Tuesday, January 31, 2023

Mengangkangnya Paha Ayam Kelihatannya Brutu


Bolehkah jika di awal hari terakhir Januari secara orang Barat ini aku mengitiki. Kepada siapakah 'kan 'kutanyakan yang 'kan peduli pada badan dan pikiran penat berpeluh keringat begini. Jadilah cintaku, 'kumohon padamu. Kau memandang dengan tatapan ketus dan jijik, aku bisa mengerti. Biarlah aku ditemani semug teh tarik serbat sereh yang baunya membingungkan ini. Seperti ketika kau berlalu tadi, angin meniupkan wewangianmu hampir pada epitel hidungku; membuatnya beringus, beringsut-ingsut. Melodi yang indah mengingatkanku betapa aku mencintai Istriku. Entah sanggupkah 'kuselesaikan entri ini. Entahlah...
Satu hal yang pasti, John Fox 'kuminta dengan sesopan mungkin untuk  mengosongkan panggung, lantas 'kupersilakan Katon Bagaskara. Mengapa, tanyamu, karena jika ada lomba mirip-miripan John Fox, Katon Bagaskara juara satu, John Fox juara dua. Begitu juga dengan Claradika yang tidak ada mirip-miripnya dengan Clarabelle yang cantik, karena tetap saja, Katon Bagaskara juara satu lomba mirip-miripan Claradika. Apalagi Profesor Agus Sardjono tidak akan punya peluang apapun dalam lomba-lomba seperti ini. Baik John Gunadi dan Abinyamin sudah ko'it alias isdet.

Bisa jadi kami sama-sama makan di Oskar, masih hidupkah dia. Bisa jadi di warungnya, atau pesan untuk dibawa ke Mess Pemuda, yang membuatku membayar harga piring-piring yang hilang. Setiap pesanan piringnya selalu dua, nasi dan lauknya. Bermacam ragam lauk-lauk itu, bisa mun tahu, bisa angsiu tahu, bisa fuyunghai, aku lupa ada atau tidak tahu tausi. Seperti itukah aku menyusuri jalan-jalan di UI di malam hari sebelum ada nama-nama rektor matinya, kecuali nama Yap Yun Hap yang juga sudah mati. 'Duhai, kemana perginya motor berlampu kuning aneh...

Kemana pula perginya kepul-kepul asap Djarum Super atau terkadang Starmild Menthol. Kemana perginya kaleng-kaleng bir kadang hitam kadang pilsner, yang jika sudah kosong pasti 'kusambitkan ke kepala Katon Bagaskara karena kecerdas-barusannya. Apa kabarnya pula ibu tukang nasi goreng yang kalau tidak salah, seperti art party, beranak Soleh juga. Terakhir Soleh, seperti ibunya pun, mendorong gerobak berjualan nasi goreng sepanjang Sawo Barel; yang kini, setelah anakku tinggal di bilangannya, bagai kampung mati. Kemana perginya semua itu.

Takkan 'kutanyakan lagi kemana, karena di atas Barel terkadang langit malam mendung, terkadang cerah berbulan purnama sidhi. Ketika itu bahkan Wawan masih hidup. Aku bahkan tidak mau mengingat-ingat bagaimana mekanisnya, terlebih pemicu-pemicunya. Awalnya 'kurasa berkepala kurang dari tujuh. Lama-lama jadi delapan, lantas sembilan, ketika sampai jebot aku merasa gila. Album Gemini ini bisa jadi diputar dengan sebuah mini compo, sudah pasti tidak 'kupedulikan. Hanya 'kuingat bau mulut yang tak sedap, yang kabarnya pernah terkapar di got. 

Tidak ada kemarahan, apatah lagi kebencian. Semua hanya tersisa cinta, seperti senar bass dibeset jari. Jika 'kutulis cahaya bintang di sini tanpa keterangan apapun lainnya, akankah aku masih ingat setelah sekian lama mengenai apa ini. 'Kurasa aku tak tega pada diriku sendiri, begitu 'kukatakan pada Joni de Halma. Bagaimana pula aku bisa marah pada Jenny Jamal. Masih hidupkah ia, atau sudahkah ia berseru Santiago! Mustahil aku marah pada waria yang telah rela meminjamkan kasurnya yang rapi dan bersih untuk tidur ketika pagi menjelang sampai jauh siang.

Dengan apa dulu 'kurekam Adhyanti menimpa kaset kosong tempatku merekam waltz bayang-bayang yang belum lagi ketemu sampai kini. Bahkan seingatku di dalamnya ada natal putih duetku dengan Jesse. 'Kudengar-dengarkan di kamar kedua sebelah kiri, 'Doel Salam yang membayarnya. Aku pun ingat Richard Clayderman Lady Di pernah mengalun berkelentingan di situ. Bisa juga konser tunggal di balkon depan kamar Merel. Standar saja: hanya untukmu 'ku jatuh cinta. Tak pernah 'kusangka ini entri mengenai kesakitan nan tak pernah benar-benar pergi.

Jalan Denpasar Raya Nomor Dua Satu Kuningan Jakarta 

Saturday, January 28, 2023

Bila Rasa Ayam Bakarku Ini Rasakan Kau


Itulah perasaanku ketika itu, yang lebih baik 'kulupakan saja. Cukup bila 'kutuliskan di sini Paul Culkin untuk melampiaskan kekesalan kepada Krutjiel. Mungkin kalau punk memang harus begitu 'kali ya. Kalau aku 'kan punk muslim [halah!] Lebih baik 'kuluapkan kecenderungan artistikku pada Baby Spice, menari berputar-putar seperti tango namun dalam irama cha cha ini. Bisa juga 'kubiarkan secercah senyum yang cerahnya seperti mentari pagi, meski siang mendung berangin begini. Jengkel! Berlari-lari mengejar kereta api sungguh adegan tipikal holiwud.
Bukan kebetulan pula jika pagi berhujan dan aku sangat mencintaimu bergema dalam relung sanubari, seperti halnya berbagai-bagai melodi, bahkan bunyi-bunyian entah-entah. Aku belum pernah tidak bergidik ngeri membayangkannya, namun apatah dayaku. Orang tak bernama tak dikenal dari Venesia begitu saja berhembalang menyelonong sampai 'kulamatkan. Bukan pula baru sekali ini Cantik menolak naik taksi online, malah menembus hujan yang tidak bisa dikatakan rintik-rintik ini. Entah berapa banyak anak perempuan yang tampangnya bikin sendiri dicemooh.

Aku kembali lagi menghadapi HP-11Cb setelah klesetan gegoleran. Dua bahasa daerah 'kugunakan sekaligus, sedang istriku tidak menguasai satu pun bahasa daerah. Begitu saja aku menyeberangi Mersey di pagi berhujan ini, sedang Gerry 'kubuat lamat-lamat begitu. Pagi ini hujan mengguyur dengan sendirinya, entah mana yang efek suara, hujan atau Gerry. Jika kau sok-sokan merasa tidak memahami perasaanmu sendiri, itu sebenarnya usaha sia-sia untuk menyangkal sesuatu yang sesungguhnya membuatmu malu. Beta berjaket bersarung begini menghangatkan diri.

Apa yang terasa seperti spiritual itu, yang dinamakan entah jiwa, sukma, sanubari, atau apapun itu, sesungguhnya tiada lain serangkaian reaksi kimia antara entah molekul atau senyawa dalam tubuh. Sungguh menggoda, seperti secercah atau sesungging senyum, apatah lagi ditambah sekerling, sekedip, sekernyit puncak hidung. Maka terbanglah aku dari Rusia membawa cintaku entah ke mana. Tentu saja tidak ke Amsterdam atau kota-kota lain di Belanda, atau sekujur Eropa, atau ke belahan manapun dunia. Cintaku ada di tepi Cikumpa sini, di pagi dingin sepi ini. 

Tidak di sini atau di manapun 'kumainkan permainan yang dimainkan para pecinta, sedang kaki telanjangku 'kualasi keset agar tidak langsung menyentuh lantai dingin. Aku heran mengapa belum pernah 'ku bercakap-cakap dengan Ubertino agak lama begitu, membicarakan dunia dan hidup di dunia. Bisa jadi ia menganggapku tak setanding dengannya, sedang aku merasa gengsi untuk minta belajar kepadanya. Lagipula ia telungkup mengimpit lantai di hadapannya yang menonjol sedikit, sedang aku berguling-guling berbaring-baring di kasur mahal termurah yang terbeli.

Lebih tepatnya lagi, aku menungging seperti ayam bakar, tanpa tahu malu mempertontonkan brutu, bahkan mencolok-colok lubangnya dengan jari sendiri. Di titik ini, dapat 'kupahami mengapa Donny mengusir gadis cilik itu. Gadis, meskipun cilik, mengandung anasir-anasir yang bisa membuat lelaki dewasa berselera. Begitulah memang kodrat dunia, seperti tragedi buah apel. Merahnya sangat menggairahkan, meski terkadang hijaunya lugu mempesonakan. Bahkan Johnny yang penyuka sesama jenis saja turut mengusir gadis cilik. Jangan-jangan ia berselera jua pada gadis cilik.

Aku akan baik-baik saja tanpamu, tanpa kalian semua. Sungguh aku hafal sekali permainan ini. Memang sudah lama sekali tidak 'kumainkan, namun tak pernah 'kusangkakan kini 'ku terpaksa memainkannya lagi. Keriangan melodi dan irama ini biasanya selalu membungahkan suasana hatiku. Namun pagi ini aku sedang sangat ingin memaki anjing-anjing betina yang beranak anjing-anjing betina, apalagi cuma satu. Langsung terbayang olehku yang moncongnya menjebik menjijikkan, diberi bergincu pula. Maka segera beranjak ke pelabuhan diriku, mencoba melupakannya.

Tuesday, January 24, 2023

Ini Bukan Cerita Tentang Callie dan Jake, Cole


Tadi padahal ketika bermotor aku terpikir suatu judul yang heroik, yang tentu saja sekarang 'kulupa. Sekarang bahkan aku langsung mengitiki tanpa menyiapkan pemegang-tempat seperti biasa 'kulakukan sudah entah mungkin setengah tahun lebih ini, atau lebih dari itu. Akhirnya aku terpaksa merelakan entri ini berjudul biasa-biasa saja; sangat tidak imajinatif. Hanya saja gambaran di bawah ini, jika tidak karena antena analog di sudut kanan bawah, tentu sudah menjadi gambaran yang biasa-biasa saja; sangat tidak imajinatif. Uah, mengapa 'kuusir gadis kecil ini.
Ini cerita mengenaimu sendiri, setelah kau menasihatiku: "Merasa baik-baik saja sudah cukup baik". Tentu saja, karena setelahnya kau melempar kedua belah lenganmu ke udara ketika peluru-peluru senapan serbu dan senapan mesin menerjang punggungmu. Kau bertambah gemuk ketika menjadi bombardir/navigator di VA-196, dan di situ pun kau mati lagi di-napalm; seperti Karen E. Walden. Kalimat-kalimat majemuk ini, yang tidak setara dan belingsatan ini, menandakan otak yang begitu juga tingkah-polahnya. Lebih tolol mana: Balki membantu di Gedung Putih. 

Memain-mainkan dood yang sulit embosyurnya, aku jadi terpikir, akankah saksofon atau klarinet lebih sulit lagi darinya. Bilah plastik dood memang terasa kaku dan tidak alami. Mungkin bilah bambu lebih mudah dikendalikan, atau itu persangkaanku saja. Lebih baik 'kukomentari serbat sereh ini, meski meditasi membawa syaraf-syarafku rileks mengendur. Mungkin aku kembali saja ke 25 D8. Meski seringnya agak berdebu namun itulah aku. Serba seadanya, serba lapang, agar dapat berpikir tenang. Kepala dan dadaku ini gelegaknya laut selatan. Aku tidak bisa apa.

