Monday, May 31, 2021

Sudah Sebulan Sejak Gadat Mencetak Gol


Setengah sembilan pagi di pojokanku. Matahari mengintip manja dari sela-sela lobang angin, menembus tirai bambu yang 'kugulung sedikit. Setelah semug kecil jahe merah berkepala gula, aku masih menambah lagi kopi susu jahe yang manisnya bukan buatan. Itu pun setelah sarapan nasi kuning lengkap dengan mie goreng dan kering tempenya sekali, bertabur kerupuk bawang dan bawang goreng, masih berlaukkan telur dadar penuh bersimbah minyak, bahkan tahu pedas. Di tentangku, mana di mana anak kambing saya yang sudah bandot menikmati nasi uduk bulu-ayam ali-4a.


Itu pun masih ditingkahi gorengan. Ada bala-bala, tahu brontak, tempe kemul, risol bihun, masing-masing dua. Masih lengkap dengan sambel kacangnya sekali. Aku belum mengecek apakah dalam kantung plastiknya ada cengek. Semua ini kurang dari EUR 5! Apa yang bisa 'kudapat dengan uang segitu. Kapsalon porsi paling kecil saja sudah tidak dapat. Sushi-sushian mungkin masih dapat, namun rasanya aduhai menggelitik perut. Ini hanya sekelumit perbandingan kehidupanku sebelum dan sesudah Gadat mencetak Gol di malam yang menentukan itu, ribuan mil di udara.


Sebulan setelah itu begitu banyak yang telah terjadi, dan tiada yang lebih menjengkelkan daripada entri tak selesai terbengkalai. [emang iya?] Di titik ini, sudah tiada padaku minat untuk bertutur, jangankan mengenai betapa Gadat mencetak Gol, apa yang terjadi sepanjang Mei saja malas 'kurekapitulasi. Namun sudah menjadi kodrat entri untuk diselesaikan dan ditayangkan, maka inilah aku berusaha melakukan tepat itu. Biarlah angan melayang ke sisi utara gedung yang sekarang menjadi Informa, dahulu ada Hero-nya, ketika 'kutenggak habis sekotak susu coklat dingin.

Jikapun 'kucatat sedikit mengenai steikesyen, itu karena kekagumanku pada kehidupan dan kegaguanku menjalaninya. Bukan benar karena sarapan yang dicatu, bukan terlebih Kota Bandungnya itu sendiri yang dua harian itu memang terasa agak lebih sejuk ketimbang Kotaku Depok. Bukan karena itu semua. Jika aku ingin mengenangkan kehidupan, ke situlah benak 'kuarahkan. Tidak sampai semangat atau bagaimana. Hanya saja kehidupan selalu membuatku tersenyum-senyum dikulum dalam hati. Tentu saja, seperti segala sesuatu, 'kusyukuri. 'Kurayakan, tunggu dulu...

Tidak pernah 'kurasakan dalam hidupku yang ini merekahnya kehidupan. Kehidupan dikeremus, diuwel-uwel tepat di hadapan batang hidungku. Jika 'kuingat-ingat mengenai kehidupan, yang terasa hanya pedihnya luka dalam yang tak kunjung kering. Saat ini bahkan aku tidak punya cukup tenaga batin untuk menyalahkan diriku sendiri seperti biasa. Apapun adaku seakan tiada arti, bagai lolongan anjing di malam hari. Kenistaannya sepadan dengan basah lembabnya lantai kamar mandi yang tiada terlalu bersih. Entah berapa kamar mandi, harum atau bau tai.

Aku nirguna katamu, 'Gar?! Bukan afirmasi maupun negasi yang akan 'kaudapat, melainkan asfiksasi. Membayangkannya saja sudah bergidik, tercekik di jalan lahir. Aku tidak suka bahkan jika sekadar terlintas dalam benak. Hanya tai yang pantas dibrojolkan di kloset jongkok agak bersih. Selain itu jangan, karena itulah kehidupan. Kehidupan, meski sudah rusak parah, sudah tidak bisa dibetulkan lagi, tidak sepantasnya diflush di totet. Lantas diapakan. Dijalani. Disabari. Disenyumi. Senyum kehidupan menyejukkan, apalagi derai renyah tawa. Selalu seperti itu terdengarnya.

Maka sampailah 'ku di sini. Tinggal beberapa ayun lagi maka usailah. Kehidupan akan terus saja seperti itu, tidak peduli aku berseragam putih merah, putih biru, putih abu-abu, coklat coklat, bahkan telanjang sekalipun. Tidak masalah apakah celana dalam tidak dilepas dahulu, baru kemudian, atau ditingkahi Tersesat dalam Cinta. Aku membawa kebusukan ke mana-mana, setengah bangkai bernanah ini, tai-tai ini. Tidak berguna katamu, 'Gar?! Aku pun tidak tahu. Semua kemesuman ini selalu mengingatkan siapa diriku: Setengah bangkai bernanah bertai-tai.

Tuesday, May 18, 2021

Musim Semi Sedang Bernyanyi, Mana 'Kutahu


Berdua-duaan saja dengan Penelope bisa mengerikan jika di Amsterdam sana. Di tepian Cikumpa sini, sedangkan Cantik dan anak-anaknya terlelap di kamar masing-masing, berduaan dengan Penelope masih tertahankan, karena Penelope ini tak ubahnya kelakuan Ucus, suka mendusel-dusel begitu, menggelesot-gelesot pada kaki-kakiku. Terutama ketika burung kecil mekanikku sudah rantas berkarat begini, tidak banyak yang dapat 'kulakukan pada Penelope, semenawan apapun ia. Aku tak sanggup melupakanmu, ketika burung kecil mekanikku masih perkasa.


Ditingkahi selantun melodi kecil, selepas subuh bukannya mengaji malah meneguk-neguk ramuan jahe kunyit dengan kepala gulanya sekali. Adanya aku tidak syawalan hari ini, ada Takwa. Ia mengajak kami berhalal-bi-halal, syukurnya di martabak kubang saja. Agak jengkel juga tidak syawalan hari ini. Namun Kamis nanti Insya Allah terancam tidak syawalan juga, meski belum tahu bagaimana ke sananya. Ya Allah, hamba mohon tahun ini juga bebaskanlah hamba dari belenggu dosa. Tuntunlah hamba ke arah jalan yang Engkau ridhai, terlalu lama hamba berdosa.

Selepas subuh ini, aduhai sungguh nyaman pojokan stasiun-kerjaku ini. Andai ia bisa terus begini. Andai terus begini rasa hati dan badanku. Seharian kemarin aku kemasukan. Aku juga masih belum tahu apakah setelah ini aku mengantuk dan tidur lagi sampai matahari tinggi. Semalam aku tidur sebelum jam sepuluh, 'kurasa, dan terbangun sekitar jam tiga gara-gara dua ekor kucing jantan, satu jingga satu hitam, bertengkar mulut. 'Kuteruskan dengan membangunkan Faw dan Khaira sahur. Faw sahur, Khaira tidak. Bundanya sudah minum, katanya, jadi tidak sahur.

Demikianlah maka ia menjadi judul entri ini, sedangkan nelayan mutiara menyenandungkan lagunya yang sedih. Aku tidak sedih. Mungkin aku akan sedih jika masih terpenjara musim semi. Aku tidak tahu. Aku hanya bisa bersyukur atas karunia nikmat ini. Tinggal bagaimana aku memanfaatkan nikmat ini sebagaimana seharusnya. Banyak hal berada di luar kendaliku, seperti steikesyen ini. Semoga berjalan lancar dan aku pun dapat menikmatinya. Apakah aku layak mendapatkannya, semoga; sedang toccata ini selalu saja melangutkan rasaku, dari kecilku hingga tua begini.

Ahaha aransemen copacabana ini memang sesuatu, terlebih jika sayup-sayup membelai awal hari, sedang cahaya temaram lampu bohlam masih menerangi. Inilah keindahan hidup di dunia. Mungkinkah 'kutenggelamkan diri dalam kumpulan pengetahuan setelah ini, apakah sambil meneguk-neguk entah apa. Aduhai enak benar hidupmu. Kau hanya harus berpikir. Hanya. Di titik ini, sudah tidak sanggup aku menangis, apalagi menertawai. Semoga penyesalan segera berbuah ratapan memohon ampun, belas-kasihan, karena selalu saja salah sendiri.

Bunyi-bunyian dirajut, disulam mendamba makna. Sedang sepiring nasi bersimbah dendeng cabai merah, masih dengan gulai pucuk ubi memenuhi perut. Ya Allah, begitu saja selalu hidupku, dari kecilku, berkisar hanya pada yang dua itu. Jika aku belum sanggup membebaskan diri dari nasi uduk bala-bala disiram kuah entah apa, maka mohon bebaskanlah dari yang satunya. Betapa banyak umur telah hamba sia-siakan, jangan biarkan diterus-teruskan. Halal bi halal ini nanti temanya apa terserah, pikiranku selalu pada bagaimana segera menyelesaikannya.

Ini tulisan apa hiburan, cerminan, gunanya entah apa bahkan bagi diriku sendiri. Menulisi, lantas mengetiki telah selalu 'kulakukan dalam hidupku. Bacaan semakin kehilangan arti-penting, ketautannya. Tidak ada sedikit pun peduliku. Aku hanya melakukan apa yang biasa 'kulakukan. Sudah tidak jamannya, bahkan segala sesuatu mengenai diriku, seperti biasa, masa bodohku. Pada titik ini, kabut mulai merayapi kesadaranku. Ada baiknya sebelum ia benar-benar menguasai, aku menggosok gigi terlebih dulu. Nyaman terlelap sedang mulut terasa bersih, seharusnya dari dulu.

Wednesday, May 12, 2021

Entri Keduabelas yang Ditulis di Bagasnami


Mungkin aku beruntung, atau entahlah, yang jelas aku memang belum pernah terpaksa tinggal pas di bawah toa masjid. Namun sungguh aku sangat menyukai riuh-rendahnya suara masjid, selalu sangat menyukai. Rasanya seperti tidak sendiri, dengan simponi disharmoni ini. Ini suatu kenikmatan yang besar, masih berkesempatan mendengar yang seperti ini, di bulan suci Ramadhan lagi. Dari ketinggian Lantai 29 di bilangan Mampang Prapatan yang ditebari masjid di mana-mana. Sungguh ini negeri sejuta masjid! Semoga Allah berbelas kasihan pada penduduknya.


Menilik dari pengalaman hari kedua, mungkin memang benar, lebih baik berangkat malam dengan transit sebentar yang nyaman. Sepertinya pengar jetku tidak terlalu parah kini, aku merasa mengantuk pada tengah malam, meski lantas tidur hanya tiga jam. Itu memberiku waktu panjang untuk sahur. Aku sampai dua kali bolak-balik ke lobi menanyakan sahurku. Setelah waktunya sangat mepet, akhirnya aku diarahkan menuju Restoran Flora. Aku sahur lengkap dengan semacam pasta bolones, tumis sayur-sayuran, sedikit nasi goreng dan empat potong sosis. Alhamdulillah.

Setelah mengetik-ngetik, ketika hari sudah sangat terang cuaca, barulah terasa seperti semromong. Ketika itulah aku berangkat tidur, agak sekitar jam tujuh pagi. Sedang tidur-tidur ayam, tiba-tiba bel pintu berbunyi. Ternyata tes PCR. Aku diminta menarik kursi sampai di depan pintu dan mendongak. Seperti empat hari lalu di Amsterdam, ambang tenggorokanku, lantas lubang hidungku dikilik-kilik dengan semacam katenbads. Begitulah seterusnya sampai aku dilepaskan karena Alhamdulillah sudah dua kali negatif, tiga dengan yang di Amsterdam.


Tadinya sempat terpikir olehku untuk mengabadikan setiap dari lima hari karantinaku, namun pengar jet dan monotoni mencegahku. Tiada benar yang dapat diabadikan kecuali perasaan menunggu-nunggu kapan dilepaskan. Memang sempat, sekadar agar ganti suasana, ke Lantai 17 di mana berada kolam renang. Itu pun tidak seberapa berkesan. Hanya saja, kaki-kakiku patut dicatat. Selebihnya benar-benar sekadar menunggu sampai dilepas. Tidak ingin juga aku punya cerita mengenai Pademangan. Cukuplah surat pengantar jalanku diberi berkepala Pademangan. Sudah.

Selepas karantina lantas ke Radio Dalam sekadar karena lebih dekat, keesokannya ke Bagasnami, menginap sampai selepas buka keesokan harinya. Menghabiskan Minggu di tepi Cikumpa, hanya untuk membuka rekening baru dan berbuka bersama di Warung Solo keesokan harinya. Jadi entri ini sudah berubah judul beberapa kali, dan sudah jelas ia tidak benar-benar ditulis di Bagasnami. Setelah hampir dua minggu, Insya Allah pengar jetku sudah benar-benar sembuh. Pembuktiannya besok. Dapatkah tidur sampai subuh dan tidak tidur lagi setelahnya. Insya Allah.

Justru yang penting dicatat di sini adalah apa yang terjadi pada Rabu ini. Alhamdulillah, akhirnya stasiun-kerjaku siaplah. Dengan meja yang lapang dan rapi begini, Insya Allah pikiranku pun akan tertata. Bagaimanapun, aku hanya pindah tempat, atau--seperti kata Japri--benar-benar kerja dari rumah. Bukan lagi dari 25D8 entah-entah tempatku memesan udon tahu jamur masak saus tirem dan mie udang bawang saus teriyaki seharga Rp 280.000. Di tepian Cikumpa sini, ayam goreng mentega, cah kangkung udang, fuyunghai udang, hanya sepertiganya.

Aku adalah seorang peneliti dari Institut Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Amsterdam. Memang Insya Allah aku bekerja dari tepian Cikumpa, dan ini semata-mata adalah sebagian dari belas-kasihanNya padaku. Aku bersyukur stasiun-kerjaku telah siap. Semoga sumpal-telinga yang ada padaku kini memadai untuk meredam kebisingan, memberikanku ketenangan sampai-sampai aku dapat mendengar diriku sendiri berpikir. Tentu saja tidak malam ini, karena bahkan aku seharusnya mendengar diriku sendiri bertakbir memuji kebesaranNya, Sang Maha Belas-kasih.

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar.
Tiada tuhan selain Allah, Allah Maha Besar.
Allah Maha Besar, dan kepadaNya segala pujian.

Saturday, May 01, 2021

Hari Buruh: Gol Gadat, Nasi Gorengnya Pedas


Setelah lebih dari 24 jam berlalu, yang ada hanya rasa syukur yang sangat mendalam atas belas-kasihNya. Tiada lain penjelasannya hanya itu. Biarlah di sini 'kuabadikan belas-kasihNya sejak berpisah dengan para Kraanspoorian di depan gerbang masuk KLM Schiphol itu. Rasa meriang mungkin sekadar akibat gerak badan dengan baju tebal, yang mana gerbang F2 lalu F9 itu ternyata lumayan jauhnya. Di gerbang F9 itulah 'kutemui seorang bapak wong kito, awak kapal survei yang memeriksa kerak karang pada rig lepas pantai, dengan tumor di dalam kepalanya.


Ketika Boeing 777-300ER KLM mulai taxi, 'kupandangi dari kejauhan lampu-lampu Amsterdam. Kita akan segera bertemu kembali dalam keadaan yang jauh lebih baik. Amin. Ketika ia mengudara dan berbelok ke timur, terlihat Ij. Geraman mesin jet ini yang biasa 'kudengar ketika sedang berbuka puasa. Tak lama kemudian aku pun berbuka dengan semacam makaroni dengan keju, rujak glabed dengan kismis, dan pencuci mulut yang hanya 'kucolek sedikit. Setelahnya aku merasa agak mengantuk, ketika mengulang Raungan Perang entah keberapa ribu kali.

Seperti biasa aku tidak pernah benar-benar bisa tidur, maka baru lewat sedikit dari tengah malam waktu Amsterdam 'kutanyakan pada awak kabin bolehkah aku mendapatkan sarapanku sekarang juga. Ia memberikan padaku buah potong dan yogurt buah-buahan hutan, sedang ia memanaskan pastri keju. Hahaha makanan Belanda betul, namun ternyata benar mengenyangkan. Aku bahkan masih menggerayangi snek berupa krekers entah-entah yang tidak 'kuhabiskan pun. Bahkan masih dibagikan brownis, lumayan membuatku menghabiskan sebotol lagi air.

Berhubung memandangi terus-menerus Penerbanganku bisa membuat edan, aku mencoba-coba Gol Gadat. Astaga, ini adalah sekadar tontonan mengenainya seorang. Tiada sedikitpun yang dapat dipelajari. Ini semata mengenai Gol Gadat! Harus 'kucatat di sini bahwa hiburan dalam penerbangan KLM tidak semenarik yang 'kuingat pada Garuda, meski layar sentuhnya lebih nyaman dibanding stik-kesenangan berkabel yang kadang menjengkelkan itu. Akan tetapi, main Bejeweled dengan layar sentuh begitu memang tidak cihuy. Pendek kata, aku kurang terhibur.

Mendarat di Changi, mengudara lagi, dibagikanlah roti lapis isi krim entah-entah dengan irisan timun untuk membatalkan puasaku; ketika duduk sambil mengisi formulir kesehatan di Cengkareng yang terkesan kacau. Di sinilah aku bersyukur kepadaNya atas segala yang 'kualami dalam 24 jam terakhir ini. Pilihan-pilihan Gerben dan Takwa semata adalah belas-kasihanNya. Semoga juga dicatat sebagai kebaikan bagi mereka. Tidak terbayang jika aku harus mengalami apa yang dialami Japri. Biar 'kuangkat topi padamu, kau lebih hebat dariku dalam hal ini.

Di malam minggu itulah aku beristighfar di tengah rintiknya hujan dan hangatnya udara. Selebihnya adalah kenyamanan yang semata-mata adalah belas-kasihanNya. Meski sempat lapar karena baru buka roti isi entah-entah, Alhamdulillah ketemu Mas Samsul Rizal yang membelikan nasi goreng. Entah perutku yang sudah tidak biasa, atau Mas Rizal yang tidak percaya nasi goreng yang tidak pedas sama sekali, nasi gorengnya pedas! Alhamdulillah bahkan masih ada Mas Rizki yang membawakan makanan tidak pedas, semata pertolonganNya lewat orang-orang baik ini.

Aku tidak sanggup membayangkan jika tidak begini. Semoga Allah memberitahuku bagaimana caranya bersyukur atas karunia nikmat yang sangat besar, yang tengah 'kurasakan ini. Biar 'kudoakan saja semua Kraanspoorian, Japri, Gerardus, Gregorius, Arum yang 'kutinggalkan, agar mereka lancar mengerjakan apa yang harus dikerjakan, sebagaimana doaku bagi diriku sendiri di sini. Semoga Allah menolong juga bocah yang mengatur transportasi dari bandara ke hotel, bapak yang mengantarku ke sini, dan semua yang membutuhkan pertolongan, demi Belas-kasihNya.

Friday, April 30, 2021

Benjamin Mangkudilaga Meninggalkan Medan Laga


Sepertinya sudah pernah 'kutuliskan di sini mengenai buck compton. Aku baik-baik saja, dan Insya Allah memang akan baik-baik saja; meski mereka tidak mungkin benar-benar seperti saudara. Tidak ada persaudaraan, bahkan sekadar pertemanan, dalam bisnis itu, seperti Isdah menyebutnya jalan sunyi. Maka 'kutinggalkan begitu saja. Entah bagaimana perasaan mereka. Rasaku sendiri adalah seperti benjamin mangkudilaga, yakni seperti frank lampard jika belum makan dan peabo bryson sesudahnya. Seperti itu saja, meski bisa jadi ada sistem pendukung.


Bahkan ketika 'kukosongkan tiada melankoli. Hatiku tidak ikut jadi melompong karenanya. Mungkin karena buck compton itu tadi. Ini bukan benar-benar hari kemenangan di Eropa. Jangankan itu, berakhirnya pengepungan Bastogne pun bukan. Ini sekadar bekerja dari rumah yang sebenarnya, karena 25 D8 itu tidak pernah benar-benar menjadi rumah. Bahkan KB 218 dan Uilenstede 79C lebih terasa rumah. Kamar itu memang selalu melompong sejak dari awalnya. Ketika 'kuisi barang-barang perabotan pun tidak lantas menjadi berisi. Begitu itulah ia adanya.

Bahkan ketika 'kujejali Navy Club, hanya sepenuh itu. Memang Japri merasa menjadi semacam bantar gebang, namun ia lebih tahu sarapan sereal daripada bantar gebang; atau semacam itulah. Sungguh aku tidak tahu bagaimana memaknainya. Dapatkah aku menuliskannya seperti orang-orang itu. Mungkin akan 'kulakukan juga sekadar membumbungkan harap akan belas-kasihNya. Navy Club hanya 30,8 kg sehingga membuyarkan impianku untuk bepergian ringan. Samsonit jadi berat, sekitar lima kiloan, belum lagi tas jinjing Ikea juga sekitar segituan.

Ini benjamin mangkudilaga, Kawan-kawan. Inilah sebenarnya yang membuatku galau. Namun aku terbiasa dalam hidupku mengambil keputusan-keputusan komando jihad. Ini salah satunya. Apapun jadinya akan 'kuhadapi, tentunya penuh dengan harapan-harapan baik. Juga untuk kalian semua, meski Japri tak sudi 'kuanggap teman seangkatan. Ketika kita melangkah meninggalkan Kranspoor menuju dermaga feri NDSM, bahkan tiada melankoli untukku. Terlebih ketika mesin feri menggeram merayapi Ij. Aku 'kan kembali membersamai, meski sebentar.

Peron 14b menjadi saksi, betapa bukan ini yang harus 'kulakukan. Perjalanan masih panjang. Draf komplit kedua bukan mainan. Meski jika 'kukenangkan soto dan nasi uduk karya Gerardus, betapapun itu kenangan manis. Aku bisa dengan yakin mengatakan, kedua hidangan itu jauh lebih bermakna ketimbang puyunghai vegan apalagi tahu buda. Aku dalam hal ini harus minta maaf pada penjual kibbeling yang ramah di dekat Sexyland, karena kibbelingnya bukan yang terbaik. Sesi satu-satu dengan Japri dan Pak Greg pun selalu bermakna, menawarkan cakrawala baru.

Jeng Arum tak diragukan lagi yang paling harum dan cemerlang. Memang jika ramai-ramai yang tersisa tinggal harumnya, sedang ia enggan berbagi kecemerlangan. Apapun itu, melihat Pak Greg dan Gerardus begitu semangatnya mengikuti berbagai kursus sangat mengilhami; bahkan Japri yang, sepertiku, sedang dalam fase pijat refleksi. Mungkin memang ada melankoli meski sedikit, terkubur dalam keterpenjaraan, disambar gledek keputusan komando. Mungkin memang itulah waktunya udon tahu jamur, masih dengan mie udang bawang sekali, terpedo udang dan lumpia ayam.

Akhirnya, kepada pemandanganku, sudah jelas aku tak akan merindukan kalian; meski dua kali kita bertemu di tempat cuci. Anak Arab yang dua mingguan terakhir ditinggal kekasihnya, dan selebihnya. Ada waktu-waktunya aku menyanyikan bagi jendelaku sendiri berbagai ratapan dan balada. Aku pasti kembali, Insya Allah dengan berjaya. Ini bukan perpisahan. Ini benjamin mangkudilaga. Ini buck compton. Kaki-kaki Bill Guarnere dan Joe Toye boleh putus. Kakiku Insya Allah menjadi perkasa seperti sedia kala, begitu pula geraham kanan dan apapun mengenaiku.

