Friday, July 14, 2023

Di Tepi Ij 'Ku Sesapi Oh Sedap Gurihnya Nafasmu


Mengapa tiba-tiba aku sok menjadi cendekiawan hukum, aku 'kan 'dut badut-badut jaman sekarang 'mong omong-omong sembarang. Menyenangi, menguliti yang aku suka hanya kerat-kerat ayam goreng tak bertulang. Menguliti binatang, apalagi manusia, aku tidak suka. Terlebih mengiris sedikit-sedikit di sana-sini seonggok daging manusia hidup yang terikat pada salib bersilang. Kabarnya, jika ujung-ujung syaraf bersentuhan dengan udara karena adanya luka, maka itulah yang diterima dan dipahami oleh otak sebagai perih atau nyeri; ketersengatan merayapi.
Begini lebih baik, mengingatkanku pada dermaga kecil dengan restoran pada ujungnya. Sayang aku sering mengunjunginya ketika masih pandemi. Mungkin ketika pandemi sudah reda seperti sekarang, terlebih di musim panas ini, akan aku lihat betapa pasangan-pasangan dan keluarga-keluarga bersenda-canda sambil bersantap, setelah menyandarkan dan menambatkan perahu-perahu mereka. Nyatanya, di Belanda sana, bahkan di puncak musim panas, matahari sudah berkurang gagahnya sekitar jam tujuh tiga puluh. Setelah itu sungguh nyaman belaka, segar udara dihirup.

Tiada kesakitan 'ku rasa ketika cinta melanda. 'Ku hentikan tepat di sini karena aku tidak tahu bagaimana melanjutkan sesuatu yang bahkan tidak mungkin dimulai. Sekadar dibayangkan pun tidak. Bagaikan lelaki Batak yang menyukai remaja-remaja pria berwajah manis, sampai disiapkan air hangat untuk mandi sepulang dari mana-mana. Apalah bedanya dengan seorang lelaki lembut berkumis tipis, berjualan mie ayam sedangkan ramahnya agak terlalu berlebihan. Kasihan orang-orang sakit ini. Sebaiknya penderitaan mereka, agar tidak menjadi-jadi, segera diakhiri.

Lantas bagaimana dengan lelaki gemuk heteroseksual yang bergoyang-goyang di tepian ombak laut seraya memandang nyalang goyang pinggul gadis remaja bau kencur. Aku yakin ia, meski heteroseksual, tidak tahu main bass. Jika saja ia tahu, mungkin ia akan lebih suka memejamkan mata, menggigit bibir sendiri seraya membiarkan dentam-dentam senar bassnya merasuk sukma. Orang begini meski bom atom meledak dua kali di sekitarnya akan terus kerasukan, meski sudah pindah alam. Sedangkan yang tidak tahu main bass itu entahlah, semoga Tuhannya menolongnya.

Aku lupa di mana tepatnya toko penjual pernak-pernik tentara itu. Apa saja pernah 'ku beli di situ, sangkur, belati, rompi, entah-entah. Aku tidak pernah menyesali perhatianku pada hal-hal yang berbau keprajuritan, sama seperti aku tidak menyesali kenyataan hidup seperti banci berkelamin tunggal. Aku hanya ingat, sangkur yang 'ku beli ternyata dibuat dari material yang buruk maka mudah patah. Belati korps pasukan intelijen taktis bertahan lebih lama, sampai berkarat-karat dipakai bercocok-tanam Ibu. Aku tidak pernah suka bercerita mengenai tentara. 

Maka 'ku susuri jalan-jalan malam di manapun: Jakarta, Depok, Lamongan, Amsterdam. 'Ku bawa sepucuk revolver dan sebilah belati denganku. Pernah 'ku letuskan, pernah 'ku tikamkan, sungguh aku tidak ingat. Setelah tua begini aku lebih suka disebut lemah mental daripada terganggu jiwa. Tidak pernah lagi dalam hidupku 'ku bawa-bawa senjata dalam bentuk apapun. Bahkan jika aku terlihat seperti menyerang apapun, aku tidak bersenjata. Bahkan pistol pribadi berbalut kulit berambut dalam celanaku pun tidak pernah dikeluarkan dari sarungnya yang kain tetoron.

Tidak seperti Mentor Yusuf yang pasti sudah pernah menggunakan secara legal berbagai-bagai senjata api maupun tajam dalam hidupnya. Namun ia pasti tidak pernah meledakkan atau menikamkan senjatanya dengan penuh kemarahan, atau pernah. Masa ia tidak pernah dikirim ke Timor Timur, 'ku rasa pernah. Maka itulah Leo Kristi bernyanyi mengenainya membela orang-orang berbahasa Tetun yang, katanya, darahnya membasahi sabana. 'Ku rasa aku akan membela Leo Kristi, orang Aceh, Ambon, Poso dan menyalahkan Oom Yasin serta siapapun itu sejenisnya. 

Thursday, July 13, 2023

Bob Ramli Ikut Bernyanyi Don Wori Uye Bihepi


Bagaimana kamisku biasanya tak perlu ditanya, namun jangan sampai malah membocorkan betapa rasa badan dan jiwaku; karena ini retroaksi. Lebih baik aku ceritakan padamu mengenai gadis cilik bertelinga caplang berkumis tipis. Kalau kumisku bukan tipis, melainkan jarang. Bilakah digunakan bukan-melainkan, bila tidak-tetapi, rasanya seperti kuda mati tertimpa mempelam. Bapak sampai, seperti biasa, tidak bisa menahan diri untuk berkomentar seberapa besar mangganya. Mangga kwini biasanya besar, Pak, dan mungkin tengkorak kudanya terbuat dari kardus. Matilah.
Lagipula, daripada berbicara mengenai betapa Takwa tidak suka aku terus menyalah-nyalahkan Suto Kebo, lebih baik aku mengomentari gaya bernyanyi Ryan yang masif. Entah dia tahu atau tidak ada varietas anjing yang disebut Mastiff. Aku juga lupa apa istimewanya varietas ini dalam keluarga anjing. Hanya aku ingat, betapa menyenangkannya terkadang menemui keluarga anjing di antara koleksi pustaka dasar yang nyaris lengkap. Sampai hari ini aku tidak habis pikir mengapa anjing ada keluarganya sementara kucing tidak; meski kucing sudah menjadi hama.

Uah, ternyata selama ini aku salah. Aku kira mau dibawa ke mana itu lagunya masif, ternyata armada. Sementara itu, menghapus jejakmu selalu mengingatkanku pada suasana ruang bercengkerama rumah Yado tersayang di waktu malam. Lampu neon tabung seratus watt menerangi, duduk di kursi plastik bintang singa yang nyaman berleyeh-leyeh, menonton tivi bisa jadi liga Inggris ketika Liverpool sedang berlaga. Semua itu dari waktu-waktu yang masih jauh lebih muda. Entah mengapa ini juga mengingatkanku pada puding roti, bisa dari Citos ataupun Sency.

Mungkin ingatan-ingatan akan waktu-waktu yang menyenangkan dalam hidup akan membuat seseorang bertahan hidup. Selama ini aku bertahan hidup hanya untuk menghadirkan kembali waktu-waktu seperti itu, terutama, seperti judul blog ini, dari masa-masa di Kemayoran. Entah mengapa, meski masa-masa di Radio Dalam, Cimone, Radio Dalam lagi, Magelang, Surabaya, Radio Dalam lagi, sekitar UI, Maastricht, sekitar UI lagi, tepi Cikumpa, Amsterdam, tepi Cikumpa lagi tak kalah menyenangkan, Kemayoran selalu mendapat tempat istimewa di hatiku.

Tempat-tempat yang aku sebut di sekitar UI di atas sebenarnya banyak sekali dan seharusnya dirinci. Namun penyebutan dan perincian itu memerlukan suasana hati yang sangat khusus untuk masing-masingnya, karena tiap-tiap tempat itu menimbulkan nuansa kesenangan yang berbeda. Ambil contoh, Kost Annisa misalnya. Landasan mobil yang berdebu di musim kemarau, becek di musim penghujan memberikan sensasi-sensasi yang berbeda-beda sepanjang tahunnya. Satu dari lainnya tidak kalah menyenangkan, meski turunan Cemong acap berak tahi di situ.

Bahkan malam-malam di lorong-lorong dan selasar-selasar Fakultas Hukum Universitas Indonesia pun memberi sensasi-sensasi yang berbeda-beda dalam tiap masanya. Terkadang kini melewati pantry dekanat seakan tiada yang penting darinya, padahal entah berapa malam aku habiskan ber-party line di situ acap sampai subuh menjelang. Biasanya itu aku lakukan setelah menyantap habis piring terbang yang tidak dimakan para pimpinan fakultas atau dosen-dosen lainnya. Berbincang dengan lawan bicara bersuara lembut seperti Mila Bonita sambil berkepul-kepul.

Aku masih sangat muda ketika itu, mungkin 22 tahun, ketika aku sakit flu lumayan berat. Berjalan dari Gang Mesjid, aku menuju ke kampus karena memang tidak ada tempat lain yang dapat dituju. Dengan badan demam menggigil begitu, tentu aku langsung ke ruang senat yang ternyata terkunci. Tidak tahan lagi, aku ke Mushala al-Fath dan mencoba tidur di karpetnya, namun tidak bisa nyenyak. Aku lupa bagaimana caranya, apakah aku berhasil masuk ruang senat atau menghabiskan malam di al-Fath. Nyatanya, aku sembuh dari sakit itu dan masih hidup sampai kini.

Wednesday, July 12, 2023

Kemacangondrongan. Antara KSHM dan LPHM


Menjelang tengah malam ini, aku tidak ingin berbicara mengenai taman firdaus atau kunci pembukanya. Aku hanya kangen pada goblokku kini. Begitulah aku menulis goblok dengan "k" bukan "g" agar dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Aku bahkan sampai harus memeriksa kamus bahasa Inggris dan Indonesia sekaligus untuk memastikan nama pekerjaanku, yaitu, teoretisi hukum. Uah, terdengar sedap jika ditulis begitu, terlebih jika ditingkahi oleh seluruh cintaku dalam irama latin lautan teduh. Ternyata tingkah hanya boleh satu di sini.
Ke mana kini 'ku 'kan mengembara, jauh atau dekat tidak menjadi masalah. Aku hanya harus merentang masa dan merampakkan ketak-ketik jari-jemari. Terlebih kenyataan bahwa aku tidak pernah bisa melupakan Simon van der Valk sampai detik ini, seakan mengaminkan doa-doa Ibuku mengenai Amsterdam. Sedihnya, aku ini tiada lebih dari sekadar pembual. Naga yang ekstrim, suka membesar-besarkan persoalan. Itulah juga mungkin penyebab ketertarikanku pada teori hukum. Kebanyakan gaya, meski memang benar aku didoakan Kakekku menjadi seorang pemikir.

Kesenduan ini entah mengapa membawaku ke Pelabuhan Mutiara. Entah apa yang kuminum-minum pada saat itu, bourbon, sherry, atau whisky. Namun itu sebenarnya Jalan Yado 2 sisi selatan. Ya, karena aslinya jalan itu dibelah oleh Blok E berpunggung-punggungan, tetapi memang nomornya tidak berurutan. Jika dimulai dari sudut tenggara, itulah E1. Sudut timur lautnya E2. Namun di sebelah barat E1, E3 dan E4 berurut-urutan. Selanjutnya, E6, 8, dan 10 di sisi selatan, sedangkan E5, 7, dan 9 di sebaliknya. Mungkin karena membingungkan, sisi utara mempertahankan nama Yado 2, sedangkan sisi selatan diberi nama baru menjadi Yado 5.

