Tuesday, October 01, 2024

Apa Benar Ini Boneka Lobster Goreng, Jingga Begini


Akhirnya, setelah umek dengan transparansi, aku dapat menikmati serbat jahe jintan hitam bersimbah madu herbal mentol. Namun itu belum seberapa. Memang sampai sekira 15-an tahun lalu, kopi-kopi sasetan masih indah menghiasi hari-hariku. Salah satunya tentu saja rasa-rasa lucu dari hari baik, lima saset tiap-tiapnya, dan masih banyak lagi. Oh, betapa aku sangat menyukainya, sampai-sampai ia menyakitiku, sampai hampir mati rasanya. Kurasa pernah kuabadikan di sini, cangkir kecil bola, sholat maghrib seakan-akan untuk terakhir kalinya, terkaparku di karpet.
Astaga, akhir 1998, mungkin aku mendengar kali pertama awal 1999. Apa benar yang kupikirkan pada saat itu. Bagaimana mendapatkan sebungkus, atau setidaknya setengah bungkus super. Itu sudah. Berapa lama habisnya setengah bungkus itu. Ketika itulah mulai menggelandang. Apa ketika itu momen ketololan. Hari berhujan menyusuri jalan-jalan kampung srengseng sawah sisi barat Ciliwung. Apa benar yang kucari: data, wawancara. Aku pantas mendapat ini semua, malah sedikit sekali meminta ampun. Sungguh banyak amat, jauh lebih jijik aku'ni: Comberan.

Aku mengitiki dalam suasana hati kurang lebih seperti ketika memandang ke seberang agak ke bawah. Bertetangga seperti tidak, tentu saja tidak merindukan. Bahkan jalan-jalan di bawah mantan derek raksasa yang sudah berubah menjadi perkantoran. Naik feri ro-ro ke arah stasiun hanya untuk ke Amsterdam barat itu namanya mundur. Terlebih sampai membeli troli belanja seharga hampir 20 Euro, seperti itu saja sebenarnya ketika aku merencanakan untuk belanja. Seperti ketika tiba-tiba aku membeli pelantang bergigibiru di Hema, seperti itulah pula dompet STNK.

Sudah entah berapa kali kutulis di sini betapa kubasuh sisa-sisa minuman kental manis dari kerongkonganku dengan air hangat cenderung panas. Jika kudengar keluar dari biru pada paruh kedua 1990-an, berarti itu sudah menjadi kenangan; karena itu terjadi di bulan-bulan pertamaku pada kelas tiga. Tepat di sini aku terhenti. Apa karena terlalu banyak waktu kuhabiskan dalam laboratorium hukum entah-entah. Tidak ingin pula aku membantu mengonsepnya. Terlalu banyak orang memperhatikan hal-hal sepele, biar kuurus hal-hal serius. Tidak mengapa bagiku, Teman.

Kopi singa masih adakah. Masih. Aku suka yang ginseng, ada rasa tanahnya. Aku tidak ingin merasa-rasa dan bertanya-tanya. Biarlah kunikmati lagi secangkir serbat jangkrik jintan hitam bersimbah madu herbal anti masuk angin, atau 'ku masih tak sanggup melupakanmu. Tadi ketika mengaduknya, begitu saja 'ku teringat pada pagi-pagiku di rumah-rumahku. Di mana pun rumahku, pagi-pagi selalu waktu terbaik. Betapa tololku di usia 20-an, berjaga sepanjang malam, baru tidur ketika pagi sudah menjelang. Mengapa tidak dari dulu selaluku begitu, berteman pagi.

Kamu menemaniku ketika melawan pengar jet di awal 2019 itu, bersama bersalah. Kini meski mengantuk tak relaku berangkat tidur. Aku merasa belum apa-apa. Aku merasa belum berkarya. Jangan-jangan memang sudah tidak waktunya lagi membaca, kini waktuku menulis buku. Apa harus kugambar sendiri ilustrasinya. Apa kukerjakan sendiri semua, terlepas nama-nama. Uah, aku merasa seperti Jeremy, ingin meledakkan kepala sendiri. Tentu setelah meledakkan beberapa balonku ada lima, rupa-rupa warnanya: hijau, kuning, kelabu, merah muda dan biru. Kelabu!

Biarlah entri entah-entah ini kututup dengan kisah Angga Priancha mengenai dua bocah tolol yang berpikir titit-titit mereka berjenis kelamin berbeda, satu jantan, satu betina, dan saling cinta hahaha. Untung mereka tidak bertemu denganku. Kalau sampai bertemu aku bisa jadi mantri tiban sunat atau lebih tepatnya kastrasi. Biar mereka tidak pusing-pusing mengenai jenis kelamin titit-titit mereka yang tak'da guna itu. Setelah dikastrasi, titit-titit tolol ini bagusnya digoreng kering biar terglikasi, lalu kita kasih makan ke bocah-bocah tolol ini, biar titit-titit itu pada jadi tahi.

Saturday, September 21, 2024

Aku Sekali, Dua Kali, Tiga Kalinya Lelaki. Wassalam.


Sore bermendung berbalsem ini, aku tidak ingin mengitiki sesuatu apapun yang memaksaku memeriksa akurasi fakta. Setua ini memulai sesuatu yang sama sekali baru, kata Takwa. Bagaimana jika ternyata memang tidak pernah memulai apapun. Kesedapan ini yang membelai indera pendengaran, yang bukan sekadar salah satu dari lima. Kesedapan ini, adakah yang tidak membawa derita. Kesengsaraan ini, adakah yang tidak membawa nikmat. Mungkin sama panjang dengan bocah Sasak, namun bagiku terlalu panjang. Sesedih itukah kisah-kisah kami, sedihkah 'ku ini.  
Bocah hitam kribo yang cuma tahu main bola, anak orang kaya. Ibu yang suaminya sekitar tiga puluhan tahun lebih tua. Seorang dokter yang hanya punya satu pasien, yakni ibu pertiwi, yang jari kelingkingnya hilang seruas digigit istrinya yang separuh sinting. Terlepas separuh atau lebih atau kurang, dapat dibayangkan bau lemak teroksidasi menguar dari setiap lipatan. Semua ini adalah kepingan-kepingan teka-teki hidup, tentu saja bagi mahluk tolol yang dapat lebih tolol dari hewan ternak apatah monyet. 'Ku suka goyang-goyang, kau suka goyang-goyang, kita suka... goyang!

Kubasuh luka-luka hatiku dengan air hangat, sepertinya membasuh sisa-sisa coklat panas. Tak ingin 'ku kembali ke tempat 'ku terluka, yakni masa laluku, masa lalumu, masa lalu siapapun. Apa ada di hadapanku kini, ringkasan disertasi. Setelah Bang Isal, lalu Arif Arrahman, lalu siapa lagi. Kuacungkan tombakku tinggi-tinggi ke angkasa, meski tidak pernah 'ku jadi prajurit sungguh-sungguh. Aku sekadar prajurit karnaval tujuh belasan, meski yang katanya sungguhan 'kurasa juga merasa palsu, main-mainan belaka. Biar Teguh jadi Tanguy aku Laverdure-nya. Tak mengapa.

Ini seperti petualangan Bono 'Viper' Priambodo, Gundo 'Panther' Widyanto, Reza 'Jaguar' Yanuar, dan Herman 'Puma' Susanto, atau siapapun boleh jadi begitu, termasuk Yulmaizir 'Coyote' Chaniago, Firman 'Foxhound' Dwi Cahyono, dan Wastum 'Conda'. Selamanya aku akan menjadi Kopral Bono dan itu kehormatanku, kebanggaanku. Hormat bangga! entah apa artinya. Seperti halnya makanan, mustahil kucicipi semua. Seperti halnya makanan, rasanya akan sama saja. Hanya panas bahkan lecet didapati pada akhirnya. Kuacungkan lagi, kali ini pedangku. 

Pedangku bergagang perak, berbilah putih bermata dua, bersarung jingga berantai emas. Pistol mitralyurku hitam memuncratkan air diberikan kepada anaknya Lik Tukino. Ada juga pistol koboi berwarna emas yang kukata lumayan beberapa meter melontarkan proyektilnya, yang ternyata hanya meleleh seperti mani sudah keluar tiga kali. Seperti petembak tepat yang jangankan tepat, menembak saja tak hahaha. Itu semua hanya beberapa tahun dan segera berlalu, menghadapi kenyataan hidup yang selalu nyata, tidak pernah khayal, semua karena bertemu orang-orang lain.

Biarlah aku kembali ke musim hujan itu, akhir 1990, awal 1991. Sudah pasti ingatanku tidak akurat, tapi biarlah. Bisa jadi bukan lodeh tempe, bisa jadi juga bukan teri goreng telur. Yang jelas, seekor cicak terluka parah dihantam bola meriam yang dimuntahkan Mauser C96 alias si gagang sapu. Ya, bahkan Sandoro si anak Humbang Hasundutan itu tahu ini semua sekadar trivia, remeh-temeh. Maka biarlah aku melontar diri dan khayalku ke musim hujan awal 1993 itu, atau bisa jadi akhir 1992, ketika aku berjalan di sepanjang Pecinan dengan toko roti sebagai tujuan.

Selalu saja roti pizza-pizza'an yang terkenang, mungkin juga es krim. Atau lebih baik kerang goreng dan mienya sekali. Begitulah aku tidak pernah berhenti tolol sampai hari ini. Mengapa aku bersikeras dengan ketololanku, mengapa bebal begini aku. Aku mengira diri begini begitu, nyatanya aku masih berseragam pesiar biru-biru langit, berdasi berbaret biru tua, bersepatu kulit hitam mengilat. Adakah baretku waktu itu ngarang-ngarang sok baret hijau, mengingat aku sudah hampir paling senior. Ketika aku benar-benar yang paling senior, tololku menjadi-jadi.

Menembus api, menembus batas, menembus dinding 

Thursday, September 12, 2024

Membangun Alur, Aku Kesal. Sampai Kapan Begini


Akankah sanggup mengetiki dalam keadaan seperti ini, tentu saja tidak. Untunglah pada 18.30 Samekto menghentikan rapatnya, aduhai lega rasanya. Aku cuma harus menahankannya agak sebentar meski menjengkelkan. Sebenarnya bukan mengetiki ini benar yang menjengkelkan, melainkan tivi yang tepat berada di telinga kananku, meski sudah disumpal ia dengan aquarius. Tahukah apa yang ada dalam cangkir aston itu. Ya, serbat jangkrik sereh masih disimbah madu tresno joyo masuk angin. Puji Tuhanku tak masuk angin sekarang.

Inikah waktunya memasang gambaran yang kusiapkan magrib tadi. Mari kita coba, sedang membangun alur berkumandang di telinga. Berhari-hari sekadar memasang gambar menjengkelkan itu. Ternyata hanya gambar rata kanan-kiri yang dapat dipasang sebelum teks, meski tidak banyak bedanya, sama-sama merepotkan. Kalau begini bagaimana, berapa banyak baris harus dibuat untuk memastikan jumlahnya sama. Uah, dikocok begini memang enak sekali. Masa dimulai bintang-bintang dilanjut kau dan aku lalu malam-malam sepi. Hahaha ternyata hanya perlu dikira-kira.

Menginap di hotel begini memang tidak banyak gunanya, karena selalu saja hanya sebentar-sebentar, sekadar untuk tidur semalam, sarapan sepagian. Padahal tempat senyaman ini seharusnya cocok untuk berkarya, berpujasastra. Uah, ini lagi tiba-tiba engkaulah yang terbaik dalam hidupku sejak dahulu, yang ternyata bentuknya sungguh lucu. Aku sudah terlalu tua untuk bercinta-cinta. Aku cukup begini saja, menjalani hidup dalam cinta; yang jika kubiasakan terus berima begini, sama saja dengan Leonard bermimpi ingin menjadi bintang rap, meski'ku berakhir ilmuwan.
Seluruh alam semesta kita berada dalam keadaan panas dan padat ketika aku menahankan hari-hariku di ruang duduk Uilenstede yang kala itu serasa takkan berakhir. Sekarang pun belum berakhir untukku dan Hadi, penantian ini, sudah untuk Bang Isal. Tahniah! Biarlah kini, sementara ini, kunikmati sedap-sedapnya bergoyang berayun-ayun dari masa kecilku yang mencintaimu sebagaimanamu. Adakah aku pernah ke kampung kalian lalu bermain ayun-ayunan di tepi semacam danau, yang mungkin sebenarnya sekadar empang semacam yang ada di Nging Kemang, kurasa.

