Wednesday, March 18, 2026

Renungan Bulan Puasa yang Tinggal Hiks Tiga Hari


Secara instingtif (halah!) aku meraih Lenovo AiO 520 (atau lebih tepatnya menghampiri), mendudul tombol daya untuk menyalakannya (mengapa tidak pakai geretan atau mancis). Ya, ketika aku merasa tidak berdaya di tengah hari bulan puasa begini, stasiun-kerjaku menjadi semacam sanktuari; sedang cerah dengan riang gembira bermain di pendengaranku dengan ketelepak-telepuk bongonya. Uah, ini mengapa aku cinta bagaimana kau mencintaiku begini. Memang begini adanya dengan intisari (atau perpendekan) pembaca, majalah dan piringan hitamnya jua.
Jika aku jatuh dibesut ensembel dedawai begini aduhai terasa sedap-sedapnya, meski ditingkahi dengungan kipas pembuang dan keletak-keletuk pesta seni menyikat kamar mandi. Tingkah ini masih tidak banyak jika dibandingkan satu saja kejengkelan yang manisnya seperti adik bungsu laki-laki. Apa yang naik ke atas pasti turun ke bawah. 'Tuh 'kan dalam bahasa Inggris saja begitu: up ada go-nya, down ada come-nya. Jadi tidak usah rewel naik ke bawah turun ke atas, seakan kau berhadapan dengan sepasang kuntilanak yang sesatunya Dede Sunandar.

Sesuatu dalam caramu bergerak atau merayu atau apalah terserahmu dari kecil sekaliku, bahkan ketika masih mengenyot susu formula melalui botol dot di atas tempat tidur lipat yang beberapa kali menjepit jari-jariku. Sudah, sekarang coba kita kembali ke serangga-serangga. Biar tidak lupa mari kita daftar dulu: dimulai dengan semut, lalu walang kadhung (belalang sembah), terakhir hama padi. Di akhir jaman ini, aku menemui hama padi sedang memulas riasan pada wajahnya karena akan belajar menyetir dengan ayahnya. Seaneh itulah akhir jaman memang. Tak'ngapa.

Aku sudah merasa dari tadi hama padi di balik punggungku. Ketika ayahnya datang ia asbah padaku, bapak tirinya. Begitulah yang dipahami mengenai sopan santun. Ya sutra lah, sekarang kita(?) bicara mengenai walang kadhung yang menyambutku di pagi hari yang sudah larut sembari menemplok di pagar. Ia melakukannya tidak sekadar agar terlihat sopan, tetapi dengan tulus ia menemplok di situ menyapaku hangat seperti seorang kawan. Sapaan hangat itu berbunyi 'enak lo' yang didapatnya dari kumpulan beto (bego & tolol) di kosan Babe Tafran dulu.

Hei, jika 'ku dengar-dengar, rekaman intisari pembaca ini tak ubahnya musik elevator atau supermarket yang terdengar gampangan begitu. Kurang ajar. 'Nah mumpung kita(?) sedang berbicara mengenai sopan santun, makian kurang ajar terasa begitu mengena pada diri sendiri yang sudah botak gendut setengah abad masih juga kurang ajar ini. Kepada siapa. Kepada otoritas apapun kecuali Otoritas, tapi ini, seperti dapat kau(?) terka dan maklumi, sekadar gaya-gaya'an. Aku nyatanya memang gampangan: gampang dimanfaatkan, gampang dikelabui. Gampang 'kan.

Semutnya mana. Ini dia. Entah berapa spesies semut saja berhembalang berduyun-duyun dan aku sedih tidak dapat menyebut nomenklatur binomialnya satupun. Bahkan nama lokalnya aku tidak tahu. Aku hanya dapat menyebut mereka sebagai semut bakau, semut hitam besar, semut hitam kecil, semut kecil, semut lebih kecil, semut kecil sekali yang kalau menggigit gatal sekali. Namun tak 'ku biarkan kesedihan itu berlarut-larut karena biarlah kesedihan itu larut dalam cairan entah apa untuk dibuang sebagai limbah entah ke mana. Biar semut-semut damai bahagia di bumi.

Aku biar damai bahagia di hati. Sebentar. Sebelum terburu-buru damai bahagia, baru teringat 'ku, hama padi bisa saja tidak serangga, binatang menyusui pun, bahkan babi hutan. Tidak. Hama padi yang ini serangga. Ada babi memang tapi bukan hama padi dan tidak dari hutan sekali. Pukimak babi kuntilanak begu sekali, kata Akong. Mungkin memang harus dihumori, dijogeti begitu, meski entah apa perasaan Akong. Putus asa, tak berdaya, tak bisa jalan lagi, benci fisioterapi, Kak Dewi, Bu Rosalina, entah siapa lagi. Semoga Tuhan meringankan deritamu 'Kong.

No comments: