Sunday, August 11, 2019

Suatu Entri [Bukan] Mengenai 'Idul Adha 1440H


Sudah barang tentu tidak mungkin 'kubekerja. Bukan karena tempatnya benar. Kenyataan bahwa tempat ini ramai sekali mungkin juga bukan alasan. Mungkin memang harus seramai ini agar hangat. Namun aku sendiri yang tidak siap bekerja. Dengan gigi-geligiku yang terasa kotor mengganjal, badan yang terasa tidak segar benar, seperti kurang mandi, ini bukan suasana ideal untuk bekerja. Pendeknya, aku sendiri, bukan persekitaranku, masalahku. Sedangkan segala sesuatu selain diriku sendiri, sepertinya lumayan 'lah. Terlebih dengan telinga disumpal Tidak Pernah Hujan di Kalifornia Selatan begini. Boleh 'lah. Tidak menjadi apa.

Hari Demi Hari, apa. Demi apa. Baik biar 'kuungkapkan di sini. Mungkin Windows 10 memang terlalu berat bagi Asus E203M-ku ini, yang hanya 2 GB RAM-nya ini, yang karenanya hanya (hanya?!) Rp. 3,600,000. Namun biarlah. Nyatanya aku masih bisa mengetiki dengan rampak begini. Mungkin aku memang tidak butuh lagi sotosopan. Paling dia hanya harus kuat membuka beberapa halaman web sekaligus, mungkin juga beberapa pdf dan beberapa doc. Selebihnya, musik. Ini memang bukunet kerja. Bukan untuk yang lain-lainnya. Ini memang diniatkan sebagai gantinya HP Stream 8, entah mengapa diganti padahal masih amat baik jalannya.

Dengan air gula berperisa coklat begini, seharga Rp. 22,000 begini, meski dibayar pakai ovo masih kembali Rp. 6,600, makin tidak jelaslah suasana hatiku. Hanya 'kutahu, Engkaulah Hal Terbaik yang Pernah Terjadi dalam Hidupku. Terlebih pada sekitar pukul setengah lima petang begini, aku terkantuk-kantuk, sudah pasti karena aku kegemukan dan nyaris tidak pernah gerak badan. Tidak terlalu kupedulikan persekitaranku, sebagaimana halnya mereka tidak memedulikanku. Udara yang Kuhirup adalah melodi yang, tidak sampai jenial namun bolehlah. Aduhai ini hampir memasuki dekade ketiga abad keduapuluh satu, masih saja begini.

Terkadang satu-satunya yang kubutuhkan adalah udara yang kuhirup daripada mencintaimu, yaitu ketika cinta identik dengan berhubungan kelamin, namun tidak mengenai menghasilkan keturunan. Boa edan!

Apa jadi kutuliskan di sini kisah mengenai bandot, cempé, kuncup bunga-bunga krisan yang baru bermekaran, lantas Tiranosaurus Raja, lantas bandot ompong yang, jangankan rerumputan kering, mengunyah lidahnya sendiri dengan tulang rahang yang masih berbalut gusi. Uah, jangan-jangan gara-gara ini aku bisa masuk neraka juga. Amit-amit naudzubillah! Sementara itu, suasana hati sudah berubah-ubah entah berapa jungkir berapa guling, dari Bas Muys, mampir ke Benyamin, lantas Roadfill ini kembali ke Mari Tinggal Bersama kali ini oleh Anjinglawt. Ada lagi, Mick Hucknall menyanyikan Kau Membuatku Merasa Kinyis-kinyis tanpa menggunakan falsetto! Keterangan tiada guna, namun tanpa falsetto?!


Sudah! Aku tidak tahan lagi saban-saban memeriksa pratinjau. Mari kita kembali ke teknik lama saja, biar aku fokus di estetika bukan komposisi. Aku mengatakan ini semua seakan benar. Uah, memang sitar listriknya ini yang klangenan. Seakan dunia tiada akan pernah rusak atau bau. Senantiasa baru dan wangi. Tentu tidak ada yang seperti itu. Tidak juga dan terlebih lagi bunga-bunga krisan. Tentu saja pada suatu titik mereka kuncup, lantas merekah mekar menguarkan wangi, tentu saja begitu.

Pada suatu ketika pula mereka akan luruh, menjadi sampah. Sampah! Buat apa aku memaki dunia, aku bandot ompong yang mengunyah lidah sendiri, dengan tulang rahang berbalut gusi. Perutku tumpah ruah memberondongkan tai kambing bulat-bulat hitam pula. Aduhai namun ini benar-benar membelai, falsetto ini, meski Mick Hucknall tidak menggunakannya. Russel Thompkins menggunakannya dengan sangat fantastis, menjadikannya klasik. Buat apa ini semua, hah, Bandot Ompong berayap mati?! Itu saja kebisaanmu ‘kan, takkan lebih dari limapuluh tiga.

Di tengah kekesalanku, aku beralih pada Arina, kecerdas-barusannya. Haruskah kucatat di sini akhirnya aku berhasil memasangkan tikus blutut Mikrolembut pada Asus E203M-ku. Jadi apakah ini menjadi semacam hadiah ulangtahun yang dibeli mendahului. Aku tidak suka Arina, kau pikir kau cerdas-barus begitu. Ada juga aku iri ‘sih. Seharusnya aku yang begitu. Bagaimana kalian bisa sampai begitu, sedangkan aku harus berusaha jadi semacam dosen begini. Mana perutku tumpah-ruah begini, seperti Yang Memuakkan. Ini mengapa tiada habisnya.

Ini lagi. Nona entah siapa aku tidak mau tahu lagi, seperti aku tidak ketemu juga nama orang tua berjenggot panjang di kursi roda itu. Selama ini aku memang hanya menipu diri sendiri, ketika melihatnya menggendong hasil perbuatannya. Aku ini memang memuakkan. Bauku jijik begitu, seperti nanah berbakteri rajasinga. Astaga bahkan untuk ini saja aku tidak pantas, terlebih menjadi duapuluh bakat teratas. Teknik permainan bassku mungkin tiada seberapa, namun jika bicara penghayatan, bisa jadi aku unggul.

Apakah aku memang tidak pernah mendengar yang secantik ini, atau sekadar suasana hatiku sendiri di sore hari yang mendung ini. Bisa saja kukatakan tidak ada yang istimewa dari Bang Is, meski jelas karyanya sudah dinikmati begitu banyak orang termasuk diriku sendiri. Sedangkan Bang Is yang gendut itu sudah tamat riwayatnya. Tidak lagi ia akan terlihat bergentayangan di sepanjang Jalan Sawo balik rel. Segalanya hanya akan begitu, terutama diriku dan segalanya yang kubenci terlebih yang kusukai.

Apa ini harus tujuh, kesakitanku, ketergangguan-jiwaku, ketumpahan-ruahku, semua beraduk jadi satu. Haruskah aku menamatkan Bukan Pasar Malam ketika seharusnya kuselesaikan laporan penelitian lapangan. Mendengar-dengarkan begini seperti di Amsterdam, padahal aku di sini, engkau di sana, memandang langit yang sama, menonton iklan-iklan dari yang jadul sampai pawang hits. Itu dari tahun lalu, bagaimana tahun depan. Boa edan! Mengapa pula harus selalu memaki, mengapa harus terasa sendu. Mengapa harus berkedut-kedut mendengar kata itu, mana bisa ada bedanya.

Sungguh. Tanpa diresapi pun akan segera terasa betapa ketokaian-ketokaian bertebaran di mana-mana, meski mungkin ini semata-mata akibat aktivitas hormonal belaka, seperti jerawat atau bahkan bruntusan di wajah. Aku muak! Aku jijik! Salah, dong. Aku memuakkan itu yang benar. Aku menjijikkan itu yang benar. Heh, mengapa kauberi garis-bawah dua begitu, sedangkan dari tadi sudah begitu banyak salah eja yang kubuat. Tentu saja karena kita berbicara tidak dengan bahasa yang sama. Sudah. Rusak, tidak bisa diperbaiki lagi.

Sunday, July 28, 2019

Entri Kesebelas yang Ditulis di Bagasnami


Mengapa harus malu jika ternyata sebuah entri memang suatu retroaksi. Yang harus malu itu justru kalau celana karung sudah tidak sanggup menampung perut. Padahal seharian ini hanya makan nasi uduk lengkap dengan telur balado, bihun, tahu semur, sambal dua macam beserta kerupuknya sekali, dilanjut sebotol V-Soy multigrain dingin, lantas bakwan malang lengkap dengan dua macam mie. 'Duh, harus diet 'nih. Tidak bisa lain. Dari kemarin cuma rencana saja makan havermut, nyatanya tiap bangun pagi masih juga mencongklang Skupi nyamperin nasi uduk. Mari jadikan kenyataan malam ini! Body goal akhir Agustus!


Demikianlah maka hari ini kami berkendara Gnebkan menuju Bagasnami. Agak kesiangan, karena sampai di Bagasnami sudah hampir dhuhur. Tiada berapa lama memang aku mengayun langkah ke al-Mustaqim yang, di tengah cuaca terik sekitar 36 ˚C, mengemposkan sekitar delapan sampai sepuluh pendingin udara berkekuatan setidaknya dua tenaga kuda masing-masingnya. Sepulang dari situ dengan badan agak meriang disko, aku mampir di warung beli beberapa macam Aice, namun terutama sekali moci durian agak dua biji, satu untuk Mama, satu untuk Tante Lien.

Sesampainya di rumah, Ihza denger 'aja kalau sedang ada bagi-bagi es krim. Jadilah ia dapat yang jagung, Cantik yang semangka, sedang aku cukup Teh Javana Gula Batu saja. Sambil menikmatinya, aku makan sayur asam dengan kerupuk kulit melempem sampai habis tiga perempat kantong. Menunggu jam satu siang, kami tidur-tiduran. Cantik tidur beneran, sampai akhirnya kami berangkat ke Transmart jam setengah dua. Afi sedang belajar bersama di rumah temannya. Ia tanpa membuang tempo segera pulang ketika diberitahu Oma Lien akan belanja bulanan.

Demikianlah maka kami berangkat berempat: aku, Cantik, Oma Lien dan Afi. Sesampai di sana Cantik mengantuk ingin ngopi, maka dipesannya secangkir cappuccino, untukku segelas susu hangat manis beraroma vanila. Aku menemani Afi membeli Chatime. Sudahlah mengantri, begitu sampai di depan kasir katanya kami masih harus menunggu 25 pesanan. "Edan!" Aku segera balik kanan, untunglah Afi mau mengerti. Ketika kutawari beli sesuatu dari kedai tempatku nongkrong, kata Cantik, "engga 'lah. Kalau untuk anak muda ya Chatime itu." Benar juga. Maka tidak jadi.

Seraya mereka bertiga belanja bulanan, aku mengetik komentarku terhadap umpan-balik Laurens. Untuk apa benar aku tidak tahu, namun sungguh lancar sekali mengetik di tempat-tempat sedemikian. Mengetik di kampus, terlalu banyak orang kukenal di situ. Sedikit-sedikit menyapa, mencolek, mengobrol, sehingga mengetiknya pun sedikit-sedikit. Di kedai kopi ini, meski sebentar agak lumayanlah yang kuhasilkan, sambil sekali-sekali mencecap atau menghirup susu manis hangat beraroma vanila. Menariknya, tiada kembung, sedang coklat kali terakhir mengembungkan.

Bagiku antara tidur-tiduran, tidur sungguhan sampai mengobrol dengan Mama dan Tante Lien sekali. Adalah sedikit ditingkahi Damai Indonesiaku, yang akan menjadi kenangan manis ketika harus kembali menjalani hari-hari Amsterdam yang sepi. Akhirnya menunggu sampai maghrib baru berpamitan pulang. Tidak langsung ke rumah, Gnebkan mengarah ke Pesona Square: Afung Phetshop! Badan agak kurang endeus, kuah Afung Phetshop pasti akan terasa sungguh mayestik membasahi kerongkongan, dengan sensasi kenyal-kenyalnya gepeng-gepeng, nikmat.

Aduhai, benar belaka! Belum lagi ditutup dengan Es Nona manis yang berbuah pepaya, kacangnya merah. Daripada nona lebih baik es nona, karena jijik. Takutnya bau, itunya. Najis ngapain juga nyium-nyium itunya. Amit-amit! Aku sampai berdoa-doa dalam hati, aduhai, betapa besar nikmat yang kurasakan ketika itu. Namun bagaimana dengan perut yang sudah tidak tertampung celana karung ini. Memang ada waktu-waktunya begitu. Insya Allah, dicoba tanpa dipaksa bisa sendiri. Setidaknya sebelum harus ditimbang di pos perawat. Malu 'dong, 'yekan.

Friday, July 26, 2019

Untuk Sebuah Togar. Sepucuk Surat Ini


'Gar,

Karena ini sebuah surat, aku harus berusaha membuatnya koheren. Meski kuat sekali dorongan untuk mengomentari kata pembuka surat ini, aku harus menahannya. Demikian pula kenyataan bahwa aku baru minum fanta stroberi campur seprit tapi ada nata de kokok sama telor kodoknya, bagaimana aku bisa tahan menghadapi segala inkoherensi ini. Sedang aku sendiri harus koheren, aduhai! Ini adalah sebuah surat untukmu. Meski kuat sekali dorongan untuk menjelaskan kau itu apa, aku harus menahannya. Ini adalah sebuah surat, dan surat harus koheren.


