Friday, March 27, 2026

'Ku Ingin Cinta Wow Hanya dari Dirimu, [Ke]Kasih


Salah satu akting ter-oke mungkin adalah Brian Cox sebagai Agamemnon, ketika Hector membunuh Menelaus adiknya, lantas memberi prentah: Serang! meski belum sampai levelnya Hamid Arif ketika meludah kejijikan. Masakan hidangan lebaranku sepiring Indomie jumbo biru rasa ayam panggang yang entah sudah berapa ratus (ribu?) bungkus 'ku makan dalam hidupku, meski sebungkus itu saja yang selalu 'ku ingat. Dan apa gunanya ingatan sebungkus itu. Apa gunanya entah berapa saset minuman instan yang kebanyakannya mungkin kopi, ada sedikit coklat juga herbal.
Aku bosan terus dikatakan arus kesadaran meski aku juga tidak ingin tak sadarkan diri. Apakah aku yang baru tidur sekitar empat jam ini akan segera mengantuk aku tidak tahu. Namun yang jelas sepiring Indomie goreng jumbo biru tidak cukup sekadar dikatakan mengena titiknya seperti kata Patrick Reagan setelah memakan sepentung roti isi salad telur atau surimi yang 'ku belikan di toneelacademie. Supnya ke mana, ya. Mungkin saat itu sepentung roti bisa dibeli tanpa sup. Pembangunan berkelanjutan mungkin memang tidak pernah terasa terlalu serius bagiku.

Pada saat itu, Patrick bersama dengan Bong Il, Tesfaye, dan sebagainya berasal dari kohort semi sedang aku gugur; dan ini semua, seperti dapat diduga, berasal dari beberapa hari lalu, ketika bulan Ramadhan berakhir berganti Syawal. Ada juga sempat terpikir tempat-tempat 'ku mencari teman ketika di Maastricht. Paling mudah tinggal menyeberang ke kamarnya Bang Herman. Kalau mau agak usaha ke Zwannenstraat bahkan ke tempat Bong Il yang entah di mana itu. Sampai di titik ini lidahku kelu padahal mengitiki tidak pakai lidah tetapi jari. Hei, aku tidak pakai jempol.

Jika aku kembali padamu, itu karena aku merasa kesepian. Bahasa Indonesia sebegitu primitifnya sampai koneksi, relasi, bahkan transportasi semua bisa menggunakan kata kerja 'hubung'. Uah, belum-belum sudah arus kesadaran lagi. Habis mau bagaimana, inilah cara mengitiki yang paling rileks, yakni, dengan jari-jemari sendiri mengitiki ketiak sendiri yang tiada kunjung geli. Dikitiki siapapun aku tidak geli karena punya ajian zirah emas dari Shaolin. Sesepi itu, ya, segabut itu memang aku tidak ngeri. Bahkan meski harus doktor (mondok di kantor) tidak masalah.

Berbicara mengenai para doktor, rata-rata sudah pada mati. Pak Damanhuri dengan keredong sarungnya, John Gunadi dengan celana gunung kutungnya jika hari telah senja, malam hari pun tiba, hidupnya yang sendiri, sunyi. Ya, aku mendatangimu kembali, mengitikimu, karena bahkan para doktor ini dari masa laluku. Semakin banyak wajah baru, semakin sedikit wajah lama. Bahkan Fajar Ricky Setiawan saja sudah menggelendut. Sudah 15 tahun ia bekerja di kampus. Sudah tidak bisa lagi dimintai tolong bawa motor pulang, apalagi di bawah guyuran rinai hujan.

Teh tarik saja sekarang sudah tidak seperti dulu di Rumah Teh Tong Tji. Mungkin tehnya masih sama, tempatnya sudah pindah, jadi sok cerdik. Aku suka tempat Rumah Teh Tong Tji yang dulu karena hangat dan... pokoknya pas di situ. Sekarang aku jadi terpaksa harus memesan entah apa di A&W itu. Coklat panas jelas tidak karena menyakiti perut. Jus jeruk, entahlah. Sebenarnya bir akar aduhai sedapnya dari masa-masa yang telah berlalu. Dulu bahkan es krim monas vanila coklat mengumbarasa, apalagi coney dognya. Namun ya itu, semua dari masa-masa yang telah lama lalu.

Mau Kopitiam Ah Pek, mau Jambo Kupi, semuanya sama saja. Tehnya terlalu pekat dan kental, kental-manisnya, sesuai namanya, terlalu kental seperti semen anak remaja tanggung dan terlalu manis untuk dilupakan, kalau kita memang tak saling cinta, tak 'kan terjadi. Terlalu tokai, mau Slank, mau Dewa 19 sama saja. Sebetulnya Gigi masih agak mending, juga Power Slaves entah mengapa, dari masa-masa muda yang telah lama meninggalkan 'ku. 'Ku di sini bukan akhiran ya, melainkan pemendekan dari aku, maka 'ku beri apostrof alias tanda petik tunggal ('). S'perti itulah.

No comments: