Wednesday, June 14, 2017

Ramadhan Ini Mungkin Tentang Yuli Cahyono


...karena ia menolak untuk ikut membahas enam sembilan. Asepteven! Sementara aku asal-asalan sekali dalam urusan itu, seakan-akan Allah tidak pernah mengawasiku, astaghfirullah. Ini sangat inspirasional, mengapa aku tidak meniru Yuli Cahyono? Tidak ada gunanya pun asal-asalanku itu, membuat hati senang juga tidak. Ada juga menambah sakit, sedang menyakiti diri sendiri adalah jelas suatu kebodohan yang nyata. Setua ini, tidak ada waktu lagi menambah kebodohan, sedang Ramadhan 1438 H ini tersisa sepuluh hari saja. (hiks)


Demikian pula mengenai Kemacangondrongan ini. Apakah dengan ini berarti aku harus berhenti berolok-olok? Tidak lagi membadut? Tidak lagi membiarkan diri jadi tontonan orang? Membubarkan sendiri aliran eksibisionis yang kurintis sendiri? Bisa jadi. Terlebih Takwa tidak mau kapok, atau mungkin ini adalah jawaban atas doaku tanggal 15 kemarin. Jika pun aku moderat itu karena Islam mengajarkan untuk begitu. Moderat tidak sama dengan tidak mengambil sikap. Dan politik identitas, amboi! Apa itu politik? Apa itu identitas? Insya Allah, aku sekadar berusaha menggapai ridhaNya.

Aku yang tidak tahu apa-apa ini. Aku yang sekadar ingin mengenali Imam Mahdi ketika beliau muncul. Aku yang Insya Allah ingin sekali melihat huruf-huruf kaf, fa dan ra terpahat jelas di kening Masihud Dajjal. Aku yang Insya Allah ingin sekali mengenali Isa al-Masih as. jika beliau hadir sekali lagi di antara manusia. Aku yang nista, hina dina ini, mungkin tidak lebih baik dari Ephialtes anak Eurydemus. Namun, Insya Allah tidak akan kukhianati Allah dan RasulNya. Naudzubillah! Aku Bono anak Harnowo, ya Rasulullah! Terimalah baktiku!

...dan dalam keadaan seperti ini, Toccata membelai pendengaranku, seperti selalu saja dilakukannya sejak remajaku. Aku kini dalam kubik penampungan sementara pengungsi korban rezim, masih di sini. Aku memang cenderung begini, berlama-lama di satu tempat sedang angan dan khayalku yang mengembara. Aku bisanya ini, yang mana kalau dipikir-pikir tiada banyak gunanya, sedang kebutuhanku sepertinya banyak sekali. Keinginan aku tidak punya. Aku tidak tahu lagi. Kebutuhan ada, meski sungguh malu jika sampai merasa kekurangan.

Seandainya pun ikut ke Oslo buat apa? Sekadar dapat uang sakunya? Apakah di Oslo aku bisa menulis, satu-satunya yang aku bisa ini? Ahaha, gara-gara sambil ceting sama Cantik aku sudah dapat jawabnya. Aku mending mentahnya hahaha. Coba segala tiket, hotel dan sebagainya itu boleh mentahnya aja, tapi karena pasti tidak bisa ya udah. Ngapain juga. Hahaha, aku bukan halelepah, tapi kalau urusan ini suwer deh aku mending mentahnya. Jalan-jalan? Jauh dari pikiranku. Sudah kukata tadi, badanku harus diam agar pikiranku dapat mengembara.

Bagian ini diteruskan setelah shalat lohor berjamaah di Mesjid Ukhuwah Islamiyah. Ketika aku merasa malang, pada saat itu pandanganku tertumbuk pada bapak entah satpam entah siapa yang pernah kutemui sedang duduk terpekur dalam kegelapan mesjid sebelum subuh. Tepat ketika itu aku memohon ampun kepada Rabbku atas dosa-dosaku yang mengerikan, di hari-hari ketika Ia menyelamatkanku dari marabahaya lagi menutup aibku. Astaghfirullah. Naudzubillahi min dzalik, jangan sampai kufur nikmat! Sedang setelah itu masih saja berlumur dosa.

