Monday, April 17, 2023

Rindukah Kau Pada 'Ku Ingin Melepas Burungku


Ini juga akhirnya yang 'kulakukan, karena cerdas pada jam sembilan sedang kau merasa seperti sedang dikukus atau bahkan dipanggang sungguh mustahilnya. Meski begitu, tetap Indomie goreng jumbo biru diberi berkuah nyemek masih dengan otak-otak dan sosis masing-masing seutas menambah hangatnya suasana. Masih kurang, teh halia betul-betul membuat cuaca gerah ini menjadi seperti berselimut duvet. Terlebih ketika di tengah meradangnya hari kau diintersep oleh entah apa yang setelah heroik 'nyosio-legal nelayan memagister kenurhidayatan. Sungguh sudah bukan waktunya, ketika 'ku sudah punya yang pertama, terakhir...
...dan segalanya. Lain halnya jika ternyata pacarmu selingkuh dengan si tengkuk bertato dari planet Tatooine. Ketika itu masih jaman akses jamak pembagian kode. Meski ketika ditanya, siapkah 'ku 'tuk jatuh cinta lagi di Amstelveen, aku malu-malu anjing. Betapa tidak, bahkan sakura bermekaran di sepanjang tepi lapangan tempat mahasiswi sering tengkurap dengan pakaian seadanya. Namun, sebagaimana dapat diduga, aku melenggang saja menuju kudapan Amstelveen mendapati irisan-irisan tipis daging bermahkota utas-utas kentang goreng sambil beruluk salam.

Putih diganti jadi angin sepoi-sepoi itu lucu juga. Mungkin karena putih identik dengan wajah yang pucat-pasi, sedang angin sepoi-sepoi menerpa sisi kiri wajahmu ketika mengendali AH-1G Cobra agar melata-lata jalannya. 'Ku susuri Raya Bogor dari Radar AURI sampai Pasar Pal hanya untuk omong-kosong mengenai perkebunan kopi, tak ubahnya melakukan di sudut apak PDRH. Ketika itu saja tidak berdaya, bagaimana sekarang. Ketika angan menyusuri Meuse ke arah selatan di tepi timurnya hingga bertemu kedai es krim atau tepi barat sampai kantor-kantor pemerintah.

Astaga masih kurang empat betapa lambat kemajuannya. Terlebih jika membayangkan harus saban-saban memeriksa pratinjau hanya untuk memastikan rata kanan kiri. Hanya. Itu segalanya, seperti kenyamanan yang dibawa oleh Michael dari masa kecilku yang kini telah tiada. Semua saja, masa kecil siapapun, 'kurasa memang telah tiada. Mana ada lagi rawa-rawa dengan kepik emas-emasan. Orang-orang ini rasa-rasanya tidak punya suasana hati yang pas untuk menghayati keanekaragaman hayati. Rasa-rasanya, karena tidak ada sesuatu cara pun dapat 'kuketahui.

Tiada lain penjelasannya kecuali aku ini memang orang hukuman yang terus mengulang-ulang kesalahan sehingga terus-menerus dihukum. Jika aku dengan sadar berhenti berbuat salah, aku yakin tanpa 'kusadari hukuman itu berhenti dengan sendirinya. Namun aku masih terus saja menimpakan kesengsaraan pada diriku sendiri jauh sebelum matahari terbenam di Kepulauan Karibia. Seperti apa malam-malam di jalan keluar kompleks menuju ke pasar Bendungan Jago, seperti halnya pasar di seberang Yado III yang sudah tiada. Terkadang aku kira aku punya teman.

Adakah malam-malam di Graha 5 ketika aku memutar milikmu secara instrumental dan melodi-melodi lembut. Apakah aku bahkan lebih kacau lagi dari malam-malam itu. Berapa lama mereka tidak bersamaku. Bagaimana dengan malam-malam di tepian kebun coklat atau Ciliwung. Sudah pasti aku jauh lebih kacau. Sudah begitu mau enak ya nikmati saja masa hukumanmu. Seenak apapun irisan-irisan tipis daging bermahkota utas-utas kentang goreng tidak akan menandingi nikmatnya Abrakebab. Hokabento takkan enak bila tak'da nasi ekstra dalam kotak bekas es krim.

Pernah ada somay yang nyaris tidak ada terigunya, mungkin tapioka saja isinya, 'kubeli di tangga antara Gedung E dan Gedung C entah selesai kuliah apa. Memakannya sambil melangkah menuju Barel atau mungkin LKHT mantan M-Web. Ada juga masa-masa seperti itu yang dijalani setapak demi setapak sambil terkadang menikmati tarian terlarang. Aku memang pantas dihukum jikapun Margaret ini yang diketahui. Ketika itu masa-masa Margaret hilang dari kehidupanku. Entah apa kudapan batinku. Masa-masa yang berlalu begitu saja hanya untuk berakhir di sini. 

Thursday, April 13, 2023

Semua Kecintaanku 'Kan 'Ku Kirimkan Padamu


Awas, jangan pulak kau bilang di bawah ini gambar monyet. Ini Lucy, salah satu cinta pertamaku. Lho berarti lebih dari satu. Mungkin, karena kami memang pernah bercinta-cintaan dulu ketika kali pertama turun dari pepohonan, setapak demi setapak memasuki padang rumput yang semakin luas saja. Buah-buahan semakin sedikit, bahkan daun-daunan pun. Lucy tewas sementara sedang menggendong anak kami. Mungkin ia terjebak di tengah-tengah perang suku sebagai kerusakan kolateral. Mungkin ia tidak sempat menyingkir menyelamatkan diri. Entah apa 'ku namakan anak kami, Johnnie atau Charlie, yang juga mati dalam naas itu.
Lucy S. Diamonds, nama panjangnya Lucy in the Sky with Diamonds
Aku tidak terima jika kau menyebutnya monyet, tapi kalau kunyuk biarlah, karena itu aku. Meski bentuknya sangat sederhana, berhias gincu bagai semburat jingga kemerahan di ufuk timur ketika matahari menyeruak dari balik malam. Bagaimanapun  aku kedinginan, karena ini di IASTH Lantai 2 dan 'ku rasa aku belum pernah menggoblog di sini, apalagi sambil mengawas ujian begini. Sekitar tiga belas tahun lalu aku pernah begini, mengawas kursus konsultan HKI seperti kunyuk bersama Mang Untus dan kolor ijo. Aku tidak suka masa-masa itu. Sesederhana 'tu.

Sudah cukup dengan itu semua, seperti memakan kotoran kuku kaki sendiri. Sampai bapak-bapak di sampingku berjengit kejijikan. Aku belum pernah berhasil menahan tawa jika mengingatnya, setelah lebih dari tiga puluh tahun. 'Ku rasa di mana pun aku pernah mengingatnya. Namun apa dayaku jika sampai tersengat begini, karena cinta adalah segalanya. Belum pernah 'ku rasakan dalam hidupku yang seperti ini, meski tak hendak 'ku rasakan pula sesuai pengetahuan yang ada padaku. Jika kita mengetuk pintu surga, maka cinta yang 'kan membukakannya. Keluar dari biasanya.

Bisaku hanya mencurahkan padamu, memancrutkan ke dalammu. Meski di pojokan sini, meski hanya sekejap menyengat, sengatan itu tidak hendak juga pergi sampai di akhir waktu. Kena'apa Matt menghempas-hempas begini, tidak seperti Caterina. Apa karena ia berpikir ini semacam jazz, dimerah-merahkannya sampai aku kehabisan kata-kata. Rabu 'nyalemba disusul koperasi, seperti tenangnya alam pedesaan disusul hiruk-pikuk kehidupan keraton meski pada lahirnya sunyi sepi sendiri semenjak ditinggal pergi. Aku tidak suka sampai di akhir waktunya Matt. 

Tentu saja, seperti halnya segala sesuatu, ini pun semata ketololan seperti keringat yang tak berhenti mengucur dari belakang kepala setelah diberi minum air cenderung panas. Bahkan Lucy pun dibuat bergaya seperti aktris holiwud begitu, atau berpose macam gadis sampul begitu. Berjuta kata mutiara serasa ingin menghambur dari cocot ikan si buruk rupa, mungkin sang pengamat bintang. Apa yang akan kau baca dari ini semua, Bang Jep. Apa sudah siap kau menyelami kelamnya rasia malam, ungkapan yang sangat 'ku suka. Bila kata ganti dapat digunakan sebagai akhiran untuk menunjukkan kepemilikan, mengapa tak boleh jadi awalan.

Melodi tak terantai ini sudah 'ku kenal entah sejak kapan, meski terasa sedap-sedapnya ketika kelas 3 SMP. Betapa tidak sedap jika sampai merona kemerah-merahan bahkan ketika tidak diapa-apakan. Seakan dapat menyelami kedalaman hati bermuram durja dalam tatapannya yang selalu sendu. Nyatanya aku tidak pernah merasakannya dan tidak akan pernah 'ku biarkan diriku merasakan di punggung bumi ini. Sampai berpikir bagaimana jadinya jika tidak berpenyedap masakan, apakah berminyak-minyak seperti diberi kemiri banyak-banyak, sampai pahitnya.

Belum lagi 'ku periksa, adakah yang berani menggambarkan betapa Pak Djoko Sang Guru Pinandita itu tambun berdagu berganda-ganda. Ada alasan mengapa bentuk beliau tidak seperti Django tak terantai, dengan "D" tidak dibunyikan. Tentu saja, karena jangankan menembak dengan pistol dan senapang, menulis buku saja tidak pernah beliau. Pun begitu beliau mematung sampai sebesar tiga kali ukuran manusia normal atau ukurannya sendiri. Akankah tiba waktunya aku berhenti mengitiki ketiak sendiri dan mulai mengetik naskah buku-buku dan artikel-artikel elmiyah.

Tuesday, April 04, 2023

Hari Empat Bulan Empat Padahal Tiga Belas


Uah, mantap hentakan MK160EP ini. Jika disebut begini rasanya seperti penamaan pasokan militer, padahal jelas bukan. Apa benar yang 'ku rasakan di siang hari bulan Ramadhan begini, pada hari yang ketigabelasnya. Terlebih jika Nurafni sampai bersenandung tepat pada rongga-rongga telinga begini. Dapatkah kau mengenali wajah siapa dalam gambar di bawah? Ya, itulah wajah Pangeran Indrajit Sang Megananda, yang tercipta dari pemujaan terhadap kumulonimbus oleh pamannya Pangeran Gunawan Wibisana. Mengapa pun minatku pada yang bagai ini.
Mengapa tidak pada bisnis teknologi. Mengapa pula aku merasa bergairah membayangkannya, sementara tiap kelebatan, tiap terkaman, tiap desiran harus 'ku tahankan. Jelas karena tidak ada yang benar-benar 'ku lakukan untuk menutupi jalan keluar masuknya hawa yang sembilan itu. Masih 'ku umbar 'ku buka lebar-lebar. Setelah sebelumnya terlempar ke Statensingel, kini 'ku terhempas di bilangan Barel tempat anak perempuanku satu-satunya berada. Satu kambing gibas dan tiga anak perempuan yang ada dalam foto kepunyaanku. Itu saja yang 'ku punya...

Sampai hari ini, sampai detik ini belum pernah benar-benar 'ku putuskan. Mana yang lebih membuat edan: Saban-saban memeriksa pratinjau atau membiarkannya tidak rata kanan kiri. Semakin tuaku semakin mengerikan kesepian itu. Semakin 'ku pikirkan, semakin ragu adakah yang benar-benar dapat 'ku kerjakan. Apa yang 'ku dapat, apa yang 'ku belanjakan, jelas tidak ada hubungannya dengan kebisaan dan pekerjaanku. Itu semua semata-mata belas kasihanNya. Tidak kepadaku, tetapi pada orang-orang yang 'ku sayangi. Ibu. Istri. Sepuhun kayu daunnya rimbun di pelupuk mata, kata Bang Tiyok.