Meski kuat sekali dorongan untuk memastikan estetika, apa itu berarti aku peduli kosmetika, terlebih komika. Tentu tidak. Langsung saja. Apa kau sudah gila membiarkan Nesya melahirkan anakmu. Aduhai ingin sekali aku menambahkan tanda-tanda baca sekadar penegas, namun kau tahu 'kan sikapku pada tanda baca. Mereka mengganggu estetika! Atau logika. Atau kesehatan jiwa. Lalu kau membiarkannya tinggal di rumah membesarkan anakmu, untukmu. Dan jika ia suatu hari nanti ingin meninggalkanmu, kau katakan padanya, tinggalkan anakku padaku.

Hahaha... kau bisa menukas aku lupa minum obat. Aku tidak pernah minum obat. Parasetamol pun tak. Namun aku memang menggugatmu. Kau apakan anak perempuan... aduh, siapa pula nama Bapak Nesya itu, yang pernah kau sebutkan. Kau suruh ia melahirkan, merawat dan membesarkan anakmu. Apa ia mau. Nah, kini mengenai anak-anak perempuan, tentu saja terlahir dengan naluri merawat dan membesarkan anak. Jangankan manusia. Simpanse pun, ketika kepadanya diberikan anak kucing, didekap dan didekatkan pada dadanya, seakan menyusuinya.

Tiba-tiba saja aku kehilangan selera menggugatmu. Aku sudah tidak peduli, sebagaimana aku tidak pernah peduli apapun, mengapa manusia, sebagaimana seluruh alam ciptaan yang senantiasa genap, berkembang-biak. Biarlah mereka mau apa saja. Titit sendiri saja sudah cukup menyusahkan, mengapa harus memusingkan titit-titit yang lain. Kau pasti tahu ini tidak semata mengenaimu, karena aku memang tidak pernah memberikan kehormatan semacam itu pada siapapun. Aku menekuri seluruh alam ciptaan, dan penghormatanku hanya pada Sang Pencipta.

Tahukah kau, 'Gar, aku menulis surat ini seraya mendengarkan lagu-lagu dari masa kutika testosteronku masih baru diproduksi, masih segar-segarnya, kental-kentalnya. Mungkin karena itu aku jadi goblok. Namun, seperti diingatkan Hari pagi ini, aku memang pongah karena belagak bego. "Gua ga pernah belagak bego. Gua emang bego." Begitu kata Hari. Ini lagi! Mengapa kau biarkan Dita melahirkan anakmu! Kalau Kusmasai tidak usah dibahas lagi. Kalian semua membuatku berduka. Buat apa kalian berkembang-biak. Biar apa. Ini berlaku juga untuk Sandoro. Kau dengar?!

Lalu apa, aku harus berharap pada Ega atau Liked begitu. Tidak. Sebenarnya aku meratapi kegagalanku sendiri. Aku gagal mencegah diriku sendiri berkembang-biak. Terlebih horor, aku gagal mencegah diriku sombong. Kalian mendomestikasi perempuan-perempuan. Anak-anak kalian pun perempuan! Relakah, ya, ikhlaskah kalian anak-anak kalian didomestikasi oleh titit-titit macam kalian! Ini sudah memalukan. Seharusnya kita keluar sana memapas leher-leher celaka tempat bertengger kepala-kepala durjana. Namun disini aku mencaci-maki titit.

Sekejap tadi aku hampir bercerita padamu mengenai Fawaz yang mungkin berbakat menulis. Ia menulis mengenai Dery Tadarus si Tupai yang menemukan seekor landak beku lantas mencairkannya. Dery menghadapi dilema, haruskah ia mencairkan dan membiarkan landak itu hidup, atau membiarkannya beku dan menyerahkannya ke museum untuk meningkatkan nilai sejarah. Betapa surealis! Betapa impresionis! Ia belum lagi pernah membaca Kemacangondrongan sudah begitu. Semoga titit Fawaz dijauhkan dari kemesuman yang pernah melumuri titit-titit kalian.

Bono

NB. Fawaz pun bukan anak biologisku. Aku pernah dimarahi Prof. Anna Erliyana karena mengatakan "anak kandung." "Kandung?!" kata Prof. Anna, "emang kamu pernah mengandung?!"

Thursday, July 25, 2019

Latihan Dasar Kepemimpinan Jamur [Biawak!]


Bagaimanapun, terlalu banyak hubungan percintaan bisa bikin pusing, 'yekan. Bahkan kata Predi Airkeras kebanyakan cinta bisa membunuhmu. Ah, doi sih emang parahnya tingkat dewa[sa]. Sukurlah aku tidak sempat menonton pelemnya. Bahkan, sebelum pelem itu diputar di salah satu kanal pelem yang disediakan Nekmedia, eh, promonya abis. Jadilah belum ada kesempatan padaku untuk menontonnya. Ahai. Tadinya aku menulisnya dengan “y” koq terlihat seperti itu ya. Langsung kuganti dengan “i”. Lagipula ahainya nanti saja di paragraf berikut.


Nah, baru ahai! Ini adalah kali pertama aku menggunakan kibor BT Minisok. Semoga langgeng ya hubungan kelen, Minisok sama HP Strim 8, sampai kaken ninen. Astaghfirullah. Apa yang salah dengan diriku pagi ini. Ini bukan pagi bodoh. Ini sahur dan kamu malah mainan beginian. Bagaimana mau dapat Ismul A’zhom begini caranya. Terbangun sekira jam empat gara-gara kentut terasa ada ampasnya. Daripada kasus maka terhuyung-huyung ke WC. Aduhsai terrnyata memang ampas melulu. Mengapa sampai begini Stipwong.

Ngomse-ngomse, aku suka entri ini. Banyak sandinya. Apa perlu kusandi yang berikut ini. Sekali lagi biarlah yang kuingat adalah Ismul A’zhom. Ini gara-gara kemarin malam mendengarkan pengajian al-Habib Muhammad al-Habsyi. Yang kayak apa sih orangnya. Entah. Jadi kemarin beliau bercerita mengenai seorang santri yang ingin mendapatkan Ismul A’zhom untuk dirinya sendiri. Kata kyainya, lebih baik kau ke pasar sekarang dan amat-amatilah keadaan. Maka pergilah si Santri. Di pasar ia tidak melihat apa-apa. Semua biasa saja.

Tukang soto masih jualan soto. Tukang tahu masih jualan tahu. Ia sendiri masih tidak punya uang. Duh, kenapa Kyai menyuruhku ke sini, tidak dibekali uang pula. Pendek kata, tidak ada yang istimewa di pasar hari ini, kecuali… ya, kecuali, ada seorang gagah berbelanja di pasar menyewa jasa seorang kuli yang sudah renta kurus pula. Ia yang gagah itu berjalan melenggang sementara semua belanjaannya dibebankan pada punggung si Kuli Renta. Si Kuli jangankan memanggulnya, jangankan melenggang…

…tiap kali menaikkan tambahan belanjaan Tuan Gagah ke punggungnya, napasnya tambah tersengal-sengal. Sampai pada suatu kutika, si Kuli sudah benar-benar tidak berkutik. Kakinya gemetar menahan beban di punggungnya. Ia tidak sanggup lagi beranjak barang selangkahpun! [tanda seru sekadar dramatisasi] Demi melihat ini sang Tuan Gagah, bukannya menolong si Kuli, malah menghardik seraya menendangnya sehingga barang-barang belanjaan beserta pemanggulnya sekali centang-perenang di lantai pasar becek-bertanah. Si Kuli renta gopoh-gapah berusaha mengumpulkan belanjaan, menaikkannya lagi ke punggung.

Beringsut-ingsut kaki tuanya gemetar mencoba mengikuti langkah panjang sang Tuan Gagah. [entah bagaimana di titik ini aku teringat almarhum Abangnda Hidayanto Budi Prasetyo. Semoga Allah melapangkan kuburnya] Sekembalinya di pesantren si Santri ditanya oleh Kyai. “Jadi apa yang kaulihat di pasar?” Tidak ada, ‘Yai. Semua biasa-biasa saja kecuali ada seorang kuli tua… maka berceritalah si Santri mengenainya. [di titik ini entah bagaimana napasku yang terengah-engah. Masya Allah, adzan shubuh baru selesai berkumandang. Aku harus beranjak]

Nah!” sergah Kyai, “jika orang itu punya Ismul A’zhom, apa kira-kira yang diminta olehnya pada Gusti Alloh?” Woo… tak dungakno sikile cuklek, dengkule ambleg, matane njeblug, sirahe njepat… dan masih banyak lagi, tukas si Santri. “Itulah sebabnya sampai hari ini kau tidak punya Ismul A’zhom.” Lho, mengapa begitu, Kyai? Kuli tua yang kau lihat di pasar tadi, itulah guru yang mengajariku Ismul A’zhom. Segala puji hanya bagi Allah. Keselamatan, kesejahteraan semoga senantiasa tercurah pada RasulNya.

Saturday, July 06, 2019

Nasi Kongtol! Ini Semacam Penolol yang Menolol


Sanggupkah aku tanpa menyumpal kuping. Pengeras suara sudah memperdengarkan suara-suara yang seharusnya akrab dan kondusif, namun selebihnya adalah geremang dan hiruk-pikuk pasar. Aduhai perut engkau begini amat. Betapa sulit melaksanakan apa yang diwejangkan oleh khatib Jumat kemarin. Terlepas dari apapun ini sudah jam empatbelas dan Cantik sedang sopang-soping, dan mataku sempat terpejam. Sudah dapat diduga bahwa hasilnya akan sebuah entri, jikapun berhasil, karena rasa ini sudah cukup lama. Ada 'lah beberapa hari.


Rasa seperti ini sudah masuk Juli. Apa tidak malu memulai hari bersama Santo Fransiskus dari Asisi, sedang menikmati pemandangan begini. Tidak sampai menikmati, karena memang selalu ada dalam benak. Sebenarnya tadi yang terlintas adalah "di hati." Aduhsay mengerikan betul. Tentu saja mengerikan seperti perutmu. Bagaimana mau menghentikan jika baru saja kaujejalkan donat berlapis gula. "Gula 'kan makanan [sel] kanker," demikian tukas Mbak Yuli FHUI '87, maka sepiring penuh kulit berlemak ayam goreng?! Apa yang terasakan ini. Oh.

"Hei, Dayang, apakah kau mau kunikmati madumu," atau semacam itu. Di kamar berhantu yang bisa besar hantunya, dengan irama bossas begini. Masih sama saja dengan waktu itu, sekira 30 tahun yang lalu. Apakah itu konser Rainbow, entah VHS atau Betamax itu. Sedang tepat di setentangku pasti orang baik dia, apalagi kalau sampai sekadar bawa motor. Aku tidak lihat tanda-tanda kunci mobil. Sedang menyisir rambutnya yang lembab itu, terjatuh jepit rambutnya itu. Tidak akan ada selesainya dunia ini, begitu saja terus. Sungguh enggan membicarakannya.

Tidak, untukku sudah cukup. Betapa nikmatnya berdua-duaan dengan Quran. Qurannya sendiri mudah, istiqomahnya itu yang sulit. Jika tidak sanggup satu halaman setiap habis shalat fardhu maka setidaknya setiap hari. Entah hitungan mana yang menghasilkan khatam dalam empat tahun, lengkap dengan arti dan tafsirnya lagi. Hei, ini apa nasihat mulia begini kaurekam dalam comberan! Sungguh baik, sungguh sangat baik. Dapat kulihat, kau dan aku akan menjadi sangat baik. Tak satu saksofon pun 'kan membahagiakanku, karena aku tidak bugar seperti Kolonel Sigit.

Selain itu, mereka berdua anak yang baik. Semoga mereka bersikap baik juga kepada kedua orangtua mereka, dan kepada siapapun orang tua, bahkan yang gendut, botak dan mesum seperti aku ini. Aku tidak yakin dapat menyelesaikannya tanpa harus terbirit-birit. Boro-boro sehalaman. Perut ini dahulu dibereskan. Ini sudah sangat mengganggu. Bagaimana caranya. Ya Allah, hamba mohon pertolongan. Benarkah hamba masih mengandalkan bahkan diri sendiri. Di comberan sekalipun, dalam kubangan dosa ini hamba memohon hanya kepadaMu, kepada siapa lagi?

***
Masih saja adalah kata-kata yang begitu saja terlintas, meski Matt seakan mengeluh, seandainya aku tidak akan lagi menyanyikan lagu lainnya, dan ber-lalala. Ini menarik, tanpa sengaja dimulai dari Skylark yang sangat sulit untuk diikuti. Musim semi sekarang, di sini? Tidak, ini sudah musim panas, dan aku tidak peduli musim yang empat itu. Tidak ada yang benar-benar menarik dari mereka, atau apapun bagi laki-laki umur awal empatpuluhan ini, terlebih ketika mengantar bapaknya kateterisasi jantung, meski tidak jadi. Kuakhiri di situ kalimatnya, agar tidak berlari.

