Friday, April 30, 2021

Benjamin Mangkudilaga Meninggalkan Medan Laga


Sepertinya sudah pernah 'kutuliskan di sini mengenai buck compton. Aku baik-baik saja, dan Insya Allah memang akan baik-baik saja; meski mereka tidak mungkin benar-benar seperti saudara. Tidak ada persaudaraan, bahkan sekadar pertemanan, dalam bisnis itu, seperti Isdah menyebutnya jalan sunyi. Maka 'kutinggalkan begitu saja. Entah bagaimana perasaan mereka. Rasaku sendiri adalah seperti benjamin mangkudilaga, yakni seperti frank lampard jika belum makan dan peabo bryson sesudahnya. Seperti itu saja, meski bisa jadi ada sistem pendukung.


Bahkan ketika 'kukosongkan tiada melankoli. Hatiku tidak ikut jadi melompong karenanya. Mungkin karena buck compton itu tadi. Ini bukan benar-benar hari kemenangan di Eropa. Jangankan itu, berakhirnya pengepungan Bastogne pun bukan. Ini sekadar bekerja dari rumah yang sebenarnya, karena 25 D8 itu tidak pernah benar-benar menjadi rumah. Bahkan KB 218 dan Uilenstede 79C lebih terasa rumah. Kamar itu memang selalu melompong sejak dari awalnya. Ketika 'kuisi barang-barang perabotan pun tidak lantas menjadi berisi. Begitu itulah ia adanya.

Bahkan ketika 'kujejali Navy Club, hanya sepenuh itu. Memang Japri merasa menjadi semacam bantar gebang, namun ia lebih tahu sarapan sereal daripada bantar gebang; atau semacam itulah. Sungguh aku tidak tahu bagaimana memaknainya. Dapatkah aku menuliskannya seperti orang-orang itu. Mungkin akan 'kulakukan juga sekadar membumbungkan harap akan belas-kasihNya. Navy Club hanya 30,8 kg sehingga membuyarkan impianku untuk bepergian ringan. Samsonit jadi berat, sekitar lima kiloan, belum lagi tas jinjing Ikea juga sekitar segituan.

Ini benjamin mangkudilaga, Kawan-kawan. Inilah sebenarnya yang membuatku galau. Namun aku terbiasa dalam hidupku mengambil keputusan-keputusan komando jihad. Ini salah satunya. Apapun jadinya akan 'kuhadapi, tentunya penuh dengan harapan-harapan baik. Juga untuk kalian semua, meski Japri tak sudi 'kuanggap teman seangkatan. Ketika kita melangkah meninggalkan Kranspoor menuju dermaga feri NDSM, bahkan tiada melankoli untukku. Terlebih ketika mesin feri menggeram merayapi Ij. Aku 'kan kembali membersamai, meski sebentar.

Peron 14b menjadi saksi, betapa bukan ini yang harus 'kulakukan. Perjalanan masih panjang. Draf komplit kedua bukan mainan. Meski jika 'kukenangkan soto dan nasi uduk karya Gerardus, betapapun itu kenangan manis. Aku bisa dengan yakin mengatakan, kedua hidangan itu jauh lebih bermakna ketimbang puyunghai vegan apalagi tahu buda. Aku dalam hal ini harus minta maaf pada penjual kibbeling yang ramah di dekat Sexyland, karena kibbelingnya bukan yang terbaik. Sesi satu-satu dengan Japri dan Pak Greg pun selalu bermakna, menawarkan cakrawala baru.

Jeng Arum tak diragukan lagi yang paling harum dan cemerlang. Memang jika ramai-ramai yang tersisa tinggal harumnya, sedang ia enggan berbagi kecemerlangan. Apapun itu, melihat Pak Greg dan Gerardus begitu semangatnya mengikuti berbagai kursus sangat mengilhami; bahkan Japri yang, sepertiku, sedang dalam fase pijat refleksi. Mungkin memang ada melankoli meski sedikit, terkubur dalam keterpenjaraan, disambar gledek keputusan komando. Mungkin memang itulah waktunya udon tahu jamur, masih dengan mie udang bawang sekali, terpedo udang dan lumpia ayam.

Akhirnya, kepada pemandanganku, sudah jelas aku tak akan merindukan kalian; meski dua kali kita bertemu di tempat cuci. Anak Arab yang dua mingguan terakhir ditinggal kekasihnya, dan selebihnya. Ada waktu-waktunya aku menyanyikan bagi jendelaku sendiri berbagai ratapan dan balada. Aku pasti kembali, Insya Allah dengan berjaya. Ini bukan perpisahan. Ini benjamin mangkudilaga. Ini buck compton. Kaki-kaki Bill Guarnere dan Joe Toye boleh putus. Kakiku Insya Allah menjadi perkasa seperti sedia kala, begitu pula geraham kanan dan apapun mengenaiku.

Wednesday, April 21, 2021

Rabu-rabu Tanpa Alasan Malah 'Ngantor


Aku adalah generasi pembaca Iwan Goya sambil mendengarkan Francis Gayo. Aku bahkan sudah tidak boleh mengaku paruh baya lagi; Siapa yang bisa yakin mencapai usia 90 tahun. Balada untuk Adelina Haratua dengan bas yang menowew-nowew ini agak menjengkelkan sih, tapi, apapun yang terjadi, entri ini harus jadi. Jez yang membuat santai, sedang hujan kopi mengguyur merintik, adalah khayalan mengenai waktu-waktu yang lain. Siang ini cuaca terik bermendung berganti-ganti. Aku melangkahkan kaki perlahan ke kantor, ternyata bertemu Mas Gerben dan Pak Greg Sallatu.


Lantas begitu saja di hari ke-9 Ramadhan 1442 H ini aku tergetar, sedang Roadfill dan Muriel berduet mengenai Menyatu Kembali. Ini setelah aku pulang dari kantor. Nyatanya aku di kantor tidak lama. Aku bahkan tidak tahu mengapa aku ke kantor tadi, jika tidak karena sekadar bersopan-santun. Maka malamnya, setelah buka, kembali 'kuhadapi laptop di kamar ini, sedang Kelompok Moymoypalaboy memainkan Akhir-akhir ini. Mausnya Japri tertinggal di kantor. Ini yang terpenting, karena karenanya aku dapat merasakan lagi lembut mantapnya maus blutut setengah jutaan.

Memang sedih karena pasangannya sudah terbengkalai, HP Stream itu. Kondisinya sekarang menyedihkan. Dompetnya yang dulu elegan biru angkatan laut itu kini buluk. Mau bagaimana lagi, kulit imitasi. Uah, ini sikampret Gerard Joling, seandainya Cantik tidak ngefan padamu takkan 'kumaafkan. Tidak juga. Aku memang suka sudah sedari dulu, peralihan antara SD dan SMP. Cantik adalah cintaku selalu. Kami tumbuh besar dalam rangka-waktu yang sama, sehingga dapat berbagi kenangan, meski diskontinu; Semata untuk mengingatkan betapa hidup di dunia ini fana.

Ohya, ini Ramadhan, sebagaimana yang beberapa kali 'kuabadikan di sini. Ramadhan kali ini bolehlah diberi nama Ramadhan soto. Akankah aku tega memberi makan diriku sendiri soto seperti itu lagi. Semoga tidak pernah terjadi lagi. Semoga soto-sotoku setelah ini semua patut, setidaknya seperti soto bikinan Gerardus. Sebenarnya mudah saja, namun mengapa aku malas sekali. Adakah benar, seperti biasa 'kukatakan, semata karena aku sudah tua. Aku menua, sementara persekitaranku terus memuda. Betapa tidak, gadis-gadisku sudah tumbuh menjadi perempuan.

Pencapaian-pencapaian ini memang harus segera diselesaikan, entah di Agnietenkapel atau Zoom. Setelahnya aku benar-benar ingin mempersiapkan. Apakah akan seperti lelaki tua yang menekuri langkahnya menuju mesjid, sedang bersarung berkoko, mungkin berkopiah. Uah, pada saat begini tiba-tiba Tante Geri Logan memanggil-manggil Cintaku, Cintaku, khayalan masa kecil sampai awal dewasaku. Sekarang cukuplah 'kupandangi anak-anak dan keponakan-keponakanku. Mereka kini yang mengalaminya. Aku tiba-tiba menjadi Pakde Bintonya.

Bagaimana betul mempersiapkan. Apakah para awak Nanggala beserta Harry Setiawan sekali tengah mempersiapkan. Tidak ada yang tahu, maka bersiaplah setiap waktu. Sedang John Gunadi pun bertumor. John Gunadi yang dulu tolol-tololan saja kerjanya sehari-hari bersamaku, bersama kami semua. Dedy yang terkenang steik t-bone Bu Mar "kalau lagi punya duit." Uah, terdengar sangat akrab. Mengerikan namun akrab, namun kehidupan sehari-hari. Sedang Jlaga Iman masih suka WA, sedang Gus Wandi mainan mesenjernya pesbuk. Itulah kehidupanku, yang 'kujalani.

Sekarang belum tercapai. Sekarang aku harus mengingat-ingat bagaimana dorongan seorang lelaki muda di awal duapuluhan. Hahaha tidak ada dan tidak pernah. Aku memang selalu sudah setua ini sejak dan dari kapanpun. Aku selalu menCinta Panjang dan Tahan Lama bahkan sebelum Glen mendendangkannya, bahkan sebelum Pak Pandir makan aprem. Aku tidak peduli. Beginilah aku apa adanya. Jika minggu lalu aku terlambat sekali yasinan fadilah, adakah minggu ini 'kupercepat saja. Glenn yang ini seekor Elang, baru tahu; Seperti rambut bersulam uban.

Tuesday, April 13, 2021

Marhaban Ya Ramadhan 1442 H. Sahur Pertama


Memang sudah tidak bisa lagi sahur. Jangankan yang berat, yang ringan saja 'kurasa sudah tidak sanggup. Masa tiga kerat roti gandum, dua lembar keju gouda muda kurang garam, dua lembar filet kalkun, masih disimbah saus tomat berbumbu dan sriracha, kau kata "ringan". Insya Allah, jika besok sahur, maka cukup dengan semug kecil sup dan semug besar teh. Mungkin sekerat roti gandum. Mana tahu dengan begitu aku masih sanggup minum air agak beberapa teguk. Mana tahu dengan begitu, aku lebih cepat berangkat tidur lagi, karena tidur memang baru empat jam.


Wajah seorang akademisi, semacam Asshieq Mijidlidy begitu
Apapun itu, Alhamdulillah, Allah menyampaikanku pada Ramadhan tahun ini, sebagaimana tahun lalu. Tahun ini pun, selepas sahur aku tidak bisa langsung tidur. Aku malah mengetiki sambil ditemani jez positif dan suara ombak menerpa lembut pasir pantai. Aku tidak ingin berandai-andai, namun suasana hati memang sedang sungguh cocoknya untuk berandai-andai. Uah, bahkan pada diriku sendiri saja aku seakan masih menyembunyikan. Entahlah, mungkin semata aku tidak ingin terlalu cepat bergembira, karena memang mustahil berlabuh jika dayung tak berkayuh.

Begitu saja suasana petang, ba'da Ashar sebelum Maghrib, di Jalan Radio menyelimutiku. Hangatnya cahaya matahari sore, mengapa garasi E8 yang tergambar di benak. Akankah 'kumemuktikan ndalem Yado E4, ndalemnya Ibu, ataukah sekadar khayalan otak kekurangan oksigen ditingkahi dentingan piano dan deburan lembut ombak; sedang tadi sempat membaca-baca cerita horor mengenai rumah di Mahoni 30, Bungur itu. Adakah hubungan antara Yado E8 dan Mahoni 30. Semoga Yado E4 terhindar, dijauhkan dari yang begitu. Naudzubillahi min dzalik!

Tahun lalu aku berpuasa di Uilenstede, masih terasa lamat-lamat. Kini aku berpuasa di Kraanspoor dan aku merasa berbahagia, meski di sini aku dikerubungi anak-anak kecil. Jiwaku yang tua ini lelah. Masih ada beberapa urusan yang harus diselesaikan, semoga lancar dan dimudahkan. Setelah itu, aku bahkan masih menyembunyikannya dari diriku sendiri. Seakan enggan 'kupercaya jika belum 'kulihat dengan mata kepala sendiri. Aku menantinya dengan kegairahan khas seorang tua. Bergairah namun tidak melonjak-lonjak, bukan gairah kekanakan yang melompat-lompat.