Sumpal-kupingku seperti yang biasa 'kupakai dari sekitar sepuluhan tahun lalu. Harganya pun masih sama, lima puluh ribuan. Ia biasa menyumpal kupingku sepanjang jalan dari Qoryatussalam sampai Radio Dalam dan balik lagi. Aku sampai lupa bagaimana dulu. Mungkin kurang-lebih seperti sekarang juga. Berangkat pagi pulang malam. Aku masih ingat betapa sesampai dalem Yado seperti masuk angin berat, nggempeleng. Pulangnya dalam keadaan kemasukan pula, mampir di bubur ayam Cirebon pertigaan Ramanda. Uah, mengitiki begini, tak seperti kaji-ulang, memang nyaman.

Perpaduan antara nasi Padang dan gorengan oncom dua, tahu satu, bakwan satu memang tepat mengena. Nasi Padang tentu saja masih sisa banyak. Bahkan telur dan tahu yang menjadi lauknya saja belum disentuh. Baru sambal balado merah dan remah-remah bumbu rempah ayam goreng dan banjir-banjir kuah saja sudah nonjok. Oncom goreng diperas dengan tangan saja sudah mengalir minyak goreng. Ini oncom goreng atau kaos kaki basah. Uah, seandainya bunyi-bunyian nyaman ini dan selebihnya yang baik-baik saja ini justru digunakan mengaji-ulang, bahkan, merevisi.

Tak'da yang 'kan mengubah cintaku padamu mengantar dorongan dua alinea terakhir, seperti seorang anak baru masuk sekolah menengah pertama, baru mandi sore, menghadapi buku-buku pelajarannya. Apakah sebelumnya makan dulu, bisa jadi semur lapis atau lodeh kacang tempe lengkap dengan teri goreng telurnya, masakan ibunya yang cantik. Bapaknya yang gagah perkasa mungkin juga baru saja pulang dari dines siang, meski ada hari-hari ia pulang tengah malam demi sekadar pemasukan tambahan. Nah, memang sulit 'kan kata ini dicari padanannya.

Sangat menghargai karena sangat menyayangi, yakni, disayang-sayang, dieman-eman. Itulah maknanya. Petang sampai sebelum jam sembilan malam adalah waktunya programa dua yang sangat berharga. Seingatku, aku sudah tidak segitunya dengan filem kartun pada saat itu. Persegi satu, Valerie, meski aku tak ingat sama sekali ceritanya, dan tentu saja Pengangkut-super. Jikapun kartun maka Bintang-berani, Kucing-kucing-petir, bahkan aku tak sanggup menunggu untuk berjumpa denganmu. Tak ada apapun boleh memisahkan kita: Cinta pertama 'ku belepotan semen.

Tuesday, January 17, 2023

Orang-orang Huruf di Siang Mendung Berangin


Siang-siang begini mendung berangin di ruang bidang studi Hukum Administrasi Negara yang baru. Di hadapanku ada Hari Prasetiyo bermain gawai; sedang Pak Mono umek mencoba merapikan ruangan yang seperti Tampomas pecah, dibantu Fajar dan Pak Doddy. Orang-orang Huruf mengelus-elus pendengaranku dengan meletakkan kepalanya pada bahuku. Aku sedang tidak ingin berpikir, apa lagi mengitiki mengenai cinta, terlebih cinta dunia. Aku sedang sedih. Cinta di dunia ini tidak ada, seraya 'ku mengusir gadis-gadis kecil. Mereka 'kan 'njadi wanita dewasa.
Entri ini hampir saja berjudul nikmat tak seberapa membawa azab dan sengsara. Gara-garanya sambal. Entah sambal bakmi ji-em atau bubur ayam Madura, yang jelas salah satu atau keduanya menyiksaku siang ini. Padahal tadi pagi tidak terlalu terasa. Entah sekitar lohor ini sampai ususku yang sebelah mana, sakitnya amit-amit. Jejak-jejak cinta, apa rasanya mendengar ini ketika masih ada Delta FM 99.5. Setelah diganti jadi 100% musik enak, rasanya sakit sekali. Hampir sesakit usus kena sambal semalam. Aduhsay, sampai bulan, matahari, sungai dari mudaku.

Suasana sudah sedemikian jauh berganti. Tidak berarti ini hari atau bahkan waktu yang sama sekali baru. Bisa saja ini suatu siang hari yang gerah di tengah musim panas Belanda, bersepeda dari bilangan Uilenstede menuju Pusat Kesehatan Randwijk menyeberangi Beneluxbaan. Aku menyebut-nyebut tempat-tempat begini bukan gaya-gayaan atau memanas-manasi Togar, meski terdengarnya seperti itu. Seakan tempat-tempat itu biasa 'kukunjungi seperti menyebut Barel dan Sawo. Tidak begitu. Ini sekadar mengenai suasana hati yang selalu saja berganti-ganti.

Begitu juga teh tarik Maxx, tidak berarti itu adalah petang hari sebelum memulai hukum perdata dagang atau bahkan pagi sekali sebelum Pancasila atau kewarganegaraan. Teh tarik bisa di mana saja. Aku tentu lupa kapan kali pertama menikmatinya. Terlebih jika mendengar "Aku jatuh cinta" dalam bahasa Mandarin, di mana "di dalammu 'ku 'kan selalu berada". Itu adalah entah pisut atau renol melaju di bilangan Santa di siang hari bermendung. Jika sampai dilanjut serbat jangkrik mas, bisa saja langsung srusut meluncur ke Jalan Magelang-Jogjakarta di waktu malam.

Aku bahkan kini di Kathmandu. Dulu, sekadar mendengar suara Tante Olivia saja, berjuta angan dan khayal tentang cinta bisa menyerbu ke seantero penjuru benak bahkan sekujur badan. Sampai bergetar ke ujung-ujung rambut bahkan jari-jari kaki-kaki. Apakah kini, di usia paruh baya, aku masih berusaha memanggil-manggil kembali getar-getar itu. Aku sudah siap mencemooh diriku sendiri, ketika 'kudengar dentam-dentam bass dan hentak-hentak dram bass mengiringi genduk Tiara bernyanyi riang. Tentu, setua ini aku sudah malas bergetar, meski rasa itu masih ada.

Bagaimanakah Selasaku kini kecuali memulai strip-strip baru trio candesartan, amlodipine, dan bisoprolol, ditingkahi senandung genduk Brisia. Uah, aku langsung terhempas berhembalang kembali ke lantai biru tua Kraanspoor 25 D8 yang seperti lapangan futsal itu. Bisa jadi karena ketika itu aku sungguh kesepian; sepanjang tahun itu, 2020, dari sejak Uilenstede sampai Kraanspoor. Seperti halnya ketika terpaksa berak di Amsterdam Centraal dengan mengetukkan kartu bank; entah berapa Euro ludes gara-gara itu. Aku tak harus mati di 2006. Aku masih harus hidup.

Aku bukan lagi lelaki bodoh umur dua puluhan, meski masih bodoh juga setelah mendekati setengah abad begini. Bahkan mungkin bertambah bodoh, karena masih berasa jatuh cinta begini ketika genduk Stephanie menyenandungi. Ada waktu-waktunya memang seperti ini. Biasanya memang ketika mengetiki begini. 'Kurasa bukan berputar-balik, melainkan memang membolak-balik. Begitulah memang hati sanubari. Berdegup. Berdetak. Sistol. Diastol. Di Selasa siang berangin bermendung begini, tiada lain 'ku bersyukur padaNya demi tersadar: Aku masih hidup.

Sunday, January 15, 2023

Boutte, Boutte, Charaboutte Entah Dari Mana


Entah mengapa jika mengingat kata-kata di judul itu, aku jadi teringat Rahmat Hidayat. Sepertiku, seperti rata-rata anak SMP jaman itu (1988-1991), celana pendek kami sangat pendek dan ketat. Bahkan Hen Hen yang seperti bapak-bapak pun begitu celananya. Terlebih Agung Helianto, tak ketinggalan Gundo Widyanto. Maka sesuailah jika aku menyukai Chopin, meski dilanjut seorang wanita yang tengah jatuh cinta. Pada titik ini aku menguatkan hati untuk menulis kepada Gerben dan Laurens. Ya, sudah 'kukerjakan, senyampang malam ini makan roti keju telur ceplok.
Rindukah 'ku pada Asatron, tentu tidak. Rindukah 'ku pada Margonda sebelum beralih abad, bisa jadi. Jika mempelajari sejarah, jika abad ini kurang-lebih seperti abad-abad sebelumnya, maka abad ini jelas bukan masaku, bahkan mungkin bukan masa anakku. Mungkin memang begini saja adaku, merindukan Margonda sebelum peralihan abad. Apa benar yang 'kurindukan, suasananya, kemudaanku. Namun segala ketakutan dan kesengsaraan itu, yang 'kusebabkan sendiri, segala ketololanku. Sedihnya, akibatnya menimpa bukan diriku sendiri saja. Ya, luka itu masih basah...

Dari sini entah mengapa 'ku terlempar jauh ke depan, ke 2019 berkendara selepas maghrib dari RSPAD ke Dalem Radio Dalam, lantas ke tepi Cikumpa; yang mana Asus E203MAH-ku raib ditimpa orang. Aku yakin lelakonku bukanlah yang paling tragis, atau setidaknya, bukan satu-satunya yang tragis. Hari-hari itu, kawanku, yang 'kukira takkan pernah berakhir, tidak pernah benar-benar 'kusukai. Namun ia selalu terselip di antara kesayangan-kesayanganku. Di sini aku terlempar kembali ke motel murah di tepi rel kereta api Lamongan itu, pada suatu Ramadhan 1431 H.

Minggu malam Senin ini, aku mengitiki menghadap gudang yang sekarang tidak lagi mendapat sinar matahari pagi. Mengitiki pagi kini memang tidak menyilaukan, tetapi gelap. Melodi gembira seakan menjanjikan hari-hari penuh semangat, bahkan bergairah seakan masih remaja, atau setidaknya dewasa muda. Aku merasa tolol mengharap yang seperti itu sebenarnya. Namun sungguh itu yang 'kubutuhkan sekarang. Aku punya dugaan mengapa tak lagi 'kurasakan yang seperti itu. Namun aku mengharapkan sesuatu yang berbeda. Rasanya sama, penyebabnya beda. Itu harapanku.

Dalam keadaan seperti ini, aku jadi ingat almarhum Ari Setiawan, mungkin termasuk Bang Riauwan. Adakah benar mereka para kobra: kontol brangasan. Dalam keadaan seperti inilah seharusnya aku tidak kehilangan keyakinanku pada cinta. Hanya sekitikan saja dulu aku pernah terpikir bahwa dendam dapat menjadi sumber tenaga yang berkelanjutan. Selebihnya aku percaya cinta, yang ditebarkan ruangan sederhana berbau apak lembab; meski berlampu neon ulir kuno, diterangi lampu teplok. Itulah ketika cinta benar-benar membuncah dan cita-cita seakan nyata...

...atau semacam ruang makan kotor berdebu di mana aku menulis risalahku mengenai peran serikat buruh dan partai buruh dalam menegakkan hukum perburuhan, yang memberiku nilai A... atau bahkan ruang depannya di mana terdapat meja tulis beralas kaca. Di atasnya mesin tik portabel berwarna hijau, di hadapanku rak buku kesayangan. Kecil saja, namun semua bukunya telah 'kubaca. Asbak, rokok satu slof, waskom penuh berisi kopi hitam pahit tidak perlu ada; lengkap bersama semua ketololan yang menyertainya. Ah, Lagi! bak Asatron berbisik lamat. 

Selebihnya, kesengsaraan demi kesengsaraan, ketakutan, kemarahan, rasa tidak berdaya yang secara harafiah melungkrahkan tulang-belulang. Bisa jadi ini sudah musim semi. Dari itu semua masih diberi kesempatan berkali-kali merasakan musim semi, jelas bukan karenaku sendiri. Akankah segera 'kutemui akhir musim dingin menjelang musim semi yang riang-gembira, penuh semangat, penuh berkah keselamatan. Sampai batik-batik lengan panjang itu nyaman dipakai, sampai pada saat itulah sedikit rasa tidak nyaman akan jadi sahabat karibku. Rambate ratahayo!