...sehingga kini! Lalu kau merasa malang, heh, Tolol! Aduh sayang buku Achmad Chodjim yang Membangun Surga itu malah kubawa pulang, kehujanan lagi. Padahal cucok sekali itu kubaca dalam suasana hati seperti ini. Kemarin bagaimana sih rencananya? Kalau tidak salah memang ia sengaja kubawa pulang agar aku fokus menulis di kantor. Toh, kemarin aku masih sempat membaca-baca antara setelah buka dan tidur. Baik. Insya Allah setelah ini akan kucoba menulis. Semoga Allah menolongku, meridhai, merahmati, melimpahkan berkahNya. Amin.

Saturday, June 10, 2017

Di Purnamanya 15 Ramadhan 1438 H Aku Duduk...


...dan menangis. Biarlah untuk sementara begitu, karena aku pun lupa bagaimana kemarin itu. Hanya saja baru kuingat, betapa oh yeah Asus X450C ini dengan sandaran tangannya. Cukup tarik ia sedekat mungkin dengan tubuhmu, letakkan pergelangan tangan padanya, dan biarkan jari-jarimu rampak mengetiki. Berarti sudah cukup lama aku mengetik menggunakan HP Stream sampai lupa rasa mengetik dengan Asus X450C. Ini alat produksi mantabp, Mayor Taruna! Apa yang kau produksi? Pengetahuan, katamu? Pengetahuan 'pale lo amsyong!


Alhamdulillah, kalau aku sampai masih bisa ngomyang begini, berarti aku tengah diliputi nikmatNya, sedangkan mustahil aku pernah tidak diliputi nikmatNya. Aku ini apa? Aku ini belum pernah tarawih sekalipun Ramadhan ini. Semuanya serba standar, tidak ada ekstra. Padahal ini Ramadhan. Ya, aku memang Alhamdulillah mengkhatamkan Rahasia al-Fatihah. Selebihnya tidak ada yang istimewa. Semua standar saja. Hari ini, meski demikian, luar biasa! Aku selalu takut kalau aku tidak mensyukuri nikmatNya dengan patut. Aku takut nikmat itu dicabut!

Ramadhan itu sedikit loh. Nyaris tidak ada bedanya dengan menunggu gajian berikutnya, ketika gaji bulan ini sudah habis bahkan di hari-hari pertamanya. Apa mungkin ini sekadar latihan untuk membenarkan yang kuterima? Apa bisa dibenarkan dengan tulisan-tulisan entah apa? Tidakkah seharusnya aku datang lebih teratur? Hei, siapa tahu dalam hari-hari ke depan ini kekuatanku pulih untuk ulang-alik Cikumpa-Kenanga! Yah, meski Kenanga bukan Mesjid al-Barkah, entah mengapa begitu terikat hati ini padanya. Meski Kenanga terasa kurang enak... Apa karena baru beberapa kali?

Kenanga, Sayang, kenanga! Cananga odorata alias ylang-ylang. Bentuknya memang tiada seberapa cantik. Cenderung aneh bahkan. Namun harumnya! Harumnya Masya Allah! Harumnya adalah lemari Uti Allah yarham. Semoga demikianlah harumnya tempat peristirahatan sementara Uti Akung, sambil menunggu waktunya berkumpul kembali dengan semua yang dicintai di Surga Firdaus. Aamiin. Kata Rasulullah berdoa itu harus optimis, maka begitulah doaku. Mana tahu, ketika kami tengah bercengkerama di rerumputan nyaman, beliau menghampiri dan menyapa. Aamiin.

Apa yang akan kulakukan? Menubruk tangan beliau dan menciumnya, seperti biasa kulakukan pada Pak Bakti? Apapun itu, kurasa ini benar yang kuinginkan. Apa dari dunia ini yang masih kuinginkan? Aku harus doktor, meski ada juga inginnya. Ini adalah sesuatu yang harus kulakukan, harus kuselesaikan selama hayat masih dikandung badan. Untukku sendiri? Aku ingin bertemu dengan Kanjeng Nabi! Bagaimana caraku menyapanya, ya? Aku ingin bersama beliau memandangi WajahNya. Masya Allah! Apa tidak terlalu muluk? Tapi 'kan harus optimis. Apa lagi yang lebih tinggi dari itu?