Lantas sebelah kanan K28 terdapat K27 rumah Oom Munthe, K26 rumah Oom Irsan, K25 rumah Pak Mustafa. Ke sebelah kiri rumah Pak Effendi, Pak Parmo, Pak Barjo, Pak Tono... sampai di sini aku tidak yakin urutannya, pokoknya ada Pak Ismail, Pak Sujud, Pak Kartono, dan Oom.. aduh lupa. Bapaknya Dito dan Todi pokoknya. Nomornya aku juga tidak yakin, karena seingatku rumah Oom Otje dan Tante Nelly nomor K33. Inilah Kompleks Angkasa Pura Kemayoran Gempol di Apron Timur, ilham utama dari goblok ini, tempat nan amat indah permai menyamankan hati. 

Ada pula Cimone Gama 1 nomor 26. Semua ini jika 'ku tuliskan menyakitkan dada, membuat sesak. Jelasnya, aku masih harus ada di dunia ini. Aku mungkin masih harus memastikan hukum adat menjadi entah apa-apa. Mungkin aku masih harus menyelamatkan peninggalan Pak Benny dan Pak Teddy. Mungkin aku masih harus terus mencari cara untuk ambil bagian dalam upaya mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Si Tolol ini baru saja tahu lho bedanya sosialisme komunis dan sosial demokrat. Memang tertarik padanya saja sudah tolol.

Oom Novi meninggal sekira setahun sebelum Bapak. Oom Novi dan Oom Irsan itulah teman-teman seangkatan Bapak di Curug dahulu. Nama yang selalu 'ku dengar sedari kecil, yang setiap kali mendengarnya selalu menerbitkan rasa bangga, seperti selalu bangganya aku pada Bapak. Anakku yang manakah yang bangga padaku. Pada titik ini aku terlempar ke Lantai 4 Gedung D FHUI, ketika perasaan gila melanda seorang perempuan muda seraya menidurkan anak-anaknya. Sungguh aku yang ada kecenderungan ini merasa baiknya terjun saja demi cantiknya melodi.

Inilah cinta dalam hidupku. Entah berapa lama lagi aku hidup, 'kan 'ku jalani dengan cinta ini. Segala kesakitan fisik mental kontan hilang bersama cintanya yang tidak pernah terbayangkan olehku sebelumnya. Aku hanya tahu tersedia bagiku separuh jiwaku entah di mana. Aku selalu tahu rambutnya cantik, tebal mengombak begitu, Akan halnya sekarang telah dihiasi berlembar-lembar uban justru menambah kecantikannya. Meski tidak pernah terbayang tepatnya bagaimana, inilah cinta bagiku. Di hidup yang ini, di hidup yang manapun, engkaulah cinta dalam hidupku.

Tuesday, July 11, 2023

Pesawatmu Multiperan Bertempur Segala-cuaca


Suatu percobaan nekad mengetiki dibalau hiruk-pikuk simfoni disharmonik yang menunjukkan betapa kacau suasana hatiku. Tidak perlu itu. Kenyataan bahwa Juli ini di setiap harinya terdapat entri sudah menegaskan hal itu. Apa benar hanya setiap di pojokan ini aku kembung sekembung-kembungnya, dan apakah itu lebih baik dari rindu serindu-rindunya. Lagu-lagu kampungan meski dimainkan dengan saksofon dan piano tetap saja kampungan, tidak seperti sekantung permen Hack's yang 'ku beli bersama dengan susu jahe hangat sari. Rasanya senantiasa hangat.
Aku masih ingat ketika asa itu masih ada. Aku memberi makan anakku roti lapis telur dan sayur-sayuran di meja itu. 'Ku marahi dia karena sudah berjam-jam tidak habis juga makannya. Seorang pembeli memesan nasi gemoy buatanku. Ia kelihatan lahap memakannya. Memang diakui oleh si pembeli, nasi gemoynya enak, sayang porsinya kecil dan harganya mahal. Seandainya saja dijual pada harga Rp 20 ribu dengan porsi tiga, atau setidaknya dua kali lipat, mungkin masih dipertimbangkan orang. Akan tetapi semua tinggal kenangan. Telah 'ku ecer-ecer nasi gemoy semuanya.

Sama seperti seekor lalat kuda hinggap di kursi di hadapanku, seperti itu jugalah segala keributan ini seperti menepuk-nepuk cepat kepala botakku, lantas membenturkannya ke papan tulis yang 'ku gambari khayalanku mengenai empat orang penerbang tempur. Sudah berapa papan tulis, baik yang hitam maupun putih, yang 'ku gambari. Menggambar memang pernah menjadi hobiku. 'Ku hentikan setelah 'ku merasa tidak relevan lagi. Seperti halnya Senayan City, mal sebesar itu di seberang Senayan Trade Center dan Plasa Senayan, setelah lima belasan tahun tidak relevan lagi. 

Bukan kemarin, melainkan hari ini, udara sungguh panas memanggang sampai-sampai aku tidak kuat membuka mata kecuali hanya sebentar. Selebihnya aku melingkar di atas sajadah yang 'ku jadikan alas tidur hampir sepanjang hari sepanjang petang. Sanggupkah aku menjejalkan sesuatu lagi ke dalam perutku sekadar pelipur lara, sedang menurut Awful aku sudah seperti babi. Ketika 'ku memejamkan mata barusan, terbayang olehku beberapa pilar putih. Selebihnya mulus, kecuali satu yang seperti berparut dan berwarna agak gading untuk menandainya sebagai investasi.

Tidak dapat dipungkiri, badanku memang tidak seberapa segar. Itulah sebabnya sulit diajak kreatif, terlebih mempersiapkan suatu risalah seminal. Meski seperti dalam gambaran di atas, risalah akan berakhir berdebu penuh sarang laba-laba. Tiada seorang pun 'kan peduli. Tak perlu sedu-sedan itu. Aku ini binatang malang dari kumpulannya terkenang. Ah, ingat aku sekarang. Menantunya Paman Minnow, walau kemungkinan terbesarnya bukan. Mau apa dia jauh-jauh sampai ke Yogya. Bagaimana aku bisa bangun mengancingkan celana, mengencangkan ikat pinggang.

Aku jadi ingat penjual kentang dengan berbagai rasa di Aeon Mall. Entah mengapa aku mengingatnya. Terlebih minuman jamu gaya-gayaan. Tidak ada yang perlu disedihkan ketika tidak ada yang benar-benar sayang. Anggap saja kutu busuk berbaris di lipatan kasur yang tidak pernah dijemur, yang tidak pernah benar-benar terjadi padamu. Seperti sebagian besar khayalan erotis yang tidak berdaya, seperti album stiker Panini yang tidak pernah lengkap stikernya, mau dunia bertahan hidup, Kolumbus, atau Piala Dunia 1984. Cukuplah album perangko menyamankan jiwamu.

Masa kecil atau masa manapun yang telah lampau sudah menghilang darimu. Akan halnya apapun yang tinggal dalam benakmu sekadar jelaga sisa-sisa pembakaran yang tidak sempurna. Aku jelas punya ketertarikan pada ilmu lingkungan. Nyatanya itulah jurusanku ketika mengambil program master dahulu: Pembangunan Berkelanjutan, dan tidak ada seorang pun yang boleh merenggutnya dariku. Kecintaanku pada manusia dan alam sekitarnya tidak bisa hilang begitu saja, meski terkadang karya sastra membuat rasa kagum membuncah meluap-luap; sekarangpun tidak.

Monday, July 10, 2023

Daugaard Vajpayee dari Tendangan Ho Chi Minh


Memang perlunya mengecek ensiklopedia daring hanya untuk membuat judul, yang seperti biasa tidak ada hubungannya dengan isi tulisan. Judul itu harus begini, begitu, memang siapa engkau memberitahuku bagaimana aku harus membuat judulku. Apa kau memenangkan perlombaan mirip-miripan lebih banyak dari Katon Bagaskara. Jika tulisan ini 'ku teruskan, sekadar agar ada sesuatu yang 'ku hasilkan sebelum memejamkan mata. Bahkan sekadar tulisan seperti ini, seperti naik Veolia jurusan stasiun-Malberg. Aku bahkan punya karcis langganan entah untuk berapa lama.
Bertubi-tubi yang kau berikan, sampai-sampai aku tidak berani membuat kata-kata baru yang tidak bermakna, seperti tubir diberi awalan ber- lalu diulang. Hendak pergi ke mana aku, hendak pulang ke mana. Badan paruh-bayaku sudah tentu tidak seperkasa ketika muda, meski aku tidak pernah benar-benar perkasa seperti yang 'ku khayalkan. Bahkan sekadar meneguk kopi hitam kental panas saja aku tidak berani, apalagi minuman beralkohol. Rokok jelas tolol apalagi jika cita-citanya agar kurus. Lihatlah Jack Daniels menyapa musim dingin dari etalase toko minuman keras itu.

'Ku sangka kesabaranku akan habis. Namun ternyata, setelah melihat hasilnya, hatiku terasa lega. Dadaku lapang meski aku tidak pernah tertarik pada bidadari turun dari kahyangan. Di mana pun turunnya, mau di halte atau stasiun manapun silakan saja. Aku tidak akan melirik apalagi sampai menengok. Aku tidak suka pernak-pernik hias-hiasan. Aku suka hahaha tembikar serbaguna. Sungguh, karena lampu kristal mustahil serbaguna. Tembikar jikapun pecah masih bisa digunakan untuk berbagai-bagai keperluan, bahkan sekadar menggaruk pantat gatal berbisul-bisul.

Jikapun ingin rumit, penuh dengan pernak-pernik dan berbagai hias-hiasan, maka lakukanlah pada pendengaranku. Aku tidak pernah berkeberatan dengan kecanggihan ensembel alat gesek yang berlapis-lapis mengalun-alun seperti gemericik air terjun kecil bertingkat-tingkat. Aku menyukainya sama dengan kesederhanaan kombo dua gitar, satu melodi satu ritem, satu bass dan satu set dram. Selebihnya aku suka ketelanjangan. Ah, alinea ini banyak kata-kata panjang. Aku khawatir sulit diratakan kanan-kirinya. Keindahan temaram lampu bohlam pun nyaman.

Cinta kepada Cinta, jatuh cinta hanya kepadaNya tidak akan pernah salah; bahkan selalu benar dan merupakan satu-satunya kebenaran yang menghilangkan semua keberadaan. Jika cinta sampai bersatu dengan Cinta, maka cinta tiada; yang ada hanya Cinta. Ini seperti rastafari mengatakan aku dan Aku. Ini suatu kejujuran. KehendakNyalah aku ada, maka aku harus berusaha keras untuk menjadi tiada; karena tiada aku kecuali Aku. Maka mengalirlah dengan sejuk, seperti aliran sungai di bawah taman. Mencintalah, bercinta banyak-banyak agar cintamu Cinta. 

Bahkan segala makna tak berdaya apatah lagi kata-kata. Ini seperti ketika aku membawa Brondby menjuarai Liga Champions entah berapa tahun berturut-turut. Waktu itu pasti asap berbatang-batang rokok mengepul-ngepul entah di ruang senat atau ruang tamu kontrakan ulat. Apa benar yang 'ku makan saat itu, adakah Mpok Mideh atau Sasari. Dari mana uangnya sungguh memalukan. Memang pantaslah jika aku ini semacam kotoran unggas yang bertampang paling bodoh, yang membuat malu dinosaurus ornitopoda nenek-moyangnya; maka digeprek diberi sambal.

Martabat itulah yang aku tak punya. Harga diri itulah yang sudah ludes tergadai. Terasa betul bedanya cerita yang dituturkan oleh pelaku asli, terlebih jika mereka adalah prajurit sungguh-sungguh, perwira tulen yang baik dan benar; dibandingkan dengan yang dituturkan oleh pembual sepertiku ini. Tinggal lagi diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, entah mengapa itu yang dicari. Sampai-sampai mempengaruhi gaya bertutur, sampai mengekang kreativitas. Tidak seperti kekangan seorang dominatrix menyumpal mulut, tetapi tali jelek butut pengikat leher bandot nan kurus.

