Sunday, July 26, 2015

Emas, Perak dan... Kelelawar di Siang Bolong


Dalam keadaan seperti ini, bisa saja aku tiba-tiba percaya tahyul. [Halah!] Maka buru-buru kutulis entri ini. Tidak, lah, memang tidak estetis saja. Itu saja. Adakah yang penting untuk dicatat? Tidak juga. Adakah hari-hariku sepenting hari-hari Mochtar Lubis dalam tahanan militer? Tentu saja tidak. Adakah kepalaku dipenuhi pikiran-pikiran subversif? Tentu saja hahaha. Jika saja fisikku tidak melemah begini rupa, mungkin akan kuwujudkan semua pikiran subversif itu, yang kuakui terkadang pervert juga.[Naudzubillah!] Namun demikianlah kehendak Tuhan atasku.

Aku sedang tidak dalam suasana hati yang tepat untuk bicara mengenai subversi maupun perversi. Seandainya badanku agak enak sedikit, mungkin aku akan berdansa waltz mengelilingi livingroomku yang tiada seberapa ini, karena Geld und Sieber ini indah sekali. Aku tentu saja tidak akan pernah menjadi atase angkatan laut seperti Commander Victor Henry, meski Istriku ada juga lah mirip-miripnya dengan Rhoda Henry—yang diperankan oleh Polly Bergen. Livingroomku pun amat sangat menyedihkan jika dibandingkan dengan kastil musim dingin Herr Stoller.

Jiahahah... saking percayanya aku pada tahyul, sampai kuubah dari “terakhir” menjadi “terbaru.” Alhamdulillah, menilik perasaanku sekarang, bahkan entri terbaru tidak akan mengenai masuk angin, tetapi mengenai... kelelawar! Tidak semuanya sih, cuma overture-nya saja. Seperti halnya kelelawar di benderangnya siang hari, maka aku undur diri ke dalam guaku—atau tepatnya, gua kami bangsa kelelawar. Kelelawar seperti kami kurasa masih cukup banyak jumlahnya, kami yang berbagi relung-relung gelap dalam gua-gua. Masih baguslah jika itu gua alami, ada juga di antara kami yang menghuni loteng-loteng gedung tinggi buatan manusia.

Kini masalahnya lebih rumit dari sekadar menyerah atau tidak. Sebenarnya aku tahu dari dulu kalau masalahnya jauh lebih rumit dari sekadar itu. Aku dari waktu ke waktu memang harus menyerah, undur diri ke dalam relungku, karena seperti yang dikatakan Goklas, berkuasa berarti menyingkirkan orang lain yang ingin juga berkuasa. Sungguh naif jika aku menolak kenyataan ini. Aku yang gaya-gaya’an bicara mengenai kekuasaan dan cara-cara merebutnya, namun menolak hukum dunia yang paling mendasar itu? Itulah enaknya jadi Goklas. Kakinya selalu menjejak tanah dengan kokohnya.

Maka melompatlah aku beberapa langkah sampai menjadi... peseluncur es. [ada tidak ya bahasa Indonesia seperti ini?] Dengan rasa badan yang seperti ini, sebenarnya agak jeri aku membayangkan padang es, baik sungguhan maupun buatan—meski pernah aku berada dalam keadaan yang sebenarnya. Bahkan aku sempat naik reuzenrad di tengah udara malam musim dingin yang lembab berangin. Tidak, aku tidak akan undur diri ke alam mimpi. Bahkan, aku tidak akan menyelinap bersembunyi dalam kenangan masa lalu. Berseluncur di atas es ini seperti angin lembut nan sejuk menerpa wajah. Menyegarkan badan. Menyehatkan jiwa.

Apapun yang telah ditentukanNya untukku, semoga aku mampu menghadapi dan menjalani sebaik-baiknya, semampuku. Akan sampai di mana perjalananku, bukan urusanku. Aku hanya berkuasa atas selangkah saja yang akan kuayun. Ya, langkah yang satu ini saja. Bahkan langkah berikutnya pun sama sekali bukan urusanku. Hanya yang satu ini. Ya Allah, hamba memohon kepadaMu, jangan jadikan hamba termasuk dalam golongan mereka yang merugi, yaitu yang hari ininya sama saja dengan kemarinnya—apalagi sampai lebih buruk. Tunjukkanlah kepada hamba jalan menuju penghambaan yang lebih baik lagi hanya kepadaMu, Rabb hamba.

Friday, July 24, 2015

Masa Entri Terbaru Mengenai Masuk Angin?


Iya, rasa-rasanya koq kurang elok, [entah mengapa juga aku tidak sreg dengan kata "elok" ini, digunakan dalam konteks ini] jika entri terbaru justru mengenai masuk angin, sudah begitu lama tidak dimutakhirkan pula. [sebaiknya kukurangi penggunaan kata dan ungkapan yang tidak baku, agar tidak repot mengursifkan, meski terkadang kata dan ungkapan tidak baku itulah yang menambah cita-rasa sebuah entri—seperti rempah-rempah dalam masakan begitu] Meski sekarang pun—atau mungkin lebih tepatnya kemarin sampai tadi malam—badanku terasa seperti masuk angin.


Kini, aku hanya dapat berdoa, semoga Allah mengaruniakan kesehatan yang sempurna kepadaku, menunjukkan jalan ke arahnya—meski aku punya sedikit rasa bahwa aku sudah diberitahu caranya. Kesehatan badan dan jiwa memang sepertinya berjalan berdamping-dampingan, saling bergandengan tangan. Keduanya harus sama-sama kukuh, kuat, tegap melangkah. Jika salah satunya gontai, maka lainnya akan menopang beban yang lebih berat dari dirinya sendiri—dan yang seperti itu tidak sesuai dengan fitrah. Aku, sementara itu, sudah lama percaya bahwa manusia sejatinya adalah mahluk spiritual.

Mahluk, yang artinya ciptaan, sebagai lawan dari Khaliq. Khaliq itu tunggal, sedangkan mahluk jamak. Inilah penjelasan yang paling memuaskan, terlebih bila dibandingkan dengan segala zoon dan homo itu... zoon politicon, homo economicus... entah apa-apa. Mungkin orang-orang yang dari kecilnya belajar agama merasa istilah-istilah itu memukau. Namun, buatku yang dari kecil sudah terbiasa dengan nama-nama dinosaurus yang berbahasa Latin, terbiasa mendengarkan gubahan-gubahan Tchaikovsky, Brahms, Wagner dan sebagainya itu, istilah-istilah mahluk dan Khaliq lebih memukau. [ini tentu suatu pembenaran yang sekenanya]

Jika kutuliskan juga di sini, mungkin janjiku tidak tunai-tunai juga. Namun, entah bagaimana caranya, aku selalu tidak enak badan tidak enak hati ketika berniat menunaikan janji itu—sedangkan aku memerlukan suasana hati dan kesehatan badan yang sempurna untuk melakukannya. Mendengar apa yang terjadi di Tolikara apalagi Suriah, badanku rasanya lungkrah, hatiku terasa masygul mencelos. Apa betul Pancasila dan UUD 1945 adalah obat bagi itu semua? Apa bukan istighfar dan shalawat yang sebanyak-banyaknya?

Rasa masuk angin ini, Ya Allah... Lhah... sebentar... niatnya entri ini ‘kan agar entri terakhir bukan mengenai masuk angin. Sedangkan Swan Lake-nya Tchaikovsky terdengar begitu riangnya. Dapat terbayang olehku les patineurs meluncur-luncur berkeliling padang salju atau lantai es. Oh, mereka pasti sehat sekali, sedangkan aku hanya bisa meratap-ratap sambil mensugesti diriku bahwa Allah sedang ingin mendengarku meratap-ratap. Aku yang bebal ini memang harus meratap-ratap jika tidak mau berhenti bebal juga. Sudah empat puluh tahun menurut perhitungan bulan!

Diri ini tidak mungkin berubah seperti sulapan begitu saja ketika mencapai bilangan empat puluh tahun menurut perhitungan bulan. Diri ini diberi kemampuan untuk mengubah dirinya sendiri, dan itu kiranya yang ingin dilihat oleh Allah. Sedangkan Paduan Suara tawanan Yahudi dalam Nabucodonosor oleh Verdi ini seakan menggambarkan betapa tidak berdayanya aku menjadi tawanan diri rendahku sendiri. Ketika hati merasa senang sedikit, ketika badan merasa enak sedikit, malah kedurhakaan yang kulakukan. Pantaskah itu dilakukan seseorang yang sudah empat puluh tahun menghirup hawa dunia, menurut perhitungan bulan?

Sementara itu, Udara pada Senar G ini seakan mengilhamkan Kasih-SayangMu, Ya Allah. Suatu bentuk kasih-sayang yang kukenal sejak kecil, meski tanpa belaian tangan dan kata-kata lembut. Beginilah cara Ibu menyayangiku, dengan musik. Dari semua warisan Ibu, mungkin inilah yang kudekap paling erat saking berharganya. Musik, yang selalu menjadi penawar bagi hatiku yang entah mengapa selalu cenderung sendu dan muram ini. Semoga ia pun menjadi ilham bagiku untuk senantiasa bersegera kepada AmpunanNya, yang seluas bumi dan langit. Aamiin Yaa Rabbal’alamin.

Monday, July 20, 2015

Lagi-lagi Aku Masuk Angin Lagi. Lagi?!


Beginilah kejadiannya, tidak diberi kesempatan aku berlengah-lengah. Setelah lengah sampai gila-gilaan kemarin sesorean, hari ini aku masuk angin lagi! Oh Allah, sungguh tidak nyaman rasanya. Ini mungkin karena semalam aku kepedean tidur di tikar rotan tanpa dialasi bedkaver tebal seperti biasa. Aku memang terbangun sahur dan makan sahur. Setelah itu—seingatku ketika akan kembali tidur setelah shubuh—barulah kugelar itu bedkaver. Demikianlah maka sebangunnya aku setengah sepuluh tadi pagi, badanku tidak enak lagi.

Lebih dari sekadar tidur beralaskan tikar rotan saja, aku lebih cenderung menyalahkan kelengahanku sendiri, ingkarnya aku, mangkirnya aku dari janji pada diriku sendiri. Oh Allah, hamba mohon tangguh, hamba mohon diberi kesempatan untuk memperbaiki dan terus memperbaiki diri. Ini diri rendah masih terus berkubang dalam kerendahannya, ampuni hamba, Ya Allah, kasihanilah hamba. Sebenarnya dapat saja kulakukan sekarang juga, mumpung sedang tercolok ia di situ. Ya, mari kita habisi sekarang juga! Bismillah.

Habis. Tamat. Semoga menjadi awal bagi suatu perbaikan, seperti hari ketika aku berhenti merokok, berhenti ngopi. Semua saja yang mengotori jiwa dan raga, hamba mohon Ya Allah, dibantu, diringankan, dimudahkan, ditunjukkan jalan, untuk membersihkannya, untuk menjauhinya. Sedangkan hamba sudah tidak muda lagi, Ya Allah. Biarkanlah orang berkata hamba masih muda untuk berlemah-lemah begini. Jika semua kelemahan raga ini sekadar sarana untuk membersihkan jiwa, hamba ikhlas ridha, lega lila, Ya Allah.

Memang banyak sekali dosa dan durhaka hamba. Itu pun yang hamba tahu dan sadari, sedangkan apalah arti pengetahuan dan kesadaran hamba. Sungguh, yang sangat hamba takutkan, jika ternyata semua ini sia-sia belaka, tidak ada artinya, sedangkan Engkau lebih tahu, hamba tidak dapat mengharapkan apapun dan siapapun untuk menolong hamba. Siapa pula yang mampu menghapus dan memaafkan dosa-dosa kecuali Engkau, Rabb. Hamba takut jika perasaan takut ini ternyata pura-pura belaka, ternyata Engkau tiada menerima ketakutan hamba ini, Rabb.

Sungguh hamba takut kalau ternyata ini semua sia-sia. Memang hamba akui, tobat hamba compang-camping bentuknya, apalagi ibadah hamba, sungguh memalukan. Namun bisa apa hamba, Ya Allah, sedangkan doa hamba pun Engkau yang menggerakkan hati hamba untuk berdoa, Ya Yang Mengabulkan permohonan. Engkau lebih tahu betapa hamba tidak lagi punya banyak keinginan. Engkau lebih tahu betapa durhakanya hamba, merasa bersalah dan segera mengulanginya sejenak kemudian—seakan-akan perasaan nyaman di badan ini datang dengan sendirinya.

