Friday, July 29, 2022

Ini Dia Satu yang Kaucinta Meminta Sehari Lagi


Ketika menulis entri, aku menulis mengenai segala sesuatu yang dekat denganku, baik di dalam maupun persekitaranku. Aku, yang jelas, saat ini tidak boleh bercerita mengenai layar yang terasa aduhai lapang, demikian pula papan-kunci yang membuat tanganku sulit terpancang pada tumitnya, karena ini adalah sebuah retroaksi. Aku bahkan tidak tahu lagi apa patokanku kini. Akan kucoba saja menulis sebanyak enam baris tiap-tiap kali dan melihat tampilannya. Melodi yang tidak terantai ini entah mengapa mengingatkanku pada kamar cilik dan dressoir yang tadinya ada pemutar piringan hitam di atasnya.

Biarlah aku mengetik saban-saban enam baris begini tanpa memperhatikan rata kanan-kiri. Mungkin lama-lama aku akan lupa bahwa di pojokan situ ada tombol pratinjau, sedangkan kamar Merel yang selalu bersih dan rapi begitu saja hadir dalam ciptaku. Seperti ketika ia tiba-tiba muncul di belakangku, di kamar Baron di pojokan itu. Siapapun, apapun tahu jika aku lembut hati. Aku terlalu baik pada semua orang sampai-sampai beberapa memanfaatkan aku, hanya kepadaNya aku dapat berlindung dari yang seperti itu. Seperti halnya Ialah yang mengaruniakan padaku kelembutan hati. Kelebihan atau kekurangan sudah tidak penting.

Aku sudah mulai mengulang-ulang ceritaku seperti jompo pikun, sampai-sampai Togar memotong ceritaku. Seperti halnya khatib Jumat di Masjid Ukhuwah Islamiyyah hari ini bercerita mengenai macam-macam perhitungan tahun. Adakah Merel menjadi nelayan karena aku sok-sokan cerita mengenai nelayan. Adakah aku harus menjepitkan fonkepala Macson pada tulang-tulang pipiku karena pura-pura mau mendengarkan dan menjawab adzan. Adakah ketak-ketuk papan-kunci ini terdengar keras, tidak seperti Asus VivoBook apalagi Samsung Galaxy Tab A. Haruskah kuberi nama mereka atau kukode saja.

Ini aku di sini sudah diklaim Adikku dan istrinya, semoga Allah mengaruniakan ketenangan, cinta, dan kasih-sayang pada rumah-tangga mereka berdua. Kukira aku sudah melupakanmu membawaku begitu saja ke dinginnya udara malam di Magelang, di pelataran berkonblok antara graha. Apakah ketika itu aku berPDH, berjaket training biru. Aku selalu lebih suka jaket ini, itulah maka aku tidak pernah punya jaket kantin buatan Bu Karim. Disainnya pun menurutku kurang oye. Dari mana aku malam-malam begitu di pelataran antar graha. Tak ingin aku mengulangi, aku masih tolol kala itu. Memang jauh lebih sehat dari sekarang, tapi tolol.

Apa sekarang sudah tidak tolol. Masih. Aku hanya merasakan kembali dinginnya udara malam Magelang. Rasanya seperti ingin dipeluk, apakah itu dinginnya udara malam Maastricht atau Amsterdam. Di mana pun yang dingin itu harus dihangatkan dengan pelukan, meski baju hangat pun bisa melakukannya. Daya cinta ini juga entah mengapa mengingatkan pada udara malam yang dingin di Tangerang. Berarti udara dingin di mana pun ada, bahkan di tepi Cikumpa sini. Udara dingin yang nyaman, yang tidak menyebabkan masuk angin. Bagaimana dengan Jl. H. Sajim di waktu malam, sekarang waktunya Adjie merasakan udara malam dingin. 

Tiada betul yang patut disedihkan. Justru banyak betul yang harus disyukuri dan dirayakan dengan senyum dan tawa. Meski mungkin wajahku terlihat ditekuk begini, sebenarnya aku sedang merayakan suasana hatiku selalu. Meski abu dupa berceceran luput dari mangkuk kayunya yang berisi pasir, yang kali terakhir diayak Mang Aisyah. Meski Mas Dhikdhik dan Tante Lien sudah tidak setiap hari mewarnai, semua kenangan itu mengisi relung-relung hati dengan kehangatan. Sehangat kuah sambel goreng tauco, entah encer entah nyemek, seperti itulah suasana hatiku yang tidak pernah merasa cukup akan dirimu, kekasihku.

Aku bahkan tidak punya mimpi. Aku sekadar menjalani hari-hari dalam hidup bahagiaku. Tak satu pun kubiarkan merusak kebahagianku, karena memang tidak mungkin dirusak jika tidak ada. Kesedihan itu adalah kebahagiaan. Kau hanya perlu memberinya nama. Perasaan seperti selalu ingin yang segar-segar ini bukan sesuatu yang baru, meski aku lupa di mana dan bagaimana aku mandi tiap kali merasa gerah dan lengket. Kaos oblong putih pun yang kupakai bermain Friendster ketika itu, berarti goblog ini sudah ada sejak jaman Friendster! Suatu pencerahan, meski tidak banyak berarti karena aku benar-benar tidak mau mundur lagi.

Katamu Kau Mencintaiku Seperti Adaku

Tuesday, July 26, 2022

Sudah Lewat Sehari Gajian Bulan Depan


Irama baru, itu dia! Lebih baik dari Irama suka, meski yang belakangan ini identik dengan kemudaan. Meski kemudaan identik dengan ketololan, merokok-rokok suka-suka. Menghambur-hamburkan uang untuk setengah bungkus Djarum Super 12 atau terkadang Star Mild menthol, karena jika tidak punya uang justru Djarum Super 16 boleh mencatat dulu pada Nano. Adakah pada saat itu sudah irama baru, pasti sudah ada. Namun tentu saja tidak sebanyak sekarang. Aku masih ingat pada saat itu saja Rasaku masih sekadar di angan-angan, sedang disket maksimal sekadar muat 1,44 MB.

Irama baru ini unsur-unsurnya gitar, bass, piano, perkusi utama dan pendukung. Gitar bisa satu bisa dua. Kalau dua ya satu melodi satu ritem: Suatu deskripsi yang tidak berdaya-guna. Aku agak jengkel sebenarnya dengan meja yang sekarang berkeretak berkeriut setiap 'kutumpangkan tumit tanganku padanya, atau setiap 'kuangkat. Bahkan sepoinya debur ombak lembut lamat-lamat gagal menghilangkan kejengkelanku, bahkan beberapa teguk jahe berkerim beruwuh. Namun kesempurnaan seperti apa yang 'kudambakan. Apakah meja Babe Tafran dahulu sempurna, apakah WC ngamparnya, atau kaca nakonya. Lantas mengapa masih mengeluh.

Aku ingin entri ini meretas batang ruang dan waktu. Waktu terutama, karena irama baru bisa kapan saja. Apakah di kamar paling barat dari jajar selatan "Pondok Annisa" oleh Babe Tafran, atau di bilangan Uilenstede sekali, teriknya siang bisa dilembutkan oleh irama baru. Memisalkan irama baru dengan anak perawan yang baru beranjak remaja adalah suatu penistaan. Bahkan 'kurasa, tidak ada anak perawan beranjak remaja yang sedemikian indahnya, sehingga dapat dimisalkan irama baru; tidak pula anak-anak perempuanku sendiri. Irama baru inilah kecantikan yang tentu saja tidak sekadar ragawi, karena mustahil cantik jika sekadar ragawi.

Ini menjadi entri pertama Juli 2022, padahal sudah lewat sehari gajian Agustus. Asaptaga, tidakkah kau bergidik kengerian. Mengapa lantas kau santai-santai saja mengetiki seakan tiada apa-apa yang hendak menerkammu. Seperti pemuda dalam kisah orang-orang dalam parit, ketika orang-orang kengerian ada binatang buas menghalangi jalan, mungkin singa yang diasingkan kawanannya. Bisa juga Sang Candapinggala, si kuning-coklat mengerikan, yang bertemankan Nandaka turunan Nandini tunggangan Batara Mahadewa, yang jadi makan rumput.

Bagaimana dengan Turangga Cipta, yang dengan bangga menarik kereta pengantin. Pak Kumara dan Bu Tini yang berkendara. Ia meminta pada Pak Kusir tak perlu mencambuknya, karena ia toh akan menarik kereta dengan penuh semangatnya. Sebelum menikah, Pak Kumara sempat tinggal di rumah Bu Tini loh entah berapa lama. "Memang setengah atau entah berapa lama habis untuk pulih dari sakitnya, namun siapa yang tahu berapa lama ia masih tinggal di sana bahkan setelah pulih, bahkan mungkin lebih bugar dari sebelum-sebelumnya," begitu batin Turangga.

Debur-deburan ombak ini untuk apa, mengingatkanku pada Halong atau bahkan Kolinlamil sekali. Bukan pula kenangan terburuk dalam hidupku. Kau bertanya mengenai yang terburuk. Aduhai, 'kuakui tak berani 'ku membaginya denganmu. Jadi begini saja, kalau awalan 'ku- bertemu langsung dengan kata kerjanya bolehlah disambung, namun jika masih harus bertemu dengan awalan maka dipisah. Orang sekadar menuai apa yang bahkan sekadar dipikir-pikirkannya terus-menerus. Orang bicara-bicara mengenai viral, maka Covid-19-lah yang didapatkannya. Demikian.

Anganku tiba-tiba melayang ke depan Hotel Mahakam di belakang Gereja Yohanes itu, siang-siang terik begini juga. Sedang apa aku di situ. Berjalan kaki atau berkendara, aku tidak tahu. Apa benar kenanganku di situ, sedang aku pernah membeli makanan sarapan, mungkin mie ayam. Oh, kurasa aku berkendara Vario Sty. Mungkin aku menginap, berarti ini awal-awal menjadi dosen sepulang dari Maastricht. Uah, begitu indah hidupku penuh dengan kenangan-kenangan manis, meski tidak ada yang semanis pagi hari mengobrol ideologis-sufistik 'bari menyantap nasi uduk Rampok.

Thursday, June 30, 2022

Hujan Badai Guruh Mengguntur Meski di Telinga


Aku tadi sempat nyaris berjanji untuk membuat entri-entri koheren seperti yang 'kutulis sekitar lima belasan tahun yang lalu, tetapi ampas jangkrik emas mengurungkan niat itu. Apa hubungan antara kedua premis ini aku tidak seberapa ambil peduli, maka aku geli melihat buku-buku mengenai logika. Jika Musfi merasa perlu mengajarkan logika, itu semata karena latar-belakang pendidikannya. Aku lebih tidak tahu lagi apakah akan meratakan ankiri atau bagaimana, yang jelas Pak Ogah dengan latar-belakang Melani dan Unyil berawal dari suatu kesakitan yang terlupakan.

Sekarang sudah tidak lupa lagi, dan Pak Ogah sudah tentu jauh lebih sakit ketimbang sekadar nyeri di siku kanan belakang luar; jika kau tahu apa maksudku. Ini kopi jahe emprit aduhai sedap manisnya, hanya ini yang boleh 'kulukiskan. Sisanya, aku baru memutuskan untuk meretroaksi entri ini. Jahe emprit ini cocok untuk sambil menggarot yang seuprit. Apakah memang harus semanis ini, ataukah memang kemanisan hanya di permukaan sedang dalamnya menyembunyikan kesakitan dan kesumat yang mengerikan; telah 'kutemukan kembali Terang Bulan, Terang di Kali.

Demikian pula 'kutemukan lagi Simfoni Cintanya Francis Gayo di kanal Herman de Music. Lagu-lagunya, urut-urutannya, kecantikannya, lamat-lamat tilawahnya, semua mengingatkan ceramah tololku pada Hari Prasetiyo di suatu ketika menjelang maghrib, yang tentu saja 'kusesali. Aku tidak kunjung menulis juga sesuatu yang menakutkan. Terlebih kegairahan melakukan kaji-ulang yang disela oleh gugatan kepada Arsip Nasional Republik Indonesia. Tentu saja gugatan ini tiada sepenting kaji-ulang, seperti membandingkan Pak Try Sutrisno dan Pak AB Kusuma.

Seteguk lagi kopi susu jahe emprit seujung lidah, seperti kenangan yang tidak mau pergi dari kepala mengenai pantat yang ditepok gara-gara menghalangi foto bersama Dausi. Aku tidak pernah punya energi untuk mendendam, meski pernah 'kutuliskan betapa dendam dapat menjadi sumber energi yang besar. Suasananya bahkan masih terkenang, temaram begitu. Apakah ketika itu aku punya sebungkus atau sekadar beberapa batang rokok, seteguk atau segelas, bahkan sejebung kopi, bisa jadi. Aku masih selalu seperti itu, meski anak-anak gadisku t'lah menjelang dewasa. 

Akan halnya tempat tidur bengkok yang akhirnya harus dibuat lagi dari awal, tidak lebih menjengkelkan daripada antena televisi digital atau apapun yang sejenisnya. Semua memang harus terjadi, seperti kembalinya buku-buku agamaku ke meja kerjaku, ditahan stan buku merah. Sebagian besarnya baru, meski ada beberapa, tepatnya empat, yang lama. Mungkin ini sudah musim semi, begitu denting senar Francis Gayo bersenandung seperti entah dari sejak kapan, dari pavilyun, ke graha-graha, kembali ke pavilyun, ke kamar-kamar kost, kini di tepi Cikumpa 'kumenghadap timur.

Kebutuhanku untuk disayang-sayang entah mengapa besar sekali. Aku jadi sedih membayangkan kebutuhan ini dirasakan oleh seorang perempuan, apalagi kalau perempuan itu sampai adikku sendiri. Ini mungkin kebutuhan yang tidak akan pernah terpenuhi. Tidak satu pun mahluk fana yang sanggup memenuhinya tanpa melukai diri sendiri, dan aku tidak suka melukai diriku apalagi orang lain, apalagi yang 'kusayangi. Terdengar lagi tilawah masih oleh KH. Muammar ZA, seperti dari puluhan tahun lalu. Melengking menyayat hati, jika lamat-lamat sungguh melangutkan.

Apakah setelah ini hatiku cukup kuat untuk membuka lagi, membaca lagi, menulis lagi. Mengapa Gerben tidak terdengar sudah lama sekali, sedang Laurens tiba-tiba muncul dengan beritanya yang bagaikan petir menggelegar di tengah hari bolong. Hadi dan Japri pun cukup lama tidak terdengar kabarnya, dan BA.4 dan BA.5 diperkirakan mengamuk di minggu kedua dan ketiga Juli. Bersamamu di sisiku memang selalu menyamankan dari kecilku dulu, atau setidaknya menjalani hari-hari di Lembah Tidar sana; Aduhai banyak pun tempat nyaman telah 'kusinggahi.

Wednesday, June 22, 2022

Selamat Ulang Tahun ke-495, Kota Kelahiranku!


Aku selalu ingat air teh yang sangat sederhana rasanya, mungkin kagem Uti ngunjuk obat, dalam mug porselin warna hijau yang tutupnya, seingatku, sudah cuwil. Betapa hancur hati Akung, dapat 'kubayangkan, ketika menuliskan dalam buku hariannya: Reni overleden. Dalam suasana seperti inilah aku dibesarkan. Bahkan ketika itu terjadi, aku tinggal di salah satu kawasan yang terkenal dari kota ini dengan macannya. Benyamin bin Sueb, cucu Haji Ung, juga lahir tidak jauh dari tempatku tinggal. Namun, hampir setiap akhir pekan kami pergi ke ndalemnya Uti.

Rasa lucu ini serasa menjalar ke lengan kiri, setelah dua harian ini ada di dalam belikat kiri. Dalam hidupku sehingga kini, entah sudah berapa gelas air teh dengan rasa sederhana 'kuteguk habis. Aku ingat benar ketika masih mahasiswa strata satu melakukannya, sampai aku juga dihidangkan hal yang sama, entah oleh Pak Mawi atau Pak Nardi. Apakah sebelumnya aku juga melakukannya, apakah ketika SMA pamong-pamongku juga dihidangkan air teh di meja mereka, aku tak ingat. Uah, kombo trio piano, bass betot, dan dram senar ini menghasilkan bunyi-bunyian yang nyaman.

Ah, ini stik dioser-oser di atas dram senar duk rema nyamman ta'iye. Perjalanan ini masih panjang. Dengan yang ini bahkan masih lima etape lagi. Bagaimana aku berani berhenti berleha-leha. Dengan baju bergaram begini, hanya satu yang ada dalam pikiranku: mandi. Namun malam sudah larut. Malas benar mandi, meski 'kuyakin tak akan lama lagi aku akan begitu saja mandi. Aku justru tidak yakin akan sanggup menyelesaikan perjalanan menyusuri jalan-jalan kota kelahiranku ini. Meski tak ayal terkenang juga musim kemarau 2008 itu, ketika baru S.H.

Malam-malam yang gerah seperti sekarang ini, dengan apa aku pergi ke Lingkaran-K, bahkan sampai yang jauh di Gandaria. Sewaktu masih di Babe Tafran, apakah cukup di Starbek atau Nano, atau warung kecil di depan kostan cewek itu. Di Lingkaran-K Gandaria, aku teringat membeli Sosro Joy Tea. Uah, diminum malam-malam gerah aduhai segar menenangkan. Seberapa cepat aku tidur entahlah, yang jelas aku tidur di garasi depan pavilyun, di samping Djendril. Waktu itu Yohanes Gunadi masih hidup, Mas Wirok masih muda, Qodir masih kusut, pada ketika itu.

Apa benar yang menyenangkan dari saat-saat penuh ketidakpastian itu. Kemudaan. Aku bisa saja pergi ke Sarimomo yang ada d'Goes itu, entah apa pernah 'kubeli burgernya. Aku juga bisa menyeberang ke Burger and King. Enak di situ ber-AC, seperti halnya Buku Kafe. Lebih jarang lagi ke Angkringan Panjer Wengi. Lebih seringnya makan meki sapi dilanjut tempura ubi semua. Salah satu patron tetap ketika itu tentu saja Dedy Nurhidayat. Itu bisa saja hari-hari membaca skrip Ca Bau Kan, atau Kapal Penuh Mempelai Wanita, atau Iblis dan Nona Prym, atau Reader's Digest.

Di sinilah kurang lebih aku mengenal Andre Juan Michiels salah satu pelestari Krontjong Toegoe. Masih teringat musim hujan di awal 2008 itu, lumayan derasnya. Bahkan sampai banjir di mana-mana. Waktu itu Februari, seingatku, di kantin darurat FHUI, di emperan belakang Gedung C. Masih ada ibu-ibu Cina jual gorengan. Ah, hidup, mengapa begitu benar. Apa benar kesedihan, semua dijalani saja dari hari ke hari sampai ke sini. Padahal sebelum sampai ke sini sudah banyak persinggahan, pemberhentian, atau aku tidak pernah benar-benar berhenti. Entahlah...

Adakah sebelumnya lebih menyenangkan, ketika menjalani satu kuliah ke kuliah berikutnya, sampai dikata "mahasiswa ayah". Jaman segitu bagaimana cari uangnya. Seberapa banyak uang yang dapat dihasilkan. Nyatanya sampai hari ini, meski pada waktu itu tidak pernah luput dari utang. Semoga semua sudah dilunasi. Udara malam masuk lewat jendela yang terbuka, mendinginkan dada yang bertambah tua, perut yang bertambah tambun. Sungguh, malam ini aku kangen losyen wangi sereh yang kini telah tiada. Betapa banyak kini dari duniaku yang sudah tiada...

Friday, June 17, 2022

Semerbak Jahe Wangi Harum Dupa Setanggi


Entah mengapa aku mengetiki Kamis pagi bermendung begini, mungkin karena sekitar satu jam lagi akan dimulai acara awut-awutan entah-entah. Memang bukan karena tak sanggup mencinta, namun hati memang diciptakan dengan ukuran yang bermacam-macam. Ada yang seluas samudra, ada yang sebesar lubang penahan pasak pagar. Sebesar apapun, jika memang mencinta maka mencinta 'lah ia. Demikian pula, sebesar apapun, itulah cinta yang ditakdirkan untukmu. Itulah nasibmu, bagianmu. Tinggal lagi bersyukur atau tidak. Jika tidak, rugi 'lah sendiri.

Asap dupa setanggi itu tidak berhembus ke arahku. Itu pun tidak perlu menjadikan berat hatiku. Akan halnya aku yang membakarnya tadi, tidak berarti asap harumnya harus untukku pula. Jika angin membawanya justru ke udara bebas sampai-sampai wangi harumnya tidak terasa lagi, bukan padaku untuk mengeluhkannya. Biar mengeluh bagaimanapun, tetap saja harum dupa setanggi bersatu dengan molekul-molekul udara selebihnya. Jika mengeluh, kerugianmu sendiri. Kamis pagi bermendung perut dijejali nasi, sayur krecek, acar kuning, tambah telur dadar sekali.

Lagipula, kau hanya harus keluar sebentar dari ruanganmu. Ketika masuk kembali, harum wangi dupa setanggi menggelitik membelai-belai penciumanmu seperti seorang kekasih remaja yang penuh manja. Itu juga dengan mudah dapat dirusak dengan mengorek-ngorek lubang hidungmu, maka penciumanmu pun dipenuhi bau sampah, bau tahi. Memang betul apa yang dikatakan Ernest Yeagley, berhenti tiba-tiba cukup mengganggu ketika sedang dibuai diayun-ayun ombak pantai senda-gurauan, sedang orkes Paul Weston memainkan lagu-lagu pembuat nyaman pendengaran.

Uah, ternyata masih empat. Oke 'lah kalo begitu. Mana ini kelentang-kelenting piano ngakunya serasa di rumah. Rumah siapa. Mungkin kalau ditingkahi gericik air dari pancuran bambu akan terasa begitu. Ah, entah rumah siapa ini. Penciumanku digelitik wangi harum dupa setanggi! Masya Allah. Dalam kondisi begini seharusnya aku dapat mencurahkan segenap rasa, segenap daya cipta. Apakah ini di pedalaman Jawa Barat, atau Jawa Tengah, di daerah pegunungan. Tidak, ini di tepi Cikumpa seperti biasa. Aku sudah mandi air hangat dari pancuran. Ah, sedapnya.

Buddhis dengan ekornya yang jelek dan kotor baru saja berlalu di hadapanku. Kini ia menyusuri jalan menanjak menuju entah ke mana. Gabut dia. Apakah kami sama-sama gabut. Ia melangkahkan kaki-kaki kurusnya, aku mengetuk-ngetukkan jemari pada papan-kunci. Kami, yang jelas, sama-sama mencoba mensyukuri karunia berbagai kenikmatan. Buddhis selalu berhasil. Aku selalu gagal. Tidak perlu 'lah terlalu jengkel pada Ade Armando, apalagi sampai menggebuki, menelanjangi. Jika kau tidak suka ucapannya, jangan dengarkan. Aku pun tak suka, tapi biarlah.

Apakah setelah ini aku akan berhasil membuka Bab Empat, sekadar membacanya kembali, menggoda kerinduan. Apakah seujung sendok teh kopi instan pada susu jahe wangi akan menyakiti lambungku. Semua pertanyaan itu membawa kenangan pada masa muda yang tidak pernah ada. Masa mudaku kusia-siakan, kubuang-campakkan begitu saja entah ke mana. Sampai-sampai aku tidak pernah merasa muda. Aku selalu tua, bahkan sebelum dilantik menjadi Ketua OSIS SMP Islamic Village periode 1989-1990. Satu harapku, semoga hidupku tidak sesia-sia masa mudaku.

Ada orang berkata surga ada, namun yang dimaksud adalah segala kefanaan dunia yang tidak ubahnya bangkai cicak mati gara-gara memakan selai nanas hijau beracun. Betapa cantiknya memang dunia, dengan lugunya bersolek. Namun seorang budak cukuplah menyungging senyum melihat itu semua sambil memuji Sang Pencipta, sambil memohon ampun atas kelemahan. Apa lantas berhak merasa lebih kuat jika tidak gugup. Jangan sekali-kali dilupakan! Al-Ghazali meninggal pada usia 55 tahun, Andhika Danesjvara 50 tahun, Safri Nugraha 47 tahun.

Setiap tinggal setengah pasti sudah dingin

Monday, June 13, 2022

Salamku 'tuk Pancasila Melangutkan Jiwa


Malam-malam begini menyeruput secangkir kecil susu cokelat rendah lemak tinggi kalsium sambil memandangi telaga sunyi, terasa seperti di sini, di sana, di mana-mana. Tiada lagi kenangan masa muda, sedang banyak orang bersikeras aku masih muda. Aku tidak peduli. Aku tidak mau muda. Kemudaan sudah berlalu. Seperti halnya aku tetap kanak-kanak, oh, seandainya. Kendali sepenuhnya ada padamu. Biar 'kukhayalkan terus itu gerobak goyank sampai menjadi kenyataan. Diparkir di bawah pepohonan baik di terik matahari atau derasnya hujan.

Hari demi hari, Oh, Tuanku, aku berdoa. Masih ingat pada biplaneku yang kini tinggal kenangan. 'Kumodelkan dari pendahulu Gannet, meski sama-sama Fairey, yakni Swordfish. Tentu bukan torpedo yang di bawah itu, mungkin tangki eksternal. Ternyata yang 'kubutuhkan untuk menjalani kehidupan selama berpuluh-puluh tahun 'kudapatkan di pavilyun, meski mungkin sebelumnya, entah di Graha 3 atau 5 sudah begitu pula. Temaramnya lampu, pikiran entah-entah seringnya mengilhami, dengan siapa aku berkenal-kenalan. Musik indah tentu jangan sampai tertinggal.

Di pojokan sini terasa senyaman di manapun aku merasa nyaman. Mungkin memang tidak perlu beranjak ke mana-mana. Aku memang selalu suka pojokan, hanya perlu dirapikan. Dengan setumpuk buku memang selalu begitu, seperti rak yang dulu 'kubuat di garasi dan menemaniku ke mana-mana. Tidak sebesar punya adikku, namun yakin telah 'kutamatkan semua. Ah, Claire, kau memang selalu cantik sejak kali pertama mengenalmu. Mau diulang  berapa kali pun tetap cantik, bahkan sejak aku belum mengetahui namamu. Kini aku setua ini, kau tetap cantik.

Aku ingin melakukannya denganmu, ketika iklan-iklan di televisi masih bersahaja dan bersahabat. Ketika udara pun masih bersahabat, entah karena kemudaanku. Sungguh aku tidak ingin kembali pada ketakberdayaan, karena aku tidak pernah menjadi apa-apa. Bahkan ketika di pojokan itu berteman, di pavilyun medio 2008 itu pula. Pernah ketika berteman, aku diserang panik sampai berjalan cepat ke arah Barel. Lebih dari sekadar perempuan adalah sepulangnya dari Negeri Belanda, ketika ini semua bermula. Istriku masih secantik ketika kali pertama 'kubertemu.

VarioSty yang 'kucongklang ke mana-mana dengan gagahnya, termasuk ke kantor Pusaka di Lenteng Agung itu. Apakah untuk pulang ke Jang Gobay, biasa tetap 'kuparkir di tempat Babe Tafran, di samping sarang beto. "Mang Imas mau tidur, terserah," begitu kataku, "yang penting saya mau yang seger-seger." Ini lebih muda lagi. Bersatu kembali selalu memukau sejak di kamar cilik atau ke manapun, terlebih setelah mengetahui persiknya seperti apa. Malam-malam begini aku berteman kenang-kenangan masa muda, sedang manisnya flute ditingkahi lembutnya gitar.

Ah, waltz terakhir yang tidak pernah berakhir, 'kutarikan bersama rasa cinta yang menjadi kekasihku sejak kecil. Betapa hidupku penuh kenangan manis, terlebih malam-malam begini menghadap ke selatan. Sedang Istriku Sayang tiada jauh dariku, aku mengetiki entah-entah seperti biasa. Belum lagi jam sepuluh, aku lelaki gendut botak berumur empat puluh lima. Aku seorang bapak, panggil aku begitu maka aku senang. Jangan panggil aku "mas" apalagi "oom". Aku seorang bapak, bukan pula salah satu ksatria meja bundar, maka jangan panggil aku "sir". "Pak" begitu saja.

Jika waktuku berakhir kelak, aku meninggalkan ini, entri-entri indah rata kanan-kiri. Bukan catatanku mengenai kejadian sehari-hari, apalagi peristiwa-peristiwa dunia. Ini hanya kebat-kebitnya perasaan yang diabadikan. Di era serba digital ini, siapa yang tahu prasasti kelak seperti apa. Biar yang mempelajarinya nanti merasakan berkebat-kebitnya hati yang selalu dirundung cinta namun tak pernah berbalas. Biar ia tahu melangkah sendirian sepanjang jalan antara Barel dan Kukusan, terkadang ditemani kepul-kepulnya asap rokok entah-entah sekenanya.

Sunday, May 29, 2022

Tahukah Kau Bahwa Tadinya Penuh Anjim


Entah karena aku jengkel dengan gambaran, atau mejanya tidak rata, atau entah mengapa, namun bunyi kethuwal-kethuwil ini menjadi ekstra membuat kesal. Terlepas darinya, gambaran di bawah ini memang epik. Entah apa yang terjadi di bawah sana, yang jelas ekspresionis mirip dengan legendaris Lutung Kasarung. Aku belum lagi tahu apakah sama Asus VivoBook dengan Samsung Galaxy Tab A ini, namun tadi ada juga rencana untuk tidak peduli dengan itu semua. Babat saja terus entah apa jadinya. Beberapa hari kemudian, aku tahu keduanya tidak pernah sama.

Minggu ini aku tiada mengapa-apa, mungkin karena Asus VivoBook kutitipkan Pak Cecep untuk diperiksa mengapa spikernya brebek. Namun itu tentu hanya alasan, karena hari ini VivoBook telah kembali. Meski belum cukup lama diputar, sejauh ini tidak brebek spikernya. Pak Cecep melaporkan bahwa setelah dua jam diputar ia tidak juga brebek. Semoga seterusnya demikian. Sebenarnya agak sayang membuang-buang daya otak, namun apatah daya. Semoga otakku semakin berdaya setelah ini. Apa harus kupasang gambar mentor Yussuf dan mentor Faisal di depanku.

Biarlah di Minggu siang yang gerah ini kutinggalkan itu semua menuju pantai tropis yang belum dijamah orang kecuali diriku sendiri. Apa yang akan kulakukan di tempat seperti ini, berbincang dengan pikiran dan perasaanku sendiri. Sungguh membosankan, karena di mana pun aku bisa melakukannya, terutama di tengah keramaian. Di tengah suasana alam bebas ini, aku bisa bersantai dari itu semua. Kubiarkan burung-burung berceloteh menceritakan dongeng mereka mengenai negeri-negeri jauh atau tempat hidupnya yang itu-itu saja. Di situ ia menetas, di situ ia mati.

Ataukah ini entri mengenai keindahan, ketika dibiarkan jatuh tergerai di atas bahu, sedikit dijepit ke atas di bagian depan agar tidak menutupi dahi dan muka. Bentuk memang tidak pernah menjadi yang nomer satu. Asalkan tidak terlalu banyak, kekurangan justru merupakan kekhasan, seakan karenanya menjadi milik pribadi, tercipta hanya untuk diri seorang. Selebihnya adalah seberapa banyak syukur atas rasa cinta yang dianugerahkan, yang membungkus lembut hati bagai dalam rahim ibu. Jika semua cinta di dunia ini seperti itu, mungkin takkan ada kesakitan.

Ketika matahari terbenam, yang ada hanya kehangatan. Cinta selalu saja tercipta hanya untuk cinta. Jangan dikotori dengan rakus serakahnya dunia. Resapi cinta yang tiada akan pernah didapat dari raga, karena cinta adanya di jiwa. Jiwa itu selalu satu adanya. Itulah yang dirasa ketika cinta melanda, rindu dendam terasa sungguh menyiksa. Itulah ketika jiwa yang hakikatnya satu dibelah menjadi dua. Ingin bersatu saja senantiasa. Jangan pula tertipu ketika raga saling menyatu, berjalin-berkelindan. Bukan itu penyatuan, karena yang bersatu selalu saja jiwa. Satu itu Jiwa.

Ketika perut bapak-bapak botak gendut mengalir sampai jauh, sampai tidak tertebak nomer celananya, apatah lagi mereknya. Ketika kurus-gendutnya bapak-bapak disangka kuasa membuat ibu-ibu menjadi curiga. Ketika itulah sadar belaka dunia ini serba sementara, seakan melihat makam-makam bertebaran di bawah sana. Entah makam siapa, nyatanya semua akan dimakamkan, kecuali yang jasadnya dibakar atau lain-lain penyelenggaraan. Ini lucunya seperti jenazah dipulasara padahal seharusnya upacara. Nyatanya, upacara penguburan itu tanda peradaban. 

Bukan hanya angin yang mendesau di sini, ombak pun, musik pun. Saraf-sarafku pun terasa mengendur. Namun jika terlalu kendur begini, pelupuk mata pun memberat. Ketika inilah terkenang secangkir kopi hitam pahit dari masa muda, meski kepul-kepulnya asap rokok tiada kurindukan sama sekali apatah lagi alkohol. Aku hanya ingin merayakan keindahan di sekelilingku, atau menikmati. Keindahan yang tidak lagi membangkitkan gairah dan semangat, tetapi mengendurkan urat-urat saraf yang terasa tegang seperti tersentuh tangan terapis ulung, namun tidak sempoyongan.

Meski berkendara di atas kereta kencana sekalipun tidak akan menandingi sedapnya hammock diayun-ayun angin lalu. Apakah itu di gelanggang renang atau tepi saluran irigasi sama-sama sedap, sejuk, segar airnya. Apakah setelahnya makan nasi berlauk tumis oncom atau sekadar kue pukis diberi bersaos mie ayam sungguh mengembalikan tenaga yang terkuras gara-gara bercibang-cibung dari puluhan tahun lalu. Sepulangnya apakah naik Metromini S.72 atau PPD Patas P.24 yang dirasakan hanya kesenangan belaka, ketika hanya beberapa tahun lebih tua dari Adjie kini.

Sunday, May 22, 2022

Minggu Siang Bermendung Biasanya Bukan Judul


...melainkan bagaimana sebuah entri dibuka. Tentu saja setelah mampir Cinere jadi kepikiran abah-abah, meski tidak ada hubungannya dengan kuda. Ada Abah Sepuh, lantas Abah Anom, lantas Abah Aos. Aku cuma asal ngomyang saja, tahu apa juga tiada. Di Internet seperti biasa tersedia berbagai informasi mengenai apapun. Lantas aku terpikir: Akankah sama nasib informasi mengenai kaji-ulang. Tentu saja. Ia akan ditemukan oleh orang yang mencarinya. Yang tidak mencari biasanya tidak berjumpa. Selasa ini Insya Allah menghadap mentor Yussuf Solichien Martadiningrat, apa hendak dikata.

Tentu saja aku tidak benar-benar merindukanmu, seperti tiada pun yang menanti-nantikan kedatanganmu. Kata-kata panjang begini biasanya membuat jeda antarkata menjadi lebar-lebar. Aku, yang kukira menyukai bahasa ini, ternyata sudah tiada peduli; apatah lagi matematika. Namun satu kesempatan lagi dengan bunyi penyintesa dan dentaman bassnya memang selalu menimbulkan suasana tertentu, yang mana semua sudah berlalu. Adikku sekarang sudah banyak beruban. Aku, karena selalu gundulan, jadi tidak ketahuan. Jenggotku penuh beruban jika kubiarkan.

Kemarin aku menyusuri lagi Jayapura, Beta, Gama, Zeta, Nila, sampai Beringin yang hanya dua dari empat puluh lima tahun pernah singgah di hidupku. Satu langkah lebih dekat, demikian juga, selalu menimbulkan suasana tersendiri. Intinya, aku bersama dengan apapun yang pernah kukenal bertambah tua. Tiada guna kukenang-kenang Pondok Indah Mall ketika belum ada nomor-nomornya, yang memang tidak pernah manis kenangannya. Akankah dalam hidupku ini berhenti riwayatnya, sesuatu yang selalu bersamaku entah sejak kapan aku tidak ingat, selalu begitu itu.

Demikian pula, aku selalu intelek sepanjang ingatanku, seperti Sandy yang selalu menemani sejak kecilku. Bukan Sandy Maulana Prakasa yang perwira korps signal itu. Ini seorang gadis, yang kurasa menemaniku entah dalam perjalananku berangkat sekolah menyusur gang di pinggir kali itu, atau sepulangnya. Bau ikan goreng yang selalu menggelitik bulu hidung, aku terlahir sebagai seorang lelaki yang kurasa semakin lama semakin feminin karena selalu mengonsumsi produk olahan kedelai. Sandy gadisku, kucinta kau selamanya, meski kau tak pernah benar ada.

Seseorang yang percaya padamu, meski berasal dari waktu-waktu yang tidak dapat dikatakan terbaik, memang selalu membelai. Aku memang tidak peduli jika aku pecundang sekalipun, yang selalu berkhayal mungkin kelak waktuku akan datang. Jika setelah tiga puluhan tahun kemudian masih belum datang juga, aku tetap tidak peduli. Hanya kudoakan sungguh-sungguh, Bapak Ibu dan adik-adikku hendaklah bahagia. Untukku sendiri, cukup baik jika merasa baik. Terlebih J.J. Merel Bruinier, lelaki tangguh entah di mana, penyuka angin kencang, kencang.