Betapa tidak horor, terlebih setelah mendengar kajian mengenai tafsir surat an-Naziat, terlebih yang ada fragmennya. Aku ingat di sofa itu seorang diri menikmati sahurku sambil menyaksikannya, di bawah lukisan pemandangan pedesaan yang tiada seberapa bagusnya. Itu sudah setahun lalu. Setapak demi setapak aku maju. Apa yang ada sekarang sudah lebih baik dari setahun lalu. Insya Allah setahun lagi sudah lebih baik dari kini. Begitu sajalah hidup antara harap dan cemas sepanjang hanya kepadaNya. Tiada habis 'kubersyukur dipertemukan lagi dengan Ramadhan tahun ini.

Berapa entri yang akan 'kuhasilkan Ramadhan ini, adalah bukti betapa aku bergairah menanti-nanti. Kegairahan dalam penantian inilah yang 'kubutuhkan. Mungkin aku sudah seperti Buck Compton atau entahlah siapa. Tak hendak pula membandingkan diriku dengan anak-anak kecil ini, terlebih yang baru mulai. Aku, Alhamdulillah, sudah melampaui tiga perempat perjalanan. Takkan pula 'kusebut "tinggal", hanya 'kan 'kujalani meski thimik-thimik. Ini seperti penantian waktu berbuka. Tidak penting baru sahur atau ketika matahari lingsir, waktu berbuka memang dinanti.

Apakah itu di perpus HAN yang agak dingin dari satu AC saja, atau di Kraanspoor yang hangat sedang suhu di luar di bawah nol derajat selsius, menanti waktu berbuka ya sama saja. Bahkan di Uilenstede kemarin waktu buka tidak perlu dinanti. Ia datang begitu saja. Berpuasa 14 atau 18 jam rasanya sama saja, yang membedakan adalah apakah berbuka dengan gorengan bala-bala dan teh manis jambu hangat masih nikmat atau tidak. Tehnya mungkin masih, namun bala-bala entahlah. Selamat datang Ramadhan. Aku berharap banyak padamu, padaku sendiri, seperti biasa.

Thursday, April 01, 2021

Woy! Main Slepot Tangannya Sempoyongan


Ya, memang masih bukan wanita tuna stereo (WTS), tapi ini kali pertama aku mengenakannya setelah bertahun-tahun gara-gara debaman, ya, dentangan tiada henti yang sudah memasuki minggu ketiga. Bahasa Jawanya jauh lebih parah dari aku, padahal dia mengajar bahkan lahir besar di kedua-dua pusat kebudayaan Jawa nan adiluhung. Beginilah pikiranku melompat-lompat, berkebat dan berkebit berkesiuran, lincah dan liar, sedang badanku sendiri lebih banyak diam dan bergerak pelan seperti seekor kukang. Itu setelah menyeruput susu kedelai tercemar kopi.


Tidak berarti juga entri ini dikasihkan Dedi pada Simbah Eric Victor Burdon. Meski memang keren, tapi hidup liarnya sok musisi '60-an aku tidak suka. Akan halnya aku menulisi ini, ada ular... halah. Pokoknya, belum. Daun-daun masih lama lagi akan berguguran, dan 'kuharap aku tidak akan menyaksikannya yang tahun Gregorian ini. Biarlah 'kusaksikan dedaunan bersemi, sedang awal musim semi ini suhu mencapai duapuluh dua derajat selsius! Hiy, meski gelombang panas, 'kuharap aku tidak akan mengalaminya tahun Gregorian ini. Aku lebih suka musim kemarau basah.

Baik Bu Andras maupun Charlie Chaplin menyuruhku tersenyum, sedang Bu Eko membuatku bernyanyi. Aku, yang seperti Itang Yunasz atau Stringfellow Hawke ini, memang suka bernyanyi. Jika Adjie sangat berminat pada ketampanan, tidak menjadi masalah. Memang benar kata Pakde Gomblohnya: goblok 'dikit tidak apa, asal baik dan rajin. Hinaan dan cercaan membuatku teramat menyukai tragedi sampai-sampai membuat Istriku tersiksa. Apa jadinya pada Adjie. Hinaan dan cercaan juga membuatku memaki. Seperti apa aduhai kiranya dunia tanpa makian.

Alhambra! Bulbul dua kali berturut-turut! Aduhai cantiknya seperti Istriku yang membuatku melafalkannya menjadi naitinggel, tidak lagi naitinjel. Jika habis ini aku membangun peradaban, mau apa dikata. Tidak Gerben, tidak Laurens dapat berkata apa-apa mengenainya. Pernahkah engkau digantung pada ibu jari kaki sedang tangan-tanganmu dibelenggu bandul besi. Lebay sudah tentu, namun begitulah. Biarlah aku menari berputar-putar ditingkahi gaung-gemanya nyanyian bulbul dari masa mudaku, dua kali berturut-turut! Tinggal itu yang tersisa padaku, agar riang rasa hatiku.

Ya, hatiku bernyanyi karena cinta sejati. Cinta adalah sesuatu yang sangat megah. Baru tahu aku kalau terjemahannya begitu, setelah hampir empatpuluh lima tahun hidup. Asaptaga, usap dengan lembut. Balada romantika, entah mengapa begitu saja. Tidak perlu memasang tarjet apapun, selama masih ada ibu-ibu rempong berlejing pink. Selain tragis juga fatalis, itulah akibatnya. Adakah harus 'kuselamatkan 'ponakanku dari nasib itu, 'ku 'tak tahu pasti. Hidup begini adakah hidup yang benar-benar enak. Seperti Tony Benedetto, hidup enak dicium selamat tinggal.

Rasanya seperti edan saban-saban memeriksa pratinjau. Kapan kebiasaan buruk itu harus dihentikan. Adakah sekarang. Bisa jadi. Lihat. Aku tidak terkungkung oleh apapun, apalagi prasangka tolol seperti rata kanan kiri. Toh nyatanya tidak pernah benar-benar bisa rata kanan kiri seperti di Word, jadi hentikan kebiasaan tolol saban-saban memeriksa pratinjau, seperti kebiasaan tujuh lima, tujuh lima, jadi lima dua lima. Lantas kalau tiada yang dihentikan apa akan diumbar saja seperti kengerian menggeliat-geliat. Uah, sampai di sini aku ragu. Aku t'lah terlalu terbiasa.

Kalau dikatakan ini surat cinta, jelas musykil. Namun hatiku rasanya seperti sedang mencinta. Tidak. Aku sudah tidak sanggup lagi berbalada romantika. Cintaku sekarang cinta pensiunan yang lamat-lamat mengalun, tidak lagi cinta muda yang menjompak-jompak. Namun bukan berarti aku sudah tidak sanggup lagi jatuh cinta. Masih. Sekarang saja aku mengajak jatuh cinta, namun yang mengalun lamat-lamat begini. Ada yang mau. Tentu tidak ada kecuali diriku sendiri. Tidak mengapa. 'Kudengar diriku sendiri menyahut ajakan untuk jatuh cinta. Aduh, sungguh syahdu mesra.

Saturday, March 20, 2021

Roku Gering Berlolai-lolai. Bobby Farell


Tadinya di judul itu ada Si Anton. Namun setelah 'kupikir-pikir, Bobby Farell yang melompat-lompat berkeliling-keliling panggung tidak kalah lucunya. Jadi begitu 'lah, petang hari ini aku ditemani kelentang-kelenting piano yang mengaku paling cantik, ditingkahi gericik air dari pancuran bambu. Semua ini dalam upaya mengelabui diriku yang kesepian di dalam sel berukuran 26 m2, yang meski lapang namun tetap saja mengungkung. Asaptaga, dia mengaku paling cantik tapi begitu mainnya, meleset nadanya, sedang badanku di pergantian hari ini terasa masih kurang yes.


Ah, ini pas madunya, sehingga teh lemon jaheku tiada terlalu manis. Benar-benar nekad ini orang memainkan nomornya Philippe Pages. Terserah dia 'lah, yang penting air terus bergericik dari pancuran bambunya. Membawa kenangan melayang ke Magelang, di mana itu, rumah Oom Nonong, atau bahkan selokan di Taman Safari, Cisarua. Dari kecil pun aku tidak suka jalan-jalan. Aku suka jalan-jalan hanya jika sudah sampai di rumah, seperti ketika 'kupandangi bulan purnama di sisi kanan HS-748 dari Surabaya ke Jakarta. Selebihnya datar, tak banyak berkesan.

Mungkin berkesan juga, sampai 'kugambar di buku tulis sebuah biplane. 'Kukhayalkan aku yang menerbangkannya, sedangkan malam berbulan purnama. Kata Mappa, sewaktu SMA aku suka membuat sketsa-sketsa heroik. Setelah tua, aku tidak pernah lagi menggoreskan apapun untuk menggambar. Kerjaku begini saja, bereksibisi. Sedang Tadamichi saja sebenarnya ingin jadi jurnalis, namun berakhir tanpa sesiapa mengetahui. Adakah aku menyukai heroisme atau heroisme tragis. Tentu saja, tidak penting apa yang 'kusukai. Terlebih yang 'kuinginkan, tiada sesiapa peduli.

Uah, entah pancuran bambunya, atau gericik airnya, atau kelentang-kelenting pianonya, yang manapun, nyatanya lumayan membuatku rileks, meski badanku masih terasa kurang yes. Sekarang ini malah ia memainkan salah satu favoritku sepanjang masa. Judul entri ini tadinya 'kubuat dengan perasaan hati antara riang dan jengkel. Riang berlolai-lolai, jengkel beroku gering. Lolai-lolai di ambang malam begini ternyata bisa mencekam, maka 'kubatalkan, sedang aku tidak jengkel lagi pada roku gering. Maka tidak perlu lagi Si Anton. Bobby Farell pun t'lah cukup.

Ada juga hari-hari badanku terasa seperti ini, sedang begitu saja melangkah gontai ke arah kamar Qodir, menemukannya sedang menonton apapun. Memang seharusnya begitu. Di sini pun seharusnya begitu. Beda 'lah. Di sana dahulu dunia bebas. Bahkan bisa saja aku menemani Babe Tafran minum gahwe sambil bercerita-cerita entah-entah. Itu sudah lebih dari lima belas tahun yang lalu. Segala sesuatunya juga sudah jauh berubah, termasuk diriku sendiri. Sudah tidak waktunya lagi bebas-bebas saja. Semua ada aturannya, meski semuanya saja Insya Allah akan berlalu.

Dapat juga kenanganku begitu saja melayang ke Mesjid ARH di petang hari begini, sedang badan pun tiada begitu yes, namun tentu masih ada satu kelas lagi. Jika tidak buat apa aku berbaring-baring di ARH. Ah, perjuangan mencari uang. Adakah ini istirahatku darinya. Tidakkah ini memang yang 'kucari. Pelajaran yang dapat dipetik darinya adalah, jalani saja. Apapun itu jalani saja dengan hati disenang-senangkan, dengan mengucap syukur kepadaNya. Tidak di sana, terlebih di sini, nikmati apa adanya. Seperti gericik air dari pancuran bambu ini, 'duhai menenangkan.

Apakah itu Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandhu Indramayu, atau sekadar orang berkemah sedang tendanya nyaman, menemaniku melewati awal malam sampai tiba waktu tidur. Begitu saja terus sampai aku lupa adakah hari-hariku yang begini benar. Pasti ada, jika tidak bagaimana aku sampai bisa melakukan ini. Aku tidak ingat hari-hari bersama Nona Prym, atau Siti Kejora, atau Ca Bau Kan, dan masih banyak lagi. Pasti sama saja. Tidak pernah benar-benar ada kebebasan di dunia ini. Bahkan jika sampai koq terasa bebas, tepat pada saat itulah kewaspadaan harus ditingkatkan.

Saturday, March 13, 2021

Pingpong Melayu, Bola Pingpongnya Melayang


Aku mengetiki. Lagi. Bukan karena sedang ada yang tidak beres denganku. Kalau itu sih kapan aku beresnya. Di siang hari Sabtu yang mendung berbadai ini, di Amsterdam Utara sini, tidak banyak yang dapat 'kulakukan selain mengetiki. Ditemani oleh anakku genduk Tiara Andini menyanyikan Gemintang Hatiku dengan riangnya, seorang paruh baya, gendut, botak mau apa lagi. Bisa apa lagi. Daripada main Pingpong Melayu yang jelas menguras tenaga lahir batin, mengetiki jauh lebih kecil risikonya. Biarlah pula entri menjadi banyak, tiada juga yang 'kan peduli.


Lantas seorang dokter teman seangkatan dr. Nuri Purwito Adi diceritakan tengah mengkhayalkan Sophia Latjuba. Jih, dari awal kemunculannya saja aku tidak pernah tertarik. Sungguh daripada itu, jika dijejerkan sekali, aku tidak akan berpikir dua kali untuk memilih Pingpong Melayu. Untunglah bukan lagi waktuku untuk memilih apapun, selain menahankan segala sesuatu yang dihamburkan padaku. Seperti kesepian ini. Aku burung dalam sangkar, entah kapan aku 'kan lepas bebas. Kembali makan pagi mie ayam Donoloyo atau nasi uduk Bandung, apapun yang 'kuinginkan.

Kini anakku Ziva Magnolya menghiburku. Dalam kesepianku, aku beruntung anak-anakku ini masih menemaniku dengan suara-suara mereka yang cantik. Terkadang terlintas di benak, adakah suara Pingpong Melayu merdu. Seandainya merdu, mungkin ia tidak harus membiarkan mulutnya disumpal kesialan. Bukan saja tujuh turunan, melainkan seluruh bangsanya. Aku tidak akan mendramatisir seakan bangsa sial menyanderaku, karena ini sepenuhnya tanggung-jawabku sendiri, mau-mauku sendiri, seperti makan siangku di belakang Kartika Chandra.

Aku lupa apakah aku juga dapat sepaket Hokben setelah makan siang itu, atau apakah pada hari itu pula aku naik Hyundai H1. Aku juga tidak tahu apakah Pingpong Melayu merasakan hidup semewah itu, naik turun mobil mewah. Bisa jadi, bisa juga tidak. Memasuki alinea keempat ini sungguh aku merasa bodohnya, karena kalau tidak bodoh ya rasa lapar yang menjelang. Entah bagaimana angan melayang ke restoran Hotel Santika Petamburan yang beberapa kali 'kukunjungi, sedang Hotel Santika Margonda, Depok menyisakan kesedihan seseorang yang tidak dianggap.

Yakin masih ada Pingpong Melayu di alinea ini. Aduhai di luar angin bergemuruh menghentak-hentak sudah dua hari ini. Memang kalau tidak angin kau sudah berani berjalan-jalan ke mana-mana. Entahlah. Haruskah 'kukutuk semua orang yang menertawakannya. Haruskah 'kubiarkan dunia tahu sakit hatiku. Jika sekadar komentar tidak menarik atau lelucon tak lucu bisa saja kuabaikan. Namun insinuasi itu haruskah tiap-tiap kali 'kukutuk. Ah, daripada mengutuk, lebih enak nasi uduk. Biarlah seluruh dunia merasa lebih baik, aku toh buruk, tiada perdebatan lagi tentangnya.

Pingpong Melayu mengingatkanku pada masa mudaku, meski kini aku meminum teh lemon jahe yang jelas tidak mungkin 'kulakukan di masa mudaku. Kopi hitam pahit, bir hitam juga pahit, menemani Djarum Super yang manis sak taek. Apakah sebelumnya nasi tim babi, bisa jadi. Apakah ditemani Atiek CB, pun 'kualami. Betapatah tidak begini jadinya hidupku, dengan semua pengalaman itu. Masih untung diberi kesempatan untuk menghirup harum sajadah, atau terkadang bacin apak juga. Masih untung punya kesempatan menunggu-nunggu datangnya Bulan Suci Ramadhan.

Ternyata Pingpong Melayu terus muncul sampai alinea terakhir entri ini, ketika begitu saja aku terkenang Nasi Ibu Tamin. Apa yang terjadi padaku sampai pikiranku makanan tok akhir-akhir ini, sampai termimpi-mimpi. Apa kau lupa hari-hari tak beruang, bahkan tak tahu dari mana, bilamana datangnya. Apa kau lupa menghitung dan mengelompokkan koin untuk ditukar di Indomaret. Apa kau lupa mengeraskan hati menghubungi Sopuyan pinjam uang. Semoga tidak ada yang terlupa mengembalikan, seperti halnya tiada terlupa rasa tak punya uang, mendera berulang-ulang.

Tuesday, March 09, 2021

Kiska, Lari Susu, dan Lari Kering. Pemulung


Masa-masa yang... masa membuka entri dengan masa-masa. Jika aku belum mengetik apa yang harus kuketik, aku tidak mau menggunakan daftar-mainku yang standar. Dan aku, memulai kalimat dengan "dan", sudah seperti tukang patri di Jalan Ampera, yang terpincang-pincang namun masih terus mengecrek kecrekannya. Seperti berpuluh-tahun telah dilakukan semua tukang patri untuk memberi tahu calon pelanggan mengenai keberadaannya. Seperti tukang patri, aku tidak tahu apakah masih ada lubang panci yang harus ditambal, masih dari panci berlubang.

 
Adakah yang begitu indah, seperti menulis entri di pagi hari Senin. Sedang pakaian belum ganti mungkin sudah seminggu lebih, sedang kemarin atau bahkan kemarinnya dulu belum mandi-mandi. Secangkir susu kedelai dikotori aroma kopi, setelah semug besar teh putih beraroma jeruk dan jahe mungkin. Ketika kunyahan anjing dan lolongan anjing sudah tidak ada bedanya. Ketika kenistaan diulang-ulang sejak lepas balita, yang 'kudapati adalah perasaan kebelet berak di Amsterdam. Syukurnya sedang lokdon dan kurfiu diperpanjang. Jadi saat-saat terakhir pun tak mengapa.

Mingkinan lama mingkinan jijiq saja, namun 'kan 'kukenang selalu. Akan terbaca olehku suatu saat nanti kelak di kemudian hari, masa-masa ketika seringnya padat dan cantik. Jarang, hampir tidak pernah benjret. Kesepianku, sedang aku sekadar mendemagogi diri sendiri. Mana ada kata kerja begitu. Apa peduliku kalau yang peduli hanya aku dan kenistaanku. Selalu 'kulakukan jika aku sedang ingin bersenang-senang, atau merasa nista. Biar 'kutambah pada judul, atau jangan. Biar 'kutelan sendiri saja, nanti pun akan lewat dengan sendirinya, benjret atau padat dan cantik.

Lebih daripada diberaki, aku lebih tidak suka memberaki. Aku tidak peduli kalau lubang mulutku jamban atau bukan, tetapi lubang mulut orang lain sedapat mungkin bukan jamban. Lebih daripada disakiti, aku lebih tidak suka menyakiti. Aku tidak peduli jika harus hancur luluh, tetapi orang lain sedapat mungkin jangan. Kecoak sialan itu mendapati hidup yang lebih puitis dariku, aku tidak suka. Meski lebih tidak suka lagi aku, mengapa harus lebih puitis hidupku dari orang lain. Biarkan 'kubersanjak tentang ketiak penuh berambut seorang pelacur tua, tepat pada ketiaknya sekali.

Akhirnya kata itu yang 'kugunakan untuk mengindikasikan pada judul, bukan cahaya mata. Mengapa, berjalan di pinggir rel dari Barel FH sampai Pondok Cina, terbirit-birit ke Masjid UI bahkan sebelum subuh. Mengapa, berak di lantai tiga atau empat Gedung C FHUI seraya menahan sakit. Jangankan aku, tidak ada yang menginginkan anak pemulung. Apa yang 'kupulung, sekadar upil dipulung-pulung. Aku pun pernah terpincang-pincang berhari-hari setelah berak itu. Sembuh juga. Anakku anak pemulung itu lebih edan lagi. Takut sama om-om, ceunah. Telek benjret!

Astaga, kau jelek meski tidak sampai sekali. Namun justru karena itu ada kedut-berkedut. 'Kuakui, aku belum pernah benar-benar mencoba yang padat dan cantik, seperti yang dikatakan orang-orang itu. Rata-rata yang 'kucicipi mendekati benjret, ya, seperti kecepret begitu. Aku masih ingat, di masa mudaku, aku merayap-rayap mencoba meraba, menjilat telor ceplok. Dan dia memaafkanku, telor ceplok itu, bahkan sayur labu santan putih sekali. Entah sudah berapa telor ceplok 'kulahap, 'kukeremus dalam hidupku. Masih mau lagi, itu goblok namanya, digoreng air atau minyak.

Seperti itu kelakuanmu dan kau mengharap kehadiran seorang anak. Baek-baek jadi Mas Guruh 'ntar. Amit-amit. Tersenyum saja sulit, apalagi sampai tertawa terbahak-bahak, karena memang sudah bukan masanya. Kasir, kadal, kaplok, kampret masih bisa memaksa sesungging. Selebihnya pasti gagal. Kalaupun sampai tersungging, pasti penuh arti. Bagaimana mungkin Tunggul Ametung memerawani Ken Dedes jika bukan gara-gara relasi kuasa. Aduh, jangan dulu. Itu untuk kalau benar-benar menulis. Jangan untuk berolok-olok. Entahlah. Seperti biasa, aku tak pernah tahu.

Tuesday, March 02, 2021

Ninabobonya Negeri Burung Belum Berakhir


Kemarin sore setelah bimbingan, seperti biasa aku gundah durjana. Di gedung tiada sesiapa. Mungkin ada Jeng Arum, tapi sudah gila apa. Tiada lama setelah selesai bimbingan, waktu maghrib tiba. Shalat dulu, langsung berpakaian dingin dan menyongklang vanmoof putih. 'Kulihat di dermaga masih agak sebelas menitan sebelum feri dari tapsiun sentral datang, maka berkeliling dulu aku di lapangan NDSM. Dari tepi air dapat 'kulihat feri melaju dengan kecepatan penuh mendekat. Segera 'kupacu (halah!) vanmoof putih ke dermaga. Tepat sekali. Feri merapat, aku juga merapat.

Tanpa kuduga Gerardus dan Gregorius justru berjalan ke arahku. Namun seorang operator berpengalaman sepertiku tidak akan mudah terbongkar. Maka lewatlah mereka di depan hidungku tanpa prasangka, sampai ketika 'kubentak mereka terperanjat. Berlalulah kami ke Albert Heijn. Masalahnya rantai vanmoof putih belum ada kuncinya, jadi tidak berani 'kutinggal masuk. Itulah kurasa waktunya, ketika menemani vanmoof putih, aku ingat menggosok-gosok lengan atasku tanda-tanda kemasukan. Jojon benar. Dewi Sinta suka masuknya lewat ketiak atau sekitarannya.

Gregorius ternyata sedang semangat menulis. Maka setelah menyiapkan pecel ayam pedas masih dengan sate ayam tak bertusuknya, ditambah semug lemon jahe hangat yang membuatku sulit mengunci pintu, aku menyatroni Gerardus yang ternyata sedang membuat bihun. [Asaptaga, kalimatku seperti disertasi hahaha] Gerardus mengubah tata-letak studionya, dengan tambahan beberapa perabotan baru. Ia seperti membuat semacam "sudut ngencuk," 'ngakunya kata Yudha, dekat jendela. Aku duduk di situ, sedang Gerardus menyiapkan bihun goreng.

Begitulah jika dengan Gerardus, aku menjadi semacam pengamat musik ala-ala. Nampaknya itu topik yang nyaman baginya jika denganku. Ada orang yang bisa memaksakan topik-topik yang disukainya pada orang lain, antara lain Gerardus itu. Aku tidak. Aku jadi ingat Kolonel Henggrho. Ia pernah bilang begitu juga, seraya membandingkanku dengan IGMA Gatot Suprapto. Dengan ini mungkin berakhir laporan pandangan mataku, kembali pada pandangan mata batinku [halah!]. Intinya, aku terbangun keesokan subuhnya dengan perasaan seperti kemasukan. [Semoga tidak]

Bicara mengenai mata batin, [halahmadrid!] jika 'kupikir-pikir, Belanda ini koq ya adanya matryoshka, padahal 'kan harusnya di Rusia sana. Kali ini, urusanku dengan matryoshka sebatas meteran air saja, atau benarkah Bo 'naksir Kristina. [emang gua pikirken] Dulu ada juga kiludidu 'sih. Ah, rasa di lengan atas ini cukuplah sebagai penyaman, meski, seperti yang 'kukatakan pada Gerardus semalam, ini tidak akan berakhir sebelum berakhir. Maka jangan bicara, bahkan jangan sampai terlintas di kepala, mengenai keberakhiran. Jika subuh ini lengan atasku nyaman, ya sudah.

Barusan 'kuhangatkan lagi seduhan rempah-rempah Bengal, setelah satu pak snek beras dari Bang Noor akhirnya tandas. Maka ketika 'kusruput aduhsay agak menyengat, mana lagunya September begini. Yakin pada doa Bapak, sudah itu saja. Meski terasa seperti hinaan "Nabi Bono" itu, tapi Insya Allah aku berprasangka baik. Sudah tentu bukan itu yang dimaksud, hanya saja seperti yang 'kutulis sendiri, aku memang naif. Tidak apa-apa, aku suka dengan peran ini. Beberapa orang mungkin tidak akan percaya. Tugasku hanya memainkannya semeyakinkan mungkin.

Ba'da subuh ini, aku ditemani Ray Conniff dan orkestranya. Jangankan di sini, di manapun, kapanpun, teman selalu menjadi masalah bagiku. Seperti kata Ryan: "Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugrah, tetap jalani hidup ini, melakukan yang terbaik." Jadi ingat Profesor Martani Huseini: "Jangan menyerah. Jangan menyerah. Jangan menyerah." Aku tidak akan berolok-olok mengenai apapun di titik ini, meski blog ini penuh berisinya, seperti halnya kepalaku. Setidaknya tidak pagi ini, yang kini sudah merekah membawa terangnya hari. Suatu hari baru penuh harapan.

Saturday, February 27, 2021

Seporsi Roti Lapis Keju Kalkun Tengah Malam


Terpaksa harus diganti satu-satu, setelah Untuk Kehidupan yang Baik. Setelah itu baru Karenamu. Ini mengerikan. Bisakah aku langsung melukiskannya begitu saja tanpa harus berkomentar ini mengerikan. Karena memang mengerikan. Kesakitan itu, yang entah kapan sembuhnya. Aku bahkan tidak ingin sekadar membayangkan jawabannya. Ini sudah agak berbeda. Ini adalah tivi besar dan sofabed lipat tempat aku terkadang tidur. Pernah juga di kantor depan ditemani Kolonel Marinir Bambang Widjanarko yang membangun Gereja Katolik Santo Yohanes Penginjil.


Baiklah 'kubiarkan saja, biar makin terasa itu peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru. Mana yang ingin 'kuresapi, tepat di pinggir Jalan Radar AURI yang terkadang lewat motor dengan klakson meringkik menjengkelkan, atau Gereja Yohanesnya sekali, yang terlihat dari puncak-atap SDN Pulo. Itulah tempat-tempat yang pernah 'kusinggahi sampai mewarnai jiwaku. Masih terasa dinginnya teras dihembus angin musim penghujan awal 2006, bahkan ketika blog ini belum dimulai. Entah dari mana idenya aku merepotkan Doni Brasco sampai membuatnya menanam bambu kuning.

Memang lebih baik begini, daripada yang mengharu-biru. Apa itu di kulkas yang pernah 'kumaikrowev. 'Kurasa memang di situ pertama kali aku kenal maikrowev, yang sekitar dua tahunan kemudian menjadi magnetron; yaitu di ruang makan mungil nan bau anjing. Kepada siapa aku 'kan menggugat jika hidupku begini amat. Lantas kau mau hidup yang seperti apa. Seperti seorang anak lelaki yang menyimak cermat-cermat sambil meletakkan telunjuk di pelipis, seraya menelengkan kepala. Kau bertanya, mengapa hidup tidak bisa seperti itu saja. Jelas tidak mungkin.

Haruskah 'kucatat di sini bahwa mendekati tengah-malam di Amsterdam perutku lapar. Haruskah aku menyiapkan sekerat roti lapis keju kalkun. Nyatanya bukan sekerat, melainkan satu porsi penuh, terdiri dari tiga kerat roti gandum, dua lembar keju Gouda muda, dan dua kalkun lembaran. Ya, kalkun inilah yang mengakibatkannya jadi satu porsi penuh alih-alih sekerat saja. Biar 'kucatat agak rinci begini, biar suatu hari, Insya Allah, terbaca, sedangkan dadaku basah berkeringat. Mungkin belakang kepalaku pun berkeringat jika sedang gondrong. Begitu itulah saja hidup.

Barusan Baton Huda, seorang sersan dari Batalyon Sikatan, menjejalkan sesuap besar roti lapis keju kalkun ke mulutku, sampai-sampai menempel di langit-langit mulut roti gandumnya, sedang aku hanya dapat menggunakan geraham kiriku untuk mengunyah. Kini aku melayang-layang ke Italia. Aduh, bagaimana tidurku dengan perut penuh begini. Nyenyak. Tanpa mimpi. Bangun pagi, segar dan memberondongkan kata pada draf awal Bab Enam. Lalalala yang cantik dari kecilku, cinta pertamaku. 'Kusambung semua begitu, Al Di La, baru 'kupisah judulnya.

Astaga, dilanjut Langit dalam Satu Bait, cintaku terbaru, karena memang baru-baru ini saja. Setelah aku tua, mungkin di tepi Cikumpa atau Mushala HAN. Akan ada waktunya aku ungkep-ungkep lagi di situ. Entah aku yang di sofa, Hari Abu Luna di karpet atau sebaliknya. Atau bahkan lebih hebat lagi. Ruang sendiri sehingga ada semacam kasur lipat nyaman bila sedang butuh kenyamanan. Aduhai. Sebuah sajadah tentu, yang bukan biru berdakron atau tanpa dakron. Entah seperti apa. Bagaimana dengan jendela, mungkin ada. Apa pun, hidup ini aduhai sungguh indah.

Tinggal bagaimana menikmatinya saja sesuai selera. Apakah bergaya Napolitana, atau negeri jauh mana pun, yang penting tetap di ruangan sendiri. Uah, dapat 'kurasakan lamat-lamat apaknya, atau malah harum lembut baunya sekali. Sejuknya hawa apakah karena AC atau kelembaban alami yang nyaman. Semuanya sungguh nyata, ketika dunia sekali lagi menjadi tempat yang nyaman untuk hidup, meski semua juga tahu hanya untuk sementara waktu. Itulah dambaan. Selain itu aku tidak sanggup membayangkan. Lagipula sudah cukup bagiku begitu saja, tidak lainnya.

Sunday, February 21, 2021

Esok 'Kan Masih Ada, Innamorata. Bukan Utha


Setelah memulai malam ini dengan menyapa seorang asing, sekarang malah meratap-ratap meminta kekasih untuk pulang. Edan! Malam apa ini yang dimulai dengan ini. Dilanjut dengan berselingkuh, ah, sungguh ini menyakitiku. Tidakkah kau tahu malam-malamku selalu sepi. Tidak ada yang dapat diharapkan dari mereka, maka malam-malamku menyendiri bersama kenangan-kenangan sepi. Ini, seperti mengetiki ini. Mengetiki sambil menghadap Ciliwung begini.

Betapa banyak barang-barang, betapa banyak kenangan-kenangan yang sudah tidak dapat dihadirkan fisiknya. Hanya bekas-bekasnya saja yang masih menggurat ingatan, kadang segores, kadang menghunjam dalam. Aku tinggal memilih, mau kenangan yang mana, mau yang sedalam apa. Apakah di tepi Ciliwung, Cisadane, Cikumpa atau Grogol. Ada semua. Semua tempat yang telah 'kusinggahi, entah mengapa sampai disinggahkan di situ. Dapur tempat perawatan sementara misalnya, tempatku melebur nasi dan lauk pauknya bersama sambal menjadi bubur.

Atau tikar rotan di depan tivi tempatku membatin, "aku tidak tahu mengapa aku mencintaimu, tapi aku mencintaimu." Kisah cintaku memang tidak setragis itu, dan mengapa pula aku harus peduli pada kisah cinta siapapun. Tikar rotan di depan tivi tempatku menghabiskan entah berapa malam, berapa pagi, berapa siang, berapa petang, dicintai atau diabaikan. Khayalanku akan cinta seorang perempuan sederhana yang siap-siap berangkat kerja sedang ia mendoakanku. Khayalan remaja belasan tahun yang tak berdaya, hancur hanya beberapa tahun kemudian.

Lantas ini, malam-malam hangat melintasi lapangan parkir yang telah lengang setelah anak ekstensi bubar, sedang aku sendiri anak ekstensi. Melintas entah ke arah Barel atau sebaliknya, ke dalam kampus. Belum, waktu itu belum ada Burger and Grill. Waktu itu hanya ada tas selempang berisi Bondet. Astaga, menuliskannya saja masih terasa sakit. Lalu lambungku mau sehat-sehat saja. Ya, tidak mungkin 'lah. Mau menyalahkan seseorang selain diriku sendiri. Siapa yang mau. Ruang senat dan malam-malamnya yang mengerikan, bangun entah untuk apa.

Ternyata aku sudah biasa melalui malam-malam seperti ini. Bahkan inilah hidupku. Aku sampai tidak ingat bagaimana seharusnya malam dilalui. Setelah apel malam, malam-malam terkadang masih panjang dengan dentingan gitar dan senandung lirih. Setelah ronda malam, malam-malam bisa sangat panjang dengan tindakan, atau bahkan setelahnya. Ketika malam menjelang, semua kesakitan itu bisa saja datang lagi bertubi-tubi. Hidupku memang tidak pernah lepas. Bahkan setua ini aku masih melalui malam-malam seperti ini. Menyakiti. Tidak. Hanya saja harus ditahankan.

Malam-malam tanpa cinta yang sedang 'kulalui ini, entah sudah berapa ribu. Bisa jadi di malam-malam bercinta terhidang sate ayam atau indomie goreng jumbo rasa ayam panggang, namun itu sangat jarang. Sampai-sampai menjadi kenangan indah. Katakan padaku bagaimana cara mengucap selamat tinggal saja bisa jadi di bawah temaram bohlam 40 watt menembus gelapnya kebun durian, atau dinginnya malam menjelang musim dingin di Maastricht. Bisa juga bersiap-siap tindak nang ndaleme Uti, atau mungkin sepulang dari sana ke tempat terindah dalam hidupku.

Mungkinkah bertahan dengan cara ini. Jika kau paham, ini di Amsterdam, di tengah-tengah pandemi korona. Aku sampai tidak tahu lagi harus apa dan bagaimana. Kekhawatiran, ada. Ketakutan, tidak sampai. Kemaluan, tidak akan pernah jatuh cinta lagi. Dari seperempat abad yang lalu, dari Asatron yang sulit diatur volumenya, yang sudah rusak tunernya karena tidak pernah digeser-geser. Stasiun lagu lama terbaik di kota tidak akan pernah kembali lagi, sehebat apapun aku berusaha merekonstruksinya. Namun 'kuyakin kebahagiaan masih akan terus selalu menjelang. Semoga.

Monday, February 15, 2021

Keesokannya Setelah Hari Kasihku Tersayang


Pas foto dinasku sebagai seorang Jenderal Zombi dalam pertempuran merebot Azeroth
Pagi ini aku terbangun dengan ingatan bahwa tehku sudah habis, yang rasa jahe-jeruk itu. Begitu saja aku bersyukur kepadaNya yang telah mengaruniakan kesehatan lahir batin padaku yang hina-dina ini. Para anggota paduan suara Ray Conniff 'kuminta untuk menurunkan kekerasan suaranya sampai dua belas saja pada Asus VivoBook-ku, agar syahdu pagi ini. Betapatah tidak syahdu, dengan roti-sabit keju dan roti-wajik keju, masih ditemani dengan teh hijau harum bunga melati.

Setelah sebelumnya mengambil tisu bekas kapsalon untuk menyeka dahak yang terlempar ke lantai ketika bersin tadi, [Alhamdulillah] hatiku kembali dibuai cantiknya Mawar-mawar Kertas. Perihnya seperti hatiku demi melihat tetangga-tetanggaku bertukar liur dalam rangka hari kasih-sayang. Bahkan sampai 'kumundurkan lagi, sampai kembali ke 'Kutemukan Seseorang Untukku Sendiri. Ini bahkan lebih dahsyat lagi gelegaknya. Gelegak kerinduan pada kemudaan yang bahkan bukan milikku sendiri, namun bagaimanapun membentuk diri dan kedirianku.

Uah, kembali lagi Mawar-mawar Kertas, tepat ketika 'kusadari pada segigit terakhir roti-wajik ada noda darah, mungkin dari gusiku. Pengalaman mengenai kemudaan mengajariku untuk tidak terlalu peduli padanya, dan itu tidak sulit untukku yang masa-bodohan ini. Bahkan ketika Bernie Mengandung Bayi Howie, aku tidak mendengki, meski tidak pernah ada yang mau mengandung bayiku. Memang hidupku tak pernah lepas... dari tali kama, apakah itu sutra atau goni sekalipun. Hidupku punya tujuan yang jelas, punya maksud, dan itu sudah sangat memadai.

Tujuan itu tiada lain adalah untuk menghadirkan kembali Kompleks Angkasa Pura Apron Timur K.28, jikapun hanya untuk sekali lagi, jikapun hanya sekejap mata. Semoga Allah suka akan tujuan itu dan memberkahinya, menunjukkan jalan yang lempang, selempang landasan utama, lancar, dan dimudahkan dalam melaluinya. Pada ketika ini, 'kupandangi Bapak dan Ibu dari sekitar lima-belasan tahun lalu. Tidak, aku tidak takut pada berpacunya waktu, karena waktu memang selalu berpacu sejak pertama diciptakanNya, karena waktuku adalah WaktuNya.


Betapatah aku takkan terbuai, menyandarkan kepala botakku pada buah dada yang penuh dan lembut, sedang botak-botakku dielus penuh kasih, seakan ia ciptaan terindah di dunia. Bahkan aku tidak botak, meski sejak bayi rambutku memang selalu dicukur pendek. Bukan, ini bukan buah dada pelacur, meski buah dada pelacur seringnya harum dan ranum juga. Harum-harumnya pun bukan kosmetik murah, yang meski 'kusuka, namun bukan itu. Apalagi parfum mahal yang sengaja disemprotkan pada belahan di antara buah-buah dada, pun tiada bandul kalung atau apapun.

Jiahaha, ternyata tikus buah hati seorang anak yang jadi korban kekerasan seksual, yang, karenanya, tidak pernah beranjak dewasa, dan melampiaskan kesakitannya pada anak-anak lain. Naudzubillah. Amit-amit, ini sih tidak ada buah dadanya. Kalau begini, bahkan buah dada Anna Nicole Smith pun aku ogah. Bukan itu semua. Ini buah dada tak berkepala, tak berwajah, meski dapat kurasakan gembung perut di bawahnya, halus, lembut. Belahannya agak berkeringat titik-titik, karena memang bohlam lima watt pun cukup untuk menambah hangat bilik kecil.

Sepoinya Angin Musim Panas menerpa wajahku, apakah di jalan apron timur atau sepanjang Margonda. Wajahku tetap wajahku yang dulu, meski buah-buah dada tidak pernah berwajah. Seperti apapun bentuknya, buah dada tidak pernah berwajah, tidak bernama. Hanya bocah tolol yang butuh wajah apalagi nama, mendamba "GFE" hahaha. Aku memutuskan untuk tidak tolol, seperti seorang jenderal zombi yang tidak membutuhkan kepala-kepala zombi dalam balatentaranya. "Apapun yang bertengger di atas leher tidak berguna!" raungnya; sedang di atas lehernya ada kepala.

Sunday, February 14, 2021

Selamat Hari Kasihku-Malang Tersayang-sayang


Mengapa harus memaki. Mengapa tidak mengiba. Mungkinkah aku tidak melihat ke arah jendela. Hei, itu jendelaku sendiri. Mungkinkah aku tidak melihat ke luarnya. Semakin tua, semakin tidak lucu entri-entri di sini. Semakin tidak bermakna, namun ditulis juga. Lantas apa, mau mengasihani diri sendiri. Tidak ada, jelas-jelas tidak ada yang kasihan padamu. Mengapa harus dikasihani, sedangkan Siti Nurhaliza dari bertahun-tahun yang lalu, sedangkan pianonya sudah di lobi kampus. Sedang aku tidak punya rumah. Sedang aku tidak punya kenangan begini.


Apa yang kaudapati ketika menyibak tirai. Kesakitan. Mengapa sakit. Apakah ketuaanmu yang bacin dan lethek menyakitimu. Aduhai, padahal kau harus membiasakan diri. Jangan banyak mulut kalau masih merasa sakit, begitu saja. Ini Hari Palentin. Hari kasih-sayang. Wajar jika di hari ini, di malam ini, orang saling mengasihi-menyayangi. Coba kausayangi rempah-rempah Bengali itu, mungkin akan kaurasakan kasih-sayangmu dibalasnya, lengkap dengan gurih-gurihnya liur dan bau nafasnya. Setua apapun, masih berhak atas kasih-sayang koq. Coba saja jika tidak percaya.

Namun aku menolak percaya. Aku terlalu masa bodoh untuk percaya pada apapun, meski sebelum ini 'kusempatkan menjenguk Togar Tanjung dan Adrianus Eryan. Untung Pak Greg Sallatu mengalihkan perhatianku dengan pertanyaan mengenai kompor dua tungku. Aku mengetiki seorang diri, pernahkah aku lebih seorang-diri lagi dari sekarang ini. Terkenang olehku waktu-waktu berokibi-bedokiki sampai ke Alfamidi di samping Sederhana, sedang, seperti biasa, berpikir yang tidak-tidak, hanya untuk kembali ke kamar kosan Jang Gobay. Lengang. Sepi. Hangat berkeringat.

Lantas kamar hotel di Palembang! Nah, itu malah lebih tematik. Itu juga lengang, sepi, namun mungkin dingin. Masih ingatkah tolol-tololan main sotosop, padahal bukan itu yang dibutuhkan. Biar 'kutulis di sini. Bulanan. Hahaha, tidak berani. Jadi pengalaman ini bukan baru. Sudah selalu 'kurasakan entah sejak kapan. Sudah tentu lebih lama dari kamar hotel lengang lagi sepi nan dingin di Palembang, malah tolol-tololan sotosopan. Nyatanya aku selamat sampai sekarang, semata karena Belas-kasihNya. Tiada lain! Jadi biarlah kenangan melayang ke bawah toren di Cimone...

Seperti yang 'kurasakan sejak bangun tidur pagi ini, bukan kali pertama. Sudah beberapa kali pula bahkan sambil mengetiki, kalau tidak percaya lihat-lihat saja entri-entri yang lalu. Pagi-pagi sudah bergosip dengan Hari Prasetiyo, salah satu adik yang akhirnya menjadi kesayanganku, keesokan paginya setelah malam Palentin yang syahdu, bagi tetangga seberang halaman. Alinea ini kuteruskan setelah sebelumnya menyiapkan secangkir susu kedelai dikotori seciprat kopi a la macchiatto, sedang cangkirnya dibuat di Oslo, Norwegia. Coba kurang keren bagaimana lagi aku hahaha.

Setelah itu masih disambung ngobrol lumayan lama dengan Mentor Riauwan. Betapa aku menyayanginya, terlebih ditingkahi Setelah Bercinta oleh tetangga seberang halaman. Mentor Riauwan memrentahkan membuat sebuah video obituari dalam memperingati seribu hari wafatnya Pak Teddy Rusdy. Selain aku juga Letkol CHB Sandy Maulana Prakasa diprentahkan dari Paradua. Begitu itulah bentuk kasih-sayangku, di hari kasihku-malang-tersayang ini, kepada Mentor Riauwan dan Kawan Sam, tanpa berdekapan bertukar liur, tanpa mengelus-elus belakang kepala.

Sebelum itu sempat juga berbalas pesan instan dengan dr. Inarota Laily, yang menanyakan ihwal kakiku. Namanya selalu mengingatkan pada lagunya Dino Martino. Begitulah pagiku setelah malam hari kasihku-malang-tersayang, ketika tatap-mataku sendu, seakan kasih sebening kaca. Nasib tak pernah 'kuratapi, 'kuterima dengan tawa. Kehidupan 'kuolah bagaikan menggarap sawah, mumpung tahun kerbau logam. Namun logamnya mulia, jadi lembek. Jadi tidak mungkin jadi garu apalagi luku. Mungkin sawah itu semacam investasiku, a la tuan tanah. Begitu.

Thursday, January 28, 2021

Tahun Baru Sudah Hampir Masuk Bulan Dua


...dan memang tidak semua tahun ada entri yang menyelamatinya. Akan halnya aku mengetiki ini, bukan semata agar Januari 2021 ada entrinya, melainkan untuk mencoba menjinakkan binatang-menulis. Membaca-baca entri-entri yang lalu, ada kerinduan untuk mengabadikan kegiatan sehari-hari atau menganalisis kejadian-kejadian. Jika aku cukup iseng, mungkin akan 'kutelusuri, sejak kapan aku menyatakan permusuhan dengan makna. Pembicaraan dengan Togar Tanjung mengingatkan suasana kebatinanku pada saat itu, ketika kata-kata masih bermakna.


Nyatanya pikiran masih liar kebat-berkebit. Haruskah 'kujinakkan sekarang, atau 'kuikuti saja liar gelinjangnya. Tapi ini 'kan entri bukan disertasi. Bagaimana dengan kerinduanmu tadi, yang membuatmu bisa merasakan, ya, menghadirkan kembali suasana persekitaranmu ketika itu. Dapatkah serakan makna ini melakukannya, sama seperti lukisan rinci kegiatan, analisis kejadian. Hahaha, baru sampai sini saja sudah terasa jijik. Memang aku tadi sarapan pukul sebelas menjelang tengah hari waktu Amsterdam Utara, dengan rendang basah vegan dan sop sisa-sisa.

Seekor Merpati Putih mencoba menentengku ke masa ketika aku dibuai di awang-awang. Namun aku sudah terlalu berat untuk ditenteng oleh cakar-cakarnya yang mungil. Tidak ada pula keinginan padaku untuk membiarkan diri diterbangkan ke awang-awang begitu, mana sekarang jaman kopid. Di usiaku yang menjelang empat puluh lima, Insya Allah, Agustus tahun ini, aku memang sudah banyak berubah. Sulit bagiku merasakan kembali apa yang 'kurasakan ketika masih tiga puluh lima atau lebih muda lagi dari itu, terlebih dalam situasi ishoma (isholasi mandiri).

Jadi, 'kurasa, aku 'tak sanggup lagi, 'Gar. Sopuyan Sang Mutiara sudah mendapat restu dari istrinya untuk tidak mencari uang dan fokus mengejar propesor. Mengejar, bahkan aku sedang terpincang-pincang. Aku hanya ingin mencinta sekarang. Mungkin kau masih harus mewujudkan doa-doa Ibumu. Aku pun. Semoga segera terwujud. Bila sudah, aku hanya ingin mencinta. Kita ada karena cinta. Kita hidup pun [seyogianya] dalam cinta. Di dunia ini, ketika cinta dipermain-mainkan, ketika cinta tidak pernah menetap, aku senang karena ada Istriku Sayang.

Dahulu aku masih sering melakukan ragaan-ragaan dari yang heroik sampai erotik. Kini, ketika raga sudah semakin menunjukkan tanda-tanda keausan, jiwa belum lagi tenang. Apakah dengan 'kulampiaskan di sini, akan habis kebat-berkebit itu, atau justru makin menjadi. Aku 'tak tahu. Apalah yang aku tahu. Ini saja, Seekor Merpati Putih, 'kurasa aku masih ingat betapa ia mengharu-biru empat tahunan yang lalu. Kini, yang seperti ini tidak mengusik jiwa, hanya raga yang masih terus-menerus bereaksi kimia. Aku tidak menyalahkan, namun 'tak berani juga sekadar mengikuti.

Seperti sekarang ini, aku tidak yakin ini dalam rangka menjinakkan. Aku hanya tahu, malam ini aku harus berusaha tidak mencari mangsa, jika tidak mau jadi orang tua menjengkelkan. Merpati Putih yang penting Seekornya, entah mungkin ia tengah menjalani kehidupannya yang tidak sesemarak bayangannya ketika remaja, atau bahkan jauh lebih baik. Rasa tidak pernah benar di raga, selalu di jiwa. Aku hanya bisa mendoakan, membumbungkan madah cinta bagi semesta, seluas yang mampu 'kujangkau. Jika masih 'kulakukan, semata-mata mekanis. Tidak lebih.

Sudah barang tentu, tidak mungkin aku mendaku apapun kecuali yang jelek-jelek, yang nista-nista. Hidup [di dunia] ini Sekadar Impian, seperti tidurmu yang menimpa lengan kanan ditukar yang kiri, berbolak dan berbalik, berganti-ganti mimpi. Entah berkualitas atau tidak tidur semacam itu, namun itulah kenyataan tidur di atas kasur 'tak berseprai. Masih mending sekarang ia tidak berkeriat-keriut ketika engkau berguling bolak-balik. Kasur pegas itu telah 'kaulalui. Insya Allah, seperti halnya kasur itu, semua ini pun akan berlalu dengan kebaikan Sang Maha Baik.

Thursday, December 31, 2020

Untuk Bayi-bayimu, yang 'Tak 'Kupercaya


'Gar, mungkin kau jengkel, atau setidaknya bosan, membaca entri-entri Kemacangondrongan, karena kebiasaanku menyerakkan makna, karena pendirianku bahwa makna pun perkakas, seperti halnya bentuk dan bunyi. Mungkin kau masih mendamba makna. Aku tidak bisa menyalahkanmu. Siapa yang tahu berapa lama lagi kau harus hidup di dunia. Seberapapun lamanya, kau pasti ingin memaknai hidupmu, meski, kau tahu, aku akan mencelamu karena menjadi terlalu biasa. Kita memang harus biasa, 'Gar, harus lumrah, dan lumrahnya hidup itu bermakna. Begitulah lumrahnya.


Harus segera 'kususulkan di sini, dan ini 'kutujukan pada kalian, 'Rid, 'San, [aku tidak tahu apakah Hari Prasetiyo segabut itu] Togar Tanjung di sini bukan semata Bapaknya Duma. Ia sesungguhnya adalah tokoh khayal dalam semesta paralelku, yang bisa 'kubentuk sekehendakku, berbunyi sesukaku, dan, terpenting, nirmakna. Meski begitu, satu hal yang sama antara Togar Tanjung yang Bapak Duma dan Togar Tanjung dalam semesta paralelku, rambut keduanya sama-sama awut-awutan seperti keset welkom. Jadi ini sebenarnya surat yang lusuh dan lecek, berantakan.

Tidak seperti 2018, tidak juga seperti 2019, apakah aku harus pura-pura tidak tahu, pura-pura tidak peduli. Keterkurungan tanpa nasi uduk bulu ayam yang membangkitkan gambaran-gambaran mengerikan. Mengapa harus ada yang mengakibatkan harus mandi sampai demam. Tidur dengan baju lebih dari lengkap, meski agak dua jam kemudian melucuti satu persatu. Ini semua... bermakna hahaha. Terkadang tidak juga, namun justru di situ letaknya, seperti bioskop Rahayu Theatre atau apapun. Kebanyakan memang mengenai masa lalu. Ada juga sedikit masa depan.

Apa yang menjengkelkan ketika pertemuan pertama, pada nilai mukanya, bisa jadi mengundang senyum setelah sepuluh tahunan. Setelah sepuluh tahunan itu berhasil dilalui, sungguh menakjubkan, dengan selamat. Ini pun, sekiranya diizinkan, akan menakjubkan ketika berhasil dilalui dengan selamat. Memang bentuk tanah yang aneh di apron timur itu sangat khas, meski tidak sampai sehebat Singa yang menelusuri jalan pulang ke rumah dari belasan ribu kilometer jauhnya. Ini bahkan jauh lebih menjengkelkan. Siapa sangka ia akan menghuni daftarmainku setelah lebih sepuluh tahun.

Benar-benar seperti tai diberakin kampret, baik bentuk maupun bunyinya hahaha. Ampuni hamba, Ya Allah, jadikan ini semata cara hamba bersyukur padaMu. Apalagi ini, kemudaan. Apalah arti itu semua. Akankah berarti, apa yang harus 'kulakukan. Apa yang 'kuyakini. Aku tidak yakin. Aku hanya merepotkan. Mengapa banyak sekali aku. Mengapa akal sehat dan hati nurani seakan tidak bekerja. Apa yang 'kutahu mengenai akal sehat dan hati nurani. Entah mengapa tiba-tiba aku ingat Lapangan Alexander, karena aku berhasil melaluinya dengan selamat.

Tirai telah terbuka, menampakkan potong atas. Aku terlempar jauh ke dalam Debbie jurusan X-deres ber-AC yang selalu 'kutakuti, belum lagi segerombolan bau tai. Jika tidak dicatat, mungkin tidak akan pernah ingat kesan utama suatu masa. Utama, kata siapa. Kataku sendiri, karena hanya itu yang jujur. Tidak banyak berguna. Tidak ada yang peduli juga. Betapa dalam lima belas tahun dari acuh tak acuh menjadi tolol. Betapa banyak perubahannya dalam kurun itu. Aku hanya harus menahankannya sebentar lagi. Tidak perlu mengeluh. Tidak usah mengaduh. 'Takkan lama.

Tidak perlu jengkel juga, mengapa beberapa menarik hati sedang lainnya berat hati sampai 'tak jadi. Jika kau ingat lebih dari lima belas tahun lalu begitulah terjadi. Apa yang kau ingat. Tahu petis di depan Gramedia Depok yang semakin tidak relevan itu. Terlebih fotokopi. Bahkan pendidikan tinggi bisa jadi somay, indomie, atau okonomiyaki. Ini adalah alarm atau nada-dering dari waktu-waktu itu, di pojokan di mana segalanya terjadi, bermula. Jangan pula kau tanyakan mengapa. Aku memang cengeng. Sungguh semua terasa seperti tiada arti. Makna. Tiada.

Monday, December 21, 2020

Tadinya Sebuah Nama, Namun 'Tak Jadi


Ya, sebuah nama yang gagah, sesuai dengan orangnya. Namun sekarang aku jadi bertanya-tanya mengenai yang memberi nama. Mengerikan sekali nasib yang menimpanya. Aku mendengarkan kaset nada-nada sok ngejez terbaik dari 37 tahun yang lalu. Adakah itu nasi uduk yang dijual oleh seseorang yang anaknya masuk ke dalam dasternya, lalu si anak berkata, "tai, tai, tai." Astaga sudah dari jaman itu. Aku masih ingat rasanya. Aduhai. Aku tidak peduli dengan dunia ini, sudah tegas dikatakanNya. 'Kujalani sedapat-dapatnya, dari hari ke hari. Yang penting-penting saja.


Ini lagi rendisi Tante Dionne mengenai Hari Kita Akan Datang. Ya rendisinya, ya kenangannya. Aku tidak mau mengenang-ngenang, karena lengan bawah kananku sedang aneh. Aku memanaskan minuman havermut rasa coklat terlebih dulu, setelah sebelumnya semug besar teh hitam dengan rempah-rempah musim dingin. Sementara aku diganggu atau justru asyik dengan semesta paralel, dunia mungkin sedang mempraktikkan yang senyatanya, das sein. Akankah aku dihukum karena pikiranku mempemainkanku, das sollen. Antara ought dan is, ada juga.

Semata-mata reaksi kimia. Semata-mata KesepianNya. Begini memang caranya. Kronologi adalah ilusiNya sekaligus IlusiNya, atau dengan kata-kata lain, Sang Kala. Terombang-ambing di antara aku adalah dualitas. aku adalah genap dan kegenapan. aku, siapapun di alam ciptaan ini, tidak ganjil, tidak ada yang unik, karena Unik adalah Hanya. Lama-lama menjengkelkan maka 'kuganti dengan yang ada Seandainya Engkau Berada dalam Pelukanku Lagi, yang mengharu-biru banyak anak bocah sebayaku. Haruskah 'kumembenci diri sendiri, pasti banyak lainnya.

Robek di arah jam satu, tiga, lima, tujuh, sebelas, hahaha. Ini 'sih kena petasan ciplik, sedang Si Ciplik tidak henti-hentinya memaki. Mengapa. Tidak. Sungguh, aku tidak menertawakannya atau nasib yang menimpanya. Aku menertawakan deskripsi itu sendiri. Nyatanya belum 'kuganti juga gara-gara Sergio Mendez, meski ingin sekali 'kumenoyor kesokcerdikan pilihan-pilihannya. Oh, aku bisa rampak begini. Atas izinNya, segalanya akan indah pada waktunya. Aku tidak pernah merobek apapun, dan tidak pernah ingin, seperti 'ku 'tak pernah ingin reebok, etc.

Aku memang tidak harus peduli. Aku hanya harus menjalani sampai selesai. Sudah begitu saja. Akan halnya aku kembali ke suatu siang pada suatu rombong rokok di depan gardu listrik, sampai digantikan oleh anaknya masih di situ juga, tidak pernah terjadi di alam nyata. Aku bicara praktik padahal aku orang yang paling tidak praktis. Meski harus 'kusebut teras Oom Karyadi dan kol banda. Aku tidak keberatan dan tidak punya preferensi. Sampai hari ini selalu saja kebatan dan kebitan, tidak pernah lebih, tidak pernah kurang dari itu. Akan berakhir, itu pasti. Bersabarlah.

Akhirnya aku membayangkan diriku berakhir di GerobakgoyanG, mungkin tidak. Mungkin aku berhasil mencari pertolongan. Namun buat apa. Yang penting adalah segala sesuatu sebelum berakhir itu. Antara disayangi dan disia-siakan sudah sehari-hari. Yang mana aku tidak pernah akan tahu, karena tidak penting juga. Hanya saja, membayangkan GerobakgoyanG sungguh menyenangkan, atau mungkin tinggal itukah kesenangan. Sebuah ruang belajar yang permai mungkin tidak akan pernah kudapati. Bahkan gardu belajar sudah tidak... apa. Entahlah. Lupa.

Kekecilannya. Antara posisi duduk dan ukuran huruf, 'kumulai lagi di paragraf terakhirnya. Entah mengapa aku kembali ke sini, setelah hampir lima belas tahun. Waktu yang 'kuklaim 'kuhabiskan bersama nelayan. Mungkin benar, dalam khayalku. Semoga Allah menutup aibku, mengampuniku, memaafkanku. Paragraf terakhir ini 'kutambahkan ketika badanku terasa meriang disko, gara-gara mandi. Seharusnya tidak boleh, namun aku melemparkan diri ke sekitar sepuluh tahun yang lalu. Masa lalu hanya indah karena aku berhasil melaluinya dengan selamat. Sudah.

Tuesday, December 01, 2020

Aku Kembali ke Jalan Panjang yang Berliku


...dan aku lupa di mana harus berhenti. Atau di mana harus mulai. Semuanya telah tiada. Sawah-sawah itu. Bangau tongtong itu. Tanah merah berdebu itu. Semua dari akhir 1980-an. Semua dari 30-an tahun yang lalu. Dan rambutnya yang keriting kemerahan. Tidak ada artinya bagiku itu semua, ketika sebuah rumah kosong di bilangan Jalan Jakarta menghancurkanku. Ah, tidak juga, memang sudah hancur dari sananya. Sejak di Kemayoran sampai di Amsterdam hahaha. Ini lebih dari sekadar ketololan. Ini kengerian. Sungguh semoga ini semua segera berakhir.


Entah kapan mulainya, musim panas lalu aku sering mendengarkan jez kethuwil-kethuwil nduliti tuts piano. Barusan aku jengkel padanya dan menggantinya dengan... Nada-nada Sokngejez, dimulai dengan Merayakan. Jengkel juga sih, tapi malas pula untuk menggantinya. Oh, itu waktu-waktu yang mengerikan. Bahkan sampai sekarang pun masih mengerikan. Mulainya entah kapan, menghentikannya entah bagaimana. Setelah Cinta Pergi adalah waktu-waktu ketika Jalan Panjang Berliku telah digantikan Perumahan Harapan Kita. Mengapa aku harus melalui semua.

Dan lampu bohlam yang dikerobongi rol bekas tisu gulung, digunting pada beberapa tempat agar muat masuk bohlam ke dalamnya. Remang-remang jadinya, sejuk juga udara seingatku. Entah musim penghujan tahun berapa. Akhirnya, aku tidak akan mengerang. Tempat tidurku di atas, hampir sejajar dengan erang-erang asli. Karena kami tidur di tempat bekas praktek dr. Hardi Leman, yang menurut Ibu masih suka mengaduk-aduk minuman tengah malam. Betapa mengerikannya. Bahkan anjing suka melolong di Enge datang nyamuk pu hilang. Khayal belaka semua. 

Iaitu Dina dan Maureen, atau buah-buahan menggelantung ketika menyapu halaman di pagi hari. Toh, aku lebih sering telatnya. Meski Herman sudah memanggil-manggil mengajak berangkat bersama, aku justru baru bangun. Misteri Tebing Menyala boleh beli di Kisamaun, seingatku buru-buru pulang langsung mencret. Bersama Pak Tuek ketika itu. Kau Membuatku Tersenyum Kembali. Siapa, Yuli binti Markus atau John Kotelawala, atau jalangkung di rumah kosong. Semoga tidak ada lagi yang mengalami apa yang kualami, yang masih harus kualami baru saja.

Cocok ini menemani suasana setelah hari mulai beranjak malam. Programa Dua menayangkan kalau tidak Square One ya Valerie. Lebih malam lagi ada Supercarrier dan Fun House. Aku tidak ingat apakah pada saat itu masih ada Balki atau Gus Witherspoon. Yang jelas ada Bravestarr dan Mandy Smith yang sudah tidak sabar menunggu waktu bertemu denganku. Ada juga suatu malam ketika sepasang mata mencorong memandangku dari dalam gupet. Dingin, seingatku. Apakah di lantai. Ah, biar 'kucatat di sini. Rah Band - Clouds Across the Moon. Ngejez apanya.

Akankah 'kusesali selamanya, betapa aku, anak Bapak Ibuku, menjadi begini. Sesuatu yang 'kurintis sejak di Kemayoran, lanjut di Kebayoran, menjadi di Cimone, mengerikan di Kebayoran, Magelang, Surabaya. Aku tidak mau mengerang. Tidak lagi penting mengapa mulai. Jauh lebih penting bagaimana mengakhiri. Terkadang rasanya seperti disambar-sambar, berkelebat berkesiuran di dada. Entah sudah lebih dari setengah kujalani atau justru tinggal sebentar lagi. Aku yang pura-pura alim padahal kehijauan ini. Tidak. Aku anak Bapak Ibuku. Itu saja. Tidak lebih.

Malam ini awal Desember, berhujan di Amsterdam Utara. Tidak banyak yang dapat 'kuceritakan mengenai perihalku di sini. Aku justru menghamburkan kepingan-kepingan diriku, serpihan-serpihan ingatan yang tidak hendak pula kususun menjadi utuh kembali. Ingatan-ingatan yang tidak henti-hentinya mengganggu, seperti ketika Patti memintaku untuk mengatakan padanya, aku mencintainya. Selalu saja aku kembali ke jalan panjang yang berliku, setelah setua ini. Semoga ke depan, entah panjang atau bagaimana pun itu, tidak lagi berliku. Lempang saja adanya.

Tuesday, November 10, 2020

Renungan Hari Pahlawan 2020: Kang Kopid


Aku menulisi ketika sedang apa, sih. Ketika sekonyong-konyong aku kembali ke kamar mandi Graha 10, di akhir 1991 atau awal 1992, sedang aku berusaha menyanyikan Dari Rusia dengan Cinta, mencoba membidik nada yang tepat. Bukan. Bukan karena Bu Eko pernah menugaskanku menjadi solis Tonpara, melainkan karena memang semenjak pindah kembali ke Radio Dalam aku rajin berlatih membidik nada lagu-lagu Matt Monro, yang menjadikan wawasan vokalku Monrois. Nah, begitulah saja hidupku. Merasakan kembali masa lalu di situasi dan kondisi kini...


...yang bisa jadi nyaman, bisa jadi muram. Yah, mulai deh kebiasaan buruk merepotkan diri sendiri. Biarlah. Tidak sekadar sastra, ini seni rupa. Ini instalasi (halahmadrid!) Ini lagi, seorang anak perempuan menyanyikan lagu bapaknya, yang menemani hari-hariku entah di kamar mandi Gama I No. 26 atau atap asbesnya yang sambung-menyambung. Disambung dengan Mencintaimu Adalah Hal yang Tepat, yang tidak kuingat dengan pasti apakah sejak Gama I No. 26 itu atau baru setahun menjelang Magelang. Ini jelas bukan renungan mengenai kepahlawananku sendiri.

Bukan pula kepahlawanan Daniel Daly, karena aku lupa 'kuberi judul apa ia dulu. Hanya saja terkenang pernah dinyanyikan di sebuah warung minum di Maastricht. Jika masa lalu tak berdaya maka berdayakan sekarangmu! Iya, tapi 'kan tidak mungkin sekarang juga, sudah malam begini. Beginilah jadinya jika aku bercakap-cakap dengan diriku sendiri. Ah, betapa dahulu bisa sampai sesak berurai air mata jika Pasang Surut begini, meski sudah tadi di kamar mandi. Hahaha begini caranya meretas ruang dan waktu. Mesin waktu, aduhai! Begini ini caranya, menjelajahnya!

Sangkal keberadaannya! Betapa di suatu siang hatiku diharu-biru oleh Tante Connie. Aku, bocah remaja kencur 13 tahun, dan itu 30 tahun yang lalu. Apakah aku menjadi insiyur kapal terbang, tentu tidak. Dari dulu pun tidak. Aku juga tidak habis pikir mengapa bisa sampai begini. Akankah 'cita-cita'-ku tercapai. Aku tahu, aku tidak pernah dihitung oleh Bu Ismu, meski aku tidak tahu apa hebatnya Rudy Saladin dariku. Asaptaga, dia punya halaman Wikipedia. Aduhai, orang-orang macam apa kalian ini. Jangan-jangan ada gadis yang Menyandarkan Kepala pada Bahu kalian.

Meski itu di ruang BPM lama dalam keadaan senista-nistanya, dengan tas selempang UI berisikan Bondet di dalamnya, tidak ada gadis yang menyandarkan kepala pada bahuku. Meski ruang bersama Asrama UI dipenuhi harum sabun gadis-gadis baru mandi, dengan rambut-rambut mereka yang basah, Aku Ingin Melakukannya Denganmu. Ya, hanya kamu. Aku selalu percaya, sudah disiapkan satu untukku asal aku menjalani hidupku dengan benar. Apa artinya ruang dan waktu, kecuali sebuah studio seluas 26 m2 dengan sewa EUR 650-an sebulan. Tidak ada!

Semata-mata karena kasih-sayang Bapak dan Ibu. Sisanya adalah barang kotor dan bau yang bagusnya dipendam saja dalam-dalam. Seperti apapun bentuknya, mau Matt Monro apa Marilyn Monroe. Lantas Berjingkrak-jingkrak di Salju, berlalu begitu saja, meski sangat berkesan, membekas, tergurat dalam pada ingatan, pada kesadaran. Makna, 'Gar, tidak berdaya. Jangan kau bergantung padanya. Ingkari ketergantunganmu pada makna. Mungkinkah bunyi, atau bentuk. Apapun itu selain makna. Makna tak berdaya. Hanya satu impian semata. Makna hanya ilusi! Hahaha.

Cinta, Cinta, Cinta. Di mana kau sembunyikan makna. Tepat di pelupuk matamu. Di situlah tempat persembunyian terbaik. Begitulah caraku mengatakannya, dengan cara Latin, betapa aku sangat mencintaimu. Woi, ingat! Sekarang. Itu satu-satunya cara meretas ruang dan waktu, dengan berada pada kekinianmu, sekarangmu. Terlebih setelah Angin Sepoi-sepoi Musim Panas sudah tidak bertiup lagi, digantikan musim gugur berbadai, jangan lagi mencari makna. Bersetialah, bertahanlah pada sekarangmu, sekuatmu. Jika sudah tidak kuat, silakan melanglang waktu. Sesukamu.

Wednesday, November 04, 2020

Patronim, Patronimo dan Patrick O'Nolan


Sangat bisa dipahami kalau Ibu sudah tidak kersa lagi mirengke lagu-lagu kesayangan Ibu dari jaman muda dahulu. Aku pun kini sudah mulai merasakannya. Terkadang lagu-lagu itu membawa kenangan yang sebegitu menyakitkannya, sampai aku tidak tahan bahkan baru sampai birama ketiga. Apa aku akan mencoba membereskan caraku berpikir mulai dari saat ini, atau 'kubiarkan saja. Apa 'kuterus-teruskan menulis asal-asalan seperti ini sampai membahayakan diri, atau 'kuperbaiki sedari sekarang. Hei, teringatnya, sekarang pratinjau sudah tidak pakai pethungulan lagi, sudah kembali seperti sedia kala. Nah, begitu, dong!

Uah, ['kurasa, sudah agak lama aku tidak berseru begini. Ini pertanda baik. Artinya hatiku riang] betapa tidak riang rasa hatiku. Helmut Zacharias menyenandungkan Orang-orang Asing di Malam Hari, sedang aku baru meneguk Oatly hangat rasa coklat. Kau harus lihat betapa rampak jari-jariku mengetiki. Kau. Siapa. Tiada. Mengapa. Nah, sudah mulai, 'tuh. Sudah seperti biasa. Perbidadari 'lah keberesan cara berpikir, yang penting hatiku riang, yang penting jariku rampak mengetiki. Biar 'kuabadikan di sini. Kemarin, Selasa Pon, 17 Rabiul Awal 1442 H/ 3 November 2020 M telah lahir Endra Budiarto Prasodjo bin Gunawan.

Nama tengahnya diambil dari nama Neneknya dari pihak ibu. Oleh Bapaknya diberi nama "Endra", digayakan dari nama Batara Indra namun dengan "i" dibunyikan "e" seperti orang Jawa, agar seperti "end" dalam Bahasa Inggris. Ini merupakan harapan dari Bapaknya agar Endra menjadi anak ragil. Entah mengapa, pada saat-saat kelahirannya aku berdoa, semoga ia, bersama kakak-kakak laki-lakinya, menjadi seperti Rama, Lakshmana dan Sathrughna, laki-laki gagah perkasa nan penuh hikmat kebijaksanaan, pecinta kebenaran yang lembut dan rendah hati, menjadi kebanggaan orangtua-orangtuanya.

Doa yang sama tentu saja 'kupanjatkan bagi Kambing Balapku Fawaz Hamdou Nitisemito bin Ade Azurat. Telah 'kukatakan pada Ibunya, panggilanku ini tanda sayangku padanya. Tidak ada yang 'kusayangi melebihi binatang. Tidak pistol, senjata apapun, apalagi turangga semacam BMW Mercy dan sebagainya. Aku penyayang binatang! Lagipula lihatlah orang-orang gagah seperti Gajah Mada, Hayam Wuruk, Kebo Kenanga, Kebo Kanigoro, maka begitulah Kambing Balapku. Ayahmu pasti punya doa-doa untukmu, begitupun aku, Bapakmu. Besar harapanku padamu, maka 'kuberi makan uccus kau selalu.

Helmut Zacharias masih bersiul-siul dengan violinnya, serampak aku masih mengetiki dengan VivoBook-ku. 'Kuterima hidupku apa adanya. Beginilah rasa, setiap hari memandang keluar jendela, di tengah wabah bersimaharajalela. Tidak bisa lebih benar lagi nasihat Sersan Elias Grodin dalam situasi seperti ini, satu nasihat yang sulit diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia atau Jawa. Meski aku baru tidur sekitar lima jam malam ini, aku seriang remaja tanggung yang berlari-lari kecil di sekeliling Katedral Winchester. Sekitar jam empat terbangun karena lambung kebanjiran asam, maka sulit tidur lagi.