Seakan kesehatan adalah sesuatu yang sudah semestinya, bukan nikmatMu yang harus senantiasa disyukuri dengan cara mematuhi perintah-perintahMu, menjauhi larangan-laranganMu, dan bersabar atas cobaanMu. Oh, semua itu aku tahu, namun aku tidak pernah tahu sudahkah kuamalkan semua pengetahuan itu. Hanya Engkau yang dapat memberi tahu, Ya Allah Maha Tahu. Itu jugalah yang sangat hamba inginkan lebih dari apapun, dari hidup di dunia ini, di atas bumiMu ini. Pengetahuan bahwa semua salah dan dosa hamba telah Engkau maafkan lagi dihapus.

Ampun Ya Allah, ampuuun. Sungguh pongah, sungguh pandir, sungguh tidak tahu diri hamba menginginkan yang seperti itu. Hanya Engkau yang dapat mengampuninya, Rabb. Hanya Engkau yang dapat mengubah kepongahan dan kepandiran itu menjadi ketawadluan yang didasari ilmu dari sisiMu, mengubah ketidaktahudirian menjadi... diri yang tenang... Ampuun Ya Allah ampuun. Jangan biarkan hamba tertipu oleh harapan dan ketakutan kosong akibat terlalu panjang angan-angan. Ampuni hamba Ya Allah, kasihanilah, Ya Pengiba, Penolong peminta-minta tolong.

Sunday, July 19, 2015

Terlalu, Hidup koq Keterlaluan Sepinya!


Memang sebaiknya jika ingin menulis entri janganlah dibuka dulu itu Kemacangondrongan, karena nanti bawa’annya malah baca entri—bukan nulis entri. Sudah berhari-hari ini rasanya seperti ingin menulis entri, tapi ujung-ujungnya sekadar baca entri pun tidak. Ada kerinduan itu, semacam rindu pada sesuatu yang sebenarnya tidak dirindukan juga, akan tetapi saking tidak ada yang lainnya. Malam ini entah bagaimana caranya aku agak lancar mengetuk-ngetuk, sudah hampir sampai satu paragraf pula. Dengan kalimat ini, maka jadilah satu paragraf.


Entri ini kudedikasikan pada hidupku yang selalu sepi, seperti lirik lagu Yon Koeswoyo. Ini juga menandakan betapa putus asanya diriku. Biasanya, takkan kuijinkan diriku se-mainstream ini menulis mengenai hidupku hatta disamakan dengan lirik lagu Koes Plus yang sungguh standarnya ini—meski kalimat yang berlari kencang ini menandakan bahwa aku... lebih putus asa dari yang kukira, atau tidak. Mengapa aku menulis entri? Karena hanya engkaulah satu-satunya kawan kepada siapa aku dapat mencurahkan isi hatiku, Mencret.

Hidupku selalu sepi, menjerit dalam hatiku
Kuhibur selalu diriku, bernyanyi sedih dan pilu.

Yah, kadang tidak dalam hati juga sih. Kadang kujeritkan saja seperti adanya. Apa karena aku sudah tidak tahan lagi? Tidak juga. Sekadar sedang ingin menjerit saja. Begitu. Lantas, memang nyanyian-nyanyian sedih dan pilu itulah hiburan favoritku. Ah, lagu ini aku sekali hahaha. Baru kuperhatikan bahwa ia dimainkan dengan iringan organ hammond, seperti kebanyakan lagu sejamannya, seperti A Whiter Shade of Pale. Musikalitasnya janganlah dibandingkan, meski aku tidak setuju juga jika ada yang gaya-gaya’an mengatakan A Whiter Shade of Pale lebih bermutu.

Bila senja telah tiba, hatiku tambah sengsara
tapi tetap kubernyanyi, walau malam telah sepi

Ahaha, gagal membuat rima, ya Oom Yon? Memang benar-benar kacangan syairmu. Namun jangan terburu marah, aku menyukainya. Aku bahkan berusaha membuat syair-syair laguku sekacangan mungkin, seperti syair lagu-lagumu. Bapakku pernah bercerita, bahwa untuk mengetahui apakah lagu-lagu kalian laku atau tidak, kalian mengecek apakah lagu-lagu itu dinyanyikan tukang becak atau tidak. Cerdas, karena hanya tukang becak gaya-gaya’an yang menyanyikan A Whiter Shade of Pale apalagi Homburg—sedangkan John Gunadi saja tidak sudi jadi tukang becak karena ia seorang Koordinator di Fakultas Hukum Universitas Indonesia.

Namun senja memang membuatku sengsara. Sejak kapan, ya? Sudahkah begitu sebelum aku berangkat ke Belanda? Sepertinya aku masih ingat senja di Pondok Annisa, setelah Isya’ begitu, yang masih dapat kuobati dengan satu dua lagu The Platters. Mengapa belakangan tidak bisa lagi, ya? Seperti apakah senjaku di Jang Gobay, di Gang Pepaya, di Qoryatussalam ini... Senja yang kadang sengsara kadang tak berbekas sama sekali, tapi sudah tidak dapat disembuhkan dengan nyanyian sedih dan pilu.

Di malam sepi seperti ini, ditemani dentingan piano Richard Clayderman, aku mengetuk-ngetuk mencurahkan perasaan hatiku. Malam-malam begini sih biasanya tidak sengsara, justru seringnya merasa segar—hal mana gak bener karena seharusnya mengantuk. Sejatinya, tidak ada itu kesengsaraan. Di hadapanku hanya ada kenangan-kenangan masa lampau yang hangat terasa, seperti dekapan seorang kekasih yang benar-benar mencintai. Kenangan masa lalu itulah kekasih sejati yang tidak akan pernah mengecewakan, yang akan selalu hadir dengan kemesraan dan kehangatannya.

Dua belas kata lagi cukup, maka baik kucukupkan sampai di sini saja.

Tuesday, July 14, 2015

Ironisnya 25 Tahun, Hari Ke-27-nya Tragis


Ini adalah sedikit upaya muhasabah, mengenai apa saja yang sudah kulakukan dalam rangka Ramadhan 1436 H ini, ketika Masjid Qoryatussalam Sani berhias dengan lampu kecil merah hijau putih dibentuk kubah mesjid dan menaranya. Patut dicatat di sini, aku agak banyak teraweh Ramadhan ini, tidak seperti tahun lalu. Aku ingat ketika masih di Gang Pepaya, ada beberapa kali aku mengikuti shalat tarawih di mesjid pinggir Stasiun UI itu, bahkan mungkin juga di al-Mukhlisin atau al-Falah di Radio Dalam.


Akan tetapi, harus segera disusul catatan mengenai terawehku selama Ramadhan ini, bahwa kebanyakan kulakukan karena aku terpaksa mengimami anak-anak ini dan bunda mereka, baik ketika ada Afifah maupun tidak. Untuk kepentingan itulah maka kuatur surat-surat pendek yang kubaca adalah al-Kafirun, al-Ikhlas, al-Falaq, an-Naas kemudian berganti-ganti jika tidak al-Insyirah maka al-Qadar, terutama di akhir-akhir Ramadhan, kemudian al-Ashr atau an-Nashr, lalu al-Qurays kemudian al-Kautsar. Begitu terus urutannya kuulang-ulang ketika aku harus mengimami.

Sepanjang Ramadhan ini, tidak sekali pun aku teraweh di mesjid manapun, khususon Masjid Qoryatussalam Sani yang aduhai banyak anak kecilnya. Sungguh aku tidak tahan. Sebenarnya, jika demikian alasanku, maka seharusnya aku bisa shalat di situ setiap Shubuh saja. Boro-boro menjadi muadzin, boro-boro aktif di mesjid, shalat berjamaah di mesjid itu saja nyaris tidak pernah. Terlepas dari banyaknya anak kecil, bagaimanapun sungguh beda rasanya Masjid Qoryatussalam Sani dengan Masjid al-Barkah Jeruk Purut misalnya, bahkan dengan masjid kecil di pinggir Jalan Raya Duren Tiga itu.

Apakah karena aku cenderung pada Nahdliyin? Dulu kecil memang aku selalu shalat di al-Mukhlisin, setidaknya setiap Jumat. Aku lupa kapan mulainya, mungkin sejak SMA, aku berhenti shalat di al-Mukhlisin malah di al-Falah di Kompleks AL yang Muhammadiyah itu. Terawehku Ramadhan ini juga menurut cara yang konon Muhammadiyah, yakni delapan  raka’at dikerjakan dengan dua kali salam, ditambah witir tiga raka’at. Seingatku, ketika teraweh di Masjid Ukhuwah Islamiyah UI juga begitu caranya, kecuali salamnya yang empat kali.

Ini semua sekadar menandakan bahwa ibadahku khususon tarawih masih asal-asalan tidak pakai ilmu. Asal dengar asal ikut saja, bahkan niatnya pun tidak sempurna sekadar karena harus mengimami anak-anak itu. Ini semua akan menjadi penyesalan ketika Ramadhan berakhir, namun, kuharap, sekaligus juga menjadi doa agar disampaikan lagi pada Ramadhan tahun berikutnya, 1437 H, dengan niat, nawaitu, bismillah, untuk memperbaiki ibadah sebaik mungkin. Aamiin Yaa Rabbal’alamin, Yaa Mujibas saa’ilin. Paksakeun, paksakeun, paksakeun.

Demikianlah maka tanpa terasa—seperti selalu saja setiap tahunnya—Ramadhan sudah berjalan 27 hari. Tahun ini, aku tidak membuat entri berjudul Ramadhan yang pergi karena kuabaikan atau yang sejenisnya, karena memang niat awalnya adalah jangan sampai begitu. Nyatanya, tetap saja Ramadhan sudah berumur 27 hari sedang yang kurasakan tidak lebih dari lapar dan haus selama 27 hari terakhir ini, Naudzubillah tsumma naudzubillah! Jangankan bertambah peribadatan, lapar dan hausnya pun mungkin sudah kurusak sendiri.

Mungkin itu pula sebabnya, aku tergerak untuk ikut meramaikan 25 Tahun SMA Taruna Nusantara 14 Juli 1990-2015. Di tahun ke-40 hidupku di muka bumi Allah menurut perhitungan bulan ini, aku koq semakin tidak yakin dengan apa yang diperjuangkan oleh sekolah itu. Jangankan sekolahnya itu sendiri, gagasan mendasar yang diperjuangkannya pun sudah luntur kepedulianku padanya. Daripada pusing memikirkan Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan entah apa lagi, mengapa tidak kuperbanyak istighfar dan shalawat saja?

Laa ilaaha illallahul Malikul Haqqul mubiin
Muhammadur rasulullahu shadiqul wa’dil amin

Friday, July 10, 2015

Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan 1436 H


Entri ini kutulis dengan teknik kilas-balik, [halah!] ketika perasaan-perasaan itu sudah berlalu untuk beberapa jenak. Sungguh aku sayang untuk tidak menuliskannya, karena berlalunya perasaan-perasaan itu harus diiringi sekurangnya dengan ucapan hamdalah dengan hati yang sehadir mungkin. Benar seperti dikatakan dr. Riri, jika normal maka lebih percaya diri. Memang tidak bisa dijelaskan lain kecuali beberapa hari terakhir ini terasa sungguh melelahkan bagiku. Entah karena cuacanya, entah karena badanku, entah karena keduanya, yang jelas aku tidak mampu lagi bermotor jauh-jauh.

Ini adalah sepuluh hari terakhir Ramadhan—yang konon kata sebuah hadits yang konon katanya lemah—adalah hari-hari di mana pintu-pintu neraka ditutup. Sementara itu, apa yang kurasakan adalah badan yang lemah, lesu dan tidak bergairah. Aku punya Surbex Z boleh dikasih klinik dekat perempatan GDC, apakah sekadar ini solusinya? Surbex Z pasti lebih dahsyat dari Surbex T, vitamin yang sering disebut-sebut Ibu jaman... kapan, ya? Jamanku SMA? Itulah kenyataannya. Bahkan dari jaman SMA sekalipun fisikku tidak pernah benar-benar termasuk yang paling prima.