Bagaimana dengan soto padang, dimsum, spaghetti bolognese, burger keju dobel, dan sundae cokelat. Bagaimana jika 'ku catat saja hari ini datang kasur baru untuk Awful yang membuat badannya lurus seribu tahun lamanya. Jika Arisya Arundati Pusponegoro mau mencintai Sofyan Pulungan, begitu dulu nyanyian waktu muda. Kemudaan yang sudah pergi entah ke mana, sama seperti teman-teman lama yang pernah begitu mengisi kehidupan. Bangun tidur bertemu, berangkat tidur bertemu yang itu-itu juga, sampai entah bagaimana berpisah dan tidak ingin bertemu lagi. Seperti ditinggal mati Bang Tiyok.

Bagiku sendiri, aku sudah lama menerima bahwa aku tercipta tidak untuk apa-apa. Aku ini orang yang tiada arti seperti lolongan anjing di malam sunyi auk auk auuung... Meski sinaran ini, hentak-hentakannya, tidak pernah tak memukau hati sanubari. Sama seperti dihentak Mentor Robby Boyke Manalu pada tulang dada dan rusuk agak beberapa kali, selalu menjadi kenangan manis bagai disinari mentari. Aku terima walau dipandang hina. Yang tidak bisa 'ku terima adalah jika Bapak dan Ibu sampai kagungan anak yang tercipta tidak untuk apa-apa sehingga terhina. Tidak akan 'ku biarkan ini.

Sudah jam dua seprapat dan Cantik belum pulang juga. Mengurus NIDK, katanya. Semoga. Siang hari begini dalam kehidupanku selalu nyaman menyenangkan. Seperti ketika aku terbangun ketika kawan-kawan sedang makan siang di Sarasan. Buru-buru aku berlari ke sisen mengembalikan senjata, padahal kawan-kawan masih makan siang belum ada yang mengembalikan senjata. Siang-siang di Gang Mesjid juga bisa nyaman ketika Anakku Sayang masih berusia beberapa bulan saja. Setiap kepul asap Djarum Super 'ku kutuki. Setiap kekukangan, sebagai yang 'ku lakukan sekarang ini, menjadi penyesalan mendalam.

Jangan percaya dunia. Tidak. Dunia tidak dapat memberimu firdaus. Engkaulah matahari, engkaulah hujan, kau membuat hidupku sekadar permainan tolol. Seperti itulah, begitulah akhir dari impian bodohmu mengenai dirimu bagaikan Senopati Indrajit. Tinggal goblog inilah temanmu, karena teman-teman adalah untuk waktu-waktu yang lebih muda. Seperti ketika panas terik meminum es teh super dingin di warung Banyumas, mengakibatkan sakit kepala sebelah. Sebenarnya bukan migren itu, melainkan masuk angin yang sampai hari ini pun tidak jelas itu apa. Kau tidak bisa memburu-buru cinta. 

Thursday, March 30, 2023

Tersenyum Padaku [Parapam]. Aku dan Tamburku


Apakah pantas sahur-sahur malah menyanding sejebung besar es sirup. Daripada ditambah apakah pantas lagi, lebih baik 'ku catat di sini kalau aku mau bertanya pada Pak Cecep mengenai dapatkah 'ku gunakan peralatan rekam audio visual di lantai dua kantin itu untuk membuat video propaganda yang idenya dari Masjid Jenderal Sudirman Kolombo. Uah, berlari kencang itu kalimat, sahur-sahur begini malah mengemut jahe mandarin. Bukan tidak biasa aku tidak bisa tidur begini, terutama karena puasa ini. Irama sirkadianku menjadi kacau karena musim panas.
Begitu tandas sejebung es sirup lantas 'ku ganti dengan semug air hampir mendidih. Perutku menggelembung serasa penuh namun masih nyaman. Sejauh ini aku suka bentuknya, meski gulungan pada judul jadi tidak setebal seharusnya agar ia tidak menjadi dua baris. Tentu saja aku masih suka membayangkan manis-manisnya mengulum gula kelapa seperti pernah dibagikan bintara peletonku dulu. Jelas lebih enak gula kelapa daripada tablet efervesen vitamin C yang berkeranyas di lidah dan mulutmu. Selamanya harus 'ku sembunyikan gula kelapa, mau bagaimana.

Terlebih sampai membuat lidah menjulur-julur, sedang yang sudah bedah diobral habis-habisan tanpa tedeng aling-aling. Mengapa menunggu atau pergi dalam bahasa Perancis rasanya seperti berpacu di atas punggung kuda, meski belum pernah sekalipun 'ku lakukan dalam hidupku. Justru renggunuk-renggunuk di atas punggung unta aku pernah. Kembali pada gula kelapa berbagai ukuran tadi, tergantung cetakannya, bisa juga seukuran slilit karena sudah habis-habisan dikulum. Terus dikulum tidak bisa, diklethus terlalu kecil, serepot itu sampai lidahnya menjejulur-julur.

Tidak pandang bulu, tidak membeda-bedakan. Orang-orang seperti Ki Hajar Dewantara yang sampai mendirikan perguruan begitu apakah dirundung segala babaduk dan plrktkuk, ya, semacam halelepah dan jomajujo begitu. Menyimak sebentar tidak ada bedanya dengan Sukarno, yang jelas berbeda ya Suharto bahkan Hatta sekali. Aku menyebut nama-nama seakan-akan sebaya. Apa salah jika lebih asyik membaca tulisan-tulisannya Pak AB Kusuma, 'ku susuri lagi jalan-jalan memori. Uah, kegairahan, kebungahan itu belum lagi hilang, aroma ketiak memuakkan.

Sudah tentu salah jika dipahami sebagai tunggul ametung, tapi memang demikian adanya nyamuk-nyamuk beringas mengerubung seperti lalat pada bangkai. Itu artinya aku masih hidup ketika tunggul ametung pakai deodoran. Adakah main di antara dua merongos itu bukan urusan dan apa peduliku, meski jika benar ada menjadi suatu kesedihan. Pernah aku berjalan di belakang pembangkit listrik tenaga kuda yang tidak akan sanggup membangkitkan apapun, namun siapa yang tahu. Ahaha, kalimat-kalimat penuh kode takode-kode begini, bahkan aku sendiri akan melupa.

Tidak ingin dan tidak akan terjadi lagi meski tidak sengaja, meski sudah tiada jalan patrice lumumba atau aki tornado sebesar jempol, atau jempolnya yang besar. Air hampir mendidih sampai dingin karena hanya 'ku sanding sejak semburan peluru mitralyur pertama yang tersendat-sendat. Hanya sejam lebih sedikit sebelum subuh sedang alinea ini saja masih kurang sekitar dua baris. Aku bukan orang yang suka meminum soda bila tulisannya air aki, apalagi memaksa aki-aki minum sodanya sendiri. Aku hanya khawatir jika kalimatku sampai bermakna berganda.

Seperti membelinya mahkota selera sampai seperempat juta sekadar untuk nostalgia menjadi suatu keputusan mengenai bagaimana kekuasaan judisial diselenggarakan di Amerika Serikat. Meski ada sedikit tanya mengapa sampai bertanya mengenai biaya kuliah setahun, biarlah mereka yang bertanya-tanya mengenai nasib anak-anak langsung mendapatkan jawabannya. Aku tidak mau tahu dan tidak akan pernah mau tahu, sebagaimana kalian tidak pernah mau tahu akanku. Ini entri yang mungkin 'kan disangka tanpa koherensi, namun bagiku konsekuen sekali.

Danau Maggiore untuk Selama... Selama-lamanya

Tuesday, March 28, 2023

Serasa Jutaan Tahun T'lah Berlalu Sejak Kau Pergi


Memang mengerikan, membuat pikiran tidak pernah menyimpang. Naudzubillah. Kemarin malam saking saja Cantik mengajak ke PeSq maka 'ku mengajak juga Anakku Kin. Sepulangnya dari sana, sekadar duduk menonton Yutub sudah mengantuk. Mungkin karena udara memang sejuk sebab hujan dari sore. Bahkan setelah Ashar aku sampai tertidur saking sejuknya udara. Hampir setengah enam ketika kami bergerak menuju PeSq, sedang jalan depan rumah dihalangi oleh mobilnya Inu. Suasana apa ini yang ditimbulkan oleh ketidaksukaanku tidur sendiri di lab hukum.
Di kejauhan 'ku lihat teman-teman Afi. Aku bisa yakin karena mereka berkerudung, meski aku sudah lupa seperti apa tepatnya seragam TarQ. Ada empat ekor mereka. Dari kejauhan ini juga kami dulu sering menggoda anak-anak SMA Tidar yang pulang sekolah. Beberapa hari ini aku diharu-biru khayalan untuk menghabiskan lagi hari-hari di Dukuh Barepan itu. Entah mengapa gagasan itu begitu menyenangkan. Ibu pun semangat ketika 'ku ceritakan mengenainya. Makanya segera selesaikan disertasimu, Tolol. Malah mengitiki tidak karuan begini, salahku sendiri...

Namun benar belaka apa yang dikata Cantik tadi pagi. Jika mau berolok-olok di tempatku sekarang ini. Sanggupkah aku menahan diri dari berolok-olok dalam peran dan kedudukan itu, sedang berada di situ saja sudah merupakan olok-olok besar. Gedung-gedung tinggi di kejauhan itu memang terlihat menjengkelkan, sedang tempat ini terkenal dengan hutannya. Pada akhirnya memang tempat manapun akan ditinggalkan. Lagi, lagi-lagi lagi yang selalu saja mencekam hati nurani dengan keindahan melankolinya yang sentimentil, nostalginya yang tak jua 'henti.

Ali McGraw yang mengaku Monalisa padahal Natalie Jastrow dari masa kecilku. 'Ku ulang lagi setelah dewasa ketika sendiri di kamar-kamarku di Maastricht. Puasa berjam-jam, sampai delapan belas jam, di negeri Belanda seperti pernah dilalui Bung Hatta dan Bung Syahrir. Di depanku tergeletak tentang dan sekitar Undang-Undang Dasar 1945 yang selalu saja mengharu-biru bahkan sebelum aku diterima di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Monalisa, Monalisa adalah simfoni cinta bersampul hitam, biru kehijauan, dalam balutan cahaya bulan biru, manja bermesra...

Sadarkah bahwa yang seperti itu memang tidak pernah berhenti, maka berharaplah, bersiap-siaplah untuk waktu ketika itu semua berhenti. Sedang di sini semua hanya untuk ditahankan, meski mungkin sekarang memang sudah masuk musim semi. Mereka tidak akan pernah berhenti bersemi ketika waktunya tiba. Terpulang padamu apakah akan membiarkan diri kecanduan wewangian musim semi, atau membiarkannya berlalu dipanggang hangatnya cuaca musim panas. Jangan pula lupa, musim gugur akan selalu menunggu, membawa bersamanya musim dingin berbadai salju, bermuram durja langit kelabu.

Padahal sejatinya tidak harum. Padahal harum karena memakai harum-haruman entah dari alam atau buatan. Sedap di mata semata tipuan pikiran, atau perasaan, sama saja dengan apapun yang terasa sedap di mata. Sedap di mata, merdu di telinga, harum tercium hidung mengendus-endus, seperti anjing-anjing dikerobongi keranjang bambu atau rotan sekali. Padahal tidak boleh memulai kalimat dengan padahal, namun 'ku lakukan juga, demi mengingat siang-siang panas cuaca sedang membeli bubur makanan laut; habis seporsi sungguh banyak sampai sulit bernapas.

Meski dingin dan mengantuk 'ku rasa, tapi 'kan 'ku babat selesai saja; tinggal satu alinea ini. Aku di pojokan horor sedang Cantik mendengkur lembut di atas tayo berbantalkan canon keras kesukaanku. Begitu jam tiga nanti, bahkan akan 'ku masukkan kantong plastik cano dan 'ku bawa ke HAN. Gantian aku yang tidur di sana, semoga sudah tidak ada orang lagi kecuali Pak Mono. Mungkin terbangun sebelum buka dan memesan makanan untuk berbuka. Eit, tidak semudah itu. Masih ada janji dengan Marsha. Sudahlah 'ku biarkan saja ia diperiksa turnitin, biar lekas selesai.

