Sunday, July 24, 2016

Menetapkan Langkah Pelaksanaan Protokol Nagoya


Ini adalah sejenis entri yang mungkin akan menyesatkan anak manusia yang sungguh-sungguh ingin mencari informasi yang sesungguhnya mengenai Protokol Nagoya. Untuk itu, sebelum terlalu jauh, perkenankanlah patik memohonkan maaf yang sebesar-besarnya, karena mungkin apa yang patik tulis mengenai Protokol Nagoya di sini tidak ada gunanya sama-sekali bagi Tuan-tuan dan Puan-puan sekalian. Ini sekadar tulisan berolok-olok, sebagaimana blog ini pun, bahkan hidup patik seluruhnya ini pun, tiada lebih dari olok-olok belaka. Hanya suara Puan Karen Carpenter yang sungguh merdu tiada tara ini sahaja yang membuat hidup patik ini terasa lebih tertahankan.


[Apa keq selain Penelope dan Burung Mekanik Kecilnya, meski kini Puan Carpenter tidak ada. Ya sudah, ini sajalah Pasokan Udara] "Establishing Measures to Implement Nagoya Protocol," sebuah Workshop yang terselenggara atas kerjasama The Secretariat of the Convention on Biological Diversity (SCBD) yang bermarkas besar di Montreal, Canada; International Development Law Organization (IDLO) yang bermarkas besar di Roma, Italia; dan, Center for Law and Good Governance Studies (CLGS) yang bermarkas kecil di ruangan saya biasa nongkrong setiap hari—tidak ada yang istimewa darinya, kecuali ia sekarang sudah terasa seperti markas ICT 2014 atau Sesfak 2012-2013.

Dari bunyi-bunyinya memang terasa gagah. Mentereng, setidaknya untuk gagah-gagahan, karena memang itu saja kurasa gunanya—untuk gagah-gagahan. Dari LUAR NEGERI, seperti M.Sc.-ku begitu. Makanya ruangan kecil tempatku biasa nongkrong pun diberi nama mentereng begitu agar terkesan gagah, padahal ia tidak lebih dari tempat melepas penat, bahkan tiada jarang pula digunakan untuk melakukan kegiatan-kegiatan nirguna nirmanfaat, kecuali untuk menambah rasa penat di hati. Namun bisa apa aku di tempat di mana semua orang adu gagah-gagahan begini, seperti burung-burung tolol memamerkan jambul-jambul mereka yang tidak kalah tololnya, sejak jaman dinosaurus.

Aku—sementara itu—memang tolol, maka kupamerkan saja kemaluanku. Biar kumuntahkan semua kepenatan di sini, di dalam guagarba nenek-nenek celaka yang terus saja bersolek dan bersolek ini. Biar mengerang ia pura-pura mencapai puncak, aku sudah tidak peduli. Biar mendelep itu ditekan, lalu monyong ditarik, persetan! Kemarahan, kekecewaan hanya membawa penyakit, sedangkan kemaluanku sudah mendelep masuk perut tidak peduli udara panas atau dingin, aku lelaki gendut usia empat puluh! Biarlah suatu saat nanti Pak Erie Tamale menggugling namanya, mungkin dengan menambahkan kata "Indonesia" dalam kuerinya, dan ia akan berakhir di sini, dan ia akan berakhir menyesali investasinya padaku!

Akses dan Pembagian Keuntungan? Anjing! [Hah! Akhirnya muncrat juga bisanya] Tahukah seperti apa ia terdengar olehku? "Silakan nikmati kelamin kecilku atau lubang tahiku ini, asalkan kau membagi sedikit uang yang kaudapat dari apapun yang kaukerjakan, setelah melepas penatmu padaku, seperti telah kaulakukan pada kelamin-kelamin kecil dan lubang-lubang tahi lainnya sepertiku." Iblis Laknat! Perlindungan produk bioteknologi telah dilakukan melalui hak kekayaan intelektual. Sumberdaya genetik, bahan dasar dari produk itu, oleh karenanya, harus dilindungi dengan Akses dan Pembagian Keuntungan (access and benefit sharing; ABS) ini. (sic!)

Nah, jika sudah keluar semua upas racun begini, barulah kubuat catatan kecil di sini—biar terbaca ia oleh Bang Andri G Wibisana yang keren abis internesyenel. Terserah kau, Bang, mau kauapakan mata kuliah Hukum dan Perubahan Iklim-mu, tapi tidak akan kubiarkan kauacak-acak Hukum dan Pengelolaan Sumberdaya Alam (Nasional Indonesia)-ku! Aku tidak peduli! Udara, baik sebagai ruang maupun campuran gas, yang ada di atas air dan bumi Pertiwi adalah milik Bangsa Indonesia sampai kapanpun; dan terserah Bangsa Indonesia untuk menentukan sumberdayanya sendiri termasuk penjenisannya. UUPA tegas menambahkan "udara" selain bumi dan air yang sudah disebut dalam Pasal 33 UUD 1945, maka udara adalah sumberdaya!

Well, untuk menghormati kecoak, semua asumsi memang harus di-challenge. Aku setuju itu. Aku juga tidak suka pada argumen "pokoknya..." Namun ada yang namanya "keberpihakan." Tidak, Bang, aku juga tidak akan membiarkan orang tolol berdalih "terserah kami, kami masih butuh pembangunan, [ekonomi] maka biarkan kami mencemari atmosfir kami sendiri." Oleh itu, bantulah aku membangun konsep dan teorinya, Bang. Bukan untukku, melainkan untuk Para Pendiri Negara ini, Leluhur-leluhur Bangsa sendiri. Anak-cucunya, kita semua, butuh udara bersih, udara segar dan ruang udara yang bebas merdeka untuk mewujudkan Keadilan Sosial, tidak saja bagi Bangsa Indonesia, tapi bagi Umat Manusia, bahkan seluruh mahluk Allah. Amin. Merdeka!

Friday, July 08, 2016

Entri Ketiga Yang Ditulis di Bagasnami


Harus banget ya judulnya seperti itu? Apakah yang Pertama dan Kedua juga seperti ini, ditemani oleh Penelope dan Burung Mekaniknya yang Mungil? Yang jelas, ini kutulis setelah bangun tidur, setelah sahur dan shalat shubuh, bahkan sempat tadabbur al-Qur’an. [Insya Allah] Yang Pertama dan Kedua seingatku ditulis sebelum tidur, di sini juga, di ruang tamu Bagasnami yang remang-remang temaram, dihembus dinginnya pendingin udara. Seingatku, Penelope justru tidak pernah menemani hari-hariku di Eropa. Selama di sana, Kerjaku hanya Memikirkanmu.


Teringatnya, aku sempat membaca postingan mengenai bagaimana ngeblog yang baik. Seingatku, hampir semua kiat di situ kulanggar hahaha. Aku memperlakukan blogku seperti sebuah diare, dan aku memang tidak ingin dan tidak butuh ngeblog, jika begitu definisi dan tujuan ngeblog. Aku sendiri pribadi. Namun kebutuhan untuk menulisi selalu kurasakan entah sejak kapan. Apakah sejak SMP ketika aku mulai menulis Bonoisme? Sangat bisa jadi. Ketika kebanyakan bocah baru gede mulai merintis karir sebagai pemain asmara, aku justru berpikir-pikir mengenai Bonoisme.

Akibatnya, nyaris tidak ada yang kuingat mengenai Metty Mediawati, Yashmine apalagi Ririn Andriani yang padahal sekompleks denganku. Uah, panjang sekali alinea di atas! Hanya karena ingin menulis nama-nama itu. Maka kupindahlah kalimat itu ke alinea yang ini. Ini bukan blog, karena apa yang kutulis di sini semata-mata mengenai aku dan aku saja. Lagipula, aku memang tidak tahu apa-apa yang lain kecuali diriku sendiri. Alangkah bodohnya jika aku merasa mengenal Nietzche, atau Feuerbach dan Freud sekali, hatta menyebut diriku Nietzcheian, Feuerbachian atau Freudian.

Sedangkan aku sendiri memaksa anak bocah untuk menulis makalah Owenian. Sedangkan kutegur Ciki karena ia merasa lebih menguasai bagian “ideologis” dari Hukum Koperasi. Jika demikian memang yang kaurasakan, Cik, maka lebih tepat jika engkau bersama Sopuyan saja. Lebih cucok jika engkau berusaha mencari jalanmu ke dalam Dasar-dasar Ilmu Hukum. Untuk sementara, karena jika sampai waktuku, kumau tak seorangpun kan merayu. [halahmadrid!] Asal goblek, asal ngomyang begini memang terasa sangat ideologis, terasa manis-manis filsafatinya.

Nyatanya, di sinilah kutemukan diriku. Apa yang kuinginkan? Semangkuk Sop Ikan Batam bersama nasi putihnya sekali, dengan rajangan cabe rawit direndam kecap asinnya? Apa kukira diriku Jason Yeoh? Apa karena aku terancam goblek ngomyang mengenai Protokol Nagoya lantas aku merasa berhak untuk melakukan itu semua? Apa karena Rosewitha Irawati berlebaran di rumah tahun ini, sedangkan Sopuyan merasa yakin akan kediktian tahun depan, lantas aku merindukan Sop Ikan Batam, padahal baru saja, apa sehari sebelum puasa, aku menikmatinya?

Jama’ah Goblekiyah yang [semoga] diampuniNya Sang Maha Berbelas-kasih, haruskah alinea ini juga kupenuhi dengan kalimat-kalimat tanya, meski memang masih ada satu tanya lagi yang mengganjal entah di bagian mana tubuhku? Atau jiwaku? Apa salah jika aku bersimpati pada apa yang diyakini oleh Bang Junaidi Madri? Terkadang aku merasa hatiku lunak pada abang-abangku, sedikit orang di dunia ini yang dengan sepenuh kerelaan kupanggil “Bang.” Sedangkan ia menuduh adik-adiknya pemuja setan. Tidakkah kau takut dituduh begitu?

Jiah, alinea terakhir ini seakan menunggu Toccata untuk menemaninya. Menemani jiwa yang dirundung, diharu-biru oleh entah apa, rasa sayangnya pada kedua orangtua atau sekadar masa lalu, atau sekadar khayalan konyolnya mengenai masa lalu. Sedangkan bunyi hapsicord itu masih terdengar, meski dalam ingatannya sepanjang lagu tanpa ditingkahi piano. Toccata ah Toccata, kaulah gadisku yang sebenarnya, yang selalu gadis, selalu perawan, selalu bulat montok, segar dan sebaya. Biar kau kunikmati di fananya dunia ini, nanti hanya WajahNya yang kuinginkan.

Wallahua’lam bishawab

Thursday, June 30, 2016

Ramadhan Yang Pergi Karena Kuacuhkan 2016


Ketenangan pagi adalah bagi yang belum tidur sejak sahur, entahlah apa masih bisa menghasilkan suatu entri sesuai patokan mutu Kemacangondrongan. [halahmadrid!] Kegagalan adalah martil yang menempamu pada landasan kerasnya hidup, sehingga engkau menjadi setajam, semengilat pedang. Dibakar hingga merah membara, ditempa berdentang-dentang, didinginkan tiba-tiba mengepulkan uap putih, dibakar, ditempa, didinginkan tiba-tiba, merah, berdentang-dentang , putih, begitu seterusnya. Puji-pujian? Keberhasilan? Puh! Tidak ada artinya semua itu, kecuali keharusan untuk menghormati sekadarnya ‘pabila tulus, terlebih khusus kepada yang mengaruniakanNya.


Apakah rumah sekadar khayalan bagi seseorang yang sepanjang hidupnya dihabiskan disangga papan-papan di atas kali, bukan hakku untuk menentukannya. Meski aku dibesarkan sebagai ksatria, yang sepatutnya memahami tugas-tugas, aku hanyalah seekor gajah, yang tentu bukan Gajah Mada. Sudah barang tentu pula aku bukan Ramabergawa yang digambarkan membawa busur raksasa, padahal sebagai Parasurama ia seharusnya memanggul parasu. Aku sejatinya adalah Sam Siu yang bertangan kosong, sedangkan kedua saudaranya, Han to dan Beng Kiam keduanya bersenjata.

Ini adalah mengenai Ramadhan, meski harus kuakui godaan air mata yang tak terlihat sangat besar. Berdentam-dentam rasa sakit yang tak terkatakan, akan kenangan yang tak terhancurkan mengenai engkau yang manis dan mendatangkan rasa sayang. Sedang kecupanmu lebih manis dari anggur merah yang selalu memabukkan diri. Kuanggap belum seberapa [jeda tujuh ketukan] dahsyatnya, bila dibandingkan dengan senyumanmu, selalu membuatku lesu darah. Hanya Boker yang kelebihan “o” satu, yang sanggup berkata jujur, “Aku datang untuk mencintaimu.”

Masa begini entri mengenai Ramadhan? Masa harus kuubah semua judul entri mengenai Ramadhan, yang kukatakan “kuacuhkan,” padahal arti “acuh” adalah peduli; mengindahkan? Harus, dong! Bagaimana reputasiku sebagai polisi tatabahasa terhadap diriku sendiri? Akan kulakukan, meski kurasa Ramadhan ini tidaklah lebih berkualitas dibandingkan dengan tahun lalu—hanya dua surat pendek, itu saja prestasiku. Selebihnya tidak ada yang patut dibanggakan, tidak tarawihnya, tidak apapun ibadah tambahan. Jangan-jangan puasa-puasaku pun boncos pahalanya, naudzubillah! Maka dari itu, setidaknya, gantilah judul-judul memalukan itu.

Buka bersama beberapa kali sempatlah dengan nasi liwet Omah Solo, dan satu yang sangat patut dicatat di sini: Jangan lagi-lagi pergi ke mal waktu berbuka, sekali-kali jangan! Sungguh menjengkelkan tempat-tempat mahal seperti itu dengan pongahnya mengatakan “full table,” meski mungkin maksudnya agar terdengar sopan—dibandingkan “sudah penuh, Pak,” meski mungkin perasaanku saja mereka pongah. Sedangkan di luar Ramadhan saja aku bisa marah jika dikatakan “waiting list,” apalagi Ramadhan. Tidak karena aku ingin buru-buru buka, tapi sungguh tidak pantas!

Selebihnya adalah transisi dariku kepada adikku sendiri untuk mengurus Masyarakat Pancasila nan menjengkelkan. Bukan Pancasilanya sekali yang menjengkelkan, melainkan Masyarakatnya—karena tidak kunjung ada. Terlebih lagi, markas barunya Gobang plus medmonnya sekali tidak terasa... rumahan. Sungguh tidak ada yang sanggup menggantikan rumah dekat al-Barkah itu, yang pemiliknya sudah meninggal kemarin itu. Rumah baru ini seperti... entahlah. Dengan tangga-tangganya yang curam, dengan service area yang... kenapa banyak titik-titiknya begini? Kolam renangnya tidak terasa mengundang, dan langit-langitnya yang dicat awan-awan itu...

Alinea terakhir ini biarlah kudedikasikan bagi peluang baru. Sepertinya aku membutuhkan peluang baru ini karena banyak bagaimanapun lebih enak daripada sedikit jika sama berkahnya. [amin] Masalahnya, apakah Andi Putri Fathania dan Deystia Ayesha Rae, terlepas dari ke-ambi-an mereka, sanggup melakukannya? Apakah cukup bagus bagi standar Wiyono Partnership yang kesohor tingginya itu? Sekadar ambi saja tidak akan cukup untuk mengantar mereka sampai jauh, begitu kurang-lebih dikatakan Wiyono. Ini peluang tidak main-main, maka dari itu tidak boleh main-main. [aku jadi khawatir sendiri...]

Sunday, May 29, 2016

Aku Suka Kamu Suka Jatuh Cinta


Uah, sudah saja kutulis! Biar tidak lama, meski diiringi dentingan piano memainkan melodi entah apa. Sementara dalam angan melambai-lambai membayang sesuatu yang jelas kesia-siaannya, seperti sia-sianya akhir pekanku kini. Eh, begitu pakai irfon bunyinya lumayan. Apa yang tadi terbayang seperti kesia-siaan tiba-tiba menjadi indah, menjadi syahdu mendayu. Ya, setidaknya begitu. Setidaknya apa? Baca berita! Berita apa? Difoto apanya? Tidak. Beginilah saja adanya. Gendut mbededet, mungkin air isinya, ditahan oleh garam. Bisa jadi.


Di meja makan, sementara itu, menungguku segelas liang teh yang sudah diteguk agak sedikit. Menunggu seperti teman misterius, mengawasi apa-apa yang diperbuat oleh benakku. Benak yang ditenagai oleh keju sisa martabak yang sedikit dilumuri susu kental manis, yang kesal karena kerang saos padang. Jangan lombok yang asin dipadu dengan nasi uduk, seharusnya pakai bala-bala. Maka jadilah kenangan SDN Cimone 3 di bawah asuhan Bapak Sawira. Jadilah Jalan Jayapura di akhir '80-an itu, yang enggan kukenang kini karena sakit saja terasa di hati.

Biar seribu tahun memutih rambutku, hatiku tetap selembut salju. Hahaha salju tidak lembut, Bos! Dan tawa itu hanyalah padaku yang hanya sejenak mengecap, seperti juga Sandra. Bahkan Ayu dan Budi sepertinya jauh lebih baik dari kami. Bagaimana Nuni, Nuri, Yolan, Bowo? Semua masa lalu belaka, sedangkan masa kiniku adalah kenyataan mengenai surat keterangan telah melaksanakan tridarma, atau dasasatya? Gimana sih? Hidup benar-benar memaksaku untuk percaya sepenuhnya bahwa kebutuhan, bukan keinginan, akan selalu terpenuhi.

Kalau tidak percaya rasanya seperti tidak ingin hidup, soalnya. Buat apa hidup jika hanya menahan gejolaknya keterbukaan, meski itu hanya satu di tempat yang sangat strategis. Selembar post-it merah sempat menampung keraguan yang sok yakin, hanya untuk berakhir uwel-uwelan di tong sampah. Akhirnya, berujung pada kelecetan yang satu sampai anyang-anyangen yang lain. Sedangan rasaku tidak nyaman seperti kebanyakan gula, dan musik-musik sok relaxing ini memang ngeselin kecuali sedang dipijat-pijat penuh kelembutan oleh terapis yang jarinya tidak jempol semua.

Apa katamu? Penari angin? Lalu ada lagi bocah main debat-debatan memancing murka. Aku selaku pendidik [halahmadrid!] tentu saja tidak boleh murka. Aku harus sabar, meski tarikan urat muka tampak jelas menahan bosan dan jijik. Setan, mengapa tidak kuusir saja bocah-bocah itu, biar menjadi pelajaran bagi mereka dan yang lain-lainnya. Apa yang kulakukan ini... sia-sia. Bahkan bocah-bocah ini mencibirku. Bocah! Betapatah dengan oom-oom. Diberakin ada juga. Ya Allah hamba mohon ampun. Hamba mohon pertolongan. Hamba mohon ampun.

Apa tidak lebih baik jatuh cinta? 'kan enak? Jatuh itu sakit, sakit itu enak. Enaknya seperti keropeng setengah kering digaruk-garuk dithithili. Seperti itu 'kan? 'tuh sana jatuh cinta pada koreksian Hukum Adat hahaha. Tidak pada apapun yang dimasukkan ke perut. Lebih tidak pada apapun yang dijejalkan ke otak, apalagi ke dalam sanubari... dan penari angin dengan monotoni ini benar-benar menggangguku, apanya yang relaks?! Bisa edan aku dibuatnya. Nah, ini agak bolehlah, secara aku pun biasa memainkannya: Kenangan yang ada lampu jalan dan keheningan jalan setapak.

Tidak, sekali-kali tidak! Tidak, sekali lagi tidak! Meski buntu jalanku, meski beku otakku, meski gelap mataku, meski remuk hatiku, hanya Yang Tersembunyi itu yang kudamba. Biarlah aku menenggelamkan diriku ke dalamnya, Telaga Sunyi itu, meski siap aku berbantah-bantah dalam sunyi. Kecipaknya, gericiknya, tidak ada. Denting-dentingnya tak bersuara. Hanya nyaman dan kempisnya perut kini kudamba, agar tidak sesak ketika duduk, sepantas patutnya hamba, sudah selayaknya. Menekur menekuk punggung melipat perut. Sungguh, aku khawatir.

Saturday, May 21, 2016

Antara Aku, Kau dan Bekas Sukarnoku


Bulan Mei belum berakhir dan aku masih menulis entri dengan beban perak sepuluh gram plus batunya sekali di jari manis kanan. Aku menyukainya, meski Cantik tidak. Entah mengapa sudah lama aku merasa perlu untuk mengenakan artefak. Aku tahu sih. Ini gara-gara Pahlawan-pahlawan [yang menggunakan] Kekuatan dan Sihir. Biarlah. Setidaknya bukan mahkota atau sepatu entah-entah. Jangankan pedang atau tongkat, sedangkan kalung saja tidak terpikir olehku. Sebentuk cincin cukuplah, dan batu untuk digenggam-genggam.


Sungguh tidak ada yang ingin kurekam darinya, kecuali bahwa akhirnya kucicipi juga gurame a la Dapur Sunda di Hanggar Teras MBAU Pancoran yang kelezatannya matak lupa mitoha. Sayang ketika itu aku tidak berminat untuk mencicipi es goyobodna. Ketika baru pindah ke KSU pun, meski ada seingatku di pinggir jalan berjualan es goyobod, tidak juga kubeli. Itu sudah sepuluh tahun lebih. Itu adalah hari-hari terakhir Delta FM 99.5 the Best Oldies Station in Town, ketika iklan Dapur Sunda dan Patuna ditingkahi oleh berita-berita dukacita.

Teringatnya, aku berpuasa hari ini. Alhamdulillah. Sungguh ajaib! Kemarin-kemarin selalu saja gagal, sedangkan kini aku tengah ngabuburit sambil menulis-nulis entri. Masya Allah! Berhubung di sini tempatnya ngomong asal-asalan, maka boleh saja kukatakan jangan-jangan ini gara-gara kuarsa jernih. Sejak aku meremas-remasnya, entah bagaimana aku membeli Keagungan Surat-surat al-Quran Juz ‘Amma di toko buku mesjid, meski pembahasannya agak kurang ajib menurutku. Hahahah sekali lagi ini cuma asal bicara. Seperti sudah kukatakan, ini semata karena kesukaanku pada artefak.

Hari ini sejak pagi-pagi sekali, bahkan lebih pagi dari biasanya ketika ada kelas pagi, aku dan Cantik ngacir ke kampus. Cantik sih alasannya menghindari kerja bakti mengecat masjid beramai-ramai. Aku tidak peduli alasanku apa, yang penting ngacir. Seharian ini tidak ada yang benar-benar produktif yang kukerjakan, kecuali sedikit membaca-baca Juz ‘Amma—meski harus kuakui, Insya Allah, suasana Ramadhan itu sudah terasa. Alangkah asyiknya jika aku dapat nyolong start. Memang benar, Ramadhan itu yang asyik adalah mengantisipasinya.

Menjalani juga asyik sih, karena bersama-sama. Degup kehidupan, iramanya seakan berubah ketika Ramadhan. Entah bagaimana caranya, segala sesuatu terasa relijius asal jangan menonton tivi. Semoga Ramadhan ini benar-benar aku dapat meningkatkan kualitas penghambaanku, jangan sampai disibukkan mengejar-ngejar entah apa sampai-sampai Ramadhan berlalu begitu saja. Dapatkah aku bertekad untuk tidak menulis entri mengenai berlalunya Ramadhan karena kuacuhkan tahun ini? Halah gak usah aneh-aneh lah. Dijalani saja, mulai dari sekarang. Insya Allah. Amin.

Banyak sesungguhnya yang dapat diantisipasi, baik hal-hal yang mengasyikkan maupun yang menyebalkan. Apakah ini berarti aku sudah mulai bosan? Ah, kemarin makan rambut bidadari minyak bawang masih enak. Jamurnya banyak sekali dan udangnya ada agak empat atau lima ekor. Tujuh puluh ribu satu porsi! Itu jelas mengasyikkan, apalagi dengan prospek adanya WS baru. Ah, pasti mengasyikkan berkantor di situ. Bagaimana cuacanya nanti? Nyamankah bermotor mengejar buka puasa bersama Cantik di rumah? Wallahua’lam bishawab.

Hahahah tak satu kata pun dalam entri ini mengenainya. Salah sendiri. Sejujurnya, aku tidak nyaman berada di tengah-tengah mereka. Orang-orang macam apa ini? Aku hanya mengikuti alirannya saja. Beliau memang orang hebat, tapi mengultuskannya? Gagasannya, jangan orangnya! Dan gagasan itu, aku yakin, dibentuk, dibangun, dipupuk oleh beberapa benak sekaligus, setahap demi setahap. Tidak mungkin hanya satu. Jika itu adalah Rasulullah SAW, maka tiada pertanyaan sama sekali mengenainya. Tidak ada keraguan sedikitpun! 

Friday, May 06, 2016

Shalat Jumat Perdana di Masjid Qoryatussalam


Masa tidak ada lain yang kauhasilkan kecuali entri-entri tikbergun? Maafkan aku ya HP Stream 8. Insya Allah aku akan segera membuatmu berguna. Insya Allah, setelah backend Revtal bentuknya sudah nyaman bagiku yang obsesif kompulsif ini. Memang untuk sopannya aku harus bertemu dengan Gobang sendiri—jika bukan karena ingin mempertahankan empat juta sebulan hikhikhik. Sementara itu, selamat tinggal John Gunadi dan gerombolannya. Mungkin memang sebaiknya aku tidak perlu berurusan barang suatu apa dengan mereka.


Untunglah pagi ini aku ditemani Maria Elena, yang memang dibuat indah sedap terasa inderaku oleh Sang Perkasa nan Serba Tahu. Apakah seperti kayu manis indah warna kulitnya? Apakah hitam legam seperti arang, seperti gulita malam hitam-hitam matanya? Aku suka begitu, meski lebih baik lagi bila namanya Maria Dolorosa. Begitulah selalu kunamakan kapal-kapalku, dari schooner sampai brigantine sampai frigate, semua Maria Dolorosa—dengan tatapannya yang sayu sendu, seakan hampir menitikkan air mata.

Tidak. Sulit bagiku untuk memulai jika semuanya belum sempurna, belum tepat di tempat masing-masing. Itulah sebabnya aku masih saja menulisi—bahkan hampir-hampir kuminta mengarahkan ke sebuah blog saja dimana penuh kendaliku atasnya. Memang kenyataannya aku sendiri yang bersemangat seperti biasa. Menunggu sampai mereka antusias? Meski mereka tidak kunjung antusias aku akan tetap begini. Itulah sebabnya aku tidak pernah merasa hebat. Apa hebatnya menjadi diri sendiri? Tidak ada pula usahaku yang benar-benar ke arah itu.

Ini, Insya Allah, untuk mengingatkan diriku sendiri. Sudahkah aku hari ini;
  1. berlaku jujur,
  2. bersikap berani,
  3. bermurah hati,
  4. bersopan santun,
  5. bersungguh-sungguh,
  6. menjaga kehormatan,
  7. membalas budi,
  8. berlaku adil?
Meski ingin juga aku membuatnya dalam cetakan yang baik sehingga dapat dibaca setiap saat, mana tahu mengilhami generasi terbaru Indonesia. Ini ‘kan Insya Allah jauh lebih mudah dipahami daripada Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan dan dengan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Nah, ini baru lucu. Aku mengetik seakan-akan sedang menyalin atau menerjemahkan sesuatu di sebalah kanan kiborku, padahal yang ada di sebelah kanan adalah hasil ketikanku itu sendiri—sedang di hadapanku terhampar rerumputan di siang hari yang berawan dan sumuk ini. Aku baru saja shalat Jumat perdana di Masjid Qoryatussalam nan ramah anak. Mesjid ini baru mengadakan shalat Jumat jika hari libur. Di hari-hari kerja, kebanyakan jamaahnya shalat Jumat di tempat kerja masing-masing.

Meski ramah anak, kurasa sebenarnya aku dapat menahankannya. Masjid sedekat itu dari rumah, hampir tidak pernah aku shalat di situ. Apa ini ada kaitannya dengan berat tubuhku, berat dosaku? ‘Duh, sedangkan aku habis makan telur untuk yang kedua butir hari ini. Di hari Kenaikan Isa al-Masih ini, Tante Lien berkunjung ke rumah kami bersama Ihza dan Afi sekalian mengembalikan KTPku yang kemarin digunakan memperpanjang STNK Honda Beat B 6541 EVC.

Hari ini pula hampir aku lupa mengirim untuk anakku Fathia Rizqi Khairani, anakku satu-satunya yang nyaris tidak pernah kubesarkan sendiri. Baguslah ada Bapak Janus yang menggantikanku melakukannya, hal mana aku berterima kasih. Mungkin kalau ada nasibnya berjumpa, akan kukatakan sendiri kepadanya. Ini gara-gara Ibu dan Gendut baper mengira aku tidak sayang pada anakku sendiri—saking saja aku tidak diberi kesempatan membesarkannya. (sic!) Hah, untuk apa yang begini kutulis di sini.

Monday, May 02, 2016

Tapa Perdanaku di Sari Kenangan Satu


[Ini adalah suatu gejala (halah) sindroma gila menulisi, sudah tiga hari ini berturut-turut ada entri] Namun aku memang merasa perlu untuk mengabadikan tapa perdanaku di Sari Kenangan Satu. Boleh jugalah entri ini disebut Ke Barel Aku ‘kan Kembali atau apalah semacam itu. Memang itulah yang senyatanya terjadi. Kapan aku meninggalkan Barel? 2011? Mungkin iya, atau bahkan sepanjang 2011 itu aku sudah tidak di Barel—setidaknya sudah bolak-balik ke Pepaya. Sudah cukup lama.

Namun Sabtu lalu seharian sudah kuhabiskan di Barel dan sekitarnya. Campur-aduk rasa hatiku. Sensasi menyiapkan kos-kosan baru yang biasanya selalu kotor dan kumuh setelah lama ditinggalkan. Sensasi bergumul dengan debu-debu apak, hitam dan membuat gatal. Sensasi menggosok kamar mandi yang kondisinya ya sudahlah, dalam keadaan normal dapat saja membuat bergidik. Tambahan lagi, kasur kapuk! Ya as-Salaam, sudah berapa lama aku tidak melihat benda ini. Bahkan Markas Beto dahulu pun berkasur busa. [atau ada yang kapuk juga, ya?]

Untunglah sepanjang Sabtu itu cuaca sangat bersahabat. Sepanjang hari dari pagi langit terus saja mendung. Matahari tidak mengintip barang sepicing pun, bahkan ba’da ashar sempat hujan lumayan deras. Lelah memang, namun cukup dengan duduk dan berbaring sebentar mengusirnya. Semakin yakin aku biang keladi lemahnya tubuhku belakangan ini adalah cuaca yang tidak menentu. Hei, cukup banyak juga kuhabiskan untuk menyiapkan kos-kosan ini, mungkin sekarang sudah hampir satu juta. [belum sih… masih di bawah itu. Semoga]

Demikianlah maka hari ini—di bawah terik matahari setelah mendengarkan dongeng Claradika mengenai Public Private Partnership yang tidak sampai setengah jam itu, aku mencongklang Pario ke kos-kosan. Memang sudah kuniatkan terutama untuk membeli kursi plastik, karena satu-satunya kursi yang tersedia sudah dipatahkan Jay. Sesampainya di kosan, begitu saja aku terpikir barang lain: Kasur! Ya, karena kasur kapuknya sudah sedemikian tua kiranya sehingga menimbulkan polusi udara yang mencekik leher. Maka kugulung lagi itu kasur kapuk dan kuletakkan di luar di atas kursi patah.

Sesampainya di Hypermart Detos, segera kukelilingi bagian belakang toko mencari kursi plastik yang ternyata ada di pojok paling belakang. Dalam perjalanan mengelilingi belakang toko itulah aku melihat kasur lipat. Demikianlah maka kasur lipat lengkap dengan bantalnya sekali, juga kaus oblong—cocoklah untuk mendinginkan badan setelah terpanggang panasnya udara dalam seragam oranye Dhanny Dahlan koleksyen. Sesampainya di kosan, shalat dan segera menggelar kasur. Tadinya mau sambil membaca, namun nyatanya terlelap juga.

Pada saat terlelap-lelap ayam itulah hujan turun dengan derasnya. Sederas itu hujan turun, mungkin agak setengah jam lebih, masih tidak mampu mengusir gerahnya udara. Belum sempat terlelap maka bangunlah aku dan mendirikan shalat Ashar, bersiap-siap kembali ke kampus untuk mendongeng mengenai sumberdaya air. Demikianlah lebih dan kurangnya pengalaman tapa perdanaku di Sari Kenangan I yang merupakan salah satu kosan elit pada masanya. Delapan ratus ribu Rupiah sebulan kini, lebih mahal seratus dari yang diminta Babeh Tafran untuk kosannya.

Sesungguhnya, yang kusebut kosan dari tadi adalah “Sekretariat Bersama Komisariat-komisariat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia di Universitas Indonesia,” yang karenanya harga sewanya naik menjadi Rp 1,000,000/ bulan—padahal hampir tidak pernah dihuni. Justru karena itulah maka aku bertekad membersihkannya dan menjadikannya semacam pertapaan pribadi. Tentu saja aku berharap sekali dua berkumpullah bocah-bocah itu di sini, terutama para kontributor revolusitotal.org. Namun janganlah berkumpulnya itu terlalu sering, karena aku yakin tak satu pun di antara mereka suka pegang sapu.

Sunday, May 01, 2016

Satu Mei di Danau Angsa, Insya Allah


Bolero ini, jika orang tidak suka-suka benar, maka pasti pusing dibuatnya. Namun jika sudah digelar ensembel string begini masa orang masih tidak suka? Apapun engkau, Bolero, aku lebih menyukaimu daripada harus menjadi tuan rumah untuk acara ramah tamah model apapun, meski tujuannya untuk membuat jalan yang mulus tempat bermain lima ekor gadis-gadisku. Ah, aku bisa membayangkan keanggunanmu. Keanggunan dan pesona yang tidak main-main, tidak dibuat-buat. Terpancar begitu saja dari hadirmu, dari adamu. Majestic!


Aku juga tidak sabar ingin segera mencicipi bertapa di Sari Kenangan Satu. Sebenarnya aku bisa saja membuat pertapaan lagi di tempat Babe Tafran, seandainya masih ada yang kosong, untuk tambah-tambah rejeki dia. Ini terpikir karena Ibu Semang Sari Kenangan Satu tidak mengijinkanku melubangi dinding hahaha. Babe Faishal pasti membolehkan. Entah sudah berapa kamarnya kulubang-lubangi. Aku butuh pertapaan itu, terutama selama aku dipecat seperti ini. Mana tahu hanya sampai akhir tahun ini.

Selebihnya, Insya Allah aku akan bertapa di tepi Danau Angsa! Hari ini Satu Mei dan aku masih berkhayal mengenai Danau Angsa. Semoga tahun depan tepat di hari dan waktu yang sama aku sudah berada di sekitar Danau Angsa itu. Semoga pada saat itu bahagia dan semangat saja adaku. Semoga dilancarkan semua sehingga selesainya. Amin. Pada titik inilah aku merasa mengantuk karena tidak tidur lagi setelah subuh tadi, semenjak dibangunkan Anak Gendut.

Berkeliling-keliling lantai dansa, bagiku, hanyalah khayalan yang dipicu asalku dari kelas aristokrat. Selebihnya, aku tidak tertarik untuk berpakaian sepatutnya bagi kesempatan seperti itu—apalagi sampai harus beramah-tamah dengan mereka yang hadir di situ. Biarlah ia menjadi sisa-sisa. Biarlah aku menjadi bangsawan yang membusuk, sejalan dengan membusuknya kehormatan dan rasa hormat. Meski demikian, sedapat mungkin aku akan terus berusaha menjadi orang terhormat, menjaga kehormatan keluargaku dan bangsaku, menjaga martabat kemanusiaan dan cita-cita moral rakyat yang luhur.

Dan itu tidak termasuk memakai kaus kaki, karena rasanya gerah. Bertelanjang kaki sungguh nyaman rasanya, meski telapak kakiku sudah tidak pernah tersentuh lumpur sawah lagi—paling banter lumpur jalan-jalan becek perkotaan. Yang coklat masih mending lah, yang hitam bagaimanapun membuatku ingin segera mencuci kaki. Jelek tidak mengapa, yang tidak boleh itu kotor dan bau. Sederhana itu suatu keharusan yang jika berhasil menepatinya akan menjadi kebanggaan. Bukan membangga-banggakan diri sendiri, melainkan kebanggaan komunal dalam wujud rasa hormat dari saudara-saudara sendiri.

Itulah cita-cita moral rakyat yang luhur! Tepat pada saat inilah aku merasa sungguh kesepian. Don Kisot masih jauh lebih beruntung dariku karena tunggangannya kuda, masih mendengus ketika dielus. Tungganganku Pario yang dudukan kakinya somplak. Eh, tapi ia mengerti loh perasaanku. Remasanku pada gasnya selalu ditanggapi seperti seharusnya. Kami memang bertambah tua bersama, dan selama itulah kami semakin tua dan tua saja—tidak seperkasa ketika muda usia. Tidak apa-apa. Inilah kodrat kehidupan.

Terlebih ketika kebangkrutan moral melanda seluruh dunia seperti wabah malapetaka begini. Inipun sudah diingatkan oleh nabi-nabi dan orang-orang bijaksana, jadi buat apa mengeluh? Buat apa merasa sepi? Satu-satunya kesepian yang patut dikhawatirkan adalahnya sepinya perbuatan baik, sepinya tanda bakti pada Majikan Maha Baik oleh dirimu sendiri. Padahal peluang dan kesempatan berbuat baik senantiasa mengintai di semua sudut dan tikungan. Padahal bakti pada Sang Asal Tujuan, seperti jantung sendiri, berdegup konstan.

Saturday, April 30, 2016

Mencoba Mengingat-ingat Ramadhan


Masih belum kusentuh juga pekerjaan yang sempat kukibaskan lepas dariku, lalu kembali lagi. Iesu Cristo! Hari ini kurasa senang hatiku, karena sampul kulit yang telah lama kunanti bagi HP Stream 8 pun akhirnya datang juga. Jauh lebih ringkas daripada dompet bawaannya—meski kali pertama melihatnya sempat agak mengernyit, apa untuk benda ini harus benar mengimpor dari New Jersey? Yah, mungkin gara-gara jauh sekali mengimpornya itu maka harganya jika dirupiahkan menjadi Rp 350 ribu lebih.


Well, kapan lagi dapat kiriman dari New Jersey? Masalah haruskah ia lebih mahal daripada kalung kinyang banyu keluaran Bumi Hijau sampai lebih dari dua kalinya, itu sulit diukur. Halah macam aku telaten mengukur saja. Aku telaten… membuat paradoks hashashas. Aku telaten meragukan apapun… kecuali ajaran Islam dan Cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945. Aku meragukan keraguan itu sendiri, termasuk lagu-lagu yang tak berpola ini. Selebihnya, apa lagi yang dapat kuminta lebih dari makan soto di dalemnya Bude Ning bersama Pakde Lik, Pakde Gandug dan Bapak?

Tidak ada. Hanya saja aku kangen Ibu. Kapan aku akan pulang? Sesegera mungkin, apalagi yang tengah kudengarkan ini lagu-lagu Ibu ketika seumuran Claradika bahkan lebih muda lagi. Tidak boleh aku memandang remeh kepada perempuan yang manapun karena ada kemungkinannya Insya Allah suatu hari nanti kelak di kemudian hari mereka akan menjadi ibu-ibu dari lelaki-lelaki seperti aku kini. [Yassalaam… Jupiter Jones, haruskah kau gunakan kalimat sepanjang itu? Bob Andrews menukas, kalau kalimat panjang dapat menyampaikan maksud yang sama, mengapa harus dengan yang pendek?]

Ah, sangat mengilhami! Entah berapa kali sudah aku Bertualang dengan melodi ini. Pastinya sudah kudengar jauh sebelum aku pergi ke Belanda. Namun, harus kuakui, Petualangan itu baru kujalani ketika di Belanda. Ya, tidak seperti Bang Andri, aku hanya pernah ke Belanda. Bang Andri, sementara itu, adalah Belanda itu sendiri, bahkan lebih dari itu. Bang Andri G Wibisana [biar kutulis lengkap namanya, siapa tahu ia menggugling namanya sendiri] adalah dunia! Bang Andri tidak peduli Dajjal atau Remason, karena memang asumsi seperti ini harus senantiasa diceleng. (baca: challenge)

Akan halnya aku, mungkin tidak jauh dari pembimbing skripsiku, Mas Jo. Aku hanya menemani Mas Jo ngopi dan merokok bersama dengan Bung Roso Daras dan Mbak Deci. Hampir tidak ada yang telah kulakukan sebagai wujud bakti kepada Mas Jo. Semoga ini bisa menjadi salah satunya. Aku memang, entah kenapa, terobsesi pada kemiskinan—sedang Khairaditta berkata pada Bundanya, kelak jika ia besar, ia akan kaya dan membawa bundanya berkeliling dunia. Jika dunia sudah habis dikelilingi, maka ia akan mengajak bundanya berkeliling planet.

Sementara itu, aku sekadar manusia planet. Badanku besar, ndikane Pakde Lik. Aku pasrah saja mengartikan itu sebagai gemuk, meski sebelumnya kami berbincang mengenai Jiwa Komando yang pantang menyerah, terutama dalam menunaikan tugas yang mulia. Komando tetap jaya! Sementara itu, sedari pagi dudukku di atas sadel Pario dan sekarang di kursi makan tidak nyaman gara-gara terkena Fuad Bawazir. Sementara aku sepenuhnya menyadari obsesiku pada kalimat majemuk, [lho tadi katanya pada kemiskinan?] kupu-kupu beterbangan di sekelilingku, di rerumputan yang dikelilingi semak perdu.

Ahaha… pantaslah tak habis-habisnya aku berkata gapapa, sementara itulah yang kali pertama menarik perhatianku ketika menyusun Suck Twilite. Jika demikian bentuknya Charmaine, tidak bisa lain aku lantas membayangkan bau—meski satu-satunya bau yang bisa kubayangkan adalah bau Cantik yang lucu banget karena masih kecil banget. Tidak menjadi apa, karena September masih jauh. Jadi hari-hari belum akan berkejaran. Masih ada musim kemarau untuk dihadapi. Masih ada Ramadhan untuk dinanti-nanti, dinikmati dan diratapi kepergiannya nanti.

Tuesday, April 26, 2016

'Kuingin Seluruh Dunia Tahu Betapa Bahagiaku


Jika kau bertanya padaku apa itu cinta, maka akan kujawab, “cinta adalah beha yang terserak di lantai setelah apa yang terjadi semalam.” Bukan behanya itu sendiri yang penting, tidak pula isinya, melainkan apa yang tersisa darinya berupa kenangan manis. Kenangan manis mengenai hal-hal kecil yang terjadi di antara kita berdua. Tawamu dan caramu tertawa, apa yang kautertawakan, itu semua akan tinggal mengendap sebagai cinta. Itu pula yang akan membuatku kuat menjalani hari-hari yang berat di atas bumi Allah ini.


Aku bertekad membuat hidupku sepuitis mungkin, meski hanya aku sendiri yang tahu, meski kau sendiri tidak peduli. Hidupku adalah puisi tentang cinta. Cinta kepadamu, meski tidak ingin juga aku mati tertembus ribuan panah seraya mengingatmu. Itu biar saja untuk penggambaran Leonidas oleh Holiwud. Aku memang suka narasi-narasi yang kuat, meski tentu saja aku bertekad untuk menciptakan narasi paling kuat setidaknya bagiku sendiri—meski seluruh dunia tidak ada yang tahu, meski tidak ada yang peduli.

Begitu saja anganku melayang pada DN Aidit dan Yasir Hadibroto. Begitu saja aku teringat mimpiku sebelum bangun subuh tadi. Aku seperti hadir di sebuah auditorium yang lumayan besarnya, di tengah-tengah rapat suatu organisasi masyarakat entah apa. [namun entah mengapa dalam kepalaku terngiang-ngiang MKGR, yang ternyata singkatan dari Musyawarah Kekeluargaan Gotong-Royong] Masalahnya, aku hanya memakai celana pendek, sedangkan aku mendapat giliran berpidato. Jadilah aku dipinjamkan selembar kain sarung. Demikianlah maka—berkain sarung—aku beruluk salam berpidato.

Sejurus kemudian ternyata terdengar adzan, keruan saja aku urung berpidato. Aku menunggu sampai adzannya selesai. Namun hadirin dan panitia terlihat gelisah, bahkan salah seorang membawa pergi mikrofon bersama tiangnya sekali dari hadapanku. Ketika adzan selesai dan aku akan melanjutkan pidatoku—maka aku meminta mikrofon—seseorang yang terlihat seperti panitia justru mengisyaratkan acara sudah selesai dengan menyilangkan tangan di depan leher, membuat gerakan seperti memotong. Demikianlah maka aku bersarung, mematung di tengah orang-orang lalu-lalang—dan terbangun. Alhamdulillah memang pas adzan subuh.

Untunglah aku urung berpidato. Untunglah terdengar adzan. Jika vonis mati terhadap Omar Dani jatuh tepat ketika malam takbiran sedangkan lonceng gereja berdentang-dentang, maka pidatoku diurungkan oleh adzan subuh. Jika sampai aku berpidato, mungkin bukan Si Panitia itu membuat gerakan memotong leher, melainkan Yasir Hadibroto menghamburkan satu magasen penuh timah panas berdiameter penampang melintang 7,62 mm ke arahku. Jika sampai aku berpidato, mungkin bukan auditorium, melainkan dasar sumur yang akan menerima jerembabnya tubuhku tak bernyawa.

Iya ‘Ndro, dengan cara lain aku sudah sepenuhnya sadar bahwa ini bisa berujung mati konyol. Jangankan ayam yang tidak dikasih makan, DN Aidit yang perkasa nan bijaksana saja mati sia-sia. [Aduh, aku memuji Aidit terang-terangan pula di sini. Semoga Kopkamtib tidak tahu] Tidak menjadi apa, ‘Ndro, sebagaimana namamu adalah nama Dewa Perang, seperti itulah aku siap menyia-nyiakan hidupku demi sebuah gagasan. Demi Revolusi 17 Agustus 1945. Demi Cita-cita Proklamasi, aku rela menyerahkan seluruh jiwa raga.

Hei, bukankah kau sendiri mengatakan, gagasan Kepemimpinan Hikmah Kebijaksanaan senafas dengan Wilayatul Faqih? Bukankah Ketuhanan Yang Maha Esa dan Keadilan Sosial adalah sama dengan Tauhid dan Keadilan—tepat itu pula kata yang digunakan? Bukankah tak perlu kuceritakan padamu betapa perasaanku kepada Imam Ali, Dimuliakanlah oleh Allah Wajahnya?