Sunday, July 09, 2023

Mistis: Bang Nizwar Hampir Mati Kena Hipotermia


Baru 'ku sadari ternyata aku masih punya satu kesempatan lagi untuk mengitiki hahaha, meski di pojokan ini, entah mengapa, seperti halnya terakhir kali aku di sini, perutku kembung juga. Ah, aku tahu penyebabnya: bakso goreng! Sejuta topan badai, iguanodon bisulan, meski setelah yang aroma daun jeruk habis rasanya jadi lebih berterima, tetap saja, sudah tidak enak membuat kembung pula. Namun, tetaplah, dalam kesejukan belaian sepoi-sepoi basa cinta dewasa muda, 'ku rasakan kenyamanan yang lebih baik dibanding yang dirasa Chris di dunia bawah.  
Ini adalah gambar semacam alat musik petik, yakni, ulekeket. Coba petik kalau berani.
Akan halnya mengapa sampai ada gambar di atas ini, ada aurat diumbar-umbar yang tidak lagi sekadar menyengat atau menampar, tetapi menabrak seperti kereta malam pengangkut barang yang meledakkan tidak saja sapi-sapi tetapi juga Sersan John Monfriez beserta mobil sportnya sekalian. Ah, sedapnya Bi Iin memanjakanku dengan ketelatenan khas Jepang, serasa menenggak, tidak sekadar meneguk, tetapi menenggak sebotol porselin mungil sake yang memabukkan, menerbangkan ke awang-awang; terutama karena pelafalan "s" yang cacat.

Masa 'ku biarkan sebaki tamago sushi mubazir begitu saja, sekadar menemani gelitik pada ketiak sendiri. Sesusah apa orang-orang muda, 'ku taksir dalam usia dua puluhan awal, yang merayakan kebersamaan bersama Suhu Yo. Bagaimana pula dengan wajah diplomat beda nasib sehingga harus menjaga warung menjajakan makanan yang pura-puranya Jepang, meski entah apanya yang murah hati. Harganya tidak murah, porsinya tidak ekstra jumbo, rasanya aku tidak mau tahu. Pak Untung yang telurnya asin bersama keluarga kecilnya berlalu di depanku. 'Ku sapa.

Akan 'ku nikmati waktu-waktuku di sini, karena dunia ini indah, tinggal bagaimana menikmatinya saja. Ada yang menikmati dengan hobi-hobi jantan seperti otomotif atau otokritik. Aku lebih menikmati gelitik pada ketiakku sendiri, terlebih jika bukan jari-jemariku sendiri yang menggerayangi. Jika pun kesabaran bukan kelebihanku, mungkin kemasabodoan yang membuatku tabah menunggu kembung berlalu. Akankah aku sabar menunggu badan menghangat jika suhu inti badanku merosot. Jadi ingat menunggu feri setengah jam di Pontsteiger ketika itu.

Jika Tante Rafika berpikir ia bisa meniru teknik Tante Astrud, tidak mengapa. Memang sama-sama menyamankan dengan caranya sendiri. Bagaimana dengan seorang tante yang berkomentar gila juga. Bagaimana dengan tante penjual laksa bihun yang ada tahi lalat berambut pada dagunya. Bagaimana dengan Tante Jane yang berdansa dengan Karma dalam sepatu merah meronanya. Oh, dunia ini penuh tante-tante, aku mendesah seperti seorang dayang-dayang yang habis dihisap madunya oleh seorang kapten alien. Astaga, tidak bisa hilang bayangan durjana itu.

Kemana perginya usia muda, 'ku bertanya pada angin bau yang menyembur dari lubang sempit di antara dua pipi pantatku. Tak lama lagi ia akan menyembur, angin bau itu, 'ku harap, karena kembung akibat bakso goreng keramat ini memang lumayan busungnya, seperti Catherine Wilson bahkan Anna-Nicole Smith sekalian. Sungguh, aku tidak pernah terlalu rewel masalah bentuk, karena yang penting rasanya. Jika ternyata membusung ya itu sekadar bonus. Jika bisa dipelintir-pelintir seperti kata-kata itu seperti kelakuan pengecut. Ah kharisma cinta memang abadi.

'Ku yakin cintaku suci pada Istriku Cantik. Meski aku sering bau tahi, sebagaimana kentut dan selangkanganku, cintaku padanya 'ku yakin suci. Aku suka begitu. Aku tidak suka noda dan menodai. Aku justru suka menyeka, membersihkan noda dari permukaan mana pun. Aku tidak peduli jika mukaku berlumurah tahi manusia sekalipun, karena orang mati matanya terbuka tidak tertutup. Aku tidak peduli jika harus memeluk ranjau personil atau tank sekalipun. Cintaku suci. Aku tidak tahu apakah cintaku pada Cinta sudah patut. Aku hanya tahu mencintai Istriku Cantik.

Saturday, July 08, 2023

Biarlah Sabtu-sabtu Harus Ada Entrinya Jugapun


Langkah pertama memang harus selalu diratakan terlebih dahulu kanan kiri, seperti halnya terlebih harus diikuti oleh dahulu. Setelah dienceri memang lebih baik. Ternyata dua saset untuk satu mug hitam masih terlalu manis. Ketenangan telah digantikan oleh kenyamanan yang tidak pernah 'ku dapatkan di Amsterdam atau di mana pun selain tepian Cikumpa. Apakah sebutuh ini aku akan kenyamanan ketika di Maastricht, ketika alat-alat tubuhku masih bekerja dengan relatif lebih baik. Meski kelelahan berjalan dari kampus sampai asramanya Tesfaye, aku petualang.
Percaya tidak percaya, ini gambar taik kuciang warna-warni. Makan apa 'tuh kuciang.
Bersepeda ke pondokan Bong Il bahkan masih terasa nyaman. Aku mengenal Manja di Radar AURI, Qodir yang memperkenalkannya padaku. Semenjak itu aku selalu suka padanya, meski mengingat penggambarannya selalu membuat jengkel. 'Ku ambil lagi untukku sendiri ketenangan itu, meski sudah paruh baya begini, untuk berdua-duaan saja bersama Manja. Aku suka keindahan dan kecantikan. Aku tidak suka kengerian seperti anggota-anggota tubuh yang terlepas dari tubuhnya. Terlebih kaki yang dijahitkan pada bahu dan lengan pada pangkal paha.

Wajar saja jika aku menyukai musim semi di mana bunga-bunga bermekaran, ketika tatapan membirahikan hanya dibalas dengan kernyit mempertanyakan. Kesederhanaan yang tidak pernah 'ku temukan di mana pun. Sampai-sampai aku takut, jangan-jangan aku tidak suka kesederhanaan. Pikiranku rumit dan aku seringkali tidak sabar pada obrolan remeh-temeh. Sekali-sekali boleh 'lah. Setiap saat, pasti akan 'ku bungkam dengan ciuman penuh gairah pada mulutnya. Masih mengoceh juga, tambah aku sumpal dengan lidah, menekan lidahnya jauh ke tekak. 

Bagus 'lah aku segera dibetot dan dilemparkan jauh ke siang hari di tepi apron timur lapangan udara Kemayoran. Tentu saja aku terlalu kecil untuk sengaja menonton Album Minggu Ini, namun aku juga lupa apakah ketika itu televisi disetel. Masih lebih mungkin pemutar kaset memainkan instrumentalia cantik milik Ibuku, sedang aku bertiarap di lantai ubin yang dingin membaca-baca atau berprakarya. Aku lupa apakah Bapakku libur di hari Minggu. Tidak mungkin lagi ditanyakan pula. Uah, tiada berhenti membetotku, melemparku jauh ke asal-usul goblok ini: Asalku.  

Entah mengapa selalu terkenang jika kembali ke sana, mungkin mie ayam pertamaku. Penuh bersimbah saus pedas yang masih terlalu pedas untuk anak kelas 1 SD, 'ku makan di menara pengawas Kemayoran atau entah di mana tepatnya aku lupa. Ah, akhirnya maju akan ke depan sedikit, ketika aku kelas 5 SD, kepada kelurusan, ketipisan, kehitaman, waktu-waktu ketika aku kurang lebih setua Adjie sekarang. Album perangko warisan Mbak Tiput menjadi salah satu temanku paling setia. Entah mengapa dari semua lukisan Czobel Bela, Mimi yang paling 'ku ingat. Itu salah satunya.

Astaga, dari sini aku mengalami lompatan kuantum ke Sabtu siang berpakaian dinas lapangan hijau-hijau. Topiku mungkin bergaram. Dengan perut setambun sekarang, aku tidak bisa membayangkan betapa sabuk torsi bisa muat selingkar perut. Terlebih setelah mengikuti pendidikan dasar keprajuritan, ketika sabuk yang sama dikecil-kecilkan seramping mungkin; bahkan sampai hilang setelah wisuda prajurit. Entah pakai apa aku ketika kembali ke Akademi Angkatan Laut. Aha, ini lebih bagus. Dingin-dinginnya musim semi Sint Antoniuslaan di kamar sewaan.

Kakus di bawah tangga itu, yang mungkin pernah 'ku rusak gara-gara 'ku jongkoki, tempat di mana aku mengulang-ulang pengalaman mengikuti pergerakan Marinir Keenam dari Baldurshagi sampai Tinian di Perang Dunia Kedua. Sudah, aku tidak mau lagi dibetot dan dilempar. Aku diam saja di sini sekarang, mengitiki ketiak sendiri, merasa geli sendiri. Sabtu siang bermendung begini aku tidak ingat di tempat-tempat lain di mana aku pernah tinggal. Mungkin selama di Belanda, tetapi di Depok sini juga sering, Sabtu siang bermendung begini. Entah masih berapa lagi untukku.

Friday, July 07, 2023

Babat Babi Buta Berkabut Berbisul-bisul Begitu


Langsung saja 'ku rampakkan: yang 'ku ingat adalah aku mandi segar sekali, sebelum mengenakan seragam bergaya safari berwarna coklat-coklat itu. Namun itu sepertinya waktu yang berbeda dari ketika aku mengenakan kaus polo biru bekasnya entah siapa di Cornelius, ketika aku pura-pura mengepit kepala triceratops biru seakan-akan helm penerbang. Waktu itu aku lelaki tolol awal tiga puluhan penerima beasiswa dari Departemen Pendidikan Kerajaan Belanda. Mengapa aku masih terus tolol mengitiki begini, sementara Bapak sudah lama meninggal. Sungguh sedih.
Sebuah cangkir plastik bergambar kucing memegang jantung hatinya, yang didapat Kambing dari suatu acara bertukar kado, menampung teh Jawa yang 'ku seduh dengan gelas permata besar. Bertukar kado Jawa membawaku pada suatu kesadaran betapa miripnya. Sama-sama lurus, sama-sama tipis, sama-sama bukan, karena belahan jiwaku berambut tebal mengombak cantik seperti Ibuku. Sudah dua pengintai petembak runduk marinir 'ku kenal: Bob Lee Swagger dan Buck Granier. Dua-duanya, tidak seperti Mentor Yusuf dan Mentor Faisal, fiktif. Meski entah.

Cinta pada pandangan kedua adalah pagi hari, entah malamnya tidur atau tidak, di bilangan Harapan Kita, Karawaci sana. Udara pagi, seperti biasa, dingin, membuatku menghisap entah Sampoerna King atau Mild. Seberapa tolol tampakku pada saat itu, 'ku rasa maksimal. Si tolol tidak tahu malu, dikeluarkan dari Akademi Angkatan Laut karena lemah mental, bergaya jagoan merokok segala. Cinta pada pandangan pertama tidak pernah sekalipun dalam hidupku karena terlalu sombong dan gengsinya, meski teringat suasana Tangerang, Ki Samaun di malam hari.