Wednesday, March 22, 2023

Ramadhan 1444 H Marhabannya Nyepi 1945 S


Dari awal sekali aku selalu tahu jika entri-entri ini tidak berdaya, setidak-berdaya agenda Kopassus yang 'ku miliki sejak kelas tiga SMA. Aku Kopassus itu menggelikan, karena yang akhirnya Kopassus adalah teman segrahaku Brigjen TNI Achiruddin Darodjat. Beliau bahkan kini menjabat Wadanjen. Dua lainnya adalah Brigjen TNI Edwin Adrian Sumantha dan Kolonel Inf. Willy Brodus Yos Rohadi. Aku sendiri adalah seorang kopral taruna purnawirawan. Pangkat ini, kopral, 'ku sukai sejak lama, yakni, ketika 'ku menyadari diri ini tak lain Kopral Bono yang aksinya very good.
Maka 'ku mulai hari dengan pertanyaan terpenting: sudahkah aku sholat subuh. Meski matahari sudah tinggi, tidak juga aku beranjak sarapan karena Cantik masih bobo. Maka 'ku bersih-rapikan kamar kambing sampai Cantik bangun dan begitu saja kami ke Margo. Tidak ada lagi yang 'ku sukai dari tempat ini, jika pun pernah 'ku sukai. Kenangannya, Pawon Nyonya dan Cafe Oh la la adalah ketika aku muda hampir dua puluh tahun lalu. Tiga tahun lagi, tempat itu memang akan berulang-tahun yang kedua puluh, sekadar menegaskan betapa sudah banyak waktu yang tersia-sia...

Kenangan apapun sudah pasti tidak berdaya. Bahkan suatu hari nanti 'kan datang hari-hari di mana tenaga mental untuk mengenang pun sudah tidak ada. Khayalan mengenai kebahagiaan hidup sejahtera di khatulistiwa bisa jadi juga sekadar khayalan, terlebih jika mengingat kantor Patar yang aduhai kunonya. Pojokanku kini di kantor Mas Wirto juga tidak kalah kunonya, jadi tak apalah. Masa lalu memang harus dibiarkan berlalu. Masa depan hanya bagi yang masih punya cukup tenaga untuk mengkhayalkannya, jika sekadar menjalankan kewajiban aduhai beratnya.

Apa yang dapat diceritakan dari sepiring nasi liwet yang hanya ditambah teh manis panas jadi seratus ribuan, dingin pula. Apa pula gulungan kalifornia dan okonomiyaki berteman dua cangkir teh madu lemon dan sebotol kecil air yang ada manis-manisnya hampir dua ratus ribu. Bisalah disebut dua skup cokelat dan mint, dua skup pralin berkerim dan pistasio, sedang carik tak-bertulang sudah tidak ada. Belum lagi pergi pulang yang lebih dari seratus ribu. Begitulah nyepi jika tidak amati geni, lelungan, dan lelanguan. Biar kapok. Biar tahu rasa. Aduh inilah pemain kawakan super.

Semua ini bunyi-bunyian dari masa kecil, di hari-hari menghabiskan masa kecil bersama Cantik yang terus bertambah cantik dari hari ke hari. Bunyi-bunyian yang tidak pernah berhenti cantik seperti mie ayam baik ful acis maupun donoloyo yang diberi bersambal rodamin-b dan bertaburkan banyak-banyak irisan daun bawang. Aku sudah seperti orang tua yang ditinggal anak-anaknya, karena sejak dulu pun begitu. Ingatkah pada malam-malam di Gang Pepaya ketika terbangun tengah malam, bertahan di lantai dua, mungkin 'nonton bola selain mereka tidak ada apa-apanya.

Aku tidak ingat terbangun malam-malam di kos Babe Tafran atau bahkan di Radar AURI sekalipun. Apakah ketika itu 'ku masih muda, karena masih sanggup tidur terlentang. Terbangun malam-malam itu betapapun sejak di Qoryatussalam. Jika itu terjadi di Belanda, mungkin akibatnya setangkap roti lapis khas 'ku sendiri dan semug teh-teh sok cerdik khas Belanda. Terkenang olehku suatu malam terbangun lantas ke starbek memesan indomie goreng telur kornet dan secangkir kecil teh panas diberi beragar-agar, akibatnya kembung bukan buatan sampai sulit bernapas...

Ketuaan adalah sesuatu yang pasti datang, dan apapun yang datang, sambutlah dengan senyum merekah. Terlebih jika ditingkahi irama keroncong sebegini cantik, mengingatkanku pada suatu malam di Hotel Shangri-la. Ini seperti memandangi rak-rak toko buku dengan beberapa judul buku, hanya beberapa eksemplar saja tiap judulnya. Demikian pula alat-alat tulis atau yang sering disebut sebagai fancy, sedangkan kasir dan penjaga toko adalah benar-benar manusia hidup dengan keluarga masing-masing. Hidup berdua saja begini bersama Istriku menjalani hari-hari tua.

Thursday, March 09, 2023

'Duh, Nisyfu Sya'ban Yang Tersia-siakan Oleh 'Ku


Biarlah entri ini 'ku mulai dengan aku tidak tahu ke dalam apa telah 'ku jebloskan diri sendiri, dan dengan pengecutnya 'ku jebloskan pula adikku. Malam-malam begini, 'ku lahap burger keju ganda, filet ikan dori dibungkus roti pita, masih dengan es krim vanila bersaus cokelat. Padahal, sebelumnya, sekitar sebelum maghrib, perutku sudah dikembungkan oleh semangkok bakwan malas. Jelas yang satu ini tidak mau mengobrol atau bahkan berurusan apapun denganku kecuali untuk kepentingannya sendiri, sedang anakku sayang mungkin mendambakan bapak biologisnya.
Apa harus 'ku tulis pula di sini mengenai Jambuluwuk Thamrin yang--seperti halnya hotel apapun di dunia ini--membuatku sulit tidur. Apa perlu juga 'ku catat betapa Dzaki membelikan jam tangan untuk Offal. Sarapan pagi di hotel bisa saja terdiri dari bubur ayam yang ternyata lumayan dan sarapan kontinental masih ditambah dengan kwetiauw goreng dan tumis sawi putih. Maka 'ku katakan pada serigala muda, aku sudah tidak muda lagi. Jika ada orang yang lebih tua daripada 'ku ingin jadi menteri pendidikan dan kebudayaan, sungguh aku tak tahu mengapa.

Bisa saja 'ku sumpal telingaku dengan bunyi-bunyian merdu temannya Jisun, namun aku merasa lebih nyaman ditemani degungan lampu neon panjang model lama yang banyak sekali di atas kepalaku. Mungkin hanya satu yang pas di depan kepalaku ini saja yang mendengung. Mudah sebenarnya, tinggal dicopot saja starternya agar tidak menyala lagi setiap steker di-on-kan. Apa manfaat ini semua jika perutmu melendung kembung dan selalu merasa mengantuk, terutama ketika beberapa hari terakhir ini selalu saja minum manis-manis iaitu sebotol teh pucuk harum.

Jikapun belum mulai setelah Nisyfu Sya'ban tersia-siakan beberapa waktu, apa hendak dikata. Memulai hari dengan pagi tidak dengan berjaya, terlebih jika ada yang bertekad siap mewartegkan Jabodetabek. Itu semacam cetusan gagasan mengenai memutakhirkan pendekatan pusat dokumentasi hukum menjadi lembaga pengumpulan pandekta hukum adat. Ah, siapa yang 'kan peduli pada paradoks-paradoks kecilku, sedang Teguh Rumiyarto yang jelas-jelas Kolonel Laut Korps Elektronika masyhur karena acapkali menelurkan ide-ide nan cemerlang. Gara-gara retroaksi...


Widis, ternyata masih sisa tiga, meski menggoblog di pagi hari bahkan ketika belum syuruq entah sudah berapa kali terjadi sejak sekitar 17 tahun yang lalu. Demikian pula, jika di subuh yang masih gelap ini orang asing dari Venesia begitu saja nyelonong dalam kehidupanku, seperti halnya bunyi alarm Hadi, Awful, Khaira, bahkan Istriku sendiri, entah sudah berapa kali terjadi. Apakah awal entri ini masih di ruangan bekas almarhum mbaknya Mas Mils atau sudah di pojokan dikelilingi apak buku-buku tua, juga tidak membawa terlalu banyak perbedaan, Aranjuez.

Jika begitu saja terkenang suatu siang bermendung berangin dingin bersama Kolonel Dr. Sigit dan Bang Noor di stasiun sepur Amsterdam selatan, sedang Bang Noor hanya bersweter tipis, itu sudah berlalu lima tahun. Melodi indah yang terasa cengeng sendu-sendunya tidak menambah atau mengurangi rasa dingin yang terasa pada lengan atas, yakni, tempat masuk dewi sinta yang mulutnya bau. Semua itu sama sekali tidak pernah terjadi padaku. Aku hanya mengkhayalkannya agar terdengar gagah seperti pantat jelek begitu, tidak seperti karnaval di sekujur Brazil.

Apa lantas ada subuh-subuh gelap begini bercengkerama dengan Pedro II atau Montezuma sekali. Ah, kalau ini sering terjadi, meski sudah lama sekali tidak begini, berdansa berputar-putar bersama Rumena. Mengapa dalam situasi begini kenangan membawaku pada suatu acara di mana Bang Daru menerima kemudi kapal sedang pada dadaku disematkan bintang delapan penjuru mata angin. Titik pada mata kaki kanan luarku terpencet dan menyetrum sampai ke jari-jari kaki, bahkan kini sudah mendekati setengah enam dan belum terang juga langit di bulan Maret ini.

Saturday, March 04, 2023

Keberkahan Sya'ban, Sampainya Ramadhan. Semoga


Setelah beberapa hari ini hanya masuk ke dalam goblog, memeriksa statistik yang tidak menerangkan apapun, malah berakhir membaca-baca entri-entri lama. Itulah gunanya statistik. Terkadang ia mengingatkanku pada entri-entri lama yang aku lupa bahkan ia pernah ada, pernah 'ku tulis. Ketika melirik ke kiri atas, sadarlah aku bahwa Sya'ban sudah habis sepertiganya. Senin atau Selasa depan ini sudah Nisfu Sya'ban. Di kejauhan, seorang ustadzah membumbungkan shalawat. Sementara itu, tetangga-tetangga bekerja bakti membersihkan, merapikan sekitar masjid.
Teh halia yang 'ku sruput-sruput di Sabtu pagi bermendung ini sesungguhnya tidak terlalu manis. Terutama jika kau mencicipi hidup a la syah Persia meski hanya sekadar dalam khayalan, karena jika tidak begitu maka bahkan infanteri mekanis saja sudah tidak sanggup lahir batin. Ah, teh halia ini manis-manisnya kehidupan dunia, merekah ranum bagai buah entah apa yang hampir saja menimpa kepala. Entri-entri goblog ini banyaknya sudah tidak terperi. Sudah lebih dari lima ratus, 'ku rasa. Adakah kebahagiaan hidup di dunia yang 'ku rasa; berpaling ia, wajahnya.

Tak henti-hentinya mengagumi manis-manisnya teh halia yang datang dari hati yang tulus, meski mungkin sekadar terjerat pesona tutur-kata yang fasih. Adakah kebenaran di dalamnya. Adakah mengandung Ajaran Sang Penguasa Keselamatan yang menciptakan indahnya alam seisinya, yang sanggup meluluh-lantakkan angkara-murka. Taman Argasoka sekadar bilik terabaikan, menyimpan kenangan akan ambisi kehidupan dunia. Aku sekadar lelaki tua gendut botak yang pikirannya tidak pernah menyimpang. Namun dunia memang tiada ambil peduli, bersikeras indah.

Kata-kata ini, aku tahu persis, tak berdaya. Bahkan menghadapi kekerasan hati bocah cilik yang dengan tangan-tangan mungilnya hendak merengkuh sombongnya dunia, kata-kata lungkrah bagai kelelakian diterpa amarah tertahan berkepanjangan. Tepat di sini 'ku biarkan kesenian sekuler mengambil-alih, karena bumbungan sholawat sudah berganti sesorah. Duduk disampingku dalam gelungan kecil sederhana yang menguarkan kesedapan kepala putik yang kuyup dilumuri serbuk sari iblis bulai keparat, kecuali ditahan pencegah penyerbukan. Diriku sendiri aku kutuki.