Wednesday, April 21, 2021

Rabu-rabu Tanpa Alasan Malah 'Ngantor


Aku adalah generasi pembaca Iwan Goya sambil mendengarkan Francis Gayo. Aku bahkan sudah tidak boleh mengaku paruh baya lagi; Siapa yang bisa yakin mencapai usia 90 tahun. Balada untuk Adelina Haratua dengan bas yang menowew-nowew ini agak menjengkelkan sih, tapi, apapun yang terjadi, entri ini harus jadi. Jez yang membuat santai, sedang hujan kopi mengguyur merintik, adalah khayalan mengenai waktu-waktu yang lain. Siang ini cuaca terik bermendung berganti-ganti. Aku melangkahkan kaki perlahan ke kantor, ternyata bertemu Mas Gerben dan Pak Greg Sallatu.


Lantas begitu saja di hari ke-9 Ramadhan 1442 H ini aku tergetar, sedang Roadfill dan Muriel berduet mengenai Menyatu Kembali. Ini setelah aku pulang dari kantor. Nyatanya aku di kantor tidak lama. Aku bahkan tidak tahu mengapa aku ke kantor tadi, jika tidak karena sekadar bersopan-santun. Maka malamnya, setelah buka, kembali 'kuhadapi laptop di kamar ini, sedang Kelompok Moymoypalaboy memainkan Akhir-akhir ini. Mausnya Japri tertinggal di kantor. Ini yang terpenting, karena karenanya aku dapat merasakan lagi lembut mantapnya maus blutut setengah jutaan.

Memang sedih karena pasangannya sudah terbengkalai, HP Stream itu. Kondisinya sekarang menyedihkan. Dompetnya yang dulu elegan biru angkatan laut itu kini buluk. Mau bagaimana lagi, kulit imitasi. Uah, ini sikampret Gerard Joling, seandainya Cantik tidak ngefan padamu takkan 'kumaafkan. Tidak juga. Aku memang suka sudah sedari dulu, peralihan antara SD dan SMP. Cantik adalah cintaku selalu. Kami tumbuh besar dalam rangka-waktu yang sama, sehingga dapat berbagi kenangan, meski diskontinu; Semata untuk mengingatkan betapa hidup di dunia ini fana.

Ohya, ini Ramadhan, sebagaimana yang beberapa kali 'kuabadikan di sini. Ramadhan kali ini bolehlah diberi nama Ramadhan soto. Akankah aku tega memberi makan diriku sendiri soto seperti itu lagi. Semoga tidak pernah terjadi lagi. Semoga soto-sotoku setelah ini semua patut, setidaknya seperti soto bikinan Gerardus. Sebenarnya mudah saja, namun mengapa aku malas sekali. Adakah benar, seperti biasa 'kukatakan, semata karena aku sudah tua. Aku menua, sementara persekitaranku terus memuda. Betapa tidak, gadis-gadisku sudah tumbuh menjadi perempuan.

Pencapaian-pencapaian ini memang harus segera diselesaikan, entah di Agnietenkapel atau Zoom. Setelahnya aku benar-benar ingin mempersiapkan. Apakah akan seperti lelaki tua yang menekuri langkahnya menuju mesjid, sedang bersarung berkoko, mungkin berkopiah. Uah, pada saat begini tiba-tiba Tante Geri Logan memanggil-manggil Cintaku, Cintaku, khayalan masa kecil sampai awal dewasaku. Sekarang cukuplah 'kupandangi anak-anak dan keponakan-keponakanku. Mereka kini yang mengalaminya. Aku tiba-tiba menjadi Pakde Bintonya.

Bagaimana betul mempersiapkan. Apakah para awak Nanggala beserta Harry Setiawan sekali tengah mempersiapkan. Tidak ada yang tahu, maka bersiaplah setiap waktu. Sedang John Gunadi pun bertumor. John Gunadi yang dulu tolol-tololan saja kerjanya sehari-hari bersamaku, bersama kami semua. Dedy yang terkenang steik t-bone Bu Mar "kalau lagi punya duit." Uah, terdengar sangat akrab. Mengerikan namun akrab, namun kehidupan sehari-hari. Sedang Jlaga Iman masih suka WA, sedang Gus Wandi mainan mesenjernya pesbuk. Itulah kehidupanku, yang 'kujalani.

Sekarang belum tercapai. Sekarang aku harus mengingat-ingat bagaimana dorongan seorang lelaki muda di awal duapuluhan. Hahaha tidak ada dan tidak pernah. Aku memang selalu sudah setua ini sejak dan dari kapanpun. Aku selalu menCinta Panjang dan Tahan Lama bahkan sebelum Glen mendendangkannya, bahkan sebelum Pak Pandir makan aprem. Aku tidak peduli. Beginilah aku apa adanya. Jika minggu lalu aku terlambat sekali yasinan fadilah, adakah minggu ini 'kupercepat saja. Glenn yang ini seekor Elang, baru tahu; Seperti rambut bersulam uban.

Tuesday, April 13, 2021

Marhaban Ya Ramadhan 1442 H. Sahur Pertama


Memang sudah tidak bisa lagi sahur. Jangankan yang berat, yang ringan saja 'kurasa sudah tidak sanggup. Masa tiga kerat roti gandum, dua lembar keju gouda muda kurang garam, dua lembar filet kalkun, masih disimbah saus tomat berbumbu dan sriracha, kau kata "ringan". Insya Allah, jika besok sahur, maka cukup dengan semug kecil sup dan semug besar teh. Mungkin sekerat roti gandum. Mana tahu dengan begitu aku masih sanggup minum air agak beberapa teguk. Mana tahu dengan begitu, aku lebih cepat berangkat tidur lagi, karena tidur memang baru empat jam.


Wajah seorang akademisi, semacam Asshieq Mijidlidy begitu
Apapun itu, Alhamdulillah, Allah menyampaikanku pada Ramadhan tahun ini, sebagaimana tahun lalu. Tahun ini pun, selepas sahur aku tidak bisa langsung tidur. Aku malah mengetiki sambil ditemani jez positif dan suara ombak menerpa lembut pasir pantai. Aku tidak ingin berandai-andai, namun suasana hati memang sedang sungguh cocoknya untuk berandai-andai. Uah, bahkan pada diriku sendiri saja aku seakan masih menyembunyikan. Entahlah, mungkin semata aku tidak ingin terlalu cepat bergembira, karena memang mustahil berlabuh jika dayung tak berkayuh.

Begitu saja suasana petang, ba'da Ashar sebelum Maghrib, di Jalan Radio menyelimutiku. Hangatnya cahaya matahari sore, mengapa garasi E8 yang tergambar di benak. Akankah 'kumemuktikan ndalem Yado E4, ndalemnya Ibu, ataukah sekadar khayalan otak kekurangan oksigen ditingkahi dentingan piano dan deburan lembut ombak; sedang tadi sempat membaca-baca cerita horor mengenai rumah di Mahoni 30, Bungur itu. Adakah hubungan antara Yado E8 dan Mahoni 30. Semoga Yado E4 terhindar, dijauhkan dari yang begitu. Naudzubillahi min dzalik!

Tahun lalu aku berpuasa di Uilenstede, masih terasa lamat-lamat. Kini aku berpuasa di Kraanspoor dan aku merasa berbahagia, meski di sini aku dikerubungi anak-anak kecil. Jiwaku yang tua ini lelah. Masih ada beberapa urusan yang harus diselesaikan, semoga lancar dan dimudahkan. Setelah itu, aku bahkan masih menyembunyikannya dari diriku sendiri. Seakan enggan 'kupercaya jika belum 'kulihat dengan mata kepala sendiri. Aku menantinya dengan kegairahan khas seorang tua. Bergairah namun tidak melonjak-lonjak, bukan gairah kekanakan yang melompat-lompat.

Betapa tidak horor, terlebih setelah mendengar kajian mengenai tafsir surat an-Naziat, terlebih yang ada fragmennya. Aku ingat di sofa itu seorang diri menikmati sahurku sambil menyaksikannya, di bawah lukisan pemandangan pedesaan yang tiada seberapa bagusnya. Itu sudah setahun lalu. Setapak demi setapak aku maju. Apa yang ada sekarang sudah lebih baik dari setahun lalu. Insya Allah setahun lagi sudah lebih baik dari kini. Begitu sajalah hidup antara harap dan cemas sepanjang hanya kepadaNya. Tiada habis 'kubersyukur dipertemukan lagi dengan Ramadhan tahun ini.

Berapa entri yang akan 'kuhasilkan Ramadhan ini, adalah bukti betapa aku bergairah menanti-nanti. Kegairahan dalam penantian inilah yang 'kubutuhkan. Mungkin aku sudah seperti Buck Compton atau entahlah siapa. Tak hendak pula membandingkan diriku dengan anak-anak kecil ini, terlebih yang baru mulai. Aku, Alhamdulillah, sudah melampaui tiga perempat perjalanan. Takkan pula 'kusebut "tinggal", hanya 'kan 'kujalani meski thimik-thimik. Ini seperti penantian waktu berbuka. Tidak penting baru sahur atau ketika matahari lingsir, waktu berbuka memang dinanti.

Apakah itu di perpus HAN yang agak dingin dari satu AC saja, atau di Kraanspoor yang hangat sedang suhu di luar di bawah nol derajat selsius, menanti waktu berbuka ya sama saja. Bahkan di Uilenstede kemarin waktu buka tidak perlu dinanti. Ia datang begitu saja. Berpuasa 14 atau 18 jam rasanya sama saja, yang membedakan adalah apakah berbuka dengan gorengan bala-bala dan teh manis jambu hangat masih nikmat atau tidak. Tehnya mungkin masih, namun bala-bala entahlah. Selamat datang Ramadhan. Aku berharap banyak padamu, padaku sendiri, seperti biasa.

Thursday, April 01, 2021

Woy! Main Slepot Tangannya Sempoyongan


Ya, memang masih bukan wanita tuna stereo (WTS), tapi ini kali pertama aku mengenakannya setelah bertahun-tahun gara-gara debaman, ya, dentangan tiada henti yang sudah memasuki minggu ketiga. Bahasa Jawanya jauh lebih parah dari aku, padahal dia mengajar bahkan lahir besar di kedua-dua pusat kebudayaan Jawa nan adiluhung. Beginilah pikiranku melompat-lompat, berkebat dan berkebit berkesiuran, lincah dan liar, sedang badanku sendiri lebih banyak diam dan bergerak pelan seperti seekor kukang. Itu setelah menyeruput susu kedelai tercemar kopi.


Tidak berarti juga entri ini dikasihkan Dedi pada Simbah Eric Victor Burdon. Meski memang keren, tapi hidup liarnya sok musisi '60-an aku tidak suka. Akan halnya aku menulisi ini, ada ular... halah. Pokoknya, belum. Daun-daun masih lama lagi akan berguguran, dan 'kuharap aku tidak akan menyaksikannya yang tahun Gregorian ini. Biarlah 'kusaksikan dedaunan bersemi, sedang awal musim semi ini suhu mencapai duapuluh dua derajat selsius! Hiy, meski gelombang panas, 'kuharap aku tidak akan mengalaminya tahun Gregorian ini. Aku lebih suka musim kemarau basah.

Baik Bu Andras maupun Charlie Chaplin menyuruhku tersenyum, sedang Bu Eko membuatku bernyanyi. Aku, yang seperti Itang Yunasz atau Stringfellow Hawke ini, memang suka bernyanyi. Jika Adjie sangat berminat pada ketampanan, tidak menjadi masalah. Memang benar kata Pakde Gomblohnya: goblok 'dikit tidak apa, asal baik dan rajin. Hinaan dan cercaan membuatku teramat menyukai tragedi sampai-sampai membuat Istriku tersiksa. Apa jadinya pada Adjie. Hinaan dan cercaan juga membuatku memaki. Seperti apa aduhai kiranya dunia tanpa makian.

Alhambra! Bulbul dua kali berturut-turut! Aduhai cantiknya seperti Istriku yang membuatku melafalkannya menjadi naitinggel, tidak lagi naitinjel. Jika habis ini aku membangun peradaban, mau apa dikata. Tidak Gerben, tidak Laurens dapat berkata apa-apa mengenainya. Pernahkah engkau digantung pada ibu jari kaki sedang tangan-tanganmu dibelenggu bandul besi. Lebay sudah tentu, namun begitulah. Biarlah aku menari berputar-putar ditingkahi gaung-gemanya nyanyian bulbul dari masa mudaku, dua kali berturut-turut! Tinggal itu yang tersisa padaku, agar riang rasa hatiku.

Ya, hatiku bernyanyi karena cinta sejati. Cinta adalah sesuatu yang sangat megah. Baru tahu aku kalau terjemahannya begitu, setelah hampir empatpuluh lima tahun hidup. Asaptaga, usap dengan lembut. Balada romantika, entah mengapa begitu saja. Tidak perlu memasang tarjet apapun, selama masih ada ibu-ibu rempong berlejing pink. Selain tragis juga fatalis, itulah akibatnya. Adakah harus 'kuselamatkan 'ponakanku dari nasib itu, 'ku 'tak tahu pasti. Hidup begini adakah hidup yang benar-benar enak. Seperti Tony Benedetto, hidup enak dicium selamat tinggal.

Rasanya seperti edan saban-saban memeriksa pratinjau. Kapan kebiasaan buruk itu harus dihentikan. Adakah sekarang. Bisa jadi. Lihat. Aku tidak terkungkung oleh apapun, apalagi prasangka tolol seperti rata kanan kiri. Toh nyatanya tidak pernah benar-benar bisa rata kanan kiri seperti di Word, jadi hentikan kebiasaan tolol saban-saban memeriksa pratinjau, seperti kebiasaan tujuh lima, tujuh lima, jadi lima dua lima. Lantas kalau tiada yang dihentikan apa akan diumbar saja seperti kengerian menggeliat-geliat. Uah, sampai di sini aku ragu. Aku t'lah terlalu terbiasa.

Kalau dikatakan ini surat cinta, jelas musykil. Namun hatiku rasanya seperti sedang mencinta. Tidak. Aku sudah tidak sanggup lagi berbalada romantika. Cintaku sekarang cinta pensiunan yang lamat-lamat mengalun, tidak lagi cinta muda yang menjompak-jompak. Namun bukan berarti aku sudah tidak sanggup lagi jatuh cinta. Masih. Sekarang saja aku mengajak jatuh cinta, namun yang mengalun lamat-lamat begini. Ada yang mau. Tentu tidak ada kecuali diriku sendiri. Tidak mengapa. 'Kudengar diriku sendiri menyahut ajakan untuk jatuh cinta. Aduh, sungguh syahdu mesra.

Saturday, March 20, 2021

Roku Gering Berlolai-lolai. Bobby Farell


Tadinya di judul itu ada Si Anton. Namun setelah 'kupikir-pikir, Bobby Farell yang melompat-lompat berkeliling-keliling panggung tidak kalah lucunya. Jadi begitu 'lah, petang hari ini aku ditemani kelentang-kelenting piano yang mengaku paling cantik, ditingkahi gericik air dari pancuran bambu. Semua ini dalam upaya mengelabui diriku yang kesepian di dalam sel berukuran 26 m2, yang meski lapang namun tetap saja mengungkung. Asaptaga, dia mengaku paling cantik tapi begitu mainnya, meleset nadanya, sedang badanku di pergantian hari ini terasa masih kurang yes.


Ah, ini pas madunya, sehingga teh lemon jaheku tiada terlalu manis. Benar-benar nekad ini orang memainkan nomornya Philippe Pages. Terserah dia 'lah, yang penting air terus bergericik dari pancuran bambunya. Membawa kenangan melayang ke Magelang, di mana itu, rumah Oom Nonong, atau bahkan selokan di Taman Safari, Cisarua. Dari kecil pun aku tidak suka jalan-jalan. Aku suka jalan-jalan hanya jika sudah sampai di rumah, seperti ketika 'kupandangi bulan purnama di sisi kanan HS-748 dari Surabaya ke Jakarta. Selebihnya datar, tak banyak berkesan.

Mungkin berkesan juga, sampai 'kugambar di buku tulis sebuah biplane. 'Kukhayalkan aku yang menerbangkannya, sedangkan malam berbulan purnama. Kata Mappa, sewaktu SMA aku suka membuat sketsa-sketsa heroik. Setelah tua, aku tidak pernah lagi menggoreskan apapun untuk menggambar. Kerjaku begini saja, bereksibisi. Sedang Tadamichi saja sebenarnya ingin jadi jurnalis, namun berakhir tanpa sesiapa mengetahui. Adakah aku menyukai heroisme atau heroisme tragis. Tentu saja, tidak penting apa yang 'kusukai. Terlebih yang 'kuinginkan, tiada sesiapa peduli.

Uah, entah pancuran bambunya, atau gericik airnya, atau kelentang-kelenting pianonya, yang manapun, nyatanya lumayan membuatku rileks, meski badanku masih terasa kurang yes. Sekarang ini malah ia memainkan salah satu favoritku sepanjang masa. Judul entri ini tadinya 'kubuat dengan perasaan hati antara riang dan jengkel. Riang berlolai-lolai, jengkel beroku gering. Lolai-lolai di ambang malam begini ternyata bisa mencekam, maka 'kubatalkan, sedang aku tidak jengkel lagi pada roku gering. Maka tidak perlu lagi Si Anton. Bobby Farell pun t'lah cukup.

Ada juga hari-hari badanku terasa seperti ini, sedang begitu saja melangkah gontai ke arah kamar Qodir, menemukannya sedang menonton apapun. Memang seharusnya begitu. Di sini pun seharusnya begitu. Beda 'lah. Di sana dahulu dunia bebas. Bahkan bisa saja aku menemani Babe Tafran minum gahwe sambil bercerita-cerita entah-entah. Itu sudah lebih dari lima belas tahun yang lalu. Segala sesuatunya juga sudah jauh berubah, termasuk diriku sendiri. Sudah tidak waktunya lagi bebas-bebas saja. Semua ada aturannya, meski semuanya saja Insya Allah akan berlalu.

Dapat juga kenanganku begitu saja melayang ke Mesjid ARH di petang hari begini, sedang badan pun tiada begitu yes, namun tentu masih ada satu kelas lagi. Jika tidak buat apa aku berbaring-baring di ARH. Ah, perjuangan mencari uang. Adakah ini istirahatku darinya. Tidakkah ini memang yang 'kucari. Pelajaran yang dapat dipetik darinya adalah, jalani saja. Apapun itu jalani saja dengan hati disenang-senangkan, dengan mengucap syukur kepadaNya. Tidak di sana, terlebih di sini, nikmati apa adanya. Seperti gericik air dari pancuran bambu ini, 'duhai menenangkan.

Apakah itu Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandhu Indramayu, atau sekadar orang berkemah sedang tendanya nyaman, menemaniku melewati awal malam sampai tiba waktu tidur. Begitu saja terus sampai aku lupa adakah hari-hariku yang begini benar. Pasti ada, jika tidak bagaimana aku sampai bisa melakukan ini. Aku tidak ingat hari-hari bersama Nona Prym, atau Siti Kejora, atau Ca Bau Kan, dan masih banyak lagi. Pasti sama saja. Tidak pernah benar-benar ada kebebasan di dunia ini. Bahkan jika sampai koq terasa bebas, tepat pada saat itulah kewaspadaan harus ditingkatkan.

Saturday, March 13, 2021

Pingpong Melayu, Bola Pingpongnya Melayang


Aku mengetiki. Lagi. Bukan karena sedang ada yang tidak beres denganku. Kalau itu sih kapan aku beresnya. Di siang hari Sabtu yang mendung berbadai ini, di Amsterdam Utara sini, tidak banyak yang dapat 'kulakukan selain mengetiki. Ditemani oleh anakku genduk Tiara Andini menyanyikan Gemintang Hatiku dengan riangnya, seorang paruh baya, gendut, botak mau apa lagi. Bisa apa lagi. Daripada main Pingpong Melayu yang jelas menguras tenaga lahir batin, mengetiki jauh lebih kecil risikonya. Biarlah pula entri menjadi banyak, tiada juga yang 'kan peduli.


Lantas seorang dokter teman seangkatan dr. Nuri Purwito Adi diceritakan tengah mengkhayalkan Sophia Latjuba. Jih, dari awal kemunculannya saja aku tidak pernah tertarik. Sungguh daripada itu, jika dijejerkan sekali, aku tidak akan berpikir dua kali untuk memilih Pingpong Melayu. Untunglah bukan lagi waktuku untuk memilih apapun, selain menahankan segala sesuatu yang dihamburkan padaku. Seperti kesepian ini. Aku burung dalam sangkar, entah kapan aku 'kan lepas bebas. Kembali makan pagi mie ayam Donoloyo atau nasi uduk Bandung, apapun yang 'kuinginkan.

Kini anakku Ziva Magnolya menghiburku. Dalam kesepianku, aku beruntung anak-anakku ini masih menemaniku dengan suara-suara mereka yang cantik. Terkadang terlintas di benak, adakah suara Pingpong Melayu merdu. Seandainya merdu, mungkin ia tidak harus membiarkan mulutnya disumpal kesialan. Bukan saja tujuh turunan, melainkan seluruh bangsanya. Aku tidak akan mendramatisir seakan bangsa sial menyanderaku, karena ini sepenuhnya tanggung-jawabku sendiri, mau-mauku sendiri, seperti makan siangku di belakang Kartika Chandra.

Aku lupa apakah aku juga dapat sepaket Hokben setelah makan siang itu, atau apakah pada hari itu pula aku naik Hyundai H1. Aku juga tidak tahu apakah Pingpong Melayu merasakan hidup semewah itu, naik turun mobil mewah. Bisa jadi, bisa juga tidak. Memasuki alinea keempat ini sungguh aku merasa bodohnya, karena kalau tidak bodoh ya rasa lapar yang menjelang. Entah bagaimana angan melayang ke restoran Hotel Santika Petamburan yang beberapa kali 'kukunjungi, sedang Hotel Santika Margonda, Depok menyisakan kesedihan seseorang yang tidak dianggap.

Yakin masih ada Pingpong Melayu di alinea ini. Aduhai di luar angin bergemuruh menghentak-hentak sudah dua hari ini. Memang kalau tidak angin kau sudah berani berjalan-jalan ke mana-mana. Entahlah. Haruskah 'kukutuk semua orang yang menertawakannya. Haruskah 'kubiarkan dunia tahu sakit hatiku. Jika sekadar komentar tidak menarik atau lelucon tak lucu bisa saja kuabaikan. Namun insinuasi itu haruskah tiap-tiap kali 'kukutuk. Ah, daripada mengutuk, lebih enak nasi uduk. Biarlah seluruh dunia merasa lebih baik, aku toh buruk, tiada perdebatan lagi tentangnya.

Pingpong Melayu mengingatkanku pada masa mudaku, meski kini aku meminum teh lemon jahe yang jelas tidak mungkin 'kulakukan di masa mudaku. Kopi hitam pahit, bir hitam juga pahit, menemani Djarum Super yang manis sak taek. Apakah sebelumnya nasi tim babi, bisa jadi. Apakah ditemani Atiek CB, pun 'kualami. Betapatah tidak begini jadinya hidupku, dengan semua pengalaman itu. Masih untung diberi kesempatan untuk menghirup harum sajadah, atau terkadang bacin apak juga. Masih untung punya kesempatan menunggu-nunggu datangnya Bulan Suci Ramadhan.

Ternyata Pingpong Melayu terus muncul sampai alinea terakhir entri ini, ketika begitu saja aku terkenang Nasi Ibu Tamin. Apa yang terjadi padaku sampai pikiranku makanan tok akhir-akhir ini, sampai termimpi-mimpi. Apa kau lupa hari-hari tak beruang, bahkan tak tahu dari mana, bilamana datangnya. Apa kau lupa menghitung dan mengelompokkan koin untuk ditukar di Indomaret. Apa kau lupa mengeraskan hati menghubungi Sopuyan pinjam uang. Semoga tidak ada yang terlupa mengembalikan, seperti halnya tiada terlupa rasa tak punya uang, mendera berulang-ulang.

Tuesday, March 09, 2021

Kiska, Lari Susu, dan Lari Kering. Pemulung


Masa-masa yang... masa membuka entri dengan masa-masa. Jika aku belum mengetik apa yang harus kuketik, aku tidak mau menggunakan daftar-mainku yang standar. Dan aku, memulai kalimat dengan "dan", sudah seperti tukang patri di Jalan Ampera, yang terpincang-pincang namun masih terus mengecrek kecrekannya. Seperti berpuluh-tahun telah dilakukan semua tukang patri untuk memberi tahu calon pelanggan mengenai keberadaannya. Seperti tukang patri, aku tidak tahu apakah masih ada lubang panci yang harus ditambal, masih dari panci berlubang.

 
Adakah yang begitu indah, seperti menulis entri di pagi hari Senin. Sedang pakaian belum ganti mungkin sudah seminggu lebih, sedang kemarin atau bahkan kemarinnya dulu belum mandi-mandi. Secangkir susu kedelai dikotori aroma kopi, setelah semug besar teh putih beraroma jeruk dan jahe mungkin. Ketika kunyahan anjing dan lolongan anjing sudah tidak ada bedanya. Ketika kenistaan diulang-ulang sejak lepas balita, yang 'kudapati adalah perasaan kebelet berak di Amsterdam. Syukurnya sedang lokdon dan kurfiu diperpanjang. Jadi saat-saat terakhir pun tak mengapa.

Mingkinan lama mingkinan jijiq saja, namun 'kan 'kukenang selalu. Akan terbaca olehku suatu saat nanti kelak di kemudian hari, masa-masa ketika seringnya padat dan cantik. Jarang, hampir tidak pernah benjret. Kesepianku, sedang aku sekadar mendemagogi diri sendiri. Mana ada kata kerja begitu. Apa peduliku kalau yang peduli hanya aku dan kenistaanku. Selalu 'kulakukan jika aku sedang ingin bersenang-senang, atau merasa nista. Biar 'kutambah pada judul, atau jangan. Biar 'kutelan sendiri saja, nanti pun akan lewat dengan sendirinya, benjret atau padat dan cantik.

Lebih daripada diberaki, aku lebih tidak suka memberaki. Aku tidak peduli kalau lubang mulutku jamban atau bukan, tetapi lubang mulut orang lain sedapat mungkin bukan jamban. Lebih daripada disakiti, aku lebih tidak suka menyakiti. Aku tidak peduli jika harus hancur luluh, tetapi orang lain sedapat mungkin jangan. Kecoak sialan itu mendapati hidup yang lebih puitis dariku, aku tidak suka. Meski lebih tidak suka lagi aku, mengapa harus lebih puitis hidupku dari orang lain. Biarkan 'kubersanjak tentang ketiak penuh berambut seorang pelacur tua, tepat pada ketiaknya sekali.

Akhirnya kata itu yang 'kugunakan untuk mengindikasikan pada judul, bukan cahaya mata. Mengapa, berjalan di pinggir rel dari Barel FH sampai Pondok Cina, terbirit-birit ke Masjid UI bahkan sebelum subuh. Mengapa, berak di lantai tiga atau empat Gedung C FHUI seraya menahan sakit. Jangankan aku, tidak ada yang menginginkan anak pemulung. Apa yang 'kupulung, sekadar upil dipulung-pulung. Aku pun pernah terpincang-pincang berhari-hari setelah berak itu. Sembuh juga. Anakku anak pemulung itu lebih edan lagi. Takut sama om-om, ceunah. Telek benjret!

Astaga, kau jelek meski tidak sampai sekali. Namun justru karena itu ada kedut-berkedut. 'Kuakui, aku belum pernah benar-benar mencoba yang padat dan cantik, seperti yang dikatakan orang-orang itu. Rata-rata yang 'kucicipi mendekati benjret, ya, seperti kecepret begitu. Aku masih ingat, di masa mudaku, aku merayap-rayap mencoba meraba, menjilat telor ceplok. Dan dia memaafkanku, telor ceplok itu, bahkan sayur labu santan putih sekali. Entah sudah berapa telor ceplok 'kulahap, 'kukeremus dalam hidupku. Masih mau lagi, itu goblok namanya, digoreng air atau minyak.

Seperti itu kelakuanmu dan kau mengharap kehadiran seorang anak. Baek-baek jadi Mas Guruh 'ntar. Amit-amit. Tersenyum saja sulit, apalagi sampai tertawa terbahak-bahak, karena memang sudah bukan masanya. Kasir, kadal, kaplok, kampret masih bisa memaksa sesungging. Selebihnya pasti gagal. Kalaupun sampai tersungging, pasti penuh arti. Bagaimana mungkin Tunggul Ametung memerawani Ken Dedes jika bukan gara-gara relasi kuasa. Aduh, jangan dulu. Itu untuk kalau benar-benar menulis. Jangan untuk berolok-olok. Entahlah. Seperti biasa, aku tak pernah tahu.

Tuesday, March 02, 2021

Ninabobonya Negeri Burung Belum Berakhir


Kemarin sore setelah bimbingan, seperti biasa aku gundah durjana. Di gedung tiada sesiapa. Mungkin ada Jeng Arum, tapi sudah gila apa. Tiada lama setelah selesai bimbingan, waktu maghrib tiba. Shalat dulu, langsung berpakaian dingin dan menyongklang vanmoof putih. 'Kulihat di dermaga masih agak sebelas menitan sebelum feri dari tapsiun sentral datang, maka berkeliling dulu aku di lapangan NDSM. Dari tepi air dapat 'kulihat feri melaju dengan kecepatan penuh mendekat. Segera 'kupacu (halah!) vanmoof putih ke dermaga. Tepat sekali. Feri merapat, aku juga merapat.

Tanpa kuduga Gerardus dan Gregorius justru berjalan ke arahku. Namun seorang operator berpengalaman sepertiku tidak akan mudah terbongkar. Maka lewatlah mereka di depan hidungku tanpa prasangka, sampai ketika 'kubentak mereka terperanjat. Berlalulah kami ke Albert Heijn. Masalahnya rantai vanmoof putih belum ada kuncinya, jadi tidak berani 'kutinggal masuk. Itulah kurasa waktunya, ketika menemani vanmoof putih, aku ingat menggosok-gosok lengan atasku tanda-tanda kemasukan. Jojon benar. Dewi Sinta suka masuknya lewat ketiak atau sekitarannya.

Gregorius ternyata sedang semangat menulis. Maka setelah menyiapkan pecel ayam pedas masih dengan sate ayam tak bertusuknya, ditambah semug lemon jahe hangat yang membuatku sulit mengunci pintu, aku menyatroni Gerardus yang ternyata sedang membuat bihun. [Asaptaga, kalimatku seperti disertasi hahaha] Gerardus mengubah tata-letak studionya, dengan tambahan beberapa perabotan baru. Ia seperti membuat semacam "sudut ngencuk," 'ngakunya kata Yudha, dekat jendela. Aku duduk di situ, sedang Gerardus menyiapkan bihun goreng.

Begitulah jika dengan Gerardus, aku menjadi semacam pengamat musik ala-ala. Nampaknya itu topik yang nyaman baginya jika denganku. Ada orang yang bisa memaksakan topik-topik yang disukainya pada orang lain, antara lain Gerardus itu. Aku tidak. Aku jadi ingat Kolonel Henggrho. Ia pernah bilang begitu juga, seraya membandingkanku dengan IGMA Gatot Suprapto. Dengan ini mungkin berakhir laporan pandangan mataku, kembali pada pandangan mata batinku [halah!]. Intinya, aku terbangun keesokan subuhnya dengan perasaan seperti kemasukan. [Semoga tidak]

Bicara mengenai mata batin, [halahmadrid!] jika 'kupikir-pikir, Belanda ini koq ya adanya matryoshka, padahal 'kan harusnya di Rusia sana. Kali ini, urusanku dengan matryoshka sebatas meteran air saja, atau benarkah Bo 'naksir Kristina. [emang gua pikirken] Dulu ada juga kiludidu 'sih. Ah, rasa di lengan atas ini cukuplah sebagai penyaman, meski, seperti yang 'kukatakan pada Gerardus semalam, ini tidak akan berakhir sebelum berakhir. Maka jangan bicara, bahkan jangan sampai terlintas di kepala, mengenai keberakhiran. Jika subuh ini lengan atasku nyaman, ya sudah.

Barusan 'kuhangatkan lagi seduhan rempah-rempah Bengal, setelah satu pak snek beras dari Bang Noor akhirnya tandas. Maka ketika 'kusruput aduhsay agak menyengat, mana lagunya September begini. Yakin pada doa Bapak, sudah itu saja. Meski terasa seperti hinaan "Nabi Bono" itu, tapi Insya Allah aku berprasangka baik. Sudah tentu bukan itu yang dimaksud, hanya saja seperti yang 'kutulis sendiri, aku memang naif. Tidak apa-apa, aku suka dengan peran ini. Beberapa orang mungkin tidak akan percaya. Tugasku hanya memainkannya semeyakinkan mungkin.

Ba'da subuh ini, aku ditemani Ray Conniff dan orkestranya. Jangankan di sini, di manapun, kapanpun, teman selalu menjadi masalah bagiku. Seperti kata Ryan: "Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugrah, tetap jalani hidup ini, melakukan yang terbaik." Jadi ingat Profesor Martani Huseini: "Jangan menyerah. Jangan menyerah. Jangan menyerah." Aku tidak akan berolok-olok mengenai apapun di titik ini, meski blog ini penuh berisinya, seperti halnya kepalaku. Setidaknya tidak pagi ini, yang kini sudah merekah membawa terangnya hari. Suatu hari baru penuh harapan.

Saturday, February 27, 2021

Seporsi Roti Lapis Keju Kalkun Tengah Malam


Terpaksa harus diganti satu-satu, setelah Untuk Kehidupan yang Baik. Setelah itu baru Karenamu. Ini mengerikan. Bisakah aku langsung melukiskannya begitu saja tanpa harus berkomentar ini mengerikan. Karena memang mengerikan. Kesakitan itu, yang entah kapan sembuhnya. Aku bahkan tidak ingin sekadar membayangkan jawabannya. Ini sudah agak berbeda. Ini adalah tivi besar dan sofabed lipat tempat aku terkadang tidur. Pernah juga di kantor depan ditemani Kolonel Marinir Bambang Widjanarko yang membangun Gereja Katolik Santo Yohanes Penginjil.


Baiklah 'kubiarkan saja, biar makin terasa itu peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru. Mana yang ingin 'kuresapi, tepat di pinggir Jalan Radar AURI yang terkadang lewat motor dengan klakson meringkik menjengkelkan, atau Gereja Yohanesnya sekali, yang terlihat dari puncak-atap SDN Pulo. Itulah tempat-tempat yang pernah 'kusinggahi sampai mewarnai jiwaku. Masih terasa dinginnya teras dihembus angin musim penghujan awal 2006, bahkan ketika blog ini belum dimulai. Entah dari mana idenya aku merepotkan Doni Brasco sampai membuatnya menanam bambu kuning.

Memang lebih baik begini, daripada yang mengharu-biru. Apa itu di kulkas yang pernah 'kumaikrowev. 'Kurasa memang di situ pertama kali aku kenal maikrowev, yang sekitar dua tahunan kemudian menjadi magnetron; yaitu di ruang makan mungil nan bau anjing. Kepada siapa aku 'kan menggugat jika hidupku begini amat. Lantas kau mau hidup yang seperti apa. Seperti seorang anak lelaki yang menyimak cermat-cermat sambil meletakkan telunjuk di pelipis, seraya menelengkan kepala. Kau bertanya, mengapa hidup tidak bisa seperti itu saja. Jelas tidak mungkin.