Ini adalah pemandangan ke arah utara, kurang lebihnya. Di sudut kanan bawah agak ke tengah itu jalan keluar masuk yang lumayan panjang. Tepat di depan gerbang disambut Alfamart, ke timur sedikit Indomaret, pembunuh-pembunuh hipermarket ini; biar mampus! Tidak ada pula kenangan manisku pada kalian kecuali sedikit makanan yang tiada istimewa atau buku-buku yang diobral. Betapa sia-sia umur yang telah kubuang selama ini, entah berapa yang berguna: Aku akan selalu mencintaimu. Cinta yang selalu cantik, cinta dalam hidupku, Sayangku.
Aku belum pernah ke Berlin maka nafasku tidak pernah diambil siapapun. Aku hanya pernah tinggal di Amsterdam agak beberapa waktu, juga Maastricht. Aku tidak pernah benar-benar ke tempat-tempat lainnya. Aku hanya suka makan pisang yang sudah cukup matang, seperti cantik suka pisangnya matang dalam nagasarinya. Aku ternyata juga tidak terlalu suka carbonara, entah adakah yang benar-benar pas bagiku. Meski dalam keadaan seperti ini, bolognese bahkan aglio olio terasa berlebihan untukku. Mengapa lancar sekali aku berbicara mengenai makanan [keluh].

Kapanpun aku tak pernah suka menyusuri jalan pulang ke rumah dari gerbang atau armada, karena lewat manapun pasti bertemu setan pocong. Lebih baik jalan pintas memotong melalui pangkal jayapura, sungguh sudah lama sampai tiada terasa, karena nyatanya memang hanya dua tahun. Sebenarnya sama dengan Amsterdam, Maastricht dan sebagainya. Seperti ketika menghabiskan waktu-waktu di Palembang yang sudah pasti lebih dari sehari namun sesungguhnya tidak lama. Entah berapa pempek tunu kuhabiskan ketika itu, entah bagaimana kulalui semua itu. Entahlah.

Monday, August 26, 2024

Sejuk, Terang, Hiruk-Pikuk Tempatku Berada Kini


Bagaimana dulu aku bisa berkata aku suka bekerja dalam keadaan berkeringat-keringat. Apakah ketika itu perubahan iklim belum mencapai krisis seperti sekarang ini. Namun ini kebatan siang tadi, ketika Awful dan tantenya baru pulang dari sekolahan dan ia mengajak mencari kesejukan. Kini aku sedang berada di tempat sejuk yang terang namun hiruk-pikuk. Cantik baru saja meninggalkanku dan aku baru saja meninggalkan bukukrom bersama ponselku sekaligus gara-gara penyeranta berbunyi menandakan coklat panas pesananku sudah siap. Hm, minuman ini sedap.
Mungkin saking karena tidak ada yang membuatku bersemangat akhir-akhir ini, sudah cukup lama, bahkan lama sekali, aku merasa agak bersemangat menanti datangnya semester baru. Padahal sudah dari semester lalu pendekatan afdol digelar, apa bedanya dengan sekarang. Apakah semata karena bahannya sudah lebih lengkap dari sebelumnya. Aku lantas saja berkhayal mengenai rumah dengan ruang kerja pribadiku. Sejuknya seperti sekarang ini, tidak terang cenderung temaram, namun hening, hanya terdengar samar-samar suara-suara siang atau malam hari.

Kuseruput habis coklat panasku, menyisakan cangkir kertasnya yang kupajang di atas meja sekadar agar aku tetap boleh di sini. Rp 37 ribu sungguh mahal, bisa empat kali menyeduh sendiri di rumah, semakin membuatku rindu pada rumah yang belum ada itu. Dulu di Amsterdam segala sesuatunya relatif nyaman, kecuali rasa sepinya yang betul-betul mencekam. Adakah aku mengeluh mengenai cuaca pada ketika itu. Kesehatan memang bisa terganggu dalam situasi apapun. Ah, mungkin karena sekadar kenangan terasa nyaman, apa yang dialami terasa kurang.

Mungkin sudah lebih dari dua kali seumur hidupku makan bánh phở, tapi di sini jelas baru dua kali, tahun lalu dan tahun ini, dan keduanya selalu vegan. Jika sudah tua mengurangi gula, sudah mengurangi gula masih mencoba-coba. Sungguh kucinta padamu. Tak mungkin kupungkiri suara hati ini lagi. Memang tak semudah mengucap kata, tapi kesungguhan kita berdua. Selama cinta melanda kehidupan janji bersama. Setua ini, padahal masih muda kata orang, yang kuinginkan adalah cinta agung, tidak lagi kecil-kecil, yang bahkan tak sanggup lagi kuragakan apatah merasakan...

Masih tiga. Sudah sejauh ini suka tidak suka sebaiknya diselesaikan. Aku baru saja membeli lima saset minuman coklat keluaran wings food, mungkin yang termurah. Aku tidak tahu apa yang sedang kurasakan sekarang. Rasanya seperti hampa, seperti tidak peduli apakah senang atau susah atau apapun. Meski melodi-melodi dari jaman Maastricht memenuhi ruang tengah, meski urutannya berbeda, aku tetap menghabiskan serbat sereh dicampur madu masuk angin. Benarkah aku bersemangat menghadapi semester baru, karena semata panasnya cuaca.

Tinggal dua, aku tahu aku memaksakan diri. Bukannya tidak biasa yang memang selalu sedap ini, siapa tahu besok aku bersemangat melahap sebungkus nasi berlauk telur balado dengan sayur tahu labu siam sementara mengajar kelas kapita selekta masalah aktual hukum adat, dilanjut hukum kekeluargaan dan kewarisan adat. Rasanya seperti aku sudah terlalu tua untuk melakukan hal ini. Seharusnya memang anak-anak seumuran Hanna Arinawati, di mana hidup masih membentang luas di hadapannya, yang berbicara panjang-lebar luas-dalam tentang apapun. 

Akhirnya tinggal satu, dan Hanna itu seumuran anakku, bahkan lebih muda lagi. Bahkan Ququq tidak mungkin lebih sotoy lagi dari sekarang, bahkan Awful sudah menunjukkan tanda-tanda. Kuharap kambing tidak terlalu ambil pusing kenyataan bahwa jalan di depan batalyon zeni tempur berlubang-lubang. Mungkin karena zeni tempur bukan zeni konstruksi. Mungkin di situ pula Eri Budiman lahir. Aku bahkan tidak punya dorongan sedikit pun untuk mengutuki diriku, saat ini, meski rasaku lebih baik dari kemarin. Kemarin daku lemas pula mengantuk sepanjang hari... 

Saturday, August 17, 2024

Renungan Kemerdekaan ke-79. Ngungun, Nggetuni


Aku selalu tahu kalau di situ ada suara cello menemani vokalnya pakde Russell, namun baru sore menjelang ashar ini terasa begitu mengena. Benar saja, baru satu kalimat, adzan ashar sudah menggema membahana dari masjid qoryatussalam. Ketukan piano memang mendominasi nada-nada awal yang kau cintai, namun gesekan cello seperti perasaan hangat yang membalut sepasang kekasih tua, yang sudah puluhan tahun mencinta. Orkestrasi pada lagu-lagu pasokan udara memang menegaskan jatidirinya dalam genre batu lembut. Ini entri mengenai apa sebenarnya.
Uah, ini lagi kuasa cinta menghembalangku tunggang-langgang ke atap asbes sepanjang cimone gama satu, tempatku bertengger ketika baru saja memproduksi testosteron. Namun harum wangi masakan ibu, apapun itu, yang akan selalu kukenang sepanjang hayat. Apakah itu tumis buncis tauco atau semur lapis. Betapa bapak bekerja keras sekali ketika itu, di usia awal empat puluhan. Ketika ia mengira segala sesuatu telah berada pada jalur yang semestinya, seperti pesawat terbang sudah berlari di landasan pacu tinggal menunggu mengudara, aku menghancurkannya...

Ketika kau tanpa cinta menyeretku ke masa-masa di antara itu, masa-masa berkhayal mengenai misi membantu pemerintah Makronesia memberantas pemberontakan komunis, dan masa-masa kubuyarkan segala pidato bapak sebagai perwakilan taruna terbaik naik pangkat kopral. Di sini aku jadi teringat Syukran yang menjadi tolok ukur Takwa sampai-sampai ia masuk Teknik Kimia ITB. Dari jaman itu sampai kapanpun aku akan selalu menjadi si tolol dengan pikiran yang muluk-muluk, tidak seperti Takwa yang mengandalkan daya saingnya yang hebat.

Ini pasti waktunya bercinta. Dekap aku kuat-kuat, cintaiku semalam suntuk mengembalikanku ke atas atap asbes cimone gama satu. Namun malam ini mengembalikanku kepada Syukran yang punya kaset pasokan udara bergambar balon udara, yang setelah kugugling ternyata yang kucintai dari 1981, bagaimana bisa. Entah bagaimana, tetapi begitulah ingatanku, seperti selalu kukatakan pada anak-anak yang belajar hukum adat: akurasi fakta tidak penting, yang penting afeksi, semangatmu mengenai topik-topik yang dibahas. Antusiasme saja dapat memberimu A.

Nah, biar tidak bingung memang harus kurang dua orang kesepian. Ini adalah pavilyun di sore hari menjelang ashar yang bahkan aku tidak ingat apakah sholat atau tidak. Aku hanya ingat aku dikatakan "nyantri" oleh ibu ketika sedang mendengarkan sandiwara radio dan sepertinya buru-buru sholat ketika adzan ashar berkumandang. Aku lahir dua hari sebelum ulang tahun kemerdekaan bangsaku yang ke-31. Akan tetapi, gara-gara melodi yang tidak dirantai aku terlontar ke rumah pesiar di malam hari sebelum jam 20.30, karena 21.00 kami sudah harus apel pulang pesiar.

Aku membutuhkan cinta ibu, istri, dan anak-anak perempuanku. Kenapa harus anak perempuan, tanya Awful. Karena anak laki-laki, seperti aku, menghormati, mengagumi, memuja. Ya, meski kini setelah bapak meninggal aku menyesal mengapa aku tidak memeluknya ketika hidup. Aku juga tidak bisa membayangkan memeluk anak-anak perempuanku, terlebih kini setelah mereka beranjak dewasa. Di hari kemerdekaan bangsaku yang ke-79 ini, aku membutuhkan cinta, seperti banyak saudara-saudara sebangsa setanah-airku, terlebih yang hidup di kolong jembatan.

Oh, Jade. Mengapa kau bawa aku kembali ke masa-masa menyenangkan ini, yang enggan kulepas dari anganku, yang kukenang-kenang tiap saat kumerasa sendu. Aku nyatanya tidak punya banyak kecuali kenang-kenangan ini. Bahkan seluruh goblog ini adalah mengenai kenang-kenanganku, yang tadinya ingin kuwujudkan lagi, kuhadirkan lagi dalam bentuk wadag, namun tanpa segala kesakitan dan kepedihan yang ditahankan bapak ibu. Kurasa memang tolol rencana seperti itu, karena yang seperti itu mustahil di sini. Dunia ini tempat segala sakit dan pedih.

Nusantara Baru, Indonesia Maju, Kentutku Bau

Sunday, August 11, 2024

'Ku Tak'kan Pernah Melepas 'Ku Beri S'luruh Cintaku


Apa cocok memulai Minggu pagi bercinta bersama tante Geri dengan rambut keriting kribonya khas 1980-an. sedang di bawah ini adalah sampul the Beatles compleat. Ini adalah salah satu kenangan betapa Ibu suka sekali mengoreksi ketololan, dan betapa kemudian-kemudiannya aku sendiri yang berbuat berbagai ketololan, misalnya: "This is my book. I am buying this book is in pasar anyar." Apa aku harus menyalahkan bukunya, mengapa ia mengajarkan present continues terlebih dahulu sebelum simple present. Apa iya begitu. Apa semua memang salah sendiri.
Haruskah kucatat Rahmadhani Nur Widiyanto canggung bahasa Inggrisnya, sedang pagi ini aku terjerembab di awal 1996 M yang kiranya bertepatan dengan Ramadhan 1416 H. Jiah, ini lagi, siapa yang tidak akan pernah mengecewakan, yang 'kan selalu berada dekat 'ku, di sini untukku, karena mencintaiku. Itu membuat Ramadhan 1417 H jatuh pada sekitar akhir 1996 M. Masya Allah, dua Ramadhan dalam setahun masehi, seharusnya tahun itu adalah tahun yang diberkati. Namun aku terlalu tolol untuk menyadarinya, terlalu banyak kesakitan mendera. Oh, amat sakitku.

'Tuh, seperti di atas, aku sering berbuat kesalahan. Satu tahun masehi dengan dua Ramadhan itu terjadi pada tahun berikutnya, yakni, 1997, pada 10 Januari dan 30 Desembernya. Aku takkan pernah membiarkanmu pergi, 'kan kupeluk kau dalam dekapanku selamanya. Siapa. Tentu saja cantik. Mengapa tidak kau datang semenjak itu. Mengapa tidak kau selamatkan daku. Ah, lelah hayatiku. Adaku sekarang ini masih terus-menerus menanggung kesakitan demi kesakitan. Hanya saja ada cantik di sisiku, tak jauh dariku, bila-bila menghambur padanya mencari nyaman. 

Burung-burung malam yang menutup puncak terbaik ketujuh pun tak pernah jauh dariku. Sampai 20 tahunan pertama hidupku selalu beterbangan, berhinggapan di sekitar nuraniku, sedang hati sanubariku berdegup-degup masih nyaman dalam rongga dadaku. Apakah ketika itu tiga kali dua bungkus mie instan lengkap dengan uborampenya kujejalkan melalui belakangnya menyesakkan lambungku, seperti mie ayam jamur masih dihantam fuyunghai dan capcai dengan nasinya membuatku tersiksa kekenyangan di kakus lantai dua cipinang jaya. Amat panjangnya.

Terlebih jamannya mbak Debby ini aku belum mengenal kesakitan atau sudah. Masa-masa yang tidak ada gunanya, bahkan ketika tiga tahun di Magelang itu. Tak perlu dijelaskan karena memang tiada yang berminat. Tak perlu diceritakan karena memang tiada yang mendengar betapa pernah kupandang gunung sumbing dari kakinya, di sebuah perumahan entah di mana. Mungkin tante Nesti membelikannya untuk oom Nonong. Apakah semua orang mengalami kesakitan-kesakitan pada saat itu, atau hanya yang tolol sepertiku, tak bisa dibandingkan dengan gang pepayamu.

Dini hari menjelang subuh terbangun, apakah karena tenggorokan kering. Minum segelas air, menyalakan tivi hanya untuk dikatakan tak bisa dibandingkan denganmu. Setelahnya tentu aku tidur lagi, meski tak bisa kuingat kapan bangunnya, setelah itu mengapa. Apakah ke stasiun UI agak ke selatan, membeli nasi uduk portugal itu yang kusukai lebih dari lain-lainnya karena becek berkuah berbumbu. Apakah setelah itu memakannya di meja direktur yang sentosa sedang tiada sesiapa di situ, atau malah mencongklang VarioSty gaya-gayaan pura-pura seperti dosen BHMN UI.

Kini di belakangku kambing dan orong-orong menonton kartun seperti sepuluhan tahun lalu. Kini sudah sepuluhan tahun berlalu dari sepuluhan tahun lalu. Kini aku sudah tak sesehat sepuluh tahun lalu karena kuterus-teruskan kebiasaan dari sepuluh tahun lalu bahkan lebih, dari ketika sarapan dengan nasi uduk portugal itu. Entah sudah berapa versi nasi uduk mengisi hatiku, tiada yang menandingi rampok baru yang nomer dua pasar kebayoran lama itu. Semua karena bapak. Hidup memang hanya begini saja, maka pastikan mengisinya dengan hal-hal yang berguna. Oke.

Tiada yang 'kan mengubah cintaku padamu

Wednesday, July 31, 2024

Petualanganku di Seputar Tugu Tani, Segitiga Senen


Apa pernah seperti ini, bersama cintaku di tengah hari bolong yang terik membakar begini, selain kulaungkan di bilangan Uilenstede di depan kulkas. Bagaimana pula 'kan 'ku kisahkan petualanganku di seputar tugu tani, segitiga senen, sedang sudah malas sekali aku merinci apa-apa yang terjadi pada badanku, kecuali pikiranku. Aku hanya ingat, di Sabtu itu udara sudah panas membakar seperti ini. Ah, cintaku kembali. Adakah yang mencintaiku. Tentu ibu mencintaiku lebih dari segala-galanya di seluruh dunia ini, meski tidak adik-adikku. Kami semua dicintai, teramat.
Kuteguk-teguk air hangat yang menyehatkan jiwa raga, bukan sekadar karena airnya, karena itulah azimat dari ibu, nasihat ibu, pesan ibu, yang akan kuingat sepanjang hayat. Dan di mana pun aku berada, nasihat ibu bukan sekadar pedomanku, melainkan azimat. Keramat. Seperti cantik menyayangi segenap jiwa raga kambing yang dilahirkannya, seperti itulah kasih-sayang ibu padaku. Menyelimutiku seperti kepompong sutra yang hangat menyamankan, nyaman menyejukkan, yang meski direbus, dibakar, dipanggang betelgeus pun tidak akan rusak, mustahil akan sirna.

Akan kupasang semua gambar yang kuambil di seputaran tugu tani, meski tidak benar-benar ada dari segitiga senen. Biar apa... tadi cantik tiba-tiba datang dan seperti biasa kuhentikan semua kegiatanku untuk bersamanya. Yang jelas, kubiarkan Putra Damanik mendentam dan mendeburkan pendengaranku dengan racikan asmara terkalibrasinya. Mungkin akan kutoyor bocah yang membuat liriknya, sekaligus penggubah lagunya, yang memang candu 'abis. Di bawah ini akan segera kupasang pemandangan lapangan tempat tugu tani dari ketinggian lantai sembilan, dari suatu pagi.
Ya, baru saja kuingat bahwa dulu ia dikelola oleh Hyatt seperti halnya yang di Senayan dulu oleh Hilton. Keterangan ini penting, karena Ambassador mulai menjadi Hyatt Aryaduta pada tahun kelahiranku. Nah, kata Ci Wen, jadi ketahuan 'kan umur 'lo. Memang bersejarah sekali, karena masih ada bak mandinya. Di titik ini, aku membatin, seperti apa pemandangan ke arah utara, yang gambarnya, pada Senin, 29 Juli 2024 tampak seperti di bawah itu. Seperti apa ia 50 tahun sebelumnya, apakah masih ada yang mandi di Ciliwung perkasa, di meander gang prapatan ini.

Hei, meski Arthur masih terpesona, aku sudah tidak merasakan apa-apa. Ke mana perginya pesona tujuh tahun lalu itu, seekor merpati putih itu. Pergi saja kau, memang aku sudah tidak peduli. Hanya saja malam ini bersama Arthur, harus kuakui, kami masih sama-sama terpesona. Malam-malam ketika aku terbangun, turun membeli sebotol besar air botolan, tiga bungkus kerupuk legendaris, masih ditambah secangkir plastik minuman jahe merah. Aku bahkan tidak mulai mengitiki ketika itu, takut tambah tidak bisa tidur. Maka aku hanya membaca-baca bersama kegondrongan.
Uah, untung masih tertancap dia di situ. Padahal sudah kupindah. Padahal tadi, ketika diajak jatuh cinta, ia tiba-tiba tercekat. Itu lihat di sudut kanan bawah gambar di atas, ada mushala atau malah mesjid kecil di situ. Apakah dari situ datangnya tarhim yang membangunkanku, yang membuatku sholat qobliyah subuh. Mencoba tidur lagi setelah subuh, gagal. Mencoba mengetiki sambil menunggu jam enam agak lewat, akhirnya turun sarapan. Diganggu Prof. Sedar, lalu Pak Ilham, HP-11CB hanya teronggok di situ. Tidak. Tempatku di sini, di kamarku sendiri sini.

HP-11CB ini pelantangnya sedap-sedap renyah begini. Aku memang tidak terlalu membutuhkan dentam berdebam kecuali yang memang kusumpalkan di telinga, meski aku bersyukur tivi pintarku mantap pelantangnya. Bahkan bass orkes telerama pengirim oom Boudewijn Maulana sampai terdengar sedap berdentam-dentam. Apa setelah ini aku masih sanggup menghasilkan entri yang lebih koheren dari ini, atau langsung mencoba tidur, entahlah. Rasanya aku masih ingin berkarya. Aku tidak rela tidur sedang hanya entri inkoheren ini hasilnya. Aku tidak tahu. 

Thursday, July 25, 2024

...atau Sekadar Karya Seni Cantik, Dingin, Kesepian


"Kamu 'gak tahu sih betapa indah syahdunya." Seperti biasa tiada tanggapan, karena aku memang tidak berbicara kepada siapapun secara khusus. Aku berbicara pada diriku sendiri, kenangan akan khayalan-khayalan yang tidak pernah dan tidak akan terwujud. Waktu-waktu yang telah berlalu bagai mimpi. Apa ini aroma kamarku dan seluruh rumah sewaan di Sint Antoniuslaan itu yang melintas di indera penciuman, atau sekadar khayalanku; atau aroma rumah sewaan yang penuh berdebu dengan perabotan tua. Rumah yang seharusnya cocok bagi suasana pedesaan, namun sekelilingnya sudah berubah menjadi perkotaan. Uah!
Mataku menatap kosong ke udara malam, seperti malam-malam yang pernah kutatap kosong. Apakah di metromini jurusan Blok M atau Pasar Minggu, dari Pasar Minggu atau Manggarai, bahkan Kemayoran Gempol ke Pasar Senen. Kusebut nama tempat-tempat ini, ketika malam sudah menjelang larut dan perutku penuh berisi kuah soto dan sayuran. Tentu ada sedikit nasi merah dan suwiran daging dada ayam. Malam-malam begini jangan masih di luar di manapun. Lebih baik sudah di kamar dengan tirai gulung yang seingatku hijau juga, hanya saja lebih cerah ceria.

Apakah malam-malam mengetiki kebangsaan Indonesia di akhir abad keduapuluh, atau sekarang masih begitu juga di abad keduasatu yang sudah beranjak hampir seperempatnya. Jari-jariku lemah tak mengepal meski lengan-lenganku masih menggapai-gapai langit malam, mempertontonkan ketiakku yang masih beberapa hari dicukur klimis. Aku telanjang dada memang, keringat membasahi kepalaku berambut tinggal seadanya. Keindahan ini terus membelaiku hampir selama empat puluh tahun terakhir ini, seakan belaian kasih-sayang ibuku yang aku telah lupa.