Betapa sukubus jahanam mengunjungi dalam mimpi, pantatnya yang mungil didukung diremasi sedang mulut dan mulut berpagut. Tepat di sini aku direnggut oleh masa kecilku yang indah, ketika hidup masih seperti keran air berwarna merah. Dapat 'ku bayangkan air yang mengalir darinya segar dan menyegarkan, mengusir penat anak laki-laki kecil yang tidak seberapa. Penat lahir batin yang kini kesehariannya setelah botak, tua, dan gendut bahkan jauh berkurang hanya dengan mengenang keran merah mengucur air; terbang melayang-layang bebas jiwanya di atas Copacabana

Dalam keadaan seperti ini kau menyambut yang mulia, lantas di mana hasrat kerinduan akan rasa aman sampai menghitung-hitung mempersiapkan. Kuda sembrani terbang melintas di atas ufuk kesadaran. Abaikan bentuknya yang mungil gempal, dan bahwa di atasnya ada anak laki-laki periang namun tololnya tidak ketulungan. Lihatlah ketenangan, kedamaian yang membonceng padanya, dalam bentuk anak perempuan berambut kepang dua. Buang jauh-jauh khayalan akan kasih-sayang yang sangat kau damba darinya, kar'na hidup ini adalah memberi dan memberi.

Apa bedanya bercampur ludah ketika mulut-mulut berpagut dan diludahi ke dalam mulut menganga sungguh tak pernah terpikirkan. 'Nah 'kan, terlebih jika mengingat kemungkinan besar zaman sudah berganti dari ikan menjadi air. Seperti semua kita dari manusia paling bejat sampai tikus putih paling mencit sekali, memulai hidup berenang-renang dalam air. Ludah pun sebagian besarnya air. Seperti ketuban, ludah pun tak kalah menjijikkan. Itu, tentu saja, setelah keluar dari padanya. Ketika masih berkubang berkecimpung di dalamnya, yang ada hanya kesedapan.

Kalau begini terus lalu kapan sampainya

Friday, March 03, 2023

Kisut: Tinjauan Kritis Kemakmuran [Daging] Sapi


Manisnya es teh leci meski kupingnya caplang, maka dicepol kecil dua di atas kepalanya. Namun kenyataan bahwa ia mungkin memakan [daging] babi juga, terlihat dari bodinya yang sintal cenderung demplon. 'Ku rasa bukan begitu cara opung Kopral Marinir Purnawirawan Albert Nainggolan Lumbanraja turunan Sirajalottung menggunakan tanda kurung, meski aku belum pernah lihat beliau menggunakan kurung siku apalagi kurawal. Opung Albert tentu kopral marinir sungguhan, tidak sepertiku yang kopral taruna purnawirwirya sehingga ditertawakan Kol. (CBA) Hamdi Wibowo.
Meski kedemplonan mondar-mandir di hadapan mata kepala, seorang terpelajar terus menekuni tinjauan kritisnya terhadap kemakmuran [daging] sapi sebagaimana terpampang dari mimiknya. Selisih dua puluh tahun memang jelas tegas perbedaannya. Suatu ragaan yang terlalu menampakkan jelas ragaan yang harus dimusnahkan meski dari goblog ini, karena goblog ini seperti orang-orangan plastik atau serat kaca yang cuma ada torsonya, sedang organ-organ dalamnya bisa dicopot-copot sampai bolong-terowong itu torso. Beberapa organ itu bahkan ada cantelannya agar tetap pada tempatnya. Ini akibat khayalan tak berdaya.

Bang Jep menertawakan kegilaan seakan tidak jelas-jelas ada pada sahabatnya, Roberto Bellarmino Gratio, yang mukanya harus dilestarikan karena sudah terancam punah: wajah manusia Jawa asli, tulen! Astaga, tak pernah 'ku sadari betapa gerai mekdi di dekat tempat orang-orang dengan daya beli tepat di ambang-batas sepertiku tinggal dapat begini penuh di akhir minggu. Apa ini menjadi semacam tempat wisata, seperti untuk rekreasi begitu. Coba 'ku tanyakan ini pada duo Jep and Grat agar direview. Biar bertemu perempuan yang setulus hati mencintaimu ,'Yo.

Sejuk manisnya es teh leci membasahi kerongkongan yang kering-kerontang tidak pernah dibasuh kisah kasih asmara, seperti kerongkongannya Gratio hahaha. Sedang Dik Nana dikata Bu Haji oleh Bapaknya Luna yang tidak sembuh juga asal-asalannya [memangnya aku sudah sembuh], ada baiknya aku segera meningkatkan jabatan fungsionalku sekadar biar lucu. Aku sangat ingin naik haji dan sewaktu muda pun kuminis. Biar juga 'ku tulis di sini, Prof. Uwi memberiku "A" untuk Hukum Perburuhan karena makalahku yang berjudul "Peran Serikat Buruh dan Partai Buruh dalam Menegakkan Hukum Perburuhan".

Harus ditegaskan pula di sini, sirup mawar tidak dibuat dari air mawar! Meski kegempalan berjongkok di hadapanku memakaikan kacamata karton pada anak-anak perempuan kecil seraya berselfie ria, perhatianku teralihkan darinya. Kini inderaku dikuasai Armada yang bukan utara atau timur atau barat, seperti perut yang dikenyangkan oleh kemakmuran [daging] sapi dan goreng ikan bungkus. Aku mematung di dekat pintu keluar, dengan wajah yang mungkin bagi orang-orang di sekitarku tampak serius. Aku memasang wajah tolol, padahal, seperti biasa, jika sepi sendiri.

Uah, betapa sedapnya dram sner dan bas dipukul satu-satu begini, dengan bas gitar sekali-sekali bersinkopasi. Aku menulis begini seakan tahu apa yang 'kutulis. Begitu saja aku terlempar ke waktu-waktu ketika aku masih semuda Bapak-bapaknya Duma dan Luna. Betapa menyakitkan waktu-waktu itu ketika aku bertahan satu cinta. Aku memang tidak pernah lebih dari satu cinta. Jika aku jatuh cinta, maka itu untuk selamanya. Jika 'ku berikan hatiku, maka itu seutuhnya. Cobalah lakukan itu, 'Yo, mungkin kau akan berhenti komunis. Ada satu masalah: Kau tidak seganteng daku. 

Bukan studio di Kees Broekmanstraat itu yang hadir dalam cipta, melainkan kabin Miniarta M04 trayek Pasar Minggu - Depok Dua, Tengah, Timur, Dalam. 'Ku lakukan itu semua demi cinta, sampai sesak dadaku, panas mataku. Hanya ini bisaku, maka 'ku lakukan semua kebisaanku. Jika aku harus meningkatkan kebugaran, maka itu demi cintaku, kali pertama, pada Ibuku, kali kedua, pada Cantik, Istriku satu-satunya. 'Ku ambil resiko mempermalukan diri sendiri menghadap Padang juga demi Cantik. Tak seorang pun tahu apa yang 'kan terjadi sedetik lagi. 

Thursday, March 02, 2023

Bahkan Penyompret Harus Berpangkat Sersan


Memang hanya begini caranya, segera berondongkan apapun yang lewat. Usahakan sekitar tiga baris, karena kurang dari itu mungkin akan macet mitralyurmu. Kalau sudah macet maka sangat mungkin justru kau yang akan diserbu serangan sangkur menusuki tubuhmu. Baru jika sudah tiga baris setidaknya, aturlah rata kanan kiri dan sebagainya itu. Berilah gambaran dan beri judul, meski penyompretnya banyak bekas jerawat begitu. Jago dia menyompret, harus diakui. Bahkan 'ku selesaikan dulu satu alinea sebelum memeriksa pratinjau, apakah masih transparan tidak.
Aku juga tidak ingat bagaimana asalkan kau bahagia bisa berada dalam koleksiku. Aku hanya ingat seorang anak pemalu menyanyikannya dengan lumayan baik, diiringi gitar gurunya. Hanya 'kuingat betul suasana hati satu map ini yang dimulai dengan ajakan Keisya agar aku jadi kekasihnya saja. Di suatu siang yang, seperti biasa, murung tak bermentari di bilangan Uilenstede, di sebuah kamar yang lebih panjang daripada lebarnya. Ketika itu meja sudah lebih dekat ke pintu daripada jendela, seingatku. Meja dekat jendela itu kala musim dingin, masih ada Pak Kaji, sebelum Maret.

Memang betul, jangankan bertahan satu cinta, bertahan hidup itu dilakukan setiap hari bahkan detiknya. Dari ketika hari-hari masih pendek, terbangun jam tujuh pagi pun langit masih gelap, sampai senjakala yang panjang antara setengah sebelas sampai setengah duabelas malam. Rencana-rencana bodoh ketika baru pindah ke bilangan NDSM, sampai beli troli belanja segala, tirai bilik mandi segala. Menjual kulkas Hadi pada Bang Halim untuk membeli yang baru, mengantarnya dengan mobil sewaan ke bilangan Nieuw West sedang badan dingin kemasukan.

Dengan semua ingatan ini, Cantik mengajakku meninggalkan ini semua ke... Belanda. Sebungkus Al-Khanjar belum 'ku masukkan kembali ke dalam kotaknya. Apa tidak 'ku keluarkan saja semua dari plastiknya dan 'ku jadikan satu dalam kotak itu, membawaku ke masa mudaku di sekitar Magelang dan Jogja. Asap rokok sudah lama 'ku tinggalkan, 'ku ganti menjadi asap dupa. Sudah hafal 'kan polanya, pengulangannya, jadi mengapa masih tertarik, masih sulit memalingkan perhatian; atau justru karena pola dan pengulangannya itu sampai berakhir segala sesuatunya.

Aha, baru terpikir olehku apa yang sebenarnya tengah terjadi: retroaksi-mania. Ketika semuanya mungkin tepat pada bentuk dan tempatnya kecuali, seperti biasa, cuping telinga. Belati, pistol, dan granat pernah menjadi khayalan. Meski demikian, tidak akan terwujud kecuali memang kepraktisan menghendaki. Apa guna barang-barang itu bagi seorang hina-tak-bercelana sepertiku ini. Apa 'ku pikir aku semacam Andy Scott begitu yang memakai kalung telinga. Hentak-hentaknya irama disko membuat pinggulku mengayun-ayun sendiri bergoyang-goyang; meski sepi sendiri.

Betapa meriahnya demi melihat tiga pucuk dupa terbakar terang-benderang, sedang awan lembayung bertahan cukup lama di ufuk barat tadi; lebih dari setengah jam. Jika memikirkan apapun yang 'ku lakukan, 'ku lakukan untukmu, jadi terkenang paruh kedua 1991, karena awal 1992 itu, ketika aku terkena hepatitis, aku suka senyummu. Aku ingat, ketika menyadari air seniku berwarna coklat seperti air teh, aku justru ingin minum soda dingin manis. Aku sempat menghabiskan beberapa malam di rumah karantina itu. Namun ketika itu 'ku rasa 'ku sudah mulai membaik. 

Tentu saja, indomie telur buatan pembantunya Bu Dokter Tien Tien yang seingatku agak terbelakang mental, dengan rambut yang sedikit botak di sana-sini. Telurnya selalu diaduk dengan kuahnya. Namun ketika itu enak-enak saja. Jelasnya, masih jauh lebih enak daripada buatan Pak Sachid yang lebih banyak kubis cacahnya daripada mie apalagi telur. Terlebih setelah aku dan Bang Benny Oktora harus menghabiskan kerang rebus masing-masing sepanci setiap makan malam. Aku bahkan masih ingat Dokter Tien Tien membelikan kami bakso, tentunya makan dengan lahap.