Langsung terlempar ke Palembang atau bahkan sudut LKHT bekas M-Web yang kini paruh barat dari S&T. Janganlah lagi kau mengingatku kembali, dengan jahatnya memang tidak pernah teringat. Aku ini memang sombongnya selangit. Terus saja berjalan pongah padahal berkali-kali terkena serangan panik, di Deborah, bahkan di kubikel sendiri di LKHT. Kini perutku membuncah, sementara beberapa penduduk Hanoi membunuh dirinya dengan memakan beras mentah sampai perut pecah setelah Jepang menyerah, gudang-gudang berasnya dibongkar Viet Minh.

Seberapa menjijikkan akan ditoleransi demi ketiak berambut lebat, sepertiku sekarang membiarkan cambang dan jenggot serabutan. Memandangi jendela terbuka padahal langit gelap malam adalah suatu nikmat yang harus disyukuri, apapun keadaannya. Ini semua jauh lebih baik ketimbang lorong kuning dingin berbau parfumnya Arum, tanda yang bersangkutan belum lama berlalu. Sampai tidak tahu, karena memang tidak pernah ada yang permisi atau memberitahu. Semua diam-diam saja sendiri, sepertiku berjalan menekuri rel derek bersimbah kotoran merpati.

Memang nyaman nirkabel ini, tidak perlu takut tertarik atau berdengung ketika diisi daya. Tidakkah kau ingat betapa repetitifnya membangun peradaban. Jika pun ada yang tidak repetitif, itu adalah dermaga perahu pesiar berbau pesing kencing pemabuk keparat. Maka menghentaklah musik mengiringi anak perempuan menari sambil menyanyi. Penari latarnyalah yang perempuan, penyanyinya kanak-kanak. Begitu sedap dentam-dentam hentaknya, mengiringi suara serak-serak basah, paruh-paruh baya pendengarnya. Terasa muda dalam hati meski perut kembung.

Dentam irama dari tahun 1990-an awalnya penuh harap akhirnya penuh nestapa. Sepuluh tahun yang mengerikan dilanjutkan dengan sepuluh tahun penuh kepasrahan sampai-sampai menjadi dosen. Sementara itu, pengantin merah menggantung dirinya sendiri. Tidur panjangnya yang gelisah penuh mimpi buruk diganggu Adit dan kawan-kawannya. Lantas mengapa pula ada hantu anak kecil yang meski sudah tidak kecil lagi selalu minta susu dalam dot bayi. Entah sudah berapa kali 'ku ganti karet gelang pengikat gulungan kelebihan tali ranselku, sudah tak terhitung lagi.

Thursday, July 06, 2023

Hanya Bayangan Masa Lalu Ada di Masa Depanku


Aku tidak butuh apa-apa lagi selain buku krom-ku ini. Tidak lagi penting bagiku apakah aku membangkitkan bangsa-bangsa seperti pernah 'ku lakukan dalam dinginnya udara malam Maastricht, sementara Sam entah sedang berbual dengan pacar perempuannya. Tidak juga penting bagiku apakah satu peleton pemanah komposit ditempatkan di Tanjung Kacrut atau tidak. Aku bahkan sudah tidak pernah peduli apakah aku mengenakan kancut atau tidak semenjak rayapku mati. Jika hiburanku tinggal begini, mengitiki ketiak sendiri, peduli apa tiada mengapa bagiku. 
Namun memandang ke luar jendela begini, ke jalan aspal campuran panas yang dahulu tanah becek berbatu, memang mendatangkan suasana tersendiri. Apakah ini rasa bertambah muda beberapa tahun atau kembali ke tahun-tahun yang lebih muda, aku tak tahu dan tak mau tahu. Hanya 'ku tahu, telah lebih waktu sepuluh tahun beranjak, tak juga 'ku tahu adakah dosa-dosaku sudah diampuni. Apa aku harus diinjak-injak dahulu, sampai terburai isi perut dari duburku, baru 'ku tahu 'ku t'lah diampuni.  

Jika kau sudah tahu dan bisa membayangkan betapa Bianca tidak ada putih-putihnya dan Brisia adalah agar tidak seperti mayat, maka tidak ada lagi yang cukup berarti. Membangkitkan bangsa-bangsa, menghancurkan peradaban-peradaban, menyiapkan sarapan yang sangat sederhana sudah tidak pernah dilakukan. Hanya meja ini, yang diletakkan tepat di bawah jendela seperti ketika masih musim dingin di Amstelveen, masih memberiku rasa nyaman. Selebihnya hanya kenangan memilin-milin kotoran hidung sedang air mata bersimbah. Aku tak perlu sedu-sedan itu.

Mungkin malah lebih penting membahas mengenai kelompok kekurangan dana itu. Aku dapat merasakan tidak semuanya hewani. Ada pula yang nabati. Uah, seandainya semua saja nabati tentu lebih mantap, karena yang hewani, meski bagus dikata semua orang, selalu saja bau. Kau bisa menyamarkannya dengan minyak wangi seember atau sepabrik sekalian, bau sabun atau buah-buahan, tetap saja kau bau; dan baumu memuakkan. Tidak peduli jika kau anak haram tentara Jerman yang dibawa lari ibumu dari Norwegia ke Swedia, lantas kini jadi seorang bangsawan: Tetap bau!

Terlebih lidah yang melata-lata membasahi sekujur wajah, wajah sekujur minta dibasahi ludah. Wanita peludah. Hahaha mari kita lihat apakah tepat terjemahannya. Jika sama-sama diperkosa tentara Jepang berkali-kali bisa jadi disebut Tinung saja, meski aku sudah tentu jengkel jika ternyata Granier diperankan Ferry Salim. Mengerjakan pekerjaan rumah, cuih, ada saja orang-orang yang merasa berhak menciptakan jargon-jargon, seperti terus terang terang terus, meski apapun pasti lebih baik dari quasi Assilikidik. Ingin rasanya 'ku ambyar ke dalam pintu air itu lagi.

Tiada apapun yang perlu dirusak, dihancurkan lagi. Tiada rumah-rumah petani atau pion yang kurang lurus, yang karenanya harus dihancurkan lantas diluruskan. Tiada lagi pendeta yang berdoa-doa memanggil-manggil bangunan-bangunan penghasil berbagai hantu dan mahluk menyeramkan, menjijikkan, berbau memuakkan. Semua itu sekadar ketololan yang digantikan oleh mengitiki ketiak sendiri, semata karena tiada ketiak yang mau dan dapat dikitiki. Ketika seorang wanita menyerahkan tubuhnya untuk tempat bersemai bibit seorang pria, sampai melahirkan anaknya.

Siapa bilang pula pikiranku selalu buruk, selalu mendung dan murung. Aku melihat persekitaranku seperti seorang pelancong mengagumi indah pemandangan yang tak pernah dilihatnya, sampai-sampai aku tidak ingin beranjak. Wajarlah jika Vo Nguyen Giap mengidolakan Napoleon, aku saja tidak berani sekadar mengidolakan Giap. Jelasnya, aku bukan seorang pengintai, petembak runduk, atau apapun sejenisnya, amfibi, reptil, atau mamalia sekalipun. Aku, seperti kata instruktur latihan senior Hartman, sekadar muntahan sang pemabuk tolol yang hanya tahu minum anggur. 

Wednesday, July 05, 2023

Mengapa Banyak Lagu Mengenai [Kaum] Pelangi


Inti suara A20i ini memang sedap. Terutama ketika stereo nirkabel sejati--setelah menunggu sekitar dua tahunan--menjadi hanya EUR 12,4 sahaja. Sudah langsung menyumpal kuping, sedap pula. Lantas mengapa putus itu sulit membawa kesakitan pada kemaluan yang tak kunjung sirna. Hanya kejelasan bunyi-bunyian yang dibawa Inti suara membuatnya tertahankan. Selebihnya, seperti putri mikum, jika kau biarkan hidup, kau biarkan makan, maka besar dia, beranak-pinak dia. Tendangan bass serasa detak-detaknya nyaman. Di paragraf ini harus berhenti. Masuk dhuhur.
Apa benar yang membuatmu malas mengerjakan apapun. Tentu karena harus mengerjakan suruhan orang, bukan kemauanmu sendiri. Mendungnya cuaca seperti cermin bagi suasana hatiku, meski ini sekadar ragaan bodoh. Nah, ini malah cocok. Bajingan nekat. Apa yang menahanku darinya kecuali cinta. Setua ini aku sudah tidak berani jauh-jauh dari cinta sebagai pengingatku akan Cinta. Cinta tentu saja bukan syahwat. Dari waktu ke waktu cinta pada Cinta akan membuncah, seperti air muncrat dari pancuran bambu sungguhan; bukan sambung ke selang.

Aku menunggang, mengendali tungganganku, melintasi langit malam. Tengkorak kepalaku berkobar-kobar seperti halnya tungganganku. Bisa jadi aku tertawa terbahak-bahak dengan tawaku yang biasa, dibuat-buat dan menjengkelkan; karena kalau aku sungguh-sungguh tertawa, bunyinya mengikik tertahan. Bayangan-bayangan ini memang telah menemaniku sedari kecil, ketika aku dan lapangan udara hanya dipisahkan sebaris tembok yang tiada seberapa tinggi. Tinggiku memang hanya 171 cm, bahkan mungkin tak setinggi Bapakku yang sampai 173 cm.

Untunglah jiwaku dibuai-buai oleh senandung pecinta-pecinta muda, meski ketika muda aku tidak pernah bercinta. 'Ku susuri jalan-jalan ibukota ketika malam sudah sedemikian renta, bahkan sudah merekah bertunas dini hari yang baru. Ketika itu pun aku bukan bajingan. Aku hanya lelaki muda yang kebanyakan berpikir. Maka kembalilah lagi padaku malam-malam berteman pengolah kata pelopor, menumpahkan benar-benar segala yang menggelegak menggangu ketenangan jiwa. Aku belum pernah berhenti begitu. Menulis adalah akibat jiwa yang bergolak.

Hanya petikan jemari Pakde Bruce Welch pada Fender Stratocasternya sajalah yang menenangkan gejolak jiwaku, membuatnya mengalun-alun seperti ombak di pantai senda gurauan. Terlebih ketika isi buku saku menghancurkan hatiku tanpa pernah 'ku tahu dan sadari ketika itu terjadi. Hanya beberapa saat kemudian terasa betapa pilu dan nelangsa seorang lelaki muda, menyusuri kelamnya relung-relung malam, disiksa oleh pikiran-pikirannya sendiri. Hai, lelaki-lelaki muda, jangan kau sia-siakan kemudaanmu. Lupakan pikiran-pikiran tolol. Jadi lumrah, jadilah biasa.

Tiada tersisa padaku dari kemudaan kecuali kedunguan dan kepongahan. Kini, setua ini, tiada seorang pun 'kan menyayangi. Akankah 'ku terus-teruskan merampak-berondongkan tuts-tuts pada mesin tik portabel berwarna hijau. Apakah karena 'ku hantamkan jari-jariku dengan segenap ledakan di tiap-tiap pembuluh dan urat nadiku, maka hasilnya sampai membekas ke sebalik kertas; ataukah karena mutu kertasnya kurang baik. Maka selalu saja 'ku salin, biasanya setidaknya dua. Satu untuk dikumpulkan, satu untuk disimpan sendiri sebagai arsip. Aslinya entah.