Tinggal lagi duit yang masih menarik, sambil menunggu menyidang skripsi. Apakah kelak menjadi tesis atau disertasi sekali, tidak banyak berbeda. [Duit, duit, duit] Duit bukan sembarang duit. 'Tuh 'kan, aku tidak bohong. Memang ada lagu semacam itu, ya, tidak perlu merasa jijik juga. Hanya memang lucu-lucuan belaka bagi seorang pangeran yang sudah tidak punya keraton. Yang hanya bisa menunggu datangnya Pak Patrick Fatruan, tanpa daya, di Pintu Keluar RSPAD. Yang memang hanya satu itu, bukan tiga. Daripada berlari, baik "yang" memulai kalimat tak apa.

Saturday, June 22, 2019

Rama Bharata Lakshmana Shatrughna. Anoman


Apa kau pikir seperti Forrest Gump begitu, lucu. Ini Cinta Sejati mengapa 'lah melonjak-lonjak berjedag-jedug begini. Ini suatu onomatop, dan anak tolol itu minum obat-obatan penenang. Semua kebat, segalanya kebit. Rayapnya mati. Lebih baik begini. Lalu empat tiga itu bagaimana. Aduh, mengapa begini selalu entri. Bahu untuk Menangis Padanya, adalah jip hartop berembun. Aku masih ingat dingin-dinginnya Tangerang Kota akhir '80-an. Bagaimana aku tahu jika hampir 30 tahun kemudian begini jadinya.

Hatiku dipenuhi begitu banyak cinta dan aku membutuhkan seseorang yang dapat kusebut sebagai milikku sendiri. Tolol ini daftar-main! Tolol, terlebih setelah bertemu dengan orang-orang hebat. Aku sianjrit! Adalah ruang entah apa peruntukannya, yang jelas ada interkomnya. Yang jelas muda. Dungu. Apa lebih baik jip biru dengan gambar elang garuda di atapnya, berbasah-basah ia dalam bak WC yang alangkah gelap dan kunonya. Namun nyaman, senyaman masa kecil itu sendiri. Hanya lebih tua beberapa tahun dari Adjie sekarang. Pemuda Pemalu. Itu aku dulu.

Karamel garam batu adalah tunggalnya kacang Karebia. Aku tidak sembuh-sembuh dari dongkol padanya. Seorang perfeksionis mustahil tinggal diam pada suatu Pagi Sunyi. Ahaha kembali ke musim kemarau pinggiran Tangerang Kota. Ke arah Karawaci sana, sampai hampir Legok, Angris, bahkan Bojong Nangka yang pernah demikian akrab, seperti halnya tas merek Rina Rini. Habis kalian! Tamat! Seperti empat kios sepatu. Terjerat utang, hancur keluarganya, sedangku mengepung martabak telur, dilanjut sate padang, untukku mie aceh tumis udang.

Ini bahkan di mulut saja tertinggal rasa asam, apalagi di lambung. Sudah cukup lama kunikmati berbagai sasetan, jika sekarang sudah tidak bisa, mengapa mengeluh. Kau Membuatku Tersenyum Lagi, kau siapa. Sedang solusi Firdaus Adi Nugroho bagi kemunculan dua kali orang yang sama adalah di APL ada yang kembar, aku gendruwo. Cinta-cinta'an engga 'ah. Jika aku tidak tahu malu, maka kucatat di sini ikan tongkol lumayan gemuk dimasak entah apa, masih daging semur, kentang balado, karedok, dikuahi soto betawi. Enak, dan aku bayar hanya mape'ol. Aqua gelas.

Satu kesamaan bukan alasan untuk menyapa. Semua orang yang seumuran punya nasib masing-masing, tragedi dan komedi semua terbagi rata. 'Kuyakin. Yang lebih muda, bahkan yang masih kanak-kanak semakin tak terjangkau. Aku jangan egois. Membantu orang lain itu lebih baik. Siapa. Siapapun yang terlebih sampai meminta padamu. Aduhai aku jadi teringat mape'ol lagi. Ini apa semua 'sih. Semua juga tahu bahwa seharusnya semua ini apa, sedang partikel "sih" sekadar penegas, begitu kata Nikodemus Yudho Sulistyo. Soledad njot-enjotan, maka sudah tidak.

Lantas mengapa harus disesali jika ternyata cebong. Cebong dan kampret hanya variasi, sekadar konsekuensi ciptaan. Sampai di sini aku merasa seperti kehabisan bahan bakar, yang bagiku tidak ada bedanya apakah bensin atau solar sekali. Aku bahkan enggan mendaku. Kalau mengaku aku masih mau. Mendaku tidak. Ini menjadi semacam dadaisme. Tidak. Menurut Cantik leluconku sarkas, sedang ada orang yang merasa sarkas, aku tidak. Mengenai orang lain saja. Buat apa. Mengapa benar harus tujuh. Entahlah. Penjelasannya selalu saja mengandung aku, enggan aku.

Baik mari dicoba. Sepi bukan hampa. Kesepaan bukan kehampian. Ini hampa bukan sepi, jika demikian maka ngeri. Ada baiknya segera bergegas setelah ini, siapa tahu kehampian pergi. Apa perlu dicatat di sini kebahagiaan mengenai hidup kembali, memang pernah mati. Jangan-jangan segala sesuatu memang selalu hanya seperti ini. Apa yang disangka belum tentu apa yang terjadi. Segala caci tiada lain upaya kerendahdirian untuk bersembunyi. Jadilah Si Murah Hati, berbesar hati. Siapa tahu ganjarannya sepi. Sepi yang terpuji, karena didalamnya ada hati yang suci.

Saturday, June 01, 2019

Entri Kesepuluh yang Ditulis di Bagasnami


Ini suatu tonggak! Entri kesepuluh yang ditulis di Bagasnami. Kurasa tentu lebih dari sepuluh kali aku ke mari, namun yang didokumentasikan sudah sepuluh. Entri tidak lain sesungguhnya ciptaan yang tidak sempurna, semacam buatan Frankenstein begitu. Sebelum ini aku sempat terpikir ragaan-ragaan Sindhunata mengenai ketidaksempurnaan. Namun aku sedang merasa enggan berolok-olok malam ini, apalagi mengabadikan kejadian dari waktu ke waktu. Lantas mengapa menulis entri. Aku ingin dan memang harus menulis, namun situasi dan kondisi tidak mendukung.


Mungkin ada yang bertanya, (halah!) mengapa melompat dari delapan langsung sepuluh. Sebenarnya yang kesembilan ada, tapi ia diberi judul khusus, yakni Pengalaman Pertama Tarawih di al-Mustaqim. Ya, inilah Entri Kesembilan yang Ditulis di Bagasnami, namun dengan judul khusus. Bukan berarti dalam kunjungan-kunjungan lain tidak ada yang khusus. Tarawih, apalagi di al-Mustaqim, harus diabadikan. Biar kutulis pula di sini bahwa kali ini aku gagal. Di tengah-tengah kotbah sebelum tarawih, dengan berat hati (halah!) aku harus meninggalkan masjid karena dingin.

Betapatah tidak dingin, ruangan bagian depan mesjid untuk jamaah laki-laki saja disembur 12 (duabelas) unit pendingin udara, entah berkekuatan berapa daya kuda; sedangkan pada malam ke-28 Ramadhan ini jamaah sudah tinggal setengahnya. Beberapa malam lalu masih agak lumayan, atau karena aku mengenakan Dani Dahlan Koleksyen, aku tidak tahu. Entri ini bisa jadi mengenai dingin, semoga aku sehat-sehat saja, karena memulai hari saja aku sudah dingin menempel pada lantai kamar Si Gendut. Entahlah. Aku pernah mengalami yang jauh lebih buruk dari ini.

Amit-amit jangan lagi, kapankah itu. Aku hanya ingat, di bawah teriknya matahari membakar, aku memacu Vario Sty dari Bagasnami sampai Jalan Radio. Seingatku, di Jalan Soepomo aku sempat membuka resleting jaketku untuk membuang panas tubuh, yang berarti mengekspos dadaku pada semburan angin panas. Uah, tidak sanggup lagi aku. Itu, padahal, baru beberapa tahun yang lalu. Mungkin lima tahun. Lima tahun baru. Itu sudah banyak. Sanggupkah aku membayangkan lima tahun ke depan. Sampai hatikah, aku mengetik di teras Bagasnami yang disalon jadi sulap.

Bicara mengenai sampai hati, semoga hatiku tak sampai-sampai. Ketika masih muda dan dungu pun, hatiku tidak pernah benar-benar sampai. Ya, beberapa kali, cukup sering bahkan aku terjerumus. Ingatkah kau akan suatu siang panas bercelana pendek hitam ada kuning-kuningnya, yang di dalamnya ada kancut jala-jala. Berjalan menyusuri hampir ke Condet sampai kembali ke Tanjung Barat pasti membuat selangkangan bau. Lancar sekali kau melukiskannya, beberapa kali lagi. Jagad Dewa Batara! Mengapa sampai hatimu, ini kalimat tak lengkap tak bertanda-tanya.

Kini ketika tamu-tamu berdatangan, mengapa masih ada. Langsung saja kuhapus ragaan payah, ini malah tambah menjijikkan. Ini Ramadhan! Akankah ada lagi entri mengenai Ramadhan yang pergi karena kuabaikan. Haruskah di entri yang terhormat ini kuakui bahwa Ramadhanku 1440 H hancur lebur gagal total. Menahan lapar-hausnya, tapi selebihnya. Apa. Bahkan sampai lupa berulang-kali ini sudah berapa. Di tengah siang hari bolong tidak sanggup menahannya, dengan apa akan kuganti tenaga jatuh cinta. Jangan salahkan sesiapa karena memang tidak pernah ada sesiapa.

Ini entri tanpa tanda tanya, mengenai ketidaksempurnaan. Aduhsay, kurang ajar kau kata ini tidak sempurna. Apa jadinya. Lebih baik kau ingat ketololanmu dengan legendaris mesin tik hijau. Tolol bahkan tanpa keras kepala atas, namun masih sanggup bawah. Ini jelas pengaruh Baton Huda, mengapa kau bawa-bawa ia. Mesin tik hijau, kopi Kapal Api aneka warna, teh mawar, berbungkus-bungkus, berslof-slof bahkan rokok aneka merek. Itu tolol, seperti sekarang ini. Meski sudah Asus X450C, meski sudah merah masih tolol! Ini tak ubahnya, hanya tidak dikirim, sisanya sama!

Friday, May 31, 2019

'ngGeus! Ruksak Hari ke-26 Ramadhan-nya!


Begitu saja aku menekan tombol "new post" seakan tak peduli. Terlalu banyak jenderal ini, daimyo itu beberapa hari akhir-akhir ini. Ini suatu Jumat malam dan ada sambrahan. Apa karena ini Jumat terakhir bulan ini. Manja! Tidak pakai tanda seru juga 'kali. Aku apa. Aku tidak ingin memikirkannya. Lantas apa yang harus diceritakan, masa Cerita Rasa. Mie goreng Jawa-nya seadanya. Tempe mendoan bolehlah, tapi untuk tempat semewah itu. Semuanya bisnis belaka, lantas aku bisnis apa. Aku semata orang gajian. Pengusaha roti rumahan pun memandangku enteng.


Apa semacam pipel pawer enteng-entengan. Yang jelas ini edan-edanan, suasana yang ditimbulkannya. Terlebih dengan kesan dikelilingi Hamdi, Sandy, Takwa dan Steve. Orang-orang hebat ini. Dan Mas Santo begitu saja merusak suasana dengan pertanyaan teoritisnya. Sementara kopi ginseng miwon memperparah dengan menciptakan huru-hara dalam lambung dan kerongkongan. Intinya, suasana hati rusak, namun aku tetap memaksakan menulis. Hanya mungkin terhadap entri. Apapun yang lebih serius dari ini akan gagal total. Siapapun adalah perusak suasana hati!

Namun mari kita coba perbaiki sambil terus berlayar. Mau tak mau aku ingat pada usaha-usaha sia-siaku. Adakah aku percaya sepenuhnya, menumpukan semua harapan padanya, tidak juga dan tidak pernah. Ini pula mengapa habis rahasia-rahasiaan langsung meratap-ratap begini. Mau memaksaku melakukan aerobatik perasaan. Ada di dalam Kemacangondrongan ini beberapa catatan mengenai proyek-proyek kecil yang nyatanya menguap begitu saja di kemudian hari. Akhirnya aku tidak tahan sendiri dan menggantinya menjadi... jiah, mengapa keroncong.

'ngGeus! Ruksak! Mulai lagi dari awal. Satu rumah petani yang letaknya kurang tepat saja dapat membuatku menghancurkan sama sekali sebuah peradaban. Jangankan yang baru mulai tumbuh, sudah abad pertengahan, bahkan abad pencerahan sekalipun aku tidak peduli. Aku ingin bertemu orang yang benar-benar tahu gunanya penerbitan ilmiah, meyakini bahkan mempraktikkannya; karena aku malah terus-menerus membaca cerita khayal. Seakan itu tiada guna, hanya boleh jadi selingan. Kalau tidak berguna mengapa begitu membekas. Mengapa justru membentuk diri.