Sunday, February 26, 2023

Separatos dari Bahasa Marka Peramban Internet


Apa jadinya jika di suatu Minggu pagi bermendung sistemmu dipaksa mencerna sekitar 200 ml es krim vanilla diberi bersaus cokelat, setelah sebelumnya menggiling setangkap muffin Inggris berisi dua potong sosis ayam asin mengapit selembar keju cheddar Amerika dan roti tipis kecil gulung berisi orak-arik telur ayam, sekerat daging asap tipis dan selembar juga keju cheddar Amerika. Jadinya engkau mungkin sedang berada di Albany, Atlanta, atau Augusta, yaitu kampung halaman JChosen, Avery, dan James, orang Afro-Amerikan semua. Mari, pergi terbang bersamaku!
Jika tidak 'ku buka lagi profil paling sialan ini, mungkin aku 'kan lupa bahwa Sang Suara pernah berduet dengan Si Tolol Bono yang tentu membuatku jengkel dari waktu-waktu yang tak terperi. Sedang belum lama ini hampir-hampir saja aku mengirim pesan instan kepada Bu Eti menanyakan resor apa yang dipakai untuk rapat kerja manajemen pada sekitar awal 2012. Semua ini bisa terjadi kapanpun, pada Minggu pagi bermendung yang manapun, meski Karen selalu saja mendamba kemarin sekali lagi, seperti halnya 'ku. Segelas lagi air panas 200 ml boleh 'lah pula.

Uah, meminta kembali pulang ke rumah bisa menjadi mengerikan ketika cinta sudah sama-sekali menguap, yang biasanya disebabkan karena adanya cinta yang baru. Bau selangkangan sudah menguar karena memang sudah tiga hari tidak mandi, membuatku mengingat tempat-tempat yang biasa 'ku anggap rumah. Suatu waktu larut malam kau kata cinta padaku. Cuih, apa cinta. Kasihan kambing kebanyakan makan ayam suntik sedang kurang gerak sehingga pikirannya istri tok. Kambing begini memang sebaiknya disembelih timbang keburu kawak, tak enak dimakan.

Sudah masuk alinea baru sedang gambaran audio akhirnya berganti menjadi burung malam. Ah, ini lebih menyedihkan lagi. Seorang gadis kecil, mungkin baru empat belas tahun, terpaksa minta dibelikan teh Saigon pada tentara Amerika umur dua puluhan awal, karena keluarganya habis dibunuh Viet Cong. Tinggal ia dan ibunya yang sakit, mungkin karena luka-luka yang dideritanya akibat Viet Cong memorak-porandakan kampungnya. Ada lagi lebih kecil dari itu berjualan sate nanas, sedang tentara Amerika lain ingin membuat jarinya bau. Membuat sesak dada.

Bisa saja 'ku lindungi mereka dengan mengatakan: "gadis-gadis ini milikku". Namun ini jauh lebih mengerikan lagi. Anak laki-laki yang entah mengalami apa di masa kecil dan remajanya, sampai ia menimpakan apa yang pernah menimpanya pada anak laki-laki lain ketika ia seharusnya dewasa. Ini menunjukkan bahwa kanak-kanak, remaja, dewasa benar-benar tidak berarti apa-apa. Sangatlah bisa dipahami jika Rasulullah, kedamaian semoga selalu atas beliau, mewanti-wanti umatnya mengenai si anggur busuk untuk sebelah mata; harus memohon perlindunganNya.

Di titik ini aku menyerah, dan itu sama sekali bukan berita karena aku memang jadi orang gampang menyerah. Tepatnya aku tidak pedulian, meski hujan menerpa wajahku sedang badanku tiada seberapa enak rasanya. Ini, 'ku akui, bukan sebuah entri yang bagus; sekadar 'ku kitiki karena aku ingin mengitiki. Apa harus 'kukitiki Ratu Bilqis dari negeri Saba. Adakah dia akhirnya menjadi Muslim karena diperistri Nabi Sulaiman alaihissalam. Keinginan membuat kaus juga masih ada, mengapa tidak beli kaus polo polos saja; atau dibordir agak apalah begitu.

Baru di alinea terakhir ini Penelope menjelang padaku, tapi untuk apa. Ia menguap begitu saja, bahkan tidak seperti asap dupa setanggi. Ia lebih seperti hembusan uap air dalam nafasku yang terperangkap masker dan mengembun di kaca mata hitamku. Aku bahkan tidak akan menyamakannya dengan uap air dalam nafasku ketika musim dingin di Belanda, karena aku tidak suka Belanda apalagi Siberia. Sungguh sedih jika seperti Mbak Dina yang sebenarnya lebih suka di sini tapi sedang harus melarikan diri ke Jerman. Untukku sendiri, sungguh aku tak peduli. 

Wednesday, February 22, 2023

Kisah Cinta, Kisah Batang Permen Lunak Dikunyah


Masa 'ku awali entri ini dengan pertanyaan mengenai dari mana 'ku mulai, ketika makanan tidak pernah benar-benar jadi masalah secara kuantitas. Bahkan aku pernah membuang seplastik penuh dendeng manis gara-gara dengan tololnya 'ku buat lodeh, malah jadi kolak daging dan sayur; 'ku buang di selokan. Menunggu datangnya trem nomor 26 jurusan Ijburg sudah pernah 'ku lakukan, dan rasa kesepian itu bukan main. Aku suka di sini, tak pernah 'ku sendiri meski sepi. Sunyi, sepi, sendiri adalah perpaduan yang kurang baik bagi orang yang secara mental beranjak tua.
Di luar rintik hujan mengelus membelai cucuran sebelum lagumu berakhir di penghujung pagi menjelang siang. Sungguh menarik suasana yang ditimbulkannya lahir batin, terlebih dengan penggambaran batang permen lunak berkaramel berlapis krim coklat. 'Ku t'lah ditinggalkan dan meninggalkan. Dua-duanya sama-sama meninggalkan rasa sakit tumpul di ulu hati, meski demi apapun bintang toedjoe tidak mungkin diakronim jadi Bejo. Kasur dakron lipat bergambar Tayo dan bantal Canon klasik yang dulu 'ku punya, sekarang menemaniku lagi di sini: Cuma Rp 118.000.

Adakah jika hujan berhenti aku 'kan pergi ke Alfamart, membela-beli seakan banyak uangku. Rejeki yang luas bentuknya bisa apa saja. Setiap entri yang 'ku kitikkan pun merupakan pertanda adanya rejeki padaku. Seandainya saja aku punya waktu dilanjutkan dengan tahukah kau ke mana kau akan pergi memang berasal dari waktu-waktu melewati kantor redaksi Kartini dan Ananda, yang banyak antenanya itu di atasnya. Tentu tidak setinggi yang di Radio Dalam. Dulu tampak baik dari kursi malas di teras atau jendela kamar tamu ke arah kebun belakang berpohon pipisang.


Aquarius baru saja berlalu, sampai aku berpikir akankah 'ku warnai biru alinea ini. Untunglah baik Jojo maupun Loretta Martin yang manis diteriaki ibu-ibu mereka masing-masing: "Kembali!" dengan suara organ tiup dan flut yang sebenarnya kocak; entah mengapa begitu tafsirnya. Akan halnya sesaset bejo 'ku tenggak lagi setelah memakan sepotong beng-beng mini dan dua keping biskuit marie, 'ku basuh saja dengan seteguk dua air hangat. Terlebih jika semangkok mie ayam bersambal jempol apo ronju masih dilanjut empat potong gorengan, dua oncom, satu cireng, satu bakwan, pembasuhnya pun teh botol yang 'duhai manis sekali.

Bersama Isadora dalam ketukan dua pertiga begini, entah mengapa aku ber-waltz ria ke Gedung yang dulu bernama POMDA di awal 2010-an. Di depan sekali langsung ada lapak gigitan kedua, tepat di emperan bakwan malang yang pernah jual nasi bogana juga. Di belakangnya ada goodank milik bekas adik iparku, dan jauh ke belakang sana ada Kantin Via. Uah, akhirnya 'ku ingat juga nama kantin yang menjual masakan-masakan Jawa tradisional itu. Di situlah Dedy Sudedy bertanya apakah aku masih bisa menyantet, sedang maksud sebenarnya ialah memelet Asmirandah.  

Sudah kurang lebih lima belas tahun berlalu dari waktu-waktu itu, ketika aku bangun tidur agak siang lantas terpikir makan bakwan malang atau gudeg Via mengajak Dedy Sudedy. Kini Dedy Sudedy beranak banyak, tak 'ku sangka dari waktu tiba-tiba ia relijius di Gang Pepaya sana, sedang biasanya menjodoh-jodohkan binatang atau tutup botol sekali. Aku pun tak percaya jika tidak banyak yang berubah padaku kecuali bahwa aku minum tiga macam obat darah tinggi setiap malam sekarang dan lebih berat sekitar dua puluh kiloan. Selebihnya, meski tak pernah lagi membeli puding mentega di omongan roti, aku masih teramat menyayangi Ibuku. 

Seperti sering 'ku lakukan di entri-entri terdahulu, disengaja atau tidak aku mengabadikan suatu waktu. Seperti sekarang ini, dalam waktu kurang-lebih setengah jam aku akan mengajar hukum koperasi lagi dalam Bahasa Inggris. Kini aku masih di tempat persembunyian menyanding semug dies natalis ke-91, yakni 2015, kopi susu jahe, ditemani orang asing dari Venezia. Benar-benar suatu perpaduan yang aneh, karena orang asing satu ini sudah menemaniku entah sejak kapan. Setidaknya dari hari-hari mengerikan di awal 1996 itu, hampir tiga puluh tahun lalu: Hati, hidupku.

Friday, February 17, 2023

Sebenarnya Maria Helena, Tetapi "H"-nya Tak Bunyi


Sejalan dengan merabun-dekatnya mata, kilau-cerlangnya dunia sudah tak lagi menyilaukan. Mengejutkan terkadang, membuat heran betapa kerjap-kerjapnya bagai sambaran halilintar; karena kerlap-kerling berlian tidak pernah mempesonakan. Jika selain Maria Helena masih ada Veronica apa mau dikata. Segala yang indah dan menyenangkan dari dunia ini memang untuk diraup dan direguk banyak-banyak, maka dua belum apa-apa. Tidak heran segala maharaja diraja sampai menumpuk banyak, hanya untuk ditanya kelak ketika segala kembali suwung: Siapa Maharaja Diraja di sini.
Bahkan ketika baru kedirian saja dihilangkan sudah terasa esoterisnya, maka 'ku kembalikan keakuanku. Maka sangatlah dapat dipahami jika lubang yang sembilan itu harus ditutupi. Kedua mata, kedua lubang hidung, kedua lubang telinga, mulut dan dubur serta qubul. Yang terakhir ini tidak dua pada satu diri, karena satu lagi ada pada diri lain. Padahal hanya seonggok daging namun mengaku diri, namun memang yang seonggok itu pula melenakan. Padahal baunya bisa sangat memuakkan lubang-lubang itu, namun dicari pula, untuk disumpal dengan kotoran jua.

Anjay, begitu menelusur esoterisme langsung entri pertama adalah wihdatul adyan versi yaqut, cukup membuatku muak padanya. Sedikit protein atau lemak teroksidasi masih tertahankan baunya, namun jika agak beberapa kilo darinya--karena sekitar 80% lebih adalah air--pasti memuakkan sampai terburai semua sarapan sampai makan malam lengkap beserta kudapan-kudapannya. Hei, 'ku berseru pada semua koprofil dan nekrofil yang sibuk melahap tahi dan bangkai, atau sekadar mencuil-cuil mengudapnya. Tanpa ayal, 'ku sembur dengan pelempar api.

Dari mana 'ku mulai bercerita mengenai betapa cinta semendalam ini. Cinta begini bukan tahi pada tahi, bangkai pada bangkai, melainkan diri pada diri, yang mungkin belum menyadari betapa sejatinya mereka satu diri, karena Diri memang hanya Satu. Ah, hentikan semua esoterisme ini, karena 'ku yakin hanya satu jalan yang akan menuntunku pada Diri yang Mencinta. Orang meremehkan pentingnya penyaksian, perbuatan nyata dari hati, pikiran, kesadaran, perhatian, hasrat, keinginan, idam-idaman, sampai seluruh anggota tubuh mengikuti. Orang meremehkan rasa aman.