Yuli Rachmawati saja sudah mendahului meninggalkan dunia ini. Tidak, aku tidak benci dunia yang ditinggalkan Yuli. Nyatanya, di sinilah ladang penggarapan. Di sinilah tempat menyemai apa yang akan kelak dituai. Mana mungkin menuai jika tidak menyemai, bukan? Semoga semua penderitaanmu menghapus semua dosamu tanpa bekas, Yul, sehingga tersisa hanya ampunan dan kasih-sayangNya. Semoga semua saja yang masih hidup diijinkan untuk terus dan terus menambah bekal berupa perbuatan yang patut, sesuai dengan adab. Semoga semua kita menemui akhir yang baik. Aamiin.

Jadi Kenanga bagaimana? Rutin kesana? Jika aku harus menulis memang sebaiknya di sana, karena di Ampera tidak kondusif. Sedang bisaku hanya menulis. Ya Allah, sungguh hamba malu dan gundah. Hamba mohon pertolongan. Hamba memang hanya dapat memohon pertolongan, hanya kepadaMu. Bahkan ketika seharusnya aku kembali ke dunia ini, aku kembali kepadaMu. Apakah ini kelemahan? Apakah ini kemalasan? Hamba sungguh tidak tahu, Ya Allah. Hamba mohon dibimbing ke arah jalan yang lurus, yakni jalannya mereka yang Engkau beri nikmat.

Bukan mereka yang dimurkai dan tersesat. Naudzubillah! Terlebih jaman seperti ini. Jadi ingat kata Bapak Supir Gokar tempo hari, bukan hanya akhir-akhir ini saja. Manusia dari dulu memang selalu seperti ini. Sudah sifat bawaannya! Entahlah. Rasaku, akhir-akhir ini semakin hebat saja. Allah selalu andalanku. Hasbunallah wa ni'mal wakil, ni'mal maula wa ni'man nasir. Tidak ada yang terlalu penting dari dunia ini yang membutuhkan curahan segala perhatian, kecuali perintah-perintahNya agar selalu dijalankan, dan larangan-laranganNya agar jangan sampai dilanggar.

Sabar dan syukur. Sudah.

Tuesday, May 16, 2017

Blitar: "Hari Ini Kau Kedatangan Bidadari!"


Sudah lama tidak kulakukan ini, menulis-nulis di bawah guyuran hujan deras dan gelegar guntur mengguruh mengampar-ampar, sedang denting-denting dawai menghimbau, "lagi, lagi, lagi." Bisa jadi ini sudah musim semi. Aku saja yang tidak sadar. Mungkin karena hari ini aku kedatangan bidadari. Matanya yang sayu menatap sendu, rambutnya yang ikal terurai mayang memang bisa jadi merupakan tanda-tanda ia seorang bidadari. Ya, wanita penghuni kahyangan itu. Akan tetapi, ada perlu apa aku dengan bidadari?


Apa manfaatnya bagiku jika ternyata kakiku masih sepenuhnya menginjak bumi, meski terkadang terasa oleng dan goyah? Kebahagiaanku tidak terletak di situ. Jika sekadar mata yang sayu menatap sendu, sekadar rambut ikal terurai mayang, aku bisa bikin sendiri itu semua. Terlebih atribut-atribut lain yang sering dikaitkan dengan bidadari seperti pinggang yang ramping, tubuh yang semampai, aku tidak butuh itu untuk kebahagiaanku. Sejak muda kurasa, kebahagiaanku terletak lebih pada hal-hal yang sifatnya batiniah.

Kebahagiaan seringkali datang justru ketika aku tengah memejamkan mata dan mempertajam pendengaran seperti ini. Pada saat itu, terasa jiwaku justru lebih lembut, lebih syahdu. Aku seperti selembar daun atau kelopak bunga diayun-ayun naik turun oleh riaknya gelombang telaga, ditiup lembutnya sepoi-sepoi angin musim semi. Aku seperti ditimang-timang irama alam yang senandungnya adalah nyanyian seekor induk binatang, penuh kasih-sayang pada anaknya; seakan tiada lagi karunia yang lebih indah darinya di seluruh jagad raya ini.

