Aku tidak pernah mengatakan aku tidak pernah senang di sana. Seperti di mana pun pasti adalah senangnya; sama seperti ada pula kurang senangnya di mana-mana pun. Aku tidak ingat tepatnya kanal yang mana. Pernahkah aku memandangi Nieuwe Achtergracht ketika hari telah gelap, mungkin dari De Brug, atau mungkin menyusurinya di depan Crea sambil berjalan pulang. Entah sekali dua pasti pernah di akhir 2018 itu. Paling sering tentu saja riool di depan Kees Broekman, atau yang di sekitaran Uilenstede itu. Semuanya ada bebek atau angsanya. Liar semuanya bebas.
Entah mengapa aku malah terlontar ke depan Aryaduta yang sudah tidak Hyatt itu mendekati tengah malam, sama seperti ketika menyusuri Handelstraat Bogor atau Gelatik Bintaro. Di mana pun aku terpaksa menginap pasti begitulah kejadiannya. Bahkan di Cakra Kusuma di Raya Kaliurang sana. Di Kees Broekman atau Kraanspoor ada juga waktuku terbangun malam-malam, tapi tentu saja tidak jalan-jalan ke luar. Dingin. Di dekat Tugu Tani atau Suryakencana atau Gelatik aku keluar agar tidak kedinginan. Di Kees Broekman atau Kraanspoor idih amit-amit dinginnya.
Waktu aku di Amsterdam tidak pernah terpikir olehku memandangi kanal mana pun dari jembatan mana pun setelah hari gelap. Aku hanya berani melakukannya terhadap gambar-gambar mati atau hidup, terlindung dalam kehangatan kamar berpenghangat atau memang sudah hangat dari sananya. Malam-malam turun dari Metro malah ke Damrak tidak pernah 'ku lakukan. Aku pasti langsung menuju halte Tram 26 yang akan membawaku ke Zeeburgereiland atau ke tempat feri arah NDSM. Aku tidak berkata tidak senang, hanya tak pernah 'ku lakukan ketika di sana.
Ini tentang kanal-kanal Amsterdam di malam hari, ketika hari sudah gelap. Jangankan hari gelap. Hari terang saja airnya keruh tak terlihat dasar. Bahkan 'ku dengar dari dalamnya dapat diambil jasad manusia, yang kemudian dimandikan, dikafani, dishalati, dikuburkan, diberi beberapa ribu Euro. Hahaha aku suka Euro namun tidak sampai segitunya juga. Biarlah 'ku tunggu saja ia masuk ke dalam rekening bank. Rupiah saja tidak pernah 'ku cari-cari apalagi Euro, apalagi sampai begitu caranya. Aku tidak pernah melihat tempat pemakaman umum di Belanda, iya 'kah.
Dalam dinginnya malam musim gugur yang sudah nyaris berakhir aku bergegas menuju tukang penjual kapsalon, mungkin bamischijf juga atau entah apalah itu. Mustahil aku berani melakukannya kalau Gerben dan Laurens belum mengatakan sesuatu yang positif mengenai rancangan babku, atau mungkin saking stresnya, atau entahlah. April 2021 itu aku juga beberapa kali nekad pesan antar, atau masih di awal tahun sekali. Aku ingat di tengah cuaca berbadai salju seorang anak Belanda mengantarkan pesananku. Hahaha pengantar makananku tetapi besar dan bulai begitu.
Amsterdam dan Maastricht seperti Jakarta dan Magelang bagiku, atau Depok dan Tangerang. Seperti sekarang ini, jangankan Amsterdam atau Maastricht, membayangkan Jakarta saja bergidik bulu roma kelapaku; bahkan meski itu rumah kelahiranku sekalipun. Karena bantalku sayang ada di sini, kasurku sayang hanya sepelemparan batu dariku. Aku tidak mau jauh-jauh dari mereka. Bahkan aku bisa saja meninggalkan kamar hotelku nan permai di Karawang, setelah membaluri sekujur tubuh dengan minyak gandapura, untuk bersikebut menuju bau kasur bantalku.
Tidak banyak yang 'ku ingat dari kasurku di lantai dua Laathofpad Zes itu. Justru karpet hitam berbulu di Sint Antoniuslaan selalu terkenang. Di situ aku bisa berguling bergulung-gulung ke mana suka ke segala arah. Tidak, di situ tidak ada kulkas apalagi kompor karena mereka semua adanya di seberang, di dapur bersama. Musim panas 2009 itu aku sempat merasakan dapur baru setelah direnovasi. Aku lupa apakah setelahnya sekarung bawang bombay yang sering 'ku embat masih ada. Entah apa saja yang 'ku masak di situ. Jarang gagalnya. Tidak seperti di Amsterdam.