Aku harus tegas, kini dan di sini juga. 'Ku berakkan tahi! 'Ku beraki tahi! Aku bangkai, masih bertahi, berlumur tahi. Berapa juta batang amirul uud, al khanjar, atau kiswah 'ku bakar, tidak dapat menghapus kenyataan itu. Beralih dari esoterisme ke fetisisme feromon sungguh tidak mudah. Namun jika benar-benar kau pejamkan matamu, kau santaikan rambut-rambut hidungmu, feromon dari jarak berapapun dari waktu kapanpun akan terhirup olehmu. Akhirnya, pikiranmu santai, sampai-sampai kau bisa mengajak tidur meski baru kenal, karena kau keong racun tidak lain.

Jika sudah begini, jangankan malu, kemaluan siapapun sepanjang masih satu spesies dan berbeda jenis tidak ada bedanya bagimu. Apa jadinya. Tentu tantrisme, Bodoh. Sampai di sini aku mengguguk seorang diri di pojokan gelap, menyadari bahwa ini semua tidak bisa lepas dari kolonialisme-imperialisme. 'Ku pandangi dunia yang terus saja cantik merekah di antara senggakan dan sengalan nafasku, lirih bertanya: "Adakah kalian sadari juga". 'Ku raup ceceran tahi di sekeliling bangkaiku, 'ku balurkan pedih-pedihnya pada luka-luka busuk bernanah. Kesakitan.

Di pojokan itu, penuh sampah belumpur berbelatung, 'ku pandangi dunia. "Ku pertontonkan pada siapapun yang lalu-lalang kemaluanku. Ini kemaluanku, mana kemaluanmu, lantangku. Jika beruntung, semburan ludah yang 'ku terima. Jika lebih beruntung lagi, dari seorang perawan kencur yang cantiknya mengalahkan seribu bunga taman sari dewa-dewa. Jika masih lebih beruntung lagi, ludah itu mendarat tidak jauh dari bangkai mulutku. 'Ku julurkan bangkai lidahku melata-lata untuk menjilat asam deoksiribo nukleat hidup itu. Bangkai mulutku merekahkan senyum.

Thursday, February 16, 2023

Angga Priancha. Anak KKI Pertama yang Jadi Dosen


Tidak mudah lho menggambarkan, terlebih jika di mata kaki kananmu ada seutas otot atau pembuluh yang bila kau pijat-pijat akan njarem nyetrum sampai ke jari-jari kaki. Di titik ini, aku belum memutuskan judul apapun untuk entri ini, meski satu inspirasi berdenyut-denyut di pelipisku, atau pipisku. Meski akhirnya 'ku putuskan begitu judulnya, seperti biasa, tidak berarti ini adalah entri mengenainya. Judul biasanya semacam kode lemah syahwat yang didesahkan lelaki paruh baya pada burungnya sendiri, atau bahkan bukan semacam apapun; cuma letupan, crit-crotnya tahi macan.
Malam mendekati tengahnya ketika aku sudah tidak sanggup apapun kecuali mengitiki, segelas air panas 'tuk basuh sisa-sisa susu prendjak yang tadi 'ku gelegak membasahi kerongkongan. Suasana hatiku sedang tidak di mana-mana kecuali merindukan nyamannya lapar, piano berkelentang-kelenting di pojokan lobi. Jika ini hotel bintang tujuh sekalipun, takkan mengalahkan nyamannya berkaos oblong angsa cina, bercelana pendek super jumbo boleh beli di ITC Depok. Malam ini panas tidak dingin tidak, namun ada yang berdenyut-denyut entah di mana, seakan ingin meletup.

Meski 'kususuri kembali jalan-jalan seputar Bangunrejo, mesjid yang mengumandangkan adzan subuh itu, dan lalu-lalang mulai reda apatah lagi hiruk-pikuk. Selesai shalat subuh sudah betul-betul sepi seakan tidak pernah ada keramaian. Wisma-wisma mulai tutup menggelap. Rumah tangga mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Apakah aku bergegas mencari taksi, adakah 'ku kembali ketika kawan-kawanku sudah siap-siap lari pagi di selasar-selasar Candrasa. Jika sudah begini, mau ikan paus, ikan teri, ikan lele, ikan kongtol sekalipun ingin 'ku letakkan di atas bata, lantas 'ku gecek dengan bata lainnya. Mejret. Jeroannya dimakan kucing. 

Bisa juga setelah dislepot bencong sontolmeongnya, lanjut menyusu pada simbok sampai hari terang. Seorang pelacur terlelap meringkuk di bale-bale, tersingkap roknya, tampak celana dalamnya. Dicarikannya sehelai selimut, diselimutkan pada tubuhnya, menutupi rok tersingkapnya, penampakan celana dalamnya. Hari sudah terang ketika lelaki melangkah keluar dari rumah pelacuran itu. Adakah ia sarapan setelah itu, bisa jadi telur balado atau kalio, bisa jadi juga peyek udang atau sejenisnya. Meski ke mana lelaki pergi setelahnya, takkan seorang pun mau memperhatikan.

Itulah sebabnya jika melihat mbak-mbak kuliahan, kantoran, atau yang sejenisnya, senyum tersungging di bibir yang kering menghitam penuh jelaga rokok berbagai-bagai merek. Ketika obat kumur disangka obat kuat, apa lagi mau dikata. Lubang di tanah sudah seperti kuburan belum diuruk, ditutup sehelai kardus entah bekas kulkas atau kompor induksi empat tungku, di dalamnya digoyang dombret mbah-mbah, ya, itulah di Puri Misteri. Hidup berlanjut, namun ingatan tak beranjak dari comberan-comberan penuh sarang tikus berpantat botak, ya, cinta itu terus berlanjut.

Kini, ketika pura-pura peduli pada deforestasi atau abu batu bara, masalah hukum apa yang timbul, slontongan tidak pernah berhenti dikunyah-kunyah ketika masih lembek, dikulum maju-mundur ketika sudah keras, sampai terburai itu tahi macan di pangkal tekak. Nyatanya, kaki-kaki masih tertanam dalam di lumpur dasar comberan, geli rasanya jari-jari kaki digerak-gerakkan. Kepala tegak terhormat meski membotak, tak bisa melupakan hangatnya kasih-sayang yang diberikan simbok, simbah, atau entah siapa dia, memanggil-manggil Mas Manto sambil mengerang-erang.

Rekan sejawat memujinya sebagai kuntilanak, meski sejujurnya, rambut Suketi atau Katemi jauh lebih bagus dari itu. Rambut ketiaknya, seperti rambut kepalanya, pun kribo, tetap kentara meski dicukur cepak. Foto yang diambilnya entah tetap disimpan meski berganti ponsel pintar android yang sekarang murah. Ada lagi berhiaskan kalung emas besar di setentang dadanya yang gemuk. Pesan-pesan pendek nan tak berdaya, seperti dirinya, dilupakan oleh datang perginya tahun yang terus berganti. Sedang jiwanya pulang, ia mati di taman kota itu, terkena penyakit kotor.

Hari Prasetiyo Ogah Menggantikanku Jadi Keset. Budak

Tuesday, February 14, 2023

Aing Bogoh Ka Siah. Tong Nguciwakeun Aing


'Ku rasa malam tadi aku tidak sikat gigi. Pagi ini pun tidak sikat gigi, maka setelah melahap sepiring nasi padang lauk telur balado dan perkedel kentang masih dilanjut risoles isi ragu dan dimsum tiga biji, mulutku terasa kotor. Masih lebih baik daripada yang keluar dari mulut yang kotor. Mungkin karena Michele meratap-ratap minta dicintai, aku merasa seperti di Jalan Angkasa bilangan Jiung, bahkan di Patrice Lumumba sekali. Nah, terlebih bila ditegaskan begini: Hitam adalah hitam. Kini perut terasa kenyang, perut yang mengalir sampai jauh ini. Lalu, tak boleh jatuh cinta
Sang Pemimpin bertanya: Apakah Paris terbakar. Jih, memang harus dibakar simbol segala dekadensi itu. Aku memang bahan tertawaan, namun Insya Allah aku tidak akan tertawa jika kelak Tumasik benar-benar menjadi lautan api. Haruskah membakar lumbung jika tikus-tikus sudah beranak-pinak tujuh turunan di dalamnya, sampai tidak bisa dikenali lagi bau padi-padian di lumbung itu, kecuali bau tahi diberakin tikus. Aku suka ragaan bernuansa agraris ini. Namun apa daya jika kantuk menyerang. Dapatkah kiranya mengitiki benak menjaganya tetap terjaga.

Celana djinn belel dibasahi seduhan jahe merah herbal dan gula aren, membuatnya pliket, dibasahi air keran membuat dingin. Ini sekadar untuk mengalihkan pikiran dari bunga sakura dan bunga-bungaan lain. Meja-mejaan yang tentunya mahal ini tampaknya tidak kokoh. Aku sekadar meletakkan kedua pergelangan tangan di atasnya saja sudah ndut-ndutan. Maka tiada lain harus dibeli juga itu kasur yang 'ku rasa mutunya tiada seberapa. Selembar kasur masih ditambah bantal guling tidak sampai Rp 120,000 sudah termasuk ongkos kirim, mau berharap apa, Dewi Murniku. 

Tidak mungkin pula kasur itu ditiduri bersama Dewi Murni, karena lebarnya hanya 80 cm. Panjangnya yang hanya 180 cm pun meragukan. Jika diberi berbantal Canon yang lebarnya bisa sampai 40 cm-an, sudah tinggal 140 cm. Apapun itu, masih lebih baik dari kursi ekonomi MH yang dioperasikan Sky Team, apalagi terbang lama dari Kuala Lumpur ke Amsterdam. Di atas kasur ini, Insya Allah, aku bisa terbang ke mana saja asalkan jangan sampai lebih dari jam 16.30-an setiap harinya, kecuali kau ingin bertemu pocong. Bahkan Nancy Setiawati dikatakan jelek oleh Hari.

Aku sudah pernah ke Kota Solo, meski di kamar hotel saja ditambah sedikit berjalan-jalan di seputar hotel. Seingatku, aku bangun pagi dan belum ada kegiatan, maka 'ku berjalan-jalan saja. Pernah juga aku berjalan-jalan di siang hari, apakah ketika aku makan bakso. Bertambah tua, aku semakin tidak ingin menggerakkan badanku ke mana-mana. Aku ingin di satu tempat saja yang permai, sampai-sampai pikiranku tertata rapi. Setua ini, sudah tidak banyak yang 'ku inginkan. Bahkan makan tiga kali sehari terasa berat; lebih mudah berpuasa, Insya Allah, di Rajab ini. 

Satu atau dua saja yang begitu, sedang belasan atau bahkan puluhan lainnya mengenang dengan manisnya bukanlah tukaran yang buruk. Perut yang melimpah ruah ini jika tidak puasa apakah dapat menjadi alasan untuk terus puasa. Aku sengaja tidak puasa terus-terusan karena tidak ada contohnya begitu. Namun besok aku sudah niat tidak berpuasa karena Insya Allah waktu Salemba adalah waktu mie ayam bersambal apo ronju. Hari ini setelah nasi padang pagi masih ditambah sedikit lagi, secentong nasi, di Simpang Raya, dengan terong teri lado mudo dan udang balado.

Kalau Togar bahkan Oom Rahmat Tanjung sekali membaca entri-entri goblog ini, sudah bukan berita. Namun kalau Zefanya Albrena Sembiring Depari membacanya, dan katanya: bacaan mahasiswa, ya tidak apa-apa juga. Mereka sudah dewasa. Sudah bisa membedakan mana yang goblog mana yang tolol. Apakah menyobek-nyobek kelambu untuk membuat bandana dan sebagainya termasuk tolol, tidak bagi Brigjen Mar Oni Junianto. Bagiku, itu adalah satu dari serangkaian ketololan yang panjangnya mungkin sekeliling Bima Sakti. Mengapa jalan susu jadi 'gitu.