Keindahan tiada henti menderu menerpa. Dari mana datangnya, bagaimana caranya. Mie goreng jumbo biru rasa ayam panggang sebungkus kemudian sekardus lengkap dengan kompor satu tungkunya. Minyak tanah, dengan sumbunya yang seperti kaus lebih praktis menggantinya dibanding yang bersumbu banyak. Beberapa kali digunting jika sudah gosong terbakar, membuat apinya kemerahan dan berasap banyak. Jika baru digunting aduhai apinya biru cantik membakar sempurna, memasak berbagai-bagai pun oblok-oblok tauge tahu matang.

Kesakitan demi kesakitan deru-mendera, terus menerpa, disusul kesakitan yang entah kapan 'kan sirna. Sesampainya di sini bisa jadi sudah malam, aku lupa. Televisi tidak ada, hanya radio saja lamat-lamat melangutkan lagu-lagu dari dua tiga dekade lampau. Bisa jadi asap rokok dan uap kopi terus mengepul-ngepul. Bisa jadi bacaan demi bacaan susul menyusul. Permadani kecil namun cukuplah untuk telentang sepanjang 171 cm. Hanya ada itu, lalu meja tulis yang jaya, lantas rak buku kecil nan bersahaja. Diganti Fujitsu yang tak pernah terbang seperti mesin tik hijau. 

Diganti promag yang akan dilahap beberapa butir karena tidak merayakan ulang-tahun. Jalan lewat belakang situ sampai ada McD-nya di tempat parkir, masih enak kemakmuran sapinya, kapal uapnya. Terkadang berjalan ke Plasa Semanggi ketika masih ramainya, pulang dengan taksi uang dari mana. Aku masih punya kamar sendiri ketika itu, lantas segera saja kutinggalkan kembali ke sini, ke tepian Cikumpa. Memandangi jalan Blok M yang lengang pada pukul setengah sepuluh malam, begitu damainya. Terlebih dengan Maria Elena berjungkat-jangkit begini-begitu.

Aku mencelat ke lantai dua Yulimar yang tiada ingatanku mengenainya, kecuali ketika datang, di dapur kecilnya yang permai, aku memasak Indomie. Kompornya bersumbu banyak, harus disundut dengan lidi. Hei, aku ingat ada sundutan khusus dari logam. Tidak ada kainnya, namun ujungnya seperti bersarang begitu. Dicelupkan ke dalam tangki, ia akan menahan sedikit minyak tanah di sarangnya itu, sehingga berkobarlah sedikit api cukup untuk menyulut sumbu. Adakah disulut sedikit berkeliling, mungkin saja. Memasak sup dengan mie basah, sayang gagal. 

Wednesday, July 24, 2024

Kapten Mlaar: Hei, Dayang. Sini Kuhisap Madumu


Terakhir di sini juga kalau tidak salah hasilnya cuma entri goblok. Terlebih lagi kini badan masih terasa kurang endeus. Mana barusan ada kambing menghirup kentang isi. Ini lucu, karena kentangnya dipotong panjang-panjang kurus disiram dengan saus daging dan keju, tapi dikata isi. Lebih lucu lagi aku lupa apanya yang lucu karena cantik keburu datang. Kami pun aplus karena jam sudah menunjukkan pukul empat belas lewat sedang aku belum sholat dhuhur. Mengantri lift lama tidak mengapa daripada harus berjalan dalam kondisi badan kurang yes, turun baru naik.
Ini orang katanya kena dimadu cinta sampai begitu. Entah yang di belakang itu madunya.
Hanya sok cerdik yang terpikir olehku dari tadi, meski tak dapat kulupa out of the boox. Tidak bisa lain itu pasti bubaran toko buku. Aduhai sedih sekali melihatnya, banyak pula seri kecil-kecil punya karya dan berbagai judul yang ditujukan bagi anak-anak. Bagaimana mungkin buku bersaing dengan mata satunya penipu akbar. Entah mengapa selalu selatan perbatasan keparat seakan menghantui. Mengapa tidak teman sebangkunya. Mengapa tidak dari dulu ketika dikata Itang Yunasz. Sungguh seandainya mungkin aku tidak mau makan; andai tak jadi dingin.

Uah, malah dikata francis gayo musik gunung agung, semakin melangutkan jiwa. Teringat gramedia dan gunung agung di mal pondok indah asli, tempat yang sungguh menyenangkan. Aku selalu sehat dan kuat jika ke situ kala itu. Tidak ada keluhan, tidak ada ketakutan, hanya kemaluan menggantung di antara kedua belah paha yang masih kokoh kekar. Di sekitar mungkin berbagai horor terjadi, bahkan di mana aku menjadi sebabnya. Namun yang kurasa ketika itu hanya nyaman dan tolol belaka, meski seringnya tidak sanggup beli apa-apa. Ada uang dari mana.

Apa kukenang-kenang saya michiyo sop ayam paris bahkan doremi soto dan segala onderdilnya itu: telur sudah pasti. Di minggu pagi mengetiki seakan tiada yang peduli sudah kulalui entah berapa dekade. Seperti apa mingguku di sepur derek atau Uilenstede atau Kees Broekman. Berjalan-jalan tolol ke arah Oosterlijke Handelskade atau lebih tolol lagi ke Vennepluim, di mana pun itu di Amsterdam pasti berakhir jalan-jalan tolol. Tiada yang patut dikenangkan, kecuali aku anak tolol yang merasa bangga berfoto-foto di entah-entah mana Eropa. Tololku tidak seperti itu.
 

Ini biar selesai saja. Biar tayang. Sudah berapa kali berhenti, setidaknya dua kali. Ini sekarang hampir di tengah-tengah hari bolong di laboratorium hukum yang entah bagaimana konsepnya ini. Tidak ada yang betul-betul memikirkan sedang aku merasa seperti sendirian memikirkan segala sesuatu. Mungkin seperti ini yang dirasakan adikku jika ia merasa seperti musuh nomer satu semua orang. Uah, rampak sekali mengetiki seakan ada yang menggendangi, sedangkan Roger Taylor menggebuki tambur-tamburnya. Di luar terik sekali sedang di dalam sini aduhai sejuk.

Tidak ada yang benar-benar jadi masalah. Semua orang dapat melihatnya. Tidak ada yang benar-benar jadi masalah buatku langsung dihentak dengan dentam-dentamnya bass senar maupun membran. Aku menyukai Paul mungkin karena aku lebih mirip John. Aku kurang suka John mungkin karena aku mirip dengannya, bukan karena aku seperti Paul. Terkadang di dunia ini orang-orang tolol di atas bukit menjadi terkenal, mungkin kecuali Jeremy. Apa benar yang dilakukannya, memburai isi kepalanya sendiri, mengulum laras pistol dan menarik pelatuknya. Jedar!

Hei, kalau begini aku merasa sedang berada di ruang tamunya kantor notaris Media Sari di bilangan Radar AURI. Kalau Bang Destianto Nugroho Utomo memang cocok menjadi komandan pangkalan udara Halim Perdana Kusuma seperti pendahulunya Wisnu Djajengminardo. Aku cocoknya cuma jadi seperti ini. Kalau ternyata sampai mati aku begini-begini saja... ya jangan juga. Kasihan Bapak. Namun melihat reaksi Takwa membuatku berpikir mungkin aku akan terus begini-begini saja, hal mana aku sungguh tiada peduli. Aku  ini dank not dut, punk not dead.

Wednesday, July 17, 2024

Ang Babu, Pemimpin Sherpa dan Sampah Jenazah


Akan halnya gambarnya begitu, aku memang sedang di Kyoto. Tidak, aku tidak bersama Ryan. Tadi aku malah bersama Junaidi ketika begitu saja aku merasa lebih baik. Insya Allah tiada lama lagi pun aku akan merasa lebih baik, dan Allah akan mengaruniakan tidur yang nyaman, nyenyak, dan menyehatkan. Tidur yang penuh berkah. Aamiin yaa Robbal 'aalamiin. Untuk sementara ini kubiarkan bikkhu-bikkhu entah dari sekte apa berjalan di antara bebatuan, lava kurasa, bersama umat-umatnya. Kini Khan Younis dihantam serangan udara, aku jadi merasa harus prihatin...
Sekarang, seperti entah sudah berapa malam, bertahun-tahun lamanya, aku ditemani Emmanuelle. Seperti halnya Denny "Kencong" al-Hamzah, aku tidak pernah tahu seperti apa raut wajahnya dan tidak pernah ingin membayangkannya pula. Apakah warnanya nyaris sama dengan kulit selebihnya aku juga tidak terlalu mempedulikan. Emma memang selalu sedap jika setengah berbisik begini, ketika segala kesedapan sudah harus meninggalkanku. Keberanian menghadapi hidup ini, seperti dicontohkan Yamashita Tomoyuki, ketika kalah menjadi satu-satunya kesalahan: Mati.

Menulisi begini, mengitiki memang jauh lebih sedap ketika muda. Mungkin bahkan juga menulis buku akan jauh lebih semangat. Betapa ketika muda belum tahu apa-apa, rak-rak toko buku seakan menjanjikan ekstase berupa pengetahuan pemuas dahaga keingintahuan. Apa judul buku kecil bersampul kelabu itu dulu, yang tidak enak dibaca, yang kubeli di Gunung Agung Blok M dekat Bakmi Gajah Mada. Pemerintahan Islam, ada sendi-sendinya. Dunia baca, dunia muda-muda. Gramedia dan Gunung Agung bahkan dulu berjaya di Pondok Indah Mall nan hanya satu.

Aduhai dapat terbayang betapa sedapnya nuansa tanpa pengulangan ilham, seperti kesedapan yang pernah direguk, digelegak, melumuri sekujur tubuh tiap-tiap relungnya. Betapa sedap apapun itu cinta dewasa muda. Sementara aku, hanya dapat menengadah, mungkin menjulurkan lengan-lengan ke angkasa, meregangkan jari-jemari meraih-raih khayalan mengenai impian-impian. Ini semua terjadi di parkiran belakang Margo City ketika masih luas, masih ada mushala di pojokan itu. Masih ada semua yang kini sudah tiada, bahkan air mata di dapur belakang pun ada.

Jangan menyerah, jangan menyerah dimainkan dengan cabasa atau afuche. Segala puji hanya bagiNya pengayom semesta yang masih mengizinkanku belajar mengenai sesuatu yang baru. Bahkan mengolah paradoks-paradoks kecil...
sampai di sini hari-hari t'lah berganti. Entah apa yang terjadi pada Esih Kurniasih. Aku sendiri, entah apa yang terjadi padaku. Yang jelas, aku kehabisan ide mau diapakan sawi putih, labu siam, wortel, dan mungkin putren alias jagung muda. Masa dimasak dengan soun lagi, dengan telur orak-arik lagi, ayam 'ntah dikecapin atau dicabein

Yang jelas juga, aku tidak pandai mencari uang dan malas bersedekah. Aku polit. Aku selalu merasa miskin, itulah sebabnya aku malas bersedekah. Tadi saja parkir di Pandawa tidak bayar, padahal di dompetku ada uang Rp 50.000. Sepuluh ribunya sudah kubelanjakan sayur acar dan labu siam di warteg sederhana seberang PLN Sukmajaya. Ternyata di dalam kulkas HAN masih ada sekepal nasi berorek tahu entah dari kapan. Semoga masih enak. Aku entah hemat entah pelit. Aku bersembunyi di pojokan sini tempat biasa Prof. Anna bersembunyi juga. Begitulah adanya.

Bisoprolol membuat jantungku berdetak sungguh perlahan jika sedang dalam posisi beristirahat. Terlalu banyak yang kuabaikan, kusangkal, sampai aku tidak tahu lagi apa yang kupedulikan. Bahkan dokter Kamto tidak terlalu berminat dengan cerita-cerita mengenai kesehatanku. Kurasa ia sudah terlalu banyak mendengar cerita mengenai kesehatan terlalu banyak orang. Uah, mengapa aku harus bertemu Pak Yohanes Purbo Iriantono, sedang Yohanes Gunadi saja sudah mati. Pak Anton ini malah ingin bertemu orang yang sudi membunuhnya 'tuk menembak kepalanya.  