Entah mengapa aku malah terlontar ke depan Aryaduta yang sudah tidak Hyatt itu mendekati tengah malam, sama seperti ketika menyusuri Handelstraat Bogor atau Gelatik Bintaro. Di mana pun aku terpaksa menginap pasti begitulah kejadiannya. Bahkan di Cakra Kusuma di Raya Kaliurang sana. Di Kees Broekman atau Kraanspoor ada juga waktuku terbangun malam-malam, tapi tentu saja tidak jalan-jalan ke luar. Dingin. Di dekat Tugu Tani atau Suryakencana atau Gelatik aku keluar agar tidak kedinginan. Di Kees Broekman atau Kraanspoor idih amit-amit dinginnya.
Waktu aku di Amsterdam tidak pernah terpikir olehku memandangi kanal mana pun dari jembatan mana pun setelah hari gelap. Aku hanya berani melakukannya terhadap gambar-gambar mati atau hidup, terlindung dalam kehangatan kamar berpenghangat atau memang sudah hangat dari sananya. Malam-malam turun dari Metro malah ke Damrak tidak pernah 'ku lakukan. Aku pasti langsung menuju halte Tram 26 yang akan membawaku ke Zeeburgereiland atau ke tempat feri arah NDSM. Aku tidak berkata tidak senang, hanya tak pernah 'ku lakukan ketika di sana.
Ini tentang kanal-kanal Amsterdam di malam hari, ketika hari sudah gelap. Jangankan hari gelap. Hari terang saja airnya keruh tak terlihat dasar. Bahkan 'ku dengar dari dalamnya dapat diambil jasad manusia, yang kemudian dimandikan, dikafani, dishalati, dikuburkan, diberi beberapa ribu Euro. Hahaha aku suka Euro namun tidak sampai segitunya juga. Biarlah 'ku tunggu saja ia masuk ke dalam rekening bank. Rupiah saja tidak pernah 'ku cari-cari apalagi Euro, apalagi sampai begitu caranya. Aku tidak pernah melihat tempat pemakaman umum di Belanda, iya 'kah.
Dalam dinginnya malam musim gugur yang sudah nyaris berakhir aku bergegas menuju tukang penjual kapsalon, mungkin bamischijf juga atau entah apalah itu. Mustahil aku berani melakukannya kalau Gerben dan Laurens belum mengatakan sesuatu yang positif mengenai rancangan babku, atau mungkin saking stresnya, atau entahlah. April 2021 itu aku juga beberapa kali nekad pesan antar, atau masih di awal tahun sekali. Aku ingat di tengah cuaca berbadai salju seorang anak Belanda mengantarkan pesananku. Hahaha pengantar makananku tetapi besar dan bulai begitu.
Amsterdam dan Maastricht seperti Jakarta dan Magelang bagiku, atau Depok dan Tangerang. Seperti sekarang ini, jangankan Amsterdam atau Maastricht, membayangkan Jakarta saja bergidik bulu roma kelapaku; bahkan meski itu rumah kelahiranku sekalipun. Karena bantalku sayang ada di sini, kasurku sayang hanya sepelemparan batu dariku. Aku tidak mau jauh-jauh dari mereka. Bahkan aku bisa saja meninggalkan kamar hotelku nan permai di Karawang, setelah membaluri sekujur tubuh dengan minyak gandapura, untuk bersikebut menuju bau kasur bantalku.
Tidak banyak yang 'ku ingat dari kasurku di lantai dua Laathofpad Zes itu. Justru karpet hitam berbulu di Sint Antoniuslaan selalu terkenang. Di situ aku bisa berguling bergulung-gulung ke mana suka ke segala arah. Tidak, di situ tidak ada kulkas apalagi kompor karena mereka semua adanya di seberang, di dapur bersama. Musim panas 2009 itu aku sempat merasakan dapur baru setelah direnovasi. Aku lupa apakah setelahnya sekarung bawang bombay yang sering 'ku embat masih ada. Entah apa saja yang 'ku masak di situ. Jarang gagalnya. Tidak seperti di Amsterdam.


No comments:
Post a Comment