Bagaimana caranya tunjukkan aku jalannya sampai tidak ada dalam ZTE mix; justru dalam map aslinya, The Suckest Profile, yang sebelumnya bernama SuckTwilite iProfile. Semua pahlawan dan legenda yang 'ku tahu sebagai kanak-kanak berubah menjadi berhala lempung. Uah, dahsyat betul alegorinya, sampai-sampai ingin 'ku ambil lagi dua mintz rasa musim semi. Aku memang selalu makan sekaligus dua bungkus sekali makan. 'Nih, 'ku makan lagi sekaligus dua, jadi empat semua. 'Ku kunyah-kunyah seperti kacang mete (monyet?) 'nyembul dari jambu monyetnya.
Kalau begini urutannya memang spesifik dari waktu-waktu itu: Tunjukkan aku jalannya, Sirami aku dengan cintamu, Sesuatu terjadi di jalan ke surga. Dari kecil aku memang tidak dilatih makan buah, sampai-sampai satu-satunya buah yang 'ku sukai ya jambu monyet itu. Namun satu hal selalu menjadi kegundahanku (halah!): Jika jambu monyet mengapa kacangnya mete. Mengapa tidak monyet. Tenang, aku hanya bercanda. Aku sudah tahu jawabannya: Karena aku monyetnya. Ya, kau boleh kata ini swadefekasi atau apa, tetap saja aku monyetnya. Betapa hendak dikata.
Sesuatu yang bodoh memang selalunya untuk dikatakan kepada manusia yang pada dadanya menggantung dua jambu monyet, dengan kacang-kacang mete pada dua ujungnya. Manusia seperti gajah, jejambuan monyet menggantung pada dada; tidak seperti sapi yang jauh di bawah perut. Terkadang di larut malam kau kata cinta padaku. Kau cinta bermain denganku, atau mempermainkanku, aku tidak seberapa peduli. Sepanjang kau cinta padaku, dan apabila jejambuan monyet menggelantung di dadamu, dan kau bukan gajah. Gajah pun aku tak peduli, Jambu Monyet.
Apa lagi mau kau bilang, mimpi demam. Aku lebih tidak peduli. Meski tadi pagi sudah diberi Mixagrip Greges lalu malam ini Panadol Extra, dulu-dulu sudah 'ku terkam. Bahkan betisnya 'ku bidik dengan Mauser C96 gagang-sapu tepat kena, garuk-garuk seperti tersengat entah apa. Jaman segitu aku belum kenal dengan nyamuk hutan bambu. Betis tertembak Mauser gagang-sapu rasanya kurang lebih sama seperti dientup nyamuk hutan rimba belantara. Cahaya-bintang Ekspres selalu 'ku tumpangi dari kecilku, membawa angan cinta yang tak akan pernah terwujud selamanya.
Begitu banyak impian terbang, begitu banyak kata yang tak kita ucapkan. Sudah, sudah. Salah. Seharusnya tetap. Aku benar-benar tetap mencintai diriku sendiri, karena siapa lagi yang dapat membalas cintaku kecuali diriku sendiri. Ketika hama padi saja membuat cintaku bertepuk sebelah tangan. Ketika anak perempuanku sendiri, kesayanganku satu-satunya mencampakkanku, hanya diriku sendiri yang tak berbuah jambu monyet ini dapat 'ku andalkan untuk menghangatkan malam-malamku, sejak dari kecilku sehingga tuaku kini. Aku masih terkena biru-biru jika engkau tahu.
Apa lagi 'nak kau kata, nostalgia melankolia sentimentalia. Tidak ada. Sungguh tidak pernah ada. Jika pun pernah ada yang minta diikat, jika pun pernah ada yang menemplok padaku seperti seekor monyet buntung, aku 'kan dengan senang hati menyeruak dingin: Tidak ada. Aku menulis-nulis begini itu tandanya memang tidak ada, dan aku tidak lagi berharap. Aku berkubang dalam kenangan akan khayalan-khayalan yang tak berdaya, hanya satu impian semata. Khayalanku bukan Bu Susi, Bu Titik, apalagi Bu Eko atau Bu Hartini. Daku berkhayal Pancasila dan UUD 1945.
Ah, orang asing di surga, aku hafal ini di luar kepala, meski 'ku lupa kapan menghafalnya. Aku bahkan lupa versi siapa yang sering 'ku dengarkan di stasiun tua-tua terbaik di kota, tapi aku ingat aku hafal justru setelah stasiun itu tidak lagi memutar lagu-lagu tua dari sudut pandangku yang generasi X pertengahan ini, melainkan sekadar lampau satu dekade. Ini lagi orang-orang asing di malam hari pada 'ngapain. Betapa mereka pernah mengharu-biru, bikin merinding bulu roma, meriang disko suka-suka. Sekarang biasa saja. Sekarang greges sedikit meski tidak pakai linu.