Haruskah 'kucatat di sini bahwa mendekati tengah-malam di Amsterdam perutku lapar. Haruskah aku menyiapkan sekerat roti lapis keju kalkun. Nyatanya bukan sekerat, melainkan satu porsi penuh, terdiri dari tiga kerat roti gandum, dua lembar keju Gouda muda, dan dua kalkun lembaran. Ya, kalkun inilah yang mengakibatkannya jadi satu porsi penuh alih-alih sekerat saja. Biar 'kucatat agak rinci begini, biar suatu hari, Insya Allah, terbaca, sedangkan dadaku basah berkeringat. Mungkin belakang kepalaku pun berkeringat jika sedang gondrong. Begitu itulah saja hidup.

Barusan Baton Huda, seorang sersan dari Batalyon Sikatan, menjejalkan sesuap besar roti lapis keju kalkun ke mulutku, sampai-sampai menempel di langit-langit mulut roti gandumnya, sedang aku hanya dapat menggunakan geraham kiriku untuk mengunyah. Kini aku melayang-layang ke Italia. Aduh, bagaimana tidurku dengan perut penuh begini. Nyenyak. Tanpa mimpi. Bangun pagi, segar dan memberondongkan kata pada draf awal Bab Enam. Lalalala yang cantik dari kecilku, cinta pertamaku. 'Kusambung semua begitu, Al Di La, baru 'kupisah judulnya.

Astaga, dilanjut Langit dalam Satu Bait, cintaku terbaru, karena memang baru-baru ini saja. Setelah aku tua, mungkin di tepi Cikumpa atau Mushala HAN. Akan ada waktunya aku ungkep-ungkep lagi di situ. Entah aku yang di sofa, Hari Abu Luna di karpet atau sebaliknya. Atau bahkan lebih hebat lagi. Ruang sendiri sehingga ada semacam kasur lipat nyaman bila sedang butuh kenyamanan. Aduhai. Sebuah sajadah tentu, yang bukan biru berdakron atau tanpa dakron. Entah seperti apa. Bagaimana dengan jendela, mungkin ada. Apa pun, hidup ini aduhai sungguh indah.

Tinggal bagaimana menikmatinya saja sesuai selera. Apakah bergaya Napolitana, atau negeri jauh mana pun, yang penting tetap di ruangan sendiri. Uah, dapat 'kurasakan lamat-lamat apaknya, atau malah harum lembut baunya sekali. Sejuknya hawa apakah karena AC atau kelembaban alami yang nyaman. Semuanya sungguh nyata, ketika dunia sekali lagi menjadi tempat yang nyaman untuk hidup, meski semua juga tahu hanya untuk sementara waktu. Itulah dambaan. Selain itu aku tidak sanggup membayangkan. Lagipula sudah cukup bagiku begitu saja, tidak lainnya.

Sunday, February 21, 2021

Esok 'Kan Masih Ada, Innamorata. Bukan Utha


Setelah memulai malam ini dengan menyapa seorang asing, sekarang malah meratap-ratap meminta kekasih untuk pulang. Edan! Malam apa ini yang dimulai dengan ini. Dilanjut dengan berselingkuh, ah, sungguh ini menyakitiku. Tidakkah kau tahu malam-malamku selalu sepi. Tidak ada yang dapat diharapkan dari mereka, maka malam-malamku menyendiri bersama kenangan-kenangan sepi. Ini, seperti mengetiki ini. Mengetiki sambil menghadap Ciliwung begini.

Betapa banyak barang-barang, betapa banyak kenangan-kenangan yang sudah tidak dapat dihadirkan fisiknya. Hanya bekas-bekasnya saja yang masih menggurat ingatan, kadang segores, kadang menghunjam dalam. Aku tinggal memilih, mau kenangan yang mana, mau yang sedalam apa. Apakah di tepi Ciliwung, Cisadane, Cikumpa atau Grogol. Ada semua. Semua tempat yang telah 'kusinggahi, entah mengapa sampai disinggahkan di situ. Dapur tempat perawatan sementara misalnya, tempatku melebur nasi dan lauk pauknya bersama sambal menjadi bubur.

Atau tikar rotan di depan tivi tempatku membatin, "aku tidak tahu mengapa aku mencintaimu, tapi aku mencintaimu." Kisah cintaku memang tidak setragis itu, dan mengapa pula aku harus peduli pada kisah cinta siapapun. Tikar rotan di depan tivi tempatku menghabiskan entah berapa malam, berapa pagi, berapa siang, berapa petang, dicintai atau diabaikan. Khayalanku akan cinta seorang perempuan sederhana yang siap-siap berangkat kerja sedang ia mendoakanku. Khayalan remaja belasan tahun yang tak berdaya, hancur hanya beberapa tahun kemudian.

Lantas ini, malam-malam hangat melintasi lapangan parkir yang telah lengang setelah anak ekstensi bubar, sedang aku sendiri anak ekstensi. Melintas entah ke arah Barel atau sebaliknya, ke dalam kampus. Belum, waktu itu belum ada Burger and Grill. Waktu itu hanya ada tas selempang berisi Bondet. Astaga, menuliskannya saja masih terasa sakit. Lalu lambungku mau sehat-sehat saja. Ya, tidak mungkin 'lah. Mau menyalahkan seseorang selain diriku sendiri. Siapa yang mau. Ruang senat dan malam-malamnya yang mengerikan, bangun entah untuk apa.

Ternyata aku sudah biasa melalui malam-malam seperti ini. Bahkan inilah hidupku. Aku sampai tidak ingat bagaimana seharusnya malam dilalui. Setelah apel malam, malam-malam terkadang masih panjang dengan dentingan gitar dan senandung lirih. Setelah ronda malam, malam-malam bisa sangat panjang dengan tindakan, atau bahkan setelahnya. Ketika malam menjelang, semua kesakitan itu bisa saja datang lagi bertubi-tubi. Hidupku memang tidak pernah lepas. Bahkan setua ini aku masih melalui malam-malam seperti ini. Menyakiti. Tidak. Hanya saja harus ditahankan.

Malam-malam tanpa cinta yang sedang 'kulalui ini, entah sudah berapa ribu. Bisa jadi di malam-malam bercinta terhidang sate ayam atau indomie goreng jumbo rasa ayam panggang, namun itu sangat jarang. Sampai-sampai menjadi kenangan indah. Katakan padaku bagaimana cara mengucap selamat tinggal saja bisa jadi di bawah temaram bohlam 40 watt menembus gelapnya kebun durian, atau dinginnya malam menjelang musim dingin di Maastricht. Bisa juga bersiap-siap tindak nang ndaleme Uti, atau mungkin sepulang dari sana ke tempat terindah dalam hidupku.

Mungkinkah bertahan dengan cara ini. Jika kau paham, ini di Amsterdam, di tengah-tengah pandemi korona. Aku sampai tidak tahu lagi harus apa dan bagaimana. Kekhawatiran, ada. Ketakutan, tidak sampai. Kemaluan, tidak akan pernah jatuh cinta lagi. Dari seperempat abad yang lalu, dari Asatron yang sulit diatur volumenya, yang sudah rusak tunernya karena tidak pernah digeser-geser. Stasiun lagu lama terbaik di kota tidak akan pernah kembali lagi, sehebat apapun aku berusaha merekonstruksinya. Namun 'kuyakin kebahagiaan masih akan terus selalu menjelang. Semoga.

Monday, February 15, 2021

Keesokannya Setelah Hari Kasihku Tersayang


Pas foto dinasku sebagai seorang Jenderal Zombi dalam pertempuran merebot Azeroth
Pagi ini aku terbangun dengan ingatan bahwa tehku sudah habis, yang rasa jahe-jeruk itu. Begitu saja aku bersyukur kepadaNya yang telah mengaruniakan kesehatan lahir batin padaku yang hina-dina ini. Para anggota paduan suara Ray Conniff 'kuminta untuk menurunkan kekerasan suaranya sampai dua belas saja pada Asus VivoBook-ku, agar syahdu pagi ini. Betapatah tidak syahdu, dengan roti-sabit keju dan roti-wajik keju, masih ditemani dengan teh hijau harum bunga melati.

Setelah sebelumnya mengambil tisu bekas kapsalon untuk menyeka dahak yang terlempar ke lantai ketika bersin tadi, [Alhamdulillah] hatiku kembali dibuai cantiknya Mawar-mawar Kertas. Perihnya seperti hatiku demi melihat tetangga-tetanggaku bertukar liur dalam rangka hari kasih-sayang. Bahkan sampai 'kumundurkan lagi, sampai kembali ke 'Kutemukan Seseorang Untukku Sendiri. Ini bahkan lebih dahsyat lagi gelegaknya. Gelegak kerinduan pada kemudaan yang bahkan bukan milikku sendiri, namun bagaimanapun membentuk diri dan kedirianku.

Uah, kembali lagi Mawar-mawar Kertas, tepat ketika 'kusadari pada segigit terakhir roti-wajik ada noda darah, mungkin dari gusiku. Pengalaman mengenai kemudaan mengajariku untuk tidak terlalu peduli padanya, dan itu tidak sulit untukku yang masa-bodohan ini. Bahkan ketika Bernie Mengandung Bayi Howie, aku tidak mendengki, meski tidak pernah ada yang mau mengandung bayiku. Memang hidupku tak pernah lepas... dari tali kama, apakah itu sutra atau goni sekalipun. Hidupku punya tujuan yang jelas, punya maksud, dan itu sudah sangat memadai.

Tujuan itu tiada lain adalah untuk menghadirkan kembali Kompleks Angkasa Pura Apron Timur K.28, jikapun hanya untuk sekali lagi, jikapun hanya sekejap mata. Semoga Allah suka akan tujuan itu dan memberkahinya, menunjukkan jalan yang lempang, selempang landasan utama, lancar, dan dimudahkan dalam melaluinya. Pada ketika ini, 'kupandangi Bapak dan Ibu dari sekitar lima-belasan tahun lalu. Tidak, aku tidak takut pada berpacunya waktu, karena waktu memang selalu berpacu sejak pertama diciptakanNya, karena waktuku adalah WaktuNya.


Betapatah aku takkan terbuai, menyandarkan kepala botakku pada buah dada yang penuh dan lembut, sedang botak-botakku dielus penuh kasih, seakan ia ciptaan terindah di dunia. Bahkan aku tidak botak, meski sejak bayi rambutku memang selalu dicukur pendek. Bukan, ini bukan buah dada pelacur, meski buah dada pelacur seringnya harum dan ranum juga. Harum-harumnya pun bukan kosmetik murah, yang meski 'kusuka, namun bukan itu. Apalagi parfum mahal yang sengaja disemprotkan pada belahan di antara buah-buah dada, pun tiada bandul kalung atau apapun.

Jiahaha, ternyata tikus buah hati seorang anak yang jadi korban kekerasan seksual, yang, karenanya, tidak pernah beranjak dewasa, dan melampiaskan kesakitannya pada anak-anak lain. Naudzubillah. Amit-amit, ini sih tidak ada buah dadanya. Kalau begini, bahkan buah dada Anna Nicole Smith pun aku ogah. Bukan itu semua. Ini buah dada tak berkepala, tak berwajah, meski dapat kurasakan gembung perut di bawahnya, halus, lembut. Belahannya agak berkeringat titik-titik, karena memang bohlam lima watt pun cukup untuk menambah hangat bilik kecil.

Sepoinya Angin Musim Panas menerpa wajahku, apakah di jalan apron timur atau sepanjang Margonda. Wajahku tetap wajahku yang dulu, meski buah-buah dada tidak pernah berwajah. Seperti apapun bentuknya, buah dada tidak pernah berwajah, tidak bernama. Hanya bocah tolol yang butuh wajah apalagi nama, mendamba "GFE" hahaha. Aku memutuskan untuk tidak tolol, seperti seorang jenderal zombi yang tidak membutuhkan kepala-kepala zombi dalam balatentaranya. "Apapun yang bertengger di atas leher tidak berguna!" raungnya; sedang di atas lehernya ada kepala.