Tak perlu pula kuceritakan padamu gejolak hatiku tiap mengenang Cucunda-cucunda Rasulullah SAW yang pralaya di Madinah dan Karbala? Sama ‘Ndro, jika masih ada cita-citaku, khayalan gilaku, tiada lain mencium tangan Beliau dengan tangan dan bibirku yang nista ini kelak, ketika Beliau hadir di tengah kita—atau sudah?

Sunday, April 24, 2016

Kopi Itu Asam, Kopral!


Beberapa malam yang lalu aku mencoba mengetik langsung di editor teks Blogger ini, namun entah mengapa kuurungkan dan kembali ke kebiasaan lama. Nah, pada titik ini aku segera ingat—that mighty doubledash that I love most. Maka yang kulakukan kemudian adalah membuka Word, membuat doubledash, baru kembali ke editor teks Blogger hahahah. Silakan menertawakan tidak efisiennya cara kerjaku sesukamu, takkan juga kugunakan argumen seniman untuk ini. Jelasnya, aku sedang duduk menghadap selatan, memandang dedaunan, karena pandanganku setentang mata terhalang oleh papan bertuliskan Dr. Dian Puji N. Simatupang, SH., MH.


Ya benar 'Ndro, sedangkan aku sekadar Bono Budi Priambodo SH., M.Sc. yang bahkan IIIB/ Asisten Ahli saja belum resmi—hal-hal seperti ini dalam duniamu pasti penting sekali. Terlebih lagi, aku pun sekadar pengungsi korban rezim yang ditampung sementara di sini. Bolehlah ruangan ini di Minggu pagi yang terik kadang mendung ini. Ideku, seperti biasa, belum banyak berubah. Buka jendela! Biarkan udara segar mengganti kepengapan yang entah sudah berapa minggu, bulan, mungkin tahun, mengisi ruangan ini. Kini aku duduk menghadap jendela, sayangnya terhalang oleh papan kubikel yang membuat Takwa prihatin karena kecilnya—semua kubikel, kurasa, kecuali kubikel ini.

Lalu Arman Raafi Seif yang mungkin sekadar agar cool mengatakan "that little event of yours." Aku Insya Allah tidak bermimpi membendung gelombang apalagi tsunami, Nak. Aku terlalu masa bodoh untuk itu. Terserah kalian mana yang menurut kalian baik. Aku orangtua hanya dapat memberi tahu, sebatas dan sependek yang kutahu. Tadinya, aku terpikir untuk memberikan judul yang oye untuk entri ini, misalnya, Fuhrerprinzip dan Budi Pekerti. Namun seperti biasa niat itu kuurungkan, karena bukan di sini tempatnya sok keren begitu. Sudah cukuplah aku pura-pura waras sehari bisa sampai empat lima kali. [itu pun lebih sering gagalnya] Di sini biarlah aku menjadi diriku sendiri.

Seadanya. Aku dengan nama pemberian orangtuaku sebagai satu-satunya embel-embel. Sisanya, telanjang. Telanjang seperti biasa aku beberapa kali menulisi dalam keadaan seperti itu. Telanjang, menyembunyikan perbuatan burukku dari mata manusia seraya—dengan bodohnya—berharap ampunan dan maafNya. Demikianlah begitu saja terbersit ketika aku mengetahui Ustadz Mashadi tengah menjalani serangkaian terapi. Segala kehendakMu pasti baik, 'duhai Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. [apa pula aku yang nista durjana ini menyapaNya] Maaf jualah hamba mohon atas kelancangan ini, semoga segalanya yang terbaik bagi beliau dan keluarga, sekehendakMu.

Tua, gendut, botak, pongah dan pandir, dungu dan bebal. Betapa suatu citra diri yang mengerikan. Sudah tentu kepongahanku menyakiti hati banyak orang. Jika yang lain mungkin mencelakakan diriku sendiri, kepongahan ini berbahaya. Mengapa harus pongah meski hanya untuk pongah itu sendiri, meski hanya berolok-olok? Mengapa harus kuolok-olok kecil hatinya orang lain? Mengapa tidak kugunakan besarnya hatiku dengan semestinya saja? Lhah, baru saja sudah diulangi lagi. Haruskah kusebut-sebut besarnya hatiku, bahkan pada khalayak pembaca Kemacangondrongan? Tepat pada saat inilah Sopiwan  datang membuat keributan seperti biasanya.

Kini aku sudah pindah ke Ruang Sidang dan Perpustakaan Safri Nugraha dan pendingin-pendingin udara pun sudah dinyalakan. Memang memiliki teman bicara seringkali lebih baik daripada seorang diri. Sopiwan mungkin salah satu orang yang sering kusakiti hatinya. Jadi begitu 'Ndro, aku tidak dapat mengklaim kalau kita pernah menjadi kawan akrab. Namun engkau bagaimanapun memang selalu dekat di hatiku. Lebih dekat dari Buya Gunawan apalagi I Made Gede Antara. Apakah karena engkau 940353 sedangkan aku 940352? Mungkin saja. Aku pun merasakan sayang yang sama pada Teguh Rumi si 940351, nomor AK terkecil AL werving 1994.

Nah, seperti inilah seharusnya sebuah entri. Menyebut nama-nama.

Whoopsie Daisy, ternyata belum tujuh. Baiklah jika demikian aku cerita mengenai komentar Sopiwan yang diulang-ulangnya terus mengenai aku jadi selebritis. Ternyata itu ada kaitannya dengan proye'. Ternyata itu pun ada kaitannya dengan sahnya ia menjadi pemilik salah satu unit apartemen di Kemayoran sana, dekat sekali dengan tempatku dibesarkan sewaktu kecil. Suatu kebetulan yang manis karena, seperti kau tahu, nama blog ini adalah permainan dari nama Kemayoran—sesuatu yang mungkin takkan pernah kualami lagi dalam hidup yang ini. Sedangkan Tante Connie masih saja berdansa Waltz Terakhir. [Apa rasanya ber-waltz dengan Tante Connie ya] Semua sudah berakhir.

Monday, April 18, 2016

Berhenti Tepat Ketika Karnaval Dimulai


Kalau aku mengadu padamu mengenai tidak bahagianya aku, nanti aku disangka buta lagi. Entah mengapa di malam-malam gulita begini selalu saja Michael menyenandungkan kesenduannya, seperti telah terjadi bermalam-malam entah sejak kapan. Malam-malam ketika kusadari aku begini dan adikku juga tetap seperti adanya, entah dua puluh tahun yang lalu entah lebih—sedangkan Bapak dan Ibu sudah semakin tua dan tua saja. Sudah lama juga tidak kulihat jemuran melintang di ruang tamu. Sudah lama juga aku tidak tidur di bawahnya.


Maka tetap saja Michael menarikan Tarian Terakhirnya di malam-malam sunyi seperti ini, seakan menarikan sepinya hidupku, kosongnya batinku. Siulan gitar baja meningkahi pukulan perkusi yang nyaman bagai detak jantung yang tenang, damai. Lalu begitu saja Matahari Terbenam Karibia seakan melukiskan ufuk kesadaranku dengan desahan paduan suaranya yang mengilhamkan kasih asmara. Antara siapa dengan siapa? Ketika nada tiba-tiba kembali mineur, ketika itulah kenyataan menyentakku bangun dari lamunan akan cinta yang tak kunjung tiba.

Bapak dan Ibu, akhirnya itu saja, meski sakit selalu hatiku jika mengingatnya. Masa untuk ini pun aku hanya bisa mengkhayalkannya? Aduhai begini benar nasibku. Memang banyak dosa-dosaku, biarlah kutanggung. Semoga Allah mengampuni dan memaafkanku. Dunia ini, apa peduliku. Pecel Pincuk Mbak Ida atau Bu Ira terasa sama bagiku. Kenangan akan dosa dan dosa durjana sama pahitnya, bahkan lebih pahit dari Jamu Cak Mat yang entah di mana ia sekarang, turunan itu.

Anak-anakku tiada yang mengingatku, jangankan lima, jangankan empat, jangankan tiga, jangankan dua. Satu pun tak. Jika pun ada yang seperti mengingatku, TIDAK! Kalian anak-anakku. Kalian! Dengan mata-mata yang berbinar-binar seperti mata-mata Khairaditta, Aku ada Satu Pertanyaan. Apa yang akan kalian lakukan bagi dan terhadap saudara-saudara kalian yang tidak beruntung? Keadilan sosial, ‘Nak, ingatlah selalu itu. Berempatilah. Janganlah kalian menjadi pendusta agama. Berbelas-kasihlah. Bagaimana caraku mencegah kalian dari Days of Law Career hahaha.

Bapak, Janganlah Berjalan Terlalu Cepat. Tapi kita harus cepat, ‘Nak. Mengapa harus? Mengapa tidak boleh kunikmati saja hidupku? Sungguh, aku rela jika itu untuk kalian, dengan tatapan-tatapan lugu kalian. Tapi tidak untuk oom-oom kelas menengah keparat yang tidak pernah menyimpang dari kekentuan! Aku bisa apa, ‘Nak? Hanya satu pengharapanku. Janganlah kalian hancurkan hidup-hidup muda kalian. Jangan kalian renggut paksa tatapan-tatapan polos kalian. Margaret, coba buatkan Bapak kopi. Ya, aku Bapak sungguh-sungguh. Tiada seleraku padamu.

Meski dimainkan engkau dengan recorder, meski dengan dood, meski pahit getir terasa olehku. Bagaimana ‘kan kujalani sisa hidupku? Dengan memainkan Mandolin dari Nicosia? Seperti sudah bermalam-malam entah beberapa ribu? Meski menungging di lantai kamar mandi dan mencolok dubur sendiri? TIDAK. ‘Kan kujalani sisa hidupku, Insya Allah, dengan mengingatNya, bersyukur padaNya dan memohon padaNya untuk dijadikan hamba yang lebih baik. Aku memang seperti ingin ngopi dari tadi, meski Takwa tidak mau, dan meski bukan kau yang membuatkannya, Margaret.

Namun tak ayal terjerumus juga kita dalam Permainan Terlarang itu. Hanya sekali itu kulihat tatapanmu lain. Sialnya, aku tidak bisa lupa. Kurang ajar kau mempermainkan orang tua, sedang dengan santainya kau katakan kawanmu sendiri tidak cantik, sedang kau puji kawanmu lainnya cantik setinggi langit. Haruskah kuperlakukan engkau seperti perempuan? Jih, untung saja aku sudah sampai di Desa, dengan ratapannya yang sungguh pilu, meski refrainnya nanti tiba-tiba riang-gembira entah mengapa begitu.

Saturday, March 26, 2016

Monyet Peliharaan Aku Ini... Sekadar


Memang sudah lama sekali aku tidak gila-gilaan menulisi Kemacangondrongan, terlebih di tengah malam yang kacau-balau begini perasaan hatiku. Tidak ada lagi yang kuinginkan, apalagi sekadar menuliskan buah-buah pikiranku. Buah? Setelah Michael menarikan Tarian Terakhir, aku benar-benar sudah tidak tahu [dan mungkin juga tidak peduli] pada apa yang kuinginkan. Tahun ini empatpuluh tahun usiaku menurut perhitungan surya, yang lebih lazim bagi kebanyakan orang. Empat puluh tahun masih juga begini saja terus.


Memandangi Matahari Terbenam Karibia, seperti sudah kulakukan setidaknya seperempat abad terakhir dalam hidupku. Di manakah akan kutemukan kebahagiaan? Tidak dalam hidup ini? Aduhai, adakah di antara kalian yang membaca ini dapat memberiku kebahagiaan? Apa itu bahagia? Sesuatu yang kuciptakan dalam pikiranku sendiri, sehingga tidak ada seorang pun kecuali diriku sanggup menjelangkannya padaku? Demikianlah dari jaman Asatron sampai sekarang dengan Winamp, aku harus menggesernya seperlahan mungkin agar jangan sampai bisu sama sekali.

Apakah kulakukan juga dengan walkman Sony dahulu, yang spikernya merah? Adakah kusangka ketika itu jika demikian adanya aku kini? Adakah aku ketika itu punya bayangan apa yang akan terjadi padaku di kemudian hari? Tidak ada! Tidak ada sesuatu pun, seseorang pun yang memberitahu. Jadi, jika demikian adanya aku kini, memang sudah dapat diduga dari dahulu, karena masih saja aku ditemani Dick Bakker di malam-malam seperti ini. Jika dulu kutulis Perang, Prajurit dan Persenjataan yang sepenuhnya mengarang bebas, [hahaha] kemudian Masyarakat yang Dikondisikan, maka sekarang adalah ini.

Bedanya, adalah kini shalatku entah betul entah tidak. Bedanya, sekepul dua asap entah Sampoerna King atau apapun sepanjang kretek. Oh, malam ini teringat lagi betapa nyamannya, meski mungkin itu juga yang mengantar Pak Widhi ke peristirahatan terakhirnya. Semoga Allah melapangkan kuburnya, senyaman perasaanku malam ini. Amin. Dunia ini... memang sekadar panggung Salihara, yang ternyata sulit juga membuatnya. Jika tidak sulit tentu bukan dunia, karena dunia ini tidak semulus alur film-film holiwud, apalagi sinetronnya Raam Punjabi. Mbulet.

Bunga-bunga rumput ini entah tidak mengerti entah tidak peduli kupandangi, meski lantas saja aku teringat Bang Ade dan sebangsanya. Sama saja sepertiku, semua saja berusaha mencari hidup dengan kebisaan masing-masing, apapun yang ada padanya. Meski rejeki sudah dijamin. Tidak berarti bahwa lantas berpangku-tangan, meski berpangku tangan aku yakin rejeki juga. Rejeki yang... entahlah, tidak pada tempatnya aku berkomentar. Kapan ini akan kuterbitkan di Kemacangondrongan? Entahlah. Saat ini tidak kurasakan dorongan untuk menyimpannya di flesdisk atau mencari koneksi Internet.

Apa yang akan membuatku bahagia? Memandangi Gubug Peceng dan Lanjar Ngirim di langit malam yang cerah benderang, seperti di tengah-tengah kebun tebu dahulu? Benar itukah yang membuatku bahagia, atau sekadar kemudaan dan ketololan dan kedunguan? Mungkin juga tidak, karena bagiku setidaknya, ketuaan juga masih tolol dan dungu, seperti wajah-wajah yang berkelebat-kelebat di depan mata. Mau diapakan? Mau diapakan rumah-rumah pedesaan yang temaram dengan lampu bohlam watt kecil, dengan jalanan tanah yang becek dan udara basah bekas hujan, dari sekitar Legok sampai di lereng-lereng Menoreh?

Aku sekarang ini memang seekor monyet peliharaan akibat mengundi nasib. Leherku dilingkari gelang besi yang dihubungkan dengan rantai ke gelang besi lain, yang melingkari batang pohon ketapang kecubung. Aku hanya bisa menyeringai memperlihatkan taringku yang sudah keropos. Selebihnya aku sekadar monyet peliharaan. Ah, aku mulai suka entri ini, meski ia tidak membawaku terbang Tinggi di Angkasa. Ia hanya menyeretku sepanjang karport yang tidak ada karnya. Tak apalah nyatanya aku ini monyet peliharaan.

Gidongdep Gidap Gidongdep Steiondesin

Tuesday, March 01, 2016

Sehari Setelah Hari Khas Tahun Kabisat


Apa seharusnya yang kurasakan ketika hal pertama yang dihasilkan oleh HP Stream 8 dengan dompet kibor blutut ini sekadar entri Kemacangondrongan? Haruskah aku bangga karenanya? Lega? Gundah? Malu? Tepat seperti yang kuinginkan, kibor blutut ini sangat ringkas dan ergonomis. Nyaman dipakai. [dan baru saja kusadari baik padanya maupun kibor pada-layar tidak ada kurung kurawalnya] Dompetnya pun fleksibel, dapat diatur kemiringannya sesuai dengan kenyamanan leher dan mataku. Jika ada sedikit gundah, itu karena, kurasa, aku khawatir ia tidak memadai digunakan untuk mengindeks.


Mengapa harus mengindeks dengannya? [Keni Ji harus kutengok sebentar tadi karena tiba-tiba diseling iklan] Untuk kepentingan-kepentingan selain menulis dan membaca sebaiknya diserahkan langsung kepada yang berwajib, yaitu Asus X450C. [atau haruskah ia kutukar dengan Desktop PC?] Lagipula, sungguh aku tidak berharap ada lagi yang harus kukerjakan di kemudian hari yang bukan merupakan membaca atau menulis. Sudah cukup itu semua! Membaca dan menulis, seperti Bang Andri begitu, yang menurut Bu Eti seharusnya sudah jadi profesor karena internasional reputasinya.

Aku juga ingin seperti Bang Andri. Aku ingin menjadi ahli. Sudah cukup kurasa semua kegilaan ini. Memang antara Pancasila dan pengelolaan perikanan skala kecil terdapat suatu pita kontinuum yang teramat lebarnya. Namun tidak berarti semua itu harus kontinyu spektrumnya seperti pelangi ‘kan? [Uah, ketika sedang mencari tanda aksen, akhirnya kutemukan kurung kurawal itu, seperti standarnya kibor ini, harus menekan tombol fungsi. Huft!] Biarlah spektrumku diskontinyu, karena meskipun ketika kecil aku sangat suka topi dan boneka, nyatanya aku tumbuh menjadi laki-laki yang sangat hetero.

Adanya saya bisa menulis entri tengah malam ini, ada Tolak Angin Care. Tadinya, tentu saja, ia tidak kuoleskan pada mataku. Paling pada hidung dan sedikit pada dahi. Entah bagaimana caranya, ketika aku sudah membaringkan miring badanku, mataku menjadi pedas. Aku lantas saja teringat pengalaman terbakarnya kulit belakang leherku karena sebab yang sama. Begitu saja aku menjadi parno dan tergeragap bangun, mengambil secarik tisu dan menekan-nekannya pada mataku. Nyatanya, setelah kupakai menulis-nulis begini, mataku terasa baik-baik saja. Bahkan dengan taraf perbesar 100 persen pada layar delapan inci ini, aku dapat melihat dengan jelas. Alhamdulillah. [akan halnya kini kuperbesar menjadi 130 persen, ini hanya mencoba saja]

Uah, sedap kali pun dehaman dan erangan saks oleh Keni Ji ini. Aku hanya bisa membayangkan apa yang terjadi di antara pasangan muda-mudi yang sudah cukup umur ketika lagu-lagu ini kali pertama tenar di awal sembilan puluhan. Mungkin akibat kekhilafan mereka adalah mahasiswa-mahasiswaku sekarang ini baik laki-laki maupun perempuan. Apapun mereka, seperti bagaimanapun tampaknya, bagiku mereka “akibat kekhilafan” semata. Seharusnya ada orang lain yang mengatakan betapa pilu caraku memandang hidup. Akan tetapi tidak satupun berkata begitu, jadi biarlah aku sendiri yang mengatakannya pada diriku.

Mantap ‘kali pun ‘lah! Insya Allah dengan perkakas ini aku bisa produktif membaca dan menulis. Sungguh ringkas dan praktis. Hanya dengan koneksi internet yang lumayan stabil seperti smartfren seratus ribuan sebulan ini, berbagai album penuh di Yutub dapat menemaniku mengetik—meski ada baiknya juga kupasangi kartu SD mikro agar kapasitas penyimpanannya lebih besar, dan tidak mengganggu penyimpanan di cakram utama. Ternyata ini entri mengenai HP Stream 8-ku yang baru ini. Tidak menjadi apa, asal jangan “kena apa.” Biarlah gambarnya pun HP Stream 8 yang lengkap dengan dompet kibor blutut.

Wassalam

Monday, November 30, 2015

Siapa Bilang November Tidak Ada Entrinya?


Meski ditayangkan secara surut, tetap saja November 2015 memiliki entri, meski hanya sebuah. Seperti biasa kalau sedang menulis entri, maka kelebat-kelebat pikiran aneh menguasai jagad inderawi. Seperti sekarang ini, Suara Surga. Meski suaranya terdengar modern begini, seperti dengan sintesaizer, bisa jadi memang demikianlah Suara Surga itu. Tak pelak maka yang terpampang dalam mata batin adalah jalan berbatu di tepian Sungai Maas. Lebih baik bersepeda karena tidak akan terlalu lelah jadinya.

Musik-musikan a la ngak-ngik-ngek gila-gila'an
Seperti yang sudah kuduga, musim hujan baru benar-benar datang di akhir November ini. Terlambat? Bisa jadi. Bergeser? Kemungkinan besar. Perubahan iklim? Ya ya... toh semester depan ini aku akan mengajarkannya bersama Bang Andri. Hukum Perubahan Iklim. Terdengar keren sebagai sebuah mata kuliah. Terdengar mutakhir. [kata ini yang seharusnya digunakan ketika kunyuk-kunyuk itu malah menyebutnya sebagai “kekinian.” Tolol!] Ternyata yang sedang kususuri ini bukan Sungai Maas melainkan Sungai Gypsi, yang kini mengilhamkan Suatu Cerita yang Menyenangkan.

Betapa suatu melankoli dapat menyenangkan? Bisa saja, jika yang terbentang di hadapanmu adalah langit mendung yang dihiasi oleh hanya satu gedung pencakar langit. Selebihnya sampai ke ufuk barat sana adalah langit mendung yang terkadang ditingkahi geraman bis transportasi umum, sekali-sekali saja. Dan Ratu Saba, dan Ratu Sima, dan Borobudur dan Kuil Nabi Sulaiman... ahaha... tidak lebih gila dari Revolusi Pancasila atau revolusi apapun. Semua sekadar melankoli yang mengilhamkan suasana sentimentil.

Mengapa aku mendendangkan lagu cintaku, kautanya? Karena, Ma Jolie Fille, karena... sentimen yang diciptakan melankoliku sendiri, Mam’selle. Aku tidak butuh apapun selain diriku sendiri dan melankoliku sendiri untuk merasa seperti ini, sampai-sampai mendendangkan lagu cinta begini. Uah, apa peduliku?! Entah geligi atasmu saja yang ber-beugel atau dua-duanya, itu sepenuhnya urusanmu, dan aku tidak berminat untuk memahaminya. Aku bahkan tidak akan meminta maaf untuk itu. Engkau tidak mau tanganmu kupegang agar mengerti apa maksudku? Tidak masalah.

Ini sekadar masalah lanun yang berpikir bisa seenaknya merompak di perairan Tanjung Kacrut. Bukankah kita punya satu resimen pemanah di dekat situ? Suruh mereka stelling di puncak tebing dan tetap merunduk. Jika kapal-kapal perompak itu masuk jarak tembak, hujani tiba-tiba dengan panah api. Beberapa hari kemudian seorang caraka mengabarkan bahwa perintah itu sudah terlaksana dan begitu saja perairan Tanjung Kacrut telah bersih dari perompak lanun, bahkan tanpa selembar layar pun terkembang, tanpa lunas menyentuh air!

Aku kembali lagi ke dalam bilikku yang meski rapi tetapi bau. Sudah berapa lama tidak main cinta? Puh, bahkan ingin pun tidak. Aku sedang ingin menyucikan jiwaku, membersihkannya dari kotoran sebisaku. Sedangkan badanku terus saja dikotori dan dirusak oleh karbohidrat dan—ini lagi—kopi jahe, dan kurang gerak, masa jiwaku juga kotor dan rusak? Duduk bersila, terpekur, meski perut gendut membuatku tidak bisa membungkuk lebih jauh lagi. Terkadang aku malah menengadahkan kepala, meski mataku terpejam.

