Lagumu lagu siapa. Apa ini membawaku ke hari-hari terakhir 2017 atau awal 2018 ketika di sebelah perpus HAN masih ada ruang rapat yang aku lupa namanya. Di pojokan itulah suka ada almarhum Bang Andhika dan entah mengapa lagumu selalu mengingatkanku pada suasana itu di situ. Di petang hari menjelang Isya' yang sungguh nyaman ini, Alhamdulillah, dengan lagumu didentingkan oleh dawai-dawai gitar senyap Francis Goya, anganku terbang melayang ke waktu-waktu yang telah lalu; selalunya saja begitu. Di sampingku menemani secangkir coklat hangat nu memanjakan.
Hadi pernah berkata bahwa jika kita mencapai usia setengah abad akan datang tenaga baru untuk menjalani babak yang sama sekali baru dalam kehidupan. Sebelum mencapainya memang terasa berat dan semakin berat. Pak Hadi juga punya teori yang mirip-mirip. Siklus empat tahunan katanya. Jika dalam empat tahun itu berat, maka berat terus sepanjang empat tahun itu. Jika ringan, umurnya pun selama empat tahun. Mirip dengan segitiga afinitas horoskop Cina. Adzan Isya' sekonyong-konyong berkumandang. Aku belum mandi. Sholat baru mandi. Mandi baru sholat.
Aku suka memandang-mandangi anak perempuan orang. 'Ku akui, ini sudah 'ku lakukan lama sekali. Mungkin sejak 'ku sadari bahwa anak perempuanku sendiri terlepas dari jangkauan. Sejak itu tanpa 'ku sadar aku suka termangu memandangi anak-anak perempuan orang. Yang paling 'ku ingat tentu Intan. Mungkin karena rambutnya keriting seperti anak perempuanku. Sampai sekarang setua ini, setelah ada teknologi yang namanya Yutub, semakin parah kebiasaan burukku ini. Ya, meski kini aku punya ponakan perempuan bernama Jiung. 'Ku rindu anak perempuanku.
Mungkin akan ada yang mengatakanku ngemeng atau bacot. Yah, memang tidak pernah ada yang percaya. Sungguh sedih hatiku jika mengingat sedikit sekali kenanganku mengenai anak perempuanku. Mungkin memang sengaja 'ku bunuh sekadar untuk bertahan hidup. Kenangan favoritku tentu di petang seperti ini juga, ketika aku menimang bayi merah sambil berputar-putar di lantai ubin merah. Mengapa Georgia on My Mind besutan James Brown yang 'ku ingat. Apa bisa lagu itu dibawa berdansa. Entahlah. Namun begitu ingatanku. Kini saja masih terasa sakit.
Kini bekicot anak Wak Karib yang terasa olehku seperti anak perempuan. Memang beda ia dari hama padi yang artikelnya baru saja diterbitkan Padjadjaran Law Review. Bekicot masih suka 'ku ajak pergi meski sekadar ke Indomaret di depan perumahan. Sudarmanto pastilah laki-laki yang lebih baik dariku sampai dipercaya dengan Alira dan Zahli, apalagi Franz dengan Charielou dan Franzene, Secan dengan Naces, Neisha, dan Stacey. Aku hanya bisa berkhayal dengan Kin, Ququq, dan Becikot. Aku memang pendosa besar. Semua nikmat sekecil apapun terasa begitu raksasa bagiku.
Melihat Sudarmanto diperebutkan anak-anak perempuannya, Alira (13) dan Zahli (5), meski hangat hatiku, tak ayal membuatku teringat betapa aku tepat sebaliknya: dilepeh-lepeh. Memang ada dua sisi yang sangat bertentangan dalam diriku. Di satu sisi, aku pernah menulis mengenai kemenangan absolut. Di lain sisi, aku sering merasa seperti makanan koprofil. 'Ku rasa Iwan Goya ada benarnya. Aku memang naga yang ekstrim, suka membesar-besarkan persoalan. Yang junior dibelikan Akung, Yang senior ada di perpus HAN. Aku rindu perpus HAN yang dulu.
Imam sudah mengucap salam di Masjid Qoryatussalam sedang aku berada pada paragraf terakhir entri ini. Parah. Bukannya sholat malah mengitiki. Kembali dilema lama. Sholat dulu atau mandi dulu. Mau sampai kapan begitu, seakan waktu takkan pernah ada akhirnya. Selalu mengejar kepentingan diri sendiri lalu cuek akan derita sekitarnya. Oh, oh, astaga apa yang sedang terjadi. Oh, oh, astaga hendak ke mana semua ini. Bila kaum muda sudah tak mau lagi peduli. Mudah putus asa dan kehilangan arah. Segera kembali ke UUD 1945. Jiwa & semangatnya, bukan teksnya.
