Aku ini siapa. Memang aku ini apa. Gide Lusinan atau Komodus sekali, Bruno Mars atau Bi-O-Bi juga. 'Ku tenggak sisa teh melati lebay dari dasar gelas permata sepat terasa. Akankah 'ku penuhi lagi dengan air panas. Namun ini bukan cangkir kertas dan sarapanku tadi tidak nasi uduk dikepret sambal terasi bertabur bawang goreng dan suwiran ayam goreng dan sak'dlemok orak-arik telur masih ditambah roti tipis lipat berisi sak'templok orak-arik telur, sekerat keju cheddar Amerika dan sosis ayam. Bukan. Tadi nasi singkong-jagung, setengah kentang kecil disemur, sebutir telur disemur masih dengan kuah semurnya, acar kuning, tumis labu siam.
Kini, di Sabtu pagi yang telah larut ini, yang panas gerah membalsemi, aku berkeringat-keringat berdursastra. Burung-burung malam tiba-tiba saja berkelepak berseliweran di atas kepala setelah tak lagi berima. Bukan. Mereka bukan lawa, codot, kampret dan sebangsanya, meski mungkin kelakuan mereka mirip: mengeremus buah-buahan, menghisap sari-sarinya, atau sekadar mencaplok nyamuk sial yang kebetulan lewat di hadapan moncong mulutnya. Kau mungkin harus memaafkan mulut kampret ini. Memang begitu kelakuannya jika sampai bertemu bebuahan.
Di usia pertengahan 40-an, seorang lelaki berkumis gagah perkakas, yang biasa menuntun arah pergi-pulangnya pesawat udara sampai seluruh bangsa, berada pada persimpangan jalan. Sesuai pengalamanku sendiri, itulah titik di mana seorang lelaki berubah menjadi bapak. Namun sang lelaki berkumis gagah perkakas memilih untuk menjadi lelaki karena ia memang tidak pernah menjadi bapak. Bahkan ketika ia menjadi lelaki untuk kedua kalinya tak kunjung pula menjadi bapak, meski sampai ada dua anak lelaki. Begitulah lakon nan harus dijalaninya di panggung dunia.
Kepulangan itu jua yang ditunggu-tunggu. Aku tidak akan pulang seperti Admiral Ugaki. Ia menentukan oleh diri sendiri hari kepulangannya. Hari kepulangan setiap orang sudah ada, sama seperti hari kedatangannya. Seperti hari kedatangan yang disembunyikan dari semua orangnya sendiri, begitu pula hari kepulangan. Memang begitu aturan mainnya. Namun ada satu yang dapat ditiru dari kelakuan Admiral Ugaki: ketetapan hatinya dan hati entah berapa orang yang berjubel dalam Yokosuka D4Y-nya. Ayo kita pulang. Pelaut-pelaut Amerika itu tidak mau pulang, pokokmen kita mau.
Ah, Mbak Niken terlalu memuji menyebut ini sastra. Kalaupun iya, ini dursastra. Mungkin ia begitu karena aku menyatakan setuju pada formulir yang disodorkannya kemarin dan menandatanganinya. Aku saja tidak setuju pada segala kemacangondrongan yang terjadi di sekitarku. Lagipula, ini sekadar cara untuk melampau waktu menunggu datangnya jemputan sambil termangu-mangu. Seperti Sunan Kalijaga menjaga kali, mau tidak mau ditumbuhi lumut, kumis misai cambang bauk. Ah, Tante Geri lagi dari kecilku selalu hampir membelai-belai jiwa-jiwa nan merana.
Kini, di Sabtu pagi yang telah larut ini, yang panas gerah membalsemi, aku berkeringat-keringat berdursastra. Burung-burung malam tiba-tiba saja berkelepak berseliweran di atas kepala setelah tak lagi berima. Bukan. Mereka bukan lawa, codot, kampret dan sebangsanya, meski mungkin kelakuan mereka mirip: mengeremus buah-buahan, menghisap sari-sarinya, atau sekadar mencaplok nyamuk sial yang kebetulan lewat di hadapan moncong mulutnya. Kau mungkin harus memaafkan mulut kampret ini. Memang begitu kelakuannya jika sampai bertemu bebuahan.
Di usia pertengahan 40-an, seorang lelaki berkumis gagah perkakas, yang biasa menuntun arah pergi-pulangnya pesawat udara sampai seluruh bangsa, berada pada persimpangan jalan. Sesuai pengalamanku sendiri, itulah titik di mana seorang lelaki berubah menjadi bapak. Namun sang lelaki berkumis gagah perkakas memilih untuk menjadi lelaki karena ia memang tidak pernah menjadi bapak. Bahkan ketika ia menjadi lelaki untuk kedua kalinya tak kunjung pula menjadi bapak, meski sampai ada dua anak lelaki. Begitulah lakon nan harus dijalaninya di panggung dunia.
Kepulangan itu jua yang ditunggu-tunggu. Aku tidak akan pulang seperti Admiral Ugaki. Ia menentukan oleh diri sendiri hari kepulangannya. Hari kepulangan setiap orang sudah ada, sama seperti hari kedatangannya. Seperti hari kedatangan yang disembunyikan dari semua orangnya sendiri, begitu pula hari kepulangan. Memang begitu aturan mainnya. Namun ada satu yang dapat ditiru dari kelakuan Admiral Ugaki: ketetapan hatinya dan hati entah berapa orang yang berjubel dalam Yokosuka D4Y-nya. Ayo kita pulang. Pelaut-pelaut Amerika itu tidak mau pulang, pokokmen kita mau.
Ah, Mbak Niken terlalu memuji menyebut ini sastra. Kalaupun iya, ini dursastra. Mungkin ia begitu karena aku menyatakan setuju pada formulir yang disodorkannya kemarin dan menandatanganinya. Aku saja tidak setuju pada segala kemacangondrongan yang terjadi di sekitarku. Lagipula, ini sekadar cara untuk melampau waktu menunggu datangnya jemputan sambil termangu-mangu. Seperti Sunan Kalijaga menjaga kali, mau tidak mau ditumbuhi lumut, kumis misai cambang bauk. Ah, Tante Geri lagi dari kecilku selalu hampir membelai-belai jiwa-jiwa nan merana.
Jiwa yang berkhayal melakukan penghormatan lambung kiri kepada Arizona dari atas kapal induk bertenaga nulik kelas Nimitz, sementara Ma Cherie Amor berkumandang dalam angan, betapa merana. Seperti Slote tua menyiapkan ramuan malam yang kuat, menghidangkannya pada Natalie sambil menyenggol piringan hitam mengumandangkan serenata cahaya bulan [lho, serenata kok bulan?]. Masih jauh lebih mending daripada kecerdikan serenata jiwa lara, mana yang nyanyi bintang iklan lifebuoy. Uah. putri duyung. Ini mengapa jadi laut-lautan begini paragraf.
Dalam anganku, aku mencebur ke dalam lautan teduh nan tenang dari geladak hangar, karena geladak terbang terlalu tinggi. Bisa juga di bawah naungan Suribachi ketika sudah tidak ada perlawanan lagi dari tentara kekaisaran, aku bermandi-mandi telanjang di dingin asinnya air lautan teduh dengan ombaknya yang nyaman menyapu-nyapu. Apapun yang dilakukan Doc Bradley tidak akan sanggup menghapus gambar bentuk Iggy ketika akhirnya ditemukan, sampai hari kepulangannya. Mister B ditemukan tersengal di tangga, dipanggilkan ambulans, sudah itu pulang.


No comments:
Post a Comment