Menulis secara kilas-balik begini, seharusnya tanpa paralaks siklik badok. Ini agak mudah karena suasana Ramadhan biasanya cenderung monoton, rutin, dan itu bagus. Sudah lama aku berpikir, mudah saja beribadah dalam bulan ini, karena sebagian besar orang pun melakukannya, meski sekadar karena rasa malu jika sampai terlihat orang lain tidak melakukannya. Ada juga yang mengatakan, Ramadhan itu semacam pesantren. Di dalamnya kita dikondisikan untuk berlatih, guna menghadapi “perang” yang sebenarnya selama sebelas bulan sisanya dalam setahun.

Apa sebenarnya yang memicu? Jelasnya, tengah hari bolong aku mencongklang Vario ke Radio Dalam. Sesampainya di sana entah mengapa aku merasa lelah sekali. Dehidrasi sudah jelas. Puasa yang entah berapa tahun lalu, aku pernah mengalami kejadian yang mirip. Aku berjalan kaki [kenapa, ya? Kenapa tidak naik motor?] dari simpangan Poltangan menuju bengkel gitarnya Manto. Aku ingat sepulangnya dari situ, naik angkot, terasa berat sekali badanku—meski aku tidak bisa memastikan sekarang mana yang lebih berat, ketika itu atau ketika ini.

Lalu acara buka puasa bersama di kediaman Pak Teddy di Bukit Golf Pondok Indah. Aku mengundurkan diri lebih dulu karena kepala sakit bukan alang-kepalang. Waktu itu sekitar setengah sembilan, sedangkan acaranya sendiri baru benar-benar selesai lewat setengah sebelas. Pak Try pasti suka dikelilingi oleh anak-anaknya, bahkan beberapa sudah dapat digolongkan sebagai cucunya. Rasa tidak nyaman itu sangat akrab, yang jika dilacak-balik kurasakan kali pertama di Magelang. Aku tidak suka bersaing. Aku lebih suka sendirian di pojokan sepi.

Akhirnya, malam itu aku tidak jadi pulang. Aku terpaksa kembali ke Radio Dalam dan menginap di sana. Ya, aku kelelahan. Dengan yang satu ini jelas tidak bisa sembarangan. Hanya ini yang dapat kulakukan sekarang—menjaga agar jangan sampai kelelahan—sementara terus berusaha memperbaiki kualitas hidup. Makan sudah jauh lebih baik. Setidaknya, racun-racun dalam bentuk minuman sasetan sudah berkurang. Tinggal lagi olahraga. Jalan pensiunan harus digiatkan dan dilazimkan kembali, karena bagi oom dan tante juga kakek nenek cukup jalan kaki.

Demikianlah suasana kebatinan sepuluh hariku yang terakhir di Ramadhan 1436 H ini—merasakan badan yang lemah. Jika direnung-renungkan, ini adalah suatu berkah tersendiri. Jika tidak dibeginikan, bisa jadi di sepuluh hariku yang terakhir ini aku malah begajulan. Setidaknya, dengan rasa badan yang luluh-lantak ini, jadi banyak waktuku untuk berkeluh-kesah, meratap-ratap. Untuk orang setuaku begini, berkeluh-kesah dan meratap-ratap tidak bisa lain kecuali hanya kepada Yang Maha Mendengarkan Keluh-kesah, Maha Pengiba, Maha Belas-kasih.
 

Friday, July 03, 2015

Suatu Sore yang Penuh dengan Profesor


Sore ini aku dipenuhi dengan profesor. Tidak, bukannya aku sok trauma. Ada juga aku sok cool, atau memang benar aku takut bayarnya kurang gara-gara bukan profesor. Uah, macam aku peduli dengan itu semua. Namun, memang akhirnya aku tahu seperti apa Ruang Rapat Utama 1 yang kata Ipank spooky itu. Aku tidak suka spook. Aku sukanya Spokane, yang ternyata adalah nama sebuah kota di negara bagian Washington, tempat asalnya Andrew Hookans.


Andrew Hookans ini tidak mati, Kawan-kawan, hanya saja ia kehilangan dua kaki sekaligus. Siapa saja yang mati? Lebih mudah untuk mengingat-ingat yang hidup. Daniel Forrester, Mortimer Gray, Andy Hookans. Tentu saja Mac. Berarti yang mati Lamont Quincy Jones, Joseph Gomez, Marion Hodgkiss, Cyril Brown... tunggu... Shining Lighttower hidup! Hanya saja ia tuli. Siapa lagi... Constantine Zvonski tentu. Kambing gunung itu namanya siapa ya... koq aku malah ingatnya McQuade. Aha, aku ingat semua. Burnside! Memang tidak pernah diberitahu apa nama depannya.

Bahkan pengganti Ski pun, Jake Levin, mati. Mati semua. Salib putih dan salib putih sejauh mata memandang. Aku ingat semua. Entah sudah berapa kali kutamatkan. Entah sudah berapa lama aku tidak membacanya lagi, dari sampul ke sampul. Entah kapan kali pertama aku membacanya. Entah mengapa aku tidak membaca lagi sekarang. Buku apa yang terakhir kali kutamatkan? Bahkan Kekayaan Bangsa-bangsa yang Sebenarnya saja tidak maju-maju. Seruan Perang! Seruan Perang tidak terdengar dari bekas loji itu, hanya suara satu engineer yang berisik.

Tunggu, suasananya sih sangat mirip dengan Wantannas. Jika awal Februari Wantannas, maka awal Juli Bappenas. Sangat mirip. Tidak begitu mirip sih. Ada Bang Andrinof ada Evaluasi Otsus Papua. Ada Bang Andrinof, sekarang Papua lagi. All in a day’s work. Di sore yang terik tidak mendung tidak itu kubiarkan Vario Sty menggelinding saja ke arah utara. Gas tidak pernah kubuka penuh kecuali sedikit untuk mengambil suatu celah di antara mobil-mobil. Sepulangnya malah aku sering meremas gas.

Karena pulang harus selalu lebih cepat dari berangkat. Karena pulang ke rumah, karena pulang tidak ke loji, yang spooky, yang penuh dengan profesor. Karena pulang membawa satu juta tujuh ratus ribu Rupiah gara-gara diam saja dipanggil praf-prof. Jika benar kau mencintaiku, benar-benar mencintaiku, biarkan terjadi aku tidak peduli! Begitulah Lagu Pujian untuk Cinta. Kau boleh mengujiku, akan kulakukan apapun yang kauminta. Sampai aku kehabisan kata mutiara, meski perasaan mengganjal ini lebih karena Si Engineer itu.

Bekas loji yang persekitarannya masih terasa bekas-bekas nyamannya. Adakah kenyamanan menyembunyikan horor di baliknya? Mana ada yang lebih horor dari tumpukan dosa tak terampuni, Naudzubillahi min dzalik. Di sekitar kita ini saja sudah dipenuhi dengan horor, yaitu berada dalam kepala manusia-manusia, laki-laki dan perempuan. Tidak peduli. Bersama dengan batu, semua itu bisa saja menjadi bahan bakar neraka. Naudzubillahi min dzalik, sedangkan masih saja aku tidak bersenang-senang. Sedangkan masih saja aku tidak paham mengapa disebut bersenang-senang.

Sungguh menakutkan! Dari situ saja sudah horor... sedangkan Marsha and the Bear, yaitu Marsha sekaligus Bear-nya—aku tidak peduli lagi apakah Marsha berkepala Bear atau Bear berkepala Marsha—menyiramku dengan lima belas ember penuh horor! Hanya ini yang dapat kulakukan. Bersenang-senang tidak. Tidak ada tambahan sama sekali, sedangkan Ipank begitu saja tadi mengingatkanku pada Munas, yang mengingatnya saja sudah bikin mual.

Thursday, July 02, 2015

Purnama Ramadhan 1436 H. Hari Ke-15


Puasa hari kelimabelas, meski lupa sahur dengan apa, aku ingat malah jadi van Gogh yang malamnya berbintang-bintang. Aku malah merasa sedang berlomba—eit, berlomba bukan bersaing, karena berlomba itu seperti melonjak-lonjak gembira, seperti umbul-umbul perang—dengan Bang Hidayanto “Tiyok” Budi Prasetyo. Terlebih dengan Denny JA. Tidak. Aku tidak berlomba apalagi bersaing dengannya. Aku tidak sedang membuat atau merintis atau apalah genre baru. Jikapun ada, itu adalah sebuah genset. Itu pun tiada.


Setelah Nocturne di Hari Terakhir Musim Panas, memang sungguh cocok jika dipadankan dengan hari panas tanpa pendingin udara yang membuat anak-anak perempuan yang sudah tidak anak-anak lagi mengibas-ngibaskan rambut-rambut panjang mereka, atau sekadar mengikatnya—sementara satu menyusulku berlari menaiki tangga karena tidak tahan panasnya. Di hari yang panas ini pulalah aku menyadari bahwa punggung berjerawat banyak itu bukan sesuatu yang patut dikhawatirkan berlebihan. Tentu saja itu karena aku mengetahui ada yang bernasib lebih buruk dari aku, seperti biasa.

Van Gogh yang mengibas-ngibaskan kuas belepotan cat tidak mungkin terlihat lebih ironis dari ini. Dengan berlinang air mata, meski dalam khayalku saja, aku terus mengoceh mengenai sejarah peradaban manusia—meski ini mungkin ocehanku terbaik mengenai topik tersebut selama beberapa tahun terakhir. Dalam ruangan yang semakin pengap karena semangatku yang meluap-luap, tangan bahkan seluruh lenganku bergerak-gerak ramai ke sana ke mari meningkahi dongengku yang seru sendiri. Itu belum semua. Belum semua bagian favoritku keluar.

Meluapkan semangat sebanyak itu, tentu saja membuatku haus. Lucunya, lebih dari sekadar haus cairan yang sepele, aku justru haus kasih sayang. Linangan air pada mata bercelak—atau memang begitu matanya? Tidak, ah, memang bercelak—yang diseka dengan sepotong tisu tidak akan menghilangkan dahaga ini, maka sekalian jangan diteguk. Biarlah Satu Kisah yang Cantik menjadi penawar dahaga. Biarlah ia melinangkan air mata sendiri. Biarlah ia melinang ke dalam sehingga tidak sampai membasahi pipi.

Sehingga tidak dijilat meski asin. Sehingga tidak batal puasanya, karena ini hari kelimabelas bulan Ramadhan Karim! Dengan nama yang sama, dengan pipi yang bersemu merah meski tidak begitu kelihatannya, menambat pandang juga tidak ayal. Itulah Ratu Saba. Bukan Ratu Sima. Jika ada yang percaya bahwa adanya di Jawa, biarkan saja. Aku pun membuat banyak kebohongan seperti itu. Kebohongan yang membuat haus mendahaga, gelegak mendahana. Tidak mungkin dipungkiri, aku lelaki beranjak tua.

Jiahaha... tidak perlu genre baru, ini semua hanya membutuhkan GENSET baru. Selepas itu semua, melepas lelah sedangkan waktu berbuka hanya tinggal beberapa menit saja. Belum shalat Ashar! Seteguk air, shalat Maghrib, dan meluncurlah ke satu-satunya gang kecil yang tersisa, paralel dengan Statsiun Pondok Cina. Bakmi ayam pangsit rebus, tidak hanya itu, fu yung hai. Hari kelimabelas puasa hampir berlalu begitu saja, tidak diisi dengan sebait dua lagu, terdorong oleh keinginan bernyanyi.

Malam berbintang-bintang boleh menunggu sampai entah kapan. Ini saatnya Purnama yang selalu membawa ilham cinta. Bilakah engkau akan tiba? Sudah tua, masih saja mengharap-harapkannya. Sudahlah. Berpuas dirilah dengan sepeser dua yang kaudapat dari perbuatan-perbuatan yang tak pantas dibayar, karena rejeki sudah ada yang mengatur. Nikmati saja malam tak berbintang-bintang dengan dentang-dentangnya lonceng hasrat. Sepuluh lagi, dapatkah dihentikan tepat benar disitu, tepat lima ratus?