Wednesday, July 10, 2024

Balada Telur Setengah Matang, Kentang Ketantang


Sembari mengupas telur yang baru saja kurebus, kubuka jendela samping wasbak. Jendela kecil yang menghadap ke arah Cikumpa. Dari jendela itu pandangan terjun agak lima atau setidaknya empat meteran ke sebidang kecil lahan di bantaran kali yang mungkin dulu adalah sepetak sawah pasang surut. Di kejauhan terdengar seorang ibu bersholawat thibbil qulub dilantangkan dengan Toa. Sabtu pagi ini cuaca mendung, udara cenderung sejuk tidak sampai dingin, tak berangin. Telur rebusku ternyata setengah matang, seperti dapat diduga. Kurebus mungkin kurang dari lima menit.
Sambil menunggu telurku setengah matang tadi kubuat juga susu semug porselin hitam. Seperti dapat diduga dari entri-entri goblogku ini, mungkin dari lima tahun terakhir setidaknya, aku sekadar mencoba merekam kebatan kebitan pikiran yang berkesiuran sementara aku tidak mengerjakan apa-apa, atau sekadar hal sepele seperti melarutkan susu bubuk dengan sedikit air panas. Terkadang malah aku benar-benar tidak mengerjakan apa-apa kecuali duduk menghadapi alat produksiku, jika dapat disebut begitu: produksi, maka kurekam saja segala kebat-berkebit.


Dua alinea di atas dari Sabtu lalu asalnya, 6 Juli 2024, ketika kampung Serab diguyur hujan dari sekitar dhuhur sampai isya'. Istriku sayang pergi ke makam Mamanya bersama Kak Tina. Sepulang dari sana lanjut ke Thamrin City membeli kaus oblong dan celana pendek untuk Kambing. Lagi kenapa pula Kambing diberi berkaus bercelana. Ini sudah hampir jam 10. Badanku penat setelah seharian disembur pendingin udara gara-gara di ruang bidang studi ada seekor beruang kutub bernama Efraim Jordi Kastanya. Untung tidak ada dua-duanya, Conrado Maximanuel Cornelius.

Adanya aku mengetiki malam ini, aku rindu entah kepada siapa; Mungkin pada diriku sendiri. Betulkah melodi jaman baru ini menyembuhkan, ditingkahi gericik air sedang aku berkeringat begini, ditenagai secangkir 75 tahun Nescafe coklat Cadbury. Mengapa tak kucoba saja kopi pahit kapal api. Siapa tahu betul kata orang, kalau tidak diberi bergula tidak menyakiti lambung. Coklat Cadbury ini aduhai manisnya, padahal buka puasa tadi aku sudah meminum semug besar teh bendera dengan gula sesendok, mungkin sekitar 15 gram. Aku basuh kini dengan air panas lagi.

Mungkin harus kuputuskan juga rindu kepada siapa. Mungkin benar pada diriku sendiri dari masa-masa yang lebih muda meski dungu. Mungkin bau yang tiada berapa sedap, bentuk yang tentu saja tidak bagus, namun aku sudah terlalu terbiasa melahap ironi mentah-mentah begitu saja. Hidup ini tidakkah ironi, tragedi dari rumah Tante Yunani yang sekarang sudah menjadi sushi tengoku. Jika aku masih hidup sampai kini semata komedi ilahi. Jika Bung Karno tinggal tersisa tulisan-tulisannya kubacai, dicemooh Didik Purwondanu sesama GMNI. Begitu saja tanpa terkecuali.

Ahaha ada yang kurindui. Berapa banyak tentu sedikit. Betapa ajaib sampai setua ini masih melihat baliho besi setinggi atas gang kecil toko buku Islami. Menggelandang di antara Gang Kober dan Haji Mahali, salah satunya dengan sandal Bata berbintil-bintil yang selalu kukenangi. Apakah berada dalam satu kerangka waktu aku tiada begitu peduli. Mengapa tidak kunikmati karena dengan itu mungkin aku 'kan terbebas dari api. Apa benar, apa pula yang kurindui, semua berlalu seperti hembusnya angin mengangani. Aku terdengar seperti Ali Muthahari, sungguh pun bisa jadi.

Hidup ini kujalani tanpa mengingini. Jikapun figur aksi, aku ingin menggambari. Dapat kubayangkan kusket dengan pensil, kutebalkan dengan tinta, kuwarnai dengan spidol, kubingkai kukacai. Tidak. Mengalir saja. Apakah tertumbuk pada komputer permainan aku tiada berharap tiada peduli. Betapa hidup yang kulalui mengerikan sekali, tiada pernah terbayang sampai di sini. Sampai ke mana lagi lengan mengepak-ngepak kaki memancali, kepala kadang timbul kadang tenggelam udara menghirupi, menghidupi. Secangkir air panas bukan kopi, kenapa begini.

Monday, July 01, 2024

Kau Boleh Lari dan Sembunyi, Jangan Bernyanyi


Lenyap semua kebat-berkebit gara-gara ribet menggambarkan, atau memberi gambaran. Hanya untuk dihapus karena lengket menempel pada teks. Sudah lama aku tak memberi gambaran inzet rapat kanan atau kiri atau entah apa aku menyebutnya dulu. Membuka Minggu pagi yang indah lagi cerah dengan upil kolins entah tepat atau tidak. Halah, ini lagi. Sekadar mencari tempat makan sensi bertema sok laut namanya apa atau entah di situ atau tidak menambah keribetan. Cewek gampangan membawaku kembali ke Sarinah yang menjual pernak-pernik halowin, jaman segitu.

Eh, malah diajak bercinta sama yang cinta bercinta. Mengapa ia membawaku ke suatu pagi di Jogja, di Jombor tepatnya, ketika sekeliling masih sawah, aku tak tahu. Apakah segar udara, apakah basah aspal, apakah kulangkahkan kakiku entah ke mana, selokan rapi bersih berair coklat mengalir lancar mampir ke ingatan. Kenangan akan cinta yang tidak pernah ada, atau bahkan kenangan akan khayalan tentang cinta yang tidak pernah mengada. Kata-kata saja tak kuasa melukiskan betapa entah apa namanya. Menyedihkan? 'Tuh, sampai terpaksa menggunakan tanda tanya sekadar menekankan. 

Dorongan untuk menikmati camilan kecil-kecil memang tidak pernah hilang, meski sekadar pangsit goreng ji-em, keripik sanjay, cistik. Bermacam-macamnya itu yang menggairahkan, masing-masing unik dengan ketiadaan gunanya, bahkan membahayakan. Aku pulang saja ke rumah Yado nan permai di siang terik yang tak memanggang. Terlebih begitu memasuki keteduhan rumah, sejuk belaka, nyaman belaka. Apakah itu setelah wajan dengan Yan, atau sebelum latihan dasar, atau badan oleh Joko, apapun itu tidak pernah memberiku apapun kecuali kenyamanan.

Lantas apa ini melontarku, menjerembabku ke masa-masa asap jarum super kebul-berkebul, secangkir besar kopi pun, entah apa-apa kukerjakan bahkan sampai hari ini. Apa benar yang terjadi di minggu pagi kecuali kampus sepi. Aku tidak benar-benar ingat adakah minggu pagiku saat itu. Ingatanku akan minggu pagi justru dari saat-saat setelahnya. Bu Mideh atau gado-gado tidak perlu minggu pagi benar. Tepatnya, semua waktu terasa minggu pagi di sana. Mau siang, mau malam, aku tidak ingat menonton sepak bola pun, berandai-andai sahabatku dari luar angkasa.

Aku merasa sangat aman 'pabila kita bersama, sedang mug berisi teh panas bergoyang-goyang karena hentakan-hentakanku. Tinggal masalah kebiasaan saja dengan kepala gula ini, toh rasanya tidak jauh berbeda dari gula sungguhan. Semoga aku tidak lupa ketika membaca tulisanku mengenai gerobak merah ini, yang kumaksud tiada lain adalah Redwagon-nya Mang Imas. Uah, ia rilis pada akhir 1984, nyaris bertepatan dengan ulang tahun terakhir Uti. Masih teringat foto itu, Wajah Uti terlihat lelah dikelilingi cucu-cucunya menyanyikan panjang umurnya.  

Meja tulis yang selalu berantakan. Tiap kali ditertibkan sampai selapang lapangan udara, pasti berserakan kembali segala entah-entah. Jangan tanya alasan mengapa. Itu sama saja mencampur-adukkan kenangan mengenai kapal latih taruna satu dan dua, yang masing-masing dikomandani oleh Kapten Apri Yani dan Kapten Yudo Margono. Yang belakangan ini malah sampai menjabat kepala staf tentara nasional Indonesia angkatan laut. Bintang empat dia, laksamana penuh; sedangkan Kapten Bambang Pramusinto, kalau tidak salah, hanya sampai pertama.

Ada lagi Kapten Marinir Joko Supriyanto. Abang-abangku semua itu. Aku saja yang kurang-ajar tidak mau menjadi adik mereka. Apakah aku masih sekurang-ajar dulu meski sampai sekarang. Apa yang kulakukan di Minggu menjelang siang ini, sudah waktunya 'kah album minggu ini. Semua itu telah berlalu. Sekarang menghadapi kenyataan jaman baru, Abad ke-21. Yang kusebut anak-anak bocil sesungguhnya adalah pemilik sah Abad ini. Aku dan semuanya sebayaku sekadar menumpang. Aku adalah anak-anak abad lalu. Ketika itu masih ada jalan Patrice Lumumba.

Friday, June 28, 2024

Gadis Kecil Tidak Bermurah Hati dengan Hujannya...


...dan gadis kecil ini berbahasa Spanyol, seperti Luis Bordon, meski aku tidak yakin apakah, seperti Luis Bordon, ia berasal dari Paraguay. Setua ini sudah habis sama sekali, jangankan keinginan, sekadar khayalan untuk apapun, seperti ketika kucoba menahankan Kuba di Selexyz Dominicanen. Apakah kulakukan di kloset lantai dua Laathofpad Zes sampai di Sint Antoniuslaan. Seperti biasa, menyebut tempat-tempat bernama asing seakan-akan seperti orang-orang. Padahal bisaku ya hanya ini, ngomyang. Ini, mengetiki seperti ini padahal tidak satu pun akan peduli.
Paragraf di atas dan judulnya sekali berasal dari 17 hari yang lalu. Saat ini, aku menyendiri bersama Roxann tanpa "e" di sebuah pojokan temaram yang selalu kusuka entah sejak kapan. Entah sudah berapa pojok temaram kualami dalam hidupku. Aku jadi ingat meja direktur yang begitu selesa sampai memakan tempat, di pojokan itu dekat mesin air. Pendingin udara menyembur dari hadapanku. Di bawahnya sofa yang disainnya disederhanakan Mang Yayan atas permintaanku. Uah, ketika itu Sopuyan yang bikin gara-gara. Kali ini aku. Aku nan bikin gara-gara bikin unit riset.

Sekarang bahkan aku harus mengurangi drastis konsumsi teh hitamku. Teh hijau boleh. Kopi bahkan boleh, andai lambungku masih bisa menahankan. Rumah bapak entah bagaimana membawaku kembali ke bekas kamar praktek dr. Hardi Leman yang seingatku sejuk meski tanpa pendingin udara. Temaram juga karena bohlamnya diselubungi selongsong bekas tisu gulung, akal-akalan adikku. Jadi selongsong itu digunting sehingga bisa melebar mengikuti lingkar perut bohlam. Tas koper bekas seminar kagungan swargi Pakde Lentu, coklat dengan sedikit batik, berisikan alat-alat tulis. Uah, apalagi yang ini. aku akan di sisimu.