Selamat Hari Kasih-sayang, Diri-diri Sendiri

Sunday, February 12, 2023

'Ku Relakan Kau Denganku Asalkan Kau Bahagia


Dihapuslah satu kalimat yang tidak bisa maju lebih jauh gara-gara hampir dua porsi sarapan kontinental masih ditambah dengan baramundi goreng tepung dan kentang goreng potongan Belgia. Jika seekor tapir tampak sedang menunduk malu dalam penggambaran di bawah ini, itu karena aku dulu sering meminta orang untuk menggambar tapir. Tapir ini, tidak sepertiku, tahu malu. Di sore berangin bermendung begini--yang seharusnya memang umum terjadi di Februari--aku menyumpal telingaku dengan lamaran yang lebih terdengar seperti gombalan begini; mengembalikanku ke LKHT berkubikel, yang di pertengahan 2000-an itu.
Mungkin karena kantuk yang menyerang bertubi-tubi tiap menjelang maghrib maka pikiranku mengalir seperti pasta darah dalam pembuluh pemakan makanan sampah. Lihat betapa lemahnya ragaan ini, padahal bass berdentam-dentam begini. Kejengkelan memang biasanya harus disalurkan dengan meny'plak sesuatu, namun cinta April ini membawa kenangan yang t'lah mati. Kenangan gemuk putih karena kebanyakan nyoro dalam TPS, koq berani-beraninya memakai PDL berfoto-foto dengan sisun pula. Atau lebih indah lagi, di undak-undakan rumah dinas wakil direktur RSJP, sejuknya udara malam meski tiada cinta dalam dada.

Oh, tapir hitam putihmu indah, belalai pendekmu menemaniku di lantai teraso lama sampai keramik putih model lama 1980-an akhir atau 1990-an awal. Udara sejuk belaka pada saat itu sambil membaca-baca skrip primadona atau bahkan irama-irama sinting. Nasi Padang bunga cempaka berlauk peyek udang seingatku selalu banjir kuah dan, terpenting, kecambah. Uah, kecambah belum lagi es doger. Cepat ke depan, ke kamarku di pojokan bekas gudang bekas garasi itu, komputer atas-meja yang mana aku lupa. Ini mungkin kompilasi Mas Ihsan, Tante Connie ini.

Aku tidak pernah benar-benar terkenang betung tebal, kecuali suatu hari Gani pulang dari Mampang, rumah Oom Raufnya, minta uang, dibelikan cincang. Kami sudah beberapa hari tidak punya uang dan mungkin juga tidak makan. Namun cincang, tidaklah. Untung bagiku selalu ada piring terbang ketika itu. Begitulah 'ku habiskan umur dua puluh tahunanku, agak membaik di akhir-akhir paruh keduanya. Bahkan Sasari selalu terkenang setengah tahu cina dipotong diagonal dimasak kuning. Warung bambu yang kini telah terbakar itu selalu saja indomie goreng dobel bakso.

Bahkan ketoprak telor Cak Ricak kini pun tinggal kenangan, terlebih nasi uduk stasiun UI agak kesonoan. Bakwan Malang seadanya di seberang Jang Gobay jika sedang malas makan, serta tentu Yak Mbem dengan lodeh 'cambah dan tempenya. Stasiun UI sebelum diacak-acak Jonan memang tidak permai, namun penuh dengan kehidupan. Yang lain tiada begitu penting bagiku, bahkan somay-somay apalagi batagor kuahnya, meski yang terakhir ini kenangannya mendalam. Itulah yang 'kulakukan setelahnya sudah sepuluh tahun lebih ini: Menyayangi Cantik tiap waktu.

Kemacangondrongan, bahkan, adalah suatu kebetulan yang goblog dan penuh keberuntungan, seperti ditemani warna-warna dalam hidupku dilantunkan dengan ensembel alat gesek di pagi hari berangin di Februari. Bahkan di Amsterdam pun pagi-pagi bisa berangin mendung begini di Februari, dan suhunya jelas bukan 22 derajat celsius begini. Di sana, paling banter roti lemak keju atau roti keju bawang bisa ditambah sup bawang Perancis atau sup tomat Cina jika suasana hati sedang ke situ. Di sampingnya bisa cokelat gelap panas atau sekadar peningkat kekebalan...  

...yang sejujurnya mengerikan. Cantik ingin sekali ke Arab lalu ke Belanda sekali. Mungkinkah cintaku padanya yang sedalam lautan seluas samudera mengantarkan kami kembali ke sana, bergandengan tangan bersarung di bilangan Rembrandtplein makan ayam tanduri. Sesungguhnya aku lebih suka membayangkan berdua bersama Cantik di bilangan Jombor makan bakmie goreng, yang langsung membuat air liurku membanjir. Siapa tahu memang ada hari tua bagi kami, dan itu akan kami habiskan dengan mengunjungi tempat-tempat. Aku tak suka puisi 'bab hidupku t'lah puitis.

Friday, February 10, 2023

Pengharapan Hurung, Durung Meneh Penghurufan


Tenang saja, sekeras apapun kau memikirkan paradoks-paradoks kecilmu, takkan seorang pun peduli. Tidak juga anak perempuan yang kausayangi, sampai kau tak tahu lagi apa makna rumah untukmu. Hanya saja kemenyalaan tidak pernah pergi dari ingatanmu, sedang kau sendiri lebih suka keredupan. Bayangan, yang mungkin dapat kau temui di Lamongan sampai Ngawi. Menyala, memangnya menyala dalam gelap seperti tengkorak mainan halloween. Entri ini hampir saja berpenggambaran tengkorak, diganti penghurufan selamat datang ke duniaku yang cantik.
Warna-warna yang seperti gula-gula kapas ini memang kanak-kanak, meski tidak selalu kekanak-kanakan. Kepada siapa dapat 'ku berpaling jika tidak ada yang membutuhkanku. Kepada kamar mandi merangkap jamban berkloset jongkok di pojokan itu, yang berlantai merah tua itu. Bisa juga kamar mandi luas berkeramik putih yang tak lama kemudian kumuh, sehingga diubah jadi merah tua juga. Kepul-kepulnya asap rokok di kamar tivi berkursi malas plastik bisa jadi juga. Mengapa, tanyamu dari Depok kepadaku yang di Radio Dalam atau sebaliknya. Hanya itu saja.

Perangai buruk adalah hukuman. Pun tidak selalu buruk, maka terimalah hukumanmu dengan kepala tunduk, hei, orang hukuman. Sekarang 'kan jadi kenangan yang paling 'ku sukai, titik-titik air sedingin es bahkan salju sekali ketika berjalan sepanjang dermaga perusahaan dok kering dan galangan kapal Belanda di tepian Ij dalam. Mengajak seorang perempuan Cina untuk sekadar berbual di sekitar satu dua cangkir teh di Ij luar adalah suatu ketololan yang, 'ku rasa, tidak disengaja. Terlebih menonton perempuan cina dicium-cium bibirnya oleh anak kaukasian. Itu tolol juga. 

Hatta, kembalilah aku ke tempat di mana cahaya bintang bersinar tentu di petang hari. Tiada berhenti berlalu-lalang ketika itu yang, seperti sekarang, pun tiada gunanya. Hanya ingatan mengenai sakitnya kepala sedang berjongkok di jamban kotor, malah ngampar sekali di atas karena lebih bersih. Apa benar Jenny mengintip tidak akan lebih nista dari Eko menarik cuatan sarung Baron. Dunia ketika belum ada cebong-cebong dan kadal pun masih kebun bukan gurun. Itulah ketika aku kali pertama tahu bahwa ada yang bisa menyala, pun aku hanya membayangkan gula kelapa.

Aku tidak akan berkomentar, apalagi berharap, mengenai kemarin sekali lagi, apakah itu tukang kayu atau palank merah, apalagi Nicole. Aku tidak ingat apakah akhirnya bersama Nicol karena sesampainya di Inggris tidak ada yang menjemput. Entahlah. Apa peduliku pada kapal induk penuh pengantin yang justru membuang pesawat-pesawat terbangnya ke laut. Ah, cinta muda yang lebih baik 'ku kebatkan peluru bahu yang membulat karena kurang daging. Apa jadinya jika dini hari begini aku terjun ke dalam pintu air saluran irigasi itu lantas menyusurinya sampai Cisadane.

Hidup sebatas nasi uduk entah lima puluh perak berlauk bala-bala disiram kuah. Bisa saja 'ku daftar di sini nasi uduk-nasi uduk yang membekas dalam kenangan, namun nasi ulam daging 'ku rasa tidak termasuk di dalamnya, natura siaga el plus itu. Setelahnya soto meletup yang seingatku tiga ratus perak itu, selalu ada yang seperti itu di mana pun, bahkan di Akademi Teater Maastricht. Satu Euro dapat roti pentung berlapis selada telur atau kepiting bohong-bohongan, masih ditambah dengan sup satu mangkuk besar. Entah halal entah tidak itu makanan calon-calon aktor.

Betapa satu entri bisa melanglang buana ke mana-mana, merintang waktu seperti lompatan-lompatan kuantum. Jika 'ku lebih sehat dari ini, ya, artinya Jumat dini hari ini aku tiada begitu sehat, mungkin jelajahku lebih membahana, lompatanku lebih tak terduga. Bisa juga menjelajahi bebauan, melompat dari satu bau ke bau lainnya. Bau bisa dilukiskan, namun tak mungkin dibagi pengalamannya, meski kau mengendus-endus layar gawai atau komputermu. Bau ada yang sedap ada yang tidak. Bau sedap terkenang, bau tak sedap mengendap. Aku nyaris yakin ini klarinet.

Bukan kacang kastanye, apalagi kastanyet 

Wednesday, February 08, 2023

Mereguk Teh Susu Prendjak Ditemani Papisy Reina


Judul adalah bla bla bla, gunanya untuk bla bla bla, maka harus bla bla bla... Kalau aku tidak mau menerima pemaknaan apapun, merasa tidak berguna dan tidak ada yang berguna, tidak suka diharuskan, lantas mengapa aku harus memaknai, menggunakan, mengharuskan. Judul adalah apa yang ada di atas, di depan, di awal, suka-sukamu lah, karena judulku pun suka-sukaku. Judul gunanya untuk biar ada saja yang di atas, atau di depan, atau di awal, suka-sukamu lah, karena judulku pun aku tak suka. Maka judul harus suka-suka, mau dia ada hubungannya dengan isi tulisan kakek-moyangnya entah siapa atau tidak, suka-sukamu lah, karena judulku pun tak 'kuharuskan apapun. Tak sengaja, terhirup susu Prendjak.
Nah, tahukah kau siapa itu Prendjak? Prendjak adalah seorang ledek terkenal yang membuat Mamisy sakit kepala sampai harus minum telor kocok mentah sama merica sama madu. Sebenarnya bukan Prendjaknya benar yang membuat sakit kepala Mamisy, tapi Papisy yang pakai menyeretnya ke kamar yang telah tersedia, setelah menayubnya berputar-putar, pakai segala menciumnya. Aku bisa membayangkan wajah ledek itu. Mungkin dengan teatrikal ia membelalakkan matanya, seakan baru kali pertama itu seorang lelaki paruh baya menyerempet pipinya dengan bibir.

Berapa umur Prendjak kala itu, masih belasan? Jangan-jangan lima belas tahun. Papisy umur berapa waktu itu. Mungkin belum paruh baya benar. Mungkin bahkan pada akhir tiga puluhan atau awal empat puluhan begitu. Masih gagah Papisy ketika itu. Namun ya Papisy 'kan sudah pantas jadi bapaknya Prendjak. Prendjak bisa jadi anak sulung Papisy, meski haram jadah karena kebiasaan Papisy buang-buang tahi macan sembarangan di awal usia dua puluhannya. Jangan-jangan ibunya Prendjak seorang sinden atau ledek juga. Lho lho ini kenak'apa mengitiki jadi seperti cerpen begini.