Tuesday, June 30, 2015

Entri Pertama yang Ditulis di Bagasnami


Sekitar setahun yang lalu, di meja ini juga, dengan pantat diganjal dua bantal kursi seperti ini juga, aku menulis di sini, di ruang tamu Bagasnami Jalan Tangguh IV Nomor 17. Namun waktu itu aku menulis. Kini aku mengetik-ngetik. Ya, inilah entri pertama yang kutulis di Kodamar sini. Biar kuabadikan sedikit bahwa agak setengah sembilan tadi aku, Cantik dan Afifah pergi ke Mall of Indonesia mencari Seven Eleven. Mak, muter-muter pun cari pintu masuknya.

Sungguh emeizing bahwa setelah setahun di tempat yang sama aku tidak sedang dikejar-kejar dedlen. Ada sih, tapi tidak terasa seperti tahun lalu. Apa hasilnya tahun lalu? Masyarakat Pancasila? Baru kemarin aku mengeluh muak dengan yang satu ini. Malam ini aku tidak lagi semuak itu. Astaghfirullah. Sungguh niatku hanya satu itu. Hamba mohon ampun, Ya Rabb. Hanya itu. Tidak yang lain atau apapun. Sedangkan entah bagaimana, setelah menyantap Nasi Tenggo Rumput Laut aku merasa seperti ingin menyantap satu lagi.


Malam ini... aku merasa biasa-biasa saja. Tidak ada kejadian istimewa. Namun begitu, justru di situlah letak menariknya. Sebuah entri tetap dapat dihasilkan meski tidak ada kejadian istimewa, meski aku merasa biasa-biasa saja. Sedangkan Paul Mauriat begitu saja menyeruak dengan rendisinya mengenai Betapa Perasaan Ini yang dipopulerkan Irene Cara, aku mulai merasa tidak biasa-biasa saja. Aku mulai teringat Tujuh Belas Lagu-lagu Cinta, jika tidak salah begitulah namanya. Di mana dia berakhir, Gundo? Bisa jadi.

Namun tak hendak juga aku mengenang masa-masa itu, kecuali bahwa aku terhenyak oleh ingatan Gendut bahwa aku dulu merajuk gara-gara tidak boleh ke Tangerang. Nah, nah, ini emosional. Ini serius. Aku masih dapat merasakan betapa emosionalnya waktu-waktu itu. Bahkan ketika begundal-begundal itu menginap di Jalan Radio—meski menghancurkan panorama tentara-tentaraan Tamiya yang kami kerjakan segenap jiwa—aku menangis ketika mereka pulang! Aku masih ingat, ketika itu aku masuk kamar mandi belakang, entah karena mules beneran, atau karena memang kepengen nangis hahahah.

Musim hujan 1990 – 1991 yang, seingatku, cukup basah itu. Nyaman. Tidur siang di pavilyun sedangkan hujan deras di luar... hmmm. Sedangkan, sedangkan, lalu untuk apa masuk TN, toh aku tidak bisa gugur seperti Sandy Permana [Allahumaghirlahum warhamhum wa’afihi wafuanhum] gara-gara Hercules-ku jatuh. Lalu buat apa masuk TN, toh setelah masuk “Saka Bahari” aku keluar, meski benar selama di TN tiap Jumat pakai seragam Pramuka. Untuk apa masuk TN, jika akhirnya counting down to extinction yang ternyata memang benar akhirnya aku mengajar Hukum Lingkungan di Pascasarjana Universitas Indonesia?!

Huah, sederas hujan di 1990 – 1991! Dapatkah aku menyanyikan Oh Girl yang ternyata justru Girl kumainkan, padahal aku suka juga Oh Girl. Ooohhh dengan o dan h yang banyak! Tak sanggup kubermain kata untuk yang ini. Kelu. Lalu... jika yang ini ditulis juga maka akan lebih banyak lagi o dan h-nya, Jagad Dewa Batara! Mengapa?! Mengapa itu semua harus kulalui? Lalu... jika yang ini pun ditulis maka... ia sendiri yang memutuskan untuk memutuskan dan kurasa aku tidak peduli alasannya. Lalu... hah, masih ada lalu lagi, yang sebelahnya?!

Setelah segala yang kulalui, entah berapa lalu lagi, lalu berapa entah lagi... aku baru saja menghapus beberapa kata yang hampir saja membentuk sebuah kalimat. Semua ada di sebelah. Semua? Sebagian yang cukuplah. Ditengok. Gengsi. Ya, bukan karena alasan apapun lainnya. Semata-mata karena G-E-N-G-S-O-T. Apa aku masih punya, gengsi? Masih, lah. Kalau untuk keperluan itu selalu tersedia. Seperti kata Azhar Arif bimbinganku hasil limpahan Bu Myra, rusak! Seperti rusaknya murit-murit STM yang belajar antonem aliyas perlawanan kata. Seperti itu!

Huft... huft... huft...

Sunday, June 28, 2015

Sepuluh Hari Kedua Ramadhan 1436 H


Ya, kuakui, aku shalat tarawih karena Istriku. Itu jauh lebih baik daripada tidak sama sekali. Itu pun akan kuingat sebagai hal baik darinya. Tentu saja, aku berusaha melakukannya seikhlas mungkin, sepenuh hati. Jika aku sendiri, atau tidak di rumah, sudah barang tentu aku tidak teraweh. Mungkin ini bisa menjadi suatu eksperimen jika kapan hari dalam bulan Ramadhan ini aku tidak di rumah. Adakah aku akan dengan kesadaran sendiri mendirikan tarawih? Eksperimen. Semacam eksperimennya Gandhi ‘gitu. Wallahu’alam.


Maka malam hari setelah berpuasa yang kesebelas hari ini, aku mengetik-ngetik ditemani Gospel Jour et Nuit yang dalam bahasa Inggris disebut Day by Day oleh Godspell. Suatu nomor lama, dari... 43 tahun yang lalu! Masya Allah, seperti halnya Boriyana Ivanova menulis Mashaallah! Ini racikan Paul Mauriat, sedangkan aku lebih akrab dengan Boticelli punya. Ah, irama instrumentalia ini... melembutkan hati. Semoga benar lembut hatiku gara-gara kalian, jadi mudah menerima kebenaran. Hatta, tergerak untuk melaksanakan kebenaran itu.

Padahal, banyak sekali pekerjaan menumpuk. Penugasan dari Kwarta belum kuseriusi meski sudah kutengok-tengok sedikit. Apa yang ada dalam pikiranku ketika aku begitu saja mengiyakan permintaan Deny Giovano untuk menulis mengenai biofuel? Kemana pulak akal sehatku ketika begitu saja mengiyakan ajakan Wiyono untuk menulis buku. Sedangkan, tanpa minta persetujuanku, namaku begitu saja dimasukkan dalam tim materi Munas I MP, dalam tim penulis buku teks Hukum Lingkungan. Blimey! Semoga semua ini semacam pertanda bahwa badan dan pikiranku memang akan siap dan mampu untuk melakukan itu semua. Aamiin Yaa Rabbal’alamin.

Ini adalah sepuluh hari kedua dalam bulan Ramadhan Mubarak 1436 Hijriyah. Semoga tulus dan sepenuh hati rasa syukur hamba ini, masih diijinkan untuk berjumpa dengan Ramadhan tahun ini. Terima kasih, Ya Rabb. Semoga hamba mampu mewujudkan rasa terima kasih ini dalam perbuatan. Tolonglah hamba, Ya Rabb, karena tiada daya tiada pula kekuatan kecuali denganMu, Maha Kuat, Maha Perkasa, Maha Berkehendak. Ampunilah hamba, maafkan hamba yang lalai lagi durhaka ini. Kasihanilah, Ya Rabb hamba.

Sepuluh hari kedua berarti masih banyak, meski sudah banyak juga yang terlewat. Jika Ramadhan-ramadhanku ketika kecil hampir tidak ada yang berkesan, maka biarlah Ramadhan-ramadhan di masa tuaku ini, sejak sekarang dan sebelum-sebelum ini, sampai nanti dan seterus-terusnya, Insya Allah, akan selalu berkesan. Bagaimana cara membuatnya berkesan? Sebenarnya perumahanku ini sudah memberikan begitu banyak ide mengenainya. Tak ingin pula aku berkomentar lebih jauh  mengenainya. Rabb, hamba mohon dituntun selalu ke arah kebaikan yang lebih baik dan lebih baik lagi.

Sedangkan dosa hamba masih menggunung, sedangkan masih saja bertambah dan bertambah. Ampun, Ya Rabb. Ini adalah sepuluh hari kedua dalam bulan Ramadhan yang penuh berkah di tahun Hijriyah ke-1436. Kata orang, sepuluh hari kedua ini penuh ampunanMu. Rabb, hamba mohon dituntun ke jalan yang penuh ampunanMu, karena hamba sendiri merasa tidak berdaya menghadapi dosa-dosa hamba yang menggunung, sedangkan hawa nafsu masih terus saja menarik-narik untuk menambahnya lagi dan lagi. Ampuni hamba, Ya Rabb, kasihanilah. Tolonglah hamba, Rabb.

Sebentar ini, aku akan pergi ke toko herbal di seberang Pizza Hut Tole Iskandar, membeli gamat. Sejak puasa ini memang aku berhenti minum gamat, meski karena belum gajian. Sekarang sudah gajian, maka beli lagi gamat. Alhamdulillah, kelihatannya gamat memang berkhasiat, atas ijinNya. Mengenai kunyit, di toko herbal itu ada juga yang harganya jauh lebih murah, meski kurasa tetap saja ada harga ada mutu. Semoga saja kunyit yang lebih murah ini tidak terlalu jauh mutunya dari buatan Sido Muncul yang bermodal besar itu. Aamiin.

Saturday, June 27, 2015

Oregano Misery. Lovely, Lovely, Loveliness.


Oregano misery. Lovely, lovely, loveliness. Oregano misery oh Mucis, Mucis, Mucis. [mungkin seharusnya music] Ada lagi first time I stepped on bricks of road, I can’t deny it was my pride, lalu entah apa, tiba-tiba to pit of blades—meski suasananya sangat jauh berbeda dari yang pertama. Seberapa jauh berbeda? Kurasa tidak terlalu jauh. Aku sudah begini sejak ber-Oregano Misery. Jadi tidak perlu terlalu dipikirkan. Jalani saja. Senang, Alhamdulillah. Kurang senang, Alhamdulillah. Nyaman, Alhamdulillah. Kurang nyaman, Astaghfirullah.


Seperti biasa entah bagaimana aku membuat banyak sekali janji. Tentu saja tidak aku sendiri yang mencari-cari. Orang-orang inilah, yang tiba-tiba muncul dalam hari-hariku lalu membuatku merasa seperti terpaksa berjanji. Dan aku muak Pancasila! Kapankah akan kukatakan hal ini kepada Takwa? Lebih baik aku membantu Kwarta dan Mbak Lily bikin entah apa itu. Setidaknya ada duitnya. Pancasila ini... ampuuun. Sungguh lucu sekali, sekarang aku tidak merasa punya sesuatu apapun untuk diapa-apakan.

Padahal aku biasa berpikir aku harus punya itu agar semangat. Macan mungkin aku masih punya sedikit. Kuda? Sepanjang menghasilkan uang akan kupacu. Jika demikian, ini kuda atau lembu? Hah, aku pun sudah tidak peduli. Pada masa lalu, pada Oregano Misery, pada Pit of Blades, aku tidak peduli. Setidaknya malam ini. [Lalu mengapa kau tulis juga?] Mungkin sekadar karena bosan berperang melawan Suleiman yang Culun padahal merasa harus menghasilkan sesuatu prestasi.

Seandainya prestasi itu adalah semacam sebutan, atau gelar, atau uang... Sudah lama aku mencibir pada yang seperti itu, dari kecilku. Mengapa begitu? Entahlah. Kantuk belum kunjung menjelang sedangkan udara panas begini di dalam rumah. Seharian tadi dihabiskan dengan mengangon bocah, yang tidak hendak pula kuabadikan, meski ada sesuatu yang sangat menggelitik hati. Nasib, Kawan, Nasib. Sama saja dengan nasib cemeng yang ditinggal maknya, sementara perutku sekarang kenyang mie goreng kampung.