Dunia ini penuh dengan orang-orang seperti Dokter Jul dan Mah Elis, mengapa pula aku merasa merana. Mengapa pula aku merasa boleh menunda-nunda pelaksanaan kewajibanku, pemenuhan janjiku. Aku memang sepele dan itu, kurasa, baik bagiku. Jadi buat apa menunggu datangnya entah apa. Begini terus merasa sepele, mana tahu di situ letaknya keselamatan, kedamaian. Uah, matahari terbenam! Dzikir adalah pedang! Lantas mana dzikirmu, habis sembahyang selalu langsung berdiri. Tadi aku sempat teringat kemenakan-kemenakanku laki-laki. Aku mamak.

Namun kresek-kresek ini sungguh mengganggu, membuatku bertetap hati ke kampus besok, Insya Allah, mencari Pak Cecep. Kini suara dangdutan dan Mas Dikdik menggosok-gosok dingding menemani alinea terakhir entri ini. Aku sudah makan siang, sepotong tempe kemul, bakwan, sekitar setengah liter teh vanili bersimbah jahe merah gula aren, masih ditambah kemal-kemil ikan bayi, kacang mete, dan jari keju sisa lebaran. Habis ini mungkin aku akan mandi, kaos penuh jejak garam begini. Siang bermendung sejak pagi, kurasa harus pakai air hangat mandiku siang ini.

Friday, May 13, 2022

Lewat Jauh Lebaran Ketupat Malah Tak Bisa Tidur


Tidak tepat seperti dalam gambar itu juga, terlebih iris-irisan apelnya, meski ada juga sedikit rasa mengapa tidak suka apel atau buah-buahan lainnya. Sayang pepaya selalu besar. Bahkan yang terkecil pun masih terlalu besar dan sulit disimpan pula. Bahkan sayur sopku pun masih tersisa satu kontener, sedang nasi mbelek bikinan Gibas sudah entah jadi apa itu dalam raiskuker. Biasanya, begitu matang, tanak, dan mendingin langsung kupindahkan ke dalam kontener dan masuk kulkas. Insya Allah bertahan lama. Namun itu pakai yang murahan, bukan Yong Ma robot.

Bicara mengenai Yong Ma robot tak ayal jadi ingat Cantik yang selalu penuh dengan kehidupan. Segala sesuatu di sekelilingku adalah Cantik. Begitu saja aku menghambur kepadanya dengan segalaku, maka aku adalah salah satu pernak-pernik dalam kehidupannya. Begitulah ketika Ibu membuatkanku kalung baru dari kulit kerang, aku memilih menetap. Sudah jelas aku tidak akan dikenang. Aku tidak punya anak-anak untuk mengenangku. Rata-rata anakku mati semua, sedang piano berkelenting-kelentang seperti menghina kehidupanku. Aku membiarkan tak mengapa.

Jika kulihat di gambar itu, kejunya terlalu tua dan tebal irisannya. Terlebih, yang menarik perhatianku, filet kalkunnya banyak sekali. Itu pasti roti lapis mahal dan jelas bukan buatanku. Buatanku rotinya tiga kerat. Lapis pertama berisi keju seiris dan filet kalkun seiris. Lapis kedua salad kentang dan saus kari. Suatu kehematan yang terlalu mewah untuk ukuran seseorang yang tinggal di tepi Cikumpa. Mana pernah kusangka malam-malam yang dicekam situs tolol tanya-jawab menjadi nyata bagiku. Apa aku kangen tidur di ruang depan sedangkan sekarang di atas sepiteng.

Aku bisa membayangkan kesepian, bahkan ketakberdayaan. Pasti mengerikan. Apakah salah jika 'ku marah. Begitu saja terkenang Uilenstede di waktu malam ketika tidak bisa tidur. Tentu jauh lebih baik dari Kees Broekman dan Kraanspoor, karena yang dua terakhir ini harus lewat segala lift dan pintu otomatis. Uilenstede seperti rumah biasa. Membuka pintu kamarku. pintu rumah, pintu pekarangan, sampailah di udara segar. Sejuk menerpa wajah, masih lekat di ingatan. Tengah malam aku tidak pernah jauh-jauh kecuali sekadar keliling bangunanku itu saja.

Kerinduanku sudah barang tentu. Begitu lama satu-satunya alasanku untuk terus hidup, bahkan sampai kini. Apakah karena koneksi internet tidak stabil, atau karena pernah dijatuhkan Tante Lien. Pernah begini juga di kamarku mungil itu, mungkin tirai masih tertutup karena hari masih gelap. Namun bunyi-bunyian dan perasaan hatiku, jalan mobil menyusur pantai dan kelap-kelip lampu di kejauhan. Mudah saja memeriksanya, coba mainkan dari cakram-kerasmu sendiri. Ah, sudahlah. Kalau sampai keluar onomatop begini itu mengapa, ya. Aku terlalu malas, atau takut.

Tiada lagi gairah cinta karena hari-hariku dipenuhi rasa kecewa yang 'kuyakin menyelamatkanku. Tinggal lagi dihilangkan ketololan itu. Entah apa yang akan terjadi paruh kedua tahun ini, tiga hal setidaknya 'kunanti-nanti. Sudah lama entri-entri tidak gamblang merinci pikiranku, karena lebih lagi perasaanku. Apa yang mengebat dan mengebit 'kurasa lebih berharga, meski seringnya aku lupa. Memang harus dilupakan, seperti entah berapa ratus mungkin ribu pandang yang dibelaikan pada hidung atau dagu berkeringat. Untung rambutnya tipis terlebih pun menyebalkan.

Lantas buat apa pula kau beristri beranak segala, San. Apa bagusnya untukmu. Kita cuma buang-buang waktu, buang-buang peluang dengan pura-pura berkeluarga berumah-tangga. Apa kau mau hidupmu panjang dan membosankan. Memang tidak ada perang di sekitar yang memungkinkan kita mati cepat untuk sesuatu alasan yang entah-entah, meski aku yakin juga mati seperti itu tidak ada puitis-puitisnya, apalagi heroik. Apa mau mati seperti Chairil Anwar atau nama-nama lainnya. Takkan ada yang menyebut-nyebut "Sandoro" ...kecuali mungkin Indira.

Seperti jembatan di atas air bergolak

Sunday, May 01, 2022

Hari Buruh Koq Malam Takbiran. Tidak Kaldu


Suara piano berkelentang-kelenting ditingkahi dehaman bass gitar. Ya, kali ini yang berdeham adalah bass bukan saksofon, karena ia tidak berdentam apalagi berdebam. Ia mendeham, sedang hatiku tidak ada yang peduli apa yang ada padanya. Aku jelas sudah tidak muda lagi, dan sungguh terasa tak pantas bahkan olehku sendiri untuk terus-terusan berolok-olok di sini. Namun tinggal ini kesenanganku, hiburanku. Apakah ketika berumur dua puluhan aku menghibur diri dengan Roxana dan Bagoas sekaligus. Amit-amit, Tulak sawan! Hephaestion pun tak sudi aku.

Masih lebih mungkin aku menghibur diri dengan menyodok atau menyogok apapun dengan xyston-ku, menebas dengan kopis, menusuk dengan xyphos. Hidup penuh kekerasan begitu, namun jangan bodoh. Alexander dan kawan-kawannya bermandi darah namun mereguk kebijaksanaan Aristoteles. Seperti itulah. Jika itu pun tak mungkin, bagaimana dengan Rama Bergawa yang ke mana-mana membawa busur raksasa dan kapak, namun ia seorang pertapa. Ah, jangan juga. Bagaimana dengan Karna, aku rasa kehilangan kepala adalah cara mati ternyaman.

Aku bicara mengenai pahlawan-pahlawan ini seakan-akan aku ini oye. Jangankan menjadi Ptolemus nenek moyang Kleopatra, menjadi Ki Manteb saja mustahil aku. Aku ini si keple, kalaupun tidak tolol. Jika pun aku sok-sokan jadi polisi tatabahasa, itu lebih karena kecenderungan perfeksionis. Awas bukan OCD, sekadar perfeksionis. Apakah dengan melodi-melodi gruveh begini aku harus menyetir sendiri mobil di jalan-jalan ibukota di malam hari, di bawah temaram lampu jalan; itu semata khayalan belaka. Bisa saja di tol Antasari-Sawangan, namun aku malas.

Jangan pula sampai salah terka, itu bukan gambar tahi, melainkan semacam fitbar begitu. Habis mandi begini selalu saja justru tidak segar. Berkeringat, terlebih tadi memakai sabun cair berpelembab; apa kau kira ini masih di Sepurderek. Sedang setahun lalu saja, tepat hari ini, kau sudah berpacu di langit tinggi meninggalkannya. Apa yang kutinggalkan, tidak ada. Tidak ada lambaian tangan apatah lagi tangis. Aku pergi begitu saja tiada yang kehilangan. Hidup berjalan setelahnya seakan-akan aku tidak pernah ada di situ, menyusuri lorong-lorong kuning, hijau, biru...

Sudah cukup kucicipi dunia ini, maka buat apa lagi. Malam takbiran ini aku begitu saja mandi, karena kuncinya selalu di situ. Tepukan sebelah pantat memang sudah seharusnya kudapatkan sebagai bentuk kasih sayang, sama sekali tidak kusesali. Apa benar yang kuinginkan aku tidak tahu dan tidak peduli. Betapa kulkas penuh makanan dapat saja mengganggu pikiran, meski pendengaran dibelai-belai musik sedap sedemikian rupa. Akan kupaksa setelah ini, karena apa lagi yang kutunggu. Aku harus segera melesat, seperti batu dilontar seorang peltast.

Aku harus mengucap selamat tinggal pada Ustadz Abdul Somad and friends, karena kurasa malam ini tiada ada lagi. Ini sudah malam takbiran dan sebaiknya, Insya Allah, aku tidur sampai subuh. Semoga setelah subuh aku tidak mengantuk hebat, sehingga dapatlah aku menunaikan shalat 'Id, mendengarkan khutbahnya. Aha, tahun lalu hari buruh masih jauh dari lebaran, tahun ini hari buruh malah takbiran. Begitulah maka Apollo didegradasi menjadi sekadar bau oleh Samson Betawi, tidak lagi menjadi penanda waktu utama. Aku tak peduli lagi apapun sebutannya.

Ini entri apa bagus untuk membuka Mei aku juga tidak peduli. Tidak banyak yang kupedulikan kecuali ITU. Apalagi yang baru saja melintas ini, apakah kukutuk atau tidak, apakah kutukanku manjur atau tidak, aku tidak peduli. Sidang pembaca (halah!) pasti masih ingat masalah derkukuk. Ya, itu ada hubungannya memang dengan babaduk. Aku masih takut, maka aku tidak akan berkata apa-apa mengenainya. Namun tidak berarti aku berhenti melawan. Aku selalu melawan. Justru karena lemah-lembutnya babaduk mengerikan. Aku tahu aku bisa bertekad, tidak bulat.

Sunday, April 24, 2022

Kengerian Dunia Lebih Mengerikan. Aku Ngeri


Apa bisaku jika penyintesa ini umek sendiri begini, sedang media-media menstrim saja kurasa semakin tergerus audiensnya. Media alternatif memang sekadar 'pala lu apek, terlebih multiplatform. Namanya puasa pasti begini, lapar-lapar begini. Menyenangkan sebenarnya, daripada makan, karena lapar sudah pasti berujung kurus, sedang makan sudah pasti menggelendut. Malu. Masa budak gendut. Apa kamu budak kepala rumah tangga yang memperlakukan budak-budak lainnya seperti budak. Aku sampai tak bisa memutuskan apakah pembudak lebih menjengkelkan.

Dari tempatku mengitiki terlihat lubang-lubang angin baru, meski aku selalu skeptis dengan langit-langit tinggi yang konon membuat ruangan lebih sejuk. Aku lebih suka bila hatiku yang sejuk, seperti ketika di luar sana elang-elang sedang berlatih. Udara sungguh panasnya, namun ketika itu dapat kuingat sejuknya hatiku. Aku pendosa apakah tak berhak atas sejuknya hati. Akankah kesia-siaan berhenti saat ini juga ketika entri-entri berjarak tiga hari. Ini Ramadhan namun belum satu entri pun kukasih Dedi baginya. Lagipula ini tempat kusut mana patut bagi Ramadhan ini.

Aku tidak bisa menemukan persekitaran yang sesuai bagi halusnya belai-belaian melodi. Sejuknya ruangan berpendingin udara bukan kesukaanku, apalagi jika ia berlari beralas karet. Hentak-hentak dram bas, dentam-dentam senar bas gitar, deham-dehaman saksofon memang sungguh mengilhami. Ini sungguh cocok untuk membaca, apakah ini di Kafe Buku sedang di luar sana Margonda berdebu terpanggang perkasanya Sang Diwangkara. Sangat dapat dipahami jika di hari-hari terakhirnya sudah tiada lagi bacaan menarik hati swargi Bapak. Saat ini saja aku pun begitu.

Ini hari dewa matahari alias dominggo, namun tanggal 24 begini, maka kutemukan diriku mengitiki. Daripada hatiku dilanda kengerian, ngerinya dunia. Aku akan menyelesaikannya. Demi apapun aku akan menyelesaikannya entah di sini atau di sebelah mana saja dunia. Apakah ini saatnya ketika aku memusatkan segala daya untuk bersungguh-sungguh, meski itu bukan merayapi semangka muda atau mematahkan leher-leher jenjang. Ujiannya nanti setelah buka. Mudah memang bicara jika sedang tidak menyambar-nyambar. Sekali berkebat berkebit, habislah.

Seperti biasa, rintihan terompet berpengedam ditingkahi ketuk-ketukan tak ritmik palu pada pahat, mengikis dinding yang melintir. Memang sangat menyiksa bagi seorang perfeksionis, aku bisa memahami. Akan halnya sewadah plastik sayur campur, yakni, buncis, jagung pipil, jamur merang, sosis ayam dibumbu tumis kecap, menjanjikan hari-hari berbuka dan bersahur berteman sambal terasi sasetan. Sungguh seksi sensasi birahi yang tidak lagi kudapatkan dari musik yang mendayu. Justru dari masakanku sendiri, kesenian yang masih tinggal kutekuni. Lain tiada lagi.

Kuakui keindahan itu merayapi, meski Lampung Tengah mengomentari: Agraris sekali. Selain itu ada lagi dari selatan Priangan Timur, bahkan Mandirancan, Kuningan sekali. Itu semua tidak berarti, sebagaimana aku ini orang yang tiada arti. Penyintesa ini sungguh nyaman mengelusi, seperti belaian cinta seorang kekasih yang menyayangi. Tiada lagi khayal, apalagi keinginan, hanya kebiasaan menyakiti diri sendiri dengan kengerian dunia. Seperti koreng setengah kering dicoloki, keropengnya dikelupasi. Seperti itu. Bau-baunya pun tak sedap, merintih meratapi diri.

Gambar di atas merupakan ilustrasi suatu kabar yang dilansir Suara mengenai wanita yang menikahi dirinya sendiri. Diri ini ngeri. Diri ini sempurna, diilhamkan padanya keberanian dan ketakutan. Beruntunglah diri yang takut, merugilah diri yang berani. Ah, itu selalu bacaan yang mengilhami. Aku masih punya bacaan yang belum kuselesaikan, ketika entri-entriku semakin tidak bisa dibaca, semakin tidak bertutur. Keniji memang hanya bisa didengarkan di laptop ini tidak di henfon. Semoga henfonku baik-baik saja sampai September. Awas, jangan sampai lewat!

Thursday, April 21, 2022

Aku Tidak Pernah Memperingati Hari Kartini


Sederhana saja masalahnya, Raden Lesmana Mandrakumara sangat dimanja oleh bapaknya, Prabu Duryodana, meski tentu saja tidak pernah sesederhana itu masalahnya. Contohnya diriku sendiri. Aku jelas tidak dimanjakan oleh bapakku, namun aku tidak pernah benar-benar membesarkan anak, anakku sendiri maupun orang lain. Tepat di sinilah aku bersedih. Memang banyak kesalahanku. Patutlah aku dihukum. Mengitiki itu harus dalam keadaan hati riang, karena pada dasarnya mengitiki itu berolok-olok. Namun aku sedang sangat bersedih malam ini.

Padahal aku tadi sudah berjanji untuk tidak memeriksa pratinjau. Begitupun aku berjanji untuk mengomentari tulisan Profesor Shawarma. Kebanyakan janji memang tidak mudah ditepati, maka jangan mudah berjanji. Hanya saja jez alus ini benar-benar nikmat didengarkan dengan irfon miniso tiga puluh ribuan. Malam ini, kabelnya pun tiada seberapa mengganggu. Memang tidak pernah mengganggu, hanya membutuhkan sedikit usaha dan ketelatenan untuk menggulungnya. Itu saja. Kurasa hidup pun begitulah. Hanya harus sedikit usaha dan telaten. Sedikit saja.

Ada secercah kenangan mengenai kantin Islamic Village. Apa benar yang suka kubeli di sana. Apakah semacam permen atau dodol. Entah bagaimana aku ingat dodol nanas. Di belakangnya ada lapangan terbuka, di belakang kelas-kelas sekolah dasar. Ada ayunan di situ, sedang jiwaku dibelai-belai jez alus begini. Apa jadinya malam-malam di situ. Uah, malam-malam selalu saja nyaman. Entah di mana yang ada dalam perasaanku kini. Meja tulis, lampu temaram, hati lapang, kreativitas membuncah. Aku memang tidak pernah mengharap-harap masa depan.

Malam-malam yang nyaman di sepanjang trotoar. Toko-toko kecil saja namun lengkap dagangannya. Mainan-mainan kanak-kanak bergelantungan. Namun aku sudah dewasa. Jelas bukan itu yang menarik perhatianku. Mungkin berderet-deret sigaret kretek berbagai merek dalam lemari kaca. Entah aku masih punya korek jres bahkan mancis sekali. Ini jelas ingatanku mengenai masa muda. Ketika sudah setua ini dan masih tidak berdaya, maka lebih baik muda yang masih jauh jangkauan dan daya tahannya. Aku mencari damai pada masa laluku, masa mudaku. Nyaman...

Senyaman inikah di Amsterdam Centraal ketika hari sudah gelap di awal musim semi. Bisa jadi. Apakah aku selonggar itu sehingga membeli kapsalon di sebelum dermaga feri, atau nanti setelah merapat di tujuan. Rasa nyaman bisa di mana saja. Sesampainya di kamar melepas baju hangat, menghadapi laptop sambil menikmati kapsalon bisa jadi sangat nyaman. Lebih baik lagi jika itu ternyata salah satu kamar di kontrakan Jang Gobai, mungkin sambil makan bakwan malang. Apakah ini semua karena nyamannya jez alus yang menghentak lembut gendang telinga kini.

Tak kusangka akan selancar ini, ketika aku menyangga kepalaku di meja makan tadi sambil merasakan kesedihan yang mendalam. Aku memang tidak pernah dianggap di manapun, bahkan di meja makanku sendiri, yang tentu saja bukan punyaku benar. Selalu saja gerobak goyangku yang juga tak berdaya kukedepankan dalam situasi seperti itu, meski kini aku begitu saja terlempar ke dapur kapel milik Universitas Maastricht yang menjadi semacam pusat kegiatan mahasiswa itu. Aku menyebut-nyebut seakan membanggakan, padahal tidak. Tak ada yang dapat kubanggakan.

Di alinea terakhir ini aku terlempar ke sebuah taksi yang mana aku segera melompat keluar. Tepat di sinilah aku merasakan kembali kesedihan mendalam, namun berbeda dari yang tadi. Aku hanya sok-sokan berani, padahal aku tidak tahu apa-apa, dan tentu saja takut. Perutku kembung karena menyantap kimbo sosis jerman, sosis solo, masih ditambah indomie goreng jumbo biru, dan segelas sirup freiss melon manis jambu. Malam mendekati puncaknya, rasa kantuk sudah ada. Jez alus membelai-belai aduh sedapnya. Malam ini aku hanya ingin merasa nyaman. Itu saja.

Wednesday, April 13, 2022

Hari Ketika Thomas Dihukum Buang. Malamnya


Awas, Thomas di sini dibaca seperti orang Perancis, jadi tidak dibunyikan "s"-nya. Ya, ia dihukum buang. Satu-satunya kesalahan adalah ia mengira dirinya disayang. Maka, tanpa diundang, tanpa beruluk salam, seringlah ia melenggang masuk saja melalui pintu-pintu, bahkan jendela-jendela yang terbuka. Menurutku, Kay yang bodoh. Sudah tahu ia gelandangan jalanan begitu, masih dipeluk-peluknya, dibawa tidurnya. Maka gatal-gatallah Kay bahkan sampai tidak bisa membuka pelupuk mata. Thomas yang disalahkan. Ia yang dihukum buang. "Yang salah Kay, mengapa Thomas yang dibuang?!" kataku. "Ibunya takkan paham lelucon itu," kata Istriku.

Wajah sedihnya memang mirip dengan Sanwirya a.k.a Iwir a.k.a Thomas
Masalahnya, Thomas sedang sakit. Sudah berhari-hari ini dia minta dilepaskan, tidak mau jadi Kempeitai lagi. Lucunya, tiap kali lepas, ia jilat-jilat sampai bersih ketelepasannya itu. Siang ini, ia dihukum buang. Aku tidak tahu ke mana. Hanya saja, beberapa hari terakhir ini ia biasa beristirahat di dipan jati. Meski tidak berkasur namun hangat dan kering. Kini, di tempat pembuangannya, kurasa tidak akan ada dipan jati. Mana semenjak maghrib hujan tiada henti. Pertanyaannya kini tidak apakah, tapi bilakah Thomas menemui ajalnya, seperti Legiman mati kedinginan.

Sudahlah. Tidak ada gunanya ini semua. Hanya dapat kukatakan, senang telah mengenalmu, 'Wis. Insya Allah, suatu hari nanti kita bertemu kembali dalam keadaan yang jauh lebih baik. Kau dalam keadaanmu yang segagah-gagahnya. Sapalah aku bila kau melihatku nanti. Jika keadaanku ketika itu buruk, tolong beritahukan pada Tuhan kita, meski Ia Maha Tahu, aku baik padamu. Mintakanlah tolong bagiku kepadaNya. Sesungguhnya aku masih berharap dalam pembuanganmu engkau masih kuasa berjaya sehingga kita dapat bertemu lagi di kehidupan yang fana ini.

Namun aku dan kau sama tahu, pikiran seperti itu tolol belaka. Aku yakin kau akan menghadapi ajalmu dengan gagah-berani, seperti Bapakku. Entahlah aku. Jika benar malam ini atau dalam waktu dekat kau menemui ajal, semoga ketika itu Ibumu datang menemanimu, mengelus-elusmu, mendekapmu, menyamankanmu. Dunia ini memang penuh penderitaan, kesengsaraan. Buat apa lama-lama di sini. Akan halnya kita pernah bertemu di sini, marilah kita syukuri. Aku, terutama, mengucap syukur pada Tuhan telah dipertemukan denganmu. Kau, hambaNya yang gagah.

Onti, sementara itu, malam ini masih tidur beralaskan permadani lembut dan hangat. Memang seperti itulah hidup di dunia. Hari ini, detik ini masih entah melakukan apa di atas punggung bumi. Esok entah kapan masuk dalam perut bumi. Semoga ada yang memasukkan jasadmu kembali ke dalam perut Ibu Pertiwi, 'Wis. Ya, Tuhan Maha Baik, sekiranya Iwis mati, jangan biarkan ia menjadi bangkai membusuk terlantar di atas tanah becek berlumpur. Gerakkanlah hati hambamu yang kebetulan melihatnya untuk menyelenggarakan jasadnya. Masya Allah, sudah mendekati tengah malam dan hujan semakin derasnya. Ya, Tuhan, kasihanilah kami hamba-hambaMu. Kasihanilah Iwis. Hangatkanlah ia.

Astaga, sedang begini suasana hatiku, di telingaku mengalun nyanyian yahudi-yahudi yang dipenjara oleh Nebukadnezar. Akankah aku dapat beristirahat malam barang sebentar sebelum Insya Allah terbangun sahur. Sudah sebelas hari berpuasa tidak ada tambahan sama sekali penghambaanku. Masih begitu-begitu saja, masih juga maksiat saja. Aduhai malam berhujan. Aku sudah sikat gigi namun tadi mengulum Ricola, sedang bawaannya haus saja. Perut sudah terasa kembungnya. Aku tidak mau terlarut dalam suasana hati ini meski hujan semakin deras saja. 

Ini entri yang Insya Allah bagus. Suatu hari nanti, jika Tuhan mengizinkan, aku akan membacanya kembali. Entah suasana hati apa yang akan ditimbulkannya. Entah mengapa terkenang hangatnya rempah-rempah Bengala. Tepat di sini tiba-tiba ada semacam tekad, Iwis akan baik-baik saja. Ia gagah-perkasa. Meski kini ia tidak mau jadi Kempeitai lagi, ia akan segera sembuh, meski tanpa salmon, tuna, dan semacamnya. Ia akan menemukan sesuatu untuk menghangatkan badannya. Ia akan menemukan tempat berteduh, lebih hangat, lebih kering dari dipan jati.