Sunday, February 14, 2021

Selamat Hari Kasihku-Malang Tersayang-sayang


Mengapa harus memaki. Mengapa tidak mengiba. Mungkinkah aku tidak melihat ke arah jendela. Hei, itu jendelaku sendiri. Mungkinkah aku tidak melihat ke luarnya. Semakin tua, semakin tidak lucu entri-entri di sini. Semakin tidak bermakna, namun ditulis juga. Lantas apa, mau mengasihani diri sendiri. Tidak ada, jelas-jelas tidak ada yang kasihan padamu. Mengapa harus dikasihani, sedangkan Siti Nurhaliza dari bertahun-tahun yang lalu, sedangkan pianonya sudah di lobi kampus. Sedang aku tidak punya rumah. Sedang aku tidak punya kenangan begini.


Apa yang kaudapati ketika menyibak tirai. Kesakitan. Mengapa sakit. Apakah ketuaanmu yang bacin dan lethek menyakitimu. Aduhai, padahal kau harus membiasakan diri. Jangan banyak mulut kalau masih merasa sakit, begitu saja. Ini Hari Palentin. Hari kasih-sayang. Wajar jika di hari ini, di malam ini, orang saling mengasihi-menyayangi. Coba kausayangi rempah-rempah Bengali itu, mungkin akan kaurasakan kasih-sayangmu dibalasnya, lengkap dengan gurih-gurihnya liur dan bau nafasnya. Setua apapun, masih berhak atas kasih-sayang koq. Coba saja jika tidak percaya.

Namun aku menolak percaya. Aku terlalu masa bodoh untuk percaya pada apapun, meski sebelum ini 'kusempatkan menjenguk Togar Tanjung dan Adrianus Eryan. Untung Pak Greg Sallatu mengalihkan perhatianku dengan pertanyaan mengenai kompor dua tungku. Aku mengetiki seorang diri, pernahkah aku lebih seorang-diri lagi dari sekarang ini. Terkenang olehku waktu-waktu berokibi-bedokiki sampai ke Alfamidi di samping Sederhana, sedang, seperti biasa, berpikir yang tidak-tidak, hanya untuk kembali ke kamar kosan Jang Gobay. Lengang. Sepi. Hangat berkeringat.

Lantas kamar hotel di Palembang! Nah, itu malah lebih tematik. Itu juga lengang, sepi, namun mungkin dingin. Masih ingatkah tolol-tololan main sotosop, padahal bukan itu yang dibutuhkan. Biar 'kutulis di sini. Bulanan. Hahaha, tidak berani. Jadi pengalaman ini bukan baru. Sudah selalu 'kurasakan entah sejak kapan. Sudah tentu lebih lama dari kamar hotel lengang lagi sepi nan dingin di Palembang, malah tolol-tololan sotosopan. Nyatanya aku selamat sampai sekarang, semata karena Belas-kasihNya. Tiada lain! Jadi biarlah kenangan melayang ke bawah toren di Cimone...

Seperti yang 'kurasakan sejak bangun tidur pagi ini, bukan kali pertama. Sudah beberapa kali pula bahkan sambil mengetiki, kalau tidak percaya lihat-lihat saja entri-entri yang lalu. Pagi-pagi sudah bergosip dengan Hari Prasetiyo, salah satu adik yang akhirnya menjadi kesayanganku, keesokan paginya setelah malam Palentin yang syahdu, bagi tetangga seberang halaman. Alinea ini kuteruskan setelah sebelumnya menyiapkan secangkir susu kedelai dikotori seciprat kopi a la macchiatto, sedang cangkirnya dibuat di Oslo, Norwegia. Coba kurang keren bagaimana lagi aku hahaha.

Setelah itu masih disambung ngobrol lumayan lama dengan Mentor Riauwan. Betapa aku menyayanginya, terlebih ditingkahi Setelah Bercinta oleh tetangga seberang halaman. Mentor Riauwan memrentahkan membuat sebuah video obituari dalam memperingati seribu hari wafatnya Pak Teddy Rusdy. Selain aku juga Letkol CHB Sandy Maulana Prakasa diprentahkan dari Paradua. Begitu itulah bentuk kasih-sayangku, di hari kasihku-malang-tersayang ini, kepada Mentor Riauwan dan Kawan Sam, tanpa berdekapan bertukar liur, tanpa mengelus-elus belakang kepala.

Sebelum itu sempat juga berbalas pesan instan dengan dr. Inarota Laily, yang menanyakan ihwal kakiku. Namanya selalu mengingatkan pada lagunya Dino Martino. Begitulah pagiku setelah malam hari kasihku-malang-tersayang, ketika tatap-mataku sendu, seakan kasih sebening kaca. Nasib tak pernah 'kuratapi, 'kuterima dengan tawa. Kehidupan 'kuolah bagaikan menggarap sawah, mumpung tahun kerbau logam. Namun logamnya mulia, jadi lembek. Jadi tidak mungkin jadi garu apalagi luku. Mungkin sawah itu semacam investasiku, a la tuan tanah. Begitu.

Thursday, January 28, 2021

Tahun Baru Sudah Hampir Masuk Bulan Dua


...dan memang tidak semua tahun ada entri yang menyelamatinya. Akan halnya aku mengetiki ini, bukan semata agar Januari 2021 ada entrinya, melainkan untuk mencoba menjinakkan binatang-menulis. Membaca-baca entri-entri yang lalu, ada kerinduan untuk mengabadikan kegiatan sehari-hari atau menganalisis kejadian-kejadian. Jika aku cukup iseng, mungkin akan 'kutelusuri, sejak kapan aku menyatakan permusuhan dengan makna. Pembicaraan dengan Togar Tanjung mengingatkan suasana kebatinanku pada saat itu, ketika kata-kata masih bermakna.


Nyatanya pikiran masih liar kebat-berkebit. Haruskah 'kujinakkan sekarang, atau 'kuikuti saja liar gelinjangnya. Tapi ini 'kan entri bukan disertasi. Bagaimana dengan kerinduanmu tadi, yang membuatmu bisa merasakan, ya, menghadirkan kembali suasana persekitaranmu ketika itu. Dapatkah serakan makna ini melakukannya, sama seperti lukisan rinci kegiatan, analisis kejadian. Hahaha, baru sampai sini saja sudah terasa jijik. Memang aku tadi sarapan pukul sebelas menjelang tengah hari waktu Amsterdam Utara, dengan rendang basah vegan dan sop sisa-sisa.

Seekor Merpati Putih mencoba menentengku ke masa ketika aku dibuai di awang-awang. Namun aku sudah terlalu berat untuk ditenteng oleh cakar-cakarnya yang mungil. Tidak ada pula keinginan padaku untuk membiarkan diri diterbangkan ke awang-awang begitu, mana sekarang jaman kopid. Di usiaku yang menjelang empat puluh lima, Insya Allah, Agustus tahun ini, aku memang sudah banyak berubah. Sulit bagiku merasakan kembali apa yang 'kurasakan ketika masih tiga puluh lima atau lebih muda lagi dari itu, terlebih dalam situasi ishoma (isholasi mandiri).

Jadi, 'kurasa, aku 'tak sanggup lagi, 'Gar. Sopuyan Sang Mutiara sudah mendapat restu dari istrinya untuk tidak mencari uang dan fokus mengejar propesor. Mengejar, bahkan aku sedang terpincang-pincang. Aku hanya ingin mencinta sekarang. Mungkin kau masih harus mewujudkan doa-doa Ibumu. Aku pun. Semoga segera terwujud. Bila sudah, aku hanya ingin mencinta. Kita ada karena cinta. Kita hidup pun [seyogianya] dalam cinta. Di dunia ini, ketika cinta dipermain-mainkan, ketika cinta tidak pernah menetap, aku senang karena ada Istriku Sayang.

Dahulu aku masih sering melakukan ragaan-ragaan dari yang heroik sampai erotik. Kini, ketika raga sudah semakin menunjukkan tanda-tanda keausan, jiwa belum lagi tenang. Apakah dengan 'kulampiaskan di sini, akan habis kebat-berkebit itu, atau justru makin menjadi. Aku 'tak tahu. Apalah yang aku tahu. Ini saja, Seekor Merpati Putih, 'kurasa aku masih ingat betapa ia mengharu-biru empat tahunan yang lalu. Kini, yang seperti ini tidak mengusik jiwa, hanya raga yang masih terus-menerus bereaksi kimia. Aku tidak menyalahkan, namun 'tak berani juga sekadar mengikuti.

Seperti sekarang ini, aku tidak yakin ini dalam rangka menjinakkan. Aku hanya tahu, malam ini aku harus berusaha tidak mencari mangsa, jika tidak mau jadi orang tua menjengkelkan. Merpati Putih yang penting Seekornya, entah mungkin ia tengah menjalani kehidupannya yang tidak sesemarak bayangannya ketika remaja, atau bahkan jauh lebih baik. Rasa tidak pernah benar di raga, selalu di jiwa. Aku hanya bisa mendoakan, membumbungkan madah cinta bagi semesta, seluas yang mampu 'kujangkau. Jika masih 'kulakukan, semata-mata mekanis. Tidak lebih.

Sudah barang tentu, tidak mungkin aku mendaku apapun kecuali yang jelek-jelek, yang nista-nista. Hidup [di dunia] ini Sekadar Impian, seperti tidurmu yang menimpa lengan kanan ditukar yang kiri, berbolak dan berbalik, berganti-ganti mimpi. Entah berkualitas atau tidak tidur semacam itu, namun itulah kenyataan tidur di atas kasur 'tak berseprai. Masih mending sekarang ia tidak berkeriat-keriut ketika engkau berguling bolak-balik. Kasur pegas itu telah 'kaulalui. Insya Allah, seperti halnya kasur itu, semua ini pun akan berlalu dengan kebaikan Sang Maha Baik.

Thursday, December 31, 2020

Untuk Bayi-bayimu, yang 'Tak 'Kupercaya


'Gar, mungkin kau jengkel, atau setidaknya bosan, membaca entri-entri Kemacangondrongan, karena kebiasaanku menyerakkan makna, karena pendirianku bahwa makna pun perkakas, seperti halnya bentuk dan bunyi. Mungkin kau masih mendamba makna. Aku tidak bisa menyalahkanmu. Siapa yang tahu berapa lama lagi kau harus hidup di dunia. Seberapapun lamanya, kau pasti ingin memaknai hidupmu, meski, kau tahu, aku akan mencelamu karena menjadi terlalu biasa. Kita memang harus biasa, 'Gar, harus lumrah, dan lumrahnya hidup itu bermakna. Begitulah lumrahnya.


Harus segera 'kususulkan di sini, dan ini 'kutujukan pada kalian, 'Rid, 'San, [aku tidak tahu apakah Hari Prasetiyo segabut itu] Togar Tanjung di sini bukan semata Bapaknya Duma. Ia sesungguhnya adalah tokoh khayal dalam semesta paralelku, yang bisa 'kubentuk sekehendakku, berbunyi sesukaku, dan, terpenting, nirmakna. Meski begitu, satu hal yang sama antara Togar Tanjung yang Bapak Duma dan Togar Tanjung dalam semesta paralelku, rambut keduanya sama-sama awut-awutan seperti keset welkom. Jadi ini sebenarnya surat yang lusuh dan lecek, berantakan.

Tidak seperti 2018, tidak juga seperti 2019, apakah aku harus pura-pura tidak tahu, pura-pura tidak peduli. Keterkurungan tanpa nasi uduk bulu ayam yang membangkitkan gambaran-gambaran mengerikan. Mengapa harus ada yang mengakibatkan harus mandi sampai demam. Tidur dengan baju lebih dari lengkap, meski agak dua jam kemudian melucuti satu persatu. Ini semua... bermakna hahaha. Terkadang tidak juga, namun justru di situ letaknya, seperti bioskop Rahayu Theatre atau apapun. Kebanyakan memang mengenai masa lalu. Ada juga sedikit masa depan.