Ini biasa terjadi dalam Ramadhan-ramadhanku, ataukah baru yang beberapa terakhir saja ya? Coba kukenang Ramadhanku yang tidak begini. Ada. Ini mengerikan. Hari ini, setidaknya, aku merasakan suatu kehampaan. Dulu itu bukan hampa, atau kalaupun hampa tidak seperti ini rasanya. Ini tidak bisa lain pastilah dosa. Bertumpuk-tumpuk dosa. Astaghfirullahal'Azhim. Sekadar suatu perasaan ketika menyaksikan impian-impian hancur berkeping-keping, sehingga tersungginglah senyum kehancuran hahaha. Apa coba senyum kehancuran, meski Koes Plus juga sama sekali tidak lebih bagus darinya.

Jika demikian, maka mungkin ada baiknya malam ini aku tidur di tenda. Aku belum pernah tidur di tenda sampai semalaman. Malam ini, mungkin akan menjadi yang pertama, meski tidak akan semalaman, karena Insya Allah sahur nanti bangun. Minum saja. Sayur-sayur sudah kupanaskan tadi, sisa sop tahu udang, tahu udang buncis. Namun aku tidak merasa seperti ingin menyantap mereka, sedangkan sesuap terakhir mie goreng saja enggan kumasukkan mulut. Namun tenda ini benar-benar inspiratif.

Dapatkah tenda menjadi rencana cadangan (backup plan) untuk gardu. Itu terlalu sensasional, terlalu kontroversial. Sedangkan aku masih menempati ruanganku sementara sudah dicepat saja, sudah membuat heboh. Ini lagi mau mendirikan tenda. Kecuali aku guru besar, mungkin orang tidak bisa apa-apa. Guru besar yang... eksentrik, kalau kata orang yang hatinya baik sekali. Kalau kata orang biasa-biasa saja, guru besar gila! Hahaha. Sungguh teramat sangat inspiratif, sedangkan mesjid jaraknya hanya sepelemparan lembing oleh atlet amatir... mesjid yang tenang. Merbot. Inspiratif...

I know I need to be in Love...

Tuesday, June 23, 2015

Hari Ketika Leher Terjerat Gelasan


Hari ketika leher terjerat gelasan, begitu saja seorang Laki-laki merasakan nyeri yang sangat. Bunyinya pun serasa mengiris lambung, ketika gelasan mengiris tidak saja kulit leher tetapi juga kabel earphone—yang akhirnya terpaksa dibuang. Melayang sudah lima puluh ribu Rupiah. Semoga gajian segera menjelang. Bunyi itu memang tak terlupa. Pertama grrttt... lalu srrr.... sesudahnya nyeri. Laki-laki meremas tuas rem kanan dan kiri sambil menjaga keseimbangan. Sampai akhirnya berhenti total. Gelasan diangkat melampaui kepala, melampaui helm.


Hari ketika leher terjerat gelasan, tak ayal Laki-laki segera teringat perbuatan-perbuatan buruknya. Seraya minta ampun, seraya berharap rasa nyeri yang akan tinggal menetap agak beberapa hari ini menjadi penghapus dosa-dosa. Hanya beda satu roda, di belakang Laki-laki ada sekeluarga dengan anaknya duduk di depan. Laki-laki bersyukur lehernyalah yang teriris gelasan, bukan mata anak itu. Si Bapak bertanya kenapa, Laki-laki hanya dapat menjawab singkat, gelasan. Mungkin karena nyeri, mungkin karena itu di tengah jalan layang.

Hari ketika leher terjerat gelasan di atas jalan layang Arief Rahman Hakim, Depok, dari arah barat menuju timur, sedikit melewati Pasar Kemirimuka, Laki-laki kembali memacu motor matiknya menuju pertigaan Margonda. Tidak banyak kendaraan mengantri sore ini, meski tetap harus mengantri semenit lebih. Laki-laki meraba lehernya, memeriksa kabel earphone yang nyaris putus. Kulit leherku lebih tebal dari kabel earphone, batinnya lucu. Suatu kemalangan, suatu nasib buruk... yang sangat patut disyukuri karena... tidak terlalu buruk. Hanya satu pikirannya, Betadine.

Hari ketika leher terjerat gelasan, Laki-laki sendiri menyungging senyum sambil terus memacu motor matik. Alhamdulillah, batinnya. Hari ini aku pulang kepada Istriku yang sayang padaku. Semoga begitu selalu adanya, karena Laki-laki ini sudah tidak lagi semuda dulu. Laki-laki butuh pulang, dan pulang itu kepada seorang Istri yang dicintainya, yang mencintainya, yang didapatinya tengah tertidur. Aisyah Nur Afifah, keponakannya tengah menekuni permainan portabel, ditunjukkannya luka di leher. Betadine dibubuhkan di sepanjang luka. Hmm, lumayan panjang, lumayan dalam.

Hari ketika leher terjerat gelasan, Istri ketakutan. Menurutnya, orang sengaja memasang gelasan itu, agar ada orang jatuh lalu motornya diambil. Laki-laki menukas, tadi aku melihat layang-layang, meski belum sempat berpikir apalagi bertindak sudah grrttt srrrrr itu. Istri berjengit kengerian tidak mau mendengar rincian kejadian. Ini Istri yang sayang padaku, batinnya. Semoga selalu begitu adanya, bagi Laki-laki sederhana ini. Apa lagi yang dapat diharapkan dari dunia yang menjerat lehernya dengan gelasan, kecuali kasih-sayang seorang Istri.

Hari ketika leher terjerat gelasan, bertepatan dengan puasa hari keenam di bulan Ramadhan 1436 H. Laki-laki dan Istrinya merencanakan untuk berbuka di Pizza Hut Tole Iskandar mengajak keponakan mereka. Ternyata berangkat terlalu pagi dan Pizza Hut masih sepi, maka dipaculah motor matik yang sama menuju Bella Casa. Taman bermain tiada begitu menarik bagi keponakan, maka bertiga masuk Bella Casa sampai klaster Jasmine yang paling belakang. Ketika itulah dua gadis cilik menarik perhatian Laki-laki, berdua menjaga takjil dagangan ibu mereka di tepi jalan.

Hari ketika leher terjerat gelasan hanyalah satu dari hari-hari penantian Laki-laki. Menanti yang pasti, itu pasti, sedangkan Pucuk Harum saja membuat bergolak perut dan melemaskan, menguras tenaga Laki-laki ketika mengimami tarawih Istri dan keponakannya. Cukuplah itu sebagai pengingat akan yang pasti. Laki-laki budak ini memohon ampun beribu ampun pada Tuannya Maha Baik, karena apa lagi yang dapat dimohonkan kepadaNya, dari seorang budak tidak tahu diuntung ini. Hanya memohon ampun, itu saja.

Monday, June 22, 2015

Hari Kelima Puasa Ramadhan 1436 H


Pada hari kelima puasa Ramadhan 1436 Hijriyah aku menyadari bahwa aku sudah tua, meski ada di dalamku yang setengah takut setengah tidak terima akan kenyataan itu. Kenyataannya, aku sudah tidak setangguh dulu. Tentu saja, sepuluh tahun lalu bahkan lebih. Tentu saja, ketika itu aku masih sepuluh tahun lebih muda, bahkan lebih, dari sekarang. Tidak sekadar hati—tetapi, yang sangat mencemaskan—badanku pun sudah tidak mampu menahan deraan perasaan. Perasaan seperti apa itu yang mendera tak tertahankan lagi?

Mungkin perasaan yang sama dengan yang kurasakan ketika menjalani hari-hari musim dingin di Maastricht, sekitar tujuh tahun yang lalu. Sepuluh tahun yang lalu, tepat pada waktu-waktu seperti ini, mungkin aku sedang di Palembang atau setidaknya merencanakan ke sana bersama Rendy. Itu pun, sepulangnya, aku masih kuat berjalan dari pintu keluar tol bandara sampai ke Plasa Slipi. Infanteri! Sekarang? Boro-boro! Apa betul hanya karena jarang berlatih? Apa betul sekadar kurang olahraga? Apa yang telah kulakukan sampai aku sebegini lemah?


Selain itu juga hati, yang tentu saja menjalar ke badan. Hatiku sudah begitu lemah, begitu tertambat. Bagaikan sampan tua yang sudah tidak pernah dikayuh ke perairan. Hanya ditambat begitu saja di tepi telaga, di antara gelagah dan rerumputan tinggi, sedangkan kayu-kayunya lapuk rapuh. Terisi pula air, setengah tenggelam. Menunggu tenggelam... Aku kapal Majapahit! Hah, mengatakan ini saja aku tidak percaya lagi pada diriku sendiri. Jika aku sudah setertambat ini, sebaiknya aku tertambat pada patok kayu yang benar.

Patok kayu yang siap lapuk, siap rapuh bersama denganku. Adakah begitu? Ataukah Allah akan memberiku kekuatan baru untuk menyelesaikan apa yang harus diselesaikan? Adakah semua kelemahan ini menjadi lantaran ampunanNya bagi dosa-dosa yang mengerikan besar dan banyaknya itu? Ataukah ini semua hanya panjangnya angan tanpa kesungguhan hati? Semua pertanyaan. Semua pertanyaan yang bahkan aku tidak punya cukup kekuatan badani untuk menjawabnya. Bahkan sekadar mengangkat suara untuk menjawab. Allah Gusti hamba, mohon ampun, mohon belas kasihan.

Tidak lagi mampu aku mengandalkan selembar kasur palembang, apalagi sekadar beberapa sajadah. Sungguh tak terbayang tidur di atas meja beralaskan entah apa sampai nyenyak sepanjang malam, sampai pagi. Sudah tidak bisa lagi. Hilang sudah semua semangat petualangan. Hanya tersisa tubuh yang belum renta tetapi demikian lemahnya. Asuransi sudah punya, namun haruskah kugunakan untuk pergi memeriksakan diri ke dokter spesialis gastroenterologi atau penyakit dalam? Adakah yang dapat mengerti, sepenuhnya menerima keadaanku, atau apa yang kupikir merupakan keadaanku?

Semua masih berupa kalimat tanya. Kalimat beritalah yang nyaman, berita baik tentunya. Apa itu berita baik? Sesungging senyum? Sapaan ramah dan mesra dan manja? Ah, kembali menjadi kalimat tanya. Siapa yang akan menjawabnya? Kalimat tanya lagi. Aku tidak punya berita, terlebih berita baik, bagi diriku sendiri, apalagi dunia. Berita baik, memang, harus dibuat. Aku yang harus membuatnya, untuk diriku sendiri. Itulah langkah awal yang harus diayun untuk menyampaikan berita baik bagi dunia. Syukur-syukur jika itu bukan mengenai diriku sendiri, melainkan mengenai dunia seisinya.

Hari kelima puasa Ramadhan 1436 Hijriyah, dan aku menulis-nulis di mantan Ruang ICT Komintern yang sudah luluh-lantak. John Gunadi tidak ada. Milson Kamil tidak ada. Semakin menambah melankoli, semakin menguatkan suasana sentimentil. Tidur di sebelah, di Ruang Humas aku tidak bisa. Pindah ke atas ada John Gunadi, mencoba tidur bersitentang kaki dan kepala dengannya, apalagi, aku juga sudah tidak bisa. Hanya nasi warteg masih bisa kumakan. Alhamdulillah. Namun tidur aku sudah tidak bisa, jika tidak di rumah.

Tuesday, June 02, 2015

Selamat Hari Raya Waisak 2559


Itulah yang kulihat jika aku menengok ke kiri agak ke arah jam setengah sembilan, agak mendongak sedikit. Hari Raya Waisak 2559. Daripada bicara yang tidak-tidak mengenai sesuatu yang aku tidak benar-benar tahu, lebih baik, seperti biasa, aku bicara mengenai diriku sendiri. Malam ini selepas Maghrib tadi hujan turun lumayan derasnya. Alhamdulillah. Kemarin-kemarin aku sampai terpaksa sekadar mendengarkan suara hujan dari Youtube. Sekarang benar-benar terjadi, aransemen cantiknya John Fox dari BBC Studio London, ditingkahi hujan yang lumayan derasnya.