Sunday, April 10, 2022

Ambil Peluangmu Bercinta Sambil Bersiul-miul


Apa jadinya siang-siang hari dalam ruangan sejuk sambil menyaksikan ruang-ruang atau lanskap-lanskap indah, sedang musik-musik indah mengalun. Malam yang masih sangat muda ini pun sejuk, sedang segelas ramuan teh, jahe merah dan putih, kunyit, madu, mentol, dan gula aren seperti biasa menemani jika aku sedang goblog begini. Malam-malam sejuk seperti ini pun bisa berteman mini compo mengalunkan musik-musik indah atau lumayan saja, sedang badan dan pikiran masih sangat muda. Justru karena kemudaan itu kedunguan mencirikan, mengepulkan. 

Ahad 8 Ramadhan 1443 H begini, selepas Isya' malah menghancurkan sarang tawon di kedua kamar mandi. Hanya kutahu, hidup manusia betapa ringkihnya, seringkih sarang tawon yang disogok pisau dapur saja rantas. Akan halnya buka ini aku menamatkan sayur lodeh donoloyo buatanku sendiri dan remah-remah ayam ungkep a la masakmom.com, sudah menjadi suratanku. Begitu banyaknya makanan enak, semakin sedikit sisa umurku, kesehatanku untuk menikmati semua. Ketika sayur lodehku yang baru keluar dari kulkas agak berlendir karena bersantannya.

Lonceng-lonceng perak berkincingan menandakan akan mengalunnya lagu cinta, yang dengannya aku dibesarkan. Akan halnya setua ini cinta tidak tersedia bagiku sebanyak yang kumau, kurasa memang sudah diatur seperti itu. Apa jadinya aku bila diguyur banyak-banyak cinta sebagaimana kumau. Hanya terbayang olehku pujasera Gardena yang bersahaja. Bahkan makanan apa yang dijual di situ pun aku tak ingat. Hanya saja keremajaan itu masih terkenang olehku, ketika segala sesuatu mudah menyenangkan. Hanches, begitu saja teringat olehku Maastricht kala itu.

Lantas ini, betina bodoh yang tidak pernah kutemui dalam hidupku, yang ternyata nama sejenis tarian. Menari dengan seekor betina bodoh adakah pernah terjadi dalam hidupku. Seorang perempuan cerdas pernah memintaku menari bersama, yang kutolak mentah-mentah karena aku tidak suka musik pengiringnya, sehingga ia marah padaku merasa terhina. Engkau pasti sudah menduga tidak ada yang benar-benar hebat terjadi dalam hidupku. Aku hanya berpura-pura tangguh, intimidatif, tanpa kompromi. Aslinya aku ini pecundang sejati. Semua saja tahu akan itu.

Wajar saja jika malam Ramadhan aku sering terpikir mengenai makan, namun belum tentu makanan. Sejak tidak punya uang, kreativitasku terkait ide-ide mengenai makanan enak berhenti. Sebenarnya tidak juga. Sudah cukup lama aku tidak kreatif dalam hal ini, sampai Farid berkomentar terlalu cepat. Namun memang begitu adanya. Apa yang biasanya dapat meledakkan hati, kini terasa biasa saja. Sebenarnya aku agak suka dengan keadaan ini, seandainya saja ini terjadi pada kesembilan saluran hawa. Aku ini yang mengembarai gurun tinggal membawa macan.

Meski semua itu sudah berlalu bagiku, tidak berarti ia kehilangan sengatannya. Seringkali aku jengkel, meski lebih sering lagi aku begitu saja menyerah padanya. Seperti seorang gadis kecil memasang tampang yang menurutnya paling memelas, menadahkan wadah plastik bekas celengan rombeng, sementara entah adik entah kawan laki-lakinya mengenakan pakaian badut. Sudah mendekati waktu berbuka pada saat itu, ketika aku membeli terong balado dan sayur buncis udang yang gagal total bagi anak perempuan kesayanganku. Dunia ini apa maunya dariku yang lemah ini.

Mungkin selepas ini akan kumakan juga sisa pizza tuna yang tidak dihabiskan anak perempuan kesayanganku, yang ada beremahnya itu. Terkadang muncul khayalan ingin membentuk band bersama entah siapa. Terkadang ingin mengaransemen kembali Kita Muda Rasa, atau sekadar lagu-lagu selalu-hijau. Semua itu adalah remah-remah masa lalu disapu hujan awal musim gugur. Namun masih lebih enak daripada ayam piri-piri entah apa yang pernah kunikmati di ruang tamu Uilenstede 79C. Mmm, tentu lebih disukai mie goreng Java Kuliner atau sekalian kibbeling saja. 

Thursday, March 31, 2022

Tidakkah Aku Meledakkan Pikiranmu Kali Ini


Ini jelas bukan waktunya ngegoblog, namun hatiku serasa kejeblugan balon hijau berisikan hidrogen berintikan plutonium. Uah, tiba-tiba saja aku tersedot ke dalam ruang waktu, terhempas di loteng Sekolah Tinggi Ilmu Pemerintahan Maastricht. Apakah aku ini habis menyantap surimi garnalen atau bahkan roti lapis isi ikan goreng tepung dengan olesan saus bawang. Sementara itu ada kantin murah di akademi seni di belakang, menjual paket roti pentung besar, bisa diisi salad tuna, kepiting, atau telur, masih ditambah semangkuk besar sup sekali, hanya satu setengah Euro. 

Kenyataannya, pantatkulah yang terpancang pada kursi belajar Faw di kamar belakang, sedang perutku gendut mengganjal begini. Aku ditemani semug zodiak Leo teh jahe kunyit bersimbah madu jahe merah mentol, masih bertabur jahe merah gula aren bubuk. Akibatnya terlalu manis di pagi hari, maka kubagi dua, separuh di gelas permata kutambahi air panas lagi sampai penuh. Sekarang ini menjelang dhuhur, setengah lagi kutambahi air panas dan masih kumagnetron sekali, semug zodiak Leo menemaniku ngegoblog begini. Ini sudah dari seminggu lalu atau lebih.

Ya, sutra 'lah let's do it again! Bersama Bang Tagor di sini, yang dahulu terasa aduhai nikmat sekali, gurih-gurih goyang lidah, manis-manisnya; belum lagi bumbu kacang yang semrawut dengan kecap dan saos murahan. Aku bisa saja segera melesat membelinya, namun semua tak sama, tak pernah sama, apa yang kaukunyah, apa yang kautelan. Sedang Cantik melarikan diri ke kandang kambing gara-gara sekondan Mas Dikdik membongkar puncak atap, menghantam-hantamkan martilnya. Sekarang mereka berhenti untuk mengobrol di atas atap sambil mengopi.

Ini adalah akhir pagi menjelang siang ketika kepala, dada, punggung basah bersimbah peluh, mengucur karena badan dipasok air hangat bersimbah teh jahe kunyit, masih dengan jahe merah, madu, mentol bahkan gula aren. Sampai kapan badan sanggup menanggung nikmat asin-asin gurihnya kuah soto Suroboyoan di pagi hari, lengkap dengan taburan koya, meski diencerkan dengan segelas SanQua. Masih mending, jika kepagian, belum akan ada gorengan entah tahu, bakwan, atau tempe, yang jelas menambah kenikmatan sruput-sruputnya kuah soto. Aduhai!

Semua ini tak ayal mengakibatkan tumpah ruahnya perut, ndlewer mengalir sampai jauh. Apakah itu Ki Ageng Suryomentaram atau sekalian Pangeran Diponegoro niscaya tidak akan berdaya menghadapi mudanya kehidupan yang berhias intan permata mutu manikam, entah yang mungil mengerling atau melotot sebesar jempol. Belum lagi mutiara tersembunyi yang bersaput madu-madu gurih dengan keharuman yang memabukkan. Aku belum lagi tahu bagaimana Ki Ageng, tapi Pangeran Diponegoro jelas cekakar di hadapan itu semua. Inikah nasib pangeran-pangeran Jawa?

Raden Ronggowarsito menulis apa yang oleh orang-orang disangka risalah-risalah, atau bahkan mungkin ia sendiri menyangkanya begitu. Aku mengitiki goblog ini tidak untuk disangka apa-apa, kecuali, seperti yang sudah disangkakan Mas Teguh Rumiyarto, bahwa aku gendeng. Di titik ini aku sudah tidak tahu lagi mana yang lebih baik, dikatakan gendeng atau keple. Jelasnya, perutku ndlewet sampai-sampai penampilanku memang gendeng tur keple. Betapa tidak, tangan kananku bergerak ke atas ke bawah berulang-ulang, kadang cepat kadang lambat.

Lantas bagaimana aku harus mengakhiri entri ini, sedang peluh terus mengucur pada suhu ruang 36 derajat selsius. Bahkan ketika aku berusaha untuk melontarkan diriku ke awal perjuangan ini (halah!), masih telur rebus itu saja yang teringat di beranda salah satu kelas SMP 4 Jakarta. Bahkan ada pula yang sudah mengenakan putih-abu-abu masih membersamaiku di Istiqlal kala itu. "Sampai bertemu di Lembah Tidar", katanya [Tentu saja tidak]. Apakah Teras Hijau menjadi kelanjutan ini semua, atau seperti halnya hidup di dunia, sekadar senda-gurau belaka.

Bersetia Bela Pancasila, Demi Jaya Indonesia  

Wednesday, March 16, 2022

Nenen Susu Kambing Etawa, Nenen Kurma


Ya, memang air susu kambing lebih lengket dari sapi, apalagi manusia. Itu karena kandungan kaseinnya tinggi. Jika kita meminum air susu dengan kandungan kasein tinggi, maka di perut dia akan membentuk semacam gumpalan yang tidak dapat cepat dicerna. Malahan, ia akan dicerna sangat perlahan sambil melepaskan energi sedikit-sedikit. Ah, ada-ada saja, lagian susu kambing dinenen. Maka kuganti saja irama baru jadul dengan lagu-lagu Indonesia sok ngejez dari empat puluh tahunan lalu. Maka mengalunlah suara emas Tante Rien Djamain mengenai hantu-hantu.

Nenen kambing etawa. Di sudut kanan bawah tampak butir-butir tahi kambingnya
Meski entri ini tepat ditulis pada hari ulang tahun Mbak Dr. Fitriani Ahlan Sjarif, tidak berarti entri ini untuk merayakannya, apalagi mengenainya. Meski setelah sekian lama akhirnya aku mendengar lagi suara Iga Mawarni, ingatanku selalu mengenai Sopuyan dan Peter Gontha yang mengira dirinya Michael Franks. Seharusnya gambaran bagi entri ini adalah franks alias sosis, yang mungkin kependekan dari frankfurter. Uah, betapa sedapnya makanan ini dahulu. Terlebih kalau ia terjepit di antara dua roti lantas disiram chili con carne begitu, menjadi A&W Chili Dog.

Maka begitu saja aku berteleportasi ke Paris, sedang kenanganku tertumbuk pada penambang-penambang perang dan waktuku. Ya, aku memang pernah berperang di kedua-dua belah pihak. Bahkan aku pernah menjadi salah satu panglima perangnya Yuri. Keistimewaan penambang perang adalah, seperti namanya, ia bisa berperang. Jika musuh mendekat, asalkan tiada terlalu kuat, ia bisa melukai bahkan menghancurkannya. Sedang penambang waktu sanggup berteleportasi, kembali ke kilang bijih dalam sekejap mata. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.

Namun tentu saja yang selalu terkenang adalah kapal udara kelas Kirov besutan pabrik perang. Daya hancurnya luar biasa. Beberapa bom saja sudah sanggup melenyapkan satu lapangan konstruksi, membuat musuh tidak berdaya membangun apa-apa lagi. Akan tetapi kapal udara ini memang ringkih. Jika musuh memiliki situs-situs peluru kendali darat-ke-udara dalam jumlah memadai, Si Perkasa Kirov tidak akan berdaya. Seperti layangan tewang, ia akan nyubluk begitu saja menghunjam tanah. Itulah sebabnya penting sekali mengintai sasaran dan membersihkan sarang-sarang peluru kendali sebelum melancarkan serangan udara dengan menggunakan kapal udara. meski itu kelas Kirov yang perkasa.

Sedang mungkin masih ada gumpalan susu kambing dalam lambung, masih kutimpa juga dengan mie ayam donoloyo dan beberapa potong tahu susu Cihuni. Untuk Cantik dan Anak Perempuan sebungkus gado-gado yang kecil porsinya, mungkin karena sudah terlalu siang. Untunglah tadi Tukang Cilok sedang makan. Jika tidak, sudahlah ada gumpalan susu kambing, masih ditambah pula dengan bergumpal-gumpal aci, tentu dengan sulur-sulur mie ayam mengambang-ngambang setelah ditimpa tiga ratusan mililiter air. Memang begitu dunia ini, selalu penuh misteri.

Dengan roket macan tutul tuli ini aku terlempar ke mie ayam yang lain, yang pakai kecap, yang entah mengapa selalu kukaitkan dengan Endro Wahyu Wibowo, teman satu Graha Sepuluh lantas Akademi Angkatan Laut. Ia yang dengan lemah-lembut mengingatkanku betapa Bapak memberi sambutan mewakili orangtua-orangtua Angkatan 43. Sudah pasti saat itu aku lupa akan sebuah rumah sederhana entah di sebelah mana Magelang, dan ingatan aneh mengenai rambut kaki. Di siang hari bermendung yang agak menyakiti kepala, aku terpekur mengenangkan. 

Lebih menjengkelkan lagi, aku tertukar-tukar antara Jon Bongiovi dan Billy the Kid, semata mungkin karena ia mengisi musik pada film mengenai yang belakangan. Akibatnya, kusut 'lah aku antara New Mexico dan New Jersey, sedang William H. Bonney sendiri sebenarnya asli Manhattan, New York. Begitulah maka fakta-fakta ini memenuhi loteng benakku. Meski di luarannya aku sangat spartan, dalamku sangat berantakan seperti seorang penimbun. Apakah Bayeman atau Magelang Theatre menjadi tidak penting setelah aku berakhir di tepi Cikumpa sini. 

Saturday, March 12, 2022

Cinta Menggigit Seperti Alien Aquarium Sinting


Apa pantas suatu Sabtu pagi yang cerah dimulai dengan segelas teh jahe kunyit bersimbah madu jahe merah mentol. Tidak juga, ketika sebelumnya sudah didahului dengan seporsi nasi berlauk ayam bulgogi, lengkap dengan tumis kacang polong dan sayur-mayur, masih ada pula begedil kentang. Ketika mencukupi kembali gorengan karena diambil anak perempuan, sempat bingung: harus beli apa di Indomaret, agar dapat tarik tunai, lalu ke Ucok membeli ABC Kopi Susu. Begitu sampai Indomaret baru terpikir, ya beli ABC Kopi Susu hahaha. Hah, sudah kupentokkan saja. Peduli apa rata kanan kiri!

Apa pantas Presiden Joko Widodo disandingkan dengan tanaman seperti falus begitu
Sabtu pagi yang cerah begini seharusnya aku pergi menjenguk Pak Bakti bersama dengan Keluarga Hukum Adat FHUI selebihnya. Namun sudah sejak Kamis badanku tiada begitu endang. Semoga hari ini sudah bambang. Suasana hati yang ceria di pagi hari memang seperti itu. Terkadang diisi senandung, terkadang rampaknya perkusi tradisional; yang belakangan ini sering membuatku merasa harus minta ampun pada Sang Maha Pemberi suasana hati yang ceria. Apakah tepat tindakanku memulai Sabtu pagi yang ceria begini dengan mengetiki, seraya telanjang dada karena kepala pun basah berkeringat begini.

Lantas kurasi, hahaha Sandoro, Togar, kalian jangan bermimpi. Mana ada jaman sekarang pembaca. Jangankan buku, membaca apapun tidak. Bahkan Sopuyan yang propesor begitu aku tidak yakin dia membaca. Bukan membaca bagiku jika tujuannya untuk main kiu-kiu. Membaca itu berbincang-bincang, bertukar-pikiran dengan penulisnya. Itulah maka Al-Qur'an tidak bisa dibaca. Al-Quran itu dirapal, dilantunkan sambil mengharap belas-kasihan kepada Yang Memfirmankan. Ah, sudahlah. Aku kebanyakan ngomyang. Aku membaca tidak, apalagi merapal, melantunkan, mengharap belas-kasihan.

Aku ingin kopi susu! Apa susu kambing etawa dengan kurma dapat menggantikannya. Mengapa Tante Lien lebih suka tinggal dekat Tante Ida. Adakah ia akan kembali ke sini suatu hari nanti, adalah berbagai hal yang mengaduk-aduk isi kepalaku. Meski begitu, tetap aku mengeraskan hati. Hari ini juga, setelah mengitiki, aku harus segera berjuang. Terug naar het front. Itu adalah Pertempuran Tonjolan yang sama, yang di Hits itu, dengan yang dalam cakram keras eksternalku. Begitu saja aku kembali ke sejuk dinginnya persekitaran Maastricht Centrum. Jika memang rejeki, apa hendak dikata.

Asuwer, asu dikewer-kewer, bagiku, kamu sangat cantik. Meski, tentu saja, aku akan berkata, apalah artinya cantik jika tidak segera berjuang, mengetik. Kurasa aku terobsesi, pada apa. Farid berkata ini terlalu cepat, kehilanganku pada ide-ide mengenai makanan enak. Untung aku bukan Nex Carlos yang mencari uang dari makan. Nex sudah berhasil membuatkan ibunya sebuah rumah bertingkat-tingkat gara-gara makan-makannya itu. Aku belum berhasil membuatkan siapapun apapun dari makan-makanku. Sepertinya benar-benar akan kuseduh entah susu kambing etawa dengan kurma atau jahe merah.

Debu bintang, aduhai, sungguh indah di atap asbes memandangi langit senja Kota Tangerang, sedang dikejauhan suara mesin pabrik menggeram. Apapun yang mencuat ketika itu pasti sungguh menggairahkan, ketika testosteron baru saja diproduksi, berlebihan bahkan. Pada saat itu, meski tentu saja tetap elek-elekan, aku berjuang. Ketika rambutku masih bisa ngetril kalau lama tidak dicukur, aku berjuang. Kini pun, setelah botak gendut sakit-sakitan, aku masih berjuang. Jadi ya memang tidak di sini. Di sini ini tempatnya berjuang. Berleha-leha bukan di sini tempatnya, apalagi sambil mainan beha.

Bisa juga di kosan entah apa, di pengkolan ke arah Kelapa Dua, yang pernah digrebeg polisi mencari narkoba. Dari situ pindah ke tempat Babe Tafran, masa-masa itu, baik ketika masih merokok atau sudah insap. Ketika masih kuat mengukur Margonda dari ujung ke ujung, bahkan dari Raya Bogor sampai kampus hanya bermodalkan mijon. Pernah juga berbincang mengenai kopi Lampung sedang tiada terjadi apa-apa, kecuali cerita mengenai kecemburuan seorang istri karena suaminya menggunakan jasa temannya. Harusnya kamu bayar aku karena suamimu telah memakaiku. Gusti mohon ampun, dunia ini.

Friday, March 11, 2022

Tanah Airku Mengroncong: Masa Kecil Pak Bambang


Sungguh sulit. Meski setetes demi setetes, masih terus saja menetes, membawaku ke lantai teraso yang amit-amit jangan sampai ketemu lagi. Menyisakan kenangan pahit, jika sekadar laptop kecil hilang diembat orang. Ini seharusnya menjadi lecutan untuk berpacu, melesat seperti kuda hitam jantan jadi-jadian Puka, melemparkan Panglima Kormak ke dalam rawa-rawa. Ini justru kenangan yang lebih menyakitkan, karena masih ada namun sudah tidak begitu lagi. Apa kututup saja goblog ini, yang kukasih Dedi untuk tempat dan waktu terindah dalam hidup. Hidupku di dunia fana, yang sementara ini.

Puji-pujian kepada tanah air, kampung halaman, itu hanya bagi generasi yang belum mengenal Si Mata Satu, yang memelototi anak-anak bocil. Orang tua-tua melihatnya seperti mata Betara Kala, merah meradang, dengan pembuluh darah bersulur-sulur menonjol seperti akar beringin, meleleh-leleh lendir bergolak busuk baunya. Anak-anak bocil melihatnya seperti suwarga panorama bertebar bianglala, cantik memikat tak terpermana, menghipnotis mata-mata mereka berputar-putar seperti payung fantasi di taman ria. Aku si orang tua tidak berdaya, karena kami pun melakukannya, apatah lagi hendak dikata.

Haruskah aku yang lungkrah didera jasad renik mengangkat senjata memerangi Si Mata Satu demi anak-anakku bocil. Seperti apakah peperangan itu, masakan aku setua ini masih bersenjatakan pelontar batu seperti Daud anak gembala, menghadapi raksasa Goliath berzirah, berperisai, bertombak, berpedang. Rasulullah bahkan sudah lebih tua dariku sekarang ketika mengamangkan Dzulfiqar. Oh Allah, seandainya Rasulullah masih ada bersama kami dalam masa-masa seperti ini, betapa bahagianya. Sedang Badui tak tahu adab saja mendapat senyum beliau, Oh Gusti betapa hamba rindu.

Entri ini memang 'kukasih Dedi untuk memperingati Supersemar, yakni semacam Superman berkepala Semar. Dahulu ada gambarnya lho. Dahulu yang seperti itu masih lucu, masih ada harganya. Sekarang semua ditoleh pun tak, setelah ada Si Mata Satu. Pengetahuan yang didapat darinya sesat dan menyesatkan semua. Kau pun menggunakannya, begitu kata Ari Condro Wahono. Ya, memang tolol, kuakui, Con. Menurut KH. Abdi Kurnia, KH. Zaenuddin Mz. mulai berdakwah karena mendapat restu dari gurunya, KH. Idham Chalid, bukan karena dorongan dan dukungan suatu "manajemen dakwah".

Seperti halnya aku melihat segala sesuatu di nDalem Yado, seperti itulah segala sesuatu akan berlalu. Masih adakah semangatku untuk mewujudkan kebahagiaan itu. Aku, jelasnya, tidak pernah berhenti berdoa, selalu berharap. Terlebih ketika badan lungkrah begini, justru semakin keras doaku. Ini buktinya, aku menulisi. Kutulisi dengan keras goblog ini, seakan-akan aku berusaha membangun kebahagiaan itu dengan tangan-tanganku sendiri, langsung dari dalam pikiran dan khayalanku, langsung dari perasaanku, dibasahi derai air mataku. Kususun bata kebahagiaan itu satu per satu, aku bersikeras.

Akan halnya Pak Bambang Wahyono disebut-sebut, karena beliau selalu mengenang waktu-waktunya di mBarepan dengan penuh kerinduan. Apakah semata kerinduan akan masa muda, atau memang karena di sana terdapatnya impian yang muspra. Sedang kawan-kawan seangkatannya Takwa merayakan syukuran bintang pertama, sedangkan Kolonel Dr. Sigit secara pribadi menghubungiku, aku terus saja termangu-mangu mengenangkan impian yang hancur menjadi remah-remah. Tidak! Kupunguti remah-remah ini, kususun kembali menjadi kenyataan, selama hayat masih dikandung badan.

Dentam-dentamnya cello seperti detak jantungku sendiri, mengilhamkan, mengalirkan kesehatan ke sekujur tubuh dan jiwaku, lahir batin. Ya Allah, hamba memohon hanya kepadamu, seperti setiap malam hamba berdoa. Hamba belum putus asa. Asa itu terus bersambung sebagaimana malam bersambung malam berikutnya. Entri ini kutulis dalam keadaan badan lungkrah didera jasad renik. Ini bukan perlawanan. Aku hanya mengikuti alunannya saja, yang mana memang mengalun seperti ombak di Pantai Senda Gurauan. Seperti malam-malam di Lembah Tidar yang penuh berkah, seperti itulah ia.

Thursday, February 24, 2022

Sudah Dua Alinea Belum Ada Judulnya


Membuka pengolah kata bukan untuk berjuang juga tiada mengapa, terlebih ketika engkau habis menyeruput habis susu manis dingin rasa beribiru. Terlebih ketika seulas awan menyaput bulan dari tiga puluh tujuh tahun yang lalu. Sudah lewat sebelas menit dari pukul sepuluh malam. Bisa saja aku baru melangkah menuju kampus, entah dengan sebungkus Djarum Super atau Star Mild Menthol. Pada saat itu aku lebih langsing sepuluh kilo dari sekarang. Dalam waktu-waktu setelahnya aku bahkan masih bisa lebih langsing dua puluhan kilo dari itu, waktu-waktu.

Aku tidak mau mengingat-ingat, namun aku suka kerampakannya. Kalaupun harus kuingat, maka biarlah mesin ketik itu, yang menyanding sebaskom kopi dan seslof Bentoel biru. Habis dalam semalam. Kubiarkan diriku melakukan semua ketololan itu, ketika kawan-kawan sebayaku merintis hidup mereka sebagai orang dewasa yang bertanggung-jawab. Aku mengetik rampak begini, untuk kufotokopi besok di tempat Santiago ketika masih Santo. Rangkap dua sekali, satu untuk arsip, satu kukirim ke Kompas. Dibalas selalu memang, selalu begitu balasannya. Maafkan aku.