Kalau begini urutannya memang spesifik dari waktu-waktu itu: Tunjukkan aku jalannya, Sirami aku dengan cintamu, Sesuatu terjadi di jalan ke surga. Dari kecil aku memang tidak dilatih makan buah, sampai-sampai satu-satunya buah yang 'ku sukai ya jambu monyet itu. Namun satu hal selalu menjadi kegundahanku (halah!): Jika jambu monyet mengapa kacangnya mete. Mengapa tidak monyet. Tenang, aku hanya bercanda. Aku sudah tahu jawabannya: Karena aku monyetnya. Ya, kau boleh kata ini swadefekasi atau apa, tetap saja aku monyetnya. Betapa hendak dikata.
Sesuatu yang bodoh memang selalunya untuk dikatakan kepada manusia yang pada dadanya menggantung dua jambu monyet, dengan kacang-kacang mete pada dua ujungnya. Manusia seperti gajah, jejambuan monyet menggantung pada dada; tidak seperti sapi yang jauh di bawah perut. Terkadang di larut malam kau kata cinta padaku. Kau cinta bermain denganku, atau mempermainkanku, aku tidak seberapa peduli. Sepanjang kau cinta padaku, dan apabila jejambuan monyet menggelantung di dadamu, dan kau bukan gajah. Gajah pun aku tak peduli, Jambu Monyet.
Apa lagi mau kau bilang, mimpi demam. Aku lebih tidak peduli. Meski tadi pagi sudah diberi Mixagrip Greges lalu malam ini Panadol Extra, dulu-dulu sudah 'ku terkam. Bahkan betisnya 'ku bidik dengan Mauser C96 gagang-sapu tepat kena, garuk-garuk seperti tersengat entah apa. Jaman segitu aku belum kenal dengan nyamuk hutan bambu. Betis tertembak Mauser gagang-sapu rasanya kurang lebih sama seperti dientup nyamuk hutan rimba belantara. Cahaya-bintang Ekspres selalu 'ku tumpangi dari kecilku, membawa angan cinta yang tak akan pernah terwujud selamanya.
Begitu banyak impian terbang, begitu banyak kata yang tak kita ucapkan. Sudah, sudah. Salah. Seharusnya tetap. Aku benar-benar tetap mencintai diriku sendiri, karena siapa lagi yang dapat membalas cintaku kecuali diriku sendiri. Ketika hama padi saja membuat cintaku bertepuk sebelah tangan. Ketika anak perempuanku sendiri, kesayanganku satu-satunya mencampakkanku, hanya diriku sendiri yang tak berbuah jambu monyet ini dapat 'ku andalkan untuk menghangatkan malam-malamku, sejak dari kecilku sehingga tuaku kini. Aku masih terkena biru-biru jika engkau tahu.
Apa lagi 'nak kau kata, nostalgia melankolia sentimentalia. Tidak ada. Sungguh tidak pernah ada. Jika pun pernah ada yang minta diikat, jika pun pernah ada yang menemplok padaku seperti seekor monyet buntung, aku 'kan dengan senang hati menyeruak dingin: Tidak ada. Aku menulis-nulis begini itu tandanya memang tidak ada, dan aku tidak lagi berharap. Aku berkubang dalam kenangan akan khayalan-khayalan yang tak berdaya, hanya satu impian semata. Khayalanku bukan Bu Susi, Bu Titik, apalagi Bu Eko atau Bu Hartini. Daku berkhayal Pancasila dan UUD 1945.
Ah, orang asing di surga, aku hafal ini di luar kepala, meski 'ku lupa kapan menghafalnya. Aku bahkan lupa versi siapa yang sering 'ku dengarkan di stasiun tua-tua terbaik di kota, tapi aku ingat aku hafal justru setelah stasiun itu tidak lagi memutar lagu-lagu tua dari sudut pandangku yang generasi X pertengahan ini, melainkan sekadar lampau satu dekade. Ini lagi orang-orang asing di malam hari pada 'ngapain. Betapa mereka pernah mengharu-biru, bikin merinding bulu roma, meriang disko suka-suka. Sekarang biasa saja. Sekarang greges sedikit meski tidak pakai linu.


No comments:
Post a Comment