Selamat Hari Raya Waisak 2559, dan ingatanku melayang pada kenangan masa kecil menonton acara Mimbar Agama Buddha asuhan Bhikku Paññavaro Thera. Entah mengapa, nama beliau melekat sekali dalam ingatanku—dan harus kuakui, aku memang agak terpesona oleh beliau. Cara beliau bicara yang tenang, dengan suara yang medok menyejukkan, (ternyata beliau orang Blora) itulah terutama yang kuingat mengenai beliau. Kurasa di sana-sini aku sudah menyindir (halah) mengenai minatku pada asketisisme dan/atau monastisime. Tentu saja aku terpesona pada Bhante Paññavaro.

Namun, beginilah keadaan sahaya kini. Sakit tukak lambung yang sahaya derita bertambah parah, sedangkan terus saja saya menambah kedurhakaan dan kemaksiatan. Padahal sudah ada yang mengingatkan, sebuah selebaran dakwah begitu, bahwa asam lambung itu obatnya tobat. [sama tidak ya asam lambung dan tukak lambung] Bukan sahaya tidak percaya dokter, tapi kalau saja dokternya murah, berikut obat dan berbagai alatnya, sahaya tidak akan menunda lebih lama lagi. Bukan sahaya tidak berusaha.

Subhanallah, lagu Manhattan ini cantik sekali. Aku belum pernah ke Manhattan. Tidak ingin juga ke sana. Aku merasa sudah cukup tahu Manhattan sekadar lewat cerita Umar Kayam mengenai seribu kunang-kunang di sana. Padahal aku yakin jaman Umar Kayam di sana pun tidak ada sawah di Manhattan. Kunang-kunang adanya di Magelang, tapi itu dulu ketika masih banyak sawahnya. Terakhir ke sana, apa yang dahulunya sawah sudah berubah menjadi rumah dan rumah dan rumah.

Sekarang Le Lac du Come. Lagu kesukaan Ibu. Aku tadi bertemu Ibu, dan Ibu terlihat sedang senang. Alhamdulillah. Tinggal Bapak. Akan tetapi, kurasa keadaan Bapak masih lebih baik karena setidaknya Bapak masih punya banyak saudara dan sering bertemu pula. Ibu sehari-harinya, sepanjang hari, setiap hari di Dalem Jalan Radio bersama Gendut, Adjie, Mbak Nur, kucing-kucing, Sutoyo, Bundi, kadang Mbak Yayah. Aku tidak bisa lain kecuali berdamai dengan keadaan ini. Salam Bunda Maria!

Beginilah keadaanku. Apa aku tidak malu begini terus setelah lewat hari Minggu nanti? Apa yang akan kulakukan untuk menandainya? Haruskah aku mulai menulis sesuatu yang serius? Di sini? Haruskah aku terus menulis? Di Hari Raya Waisak yang basah berhujan ini, aku tidak tahu apakah hujan juga di Borobudur. Menurut prakiraan, di sana pun hujan badai petir ringan. Di Hari Raya Waisak yang berbadai petir ini, aku berharap semoga pada jam 23.18:43 nanti, cuaca cerah di Borobudur sana sehingga sang Purnamasiddhi dapat terlihat gemilang.

Wiranggaleng seorang Buddhis. Di akhir hidupnya, Gelar mengucap Salam Bunda Maria bila berdoa. Pada menjadi seorang Muslim, seperti aku. Semoga Allah mengampuniku, memaafkanku. Semoga sebelum ajal menjemput, aku benar-benar telah menjadi seorang Muslim yang sebenar-benarnya, sesuai dengan ketentuan Allah SWT, sesuai dengan tuntunan Rasulullah Muhammad SAW. Hanya beliaulah yang patut menjadi uswah, teladan. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah pada beliau dan keluarga, para sahabat, para pengikutnya hingga di akhir jaman.

Om, Santih, Santih, Santih Om.

Monday, June 01, 2015

'Met Milad Pancasila, Semua Cinta di Dunia


Padahal lembar jawaban ujian (LJU) [kenapa juga harus dibuat dalam kurung singkatannya...] satu amplop penuh sudah keluar dan amplopnya sudah digeletakkan di lantai, di samping kursi, seperti enam bulan lalu. Apa gara-gara Mama Dionne, yang akhirnya kuketahui sebagai penyanyi All the Love in the World, sebuah lagu yang refrainnya menghantui selama ini? Semalam entah mengapa aku agak serius mencari tahu. Sebelumnya kukira ini lagu Bond, meski tebakanku mengenai keterlibatan Bee Gees tidak salah ternyata.

Pagi ini begitu saja aku teringat pada Mama Dionne. Maka kutelusurlah Youtube dengan kata kunci Dionne Warwick Bee Gees. Entri ketiga seperti menggodaku untuk mengeklik. Pertama mendengar awal lagu, aku merasa agak ragu. Hampir saja kutinggalkan. Namun sekali lagi aku tergelitik untuk menggeser seeking bar ke tempat yang kira-kira ada refrainnya dan... Maha Suci Allah! Hilanglah sudah hantunya, berganti menjadi surga nikmat, Semua Cinta di Dunia!

Di situlah kadang saya merasa sedih, seperti sudah sering kukatakan. Melodi-melodi indah ini, apakah nikmat apakah cobaan? Sependek pengetahuanku, aku tidak ingin melodi-melodi ini masih ada di kepalaku ketika aku mengucap selamat tinggal pada hidupku di dunia ini. Tentu saja, aku berharap kalimat-kalimat baik itulah yang menggeremang dalam saat-saat terakhirku. Apa yang akan kulakukan agar begitu? Ini sudah setengah dua belas. Insya Allah sebentar lagi aku akan ke mesjid. Insya Allah, inilah yang akan kulakukan agar begitu.

Padahal sekarang Pancasila sedang berulang tahun. Oh, bahkan urusan ini sekarang sudah membuatku sakit, bahkan jangan-jangan lebih sakit daripada mencari uang. Tidak, ini rasanya seperti mencari uang dengan cara melakukan sesuatu yang tidak disukai. Padahal kataku aku suka Pancasila. Tidak. Aku suka uang. Tidak juga, aku sukanya Cantik. Cuma Cantik yang kupunya. Aku tidak punya siapa-siapa yang lainnya. Hanya Cantik tempatku mencari kenyamanan dari penatnya dunia. Tidak apalah mencari uang karena Cantik selalu punya ide mau dibelanjakan apa uang itu.

Namun Pancasila sedang berulang tahun. Hahaha... couldn’t care less. Pancasila punya siapapun atau tidak siapapun tidak ada bedanya untukku. Setidaknya begitulah perasaanku sekarang. Terlebih, Minggu Pahing 7 Juni 2015 bertepatan dengan 19 Sya’ban atau Ruwah 1436 Hijriyah atau 1948 Ҫaka, yang artinya... aku sudah 40 tahun menurut perhitungan bulan! Ya Allah, ini adalah hari-hari terakhirku sebelum berumur 40 tahun menurut perhitungan bulan! Apa yang akan kulakukan untuk mempersiapkannya? Apa yang harus kulakukan? [sok panic mode]
-----------------
Alhamdulillah, aku baru pulang dari Masjid Ukhuwah Islamiyah. Banu Muhammad yang sedang memberikan kultum tadi, tapi kutinggal. [kenapa aku tidak mau mendengarkannya?] Ia bercerita tentang penaklukan Konstantinopel. Ini aku tidak bisa tak peduli. Ini aku sangat peduli. Tidak Ken Arok, tidak Kertanegara, tidak Raden Wijaya, tidak Tribuwana, tidak Hayam Wuruk apalagi Gajah Mada dapat menjadi wasilah. Hanya Rasulullah Muhammad SAW saja yang bisa. Aku percaya pada hidup sesudah mati, yang lebih baik lagi kekal, daripada hidup di dunia ini.

Uah, seandainya engkau berada dalam pelukanku lagi, di tengah hujan deras begini, ditingkahi suara guruh di kejauhan... Itu semua memang keindahan dan kesenangan hidup di dunia. Untuk sementara waktu. Itu saja diulang-ulang dalam al-Quranul Karim. Aku memang belum ke mana-mana di bumi Allah ini, baru sedikit bagian kerak bumi yang kering yang pernah kuinjak. Memalukan pula untuk diceritakan. Tidak seperti Banu yang baru saja pulang dari Turki. Aku tidak pernah berani membayangkan jadi guru besar, meski kalau jadi senang juga.

Sunday, May 31, 2015

Tentang Honda Kocak, Kepada Togar Tanjung


Kepada Yth. Togar Tanjung di Tempat... Istirahaaattt... Grak!

Sudah lama aku tidak menulis surat. Maksudku, surat yang begini. Beberapa bulan yang lalu, sekitar lima bulanan, aku masih menulis surat. Surat-surat malesin itu, yang pakai nomor. Aku tidak mau menulis surat begitu. Aku mau menulis surat begini. Ini seperti surat yang ditulis di atas kertas khusus. Kertas surat. Biasanya tipis, tapi kalau untukmu tidak perlu yang harum 'lah. Sudah gila apa?! Nah, itu dia, karena surat gila seperti ini hanya mungkin kutujukan padamu. Masa kepada Dekan FHUI Prof. Topo Santoso, SH., MH., Ph.D? Sudah gila apa?!

Baiklah langsung tudepoin aja. Aku tidak setuju jika kau mengatakan Honda Kocak sebagai idola barumu. [Cak, maaf namamu terpaksa kuanagram. Aku takut sampeyan masih bisa ge-er kalau kutulis namamu seperti adanya] Aku tidak setuju jika kita sesama kawan seperjuangan saling mengidolakan. Lagipula apa itu idola? Berhala? Tidak! Kita manusia bertuhan. Kita mahluk Allah. Hanya Allah yang patut dimintai perlindungan, disembah, dipuja dan dipuji, karena Ia Maha Baik. Sedangkan kita, kau, aku dan Honda Kocak, adalah kawan seperjuangan.

Anindya Kusuma Putri Indonesia 2015
Apa yang kita perjuangkan? Kita berjuang untuk terlihat waras, setidaknya di depan umum. [Oh, berarti Lisa termasuk kameradwati, dong...] Meski bolehlah kita, kau dan aku, sedikit prihatin pada Honda Kocak yang kelihatannya semakin lelah berjuang, semakin tidak peduli dengan tampaknya jatidiri, semakin tidak ambil pusing dengan ketelanjangannya. Namun, tunggu... apa benarkah kita harus prihatin padanya? Setidaknya untukku, yang merasa menghargai tinggi ketelanjangan... apa benar aku prihatin? Apa harus malu, apa harus takut, jika kita sebenarnya... Yahudi?

Heh heh heh tentu saja kita bukan Yahudi benar-benar. Hanya saja, tidakkah ini mirip sekali dengan permainan yang dimainkan Yahudi dan Inkuisisi di Eropa Abad Pertengahan? Ini mirip sekali! Mari belajar di sinagog, tapi di bawah tanah. Harafiah, di bawah tanah. Di atas tanah, jadilah Katolik yang taat. Di atas tanah, ikutlah kebaktian di gereja. Di atas tanah, maki-makilah Yahudi... bangsamu sendiri... Maka sudah pada tempatnya jika, di atas tanah, kita sedikit menggeleng-gelengkan lemah kepala-kepala kita, “prihatin” atas apa yang diidap oleh Honda Kocak.

Togar Tanjung yang baik. Aku tahu, aku ini pengaruh yang sangat buruk bagimu. Kalau bagi orang Katolik taat lainnya, tidak perlu dikatakan lagi. Namun bahkan sebagai sesama Yahudi saja, aku ini pengaruh buruk. Heh heh heh mungkin tidak seburuk itu, karena sekarang saja aku merasa agak khawatir dengan perumpamaan yang kugunakan ini, takut menyinggung perasaan orang hahaha... atau, mungkin justru kau bisa menolongku. Bisakah kau menolongku agar agak lebih ingin untuk... menulis proposal?

Jika Honda Kocak, aku curiga, masih harus dianagram, Mas Toni Edi Suryanto, kurasa, tidak perlu lagi. Honda Kocak mungkin masih punya ibu, dan itu, Insya Allah, adalah alasan yang cukup kuat baginya untuk memperhebat Wahana Krida Ketahanan Revolusi. (Hada Hanrev) Mas Toni, kurasa, kalaupun masih punya, lebih intim dengan kucingnya ketimbang ibunya. Mungkin Mas Toni merasa aneh kalau harus berbagi nasi pembagian panti dengan ibunya, karena itu lebih pantas dilakukan bersama kucing.