Tung Keripit Ujung Titit Kejepit

Saturday, January 14, 2023

Untuk Lucia: Aku Belum Cukup Tua, Mama Leone


Ahaha, setelah sekian lama aku baru tahu ternyata aku 'kan kembali. Sungguh aku sedih tidak bisa ikut bersemangat ketika Cantik mau buat paspor. Katanya, buat saja dahulu, nanti tahu-tahu pergi ke mana entah. Aku bahkan belum bisa membayangkan Unicorn Indorent dan Grand Artos. Alvin dan Hamdi sekeluarga tidak perlu membayangkan. Mereka sudah mengalami dengan sendirinya. Kasihan Istriku. Sekadar Unicorn Indorent dan Grand Artos saja aku tak mampu, apalagi paspor. Itu takkan terjadi lagi! Bukan paspornya. Melainkan ketidakmampuanku. Semoga...
Daripada mengecer satu-satu Anthony Ventura: Aku cinta padamu dari 1983, akhirnya 'kuputuskan untuk memberi kesempatan kepada suara-suara surgawi dari santapan pembaca. Rasanya lucu sekali seperti belum diberi spiritus. Namun belakangan spiritus banyak berair begitu, membuat becek. Mendekati tengah malam begini, suara-suara surgawi ini malah terdengar seperti pembangkit suasana dalam film-film horor. Kini aku malah terlempar ke depan Asrama UI Depok awal 1997 sekitar setelah maghrib. Berjalan sendirian 'nuju Halte UI di hari-hari anggur dan mawar.

Bisa jadi sesampainya di rumah 'kuhempaskan kesendirianku pada tuts-tuts Otto Bach, dan seluruh dunia terdiam terpaku seakan mereka memahami apa yang 'kurasakan. Perasaan seorang lelaki muda hampir dua puluh satu tahun. Hancur hatinya karena omongan asal-asalannya dari sekitar lima tahun sebelumnya menjadi kenyataan. Kau telah menghancurkan hatimu berkali-kali sebelumnya, Bodoh. Dengan tanganmu sendiri kauremas-lumat hatimu. Jadi jangan kautimpakan kesalahan pada ketika itu. Salahkan buku-saku, khayalan tak berdaya itu.

Mau bertambah tua bagaimanapun, dunia akan selalu begitu: muda, merekah, bermekaran. Melihat Bang Sambo di kursi pesakitan apa tidak sakit hatimu. Mendengar pidato Bu Mega apa tidak tersayat nuranimu. Namun dunia seakan tidak peduli. Terus saja muda, merekah, bermekaran. Bahkan yang kini muda, merekah, bermekaran pun 'kan segera menua, layu, dan kisut. Bagaimana yang tidak pernah benar-benar merasakan kemudaannya. Yang jangankan mekar, merekah saja tidak pernah. Dunia, betapa ngeri kekejamanmu. Betapa kejam kengerianmu...

Kini bahkan Doktor Zhivago mencemoohku yang memang patut dicaci-maki. Asam lambung selalu siap melompat keluar dari kerongkongan kembali ke rongga mulut. Betapa tidak, sarapan Indomie goreng jumbo biru diberi berkuah, dilanjut lemper, risoles, dan sus sambil menguji. Makan siang nasi jeruk lauk dendeng gepuk, telur pindang, oseng cakalang, sayur bunga pepaya, masih dengan kerupuk putihnya sekali. Makan malam mie lebar ayam pangsit, masih dengan beberapa keping snek krekers rasa ayam dan biskuit selai stroberi. Ya, aku mengaku salah.

Kalau masalah ngemil, kemarin aku keterlaluan. Ngemil sampai tiga kali seperti masih muda saja. Macan kumbang kurus warna merah-jambu ini mengapa tidak berhenti mengendap-endap. Maka aku tidak mau ngemil lagi. Setidaknya hari ini. Aku harus mengendalikan kecanduanku pada rasa nyaman. Jika saja aku seorang Yahudi dan dibawa ke kem kerja paksa, tidak pakai lama aku pasti mati. Namun karena aku bukan Yahudi, tentu sebelum mati aku akan berdoa kepada Allah memohon akhir yang baik, dimudahkan sekaratku sebelum mati. Aku memang orangnya begitu. 

Aku mencemooh Awful yang ingin pulang ke tanah. 'Kukatakan padanya, belum rengking satu saja sudah mau jadi tanah. Tepatnya, memang sudah sedikit sekali yang 'kupercaya, kalau sampai yakin bahwa satu-satunya jalan adalah menjadi diktator. Itu 'kan sama bodohnya dengan pikiran Kusmasai. Nyatanya, aku hanya mengerjakan apa yang harus 'kukerjakan. Selebihnya, aku menikmati rasa nyaman. Berlebihan atau tidak, tak hendak pula 'kupikirkan. Merasa nyaman sudah cukup nyaman untukku, entah lebih baik dari hutan belantara antara Vietnam-Kamboja atau tidak.

Jangan datang atau titip salam. Pergi saja sana

Tuesday, January 10, 2023

Soekardono Aku 'kan Kembali. Walaupun Apa...


Yang 'kan terjadi. Begitu saja ada di kepala tanpa berusaha mengingat-ingat, perut pun menggelembung menjijikkan. Sungguh mengherankan tidak merekahkan belahan kemeja, meski di dalamnya ada kaus singlet hitam tak berlengan. Malam ini takkan ingat jika tidak ditulis dalam bahasa Perancis, seperti entri-entri dari sekitar empat tahun lalu. Bagus 'lah lupa karena pasti mengenai sesuatu yang menjijikkan, seperti menggelembungnya perut seakan hendak meletus. Biar 'kuakui di sini: belum pernah sekalipun dalam hidupku aku sholat istikhoroh, Si Bodoh...
Aduhsay, aku memikirkanmu dalam bahasa Perancis, betapa indahnya. Ini sudah lewat lebih dari 24 jam, dan sekarang kembali ke malam ini. Tadi malah lebih ekstrim karena terpikir untuk melenyapkan segalanya, mengembalikan semua ke "asdf". Namun, seperti terlihat, tidak jadi. Sekadar diteruskan saja, karena sebentar lagi toh aku memikirkanmu. Madu TJ masuk angin bahkan lebih lebay mentolnya daripada jahe merah mint. Dengan rasa badan begini, sungguh tak sanggup 'ku bahkan sekadar membayangkan menyusuri Brusselsestraat, sedang aku memikirkanmu...

Ternyata memang hanya satu klik lebih sedikit. Pantas aku sanggup-sanggup saja sekitar lima belas tahunan lalu. Terlebih jika sambil memikirkanmu, ensembel biolamu. Entah mengapa jika teringat betapa 'ku memikirkanmu, sepanjang Brusselsestraat, potong kompas di Vrijthof, bablas Kapoenstraat yang hadir dalam kenangan. Terutama awal-awalnya, turun di halte Koningin Emmaplein itu, bertemu bapak-bapak yang bisa berbahasa Indonesia, yang mengajariku berjalan cepat. Tidak ada yang menyenangkan. Yang menyenangkan di tepi Cikumpa sini bersama Cantik.

Setelah menelusuri satu cinderamata lantas cinderamata lainnya dari musim panas di India, seperti biasa, Michele melendotkan badannya pada bahuku. Michele, seperti biasa, tak berupa tak berwajah, bahkan tak berbau. Jika pun berbau, mungkin bau loteng Kapoenstraat 2 itu yang 'kucium, atau bahkan rubanahnya sekali; buku-buku bekas seharga rata-rata satu Euro itu. Bisa jadi, Michele justru berbau seperti lekkerbek broodje dari De Dolfijn di Markt sana; karena smeerkaas-nya Jumbo atau Albert Heijn cenderung kurang tajam baunya. Aneh memang Michele ini.

"Lha ini baru enak!" seru Muchsin sambil membuka tutup matanya, dari masa awal remajaku. Ini yang jelas lebih enak daripada seharian berkurung di Soekardono, meski arem-arem, bolu kukus, dan pastelnya sekali. Entah mengapa pula aku memesan nasi fuyunghai dari dua kali lirikan memandang ke arahku. Opa Billy mendehamkan saksofonnya melantunkan irama-irama latin seperti dari masa muda bahkan kecilku. Tidak perlu pula 'kuakui di sini kegagalanku sejauh ini. Nanti saja kalau sudah berhasil juga tak perlu diceritakan. Sungguh menjengkelkan, Ummi.

Untunglah burung layang-layang melintas dalam khayalku. Aku tersenyum padanya, sedang ia hanya terus terbang mungkin tidak mempedulikanku sekali. Pinggul-pinggul memang selalu bergoyang di Brazil sini jika burung layang-layang sudah melintas, maka 'kuabaikan saja. Aku masih tersenyum pada burung layang-layang yang terus terbang menjauh entah ke mana, sedang aku mengelus-elus perut buncitku. 'Kugebrak-gebrak gendang senar ini bukan karena marah, bukan pula karena gembira; melainkan karena bintang kecil telah terbit di ufuk timur.

Menyelompret sedang diredam begini memang mengimbau suasana hati yang suam-suam kuku, terlebih di senja hari ketika malam masih berselendang sutera lembayung pada bahu telanjangnya. Lha, ulang tahun kecil masa begini bunyinya. Sedih sekali atau lucu sekali. Maka kembali 'lah aku menghadiri ulang tahun entah siapa di Kompleks Angkasa Pura Kemayoran Gempol sana. Ya, yang di apron timur itu. Sekejap saja, karena sekedip kemudian aku sudah kembali dalam wadag gendutku meratapi pengkhianatan dan kepalsuan dalam bahasa Spanyol, kekasihku dari dulu.

Cintai Aku Banyak-banyak

Saturday, January 07, 2023

Kesetiaan Seekor Anjing 'Ku. Yang Serigala Begitu


Halah, tidak perlu repot dulu mengenai judul, yang penting segala kerepotan tadi ternyata memang membuahkan hasil. Apakah ke depannya ini akan menjadi prosedur operasional standar [halah lagi]. Doktor Yu Un begitu saja ingin menyelundupkan ide legitimasi ganda, populis dan politik. Bahkan pembatasan masa jabatan saja terasa kekanak-kanakan. Penjelasan praktisnya memang seperti yang pernah disampaikan Pak Try: jika memang jempolan dan masih sanggup, mengapa harus diganti. Penjelasanku: itu berada dalam ranah moral. Tak'da guna diatur tertulis.
Dari mana 'ku harus memulai bahkan sebelum lahirku. Beberapa puluh tahun lalu, 20 sampai 25 tahun lalu, paradoks seperti ini bisa jadi sangat menariknya. Saat ini, aku merindukan remang dinginnya ruang bawah ruko gang pepaya; terlebih dengan perasaan-perasaan ini. Bisa jadi aku juga merindukan nasi goreng dengan sambalnya sekali yang cenderung asam manis itu. Uah, masa muda. Apakah ketika itu aku menginginkan teh dalam pet plastik yang dingin segar, atau malah sekadar berjalan di sepanjang peron stasiun, terutama melihat-lihat buku baru dan bekas.

Bisa juga aku merindukan bau Buku Kafe, yang makanannya satu pun tidak bisa 'kuingat; atau bahkan Burger and King, roti lapisnya yang menang tebal doang atau bahkan spaghetti bakar. Kemudaan, ringannya badan, tidak bergantung pada obat. Jika pun obat minyak angin aroma jeruk di atas dipan Yangyut Uti, lalu Akung, lalu Bapak. Di sampingnya meja tivi Blaupunkt mungkin dari jaman Kemayoran. Di atasnya ada buku-buku, ada tasbih yang Insya Allah hari ini masih ada. Babak-babak kehidupan, seperti warteg apa itu di Kukusan Teknik waktu masih muda.