Hadi pernah berkata bahwa jika kita mencapai usia setengah abad akan datang tenaga baru untuk menjalani babak yang sama sekali baru dalam kehidupan. Sebelum mencapainya memang terasa berat dan semakin berat. Pak Hadi juga punya teori yang mirip-mirip. Siklus empat tahunan katanya. Jika dalam empat tahun itu berat, maka berat terus sepanjang empat tahun itu. Jika ringan, umurnya pun selama empat tahun. Mirip dengan segitiga afinitas horoskop Cina. Adzan Isya' sekonyong-konyong berkumandang. Aku belum mandi. Sholat baru mandi. Mandi baru sholat.
Aku suka memandang-mandangi anak perempuan orang. 'Ku akui, ini sudah 'ku lakukan lama sekali. Mungkin sejak 'ku sadari bahwa anak perempuanku sendiri terlepas dari jangkauan. Sejak itu tanpa 'ku sadar aku suka termangu memandangi anak-anak perempuan orang. Yang paling 'ku ingat tentu Intan. Mungkin karena rambutnya keriting seperti anak perempuanku. Sampai sekarang setua ini, setelah ada teknologi yang namanya Yutub, semakin parah kebiasaan burukku ini. Ya, meski kini aku punya ponakan perempuan bernama Jiung. 'Ku rindu anak perempuanku.
Mungkin akan ada yang mengatakanku ngemeng atau bacot. Yah, memang tidak pernah ada yang percaya. Sungguh sedih hatiku jika mengingat sedikit sekali kenanganku mengenai anak perempuanku. Mungkin memang sengaja 'ku bunuh sekadar untuk bertahan hidup. Kenangan favoritku tentu di petang seperti ini juga, ketika aku menimang bayi merah sambil berputar-putar di lantai ubin merah. Mengapa Georgia on My Mind besutan James Brown yang 'ku ingat. Apa bisa lagu itu dibawa berdansa. Entahlah. Namun begitu ingatanku. Kini saja masih terasa sakit.
Kini bekicot anak Wak Karib yang terasa olehku seperti anak perempuan. Memang beda ia dari hama padi yang artikelnya baru saja diterbitkan Padjadjaran Law Review. Bekicot masih suka 'ku ajak pergi meski sekadar ke Indomaret di depan perumahan. Sudarmanto pastilah laki-laki yang lebih baik dariku sampai dipercaya dengan Alira dan Zahli, apalagi Franz dengan Charielou dan Franzene, Secan dengan Naces, Neisha, dan Stacey. Aku hanya bisa berkhayal dengan Kin, Ququq, dan Becikot. Aku memang pendosa besar. Semua nikmat sekecil apapun terasa begitu raksasa bagiku.
Melihat Sudarmanto diperebutkan anak-anak perempuannya, Alira (13) dan Zahli (5), meski hangat hatiku, tak ayal membuatku teringat betapa aku tepat sebaliknya: dilepeh-lepeh. Memang ada dua sisi yang sangat bertentangan dalam diriku. Di satu sisi, aku pernah menulis mengenai kemenangan absolut. Di lain sisi, aku sering merasa seperti makanan koprofil. 'Ku rasa Iwan Goya ada benarnya. Aku memang naga yang ekstrim, suka membesar-besarkan persoalan. Yang junior dibelikan Akung, Yang senior ada di perpus HAN. Aku rindu perpus HAN yang dulu.
Imam sudah mengucap salam di Masjid Qoryatussalam sedang aku berada pada paragraf terakhir entri ini. Parah. Bukannya sholat malah mengitiki. Kembali dilema lama. Sholat dulu atau mandi dulu. Mau sampai kapan begitu, seakan waktu takkan pernah ada akhirnya. Selalu mengejar kepentingan diri sendiri lalu cuek akan derita sekitarnya. Oh, oh, astaga apa yang sedang terjadi. Oh, oh, astaga hendak ke mana semua ini. Bila kaum muda sudah tak mau lagi peduli. Mudah putus asa dan kehilangan arah. Segera kembali ke UUD 1945. Jiwa & semangatnya, bukan teksnya.


No comments:
Post a Comment