Jiwa untuk diperas membawaku kembali ke pertengahan sampai akhir 1993 itu, atau bahkan mungkin awal 1994. Yang jelas aku sudah pindah agak di seberang pintu kamar mandi. Tidak tepat di depannya, karena yang di situ Rully dan Yusuf Maulana. Aku ke kiri sedikit bersama Eri Budiman, ke kanan Goklas dan Candra Wijaya. Begitulah tata-letak Graha 5 setelah Angkatan 3 pergi untuk segraha bersama Angkatan 4. Kelas III dibiarkan sendiri untuk mempersiapkan kelulusannya atau semacam itu. Tak ada yang benar-benar menyenangkan dari masa ini 'tuk dikenangkan.
Maka aku melompat jauh sekitar 30 tahunan ke depan untuk dimanjakan oleh cinta Anita. Heh, ini 'kan majalah yang isinya cerpen melulu itu 'kan, yang baik sampul maupun ilustrasi-ilustrasi di dalamnya adalah gambar tangan. Astaga, sudah lompat jauh masih saja balik ke 30 tahunan yang lalu. Seingatku, aku sudah nyaris tidak pernah melihatnya di Graha 5. Waktu di Graha 3 pernah. Tentu mustahil aku membelinya. Entah punya siapa. Aku yang hampir-hampir saja tidak butuh wanita. Mungkin yang paling sanggup begitu aku, namun kemudian aku memilih menjadi baik.
Maka dari waktu-waktu di Graha 5 itu aku melompat lagi, kali ini tidak jauh-jauh, hanya 2 tahun ke depan. Ini malah lebih mengerikan lagi, awal 1996 itu sampai aku ternyata diterima di FHUI. Selesai, jelas belum. Dekade 1990-an buatku memang mengerikan. Dibuka dengan harapan akan kegemilangan, ditutup dengan keterpurukan di sini. Namun ini pertengahan 1997, salah satu episode El Nino terkuat. Aku ingat waktu itu di kosan entah di Kapuk atau di mana tempatnya David Sibuea anak poltek. Tidak lama daku disitu kembali lagi ke Kukusan lalu Srengseng.
Ke sebuah rumah di tepi tebing sungai Ciliwung yang curam dan dipenuhi hutan bambu. Rumah Pak Saman yang diwariskan kepada anaknya, Pak Rinan. Jadi Saman itu bukan judul novelet entah-entahnya Ayu Utami, melainkan nama bapak semangku. Di rumah itu ada meja tulis bagus bekas Aerex atau entah apa-apa, puing-puing impian bapakku. Di bawah kacanya 'ku letak entah-entah apa, salah satunya gambar oret-oretanku mengenai seorang prajurit Marinir dan juga bahkan potret diriku dalam seragam pemimpin besar revolusi, berdiri di depan Sang Merah Putih.
Di atas meja itu sering 'ku letak mesin tik bapak atau yang hijau terbang itu. Mungkin tidak seberapa sering, namun pasti adalah hari-hari, atau mungkin lebih seringnya malam-malam aku memberondongkan huruf-huruf pada kertas di atas bantalan rolnya. Agak ke belakang ada kompor minyak tanah tempat memasak entah lodeh atau sarden bertahu. Jika tidak maka sampai berutang pada Acep Sugiana Rp 20,000 untuk membeli Abrakebab, waktu itu masih cukup. Apakah ketika itu juga membawa nasi dipadat-padatkan dalam kotak bekas es krim ke Hokben.
Menunggu angkot di depan Gang Realita sambil mengeluarkan sebungkus rokok Crystal yang sumpah tidak enak, seperti Mustang. Aku lupa apakah 'ku habiskan. Ya, pasti pertengahan 1997 itu, akhir kemarau, disusul dengan musim penghujan yang lumayan bahkan sampai ke Mei tahun berikutnya. Aku masih ingat menduduki MPR sedang masih ada hujan. Apa yang terjadi pada libur antara Semester 3 dan 4 itu. Semester 4 IP-ku bagus, sampai 3 lewat, setiap hari pergi dan pulang melalui Gang Realita, menyeberang rel, naik bis kuning sampai kampus dan pula sebaliknya lagi.
Mungkin dari September atau Oktober 1997 itu sampai Agustus atau September 1998. Aku ambyar ke dalam sebuah ngarai berair di bawahnya, sebuah fjord. Angin dingin berkesiuran pada wajah, kepala, dan telingaku. Aku terjun kepala dulu, tangan-tangan kurentang-bentangkan. 'Ku resapi semua perasaan nyaman yang pernah 'ku rasakan dalam hidupku. Aku sudah tidak peduli lagi pada hidup, bahkan ngarai dan air di bawahnya. Aku serasa terbang dalam kenyamanan, bukan ke bawah, ke dasar ngarai, melainkan ke awan-awan yang entah benar ada atau hanya dalam khayal.
Maka aku melompat jauh sekitar 30 tahunan ke depan untuk dimanjakan oleh cinta Anita. Heh, ini 'kan majalah yang isinya cerpen melulu itu 'kan, yang baik sampul maupun ilustrasi-ilustrasi di dalamnya adalah gambar tangan. Astaga, sudah lompat jauh masih saja balik ke 30 tahunan yang lalu. Seingatku, aku sudah nyaris tidak pernah melihatnya di Graha 5. Waktu di Graha 3 pernah. Tentu mustahil aku membelinya. Entah punya siapa. Aku yang hampir-hampir saja tidak butuh wanita. Mungkin yang paling sanggup begitu aku, namun kemudian aku memilih menjadi baik.
Maka dari waktu-waktu di Graha 5 itu aku melompat lagi, kali ini tidak jauh-jauh, hanya 2 tahun ke depan. Ini malah lebih mengerikan lagi, awal 1996 itu sampai aku ternyata diterima di FHUI. Selesai, jelas belum. Dekade 1990-an buatku memang mengerikan. Dibuka dengan harapan akan kegemilangan, ditutup dengan keterpurukan di sini. Namun ini pertengahan 1997, salah satu episode El Nino terkuat. Aku ingat waktu itu di kosan entah di Kapuk atau di mana tempatnya David Sibuea anak poltek. Tidak lama daku disitu kembali lagi ke Kukusan lalu Srengseng.
Ke sebuah rumah di tepi tebing sungai Ciliwung yang curam dan dipenuhi hutan bambu. Rumah Pak Saman yang diwariskan kepada anaknya, Pak Rinan. Jadi Saman itu bukan judul novelet entah-entahnya Ayu Utami, melainkan nama bapak semangku. Di rumah itu ada meja tulis bagus bekas Aerex atau entah apa-apa, puing-puing impian bapakku. Di bawah kacanya 'ku letak entah-entah apa, salah satunya gambar oret-oretanku mengenai seorang prajurit Marinir dan juga bahkan potret diriku dalam seragam pemimpin besar revolusi, berdiri di depan Sang Merah Putih.
Di atas meja itu sering 'ku letak mesin tik bapak atau yang hijau terbang itu. Mungkin tidak seberapa sering, namun pasti adalah hari-hari, atau mungkin lebih seringnya malam-malam aku memberondongkan huruf-huruf pada kertas di atas bantalan rolnya. Agak ke belakang ada kompor minyak tanah tempat memasak entah lodeh atau sarden bertahu. Jika tidak maka sampai berutang pada Acep Sugiana Rp 20,000 untuk membeli Abrakebab, waktu itu masih cukup. Apakah ketika itu juga membawa nasi dipadat-padatkan dalam kotak bekas es krim ke Hokben.
Menunggu angkot di depan Gang Realita sambil mengeluarkan sebungkus rokok Crystal yang sumpah tidak enak, seperti Mustang. Aku lupa apakah 'ku habiskan. Ya, pasti pertengahan 1997 itu, akhir kemarau, disusul dengan musim penghujan yang lumayan bahkan sampai ke Mei tahun berikutnya. Aku masih ingat menduduki MPR sedang masih ada hujan. Apa yang terjadi pada libur antara Semester 3 dan 4 itu. Semester 4 IP-ku bagus, sampai 3 lewat, setiap hari pergi dan pulang melalui Gang Realita, menyeberang rel, naik bis kuning sampai kampus dan pula sebaliknya lagi.
Mungkin dari September atau Oktober 1997 itu sampai Agustus atau September 1998. Aku ambyar ke dalam sebuah ngarai berair di bawahnya, sebuah fjord. Angin dingin berkesiuran pada wajah, kepala, dan telingaku. Aku terjun kepala dulu, tangan-tangan kurentang-bentangkan. 'Ku resapi semua perasaan nyaman yang pernah 'ku rasakan dalam hidupku. Aku sudah tidak peduli lagi pada hidup, bahkan ngarai dan air di bawahnya. Aku serasa terbang dalam kenyamanan, bukan ke bawah, ke dasar ngarai, melainkan ke awan-awan yang entah benar ada atau hanya dalam khayal.


No comments:
Post a Comment