Mengapa tidak dibuat cerita yang runtut begitu, yang logis. Itulah membelenggu. Makna, seperti halnya kenangan, terserak begitu saja seperti dedaunan kering di pekarangan. Disapu, bisa dengan atau tanpa bantuan pengki, dimasukkan ke dalam lubang, dibakar. Aromanya sungguh khas, sampah dedaunan yang dibakar di dalam lubang tanah. Memberi kehangatan di persekitaran, mungkin mengusir nyamuk sekali; seperti kenangan Nex Carlos mengenai Ambawang yang masih berhutan di awal 2000-an. Bahkan kenangan tentang teh tarik kurang manis di Vokasi.

Sungguh aku lupa adakah simfoni cinta di SMA. Mengapa kenanganku mengenainya selalu dalam temaram lampu bohlam atau bahkan sentir sekali, mengepul-ngepul uap kopi hitam panas dan asap rokok tidak mungkin di SMA. Seberapa banyak makanku ketika ini sungguh aku tak ingat, namun menyusuri Jakarta Utara sampai ke Jakarta Selatan berjalan kaki bahkan berlari tak masalah, di tengah malam. Kebahagiaanku adalah ruang tamu Pak Moussa el-Khadoum kembali ke front. Ah, lagi. Lagi-lagi mengharu-biru hidupku berpuluh-puluh tahun. Tanpa kata, hanya nada.

Simfoni cinta memang tidak pernah 'kurasakan di alam nyata. Hanya Natalie yang mengaku Mona Lisa, sedang diperankan oleh Ali yang sudah berusia 41 tahun saat itu. Nyatanya aku lebih siap untuk jatuh cinta lagi, namun tidak kepada Natalie atau Mona Lisa sekali. Kecantikannya memang selalu membelai jiwa, sedang badanku ini selalu haus belaian. Hidup kemudian mustahil tidak ada, meski kau boleh mengolok-olokku sebagai pecundang. Hari esok yakin ada, terserah apa katamu. Uah, bulan biru sudah 'kudapatkan dan banyak lagi lainnya. Mau minta apa lagi aku.

Ya, semua ini memang salahku sendiri. Rasa bersalah yang terus menghantui tak mau pergi, karena bahkan 'kuabadikan setiap hari. Memang keketusan bahkan kekurangajaran bisa jadi penyelamatku, ketika merunduk saja 'kukejar-kejar siapa tahu sekilas-lintas. Sehabis subuh berjingkat-jingkat ke dalam bayangan sekadar untuk membelaikan pandangan pada merekahnya musim semi, inilah ganjaran yang pantas bagiku. Jika kau membaca ini, inilah kengerian hidup di dunia yang selalu lebih disukai daripada hari esok. Kentut saja bisa sebusuk itu, apatah aku.

Bisa jadi sudah musim semi

Sunday, January 01, 2023

Selamat Tahun Baru 2023. Belum Terpelajar


Bagi entri perdana dari suatu tahun, penggambaran visual di bawah ini memang kurang endol surendol takendol-endol; demikian pula audionya. Padahal dewasa ini begitu banyak penggambaran audio bertebaran di Yutub. Aku jadi sedih mengingat koleksi musikku yang sebagian besar 'kuwarisi dari Ibuku. Akan tetapi, musik-musik itu tidak akan pernah hilang dariku, karena mereka sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari jiwaku yang selalu bersenandung bernyanyi ini; meski tak seorang pun 'kan peduli. Kita datang ke dunia ini sendiri, pergi pun kelak sendiri; jadi kalau menjalaninya sendiri pun tidak perlu heran. Begitulah kodrat dunia.
Akankah 'kutulis mengenainya di sini, tentu tidak. Cukuplah bila 'kutulis bahwa selama ini Starco telah menipuku, dan kegawatan ini baru 'kusadari sekarang. Apakah sadar namanya jika makan malam masih mie kuah ayam baso telor, sarapan masih capcay tahu bulet meski nasi setengah. Ternyata penyakit aliran-balik dari lambung ke kerongkongan memang dapat menyebabkan batuk kering yang menyakitkan, sampai membuat terbangun di malam hari. Apakah susu serbat jahe setelah teh melati setengah liter dikepret gula sedikit memperparahnya. Entah 'ku tak tahu.

Salah satu tanda iman adalah kemampuan untuk kembali ke jalan yang benar ketika tersesat, meski kemampuan itu--dan apapun kemampuan yang lain--masih harus dimohonkan. Sudah cuma ini saja kalimat agak berguna yang 'kutuliskan di sini. Ini adalah goblog, karena awalnya saja untuk menggapai masa lalu yang telah hilang, bahkan usaha sia-sia untuk mengadakannya kembali di masa depan. Jadi, di sini adalah tempat goblog-goblogan, yang bahkan tidak membuat sadar-sadar juga sebanyak apapun menggoblog di sini. Entah jadi apa gunanya terus-menerus goblog.

Sekarang aku tahu boleh memulai kalimat dengan "yang", namun aku jadi lupa mengenai apa kalimat yang akan 'kumulai dengan "yang" tadi. Aku justru teringat memilin-milin tahi upil yang memang selalu memberiku ketenangan batin; mungkin seperti Aryo dan Sodjo menghisap ibu jari mereka. Selain itu, aku juga ingat betapa goblog ini adalah satu-satunya kedirianku yang tersisa setelah aku tidak lagi menghancurkan peradaban-peradaban. Sampai titik ini, aku tidak bisa membayangkan diriku berurusan dengan peralatan audio-visual; masih bersikeras aku penulis.

Ah, kini 'ku ingat, yang luput dari menamatkan TBBT selama di Uilenstede adalah kenyataan bahwa setidaknya Leonard dan Sheldon selalu menulis dan menerbitkan tulisannya, tentu dalam terbitan ilmiah. Itulah karir akademik. Tidak ada pilihan lain. Lain cerita jika Mbak Puas sampai menjadi persiden mungkin aku bisa jadi Kepala BPIP. Hahaha jelas omongan asal bunyi. Hambatan wicara pada Barry Kripke, yang tidak bisa dikendalikannya, mungkin mirip dengan kembali ke UUD 1945 yang juga tidak bisa 'kukendalikan [beda!]. Kembali sehat tentu bisa 'kukendalikan.

Tekanan untuk menjadi terpelajar ini bukan main-main. Tekanan sebesar bermilyar-milyar Rupiah ini. Hanya kepadaNya aku dapat memohon kekuatan untuk menahankannya. Daripada membandingkan dengan yang lain, lebih baik 'kubersihkan wajahku dari rambut-rambut karena aku merasa ingin begitu. Perut yang menggelembung lagi mengganjal ini tidak akan berubah dalam waktu dekat, bahkan tidak Jumat ini Insya Allah ketika aku bertemu dengan Ibu Anies Mayangsari dari Pusat Perancangan dan Kajian Kebijakan Hukum (Pusperjakum) milik DPD-RI.

Bisa jadi pula aku mengurungkannya; 'kan 'kubiarkan rambut-rambut wajahku, kumit tipitku, jenggot berubanku, sekadar agar tidak kalah gertak. Jalan terus, selangkah demi selangkah. Lanjutkan apa yang telah dimulai minggu lalu, meski keringat tak kunjung kering kala itu. Bagaimana dengan urusan tekotok. Astaga yang seperti ini masih pula ditanyakan. Tidak ada pembenaran apapun baginya. Jika masih juga terjadi maka merasa bersalah 'lah. Hanya itu yang dapat dilakukan. Semoga suatu hari nanti ada solusi terhadapnya... sebelum ajal menjelang.

Aamiin yaa Robbal'aalamiin 

Saturday, December 31, 2022

Batas Lingkarannya Selalu Bisa Membawa Suka


Seperti sudah menjadi kebiasaan [halah!], beberapa tahun gregorian dalam goblog ini ada entri pada hari terakhirnya. Tidak selalu memang, namun bolehlah dikata sebagian besar. Terlebih jika menyanding semug 300 ml susu serbat jahe, sedang telinga disumpal bunyi-bunyian yang entah mengapa setelah sepuluh tahun menjadi menjengkelkan. Padahal sepuluh tahun lalu mendengar ini bisa membawa angan-angan cinta. Semenjak 2020-an pula semakin intens aku menggunakan alunan nada-nada tak berbait tak berulang untuk penggambaranku. Entah mengapa...
Lebih mengerikan lagi, jika angan-angan cinta t'lah tak mau kembali, masa yang tersisa tinggal babaduk. Kebutuhanku akan cinta memang sudah lengkap terpenuhi, dan aku menolak percaya jika setua ini masih butuh plerktekuk. Ini adalah waktu bagi kambing-kambing muda untuk kebingungan mengapa pikiran mereka tidak pernah bisa menyimpang dari kekentuan. Itu pula sebabnya kambing-kambing muda ini harus segera diaqiqah biar tidak keburu kawak dan tidak enak dimakan. Aku yang tinggal menunggu waktu ini atau harus 'ku menyongsongnya. 'Ku tak tahu.

Nyaman, hangat, dan sensual. Ah, masih ingat aku rasa-rasa itu dari usia duapuluhan, yang bahkan sudah ditinggalkan bangsanya Togar dan Hari. Efraim mungkin masih punya beberapa tahun untuk menikmatinya. Adit 'Cah Gemolong masih baru saja memulainya, meski tak dapat 'kubayangkan apa yang menurut mereka sensual. Nyaman adalah udara sejuk ber-AC. Hangat adalah selimut tebal namun halus lembut ketika sejuk sudah berubah dingin. Namun, sensual? Bahkan Savit sekalipun punya ide tentang bagaimana membuat dirinya terasa dan terlihat sensual.

Ah, di sini ini tepatnya orang mulai terpikir mengenai selimut hidup, artinya, didekap oleh seorang perempuan yang bukan ibumu. Untuk itu, seperti halnya ibumu, harus ada cinta. Maka ide tentang pengalaman pacar sungguh jahat dan bodohnya. Ide ini sama jahat dan bodohnya dengan persangkaan bahwa hidup hanya di dunia ini saja, bahwa tidak ada hidup sesudahnya di mana kita akan dimintai pertanggungjawaban atas hidup yang ini. Selimut bisa hidup, karena itu, karena cinta. Tanpa cinta, ia sekadar selimut, meski terbuat dari daging dan lemak berbalut kulit. 

Ternyata masih sisa tiga, sedang secangkir plastik wedang serbat uwuh menemani. Aku justru terlempar kembali ke Kraanspoor 25 D8 sekitar setelah pulang dari Molenwijk. Apakah itu membeli stang untuk douchegordijntje, atau bahkan majalah NatGeo mengenai perubahan iklim, sangat bisa jadi. Bahkan bisa jadi kedinginan di Pontsteiger gara-gara ketinggalan feri, sampai harus menunggu setengah jam lagi. Gara-garanya, setelah dari Jumbo bersepeda agak jauh sekadar mencari kibbeling. Alhamdulillah, aku diselamatkanNya dari itu semua lahir batin.

Maka mengapa tidak segera diselesaikan. Insya Allah akan segera diselesaikan. Memang tidak pernah ada rencana yang berjalan mulus, seperti udara malam Magelang entah itu setelah menonton Under Siege atau Navy Seals. Apa benar aku membayangkan diriku seperti itu ketika pura-pura main kelahi-kelahian dalam kolam renang bersama Andri Supratman. Hahaha memang suatu ketololan yang paripurna. Jika saja semua keseriusan disimpan untuk yang sebenarnya, tiada sedikit pun keberatan padaku; karena memang itulah doa Bapakku untukku seorang.