Sebenarnya di depan jendala ini, memandang ke taman jurasik baik siang maupun malam hari begini, nyaman juga. Meja ini pun seingatku dibeli agar aku dapat bekerja di sini. Memang cukup bukukrom ini saja jika untuk bekerja. Bukan sekadar, melainkan memang untuk bekerja. Untuk apa yang lainnya. Benarkah aku masih ingin menghancurkan peradaban-peradaban. Teringat kembali di lantai dua Laathofpad Zes membangkitkan bangsa-bangsa, sedang di luar Veolia membelah salju. Semua ini bercampur aduk jadi satu, bagai gado-gado atau rujak petis, yang kualami.

Hahaha jika kuingat-ingat '88-'89 itu di sebelah utara, sedang '89-'90 di sebelah selatannya. Tak satupun yang kulakukan dapat menggantikanmu, begitu kata Jimmy Harnen, Aku masih kelas satu esempe waktu itu, sebesar Adjie sekarang. Adjie pikirannya cornering tok. Aku, apa benar yang kupikirkan waktu itu, sebagai anak terpandai satu SMP Islamic Village. Termasuk yang ini, setengah gila, terasa benar ketika itu, meski sudah ada sejak sebelum pindah. Masakan Ibu, uang belanja dari Bapak. Aku di awal '90-an. Bapak di pertengahan '60-an. Adjie di awal '20-an. Ya.

Sebelum terharu-biru, aku terbetot maju sekitar enam sampai tujuh tahun ke depan. Tidak pernah temaram benar, karena selalu memakai neon meski yang diulir ke fitting bohlam, suatu inovasi khas '90-an. Meja tulis Bapak yang Ligna ada padaku, entah bagaimana cara membawanya aku lupa. Terpenting, rak buku kecil jelek buatanku sendiri. Bukunya sedikit tetapi kubaca semua. Terpenting, kaset-kaset Ibu. Beberapa di antaranya pernah menemaniku di Magelang. Di sini, Christie menjelang dan menyeretku ke pusaran waktu, terjerembab di mulut jalan tol peti kemas.

Seandainya rasa seperti ini selalu saja, rasa-rasanya aku dapat memberondongkan semacam "Kebangsaan Indonesia di akhir Abad ke-20" atau yang sebangsanya. Akankah ini mengantarkanku ke suatu tempat, atau seperti halnya "Kebangsaan", ia cuma membuat Bapakku mengira aku menjanjikan. Seperti gambaran-tiga-pandangan U-2 Capung. Oom Novi meninggal setahun sebelum Bapak. Aku kembali lagi ke Gama I, anak tolol seumuran Adjie. Semoga kamu terlindungi dari ketololan-ketololan Pakdemu ini, 'Nak. Mungkin lebih baik sepertimu, cornering.

Sunday, June 09, 2024

Sigembel Medhok Merdeka Menjadi Judul Nirkreatif


Adanya Sigembel bisa jadi medhok, ada Hari Prasetyo lagi nonton Fanny Soegi si Cinten Semawis, ternyata sudah dari pertengahan bulan ini. Seberapa banyak lagi rasa tidak enak yang harus ditahankan. Sedang badan terasa lelah, meski yutuban tetap saja mendengar aneka macam musik. Kini malah musik jaman baru, mungkin harus dicari tahu mengapa musik begini disebut jaman baru. Apa karena klaim-klaim sanggup menyembuhkannya, menenangkannya. Ya, ternyata memang musik jaman baru yang Insya Allah membantu badan menyembuhkannya.
Ini dari 16 Mei yang lalu. Oh, ternyata saat itu pun badan tidak enak. Bedanya, di depan rak buku bidang studi hukum administrasi negara, di sebelah Hari Prasetyo. Insya Allah ini pun akan berlalu seperti ketika 16 Mei itu berlalu. Sudah tiga minggu Sigembel dibiarkan sendiri di sini, sedang hidung diolesi obat penyegar. Insya Allah menjadi segar-bugar, sehat, bregas, waras. Tidak jadi retroaksi, Sigembel dibawa maju ke tiga minggu kemudian. Bukan di bidang studi, melainkan di meja tulis di kamar, menghadap taman jurasik. Ah, telinga dibuai melodi penyembuh.  

Kini suasananya lain lagi. Tadi sebelum senter LED dinyalakan, ruangan bagai bercahaya lilin. Masalahnya kibor krombuk tidak ada pencahayaannya. Maka berpadulah cahaya lilin yang hangat dan cahaya terang tengah hari bolong, sedang Michael menemani entah sejak kapan. Betulkah sejak SMA, mana Entrasol Emas ini rasanya mirip dengan Bonus, meski tidak ada aroma kedelainya, dari masa-masa yang jauh lebih muda. Sekadar karena hanya ini kebisaan, seperti dahulu menulisi buku tulis tebal berwarna merah yang dibawa ke mana-mana, gunanya sedikit.

Dahulu bahkan ada tahun-tahun dengan berbulan-bulan tanpa entri. Apa saja yang dihasilkan bersama matahari terbenam Karibia, bahkan ada juga rasa kacang karebia. Masih syukur malam-malam begini masih bisa menghirup Entrasol Emas, semoga benar-benar berkhasiat. Ada juga menghirup kopi hitam pahit satu cangkir kertas kecil, meski dihirup-hirup sedikit-sedikit sampai habisnya baru sore hari. Meski urutannya tidak sama dengan kasetnya, ini justru yang asli. Bagimu secara instrumental, uah, dari masa kecil di Kemayoran, bekasnya saja sudah tiada. Tidak apa.  

Katanya mengenang-ngenang masa lalu membangkitkan energi negatif, namun malam-malam di kamat temaram yang terkadang diterangi oleh lampu tempel benar-benar. Meski ketika kepada Haji Thobroni diutarakan kebetahan tinggal di rumah kambing pun sekadar lampu tempel, katanya. Lantas lampu-lampu bohlam watt kecil di rumah-rumah pedesaan di bilangan Legok Angris di tengah malam buta yang basah. Semoga semuanya penuh kedamaian, kesucian, penuh ampunanNya, meski tentu saja Si Tolol tidak terpikir mengenainya kala itu. Pak, jangan cepat-cepat.

Margaret membawa kenangan betapa lainnya tidak penting asal memberat begitu. Tidak akan didapatkan semua karena memang mustahil, membawa kepada hujan lebat di sore hari di markas komando pasukan khusus. Entah mengapa terbawa ke situ. Tahun-tahun yang berlalu begitu saja, yang tak penting lagi bilangannya. Mengapa lantas menggebuk dram ketika mulainya dari portasound dilanjut bass, sempat mampir bellyra untuk berakhir di flut dan pikolo. Selalu terkenang ben kuningan itu memainkan merah muda kersen dan putih bunga apel. Itu awal mulanya.

Di sebelah terdengar para santri melantunkan sholawat atau entah apa, untungnya tanpa iringan marawis. Ternyata lebih dari satu permainan terlarangnya, dilanjutkan dengan desa. Desa itu. Kembali ke malam-malam yang basah itu, adakah sampai kurang tidur. Adakah sampai sakit. Kembali ke kamar bekas praktek almarhum dokter Hardi Leman, mengapa ia sampai mati. Sedang Bu Nani Muslimin adalah pemilik Fiat 124 Special B 122 AM alias Pak Tuek. Pernah ada juga Daihatsu Charade model paling kuno, yang penutup bannya dihempas Shawn di jalan tol. 

Monday, May 06, 2024

Diperpanjang! Disain Pengembangan di Mana Pun...


...Kapan pun, Mutu terbaik. Kukenakan kali pertama ketika berjuang (halah!) di medan merdeka barat. Berjuang menahan kantuk mungkin ya. Nama-nama yang dipilih Rory sungguh jelek sekali. Segala Sarel, Lamban, Jarisha, demikian juga nama-nama Belanda dan Jepang, kecuali Inggris. Mungkin dia menghadapi masalah yang sama dengan Herman. Mungkin segala Armijn von Roon, Ernst Grobke, apalagi Wolf Stoller juga terdengar menjengkelkan untuk telinga Jerman. Aku menulis asal-asalan seakan-akan baik-baik saja, sedangkan Jahannam dan Izrail as. selalu mengintai.
Aku selalu memberikan yang terbaik bagi cintaku, dan itu adalah cantik, tidak bisa yang lain. Itu keputusanku. Betapa jika sedang terlantun selalu 'ku ingin memeluk cintaku, mendekapnya erat, dan itu hanya bisa cantik. Uah, aku malah terlempar ke 30 tahunan yang lalu, ketika masih seumuran kambing sekarang. Apakah aku pun sekambing kambing. Bundanya kentara sekali tidak senang kalau aku mengomel mengenai kambing. Begitulah semua ibu kurasa, bahkan ibu kucing yang anak-anak gadisnya sejelek dia. Runcing-runcing muncungnya, banyak pula. Jengkel!

Adanya aku bisa menulis asal-asalan begini, ada mata kuliah buatan Sang Muter Dr. Sopuyan. Judulnya Hukum Adat dalam Kegiatan Ekonomi. Aku pun mengarang bebas: Aspek Hukum Publik dalam Hukum Adat. Siapa yang suka. Teringat Nurlela di musim dingin 2009, di Maastricht. Apa benar yang kuingat mengenainya. Apa makananku sehari-hari ketika itu. Makananku sekarang pun tak kalah enaknya. Hanya saja aku harus belajar mengolah dada ayam dan fillet ikan. Aku tidak suka mengiris-iris dada ayam. Seperti menyayat daging, sedang tumbuhan saja menjerit dipetik.

Dua hati meyakini hanya satu pikiran, bersama selamanya sampai akhir waktu entah dari lebih 30 tahunan yang lalu. Kami katakan halo selamat tinggal. Itu bedanya, ada kami katakannya. Beatles tidak ada, meski Phil Collins berpura-pura jadi Beatles keempat-empatnya ketika hatinya dan hati entah siapa meyakini hanya satu pikiran itu. Apa betul Oom Rahmat Tanjung membaca goblekanku ini. Apa harus kuselesaikan goblekanku yang sisa tiga paragraf ini sebelum mendongeng mengenai hak ulayat laut masyarakat (...) adat pesisir. Di luar mulai hujan, mungkin takkan reda...

Senyampang ada Oom Rahmat, ada baiknya kutulis mengenai Togar yang ingin mengikuti jejak Lutvi Hadib yang bekerja di sebuah LSM gereja di New Jersey. Untung saja baris bass Jim Hilbun sungguh sedapnya, meski entah mengapa mengiringi satu peleton dari Divisi Lintas Udara ke-101 melakukan mobilisasi udara dengan helikopter UH-1. Hollywood memang selalu menjengkelkan, meski kalau gabut sangat, seperti ketika di Sint Antoniuslaan dulu, mau bagaimana lagi. Kuda-kuda liar menghampiriku lagi bersiderap, selalu mengingatkanku pada mendiang bapakku perkasa.  

Aku ingin disembuhkan dengan musik yang konon dapat menyembuhkan jiwa dan raga. Baru kusadari dalam bahasa Inggris raga dulu disebut baru jiwa. Bahasa Indonesia sebaliknya. Akankah kunikmati bunyi-bunyian seperti ini meski aku sedang tidak setengah berbaring, berselimut, sedang kaki-kakiku dipijit-pijit [pijit atau pijat]. Kurasa sejak jaman Caen dan Abel pikiran-pikiran cabul sudah selalu ada, seperti pijitlah bel dengan mesra di pintu tuyul. Hidup ini bagaimanapun indah, tinggal bagaimana menikmatinya saja, begitu nasihat seorang bijak di kaskus bertahun lalu.

Apa musik penyembuh memang harus monoton begini. Yang sangat menyembuhkan mungkin bunyi gericik airnya itu, yang seperti bunyi akuarium berpompa udara, atau sekalian kolam ikan di depan sebuah tempat perawatan sementara. Mengapa rinci sekali, ketika sedang duduk menghampar dihampiri mentor Ili Dasili, untung tidak digampar. Hidup ini penuh kejadian memalukan, mengapa kau malah menggembar-gemborkan. Apa dengan begitu berkurang rasa malumu, atau justru memperbesar kemaluan. Aku seperti judul entri ini diperpanjang. Apanya.