Apa yang menjengkelkan ketika pertemuan pertama, pada nilai mukanya, bisa jadi mengundang senyum setelah sepuluh tahunan. Setelah sepuluh tahunan itu berhasil dilalui, sungguh menakjubkan, dengan selamat. Ini pun, sekiranya diizinkan, akan menakjubkan ketika berhasil dilalui dengan selamat. Memang bentuk tanah yang aneh di apron timur itu sangat khas, meski tidak sampai sehebat Singa yang menelusuri jalan pulang ke rumah dari belasan ribu kilometer jauhnya. Ini bahkan jauh lebih menjengkelkan. Siapa sangka ia akan menghuni daftarmainku setelah lebih sepuluh tahun.

Benar-benar seperti tai diberakin kampret, baik bentuk maupun bunyinya hahaha. Ampuni hamba, Ya Allah, jadikan ini semata cara hamba bersyukur padaMu. Apalagi ini, kemudaan. Apalah arti itu semua. Akankah berarti, apa yang harus 'kulakukan. Apa yang 'kuyakini. Aku tidak yakin. Aku hanya merepotkan. Mengapa banyak sekali aku. Mengapa akal sehat dan hati nurani seakan tidak bekerja. Apa yang 'kutahu mengenai akal sehat dan hati nurani. Entah mengapa tiba-tiba aku ingat Lapangan Alexander, karena aku berhasil melaluinya dengan selamat.

Tirai telah terbuka, menampakkan potong atas. Aku terlempar jauh ke dalam Debbie jurusan X-deres ber-AC yang selalu 'kutakuti, belum lagi segerombolan bau tai. Jika tidak dicatat, mungkin tidak akan pernah ingat kesan utama suatu masa. Utama, kata siapa. Kataku sendiri, karena hanya itu yang jujur. Tidak banyak berguna. Tidak ada yang peduli juga. Betapa dalam lima belas tahun dari acuh tak acuh menjadi tolol. Betapa banyak perubahannya dalam kurun itu. Aku hanya harus menahankannya sebentar lagi. Tidak perlu mengeluh. Tidak usah mengaduh. 'Takkan lama.

Tidak perlu jengkel juga, mengapa beberapa menarik hati sedang lainnya berat hati sampai 'tak jadi. Jika kau ingat lebih dari lima belas tahun lalu begitulah terjadi. Apa yang kau ingat. Tahu petis di depan Gramedia Depok yang semakin tidak relevan itu. Terlebih fotokopi. Bahkan pendidikan tinggi bisa jadi somay, indomie, atau okonomiyaki. Ini adalah alarm atau nada-dering dari waktu-waktu itu, di pojokan di mana segalanya terjadi, bermula. Jangan pula kau tanyakan mengapa. Aku memang cengeng. Sungguh semua terasa seperti tiada arti. Makna. Tiada.

Monday, December 21, 2020

Tadinya Sebuah Nama, Namun 'Tak Jadi


Ya, sebuah nama yang gagah, sesuai dengan orangnya. Namun sekarang aku jadi bertanya-tanya mengenai yang memberi nama. Mengerikan sekali nasib yang menimpanya. Aku mendengarkan kaset nada-nada sok ngejez terbaik dari 37 tahun yang lalu. Adakah itu nasi uduk yang dijual oleh seseorang yang anaknya masuk ke dalam dasternya, lalu si anak berkata, "tai, tai, tai." Astaga sudah dari jaman itu. Aku masih ingat rasanya. Aduhai. Aku tidak peduli dengan dunia ini, sudah tegas dikatakanNya. 'Kujalani sedapat-dapatnya, dari hari ke hari. Yang penting-penting saja.


Ini lagi rendisi Tante Dionne mengenai Hari Kita Akan Datang. Ya rendisinya, ya kenangannya. Aku tidak mau mengenang-ngenang, karena lengan bawah kananku sedang aneh. Aku memanaskan minuman havermut rasa coklat terlebih dulu, setelah sebelumnya semug besar teh hitam dengan rempah-rempah musim dingin. Sementara aku diganggu atau justru asyik dengan semesta paralel, dunia mungkin sedang mempraktikkan yang senyatanya, das sein. Akankah aku dihukum karena pikiranku mempemainkanku, das sollen. Antara ought dan is, ada juga.

Semata-mata reaksi kimia. Semata-mata KesepianNya. Begini memang caranya. Kronologi adalah ilusiNya sekaligus IlusiNya, atau dengan kata-kata lain, Sang Kala. Terombang-ambing di antara aku adalah dualitas. aku adalah genap dan kegenapan. aku, siapapun di alam ciptaan ini, tidak ganjil, tidak ada yang unik, karena Unik adalah Hanya. Lama-lama menjengkelkan maka 'kuganti dengan yang ada Seandainya Engkau Berada dalam Pelukanku Lagi, yang mengharu-biru banyak anak bocah sebayaku. Haruskah 'kumembenci diri sendiri, pasti banyak lainnya.

Robek di arah jam satu, tiga, lima, tujuh, sebelas, hahaha. Ini 'sih kena petasan ciplik, sedang Si Ciplik tidak henti-hentinya memaki. Mengapa. Tidak. Sungguh, aku tidak menertawakannya atau nasib yang menimpanya. Aku menertawakan deskripsi itu sendiri. Nyatanya belum 'kuganti juga gara-gara Sergio Mendez, meski ingin sekali 'kumenoyor kesokcerdikan pilihan-pilihannya. Oh, aku bisa rampak begini. Atas izinNya, segalanya akan indah pada waktunya. Aku tidak pernah merobek apapun, dan tidak pernah ingin, seperti 'ku 'tak pernah ingin reebok, etc.

Aku memang tidak harus peduli. Aku hanya harus menjalani sampai selesai. Sudah begitu saja. Akan halnya aku kembali ke suatu siang pada suatu rombong rokok di depan gardu listrik, sampai digantikan oleh anaknya masih di situ juga, tidak pernah terjadi di alam nyata. Aku bicara praktik padahal aku orang yang paling tidak praktis. Meski harus 'kusebut teras Oom Karyadi dan kol banda. Aku tidak keberatan dan tidak punya preferensi. Sampai hari ini selalu saja kebatan dan kebitan, tidak pernah lebih, tidak pernah kurang dari itu. Akan berakhir, itu pasti. Bersabarlah.

Akhirnya aku membayangkan diriku berakhir di GerobakgoyanG, mungkin tidak. Mungkin aku berhasil mencari pertolongan. Namun buat apa. Yang penting adalah segala sesuatu sebelum berakhir itu. Antara disayangi dan disia-siakan sudah sehari-hari. Yang mana aku tidak pernah akan tahu, karena tidak penting juga. Hanya saja, membayangkan GerobakgoyanG sungguh menyenangkan, atau mungkin tinggal itukah kesenangan. Sebuah ruang belajar yang permai mungkin tidak akan pernah kudapati. Bahkan gardu belajar sudah tidak... apa. Entahlah. Lupa.

Kekecilannya. Antara posisi duduk dan ukuran huruf, 'kumulai lagi di paragraf terakhirnya. Entah mengapa aku kembali ke sini, setelah hampir lima belas tahun. Waktu yang 'kuklaim 'kuhabiskan bersama nelayan. Mungkin benar, dalam khayalku. Semoga Allah menutup aibku, mengampuniku, memaafkanku. Paragraf terakhir ini 'kutambahkan ketika badanku terasa meriang disko, gara-gara mandi. Seharusnya tidak boleh, namun aku melemparkan diri ke sekitar sepuluh tahun yang lalu. Masa lalu hanya indah karena aku berhasil melaluinya dengan selamat. Sudah.

Tuesday, December 01, 2020

Aku Kembali ke Jalan Panjang yang Berliku


...dan aku lupa di mana harus berhenti. Atau di mana harus mulai. Semuanya telah tiada. Sawah-sawah itu. Bangau tongtong itu. Tanah merah berdebu itu. Semua dari akhir 1980-an. Semua dari 30-an tahun yang lalu. Dan rambutnya yang keriting kemerahan. Tidak ada artinya bagiku itu semua, ketika sebuah rumah kosong di bilangan Jalan Jakarta menghancurkanku. Ah, tidak juga, memang sudah hancur dari sananya. Sejak di Kemayoran sampai di Amsterdam hahaha. Ini lebih dari sekadar ketololan. Ini kengerian. Sungguh semoga ini semua segera berakhir.


Entah kapan mulainya, musim panas lalu aku sering mendengarkan jez kethuwil-kethuwil nduliti tuts piano. Barusan aku jengkel padanya dan menggantinya dengan... Nada-nada Sokngejez, dimulai dengan Merayakan. Jengkel juga sih, tapi malas pula untuk menggantinya. Oh, itu waktu-waktu yang mengerikan. Bahkan sampai sekarang pun masih mengerikan. Mulainya entah kapan, menghentikannya entah bagaimana. Setelah Cinta Pergi adalah waktu-waktu ketika Jalan Panjang Berliku telah digantikan Perumahan Harapan Kita. Mengapa aku harus melalui semua.

Dan lampu bohlam yang dikerobongi rol bekas tisu gulung, digunting pada beberapa tempat agar muat masuk bohlam ke dalamnya. Remang-remang jadinya, sejuk juga udara seingatku. Entah musim penghujan tahun berapa. Akhirnya, aku tidak akan mengerang. Tempat tidurku di atas, hampir sejajar dengan erang-erang asli. Karena kami tidur di tempat bekas praktek dr. Hardi Leman, yang menurut Ibu masih suka mengaduk-aduk minuman tengah malam. Betapa mengerikannya. Bahkan anjing suka melolong di Enge datang nyamuk pu hilang. Khayal belaka semua. 

Iaitu Dina dan Maureen, atau buah-buahan menggelantung ketika menyapu halaman di pagi hari. Toh, aku lebih sering telatnya. Meski Herman sudah memanggil-manggil mengajak berangkat bersama, aku justru baru bangun. Misteri Tebing Menyala boleh beli di Kisamaun, seingatku buru-buru pulang langsung mencret. Bersama Pak Tuek ketika itu. Kau Membuatku Tersenyum Kembali. Siapa, Yuli binti Markus atau John Kotelawala, atau jalangkung di rumah kosong. Semoga tidak ada lagi yang mengalami apa yang kualami, yang masih harus kualami baru saja.

Cocok ini menemani suasana setelah hari mulai beranjak malam. Programa Dua menayangkan kalau tidak Square One ya Valerie. Lebih malam lagi ada Supercarrier dan Fun House. Aku tidak ingat apakah pada saat itu masih ada Balki atau Gus Witherspoon. Yang jelas ada Bravestarr dan Mandy Smith yang sudah tidak sabar menunggu waktu bertemu denganku. Ada juga suatu malam ketika sepasang mata mencorong memandangku dari dalam gupet. Dingin, seingatku. Apakah di lantai. Ah, biar 'kucatat di sini. Rah Band - Clouds Across the Moon. Ngejez apanya.

Akankah 'kusesali selamanya, betapa aku, anak Bapak Ibuku, menjadi begini. Sesuatu yang 'kurintis sejak di Kemayoran, lanjut di Kebayoran, menjadi di Cimone, mengerikan di Kebayoran, Magelang, Surabaya. Aku tidak mau mengerang. Tidak lagi penting mengapa mulai. Jauh lebih penting bagaimana mengakhiri. Terkadang rasanya seperti disambar-sambar, berkelebat berkesiuran di dada. Entah sudah lebih dari setengah kujalani atau justru tinggal sebentar lagi. Aku yang pura-pura alim padahal kehijauan ini. Tidak. Aku anak Bapak Ibuku. Itu saja. Tidak lebih.

Malam ini awal Desember, berhujan di Amsterdam Utara. Tidak banyak yang dapat 'kuceritakan mengenai perihalku di sini. Aku justru menghamburkan kepingan-kepingan diriku, serpihan-serpihan ingatan yang tidak hendak pula kususun menjadi utuh kembali. Ingatan-ingatan yang tidak henti-hentinya mengganggu, seperti ketika Patti memintaku untuk mengatakan padanya, aku mencintainya. Selalu saja aku kembali ke jalan panjang yang berliku, setelah setua ini. Semoga ke depan, entah panjang atau bagaimana pun itu, tidak lagi berliku. Lempang saja adanya.