Telah berulang kali 'kukatakan [pada diri sendiri], ini bukan tempat berdoa. Dinding pesbuk juga bukan. Berdoa itu berbisik-bisik pada hati, sedalam apapun yang kau sanggup. Biar 'kucatat di sini, biar tidak lupa. Shadr. Qalb. Fu'ad. Syagf. Lubb. Sirr. [Nur?]. Allah. Apa pantas mencatat ini di tempat mesum begini. Habis aku punya catatan apa lagi. Sungguh tidak praktis, dan tidak ramah lingkungan pula, masih memelihara buku-buku catatan jaman sekarang. Aku saja agak menyesal membuat catatan baru di Perimbas! Kapan aku punya waktu untuk mencatat di situ, sedang di Kompasiana dan Watyutink juga ada. [huft!]

Demikianlah, Aku Bono bin Harnowo, sebagaimana Endra bin Gunawan dan Fawaz bin [Ade] Azurat. Begitu saja terus. Tidak ada yang tahu. Aku tahu. Aku tidak. Aku hanya minta ampun. Aku Bapak dan Pakde, juga Oom. Begitu saja. Insya Allah, dalam setiap tahunnya bisa saja aku mempunyai anak-anak, laki-laki maupun perempuan. Itulah anak-anakku juga. Cukuplah bagiku, bapak-bapak botak, gendut, tidak berpeci dan bersetelan, meski mungkin harus berkacamata baca, entahlah. Semoga gigiku tidak pada sakit seperti selebihnya badanku pun. Katanya tidak mau berdoa di sini. Aku tak tahan. Aku pengecut dan kesepian.

Saturday, October 31, 2020

Sukesi Suka Sawi, Pourquoi C'est Comme Ci


Ini adalah entri mengenai kesakitan [sakit 'mulu]. Baru sampai sini saja sudah seperti mau berhenti rasanya, setelah melihat bentuknya Ahmad Bla'ar, dilanjut Juwita. Hahaha biar aku sendiri kebingungan suatu hari nanti melihat ragaanku sendiri. Apa yang diragakan, ragaannya, dan kesan yang ditimbulkannya, sudah kehilangan hubungan sebab-akibat; seperti pilihan E ketika pernyataan dan alasan salah namun menunjukkan hubungan sebab-akibat. Aku tidak mau mengakuinya! Aku harus tetap berusaha. Apa. Ini perjuangan berat menciptakan ragaan-ragaan tanpa ada yang diragakan, meski harus timbul kesan.


Apa 'gak malu sudah tua. Justru karena sudah tua itu. Sudah hilang kemudaanku. Tiada lagi buncahan itu meski memang tidak pernah benar-benar membongkah. Aku benar-benar sudah lupa dan itu lebih baik. Apakah terlalu cepat, sedangkan lebih cepat tidak selalu lebih baik. Lebih baik cepat, karena jika sampai terlambat alangkah menjijikkan, dan ini mengingatkanku pada gula yang suka bersepeda. Sakit hatiku karenanya. Sedang aku yang membayar malah yang lain jadi gula-gulanya. Salah sendiri hahaha. Dasar tolol, masih saja tidak belajar; yang seperti itu 'kan selalu saja tolol lantas berakhir pada kesakitan.

Apa 'gak malu pernah 'ngaku koder. Maka 'kuserukan, 'kulantangkan: Mancis! Geretan! Di sini kenanganku begitu saja melayang pada suatu siang bermendung di bilangan Condet agak empat tahun lalu, ketika aku belum minum segala obat darah tinggi secara teratur. Segala hidung. Segala rambut. Terlihat di situ kurang cerdas. Lantas untuk apa. Baru sampai di sini saja sudah interuptus. Pakai ngomyang lagi, meski embun memberat menjatuhi bingkai jendela dari aluminium. Seperti cicak-cicak mengetuk-ngetuk dengan ekornya, tempat menyimpan lemak. Uah, ini gara-gara sawi! Bukan sawinya Parul 'ya.

Tapi ada Jepang-Jepangnya, jadi 'ya Parul juga hahaha. Di sini maka melayang lagi ke belakang Burger and King, ketololannya. Kesakitannya. Menyeberang sudah tidak terlalu gampangnya. Itu masa-masa yang aku sudah mulai lupa rasa-rasanya. Bisa jadi itu semacam Oh La La, dengan quiche bayamnya, masih dengan kamomil seduhnya. Ada tercatat di sini juga. Ada kesakitannya. Astaga. Ini seperti nithili pinggir-pinggir koreng yang mulai mengering. Perih-perihnya. Pahit-pahitnya. Seperti memakan kotoran kuku ketika shalat Jumat, dan bapak-bapak begitu saja bergidik kejijikan. Nah, satu lagi. Kejijikan.

Nah, di sinilah saat kebenarannya, apakah ia menurut, atau aku harus pura-pura jadi koder lagi. Aku jelas kurang tidur dan masih harus nambah tidur lagi, yang mana pasti tidak nyaman. Gelibagan nanti jadinya. Banyak. Jika diurut satu persatu. Bisa banyak sekali. Jangankan itu. Robot dan sejenisnya pun pernah ditembak Mauser C96 ketika sedang menyapu. Dan buah-buahan! Astaga, jika berangkat sekolah agak pagi pasti bertemu buah-buahan sedang disapu-sapu kemaluannya. Astaga masih saja tidak tahu malu. Biji! Biar kulantangkan di sini. Kusalahkan engkau berdua, menggelantung tak sama rendah di bawah sana!

Belum lagi kuburan dan lapangan bola. Jengger ayam! Kesetaraan jengger! Lengan yang digamit entah sudah berapa lengan, selangkangan yang dislepot entah berapa sontolmeong. Ini semua sekadar makian seperti sejuta topan badai, tidak harus berarti apa-apa. Lebih tepatnya, ini ragaan. Semacam botol air dengan bentuk futuristik, bertuliskan savaz padanya, entah apa artinya. Ini mungkin juga meri, anak bebek. Oh, Allah Dewa Batara, kau seperti seekor cicak yang kubelah dua tepat pada perutnya, membuatku muntah. Kau seperti kodok yang kubelah-belah untuk pelajaran biologi. Oh, betapa berdosanya aku. Ya, Allah Dewa Batara!

Ini. Seperti ini. Ragaan-ragaan ini. Dalam studio seluas duapuluh enam meter persegi ini, sering terjadi kengerian-kengerian. Kesendirian. Kesepian. Kepandemian. Kepandemoniuman. Begitu saja, menurut Prof. Dr. Andri G. Wibisana, panoptikon keren. Aduhai. Apa itu keren jika bukan perut yang semakin ndlewet. Mungkin lebih baik begitu, daripada berterusan ini segala kengerian. Lebih baik begini. Gula adalah sekadar manisnya, dan manisnya itu bukan gula sendiri. Jangan sampai kau tertipu, manis yang kauingingkan, gula yang kaucari-cari. Jangan begitu. Habis ini masih harus diperiksa, apakah masih harus aku sok ngoder.

Wednesday, September 30, 2020

Suatu Entri Mengenai Lagu untuk Keisya


Tahun lalu aku menulis mengenai Gestapu (halahmadrid!). Sekarang apa aku harus melakukannya juga, meski sekadar agar September tahun ini ada entrinya. Masakan aku terus menulis entri seperti ini, sedangkan sepanjang bulan ini rasanya tidak sepatah kata pun kutulis untuk disertasiku. Jelasnya, aku sedang berada di ketinggian REC.B, Lantai 5 tepatnya, setelah berbulan-bulan lamanya. Tidak ada salahnya aku membiasakan diri dengan suasana ini, dengan cara menulis entri (halahmadrid lagi!) Semoga benar-benar tidak salah, menulis-nulis entri begini.


Sebelum Karim muncul tadi, sambil mengunyah focaccia mozzarella, aku membatin pada diri sendiri, akan ‘kutulis dulu syair lagu untuk Keisya. Ya sudah, biar ‘kulakukan sekarang.

Di sore hari, matahari terbenam
Suara jangkrik mulai terdengar, merdu
Angan melayang mengenangkan kampung halaman
yang telah lama ‘kutinggalkan

Bapak bersantai sepulang dari ladang
bersama Ibu menunggu turun senja
Kawan-kawanku berlarian menuju surau
riang menyambut panggilanNya

Meskipun kini ‘ku sebatang-kara
merantau jauh di negeri orang
Doa Ibu ‘kan selalu menemaniku

Meskipun berjuta aral melintang
menimpakan segala duka lara
Doa Bapak ‘kan selalu menjagaku

Di sore ini, sungguh damai hatiku
Terucap doa bersyukur kepadaNya
Semoga berkah semua jerih-payahku
demi hidup di masa depan


‘Udah gila apa. Masa Keisya disuruh nyanyi beginian. Yah siapa tahu. Anak-anak butuh masa depan yang lebih cerah dan lebih baik, dan itu harus dimulai, dirintis dari sekarang. Memang agak sedih dengan segala keterbatasan ini. Haruskah ‘kutanyakan pada Arum apakah ia memiliki kamera DLSR yang dapat kupinjam untuk membuat rekaman yang lebih baik. Yang jelas, aku belum cukup gila, jangankan untuk membeli alat-alat perekam kualitas studio, membeli irfon blutut semurah apapun saja belum cukup gila.

Karim tampak senang bertemu denganku. Aku pun senang bertemu dengannya. Mungkin memang harus begitu. Mungkin aku memang benar-benar harus main ke Jacques Veltmanstraat. Bukan untuk kesenangan inderawi semata, melainkan untuk saling menguatkan dengan Karim dan Mas Budi. Jika untuk kesenangan inderawi, cukuplah pendengaran dibelai-belai Marion Jola, Brisia Jodie, dan Ayu Putrisundari, karena aku tidak kuat lagi mendengarkan alunan ensembel biolanya Paul Mauriat, terlebih ketika seorang diri di Sepurderek. Itulah tadi aku bicara mengenai kesenjangan generasi.

Dengan syair lagu di tengah-tengah begitu, sulit bagiku mengontrol ketujuhlimaan. Tapi biarlah, toh ini bukan entri mengenai Gestapu, apalagi Gestok. Ini koq orang-orang yang dulu ketika kanak-kanak ketakutan menonton film Pengkhianatan G-30-S/PKI malah meributkannya sekarang, masih harus diputar atau tidak. Selamanya aku tidak akan lupa PC Sutisno yang memasang gambar mengerikan di buku ketika aku bahkan belum setua Adjie sekarang. Nama yang sama ‘kutemukan sebagai penulis naskah baik “Kancil yang Cerdik” maupun “Si Kuda Kayu.”

[Masih tiga lagi, jadi mari lanjutkan.] Apakah masih mengenai Gestapu. Beberapa puluh tahun lalu, film sudah main agak sejam di Indonesia bagian barat. Aku dan Adik bahkan pernah sengaja malam-malam ke tengah-tengah lapangan voli di seberang TK Citra Kasih agar tidak mendengar suara-suaranya. Lantas mengapa pula A Hun dan keluarganya yang Hoakiau dari Bagan harus menyetelnya keras-keras. Apakah dengan begitu mereka ingin membuktikan [kepada siapa] nasionalisme dan patriotisme mereka. Memang jaman segitu hidup betapa absurdnya.

Jaman itu berlalu sudah demikian lamanya terasa. Kenyataanku adalah ketinggian REC.B5.01 sekarang. Menghadapi laptop yang kusangka biru ternyata ungu, dengan perut yang agak kembung, mungkin gara-gara lasagna salmon. Apa jadinya kalau kutambahi teh Ceylon murni, ya. Yang jelas sekarang Ari Lasso meratap-ratap Hampa di telingaku, dari awal 2000an, waktu yang lain lagi. Hanya ke depan sekarang aku bisa menatap. Bukan meratap, ya. Lantas ini ada rumah tropis dari anaknya Titi DJ, aku hanya menunggu telpon.

[Tinggal satu. Semangat!] Apa susahnya ngomong asal-asalan begini. Susah juga tauk. Terkadang dipaksakan seperti apa juga tidak maju. Entah apa benar yang mendorongku siang ini, di ketinggian REC.B5.01 begini. Yang jelas bukan gara-gara Gestapu apalagi Gestok. Kesaktian Pancasila, mungkin juga. Aku bukan orang yang sok-sokan kesian sama korban-korban gegeran 1965, meski aku kasihan juga. Aku juga tentu saja bukan orang yang teriak-teriak “Aku Pancasila,” karena aku Bono, meski aku menyunting buku yang kuberi judul Bersetia Bela Pancasila, Demi Jaya Indonesia.