Saturday, April 20, 2024

Jaman Ketika Bolpoin Sudah Tak Ada Harga Dirinya


Siapapun yang melihatnya segera melupakan Monalisa. Bukan. Bukan gambar di bawah ini. Ini gara-gara cari gambar John Gunadi yang sudah mati malah ketemu Bunda Carlo. Seram 'kan. Entah tadi terpikir juga betapa pinggul bergoyang pun sudah tak ada harganya; sebelum terpikir bahwa bolpoin sekarang bukan tak ada harganya, melainkan tak ada harga dirinya. Aku. Tak terorganisir. Jih! Aku sangat terorganisir sama tak berharganya dengan klaim Cantik bahwa dirinya terorganisir; terus begitu selama bumi belum memuntahkan segala kejijikan yang dikandungnya.
Suatu lelucon pahit yang tragis, yang mana adalah aku bersamamu. Bukan kecoa. Akan selamanya kecewa selama bumi masih bergunung dan berlembah. Demikianlah hari demi hari menunggu apa yang ditunggu. Teringatnya, jangankan tahajud, subuh pun jam enam lewat agar tidur agak enam jam. Jika Tutankhamun pun pinggulnya bergoyang-goyang, berkaki pengkor, bergigi tonggos, berbibir dower, dan kemungkingan juga ndlongop mangap sampai ngoweh terus itu karena bapak ibunya kakak beradik kandung benar-benar. Ini baru lelucon pahit yang tragis. Gila ini.

Derasnya hujan membuat dahan-dahan merunduk membungkuk-bungkuk, maharajadiraja yang manapun takkan mampu menekuk jangankan punggung, batang leher, bahkan sekadar tatapan mata pun tak. Itu karena aku Maximus Decimus Meridius. Lampu dioda yang mengeluarkan cahaya menerangi papan kunci sementara angan melayang ke ruang bersama asmara, di depan kantin, di depan tivi, sebelum tengah hari, sedang merasa paling merana di dunia ini. Terlempar lebih jauh lagi ke belakang, mungkin setelah olahraga pagi. Apa pernah 'ku berolahraga.

Apakah ini waktunya berhenti mengenang-ngenang. Apa ini akhir nostalgila. Apa ini waktunya menatap masa depan, hari esok lebih ceria. Sedang anak-anak tolol yang sekarang sudah jadi bapak-bapak dan emak-emak paruh baya sedang berjoget-joget suka-suka, seakan dunia ini tak akan ada akhirnya. Selalu mengejar kepentingan diri sendiri, lalu cuek dengan derita sekitarnya. Ketiga jari-jari tangan kananku, telunjuk, tengah, dan manis berkuku agak panjang sedang tujuh sisanya dipapras cepak, karena aku gitaris. Tepatnya aku vokalis yang sering bergitar ritem.

Asal goblek asal ngomyang saja tinggal tiga, apalagi berpikir sedikit. Jika pun masih ada yang akan dijejalkan di ruang dan relung benak yang tersisa, maka itu adalah apa yang berbayar lima ratus ribu rupiah dan sejenisnya. Bagaimana dengan narasi-narasi dari EraMembaca. Itu boleh juga. Seperti Itang Yunasz yang jika lomba mirip-miripan aku juara satu sedang aku sendiri juara dua. Larasati yang berkuda itu biar untuknya saja, untukku remaja ceria yang nakalnya minta ampun. Entah bagaimana lancar sekali sekarang, meski ketiak tak bersabun, berbedak, berdeodoran.

Kebanyakan kitikan kode begini, begitu membaca lagi betul-betul tak terbayang lagi mengapa bilangnya begini maksudnya entah apa. Predisposisi artistik hendak diapakan jika tidak punya rasa tanggung-jawab. Astaga aku sekarang tua, harus mengajari anak-anak arti tanggung-jawab. Anak yang kehilangan nyaris segalanya di usia yang masih belum bisa disebut. Biarlah, bila begitu, aku ikut bernyanyi bersama kodok saja dari dasawarsa delapan puluhan, dari abad lalu. Seperti ketika di Amsterdam dulu, perut kanan atas sakit. 'Kubaik-baik saja sampai hari ini.

Ahaha, idolanya Seni Sri Damayanti dan adikku sendiri; tapi di sini memang cantik sekali bersama Irma June, secantik Cantikku. Memang sudah lama kusadari, kue kaget muncrat, Suzie Cola, dan entah apa lagi ketika Femina merayakan ulang tahunnya yang entah keberapa, dalam buklet memanjang itu, yang terpenting adalah kenangan betapa Bapak Ibu sungguh menyayangiku. Ya, semua itu menjadi kristal-kristal cinta yang membeku dalam hatiku, yang akan kutinggalkan di sini sebagai sesuatu yang mungkin tak berharga bagi siapapun. Tidak menjadi masalah bagiku.

Monday, April 01, 2024

Maret 2024 Cukup Tiga Entri Saja. 'Ku Senang Juga


Entah mengapa kubuat judulnya begitu dari beberapa hari yang lalu. Namun biarlah kucatat, minggu ini sungguh berbeda dengan minggu sebelumnya, terlebih minggu-minggu sebelumnya. Tidak mengapa. Aku hanya harus beradaptasi; dan ini, Insya Allah, adalah adaptasi menuju kebaikan. Apakah kebiasaan menyerak makna di sini juga harus diubah, jika ternyata mendengarkan lagu sedih dapat membawa sensasi nostalgia; dan itu menyehatkan. Setidaknya, menurunkan stres. Ternyata memang semakin ke sini, semakin beginilah gaya musik Francis Goya: Mengklasik.
Sumber: Klikdokter, (17/03/2023) Sering galau? Ini manfaat mendengarkan lagu sedih
Paragraf di atas, seperti dapat diduga [halah!], berasal dari minggu, bahkan minggu-minggu lalu. Judul yang dibicarakan pun bukan yang ada sekarang, melainkan semacam hanya temanku kini menanti di sudut sepi. Mengetik diterangi lampu senter begini, meski LED, gara-gara tetangga belakang meningkat rumahnya, dan gara-gara Cantik membuat kamar yang sekarang jadi kandang kambing. Meski bernostalgia memang menyamankan, meski itu pula yang sedang kulakukan kini, namun aku semangat menatap masa depan. Bayangkan... aku, masa depan. Amboina!

Mencintaimu adalah hal yang benar untuk dilakukan oh wow wow wow dum dee ree rum dum dum.
Ini bukan lagi retroaksi, entah apa ini. Ini suratan nasib, ketika inti suara A20i disumpalkan pada kedua lubang telinga dan begitu saja terdengar lagu puji-pujian bagi Putri Diana. Kini aku punya alasan kuat untuk menatap masa depan, meski masih saja mengitiki di sini. Entah jika entri-entri berikutnya menjadi koheren, seperti suatu narasi, suatu cerita, Jika pun tidak, tak mengapa, seperti malam di gedung kelas belakang Islamic Village, yang dekat rumah Yomi.

Penyesalan-penyesalan, aku tidak ingat ada penyesalan dari masa ini. Yang kuingat hanya bayangan mata raksasa yang terbentuk dari kepalaku sebagai pupilnya dan kedua belah tanganku melingkar pada asbes bekisting rumah sebelah. Ada juga pohon mangga di belakang rumah, di ujung Jalan Banjarmasin, Cimone Mas Permai. Nah, di sinilah mulai teringat suatu legendaris tragis. Apa ketika itu puasa. Apa masih seperti itu saja setelah hampir 30 tahun. Maka kutambah dua tahun agar bisa beringsut-ingsut pulang ke hangatnya Gama I No. 26; Hangatku sejuknya.

Jika pun keriangan Amerika dari Cerita Sebelah Barat, kamar Sul Luar di seberang ibunya Witch Grandma yang suka mendadak mengaji atau menyanyi. Baru saja kubereskan, aku tiduran di lantainya. Buat apa mengingat itu semua. Menatap masa depan itu yang benar, meski tidak ada masa depan bagi Anastasia Romanov pada jam-jam terakhir kehidupannya. Aku sedang menjalani hari-hari seperti ketika aku pernah menjalaninya, dari satu hari ke berikutnya. Bedanya sekarang ada gaji, banyak sekali jika dibanding ketika itu. Tiada namun bagiku pada titik ini.

Ini seperti Cosme McMoon, karena dengan piano, bukan Yo-Yo Ma yang memberi tremolo pada setiap nadanya. Ini dibalik, suara utamanya justru piano, iringannya ensembel gesek. Dengan inilah Cosme mendapatkan pekerjaan. Kurasa angsa ini memang semacam nomor kacangan bagi afisionado tulen musik klasik. Langsung teringat Kang Gani di sini. Apa yang bagus dari masa lalu. Yang bagus adanya di masa depan. Masa lalu penuh ketololan yang menjijikkan. Makan sudah tak sedisiplin awal-awal.

Kukira tadi ketiak masih basah, ternyata sudah kering. Begitu saja setiap hari. Aku memulai goblok ini ketika kepercayaan diriku utuh kembali, setelah sekitar 4 tahun sebelumnya remuk jadi debu. Tidak ada yang dapat kuharapkan dari kini, apalagi masa lalu. Semua adanya di masa depan. Romansa yang ketukannya dilipatgandakan, dilanjut dengan hidup di lain tempat yang entah mengapa membawaku kembali ke Barel di masa jayanya, ketikaku masih muda. Nasi goreng ibunya Soleh masih dibeli kwetiaunya, entah rebus atau gorengnya. Sehatku karena masih mudanya. 

Friday, March 15, 2024

Saloth Sar Saja Terbantai di Ladang Pekuburan Siapa


Old Steadyhand adalah salah satu julukan tolol yang kuberikan untuk diriku sendiri, tentu saja, di samping Bonovski, dan mungkin ada lagi lain-lainnya. Malam ini aku teringat pada old steadyhand karena aku memotong gambar hanya dengan kira-kira dan ternyata hanya meleset satu pixel. Seperti inilah wujud kebanggaanku sekarang, karena bahkan aku dipermalukan dan diperolok-olok oleh pendaki terkenal Aconcagua. Mungkin satu-satunya cara untuk memanaskan kembali somay oan adalah dengan cara dikukus, karena dimegatron dengan air tetap keras dalamnya.
Tengah malam tadi seperti biasa berhenti, seperti selalu saja terjadi belakangan ini. Mengitiki menjadi kegiatan yang semakin lama semakin terasa berbeda; meski anatomi dasarnya tidak pernah betul-betul berubah. Apakah di Radar AURI atau kubikelnya Dedy, adakah pada waktu itu di kubikelku sudah tidak ada komputer pribadinya. Aku ingat beberapa kali bertololan berkeliling di komputer depan pojokan itu, dengan stasiun yang mirip dengan yang biasa kupakai dalam Apollo celaka 13. Di situ pulalah Bang Sony Sikumbang muda bermain kesendirian sudah 20 tahunan lalu.

Sekarang sudah tidak ada yang muda termasuk perutku. Di sini pun tiba-tiba macet lagi, padahal Chris Cross sudah menderu dengan baiklah, menyusul durian-durian ke tanah pemakaman.Tanah perkuburan, Mas Tony Edi Riwanto kapan matinya. Jika menilik dari racauannya, kurasa ia bukan muslim, ataukah, seperti kebanyakan orang Jawa, muslim namanya saja. Aku tidak bisa menggambarkan perasaan ini dengan tepat kini, apa karena ia sedang tersendat-sendat. Apa benar yang menyendatnya, apakah jalan kecil menuju pinggir kali itu, sebelum warung laler. Sembarang saja.

Bergeruduk-geruduk, atau gedubruk-gedubruk, adalah seperti seorang penyanyi syair lagu-lagu tua menggubah komposisi onomatope yang berakhir dengan kitaranya di sekeliling leher. Haruskah kucepat-ke-depankan perasaan dan air mata ini, akhirnya itu pula yang kulakukan, bahkan juga terhadap kita semua sendiri. Pagi-pagi di tengah cuaca ekstrem ini, dengan berjaket biru pemberian Savit, sarung entah dari mana, apakah pasangan koko gading dengan bordiran kaku di tengah-tengah, dan kaus semata kaki bukan semata wayang, Suzanne menari-nari.

Terkadang hawa dingin muram bermendung begini hanya tersisa nama bulannya, yang sangat bisa jadi bukan untukku, melainkan untuk siapapun yang cukup kurang kerjaan sampai mengunjungi macan gondrong. Apakah itu di pemberhentian bis, apakah itu di Kramat Batu ataukah lapangan Bhayangkara, Santo Jambrut! Ke mana aku dibawanya, ke masa kecilku di apron timur lapangan udara Kemayoran, atau ke tepian Ciliwung di salah satu meandernya, meninggalkan tanah menjorok di Rawa Panjang lagi Rawa Menteng, Fajar Baitullah! Qoryatussalam Sani! 

Keramat Barepan! Silagar! Aku tak bisa percaya itu kamu, membuatku pulang ke ndalemnya Akung Uti. Itu bukan pulang namanya, sungguh. Jika pun iya, maka mampir. Mampir minum. Kalimat-kalimat makin pendek, siapa yang memendekkannya, aku 'kah. Bisa apa aku. Main terompet, trombon, susafon, tuba, dan kawan-kawannya saja aku tak bisa. Bahkan suara-suara tiruannya di sintesaizer juga aku tidak bisa. Aku tidak bisa apa-apa, Si Tolol ini. Seperti seekor munyuk mainan ular yang ditemukannya di dalam lubang di sebatang pohon kelapan. Dipatuklah ia.

Seorang penyiar radio bernama Dreded Cikutra menandakan adikku sudah sampai ke mana-mana, ke berbagai tempat. Ya Allah mereka hanya adik-adikku, anak-anak bapakku. Aku menggelesot menggelepar. Di tepian sungai Maas, di bawah jembatan Wilhelmina, hanya sekali aku di situ. Berduaan saja di Cappadocia, selembar saja. Main peluk-peluk saja calon istri orang di depan pacar sendiri, rasanya seperti ingin berteriak: "Father, till we meet again in the Garden!" Aku tidak bisa muda lagi. Sudah habis rasa itu dari mana-mana, dari sekujur tubuh dan pikiranku.

Friday, March 08, 2024

Apel Bancrit Sudah Tiada Lagi di Dunia Fana Kini


Meminum teh oolong susu hangat seperti ini selalu membawa kenangan pada kamar hotel yang nyaman di sore hari, ketika anak-anak belum datang. Anggaran mana yang digunakan waktu itu, ESDM-kah. Adakah waktu itu mengitiki juga. Adakah ketika itu perut membuncit melimpah. Entah mengapa aku selalu suka sayap berhenti, meski yang barusan tadi kurasa sudah mati kemarin. Seperti apakah malam-malam di hari Jumat sekitar 24 tahun lalu. Apa benar yang membuatku teringat padanya. Hidup koq penuh suka cerita begini, menjulur-julur lidah bak kilat meja. 
Ya, karena bancrit itu. Alangkah indahnya dunia kurasa saat ini, saat ini, karena malam ini malam bahagia. Kupaksa teruskan meski suasana semakin kurang sesuai, terutama perut yang menggelembung penuh berisi gas. Kutembakkan agak lumayan barusan nyaring juga bunyinya. Namun itu malam kemarin. Ini sudah keesokan paginya, yang karena ngejogrok di depan tivi nonton yutub membuat kantuk tak tertahankan, aku menyiapkan segelas coklat panas. Ketika itu sudah terpikir mengenai Prof. Dr. Mr. R. Soepomo, namun prakteknya ya gondrong lagi, gondrong lagi.

Barusan bertelpon dengan Takwa mengenai betapa sekarang, selain Magelang, ada Malang dan Cimahi. Masih ada kemungkinan orang akan menyangka apa yang ada di kepalaku ngarang-ngarang, maka aku menelusup kembali ke sepur derek entah nomor berapa lupa. Lorong kuningnya yang terkadang semerbak jika Jeng Doktor Arum baru saja lewat. Japri entah apa kabarnya, apalagi Gerardus dan Gregorius. Betapa mengerikan hari-hari kujalani di sana, monotoninya, dari bangun tidur sampai terpaksa harus tidur lagi. Tak banyak beda dengan Uilenstedenya.

Lantas apa bedanya dengan kini, jelas berbeda. Hari-hariku bisa diselingi donoloyo dengan rhodamin-b niki harumnya, nasi uduk pagi sore atau malamnya, ada cungkring atau urapnya. Kutengadahkan wajah menerima hantaman bulir-bulir air besar-besar. Kurentangkan ke dua belah tangan ke arah langit bermendung. Mulut menganga namun tidak berkata-kata. Hanya dadaku saja penuh kata-kata tak bermakna yang kini kuberondongkan di papan kunci. Dengan 40 kg lebih lemak di badan, tidak heran baunya seperti ini. Oblong putih cap angsa bersimbah peluh.

Kekaryaan ABRI selalu menjadi obsesiku, sebagaimana halnya ABRI masuk desa. Aku anggota ABRI bukan TNI, karena mars ABRI sungguh gagahnya, sedang mars TNI dibikin Addie MS yang istrinya Memes. Bisakah lagu terlanjur sayang, 'gih, sayangilah polisi. Aku biar disayangi anak mantan ibu jala yang lucunya minta ampun. Aku yakin kau tidak akan sanggup menandingi kelucuannya, bau pada puncak dahinya, di anak-anak rambutnya, meski ia tidak melahirkan anak-anakku. Aku suka berkarya. Aku selalu berusaha berkarya sebelum tidurku, apalagi bangun.

Kembali pada donoloyo, kepada oncom, tempe, bakwan, dan aci goreng, hanya satu euro lewat sedikit sekali. Kubayangkan diriku terjun ke kali, ke saluran irigasi, ke pintu air itu, bagian mengalir keluarnya. Aku berenang-renang seperti tahi, kuning kecoklatan seperti air kalinya. Tahi kerbau hijau kehitam-hitaman berenang-renang juga di sekelilingku. Ada juga comberan di jalan petogogan yang dalam khayalan anak umur sepuluh tahun adalah kolam arus, dikhayalkan sedang sudah berada di rumah kakek yang demikian nyamannya di musim hujan pertengahan 1980-an.

Jelas aku bahagia, hidup sejahtera di Khatulistiwa. Adakah bahagia hidupku dekat lingkaran kutub, ada senang-senangnya juga. Ada sedih-sedihnya juga. Ada Adianto Wibisono yang menemani ketika hatiku sakit menyakiti badanku. Ada soto ayam suriname yang kuahnya tulang babi, pantas lebih sedap dari sekadar soto kudus Blok M. Aku mengitiki begitu lancarnya sedang hujan sepagian turun sebentar reda, sebentar turun lagi. Hujan sedang reda ketika adzan dhuhur mulai berkumandang. Matahari seharusnya sedang berada di luhurku, itulah sebabnya disebut "dhuhur".

Friday, March 01, 2024

Petembak Runduk Tak Ubahnya Pesumpal Guagarba


Mungkinkah mengitiki jika rasa tak berdaya merambati, merayapi tengkuk sendiri yang ambeng kerok. Ketika disambung begitu bertentakel delapan, sedang sang pendeta perempuan hanya dua. Iya, iya, begitu mantra untuk memanggilnya. Aku sedang menikmati kesendirian, kesunyian, tanpa ada bunyi-bunyian bahkan penglihatan meningkahi. Kecuali selembar celana dalam, kecuali tas tote bermotif kamuflase. Aku masih ingat pada posisi ini membangun dan menghancurkan peradaban. Kota dapat begitu saja beralih kesetiaan, biasanya padaku. Padaku dikau mengulurkan tangan.
Di dalam pelukan seorang berspesifikasi bidadari, samba, samba, kau 'kan menemui kenyamanan. Maka begitu saja aku berdisko dalam kepalaku, ketika beberapa sangkakala menyelompret bersamaan, ditingkahi beribu-ribu dawai bergetar diraba kekasihnya berambut ekor kuda. Bagaimana kalau bentuknya tidak sedap dipandang, berminyak, dan mungkin feromonnya terlalu menyengat bercampur aroma lemak basi. Aku tetap berjingkrak memutar-mutar lengan sambil mengayun-ayun kepala botak seakan masih ada kribonya, meski di ketiaknya, meski di selangkanganku.

Ah, sudah waktunya berangkat ke Mars, karena aku komandan penerbangan Boniface Ronald Johnson. Betapa cantik terdengar suara istriku, bercerita betapa anak-anak merindukanku. Di sabuk asteroid bisa ada badai luar angkasa yang dahsyat, yang sampai mengganggu tautan komunikasi angkasa dalam, yang mungkin menyapu juga kapal angkasaku sampai kandas di lautan helium Jupiter. Suaraku pasti jadi lucu seperti bajing berekor pendek, maka sudah waktunya kukeluarkan air minum dari pembeku. Mungkin bisa juga sambil mencuci gelas plastik bekas minum.

Nyatanya, aku tidak pernah mengendarai apapun. Jangankan kapal angkasa, pesawat ultra-ringan saja tidak, apalagi balon udara bertenaga biogas. Aku memang pengkhayal celaka yang sudah di tepi jurang kebohongan. Bagaimana jika isi kepalaku ternyata bohong semua, kepada siapa lagi aku akan percaya. Kepada pastel mak cik yang sambalnya encer namun jika banyak-banyak bisa mengakibatkan tahi encer, mungkin aku masih dapat percaya. Kepada kisah cinta Sheldon dan Amy yang tidak lebih menjengkelkan daripada Robin dan Barney: Tahi mereka semua itu!

Setelah mukaku berlumur tahi encerku sendiri, [karena tak mungkin kusemburkan pada Sheldon dan Amy, pada Robin dan Barney. Mereka tokoh rekaan semua] aku agak tenang sedikit. Heh, tapi bagaimana aku menyembur muka sendiri dengan tahi sendiri, apa aku semacam kontorsionis. Tentu tidak, aku hanya orang sok asik, sok iya, padahal mengagumi pahlawan-pahlawan kuat dan ajaib, dan mengkhayalkan mereka benar-benar ada atau pernah ada seperti Susilo Bambang Yudhoyono atau Prabowo Subianto. Aku santai saja, karena akunya hijau.

Mengadakan barang dan jasa publik itu kurasa seperti mengada-adakan cerita yang sebenarnya tidak pernah terjadi. Jadi seperti mengada-ada begitu, seperti beberapa hari berturut-turut naik kereta dari Gondangdia sampai UI, terakhirnya sampai Depok sekaligus. Langit menangis seakan merasakan kesedihan seorang ibu yang anak-anak hebatnya belum jadi apa-apa. Memang butuh berbagai jenis orang untuk membuat dunia ini terus berputar, kadang ada yang di atasnya, kadang di bawahnya. Begitu saja terus sampai kapan entah, akunya tak berasa, tak berperisa, septriasa.

Armageddon itu sebenarnya korupsi dari armada gendon, lhah, mengapa gendon sampai mengarmada. Apa seperti musuhnya pasukan kapal bintang yang anak-anaknya sanggup mencabik-cabik manusia seakan-akan terbuat dari kardus. Aku menggelosor seperti bapak semang, melata-lata di sepanjang aspal Yado 5 ketika masih Yado 2, beringsut-ingsut merayap sampai pulang kepada bapak ibu, alasan mengapa aku ada di dunia ini. Segalaku, asalku, tempatku menuju, tempatku pulang. Di kehidupan lain kudekap bapak ibu erat-erat seakan tak hendak lepas lagi.

Selama-lamanya.