Friday, May 01, 2026

Madukisma, Madudarma, Maduratna, Maduwanti


Air madu hangat ini terlalu manis, atau karena memang ia bukan air madu. Ia sekadar air hangat bergula berperisa madu dengan sedikit aroma herbal-herbalan. Apapun itu, baiknya diencerkan dengan ditambahi air panas sampai penuh. Coba kita paksakan, kita pasrahkan saja ilustrasi musik sepenuhnya di luar kendali. Sampai sejauh mana dapat bertahan. Sampai sejauh mana ia membangkitkan rasa yang telah hilang: mengharu-birunya kisah cinta serasa menyandera seluruh jiwa raga. Diliputi cinta yang membirahikan, birahi nan mengilhamkan rasa cinta insani dua sejoli.
Cinta memang dua. Lebih dari itu bukan cinta namanya, entah apa. Cinta sepasang seperti siang malam, lelaki dan perempuan, lingga dan yoni. Maka terlelaplah malam pada sekitar tengah-tengahnya sampai pagi bermendung menjelang. Kejantanan mengacung menantang langit tanpa kemalu-maluan. Air wudhu pun belum sanggup meredakannya. Push up beberapa kali baru membuatnya lemas 'ndlesep masuk kembali dalam rongga perutnya. Apatah lagi jika hanya bersarung, sedangkan anak-anak kesekretariatan rapat, perempuan semua. Kejantanan tiada kemaluannya.

Adalah kejantanan juga yang secara tak sengaja melihat rambut-rambut jagungnya, mengintip dari balik kain tipis nan lapuk rantasnya; karena sembarangan duduknya. Dianya menggeleng membantah telah melubangi selaputnya, karena memang secara alami tentu ada lubangnya. Tangannya ditepis ketika gerayangan ke bawah sana, teraba lembab-lembabnya; dikembalikan pada telur ceplok, kenyal di cetakannya. Semua ini terasa muspra ketika mata memandangi langit dunia bertabur gemintang alam semesta. Tangan berlumur lendir a la saujananya katon bagaskara. Entah.

Nyatanya, tubuh manusia tidak hanya terdiri dari torso tetapi juga ada kepala dan anggota-anggota geraknya. Nyatanya, entah di mana terdapat jiwa, terlebih jika mau dikata ruh, bahkan sukma dan atma. Mengapa fokus hanya pada lubang-lubang yang tidak saling terhubung di bawah sana. Ketika mata dua, lubang hidung dua, lubang telinga dua, lubang mulut dan lubang duburnya, lubang-lubang yang menjadi muara atau hulu dari vas deferens dan serviksnya nyata ada. Mata ditutup masih dengar. Lubang hidung ditutupi tinggal menganga. Lubang telinga disumpali tuli.

Mulut disumpal kaus kaki berbulan-bulan tidak dicuci. Dua lubang lagi tidak dikata nanti pornografi. Entah mengapa berbicara kejantanan lebih selesa daripada kewanitaan, salah-salah kekerasan seksual yang terjadi. Bahkan membayangkan kewanitaan sebagai kelembutan bisa disangka bias gender yang melukai hati. Cinta seharusnya biner, seperti dikata di atas tadi. Jika tidak biner entah apa namanya, orang suka merancukan cinta dengan birahi; sedang kini birahi dapat dipicu oleh apapun jua tiada terkecuali. Ada kalanya birahi kepada sisa-sisa tembok Berlin ia meratapi.

Ini kursi apa ngetril begini, bikin bingung bagaimana mau menduduki. Mana mejanya sok cerdik enam bersegi. Terpaksa diganti dari tangga darurat, di mana para tenaga kebersihan sedang mengepung nasi bungkus empat sekali. Kursi ini pun masih agak ngetril, meski tidak separah yang asli punya kelas sini. Ngetril tidak sampai seperti Boneng atau Eli Sugigi, masih di level Kiwil ketika oleh Olga giginya diobati. Dari waktu-waktu yang telah terlampaui, tiada rindu dendam hanya mengenangi. Waktu-waktu ketika ajakan untuk sahur malah dipenuhi tawa-canda sesuka hati.

Menguji hasil penelitian calon-calon notaris, meski tidak sampai terbahak-bahak, hatiku terasa geli. Sudah jelas salah kedaden negeri ini, seperti Kabul mengganti nama sendiri menjadi Tessy. Jangankan negeri, membuat lelah jiwa raga kini dunia ini. Ketika orang-orang mudah dengan rakusnya berebut menelan dunia, tiada satupun, yang seperti Anoman, menelan matahari. Ketika bagaskara baru terbit atau sesaat menjelang tenggelamnya, bulatannya bak buah delima matang berpendar-pendar menyinari seisi dunia ini, setelah serta sebelum gulita malam menggelapi.

No comments: