Wednesday, September 12, 2012

HP 520 Mencoba Melampaui 2010


Kasihan... HP 520-ku ini mungkin memang sudah tua. Umur empat tahun untuk sebuah laptop mungkin memang sudah terbilang tua. Bunyinya sudah seperti hujan. Namun mungkin jika dibawa ke tukang servis laptop masih bisa diperbaiki. Kipasnya mungkin jadi tidak seribut ini. Dia ribut pasti karena prosesornya panas. Prosesornya panas karena apa? Entahlah. Prosesornya masih Intel Core Duo. Pada jamannya saja tidak termasuk yang tercanggih. Aku membelinya karena bentuknya sederhana, walaupun fungsinya juga ternyata sederhana. Masa colokan usb-nya cuma dua?! Hari ini panas sekali. Sama-sekali bukan berita. Ini memang sedang musim kemarau. Sambil menulis, aku mendengarkan If You Understand-nya George Baker Selection. Sedap dan manis selalu lagu ini. Belanda sekali. Nyaman. Terasa sepoi-sepoi di tengah panas menyengat dan kegerahan ini. Posisi dudukku tidak bisa dikata yang ternyaman. Sepertinya, meja ini justru lebih tinggi dari meja tulisku yang kini berada di Margonda Residence, kamarnya Sopiwan. Barang-barang itu. Seperti halnya meja tulis bekas Aerex-nya Bapak yang pernah begitu akrabnya denganku, awal 1996. Betapa dungunya aku waktu itu. Betapa dungu...


Kini kuputar I've Been Away Too Long, masih dari George Baker Selection. Bagus, tapi tidak manis dan sedap dan nyaman seperti lagu sebelumnya... eh... tapi harmoni vokalnya tetap manis ding. Yah... sedap juga lah. Bangun tidur pagi ini aku langsung sarapan Nasi Uduk Baba Gembul di Perpustakaan Pusat UI. Nasi uduk, telor ceplok sambel, tahu semur, tumis pare teri... ketika aku minta tambah telor dadar rajang, kata Bu Baba Gembul, itu berarti paket plus. Lalu ternyata sekarang ada ekstra teh tawar hangat tjap Prendjak. Jalan sebentar, ternyata masih haus, maka kubelilah Fatigon Hydro Orange Coco, yang sepertinya sudah tidak ada Fatigonnya itu. Wara-wiri sebentar... mungkin tidak sampai satu jam, melintas di depan warung mie ayam. Maka makan lagilah semangkuk mie ayam, ditambah segelas es kelapa muda dan S-tee. Masya Allah, banyak sekali makanku! Tadi malam, setelah membantu Sopiwan menyiapkan stan FH di Gelar Ilmu UI di Balairung, pergi makan ke Kopi Medan. Makan burger satu dan kentang mayo yang mungkin setidaknya habis satu porsi. Barusan aku ngopi White Koffie. Sungguh sangat mengganggu merek ini. White Coffee atau Witte Koffie, pilih salah satu! Ah sudahlah.

Rambutku sudah gondrong, pantas selalu berkeringat. Setiap kali cukur setidaknya delapan sampai sepuluh ribu rupiah. Mengapa begitu berhitung? Karena kenyataannya uangku tidak banyak sekarang. Ya Allah lancarkanlah, mudahkanlah semua urusan hamba. Tolonglah hamba ya Allah Illahi Rabbi. Kini Demis Roussos mendendangkan Goodbye, My Love, Goodbye. Eh, jadi ingat. Aku punya MP3-nya. Satu album lengkap Paul Mauriat Goodbye, My Love, Goodbye 1974, seperti kagungan-nya Ibu. Kaset yang sangat mengharu-biruku. Melodi-melodi yang membentuk suasana kejiwaanku. Sayang, sisi B-nya aku tidak pernah ingat orkestranya siapa... padahal seingatku aku justru lebih menyukai sisi itu. Dimulai dengan Tie a Yellow Ribbon yang teramat sangat manis, dilanjutkan oleh My Love yang aransemennya menyihir dan menghipnotis, kemudian Killing Me Softly yang... ah, tak mudah dilukiskan dengan kata-kata. Kini Demis Roussos membawakan From Souvenir to Souvenir. Ternyata tak satu lagunya pun kuhafal. Dan kurasa, kini aku sudah merasakannya, aku sudah terlalu tua untuk menghafal. Hafalanku semakin lemah dan aku semakin enggan menghafal... Ya Allah... Untunglah Forever and Ever menerobos relung kelam benakku, menenangkannya, menyamankannya...

Bawalah daku jauh melampaui khayal
Kaulah impianku menjadi nyata, pelipur lara

Sunday, September 09, 2012

Ketoprak yang Menyamai Produktivitas 2011


Minggu-minggu begini kuhabiskan di kampus, di ruanganku kini sebagai staf Sekretaris Fakultas di Gedung A Lantai 2. Seperti biasa selalu bingung mau makan apa, apalagi kalau uang a la kadarnya. Sempat terpikir tadi, toge goreng sepertinya enak. Namun mencari makanan ini kan susahnya minta ampun akhir-akhir ini. Next best option adalah ketoprak. Nah, biar kuceritakan pengalamanku makan ketoprak yang kubeli di depan Mesjid UI ini. Maafkan aku, Pak Penjual Ketoprak, tapi sejujurnya bentukmu langsung membuatku kehilangan selera makan, yang sebelumnya memang sudah sedikit itu. Lipatan lehernya yang dekil dan ngethel, kuku-kukunya yang kotor kehitaman, belum gerobak dan perabotan-perabotannya yang seperti tidak pernah dicuci, tahu yang direndam minyak. Pendek kata, ketopraknya pun tidak enak. Termakan, tetapi tidak enak. Ataukah karena aku sudah kehilangan sama sekali selera makan? Untunglah tahu gorengnya agak mendingan --beli di tempat lain. Kalau panas mungkin lebih enak.

Subhanallah, lagu ini tidak pernah tidak bagus! Fools Rush In. Selalu membangkitkan perasaan nyaman yang menyejukkan. Sepoi-sepoi. Suaranya Matt Monro memang syuper sekali. Sekarang ini lagu From Russia with Love. Ini adalah lagu pertama di Sisi A dari kaset Matt Monro pertama yang kupunya. Sebenarnya entah dari mana, kalau tidak salah punya Mas Yanto Cirebon. Lhah sekarang malah Gonna Build a Mountain. Aku lupa di sisi yang mana lagu ini. Ini juga syuper dahsyat! Waktu-waktu yang dahsyat ketika itu. Umur masih empat belas tahun. Empat belas tahun, Ya Allah, dua puluh dua tahun yang lalu. Jelas aja syuper dahsyat. Nggak ada keluhan ga ada masalah. Paling, jika memikirkan hal ini, jadi terpikir betapa setelah dua puluh dua tahun berselang masih saja aku menyia-nyiakan waktuku. Masih saja kendor lagi. Ya Allah... lancarkanlah segala urusanku dan mudahkanlah. Tolonglah hamba. Eh, tadi malam sempat lihat sebentar sekilas Bruce Almighty. Orang tidak menunggu datangnya mukjizat, mereka melakukannya! Mukjizat apa yang akan kulakukan dalam waktu dekat ini? Shalat Ashar tepat pada waktunya. Dan itu berarti SEKARANG!!!

---jeda shalat---

GET BUSY! Ini adalah pesan yang sangat sesuai untukku. Banyak sekali yang dapat kuselesaikan dan kuperbaiki kalau aku selalu menyibukkan diri. Banyak sekali! Tapi... ya... itu... Jangan berhenti sampai di semboyan saja. Setidaknya, Alhamdulillah, aku sudah berhasil shalat Ashar tepat pada waktunya, baru saja. Aku memang sedang merasa kurang sehat sekarang. Rasanya seperti masuk angin. Ini kurasa karena kemarin malam, sejak Maghrib aku berolahraga, berhenti sebentar makan Beef Spaghetti dan Surimi Wrap-nya PHD ditambah satu liter (?!) Teh Botol Sosro dingin, terus sampai jam dua pagi. Ah, lagu ini.... How Little We Know. Untuk sedikit inspirasi, bolehlah dicatat di sini, kemarin waktu Rapat Bidang Studi Hukum Administrasi Negara FHUI Kamis, 6 September 2012 bertemu Ibu Prof. Arie Sukanti. Beliau menanyakan bukuku.... Buku?! Buku!! Kata beliau, bilang Mas Jo, nanti saya yang bayar. Wah, bagaimana menyusun prioritasnya? Ada Mbak Emmy, Ada Pak Ambar... setidaknya dua ini yang harus diberi prioritas, selain Bu Arie tentunya. Kalau urusannya sama Mas Jo, bagaimana dengan Sofyan...?

PerhimPUnan Studi Hukum dan MasyarAKAt
untuk KesatuAn BAngsa dan KeaDIlan Sosial

Saturday, March 31, 2012

Stoller dan Göring Ngiler Liat Ayam Goring


Tidak usah repot-repot, Eric Alexander sudah suka Hitler. Serahkan saja padanya. Judul entri ini sedianya seperti yang sudah tertulis di atas itu. Akan tetapi, berminggu-minggu sudah berlalu dari suasana hati itu. Suasana hati ketika aku menonton The Winds of War di tengah hari bolong. Hermann Göring jelas merupakan tokoh faktual dalam sejarah, sedangkan Wolf Stoller jelas adalah tokoh rekaan. Bahkan baru terpikir olehku malam ini, nama itu jelas merupakan permainan kata. Wolf jelas untuk serigala. Stoller adalah plesetan dari Stealer. Sangat sugestif. Aku mungkin tidak akan bisa sepenuhnya tahu perasaan seorang Yahudi mengenai Holocaust, tetapi Herman Wouk kentara sekali bencinya... dan ketika ini kutulis, sudah berminggu-minggu lagi lamanya berlalu. Topik di atas memang masih menjadi kegemaranku. Sulit untuk tidak menunjukkan minat ketika ia dibahas. Ya sudahlah, tidak apa-apa. Yang jelas kini aku sedang duduk di ambang pintu pavilyun, seperti yang pernah kulakukan beberapa kali selama beberapa tahun yang lalu, di rumah Yado, Radio Dalam.

...dan... ternyata ketika aku meneruskan menulis lagi entri ini, sudah lebih dari lima bulan berlalu. Pagi ini aku menggunakan tempat-kerjanya (workstation) Mas Milson Kamil, karena komputerku tiba-tiba ngadat tidak mau hidup. Tak dinyana tiba-tiba datang Pak Amin Mubarok, sedianya mencari Mas Milson mau pinjam penginstal Windows 7. Jadilah kutanyakan padanya kenapa komputerku. Ini kalau tidak memori ya VGA-nya, kata Pak Amin. Jadilah komputerku digotong ke bengkelnya di bawah. Hari ini saya ke Salemba, jadi besok saya kerjakan, begitu katanya. Sekarang apa yang akan kulakukan? Masa aku harus kembali untuk mengambil laptopku? Tapi mungkin begini lebih baik. Siapa tahu, aku justru bisa membaca sesuatu yang berguna tanpa benda itu, yang selama ini hanya punya satu guna untukku, yaitu membangun peradaban dan mengusili peradaban orang lain hohoho... Setidaknya, gara-gara komputerku mati, aku jadi terpikir untuk menengok blog ini, yang sudah lima bulan sekurangnya kubiarkan menganggur.

Ini adalah gambar pasang surut (ebb tide). Sebuah lagu yang sangat indah, yang selalu membuatku tercekik bila menyanyikannya penuh penghayatan. I'm at peace in the web of your arms.

Biar kucatat di sini, hari ini adalah hari pertama Cantik mengajar di UI. Insya Allah, semoga ini bisa menjadi tengara bagi peningkatan karirnya. Aku sendiri membayangkan baginya, ia akan melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Aku sudah menelusur Internet untuk mencari program master yang kiranya sesuai baginya. Ada beberapa, yang pertama adalah Master of Arts in Applied Linguistics and English Language Teaching di St. Mary's University College Maastricht. Ini kurasa adalah pilihan terbaik karena yang paling relevan dengan taraf karirnya sekarang. Akan tetapi, mungkin akan ada beberapa kesulitan untuk mengikuti program ini. Dari sudut pandangku, tempatnya sangat jauh dari Leiden. Nah, berbicara mengenai dekat dengan Leiden, pilihan terbaik kedua mungkin ini, Master of Arts in English Language and Culture di University of Amsterdam. Setelah kubaca-baca lagi, ini bahkan bisa jadi pilihan terbaik. Selain karena tempatnya di Amsterdam, program ini menawarkan cakrawala yang lebih luas dan generalis, sehingga, mungkin, membuka kemungkinan pengembangan karir yang lebih beragam daripada sekadar mengajarkan bahasa Inggris sebagai bahasa asing atau bahasa kedua. Aku bahkan sudah terpikir ide untuk topik tesis ...kutulis di sini tidak ya... petunjuknya saja deh... cincha laouwra. Semoga aku ingat apa yang kumaksud dengannya hohoho.

Harus kucatat di sini juga bahwa aku menyelesaikan entri ini kembali dengan komputerku sendiri. Tadi sudah sempat dibawa ke bawah, ke bengkel Pak Amin. Sejurus kemudian datang Mas Milson. Ia menawarkan diri untuk memeriksa komputerku dan... ajaib! Hanya karena dipanggul olehnya kembali ke atas, komputer itu kembali hidup dengan sendirinya! Ini adalah godaan besar untuk membangun peradaban hohoho tetapi tidak. Sambil mencangkung tadi akhirnya aku membuka plastik buku Hukum Lingkungan di Indonesia oleh Prof. Takdir Rahmadi dari Universitas Andalas. Terlepas dari apapun kekurangannya, jika pun ada, dia sudah menulisnya! Aku jadi ingat bahwa aku pun harus menyiapkan diri untuk membuka kelas Environmental Law besok di KKI Angkatan Kedua. Tidak ada pentingnya menggunakan bahasa Indonesia dalam mata kuliah ini, karena memang, bagiku, subjek ini sama-sekali tidak ada Indonesia-Indonesianya.

cukuplah tiga paragraf ditambahkan pada 6 September 2012 jam 11.00

Friday, March 30, 2012

Anak Anjing Agar Mengibing


Dengan ini, terlampauilah 2009 dengan 5 entrinya!
Masih ada 2011 dengan 8 entri...


Judul entri ini ada beberapa versi. Versi pertama adalah "Anak Bajing Menggiring Angan." Ini yang paling biasa. Bahkan tidak orisinal, karena Shawn juga pernah menggunakannya, kalau tidak salah. Kemudian terlintas olehku "Anak Anjing Mengiba Garing." Ini saja sudah membuatku tertawa senang. "Anak Anjing Agar Mengibing"-lah yang terpikir terakhir, dengan tertawa-tawa riang. Itulah yang kupakai untuk judul entri ini. Setelah kupikir-pikir, dua yang terakhir itu sebenarnya sama lucunya. Dulu, entah bagaimana caranya, membaca karya Romo Sindhu yang judulnya kuanagram ini rasanya menyenangkan. Kini sedang kubaca lagi, ternyata melelahkan. Ia terlalu banyak berpuisi! Namun terus kubaca juga, setidaknya setiap perut mulas.

Dalam entri ini, aku ingin bercerita mengenai The Winds of War, yang novelnya ditulis oleh Herman Wouk, demikian juga skrip filmnya. Aku berkenalan kali pertama dengan mini serinya, diputar di TVRI sekitar 1986. Waktu itu aku masih kelas 4 atau 5 SD. Cukup larut lah jika aku menonton film ini, karena biasanya diputar pada jam 22.30. Aku lupa setiap hari apa. Seingatku, aku pernah bercerita, entah di mana, entah kepada siapa, bahwa di situlah aku pertama kali jatuh cinta. Jatuh cinta yang aneh. Sampai hari ini pun, tiap kutonton lagi dan lagi, tiap kali itulah aku jatuh cinta pada kisah cinta Byron Henry dan Natalie Jastrow, dihidupkan dengan sangat hidup oleh Jan-Michel Vincent dan Ali McGraw. Kurasa, sejak itu pulalah aku ngefans pada Jan Michel Vincent. Yang kuingat kini, Baby Blue Marine dan, tentu saja, Airwolf.

Di Maastricht-lah aku temukan lagi film ini, melalui Internet. Di kota ini pulalah kutemukan novelnya versi paperback. Hidup di kota itu... HP 520-ku inilah teman sejatiku. Ia selalu bersamaku di kala senang dan susah. Film itu kudapat melalui file torrent. Aku lupa aplikasi apa dulu yang biasa kugunakan untuk mendonlot torrent. Seingatku, kudapat dari Frederik Marmann waktu mencari salinan Stata di Internet. Belakangan kusadari, aplikasi ini dapat digunakan untuk bersenang-senang juga. Entah sudah berapa ratus musik, berapa puluh film kudonlot dengannya. Dan novelnya... kutemukan ketika di sekolahku dijual buku bekas, di ruang bawah tanah. Berapa harganya? Satu Euro? Aku lupa, tetapi yang jelas tidak sampai EUR 5. Kubaca novelnya sambil melepas mulas juga, meski belakangan aku lebih suka menonton filmnya. Novelnya, tentu saja, lebih detil ketimbang filmnya.

Kembali pada jatuh cinta... Aku tidak secara khusus jatuh cinta pada Natalie Jastrow apalagi Ali McGraw. Mungkin Ali McGraw lebih terkenal ketika ia main di Love Story, waktu itu juga masih lebih muda. Aku tidak tahu dan tidak berusaha tahu, karena memang aku tidak secara khusus jatuh cinta padanya. Aku jatuh cinta, seperti telah kukatakan, pada kisah cintanya sebagai Natalie Jastrow dengan Byron Henry. Tidak ada film yang lebih berkesan dari masa kecilku, kurasa, daripada film ini. Mungkin karena latarnya. Heman Wouk menggunakan hari-hari pertama Perang Dunia Kedua sampai Penyerbuan Pearl Harbour sebagai latar bagi ceritanya mengenai dua keluarga, Henrys dan Jastrows. Orang bilang, The Winds of War adalah untuk Perang Dunia Kedua sebagaimana Gone with the Wind untuk Perang Saudara. Aku belum pernah membaca Gone with the Wind, jadi percaya saja.

Ndikane Ibu dulu, Ali McGraw koyo wong lanang. Ketika aku menontonnya, aku tidak pernah memperhatikannya. Ndikane Ibu juga, Ibu wegah nonton, sing main tuwo-tuwo. Waktu itu aku juga tidak seberapa memperhatikan. Entah bagaimana caranya, sepertinya film ini benar-benar membentuk persepsiku mengenai perempuan, dalam bawah sadarku. Sejujurnya, aku selalu tertarik pada bad girls, seperti bahagianya aku ketika menemukan lagu Neil Sedaka lainnya yang juga berjudul Bad Girl. Aku tidak pernah begitu tertarik pada perempuan yang lemah lembut, medoki... mungkin juga karena ibuku tidak begitu. Begitu bertambah dewasa, aku suka perempuan yang... bagaimana caraku menggambarkannya... Aku suka yang 'liar'! Ah, lihatlah sendiri Natalie Jastrow. Seperti itulah! Namun, sekali lagi, bukan karena Natalie Jastrow-nya semata. Kisah cintanya dengan Byron Henry-lah yang membuatku jatuh cinta.

Kemudian... jelas aku menyukai tema-tema perang dan keprajuritan. Namun, sepanjang yang kuingat, aku tidak pernah membayangkan diri menjadi... sniper, misalnya, atau penerbang tempur... The Winds of War membuatku tertarik pada... perang itu sendiri, Perang Eropa 1939-1945 khususnya. Kepada penyebabnya. Kepada... Adolf Hitler. Kepada... Nazi. Kurasa, dalam hal ini, Swargi Akung R. Talkoeto berperan penting. Aku tidak pernah bisa benar-benar mengingat detilnya, tapi samar-samar terlintas Akung beberapa kali menemaniku, atau kami, bersama adikku, menonton film ini. Sama-samar dalam ingatanku, aku ngobrol dengan Akung mengenai topik-topik dalam film ini. Aku ingat dulu kami punya komik seri Perang Dunia Dua. Ada Dari Stalingrad ke Berlin, lalu ada kisah Rommel si Rubah Gurun; pastilah Akung yang membelikan.

Demikianlah, pendek kata, The Winds of War sangat berarti bagiku. Dan bukan suatu kebetulan. Ia kembali padaku justru ketika aku berada di Eropa, tempat itu semua terjadi. Kini topik kualihkan pada masa depanku. Entah bagaimana, siang ini terlintas padaku, Leiden. Dengan tenggat yang sangat ketat, kurasa sulit Selandia Baru diusahakan. Lagipula, Selandia Baru. Apa itu? Tidak ada hubungan sesuatu apa dengan apapun! Leiden. Ya, mungkin Leiden juga akhirnya. Kedua pendorong hidupku menginginkannya. Insya Allah, Leiden juga akhirnya... seperti dahulu Maastricht. Namun, sebelum itu, masih ada yang harus dibereskan. Pusaka! Tadi juga sempat terlintas, apakah karena kubagi semua rahasia perusahaan, maka selalu kusut urusannya? Jadi, sistemnya penggajian? Wallahu'alam. Kita coba Insya Allah besok, meski kalau yang ini juga tidak, sejujurnya, aku tidak terbayang harus bagaimana lagi...

Thursday, March 29, 2012

Teh Hijau Gelombang-mikro dan Cinta Kirik


Yah
, akhirnya inilah idenya. Gelombang-mikro datang terlebih dahulu, gara-gara melihat setumpuk wadah pizza hut yang dapat digunakan di maikrowev. Aku jadi ingat ingin membeli benda itu. Tidak perlu yang besar-besar. Sudah kulihat-lihat harganya, masih di bawah satu setengah juta. Selain itu, ada juga teh hijau. Ternyata white koffie tidak cukup memberikan tendangan, dan aku masih menginginkan minuman hangat. Tapi apa? Teh hijau jawabannya! Sebelum white koffie, aku sudah minum teh hitam Sari Wangi pakai gula sedikit. White koffie pasti banyak gulanya. Maka sekarang, teh hijau. Lionel Richie bernyanyi, "Kaulah matahari, kaulah hujan. Kau membuat hidupku seperti permainan tolol!" Sedap betul memang lagu ini. Sejak kecil kusuka.

Maikrowev, alias Microwave, alias Magnetron, alias gelombang -mikro. Sangat tolol! Kenapa aku merasa membutuhkan benda ini? Yang jelas, kulkasku kosong. Aku tidak pernah memasak. Keinginan memasak itu hilang begitu saja. Satu tomat sudah mulai berjamur. Berkantong-kantong sambal aneka rupa sudah mangkrak berminggu-minggu. Jadi... idenya, jika punya maikrowev, maka semua bisa ditimbun di dalam kulkas. Kalau mau dimakan, tinggal dipanaskan di dalamnya. Begitu. Segitu saja. Setolol itu. Aku memang harus memikirkan suatu rumah. Aku harus tinggal di sebuah rumah. Tidak bisa terus-menerus begini. Nah, di rumah itulah, baru relevan jika aku memikirkan maikrowev, bahkan televisi. Televisi datar, LCD. Buat apa barang-barang itu semua? Terutama televisi aku tidak pernah, atau jarang sekali, menonton.