Aslinya bisa jadi disanding bersamaku ketika menikmati semangkuk sop buatan Mamanya Oscar dengan nasi. Masih saja di situ ketika 'ku nikmati mun tahu, angsiu tahu, dan entah apa lagi ketika Oscar masih menjadi boss sampai sekadar jongos. Masih juga di situ dengan sayur tahu kuning, telur bulat balado, dan entah apa tambahannya lagi; bisa jadi sayur kacang dengan tempe. Bahkan di malam hari ibunya Soleh menggoreng nasi atau kwetiau adalah waktu-waktu yang sekadar dijalani dari hari ke hari. Tidur di kamar Jenny yang selalu rapi, agak wangi selalu saja di siang bolong.

'Tuk Mengenang Jenny, Lemonado, Santiago! 

Friday, June 30, 2023

Tali Air dan Lain-lain Kesakitan Tak Kunjung Sirna


Berulang kali aku mencoba untuk s'lalu mengalah. Halah, yang benar entah sudah berapa ekor merpati putih beterbangan dalam goblogku ini. Bahkan siang terik memanggang ini pun aku masih diterbangkan di awang-awang olehnya. Padahal merpati-merpati putih ini tinggal kau patahkan leher-leher jenjangnya, siram air mendidih agar lepas bulu-bulunya, buang jeroannya, ungkep bumbu kuning, goreng sekering-keringnya agar bahkan sampai tulang-tulangnya dapat dikeremus habis, ludahkan apa yang kau tak suka. Begitu seharusnya merpati-merpati putih diperlakukan, bukan didamba-dambakan, dimanja-manjakan. Ludahkan!
Nah, gambar di atas ini malah cocok sekali. Seekor merpati putih mati kejang digoreng kering, paruh mungilnya menganga melepas napas terakhir dengan pekikannya sekali. Hiasan tomat ceri dan daun peterseli justru menambah ironi. Kau seekor merpati putih yang kau sangka begitu berharga, ternyata sekadar sisa-sisa kunyahan kambing yang bentukmu menjijikkan apalagi baumu. Sungguh mengerikan pahit-getirnya seorang lelaki paruh-baya berbadan tambun, berkepala botak, dengan perut merekah karena melahap snek-snek entah-entah, sedang rayapnya mati.

Lipat-lipatan sayap menghitam memang memabukkan khayal yang mendamba, diikat seperti capit-capit kepiting. Takkan lagi 'ku kenang sensasi ini dengan suasana hati yang hangat suam-suam kuku, karena takkan pernah 'ku nikmati lipat-lipatan sayap goreng kering menghitam. Tidak di sini, tidak di kehidupan selanjutnya, tidak di kehidupan mana pun, karena kehitaman adalah kematian; dan kematian bukan hidup. Bisa 'ku dapatkan di mana saja, berceceran di mana-mana seperti tahi macan. Tidak akan berbelas kasihan meski dipatut-patut seperti pembawaannya.

Sungguh mengerikan setua ini kehabisan cinta. Namun cinta bukan sesuatu yang bisa kau beli begitu saja dari warung Haji Syu'aib yang telah berubah menjadi tempat parkir. Seperti itulah, seperti matinya Haji Syu'aib beserta warungnya sekali, seperti itu pulalah segala sesuatu yang kau sangka hidup, yang kau sangka nyata, yang kau sangka dekat dan selalu menyelimuti. Aku bahkan tak ingin mengomentari, karena segala kesucian sudah pasti akan dinodai entah oleh siapa; yang jelas bukan olehku. Aku tidak pernah suci maka tak pernah menodai. Itulah takdirku.

Bagianku adalah bilik-bilik suram penuh kelembaban dan kelicinan, mungkin bebauan. Keharuman yang tidak tepat tempatnya, karena tempatku tidak pernah kering dan nyaman. Kemudaanku sudah hilang sirna dan tak ingin pula 'ku panggil kembali. Bukan kemudaan itu sendiri, melainkan suasana hati yang terkadang penuh semangat, terkadang menyenangkan, terkadang 'ku panggil kembali di sini, di goblog ini. 'Ku kira suasana-suasana hati itu dapat 'ku rasakan lagi hanya dengan mengitikinya di sini. Meski semakin mustahil, sungguh aku tiada peduli.

Ada juga siang-siang terik namun sejuk di kamar berdinding biru. Aku tidak pernah ingat ranjang lain kecuali ranjang susun masa kecilku yang sempat tidak dipasang atasnya, disimpan di gudang Babe Tafran malah jadi jembatan. Di situlah sisa-sisa kemudaan bercucuran, meski pernah juga demam sampai terpaksa makan parasetamol. Di luar sana Intan dengan rambut afronya, mungkin bersama anak-anaknya Babe Tafran pula. Itulah ketika muda dan bukan siapa-siapa. Betapa lucunya mengingat dalam keadaan tua dan pura-pura dosen begini. Sampai kapan.

Apa yang harus 'ku lakukan biasanya dislompret ketika leher dijenjangkan berlebih-lebihan bernuansa biru stabilo begitu, sedang yang satunya jangkar digayakan bernuansa kuning stabilo pula. Semua dari masa muda dan dungu. Semua telanjang kecuali bercelana dalam, sedang seringnya justru tidak bercelana dalam. Sampai menuding itu burung dari dalam celana lebah. Berjalan di sepanjang TB Simatupang ke arah timur menuju Pasar Rebo di bawah terik matahari, pastilah bau. Harus menahankan yang seperti itu, sama  dengan waktu berjalan ke arah utara Radar Auri.

Friday, June 23, 2023

Kenangan Indomie Banyak-banyak Bawang Goreng


Tiada lama lagi hari 'kan berganti dan kekecewaanmu akan diganti dengan kekecewaan yang lain, seperti ganti celana dalam dengan sisi sebaliknya. Sisi ganda, kerapatan ganda. Mari kita coba menulis dalam Bahasa Indonesia yang benar, agar bahasa Inggrisnya pun menjadi nyaman mengalun-alun. Tadi sempat terpikir mengenai kesakitan, namun apalah artinya jika ia tidak pernah berhenti menyakiti, kesakitan itu. Aku bahkan harus menahan diri untuk berkomentar mengenai musik yang melatari, sekadar agar bahasa Inggrisnya terbaca mengalir. Mungkin tidak waktunya juga memeriksa pratinjau agar rata kanan-kiri.
Judul sudah dibuat, satu paragraf sudah diketik. Tinggal gambaran. Meski tidak rampak memberondongi, aku 'kan mencoba terus menulis karena terasa seperti itu: Menulis. Latar musik terus saja sibuk dengan instrumen masing-masing, aku pun terus mengetuk-ngetuk papan kunci. Diberi sesendok penuh bahkan lebih, bawang goreng seakan menjadi komoditas melimpah di warung makan Indomie seperti itu. Waktu-waktu ketika makan mie instan sebanyak apapun hanya berakibat kekenyangan, lain tidak. Bahkan bisa jadi menghisap sebatang dua rokok kretek, terlebih setelah mie goreng dobel bakso terasa benar sedapnya.

Hari-hariku sebagai gelandang Depoktivo La Coruna tidak akan terulang lagi, seperti ketika memandang keluar jendela dari kamar B1/17 itu. Entah sudah berapa bilik 'ku pakai dalam hidupku semenjak hari-hariku di Magelang sana. Terlebih di barak Peleton III Kompi A itu, aku mendapat kasur bawah sedang Kristiyono di atas. Jendela selalu terbuka, menampakkan langit malam, pepohonan di kaki Gunung Tidar, bahkan hantu-hantu konon beterbangan. Adakah aku pernah berendam dalam bak kontrol saluran pembuangan dapur. Seberapa menjijikkannya di situ aku tidak ingat karena aku lebih menjijikkan lagi.

Lantas begitu saja aku mencangkung di sebuah warung kopi. Hanya 'ku ingat, bukan susu, melainkan krimer kental manis digunakan untuk membuat kopiku berkrim. Apakah di situ juga Indomie berbawang goreng banyak-banyak atau justru di tepi Margonda, tentu tidak ketika aku mengamen di sepanjangnya. Mana tega aku membuang uang untuk kemewahan seperti itu. Lantas begitu saja keindahan dunia memaksakan diri agar terukir dalam di jiwa, seperti luka tusuk akibat pisau fairbairn-sykes. Tidak pernah berhenti sejak kapanpun, bahkan jauh sebelum aku terlahir di dunia ini. Jadi untuk apa aku ikut mengeluh.

Telah 'ku dapatkan suatu gambaran, yang meski tidak sesuai benar dengan apa yang ada dalam benak, tetapi cukuplah agar entri ini ada gambarannya. Bukan disko berjingkrak-jingkrak sampai habis-habisan berpeluh keringat, terlebih membentur-benturkan kepala pada udara malam ditingkahi musik logam berat. Aku hanya ingin berdansa perlahan bersama anak perempuanku sayang, yang balik menyayangiku. Membalas pelukanku jika ia 'ku peluk. Jika ini pun ternyata berlebihan, apakah hanya berusaha menulis buku teks Hukum Adat itu yang tinggal bagiku. Seperti itulah mungkin kehidupan Adso. Aku lebih beruntung.

Seandainya saja yang 'ku ketik ini adalah buku itu, atau bahkan opini-opini tolol yang 'ku kirimkan ke Kompas hanya untuk dikembalikan padaku. Apakah, seperti Radhar Panca Dahana, aku harus memulainya dari cerpen. Nyatanya aku tidak pernah memulai apapun kecuali terpaksa. Aku ini aneh, jika bukan kacau dan tidak jelas. Masih untung aku tidak menyemir wajahku segaris mata dengan cat hitam seperti Mpok Maemunah. Apa ia tidak tahu kalau ia terlihat seperti dukun Indian begitu. Segalaku yang sering 'ku nyanyikan di karaoke mana pun tidak berdaya, seperti halnya diriku sendiri: Penyanyinya.

Akhir kata, aku berjalan kembali ke kamar kost. Entah sambil menunduk, entah sambil mengepul-ngepulkan asap Starmild, mungkin menthol, dari mulut dan hidungku, entah apa yang 'ku pikirkan saat itu. Hal-hal memalukan yang betul-betul menggerus hatiku menjadi remah-remah, disiram air comberan jadi lembek, diinjak-injak orang lalu-lalang, dipatuki merpati berkaki cacat. Inilah sehari dalam kehidupan seorang tolol, yang sebenarnya keesokan harinya setelah karnaval. Aku tidak pernah ikut karnaval apapun, apakah merayakan hari kemerdekaan atau menyambut datangnya musim semi. Tidak pernah.

Thursday, June 22, 2023

Pisang Dijepit Dua Susu Jadi Susu Pisang Susu


Langsung saja jangan kelamaan. Tak perlu diatur-atur dulu yang penting langsung diberondongkan. Jangan lupa, ini adalah entri mengenai susu pisang susu. Jika pun judulnya nanti bukan itu, yang penting isinya harus susu pisang susu. Jika ini tidak seperti S.M. Ardan atau Radhar Panca [eh, doi cerpenis bukan, ya]. Beberapa waktu terakhir ini aku mengitiki dalam keadaan marah dan sedih, koq bisa. Itu juga pertanyaanku. Sudah berulang kali 'ku katakan mengitiki harus dalam suasana hati memaafkan dan senang. Emang ada suasana hati 'gitu, belum kena susu pisang susu. 
Bagaimana suasana hatiku, apa benar yang menjadi kekhawatiran atau sekadar perhatianku, tak seorang pun 'kan peduli. Tidak juga kau! Tak perlu sedu-sedan itu. Aku ini binatang malam, dari kumpulannya terbenam. Akan halnya aku mengitiki sekarang ini, karena, seperti biasa, Sopuyan atau siapapun memang terasa medioker olehku. Aku ini memang sombongnya kelewatan. Betapa mengerikan mendengar Bang Fred berencana mati dalam waktu sembilan tahun karena dia tidak mau kesepian, kehilangan teman-temannya yang sibuk. Bagaimana denganku. 

Apakah aku sedang belajar bagaimana mengikuti dari belakang sambil memberi manfaat. Halah, tidak perlu sok dikeren-kerenkan keadaan ini. Perasaan hati ini, ikuti saja alirannya, seperti perut yang mengalir membuncah, mendesak ke segala penjuru celana, sampai kolor Jack Parker serasa hampir meletus balon hijau. Dor! Mengacaukan hatiku, sedang sebenarnya hanya lipatan itu dan sedikit tonjolan yang mungkin karena saking sedikitnya maka mengingatkanku pada Ubertino dari Casalle, atau pada jungkat-jungkit. Peradio antarwarga atau Neng Milla. 

Aku hanya ingin menjilat-jilat, tidak ingin mencolok-colok, dan memang sulit mengitiki hanya dengan sebelah tangan, sedang tangan sebelahnya memegang basah-basahnya melon jingga yang ranum menyegarkan. Manisnya yang lamat-lamat merekah seperti putik bunga malu-malu, bukan seperti mempelam yang matang merona namun menyembunyikan guratan-guratan cakar dan taring kampret di sebaliknya. Ah, aku suka, 'ku cecap dan 'ku sesap madu, manis nektarnya yang memabukkan. Aroma asli feromon perawan tak perlu kedok parfum tante-tante nan menyengat.

Astaga, ada waktu-waktunya rata kanan-kiri ini begitu menjengkelkan. Namun kejengkelan itulah sumber dari ketegangan yang mengendurkan, yang mendengkurkan. Seperti ketika melihat barisan rumah purba sampai akhir abad pertengahan yang lurus dan tepat perseginya atau panjang. Barak, panahan, dan istal pun segaris, sedang lumbung dikelilingi tepat delapan ladang. Menara-menara pemanah bahkan meriam menghubungkan tembok-tembok kota kokoh tak tertembus mahluk barbar. Jika ada pelempar batu berapi segera ditiupkan naviri sangkakala.

Aku bukan binatang malam, apalagi jalang. Aku binatang jinak seperti seekor kucing jantan yang agak bodoh, atau anjing yang baik dan setia. Tentu aku punya cakar dan taring, namun seringnya cakarku 'ku gunakan untuk memijat-mijat. Taring juga 'ku pertontonkan untuk lucu-lucuan saja. Jangan pula kau cari makna di sini, 'Ngga, seperti mustahilnya kau cari makan di sini. Semua kejengkelan ini, semua kekecewaan ini, sesungguhnya tidak lebih dari gehu dan tempe kemul masing-masing dua potong. Teh tarik baru dengan resep nan diperbaiki meningkahi mereka. 

Wednesday, June 14, 2023

Vitajimat Minuman Menyehatkan Pencernakan


Malam sudah sangat larut, bahkan sudah masuk dini hari, sebagaimana habisnya harapanku, khayalanku akan slompretan-slompretan a la Mas Toni Edi Riwanto. Memang salah satu yang dipelajari dari dunia persilatan adalah elak-mengelak, seperti halnya seharusnya Jule jadi Jude. Angga Priancha mengeluh ia tidak mengerti artinya, seperti ketika kusemburkan pada Farid dan Togar sontolmeong dipakaikan rok manakah yang span atau berenda-renda. Kata-kata memang menyembur jijik seperti ludah Don Showbiz. Sepanjang rata kanan kiri, pratinjau tidak menjadi masalah.
Lelah aku mengode-ngode, maka kutuliskan saja Shinano ditembus torpedo seraya wajahnya dilumuri liur dari lidah api yang menjilat-jilat menari-nari. Memang mencari uang sekadar dari mewujudkan khayalan bodoh remaja lelaki tanggung yang baru saja memproduksi testosteron. Nah, ini malah ada Monya seperti yang coba dinyanyikan Catur Agus Sulistyo sekitar 30 tahun yang lalu di Graha 5. Masih ada lagi beberapa nama yang memberanikan setidaknya ada tiga, maka sampailah pada semakin lama kumelihatmu. Malam semakin beranjak tua. Ada orang gila. 

Ingin segera kuakhiri sekadar agar dapat dinikmati dalam Bahasa Inggris, seperti khayalan untuk menikmati dua atau tiga sekaligus. Es loli begitu, coba bayangkan, mengulum-ngulum tiga batang sekaligus apa tidak berleleran ke mana-mana itu, mengotori baju, mengotori segala sesuatu. Jika sekadar untuk dinikmati maka tidak perlulah mengelak lagi, seperti anjing jadi anton. Apa soffell ini, seperti halnya vaseline dahulu di Amsterdam, sudah daluwarsa, sampai bersepeda ke Mosveld membeli salep Purol. Basahnya rambut kepala tidak pernah dialami di Amsterdam.

Apatah daya masih kurang empat, maka tiada pilihan lain kecuali terus memberondong-jagungi. Hahaha entah bagaimana terjemahannya nanti aku tak peduli. Tugasku, seperti halnya Pippi Si Kaus Kaki Panjang, adalah menemukan kata-kata baru; seperti selepung, yang ternyata tiada lebih dari bangbung tai, bangbung anjing, tai anjing. Begitu urusannya, seperti gitaris palapa yang tiba-tiba membawa istrinya yang berbadan sentosa ke pertemuan manajemen artis. Rapat itu adalah untuk membagi-bagikan sebutan, sampai-sampai kebagian Opik dan Emul. Ogah 'ku dikata hitam.

Hanya satu harapanku, kelengketan-kelengketan ini segera sirna sehingga terbitlah kantuk yang mengantar ke pulau kapuk. Hehehe sekarang tidak lagi kapuk. Kurasa dakron itu isinya, bercampur jamur-jamur hitam karena sering dibahasi dengan membanjir-bandangnya keringat dari kepala berotak. Ternyata berpikir membuat badan berkeringat. Apa bukan olahraga jika begitu namanya, ketika lubang telinga pun mengeluarkan minyak yang berbau aduhai. Hampir mirip dengan bau kotoran kuku kakiku kaku-kaku. Nako-nako pavilyun entah ke mana kini, kusenku epik.

Memang pantaslah selatan dari perbatasan direndisi begini rupa agar malu, terlebih selalu. Eh, tapi intro ini sungguh genial yang ternyata sekarang atau tidak pernah. Farid naik sepeda, Togar lari, Juned angkat beban, aku terbebani, lari dikejar sepeda statistika. Seperti La Mer yang direndisi dalam irama cha cha, apa sambil menenggak sake atau whisky. Jangan sampai salah meletakkan "h"-nya, meski kau selalu di hati. Terlebih jika sampai membawa dua kucing ras pula. Kalau mau lebih dari satu maka kucing kampung saja, yang tergeletak kepanasan di emperan.

Bukan comberan melainkan emperan, karena comberan adalah tempat berkubang. Sok tau sekali Togar bicara sifilis. Apa kau sudah pernah tahu rasanya diterkam rajasinga. Apa pernah kau rasakan betapa burungmu pilek mengeluarkan ingus kuning hijau berbau memuakkan. Seperti halnya Miss Kecubung yang berakhir sebagai gombal kotor dilempar ke comberan setelah Tuan Petro menggantung dirinya sendiri pada leher di tengah-tengah panggung. Berayun-ayun mayatnya membuat istrinya makin histeris menyalahkan Kejora, mengutuk-ngutuknya dunia akhirat. 

Wednesday, May 31, 2023

Aku Tidak Suka Judul Seperti Ini. Padaku Sendiri


Berjalan mundur, dengan punggung menghadap ke arah jalanmu, sedang mata, telinga, hidung, semua panca indra lekat terpancang pada yang telah lampau, seperti bass akustik dibetot sesantainya. Jika tidak pakai MK160 ini mungkin aku tidak pernah memperhatikannya, bahkan sejak dari pojokan dalam pavilyun yang menghadap ke kamar mandinya Oma Sapulete. Sampai hari ini aku masih jengkel dengan kenyataan dipasangnya pintu lemari untuk mengakses pavilyun, menggantikan pintu aslinya yang begitu gagah. Di kacanya pernah ada stiker Australian Navy.
Ah, Mam'selle selalu membawaku ke suasana seperti ini, malam berhujan di FHUI sampai barel ketika masih ramai kehidupan. Entah apa benar yang kulakukan pada saat itu, selalu saja menunda-nunda bahkan sampai hari ini, detik ini. Namun bekas gerimis, genangan-genangan kecil air hujan, udara sejuk, badan dan jiwa yang ringan, keseluruhan daftar-main ini kurasa yang membawaku pada suasana ini. Ajaibnya sinar rembulan di hari-hari yang lebih kering dan langit yang lebih cerah, pun udara yang lebih hangat. Kemudaan membawaku bernyanyi untuk sang dewi malam.

Pada saat itu John Gunadi masih hidup dengan segala ketiadaan gunanya, membangun jaringan rel kereta api se-Jawa, Sumatra, atau Kalimantan dan Sulawesi sekali. Itulah ketika aku menyenandungkan dan mendendangkan cha cha cha cinta ke manapun kupergi, dalam benakku atau pada bibirku. Ini tidak perlu ditarik lebih jauh sampai ke masa Gus Dut menyeterika licin muka Ita Nuriah, meski masa-masa itu tidak kalah cantiknya; penuh dengan kelemasan dan kepasrahan. Oh Allah Gusti, sungguh hidup yang indah menyenangkan dikaruniakan pada hamba hina.

Pada titik ini tiada dendang, tiada senandung menyertaiku, seperti tidak lucunya segmen dendanktoz produksi x-code. Maka kulanjutkan dengan punggung menghadap pada ruang server yang berembun. Di seberangku bisa ada Jerki bisa juga tidak. Berarti sebulan sekali masih menerima Rp. 1.425.000 dari Haji Arifin. Berarti itulah masanya aku minta dijemput Jerki dan kawannya dari Minang Kramat. Aku sudah tidak lagi merokok, bahkan 'ngopi pun tak. Entah apa yang kuminum, adakah jahe wangi. Adakah pulang dengan Deborah AC sambung Koantas Bima atau pun S.72.

Jelas kemudaan yang kurindukan namun bukan kenistaannya. Apakah sekarang sudah tidak nista, masih sama saja. Nista atau tidak, tidak ada hubungannya dengan muda dan gagah, tua dan menggelendut. Satu-satunya cara yang kutahu untuk tidak menyebalkan adalah diam, dan mungkin itu yang harus banyak-banyak kulakukan semenjak kini. Tiada lagi yang merasa engkau lucu apalagi gagah, maka diam saja. Itu sesungguhnya jauh lebih menyenangkan. Menulis setiap hari, katamu. Aku memang tidak menulis apalagi tiap hari. Mengitiki, mempermalukan diri.

Sama seperti ketika selesai rapat di Eijkman malah masuk IGD padahal hanya sekitar 150/100, maka aku kembali saja ke masa-masa di atas tebing tinggi, di tepi Ciliwung, bersama Asatron, bersama sebungkus atau bahkan seslof, semug atau bahkan sebaskom. Ini malah jauh lebih muda lagi. Kembalilah padaku mengalun-alun ditingkahi denting bergetar senar-senar mandolin. Mandi pagi atau malam sekali selalu menyegarkan. Kompor bulat dan berbagai piranti masak. Tidak benar, salah-kaprah bahkan, tetapi tidak berarti bohong atau khayal belaka. Semua nyata ada!

Termasuk menunggu angkot sambil menghisap Crystal yang rasanya amit-amit. Aku tidak ingat apakah kubuang masih sebungkus atau kuhabiskan. Demikian juga Mustang nyaris tak tertahankan. Bahkan Surya terlebih yang pro hanya jika sangat terpaksa. Kuhabiskan untuk apa kemudaanku. Sampai berapa kemudaanku. Antara 20 sampai 40 banyak sekali yang terjadi meski pasti bukan yang teremuk teredam. Aku senang sudah tinggal baris ini dan berikutnya maka aku dapat segera melihatnya jika dalam bahasa Inggris. Puitis, humoris kata Bing Bual. Indah dan syahdu.