Daripada mengitiki penyalahgunaan obat dan pelacuran, aku membiarkan diriku terbetot suasana hati ke atas sebentuk sofa di ruang tamu sebuah apartemen yang terbilang mewah di bilangan Zwanenstraat, Maastricht, gara-gara bulan berwarna kuning. Mudaku adalah awal tiga puluhan, karena awal dua puluhan dengan penuh kesengajaan dan kesadaran aku menolak muda. Aku sengaja melompati tahun-tahunku, meski betulkah penuh kesadaran aku tidak yakin juga. Aku, dengan hidupku sendiri, terbiasa melompat duluan sambil berteriak "Komando!" dan berpikir belakangan. Bagaimana jika ternyata di depanku jurang dalam. Entahlah...

Sudah tak terhitung kalinya dalam hidupku orang mencemooh karena aku terlahir romantis, sentimental, melankolis, hiperbolis entah apa lagi. Aku sampai lupa pernahkah aku benar-benar jengkel karenanya, ketika Bapakku sendiri pun tersenyum penuh arti pada ceritaku yang penuh emosi dan heroisme. Seperti dini hari yang gerah karena di utara sedang badai ini, seperti itulah suasana hatiku. Entah sudah tak terhitung kalinya ia begitu. Salah satunya ketika aku menghadapi si Hijau-cantik Bisa-terbang, dengan seslof Bentoel biru dan sebaskom kopi. Ya, aku setolol itu.

Minak Djinggo nyatanya tidak pernah lama bersamaku, meski kami menghabiskan banyak malam berdua saja, ia berbatang-batang. Seingatku ketika itu belum terlalu alkohol, bahkan bir pun tak. Ingatanku mengenai alkohol selalu mengenai kesedihan dan kemarahan. Bersama Minak Djinggo aku tidak marah. Sedih sedikit mungkin ya, namun marah jelas tidak. Marahku seperti biasa pada kesenjangan, ketimpangan, namun Minak Djinggo menemani malam-malamku seperti seorang kawan yang lebih tua dan bijaksana. Seperti itulah rasanya 'ku bersama Minak Djinggo.

Lembut-bintang memang sudah sejak awal kadang-kadang, meski akhir-akhirnya hampir tidak pernah biru, selalu hijau. Ah, kenangan akan Robert Redford dan Barbra Streissand yang komunis dan berhidung Yahudi itu, mengingatkanku akan Cahaya-bintang yang menjadi bagian dari hari-hariku entah berapa minggu berapa bulan. Jangankan ia, Maknya Soleh penjual nasi goreng pun aku tak peduli. Seperti inilah seharusnya entri. Ia tidak koheren, seperti ketika Max Saphiro baru pulang dari patrolinya yang legendaris di Makin. Aku memang hanya sok jagoan.

Aku Memang Suka Main Bapak-bapakan

Thursday, February 02, 2023

Belum Terlalu Mengantuk Jangankan Susu Berkerim


Sudah tiga entri bersama yang ini gambarannya bangsa ayam-ayaman. Yang ini adalah gambar ayam penyuling anakan. Aku suka, meski hanya gambarnya saja. Aku akan merasa tolol bahkan jika sekadar terpikir untuk berusaha memiliki dan menerbangkannya sendiri, sampai punya lisensi pilot meski privat. Tidak 'lah. Itu biar untuk Rapin saja. Ia Alhamdulillah Muslim dan Insya Allah kaya. Adakah Togar sekaya Rapin, akan atau lebih, itu terserah dia. Aku akan tetap mengitiki begini, sambil memberi gambaran-gambaran baik audio maupun visual 'tuk mengolok-olok dunia.
Begini sudah terasa sempurna, tengah malam begini memandangi ayam bumbu kuning. Bentuknya jelas lebih bagus daripada pelayang lempar yang terbuat dari gabus, yang biasa 'kubeli dulu di tukang krotok-krotok. Semakin banyak huruf 'kuberondongkan, semakin menginginkan 'ku akan susu berkerim. Suatu kemewahan dunia yang sialnya masih menarik hatiku, tidak seperti Tissot maupun Svarovski. Rasanya pasti getir cenderung asin. Sedap manis atau rasa-rasa lain hanya ada dalam khayal belaka. Kental atau encer pun bukan rasa melainkan konsistensi lendirnya.

Aku tiba-tiba gusar hahaha. Ini sempurna gara-gara ketololan. Namun ketololan atau ke-ndeso-an justru seringnya menyenangkan bahkan mengilhami. Ternyata penyebab kegusaran bisa berbeda-beda. Berbeda-beda tapi gusar jua hahaha. Ini jelas lebih baik daripada beda satukan kita. Kalau aku sudah cukup edan mungkin akan 'kubuat kaus polo bertuliskan begitu, tapi itu dulu. Sekarang biarlah dikitiki di sini saja. Jika suatu hari nanti aku lupa apa itu gusar dan apa yang membuatku begitu, akan lebih baik karena aku memang tidak mudah penasaran. Itulah memang adaku.

Abu dupa berceceran tidak di mana-mana tetapi tetap di sekitar pot plastik tempat ditancapkannya. Entah sudah berapa lama 'kucari pedupaan yang sesuai dan langgeng, sampai hari ini masih seadanya dan sementara. Tepat di sini entah mengapa aku merasa tidak sendiri dan tidak nyaman. Sudah mendekati jam satu dini hari, untung tidak terdengar suara iwak sriti. Itulah mungkin sebabnya aku bablas tidur sampai siang karena tidak ada Tjakrabirawa yang menjemput. Maka terbangunlah aku pada ketika telah terang cuaca, menghadapi kenyataan sarapan pagi setelah sekian lama...

Hari istimewa begini membuatku terpikir muffin Inggris berlapis keju cheddar Amerika berisi dua kerat sosis ayam yang asin, masih ditambah roti pita gulung berisi keju yang sama, orak-arik telur, dan sekepret daging asap yang juga asin. Namun, yang 'kuhadapi dan 'kulicin-tandaskan adalah sepiring indomie goreng jumbo biru dipugas dengan telur ceplok bumbu kare, baso ikan dan chikunguya masing-masing dua, bahkan masih ditambah beberapa keping krekers rasa ayam. Sungguh aku sudah tidak terbiasa lagi begini, aku ingin mengosong lagi. Tunggulah beberapa hari.

Tidak sampai dua belas jam dan aku tersungkur di hadapan susu berkerim, sedang kelelakianku tegak mengacung begini. Di hadapan penguasa dunia aku bisa berdiri berpongahan. Di hadapan harta mulai Karun sampai Anthony Salim aku mengeryit mencemoohkan. Di hadapan susu berkerim, lain lagi ceritanya. Kedirianku lunglai, kuyu pada ujung-ujungnya, sedang kelelakianku menegakkan tudungnya lebar-lebar sambil mematuk memagut begini. Tidak. Ini bukan tentang Sophia Latjuba apalagi anaknya Eva Celia, melainkan kegusaran lelaki yang tak bertepi...

Maka 'kugenggam kelelakianku pada tangan kanan. Dengan jari tengah dan ibu jari tangan kiri, 'kuselentik kepalanya yang tolol. Ia tentu terkejut terperanjat, namun segera kuyu setelah memuntahkan bibit-bibit kehidupan. 'Kubiarkan mereka terkejut terjerembab pada lantai kamar mandi yang lembab dingin, rusuh bertanya-tanya dalam bahasa yang hanya aku dan mereka sendiri yang mengerti. Di tengah kerusuhan itu, 'kuinjak benjret mereka. 'Kugilas-gilas di bawah tumitku seperti tembelek lincung. Entah mengapa diriku selalu ingin mencicipi berbagai kegusaran.

Wednesday, February 01, 2023

'Ku Pasangi Tidak Agar Berpasang-pasangan, 'Kan


Ini adalah upayaku untuk menyusun ulang Botticelli sebelum menemukan, ya, menyajikan Botticelli. Sempat terlintas membuat cerita yang runtut mengenai sebuah bekas dusun di bilangan Banyurojo, Mertoyudan, Magelang, tapi itu bukan gayaku. Apakah itu mengenai impian yang hancur berkeping-keping. Apakah orang-orang waras yang sederhana berpikir ini 'ku biarkan melempariku dengan senyum penuh arti, ya, memang itu yang 'ku lakukan sepanjang hidupku. Mengobrol berdua saja bisa sangat menyenangkan, menyamankan, aku tahu memang.
Sudah empat puluh tujuh Satu Februari 'ku lalui, tentu aku lupa yang pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya aku hanya bisa mengira-ngira. Sedang Nemesis Latuconsina ini sudah tidak sedap baunya, aku ditertawakan karena berpangkat kopral taruna purnawirawan. Dinginnya pagi tidak bisa lebih dingin dari pagi-pagi mengeluarkan sampah ke tengah-tengah Kees Broekmanstraat atau Kraanspoor. Kandang-kandang sepeda, bahkan tempat mencuci baju itu, dingin, sedingin hati yang tak jua menghangat padaku. Namun, roti gandum dimagnetron selalu panas juga.

Air susu jika sampai dibalas air tuba pasti menjijikkan, karena itu berarti liur-liur Enzo Zenz Allie dan kawan-kawan satu kopelnya. Sampai di sini aku tak hendak meratapi pikiranku yang ruwet karena toh masih ada Farid Hanggawan yang pikirannya kusmasai. Apakah di kulkas masih ada mie goreng chopstix yang dimakan dengan sambal kecap botolan saja aduhai, apalagi sampai masih ada tetahuan dan foo young veggie-nya. Bisa jadi Chochomel dark atau Bengal spices, ah, langsung terasa sepi-sepi mencekamnya. Aku suka di sini saja bersama Cantik, meski ia tidak suka.

Mana berani 'ku katakan bahwa kau adalah hal terbaik yang pernah terjadi padaku di Belanda sana, bahkan sekadar udara yang 'ku hirup bisa jadi sangat meremukkan. Seandainya saja cukup tidur malam, maka pagi adalah waktu yang cocok untuk tadinya akan 'ku tulis makan nasi uduk tok pikirannya. Ternyata pagi belum tentu dingin, terutama jika Nemesis Latuconsina mendekapimu, mana bau. Sama seperti Erven Kaseh. Siapa yang berani bilang dia tidak bau, sini berkelahi denganku, demikian raung Abimanyu semasa hidupnya, yakni, sebelum masuk jebakan cakrawyuha.

Selain makna, tentu aku mengacau dengan sebab-akibat pula dalih dan dalil. Katakan pada Mas Toni Edi Riwanto betapa hidupnya, tidak seperti hidup Jimly Quasi Assilikidik, penuh makna. Betapa pencerahannya adalah suatu akibat dari pencariannya, sebagai penyebabnya. Betapa ia berdalih selalu dengan dalil-dalilnya yang intuitif dan separatos. Sudah barang tentu ia akan menyahuti premis-premismu dengan permisivitasnya yang permeatif-komutatif. 'Ku rasa aku belum pernah sejengkel barusan dalam upaya meratakan kanan kiri. Awas kalau begitu lagi. 'Ku hapus kau!

Ada waktu-waktu seperti pengar jet, entah mengapa begitu, atau akibat berpuasa aku tak tahu. Seperti terbang dari Amsterdam sekitar pukul 10.00 waktu Eropa tengah, terbang sekitar empat belas jam non stop seharusnya 'kan sampai Jakarta jam 24.00 waktu eropa tengah, eh, ini koq sampai-sampai sudah pagi. Jadilah baru mulai mengantuk sekitar subuh waktu Indonesia barat, tidur bisa sampai lepas dhuhur hampir ashar. Lucu memang pengar jet itu. Sembuhnya kapan dan bagaimana pun tidak tahu. Tahu-tahu sembuh saja dan bagiku itu bisa makan waktu dua mingguan.

Di alinea [atau paragraf?] terakhir ini, pernah juga aku serasa kurang tidur justru bermotor ke bilangan Pondok Indah untuk mengikuti tes bahasa Inggris. Malah bertemu Fachrurrozi di situ, malah rasanya seperti masuk angin berat, kepala sakit bukan alang-kepalang. Istirahat sebentar siang sampai hampir sore di ndalem Radio Dalam, dilanjut tes bicara di ruko-ruko Margaguna. Ketika itu pulang-pergi masih menyongklang VarioSty riwayatmu dulu. Kini aku menyongklang VarioSua entah sampai kapan. Seperti inilah kisah-kisah yang takkan lekang dimakan pakai sambal petis.