Entri ini pun, dari segala apapun, tak berdaya. Mengapa pula harus empat. Apa salahnya jika tiga. Mengapa tidak memperingati Hari Pancasila saja. Tidak. Ini memang untuk mengakhiri Mei, maka tepat di harinya yang ketigapuluh satu. Benar memang semata agar empat. Tidak ada alasan lain dan tidak ada pembenaran. Meski angan tiba-tiba melayang ke Armada, yakni, antara gerbang Cimone Permai dan Cimone Mas Permai. Dari masa kecilku, ketika aku seusia kambing balap bau ketonggeng. Begitu saja kuhapus dan aku tidak mau lagi berdoa di sini. Setan atau hantu pocong.

Aku lantas menemukan diriku berulang kali mengecek pratinjau. "Khayalanku tak berdaya, hanya satu impian semata. Khayalanku hanya Bu Susi." Ini juga ciptaanku sendiri. Tidak pernah benar-benar ada yang begini. Ini semata olahanku atas paradoks-paradoks kecil. Apa setelah ini aku mampu berfungsi. Apa yang mau kusalahkan kini. Puasa. Puasa yang sembilan belas jam itu, jika demikian, lebih salah dari yang lebih pendek lima jam ini, di sekitar khatulistiwa. Tidak tahu diuntung. Mau kucaci bagaimana lagi diriku sendiri, bahkan ini saja sudah tidak nikmat.

Sudahlah, tidak perlu kaucaci kurcaci pemakan kwaci. Jika memang sudah berlalu kenikmatan itu, biarkan. Berarti memang harus lanjut ke yang berikutnya. Perasaan tidak merasa apa-apa itu pun sudah tidak apa-apa, demikian Sersan Elias menasihati Chris sambil menikmati asap nirwana. Aku sebenarnya lebih Sersan Barnes dalam hal air api, namun ketuaanku sudah tidak mengijinkan. Jangankan air api, air neraka, asap tembakau saja sudah mengiris-ngiris lapisan epitel lambung. Tidak merasa apa-apa, itu saja yang masih dapat kauharapkan. Meski Proyek Alan Parson, kini.

Monday, May 27, 2019

Pengalaman Pertama Tarawih di al-Mustaqim


Tadinya aku punya ide entri mengenai pengalaman pertama tarawih di al-Mustaqim. Ilustrasi entri ini pun mengenai hal tersebut. Namun, apakah entri ini mengenai itu benar, tiada jaminan. Betapatah aku masih saja tersepona entah setelah seribu malam, setelah hari itu, sampai aku mengambil alih keterpesonaan Art. Apa betul yang memesona, memukau, sedang hari-hariku kini pun penuh sepona. Aku tidak sepenuhnya suka dengan ini semua. Aku lebih ingin segera menjelang suasana gardu belajar.

Dan berapa kali harus kukatakan aku tidak suka berada di awang-awang. Aku bukan orang yang seperti itu, aku menulis ini seakan-akan ada yang peduli. Pesona itu, pesona-pesona itu mana ada yang peduli. Tidak ada. Rasanya sia-sia. Aku hanya harus maju terus sampai tiba waktunya, semoga pada saat itu aku tersenyum bahagia. Tidak seperti yang dilukiskan Syukran, aku tidak tahu haruskah tertawa atau bergidik kengerian. Di atas segalanya, Aku Bahagia Ada Kamu. Mungkin begitu saja perasaanku sehari-hari. Entah nanti di Amsterdam, tapi itu masih nanti.

Lantas Corcovado. Apa gunanya ini semua bagi korban pelecehan seksual oleh seseorang yang kuistimewakan, meski tampaknya ia tidak mengistimewakanku. Meski Kwarta mengatakan aku terkenal, sehingga tidak mungkin Erikson tidak mengenalku seperti ia tidak mengenal Agus Suryadi. Ah, ini seperti entri yang patut, menyebut nama-nama begitu. Haruskah ada entri tersendiri yang menandai berakhirnya Mei, atau cukup ini. Sepertinya harus, maka ini harus diretroaksi, apalah itu kebalikan darinya kemarin. Lupa. Memang sudah berlalu dariku, kini seorang tua.


Baiklah ini entri mengenai pengalamanku tarawih kali pertama di Mesjid al-Mustaqim, Kompleks Kodamar Kelapa Gading. Ya, semata-mata pencitraan, tidak lebih. Hatiku secara keseluruhan nyaman meski perutku kembung hebat, entah mengapa. Aku sepanjang hari itu mengenakan Kenrical, namun beberapa saat sebelum Isya' kulepas karena basah kuyup. Apa harus dicatat bahwa tiga bohong besar dan dua burger keju paketan tidak dilengkapi dengan saus sambal. Apa harus dicatat pula mengenai adanya sebotol saus sambal yang tidak sebotol lagi. Tentu tidak perlu.

Dan ternyata memang tidak sanggup. Hampir saja aku menulis suatu onomatop di sini, yang segera kuurungkan semata karena aku malas memiring-miringkan tulisan. Nah, ini dia sampailah pada Beberapa Malam yang Memesona. Mau sampai kapan, ini sudah seribu malam. Di sini jauh lebih baik, karena di lain-lain tempat aku selalu terdorong untuk pura-pura waras. Di sini aku bisa semauku. Mengapa orang ingin semaunya. Ingin jadi diri sendiri, ingin bebas. Jelasnya, tidak ada, atau tidak banyak, yang menyukai paradoks-paradoks kecil olahanku.


Nah, ini aku akan menghidangkannya pada Pak Joni Supriyanto. Aku siapa. Sukarno. Hatta. Supomo. Sudah gila apa. Aku adalah Papi yang menjanjikan perayaan pada anak perempuan... siapa. Ironis. Tragis. Aku didoakan oleh bapakku untuk jadi... apa. Itu Mungkin Terjadi Padamu. Oh ya. Apakah "oh ya" begini harus dikursif. Persekusi. Dan entri mengenai pengalaman pertama tarawih di al-Mustaqim ini hancur leburlah. Berbulan-bulan aku buntu begini, untuk akhirnya pada suatu waktu nanti tiba-tiba buyar seperti bendungan pecah. Kata profesor siapa begitu juga.

Hidup Memang Sekadar Mimpi. Nanti ada waktunya kita bangun, dan itu pasti. Aku mengetiki sambil telanjang dada begini. Datanglah kemari pada tanganku yang membentang, mengapa kebatan dan kebitan itu terus saja datang, karena jasadku masih berfungsi. Dan aku bahkan tidak berusaha mengingat-ingat penjelasan Ustadz Abdul Somad mengenainya. Apakah benar, seperti kata Ustadz Gunarsa, aku juga ustadz seperti dia. Aduhai "mabuk ayat," jahat benar kata-kata ini. Biarlah. Aku bahkan tidak ingin tahu apa jadinya, apalagi sampai melaknat. Aku sendiri durjana.

Jika Aku Mencintaimu

Sunday, May 19, 2019

Suatu Hari Waisak Tepat di Tengah Ramadhan


Ini perasaan yang aneh sekali. Di hari keempat belas Ramadhan 1440 H ini, aku terbangun jam setengah sepuluh setelah tidur lagi sehabis shubuh. Udara aduhai panasnya, tigapuluh satu derajat celsius dan berkabut panas. Mungkin karena ini semua aku merasa ingin dibelai-belai. Tidak bisa lain aku mengucap Salam Instrumental pada diriku sendiri. Beginilah maka dengan Tarian Terakhir aku membelai-belai diri sendiri. Kadang aku membatin, tarian macam apa Tarian Terakhir ini, dengan ritme dan melodi seperti ini.


Tanpa disengaja memang pas tujuh lima. Namun, sebelum memulai menulis, aku sempat terpikir, tidakkah paragraf seharusnya berhenti ketika satu pokok pikiran habis. Jika begini terus cara menulisku, aku tidak akan pernah menjadi penulis yang baik. Memang siapa yang menyuruhmu menjadi penulis. Dengan segala perkembangan belakangan ini, aku semakin tidak tertarik pada apapun. Mungkin tinggal dinar dan dirham, agar aku dapat membelanjakannya tanpa khawatir. Aduhai ini Matahari Terbenam Karibia memang... membuai. Buaian seperti apa, akan tetapi.

Apakah Hadi dan Mang Imas, lalu beberapa karung semen dan David Hastiadi dalam suatu pesta, sepertinya perkawinan, yang mewah. Sungguh aneh sekali. Kurasa ini gara-gara tidur dalam suhu tinggi. Lantas roti-roti berisi es krim yang cantik itu, seperti neapolitan begitu, apa karena aku sedang berpuasa. Lumayan sih idenya, daripada es krim korma. Saking terbatasnya imajinasi, beberapa hari ke depan ini menuku adalah gudeg-gudegan, sambel goreng-sambel gorengan krecek, masih ditambah pare berteri dan sedikit udang bersambal.

Semua tidak menjadi masalah. Dengan segala perkembangan termutakhir, jangan-jangan ini caraku meninggalkan kenikmatan rendah. Eits, nanti dulu. Bagaimana dengan Salam Instrumental ini. Ini kurasa masih nikmat, meski aku sudah tidak berusaha menambahnya. Itulah mengapa orang-orang tua suka mengulang-ulang, karena mereka sudah tidak bertambah. Mereka hanya tinggal menunggu, dan itu manis. Apakah masih ada kasih-sayang dan kelembutan cuaca dan iklim bagi mereka. Apakah masih ada sore-sore hari yang nyaman, mengalun, membuai seperti khayalanku mengenai masa kecil.

Ini belum sore, jelasnya. Dan sore ini bisa jadi aku tidak perlu melihat jalan sama sekali mengingat tumpukan persediaanku. Tidak tahu jika Cantik punya ide-ide nanti. Aku bahkan tidak bisa menamatkan semangkuk es teler Snar Guitar. Terlalu berat untukku, apalagi sop duren. Sedang semua grup WA sama saja rasanya, Senin ini aku harus memenuhi janji. Semoga cuaca Senin bersahabat, karena ada kemungkinannya aku harus berbuka di luar. Uah, jelas bukan begitu puasa yang ideal bagiku.

Lantas bagaimana. Apakah puasa dari masa-masa yang lebih muda. Aku bahkan tidak berdaya, tidak ada dorongan untuk mengingatnya, apalagi melukiskannya. Coba saja lihat entri-entriku dari 2007, itu ada mengenai puasa. Namun, tanpa mengingatnya, yang terbayang justru Sopuyan. Mungkin juga Bangded yang kehilangan cinta hahaha. Ya, itu kenangan favorit. Salah satunya. Aku masih ingat rasa badan menunggu buka sambil mendengar-dengarkan Mocca. Itu kali pertama aku berkenalan dengan Kamu, dan aku bahkan saat itu tidak sedang bercinta.

Uah, lancar benar, kecuali selingan memasang saringan keran. Itulah kenyataan hidup, dan aku suka. Sungguh tak terbayang olehku mereka yang masih peduli masa depan, padahal sudah sebayaku. Mereka yang masa kecilnya ditingkahi majalah Bobo. Ahaha, satu lagi kata yang akan sirna ditelan jaman. Majalah. Kemana perginya majalah-majalah masak-memasak, dengan segala fotografi, disain dan tata-letaknya. Itu baru cara ideal merintang waktu menunggu buka, dari masa kanak-kanak. Nah, sampailah aku pada Tarian Terlarang ini, setelah sekian lama...

Sunday, May 05, 2019

Entri Kedelapan yang Ditulis di Bagasnami


Seperti sudah menjadi tradisi, (halahmadrid!) tiap kali kunjungan ke Bagasnami pasti ada entri mengenainya. Mengapa demikian, aku juga sudah tidak ingat. Apakah semata karena agar ada entri berseri, atau setidaknya adalah, di antara entri entah-entah, entri yang koheren. Nyatanya tidak juga, kurasa beberapa entri terakhir mengenai Bagasnami sudah mulai tidak koheren. Aku bahkah tidak ada dorongan untuk memeriksa kapan terakhir ia koheren. Ini mengerikan. Apa bisa orang yang tidak peduli rincian sepertiku menjadi seorang etnografer.


Tuh, lihat. Belum-belum saja sudah tidak koheren begini. Hanya saja harus dicatat, kali ini berkunjung ke Bagasnami tepat pada hari terakhir Sya’ban 1440 H. Berarti nanti malam sudah tarawih. Yang jelas kami belanja bulanan, Afi, Oma Lien, Tante Anthi dan Oom Bono. Kami pergi naik Gokar ke Transmart. Begitu sampai langsung cari makan, pilihannya sop ikan atau burger. Adalah Oma Lien yang tanpa ragu memilih burger. Hari terakhir Sya’ban 1440 H ini, Transmart lumayan ramai.

Demikianlah kami berempat memakan Whopper. Hanya saja, jika Afi, Oma Lien dan Tante Anthi makan Whopper biasa yang paketan, aku memesan Whopperdamaian, yang dalam penampil pesanan ditulis “Damn.” Oom Bono pesan Damn yang ukuran besar, jadi seperti buto ijo begitu, karena memang rotinya diberi pewarna hijau. Aku tidak tahu apakah rotinya juga pedas, yang jelas di dalamnya diberi saus keju jalapeño begitu, jadi agak pedas. Selebihnya tidak seberapa berkesan, atau memang sekarang makanan apapun begitu.

Mungkin tidak juga, buktinya dari sebelum berangkat ke Amsterdam sampai sepulangnya untuk penelitian lapangan ini, aku tidak bisa benar-benar melupakan Stipwong. Apanya sih yang istimewa, entahlah. Yang jelas dalam beberapa bulan terakhir ini aku beberapa kali ke sana. Makanan memang menjadi satu-satunya kesenanganku sekarang. Itupun sudah tiada seberapa. Kurasa waktuku angah-angah makan memang sudah berlalu. Sekarang aku benar-benar sulit mengingat betapa Beef Poverty-nya McD pernah begitu berkesan untukku, sampai kutunggu-tunggu kehadirannya kembali sekitar Lebaran Imlek.

Sementara Oma Lien, Tante Anthi dan Afi berbelanja bulanan, aku menunggu di café terbuka di bawah estanatong, yang aku lupa apa namanya. Tadinya aku memesan chai latte, ternyata habis. Ya sudahlah, cokelat panas saja, yang ternyata sangat bersahaja untuk harga limapuluh ribu Rupiah. Yang penting aku bisa duduk pas di pinggir pantrinya sambil mengetik sesuatu yang [seharusnya] berguna. Bukan entri, yang jelas. Ketika itu, gagasan-gagasan mengalir begitu saja, seperti sekarang ini, meski tidak yakin benar-salahnya.

Demikianlah, selesai belanja bulanan kami pulang ke Bagasnami naik Gokar lagi. Sesampainya di sana aku kembali mengetik, bahkan sampai waktu maghrib lewat. Aku bahkan masih sempat melompat dari duduk bersilaku untuk memanggil mie dok-dok Surabaya. Beli tiga porsi, ternyata Mama juga ikut dahar. Ketika sedang dimasak pesananku itulah hujan mulai turun, makin lama makin deras. Selesai shalat maghrib yang dijama’ qashar dengan isya’, memesan Gokar hanya untuk mendapati tarifnya naik dua kali lipat dari biasanya!

Aku dan Cantik bergolek-golek di bekas kamar Papa yang ber-ac, aduhai sejuknya. Oma Lien dan Afi pergi menembus hujan untuk bertarawih perdana di Ramadhan 1440 H ini. Ihza konon mengeram saja di kamarnya. Sampai setengah sembilan baru harga berangsur normal, itu pun Grab. Berangkatlah kami pulang. Syukurlah kami mendapati Pak Sopir seorang pendiam, jadi sepanjang perjalanan aku dan Cantik saja yang berbincang-bincang. Pak Sopir tidak meningkahi sepatah kata pun. Demikianlah kunjungan kali ini ke Bagasnami.

Tuesday, April 30, 2019

Ada Clepretan Cajun Merah Panas di Layarku


Eksibisi tanpa bergantung pada lima-dua-lima atau pratinjau bisa tidak, 'sih. Ini pulak disambut dengan Bahama Mama, setelah ini apa lagi. Si Anjrit, ini apa lagi, Kehidupan di-remake. Ampun 'deh. Akhirnya kuhentikan semua kecerdasbarusan itu. Kuganti menjadi... Badai! Padahal aku baru saja mendapat kebatan: Kecanduan feromon. Ahaha... ini seperti Debbie atau entah apa, seingatku di Tanjung Barat dan sekitarnya. Feromon, terlebih ditingkahi Jaman Aquarius. Tidak, aku tidak peduli. Lantas kalau bukan lima-dua-lima atau pratinjau, apa patokannya.


Semua ini tiada lain kebodohan masa muda. Siapapun! Tiada terkecuali, tanpa peduli. Sedang membicarakan kebodohan masa mudaku sendiri saja aku sudah tidak seberapa berminat, terlebih membicarakan kebodohan masa muda orang lain. 'ngGeus! Ruksak!

Eh Si Tolol, kamu malah menulis apa. Apa akan kau biarkan yang seperti itu masih mengharu-biru tiap desahan, tarikan dan hempasan nafasmu. Ah, aku benar-benar membutuhkan kegesangan dalam situasi seperti ini. Paradigma Gramscian jelas tidak memadai, apalagi Jimlyan. Untunglah yang menggantikannya bukan ketikanku. Ketikanku ya tiada lain lagi. Sebenarnya akan selalu begitu. Aku kembali di sudut ini, mempertaruhkan aroma alami pakaianku melawan bau gorengan. Hei, kamu harus buat presentasi ‘kan. Apa tidak malu pada Pak Dedi Adhuri.

Lebih ngeri lagi, kamu ‘kan harusnya buat laporan penelitian lapangan. Eh Si Tolol Aseli. Ini malah sekarang duduk menghadapi tulisan “Memasak dengan cinta memberi makan bagi jiwa,” yakni di sebuah warung bakso yang didirikan oleh seorang Ki Ageng. Seorang Ki Ageng atau keturunannya di era dijital ini cukup memastikan agar bakso yang dijual di warungnya sedikit mengandung boraks, lebih dominan dagingnya; hal mana membuatku tak suka. Dan menyelang-nyeling Jembatan di atas Air Bergolak dengan Biarkan, sekira empat puluh tahun lalu mungkin memang jenial.

Bagaimana dengan kini. Cukuplah disyukuri bila malam masih muda sedang sudah lengkap lima kali shalatku dalam sehari ini. Meski perut menggembung seenaknya, setidaknya tidak ada cewek genit yang suka ngerjain bapak-bapak empat puluhan, yang bernama Cinta. Tentu tidak, karena adanya Cantik. Sebuah Bangku, Sebatang Pohon, Seruas Jalan terasa sedap-sedapnya dari empat puluh tahunan yang lalu. Jangankan sampai empat puluh, agak tiga puluh tahunan yang lalu saja Kesepian bisa begitu sedap, meski mungkin mendekati tengah malam, mungkin sekitar jam sepuluhan.

Sejauh ini aku memang tidak menggunakan tujuh-lima, namun belum jaminan aku tidak akan umek dengan pratinjau. Betapalah aku tidak akrab dengan aransemen-aransemen ini, dengan intro-intro yang kudengar sejak kecil, yakni dari musik-musik Ibuku. Ibuku ketika masih perempuan muda, seperti mahasiswa-mahasiswaku kini. Aku melihat mereka seperti anak kecil, seperti anakku sendiri. Kini. Aku memang bapak-bapak botak gendut. Aku bahkan bukan Paman Kakek bertas-perut yang dapat bicara. Aku sekadar bapak-bapak berpecis kaji hitam, kembung.

Jika sudah habis begini bagaimana, Kisah Cintanya. Jika tanpa patokan apapun kapan berhentinya. Berarti benar hampir setiap rilis Ibu membelinya. Bahkan anak perempuanku tahun ini Insya Allah berumur dua puluh tahun. Aku dahulu empat puluh tiga, ia menyusul dua puluh beberapa minggu kemudian. Aku Benar-benar Ingin Bertemu Denganmu, Tuan Manisku! Sedang Tuhan hanya plesetan dari Tuan. Eh Ki Ageng memang beda dari Sayap Berhenti. Namanya Ki Ageng ya harus merakyat dong. nDeso begitu. Jangan kayak tentara jaman sekarang. Entah-entah.

Kalau begini terus lalu kapan berhentinya. Demikianlah ratapan guru SMK yang mirip Suneo. Setelah agak dua hari dirundung pegal linu di sekujur otot dan persendian, kini tinggal tersisa di leher belakang sebelah kanan. Patutlah dicatat bahwa semenjak Jumat minggu lalu Jakarta dan sekitarnya dilanda cuaca ekstrim, yang memancing cebong-cebong untuk bercerowet bersukaria. Yah, namanya saja cebong turunan kodok ya pasti senang jika hari hujan, apalagi malam, terlebih sampai banjir merendam. Herannya, mengapa kampret-kampret sibuk meningkahi cerowetan itu.

Harusnya ‘kusudahi di sini juga. Namun jika 'kusudahi lalu apa. Daripada tidak berhenti sampai Cantik datang menghampir, aplotlah entri ini. Mungkin kau bisa menunggu Cantik kembali dengan segerobak belanjaan bulanan sambil membaca-baca karya eksibisimu sendiri. Apa ini harus ditempelkan begitu saja ke “kecanduan feromon” yang pernah mengilhamimu beberapa hari lalu, ketika masih April. Ini sudah Hari Buruh, berarti sudah Mei. Berarti April hanya punya tiga entri. [Ini mengapa Tante Agatha seperti ada suara-suara munyuk begini ‘sih.]

...tapi 'kuretroaksi

Wednesday, April 24, 2019

Ingin [Rasanya] 'Kuteriak [Woi!] ...Ambyar!


Jiah... sekarang 'udah Digigit Cinta. Mungkin ada kaitannya juga. Mengapa sampai merasa ingin teriak, tiada lain karena digigit cinta. Kena di situnya. Teriak: Woi!, terus ambyar. Serrr... Gitu. Kekurangan itu tidak banyak berarti jika pumpunan tetap di kekentuan. Memang demikian adanya, karena itu semua semata emosi. Adanya tidak semata di mata. Terutama di pendengaran dan juga mungkin penciuman. Pengecap paling asin-asin getir. Peraba 'ya gitu-gitu 'aja. Ini apa kembali saban-saban 'ngecek pratinjau atau sebodo amat. Ini latihan etnografi 'pala lu peyang.


Tiada lagi di dunia ini yang tersisa untuk memelukku. Tiada lagi di dunia ini yang tersisa untuk menciumku selamat malam. Apa bibir yang mecucu 'gitu. Apa memang cowok [sok] pemalu. Sudah lewat semua itu. Sudah berhari-hari aku ingin mengabadikan yang berkebat-kebit. Abadi. Kurasi. Ini entri tanpa tanda tanya. Jika pun ada tanda seru atau apostrof. Akhirnya kuganti daftar-main. Ini terasa seperti ruang flex, mana dingin-dingin begini. Dengan perut membuncit begini, kalimat-kalimatku di sini pendek-pendek. Seperti sok tegas begitu, dan aku belum periksa pratinjau.

Ternyata aku salah. Dingin-dingin begini bukan ruang flex atau bahkan Amsterdam sekali. Ini ternyata adalah dingin-dingin kemasukan. Apa perlu kuceritakan ketololan kemarin, yang mengakibatkan cabikan ayam, sup ayam, sundae cokelat dan ichik ochak. Apa perlu kuceritakan tentang empat batang oncom goreng lengkap dengan semangkuk mie ayam yang aduhai lezatnya di depan Pasar Kenari. Bahkan sebelumnya siomay Kantin Prima dan malamnya masih bubur stasiun lagi. Apa sudah semua. Bagaimana tidak menggelendut, akan kubaca sambil makan roti gandum.

Hitam itu hitam. Tidak kuteruskan ke arah situ, meski "semua nada seperti bercampur dan rasa-rasanya tidak pernah di stem sejak djoksut, tengkyu loh." Pengamatan jeli! Tahun lalu aku menulis nama-nama. Apakah pada sekitar waktu-waktu seperti ini. Apa tiba-tiba rindu Kees Broekmanstraat ketika harus bekerja begini. Kecuali sejuknya udara dan dengungan pembuang udara, memang ada terasa. Perempuan Guantanamo, perempuan Havana, yang mana saja. Tidak ada. Aku butuh badan enak pikiran enak. Aku harus buat laporan bulanan, malah begini.

Ini entri mengapa ditulis Rabu, apa pernah. Pasti pernahlah, sudah bertahun-tahun. Terlalu banyak yang dipikirkan, harus dikurangi. Kalau tidak bisa semua, paling tidak sisakan satu. Ke mana perginya kefasihan, kalimat yang efektif namun mengalir. Tidak ke mana-mana di sini, karena rasa itu pun tiada. Mau apa. Bisa apa. Terkadang terasa namun segera berlalu begitu saja. Ini bukan sekadar masalah hilangnya kebungahan, kegairahan. Ini mengenai cerah cuaca sekeluarnya dari terowongan sebelum Amstel apalagi Spaklerweg, ternyata benar aduhai antimenstrim.

Ini bukan lagi meracau. Ini terbata-bata. Ini bukan lagi persembunyian. Bahkan citraan dan ragaan mengerikan sampai menjijikkan sudah kehilangan sensasinya. Celine, haruskah aku memanggilmu begitu. Dapatkah kau memalingkanku dari antimenstrim, dari nada campur, dari mecucu. Antimenstrim itu yang susah, ketika yang bukan alis, yang tidak di kurva lengkung harus dicukur. Serta-merta aku teringat pada trio candesartan, amlodipine dan bisoprolol. Lantas empat tiga. Empat Tiga adalah lichting-ku di Akademi Angkatan Laut. Ada darah itu padaku.

Ya, aku memang Si Tolol Yang Biasa. Tidak biasanya aku tidak tolol. Aku biasanya tolol. Aku tidak biasanya duduk kedinginan, sedang setentangku ditinggal Papa mengurus STNK sampai ke Bojong Indah. [Aduh polisi.] Cairan. Rabaan. Melahap slai o'lai seraya menanyakan pendapatku mengenai situasi politik. Ini entri tiada berarti. Sebentar lagi toh aku harus berurusan dengan yang tiga itu. Itu kenyataanku. Seingsut demi seingsut, dari tiga ke tiga berikutnya. Aduh ini entri masih harus diilustrasi. Tidak mengapa asal terlihat rapi, seperti setrikaan Kadet AAL sekali.

Sunday, April 14, 2019

Sepi Saupisau, To Kai Tokaito: To Mato Mato


Diancuk... eh, ini bukan makian. Ini panggilanku untuk blog ini, yang merupakan akronim dari Diari Pincuk, jadi semacam pecel pincuk begitu. Jadi begitulah, Diancuk, ah, masa harus kukomentari dulu, atau sekadar kuindikasikan. Cukuplah kucatat di sini bahwa aku memandang lurus ke estanatong agar mataku tidak plirak-plirik jelalatan ke mana-mana. Padahal aku belum shalat dhuhur. Padahal waktu dhuhur sudah masuk dari dua jam yang lalu, sedang perutku kembung berisi A Fung Phetshop masih ditambah tiga [ya, tiga!]  cabik tak-bertulang. Uwaw, atau nyaw.


Diancuk! [nah, ini makian] Aku jadi saban-saban memeriksa pratinjau lagi. Tidak! Aku berlindung kepadaNya dari yang seperti itu. Biarlah aku begini di sini tolol. Semoga aku tidak disiksa dalam kubur apalagi neraka gara-gara ini. Mungkin aku juga tidak bisa memberitahumu mengenainya. Estanotong nyatanya tidak bisa dipandang. Ke mana pun tidak bisa ditebar pandang. Mau segera ngacir ke mushala minum masih penuh, masih ada dua cabik pula. Satu berlumur, satu sedikit berminyak. Perut, kamu kenapa kembungan, sih. Lebih baik begitu, daripada perut paus.

'Tuh, ditambah "mati" ngeloncok, tidak ditambah rumpang. Kezel 'ga sih! Uwaw, ga nahaaan... Aku gendut botak tua begini memang seharusnya segera menghambur ke sajadah. Lalu apa yang kau terus lakukan di sini. Mengetiki. Mana tahu dalam setengah jam ke depan kembung berkurang. Ribet tauk harus membungkus-bungkus dua cabik dan krampulan es batu ini. Diancuk, sampai lupa. Aku 'tu tadi mau bilang, kalau dalam kurang dari duapuluh empat jam ini aku sudah dua kali dipermalukan, yakni, oleh Pendeta Agus Sutikno dan anaknya Wisnu Kamulyan. Aku menyesaaal...

Hei, Diancuk, mengapa engkau baru tiga paragraf. Memangnya paragrafmu bermakna, memangnya mengandung pokok pikiran, atau, seperti kata Septi Pesek, pokokmen. Hei, Pak Kaji Ibnu Fikri juga pokokmen. Uah, [nah, ini "uah" beneran, tidak sok imut seperti Bunga Edan] hidup macam apa itu. Menunggu M51 yang sekarang mungkin sudah tidak ada atau tidak sampai situ, apalagi Meent. Hidup seperti apa yang tengah dijalani oleh Bang Noor Haryono. Musik macam mana, yang sok cerdik, yang berceloteh dalam lubang telingaku. Hei, tak bertebar?!

Lantas, paragraf macam apa yang ber-hei-hei begitu, aku cinta padamu sampai matahari pagi. Jih! kalimat macam mana pulak! Ini tidak bisa. Bahkan sangat mungkin kutinggal saja aku tidak peduli. Aku ingin menghadap Tuhanku, mengadukan perihalku. Nyatanya, besok aku Insya Allah ke Jalan Radio. Nyata. Cantik sedang ke Kodamar, Insya Allah, merawat Mama dan Tante Lien yang baru jatuh. Nyata. Lantas, apa peduliku jika sudah dua kali "lantas", bahkan tiga, [Mana? lha itu barusan] hanya di paragraf ini saja?! Masbuloh ditebari tanda baca?!

Difilmkan dokumenter begitu memang dapat memukau, mengingatkanku pada etnografi visual yang disuruh ganti jadi fotografi. Bukan aku yang payah dalam bidang fotografi, melainkan fotografinya itu sendiri yang payah. Seperti rayap mati. Merasakanmu, aku peduli padamu, tidakkah kau tahu aku mencintaimu. Tokai! Ah, ashiaaap dengan tiga "a" oleh Fredi Merkuri, lengkapnya aku tak tega menuliskannya di sini. Aku tidak tahan lagi, namun sepertinya aku punya gagasan yang agak menarik. Tidak tahu bisa berhasil atau tidak. Akan kuberitahu sebentar ini. Kucoba!

[Engga, dia 'ngga sakit itu. Tampar.] Ini, paragraf terakhir ini, diterus-ketiki setelah lebih dari duabelas jam dari "Kucoba!" Aku... berhasil. [sambil menunduk, menekur] Plerktekuk... Ambyar! Akan halnya kuterus-ketiki, tiada lebih karena sederhananya gudeg yang 'ngakunya Malioboro, dengan krecek yang tidak lebih jelek dari bikinannya Mbak Lela dan Ade. [mana ada yang bisa lebih jelek lagi dari itu?] Tambahan lagi witte koffie, yang mirip dengan witte roos, akhirnya terbuka juga. Pasti bau. Pasti memuakkan. Orang tidak diapa-apakan saja menguar. [Satu kata: TOKAI]

Thursday, April 11, 2019

Perempuan Menawan dari Arkadia [Dangdut Italia]


Akhirnya kupencet juga itu tombol entri baru, kuketik langsung di editor teks. Padahal ini malam Jumat yang aduhai panasnya. Tadi aku sudah sempat dilanda kantuk yang hebat. Apa yang berdenyut-denyut dalam anganku aku tidak suka. Aku tidak pernah suka yang seperti ini. Terkadang butuh, tapi suka, tidak. Demis Roussos menemaniku di malam Jumat yang gerah ini. Anganku tiba-tiba berkebat ke... ini apa cerita cabul?! Akankah entri seperti ini selesai, dengan pertanyaan-pertanyaan tak berdaya ini. Aku memang tidak berdaya, oh, aku yang tua.


Gendut. Botak. Tidak punya harkat apalagi martabat. Tidak lagi kesenangan. Semua terasa membebani. Apa aku ceritakan saja betapa berdesir seperti membuncah, mendesak. Astaga, begitu benar. Sudah tua. Apa benar yang mendorongnya, aku yang tidak bisa melihat masa depan ini. Untunglah aku diturunkan di dekat Masjid Jami' Matraman. Di depannya, sebuah baliho lumayan besar bergambarkan Habibana Rizieq Shihab, digambarkan seperti semacam pahlawan super begitu. Ah, orang-orang dengan kehidupan menyedihkan. Kalian membutuhkan pahlawan.

Kembali pada kecabulan tadi. Apa aku masih bisa menemukan kesenangan yang cukup berarti darinya, dengan mencabuli diri sendiri. Aduhai, hidupmu tidak pernah berhenti menyedihkan. Dari mana kau sampai dapat gagasan bahwa dirimu ganteng. Lantas ada pula kekerasan dalam rumah tangga terhadap anting-anting pom-pom. [mengapalah yang seperti ini lekat] Menjijikkan. Pasti menjijikkan, yang mana pun. Sedang ini, Suatu Hari, Suatu Tempat pernah begitu mengharu-biru, jelas itu karena remaja. Sekarang bagaimana. Apa yang harus kulakukan.

Jelaslah ini bukan kecabulan. Ini ketololan, seperti tololnya diriku. Apakah terkadang terbersit ketotolan, sedang menunggu lampu hijau bagi pejalan kaki. Pertama ke arah utara dari halte trem Jalan Laut Selatan, lantas ke timur. Ini kesepian, namun lebih terasa. Lebih banyak. Lebih banyak pilihan. Tidak dengan makanan, seraya memakan hidangan entah-entah tanpa adanya apapun yang cukup berharga untuk direkam. Apalagi diabadikan. Ini entri apa. Terasa denyut-denyutnya. Terasa suasana hatinya, sedang terbentang jalan di depan rumah Pak Jiman Tolo.

Di waktu malam seperti ini, mengapa tiba-tiba ke sini. Lantas Andi Magani Irawan, dia tidak lebih tua dariku namun sudah tahu Helga ada. Adiknya Si Ari Penjol masuk ke dalam daster ibunya yang sedang membungkus nasi uduk sambil memain-mainkan pantat ibunya. "Tai, tai, tai," katanya. Ah, ini mulai terasa. Aku bisa kembali ke sana tadi. Astaga mengapa sampai begitu benar. Cukup ingat kata kuncinya: Papagula. Selesai. Mengocoki, mencoloki, sambil menungging di lantai kamar mandi. Begini caraku melampiaskan. Aku tidak suka. Melodi cantik sudah tidak berdaya.

Musique! Dari dulu seperti ini saja. Si Keparat Sopuyan itu tidak ada gunanya kecuali memanfaatkanku belaka. Aku tukang rundung. Aku tidak bisa berpura-pura 'kan. Kepada siapa kau minta pembenaran. Semua saja nothing to lose. 'Gak ada yang tulus! Semua tidak lucu, termasuk bagian belakang Mess Pemuda di waktu malam setelah lewat jam sembilan. Patah-patah begini. Tidak mengalir. Ini parah. Untung tadi gangguan. Jika tidak mungkin sudah di Stipwong menunggu Istri. Akan halnya malah ke warteg memang tidak mungkin lagi berharap kesenangan darinya.

Malah mendapat kejengkelan. Aku ingin melarikan diri. Selesaikan kewajibanmu dan lanjutkanlah. Apa memandangi lagi kanal. Hanya ini yang bisa dipandangi. Lebih agak pasti. Aduhai apa yang akan menyenangkan hatiku, tidak ada. Ini entri benar-benar. Dipenuhi oleh kalimat-kalimat tidak selesai, patah di tengah-tengah. Biar aku aneh-aneh sedikit di sini, sebelum kututup entri ini. Jangan-jangan itu hanya caranya untuk mengalihkan buncahan, yang diawali desiran, mungkin aliran. Tidak. Ini sudah khusus. Tidak lagi. Tidak ada artinya semua itu.

Saturday, March 23, 2019

Kawa'iba Atraba ...'mBledus! [Terkesingkap]


Biasanya, sebelum menghadapi papan-kunci, lintasan pikiran berkebat-kebit berkesiuran. Beberapa lucu, selebihnya muram, terlebih badan linu-linu begini. Seperti tadi, begitu saja terpikir musikku menye, kopiku ginseng, rokok kretek ‘ku sudah lama tidak. Dari tahun-tahun yang lebih muda. Uah, begitu benar, sedang Salim Said saja sudah menuliskan kisah hidupnya sendiri. Ada yang beli, Pak? Bagaimana penjualannya? Maafkan saya membaca versi digitalnya, atau Bapak memang sudah menyerah? Memang begitu itulah, saya rasa, nasib barang yang sama kita cintai.


Buku. Dua orang muda, bahkan mungkin masih remaja. Keturunan Cina. Duduk berhadap-hadapan menunggu pesanan datang. Tidak saling bercakap-cakap. Mata-mata menatap lekat-lekat gawai masing-masing. Media sosial! Instakeparat! Astaga, yang terpampang menari-nari di hadapanku adalah hancurnya peradaban, kebudayaan, sedang belum pernah tegak berdiri apalagi menguasai. Sekali lagi, yang terasa adalah badan linu-linu. Jangankan menegakkan benang basah, menegakkan rayap sendiri saja sudah tidak sanggup. Setelah ini, yang akan kulakukan paling berbaring bergolek-golek sambil berharap badan enak dengan sendirinya.

Kebiasaan asal goblek begini, [istilah seseorang, yang kemungkinan besar dipinjamnya juga dari seseorang, semacam Bibi dan Cil yang gogoyangan. Anjing!] ternyata tidak berpengaruh banyak ketika tiba waktunya harus pura-pura bener kayak orang-orang. Nyatanya, tulisanku dimuat oleh The Conversation, dwibahasa pula! Dalam proses penyuntingan aku dipandu oleh Mbak Ika Krismantari yang sangat profesional dan menyenangkan. Mungkin aku harus berterima kasih juga kepada Arizha Tiara Mutia, yang entah dapat ide dari mana memintaku menulis mengenai Dwifungsi ABRI.

Wartawan. Seniman. Profesi-profesi yang kukagumi, mungkin sejak lama sekali. Adalah sekolahku keparat di Magelang itu yang menyesatkanku. Jika tidak mungkin sudah dari awal aku mengarahkan diriku menjadi wartawan atau seniman. Untung aku tidak mengarahkan diri ke situ, karena kedua profesi ini sudah kehilangan relevansinya di Abad ke-21 ini. [Mbak Ika bagaimana, Tiara bagaimana?] Itu hanya pendapatku pribadi saja. Mana tahu kenyataannya tidak begitu. Nyatanya Tiara magang di situ, mungkin di bawah bimbingan langsung Mbak Ika.

Wartawan. Songong. Sotoy. Ini saja bukan wartawan begitu. Selain itu aku tidak bisa. Sulit kubayangkan. Lebih mudah bagiku membandingkan antara Deni dan Nawi. Lantas yang model apa, yang canggih begitu, yang penuh dengan pernak-pernik. Tidak. Aku suka yang telanjang apa adanya. Itu berarti aku suka pada diriku sendiri. Untunglah istilah metroseksual sudah tidak terkenal. Jika sampai bertemu pencetusnya, kutempeleng bolak-balik maju-mundur pakai karet pentil! Menjual, jih! [a la Hamid Arif. Di sini kesombongan aristokratikku muncul]

Satu lagi, kebiasaan asal ngomyang [kalau ini lebih elit, dari Umar Kayam] sempat membuatku terkesiap melihat soal-soal sok logik sok analitik dari Tes Kemampuan Dasar Akademik, meski hasilnya ternyata aku tambah cerdas tujuh poin dari lima tahun lalu. Dan apakah harus kutampar Pak Ndul yang menghina Mas Toni dan sebangsanya, kurasa tidak juga. Aku saja yang kurang periksa. Dengan ini, kunyatakan seterbukanya kemaluan dan penyesalanku. [Bapak-tuhan ini entah mengapa terdengar menjengkelkan pagi ini. Salah sendiri]

Ini kembali menjadi eksibisionisme, dan tinggal satu paragraf lagi ini. Lelaki yang Kucintai. Terserah perempuan mana saja mencintai lelakinya yang mana saja, sekadar suka atau kagum juga boleh-boleh saja. Apakah ada yang kagum, suka bahkan cinta kepada Nawi, ya tidak apa-apa. Namun ini tidak akan menghalangiku untuk mengumpat, “Tolol!” dan mendiamkan semua yang patut diumpat begitu. Memang tolol. Mau apa. Biar saja. Memang dunia lebih baik diisi tolol-tolol ini, biar cepat bubar aku tidak peduli!

Saturday, March 16, 2019

Salmonella Semir. Bukan Selai Cokelat Kemir[i]


Kepada siapa harus kubertutur? Yang jelas tidak kepada papan-kunci ini. Tidak juga kepada layar cairan ini. Aku tidak bersama siapa-siapa. Aku sekadar duduk di meja makan ini mengetiki. Kalaupun pernah kulakukan yang seperti ini, pasti sudah lama sekali. Dan susu cokelat Ultra hangat ini, uah, sedapnya, sedang kakiku berselonjor ke kursi di seberangnya, sedang telingaku disumbat serenada cahaya bulan. Lhah bagaimana, ini serenada mengapa ada cahaya bulan. Tidakkah ini seharusnya nokturna jika demikian; atau kalau mau tetap serenada, cahaya matahari 'lah.


Biarlah kita tetap di sini sampai pagi menjelang. Uah, ini semua Amerika, dan betul, Prof. Mungkin aku bisa, namun aku tidak menginginkannya, maka aku tidak jadi! Aku tengah bersedih, kalau-kalau ada yang mau tahu. Rasanya seperti cinta bertepuk sebelah pantat. Tak hendak pula aku meragakannya. Bisa jadi ia sekadar kesepian. Adakah Bapak Ibu kesepian. Uah, aku masih harus menguji kemampuan dasar akademik dan penguasaan Bahasa Inggrisku, sementara koda ini, dengan terompet berpengedam ini, aduhai manisnya. Aku banyak mengeluh pagi ini.

Anak seorang pejuang kemerdekaan yang dibodoh-bodohkan, dan satunya lagi juga semacam itu. Ini lagi mengenai cahaya bulan, yang memang seringnya cantik. Jika demikian banyak kecantikan di sekeliling, mengapa harus mencaci, mengapa menyakiti. Mengapa tidak mencinta saja. [Eh, mengapa di tengah-tengah berubah begini, jadi kersen jambon dan bunga apel putih?!] Ketika cahaya bulan yang manis terlelap di puncak bukit, aduhasyik! Khayalan akan cinta. Seperti apa cinta Sarinah pada Kusno, apakah berbalas, apakah seperti gadis berpantat bahenol.

...dan lagi, dan lagi aku terjebak pada tiap saat memeriksa pratinjau. Ini pasti karena kurang cinta, kering kasih-sayang; bukan kering tempe. Uah, memang manis ini jerman-jerman. Mengingatnya aku berjengit. Haruskah kucoba, sedang Hadi nekat mencoba. Hei, kalian di sana semoga baik-baik saja semua, seperti Insya Allah aku pun akan baik-baik saja sekembalinya ke sana. Aku berani pelan bersenandung begini, bersonata emosional begini, karena aku di sini. Seabai-abainya, masih dekat. Masih tersentuh. Jika aku ketakutan. Jika aku kesepian.

Membayangkan ini di Kees Broekmanstraat atau sebangsanya, kengerian! Apalagi Uilenstede 79C. Tidak. Tidak ada yang sanggup, apapun. Bahkan aku curiga mau jerman-jerman mau hitam-hitam mau apapun tidak ada yang sanggup. Hanya Allah! Kurang ajar benar aku begitu padaNya. Ini Sabtu pagi yang aduhai anehnya. Pagi-pagi malah begini. Sabtu-sabtu malah sendiri. Syukur masih di sini, bayangkan di dinginnya Amsterdam atau bahkan hangatnya sekali. Ini masih mending. Aduhai Dalamnya Malam Ini! Apanya yang dalam?!

Jika empat puluh, empat belas, lantas digebuki, ya memang jijik. Sungguh malang nasibku. Kepada siapa aku harus meminta tolong, meminta belas-kasih. Tiada yang peduli. Tentu saja, selain yang Tidak Pantas Disebut di Sini, hanya ingatan-ingatan, kenangan-kenanganku sendiri yang sanggup menolongku. Itulah sebabnya aku menulisi. Kelak ketika terasa seperti ini, akan kubaca-baca lagi dan kukenangkan semua ini. Ini cinta meski tipis-tipis, walau lamat-lamat. Bagaikan selembar sarung tipis yang sudah rantas dari masa kecilmu, yang kembali lagi, menyamankanmu.

Astaga, ini entri tentang apa. Semoga suasana hatiku jauh, jauh lebih baik menjelang siang sampai malam nanti. Demikian juga badanku segar bugar. Apa yang hendak kuabadikan, sertifikasi dosen?! Aduhnehi! Sok nyeni, menertawakan diri sendiri, tidak ada yang lebih menyedihkan dari ini. Bagiku sendiri. Orang lain akan melihatnya memalukan. Aku sih tidak tahu malu. Daripada menelanjangi, lebih baik aku telanjang sendiri, mempertontonkan rayap mati dirongrong bisoprolol. Jika ini benar sanggup memperpanjang hidupku, biarlah rayap mati aku tidak peduli.

Monday, March 11, 2019

Entri Ketujuh yang Ditulis di Bagasnami


Hiya, akhirnya menulis entri. Dari semua prasyarat, yang terpenuhi hanya sejuk-mendayunya gesekan biolin, biola dan biolonselo; sedang udara panas di tepian badai, perut kembung setelah menyantap ketropak setengah bungkus, semua membuat suasana tidak mendukung untuk bercerdas-cerdas. Sopiwan baru memberitakan ia sudah bertemu Prof. Sri-Edi dan beliau menyambut gembira rancangan bab-bab disertasinya, sedang tadi malam aku menyemangati adikku untuk menulis disertasi saja di Universitas Islam Nusantara. Permalaikat dengan nama besar, ini masalah mutu diri!


Lantas ada Mochtar Lubis, juga Rosihan Anwar. Jangankan mereka berdua, sedangkan Salim Said saja setua bapakku. Prof. Sri-Edi mengingatkan betapa hukum adat dinamis sesuai dengan perkembangan masyarakat. Di sinilah semakin aku ragu. Betapa hijau penyumbat telinga dan dinding kamar begitu serasi berpadu, sedangkan penyumbat telinga terkadang mendesah acapkali bersenandung. Ini lagi John Fox menyenandungkan cintanya kepada istri. Ini seperti biasa entri yang tidak menceritakan apa-apa kecuali Herlyn yang menurut Mba' Itch mengidap skizofrenia. Kasihan.

Akan halnya aku menulis entri, itu karena memimpin apapun aku tidak becus. [mengguguk] Jangankan sepasukan tentara dari terangnya cahaya, mahluk-mahluk mengerikan dari dalamnya kegelapan, (atau gelapnya kedalaman?) pun aku tidak sanggup. Apa aku pernah berhasil memimpin mayat-mayat hidup, atau hanya perasaanku saja. Jelasnya, aku tidak akan berhasil bila tanpamu. Tanpa siapa? Mayat-mayat hidup yang berjalan sempoyongan, seperti jari-jemari durjana hidung belang merayapi tubuh perawan kencur. Jika kau seorang paraplegik, pastikan lidahmu menari.

Astaga, masa kau bercericau begini rupa di Bagasnami, rumah masa kecil istrimu. Adakah ruang-ruang ini pernah digemangi Hari-hari Anggur dan Mawar, sedang digenangi air banjir tentu pernah, bahkan sampai seleher orang dewasa. Mama adalah seorang mantan anggota Korps Wanita Angkatan Laut berpangkat sersan, sedangkan Tante Lien dahulu menata rambut bertemankan banci-banci, begitu katanya sendiri. Lalu ada Ihza yang masih penuh dengan impian dan harapan. Start up, katanya. Kesehatan mental, katanya. Ia dan Afi adalah anak-anak Kak Nova Rosana Allah yarham...

...yang menurut istriku telah mengisi ruang-ruang di Bagasnami dengan lagu-lagu dan nyanyian dari suaranya sendiri. Ketika ia sudah punya uang sendiri, maka dibelilah karaoke. "Bernyanyilah ia lagu-lagu Panbers, karena itu yang ada di Senen." Hei, ini sudah semacam etnografi. Uah, aku etnografis gadungan. Mengaku-ngaku saja. Uah, ini mengapa cantik sekali, John. Kemana perginya kalian para penggubah kecantikan. Aku suka kecantikan, namun aku lebih seperti A.H. Nasution tinimbang Soekarno. [mengapa pula Salim Said orang Bugis itu suka menggunakan kata tinimbang?]

Etnografi bertumpu dan berkisar pada rincian yang medok, sampai-sampai segala hal yang tidak "penting" diceritakan. Akan tibakah waktunya ketika aku menguliahkan hal ini kepada bocah-bocah yang bulat berbinar-binar matanya, sedang yang kupandang dan terpampang hanya WajahNya. Uah, ngomong apa kau, tolol! Bersihkan dulu dirimu, jiwamu. Kemana perginya semua ratapan dan keluh-kesah, satu-satunya cancang penambatmu. Kau ingin menyembelih anak gendut, kau sendiri apa, hah, Bapak-bapak gendut menjijikkan?! Kau merasa lebih baik dari anak gendut anak serangga itu?!

Ya, sehebat-hebatnya, aku bisa menyamai Salim Said. Terasa benar koq kecerdasannya, meski menurut pengakuannya, kecerdasan itu tidak sanggup mengantarkannya menjadi seniman. Ia, katanya, lantas mengandalkan daya kritisnya saja, karena daya kreasinya kurang. Jadi ternyata Kak Nova adalah wujud cinta Papa Allah yarham kepada baik ibu dan istrinya. Rondan, Syahrul, Aminah. Rosana. Kak Nova telah tiada, meninggalkan Ihza dan Afi tiada beribu, dan karena Kang Sarip harus mencari rezeki jauh-jauh, seakan tiada berbapa juga. [...sedangkan menyeberang sungai berpesiaran.]

Danau Komo, sambil Ibu menjemur pakaian...

Saturday, March 02, 2019

Bijzondere Kaulika, Mama Jambula!


Hnah! Ini adalah suatu judul yang epik sangat! Meski seperti lirik salah dengar, siapa peduli. Ini begitu saja terlintas ketika aku menggelosor keluar dari pelataran berkonblok depan Indomaret. Lantas ada sedikit kedutan, kurasa di kemaluan, seraya otak ngeresku menyenandungkan. Ini lagu bajak-bajakku, entah dari Maria Dolorosa atau Arabella. Aku bukan bajak betul-betul. Aku bukan perompak lanun. Aku bangsawan, meski membusuk. Meski kini jez alus yang membelai indera pendengaran, tetap saja aku menikmati nyanyian bajak-bajakku, lelaki dan perempuan. Arrr!