Untuk sementara ini, aku lelaki paruh baya berbobot seratus tujuh kilogram. Terlalu muda untuk tidak segera serius mengumpulkan bekal, terlalu tua untuk berbuat ketololan apapun. Bagaimanapun, aku mencintaimu; meski mungkin mukamu mirip bapakmu, membuatku ngilu. Mukamu jika berkilat-kilat berminyak begitu, seperti ketika berfoto bersama Wisnu Kamulyan. Tidak mengapa. Aku tetap mencintaimu. Seandainya saja cinta sesederhana itu; sesederhana rasa nyaman secuil, sesepele apapun. Itulah cinta bagiku: rasa nyaman. Rasa baik-baik saja.

Friday, December 30, 2022

Dari Hari ke Hari Setanggi Kasturi Membaui


Aku bisa saja menari sepanjang malam, tapi aku mencintai Istriku. Ya, yang cuma satu itu. Apa mungkin memaklumi kelakuan Rodha yang seperti itu, ketika kelakuan Pamela pun 'kumaklumi. Rodha, Pamela, Janice, Natalie, Madeleine adalah nama-nama di seputar yang direndam dalam air asin, ya, air laut begitu. Seperti inikah gambaran mencintai istri yang hanya satu, boleh juga. Sedang aku menatap lurus ke ujung jalan Blok M, kentang-kenting Danau Como menemani Ibuku muda menjemur baju di pavilyun dari 30 tahun lalu. Sudah tentu Ibu menyayangi adikku perempuan yang terkecil seperti Istriku menyayangi kedua-dua anaknya.
Jika kau minta dicintai, menyuruh secara otoritatif begitu untuk melakukannya, memang sebaiknya dilakukan dengan riang. Jika perlu dengan pukulan rampak pada simbal lengkap dengan perkusi sekali. Kepada siapa akan 'kusuruh begitu. Jangankan mencintai, aku bahkan tidak mau menyuruh orang mendengarkanku atau melakukan apapun untukku. Jika pilihannya hanya memberi atau menerima, maka sudah barang tentu aku memilih memberi. Riangnya perintah mencintaiku memang tidak ayal membuat hatiku turut riang. Entah apa kelanjutannya. 

Aku ingin melakukannya denganmu, maksudku, jika aku harus mencinta. Ini adalah ruang bersama Asrama UI Depok medio 1990-an, mungkin sekitar jam tujuh petang begitu. Apakah ketika itu aku masih bisa tidur nyenyak di malam hari, senyenyak tidurku di Magelang. Meskipun tidak, perasaan badan segar sesudah mandi, mungkin dengan rokok sebungkus di saku, korek api entah geretan entah mancisnya sekali, sungguh manis terasa. Badan muda, pikiran muda yang bodohnya minta ampun. Penyesalan nan tentu saja datang kemudian demi tersia-siakannya waktu. 

Ah, tepat di sini waktuku di Manhattan berakhir, karena bagiku kau lebih dari sekadar perempuan. Kau Istriku satu-satunya sampai Insya Allah 'ku mati. Sebagaimana dunia hanya satu, aku pun hanya sanggup mencintai satu perempuan. Bukan mencintai dalam arti berhubungan seksual, melainkan mencintai segenap jiwa raga seperti Leonidas pada Gorgo. Terlebih ketika sekarang 'kubersatu kembali bersama dengan belahan jiwaku yang lucu bau dahinya tepat pada anak-anak rambutnya. Sebagaimana Papa dan Mama semasa hidup menyayanginya, begitu aku.

Uah, Laguna Mengantuk dari masa mudaku sekali. Aku memang selalu suka di sini, dengan dedaunan layu berguguran melayang-layang di udara sebelum mengapung berayun-ayun di permukaan air yang tenang, setenang hatiku. Betapa tiada yang 'kukhawatirkan jika sedang menghabiskan waktu di tepi-tepiannya, entah dengan bermalas-malasan atau berjalan-jalan sekadarnya. Badan yang ringan meski aku tidak pernah dikatai kurus seumur hidupku, yang jelas bukan satu kuintal lima kilo lebih. Seperti telur yang seringnya setengah kilo, minyak tanah lima liter.

Maka ketika begitu saja 'kutarikan waltz terakhir bersamamu, aku jatuh cinta padamu. Ada hal-hal sedemikian yang menyebabkannya, seperti pantai mengantuk dan bayi kecil yang cantik. Percuma disebutkan satu per satu jika intinya adalah kau belahan jiwaku. Keindahan inilah yang akan 'kukenang selamanya, Insya Allah akan 'kuhadapkan pula, 'kupersembahkan kepada Tuhanku. Aku tidak punya apa-apa, Tuhan, kecuali ini: cintaku pada ciptaanMu ini, anak perempuan Papa Mama yang terkecil. Kasihanilah kami seperti Papa Mama mengasihinya sedari kecil.

Mendekati senjakala begini suasana hati sudah berlainan sekali, sampai terpikir progresi atau retroaksi. Hatiku semendung senja yang manis ini, yang mungkin seharusnya 'kumanfaatkan untuk berjalan-jalan agak setengah jam,  melangkahkan kaki-kaki. Mungkin akan 'kulakukan setelah ini, secara cuaca sungguh mirip Uilenstede di musim semi, padahal ini tepian Cikumpa. Ciliwung pagi ini airnya deras sekali, mungkin hujan deras di hulunya sana. Begitulah hidup di tepian Cikumpa ini. Ya, membulatkan tekad memang bukan keahlianku. Entah apa keahlianku ini.

Sunday, December 25, 2022

Jedug Jeder Jemblem Padahal Ada 'Ku Sendiri


Tak pernah 'kusangka 'kan begini jadinya setelah setua ini. Ini tak ubahnya menungging di lantai kamar mandi sambil mencolok lubang pantat sendiri. Entah sakit apa aku ini, yang jelas ia mengacaukan jam biologisku. Ini seperti yang diderita Cantik awal-awal sakitnya, dan kini sudah sebulan sejak terkena. Meski sejuknya udara malam menyelimuti, kantuk tak kunjung tiba. Sedang di siang hari aduhai betapa sulit menjaga 'tuk tetap terjaga. Tiap-tiap kali habis makan maka tak lama kantuk menyerang, betul-betul sampai mengangguk-angguk sambil berseru trilili lilili lilili...
Di tengah rasa tak berdaya dan putus asa melanda, aku memimpikan sepucuk Walther PPK/S atau Makarov untuk 'kutodongkan pada sisi kepalaku sendiri; karena sudah gila apa aku menggunakannya untuk ber-"olahraga". Itu biar Ario Sasongko saja yang begitu. Aku ini atlit lempar cakram dan lembing meski kemudian harus memimpin suporter, yah, semacam Kostrat begitu lah hahaha. Semakin 'kupikirkan mikrofon dan Audacity, semakin jengkel aku. Aku ini penulis, hei, aku belum lagi periksa apakah Kang Yudi Latif punya cenel yutub. Tak'da, karena beliau penulis.

Sewaktu shalat Isya' tadi, tiba-tiba hadir suasana hati pulang malam-malam naik trem Amsterdam. Jika trem maka 2018, maka Kees Broekman, karena Kraanspoor bis dan feri. Kalau masalah hangat, semua sama hangatnya. Kecuali duduk terlalu dekat dengan pintu, maka setiap kali dibuka udara dingin masuk membelai. Amsterdam sepi, bagaimana Maastricht, kamar di lantai dua dengan desauan Veolia jurusan Malberg. Ini pula aku akan mengikuti matahari dibuat sok gruveh fungkeh begini. Bisa juga di Kapadokia meski hanya seutas selembar. Ternyata begini saja.

Malam ini aku kacau-balau seperti masa mudaku. Bedanya tidak ada rokok jangankan seslof, sebungkus, setengah bungkus, sebatang sepuntung pun tak. Alih-alih kopi, secangkir serbat jangkrik emas; apatah lagi bir hitam. Aku ini mahluk rohani, maka rohani nomer satu sedang jasmani untuk ditahankan. Jangan sampai terbalik bisa merana lahir batin. Terpaksa 'kumaki karena cintailah aku tolong ditafsir-ulang keterlaluan. Nah, jauh lebih, lebih baik amboi aduhai begini. Biar jedug jeder jemblem jika diliputi dan mencurahkan tanpa henti terlebih disukai. 

Kata kerja, jangan kata sifat apalagi benda; dan tamatlah serbat jangkrik emas, dilanjut air panas. Nyatanya menahankan rohanilah yang membuat malamku kacau-balau begini. Masa orang naik metro disedot WC iblis, lantas melayang-layang sampai terjatuh di sebuah lapangan berumput, mementungi iblis-iblis. Apakah 'ku merindukan membangun dan menghancurkan peradaban-peradaban. Uah, aku sudah terlalu tua untuk itu. Lebih baik aku menyerahkan seluruh jiwa raga bagi cita-cita perjuangan bangsaku, karena jika tak pernah mencoba sudah pasti gagal.  

Memang tidak ada pilihan lain: tahankan. Otak bisa berkhayal mengenai bau-bauan yang menimbulkan sensasi-sensasi tertentu, namun itu cukup bila sedang mengaso saja. Selebihnya tulislah buku, dan terpenting: selesaikan disertasimu! Ini sudah tidak di Amsterdam yang sepinya mengerikan itu. Ini di tepi Cikumpa sini, di mana kau bisa mengakses mie ayam donoloyo beserta cireng gejrotnya sekali setiap saat. Jika kaukira hidup orang lain sempurna, kau tidak tahu saja duka derita yang tak tertanggungkan; seperti pemburu kota dengan meriam pemburu sancanya

Sekarang ini sudah cukup baik, karena terasa baik. Berpumpunlah pada keuntungan-keuntunganmu, lupakan serangga yang berseliweran dalam benakmu; terlebih jika walang sangit. Jika belum mengantuk jangan baringkan badan di pembaringan. Terbaik memang membaringkan badan entah siapa; namun jika tidak ada, maka jauhilah pembaringan. Itu akan menjaganya tetap sejuk, meski tidak mungkin sesejuk pembaringan-pembaringanmu di Kees Broekman, Uilenstede, atau Kraanspoor. Itu semua tempat mengerikan, yang kaubutuhkan adalah sebutan. Itu sudah.

Tuesday, December 20, 2022

Kecantikan Dedek, Kesenduan Situ Cibeureum


Setelah mulai terasa Jumat malam sepulang mengawas ujian akhir semester mata kuliah hukum administrasi negara bagi program sarjana ekstensi, sampai pagi ini masih belum yes juga. Aku tidak tahu apa-apa mengenai dunia apalagi akhirat; yang jelas, aku pernah mendengar apa yang dahulu tak terbayangkan oleh para sahabat Rasulullah, sekarang dianggap lumrah, biasa-biasa saja. Tepatnya sih sah-sah saja. Akankah kita saling mengenal satu sama lain adalah pertanyaan yang menyelinap begitu saja bersama dengan manisnya alunan terompet, halus diselompret.
Siapapun yang membuat laut terkesan puitis, romantis, tidak peduli pada keadaan pikiranku yang sudah jauh menua. Belum lagi badan tambun melambanku, yang masih terasa nyaman ketika menghabiskan nasi kebuli ayam bakar jatah pengawas Jumat lalu di ruang bidstu berdinding kaca. Terlebih setelah sholat Isya' menyongklang VarioSua pulang pun masih nyaman. Akibatnya, dalam kulkasnya Pak Dian jadi ada sekotak teh buah beri biru. Akibatnya, Sabtu yang direncanakan bertemu dengan teh buah dan koreksian justru mengeluarkan uang seratus lima puluh ribu Rupiah.

Kini suasana sudah jauh berbeda, ketika genduk Keisya menyanyikan lagu yang pernah dinyanyikan Thavita. Ini adalah musim panas Amsterdam dua tahun lalu. Adakah aku ingin kembali ke masa itu. Apa yang ingin 'kuubah jika kembali ke masa itu. Aku TIDAK ingin kembali ke mana pun. Aku mau maju karena Insya Allah aku tahu ke mana aku 'kan menuju. Seperti yang 'kukatakan pada Cantik tadi ketika sarapan bubur ayam Cianjur, dunia ini tidak punya apa-apa untuk ditawarkan. Tidak bagi Bapakku, tidak juga bagiku. Apalagi aneka-rupa kehina-fanaan seperti itu.

Itu pula sebabnya, di siang hari Selasa yang gerah bermendung begini, aku justru menyanding sejebung teh melati panas kesukaan Bapak, dengan sekepret gula sekadarnya... dan mengetiki. Memang masih mengetiki, belum menyelesaikan disertasi. Wasaibmit masih sasaranku, aku alap-alap dengan pandangan stereo terfokus padanya. Pendingin udara bagaimanapun penting, dan kini aku tidak sanggup membelinya. Maka hanya bisa 'kudapatkan di kantor yang Insya Allah menyepi karena sudah liburan. Liburan kuliah memang waktu favoritku selalu, sudah sejak lama.

Jika benar aku tahu kemana 'kan menuju, mengapa masih mengenang badan mudaku yang berpeluh-keringat sedang elang-elang berlatih di depan kamarku. Waktu kejayaan nexianberry yang sesungguhnya enggan sangat 'kuingat-ingat. Waktu-waktu yang mengerikan mengapa hampir dalam hidupku, semoga tidak ada lagi dalam sisa umurku. Aku mengaku alap-alap sedang bentukku seperti kakapo begini. Badan penuh berpeluh-keringat begini memang hanya mandi solusinya, namun apakah bijak mandi dalam kondisi begini. Apapun itu, harus mandi karena harus sholat.

Apa harus 'kuceritakan mengenai lodeh kacang-panjang, labu siam, dan terong yang entah lebih enak mana dengan buatan Mbak Yem. Suatu sahur pada suatu Ramadhan ketika di belakang Pondok Annisa masih ada wartegnya, yakni Warteg Pak Jay yang kemudian pindah agak di depan Cornel. Terkadang terselip tanya mengapa tidak habis-habisan bertualang ketika itu, hanya untuk menyadari betapa itu telah menyelamatkanku dari rasa sakit yang jauh lebih hebat dari yang 'kurasakan sekarang. Atau suatu siang yang sungguh teriknya, demam, berjalan perlahan ke Snar Guitar.

Hidup memang selalu begitu saja, bahkan untuk seorang lelaki perkasa seperti Bapakku. Ini lagi pura-pura jualan es krim, pura-puranya untuk memata-matai. Khayalan yang sungguh payah untuk menemani bersepeda ke Molenwijk. Mengapa tumitku harus sesakit itu, ketika itu. Jika tidak mungkin aku akan terus memacu langkah-langkahku di malam-malam musim dingin yang cepat turun. Adakah dengan demikian aku menjadi lebih tidak peduli pada jendela-jendela yang terpampang di hadapanku. Bukan berarti tidak pernah ada lambaian. Penyelamatannya nan gemilang.

Tolong lihat aku dan jawab pertanyaanku

Sunday, December 18, 2022

Sambal-sambal Sisa Jambal. Roti John Gunadi


Menenangkan, menyembuhkan, aku koq merasa seperti menonton film Cina. Beberapa hari ini aku di dalam rahim melayani para pelayan, yang membuatku serta-merta terkenang John Gunadi. Mengapa kau, seperti halnya Cobain, mati. Mungkin aku tidak benar-benar merindukanmu. Mungkin waktu-waktu bersamamu yang 'kurindukan, yang telah lalu. Mengapa aku merindukan waktu-waktu itu. Merindukan waktu yang telah lalu adalah kebodohan maksimal, mentok tidak bisa lebih bodoh lagi. Ini mengapa seperti ada bunyi gemericik air begini, sungguh menjengkelkan.
Ini terdengar seperti Kitaronya orang miskin yang bibirnya dower dan giginya mrongos. Apa lantas 'kan 'kukenang sarimomo dengan tempura ubi semua dan meki sapi, dan tentu saja pangan kentir. Bahkan burger and king sekali, sandwichnya yang menang tebal doang, yang seringnya dilanjut dengan atau bahkan sebelumnya. Jika begini aku tidak akan ingat mengenai apa ini. Cukuplah mandi asal-asalan tanpa handukan sebelum ke dokter Pahry medischine menjadi mnemonik, meski dipastikan keduanya selembar pun tidak. Ini bahkan lebih kecut asemnya entah apa.

Apa harus 'kukitiki dengan pandangan periferal di sebuah kamar kontrakan di bilangan Statensingel, antara selembar dengan berlembar-lembar. Malam-malam memang sudah seharusnya berakhir, digantikan dengan omong-kosong penuh kebohongan. Tenggorokan yang tidak nyaman beberapa hari terakhir ini biarlah ditingkahi dengan dentingan senar gitar dan piano. Aku bahkan lupa sama-sekali rasanya berjalan berpeluh-keringat dari Blok M ke Radio Dalam. Aku bahkan lebih tidak ingin bicara mengenai berjalan dari Pondok Indah Mall ke Radio Dalam.

Ketika bakmi apapun pasti begitu-begitu saja rasanya, seperti bakmi entah apa yang dijual di kantin sekarang. Saus sok cerdik itu memang sudah pada tempatnya, agar saus Sari Sedap penuh rodamin-b sekadar menjadi kenangan yang harus segera dilupakan. Terlebih bibir ayam Cirebon yang di Taman Puring itu, biarlah bibir ayam Cianjur yang dikenang-kenang; karena yang di McD itu tidak bisa disebut bibir ayam. Terlebih dewi Indonesia yang jelas-jelas bukan dewi kemerdekaan menyakiti seperti sayatan perlahan pada diafragma. Terlebih memulai dengan kata terlebih.

Lebih dari membelai, keinginan untuk dibelai dirasakan seekor anjing buduk yang sekujur badannya penuh borok dan kutu. Lebih dari apapun, dunia tidak akan memedulikanmu yang ingin beristirahat. Dunia ingin terus melonjak-lonjak kegirangan macam anjing peliharaan bertemu majikannya. Bagi sesiapa yang tidak tahu bedanya anjing dengan keharuman yang bisa saja hilang jika lama tidak pakai deodoran, maka sudah patutlah ia diabaikan. Sungguh tak berdaya menghadapi daya tariknya, magnetismenya, kuat membetot seluruh cipta, rasa, dan karsa.

Jika sudah begini, kenangan akan hisap-hisapan dan kepul-kepulan asap kretek, seteguk kopi hitam atau bir hitam sekali sungguh terasa tak berdaya. Bukan tekad yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sebuah entri, melainkan malam yang semakin larut dan ingatan betapa sulit berdoa di depan wastafel sebelum meminum obat jika kawan-kawan terus bercericau bahkan mengomentari. Uah, kalimat yang berlari kencang seperti tidak pernah-pernahnya. Aku memang penakut tapi itulah yang 'kubutuhkan untuk berani: perasaan bahwa aku sedang takut. 'Ku tak sudi!

Terlebih jika menyangkal, enggan mengakui. Bukankah sama saja, meski serabi dan surabi bisa berbeda sekali. Jika diberi titik di situ sungguh menjadi masuk akal, terlebih ketika bersin seperti kurang sehat. Tiada laba yang didapat dari hukum administrasi daerah, sedikit dari hukum administrasi negara. Akankah dalam sisa hidupku ini, seperti ketika 'kutinggalkan rumah di tepi Ciliwung di suatu malam bulan puasa. 'Kurasa naik angkot sampai di depan Depok Mall, mengetahui di belakangnya ada MonggoMas, malah menjadi malam kekuatan. Jika bukan jijik, entah apa. 

Thursday, December 15, 2022

Jula-Juli Grand Artos Merana. Aku yang Merona


Astaga, adik itu mengetik dengan rampaknya di luar, di balik jendela berkotak-kotak kecil itu. Mengetik betulan loh, bukan mengitiki. Aku sudahlah mengitiki, membiarkan otakku dibuat frappe oleh si Wedus Cobain dengan semacam logam alkali. Apa kabar Denny Luqman al-Hamzah, kemungkinan ia sedang menjalani hidupnya seperti kebanyakan orang Jember yang menjadi pegawai negeri. Tidak seperti orang Batak yang jadi aparat, baik sipil maupun militer, orang Jember satu lagi malah sudah mati, pegawai negeri pula. Wedus memang harus dipong kepalanya.
Emang sudah edan ini Wedus. Memang aku pun harus dihardik jika kebanyakan bernostalgia. Memang betul aku berpura-pura seakan sejarah demikian pentingnya, padahal itu cuma kecenderungan mentalku untuk terus bernostalgia saja. Meski Alvin masih menjawab ia tidak pernah pesiar, lebih sering ke rumah pamong. Semua kenangan masa lalu memang tidak pernah berdaya, tidak pernah sanggup menjawab tantangan masa depan. Aku sungguh-sungguh tidak tahu apa yang harus dilakukan. Entahlah apa aku punya suatu gagasan mengenai masa depan.

Ini 'kuteruskan setelah lewat tengah malam, bahkan sudah berganti hari. Mengitiki 'kuhentikan tadi karena aku mengantuk sekali; yang 'kulakukan malah pergi ke kantin, beli teh tarik dan dimsum, 'kunikmati bersama FDR, Harry Hopkins, dan Captain Henry. Ini malah sekarang lagu cinta timur berkumandang di keheningan malam, sedang aku tidak berdaya menahan rasa tidak nyaman karena sedikit sekali kena karbohidrat malam ini. Aku menindaknya drastis dengan sarimi goreng ayam kecap, masih dengan dua potong keecho dan seutas sosis koktil. 'Kurasa tiada jalan lain.

Jika aku tidak bisa memberimu apapun kecuali cintaku dihembus dengan saksofon memang aduhai sedap, meski bait-baitnya agak menjengkelkan. Padahal tadi sempat juga membantu Cantik menghabiskan grameh goreng 600 gram sisa makan malam bersama Wiyono. Aku baru tahu ternyata sebelum Michele aku sendirian saja. Aku tidak pernah suka sendirian yang ini, maka 'kusabari saja sampai Michele sendiri yang menjelang; mana tidak habis-habis ini. 'Kupandangi dan 'kuelus-elus perutku yang menambun mengkhawatirkan. Ah, Michele datang. Selalu saja memesona.

Lelaki tua, botak, tambun ini sudah kelelahan diterjang pesona, ketika rona Grand Artos saja membuatnya merana. Ia tidak butuh lagi pesona yang bertebaran di sekelilingnya setiap hari, risiko pekerjaannya, tempatnya mengais rejeki. Pesona bertebaran sudah tidak terasa sebagai rejeki baginya, hanya mengundang helaan nafas. Terlebih ketika mandi dengan sabun cuci tangan di toilet PDRH, lelaki muda autis melonjak-lonjak di kursinya, entah apa yang ditontonnya. Tempat persembunyian yang horor di atas jam empat sore jelas tak mungkin diandalkan siapapun.

Tiada apa yang dihasilkan kecuali entri, meski bangun sampai jauh malam begini, sudah berganti hari. Betapa tidak. Perut dihantam sarimi isi dua sebelum tengah malam, padahal bisa makan sayur rebus lagi, dengan sedikit nasi kalau takut sakit lagi. Perut yang selalu terasa mengganjal sudah beberapa tahun terakhir semenjak pandemi bahkan sebelumnya. Entah bagaimana aku 'kan melaluinya, ketika Japri muncul tiba-tiba menanyakan sudah submit wasaibmit. Uah, mahogany, bukan mahagoni, dari masa kecilku, senantiasa membelai qolbu, menyejukkan mata-hatiku.

Aku senang gambarannya kambing-kambing berwarna-warni, ada yang hitam pula, sehitam mahagoni. Dengan perut tambun mengganjal begini, mata-mata yang terlalu dekat jaraknya namun bulat memesona menjadi terasa demikian jauhnya. Rambut tipis saja sudah menandakan bukan, karena rambut seharusnya tebal indah mengombak seperti rambut Cantik. Memang tidak ada kurangnya, justru banyak lebihnya. Aku suka yang lebih-lebih, sampai luber-luber begitu, seperti mie ayam donoloyo, sampai susah diaduk. Jika tidak untuk meratakan saus rodamin-b, takkan diaduk.