Thursday, May 25, 2023

Tidak Jadi Itu Judulnya. Ini Saja Lebih Asyik


Menulis buku mengenai Plato, yakni, anjingnya Kimos, terasa sangat tak berdaya semenjak apa. Entah sudah berapa kali mengitiki untuk entri ini terhenti. Semoga di kandang kambing ini benar-benar selesai entri ini, meski menyanding krekers berperisa ayam dengan kandungan protein nabati, meski menyanding susu jahe emprit bakar masih bergelimang berbagai rempah utamanya jintan hitam. Nah, jika mendeskripsikan ini tiba-tiba menjadi lancar meski rasa tak berdaya semakin menguat saja. Tidak ada yang benar-benar dapat dilakukan terhadap apapun. Sungguh.
Irama baru tepi laut ini tidak seperti anjing yang duduk pada kaki belakangnya, berdiri pada kaki depannya di pantai berpasir di tepi laut, lantas diberi nama anjing laut. Tidak, ia lebih seperti semua yang tidak memicu gejolak dan geloranya jiwa, dentam berdebamnya jantung hati. Apalagi dengan kelentang-kelenting yang katanya menenangkan jiwa ini ditingkahi dengan gericik air dan kicauan burung. Sungguh mengitiki membutuhkan suasana hati yang ringan riang, setidaknya tidak dipusingkan masalah uang yang belum tahu lagi enath kapan datangnya.

Melemah dan menggelembungnya badan tidak perlu menjadi pikiran sepanjang masih bisa duduk di barisan terbelakang sambil mengulang hafalan. Ketika hal tersederhana saja tidak kau dapatkan, maka tiada lagi yang dapat dikeluhkan. Menelepon seorang teman seolah-olah membicarakan masa depan, padahal sekadar perintang waktu. Menunggu entah apa yang ditunggu, suatu kejutan menyenangkan tentu saja. Ketika makanan sudah tidak boleh dikenang-kenang, terlebih ketika makan semacam susu yang langsung dimasukkan dalam lambung campur darah.

Bukan kematiannya benar yang 'ku ratapi, namun apakah hari-hari ketika ia menjadi pengamat dan pemilih sasaran bagi seorang penembak runduk. Hari-hari ketika kami adalah pasukan terjun payung dengan tugas patroli jarak jauh yang bisa ditertawakan oleh Rudy Saladin dan Putra Widya Winaya. Jika pun aku selalu menjadi bahan tertawaan, aku pun tak keberatan. Dunia pun tak pernah keberatan jika melulu kuolok-olok. Ia hanya akan balik menertawakanku. Begitu saja, seperti perahu cepat melaju melompat-lompat di atas ombak gelombang 'nuju pesisir Jakarta. 

Seperti halnya sudah lama 'ku tak peduli apakah ini puisi atau prosa, aku melayang di kedalaman samudra bersenda-canda dengan pari manta. Semua yang pernah 'kucicipi sebetulnya tidak banyak. Sekadar agar terlihat sok jagoan saja, padahal mengapa juga harus begitu. Menyusuri trotoar dari depan stasiun Manggarai sampai ke terminal Manggarai adakah pernah 'ku lakukan. Di bawah terowongan yang di atasnya melintas kereta api atau kereta rel listrik, tempat Dedy ditelanjangi orang jahat sampai pulang hanya berkaus singlet bertelanjang kaki bercelananya.

Semug kopi kuning bergambar skuter tiba-tiba saja menerpa pandangan, mengilhami ruangan nyaman berpendingin udara dengan aroma apak-apak buku tua. Berulang kali 'ku berhenti memejamkan mata demi merasakan badan yang remuk redam. Apatah lagi hati yang penuh lebam mengharapkan cinta yang berlebihan, yang hanya ada dalam cerita-cerita pendek karanganku sendiri, yang selalu saja hanya ada dalam benakku dan tidak pernah diketikkan baik dengan mesin tik sampai gawai elektronik; yakni, ketika suara utama piano digantikan gitar listrik Gibbon.

Ah, ini seperti setelah kau pergi. Pergilah kau aku tak peduli. Jika kau tidak mau menuruti keinginanku yang entah apa ini. Memancing tidak, mengendara tidak, memainkan pun sudah tak. Apakah ini seperti mengelabui dua orang yang berbeda padahal tinggal serumah sehingga ongkosnya pun berlipat ganda. Pengetahuan mengenai warungfoto setelah sekian lama tiada berdaya. Terlebih soto sop yang seringnya dimakan bersama perkedel kentang dan kuahnya saja. Demikian pula sate seringnya adalah bumbu kacang diberi lontong bukan kupang atau kikil.

Saturday, May 20, 2023

Kebangkitan Nasioral Lebih dari Nasilengko. Aku


Maafkan aku. Semenjak mendapat bingbingan rohalus aku memang agak melupakanmu. Tidak sepenuhnya, tentu saja. Aku masih suka membaca-bacamu. Aku bahkan menanyakan mengenaimu kepada rohalus, dan seharusnya aku segera tahu. Ia tiada menghargaimu. Siapa juga yang menghargaimu, yakni, ketelanjangan yang menjijikkan. Laki-laki gemuk berambut berpayudara. Kebanyakan orang tidak suka ketelanjangan yang macam ini. Mereka mungkin suka ketelanjangan, namun bukan yang seperti ini. Ketidakberdayaan ini, yang hanya kepadamu dapat aku bagi.
Saat ini bukan saat yang tepat untuk mengitiki sebenarnya, terlebih ketiak sendiri. Seperti biasa, terkadang aku merasa sekelebatan mendatangiku minta dikitiki, namun ketika aku benar-benar mengawaki papankunci jari-jemariku kelu. Paling hanya bisa 'ku katakan di sini, aku memasak sop yang isinya melimpah-limpah, sebagian besar kubis. Di dalamnya ada beberapa potong baso ikan dari sebulan lalu. Selain itu aku juga merendang otak-otak dan tahu Ucok yang hampir selalu asam. Dia tidak akan pernah memberi tahu mana yang sudah lama. Semua baru sentiasa.

Meski ada yang ingin 'ku ceritakan aku tak tahu bagaimana. Menyandi butuh tenaga mental yang sangat besar, dan aku sudah lelah mengatakan, bahkan sekadar berpikir, aku kehabisan tenaga. Entah mengapa di suatu sore berhujan aku naik 112 dari Pasar Rebo ke arah selatan. Aku bahkan lupa minta turun di mana. Aku hanya ingat suasananya mendung berhujan. Ini lagi ada yang berpikir memekik-mekik cinta berbarengan menimbulkan sensasi estetik. Paling ini yang dapat 'ku katakan. Entah kini atau sepuluh atau lima belas tahun lalu, aku tetap saja bau jika gerah 'gini.

Atau mungkinkah seruas jari keju dari anakku, satu dari entah berapa ratus anak-anakku yang tidak merasa aku bapaknya. Entah mengapa aku tidak pernah menyukai pesta apapun, kecil apalagi besar, intim apalagi akbar. Aku mungkin suka makan malam berdua saja dengan Cantik, dan tentu saja ini tidak dapat digolongkan sebagai pesta. Entah oleh para komodor atau mereka yang tidak lagi beriman, di akhir umur belasan pernah terasa demikian keren. Setua ini, apakah masih tersisa kegelian bagiku dalam bentuk apapun, ketika seruas jari keju diangsurkan padaku.

Ketika menggebuk drum dan menendang-nendang pedal yang hanya satu terasa bagaikan perlawanan. Setua ini masih harus melawan, bahkan memang inilah perlawanan sejati yang harus diperbuat. Jika aku sendiri bisa mencium semerbak sitrus, orang lain tentu lebih lagi. Akhir siang awal sore di dalem Jalan Radio sesungguhnya adalah kenyamanan masa kecil yang tidak mungkin kembali. Nyaman di hari tua itulah yang masih bisa didamba, meski aku suka hampir semua yang dikatakan Mbak Muti. Ia tertarik pada status-statusku mungkin karena kami sama-sama sarkas.

Aku dan Gendut sama-sama tertuduh suka menjual kesedihan. Aku tidak akan membela diri, meski bila perlu akan 'ku bela adikku itu. Terlebih ketika Pak John begitu saja mengganggu makan siang Profesor Topo dengan menyuruhnya meneleponku. Pak John sang penyelam dan fotografer bawah air, aku penyelam selokan. Aku berani jorok-jorokan meski aku penakut juga. Mentalku lemah seperti kerupuk disiram air. Tidak seperti seblak begitu karena air yang menyiramku dari comberan. Meski pernah 'ku berduet cinta yang takkan berakhir entah di Surabaya.

Begitu selesai entri ini, begitu ditayangkan, akan segera diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Entah bagaimana terasa seperti agak keren dalam bahasa Inggris. Ketika bukan lagi gitar meski setengah bodi melainkan gitalele. Jika Jerome saja om-om maka tidak ada pertanyaan lagi, Yang Mulia. Memang sudah sampai di sini dan tidak ada yang 'ku sesali sedikit pun. Meski seperti berpacu di jalan-jalan utama yang lengang ketika malam masih muda, ditingkahi genitnya cahaya lampu penerangan jalan dan mungkin gemerlapnya iklan-iklan meski tak bak di Rembrandtplein.

Wednesday, May 10, 2023

Tema Dunia Baru dari Simfoni Nomor 9-nya Dvorak


Menggelembungnya perut yang tidak mau kempis-kempis adalah suatu pertanda, jika Istrimu Cantik meneleponmu, maka dialah yang pertama, terakhir, dan segalanya bagimu, karena yang lain tak ubahnya cumi-cumi baik raksasa maupun cebol yang terdampar di pantai, meleleh mencair begitu. Pita merah memang bagaimanapun paling seru dimainkan kucing-kucing dari Volendam, karena yang lainnya menjadi cenderung sedih-sendu begitu. Aku bahkan tidak mau membayangkannya. Cukup mengintip sebentar dan tahulah aku betapa ini adalah lagu penggembala
Aku sebenarnya sedang makan krekers renyah besutan Nissin, yang karenanya seharusnya aku berada di Graha 16 atau 10, karena aku tidak ingat memakannya di Graha 3 maupun 5. Namun peniruku yang menyebalkan ini memekik-mekik satu cinta, mengingatkanku pada Bagus Suryahutama dan kamar Doel Salam di setentang kamar Witch Grandma di Mess Pemuda. Entah setelah ini akan 'ku ganti apa dia. Semua itu, krekers renyah maupun satu cinta bukan kenangan manis. Memangnya aku punya kenangan manis. Aku bahkan melesat ke Peter Calandlaan.

Demi berjoget-joget karena cinta tidak pernah terasa sesedap ini, disaksikan Hadi dan Ira yang menjengit kejijikan. Apakah begitu juga pandangan Fully, Mbak Wiek, dan Bang Isal ketika aku berjoget-joget disko di sebuah karaoke di Bekasi. Entah mengapa pula sekarang aku di Arrishvirega del Mar, entah di tepi pantainya yang mendung berangin atau di dalam villanya. Aku tidak ingat tidur dan makan. Aku hanya ingat mabuk dan bertekak mengenai Si Kembung. Mengapa tiga puluh tahunan lalu krekers renyah ini begitu sedap micin-micinnya, kini sungguh biasa.