Dan adakah aku Don Masseria yang menikmati hidangan-hidangan semeja penuh sambil bercerita mengenai kesukaannya akan kucing mungil kepada Charlie Si Beruntung. Apabila karena itu perut gendutnya lantas terburai disembur gotri panas oleh Frank dan Bugsy, mungkin memang setimpal. Dan siapakah FX Adjie Samekto yang menggeser MR Andri G. Wibisana, uah, permainan banci macam mana pulak ini?! Aku tidak akan memainkannya. Aku akan memainkan permainan Habibana Rizieq Shihab, meski beliau, kata Bang Andri, tergantung bohir. (Belanda: bouwheer)

Masih mending daripada Bokir! Engga juga ding. Haji Bokir ini seniman. Besar atau tidak itu relatif. Tetap saja beliau seniman. Apa setanding Haji Bokir dengan Habibana Rizieq, aku tidak hendak membandingkan kedua beliau itu; sama tidak pedulinya dengan perbandinganku antara Imam Khomeini dan Habibana Rizieq Shihab. [Apa aku harus gabung FPI seperti Munarman?] Aku tidak harus gabung apa-apa atas keinginanku sendiri. Aku hanya tidak ingin terlibat permainan banci, bohir atau tidak bohir, mau banci Thailand betul-betul atau wer-ewer kluwer wik-iwik ambyar.

Ngerti ora, Son?! Ini entri menjijikkan mengapa sampai menyebut nama-nama mulia. Cukupkah bagiku pengelola bunyi atau itu sudah keliwatan jauh dari cukup. Ini entri menggila seakan tiada peduli dunia yang tidak memedulikannya. Apa benar yang kauharap dari menulis entri begini. Mengering ia? Tidakkah justru engkau membasah membeceki begini. Kemarahan atau ketidakberdayaan, seperti Borisrawa kehilangan pekerjaannya memahat batu, mungkin dengan nyawanya sekali. Yang biasa saja. Tidak perlu yang mewah. Yang benar-benar biasa saja.

Kalau sedikit menjijikkan bagaimana. Ah, keparat kau. Kuhentak, bukan kuremas, picu senapang lantak, menghambur gotri-gotri panas, memburai otak. Jangan! Jangan kaucium tanganku, jangan kaubuang sikap menghormatmu untukku. Aku ini... bahkan tidak pantas mendaku. Biarkan aku menikmatimu meski sepintas kilas, membelai meski hanya dengan pandang sedang sisanya kuselesaikan di tempat lain, di mana kecoa dan kecoa berhumbalang, kadang cuka-cuka. Ini semua dari hari-hariku yang telah lalu, dari masa mudaku, ketika pohon cempedak masih berbuah nangka.

Ini, Sayang, adalah entri Sabtu pagi, ketika kepalaku tadi sempat pusing bahkan setelah dikopi Kapal Api masih ditambah susu kental manis. Setelah aku marah-marah begini, melampiaskan kekesalan, entah bagaimana pusing itu hilang. Padahal hanya jariku saja yang rampak mengetuk. Padahal perutku berlipat, kata bagaimana pula aku harus menyandinya. Apa yang akan terjadi pada kami tentu tidak akan terjadi apa-apa. Sama mustahilnya dengan Kaulika menamai anaknya Jambula. Dunia ini mau sampai mana. Apa pagi ini aku menyapa Sopiwan yang aduhai sungguh warasnya.

Aku apa? Apa aku akan mengatupkan bibir besar dengan kecilnya sekali, bahkan menukarnya, agar tanaman cabai tumbuh dengan suburnya, atau bahkan mencangkok pisang sekali. Ya, mungkin menyapa Sopuyan bisa meredakanku sedikit. Sopuyan jelas bukan rokok kretek. Ia bukan apa-apa yang kubutuhkan karena aku begitu sombongnya, namun ia pasti akan baik-baik saja. Bisa-bisanya ia bicara mengenai 2025, begitulah caranya memahami dunia dan persekitarannya. Aku bisa apa. Aku yang dilipatgandakan bisoprololnya, aku tidak kuasa apa-apa. Aduhai, segalanya sedap belaka!

Sunday, February 24, 2019

Dahulu Semua Indah, Terasa Bergelora. [Gorengan]


Ya, seperti itulah yang sanggup menggelorakan. Aku memutuskan langsung mengetik di editor ini karena aplikasi pengolah kata sedang terasa aduhai menjengkelkan. Apa yang kuguratkan di sini tentu sesuatu yang tidak pernah penting, kecuali secercah rasa yang sebenarnya harus dilupakan. Namun apa salahnya, demi suatu masa ketika semua indah, semua terasa bergelora; karena segala sesuatu memang ada jamannya. Itu adalah waktu di mana satu sengatan kecil, satu kepakan sederhana dapat memicu prahara yang mengharu-biru dunia. Duniaku. Dunia tololku. Duniaku, Tolol!


Ya, masa begitu saja bergelora. Malu dong sama Hari Anak Planet. Kalau sama Togar anak komplek mah tidak perlu malu, karena aku anak komplek yang kampung sangat. Dengan kelakuan dan, akhirnya, kesenangan-kesenangan seperti anak kampung, dari Planet lagi, seperti Hari begitu. Kadang aku membatin. Mengapa 'lah aku tidak lebih akrab dengan kehidupan kampung. Ya, karena memang kau anak komplek, Tolol! Bagaimana aku tahu kalau di kampung tersedia kesedapan-kesedapan yang entah bagaimana caranya menjadi preferensi sejatiku, dengan istilah apapun aku menyebutnya.

Uah, ini lebih menantang dari apa yang pernah dilakukan Gramsci di dalam bui. Gramsci buinya kecil saja, kurasa, sekitar ukuran buinya Hitler lebih atau kurangnya. Aku dalam bui raksasa! Aku mengungkung diriku sendiri, sedang mereka dikurung penguasa masing-masing. Akulah penguasa diriku sendiri dan dengan kekuasaan itu aku mengurung diriku sendiri pula! Hei, jangan sampai orang menyangka yang tidak-tidak. Ini semata-mata mengenai gorengan dan lontong, dan serabi. Ini adalah sesuatu yang entah bagaimana tidak mau pergi juga dari benakku yang seharusnya sudah tua renta.

Dan aku memang tidak bertujuh-lima lima-dua-lima, namun akibatnya aku mengecek pratinjau setiap satu alinea sekali. Pak 'nDul memang--dengan personanya yang lebih intimidatif, tidak seperti Mas Toni yang cenderung flegmatik--menunjukkan banyak kemiripan. Dan kesia-siaan ini begitu saja diinterupsi oleh Takwa menanyakan kabarku, bercerita mengenai Kolkata. Mengapa aku, seperti biasa, banyak menyela. Tepat sekali nasihat Sopiwan untuk penelitian lapanganku. Kalau mau dapat banyak, diamlah. Pura-pura bego 'lah. Ini pun sebentar lagi akan disela oleh pengabutan (fogging).

Lantas kapan akan kuakhiri jika tidak bertujuh-lima lima-dua-lima begini. Apa menunggu klimaks yang tidak mungkin pula dicapai di sini, sedang Orkestra Filharmonik Kerajaan sudah memainkan Waktu dalam Hidupku dari Tarian Kotor. Bukan tariannya benar. Pikirannya. Sekitar dua menitan lagi maka akan kuperiksa apakah airnya sudah mendidih. Gor-gor atau mulak-mulak, selalu saja dalam benakku. Tidak bisa semuanya! Semua atau tidak sama sekali. Bagaimana dengan satu saja. Atau, ada lagi yang lebih mengerikan. Bagaimana kalau seperti sarapan. Tempo-tempo kepingin nasi uduk bulu ayam, tempo-tempo lontong, gorengan dengan sambal kacangnya sekali.

Ha, mengerikan sekali! Ngeri! Ingat dan ingatlah selalu itu. Aduhai mengapa benar harus kurasakan yang demikian ini. Mana baru saja kusadari kalau je t'aime moi non plus artinya aku juga cinta padamu. Uah, aku tidak sama dengan kalian hai Salim Said dan Gunawan Mohamad. Jika Achmad Sulfikar mau sama dengan kompatriot Bugisnya, itu sepenuhnya urusan dia. Aku tidak. Aku... Pak 'nDul. Hahaha tertawa sesukamulah. Prabowo tidak bakal menang. Tidak begitu caranya menang. Kau seharusnya tahu bagaimana caranya menang, kau 'kan jenderal.

Jika ini kutambah satu alinea lagi, semata karena aku ingin segera mengakhirinya. Sepanjang Rahayu Theatre itu ke arah Apotek Windu Mukti, yang sangat bisa jadi kedua-duanya milik pengusaha-pengusaha keturunan Cina, demi apapun Prabowo tidak akan menang. Hei, mengapa jadi ini. Mengapa tidak bakpao kelebihan soda pengembang yang sebenarnya didapatkan dari ibunya, yang mengembang di tempat-tempat yang kurang semestinya. Mengapa ditertawakan. Terima kasih, Sayang. Ini satu kesakitan. Satu kejahatan yang nyatanya hanya khayalan. Mengapa menyakiti?

Aku 'kan hanya kopral. Keple pula. Asli.

Thursday, February 14, 2019

Semua Cintaku dan Ia Tersenyum. Dikecup


Tidak perlu terlalu dipikirkan. Lagipula rasa koq dipikirkan. Ini juga bukan suatu kepura-puraan, apalagi kesal kepuncakan. Ini sekadar, apa. Masa jatuh cinta lagi. Apa kau tidak punya lain di luar jatuh cinta. Kebacinan, kebusukan sudah tidak waktunya ketika kau benar-benar, secara harafiah, membusuk. Ketika suasana kimiawi tubuhmu cenderung asam, itu berarti kau sedang membusuk. Jadi suatu sekarang bersambungan. (present continuous) Aku toh lebih Pak 'nDul daripada Mas Toni, haruskah kupanjangkan jenggotku. Tidakkah kasihan pada Cantik.


Lantas begitu saja dari pagi-pagi yang lampau, aroma sedap Minak Djinggo yang terbuat oleh Nojorono disembur-semburkan Engkong. Kepada siapa aku dapat berpaling, ketika di kamar mandi pojokan belakang itu aku menungging sambil mengeles. Mas Toni pun. Pak Ndul pun. Malu hati jika celananya dilucuti, dibuang ke tanah pekuburan, di belakang koperasi. Sakit ‘kan. Cintai aku pagi ini. Tolonglah cintai aku. Mengapa tidak sekarang. Ini lebih baru. Ini setelah insap, setelah tidak terlalu sarap. Apa mungkin.

Seperti pagi ini aku mencari nasi uduk bulu ayam, yang terngiang adalah Dengan Tangan Ini. Ternyata tidak ada bulu ayamnya, jadi aku parkir pas di tempat ia biasa ada. Profesor Imam Khomeini jika memang menjadi kehendakNya. Kembali lagi ke Amsterdam sambil meratap merintih-rintih dalam hati. Begitu saja di semua tempat tinggal dijalani. Aku bahkan tidak berani merinci. Rinciannya. Bila suatu kalimat diakhiri, kapan ia diawali. Bass biarlah Ajo. Aku bisa macam-macam meski tiada yang peduli.

Etnografi sudah gila apa, sementara diingatkan pada turlap bisa berjengit. Lalu Penyejuk Mata yang meledak-ledak. Apa mau dikata. Memang mungkin lebih baik aku di sini menyanding Pak Ihin, Pak Yudi, Mas Afif dan satu lagi. Biar terbaca, Insya Allah, suatu hari nanti sedangkan badan sehat hati hangat belaka. Perut nyaman diisi roti gandum lapis isi keju, filet kalkun atau ayam dan uborampenya sekali. Itu masih nanti, yang penting turlap. Apa yang ada sementara dinikmati saja.

Bapak bisa jadi Hamilkar Barka. Aku bisa jadi Hannibal. Adik mungkin Hasdrubal. Bukan. Itu malah nama adikku. Aku hanya fasih berbicara dan manis bertutur-kata. Ah, buat apa cerita hebat mengenai orang-orang hebat itu. Para jenderal yang sebenarnya, bukan jenderal yang sebenarnya mengurus urusan privat sendiri. Lalu apa gunanya bicara begini, bahkan memikirkannya. Lebih baik kau pikirkan bagaimana mencapai Salemba sebelum jam delapan pagi di beberapa Kamis ke depan ini. Bisa jadi nasi rames itu ganjarannya.

Ini apa menulisi, bukannya menata-letak. Aku menikmati. Aku mensyukuri? Semoga. Aku menggantikan. Ada urusan dengan Ali dan Fadhil, atau Nira. Ini Waktu Mencinta, sedang perut agak mulas-mulas manja. Semua tidak ada gunanya. Apalagi. Uah, bahkan tidak berhak atas kata ganti apapun. Mengapa aku mengutuk turunan Rano Karno. Mengenai apakah semua ini. Ini mungkin mengenai wajah berambut yang diterpa polusi. Ini mengenai pori-pori yang tentu saja lebih besar. Ini bisa jadi mengenai perawatan wajah, tidak peduli.

Aku tahu, ini mengenai sesuatu yang lebih besar, meski aku tidak akan menenggang para pendusta. Seekor cicak begitu saja menjulur-julurkan lidahnya, membaui udara di sekitarnya. Adakah ia mencium bau bacin yang menguar dari benakku. Cicak begitu saja melompat ke lubang yang dibuat tikus di kasa, sedang aku menutup mata, membiarkan ia mengecupku. Siapa, apa benar yang kurindukan. Aku hanya berpura-pura. Aku tidak benar-benar rindu. Aku tidak tahu lagi apa yang kurasakan... [Cicak itu sudah tiada]

Memang Cantik [Puas, sambil mengancing celana]