Saturday, December 10, 2022

Isandhlwana Tidak Lebih Sulit dari Matswapati


Mengitikiku disela oleh mendidihnya air mandi, padahal milo hangat baru habis seperempat cangkir. Maka 'kuputuskan untuk terus mengitiki, dengan risiko air mandi mendingin, dan itu berarti membuang gas. Aku sudah lelah mengikuti perjalanan trio Wildan, Andriawan, dan Arkan mengelilingi Kalimantan. Melihatnya saja sudah lelah apalagi menjalani sendiri. Belum lagi Nugroho bermotor dari Margonda sampai Ujung Genteng. Edan bocah-bocah ini. Lebih edan lagi aku yang menyiapkan paparan tentang Kembali ke UUD 1945 'tuk disampaikan pada Pandusakti.
Mana lebih gila, aku yang sangat terganggu kalau sampai tidak rata kanan-kiri, atau orang yang menatah jenggot Prabu Matswapati pada kulit kambing. Ukurannya adalah secangkir milo. Jika habis ia, maka mandi aku. Jadi ternyata guna entri-entri sekadar membuat Togar tertawa-tawa jika ia sedang bosan selesai giliran bicara. Lagipula goblog harian apa yang diumbar-umbar bagi publik meski tetap saja tidak ada yang baca kecuali Togar. Ini semacam antologi cerita pendek yang tiap-tiapnya sekitar 500-an kata: Cerita mengenai dunia dari sudut kebat-berkebitnya pikiranku.

Di sini milo habis. Aku mandi.

Selesai mandi, sambil mengeringkan badan, aku membatin: Dunia telah mengecewakan Papa dan Bapak. Bapak jelas-jelas berdoa agar dunia tidak mengecewakanku. Namun apa yang bisa diharapkan dari orang-orang yang ribut saja masalah harus pakai baju apa agar tidak canggung karena perbedaan pangkat. Hahaha aku memang badut, tidak pantas mengenakan baju-baju berpangkat itu. Aku, seperti kata Leonard, hanya menunggu satu kecelakaan laboratorium untuk menjadi penjahat super; karena, menurut Nex Carlos, lemak jahat adalah lemak baik yang tersakiti.

Lebih baik 'kubaca-baca lagi surat-surat cinta Forrest Gump yang kembali lagi kepadanya, berlembar-lembar, karena Jennifer Curran memang tidak pernah ada di Greenbow. Ia berkelana meluaskan pikirannya. Sebuah entri yang penuh menyebut nama-nama, kejadian-kejadian di seantero dunia. Lantas apa maunya, memamerkan keluasan pengetahuan umum seperti kelakuan Gunawan Baphomet. Jih, tidak sudi! Nah, ini tadi terpikir ketika masih telanjang, mungkin masih menggosok-gosok badan dengan busa sabun. Seks, sastra, kita. Najis! Manusia, budaya, dan masyarakat. Itu dia.

Kembali kepada pengirim. Alamat tidak diketahui. Tidak ada nomor begitu/orang itu. Tidak ada lagu begitu. Gus Dut merasa lucu dengan baris terakhir itu, dari sekitar dua puluh tahunan lalu. Seperti halnya Gus Dut dan Togar, aku pun merasa bisa menyanyi. Bahkan dulu jika ditanya hobi biasanya akan 'kukatakan menggambar, menyanyi, bermain musik. Aku merasa hanya bisa membaca dan menulis, meski uangku kini terutama terkait dengan dongenganku pada bocil-bocil. Hidupku sungguh mengerikan dan aku tidak punya harga diri. Aku memalukan. Menjijikkan.

Maka biar 'kucatat di sini pertemuanku dengan Dr. Dexter pagi hingga siang tadi, karena ini mengenai harga diri. "Semakin menderita kau, semakin menunjukkan betapa pedulinya kau", begitu katanya. Kau memang koprofil, koprofagis, tiada lain. Ini kata-kataku sendiri, favorit malah. Artinya, Dexter menyelesaikan doktoralnya pada umur 52 tahun. Namun ia telah menorehkan karya-karyanya dengan tinta emas dalam jagad punk rock, selain juga berjualan saos pedas. Jadi tidak ada alasan bagimu, koprofil. Kau memang koprofagis celaka. Tutup mulut baumu itu. 

Tuesday, December 06, 2022

Gitarku Memainkan Melodi Spanyol dan Meksiko


Masakan Senin malam begini malah mengitiki. Senin malam 'kan seharusnya belajar untuk mempersiapkan pelajaran-pelajaran Selasa. Meski aku tidak melakukannya dengan benar, dapat 'kupastikan aku tidak membuang-buangnya dengan cinta remaja. Ketika remaja aku tidak pernah mencinta. Aku selalu yakin akan diperlengkapi jika tiba waktuku. Ternyata setelah setua ini waktuku, 'kurasa, belum tiba juga. Aku malah dikelilingi anak-anak yang menanti-nanti tibanya waktu mereka. Ataukah memang waktu takkan pernah tiba untuk siapapun. Aku rasa demikian.
Tersesat dalam cinta adalah suatu malam dalam sebuah bilik pelacuran. Suatu sore yang mungkin seharusnya indah malah dikejutkan oleh burung menderita pilek. Mengapa aku yang tidak pernah mengalami cinta remaja ini justru bernasib begitu. Malam-malam sepi yang seharusnya mengerikan, yang 'kulalui dengan melangkah di antara tumpukan peti-peti kemas, untuk kemudian menyelinap di dekat Krida Braja. Aku tidak takut hantu. Lantas malam-malam menembus kabut antara asrama dan Kukusan. Uah, betapa banyak malam telah 'kulalui di mana-mana tempat.

Aku kehabisan ragaan. Aku hanya bisa terpesona. Namun apalah guna karena pesona memang selalu memesona. Memang itu gunanya. Ini jelas wujud tidak berdayanya aku, malam Selasa begini malah mendengarkan Themistocles dengan suaranya yang seperti tercekik. Bahkan pada umur sebegini lagu-lagu sudah mulai kehilangan pesona, mengapa tidak sekalian semua saja. Mengapa masih ada saja yang memesona. Seharusnya bisa, karena Warren saja sudah berpangkat letnan angkatan laut. Artinya, Kapten Henry sudah pasti lebih tua dari aku kini, dan tentu bukan kardus.

Ini bahkan sudah bukan malam Selasa. Ini sudah Selasa betul, dan aku masih saja mengitiki. Tidak juga. Aku sudah tidur, dan iklim sudah tidak sama dengan sebelum 2016 atau 2014. 'Kurasa 2014, karena 2015 adalah kemarau terpanjang yang 'kuingat. Betapa bahkan bebambuan meranggas. Mungkin dapat pula diperiksa entri-entri awal 2016, suasananya, tapi jangan sekarang. Jika mengecek entri, pasti tidak selesai entri ini. Lebih baik, mumpung rampak begini, terus memberondong mengitiki begini. Meski sudah berkeliling dunia, belum bertemu juga Lisa dengan bayinya. 

Tidak tiba-tiba juga, meski Whitney merasa begitu. Aku merasa semua ini bertahap, perlahan-lahan. Dimulai dengan omelet dibungkus tortilla kecil diselipi salami tipis. Diselipi, bukan disumpili, karena tidak ada kata itu dalam Bahasa Indonesia. Bahkan masih ditambah roti gandum berisi dua potong sosis, telur mata sapi, dan selembar keju cheddar Amerika. Minumnya tentu saja teh hitam secangkir kertas. Jika sosisnya sepotong saja, tidak akan lebih dari goban. Sudah hampir setengah jam berlalu dan aku masih merasa baik-baik saja, berbeda pun dengan nasi dan lauk-pauk.

Maka begitu saja 'kutuang teh herbal Sabda Rasa, yang 'kuseduh dengan air mendidih banyak-banyak, mungkin lebih dari seliter. 'Kutuang ke dalam cangkir plastik merah kesayanganku yang tak bertelinga, sedangkan segalaku sekadar berharap menjadi bagian darimu. Aku adalah rama bagi anak-anakku, perempuan ada tiga jumlahnya, dan seekor kambing gibas. Teh herbal mengepul-ngepulkan uap, serayaku membatin, semua cinta di dunia tidak akan merenggutku darimu; karena aku hanya punya cinta untukmu, Sayang, jikapun harus berakhir dengan berpidato di tepi sumur. 

Tidak perlu sok seram. Cukup seperti Nick Wallace saja, karena yang biasa, yang sehari-hari, justru yang paling seram. Apalagi kalau sampai dibiasakan. Aku tidak nyaman jika sudah sampai ke sini. Setelah ini bisa saja aku kembali ke depan tivi seperti berbulan-bulan terjadi di Uilenstede 79C, padahal waktuku sudah habis; sudah lewat jauh bahkan. Wiyono semalam menyapaku. Aku sudah jadi pengemis dan ini benar 'kurasa yang menyakiti lambung. Bahkan ibu penjual nasi uduk menangis jika mengenang pengalamannya mengemis. Aku sekadar teriris di lambungku.
 

Saturday, December 03, 2022

Entri Perdana Ruang Bidstu Berdinding Kaca


Selalu dan selamanya! Apanya. Bukan kembungnya yang jelas, meski karedok Sasari aduhai pas bumbunya. Aku selalu suka karedok, bahkan yang di Nging Kemang atau Cipunjur sekalipun, yang mahal itu; tetapi mengapa kalian selalu menyiksaku begini. Begitu juga dengan pecel, boleh beli di Mbak Ira atau merebus sendiri. Mengapa. Apa yang harus 'kulakukan, haruskah 'kujalankan nasihat Alvin makan umbi garut. Tidak, karena pada Pak Insan tidak mempan. Begitu kata Cantik. Ya, sudah. Jika demikian tinggal mengeraskan hati, sedang daun-daun mati berguguran.
Sebenarnya bukan itu. Terakhir aku melihat masih selalu. Mungkin itulah sebelum 'kumatikan karena Cantik sudah me-WA. Sebelumnya bahkan 'kutinggal lama sekali karena Hadi muncul dari balik kaca. Kami lalu minum jus mangga di saung kantin, kali pertama untukku. Saung itu bau tahi kucing, namun bagi perokok mungkin yang seperti itu tidak masalah. Tidak lama bahkan datang Alif membawa cerutu-cerutu. Perutku kembung bukan buatan, meski kantin kaca memang selalu nyaman, terlebih jika seorang diri di situ. Cukup besarkan saja kipas pendingin udara, bereslah.

Mencongklang VarioSua ke arah PNJ, ternyata diportal, maka mengarahlah ke kandang bis kuning, rotunda, balairung, seterusnya sampai berputar di depan menwa, menyusuri Margonda. Tadinya mau ke D'mall malah ke Peseq, meski tujuannya sama: Dapur Kekaisaran. Standar, bubur dua rasa untuk cantik, mie wonton udang untukku. Minumnya yang agak tidak standar. Aku minum liang teh, Cantik teh hangat manis, meski akhirnya memesan teh cina seteko juga karena tidak panas. Ah, sementara flamingo cantik beterbangan di sekelilingku begini.

Sampai di sini yang 'kuingat hanya kembung sekembung-kembungnya, sampai-sampai biji kanan nyut-nyutan. Apa masih mending ketimbang rindu-serindunya, aku tidak tahu, sedang laut memisahkanku dengan cintaku. Jika ini mengenai ruang bidstu berdinding kaca yang bergetar berderak gara-gara gempa Cianjur minggu lalu, Senin, 21 November 2022, maka biarlah. Kala itu, aku dan Hari sedang berbual-bual. Sekitar jam satu siang bergoyang-goyanglah tanah. Hidup dan biarkan mati! Sudah hampir dua minggu ternyata sejak gempa itu terjadi.