Penghambaan kepada apapun kecuali Allah Illahi Rabbi adalah... mengerikan! Aku hanya bisa membayangkan kengeriannya, namun menghamba hanya kepadaNya pun masih sebatas gagasan yang mengapung-apung dalam alam sadarku—artinya, belum tenggelam ke dalam bawah sadar, belum menjadi kebiasaan. Ngeri! Semua saja selainNya punya potensi untuk menjadi sesembahan. Padahal, ketika sudah lengah dan cukup dekat, apapun yang disembah selain Allah itu akan menerkam dan menyeret ke dalam jurang azab sekaligus dengan dirinya.

Naudzubillahi, tsumma naudzubillahi min dzalik!

Thursday, October 29, 2015

Malam Ketika Musang Menangis [Lagi?!]


Tepat ketika Tante Connie mengucap selamat tinggal kepada Barcelona, hujan turun dengan derasnya di telingaku. Tiba-tiba terdengar kembali suara menyayat hati itu, tangisan musang. Kenapa kau menangis, Kawan? Apakah kau lapar? Tidak ada lagikah yang dapat dimakan? Maafkan aku telah memetik pepaya matang, yang mungkin seharusnya menjadi makananmu. Toh, aku tidak memakannya juga. Guruh di kejauhan sekali-sekali terdengar, dan Cinta adalah Sesuatu yang Sangat Agung. Bahkan jari-jari pecinta ulung takkan mampu menandingi cantiknya bekas cakar-cakar musang pada buah pepaya matang.


Jari-jari yang membelai tentu akan terasa seperti Taman Surga, jika bukan surganya itu sekali. Jari-jari cinta saling menyentuh menelusuri lekuk liku tubuh, terkadang terbelit rambut-rambut di sana-sini. Jari-jari maut merenggut jiwa siapapun, baik yang hatinya dipenuhi cinta sepanjang hidup maupun yang tidak pernah merasakan cinta. Burung kedasih sudah mulai memperdengarkan nyanyiannya yang memilukan. Mungkin sebentar lagi memang benar-benar akan masuk musim penghujan. Hujan yang mengilhamkan cinta pada sepasang kedasih, membawa barokah pada telur-telur mereka yang kelak menetas.

Sejuknya udara terasa di hati mengilhamkan kesejukan pula pada sekujur tubuh di setiap pori. Seakan bibir kekasih menyapu lembut tengkuk sampai menggelinjang dihembus-hembus hangatnya cinta, begitulah hati yang sejuk. Suasana hati apakah ini yang sedang kurasakan, yang sangat jarang ini? Rasanya hampir seperti jatuh cinta, yang jatuhnya bertubi-tubi seperti butir-butir hujan deras menghantam genting tua berlumut. Irama yang dihasilkannya membuat jantungku berdetak nyaman, tidak berdentam-dentam. Waktu seakan paham dan berhenti, menghapus masa lalu, terlebih masa depan.

Kudekapkan kedua telapak tanganku pada dada kiriku, sedangkan kepalaku sedikit tengadah. Mataku terpejam membiarkan air hujan mengalir deras melalui kelopak-kelopaknya, alis dan bulu matanya. Dahiku bagaikan air terjun yang bersolek dengan pelangi kembar, bahkan tiga, bahkan lebih dari itu. Kepalaku yang botak ini seakan ditumbuhi lebat-lebatnya hutan hujan tropis lengkap dengan para penghuni kanopinya yang riuh rendah, namun damai. Aku tidak takut sendirian di sini. Aku tidak butuh dokter, klinik rawat jalan, apalagi rumah sakit dengan unit gawat daruratnya.

Aku biar di sini saja. Dunia ini memang tempatnya sakit dan kesakitan. Namun jika begini sekelilingku dan suasana hatiku, biar saja. Akan kuikuti ke mana saja, karena dalam hatiku aku tahu, suatu hari nanti entah di mana di sepanjang jalan ini, akan kutemui cinta sejatiku, benar-benar milikku sendiri. Suatu hari nanti kelak di kemudian hari, ketika waktu sudah berjalan kembali. Tidak ada tempat yang terlalu jauh, tidak ada lautan yang terlalu luas, ke manapun ia pergi akan kuikuti. Timpani bergemuruh menandai akan tercapainya klimaks di antara kami semua... Aaahhh!

Cinta. Cinta. Cinta... adalah khayalanku mengenai hidupan liar. Cinta adalah seekor kadal dan bunyi-bunyian binatang malam. Cinta ada di mana-mana di persekitaran. Cinta adalah debu yang ikut terhirup melalui hidung, terperangkap rambut-rambut dan lapisan lendir, menjadi upil. Cinta adalah rasa yang kaudapatkan saat otot-otot bola matamu rileks, dahimu datar tanpa kerutan, dan jarimu sibuk mengorek-ngorek lubang hidungmu. Memilin-milin seberapapun yang kau dapatkan, mencium lagi baunya sampai berkali-kali, terkadang malah mencicipi asin getirnya, itulah cinta. Siapa lagi yang kauharapkan sanggup memberikannya kecuali dirimu sendiri?

Jangan kau rusak cinta dengan apapun. Kita ada karena cinta, kita tiada karena cinta. Dengarkanlah bisikan daun-daun randu alas yang sedang memadu kasih dengan burung hantu. Dengarkanlah bisik-bisik duri-duri pada batangnya, membumbungkan puji-pujian bagi cinta. Lalu hembusan angin dan desahannya yang aku, kau dan kita semua tahu. Desaunya di atas rawa gambut yang penuh dengan cahaya-cahaya berpendar mengambang di udara, membuat Tante Connie meratap-ratap minta tolong, sedangkan tangisan musang kembali terdengar.

Wednesday, October 28, 2015

Bass Bukan Baso yang Bisa Menjeletot


Ini adalah suatu kutika aku bebenah pavilyun di malam hari. Pavilyun pada waktu itu terasa lapang sekali, dan aku masih lebih muda dari ini. Ditambah ayunan orkestrasi Billy Vaughn yang mendayu-dayu memainkan Time Was, aku seperti jauh lebih muda lagi. Bisa jadi aku seorang komunis yang pandai memainkan saksofon, atau saksofonis yang pandai menjelaskan apa itu komunisme—tidak banyak bedanya. Ini bisa juga siang hari di atas ubin kuning kuno yang sejuk, dengan sedikit debu.


Kiniku adalah mug suvenir Dies Natalis ke-91 Fakultas Hukum Universitas Indonesia, yang berarti juga Pendidikan Tinggi Hukum di Indonesia, yang bertemakan “Refleksi Sejarah untuk Hukum Indonesia yang Berkeadilan.” [Asaptaga siapa pula yang terpikir tema seperti ini?] Tetap saja, di sebaliknya adalah lambang Universitas Indonesia dengan veritas probitasnya yang terkutuk! Aku dapat minum kopi jahe dengannya tanpa merasa bersalah, tanpa merasa seperti pencuri, karena aku sudah tanda-tangan—meski aku juga menyanding setengah liter air panas dalam gelas plastik Teh Poci, milikku sendiri.

Itulah sebabnya aku lebih suka menjadi seekor burung layang-layang ketimbang elang rajawali, terutama sejak ia dijadikan lambang Metrotivi—aduhai alangkah bodoh tampaknya, meski Bang One juga tidak lebih keren. Aku seekor burung layang-layang mungil. Leherku hanya selingkaran cincin kawin. Aku tidak peduli orang ramai berkarnaval seantero Brazil di bawahku, meski zabumba berdentam-dentam dan pinggul-pinggul telanjang berayun bergoyang-goyang. Aku hanya tahu, sebelum matahari terbenam aku harus sudah di sarangku. Biar terayun terkantuk-kantuk kepala mungilku sedangkan Bintang Kecil tersenyum padaku di kejauhan.

Air panas telah kutuang ke dalam mug. Kutaksir volumenya sekitar 400 ml. Adapun tujuannya adalah untuk membasuh bekas-bekas kopi jahe, tidak saja dalam mug tetapi juga di sekujur saluran cernaku. Inilah yang menyadarkanku betapa aku bukan seekor burung layang-layang mungil. Aku bapak-bapak gendut yang sakit-sakitan. Aku bahkan bukan perwira angkatan laut negara manapun yang melantai bersama perempuan Yahudi yang aduhai sungguh menawan. Aku bahkan tidak pantas menjadi apapun, sedangkan Istriku saja menolak menyebutku cerpenis apalagi sastrawan.

Terkadang ingin sekali aku bertanya pada Opa Ibrahim Ferrer, mengapa ia murtad—meski ia tidak mungkin lebih murtad dari Rahim Sterling. Mengapa engkau malah memeluk Santeria, Opa? Apa kau takut voodoo? Apa kau takut sihir-sihir hitam dari tanah asalmu, yang diilhami oleh jin-jin kafir itu? Hanya yang kutahu, Opa, tidak mungkin kuhidup berpisah dari Si Penjaja Kacang Tanah. Bersamanya aku merasa selalu berada di Alam Musim Panas, di mana kami selalu memadu kasih, di mana tiada kekuatiran, tiada harapan. Hidup hanya untuk saat itu, dan selalu saat itu setiap waktu.

Tidakkah memang sudah begitu hidupmu, tukas Opa Ibrahim. Tidakkah Berlayar di Sepanjang Bulan Keperakan bagimu hanya dapat dilakukan sambil memancangkan pantat di kursi sedangkan jarimu mengetuk-ngetuk papan kunci? Tidakkah sudah lama sekali bahkan kau tidak membaca lagi? Aloha Oe, mengapa memberondongku dengan pertanyaan begitu, Opa? [Mengapa pula ini Opa Billy dengan ensembel saksofon yang meletot-meletot begini?] Kalian Opa-opa seperti memojokkanku! "...karena kami sudah mencapai apa yang harus kami capai, yaitu mencekam benakmu!"

Jika sudah begini, aku tidak tahu lagi apakah lebih baik cengeng seperti Fawaz ketika masih berusia sembilan tahun, atau memendam melankoli sementara muka selalu dipasang sok eager bahkan setelah setua ini? Kupalingkan wajahku hanya untuk tertumbuk pada Opa Bram Titaley yang sedang mengharu-biru Hawaii. Senyumnya seakan mengejekku yang baru-baru ini saja menyadari bahwa paloma itu merpati sedangkan matahari itu sol. Opa-opa hebat ini, akankah aku menjadi seperti mereka? Akankah aku kelak menyaksikan betapa aku mencekam benak lelaki culun umur empat puluhan?

Tuesday, October 27, 2015

"Aku Punya Sebuah Pertanyaan..."


Mendengarkan kaset itu kedua-dua sisinya. Ini mendengarkan dua kaset masing-masing hanya di satu sisi, yaitu Side A. Bagaimana pula?! Kaset-kaset memang sudah lama tiada, begitu juga pemutarnya. Hanya lagu-lagunya abadi terngiang terus dalam ingatan. Tidak seharusnya aku begini, terbawa suasana. Seharusnya suasanalah yang terbawa olehku. Namun tidak malam ini. Tarian Terakhir ini, dengan senandung gitar bajanya, seakan menggamitku, pada lenganku. Ia menempelkan kepalanya, memandang padaku dengan tatapan gemas seakan haus akan cintaku.

Cinta? Sedangkan burungku masup mendelep jika perutku kembung. Tinggal Tarian Terakhir ini saja, dan kenangan yang dibawanya, yang masih tersisa. Kenangan akan seekor tikus got yang meski kepalanya membotak namun masih membuncah dengan tenaga muda. Tikus got yang merayap-rayap di sepanjang gang tak berselokan, ketika Matahari Terbenam Karibia mengalun di telinganya. Ia terus saja melahap butir-butir nasi yang menghujan dari wajan penggoreng nasi di atasnya, tidak peduli pada derap-derap kaki di sekelilingnya.


