cerah dan dalam waktu kurang dari setengah jam suhu sudah naik dua derajat selsius dari 26 ke 28, padahal belum jam sembilan. Seperti inilah kenyataan Ibu Pertiwi. Bukan karena beliau marah. Kemarahan anak-anaknya 'lah, dan terutama, keangkara-murkaan yang membuatnya terasa begini. Ibu Pertiwi selalu ramah, teduh, lemah-lembut. Penyayang.
Kini terlihat tanda-tandanya domba-domba pengikut Kristus baru selesai mengikuti ibadah Paskah. Keluarga yang tadi bukannya ibadah malah berolahraga, meski ini hanya dugaan saja bahwa mereka non-Muslim. Keluarga yang ini suaminya jelas Batak atau mungkin bisa juga orang Timur. Istrinya Cina-Jawa. Anak perempuan mereka mirip ibunya, syukurlah. Sebentar lagi ruang makan ini akan jadi sangat ramai dan tidak nyaman. Apakah aku jadi mengisi-ulang gelas tehku, mungkin memesan entah apa, atau segera ngacir belum tahu. Rasanya aku masih mau di sini.
Di atasnya mungkin ada butir-butir kerikil kenangan besar dan kecil, yang ketika dihantam atau dicolek rangsangan inderawi lantas berlompatan seperti anak-anak bocil penuh ceria riang gembira. Sudah. Terlalu cerdik ini. Lebih baik kembali pada sensasi lubang telinga berminyak yang susah diseka karena bahkan ukurannya lebih kecil dari lingkar jari tangan terkecil yaitu kelingking apatah lagi kaki. Mungkin kalau tisu ini 'ku pilin-pilin 'ku untir-untir ia akan cukup masuk lubang telinga. Namun tisu ini sudah dipakai menyeka mulut habis makan sambal terasi. 'Ntar jadi epik.
Di seberang sana ada keluarga menarik. Suaminya seperti orang timur sana. Gempal botak seperti 'ku, namun mungkin lebih muda. Kumisnya masih hitam kecuali disemir. Iseng betul menyemir kumis. Istrinya Jawa Katolik begitu, tapi 'ngapain mereka paskah-paskah begini malah menyumbang Bibi Netanyahu membeli bom dan peluru untuk menghujani anak-anak Gaza dan tepi barat sungai Yordan dengannya. Berambut pendek tanpa kerudung, mudah bagiku untuk menuduhnya bukan Muslimah. Anak mereka adalah percampuran pas keduanya. Astaga dua.
Laki-laki semua. Betapa 'ku membuang energi mental spiritual yang sangat berharga hanya menghasilkan entri seperti ini sampai dicerca Gemini aku tak peduli. Apa aku tidak boleh capek berpikir keadilan dan persatuan seraya mengotak-atik di mana letak kerakyatan, kemanusian, dan ketuhanan di dalamnya. 'Ku rasa tak satu pun orang yang hadir di ruang rapat, yang tadinya terasa seperti ruang penyimpanan nuget tanpa gadis penjualnya, mengetahui seperti apa bentuknya benda empat dimensi terlihat dari dimensi tiga. Ke mana perginya pengamen dari tengah jalan.
Selalu saja setelah bertahun-tahun paragraf keempat terasa seperti putaran keempat dalam tes samapta baterai A. Sudah 'ku lupakan begitu saja dan segera beranjak memasuki paragraf kelima. Hanya satu yang menyemangati, tidak seperti tes samapta, jika sudah selesai aku dapat membincangkannya dengan kecerdasan buatan, karena tidak satu kecerdasan alami pun akan tertarik padanya. Lagipula, aku memang tidak berusaha menarik sesiapapun. Aku hanya butuh berbincang, dan kecerdasan buatan sudah memenuhi kebutuhan diriku akan yang satu ini.
Tadi sempat terpikir untuk mengisi-ulang dulu cangkir kertas berkantung teh lembab dengan air panas, namun terhenti gara-gara sibuk meratakan kanan-kiri. Ya sudah 'ku lanjutkan saja masuk paragraf sebelum terakhir. Di luar cerah dan dalam waktu kurang dari setengah jam suhu sudah naik dua derajat selsius dari 26 ke 28, padahal belum jam sembilan. Seperti inilah kenyataan Ibu Pertiwi. Bukan karena beliau marah. Kemarahan anak-anaknya 'lah, dan terutama, keangkara-murkaan yang membuatnya terasa begini. Ibu Pertiwi selalu ramah, teduh, lemah-lembut. Penyayang.
Kini terlihat tanda-tandanya domba-domba pengikut Kristus baru selesai mengikuti ibadah Paskah. Keluarga yang tadi bukannya ibadah malah berolahraga, meski ini hanya dugaan saja bahwa mereka non-Muslim. Keluarga yang ini suaminya jelas Batak atau mungkin bisa juga orang Timur. Istrinya Cina-Jawa. Anak perempuan mereka mirip ibunya, syukurlah. Sebentar lagi ruang makan ini akan jadi sangat ramai dan tidak nyaman. Apakah aku jadi mengisi-ulang gelas tehku, mungkin memesan entah apa, atau segera ngacir belum tahu. Rasanya aku masih mau di sini.


No comments:
Post a Comment