Tuesday, November 15, 2022

Apa Harus Kuganti Menjadi Jabodetabekpunjur


Apa lantas ini akan menjadi entri mengenai Warung Nasi Cipunjur khas Cianjur yang di Jalan Kemakmuran itu. Apa lantas ini mengenai karedok dan ulukutek leunca yang sepisin kecilnya sepuluh ribu Rupiah itu. Apa lantas pepes tahu yang penuh dengan uwuh sehingga sulit memakannya itu. Apa karena aku marah-marah pada bocil-bocil itu, karena mereka terlalu percaya pada pemilu langsung. Eddie Calvert menyompretkan John dan Julie, yang seingatku tidak ada di kaset Ibu. Tidak menjadi apa karena memang sompretannya amat berwarna keemasan, seperti terompetnya. 
Jikapun aku langsung melompat ke mari, itu sekadar memeriksa posisi gambaran. Kapan itu aku makan pilus rasa mie goreng sembari meneguk-neguk Nu teh tarik, sejak itulah perutku terasa aduhai. Seperti London di malam hari ketika Pamela nyaman dalam pelukan Kapten Henry, seperti itulah aku mengetiki di depan jendela memandang ke arah gang Blok M. Adakah London di waktu malam dalam kaset Ibu aku tiada ingat. Ia selalu ada di Kemayoran, pada rak kaset kayu yang terakhir berwarna biru, seperti rak buku kesayangan buatanku sendiri, 'kubawa ke mana-mana.

Meski sebelum ini sempat terpikir mengenai bunga kuning kecil yang menghias indah sudut kanan bawah, di tengah limpahan cumi empang dan irisan cabai hijau dan cabai merah dan bawang putih, nyatanya gawai ini memang cucok untuk mengetik-ngetik seraya mendengarkan musik-musik non-stop yang diputar Youtube. Uah, kalimat apa itu berlari kencang begitu. Apa baiknya ditingkahi dengan gericik air, atau bahkan debur ombak. Masih lebih baik daripada dengingan bor apatah lagi hantaman martil menggempur beton. Khayalku tidak menjadi kenyataan. 

Tidak seperti suami Uncu yang Jawa, atau bahkan Ahmad Wildani si bocah Ngalam, aku tiada pandai mencari uang. Jika dipikir-pikir, apalah pandainya aku ini. Tak ada. Kelentang-kelenting piano dengan lamat-lamat oser-oseran stik sikat pada dram senar, sedang ombak mendesau mendebur seakan tidak di kejauhan, aku duduk di sofa bau meski sudah ditutupi kain pelapis. Seperti sofa di rumah Pak Kaji dulu di Uilenstede. Sofanya Hadi tiada ditutupi, dibiarkan terbuka begitu saja sampai bau Hadi. Lantas apalah arti cinta dan kasih-sayang di sejuknya musim semi.

Di sini kau akan tahu bahwa aku sudah tersesat jauh, meski desauan ombak ini serasa amat dekat. Dapatkah aku melakukannya sambil melaju di tol Trans Jawa. 'Kurasa tidak perlu, karena jikapun itu sampai terjadi, maka aku hanya harus menunggu sampai servis makan, setelah itu tidur hingga sampai di Jombor. Tentu saja di Magelang ombak tidak mendesau, tidak seperti di Sanur, tempat-tempat pelesiran itu, atau tempat-tempat healing kata kids jaman now. November ini banyak orang-orang dalam hidupku berulang-tahun. Jikapun 'kusebut, itu almarhum bapaknya Nira.

Adanya aku bisa sampai di sini, ada entah siapa membuat video lirik bagi Musnah tak Berguna, maka tidak selesailah entri ini sebelum tengah malam. Aku bahkan tidak ingin menceritakan mimpiku sebelum bangun tadi. Kenyataan bahwa aku tidak punya uang, sedang perutku tumpah-ruah ke mana-mana, sedang tadi malam makan malam bubur Madura, masakan  pagi ini makan bubur Cianjur. Apapun yang diinginkan Cantik, sudah barang tentu aku paling suka bersamanya. Jika ia ingin bubur Cianjur, bahkan Unicorn Indorent sekalipun, Insya Allah 'kuusahakan.

Jujur, jez November piano bossa nova ini tiada berapa endeus, apalagi jika tidak ditingkahi desauan ombak yang tiada henti. Suasana apa ini yang ditimbulkannya. Apakah suasana sarapan pagi di sebuah resor pantai, sedang tersedia potongan marlin asap yang diasinkan selain tentu saja ratatouille. Semua kenangan dari delapan tahun lalu. Tentu saja aku tidak mungkin mengenang yang belum pernah terjadi padaku. Semua kenangan kini terasa ekstra menyakitkan, kecuali menjalani apa adaku bersama Cantik kesayanganku satu-satunya. Hanya karenamu 'kutahankan semua.

Monday, October 31, 2022

Siapa Bilang Oktoberfest Tidak Ada Entrinya


Ini adalah suatu kenangan mengenai Atiek CB, meski birnya hitam. Aku lupa Bintang, Anker, atau Guinness. Jadi sudah barang tentu bukan Oktoberfest, namun aku tidak peduli. Aku bisa saja meminum lager, pilsner, atau kolsch, namun malam itu, dingin berangin, aku memilih stout untuk menemani berbatang-batang Djarum Super. Kaukata entri-entri dalam blog ini mengenaiku, 'Gar?! Uah, ini mengenai dunia seisinya, dan apakah salah jika aku memandangnya dari sudutku. Lantas dari sudut mana lagi. Jelas aku tersudut. Di waktuku sendiri pun aku sudah tersudut.
Di pantai yang gelap itu, bisa saja 'kutelanjangi Atiek CB, atau sekadar 'kusingkap agar 'kupilin-pilin, atau apalah. Namun malam itu aku tidak melakukan itu semua. Anganku melayang ke malam-malam ketika Raymond mungkin belajar ditemani balada-balada yang dinyanyikan Gary Moore, atau ke malam-malam ketika aku sendiri belajar di bawah temaram lampu bohlam di kamar praktek dokter Hardi Leman. Wadagku bersama Atiek CB, namun anganku sudah pasti melayang ke kamar berlelangit pendek di pinggir kandang kambing. Apa salahnya itu semua.

Guntur menggelegar mengampar-ampar di kejauhan, terdengar dari puncak bukit sini, agak di luar Siena. Adakah itu cinta pertamaku, baru dua puluhan tahun kemudian 'kusadari memang terlalu tua untuk memerankan perempuan dua puluh tujuh tahun. Tiada sesuatu apa dapat 'kuharapkan dari apapun, ketika bahkan aku berutang lima ratus ribu Rupiah pada Togar. Sungguh sangat menyakiti hati dibanding harga Scoopy Prestige Green yang dua puluh dua juta enam ratuh lima puluh ribu Rupiah dibayar tunai itu. Sebarisan alat tiup kuningan meningkahi.

Dapat 'kurasakan hirupan dalam-dalam asap Djarum Super, benarkah 'kumasukkan ke dalam lambung, 'kutelan. Dapat 'kurasakan tegukan bir hitam pahit dingin membasahi kerongkongan, masuk ke lambung juga. Jika sudah begini tidak butuh apalagi Chigo by Kenangan Brand karena pada saat itu memang belum ada. Dapat 'kurasakan tanganku menggerayangi kantong celana Bapak, mencuri beberapa ribu bahkan bisa sampai sebungkus. Jika bukan sejebung besar kopi hitam pahit, mengepul-ngepul baru mendidih, bergambar mobil balap formula satu.

Balada ini, sayatan senar gitar ini melengking meratap-ratap. Apa benar yang diratapi kepergian anak istri. Malam-malam yang semakin kelam segelap pikiranku. Sepanjang jalan Sawo dari Rumah Makan Padang Siang-Malam sampai seberang Kober, sedang meneguk Cleng Marem Anoman Dasamuka. Masih mengenai diriku, kau kata, 'Gar?! Ini mengenai rasia kelamnya malam, mengenai kepulan asap rokok atau uap kopi, mengenai pelacur yang tidak dijamah namun minta dibayar. Sekadar diajak berbual-bual, sedang mani dibuang percuma di selokan pinggir rel.

Seorang waria merancap sambil menonton filem porno, sedang waria lainnya lari keluar kamar sambil menangis. Maka 'kulantangkan: Santiago! Seorang diri menghadapi gajah perang dengan meriam tangan. 'Kurasa sudah 'kupejamkan mataku seraya mengucap salam Maria, ketika gajah itu begitu saja berhenti tepat di hadapku, belalainya menyentuh hidungku. 'Kupikir aku sudah di Valhalla atau neraka sekali, ternyata di belakangku sebarisan pasukan musabaqoh tilawatil quran membuat gajah itu masuk Islam bersama mahoutnya sekali. Bau selangkangnya sangat memuakkan.

Pada akhirnya, aku mulai menikmati Oktoberfest ini. Jangan sampai lapar di tengah malam begini, nanti pinggangnya dicubit lagi sama Wakakoops keparat. Seperti koala mati saja kelakuannya. Kapan terakhir aku jatuh cinta, sudah tidak ingat. Jangan-jangan tidak pernah. Ya, aku sedang jatuh cinta padamu. Sekarang ini. Selebihnya aku tidak peduli. Jika pun ini di bis malam dalam perjalanan ke timur, 'kuingin ini bersamamu, karena engkaulah cinta dalam hidupku. Hanya satu kamu, meski senar gitar sok menyayat-nyayat begini. Cintaku selalu hanya padamu, selama-lamanya.

Wednesday, September 28, 2022

Anakku Sayang, Anak Perempuan Satu-satunya


Kini matahari telah terbenam di Karibia sini, padahal sebelumnya Michael menarikan tarian terakhirnya dengan senandung masa kecilku. Ini semua karena aku harus menyiapkan pemegang-tempat dan gambaran lebih dulu sebelum mulai mengetiki. Padahal ini mengenai hari ulang tahun anakku sayang, anak perempuan satu-satunya, darah dagingku sendiri. Ini semacam surat kepada orangtua, mengungkapkan rasa sayang dan terima kasih atas segala kasih-sayang yang tercurah. Hari-hari seperti ini ada saja hampir dalam hidupku, semoga Allah senantiasa berbelas kasihan padaku.

Apakah aku, sebagai bapak, berjalan terlalu cepat. Bisa jadi, semata karena berusaha menghemat uang. Ingin cepat-cepat sampai di rumah juga, karena Lantai 2 Institut Seni, Sains, Teknologi, dan Humaniora aduhai sungguh pembekunya. Aku punya sebuah pertanyaan, begitu saja 'kukatakan pada Ah Hui. Mengapa kau memilih adegan Pandawa Dadu ini untuk ruang kerjamu. Aku tidak tahu ini mengenai apa, tukas Ah Hui. Aku hanya menyukainya karena ia terlihat timbul, seperti tiga dimensi. Memang orang hebat harus sederhana seperti Ah Hui. Tidak seperti aku.

Aku pun, seperti Ah Hui, punya ruang kerja. Parul punyakah. Apa perlu 'kukenang-kenang pada ketika mereka berempat berkeruntelan di tepi Ciliwung, sedang aku di bantaran bertebing yang lebih tinggi. Di kamar mandi ada sebuah pintu ke arah belakang, yang jika dibuka maka terlihatlah halaman belakang yang seingatku tidak pernah 'kujamah. Sepanjang 1998 itu. Orang mengenang tahun itu sebagai awal Reformasi. Aku mengenang TB menertawakan keheroikan Acep yang musnah begitu saja setelah melihat orang Timor Leste, setahun sebelum anakku lahir.

Baru 'kusadari, setelah sekian lama, mandolin dari Nikosia lebih dari satu. Pantaslah seperti ensembel bunyi tremolo pada senar-senarnya. Seperti biasa, mandolin-mandolin ini menjadi penanda akan dimulainya permainan terlarang. Benar-benar aku harus sesering mungkin ke Jalan Radio. Sebuah foto keluarga besar yang terdiri dari Bapak Ibu, anak-anak dan menantu-menantu, lengkap dengan cucu-cucunya memang tinggal kenangan akan suatu khayalan. Yang nyata ada padaku saja khayalan semata. Maka kembalilah aku, seperti biasa, ke desa itu, dari masa kecilku.

Uah, hujan rintik menderas ini memang nyaman membelai jiwa. Semoga badanku yang penat ini pun, atas izin Allah, turut disembuhkannya. Mungin, seperti yang 'kuceritakan pada Dr. Teddy Anggoro tadi, aku harus kembali berjalan kaki. Meski panas di sini, pasti ada waktu-waktu yang tepat untuk melakukannya. Jika tidak sore hari, maka pagi setelah subuh. Tidakkah setiap hari Pak Nyalla mengingatkan untuk sholat dhuha bahkan tahajjud. Membayangkan itu semua saja sudah membuatku merasa mengapung tinggi di angkasa seperti layang-layang si Jampang namanya.

Mungkin bagi Efraim segala mengenaiku menjijikkan, terlebih tulisan-tulisanku di sini. Biarlah. Aku lebih suka begitu. Dari dulu aku memang selalu digilai dan dielu-elukan. Akankah besok aku sanggup mendongengi bocil-bocil mengenai sarana administrasi, entahlah. Aku ingin membawakan anakku uborampe yang dibelikan Bundanya. Anakku memang sudah tidak kecil lagi. Sudah dewasa malah, sudah jauh meninggalkan usia remaja. Anak-anak perempuanku memang sudah gadis-gadis. Tidak ada lagi yang pantas 'kupeluk-peluk dan 'kucium-cium.

Di sini, di sana, di mana-mana, tiap tetes embun, tiap helai daun tahu betapa 'kuingin memeluk, mencium anak-anak perempuanku. 'Kukabarkan saja ini pada angin lalu. Biarlah mereka semua beranjak dewasa dengan doa-doa dan harapan-harapanku. Di usiaku yang masih muda ini, kata sementara orang, aku sudah merasa cukup. Tidak ada lagi yang 'kuinginkan. Jika aku tidak berkesempatan memeluk dan mencium anak-anak perempuanku di hidup yang ini, biarlah itu 'kulakukan di hidup kemudian. Aku tidak ingin bidadari. Aku hanya ingin anak-anakku sayang.

Saturday, September 10, 2022

Adakah Cavatina dalam Cavalleria Rusticana?


Ini sudah jam satu siang, dan aku duduk di pojok selatan Restoran de Margo menunggu Istriku Cantik sholat dhuhur. Padahal tadi pagi, seraya mendengarkan rendisi Pakde Hank mengenai Cavatina, tiba-tiba aku teringat akan kenikmatan kelamin. Padahal pagiku tadi tidak seberapa menyenangkan, namun tidak lama setelahnya aku dibuat senang dengan sepiring besar berisikan tiga batang sosis koktil, 'kurasa merek Kimbo, dua lembar kecil ham halal yang kering dan gosong, hashbrown yang digoreng terlalu kering, seporsi kecil kacang panggang, dan tentu omelet kering.

Apakah tempat seperti ini cocok untuk bekerja. Apa memang aku harus ada stasiun-kerja yang mobil. Nyatanya sampai hari ini aku belum pernah benar-benar mengetik selain di Lenovo PC-AIO 520. Uah, asyik juga menulis-nulis nama stasiun-kerjaku. Yang mobil ini namanya HP 11-Cb. Rasanya seperti alutsista. Entah mengapa beberapa hari terakhir ini aku suka melihat-lihat alutsista, meski aku bersyukur tidak harus bekerja di atau dengan salah satunya. Apalagi kalau aku masih harus menenteng-nenteng SS-1 maupun 2. Aku suka begini saja, bahkan dengan HP 11-Cb.

Satu kelemahan terbesar mengetik di sini adalah aku harus berdamai dengan musik jez umek yang disetel. Bahkan setelah 'kusumpal telingaku dengan BT-008 tetap terdengar keumekan itu, Sudah agak dua jam aku di sini, tadi masih tertahankan. Namun ternyata tidak tahan juga sampai aku memintanya untuk dipelankan sedikit. Nah, sekarang agak lumayan 'lah, meski tetap saja suara geraman entah apa mendominasi. Namun setidaknya rendisi Francis Gayo terhadap lagumu menjadi suara dominan dalam telingaku. Yang jelas, tidak ada itu istilah "kusumpil" di telingamu. 

Uah, sekarang aku mengantuk. Jangankan sampai memikirkan Teluk Jakarta sebagai arena [-arena] sosial, meneruskan mengetiki saja penuh perjuangan. Pegawai restoran sedang beberes membersihkan meja-meja prasmanan, mungkin untuk persiapan brunch besok. Apakah 'kutahu kemana 'ku pergi sejak kecil selalu saja mewarnai kalbu. Di Kemayoran, Kebayoran, Cimone, sebentar kembali ke Kebayoran, Magelang, Surabaya, sebentar lagi di Kebayoran, Depok. Begitulah perjalananku sejauh ini. Kebayoran adalah tempat kelahiranku, oleh itu sering aku pulang ke sana.

Pemandanganku ke arah timur, di balik kaca, adalah taman yang tertata rapi, dengan barisan pucuk merah dan beberapa batang kamboja. Tidak 'kuimpikan rumah seperti ini. Bagasnami QS M14 sudah cukup bagus untukku di dunia fana ini. Jika itu tidak sama dengan bila. Jika adalah mengenai keadaan, sedangkan bila mengenai waktu. Cantik malah mainan tetris yang tidak bisa diputar-putar seperti biasa, seperti anaknya yang pikirannya animasi saja tidak kunjung berkembang. Namun aku seraya teringat tidak lebih baik dari siapapun terlebih dan terutama kambing.

Aku tidak sedang jatuh cinta ditemukan Pak Kaji di dalam VW-nya entah pemberian siapa. Adakah sesuatu embel-embel di dunia ini yang sanggup membuat kepalaku lebih besar dari sekarang ini. Aku berlindung kepada Allah darinya. Justru dengan gembel-gembel di seputar pinggangku ini membuatku kecil hati. Keadaanku kini tidak lebih baik dari ketika aku menghuni kamar sekunder di Uilenstede itu, namun juga tidak lebih buruk. Bahkan sangat boleh dikata keadaanku kini jauh lebih baik dengan Cantik di sisiku. Entah apa yang akan 'kulakukan tanpanya, Istriku Cantik.

Malam dalam satin putih, aduhai. Ini baru masuk sisi B dari Gayo di samping nyala lilin. Ternyata Sofia Elvira punya kisah cinta. Apa 'kuganti saja. Ini pada dasarnya sama saja dengan yang 'kupunya di dalam panjang-panjang, namun mungkin tidak sepanjang itu. Aku curiga yang dalam panjang-panjang itu sudah tercampur sesuatu. Pantaslah terdengar sangat modern, dari 1996, sedang air kolam di luar beriak-riak tanda tak dalam. Sanggupkah setelah ini aku kembali memikirkan, terlebih penting, menulis mengenai Teluk Jakarta sebagai arena-arena sosial. Mari dicoba.

Saturday, September 03, 2022

Cantik, Ini Kekerasan... Biarkan Saja, Sayang


Perutku sudah seperti Bengawan Solo begini, mengalir sampai jauh, sedang aku bertelanjang dada sampai perut, mengetiki sendirian di Ruang Bidang Studi Hukum Administrasi Negara, Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Harus ya dirinci seperti itu, sedang kedua lengan telanjangku kedinginan meski tidak dihembus langsung pendingin udara merek Panasonic tepat di atas bekas kubik almarhum Pak Wied Suryandono. Mulutku terasa seperti ingin dibersihkan, sedang perutku, atau lidahku, terasa seperti ingin minuman hangat berbadan tebal. Apakah dalam tasku ada Susu Jahe Sidomuncul bersama dengan Serbat Jangkrik Mas Habatussaudanya sekali. Apa 'kan 'kuperiksa sekarang juga. Entahlah...

Ya, Sayang, tidak usah pagi ini, kapan pun kau selalu cantik sekali. Cinta itu memang adanya di hati nurani. Cinta itu adalah ketika seluruh panca indera diistirahatkan, mata dipejamkan, telinga disumbat, hidung anosmia, lidah ageusia, sekujur kulit digosoki lumatan daun tapak liman; pendek kata, mengheningkan cipta. Sungguh kasihan orang yang merasa mencerap kecantikan namun matanya nyalang, telinganya tegak, hidungnya mengendus-endus, lidahnya mencecap-cecap, kulitnya meraba-raba. Bagiku, kecantikan memang tidak pernah berwajah tak berupa. Kecantikan itu terasa seperti khayalan akan sejuknya angin sepoi basa di tengah siang hari bolong, di puncak musim kemarau yang tidak berangin.

Kedua belah lengan atasku sudah sedemikian kedinginannya, maka 'kumatikan pendingin udara. Ternyata itu yang berhasil memaksaku mengangkat pantat besarku. Apakah keinginan untuk minum minuman berbadan tebal dapat membuatku melakukannya lagi, entahlah. 'Kusuka Chopin sampai di alinea ketiga ini belum juga habis, Hei, Julio Iglesias begitu saja menyapa dari masa kecilku yang cantik. Ibuku memang cantik, itulah sebabnya aku ganteng begini. Aku, Insya Allah, sudah tahu betapa hidup ini memang indah, tinggal bagaimana menikmatinya saja. Aku belum lagi tahu seberapa indah kematian, meski jika memperhatikan contoh-contohnya, Insya Allah, bahkan jauh lebih indah. Semoga saja...

Betapa tidak indah, ketika dapur berdinding batako buah tangan Bapakku sendiri, berjendela kawat ayam, tidak pernah disentuh matahari pagi maupun sore kecuali pada Juli sampai Agustus. Mana 'kutahu ketika itu bahwa di Luxembourg atau Grenoble pada waktu-waktu seperti itu tengah musim panas. Beberapa puluh tahun kemudian akhirnya 'kutahu sendiri bahwa di Maastricht dan Amsterdam memang sedang musim panas pada bulan-bulan itu, maka dapur Ibuku dikecup matahari pagi. 'Kurasa belakangan sudah tidak begitu ketika pohon jeruk, asam, dan jambu semakin besar dan lebat. Pohon jeruk yang tidak pernah berbuah itu, khayalan seorang perempuan muda yang tidak pernah menjadi kenyataan.

Bapak tidak lagi membutuhkan jeruk pecel atau jeruk apapun, seperti halnya Pak Widodo tidak membutuhkan lagi tumpukan kertas-kertasnya. Hei, di sini banyak sekali orang mati. Coba kudaftar, mulai dari Pak Andhika, lalu Bu Eka, lalu Mbak Melania, lalu Pak Widodo, lalu Bu Arie. Maka 'kukorek-korek saja hidungku dari tahi-tahi upil yang menggumpal-gumpal di dalamnya, mengeluarkan bau yang sedap-sedap memuakkan. Aku kehabisan cinta, maka kupelankan suaranya, karena kehabisan cinta paling cantik bila terdengar lamat-lamat. Keinginan untuk menggosok gigi semakin kuat, namun 'kuselesaikan dulu saja mengetiki ini. Tinggal dua alinea pun. Siapa tahu mengitiki sedang gigi berjigong malah lebih kreatif. 

Selalu, selalu saja. Tertidur di lantai hanya berkaus singlet bercelana pesiar. Terbangun sedang di televisi selalu saja Russel Hitchcock, menyeterika sedikit, menggosok-gosok kuningan dan sepatu, mengenakan jas pesiar malam. Baguslah aku punya kenangan ini, karena memang cukup menjadi kenangan saja. Keadaanku kini yang Insya Allah sebentar lagi seorang doktor lulusan Universiteit van Amsterdam tentu lebih menyenangkan. Terlebih jika memikirkan rencana-rencanaku untuk menulis berbagai-bagai buku. Memang ternyata hanya itu cita-citaku dari dulu. Tidak menjadi laksamana, menteri, apalagi persiden, aku hanya ingin menulis buku. Sudah dua buku 'kutulis, tinggal menyusul sisanya.

Terlebih jika mengingat buku-buku agama yang memenuhi rak dan mejaku, menunggu untuk dibaca. Apakah plus mataku akan terus bertambah, entahlah. Masya Allah, betapa menyenangkan hidup yang diisi dengan membaca dan menulis. Jika sesekali terpaksa mengoceh, mendongeng, mau bagaimana lagi. Jika sesekali terpaksa main kiu-kiu bersama Sinta, apa hendak dikata. Jika sampai sekarang aku masih menunda-nunda mengisi BKD, tidak boleh dibiasakan. Biarkan saja! Aduhai, mengapai kau tidak pernah berhenti cantik sejak kecilku. Sampai tua begini, sampai sekuintal lebih beratku, kau masih saja cantik. Aduhai, tidak kendur pula pelukanmu padaku meski sekarang aku tambun begini.

Wednesday, August 31, 2022

Bebas Seperti Burung Tidak Bercelana


Bila burungku tidak bercelana begini, apa benar yang 'kurasakan. Adakah ini kali pertama aku menulis entri dengan Lenovo PC AIO 520, 'kurasa tidak. Hei, Lenovo ini, seperti halnya HP-ku dulu, 520. Uah, menarik, seperti yang sering dikatakan Efraim. Sekarang pun ada HP Chromebook 11 yang ternyata lebih berat dari Infinix X2 punya Cantik. Tidak mengapa, namun betapa borosnya. Aku jadi punya beberapa stasiun-kerja, satu yang statis, satu yang mobil. Sedang burungku tidak bercelana begini, berbicara mengenai alat-alat produksi, mengingatkan waktu-waktu yang telah lalu.

Coba lihat itu burungnya tidak bercelana begitu. Itu, burung yang ada di kiri gambar.
Adanya aku mengetiki di jam terakhir Agustus 2022 ini, ada perasaan meletup-letup seperti ingin mengetik yang benar. Namun apa daya, September 2022 tinggal agak sejam lagi. 'Kukatakan tadi pada Cantik, aku butuh pendinginan setidaknya sejam setelah mengetik, yang mana berarti berpikir keras. Itulah sebabnya aku mengetiki kini, yakni, yang tidak pakai berpikir. Seperti keadaan burungku sekarang, tidak bercelana, padahal ini sekarang sudah Cheyenne. Adakah hubungannya dengan Apache besutan The Shadows, mungkin perlu diperiksa. Begitulah aku selalu memeriksa fakta-fakta yang gunanya sama dengan bola biliar berbulu. Kelewatan...

Jika pun musim hujan, musim hujan kapan, 1995-1996 atau 1996-1997. Awal dua puluhan ketika itu, astaga. Sudah barang tentu aku tidak ingin kembali ke situ. Bapak pun jangan sampai dikembalikan ke situ. Betapa sedihnya Bapak ketika itu. Sampai saat terakhir aku juga tidak berhasil membahagiakan Bapak. Namun kebahagiaan jelas tidak di atas bumi ini tempatnya. Aduhai, menangis untuk sebuah bayangan ini asyik sekali. Bagaimana 'San, 'Gar, perasaan kalian ketika membacanya. 'Rid, apa kabarmu. Aduh betapa kusmasai hidupmu, bagai kusmasainya pikiranmu.

Apakah entri ini mengenai laki-laki muda seperti Farid, Sandoro, Togar, Gugum Ridho, atau yang lebih muda lagi seperti Efraim, Conrado, bahkan Zefanya. Bang Jep semuda itu sudah mengurus kelas-kelas dan materi-materi hukum lingkungan. Apakah memang seharusnya begitu, atau seperti Farid. Aku saja masih belum percaya, jika mengingat caraku hidup jaman muda, masih diberi kesempatan sehingga kini. Jelas apapun keberadaanku kini tidak ada hubungannya dengan apapun yang kuusahakan. Aku bukan orang yang mengusahakan sesuatu dari muda.

Seperti malam ini, aku membiarkan burungku tidak bercelana sampai melata-lata ke dalam tenda seorang syekh dari Arab, tepat di alinea ini. Akan tetapi, orang akan merasakan akibat dari kebiasaannya, dan kebiasaan-kebiasaanku, 'kurasa, banyak buruknya. Seperti ini, seperti yang dilakukan pemimpi adalah KRL ekonomi tak berpintu entah ke mana. Jika pun ke Bogor aku tidak ingat sama sekali apa yang 'kulakukan. Andri Sihasale pun sudah mati tidak mungkin ditanyai. 'Rid, janganlah menjadi setolol aku ketika muda, nanti menyesal di hari tua. Sungguh.

Halo, gadis mungil. Tidak pernah tertarik pula aku pada gadis mungil, meski Hari sampai tahu bahwa Astrid Sihite satu geng dengan Fitriana Gugum Ridho. Sudahlah, cium aku banyak-banyak pada muncungku cha cha boom. Sayangku, jika kau sampai meninggalkanku, maka tiap impian kecil akan terbang dan aku akan mati. Halah, mudah sekali mati seperti kecoak, sedang kecoak saja tidak mati-mati. Kecoak sudah kawin lagi belum? Cintailah aku tolong, sedang aku miskin masai begini. Tidak menjadi masalah. Aku malah sedang semangat berkarya, mencipta-cipta. 

Bagaimana caramu melakukan apa yang kaulakukan terhadapku? Aduhai cantik sekali. Tidak pernah berhenti cantik kau. Tepat pada saat ini, atau sebenarnya sudah lama sekali, mungkin semenjak memasuki umur empat puluhan, engkau tidak pernah berhenti cantik. 'Kurasa sampai kapan pun kau akan selalu cantik. Maka 'ku memohon padamu, tolong senangkanlah aku. Dengan apa aku akan disenangkan. Maka benar belakalah sabda Rasulullah, kedamaian dan keberkahan semoga selalu atas beliau sekeluarga dan para sahabatnya, kesenangan itu adanya lima kali sehari.

Saturday, August 06, 2022

Kalau Begini Saja Terus Kapan Selesainya


Waduh, sudah kelihatan miring begitu. Abunya bakal jatuh di luar mangkuk kayu berisi pasir yang diayak Mang Aisyah, sedang Masjid Jami' Nurul Yaqin sudah bersholawat bersiap-siap adzan Isya'. Nah, benar 'kan maka tadi itu aku berhenti untuk menunaikan ibadah sholat Isya' mumpung masih ada wudhu' [berarti sholat Maghribnya telat dong sampai Isya' masih punya wudhu']. Begitulah selesai sholat Isya' bukannya wiridan malah nonton TBBT sampai Cantik dan Ququq pulang, diteruskan makan malam boleh pesan McD untuk 4 (empat) orang habis hampir Rp 200,000 (dua ratus ribu Rupiah).

Bersama Ma Cherie Amour ini, aku tiba-tiba terpental ke geladak USS Carl Vinson atau John C. Stennis yang sedang memberikan penghormatan lambung kanan kepada USS Arizona. Waktu itu pagi yang segar bahkan sejuk, seingatku aku sudah cukup lama tidak mandi dan ketika itu pun kurang tidur. Itu dari lebih dua puluh tahunan yang lalu. Saat ini pun aku masih belum beranjak jauh, masih memeriksa KRI Makassar lalu Semarang, gaya-gayaan berpikir mengenai landing platform dock sedangkan Sefdin Saefudin memberiku bahan bacaan. Aku memang tidak percaya pada kepakaran. Tidak pernah. 

Aku bersyukur telah mencapai alinea ini, sementara semakin banyak saja abu jatuh keluar dari mangkuk kayu seharga Rp 15,000, sedangkan sebuah kacamata hitam dan wadah cakram-keras eksternal sedang dalam perjalanan menujuku. Sedang Aminudin Albek saja seorang komandan kapal, padahal aku sempat bertemu dengannya ketika ia baru capratar, begitu pula Bang Daru Indrahadi yang kini seorang perwira Marinir. Aku, sementara itu, sekadar mengajarkan antonim yang tidak selesai-selesai. Mana 'kusangka ketika SMP aku dipanggil Berry Prima, ternyata aku mengajar perlawanan kata begini.

Apa sekarang, mau dibawa ke mana lagi, ternyata kembali ke kantin Islamic Village. Hidup sekadar dibagi ke dalam episode-episode. Dalam episode manakah aku akan menamatkan Bonoisme. Menamatkan atau mewujudkan, ketika menerbangkan biplane saja aku tidak pernah, bahkan sekadar ultralight. Semua itu sekadar khayalan yang tidak berdaya, ketika nyatanya dari seluruh Paradua hanya Yulmaizir yang tahu rasanya menerbangkan F-16, bahkan Teguh Rumiyarto pun tidak. Namun bukan itu benar yang diinginkan Bapak, jadi mungkin Bonoisme memang harus mewujud. Entah bagaimana.

Sebelum ini aku hampir saja menulis mengenai malam-malam yang 'kuhabiskan dengan menggambar menggunakan pensil. Gambar-gambar yang jelek, sejelek musik-musikku yang tiada orang sudi mendengarkan. Tulisan-tulisanku adakah yang sudi membaca, tulisan-tulisan menjijikkan ini. Ketika malam sudah cukup larut, aku bersyukur bisa tidur sebelum tengah malam karena dulu itu sangat sulit untuk dilakukan. Sudah cukup lama aku bisa tidur malam, apalagi di kamarku, ruanganku yang rapi dan nyaman, lagi wangi. Tidak ingin pula terkenang malam-malam tak bisa tidur, amit-amit sampai pagi. 

Meski ini belum alinea terakhir, aku kembali berjalan di bawah derek. Jika sudah gelap berarti akhir musim gugur menjelang musim dingin. Aku mungkin mengenakan baju hangat dr. Icang warna coklat itu. Uah, sejuknya udara menerpa wajah ternyata 'kurindukan. Ya, hanya itu. Sepinya jelas tidak, apalagi jika kembali masuk naik lift ke lorong kuning itu. Di Kraanspoor lorong kuning, di Sepurderek kuning juga, opo tumon. Masuk ke 25 D8 tidak ada yang bisa dilakukan kecuali memandang ke seberang yang tak ada pemandangan juga kecuali menyakitkan, maka seperti Tukul kembali ke laptop.

Sekarang sudah di sini, meski tanpa sejuknya udara, maka kerjakan dan selesaikan! 'Kububuhi tanda seru di situ, maka tidak mengapa jika sebentar mampir di yang sekarang menjadi kantor Mas Narno, lantas pojokan Sekretariat Fakultas itu, lantas ruang ICT-Komintern, sampai kubikel pengungsi korban rezim, perjalananku sebagai dosen. Terasa benar suasana ruang praktek dr. Hardi Leman, seperti ini juga remang-remang lampu kuningnya, namun ketika itu sejuk. Adakah aku pernah merasakan kegerahan seperti ini sebelumnya, ataukah ini memang krisis iklim. Ya Allah, ampunilah.

Friday, August 05, 2022

Suatu Hari, Suatu Tempat Kita 'kan Bertemu Lagi


Sore ini bukan sesuatu yang istimewa, udara mendungnya, dadaku yang berkeringat meski perutku ketika itu tidak segendut sekarang. Themistocles mendendangkan syair-syairnya dalam iringan irama Laut Tengah, tidak seperti nyanyian Jenderal Hoegeng yang diiringi irama Lautan Teduh. Namun tempatnya sama di situ-situ juga. Adakah aku sudah lahir ketika itu, entahlah. Di pojokan itu, seperti saat ini, aku menulis-nulis seakan sesuatu yang penting, yang tidak pernah 'kukerjakan apatah lagi diselesaikan sampai hari ini. Entah.

Akan halnya malaikat subuh membelai-belai penciumanku sore ini, aku tidak punya alasan khusus untuk itu; sementara peramal cuaca daring membarui prakiraannya. Alasanku memang tidak pernah jauh-jauh dariku, selalu lekat di hati. Apakah aku sedang menyusuri trotoar di depan Plasentol atau Sensi, alasanku selalu hanya sebetik ingatan. Apapun bisa membuatnya mengalun-alun lembut membelai jiwa, meski dengan vokal Themistocles yang terdengar seperti orang tercekik. Alasanku selalu bersama denganku di mana aku berada.

Meski sedikit tersedak serbat uwuh, aku terus mengetiki mengenaimu yang merupakan satu-satunya kesenanganku, ilham manisku, segala sesuatu yang 'kuharap terjadi. Engkaulah pagi yang menjelang padaku, angin musim panas dari laut. Ah, kawanku Sang Bayu, memang ada beberapa Bayu dalam hidupku, namun bukan itu benar yang ingin 'kukenang. Aku justru teringat pada wangi sabun semerbak di sore hari dari sebuah penatu di bawah jalan layang Arif Rahman Hakim. Kembali pada kehidupan seperti dulu, mustahil.

Dari Jesse menjadi Silai, untunglah Kolonel Laut (E) Yesayas TM Silalahi, seperti 'kukenal sejak dulu, adalah seorang yang baik. Ia masih mengizinkanku memanggilnya Jesse, panggilan kesayanganku padanya. Aku tidak akan memanggil Ery Budiman dengan panggilan kesayangan yang pernah 'kuberikan dulu. Aku hanya ingin mengenang lamat-lamat sejuknya udara malam di sekitar alun-alun Magelang ketika pesiar Sabtu malam. Berhubung kini aku dapat memandang lurus ke sepanjang jalan Blok M, aku jadi tahu Kay baru saja menerombol keluar. 

Harus benarkah aku membeli pengisi-daya cepat yang bisa dipasangi dua kabel, satu untuk henfon, satu untuk tablet. Jika pun sampai 'kubeli, tentu dengan kabelnya sekali, karena kabel abu-abu ini biarlah bersama TP-Link, menggantikan kabel putih Miniso terdahulu yang sudah bengkok colokannya. Perempuan menawan dari Arkadia ini apakah akan menunggu Themistocles untuk kembali kepadanya, aku tidak pernah tahu. Adakah perempuan yang sudi menungguku, aku sudah tidak peduli lagi; Aduhai mengetiki rampak.

Apanya yang sama dengan suatu sore di salah satu kamar rumah dinas wakil direktur Rumah Sakit Jiwa Pusat Magelang. Rokok jelas ada, bahkan sebotol rum di kulkas habis 'kutenggak. Mengapa yang seperti ini terus terkenang, mengapa tidak lebih baik saja kenangan-kenanganku. Di seberang rumah sakit itu seingatku ada pengrajin batu nisan dan kijing, seperti halnya di belakang asrama ada sedikit hutan sebelum mencapai jalan menuju yonzikon. Pagi, siang, sore, malam, bila-bila semua selalu indah di mana pun. Tinggal disyukuri.

Bahagia di sebuah pulau bermandi cahaya matahari. Asal banyak tetumbuhan 'kurasa udaranya akan tetap sejuk, sedang Cantik tidak henti-hentinya mencocok-cocokkan potongan teka-teki. Aku mengantuk padahal di sore yang seindah ini ditingkahi pukulan-pukulan lembut pada marimba. Adakah lebih menyenangkan musim panas di Amsterdam, yang terakhir kali 'kurasakan sekitar dua tahun lalu. Aku tidak mau lagi, terlebih mengenang troli belanja seharga hampir duapuluh Euro. Maka 'kuucapkan selamat tinggal.

Sunday, July 31, 2022

Ketika Kelelawar Melintas di Atas Kepalaku


Kau cintaku, kau bidadariku, begitulah 'kubuka entriku malam ini. Betapa 'kunantikan saat ini, berada di sisimu. Uah, suatu ketololan dengan pakaian dinas lapangan sedang terlihat gemuk dan putih, seorang kopral taruna. Begitu berani-beraninya berkumpul bersama kolonel-kolonel iger sak taek. Aku tidak berada ribuan mil jauhnya, aku tepat di sini, di sisimu. Tak terlintas sedikit pun pikiran erotis, bahkan mungkin tidak terlintas apapun, ketika Iglesias saja tahu bahwa aku berada sekitar seribuan kilometer jauhnya. Harus berapa baris 'kubuat di sini entah 'ku tak tahu. Tujuh atau delapan, entahlah.

Semakin 'kupelankan saja volume Vivoku, jauh lebih mudah melakukannya tinimbang Asatron. Ini tidak seperti rumah petakan di bilangan Palakali, meski remang-remangnya, kesejukannya mirip. Seharusnya sejebung besar kopi, Djarum Coklat, Gudang Garam Merah atau sebangsanya. Betapa banyak waktu 'kusia-siakan. Kini saja itu yang 'kulakukan: Menyia-nyiakan waktu. Tidakkah kita hampir memiliki semuanya terdengar seperti di kantor Flight Data Operation di dasar menara pengawas Cengkareng. Nasi kuning bersambal terasi atau Indomie rebus telur, kenangan seorang bocah cilik.

Baru dua alinea saja sudah terasa sedap-sedapnya. Terkadang menulis entri rasanya seperti menyeret pantat trepes ukuran jumbo, terkadang seperti memberondongkan mitraliur. Malam ini tidak seperti keduanya. Tidak memberondong, namun tidak juga menyeret. Cenderung konstan berkeletak-keletik, sedangkan Kapten dan Tenil masih menyanyi bersama, entah di mana Kaptennya. Apakah ini di tepi kebun durian yang akhirnya menjadi kostan Dugem, dengan 486DX2 yang sudah diapgred jadi Pentium oleh Reza "Cule" Zulkarnaen. Membawa pulang komputer senat untuk main CM3 juga pernah. 

Tiba-tiba terbetot kembali ke bilangan Karawaci ke arah Legok, Angris, dan Bojong Nangka. Uah, kasihan Adjie harus menjalani masa-masa yang membingungkan. Semoga ia melaluinya penuh dengan cinta. Aku pun, namun aku sendiri pula yang merusaknya. Aku tidak pernah tahu benar apa yang terjadi pada saat itu, namun mungkin memang seharusnya tidak pernah ada yang terjadi. Kurangkah usahaku, jelas kurang. Jelas lebih banyak Takwa misalnya. Aku memang, seperti sudah 'kukatakan di atas tadi, suka membuang-buang waktu, meski jalan di depan Apotik Cimone bisa saja nyaman saat itu.

Seperti sekarang 'kutuliskan namanya: Fika Abu Musa Zein. Entah apa kabarnya. Adakah aku dekat dengannya dulu, entah. 'Kurasa justru lebih dekat dengan Toni "Tompel" Riwanto. Betapa malam ini aku merasa seperti seorang pecundang sejati. Suatu perasaan yang harus segera diakhiri dengan semangat juang. Hahaha, semangat juang 'pala lo tiga! Ya, jika anjing neraka diapgred tentu saja jadi anjing neraka berkepala tiga. Entah berapa tahun lamanya aku bertempur bersama mereka, juga segala musuh lubang, dan sebagainya itu. Tiba-tiba saja aku terlempar kembali ke pavilyun, di pojokan itu, Funai...

Sampoerna King, mengapa kau identik sekali dengan pavilyun. Apa tidak ada yang lain. Berapa malam, 'kurasa sebenarnya tidak banyak. Berapa tulisan, 'kurasa sedikit. Ada juga yang setelah 'kucetak, 'kuberikan kepada Bapak untuk dibaca. Apa perasaan Bapak, pulang kantor, disodori anak laki-laki tertuanya "Kebangsaan Indonesia di Abad ke-21", sedangkan anaknya pengangguran baru ditendang keluar dari Akademi Angkatan Laut gara-gara keple. Apa benar yang 'kumakan sehari-hari pada saat itu, pasti masakan Ibu yang enak-enak, dari sekitar seperempatan abad yang lalu. Ini malah mundur ke Cimone.

Babah David dan 20+ Lagu Cinta Raksasa, apa hubungannya. Dari mana dulu kami dapat kaset itu, entah 'lah. Seandainya kau kembali dalam pelukanku lagi, siapa yang mau kembali. Ia selalu ada sejak saat itu, meski tak berbentuk tak berwajah. Adakah memang dari saat itu ia cantik seperti layaknya perempuan Mandailing meski nakalnya amit-amit, adakah belahan jiwa, 'kurasa aku tak akan pernah tahu. Ini entri asal babat tanpa peduli rata kanan-kiri, apakah lebih baik begini pun aku tidak tahu. Serumpun bugenvil di hadapanku cantik. Tiada harum, namun cantik. Uah, seharusnya 'kubakar dupa dari tadi.

Saturday, July 30, 2022

Aku Suka Kamu Suka Bicara Cinta


Apakah goblogku cantik. Bagaimana sih goblog koq cantik. Goblog itu ya untuk dibaca-baca. Perlukah cantik. Ya, tidak perlu cantik, lah, yang penting asal jangan sampai menyakiti pandangan. Goblogku entah dari kapan bentuknya seperti ini terus, mungkin hampir sepanjang umurnya. Aku ingat dulu kali pertama tidak seperti ini, namun itu hanya sebentar. Aku ingat pernah merah putih nuansanya atau semacam itu, dengan muka-ketik yang balok begitu. Aku suka goblogku sekarang. Earthy, sebagaimana aku suka woman bukan lady apalagi baby; atau aku sendiri.

Lantas apa, sosis baso lada hitam dimakan dengan nasi bersimbah kecap asin bekas sushi yei, masih dilanjut nasi rames tumis oncom leunca, acar kuning, tumis buncis udang. Minumnya frestea nusantara masih disambung susu jahe emprit di kubikel yang sebenarnya nyaman. Kalaupun agak tidak nyaman, bukan karena bokser boleh beli di Action, melainkan karena memang sudah mengalir sampai jauh seperti Bengawan Solo. Alangkah lebih nyamannya jika tidak terasa mengganjal di situ. Sebenarnya mudah saja solusinya, namun bukan kebiasaan baik baginya.

Seperti sudah bisa diduga, meski sudah dikepret kapal api, susu jahe emprit tidak berdaya mengusir kantuk. Memang kantuk tidak pernah bisa diusir apalagi diobati dengan apapun. Kantuk hanya bisa dibawa tidur. Namun aku tidak ingin tidur, maka begitu saja 'kuganti irama baru mendayu dengan hentakan Menza dan Ellefson serta derunya Mustaine dan Friedman. Memang baik Hetfield maupun Mustaine tidak seberapa sebagai vokalis. Sammy Hagar bagaimanapun masih yang tergahar. Meski begitu, sebagai band, Megadeth dan Metallica, masih tetap harus disebut.

Akhirnya di malam yang balsamik ini aku menemukan diriku tidak pernah merasa cukup akan dirimu. Apakah jika nanti Lenovo AIO 520 sudah datang aku harus membiasakan diri dengan Samsung Galaxy Tab A ini, bisa jadi. Aku sudah terpikir caranya. Mengapa tidak dicetak saja segala komentar Gerben, lalu kuletakkan di samping sambil menghadapi tablet ini. Siapa tahu begitu malah lancar, seperti halnya dahulu aku lancar sekali mengerjakan kertas delapan bulanku. Tepat delapan bulan! Orang memang suka bodoh mengada-adakan prestasi dari masa lalu, dan orang bodoh itu aku.

Kabar baiknya, tidak ada yang mudah di dunia ini, meski aku mendapat cintamu. Namun belum terlambat untuk merasa kesal. 'Kurasa sudah 'kucatat di sini kejengkelan pada bunyi berkeriut ini, masa 'kulakukan lagi. Masa sejengkel itu. Belum terlambat, maka jangan lari. Aku juga membutuhkanmu, namun sulit untuk menjadi sama, sedangkan secangkir plastik merah serbat uwuh berwarna merah menemani malam balsamikku. Aku hanya bisa minta ampun. Aku harus melakukan sesuatu untuk sahabatku Laurens dan segera. Belum terlambat untuk jatuh cinta. Terima nasibmu, akulah yang kaupikirkan.

Ah, seperti adaku dari masa kecilku. Sekarang aku bersama belahan jiwaku. Adakah kami pernah bercinta-cintaan seperti remaja kencur, tidak pernah. Kalaupun pernah, waktu kami tidak banyak. Namun seperti adaku, cintailah, Sayang, seperti adaku ini sungguh mengilhamkan cinta remaja. Gila apa remaja cinta-cintaan adalah pikiranku dari sejak remaja yang mungkin agak 'kusesali sekarang. Namun buat apa menyesal. Hidupku kini bahagia bersama belahan jiwa di katulistiwa. Bukan kenangan mengenai cinta sepasang sejoli pula, melainkan cinta sepiring nasi dengan sambel goreng tauco.

Menjaga cinta hidup adalah ketika yang kurang gula saja sudah demikian manisnya, seperti sarapan ketupat gulai a la Piaman bersama Cantik dan Awful, minumnya teh panas gula sedikit untukku dan Cantik, es teh manis untuk Awful. Sepinya malam yang 'kudapat meski ini baru jam sepuluh. Apakah ketika itu aku baru beranjak masuk kampus atau bersiap-siap ke Mang Ade adalah dari dua puluhan tahun lalu. Ige, Gani, Shawn, seringnya itu. Ya Allah betapa hamba harus melalui yang seperti itu, ketika sekaleng Bir Bintang dingin, pilsener atau hitam, terasa begitu segarnya. Ampuni hamba.

Friday, July 29, 2022

Ini Dia Satu yang Kaucinta Meminta Sehari Lagi


Ketika menulis entri, aku menulis mengenai segala sesuatu yang dekat denganku, baik di dalam maupun persekitaranku. Aku, yang jelas, saat ini tidak boleh bercerita mengenai layar yang terasa aduhai lapang, demikian pula papan-kunci yang membuat tanganku sulit terpancang pada tumitnya, karena ini adalah sebuah retroaksi. Aku bahkan tidak tahu lagi apa patokanku kini. Akan kucoba saja menulis sebanyak enam baris tiap-tiap kali dan melihat tampilannya. Melodi yang tidak terantai ini entah mengapa mengingatkanku pada kamar cilik dan dressoir yang tadinya ada pemutar piringan hitam di atasnya.

Biarlah aku mengetik saban-saban enam baris begini tanpa memperhatikan rata kanan-kiri. Mungkin lama-lama aku akan lupa bahwa di pojokan situ ada tombol pratinjau, sedangkan kamar Merel yang selalu bersih dan rapi begitu saja hadir dalam ciptaku. Seperti ketika ia tiba-tiba muncul di belakangku, di kamar Baron di pojokan itu. Siapapun, apapun tahu jika aku lembut hati. Aku terlalu baik pada semua orang sampai-sampai beberapa memanfaatkan aku, hanya kepadaNya aku dapat berlindung dari yang seperti itu. Seperti halnya Ialah yang mengaruniakan padaku kelembutan hati. Kelebihan atau kekurangan sudah tidak penting.

Aku sudah mulai mengulang-ulang ceritaku seperti jompo pikun, sampai-sampai Togar memotong ceritaku. Seperti halnya khatib Jumat di Masjid Ukhuwah Islamiyyah hari ini bercerita mengenai macam-macam perhitungan tahun. Adakah Merel menjadi nelayan karena aku sok-sokan cerita mengenai nelayan. Adakah aku harus menjepitkan fonkepala Macson pada tulang-tulang pipiku karena pura-pura mau mendengarkan dan menjawab adzan. Adakah ketak-ketuk papan-kunci ini terdengar keras, tidak seperti Asus VivoBook apalagi Samsung Galaxy Tab A. Haruskah kuberi nama mereka atau kukode saja.

Ini aku di sini sudah diklaim Adikku dan istrinya, semoga Allah mengaruniakan ketenangan, cinta, dan kasih-sayang pada rumah-tangga mereka berdua. Kukira aku sudah melupakanmu membawaku begitu saja ke dinginnya udara malam di Magelang, di pelataran berkonblok antara graha. Apakah ketika itu aku berPDH, berjaket training biru. Aku selalu lebih suka jaket ini, itulah maka aku tidak pernah punya jaket kantin buatan Bu Karim. Disainnya pun menurutku kurang oye. Dari mana aku malam-malam begitu di pelataran antar graha. Tak ingin aku mengulangi, aku masih tolol kala itu. Memang jauh lebih sehat dari sekarang, tapi tolol.

Apa sekarang sudah tidak tolol. Masih. Aku hanya merasakan kembali dinginnya udara malam Magelang. Rasanya seperti ingin dipeluk, apakah itu dinginnya udara malam Maastricht atau Amsterdam. Di mana pun yang dingin itu harus dihangatkan dengan pelukan, meski baju hangat pun bisa melakukannya. Daya cinta ini juga entah mengapa mengingatkan pada udara malam yang dingin di Tangerang. Berarti udara dingin di mana pun ada, bahkan di tepi Cikumpa sini. Udara dingin yang nyaman, yang tidak menyebabkan masuk angin. Bagaimana dengan Jl. H. Sajim di waktu malam, sekarang waktunya Adjie merasakan udara malam dingin. 

Tiada betul yang patut disedihkan. Justru banyak betul yang harus disyukuri dan dirayakan dengan senyum dan tawa. Meski mungkin wajahku terlihat ditekuk begini, sebenarnya aku sedang merayakan suasana hatiku selalu. Meski abu dupa berceceran luput dari mangkuk kayunya yang berisi pasir, yang kali terakhir diayak Mang Aisyah. Meski Mas Dhikdhik dan Tante Lien sudah tidak setiap hari mewarnai, semua kenangan itu mengisi relung-relung hati dengan kehangatan. Sehangat kuah sambel goreng tauco, entah encer entah nyemek, seperti itulah suasana hatiku yang tidak pernah merasa cukup akan dirimu, kekasihku.

Aku bahkan tidak punya mimpi. Aku sekadar menjalani hari-hari dalam hidup bahagiaku. Tak satu pun kubiarkan merusak kebahagianku, karena memang tidak mungkin dirusak jika tidak ada. Kesedihan itu adalah kebahagiaan. Kau hanya perlu memberinya nama. Perasaan seperti selalu ingin yang segar-segar ini bukan sesuatu yang baru, meski aku lupa di mana dan bagaimana aku mandi tiap kali merasa gerah dan lengket. Kaos oblong putih pun yang kupakai bermain Friendster ketika itu, berarti goblog ini sudah ada sejak jaman Friendster! Suatu pencerahan, meski tidak banyak berarti karena aku benar-benar tidak mau mundur lagi.

Katamu Kau Mencintaiku Seperti Adaku

Tuesday, July 26, 2022

Sudah Lewat Sehari Gajian Bulan Depan


Irama baru, itu dia! Lebih baik dari Irama suka, meski yang belakangan ini identik dengan kemudaan. Meski kemudaan identik dengan ketololan, merokok-rokok suka-suka. Menghambur-hamburkan uang untuk setengah bungkus Djarum Super 12 atau terkadang Star Mild menthol, karena jika tidak punya uang justru Djarum Super 16 boleh mencatat dulu pada Nano. Adakah pada saat itu sudah irama baru, pasti sudah ada. Namun tentu saja tidak sebanyak sekarang. Aku masih ingat pada saat itu saja Rasaku masih sekadar di angan-angan, sedang disket maksimal sekadar muat 1,44 MB.

Irama baru ini unsur-unsurnya gitar, bass, piano, perkusi utama dan pendukung. Gitar bisa satu bisa dua. Kalau dua ya satu melodi satu ritem: Suatu deskripsi yang tidak berdaya-guna. Aku agak jengkel sebenarnya dengan meja yang sekarang berkeretak berkeriut setiap 'kutumpangkan tumit tanganku padanya, atau setiap 'kuangkat. Bahkan sepoinya debur ombak lembut lamat-lamat gagal menghilangkan kejengkelanku, bahkan beberapa teguk jahe berkerim beruwuh. Namun kesempurnaan seperti apa yang 'kudambakan. Apakah meja Babe Tafran dahulu sempurna, apakah WC ngamparnya, atau kaca nakonya. Lantas mengapa masih mengeluh.

Aku ingin entri ini meretas batang ruang dan waktu. Waktu terutama, karena irama baru bisa kapan saja. Apakah di kamar paling barat dari jajar selatan "Pondok Annisa" oleh Babe Tafran, atau di bilangan Uilenstede sekali, teriknya siang bisa dilembutkan oleh irama baru. Memisalkan irama baru dengan anak perawan yang baru beranjak remaja adalah suatu penistaan. Bahkan 'kurasa, tidak ada anak perawan beranjak remaja yang sedemikian indahnya, sehingga dapat dimisalkan irama baru; tidak pula anak-anak perempuanku sendiri. Irama baru inilah kecantikan yang tentu saja tidak sekadar ragawi, karena mustahil cantik jika sekadar ragawi.

Ini menjadi entri pertama Juli 2022, padahal sudah lewat sehari gajian Agustus. Asaptaga, tidakkah kau bergidik kengerian. Mengapa lantas kau santai-santai saja mengetiki seakan tiada apa-apa yang hendak menerkammu. Seperti pemuda dalam kisah orang-orang dalam parit, ketika orang-orang kengerian ada binatang buas menghalangi jalan, mungkin singa yang diasingkan kawanannya. Bisa juga Sang Candapinggala, si kuning-coklat mengerikan, yang bertemankan Nandaka turunan Nandini tunggangan Batara Mahadewa, yang jadi makan rumput.

Bagaimana dengan Turangga Cipta, yang dengan bangga menarik kereta pengantin. Pak Kumara dan Bu Tini yang berkendara. Ia meminta pada Pak Kusir tak perlu mencambuknya, karena ia toh akan menarik kereta dengan penuh semangatnya. Sebelum menikah, Pak Kumara sempat tinggal di rumah Bu Tini loh entah berapa lama. "Memang setengah atau entah berapa lama habis untuk pulih dari sakitnya, namun siapa yang tahu berapa lama ia masih tinggal di sana bahkan setelah pulih, bahkan mungkin lebih bugar dari sebelum-sebelumnya," begitu batin Turangga.

Debur-deburan ombak ini untuk apa, mengingatkanku pada Halong atau bahkan Kolinlamil sekali. Bukan pula kenangan terburuk dalam hidupku. Kau bertanya mengenai yang terburuk. Aduhai, 'kuakui tak berani 'ku membaginya denganmu. Jadi begini saja, kalau awalan 'ku- bertemu langsung dengan kata kerjanya bolehlah disambung, namun jika masih harus bertemu dengan awalan maka dipisah. Orang sekadar menuai apa yang bahkan sekadar dipikir-pikirkannya terus-menerus. Orang bicara-bicara mengenai viral, maka Covid-19-lah yang didapatkannya. Demikian.

Anganku tiba-tiba melayang ke depan Hotel Mahakam di belakang Gereja Yohanes itu, siang-siang terik begini juga. Sedang apa aku di situ. Berjalan kaki atau berkendara, aku tidak tahu. Apa benar kenanganku di situ, sedang aku pernah membeli makanan sarapan, mungkin mie ayam. Oh, kurasa aku berkendara Vario Sty. Mungkin aku menginap, berarti ini awal-awal menjadi dosen sepulang dari Maastricht. Uah, begitu indah hidupku penuh dengan kenangan-kenangan manis, meski tidak ada yang semanis pagi hari mengobrol ideologis-sufistik 'bari menyantap nasi uduk Rampok.

Thursday, June 30, 2022

Hujan Badai Guruh Mengguntur Meski di Telinga


Aku tadi sempat nyaris berjanji untuk membuat entri-entri koheren seperti yang 'kutulis sekitar lima belasan tahun yang lalu, tetapi ampas jangkrik emas mengurungkan niat itu. Apa hubungan antara kedua premis ini aku tidak seberapa ambil peduli, maka aku geli melihat buku-buku mengenai logika. Jika Musfi merasa perlu mengajarkan logika, itu semata karena latar-belakang pendidikannya. Aku lebih tidak tahu lagi apakah akan meratakan ankiri atau bagaimana, yang jelas Pak Ogah dengan latar-belakang Melani dan Unyil berawal dari suatu kesakitan yang terlupakan.

Sekarang sudah tidak lupa lagi, dan Pak Ogah sudah tentu jauh lebih sakit ketimbang sekadar nyeri di siku kanan belakang luar; jika kau tahu apa maksudku. Ini kopi jahe emprit aduhai sedap manisnya, hanya ini yang boleh 'kulukiskan. Sisanya, aku baru memutuskan untuk meretroaksi entri ini. Jahe emprit ini cocok untuk sambil menggarot yang seuprit. Apakah memang harus semanis ini, ataukah memang kemanisan hanya di permukaan sedang dalamnya menyembunyikan kesakitan dan kesumat yang mengerikan; telah 'kutemukan kembali Terang Bulan, Terang di Kali.

Demikian pula 'kutemukan lagi Simfoni Cintanya Francis Gayo di kanal Herman de Music. Lagu-lagunya, urut-urutannya, kecantikannya, lamat-lamat tilawahnya, semua mengingatkan ceramah tololku pada Hari Prasetiyo di suatu ketika menjelang maghrib, yang tentu saja 'kusesali. Aku tidak kunjung menulis juga sesuatu yang menakutkan. Terlebih kegairahan melakukan kaji-ulang yang disela oleh gugatan kepada Arsip Nasional Republik Indonesia. Tentu saja gugatan ini tiada sepenting kaji-ulang, seperti membandingkan Pak Try Sutrisno dan Pak AB Kusuma.

Seteguk lagi kopi susu jahe emprit seujung lidah, seperti kenangan yang tidak mau pergi dari kepala mengenai pantat yang ditepok gara-gara menghalangi foto bersama Dausi. Aku tidak pernah punya energi untuk mendendam, meski pernah 'kutuliskan betapa dendam dapat menjadi sumber energi yang besar. Suasananya bahkan masih terkenang, temaram begitu. Apakah ketika itu aku punya sebungkus atau sekadar beberapa batang rokok, seteguk atau segelas, bahkan sejebung kopi, bisa jadi. Aku masih selalu seperti itu, meski anak-anak gadisku t'lah menjelang dewasa. 

Akan halnya tempat tidur bengkok yang akhirnya harus dibuat lagi dari awal, tidak lebih menjengkelkan daripada antena televisi digital atau apapun yang sejenisnya. Semua memang harus terjadi, seperti kembalinya buku-buku agamaku ke meja kerjaku, ditahan stan buku merah. Sebagian besarnya baru, meski ada beberapa, tepatnya empat, yang lama. Mungkin ini sudah musim semi, begitu denting senar Francis Gayo bersenandung seperti entah dari sejak kapan, dari pavilyun, ke graha-graha, kembali ke pavilyun, ke kamar-kamar kost, kini di tepi Cikumpa 'kumenghadap timur.

Kebutuhanku untuk disayang-sayang entah mengapa besar sekali. Aku jadi sedih membayangkan kebutuhan ini dirasakan oleh seorang perempuan, apalagi kalau perempuan itu sampai adikku sendiri. Ini mungkin kebutuhan yang tidak akan pernah terpenuhi. Tidak satu pun mahluk fana yang sanggup memenuhinya tanpa melukai diri sendiri, dan aku tidak suka melukai diriku apalagi orang lain, apalagi yang 'kusayangi. Terdengar lagi tilawah masih oleh KH. Muammar ZA, seperti dari puluhan tahun lalu. Melengking menyayat hati, jika lamat-lamat sungguh melangutkan.

Apakah setelah ini hatiku cukup kuat untuk membuka lagi, membaca lagi, menulis lagi. Mengapa Gerben tidak terdengar sudah lama sekali, sedang Laurens tiba-tiba muncul dengan beritanya yang bagaikan petir menggelegar di tengah hari bolong. Hadi dan Japri pun cukup lama tidak terdengar kabarnya, dan BA.4 dan BA.5 diperkirakan mengamuk di minggu kedua dan ketiga Juli. Bersamamu di sisiku memang selalu menyamankan dari kecilku dulu, atau setidaknya menjalani hari-hari di Lembah Tidar sana; Aduhai banyak pun tempat nyaman telah 'kusinggahi.

Wednesday, June 22, 2022

Selamat Ulang Tahun ke-495, Kota Kelahiranku!


Aku selalu ingat air teh yang sangat sederhana rasanya, mungkin kagem Uti ngunjuk obat, dalam mug porselin warna hijau yang tutupnya, seingatku, sudah cuwil. Betapa hancur hati Akung, dapat 'kubayangkan, ketika menuliskan dalam buku hariannya: Reni overleden. Dalam suasana seperti inilah aku dibesarkan. Bahkan ketika itu terjadi, aku tinggal di salah satu kawasan yang terkenal dari kota ini dengan macannya. Benyamin bin Sueb, cucu Haji Ung, juga lahir tidak jauh dari tempatku tinggal. Namun, hampir setiap akhir pekan kami pergi ke ndalemnya Uti.

Rasa lucu ini serasa menjalar ke lengan kiri, setelah dua harian ini ada di dalam belikat kiri. Dalam hidupku sehingga kini, entah sudah berapa gelas air teh dengan rasa sederhana 'kuteguk habis. Aku ingat benar ketika masih mahasiswa strata satu melakukannya, sampai aku juga dihidangkan hal yang sama, entah oleh Pak Mawi atau Pak Nardi. Apakah sebelumnya aku juga melakukannya, apakah ketika SMA pamong-pamongku juga dihidangkan air teh di meja mereka, aku tak ingat. Uah, kombo trio piano, bass betot, dan dram senar ini menghasilkan bunyi-bunyian yang nyaman.

Ah, ini stik dioser-oser di atas dram senar duk rema nyamman ta'iye. Perjalanan ini masih panjang. Dengan yang ini bahkan masih lima etape lagi. Bagaimana aku berani berhenti berleha-leha. Dengan baju bergaram begini, hanya satu yang ada dalam pikiranku: mandi. Namun malam sudah larut. Malas benar mandi, meski 'kuyakin tak akan lama lagi aku akan begitu saja mandi. Aku justru tidak yakin akan sanggup menyelesaikan perjalanan menyusuri jalan-jalan kota kelahiranku ini. Meski tak ayal terkenang juga musim kemarau 2008 itu, ketika baru S.H.

Malam-malam yang gerah seperti sekarang ini, dengan apa aku pergi ke Lingkaran-K, bahkan sampai yang jauh di Gandaria. Sewaktu masih di Babe Tafran, apakah cukup di Starbek atau Nano, atau warung kecil di depan kostan cewek itu. Di Lingkaran-K Gandaria, aku teringat membeli Sosro Joy Tea. Uah, diminum malam-malam gerah aduhai segar menenangkan. Seberapa cepat aku tidur entahlah, yang jelas aku tidur di garasi depan pavilyun, di samping Djendril. Waktu itu Yohanes Gunadi masih hidup, Mas Wirok masih muda, Qodir masih kusut, pada ketika itu.

Apa benar yang menyenangkan dari saat-saat penuh ketidakpastian itu. Kemudaan. Aku bisa saja pergi ke Sarimomo yang ada d'Goes itu, entah apa pernah 'kubeli burgernya. Aku juga bisa menyeberang ke Burger and King. Enak di situ ber-AC, seperti halnya Buku Kafe. Lebih jarang lagi ke Angkringan Panjer Wengi. Lebih seringnya makan meki sapi dilanjut tempura ubi semua. Salah satu patron tetap ketika itu tentu saja Dedy Nurhidayat. Itu bisa saja hari-hari membaca skrip Ca Bau Kan, atau Kapal Penuh Mempelai Wanita, atau Iblis dan Nona Prym, atau Reader's Digest.

Di sinilah kurang lebih aku mengenal Andre Juan Michiels salah satu pelestari Krontjong Toegoe. Masih teringat musim hujan di awal 2008 itu, lumayan derasnya. Bahkan sampai banjir di mana-mana. Waktu itu Februari, seingatku, di kantin darurat FHUI, di emperan belakang Gedung C. Masih ada ibu-ibu Cina jual gorengan. Ah, hidup, mengapa begitu benar. Apa benar kesedihan, semua dijalani saja dari hari ke hari sampai ke sini. Padahal sebelum sampai ke sini sudah banyak persinggahan, pemberhentian, atau aku tidak pernah benar-benar berhenti. Entahlah...

Adakah sebelumnya lebih menyenangkan, ketika menjalani satu kuliah ke kuliah berikutnya, sampai dikata "mahasiswa ayah". Jaman segitu bagaimana cari uangnya. Seberapa banyak uang yang dapat dihasilkan. Nyatanya sampai hari ini, meski pada waktu itu tidak pernah luput dari utang. Semoga semua sudah dilunasi. Udara malam masuk lewat jendela yang terbuka, mendinginkan dada yang bertambah tua, perut yang bertambah tambun. Sungguh, malam ini aku kangen losyen wangi sereh yang kini telah tiada. Betapa banyak kini dari duniaku yang sudah tiada...

Friday, June 17, 2022

Semerbak Jahe Wangi Harum Dupa Setanggi


Entah mengapa aku mengetiki Kamis pagi bermendung begini, mungkin karena sekitar satu jam lagi akan dimulai acara awut-awutan entah-entah. Memang bukan karena tak sanggup mencinta, namun hati memang diciptakan dengan ukuran yang bermacam-macam. Ada yang seluas samudra, ada yang sebesar lubang penahan pasak pagar. Sebesar apapun, jika memang mencinta maka mencinta 'lah ia. Demikian pula, sebesar apapun, itulah cinta yang ditakdirkan untukmu. Itulah nasibmu, bagianmu. Tinggal lagi bersyukur atau tidak. Jika tidak, rugi 'lah sendiri.

Asap dupa setanggi itu tidak berhembus ke arahku. Itu pun tidak perlu menjadikan berat hatiku. Akan halnya aku yang membakarnya tadi, tidak berarti asap harumnya harus untukku pula. Jika angin membawanya justru ke udara bebas sampai-sampai wangi harumnya tidak terasa lagi, bukan padaku untuk mengeluhkannya. Biar mengeluh bagaimanapun, tetap saja harum dupa setanggi bersatu dengan molekul-molekul udara selebihnya. Jika mengeluh, kerugianmu sendiri. Kamis pagi bermendung perut dijejali nasi, sayur krecek, acar kuning, tambah telur dadar sekali.

Lagipula, kau hanya harus keluar sebentar dari ruanganmu. Ketika masuk kembali, harum wangi dupa setanggi menggelitik membelai-belai penciumanmu seperti seorang kekasih remaja yang penuh manja. Itu juga dengan mudah dapat dirusak dengan mengorek-ngorek lubang hidungmu, maka penciumanmu pun dipenuhi bau sampah, bau tahi. Memang betul apa yang dikatakan Ernest Yeagley, berhenti tiba-tiba cukup mengganggu ketika sedang dibuai diayun-ayun ombak pantai senda-gurauan, sedang orkes Paul Weston memainkan lagu-lagu pembuat nyaman pendengaran.

Uah, ternyata masih empat. Oke 'lah kalo begitu. Mana ini kelentang-kelenting piano ngakunya serasa di rumah. Rumah siapa. Mungkin kalau ditingkahi gericik air dari pancuran bambu akan terasa begitu. Ah, entah rumah siapa ini. Penciumanku digelitik wangi harum dupa setanggi! Masya Allah. Dalam kondisi begini seharusnya aku dapat mencurahkan segenap rasa, segenap daya cipta. Apakah ini di pedalaman Jawa Barat, atau Jawa Tengah, di daerah pegunungan. Tidak, ini di tepi Cikumpa seperti biasa. Aku sudah mandi air hangat dari pancuran. Ah, sedapnya.

Buddhis dengan ekornya yang jelek dan kotor baru saja berlalu di hadapanku. Kini ia menyusuri jalan menanjak menuju entah ke mana. Gabut dia. Apakah kami sama-sama gabut. Ia melangkahkan kaki-kaki kurusnya, aku mengetuk-ngetukkan jemari pada papan-kunci. Kami, yang jelas, sama-sama mencoba mensyukuri karunia berbagai kenikmatan. Buddhis selalu berhasil. Aku selalu gagal. Tidak perlu 'lah terlalu jengkel pada Ade Armando, apalagi sampai menggebuki, menelanjangi. Jika kau tidak suka ucapannya, jangan dengarkan. Aku pun tak suka, tapi biarlah.

Apakah setelah ini aku akan berhasil membuka Bab Empat, sekadar membacanya kembali, menggoda kerinduan. Apakah seujung sendok teh kopi instan pada susu jahe wangi akan menyakiti lambungku. Semua pertanyaan itu membawa kenangan pada masa muda yang tidak pernah ada. Masa mudaku kusia-siakan, kubuang-campakkan begitu saja entah ke mana. Sampai-sampai aku tidak pernah merasa muda. Aku selalu tua, bahkan sebelum dilantik menjadi Ketua OSIS SMP Islamic Village periode 1989-1990. Satu harapku, semoga hidupku tidak sesia-sia masa mudaku.

Ada orang berkata surga ada, namun yang dimaksud adalah segala kefanaan dunia yang tidak ubahnya bangkai cicak mati gara-gara memakan selai nanas hijau beracun. Betapa cantiknya memang dunia, dengan lugunya bersolek. Namun seorang budak cukuplah menyungging senyum melihat itu semua sambil memuji Sang Pencipta, sambil memohon ampun atas kelemahan. Apa lantas berhak merasa lebih kuat jika tidak gugup. Jangan sekali-kali dilupakan! Al-Ghazali meninggal pada usia 55 tahun, Andhika Danesjvara 50 tahun, Safri Nugraha 47 tahun.

Setiap tinggal setengah pasti sudah dingin

Monday, June 13, 2022

Salamku 'tuk Pancasila Melangutkan Jiwa


Malam-malam begini menyeruput secangkir kecil susu cokelat rendah lemak tinggi kalsium sambil memandangi telaga sunyi, terasa seperti di sini, di sana, di mana-mana. Tiada lagi kenangan masa muda, sedang banyak orang bersikeras aku masih muda. Aku tidak peduli. Aku tidak mau muda. Kemudaan sudah berlalu. Seperti halnya aku tetap kanak-kanak, oh, seandainya. Kendali sepenuhnya ada padamu. Biar 'kukhayalkan terus itu gerobak goyank sampai menjadi kenyataan. Diparkir di bawah pepohonan baik di terik matahari atau derasnya hujan.

Hari demi hari, Oh, Tuanku, aku berdoa. Masih ingat pada biplaneku yang kini tinggal kenangan. 'Kumodelkan dari pendahulu Gannet, meski sama-sama Fairey, yakni Swordfish. Tentu bukan torpedo yang di bawah itu, mungkin tangki eksternal. Ternyata yang 'kubutuhkan untuk menjalani kehidupan selama berpuluh-puluh tahun 'kudapatkan di pavilyun, meski mungkin sebelumnya, entah di Graha 3 atau 5 sudah begitu pula. Temaramnya lampu, pikiran entah-entah seringnya mengilhami, dengan siapa aku berkenal-kenalan. Musik indah tentu jangan sampai tertinggal.

Di pojokan sini terasa senyaman di manapun aku merasa nyaman. Mungkin memang tidak perlu beranjak ke mana-mana. Aku memang selalu suka pojokan, hanya perlu dirapikan. Dengan setumpuk buku memang selalu begitu, seperti rak yang dulu 'kubuat di garasi dan menemaniku ke mana-mana. Tidak sebesar punya adikku, namun yakin telah 'kutamatkan semua. Ah, Claire, kau memang selalu cantik sejak kali pertama mengenalmu. Mau diulang  berapa kali pun tetap cantik, bahkan sejak aku belum mengetahui namamu. Kini aku setua ini, kau tetap cantik.

Aku ingin melakukannya denganmu, ketika iklan-iklan di televisi masih bersahaja dan bersahabat. Ketika udara pun masih bersahabat, entah karena kemudaanku. Sungguh aku tidak ingin kembali pada ketakberdayaan, karena aku tidak pernah menjadi apa-apa. Bahkan ketika di pojokan itu berteman, di pavilyun medio 2008 itu pula. Pernah ketika berteman, aku diserang panik sampai berjalan cepat ke arah Barel. Lebih dari sekadar perempuan adalah sepulangnya dari Negeri Belanda, ketika ini semua bermula. Istriku masih secantik ketika kali pertama 'kubertemu.

VarioSty yang 'kucongklang ke mana-mana dengan gagahnya, termasuk ke kantor Pusaka di Lenteng Agung itu. Apakah untuk pulang ke Jang Gobay, biasa tetap 'kuparkir di tempat Babe Tafran, di samping sarang beto. "Mang Imas mau tidur, terserah," begitu kataku, "yang penting saya mau yang seger-seger." Ini lebih muda lagi. Bersatu kembali selalu memukau sejak di kamar cilik atau ke manapun, terlebih setelah mengetahui persiknya seperti apa. Malam-malam begini aku berteman kenang-kenangan masa muda, sedang manisnya flute ditingkahi lembutnya gitar.

Ah, waltz terakhir yang tidak pernah berakhir, 'kutarikan bersama rasa cinta yang menjadi kekasihku sejak kecil. Betapa hidupku penuh kenangan manis, terlebih malam-malam begini menghadap ke selatan. Sedang Istriku Sayang tiada jauh dariku, aku mengetiki entah-entah seperti biasa. Belum lagi jam sepuluh, aku lelaki gendut botak berumur empat puluh lima. Aku seorang bapak, panggil aku begitu maka aku senang. Jangan panggil aku "mas" apalagi "oom". Aku seorang bapak, bukan pula salah satu ksatria meja bundar, maka jangan panggil aku "sir". "Pak" begitu saja.

Jika waktuku berakhir kelak, aku meninggalkan ini, entri-entri indah rata kanan-kiri. Bukan catatanku mengenai kejadian sehari-hari, apalagi peristiwa-peristiwa dunia. Ini hanya kebat-kebitnya perasaan yang diabadikan. Di era serba digital ini, siapa yang tahu prasasti kelak seperti apa. Biar yang mempelajarinya nanti merasakan berkebat-kebitnya hati yang selalu dirundung cinta namun tak pernah berbalas. Biar ia tahu melangkah sendirian sepanjang jalan antara Barel dan Kukusan, terkadang ditemani kepul-kepulnya asap rokok entah-entah sekenanya.

Sunday, May 29, 2022

Tahukah Kau Bahwa Tadinya Penuh Anjim


Entah karena aku jengkel dengan gambaran, atau mejanya tidak rata, atau entah mengapa, namun bunyi kethuwal-kethuwil ini menjadi ekstra membuat kesal. Terlepas darinya, gambaran di bawah ini memang epik. Entah apa yang terjadi di bawah sana, yang jelas ekspresionis mirip dengan legendaris Lutung Kasarung. Aku belum lagi tahu apakah sama Asus VivoBook dengan Samsung Galaxy Tab A ini, namun tadi ada juga rencana untuk tidak peduli dengan itu semua. Babat saja terus entah apa jadinya. Beberapa hari kemudian, aku tahu keduanya tidak pernah sama.

Minggu ini aku tiada mengapa-apa, mungkin karena Asus VivoBook kutitipkan Pak Cecep untuk diperiksa mengapa spikernya brebek. Namun itu tentu hanya alasan, karena hari ini VivoBook telah kembali. Meski belum cukup lama diputar, sejauh ini tidak brebek spikernya. Pak Cecep melaporkan bahwa setelah dua jam diputar ia tidak juga brebek. Semoga seterusnya demikian. Sebenarnya agak sayang membuang-buang daya otak, namun apatah daya. Semoga otakku semakin berdaya setelah ini. Apa harus kupasang gambar mentor Yussuf dan mentor Faisal di depanku.

Biarlah di Minggu siang yang gerah ini kutinggalkan itu semua menuju pantai tropis yang belum dijamah orang kecuali diriku sendiri. Apa yang akan kulakukan di tempat seperti ini, berbincang dengan pikiran dan perasaanku sendiri. Sungguh membosankan, karena di mana pun aku bisa melakukannya, terutama di tengah keramaian. Di tengah suasana alam bebas ini, aku bisa bersantai dari itu semua. Kubiarkan burung-burung berceloteh menceritakan dongeng mereka mengenai negeri-negeri jauh atau tempat hidupnya yang itu-itu saja. Di situ ia menetas, di situ ia mati.

Ataukah ini entri mengenai keindahan, ketika dibiarkan jatuh tergerai di atas bahu, sedikit dijepit ke atas di bagian depan agar tidak menutupi dahi dan muka. Bentuk memang tidak pernah menjadi yang nomer satu. Asalkan tidak terlalu banyak, kekurangan justru merupakan kekhasan, seakan karenanya menjadi milik pribadi, tercipta hanya untuk diri seorang. Selebihnya adalah seberapa banyak syukur atas rasa cinta yang dianugerahkan, yang membungkus lembut hati bagai dalam rahim ibu. Jika semua cinta di dunia ini seperti itu, mungkin takkan ada kesakitan.

Ketika matahari terbenam, yang ada hanya kehangatan. Cinta selalu saja tercipta hanya untuk cinta. Jangan dikotori dengan rakus serakahnya dunia. Resapi cinta yang tiada akan pernah didapat dari raga, karena cinta adanya di jiwa. Jiwa itu selalu satu adanya. Itulah yang dirasa ketika cinta melanda, rindu dendam terasa sungguh menyiksa. Itulah ketika jiwa yang hakikatnya satu dibelah menjadi dua. Ingin bersatu saja senantiasa. Jangan pula tertipu ketika raga saling menyatu, berjalin-berkelindan. Bukan itu penyatuan, karena yang bersatu selalu saja jiwa. Satu itu Jiwa.

Ketika perut bapak-bapak botak gendut mengalir sampai jauh, sampai tidak tertebak nomer celananya, apatah lagi mereknya. Ketika kurus-gendutnya bapak-bapak disangka kuasa membuat ibu-ibu menjadi curiga. Ketika itulah sadar belaka dunia ini serba sementara, seakan melihat makam-makam bertebaran di bawah sana. Entah makam siapa, nyatanya semua akan dimakamkan, kecuali yang jasadnya dibakar atau lain-lain penyelenggaraan. Ini lucunya seperti jenazah dipulasara padahal seharusnya upacara. Nyatanya, upacara penguburan itu tanda peradaban. 

Bukan hanya angin yang mendesau di sini, ombak pun, musik pun. Saraf-sarafku pun terasa mengendur. Namun jika terlalu kendur begini, pelupuk mata pun memberat. Ketika inilah terkenang secangkir kopi hitam pahit dari masa muda, meski kepul-kepulnya asap rokok tiada kurindukan sama sekali apatah lagi alkohol. Aku hanya ingin merayakan keindahan di sekelilingku, atau menikmati. Keindahan yang tidak lagi membangkitkan gairah dan semangat, tetapi mengendurkan urat-urat saraf yang terasa tegang seperti tersentuh tangan terapis ulung, namun tidak sempoyongan.

Meski berkendara di atas kereta kencana sekalipun tidak akan menandingi sedapnya hammock diayun-ayun angin lalu. Apakah itu di gelanggang renang atau tepi saluran irigasi sama-sama sedap, sejuk, segar airnya. Apakah setelahnya makan nasi berlauk tumis oncom atau sekadar kue pukis diberi bersaos mie ayam sungguh mengembalikan tenaga yang terkuras gara-gara bercibang-cibung dari puluhan tahun lalu. Sepulangnya apakah naik Metromini S.72 atau PPD Patas P.24 yang dirasakan hanya kesenangan belaka, ketika hanya beberapa tahun lebih tua dari Adjie kini.

Sunday, May 22, 2022

Minggu Siang Bermendung Biasanya Bukan Judul


...melainkan bagaimana sebuah entri dibuka. Tentu saja setelah mampir Cinere jadi kepikiran abah-abah, meski tidak ada hubungannya dengan kuda. Ada Abah Sepuh, lantas Abah Anom, lantas Abah Aos. Aku cuma asal ngomyang saja, tahu apa juga tiada. Di Internet seperti biasa tersedia berbagai informasi mengenai apapun. Lantas aku terpikir: Akankah sama nasib informasi mengenai kaji-ulang. Tentu saja. Ia akan ditemukan oleh orang yang mencarinya. Yang tidak mencari biasanya tidak berjumpa. Selasa ini Insya Allah menghadap mentor Yussuf Solichien Martadiningrat, apa hendak dikata.

Tentu saja aku tidak benar-benar merindukanmu, seperti tiada pun yang menanti-nantikan kedatanganmu. Kata-kata panjang begini biasanya membuat jeda antarkata menjadi lebar-lebar. Aku, yang kukira menyukai bahasa ini, ternyata sudah tiada peduli; apatah lagi matematika. Namun satu kesempatan lagi dengan bunyi penyintesa dan dentaman bassnya memang selalu menimbulkan suasana tertentu, yang mana semua sudah berlalu. Adikku sekarang sudah banyak beruban. Aku, karena selalu gundulan, jadi tidak ketahuan. Jenggotku penuh beruban jika kubiarkan.

Kemarin aku menyusuri lagi Jayapura, Beta, Gama, Zeta, Nila, sampai Beringin yang hanya dua dari empat puluh lima tahun pernah singgah di hidupku. Satu langkah lebih dekat, demikian juga, selalu menimbulkan suasana tersendiri. Intinya, aku bersama dengan apapun yang pernah kukenal bertambah tua. Tiada guna kukenang-kenang Pondok Indah Mall ketika belum ada nomor-nomornya, yang memang tidak pernah manis kenangannya. Akankah dalam hidupku ini berhenti riwayatnya, sesuatu yang selalu bersamaku entah sejak kapan aku tidak ingat, selalu begitu itu.

Demikian pula, aku selalu intelek sepanjang ingatanku, seperti Sandy yang selalu menemani sejak kecilku. Bukan Sandy Maulana Prakasa yang perwira korps signal itu. Ini seorang gadis, yang kurasa menemaniku entah dalam perjalananku berangkat sekolah menyusur gang di pinggir kali itu, atau sepulangnya. Bau ikan goreng yang selalu menggelitik bulu hidung, aku terlahir sebagai seorang lelaki yang kurasa semakin lama semakin feminin karena selalu mengonsumsi produk olahan kedelai. Sandy gadisku, kucinta kau selamanya, meski kau tak pernah benar ada.

Seseorang yang percaya padamu, meski berasal dari waktu-waktu yang tidak dapat dikatakan terbaik, memang selalu membelai. Aku memang tidak peduli jika aku pecundang sekalipun, yang selalu berkhayal mungkin kelak waktuku akan datang. Jika setelah tiga puluhan tahun kemudian masih belum datang juga, aku tetap tidak peduli. Hanya kudoakan sungguh-sungguh, Bapak Ibu dan adik-adikku hendaklah bahagia. Untukku sendiri, cukup baik jika merasa baik. Terlebih J.J. Merel Bruinier, lelaki tangguh entah di mana, penyuka angin kencang, kencang.

Dunia ini penuh dengan orang-orang seperti Dokter Jul dan Mah Elis, mengapa pula aku merasa merana. Mengapa pula aku merasa boleh menunda-nunda pelaksanaan kewajibanku, pemenuhan janjiku. Aku memang sepele dan itu, kurasa, baik bagiku. Jadi buat apa menunggu datangnya entah apa. Begini terus merasa sepele, mana tahu di situ letaknya keselamatan, kedamaian. Uah, matahari terbenam! Dzikir adalah pedang! Lantas mana dzikirmu, habis sembahyang selalu langsung berdiri. Tadi aku sempat teringat kemenakan-kemenakanku laki-laki. Aku mamak.

Namun kresek-kresek ini sungguh mengganggu, membuatku bertetap hati ke kampus besok, Insya Allah, mencari Pak Cecep. Kini suara dangdutan dan Mas Dikdik menggosok-gosok dingding menemani alinea terakhir entri ini. Aku sudah makan siang, sepotong tempe kemul, bakwan, sekitar setengah liter teh vanili bersimbah jahe merah gula aren, masih ditambah kemal-kemil ikan bayi, kacang mete, dan jari keju sisa lebaran. Habis ini mungkin aku akan mandi, kaos penuh jejak garam begini. Siang bermendung sejak pagi, kurasa harus pakai air hangat mandiku siang ini.

Friday, May 13, 2022

Lewat Jauh Lebaran Ketupat Malah Tak Bisa Tidur


Tidak tepat seperti dalam gambar itu juga, terlebih iris-irisan apelnya, meski ada juga sedikit rasa mengapa tidak suka apel atau buah-buahan lainnya. Sayang pepaya selalu besar. Bahkan yang terkecil pun masih terlalu besar dan sulit disimpan pula. Bahkan sayur sopku pun masih tersisa satu kontener, sedang nasi mbelek bikinan Gibas sudah entah jadi apa itu dalam raiskuker. Biasanya, begitu matang, tanak, dan mendingin langsung kupindahkan ke dalam kontener dan masuk kulkas. Insya Allah bertahan lama. Namun itu pakai yang murahan, bukan Yong Ma robot.

Bicara mengenai Yong Ma robot tak ayal jadi ingat Cantik yang selalu penuh dengan kehidupan. Segala sesuatu di sekelilingku adalah Cantik. Begitu saja aku menghambur kepadanya dengan segalaku, maka aku adalah salah satu pernak-pernik dalam kehidupannya. Begitulah ketika Ibu membuatkanku kalung baru dari kulit kerang, aku memilih menetap. Sudah jelas aku tidak akan dikenang. Aku tidak punya anak-anak untuk mengenangku. Rata-rata anakku mati semua, sedang piano berkelenting-kelentang seperti menghina kehidupanku. Aku membiarkan tak mengapa.

Jika kulihat di gambar itu, kejunya terlalu tua dan tebal irisannya. Terlebih, yang menarik perhatianku, filet kalkunnya banyak sekali. Itu pasti roti lapis mahal dan jelas bukan buatanku. Buatanku rotinya tiga kerat. Lapis pertama berisi keju seiris dan filet kalkun seiris. Lapis kedua salad kentang dan saus kari. Suatu kehematan yang terlalu mewah untuk ukuran seseorang yang tinggal di tepi Cikumpa. Mana pernah kusangka malam-malam yang dicekam situs tolol tanya-jawab menjadi nyata bagiku. Apa aku kangen tidur di ruang depan sedangkan sekarang di atas sepiteng.

Aku bisa membayangkan kesepian, bahkan ketakberdayaan. Pasti mengerikan. Apakah salah jika 'ku marah. Begitu saja terkenang Uilenstede di waktu malam ketika tidak bisa tidur. Tentu jauh lebih baik dari Kees Broekman dan Kraanspoor, karena yang dua terakhir ini harus lewat segala lift dan pintu otomatis. Uilenstede seperti rumah biasa. Membuka pintu kamarku. pintu rumah, pintu pekarangan, sampailah di udara segar. Sejuk menerpa wajah, masih lekat di ingatan. Tengah malam aku tidak pernah jauh-jauh kecuali sekadar keliling bangunanku itu saja.

Kerinduanku sudah barang tentu. Begitu lama satu-satunya alasanku untuk terus hidup, bahkan sampai kini. Apakah karena koneksi internet tidak stabil, atau karena pernah dijatuhkan Tante Lien. Pernah begini juga di kamarku mungil itu, mungkin tirai masih tertutup karena hari masih gelap. Namun bunyi-bunyian dan perasaan hatiku, jalan mobil menyusur pantai dan kelap-kelip lampu di kejauhan. Mudah saja memeriksanya, coba mainkan dari cakram-kerasmu sendiri. Ah, sudahlah. Kalau sampai keluar onomatop begini itu mengapa, ya. Aku terlalu malas, atau takut.

Tiada lagi gairah cinta karena hari-hariku dipenuhi rasa kecewa yang 'kuyakin menyelamatkanku. Tinggal lagi dihilangkan ketololan itu. Entah apa yang akan terjadi paruh kedua tahun ini, tiga hal setidaknya 'kunanti-nanti. Sudah lama entri-entri tidak gamblang merinci pikiranku, karena lebih lagi perasaanku. Apa yang mengebat dan mengebit 'kurasa lebih berharga, meski seringnya aku lupa. Memang harus dilupakan, seperti entah berapa ratus mungkin ribu pandang yang dibelaikan pada hidung atau dagu berkeringat. Untung rambutnya tipis terlebih pun menyebalkan.

Lantas buat apa pula kau beristri beranak segala, San. Apa bagusnya untukmu. Kita cuma buang-buang waktu, buang-buang peluang dengan pura-pura berkeluarga berumah-tangga. Apa kau mau hidupmu panjang dan membosankan. Memang tidak ada perang di sekitar yang memungkinkan kita mati cepat untuk sesuatu alasan yang entah-entah, meski aku yakin juga mati seperti itu tidak ada puitis-puitisnya, apalagi heroik. Apa mau mati seperti Chairil Anwar atau nama-nama lainnya. Takkan ada yang menyebut-nyebut "Sandoro" ...kecuali mungkin Indira.

Seperti jembatan di atas air bergolak

Sunday, May 01, 2022

Hari Buruh Koq Malam Takbiran. Tidak Kaldu


Suara piano berkelentang-kelenting ditingkahi dehaman bass gitar. Ya, kali ini yang berdeham adalah bass bukan saksofon, karena ia tidak berdentam apalagi berdebam. Ia mendeham, sedang hatiku tidak ada yang peduli apa yang ada padanya. Aku jelas sudah tidak muda lagi, dan sungguh terasa tak pantas bahkan olehku sendiri untuk terus-terusan berolok-olok di sini. Namun tinggal ini kesenanganku, hiburanku. Apakah ketika berumur dua puluhan aku menghibur diri dengan Roxana dan Bagoas sekaligus. Amit-amit, Tulak sawan! Hephaestion pun tak sudi aku.

Masih lebih mungkin aku menghibur diri dengan menyodok atau menyogok apapun dengan xyston-ku, menebas dengan kopis, menusuk dengan xyphos. Hidup penuh kekerasan begitu, namun jangan bodoh. Alexander dan kawan-kawannya bermandi darah namun mereguk kebijaksanaan Aristoteles. Seperti itulah. Jika itu pun tak mungkin, bagaimana dengan Rama Bergawa yang ke mana-mana membawa busur raksasa dan kapak, namun ia seorang pertapa. Ah, jangan juga. Bagaimana dengan Karna, aku rasa kehilangan kepala adalah cara mati ternyaman.

Aku bicara mengenai pahlawan-pahlawan ini seakan-akan aku ini oye. Jangankan menjadi Ptolemus nenek moyang Kleopatra, menjadi Ki Manteb saja mustahil aku. Aku ini si keple, kalaupun tidak tolol. Jika pun aku sok-sokan jadi polisi tatabahasa, itu lebih karena kecenderungan perfeksionis. Awas bukan OCD, sekadar perfeksionis. Apakah dengan melodi-melodi gruveh begini aku harus menyetir sendiri mobil di jalan-jalan ibukota di malam hari, di bawah temaram lampu jalan; itu semata khayalan belaka. Bisa saja di tol Antasari-Sawangan, namun aku malas.

Jangan pula sampai salah terka, itu bukan gambar tahi, melainkan semacam fitbar begitu. Habis mandi begini selalu saja justru tidak segar. Berkeringat, terlebih tadi memakai sabun cair berpelembab; apa kau kira ini masih di Sepurderek. Sedang setahun lalu saja, tepat hari ini, kau sudah berpacu di langit tinggi meninggalkannya. Apa yang kutinggalkan, tidak ada. Tidak ada lambaian tangan apatah lagi tangis. Aku pergi begitu saja tiada yang kehilangan. Hidup berjalan setelahnya seakan-akan aku tidak pernah ada di situ, menyusuri lorong-lorong kuning, hijau, biru...

Sudah cukup kucicipi dunia ini, maka buat apa lagi. Malam takbiran ini aku begitu saja mandi, karena kuncinya selalu di situ. Tepukan sebelah pantat memang sudah seharusnya kudapatkan sebagai bentuk kasih sayang, sama sekali tidak kusesali. Apa benar yang kuinginkan aku tidak tahu dan tidak peduli. Betapa kulkas penuh makanan dapat saja mengganggu pikiran, meski pendengaran dibelai-belai musik sedap sedemikian rupa. Akan kupaksa setelah ini, karena apa lagi yang kutunggu. Aku harus segera melesat, seperti batu dilontar seorang peltast.

Aku harus mengucap selamat tinggal pada Ustadz Abdul Somad and friends, karena kurasa malam ini tiada ada lagi. Ini sudah malam takbiran dan sebaiknya, Insya Allah, aku tidur sampai subuh. Semoga setelah subuh aku tidak mengantuk hebat, sehingga dapatlah aku menunaikan shalat 'Id, mendengarkan khutbahnya. Aha, tahun lalu hari buruh masih jauh dari lebaran, tahun ini hari buruh malah takbiran. Begitulah maka Apollo didegradasi menjadi sekadar bau oleh Samson Betawi, tidak lagi menjadi penanda waktu utama. Aku tak peduli lagi apapun sebutannya.

Ini entri apa bagus untuk membuka Mei aku juga tidak peduli. Tidak banyak yang kupedulikan kecuali ITU. Apalagi yang baru saja melintas ini, apakah kukutuk atau tidak, apakah kutukanku manjur atau tidak, aku tidak peduli. Sidang pembaca (halah!) pasti masih ingat masalah derkukuk. Ya, itu ada hubungannya memang dengan babaduk. Aku masih takut, maka aku tidak akan berkata apa-apa mengenainya. Namun tidak berarti aku berhenti melawan. Aku selalu melawan. Justru karena lemah-lembutnya babaduk mengerikan. Aku tahu aku bisa bertekad, tidak bulat.