Atau seorang lelaki gemuk di pertengahan umur duapuluhan, berjaket kulit potong-potongan kulit domba Garut. Sama dengan Tikus Got, ia pun tengah menikmati matahari terbenam—meski terbenamnya sudah agak enam jam yang lalu—bersama Atiek CB. Inderanya terpusat pada bintil-bintil lidah dan dinding kerongkongan yang dibiarkan telentang, telanjang dialiri derasnya bir hitam kesukaannya. Bahkan ketelanjangan Atiek CB tidak dipedulikannya. Hanya bir hitam khas Irlandia dan rokok kretek Kudus yang diijinkannya menyita terpusatnya indera.

“Aku Punya Sebuah Pertanyaan.” Kini ia telanjang dada, memamerkan kulit yang kemerah-merahan dibakar anggur putih, yang dibelinya empat atau enam botol sekaligus. Bukan keringat, bukan peluh yang mengucur deras dari benaknya, melainkan air mani kental yang amis baunya. Air mani pemuda tanggung yang dipeper-peperkan di tembok rumah kosong, yang berdebu tebal, yang membuat gatal. Bahkan nanah, tidak berhenti mengalir dari paruh burung yang sudah berubah menjadi raja singa. “Untuk apa itu semua?”

Untuk seorang pelacur kribo bergigi tonggos! Kribo bulu keteknya! Uah, aku jadi merasa seperti Jane dalam dekapan Tarzan, tapi kali ini dia Tarzannya. Ia seperti memukul-mukul dadanya sambil melolong-lolong, padahal itu aku yang menyentil-nyentilnya. Ya, dia melolong. Astaga, apa yang kulakukan di sini? Aku hanya tersesat dalam cinta, yang dulu kukira ramah dan bersahabat. Ternyata cinta adalah lampu temaram dan seprai yang entah kumal entah baru dicuci. Memang bau sabun colek dia.

Lalu kami melakukannya, Tarian Terlarang itu. Tarzan ternyata adalah seorang gadis kecil yang sekilas seperti cantik namun bila diamati sejatinya seperti Smeagol. Aku adalah Jane, dan Jane hanya ingin pulang ke Kampungnya, di mana bohlam temaram terlihat di kejauhan seperti pelita sedangkan persekitarannya gelap belaka. Sedangkan sekitarnya rumpun bambu yang basah oleh hujan sepanjang hari, dan jalan tanah ini becek dan licin seperti... [Pada titik ini Jane meraung seperti gorila tersentuh peniti]

Pulang. Itulah yang paling benar. Hentikanlah pengembaraanmu. Berbaliklah, dan susuri jalanmu sampai di sini. Mana tahu akan kautemukan jalan pulang, yaitu ketika kanan kirimu mulai berumput. Rumput yang benar-benar hijau dan tercukur rapi, sungguh mengundang selera. Nyaman bagi mata, nyaman bagi hidung karena bau ozon. Pada saat itulah kau akan berada Tinggi di Angkasa. Kau akan merasa seperti mengepak-ngepakkan sayap padahal sejatinya kau melayang, ya, sekadar mengapung. Saat itulah, kau di rumah.

Monday, October 26, 2015

Malam Ketika Musang Menangis


Dengan apa aku harus membuka entri ini? Apa itu entri? Sayangkah aku pada Istriku? Satu hal yang kutahu cukup pasti, jika terhidang di hadapanku Prof. Jimly Asshiddiqie—yang namanya aku tidak pernah tahu pasti bagaimana menulisnya—dan Seno Gumira Ajidarma, aku akan segera melahap dan menelan yang terakhir, seperti Musa cilik melahap bara api. Apa jika begini? Tidakkah ini terbaca seperti sebuah cerpen? Tidakkah ini terbaca seperti kisah hidup Sukab?

...tadinya mau gambar Rahayu Effendi, tapi tidak ada yang bagus.
Belum lagi Prof. Yusril Ihza Mahendra. Mereka berdua ini orang-orang yang... mengerikan. Prof. Satya Arinanto, lalu RM Ananda B Kusuma tidak mengerikan, tapi yang dua pertama itu mengerikan. Aku yang menggemari Sukab ini lantas saja lebih condong ke kiri timbang ke kanan. Mau ke mana lagi? Tidak bisa lain, aku harus segera pura-pura tertarik pada Māori jika aku benar-benar sayang pada Istriku. Bukan karena aku ingin mengerikan. Bukan karena itu.

Semata-mata, aku hanya harus melanjutkan hidupku. Aku harus mencapai hal-hal tertentu jika menempuhi jalan ini. Masalah nanti menyematkannya di depan namaku atau tidak seperti Seno Gumira, itu masalah nanti. Aku tidak malu untuk mengakui bahwa aku mengagumi beliau; meski terkadang aku tidak yakin, adakah Seno Gumira atau Sukab yang kukagumi. Jih, anak De Britto gondrong ini. Aku tidak iri padamu. Aku benar-benar kagum, Pak, meski Istriku kini yang mengikuti kuliah-kuliahmu.

Engkau tidak sehebat John Lennon sehingga harus kutembak, sedang John Lennon pun tidak hebat. Aku pun tidak pengecut seperti Mark Chapman, sehingga jika kau kutembak pasti dari depan. Tidaklah, Pak Seno. Kau hebat. Aku pecundang. Bagaimana caranya agar sehebat engkau? Jangankan sehebat engkau, bagaimana caranya menyaingi Fidel saja aku tidak tahu. Apalagi Pak Harto. Apa yang dapat dihasilkan dari rumah di Kramat Batu itu, sedangkan perutku terus saja kembung begini?

Malam terus merayap mendekati tengah-tengahnya. Tidak mungkin lagi aku memikirkan Māori dengan cukup produktif. Namun mungkin aku masih punya sedikit tenaga untuk mengurainya, membaca di antara baris-barisnya. Siapa tahu ada noda Bayclin jika jeruk terlalu arusutama. Biarlah, siapa tahu aku bisa jadi Dr. Soumokil atau Dr. Azahari yang berhasil, sedangkan besar kemungkinannya Dr. Azhari berada di pihak kami. Jika sampai waktunya, biarlah aku bersantai di Laguna Mengantuk, atau Pantai Mengantuk.

Sementara itu, biarlah aku dikira meniru Mas Toni. Biarlah orang mengira entri-entri ini ada artinya. Biarlah orang menyangka entri ini racauan orang gila sampai mereka berhenti membaca. Aku biar saja, masalah aku sendiri mengerti atau tidak. Demi tujuh ratus ribu Rupiah aku akan duduk beberapa jam di dekat orang-orang mengerikan, mengucap sepatah dua kata dan menyeringai seperti orang tolol. Permainan yang semakin sulit dimainkan, dan aku mengelak tugas membaca doa.

Sampailah kita pada akhir perjumpaan kita malam ini, Sahabat. Biarlah feri ini merapat, membenturkan dampranya pada tepi dermaga. Biarlah kaki-kaki kita berlompatan ke darat meski goyah. Inilah rumah kita, dan tidak ada kurasa orang di dunia ini yang lebih menyukai rumah daripada aku. Maka Cintailah Aku! Siapa mau mencintai aku? Ada? Tidak? Baiklah. Kumasukkan saja kedua tangan ke dalam saku celana, berjalan menjauh. Kalau tidak ada yang cinta, mau bagaimana?

Kerang Saus Padang
Kerang Goreng Tepung
Nasi Uduk
Jeruk Panas

Sunday, October 04, 2015

Aku Tidak Suka Tidur Bersama Pancasila


Aku terperangkap [atau terkepung? Tersandera? Tertawan?] oleh ironi hidupku sendiri. Sepertinya oye kalau aku membuka entri dengan kalimat ini, meski terus terang aku tidak bisa memutuskan kata kerja mana yang harus kugunakan. Apapun itu masih jauh lebih baik daripada Nikmatnya Mereguk Perawan Kencur—meski aku sedang melakukannya kini, sampai bersimbah peluh sekujur tubuhku. Sudah dua “meski” kugunakan sejauh ini, sedangkan [‘duh, “sedangkan.” Hei, setidaknya ‘duh-ku ada apostrofnya, yang artinya ada bagian kata itu yang kuhilangkan, vide Ivonne Ruth] Johnny sudah setengah gila.

Una Guantanamera sin la paloma blanca
Betapatah tidak setengah gila jika ingin ke Havana tidak kesampaian juga; sekalinya sampai diantarkan Zoë Brân, bikin marah saja. Aku masih ingat waktu itu kami bertemu dengan seorang perawat homoseksual. Lamat-lamat aku juga ingat suasana rumah di mana Zoë belajar bahasa Spanyol—gila, ke Cuba dan tidak mengerti sepatah kata pun bahasa Spanyol. Lalu, Guantanamera, seperti halnya Habanera. Uah, aku berani bertaruh Cantik memang benar-benar seperti cewek latin, sebagaimana halnya aku seorang vaquero yang dibaca seperti bagero hahaha. [Ini Havana kenapa meletot-meletot begini?!]

Teringatnya, Jumat kemarin sebelum mengajar Pancasila aku menghabiskan siang bersama Taishō Yamamoto Isoroku. Ia menertawakan lemahnya mentalku. Untunglah aku bukan seorang perwira junior di angkatan lautnya, kalau tidak mungkin katananya sudah mendarat tepat di puncak kepalaku—meski mungkin masih disarungkan. Dudukku—baik dalam suatu pertemuan resmi, terlebih jika seorang diri—selalu saja menggelesot menekuk bungkuk tulang punggungku; tidak seperti beliau yang—meskipun Taishō—selalu duduk syaappp grak! Pantaslah dulu almarhum Pak Karim suka meluruskan punggungku ketika apel atau upacara. Posturku memang bungkuk.

No excuse, Sir! Aku mungkin memang tidak berhak atas pelukan, gelinjang dan ciuman Habanera maupun Guantanamera. Aku tidak akan mungkin menjadi salah satu pilot Tahi Ular apalagi prajurit Kavaleri ke-7 yang diangkutnya ke Lembah Kematian. Aku bahkan tidak yakin apakah aku cukup baik untuk menjadi anak buah Margonda atau Guevara. [Tito, apakah sudi menerimaku?] Namun aku sudah kadung pasrah bongkokan bersetia pada... Pancasila? Demi jaya Indonesia? Sedangkan Mas Widodo dan Mbak Rita sudah sulit hidupnya berjualan kelontong, karena untung dari berjualan gas elpiji 3 kg hanya Rp 2000?

Apa lagi yang dapat kukatakan? Tidak ada. Kata-kata, jika itu dariku, sudah tidak ada gunanya. Lebih baik kugunakan suaraku ini untuk menghafal al-Adiyat dan al-Zilzalah, baru kemudian al-Bayyinah. Tiffany Angelica Temajaya kemarin Jumat memintaku untuk mendongeng, karena—menurutnya—diskusi di antara teman-teman tidak menambah pengetahuannya. Paklik memang pandai mendongeng, ‘Nak, tapi yang akan berminat mendengar dongeng Paklik paling kamu dan beberapa gelintir lain. Sisanya... aduhai, ini mengenai Pancasila, ‘Nak. Ini mengenai Pancasila sedangkan sekarang sudah tujuh puluh tahun berlalu bahkan lebih.

Kenapa jadi Pancasila melulu? Oh, sedangkan Ki Macan sudah tidak pernah mengunjungiku lagi, sudah lama sekali. [huhuhu tersedu-sedu] Jika begini aku teringat tulisanku mengenai mahasiswa yang saling berpamitan ingin berangkat demo lalu melapisinya dengan plot mengenai seorang centurion gila yang sudah tidak percaya pada kejayaan Roma—dua tahun sebelum film Gladiator rilis! [seakan keterangan terakhir ini penting] Sepertinya memang aela iacta est! Aku tidak tahu apakah dalam hidupku ini aku akan pernah menyetir Rubicon. Aku tidak akan menyetir kecuali aku memilikinya. Tidak akan pernah!

Cinquecento. Perfetto!