Kesukaanku gula-gula Jawa. Justru karena itu terasa harumnya, kayu manis, meski tak mungkin kusebut. Semua ada di ujung lidahku, di tengah-tengahnya kukulum-kulum. Aduhai masih terasa semuanya. Justru itu yang kusuka. Maka aku pulang saja. Ke mana. Ke Mess Pemuda bekas kamar Joyada yang tidak lama kutinggalkan. Aku masih ingat kengeriannya. Aku pulang lagi ke Jalan Radio. Naik taksi, aduhai betapa menyiksa. Dilepas begitu saja oleh Jamal Gani. Aku mampir ke Klinik 24 Jam, pulang ke kamar belakang garasi menunggu reda. Aku masih muda.

Akan halnya pagi-pagi begini aku menghadapi masa lalu, sepulangnya dari warung nasi entah apa namanya, depan PLN dekat kecamatan. Suami istri ribut saja bertanya mengenai asal, sampai kutahu pernah lama di Palembang karena ikut mantan. Sungguh menjengkelkan. Jambi, pempek, gabus, Bumiayu, Brebes adalah beberapa yang sempat disebut. Lantas Bert dan Ernie, buat apa kubahas mereka. Aku bahkan mendapati diriku bersemangat ingin bercerita mengenai keberlanjutan kepada bocah-bocah. Apa Bert dan Ernie berminat mendengarkannya. Kurasa tidak mungkin.

Setelah cinta hilang memang tidak pernah menghilang dariku, karena aku memang terlahir pecinta. Dapat saja kucintai apapun, termasuk kucing betina bungkik yang salah satu kaki belakangnya putus. Tertatih-tatih menyeberang Kemakmuran, sementara seorang bapak menghentikan mobilnya cukup lama untuk membiarkannya sampai di seberang. Menyeberang Meuse, sementara itu, jauh lebih mudah dibanding Ij, tinggal pilih lewat jembatan Wilhelmina atau Santo Servatius. Menyeberang Ij harus naik feri, meski gratis; semua gara-gara Jeng Arum.

Ini teh hitam jahe kunyit apa, tidak terasa jahe, kunyit, bahkan tehnya. Aku jadi rindu pada teh-teh berempahku, meski terakhir yang kubeli itu-itu saja. Bahkan Stella rasa lemon pun kuhisap-hisap saking gabutnya. Pedes-pedes gimana gitu. Sempat terlintas lapangan badminton di samping hanggar Mandala, di depan rumahnya Oom Bowo, Pak Kartono, Pak Sujud, siapa lagi. Pak Tono, Pak Barjo, Pak Kanto, Oom Pendi, rumah manis rumah. Betapa nyamannya tempat tidur tingkat yang sudah entah di mana sekarang. Kasurnya kapuk. Bahkan ada sarung-sarung dinginnya.

Tidak ada lagi yang ada di situ, bahkan Dek Ipuk yang terakhir lahir di situ saja sudah tidak di situ. Memang sudah tidak ada. Tinggal kenyamanannya saja yang dapat kuhadirkan kapanpun aku membutuhkannya. Apakah itu di pagi hari, siang, sore, maupun malam menjelang tidur. Selalu saja nyaman. Bahkan Adjie saja tidak di situ lagi. Terakhir kali aku di situ umur delapan hampir sembilan. Apanya yang nyaman dari kulkas yang sampingnya belepotan catnya, karena entah Bapak terpeleset terpegang ketika masih basah. Entah tidak ingat isinya.

Monday, February 14, 2022

Selamat Hari Memang Tidak Ada yang Sayang


Setahun lalu aku termangu memandang adegan interrasial di hadapanku. Meski bertemu di tempat cuci, tiada pula yang terjadi, seperti jika bertemu di mana pun. Hei, aku sedang berusaha menyelesaikan. Akankah mengitiki begini berdampak buruk, meski diiringi waltz kaisar. 'Tuh belum-belum sudah kusut hubungan sebab-akibat atau apapun. Ini semata karena sudah terlalu malam aku belum bisa tidur. Agak lama tidurku tadi siang, sekitar dua jam. Habis makan siang 'kupikir akan segar, malah tertunduk tertidur. Beginilah di sisa malam kasih-sayang ini...

Aku belum bisa tidur, padahal ini sudah tengah malam. Sudah semingguan ini aku menghuni kandang kambing. Sebelum ini aku makan fuyunghai berteman capcay, seperti malam kemarin begitu saja memesan spaghetti gara-gara Cantik. Untuknya fetuccini, untuk anak perempuan choco puff. Perut sudah gendut begini, berat sudah lebih sekwintal. 'Kubiarkan angan menyusuri kandang sepeda di bawah Sepurderek, di mana berhari-hari aku melaluinya sambil menyeret kaki. Ketika itu masih ada Van Moof putih, sebelum dibeli Zulfaqor, tepat sekitar setahunan lalu.

Begitu saja aku mengelus-elus leher penuh berkutil. Semoga ini tahun macan Cisewu, yakni yang ramah, meski tetap macan. Setua ini sudah tidak sanggup aku, jadi seperti Jabba the Hut aku menyeret-nyeret perut kian kemari. Tidak pula seperti Don Masseria si Babi Gendut, aku tidak suka kucing kecil. Maka Onti 'kuusir-usir agar jangan sampai mengeluarkan kucing-kucing kecil dekat-dekat sini. Aku tetap seperti diriku ketika memilih Joshua dulu, memurnikan. Aku juga tetap seperti diriku ketika tidak tahan melihat ranumnya buah-buahan menggantung.

Mau Danube, Amstel, atau Meuse, semua mengalun mengalir. Di suatu hari yang dingin sampai ke tepinya Meuse, sama seperti tepi Cikumpa. Keberlaluannya. Keterlaluannya. Samakah ini dengan malam-malam di kontrakannya Pak Musa, ketika durian bergedebug. Sewaktu-waktu, jadi bersabarlah. Akankah suatu hari nanti aku merasa rugi membayar republikku tiap bulan. Akankah suatu hari nanti aku merasa rugi membayar apapun, termasuk biaya kontrol ke dokter Kamto tiap bulan. Tiada 'kan lama lagi, seperti gang sempit di belakang rumah Tommy.

Aku yakin ke depannya akan ada petualangan lagi. Hidupku akan bergairah lagi. Suatu gairah yang berbeda dari sebelum-sebelumnya. Suatu petualangan yang mungkin menjadi tiketku untuk pulang. Tidak mungkin begini-begini saja dan begini-begini terus. Tentu saja tidak seperti yang dibayangkan Sopuyan. Seperti yang dibayangkan Takwa, entahlah. Gairah berpetualang itu benar-benar terasa seperti memanggil-manggil, meski aku bukan petualang. Aku mahluk khayal yang tidak bisa main sulapan. Aku lebih suka mengurung diri di gua, meski terkadang aku keluar juga.

Akankah ada gerobak goyang atau semacamnya dalam petualangan itu, aku tidak tahu. Aku bukan penetap. Aku datang, melayang dari angkasa, menyembur-nyemburkan api, pulang. Aku seperti leak yang sering menempel di dinding teras orang jaman dulu kala, menakut-nakuti anak kecil. Swargi Bapak membelikanku Anggada, sedang Adik Anoman. Apapun itu, akan 'kuporak-porandakan Alengka, keangkara-murkaannya. Aku bersenjata gada. Biarlah orang menertawai, aku tertawa nanti. "Kutunggangi gerobak goyang 'nuju matahari terbenam sambil bernyanyi.

Hanya pulang dambaku kini. Masih banyak yang harus 'kulakukan sebelum pulang, yang berkisar pada mercu suar. Akan 'kukatakan: "Semua yang telah 'kulakukan adalah untuk Bapak dan Ibu." Semoga Sang Hyang Wenang berkenan. Akankah, sebelum pulang, seperti swargi Bapak dan Mama, aku dikaruniai malam-malam penuh tahajud, subuh yang selalu tepat waktu. Kedamaian seorang lelaki usia senja, berkoko bersarung berpeci, melangkah takzim menuju mesjid bahkan sebelum dipanggil. Sehari lima kali. Badan ringan tidak berat lagi. Malu. Budak masa gemuk.

Monday, February 07, 2022

Jangan Sampai Salah Langkah Memulai Hari


Dua jam setiap hari kata Gerben. Terdengar mudah, terutama jika mengingat sehari ada 24 jam lamanya. Ataupun jika dikurangi waktu tidur malam, masih ada 16 jam. Namun bagaimana jika bangun tidur terasa kurang segar dan agak sakit di tengkuk kanan menjalar ke samping kepala sebelah kanan. Bagaimana kalau kemudian badan terasa meriang dingin, padahal sudah makan nasi kuning lengkap dengan sejumput mie goreng, orek tempe, masih dengan tahu pedas dan telur semur. Terlebih sudah minum sekira 300 ml teh Prenjak bersimbah jahe merah campur putih.

Alinea di atas sudah berumur lebih dari 24 jam, setelah makan siang seporsi nasi gudeg telor lengkap dengan soto ayam beserta cemilan dakak-dakak dan snek micin bogalaut Korea; lantas makan malam mie goreng ayam; makan pagi nasi warteg Syifa dengan teri kacang, tahu jamur tiram, dan telur ceplok; sampai makan siang lagi dengan Sarimi goreng ayam kecap berteman tiga butir bakso diiris tipis-tipis. Kebanyakan makan itu relatif, yang jelas aku tidak ada gerak badannya. Perut selalu kembung kurasa lebih karena itu. Gerak badan ketika rasa badan begini aduhai...

Aku bahkan tidak mau membahas, apalagi sampai mengabadikan. Sekadar menyindir pun tak. Biarlah harum gaharu membawanya pergi jauh melayang entah ke mana, mengharumkan yang busuk. Abu gaharu luruh membuat bara lebih benderang sejenak. Tidak bisa lain inilah caraNya menyelamatkanku. Aku si pengecut atau apapun yang jauh lebih buruk lagi dari itu. Jelasnya, aku pecundang. Biarlah aku begini di kehidupanku yang ini, asal jangan di kehidupan abadi. Jez halus dari sebuah kamar sewaan yang nyaman di New York, di sudut mata kananku banjir cahaya.

Jika gaharu ini habis terbakar, sudah menunggu Sang Maharaja. Ia akan bertahta menguarkan keharuman ke seantero pedalaman hati. Jelas ia tidak di hati, betul-betul di permukaan kulit belaka. Seperti ketika aku masih kuat menyongklang Parioh Sty di sepanjang Pejaten Utara lanjut Kemang Selatan, ketika di pengkolan itu masih ada Lawson; bahkan lebih muda lagi dari itu. Ini semua sekadar masalah kemudaan. Jelas bukan masalahku, karena aku tidak muda lagi; dan bukan itu yang kuinginkan. Apokalipso adalah keniscayaan 57 tahun lagi menurut peredaran bulan.

Keindahan itu menjalar-jalar pada lantai hutan, pada sampah ranting dedaunan, pada akar-akar. Dapat kubayangkan betapa harumnya keindahan itu, kusesap, kucecap perlahan-lahan. Memabukkan. Memuakkan, namun memabukkan. Kesederhanaan itu justru yang membuatnya tertahankan. Khayalan mengenai segala dewi dan bidadari justru membuat jengah, apatah lagi sekadar ratu dunia. Aku merayapi melata-lata, sedang garengpung semakin cepat menggosokkan kedua sayapnya, mengeluarkan bunyi berdenging yang kadang mendengking.

Teringatnya, jam 11.00 tadi aku membuka Semester Genap 2022 dengan dongengan standar mengenai Pasal 33.3 UUD 1945. Masya Allah sudah berapa tahun aku melakukannya, aku kakak pendongeng. Kalau tidak mau lama-lama, segera selesaikan disertasimu, maka kau akan menjadi... bukan, bukan peneliti, melainkan penjawab Adzan. Eh, biarkan orang-orang yang merasa keren itu bicara sesuka mereka. Pertama, dalam hati mereka siapa tahu. Kedua, aku hanya ingin menemuinya kelak dalam hidup sejati, dan itu sungguh-sungguh teramat sangat layak diinginkan.

Oyentina tertidur nyenyak di kursi jati. Aku mencoba untuk tidak sampai membangunkannya, namun tak ayal ia bangun juga. Mungkin aku tidak akan betah juga jika tinggal di toko tembikar, namun di kuil kurasa aku bisa betah, atau tidak. Selama kuil itu ada orangnya, mungkin rasanya sebelas duabelas dengan Mushala HAN. Ini semua tidak akan lama. Kau hanya harus menunggu. Semoga dalam penantianmu, dan ketika datang waktunya kelak, Allah berbelas-kasihan padamu. Jika sudah begini, apalagi yang akan kutuliskan dalam goblog ini. Kegoblogan tanpa batas.