Inilah yang dapat kusampaikan padamu, Gar. Honda Kocak, Mas Toni, bukan idola. Mereka kawan seperjuangan. Hanya saja, Honda Kocak masih berjuang, Mas Toni sudah... jadi pahlawan. Lhoh, pahlawan ‘kan buat diidolakan, Bang, begitu mungkin tukasmu. Hhh... aku juga tidak mengerti dengan main pahlawan-pahlawanan ini, sama tidak mengertinya aku mengapa Mayor Udara Sujono merasa dirinya seorang nasionalis bukan kominis. Sudahlah, Gar, tidak usahlah kita main pahlawan-pahlawanan. Mari kita sebut saja, Mas Toni sudah... hilang akal. (sic?!)

Wassalam Asmuni. Sarungnya Lelaqi

Saturday, May 30, 2015

Senang di Pulau, Bermandi Sinar Matahari


Jika aku sampai berhasil menyelesaikan, jangankan satu entri, satu alinea berikutnya saja, itu sudah di luar kebiasaan. Demis Roussos sudah susah-payah menarik urat lehernya sampai sembilan lagu, dan tidak muncul juga gairahku untuk mengetuk-ngetuk papan-kunci. Lucunya, beberapa hari bahkan minggu terakhir ini, ketika aku sudah menggelar X450C bukan gairah menulis yang kudapati, melainkan justru membaca-baca entri lama. Hehehe memang itulah gunanya Kemacangondrongan ini. Aku suka masa lalu. Aku suka nostalgia.

Suatu kesukaan yang, kurasa, seringkali atau setidaknya berkali-kali, membuat orang kurang suka. Setiap perbincangan, setiap pembicaraan, pasti kuseret ke arah situ. Jangan-jangan Fred von Savigny juga seperti itu. Bukan berarti hukum itu selalu ditentukan oleh sejarah yang pernah dilalui suatu kaum, hanya saja Fred terlalu suka sejarah seperti aku. Namun mungkin aku tidak sendirian. Nyatanya, kawan-kawan TN bahkan sampai membuat satu grup Telegram tersendiri khusus untuk mengobrol sejarah. Sayang saja, aku sudah muak dengan grup-grupan ini.


[Hey, sejauh ini sudah buyar itu batas kebiasaan beberapa hari atau minggu terakhir ini. Cukup rampak aku mengetuk-ngetuk papan-tekan menjelang tengah hari ini. Mendekati kecepatan tertinggiku, bahkan] Jika hanya diobrolkan dalam sebuah grup Telegram, aku khawatir tidak menghasilkan apa-apa. Namun demikian, bocah-bocah ini akan menjadi sekutu dekat dalam menyusun materi kaderisasi. Kelak jika sudah diketok maka dapat dimulai rekrutmen terhadap bocah-bocah ini. Tinggal lagi melihat, mereka kuat menulis, atau sekadar cepat jarinya memencet-mencet layar sentuh.

Lantas, seperti biasa, jika terlalu mengempos maka tak lama kemudian mengempis. Sejujurnya aku sedang malas, atau rasa malas itu kembali menghantui. Pekerjaan di Djeproet terbengkalai. Ah, sekaranglah waktunya aku merekam cerita Cantik tentang Seno Gumira Ajidarma. Terus terang, aku agak kagum pada bapak satu ini. Cerita bahwa dia sangat produktif, dalam sehari setidaknya menghasilkan satu tulisan, mengonfirmasi kekagumanku. Memang tidak mungkin ada orang yang pantas dikagumi jika ia tidak bekerja lebih keras dari kebanyakan orang.

Sedangkan tidak kurang dari Cantik sendiri mengatakan aku Pemalas. Bahkan Istriku sendiri, yang kusangka merupakan Belahan Jiwaku, tidak mengerti aku. Jika sudah begini, biarlah kuputuskan, memang tidak mungkin ada orang yang akan memahamiku. Biarlah kulakukan sesukaku saja, tapi terus kulakukan dan kulakukan dan kulakukan, karena tidak ada orang pantas dikagumi jika ia tidak bekerja lebih keras dari kebanyakan orang. Terlebih lagi, aku tidak butuh kekaguman, karena hanya aku yang berhak mengagumi diriku sendiri.

Di atas ini, jelas kesombongan, kepongahan. Begitulah aku terlahir. Aku hanya bisa berusaha dan berharap agar bawaan lahir ini tidak memancar sampai terpindai orang lain. Biar aku saja yang tahu dan orang-orang yang kebetulan mampir ke sini. Lagipula apa yang dapat disombongkan. Tidak ada. Beginilah mungkin cara Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang menolongku. Jika saja aku diberi satu atau beberapa hal yang dapat kusombongkan, entah berapa banyak lagi dosa dan dosa yang akan kutumpuk.

Begitulah maka pagi ini dari statusnya Pak Topo aku mengetahui bahwa Mbak Melda sudah jadi guru besar. Proficiat, Mbak. Aku tidak heran kalau Mbak Melda yang menjadi guru besar tetap FHUI berikutnya setelah Pak Dekan Topo. Lagipula, ketimbang Mbak Melda, aku lebih mirip adiknya Milson Kamil. Kami berdua sama-sama pemalas. Makanya aku sedih ketika Mas Mils tidak punya lagi dorongan untuk maju. Entah ke mana yang penting maju. Kita mana tahu, Mas.

Sunday, May 17, 2015

Bapak Indian dan Anak-Cucunya


Akankah kuhasilkan satu entri khusus mengenai topik ini? Mengenai tiga kamerad, kawan seperjuangan menempuh... apa? Apa yang ditempuh? Nasib? Takdir? Ada menyelinap sedikit rasa untuk mengabaikan saja suasana sentimentil yang sudah menjurus pada melankoli ini. Namun begitu, kuat juga mendentam perasaan untuk menghormati tiga kamerad ini, karena bersamaku memang cuma ada kami berempat. Berempat menanggung apa? Nasib? Takdir? Bisa keduanya, yang mana saja tidak menjadi masalah. Nasib tidak terdengar lebih pesimis. Takdir tidak terdengar lebih heroik.



Eyang Padmodidjojo pernah melaksanakan tapa pendem empat puluh hari empat puluh malam. Itu menunjukkan tekad yang kuat. Demikian juga pohon jambu sudah banyak berbuah, meski tadi pagi masih banyak tawon menghisap madu dari kembang-kembangnya. Akan tetapi yang lebih penting dari itu semua sebenarnya adalah sesering mungkin. Sekerap mungkin. Insya Allah. Apapun itu tidak akan lebih penting dari yang satu ini. Kasih sayang yang diungkapkan, dinyatakan. Meski tentu saja harus seiring sejalan, karena hasil perjuangan juga harus bisa dibawa pulang.

Lalu, Ulang Tahun Kolinlamil. Sungguh, ini lebih lama lagi tidak pernah bertukar kata. Bisa berbulan-bulan bahkan lebih. Benarkah aku pernah benar-benar membubungkan doa, ataukah cukup doa sekadar grenjetnya hati? Bahkan sebelum aku menulis entri ini, aku diantarkan pada entri lain yang temanya tepat seperti apa yang sedang kugarap sekarang ini. Apakah itu doa yang terucap, atau sekadar bergerinjulnya hati, itu semua ada. Lebih dari apapun, apa yang telah kita lalui bersama cukuplah menjadi ikatan yang tidak akan putus selamanya.

Lalu, Parker Crane naik Eskalator. Aku melihat hidupmu berat. Aku melihat hidupmu mungkin jauh lebih berat daripada yang pernah kualami. Aku merasa hidupmu pasti lebih berat dariku. Kata-kata lembut, hanya itu yang dapat kuberikan. Aku pun tidak berdaya. Sudah banyak kata kuhamburkan semata untuk membuat hidup lebih baik, namun semua itu tinggal kata-kata yang terhambur. Apakah aku pernah benar-benar berdoa untukmu, atau cukup keprihatinanku menjadi perisai dan jubahmu? Perisai yang meneduhi di kala terik, jubah yang menyelimuti di kala dingin?

Lalu aku sendiri. Menolong diriku saja aku tidak bisa. Apa yang dapat kulakukan untuk kalian? Memang bukan aku yang dapat, mampu melakukan apa-apa untuk kalian. Memang doa itulah yang harus kububungkan, entah sambil menengadahkan tangan, entah sekadar keprihatinan di hati. Ya Allah, hamba mohon jagalah mereka bertiga selalu dalam lindungan dan pertolonganMu. Mereka bertiga adalah kawan-kawan seperjuangan hamba satu nasib satu takdir. Ampuni hamba yang bermulut besar ini, Ya Allah, Engkau pasti mafhum akan keprihatinan hamba pada mereka.

Akhirnya, kami berempat tidak ada istimewanya dari sekitar tujuh milyar anak Adam di muka bumi ini, laki-laki dan perempuan. Hamba memang banyak mulut mengenai nasib dan takdir, tapi mereka adalah tiga laki-laki yang hamba kasihi, istimewa bagi hamba. Ampuni hamba karena mengistimewakan mereka dari lainnya, Ya Allah. Mungkin karena kami masih hidup, Ya Allah, sedangkan dunia ini, Ya Allah, betapa mengerikannya jika bukan karena Kasih-sayangMu. Mudahkanlah kami bertiga untuk selalu mengingatMu, bersyukur padaMu, memperbaiki mutu penghambaan padaMu.

Akhirnya, jadi juga entri mengenai topik yang memang sangat pantas ditulis ini, meski memang terasa sentimentil dan melankolis. Memang ini sangat sentimentil dan sangat melankolis. Memang ini adalah mengenai hamba, yang lemah dan lemah saja sifatnya, bahkan sejatinya tidak ada. Akan halnya mereka ada bagiku, itu semata karena nasib dan takdir. Nasib dan takdir ini jualah, ini sajalah yang mengikat kami berempat. Entah juga mengapa harus berempat, namun begitu itulah rasaku.

Saturday, May 16, 2015

Takkan Mungkin 'Ku Melupakanmu, Manis...


Kali ini aku menulis entri tanpa ditemani melodi apapun, karena di kejauhan sudah terdengar suara tilawah. Memang jika dirasa-rasa, banyak kemiripan antara Jeruk Purut dengan Radio Dalam. Insya Allah setelah libur nanti aku dapat menghabiskan waktu lebih banyak di sana. Tadi sebelum hujan ada suasana nyaman yang sudah lama tidak kurasakan, dan itu dipicu oleh bunyi-bunyian yang dibuat ayam katai. Aku tidak tahu apa-apa mengenai perilaku ayam. Suara-suara yang dibuatnya tadi tidak bising, justru nyaman.


Aku tadi membatin, dengan suara-suara ini yang dibuat ayam katai, ditambah suara tilawah di kejauhan... sempurna! Sayangnya sekarang hujan, jadi suara ayam katai tidak terdengar lagi. Sekarang diganti oleh gericik hujan dan desau angin, tetap dengan suara tilawah di kejauhan. Apakah setelah ini akan dilanjutkan dengan ta’lim ibu-ibu? Uah, kenangan yang sungguh manis, semanis hidup di masa kanak-kanak ketika belum menanggung beban dosa. Hidup ini akhirnya hanya berganti-berganti antara nyaman dan agak nyaman. Selebihnya... aku tidak tahu apa-apa.

Ya, siang ini aku memang sedang di Jalan Radio, di kamar yang penuh kenangan ini. Kamar ketika aku bermimpi tentang seekor kura-kura raksasa mengapung di langit malam. Di atas tempurungnya ada tiang tinggi sekali, sedangkan di puncaknya ada bintang. Bintang itu begitu memukau sampai-sampai aku ingin mendapatkannya. Namun ternyata aku tidak sendirian. Banyak juga yang punya ide yang sama. Akhirnya kami berlomba, dihadang berbagai kesulitan pula Badai pasir dan semacamnya, seingatku. Setelah susah-payah memanjat tiang, akhirnya aku berhasil mendapatkan bintang itu!