Sejauh ini aku berusaha menyembunyikan kenyataan bahwa cinta tidak pernah terasa sesedap ketika bercelana biru ketat, rambut berjambul tinggi, gimbal berlumpur saluran irigasi. Benarkah sejak saat itu terjadi penolakan atau pengingkaran. Apapun itu tidak ada bedanya dengan sekarang dan sampai kapan pun. Kemana pun 'ku kembali tidak akan pernah 'kutemukan, kecuali kenangan tidur di jip Toyota hardtop semalaman, sampai berembun di pagi harinya. Juga tenda pramuka bertunas kelapa yang mengalir deras air hujan di bawahnya lebih sedap. 

Dengan mantap hati 'ku akui bahwa aku seorang pecinta lebih dari seniman. Sekujur hidupku adalah kisah cinta, meski sederhana, meski tragis, meski keras kepala, namun secantik-cantiknya kisah. 'Ku tetapkan begitu untuk hidupku, meski perutku tumpah ruah dan kumis misaiku seperti walrus. Meski khayalan mengenai ibu dari anak-anakku menguap di keremangan anyirnya nanah rajasinga, tidakkah begitu semua khayalanku. Tidak! Mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia bukan khayalanku. Ini akan menjadi nyata. Aku bagian darinya.

Laut atau badan air besar lainnya seperti sungai, muara, teluk, bahkan danau buatan bisa saja menjadi keseharianku. Memandangi kanal yang mengelilingi Roeterseiland telah 'ku lakukan setidaknya hampir sembilan bulan di teriknya matahari atau kencangnya hembusan angin berbunga es. Di tepi Cikumpa ini jua'lah aku berumah, ditemani sendunya Joni Gitar sebagaimana selalu terjadi di tempat-tempat yang 'ku sebut rumah. Bahkan empat graha di Barepan itu pernah jadi rumahku, tempatku tertidur lelap meski setelahnya dibangunkan selompret menjengkelkan.

Adakah malam-malam 'ku tak bisa tidur ketika di salah satu kamar Babe Faishal Tafran, baik yang berkelir biru, kuning, maupun merah bata. Bergoyang-goyang sambil tiduran di lantai di atas sajadah, atau minta diikat, bahkan sampai minta ditiduri, semuanya sesendu minta dicium banyak-banyak kecuali jika diakhiri dengan cha cha boom. Bagaimana harus 'ku akhiri jika ternyata ada Universitas Macquarie yang aku tidak pernah benar-benar peduli. Namun mana tahu, mari kita jalani saja. Siapa tahu memang begitu bagianku atau entah bagaimana kini aku tidak tahu.

Sunday, April 30, 2023

Ayo, Perak. Maju. Rikiplik Rikiplik 'ngGdabrus


Meski rikipliknya kurang satu, tetap ingin 'ku memaki. Untung Art mengingatkanku, hidup ini sekadar impian. Seperti puasa Syawal yang kurang dua hari gara-gara lis tepong-tepong; aku tidak yakin apa harus dikursifkan. Bagaimana jika tanda baca tidak memiliki makna apa-apa kecuali sekadar untuk keindahan. Aku tidak akan mengatakan sepatah kata pun mengenainya. Biar 'ku rasakan sendiri saja. Jumat pagi bermendung merupakan suatu penanda waktu, sedang aku tidak suka menandai waktu. Ahoi, soto mie memang dari dulu ya begitu saja rasanya.
Lebih baik aku beranjangsana ke Shangri-la, meski aku pernah makan baik di Sarasan maupun Handrawina. Tempat-tempat makan dengan nama-nama sok-sok'an, biar kesannya tempat makan bangsawan. Aku sudah tahu bahwa aku tidak pernah suka berpura-pura jika itu bukan untuk berolok-olok. Bersenda-gurau di salju memangnya aku Andriawan Pratikto, meski sempat teringat pula suatu malam bersalju basah diserbu rombongan turis dari Eropa timur. Sebentar, apa habis itu penghuninya pulang ke Bali sampai-sampai menghabiskan sedikit waktu di kamar Ayu.

Aku lupa tepatnya bagaimana lantas pindah ke Sint Antoniuslaan setelah menghabiskan sekitar setengah tahun di Laathofpad. Nama-nama yang tidak meninggalkan kenangan manis padaku sampai 'ku damba-damba. Tidak ada. Tidak juga Barepan. Sedihnya, tidak juga Jalan Radio. Sudah lama aku tidak benar-benar tinggal di sana, sejak 1991. Sempat melarikan diri sekitar 2002-2003, namun kembali menggelandang di Barel. Tidak ada satupun yang dapat 'ku sebut rumah. Maka ketika diserang biru musim dingin, 'ku bertanya-tanya, sakit rumah yang mana. Kos-kosan?!

Uah, sepoi musim panas memang tidak pernah gagal membuatku merasa di rumah. Rumah yang mana. Rumah ulat berwarna kuning kusam dengan kusen-kusen coklat tua. Depan kebun durian, belakang masih kebun entah apa, gelap-gelap jika malam. Beranda berubin merah menghadap timur. Dari balik dedaunan pepohonan durian mengintip purnama raya terbit, mengilhamkan sebuah lagu. Menjemur baju di kebun belakang malam-malam jangan sampai menyanyi pringas-pringis moto plirak-plirik penghuni bangunan tua, nanti bisa memekik ketakutan lari masuk rumah.

Hari itu, 28 September 2000, meski sekarang bukan hari itu. Bisaku masih mainan MS Word. 'Ku tulis puisi dalam bahasa Inggris sebagai ungkapan kesakitan hatiku, sendirian di LKHT yang sekarang jadi Sekretariat Iluni. Udara berpendingin ruangan, gelap kecuali cahaya lampu dari luar. Sampai hari ini aku terperangkap di situ. Bilakah tiba waktunya, jika ada pasti tiba. Seperti ketika suatu pagi pulang ke rumah kambing, kosong, Metro TV dengan siaran awal-awalnya. Entah seporsi ketoprak, setelah itu tidur sampai siang atau sore, lalu Sunsilk extra mild chamomile white tea.

Seperti halnya ada waktu-waktu untuk hidung tersumbat, ada pula waktu untuk angin sepoi-sepoi dan aku. Ya, seingatku awal musim dingin 2009 itu juga begitu. Makanan berkurang rasanya, tidak seenak biasa. Masih terasa, namun biasanya lebih enak. Waktu-waktu berlalu bagai mimpi. Tak hendak 'ku ingat-ingat pula lontong kikil kecuali ada kucainya. Jika surimi garnalen terus terkenang karena memang enak. Kibbeling bersaus di Molenwijk itu juga lumayan enak meski menyakiti lambung. Yang di Buitenveldert dan Oostelijke Handelskade juga enak. Masalahnya mahal.

'Ku lihat-lihat lagi gambar-gambar makanan khas Indonesia dan Jawa yang sering 'ku beli dulu, alamak, sungguh menyedihkan bentuknya. Sebenarnya sih, terlepas dari bentuknya, rasanya berterima 'lah. Namun mahalnya itu tidak ketulungan. Apalagi Zumpit setelah di Sepurderek, masakan tahu entah-entah, fuyunghai vegan, mie tumis dua kotak, setengah juta lebih! Suatu kemampusan, 'ku beri bertanda seru memang disengaja untuk menekankan betapa jengkelnya. Namun tetap harus diakui, yang dia kata fuyunghai sebenarnya omelet Eropa yang superieur

Wednesday, April 26, 2023

April Belum Berlalu. Ramadhan yang Mulia Sudah


Rongga hidung dalam dan puncak tenggorokanku mulai terasa tidak enak, setelah Khaira, Fawaz, dan Bundanya terkena masalah yang sama. Khaira bahkan sampai dikerok, sampai teriak-teriak. Entah beberapa hari sebelum lebaran ia memaksakan diri untuk itikaf sendiri di Istiqlal. Pulang-pulang sakit dia. Lantas mengapa aku harus membatasi pandangan hanya padamu. Karena mauku begitu. Lebih baik aku menjulurkan lidah dan memonyongkan bibir daripada harus memandang selainmu. Aku selalu ingat padamu, Istri pertamaku, terakhirku, segalaku.
Badan pun mulai terasa agak kurang yes, meski dari kemarin namanya puasa ya pasti begini lah rasa badan. Daripada merasa-rasakan badan, lebih baik aku terbang ke awang-awang. Namun 'ku urungkan, karena merpati sudah bukan seekor, melainkan sepasang. Terlebih lagi, ia sudah tidak putih, tetapi ternoda darah malam pengantin. Semoga. Kini aku ditemani penyuka Chopin, karena hujan-hujan begini memang paling ajib berteduh di gazebo berduaan bersamanya. Seperti dahulu kamar praktek dr. Hardi Leman tempat kali pertama bertemu dengannya, aduhai mesra.

Suasana yang berubah-ubah, hati yang berbolak-balik. Hari-hari hujan berhari-hari panas terik. Ini bukan puisi apatah lirik lagu. Inilah dia yang namanya entri, tiada yang terbayang sama sekali. Hanya buku tulis bergambar muka Mahua Arismaya satu halaman penuh, lalu entah yang 'ku ingat sebagai Captain Wickers yang 'ku buat berleher kokoh sekali, lantas aku di samping biplane bertangki eksternal. Sepertinya 'ku modelkan dari Fairey Swordfish dalam Dari Balon ke Pesawat Terbang. Sungguh sendu menyayat hati melodi bak suasana hati nan selalu begitu.

Monyongnya bibir, menjulurnya lidah bukan alasan untuk ditapuk, yang meski tidak boleh dibiasakan, tetapi bisanya hanya itu. Dibuat bagaimanapun kemarin sekali lagi tidak membuatku teringat entah lantai berapa di Sepurderek yang berwarna kuning. Kesepian mencekam hanya terkenang, hanya masakan Japri yang sekenanya namun enak juga. Tiga batang dupa setanggi menguarkan harumnya bagai keharuman yang menghiasi ruang belajar para padri dan bante. Sama-sama botak, hanya yang satu bak mempermalukan diri sendiri, sedang lainnya gundul ceprul.

Betapa jinak-jenakanya, akankah berliur berlendir jika diberi bergaram. Sekali lagi 'ku temui diriku menggapai-gapai masa yang telah lampau, teraih lampu petromaks yang tengah dipompa sehingga semakin terang-benderang. Kemasygulan suasana hati selalu menghiasi, entah pernahkah bersantai di siang hari di ruang baca perpustakaan. Aku hanya ingat menonton liputan hari Angkatan Bersenjata. Ada tank-tank berparade, ada brosur STPDN dan mungkin Akpol, dan sepertinya Dhirotsaha. Aku selalu murung dan masygul, tiada benar masa depan 'ku harap-harapkan.

Azab dan sengsara membawa nikmat itu hanya ada di kapal Van der Wijk yang sudah tenggelam saja. Di mana-mana nikmat tidak seberapa meski sebesar bola voli. Uah, aku kembali diterbangkan di awang-awang meski tidak oleh seekor merpati putih. Aku bahkan tidak peduli jika ini cangak ulo atau titituwit sekalipun. Tinggal dijalani saja sisanya sambil memonyongkan bibir dan menjulurkan lidah. Bahkan kalau perlu mengatupkan bibir dan menyimpan lidah, menunggu apapun yang melintas di hadapan, baru lidah berperekat dilesatkan dan ditarik kembali.

Tahun '60-an itu lucu ketika rambut perempuan disasak tinggi-tinggi sampai seperti menara, seperti The Ronettes begitu. Tahun '70-an dibiarkan panjang tergerai atau mumbul mengrimbo, termasuk rambut ketiak dan kemaluan. Tahun '80-an berjambul tinggi macam bangsa burung-burungan, sedang di samping dan belakang kepala dibiarkan jatuh keriting sosis atau papan. Rambut lelaki kurang lebih seperti Top's Collection, yang tinggal tunjuk mau yang mana, meski seringnya tidak menakar diri apakah bisa dijadikan begitu. Aku tetap monyong dan melet.