Apa yang dirasakan seorang lelaki pertengahan dua puluh tahunan, menyewa rumah petakan di sekitaran Juragan Sinda seperti dilakukannya ketika masih awal dua puluh tahunan di sekitaran Palakali. Apakah kesamaan rumah petakan akan membawa padanya kenyamanan hidup dari beberapa tahun yang lalu, hampir lima tahun. Apakah karena rumah petakan itu maka cinta akan kembali kepadanya, kali ini lengkap dengan seorang buah hati. Setelah berbagai kontrakan sampai kamar kos-kosan, sampai rumah mungil berlangit-langit rendah sebelah kandang kambing.
Apa yang dilakukan seorang lelaki, menghabiskan hampir lima belas tahun hidupnya dari akhir belasan sampai hampir pertengahan tiga puluhan dari satu kontrakan ke kontrakan lain, satu rumah, satu kamar, bulanan atau tahunan. Bukan kontrakan itu benar yang penting, ketika ia sekadar pengalih perhatian, agar lupa kesakitan yang tidak pernah benar-benar pergi, luka yang tidak pernah benar-benar menaut mengering. Entah berapa tahun berapa bulan berlalu begitu saja mengenang hari-hari bahagia berselimut cinta. Cinta tak pernah salah, hanya caranya ngawur.
Bukan sekadar cinta, bahkan seluruh hidupnya ngawur. Betapa sakitnya menghancurkan kehidupan sendiri ketika tidak pernah benar-benar tahu mau apa dan bagaimana. Ketika akhirnya tahu hanya dapat diungkap dalam satu kata: bijaksana. Dokter seperti kebanyakan bocah cilik, tertarik pada metanarasi, ditarik ke dunia penerbangan sipil maupun militer, infanteri berkualifikasi kelautan, korps pelaut, gelandangan jalanan, ilmuwan, suami, bapak, gelandangan jalanan lagi, proyektor, dosen, tabib, entahlah. Padahal lelaki hanya ingin bijaksana. Mencinta itulah bijaksana.
Apa yang dilakukan seorang lelaki pertengahan dua puluhan tahun, sendiri di rumah petakan kontrakannya. Berbaring junub di kasur kapuk lusuh tipis kempis, langsung tidur setelah melepas penat biji-bijian sendiri, tidak mandi. Berapa tahun tidak pernah mandi junub. Apakah ketika akhirnya tobat lantas mandi junub, tidak ingat. Ketika itu kemarau. Mahasiswa baru 2002 baru saja masuk. Setiap tahun mahasiswa baru masuk, setiap tahun pula terasa semakin abadi. Sendiri entah apa yang dikerjakan di rumah petakan yang lengang, kadang jlaga iman pun Shawn.
Berjalan ke arah Juragan Sinda belok kanan, apakah ada warung indomie. Seperti biasa berkepul-kepul asap rokok kretek seraya berbual-bual entah segala apa. Kemungkinan mengenai abri-abrian karena ketika itu ABRI baru ulang tahun ke-57, sudah jadi TNI. Dari mana datangnya uang pembeli indomie, makan di warteg, terus beli rokok setiap hari tiada henti. Ketika itu pasti sudah pancet Djarum Super atau sedang sok istirahat maka Starmild menthol. Istri pergi membawa serta anak perempuan satu-satunya. Akankah rumah petakan bawa mereka kembali, termangu ragu.
Bukan mencari uang sungguh malah membuat kelompok studi hukum dan masyarakat sesuai dengan arahan Paduka Yang Maha Mulia Terkultus-individukan Bagus Suryahutama Sarjana Hukum (PYMMTi. Bagus S.H. kuadrat). Ya, hanya karena PYMM sudah SH kuadrat maka dibuatlah suatu kelompok studi entah bagaimana untuk menghidupi anak istri. Maka sekitar lima hari kemudian terjadilah apa yang harus terjadi, yang tidak pernah benar-benar hilang sehingga kini. Sebelum 10 Oktober 2002 tidak pernah kenal takut. Setelahnya rasa takut tetap selalu menggelayut.
Tidak seperti almarhum Pak Sugeng Hardjo Taruno, bukan Fretilin yang 'ku hadapi, melainkan aku sendiri. Tidak seperti almarhum Mayor KKO (Anm.) Sugeng, aku tidak mati dan tidak dinaikkan pangkat lebih tinggi satu tingkat. Aku tetap saja pecatan kopral taruna laut pelaut. Kolonel Laut (E) Teguh Rumiyarto pernah mau mengusulkanku menjadi Kolonel Laut (Hor.). Aku tak mau. Kalau boleh aku mau jadi Sersan Taruna (P) (Hor.) (Purn,) saja. Aku mau mengenakan lagi PDU I-ku lengkap dengan webbingnya, dengan perut menggelendutku pasti teramat lucu. Dirikuini.
Apa yang dilakukan seorang lelaki, menghabiskan hampir lima belas tahun hidupnya dari akhir belasan sampai hampir pertengahan tiga puluhan dari satu kontrakan ke kontrakan lain, satu rumah, satu kamar, bulanan atau tahunan. Bukan kontrakan itu benar yang penting, ketika ia sekadar pengalih perhatian, agar lupa kesakitan yang tidak pernah benar-benar pergi, luka yang tidak pernah benar-benar menaut mengering. Entah berapa tahun berapa bulan berlalu begitu saja mengenang hari-hari bahagia berselimut cinta. Cinta tak pernah salah, hanya caranya ngawur.
Bukan sekadar cinta, bahkan seluruh hidupnya ngawur. Betapa sakitnya menghancurkan kehidupan sendiri ketika tidak pernah benar-benar tahu mau apa dan bagaimana. Ketika akhirnya tahu hanya dapat diungkap dalam satu kata: bijaksana. Dokter seperti kebanyakan bocah cilik, tertarik pada metanarasi, ditarik ke dunia penerbangan sipil maupun militer, infanteri berkualifikasi kelautan, korps pelaut, gelandangan jalanan, ilmuwan, suami, bapak, gelandangan jalanan lagi, proyektor, dosen, tabib, entahlah. Padahal lelaki hanya ingin bijaksana. Mencinta itulah bijaksana.
Apa yang dilakukan seorang lelaki pertengahan dua puluhan tahun, sendiri di rumah petakan kontrakannya. Berbaring junub di kasur kapuk lusuh tipis kempis, langsung tidur setelah melepas penat biji-bijian sendiri, tidak mandi. Berapa tahun tidak pernah mandi junub. Apakah ketika akhirnya tobat lantas mandi junub, tidak ingat. Ketika itu kemarau. Mahasiswa baru 2002 baru saja masuk. Setiap tahun mahasiswa baru masuk, setiap tahun pula terasa semakin abadi. Sendiri entah apa yang dikerjakan di rumah petakan yang lengang, kadang jlaga iman pun Shawn.
Berjalan ke arah Juragan Sinda belok kanan, apakah ada warung indomie. Seperti biasa berkepul-kepul asap rokok kretek seraya berbual-bual entah segala apa. Kemungkinan mengenai abri-abrian karena ketika itu ABRI baru ulang tahun ke-57, sudah jadi TNI. Dari mana datangnya uang pembeli indomie, makan di warteg, terus beli rokok setiap hari tiada henti. Ketika itu pasti sudah pancet Djarum Super atau sedang sok istirahat maka Starmild menthol. Istri pergi membawa serta anak perempuan satu-satunya. Akankah rumah petakan bawa mereka kembali, termangu ragu.
Bukan mencari uang sungguh malah membuat kelompok studi hukum dan masyarakat sesuai dengan arahan Paduka Yang Maha Mulia Terkultus-individukan Bagus Suryahutama Sarjana Hukum (PYMMTi. Bagus S.H. kuadrat). Ya, hanya karena PYMM sudah SH kuadrat maka dibuatlah suatu kelompok studi entah bagaimana untuk menghidupi anak istri. Maka sekitar lima hari kemudian terjadilah apa yang harus terjadi, yang tidak pernah benar-benar hilang sehingga kini. Sebelum 10 Oktober 2002 tidak pernah kenal takut. Setelahnya rasa takut tetap selalu menggelayut.
Tidak seperti almarhum Pak Sugeng Hardjo Taruno, bukan Fretilin yang 'ku hadapi, melainkan aku sendiri. Tidak seperti almarhum Mayor KKO (Anm.) Sugeng, aku tidak mati dan tidak dinaikkan pangkat lebih tinggi satu tingkat. Aku tetap saja pecatan kopral taruna laut pelaut. Kolonel Laut (E) Teguh Rumiyarto pernah mau mengusulkanku menjadi Kolonel Laut (Hor.). Aku tak mau. Kalau boleh aku mau jadi Sersan Taruna (P) (Hor.) (Purn,) saja. Aku mau mengenakan lagi PDU I-ku lengkap dengan webbingnya, dengan perut menggelendutku pasti teramat lucu. Dirikuini.


No comments:
Post a Comment