Benar-benar tidak mungkin kukerjakan sendiri. Mustahil. Tapi, berapa akan kubagi? Satu berbanding dua, atau gaji bulanan? Lima juta sebulan untuk tiga bulan? Sangat menarik! Okay. Akan kucoba tawarkan. Lima juta itu uang yang tidak sedikit loh. Sedangkan Sofyan, entah apa yang dikerjakannya. Pikirannya jualan tanah, dan, sapi. Tapi, kurasa ia pun berpikir bagaimana agar Pusaka tetap hidup. Pusaka pun kesayangannya. Ia tidak akan membiarkannya lepas percuma. Akankah nama-nama itu kutulis di sini? Sekarang? Nama-nama yang akan kutawari pekerjaan ini? Jangan dulu. Biar di dalam benak saja dulu. Setelah ini, aku mandi, dan kucari dia. Kalau ada, kutawari. Paragraf ini tentang Pusaka dan masa depannya. Kuakui, mungkin masih jauh lebih peduli Sofyan pada Pusaka dibandingkan aku...

Oh ya, sebaiknya kuabadikan juga di sini bahwa kemarin Selasa, 27 Maret 2012 adalah kali pertama aku mengajar di Program Magister Hukum, di hadapan hakim-hakim, di Gedung IASTH Salemba, membawakan materi Pertanggungjawaban Korporasi. Alhamdulillah. Aku harus memeriksa jadwal lainnya. Ya, aku baru sadar apa yang dimaksud oleh Mas Huda. Di daftar kelasku sudah tidak ada Politik Hukum. Apakah itu berarti aku tidak akan menyampaikan materi apapun dalam mata kuliah itu? Baguslah bila begitu. Depok - Salemba itu tidak dekat. Ini pun perlu disyukuri. Alhamdulillah. Hari ini, sore nanti, adalah jadwalnya UTS Hukum Lingkungan untuk Ekstensi. Aku sendiri yang akan mengurusnya, karena cuma satu kelas. Kemarin, untuk reguler, aku bersama Mas Harsanto.

Otago, New Zealand. Leiden, Netherlands. Dengan semua kesibukan ini, terasalah sulitnya. Pengalaman terdahulu, keduanya tidak mungkin beriringan. Salah satu harus ditinggalkan. Kaderisasi. Kader. Orang gila mana lagi? Mana lagi orang gila? Tidak ada! Kasihan kalau ada. Nama itu, ya, hanya nama itu dan satunya lagi. Oh iya, kan bisa di-split jadi masing-masing dua setengah juta. Itu juga masih banyak. Yang satunya kita tugaskan untuk mengurus Hukum Koperasi Indonesia. Mungkin itu jawabannya. Atau... am I being greedy? I don't think so... Sepertinya, memang jumlah yang dapat diterima itu segitu. Lebih kecil lagi, maka kita tidak dapat mengharapkan apa-apa. Jika berjalan baik, mungkin dapat segera pergi dari sini. Aku pun tidak nyaman. Aku ingin rumah sendiri. Aku ingin berangkat dari rumah, menuju kantor.

Siapapun, kumohon, tolonglah, tolonglah aku
Inilah jawaban dari Dewata
Betapalah dapat kukatakan pada mereka
Ini bukan cinta kirik


Sunday, March 25, 2012

Berdandan a la Fantastik, Walaupun Drop Out


Sekali lagi, dan seperti biasa, selalu kuulangi, menulisi macangondrong itu tidak ada gunanya. Seharusnya malam ini aku buat outline untuk setidaknya dua tulisan. Itu juga yang tidak kukerjakan. Sampai saat ini, mengetik dengan HP 520 tetap masih enak; dan aku yakin mengetik dengan tablet tidak akan seenak ini. Aku baru saja memandangi foto-foto adikku Andri Dwi Sukmawijaya. Maafkan aku, Dik. Mungkin aku telah mengecewakanmu. Mungkin banyak di antara kalian adik-adikku angkatan 3 yang telah kukecewakan, apalagi yang di AAL. Sekali lagi, maafkan aku, Adik-adik. Tak ada yang dapat kukatakan selain, aku keple. Mungkin, kalian sudah melupakanku, di tengah kesibukan kita sehari-hari. Janganlah lupa kalian itu meluputkan dari menerima permintaan maafku ini.

Bertemu Bagus Suryahutama itu memang tidak akan membuat hati bertambah lega. Tambah kusut, iya. Wuanjrit mana lagunya Menepis Bayang Kasih... Menye abis dah lagu ini parah! Parah. Tiba-tiba aku teringat adikku yang lain lagi. Ega Windratno. Yang baru saja tadi Dwi Saputro Nugroho. Kurasa ini harusnya entri mengenai adik-adik. Banyak sekali adik yang kuingat di dalamnya, kecuali Bagus Suryahutama. Terlepas dari gelarnya yang Paduka Yang Maha Mulia, dia tidak lebih dari anak sulung Mas Bambang dan Tante Tita. Terserah lah, Gus. Aku juga tidak tahu kenapa aku ingin bertemu denganmu malam ini. Mungkin sekadar ingin membuang uang hahaha... Jangan tersinggung, Gus. Dwi Saputro ini lebih kusut. Entahlah apa yang terjadi padanya. Entah bagaimana dulu dia tersangkut urusan dengan Aulia Rahman. Aku lupa dan tidak berminat untuk menanyakan. Yang jelas, dia punya daya dorong. Yang jelas, tidak jelas bagiku, ke mana akan ia arahkan daya itu. Terserah lah, Wi.

Sekarang sudah lewat dari setengah dua dini hari. Begini terus aku setiap hari. Apakah aku akan terus menyalahkan cuaca? Tenggorokanku pun masih terasa tak enak. Malah mulai batuk-batuk. Kualitas hidupku merosot dan terus merosot. Ah, kalau bicara ini sih tidak akan melegakan hati. Lagu Irianti Erningpraja ini terpaksa kulewati daripada menambah kusut rasa hatiku, setelah agak tertata oleh lantunan Ratih Purwasih. Ternyata, berikutnya adalah Andi Meriem. Mana judulnya Bimbang lagi... Sekali lagi, selalu masa lalu, masa kecil, yang nyaman dikenang-kenang. Membuat hati terasa begitu nyaman. Membuatku teringat tekadku, akan kukembalikan perasaan nyaman masa kecilku. Apa saja unsur-unsurnya? Entahlah. Ndikane Bapak, seperti suara seruling yang merintih rindu pada buluh bambu yang menjadi asalnya. Pulang ke rumah. Itu selalu yang kurindukan.

Ratu Sejagad-nya Vonny Sumlang dan Gejolak Jiwa-nya Ramona Purba terpaksa juga kulongkapi. Gila apa?! Aku tidak pernah ingin jadi ratu apalagi sejagad, dan jiwaku sedang ingin tenang tidak bergolak. Maka sampailah aku pada Biru-nya Vina Panduwinata. Kekasihku, padamukah terletak kebahagiaanku? Setidaknya meringankan beban hidup dunia ini sampai tiba masaku? Padamukah? Sungguh aku sedih. Biarlah tak kusebut namanya, tetapi ada seorang teman yang pernah berkata padaku: "Perkawinan itu seperti berjudi." Ia meninggal tidak lama setelah mengatakannya. Istrinya, kurasa mencintainya. Apakah ia tidak mencintainya? Tidak! Insya Allah, ia mencintainya. Saling mencintai, mereka. Aku mohon pada Allah semoga dilapangkan kuburnya, diampuni dan dihapus semua dosanya, diterima dan dilipatgandakan semua perbuatan baiknya. Temanku itu. Abangku.

Tinggi menuju nirwana
Lembut menembus rahasia
Kukuh menahan putaran waktu
Bersatu dalam damai


Tuesday, March 13, 2012

I Can't Believe It's True, Really You!


Dear Diary.


Hari ini suasana hatiku tidak menyenangkan. Entah kenapa. Aku tidak senang dengan keadaanku sekarang. Aku ingin seperti mereka. Mereka berbahagia. Mereka pulang kepada keluarganya masing-masing. Mereka punya kehidupan. Aku tidak. Aku malas sekali. Aku tidak ingin mengerjakan apa-apa. Aku hanya ingin mencurahkan perasaan hatiku padamu, Diary-ku. Hanya kamu yang mengerti perasaanku ini. Yang lain tidak peduli. Yang lain tidak mau tahu. Aku hanya ingin berbahagia seperti mereka. Aku ingin punya kehidupan. Aku ingin hidup normal.

Aku... mungkin gara-gara ini, maka hatiku tidak merasa senang. Segala sesuatunya selalu mengenai aku. Tapi... sebelum ganti topik, aku ingin bercerita tentang lagunya Phil Collins, I can't believe it's true. Lagu ini sepertinya cukup membekas dalam ingatanku. Selalu saja, kalau membekas, itu berarti jaman aku kecil. Lagu ini memang sudah cukup lama, rilis pada 1982. Berarti bahkan jaman di Kemayoran. Tadi aku ingin tahu, apa sih ceritanya lagu ini? Ada yang komentar di Youtube, "That sure is happy music for such sad and angry lyrics!"Kurasa aku setuju padanya. Tidak benar-benar gembira sih, hanya saja memang agak tidak nyambung antara musik dan liriknya, menurutku. Kira-kira cerita apa yang cocok untuk musik seperti ini ya? Apakah mungkin justru tentang jatuh cinta?


Ini di belakang rumah aqyuwh. Tuh ada Grand Lucky-nya.
(Kenapa ada tulisan Ray White Tebet?! Ngepestz!)


Bicara tentang jatuh cinta... Kembali pada Dear Diary itu tadi... Tadinya aku ingin pura-pura jadi abege. Ternyata aku memang sudah bukan abege lagi. Ada juga anakku sekarang sudah abege. Kemarin ketemu Intan. Ada Cik Wen juga di situ. Aku tanya pada Intan, lahir tahun berapa. 1996 jawabnya. Lebih tua tiga tahun dari anakku. Mereka berdua mirip. Rambutnya yang keriting. Bentuk badannya yang kurus panjang. Warna kulitnya. Abege-nya... I can't believe it's true! Tidak lama lagi, anakku sendiri yang Insya Allah akan duduk di bangku kuliah, seperti anak-anaknya entah siapa ini yang kudongengi setiap minggu. Akankah aku masih hidup ketika itu terjadi? Wallahua'lam. Kalau aku harus jatuh cinta lagi, aku hanya ingin jatuh cinta lagi padaMu. Tidak ada kurasa di dunia ini yang sanggup benar-benar membahagiakanku. Tidak akan ada...

I cannot believe it's true. Dulu aku suka bermain khayal-khayalan bersama Adikku. Kami mendengarkan lagu, lalu kutanyakan padanya, suasana apa yang cocok dengan lagu itu. I can't believe it's true... yang terbayang olehku adalah Jalan Yado II depan rumah, ketika aku SD, mungkin sekitar 1987, Akung sudah seda. Siang hari. Tidak terlalu terik. Sudah lewat tengah hari, bahkan mungkin sudah Ashar. Al-Mukhlisin sudah mengumandangkan adzan Asharnya yang khas itu. Atau mungkin sebelum Ashar. Mungkin aku sedang atau baru saja diutus Ibu ke warung, mungkin warung ting klambruk yang belakangan namanya Ayat itu (kenapa sekarang sudah tidak pernah belanja ke situ ya?) Aku ingat... terakhir aku beberapa kali membeli susu kedelai di situ, beberapa tahun yang lalu...

Besok, Insya Allah, ada kesenangan kecil. Tiga novel bajakanku akan selesai dikerjakan Cano. Arus Balik. Anak Bajang Menggiring Angin. Para Priyayi. Tiga novel bajakan dengan hard cover, untuk sampulnya saja masing-masing seharga Rp 25,000. Mahal. Kamar mandi kering. Ya Allah, akankah dalam hidupku ini aku boleh merasakan punya kamar mandi kering? Dua-duanya bukan punyaku sendiri, tentunya. Aku tidak begitu peduli apakah kamar mandiku kering atau basah. Eh, aku juga tidak tahu apakah Ibu kersa siram pakai shower. Terserah. Pokoknya, ndalemnya Ibu, dan rumah"ku", Insya Allah, harus lux. Dua-duanya bukan punyaku. Aku tidak peduli. Apa lagi yang sanggup membuatku senang? Berita bahwa Allah menyayangiku, itulah yang PASTI membuatku senang. Bagaimana caranya?

Wallahu'alam bissawab.

Shalat Ashar dulu. Sudah hampir jam lima sore...

Wednesday, March 07, 2012

Suatu Sore Bersama Dangdut Italia


Kemarin, Selasa, 6 Maret 2012, aku bergegas menuju gedung E tempatku akan memberi kuliah mengenai Sistem Ekonomi Koperasi. Di bawah tangga aku bertemu dengan Pak Arman Bustaman dan Bu Farida Prihatini. Kusempatkan untuk menyapa mereka dulu. Aku tidak tahu apa yang mereka percakapkan sebelumnya, tetapi Pak Arman minta diri pada Bu Ida sambil berkata: Mau jual obat dulu. Pak Arman ini pengajar yang sangat sangat senior, entahlah angkatan berapa beliau. Kurasa tidak jauh-jauh dari Shogun Bakti. Entah sudah berapa tahun ia mengajar, berpuluh-puluh kurasa; dan menurutnya, mengajar itu jual obat.

Itulah juga yang saya rasakan, Pak. Entah apa yang kulakukan. Tahu apa aku tentang sistem ekonomi koperasi. Jika kupikirkan, wewenang apa, hak apa yang kumiliki, sehingga aku boleh menghasut anak-anak kelahiran awal '90-an ini. Akan tetapi, aku tidak suka memikirkannya. Lebih baik kusyukuri saja, apapun ini. Allah mengijinkanku melakukannya. Apakah Ia meridhainya? Wallahua'lam. Apakah artinya menjadi seorang ilmuwan? Apakah itu berarti aku harus percaya pada prosedur ilmiah, apapun itu? Apakah aku harus percaya pada imparsialitas ilmiah, apapun itu? Sakit kepala aku memikirkannya. Entah siapa, salah satu orang ICIS itulah, entah yang mana, mengatakan aku "deterministik". Apa peduliku!

Aku memang menyandang gelar Master of Science, sebagaimana mereka berikan padaku. Namun itu tidak akan menghentikan determinismeku, seperti halnya, Insya Allah, aku berketetapan hati, berkeras hati bahwa Allah Tuhanku, Islam agamaku dan Muhammad adalah Nabi dan RasulNya! RidhaNyalah yang penting bagiku, dan itu, Insya Allah, dapat dicapai dengan menepati perintahNya dan petunjuk RasulNya. Sistem Ekonomi Koperasiku, harus kuakui, memang propaganda. Aku menyampaikannya dengan berapi-api. Selalu. Salah satu mahasiswa berkomentar: Bapak membela rakyat kecil. Ha?! Aku hanya bicara. Aku hanya mendongeng. Tiada padaku daya upaya untuk "membela rakyat kecil." Aku hanya bisa cingcong.

---sudah adzan Maghrib, shalat dulu---

Aku sedang bungah! Kurasa ada hikmahnya library.nu sekarang jadi begitu. Itu bukan akhir dari kemajuan ilmu pengetahuan dan seni. Masih ada Candi Gumilar yang merampas buku-buku dari semua perpustakaan yang ada di UI. Ternyata, dengan begitu, aku dengan mudah dapat mengakses semua koleksi yang sebelumnya hanya ada di perpustakaan-perpustakaan fakultas. Persik ganda! Dan tempatnya nyaman pula! Sistem akses langsung seperti perpustakaan Sastra dulu memang nyaman. Aku bisa berjalan di antara rak-rak buku itu, benar-benar merasakan mataku menelusur judul-judul itu, menemukan yang menarik hatiku. Aku benar-benar bungah!

Ada satu lagi. Ini membuatku semakin mendambakan komputer tablet. Apa kubeli saja yang murah itu? Ternyata ada juga aplikasi pengolah kata untuk sistem operasi Android. Seandainya saja ada yang punya dan aku bisa mencobanya dahulu. Mungkin mengetiknya tidak akan senyaman aku mengetik dengan HP 520-ku ini. Akan tetapi, dengan sedikit pembiasaan, lama-kelamaan juga akan terbiasa. Satu pertimbangan lagi, kurasa aku harus membeli yang dapat dipasangi kartu GSM untuk koneksi internetnya. Wi-fi boleh juga, tapi kalau bisa terkoneksi dengan kartu GSM, kurasa lebih praktis. Kata Doel, kalau punya tablet, yang langganan internet cukup tabletnya saja. Blackberry cukup untuk BBM saja.

Namun... semua ini kembali kepada pertanyaan: Apa sebenarnya yang kulakukan? Siapa aku? Betapa senangnya jika aku bisa menghabiskan waktu seharian di dalam Candi Gumilar, yakni dari jam delapan tiga puluh sampai sembilan belas setiap hari kerjanya. Bahkan Minggu pun ia buka! Benar-benar superb candi yang satu ini. Mengerjakan segala sesuatu itu harus senang. Orang sukses adalah yang menyukai apa yang dikerjakannya, katanya. Terserahlah. Kalau begitu definisi orang sukses, tak sukses pun tak apalah. Lalu apa namanya orang yang mengerjakan apa yang disukainya? Namanya, semau gue alias sak karepe dewek. Tidak baik juga itu...

...dan dengan taufik dan hidayah Allah, keselamatan atasmu, dan rahmat Allah, dan berkahNya.

Sunday, March 04, 2012

Menanti Ajal di Bawah Pohon Kamboja


Semoga ini benar menjadi entri pertama di 2012. Wah, lagunya adjieb! Suatu hari nanti, aku akan pergi keliling dunia. Aku ingat ketika masih remaja belasan tahun. Betapa dadaku bisa sesak menyanyikan lagu ini dengan sekuat paru-paruku. Dan kau akan berkata, aku dapat dibanggakan. Dan kau senang karena mengenalku. Dan aku akan berkata, semua yang kulakukan ini adalah untuk...mu!

Di bagian ini suaraku biasanya sudah tidak terkendali lagi. Biasanya, aku akan menangis sepuas-puasnya. Lalu, siapa "mu" itu? Dulu, ketika aku masih remaja belasan tahun, "mu" adalah Bapak Ibu. Sampai hari ini pun masih begitu. Aku sulit memikirkan sesuatu yang kuinginkan untuk diriku sendiri. Kurasa aku beruntung dilahirkan sebagai anak tertua. Kurasa memang benar, dan itu sangat wajar, alami. Anak tertua tentu mendapat perhatian lebih banyak dari adik-adiknya. Anak tertua tentu menjadi tumpuan harapan orangtua, lebih dari adik-adiknya. Dan, menurutku, memang begitulah nasib anak tertua. Alhamdulillah, aku bersyukur terlahir sebagai anak tertua. Semoga Allah menolongku dalam menjalani suratanku ini.

Bayang-bayang senyummu... kembali ke lagu "Suatu Hari" tadi... terkadang, dulu, terselip angan. Mungkin karena kebanyakan nonton pelem, meski aku tidak bisa dibilang doyan nonton. Ya, dulu kurasa beberapa kali terselip angan, "mu" itu seorang perempuan. Perempuanku. Ibu dari anak-anakku, begitu pernah kukatakan pada Ajo. MoMC. Aku memang tukang cingcong. Cuma itu kebisaanku. Akan tetapi... yaa... kenyataannya tidak seindah angan. Meski begitu, kurasa itulah memang tujuan hidupku. Aku hidup hanya untuk membahagiakan orangtuaku dan membahagiakan...mu! Ya, kamu, Cantik.

Buatku sendiri... aku tidak tahu. Aku bahkan sulit membayangkan punya anak lagi. Entah bagaimana caranya, aku merasa sudah terlalu tua untuk memulai dari awal sama-sekali. Mungkin karena itu juga aku sangat menginginkanmu... Namun... yaa... kenyataannya tidak seindah angan. Sungguh sangat mudah bagiku menerima hal ini. Insya Allah. Alhamdulillah. Semoga Allah tidak menjadikanku panjang angan. Ada ding yang kuinginkan untuk diriku sendiri. Aku ingin mati! Itu pun aku tidak perlu payah-payah ingin. Aku pasti mati. Tinggal menunggu waktunya saja.

Kalau keinginanku itu harus diceritakan, mungkin begini ceritanya. Aku ingin dikenang, olehMu Ya Rabb, sebagai seorang anak yang berbakti kepada orangtuanya. Jika masih boleh ditambah... Aku ingin dikenang sebagai seorang suami yang sangat sayang kepada istrinya. Jika masih boleh ditambah... Inilah yang membuatku gamang... Seandainya... seandainya diperkenankan... Aku ingin dikenang sebagai bapak yang... Aku berdoa kepadaMu Ya Allah Maha Memelihara, agar anakku menjadi hambaMu yang teguh imannya dan suka beramal shalih. Doa yang sama tentu saja kupanjatkan bagi diriku sendiri.

Ya Allah, sungguh hamba sangat merindukanMu, hamba yang durhaka dan berlumur dosa ini... Ampuni hamba Ya Allah... Kasihanilah hamba Ya Allah... Tolonglah hamba Ya Allah... Sungguh hamba sangat merindukan berdua-duaan denganMu saja... Hamba tidak tahu hidup macam apa yang tengah hamba jalani kini. Namun... sungguh hamba takut, janganlah hamba diberi penyakit atau kekurangan... Sungguh kurang-ajar hamba memohon ini. Ampuni hamba Ya Allah... Engkau lebih tahu apa yang menyusahkan hamba, Ya Maha Memberi Pertolongan dan Perlindungan... Kasihanilah, Tolonglah hamba...

Saturday, September 24, 2011

Walau Terikat Rasa Hina


Salinan ini kurasa bukanlah kualitas terbaik, tapi dari semua lagu Sheila on 7, yang terpaksa dikoleksi adalah Kita. Melodi, aransemen dan suara yang dihasilkannya genial dan segar. Setelah itu dilanjutkan oleh Tante Rien Djamain dengan Kucoba Lagi, dari hari-hari yang telah berlalu. Ini betul-betul tidak benar! Alhamdulillah, malam kemarin aku tidur cepat. Jam sembilan sudah tepar. Alhamdulillah, bangun pas waktu sahur. Segera sahur ke belakang, makan qimpul tahu sama teh adem setengah manis. Dua hari ini aku tidur di tempatnya Dedy. Terlepas dari ketidaksempurnaan ini, tidur cepat dan bangun cepat sungguh sesuatu yang harus sangat disyukuri. Akan tetapi, kenapa sekarang malah menulis entri? Seharusnya 'kan segera menyelesaikan laporan Lamongan. Ya Allah, sudah satu bulan lampau!

No excuse, Sir! Hehehe... aku gak pernah nyimak syair Kuingin Kembali-nya Iwa K. Sumpah jijiks hahaha... Kalau kuingat masa-masa SMA, maka tidak perlu benar kusesali segala kekacauan yang telah terjadi dalam hidupku. Masa-masa itu, aku tidak pernah benar-benar tahu apa yang kuinginkan. Alangkah baiknya jika, setidaknya, aku punya model peran, seseorang yang menjadi panutan, patokan. Semacam... aku ingin menjadi sepertinya... Aku tidak pernah punya yang seperti itu. Sejujurnya, ketika dalam buku tahunan SMA ditanya tokoh idola, ingin kuisi sama saja dengan yang kuisikan pada nama orangtua. Aku juga 'mengidolakan' Pak Harto, Bapak Pembangunan, namun tidak berarti aku ingin menjadi seperti dia. Begitu juga dengan Bapakku, tidak berarti aku ingin menjadi seperti dia. Bapak pun kurasa tidak ingin aku menjadi sepertinya.

Memang pahit, kalau dingat-ingat. Tidak, aku tidak menyesali apapun. Tidak ada juga yang dapat disesali. Menyesal itu apabila seseorang tidak mengerjakan apa yang seharusnya dikerjakan. Apa yang seharusnya kukerjakan? Apa yang tidak kukerjakan? Beginilah perjalananku. Duniaku carut-marut, jauh dari sempurna. Sungguh banyak dosa dan kedurhakaan yang telah kulakukan dan terus kulakukan. Insya Allah, ini jauh lebih mengkhawatirkan bagiku. Jauh lebih mengkhawatirkan daripada, misalnya, sampai setua ini, aku masih belum punya rumah dan mobil. Hahaha... menuliskannya saja terasa lucu. Atau keluarga... Istri dan anak-anak... kepada siapa aku bisa pulang setiap harinya. Sampai setua ini aku tidak 'punya' apa-apa, dan aku tidak tahu apakah aku sedang menuju 'ke mana' atau akan menjadi 'apa'.

Kepahitan. Apapun yang terjadi jangan merasa pahit, karena itu akan membunuhmu. Begitu pesan seorang suami dan bapak pada istri dan anak-anak perempuannya ketika mereka dijebloskan ke dalam kamp tawanan oleh tentara pendudukan Jepang ketika Perang Pasifik melanda Hindia Belanda. Pada kenyataannya, bapak itulah yang meninggal sedangkan istri dan anak-anak perempuannya selamat sampai perang berakhir. Mungkin ia akhirnya sedih juga karena dipisahkan dari orang-orang yang sangat disayanginya. Mungkin, selain kerja berat dan kondisi hidup yang sangat buruk, kesedihan akhirnya menggerus keinginannya untuk terus hidup. Mengerikankah kematian? Jangankan itu. Pagi ini, aku salah menginjak batu dan hampir saja pergelangan kaki kiriku terkilir lagi... Hiiy... Naudzubillahi min dzalik.

Berdandan a la fantastik! Ahaha... what a hilarity! Prof Safri kenapa pikiranmu Beatles tok?! Dua bocah ini lagi ya ampun... Aldo Panjaitan dan Umar Bawahab! Semoga masa muda kalian menyenangkan. Kudoakan agar kalian kelak menjadi laki-laki umur tigapuluhan yang sedikit sekali kenangan pahitnya di masa yang lebih muda. Hahaha... Aldo baru putus dari Marry. Aldo dan Marry... Putus... Beberapa orang bisa menerimanya dengan ringan begitu saja, tetapi beberapa orang lain menerimanya dengan sangat berat hati. Aku termasuk yang kedua. Makanya aku lebih suka sekalian tidak usah berurusan saja, daripada terjadi yang seperti itu. Namun perempuan-perempuan ini sepertinya begitu... Seenaknya saja mereka pergi sambil mendoakan agar kita menemukan bahagia bersama yang lain... Hahaha... ngapain sih koq jadi begini?! Bikin lagu ah... ini inspirasi yang luar biasa heheheh...

Sudah... sudah... menulisi Kemacangondrongan tidak akan membuatku menjadi penulis yang lebih baik. Lihat saja caraku menulis di sini. Sama sekali sesuka hatiku, padahal kesukaan hatiku orang lain tiada peduli! Cukup! Ayo, segera menulis yang benar! Seperti banci pengecut, (karena, kata Mama Dorce, ada banci pemberani) aku mengobral keluhan pada semua orang, "bahkan membaca pun aku sudah tidak sempat." Semua orang, atau setidaknya banyak sekali orang, sulit hidupnya. Jadi tidak perlu mengeluh, apalagi mengumbar keluhan ke mana-mana. Insya Allah, Bismillah, abis ini aku akan kembali menekuni apa-apa yang kubutuhkan untuk menyelesaikan laporan Lamongan. Selain itu, tentu saja aku harus mengontak Mbak Melda, tidak untuk melaporkan apa yang sudah kukerjakan, tetapi untuk mohon arahan selanjutnya. Ya, aku menikmati pekerjaanku, setiap detiknya. Alhamdulillahi Rabbil Alamin.

Dan bila mentari esok 'kan bersinar lagi, kuingin candamu warnai hariku.

Saturday, September 10, 2011

Indahnya Kebersamaan Paradua


Indahnya kebersamaan Paradua? Aku hampir-hampir tidak percaya kalau aku sendiri yang menuliskan kata-kata itu. Lebih tidak percaya lagi jika aku sampai menggunakannya untuk menjadi judul entri. Aku menulis entri ini ditemani album Back to Front-nya Lionel Richie. Album yang sangat berkesan bagiku, karena ia sering sekali kudengarkan dalam tahun-tahun penuh kepongahan yang, tanpa kusadari, ternyata merupakan tahun-tahun 'kumenghancurkan diriku sendiri... dan orang-orang di sekitarku, orang-orang yang kusayangi...

Kata-kata "indahnya kebersamaan" kuambil dari Heri Dian Dwi Harto, seorang hebat. Bahkan sejak dulu ia sudah dipanggil Babe, seingatku. Sungguh, dahulu ia adalah seorang pemuda belasan tahun yang sangat bijaksana. Kini, ia menjadi seseorang yang, Insya Allah, jauh lebih bijaksana lagi. Kata "paradua" kuambil dari Goklas Tunggul Partoho Sirait, seorang yang tak kalah hebatnya. Seseorang dengan integritas dan kejernihan berpikir yang luar biasa. Belum lagi keuletan dan etos kerjanya. Habis nanti kata-kataku mencoba melukiskan kehebatan seorang Goklas.

Aku menulis ini sepulang dari menghadiri acara Halal bi Halal dengan teman-teman alumni angkatan ke-2 Taruna Nusantara, diadakan di Kedai Kopi Phoenam, Kebon Sirih, 9 September 2011. Alhamdulillah, hamba mengucap syukur atas perasaan nyaman yang hamba rasakan setelah menghadiri acara tersebut. Alhamdulillah. Benar kata Sandy Maulana Prakasa, aku merasa senang setelah menghadiri acara itu, dan aku, terlebih lagi, merasa sangat senang dan bersyukur telah menghadiri acara itu. Sandy Maulana Prakasa... aku sudah memberitahumu apa yang kuingat mengenaimu ketika kita masih sama-sama di Graha 3 dahulu. Biar kutambah satu lagi. Seingatku, kamu adalah salah satu penghuni graha yang rajin shalat. Selebihnya, seperti halnya semua saudaraku lulusan Taruna Nusantara (Alhamdulillah)... kalian HEBAT!

Seperti ini jugakah perasaan lulusan AMN mengenai kawan-kawannya sesama lulusan AMN? Begitu jugakah dengan alumni ITB? Begitukah, seperti yang dikatakan Wicahyo Ratomo, semua yang pernah merasakan kebersamaan? Wicahyo Ratomo, aku tidak pernah sekelas denganmu. Namun, siapakah, bahkan di antara kawan-kawan seangkatan, yang meragukan kehebatanmu? Harus kuakui, dengan menundukkan hati dan kepala sedalam-dalamnya, aku memang ekstrim. Entah apa yang ada dalam hatiku, kedengkian, atau sekadar ketidakdewasaan. Aku curiga pada kalian, saudara-saudaraku sendiri. Aku curiga kalian akan menjadi kelompok elitis dan eksklusif, yang dengan kemampuan kalian yang jauh di atas rata-rata saudara sebangsa, berambisi untuk berkuasa, atas seluruh bangsa dan negara ini, yang pada akhirnya hanya akan membawa bencana bagi semua... seperti yang sedang kita saksikan kini!

Buat apa aku berpikir seperti itu? Apa untungnya bagiku? Apa manfaatnya bagi orang lain? Tidak ada! Mengapa tidak kudoakan saja orang-orang hebat ini, saudara-saudaraku sendiri? Mengapa tidak berbaik-sangka saja aku pada mereka, saudara-saudaraku ini? Mereka, seperti kata Sandy, adalah saudara-saudaraku. Kami pernah lebih dekat satu sama lain, mungkin lebih daripada dengan semua orang lainnya. Sangkaan baik ini sungguh menyamankan hati, sampai-sampai aku yakin pada ketulusan doaku malam ini, meski aku belum shalat Isya'. Saudara-saudaraku, kalian berhak atas sangkaan-baikku. Kalian berhak atas doa tulusku.

Allah Illahi Rabbi, hamba mohon ampun atas segala dosa dan kedurhakaan hamba. Sungguh engkau Maha Pengasih dan Penyayang. Maha Pengampun, yang AmpunanNya mendahului MurkaNya. Hamba mohon kepada Engkau Pengayom alam ciptaan, bimbinglah saudara-saudara hamba ini, lulusan Taruna Nusantara, terutama yang pernah berbagi suka-duka bersama hamba. Hamba mohon kepadaMu yang Perkasa namun Pengiba, Sebaik-baiknya Majikan, Sebaik-baiknya Penguasa, Sebaik-baiknya Penolong, Pelindung, tolonglah kami, kasihanilah kami, tuntunlah kami tetap pada jalanMu. Perbesarlah manfaat kami pada persekitaran (galang potensi kekuatan) dan perkecillah kerusakan yang kami akibatkan (redam segala kelemahan). Segala puji hanya padaMu, Rabb. Shalawat dan salam semoga senantiasa atas kekasihMu Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam.

Kawan-kawanku, saudara-saudaraku, tak semua nama kalian kusebut di sini. Maafkan aku. Namun kata-kataku memang tidak akan pernah cukup untuk menggambarkan kehebatan kalian, apalagi masing-masing. Kalian hebat! Aku memohon kepada Allah agar aku bisa menjadi sehebat kalian, sebijaksana kalian, seulet kalian... Maafkan aku. Maafkan kata-kataku yang kurang pantas. Maafkan perbuatan-perbuatanku yang pandir dan tidak panjang-pikir. Maafkan aku telah mengecewakan kalian. Maafkan aku. Aku memohon kepada Allah, malam ini, semoga aku bisa menjadi sehebat kalian, namun sebelumnya... maafkan aku.

Adikku Haryo Budi Rahmadi, semoga Allah menolongmu, membimbingmu, melindungimu. Semua doa dan harapan baikku untukmu, sebanyak harapan Bapak Ibu atasmu dan atas kita anak-anak laki-laki mereka, dan berlipat-lipat lagi. Semua doa dan harapan baik yang tidak kuketahui. Semua kebaikan yang berada dalam Khazanah Pengetahuan Allah Maha Tahu, kumohonkan untukmu dan untuk adik-adik perempuan kita, juga untuk keluarga-keluarga kalian. Maafkan aku telah menjadi teladan buruk. Maafkan kata-kata dan perbuatanku yang menyakiti hati kalian, adik-adikku.

Allah Illahi Rabbi, sayangilah kedua orangtuaku, seperti mereka telah menyayangiku sejak kecil.

Fastabiqul Khairat ...demi jaya Indonesia. Insya Allah.

Tuesday, September 06, 2011

Somalia, Kelaparan Sebagai Senjata


Jarang-jarang aku menulis entri hari gini. Paling tidak, aku sudah shalat Ashar. Jadi tidak apa menulis entri. Diiringi raungan Power Slaves dengan hit mereka sepanjang masa, Impian, aku tiba-tiba jadi teringat Eyik yang sudah dimasukkan rumah sakit jiwa. Memang, kalau menulisi macangondrong enaknya jangan pakai berpikir. Tulis saja apapun yang tiba-tiba melintas di otak. Sandoro sedang makan Ayam Bumbu Rujak-nya Warung Alo, padahal dia sudah makan uli dari Agam tadi. Enak juga, kata Sandoro. Mari kita coba buat paragraf pendek-pendek saja, tapi ada enam. Seperti Kekasihku-nya Padi juga superb melodinya, haunting-like. Masa-masa itu memang kurang enak untuk dikenang, masa-masa ketika lagu ini sedang hit.

Dalam film 'Black Hawk Down', dikatakan bahwa milisi Somalia yang saling berperang menggunakan kelaparan sebagai senjata. Mereka sengaja menahan bantuan bahan makanan dari PBB untuk melaparkan musuh-musuhnya sehingga lebih mudah dikalahkan. Orang Barat menganggap bahwa perbuatan itu biadab, genosida, pelanggaran HAM berat dan sebagainya. Padahal di Jaman Kegelapan mereka, wardlords Eropa biasa melakukan itu. Bahkan, kampung-kampung bisa begitu saja dibakar dan dimusnahkan untuk alasan-alasan yang biadab, untuk ukuran jaman sekarang. Misalnya, sebuah kampung baru saja panen, dan akan dilewati oleh tentara musuh. Jika seorang panglima merasa tidak mampu menahan laju tentara itu, maka setidaknya yang dapat dilakukan adalah membumihanguskan kampung tadi, agar tentara musuh tidak dapat mengambil manfaat darinya. Hey, VOC pun menggunakan taktik ini ketika berperang melawan Sultan Agung!


Tampak dalam gambar, Walikota Bunawan, Cox Elorde, dari Propinsi Agusan del Sur, Filipina Selatan tengah memeluk Buaya. Berikut ini adalah percakapan antara Walikota dengan Buaya.

[Buaya] Apakah kamu benar-benar sayang aku?
[Walikota] Tentu saja 'ku benar sayang kamu.
[Buaya] Buktikanlah, buktikan, coba buktikan padaku...
[Walikota] Hati ini, cinta ini, hanya butuh, hanya ingin dirimu, dirimu selamanya...

Tetap saja menyedihkan. Aku mengurangi makan agar tidak terlalu gendut. Orang-orang Somalia kekurangan makan sampai mati. Tahukah kamu, aku sekarang sudah tidak begitu suka memikirkan goro-goro. Aku lebih suka jika segala sesuatunya berjalan lancar dan aman-aman saja, setidaknya untukku. Aku menjadi sangat egois. Tahukah kenapa? Karena kini aku punya harapan. Kini aku berharap akan masa depan. Entah seperti apa bentuknya, tetapi aku sungguh berharap agar masa depanku itu nyaman dan damai, untukku dan untuk orang-orang yang aku sayangi. Sebenarnya tidak bisa juga lantas dikatakan egois. Aku hanya mencoba serealistis mungkin, seperti yang biasa dilakukan kebanyakan orang. Gila apa?! Buat apa aku membayangkan diriku ambil bagian dalam berubahnya jaman? Jaman, silakan berubah. Allah, hamba mohon, selamatkan hamba dan orang-orang yang hamba kasihi. Amin.

Jalan masih panjang, jangan ucap janji, nikmatilah cintamu hari ini. Begitu kata Andy Liany almarhum. Jalan masih panjang, okay. Namun, kenapa jangan ucap janji? Aku mengucap janji, Insya Allah, untuk bersyukur atas cinta yang kunikmati hari ini, dan yang akan kunikmati sepanjang jalanku menghabiskan umur. Amin. Keadaan dan perasaan dalam mana aku berada kini, sesungguhnya kurang nyaman. Sesungguhnya, aku selalu merasa was-was dan gelisah. Sungguh aku memohon dalam hatiku yang paling dalam, semoga Allah segera mengakhiri penantian ini. Sungguh, aku memohon dan selalu memohon kepadaNya agar dijadikan hambaNya yang selalu mengingatNya, selalu bersyukur atasNya, dan terus diperbaiki mutu penghambaannya. Karena aku sedang dimabuk kepayang, dimabuk asmara. Karena aku tersentuh tepat di hatiku, tersentuh dengan sepenuh jiwa, hahaha...

Aku berjanji untuk beres-beres kantor hari ini, tetapi sudah jam 17.00 dan aku belum melakukan apa-apa untuk itu! Biarlah kutulis ketakutanku kini. Uangku tinggal satu jutaan! Ya Allah! Masih ada sih seharusnya yang dari Bu Myra. Besok aku ketemu dengannya. Semoga beliau menanyakan rekeningku hehehe... berapa yaaa... Semoga jumlahnya lumayan. Karena aku sedang jatuh cinta... eh, salah... Aku sedang mau membuka tabungan baru, yakni Tabungan Haji Bukopin! Subhanallah! Imanku cuma sampai di kulitnya! Hahahaha.... dan aku dengan penuh emosi menukasnya. Sungguh aku sangat menyesali, kenapa harus kutukas? Oh, bodohnya... Bodo ah, Aku memang sedang jatuh cinta, tapi aku tak berdaya...

Sunday, September 04, 2011

The Beauty That Is Mine


Aku terpikir kata-kata ini gara-gara mendengarkan melodi theme song-nya Emmanuelle. Filmnya sendiri tidak akan pernah membuatku ingin menontonnya. Selera artistik dan intelektual orang Perancis memang tidak bersetuju denganku. Akan tetapi, melodinya! Melodi ini seperti mengilhamkan suatu cinta yang sederhana, seperti yang selalu kudambakan, kukhayalkan. Seperti apa cinta yang sederhana itu? Hidup di lingkungan kampung yang bersahaja meski di perkotaan? Bertetangga dengan orang-orang sederhana? Pedagang bubur ayam yang mendorong gerobaknya tiap hari, atau pedagang ayam potongnya itu sendiri? Meski sederhana, cintaku cantik. Cantik seperti melodi ini. Cantik yang sederhana. Ah, sulitlah menggambarkannya dengan kata-kata. Ketika aku berusaha mengungkapkannya dalam kata-kata, yang terpikir hanya itu: "The Beauty That Is Mine." Insya Allah, aku tidak terlahir rakus. Insya Allah, lebih mudah bagiku mengabaikan dunia dibandingkan beberapa orang lainnya. Insya Allah. Akan tetapi, kalau cinta maka harus sepenuhnya milikku. Cinta yang cantik. Cinta yang sederhana, seperti melodi ini.

Berapa usiaku sekarang? Tigapuluh Lima. Anakku perempuan sudah duabelas tahun usianya. Sudah gadis. Apa yang kupunya? Laptop ini, HP 520, memang punyaku sendiri, meski baterainya sudah jelas minta diganti. Lalu ada Honda Vario. Itu juga punyaku. Kulkas Sanyo. Itu punyaku juga. Sudah. Keadaan ini tidak akan lama lagi, Insya Allah. Duh Gusti, lagu ini sungguh mewakili suasana hatiku malam ini. Bukan, Aku bukannya sedang merasa tidak berdaya. Aku juga tidak merasa sedang memperjuangkan sesuatu. Hatiku masih gengsi untuk mengakui bahwa aku menginginkan barang-barang itu. Rumah dan perabotannya. Mobil. Setidaknya, kalaupun diusahakan juga, istilah 'memperjuangkan' janganlah digunakan di sini. Teringatnya, aku tadi lihat-lihat mesin cuci top-loading di Giant. Merek apa tadi itu? Samsung, LG, Polytron? Harganya di bawah dua juta. Namun aku sepertinya gengsi kalau beli yang murah-murah begitu. Tidak! Aku tidak akan beli yang murah. Aku beli yang baik. Kulkas saja Insya Allah bukan yang murah, melainkan yang baik. Setidaknya, begitulah menurut Ibu.

Waduw... Again-nya Francis Goya!!! Paragraf ini mungkin untuk Puyunghai saja. Sebelum makan Puyunghai ronde kedua ini, aku minum Sirup Cap Bangau Rasa Pisang Ambon. Sedap! Namun rasanya agak terlalu canggih... Yang dulu tidak seperti ini... Lebih bersahaja namun tak mudah terlupa. Kini tentang Puyunghai. Aku benar-benar lupa di mana bisa dibeli Puyunghai enak. Seingatku aku sudah coba Berkat punya, dan seingatku rasanya sama sekali tidak istimewa. Kemarin pesan di Solaria. Bentuknya lucu, seperti kerucut, tetapi rasanya juga tidak istimewa. Bagaimana kalau di Margonda ya? Apa aku sudah pernah mencobanya akhir-akhir ini? Seingatku tidak. Nah, malam ini aku beli di pinggir jalan. Tidak istimewa juga. Sepertinya, ia menggunakan kecap inggris untuk membuat sausnya, dan itu membuatnya menjadi agak aneh. Agak tidak pas rasanya, makan puyunghai koq beraroma kecap inggris. Oh ya, dan sebelumnya Bakso A Fung. Kalau tidak salah, aku pertama kali berkenalan dengan bakso ini di food court-nya Pondok Indah Mall yang dulu, dan sejak saat itu, otakku selalu merekam bahwa bakso enak salah satunya Bakso A Fung. Dan memang masih enak. Tapi dengan tigapuluh ribu semangkok, sepertinya cukuplah setahun sekali membelinya.

Saturday, June 18, 2011

Walau Banyak yang Mencoba Memisahkan Kita


Aku akan selalu mencintaimu! Lagu ini membuat kenanganku mengembara ke jaman Cimone. Waktu yang sangat krusial bagi pembentukan mentalku... sehingga keple begini. Hahahaha... seenaknya saja menyalahkan waktu. Keple sih keple aja. Nah lo, terus lagu ini. Waktu bercinta, waktu bercinta, terasa enak, terasa sungguh enak. Ini sih jaman Kemayoran. The Best of Top VI. Gambarnya kalau gak salah Bo Derek. Diilangin Dony Yuliardi! Don! Kembalikaaan!!! Ada satu lagunya tuh yang sampai hari ini gak ketemu-ketemu. You look so beautiful tonight dan seterusnya... entah apa judulnya. Seperti doa kecilku, Ya Allah, hamba mohon kembalikanlah lagu-lagu itu kepada hamba, sebelum hamba mati. Amin.

Waduw, lagu ini! Kamu datang pada indera-inderaku. Ini mah SMA banget. Benar-benar membuatku menyesal. Mengapa begini benar jalan hidupku? Ya Allah, hapuskanlah kekecewaan-kekecewaan hamba dari masa-masa itu. Hamba mohon gantikanlah dengan kebahagiaan dalam rasa syukur yang mendalam dan terus-menerus kepadaMu. Aku jelek dan gendut. Makanya ga ada cewek yang mau sama aku. Gak pernah ada yang bilang aku ganteng, makanya aku gak pernah tahu kalau aku ganteng, karena memang aku gak ganteng. Kusut dah. Dulu Ibu sering ngendika, istriku nanti cantik karena aku baik hati. Hahahahah... Mbahwun, Bu. Tapi ketawa juga. Ya sudahlah. Nyatanya Nasir sudah menjadi tukang bubur.

Lagu ini lagi! Parah! Suatu hari kita akan bersama berbagi cinta ini selamanya. Ah, sudahlah. Orang lain pasti ada yang lebih parah pengalamannya. Aku memang gendut dan berkaki pendek, tapi aku masih banyak yang naksir koq entah kenapa. Hahahahah! Aku ini kenapa sih malam ini? Tauk ah. Kuikuti saja perasaanku yang liar ini, karena tubuhku sudah tidak kuat dibawa liar. Mengerikan betapa waktu, dan gaya hidup yang buruk, dapat mengubah segalanya. Mbak Debbie emang dahsyat bener dah! Abis ini apa nih? ...Maaak... Terima kasih! Aduw syape deh. Asli deh, kurasa emang setidaknya jaman SMP aku juga sudah terpikir, kadang-kadang. Istriku seperti apa ya? Seperti apa ya perempuan yang disiapkan Allah untuk menjadi Istriku, seperti Ibu disiapkan untuk Bapak? Hahahaha... lagu-lagu seperti ini memang kurang-ajar! Mengharu-biru ababil a.k.a abege baru labil ...Hahahaha...

Dan kini... Anakku sudah gadis... Nak, Bapak senang sekali seharian itu kita bisa menghabiskan waktu bersama. Gak banyak yang bisa Bapak katakan, Nak. Bapak sayang padamu, entah bagaimana caranya agar kamu tahu, agar kamu merasakannya. Sungguh Bapak gak pernah tahu, apalagi merencanakan, bahwa segala sesuatunya akan menjadi begini. Sungguh, Nak... ternyata memang tidak ada yang bisa Bapak katakan. Mungkin Bapak harus meminta maaf padamu. Bapak sayang padamu, Nak. Tadi, waktu Bapak melepasmu masuk ruang tunggu di Bandara, dan berbalik, Bapakmu yang sentimentil ini menangis. Entah menangis untuk apa. Ternyata masih tersisa air mata itu. Bapak nyaris tidak bisa berhenti menangis ketika kamu pergi dulu, Nak, dan itu terjadi lama sekali sampai Bapak capek. Sampai-sampai, satu-satunya cara agar tidak terus menangis adalah berusaha keras melupakanmu. Waktu menulis ini saja Bapak menangis lagi...

Apa yang dapat Bapak lakukan, Nak? Biaya pendidikan, itu sudah jelas. Namun Bapak membayangkan lebih. Bapak ingin bisa menjagamu selama kamu bertumbuh. Bapak tidak mau kamu mendapatkan kesan-kesan yang salah mengenai dirimu sendiri. Bapak tidak mau kamu membangun citra-citra buruk mengenai dirimu sendiri. Bapak ingin kamu tumbuh sehat jasmani dan rohani. Bapak sayang padamu, Nak... tapi Bapak gak tahu apa yang harus Bapak lakukan. Bapak gak pernah tahu apa yang harus Bapak lakukan, dan tidak ada yang memberitahu Bapak. Uti ingin Bapak menjadi orang gedean untukmu. Benarkah itu yang kamu butuhkan, Nak? Sejujurnya, Bapak tidak yakin. Sejujurnya, Bapak iri pada Pak Janus karena bisa selalu dekat-dekat denganmu. Bapak sayang padamu, Nak.

Sungguh, sangat menyakitkan jauh-jauh darimu. Orang tidak ada yang tahu, dan mereka memang tidak ada yang mau tahu. Bapak tidak butuh mereka menyalahkan Bapak, karena Bapak sudah menyalahkan diri sendiri lebih keras dari yang mereka bisa bayangkan. Bapak tidak minta dikasihani, tapi kalau mereka tidak bisa memahami perasaan Bapak, setidaknya jangan tambah melukai Bapak. Bayangkan, betapa sakit berusaha melupakanmu selama ini. Sakit. Sakit sekali, Nak. Maafkan Bapak. Tapi Bapak tidak bisa lain, Bapak harus mencoba untuk terus hidup, karena bila ingat Bapak jauh darimu, Bapak jadi tidak ingin hidup. Padahal tidak boleh begitu. Mereka tidak ada yang tahu, dan mereka memang tidak pernah mau tahu. Mereka, seperti biasa, mengira Bapak hanya sekadar lebay.

Bapak senang akhirnya menulis entri ini. Suatu hari nanti, Nak, jika kamu sudah dewasa, mungkin terbaca juga olehmu. Mungkin kamulah yang akan dapat memahaminya. Mungkin kamulah satu-satunya orang yang bisa memahami perasaan Bapak selama ini. Sungguh Bapak tidak berani berharap, tetapi alangkah manisnya jika begitu. Bapak sesungguhnya sudah tidak ingin apa-apa lagi, entah sejak kapan begini. Karena ingin dekat denganmu saja, Anakku, sesuatu yang orang lain bisa dengan mudah mendapatkannya, tidak bisa. Apa lagi yang bisa Bapak inginkan? Alhamdulillah, kamu tumbuh menjadi seorang gadis yang cerdas, Bapak sangat bersyukur, Nak. Bapak berterima kasih pada Ibumu, sekaligus meminta maaf karena tidak membantu selama ini. Bapak sangat menyayangimu, Nak. Semoga Allah selalu membimbing dan melindungiMu. Amin Ya Rabbal 'alamin.

Wednesday, June 15, 2011

KSHM Lalu LPHM Dulu, Pusaka Kemudian


Bismillahirahmanirahiim
. Sungguh pada tempatnya jika ini kumulai dengan mengucap syukur, Alhamdulillah. Sungguh tak terhingga nikmat yang disiramkanNya kepada hamba yang durhaka ini. Inilah salah satu contohnya. Aku menulis entri ini sambil ditemani satu album lengkap Dick Bakker Instrumentally Yours. Sungguh, musik-musik inilah yang telah membentukku, mewarnai jiwaku. Aku teringat lamat-lamat di suatu sore hari yang mendung, aku terbangun dari tidur siangku dan mendengar lagu-lagu ini diputar, di Kompleks Angkasa Pura K28 Kemayoran Gempol. Ampunilah hamba Ya Allah.

Lagu yang tengah diputar ini diberi judul "Dear Parents". Melodinya sangat Belanda. Seperti halnya berbagai episode hidupku yang begitu saja berlalu bagai mimpi, Allah mengijinkanku mengecap suasana hati suatu negeri yang mengilhami ditulisnya melodi-melodi seperti ini. Di sebelah kiriku secangkir Vanilla Rooibos. Di sebelah kananku jus mangga yang enak, cap Country's Choice, tidak seperti jus mangga bohong-bohongan di Belanda. Alhamdulillah. Beginilah memang jika aku berdua saja dengan diriku sendiri. Ya Allah, ijinkanlah hamba selalu mengingatMu, bersyukur padaMu dan menjadi hambaMu yang lebih baik lagi. Amin. Amin. Amin.

Pada kesempatan ini, aku ingin mengenang kembali Kelompok Studi Hukum dan Masyarakat (KSHM). Sesungguhnya bukan sebuah kenangan yang terlalu manis, mengingatkanku pada hari-hari yang penuh kebingungan. Sesungguhnya itu adalah hari-hari yang mengerikan. Sesungguhnya, dengan mengenangnya, bisa-bisa membuat suasana hati menjadi muram dan tertekan. Apa kabar Bagus Suryahutama? Mengingatnya saja membuat hatiku merasa tidak tentram. Oh ya, biar kuabadikan di sini bahwa hari ini, 15 Juni 2011, Hana Izzah Sophia Pulungan binti M. Sofyan Pulungan lahir.

Lalu Qodir, kemarin dia berangkat ke Finlandia. Sebenarnya intinya sama saja, dari Bagus sampai Bobby Marbun. Yang belakangan ini menggunakan kata "inspiring" untuk menyebutku. Namun, mungkin yang paling keterlaluan adalah Bapaknya Hana ini. Jelas ia berkali-kali memperalatku, dan aku, seperti biasa, terlalu lembek untuk menolak. Benarkah ia kawanku? Yaa... memang hubungan kami begitu, benci tapi rindu. Maksudnya aku yang benci dia yang rindu. Sebenarnya menyenangkan kalau aku sampai bisa mendapatkan apa yang kutulis sebagai deklarasi KSHM dulu. Akan tetapi, itu berarti menghubungi Bagus...

Kemudian LPHM. Kali ini Qodirlah biang keroknya. Sejujurnya, LPHM bukan apa-apa. Kami cuma punya lphm.info dulu. Sekarang sudah mati. Kami? Kurasa tidak. Aku. Aku yang punya lphm.info seperti biasanya. Aku lupa bagaimana dahulu sampai terpikir membuat situsweb itu. Beberapa artikelnya masih bisa diselamatkan dan dipindahkan ke pusaka.info kini. Selebihnya... LPHM bukan apa-apa. Aku masih ingat, aku pernah memaksa Dedi membuat beberapa artikel, dan seingatku menghasilkan dua. Ya, betul dua. Naiknya Harga Beras Dunia, Ruwetnya Tata-kelola Perberasan Indonesia dan Pilih Ketahanan Pangan atau Kedaulatan Pangan?

A Place to Live, Desktop Wallpaper-ku Saat Ini

Ini prestasi tersendiri! Meski aku ingat, yang kuterima dari Dedi cuma tempelan yang entah dia dapat dari sana-sini. Capek juga kalau harus terus begitu. Aku lupa apa yang terjadi kemudian dengannya, apa yang telah kulakukan terhadapnya. Yang pasti, aku memang terlalu menyebalkan baginya, dan aku juga selalu tidak tahan dengan apa yang kulihat sebagai daya dorongnya yang rendah. Singkat cerita, aku diterima bersekolah di Belanda. Kutinggalkan Nelayan Teluk Jakarta yang diaku sebagai pekerjaan LPHM, mungkin satu-satunya. Kutinggalkan Sovereign Wealth Fund-nya Pak Udin Saepudin Noor....

Kemudian, Pusaka. Awalnya aku mengusulkan nama "Perhimpunan Studi Hukum dan Masyarakat untuk Persatuan Bangsa dan Keadilan Sosial" yang akan disingkat dengan akronim "Perimbas", meski pada saat itu aku sangat yakin Sopian tidak akan menerimanya. Maka kusiapkan alternatifnya, Pusaka! Begitulah, dalam episode ini Sopianlah biang keroknya. Namun, ini cerita tentang Teuku Sulaeman, M. Farid Hanggawan dan Sandoro Purba. Aku sudah kehilangan Kusmasai, masa aku harus kehilangan Agam juga? Ya, tidak apa-apa. Jika mereka tidak punya cukup alasan untuk bertahan, memang tidak mungkin ditahan. Yang tersisa memang Sandoro.

Jika Sopian memilih Farid, dari awal aku melihat sesuatu pada Sandoro. Ternyata bocah edan ini memang edan. Aku tidak tahu apa yang ada dalam benaknya, tapi setidaknya aku harus berterima kasih padanya karena, sejauh ini, ia tidak meninggalkanku sendiri. Apakah ia akan sekadar mengikutiku? Sampai kapan? Tidak! Lebih baik kudoakan dia. Insya Allah suatu hari nanti ia menjadi dirinya sendiri yang tangguh, dan ia tidak melupakan temannya ini. Seperti sebuah band, bongkar-pasang personil itu wajar. Aku merasa, kami bisa menjadi semacam duet yang menghasilkan. Dan jangan dilupakan, Rendy! Ia selalu ada! Aku suka dekat-dekat padanya, entah kenapa.

Demikianlah Pusaka, sudah kurang lebih setahun umurnya. Sampai malam ini, masih ada tekadku untuk menjaganya tetap hidup. Tidak! Tidak akan kubiarkan salah satu akta buatan Mbak Hesti Bimasto tidak berguna! Akan terus kuusahakan! Ini adalah waktu yang berani. Ini adalah waktu berharap. Ini adalah waktu meyakini akan datangnya berita-berita baik, kejutan-kejutan yang menyenangkan, karena, seperti biasa, aku tidak pernah tahu apa yang akan terjadi besok. Malam ini, badanku masih tidak enak rasanya. Namun, tetap saja, di meja resepsionis ini, aku mengetik sambil bertelanjang dada. Udara memang mulai panas. Kurasa memang sudah memasuki musim panas.

Pada titik ini, tak satu serpihan masa lalu pun yang menggoda lamunanku, namun tak satu harapan untuk masa mendatang. Setelah ini aku akan segera beristirahat, membaringkan tubuhku yang sudah tidak karuan bentuknya ini di kasur palembang, yang sejak beli belum pernah dicuci. Suatu hari nanti, kasur palembang akan menjadi kasur pegas yang nyaman, tidak mendelep. Suatu hari nanti, semua keinginanku yang tidak banyak ini akan terpenuhi, juga keinginan orang-orang yang kusayangi. Sesegera mungkin, akan kuperbaiki kualitas hidupku, untuk menyongsong suatu hari nanti itu!

Fastabiqul Khairat!

Wednesday, January 12, 2011

Ini Bukan Sensasi. Ini Kejujuran!


Baiklah aku menulis sebuah entri untuk Kemacangondrongan saja, meski aku sebelumnya secara sukarela menawarkan diri untuk mengisi posisi notulis. Mungkin aku akan menceritakannya nanti, tentang Rapat Kerja Pimpinan FHUI yang diselenggarakan di Parai Beach Hotel and Resort, Sungailiat, Bangka, 8-11 Januari 2011. Nanti, di paragraf-paragraf selanjutnya. Sekarang aku jadi teringat pada perbincanganku dengan Cantik sore tadi, mengenai traveling dan Andrea Hirata. Benar-benar pseudonim yang ora keren blas. Cantik memprotesku karena aku terkesan memandangnya sepele. Harus kuakui, entah kenapa, aku tidak peduli cenderung tidak suka padanya; atau tepatnya, aku sinis padanya.

Mengapa? Aku bisa menumpahkan seribu tambah seribu lagi alasan kenapa aku tidak menyukainya. Sejujurnya, sudah lama aku mempertimbangkan menulis sesuatu yang seperti itu. Mungkin seharusnya aku tidak usah berpikir terlalu banyak. Mungkin seharusnya aku menulis saja. Seperti sekarang ini, peduli kambing raker, aku menulis entri saja! Bahkan bisa saja aku melepaskan rencana ambisius Hukum Koperasi Indonesia untuk mengejar impianku sendiri. Kenapa aku harus takut melenggang sendiri? Apa benar aku takut? Butuh apa aku sama Sopian M Pulungan? Aku ingin memanfaatkan ke-SH-anku semaksimal mungkin. Aku ingin beracara dan, tentu saja, punya ijin beracara! Betulkah? Benarkah aku sudah tahu apa yang kuingingkan?



Aku tahu. Aku menginginkanmu, Cantik. Hanya kamu. Jika betul aku hanya menginginkanmu, mungkin aku seharusnya mempertimbangkan baik-baik inspirasi darimu. Aku pun bisa menulis sekuat Andrea Hirata atau siapapun, Dan Brown apalagi. Bahkan aku berani menantang Tolkin dan Rowling! Seperti biasa lebay, tapi siapa takut?! Aku punya beberapa topik yang ingin, atau setidaknya pernah terpikir untuk, kukembangkan. Pertama, tentu saja pengalamanku sendiri. Hahaha... aku jadi seperti Jamal Gani dong, meski aku yakin ia tidak akan mampu membuktikan kata-katanya. [siapa tahu kalau ditantang begini ia akan terbakar hahaha...] Kedua, tentang nekromansi, apa padanan bahasa Indonesianya ya? Ketiga, tentang Tropiko. Sesungguhnya bisa saja yang pertama kubungkus dengan yang kedua atau ketiga.

Disertasi, terdengar begitu jauhnya engkau. Bapak, terutama, selalu mengulang-ulang itu. Ibu, seperti dahulu, terlihat lebih sabar. Stop press: Tau2 Ira muncul di sebelahku, "Gue kira lo bikin notulensi." Kujawab, "Gue catet yang ada hubungannya sama pendidikan aja. Begitu kata Bang Andhika." Sepik. Sebenernya sih aku benar-benar males sudah. Jadi, pemirsa, sekarang sudah pukul 23.19 loh. Parul lagi cingcong. Sudahlah. Masih ada Mbak Fit abis ini. Kembali lagi ke Disertasi. Berpikir disertasi, tentu jadi teringat BHMN. Baiklah aku berdoa saja, memohon kepada Allah semoga dilancarkan semua urusanku. Akan kupertahankan posisiku di FHUI, jika tidak untuk apa-apa, setidaknya untuk membalas dendam! Parul bisa menulis bahwa mendidik anak bangsa adalah tugas sucinya. Aku, seperti biasa, sinis.

Kembali lagi ke disertasi, ya, di situ tantangannya. Memang belum kubaca dengan serius, tapi, kalau aku tidak salah baca, Holleman banyak menulis karya fiksi. Wow! Kalau setelah ini Andrea Hirata atau apapun nama aslinya menyusun disertasi sampai jadi doktor, dia bisa sehebat Holleman! Aku... jangan-jangan aku harus mengorbankan salah satunya... Yang jelas, tidak mungkinlah aku kalahkan disertasi. Itu adalah keinginan orangtuaku, dan itu suci! Semoga aku mendapat kekuatan dan kelonggaran untuk mengerjakan keduanya. Keduanya?! Bahkan untuk hukum koperasi Indonesia saja, aku belum menulis sepatah kata pun. Harus kuakui, tentu saja aku tidak begitu semangat menyusunnya. kenapa aku harus berbagi kepengarangan dengan Sopian atau siapapun?!

Biaya cetak! Semoga Allah memberikan jalan untuk ini. Insya Allah, selama masih kulangkahkan kaki ini, maka tidak ada apapun yang harus kukhawatirkan. Allah Maha Mengurus Segala Sesuatu! Lalu Nelayan Teluk Jakarta... Hey! Kepulauan Seribu dulu dong. Nelayan Teluk Jakarta 'kan naskahnya sudah siap. Jika aku berhasil mempersiapkan Kepulauan Seribu, maka Insya Allah ada naskah ketiga! Coba, coba, kita tuliskan judul-judulnya... (1) Ikan Untuk Nelayan! (2) Nelayan Teluk Jakarta (3) Nelayan Kepulauan Seribu. Wow! Meski aku yakin, sebagai sebuah karya antropologi hukum, buku-buku ini tentu rendah mutunya dan penuh kebohongan pula hahaha... Mungkin memang harus kuakui, buku-buku ini bukan tulisan ilmiah. Ini adalah propaganda! Ya, itu lebih jujur. Ini bukan masalah sensasi. Ini kejujuran!

Saturday, January 01, 2011

Malam Tahun Baru Tanpa Air


Writing entries is very relaxing
. Maksudnya, jika aku menulis entri, itu artinya aku sedang rileks. Ditemani operetta karya Johann Strauss II, Die Fledermaus, memang tidak ada lain yang dapat dilakukan oleh seorang decayed gentleman seperti aku kecuali bersantai. Rileks. Memang aku tidak mengenakan setelanku. Di negara tropis ini, malam tahun baru terasa sungguh panasnya. Memang sudah berhari-hari begini. Sesungguhnya, aku hanya mengenakan baju kaus berkerah dari Bapak, yang ada logonya entah apa, yang malam ini terpercik susu Indomilk, bercelana pendek; semakin memantapkan jatidiriku sebagai seorang priyayi yang telah membusuk. Aku tidak punya kekayaan. Aku tidak punya kehormatan. Aku tidak punya apa-apa yang bisa menunjukkan status dan fungsiku. Kecuali bahwa aku juga menikmati segelas besar teh hijau dengan kelopak bunga melati alami, tidak ada satu pun di sekitarku yang menandakan aku berasal dari golongan terhormat dalam masyarakat. Kecuali bahwa aku sedang menikmati Sphären-Klänge dari Josef Strauss, tidak ada satu pun yang menunjukkan bahwa aku seorang aristokrat.

Betapa aku dapat mempertahankan kedudukan sosial leluhurku, kini bahkan aku tinggal di sebuah kontrakan sempit, yang malam ini bahkan air keran tidak mengalir. Intan berkata, "Tidak penting anakku pinter, yang penting bisa cari uang banyak." Uang. Sebuah rekaan (invention) yang sungguh mengerikan. Jika Alfred Nobel saja menyesal telah menemukan dan menyebarluaskan dinamit, maka yang memikirkan gagasan mengenai uang dan mewujudkannya harus beribu-ribu kali lebih menyesal. Sudahlah. Cara berpikir ini sulit, dan tidak menarik. Orang tidak mau dengar. Tahukah engkau, Sayang, kata-kata Intan itu sunguh mengerikan terdengar olehku. Sungguh, dunia kita ini sudah tidak butuh orang-orang yang ketika kecilnya didoakan demikian. Sungguh, jika saja aku mau sedikit berusaha, aku bisa membuktikan bahwa menjadi kaya sekarang berarti memiskinkan orang lain di tempat lain, di waktu lain. Namun kini aku sedang enggan berusaha, jadi kuketuk-ketukkan saja jariku pada papan-kunci laptop-ku seirama dengan Radetzky March.

Selamat Tahun Baru 2011. Banyak Untung. Banyak Senang.

Aku bersungguh-sungguh dengan kata-kataku, ketika kukatakan padamu, tidak ada hubungannya antara apa yang kita usahakan dan hasil yang kita dapatkan. Berusaha adalah takdir manusia. Hasil adalah sepenuhnya hak prerogatif Allah. Benar-benar sepenuhnya terserah Allah. Karena itu, aku tidak suka menaruh bekerja dalam satu kategori dengan berdoa. Bekerja itu selalu tidak (sepenuhnya) menyenangkan. Berdoa sudah pasti menyenangkan, setidaknya membuat hati nyaman. Aah, seperti komposisi ini! Gold und Silber oleh Franz Lehar. Dan berdoa tidak sama dengan 'menyuruh' Allah. Kurasa, kebanyakan orang, termasuk diriku sendiri, alih-alih berdoa, malah menyuruh-nyuruh Allah. Salah satu 'teknik' berdoa yang kena di hatiku adalah munajat. Munajat artinya berbicara dalam kerahasiaan. Berdua-duaan saja dengan Allah, berkeluh-kesah mengenai segala yang dialami sepanjang hari. Mencurahkan segala ketakutan dan harapan bahkan yang paling bodoh atau memalukan sekalipun. Berbisik-bisik kepadaNya. Nikmat sekali! Kamu tahu rasanya berdua-duaan saja dengan kekasih hatimu, yang juga mencintaimu sepenuh hatinya? Ini jaauuuh lebih nikmat dari itu!

Wow! Ini dia! Leichte Kavallerie oleh Franz von Suppé! Aku ingat aku pernah menulis sesuatu mengenai serangan kavaleri, dan menggunakannya sebagai ilustrasi bagi penjelasanku mengenai 'kekuatan pikiran'. Hahaha... waktu yang telah lalu. Hari ini Basuki Effendi alias Basque Béto berulang-tahun yang ke-34, dan, berbicara mengenai waktu yang berlalu, ia memutuskan untuk mabuk. Ada cognac masih sepertiga botol, dan dua botol besar Bir Bintang. Maka minum-minumlah dia dan John Gunadi. Demi waktu Ashr, sesungguhnya manusia tidak lain berada dalam keadaan merugi. Kecuali mereka yang percaya dan berbuat baik, dan saling mengingatkan mengenai kebaikan, dan saling mengingatkan untuk bersabar. Duh, seandainya ada air... aku sangat ingin mandi, membersihkan badan. Setelah bersih badanku, aku ingin meski sekadarnya membersihkan jiwaku. Mengerikan sekali yang telah kulalui selama ini. Tidak heran jika begitu banyak kebaikan dan keindahan ditahan dariku. Namun, sungguh aku berharap, semoga semua itu tidak lagi ditahan, bahkan segera dikurniakan kepadaku...

Subhanallah! Les Patineurs oleh Émile Waldteufel! Benar-benar aku ingin mandi sekarang. Aku sih tidak pernah membayangkan diriku berseluncur di atas danau yang membeku. Aku tidak menjadikannya sebagai bagian dari citra diriku. Itu terlalu Eropa. Norak sungguh jika aristokrat Jawa seperti aku melakukannya. Akan tetapi, harus kuakui, indah betul melodi ini. Subhanallahu Akbar! Namun, kalau Ibu dan Istriku menginginkannya, hal terkecil yang dapat kulakukan adalah berusaha untuk mewujudkannya! Di situlah setidaknya kehormatan seorang ksatria dipertaruhkan. Masa mewujudkan keinginan Ibu dan Istrinya sendiri tidak mampu?! Apapun akan kutempuh untuk mewujudkannya. Ah, kamu kebanyakan cingcong! Lihat saja! Langkahnya, walau kecil, sudah kuayun sore ini. Ah, Steve Ngo ini entah apa yang diinginkannya. Aku, pada dasarnya, tidak tertarik. Sudah berulang kali kukatakan, aku tidak butuh pekerjaan. Pekerjaanku sudah banyak. Yang kubutuhkan uang! Hahaha! Uang! But he sure makes some good points there. Indonesia, maritime, mining and energy... arbitration. Integration into world economy? Based in Indonesia but supported by international experts? Sounds very much like business...

Kamu terlalu pemalu untuk berdansa waltz. Apalagi Ibu.