Pagi ini, setelah mengantar Cantik sampai di ambang Gedung VIII, aku memarkir VarioSua di depan WC samping SDM seperti biasa. Langsung 'kuminta Pak Roni untuk membuka ruang bidstu sementara berdinding kaca. Setelah melepas jaket, aku melangkah lagi menuju Barel. Sasari tujuanku, bertemu ibu yang tidak berubah sedikitpun dari duapuluh tahunan lalu. Ia masih mengenaliku meski aku jauh menambun. Bahkan ia masih ingat betapa aku sangat suka tahu sayur kuning. Pagi ini, aku memesan karedok, orek tahu, bulet, seutas otak-otak, dan sendok palastik.

Jangankan disertasi, bahkan kembali ke UUD 1945 meski dikaji-ulang tidak juga menarik bagiku pagi ini. Apakah karena perutku mulai mengembung. Aku malah kembali membuntuti Kapten Henry ke London, lalu Berlin. Tidak apa, karena ada kemungkinan setelah Oktober Bossman sudah tidak menjabat lagi. Mungkin Kapten Henry bisa pulang dan mendapatkan tugas laut yang sangat diidam-idamkannya. Teh herbal ini semoga benar berkhasiat. Ada waktu-waktunya aku ingin teh herbal begini: Rasa herbal. Selebihnya aku suka teh melati dengan sekepret gula. 

Akankah 'kudapati ruang bidstu sementara berdinding kaca tetap nyaman di hari-hari kerja, aku tidak terlalu peduli. Aku selalu bisa bersembunyi di tempat profesor mati atau tempat Togar. Kini aku merasa sedikit kembung meski sudah minum teh herbal yang konon mengobati kembung. Kapankah kini, besok bilakah datangnya, kemarin sudahkah berlalu, tidak penting di goblog ini. Apakah suara flut lebih cantik dari terompet, seperti aku tidak bisa membedakan antara cantik dan manis. Jelasnya, aku harus sangat dipaksa untuk menyukai perempuan berbentuk seperti Nanda Gita.

Betul-betul jadi romantis suasana hatiku

Saturday, November 26, 2022

Suatu Waktu Untuk Kita Menyusumo, Susumo!


Daripada merasa kesakitan, lebih baik menjatuhi diri sendiri dengan cinta. Menjelang tengah malam yang dingin di akhir November ini, tumben Amsterdam belum bersalju. Malah hangat ini, mungkin karena mendung berhujan. Tempo hari aku berpapasan dengan Velen. Seperti biasa pertanyaannya kapan, yang 'kujawab dengan dengusan dan dehaman. "Lo sih pulang melulu." Untunglah aku tidak perlu terlalu memedulikannya, karena aku sedang jatuh cinta. Meski aku tidak baru saja ikut mengebom Berlin, dapat 'kurasakan bibir dan wajahku dikecupi.
Ya, dihujani kecupan oleh seorang perempuan muda berusia dua puluh tujuh tahunan. Uah, aku bahkan lupa rasanya berumur segitu, apatah lagi rasa seorang perempuan berumur segitu. Umur segitu memang sudah sangat patut berumah-tangga. Sedih malah jika belum. Seingatku, umur segitu aku sedang tolol-tololnya. Tahun 2003 apakah aku menyongsong kehancuranku. Cahaya dari samping ini sungguh sangat mengganggu, sedang kalau pas di depan terlalu silau. Begini lumayanlah. Toccata ini begitu saja 'nyelonong menemaniku yang tak lagi muda, pun masih dungu.

Jika ada mahluk mengerikan menyapamu di warung modern ber-AC atau di depan warung pulsa, memanggilmu "Om", sudah tentu kau terus berlalu. Jadi tidak usah gaya-gayaan. Seperti lagu kecil ini, tentu ada yang menjijikkan. Begitu menjijikkannya sampai membuat mual. Bagaimana kalau bentuknya saja yang menjijikkan. Tutur-kata, tindak-tanduk, bahkan baunya harum mewangi. Tidak! Tobat bin kapok tidak mau gaya-gayaan lagi. Memang standarku sudah rendah maka jangan direndahkan lagi. Ini lagi kemarin dimainkan dengan piano sedang aku kejijikan begini.

Lantas bagaimana dengan keindahan dunia. Dunia, hidup di atasnya ini memang indah, tinggal bagaimana menikmatinya. Wow, belum lama ternyata Culap-culip mengudara. Baru tahun lalu dan beberapa videonya sudah ditonton jutaan kali. Pasti tidak mudah membuat yang seperti itu, meski mungkin jauh lebih mudah daripada mengembalikan MPR sebagai lembaga tertinggi negara, dengan anggota-anggota para pemimpin rakyat sejati yang berhikmat kebijaksanaan. Ada lagi usul membuat lumbung sebagai alat pengisian MPR. Masih ada lagi majelis ketuhanan, majelis kemanusiaan, majelis persatuan, majelis kerakyatan, dan majelis keadilan.

Apa mereka tidak tahu betapa gila terdengarnya usul-usul mereka itu. Jangan-jangan demikian pula terdengarnya segala omonganku. Ini membuatku teringat pada seorang gadis yang menyapu kantor, yang pernah kemasukan orang gila mau pinjam kamus. Bukan hanya satu melainkan beberapa, yang aku tidak mau kenal lagi. Orang gila itu pernah kencing dan wudhu sekali di wastafel Warung Alo. Kenapa jadi membahas orang gila, bukan gadisnya. Karena gadis-gadis tidak akan pernah habis dibahas, sedang orang gila jika dihabisi takkan ada yang meratapi. Aku ini.

Aku senang, meski melanggar jumlah baris, tetap rata kanan-kiri. Jika itu saja tersisa untuk kesenanganku, tidak menjadi apa. Jikapun aku tidak akan pernah jatuh cinta lagi pada fananya dunia, itupun tidak menjadi apa. Cinta, jika sejati, tidak akan jatuh apalagi menjatuhi. Biarlah keindahan dunia berseliweran di hadapanku, aku selalu bisa tersenyum karenanya. Apakah orang gila itu tidak lupa mencuci kelaminnya, atau bahkan mandi besar sekali sebelum wudhu, aku malas menanyakannya. Biar Penciptanya yang menilai, lantas menerima atau menolak sholatnya.

Keharuman itu akan selalu tinggal dalam benakku, jika tidak lagi pada epitel rongga hidungku. Tidak perlu lagi 'kuhirup dalam-dalam a la Jean-Baptiste Grenouille. Cukup 'kusungging senyum dan keharuman itu kembali padaku, denganku. Apakah ia sekadar menyelimuti atau mendekapku erat, kini terserah padaku. Bahkan harumnya yang gurih itu sampai bisa 'kucecap dengan indera perasa pada lidahku, entah itu berarti bibir saling berpagut, lidah berjalin-berkelindan. Meski pangkal lidah elek-elekan dicincang kecil-kecil pun digoreng garing, aku akan tetap mencinta.

Sunday, November 20, 2022

Wilkataksini Tidak Sama Dengan Wiraksini


Ini adalah suatu ketidakberdayaan. Uah, apa tidak ada ungkapan yang pendek saja dalam Bahasa Indonesia untuk itu. Sedang aku merasa tak berdaya hanya karena teh dalam jebungku tinggal beberapa teguk, Mas Wiek datang membawa rujak serut dengan helm gojeknya. Sebenarnya, ketidakberdayaan 'kurasakan ketika aku mengetiki begini, di sini. Sudah berhenti sampai di sini sebenarnya, karena mengitiki itu jika aku sedang merasa lucu, dan karenanya riang. Kalau sedang merasa tidak berdaya begini, tidak ada yang berlompatan apalagi berkesiuran. Mustahil semua.
Lebih tidak berdaya lagi jika sarapan dengan roti goreng isi totit dari setiap hari, masih ditambah beberapa keping keju garam, sambil menyimak sejarah lama. Apakah ta'liman ibu-ibu ini yang menambah rasa tak berdayaku, sedang mengetiki seharusnya ditemani irama merdu mendayu-dayu. Baik 'kucatat di sini Wiraksini itu nama seorang gadis, sedang Wilkataksini adalah raksasa. Hahaha bagaimana sampai bisa tertukar. Sampai di titik ini, aku merasa tidak sanggup menyelesaikan entri ini, sedang mataku sudah disambung kacamata baca, kini 'kulepas. 

Aha, ingat aku sekarang. Minggu pagi yang tidak ke ndalem Jalan Radio. Jadi ada dua macam minggu pagi. Satu, yang ke ndalem Jalan Radio. Dua, yang tidak ke ndalem Jalan Radio. Sungguh memalukan. Lima ratus ribu bertebaran di mana-mana, terlebih lagi empat juta atau bahkan lebih. Allah Dewa Batara. Ini adalah minggu pagi di tepian Cikumpa, yang kini diselingi Pondok Pesantren Daarul Hidayah Aswaja. Darinya pertama kali 'kudengar lagu Sholawat Hasyim. Apa kaupikir ini 'kan menjadi semacam karya sastra begitu, lelompatan kebat-berkebit ini, meski rata kanan-kiri.

Memang jatuh cinta bisa membuat orang mengabadikan nama dalam judul sebuah lagu bersyair. Itu sangat dapat dipahami. Apakah pada tempatnya jika 'kutulis di sini betapa, setelah sekitar dua puluh lima tahunan, Kapten Angkatan Laut Victor Henry jatuh cinta lagi. Seperti halnya Robert Langdon tidak seperti Tom Hanks, aku yakin Victor Henry juga tidak seperti Robert Mitchum, meski mungkin Herman Wouk sendiri yang memilihnya. Ah, Amerika memang keparat, yang bila nanti di lubang kubur tidak akan berarti apa-apa, seperti ketika 'kupandangi foto-foto itu.

Dari kiri ke kanan, Mbak Eka, Bang Andhika, Prof. Arie. Lagu cinta, itu malah yang diperdengarkan bagiku yang masih berkeliaran di punggung bumi. Sungguh aku tidak sanggup gaya-gayaan berbicara mengenai aji pancasona alias rawa rontek, aku yang tidak berdaya tanpa republikku ini, seharga hampir setengah juta setiap bulan. Mungkin ini lebih baik, karena jika menggunakan sabun batangan Dettol asli sungguh lecetnya. Jika sampai bertemu, mungkin ada baiknya si pembuat tekotok ditempeleng bolak-balik. Dia pikir dia lucu, untung saja diselamatkan suasana syahdu.

Apa arti kesyahduan jika bukan ayam bakar diberi bertusuk sate dengan potongan besar-besar. Masih bersari jika digigit, makannya harus panas-panas. Jika sudah dingin tidak seberapa enak. Tidak ada yang dapat dibanggakan dari pernah tinggal di Belanda, hanya potongan kenang-kenangan. 'Kurasa begitulah adanya bagi semua orang. Namun aku suka keadaanku sekarang, jauh dari republikku. Meski badan tidak segar karena memang tidak pernah bergerak. Bergerak membuat lebih produktif, katanya. Bisa jadi, setidaknya suasana hati jadi lebih baik, tidak seperti ini.

Suara utamanya gitar baja ditingkahi terompet berpengedam. Jenial! Bisa terbayang rasanya jatuh cinta pada Emmanuelle di jalan-jalan Eropa yang muram cuaca. Aku sampai lupa apa rasanya berperut rata. Sudah hampir dua tahun ini perutku buncit menggelembung. Aku tidak tahu bagaimana caranya mencintaimu, seperti halnya bagaimana mencintai diriku sendiri. Jika armada sekarang sudah berubah menjadi mal dan hotel, aku bahkan tidak tahu apa dia sebelumnya. Seperti halnya bocil-bocil ini menjadi perwira Angkatan Darat, Yesus Kristus Superstar! Entah, 'ku tak tahu lagi.