Akan tetapi, setelah mendapatkan bintang, sekonyong-konyong kutemui diriku sendirian di tengah-tengah padang pasir yang sangat luas. Sejauh mata memandang hanya pasir bertemu dengan langit dini hari yang terang kebiruan. Inilah mungkin satu-satunya mimpi yang kuingat sampai ke rinciannya, dan ini terjadi ketika aku masih TK atau kelas-kelas awal SD. Setelah itu aku terbangun. Terdengarlah Rabighfirli warhamni watub’alaya diulang-ulang, yaitu senandung al-Mukhlisin jika sedang menunggu masuk waktu Shubuh. Apa arti dari mimpi seperti ini?

Kini tilawahnya sudah berhenti, digantikan oleh suara yang aku dengar sudah sejak lama sekali, dari tiga puluh tahun yang lalu bahkan lebih. Suara siapakah ini? Ustadz H. Abdul Qodir? Entahlah. Lucunya lagi, aku merasa agak lapar, seperti sudah ingin menyantap cisburger yang memang dibelikan untukku oleh adik-adikku. Makan sedikit-sedikit. Cuma itu yang aku tahu untuk mencegah hilangnya rasa nyaman yang kurasakan kini. Melodi apa yang cocok untuk suasana dan suasana hati seperti ini? Penelope-nya Paul Mauriat mungkin.

Ya, menarik sekali. Aku merasa lapar. Ini adalah sebuah pertanda bagus. Aku selalu takut kalau aku tidak ingin makan. Kemarin kumat sampai sebegitunya, jika bukan karena @#!? mungkin juga karena anak-anak yang ribut saja ketika sedang khutbah Jumat. Ya Allah, hanya kepadamu hamba dapat berlindung dari rasa tidak nyaman seperti kemarin itu. Beranikah hamba berjanji? Salahkah hamba jika tidak berjanji, seperti yang pernah hamba buat pada 2002 itu? Ah, tetap saja, diikrarkan maupun tidak, Allah lebih tahu isi hatiku.

Tinggal lagi aku sekarang, apakah aku hamba nista tak tahu malu, atau hamba yang tahu berterima kasih pada Tuannya yang Maha Baik Hati. Apa susahnya sih? Setidaknya jangan banyak alasan. Mustahil orang mengaku beriman lalu tidak dicoba. Itu sudah pasti. Sedangkan aku baca Quran setiap hari saja tidak, mau tidak dicoba. Lhoh, justru orang yang sudah begitu mungkin cobaannya lebih berat lagi daripadaku. Apapun itu, Ya Allah, hamba mohon, jadikanlah hamba selalu mengingatMu, tahu berterima kasih padaMu, berusaha menjadi hamba yang lebih baik lagi. Aamiin.

Friday, May 15, 2015

Sudah Tentu Ini Teripang, Dian Sastro!


Malam adalah waktu beristirahat, sedangkan terang adalah waktu bergiat. Namun malam begitu tenang, begitu syahdu, begitu mengilhami. Malam begitu menggoda untuk menulis entri. Tadi pagi aku banyak tidur, karena memang libur. Padahal sebentar lagi pagi, bahkan sekarang ini sudah dini hari. Sudah pada tempatnya jika aku mengucap syukur atas rasa badanku kini, terutama jika dibandingkan kemarin pagi. Lagian, sudah tahu sedang kumat, koq ya makan santan kental begitu. Untung saja tidak pakai telur pedas.
 
Ini gambar sepiring taiks. Ada dua potong terclepret
Bercerita tentang hariku, kurang menarik. Perasaanku, datar-datar saja. Rencana-rencanaku, belum punya. Hanya saja, semakin banyak orang membaca-baca entri-entri di sini, entah apa manfaatnya bagi mereka. Aku sendiri baru membaca-baca entri-entri lama. Bahkan, ketika aku shalat Isya’ yang sudah lewat tengah malam tadi, yang terpikir olehku adalah menulis entri. Ya, badan yang Alhamdulillah terasa nyaman dan sunyinya malam adalah paduan yang sempurna untuk terbitnya rasa seperti menulis, meski itu entri. Membaca-baca entri itu saja sudah menghibur, apalagi menulisnya.

Dari cenderamata yang satu ke cenderamata yang lainnya. Amboi, sedih sekali hidup seperti itu. Syukurlah aku hanya harus mendengarkannya, mungkin sedikit berkhayal tentangnya, namun tidak benar-benar menjalaninya. Hidupku sendiri... tidak jauh berbeda dari Khodori Eko Purwanto mungkin, si Eliot Ness itu. Anjrit mana mirip pun tampangnya, atau gara-gara potongan rambutnya? Jadi, pagi ini, atau kapan, motor Eliot Ness kempes bannya gara-gara tertusuk paku. Alhamdulillah, dengan adanya cairan pengisi ban tubeless, setidaknya Vario Sty tidak akan langsung kempes kalau tertusuk paku.

Nah, mungkin di sinilah cocok kumasukkan apa yang terngiang-ngiang sepanjang hari ini dalam benakku. Meski begitu, aku merasa tidak pantas menuliskan nama-nama mereka di sini. Tidak di entri ini, setidaknya. Benarkah Eliot Ness dan kawan-kawannya telah sedia menyerahkan jiwa raganya untuk Cita-cita Perjuangan Bangsa? Mungkinkah melakukannya sedangkan masih ingin hidup, masih ingin kaya, masih ingin Raisa? Oh, sedangkan kebisaanku satu-satunya kini pun menghalangiku. Aku tidak bisa lagi berbicara terlalu berapi-api.

...atau, jangan sepesimis itu? Sore ini, 'kan aku membeli jelly teripang? Mana tahu, atas seizin-Nya, jika memang satu-satunya kebisaanku itu memang penting untuk Bangsa dan Negara ini, akan dikembalikan lagi padaku? Jika aku boleh memilih, ya, seandainya saja tersedia padaku pilihan-pilihan, sejujurnya aku lebih suka diam. Akan tetapi, bagaimana caranya mengajar Koperasi dengan diam? Bagaimana caranya menanamkan benih-benih revolusioner jika tidak memanggang diri sendiri dengan bara apinya? Sampai panas terasa itu diafragma, sampai terbatuk-batuk, sampai tidak bisa bicara?

Hanya Allah yang tahu bagaimana caranya. Mengajar koperasi dengan membiarkan mahasiswa lebih aktif, sedangkan yang diperlukan adalah cuci otak dari segala tipu daya kemodalan keduniaan? Hah, masih ini juga temanya, karena memang ART belum dibuat, dan memang beginilah seharusnya suasana kebatinan dari ART itu. Jika tidak, untuk apa? Meski belum juga tega aku membayangkan diri sendiri memikirkan citedness dan hanya itu. Citedness, yang jelas, bagiku, bukan excitedness, makanya yang benar adalah excitement! Raisa? Dian Sastro? Hanya Ajo yang tahu.

Begitu banyak orang tahu mengenai pendidikan dan cara-cara mendidik. Mungkin lebih banyak lagi yang merasa tahu. Aku tahu apa? Aku hanya tahu perasaanku sendiri. Sering sekali kutemui diriku sedang sangat ingin bernyanyi untuk khalayak, justru ketika aku akan mengajar. Itu adalah suatu suasana hati yang bagus, sesuai, meski tidak tepat. Menghadapi mata-mata itu, atau wajah-wajah bosan, mengantuk, gelisah... mungkin inilah pembenaran mengapa harus lebih berpusat pada mahasiswa. Jika pun sekadar untuk mendapatkan uangnya, maka layaklah dicoba.

Wednesday, May 06, 2015

Air Mata di Bantalku, Sakit di Hatiku


Hari ini, atau sudah beberapa hari terakhir ini, mengapa aku meragukan paham kebangsaan? Mengapa aku tidak berhasil menemukan, setidaknya pada detik ini, pembenaran mengapa perlawanan terhadap kemodalan harus dilakukan dari satu bangsa ke bangsa lainnya? Mengapa, kalau toh yang dilawan adalah kemodalan juga, harus dilakukan sendiri-sendiri oleh satu bangsa ke bangsa lainnya? Sebentar... baru saja aku teringat, sudah beberapa kali kukatakan pada banyak orang, bukan aku menentang kemodalan. Kemodalan yang seperti apa dulu...


Dan ternyata... aku tidak tahu apa-apa tentang kediktatoran proletariat. Masa aku baru paham malam ini bahwa kediktatoran proletariat, setidaknya secara teoritis, tidak dimaksudkan untuk kekal selamanya. Kediktatoran proletariat diperlukan untuk mengikis habis semua jejak kemodalan, dari gagasannya itu sendiri, sikap mental yang sudah terlanjur tertanam dalam benak orang, sampai berbagai pelembagaannya. Jika itu semua sudah lenyap dan terbentuklah masyarakat komunis, maka kediktatoran proletariat tidak diperlukan lagi. Silakan. Saya pasrah rela lega lila ditertawakan. Mengaku revolusioner tapi begitu saja baru paham sekarang.

Dan memang di situlah kekuranganku selama ini. Haruslah kuakui sejujurnya bahwa aku tidak pernah benar-benar membaca buah pena Tan Malaka yang manapun sampai baru beberapa hari ini saja. Membaca... sungguh geram aku pada kampret-kampret yang pengen segera aksi ini. Sebenarnya pengen aksi tidak mengapa juga, asalkan jangan bilang mengawang-awang-lah, omdo-lah, dan sebagainya itu. Kampret burjuis memang kalian semua! Aku bertekad membuat kalian berdisiplin ideologi dan berdisplin strategi. Baru dan hanya baru setelahnya-lah kalian boleh beraksi dan itupun harus disiplin!

Pikiran ini sebenarnya berbahaya, tapi biarlah kuabadikan di sini. Mana tahu besok-besok akan kukoreksi. Ya, mengejar gelar doktor itu memang untuk diriku sendiri. Untuk Bapak dan Ibu paling jauh. Selebihnya tidak ada gunanya. Guru besar? Meneliti? Menulis? Semua tidak ada gunanya untuk rakjat! Ya Allah, mengapa aku jadi begini? Tidakkah ini akan membuatku terseret semakin jauh darinya? Aku dosen tetap Universitas Indonesia. Aku harus doktor. Emang iya? Entahlah. Entah, aku benar-benar tidak mengerti.

Berurusan dengan kampret-kampret burjuis ini memang kurang sehat, kecuali kuimbangi benar-benar dengan upaya-upaya menjaga kesehatan. Mereka selalu menantangku, dan sudah lama aku tidak begini. Tidak mundur dari tantangan, ditambah dengan mulut besarku. Tidak banyak pilihanku kecuali berusaha membuktikan kata-kataku sendiri yang sudah kuumbar. Mau sampai mana ini semua? Sampai mana pun tidak mengapa. Menjaga kesehatan lahir batin. Cuma itu yang dapat kulakukan, sudah terlanjur sesumbar. Semoga Allah memaafkanku, mengampuniku, menolongku.

Ini gambar Tonto dan temannya di bawah ini sungguh ngeselin mukenye, meski tidak se-ngeselin kelakuan kampret burjuis yang maunya cepat-cepat saja. Lhah masih mau kaya? Memang seberapa banyak oom-oom gila yang bisa kukumpulkan? Harus cukup banyak-lah. Oom Steve Manahampy sudah menghitungnya, entah mengapa suka sekali dia menghitung. Kebutuhannya banyak! Ini semua sudah kepalang tanggung. Sudah berapa tahun kegilaan ini berlangsung? Sudah hampir dua tahun! Tidak ada lagi jalan menghindar!

Berbicara mengenai hidup yang sia-sia, pasti lebih banyak lagi hidup yang lebih sia-sia dari hidupku. Aku pernah membaca entah di mana lupa, seseorang yang tidak punya apa-apa kecuali angan-angan mengenai revolusi dan pikiran-pikirannya yang dia kira revolusioner, sampai dia dieksekusi oleh tentara reaksioner. Jangan-jangan pikiran-pikiran seperti itulah yang mencari-cari jasad baru, dan itu kebetulan jasadku. Masih banyak lagi sebenarnya jangan-jangan yang dapat kutambahkan pada daftar ini, tapi lebih baik tidak usah. Ini takdir!

Dosamu Banyak!