Seperti itulah kebahagiaan, dan setahuku kebahagiaan seperti itu tidak berima dengan bidadari. Akan halnya hari ini aku kedatangan bidadari, setidaknya demikian menurut sementara orang, aku bisa apa? Aku toh bukan Dewa Matahari yang konon playboy. Aku, jika boleh memilih, lebih suka menjadi Basukarna, pahlawan penuh ironi, yang hidupnya itu sendiri adalah tragedi. Adakah ia menemukan kebahagiaan ketika kepalanya terpisah dari leher di Kuruksetra, sedang ia berusaha membebaskan roda kereta perangnya dari rengkahnya tanah?

Lantas bagaimana dengan Gatutkaca yang pusarnya adalah warangka Kunta? Adakah ketika Kunta bertemu kembali dengan warangkanya, pada saat itu pula Gatutkaca menemukan kebahagiaan? Mengapa kebahagiaan harus ditemukan? Uah, jangankan dengan pahlawan-pahlawan ini. Dengan Pippi Si Kaus Kaki Panjang saja aku tidak pantas dibandingkan, terlebih dengan Astrid Lindgren. Terlebih dengan Ratna Anjani, sumber dari segala kekuatan Anoman. Bahkan dengan tukang gorengan di depan Indomaret pun aku tidak setanding.

Bagaimana jika kubandingkan Ibuku dengan Ratna Anjani? Apakah Kunti begitu saja lebih hebat dari Gandari? Bagaimana dengan Drupadi atau Sembadra? Nah, nah, bagaimana dengan Dewi Widowati? Tidakkah Ibu dikatakan begitu oleh Miauw? Ini dia! Aji Pancasona yang konon dicuri Rahwana dari Subali, tidakkah itu adalah kecintaan kepada Ibu Bumi itu sendiri? Tidakkah ini artinya patriotisme? [Huahahah, mulai lagi deh cocoklogi] Lantas bagaimana dengan Aji Wundri? Mengapa nama-nama ini lekat sekali di benakku?

Tidak hanya itu, suara Jefry al Buchori Allah yarham juga lekat, suara yang bagus itu. Semoga Allah menerima semua amal ibadah, amal solehnya, melipatgandakan pahalanya, mengampuni dan menghapuskan semua dosanya, melapangkan kuburnya seraya ia menunggu rahmatNya berupa surga, seperti semua hambaNya yang diberi nikmat dan kemuliaan. Amin. Semoga, seperti yang pernah kudengar atau baca, semua doa baikku untuk saudara-saudaraku sejatinya adalah doa untuk diriku sendiri. Amin. Tiada daya maupun upaya kecuali dengan Allah Maha Tinggi lagi Agung.

Insya Allah, Pak, tidak perlu Islam Nusantara, Islam toleran, Islam Jawa, Islam moderat sebagaimana tidak ada itu Islam radikal entah-entah. Insya Allah, Islam ya Islam, jalan hidup yang diridhoi Allah untuk hamba-hambaNya. Semoga kita pun ridho padanya, Pak, sebagai jalan hidup. Masya Allah, betapatah kita tidak akan ridho pada jalan yang lurus, lempang lagi lapang menuju kasih-sayang dan kemuliaanNya? Ya Allah hamba mohon diajari, dituntun untuk menapaki jalan yang lurus itu, sebagaimana telah ditempuh oleh hamba-hambaMu yang Engkau beri nikmat dan kemuliaan. Ampuni hamba, Ya Allah, kasihani hamba.
 

Monday, May 15, 2017

Mata-matanya Masih Hijau. Mata Hijaunya


Malam ini begitu saja aku ingin mengikat seutas pita kuning di sekeliling batang pohon nangka, semata-mata karena kayunya sama keras dengan pohon ek; dan semata-mata karena sudah gila apa di Cikumpa sini mencari pohon ek. Tidak juga, sih. Mungkin karena aku tadi, sepulang dari bersantap malam yang mewah, (fine dining) melihat entah seorang gadis, entah ibu muda, di kamarnya yang kumuh di seberang pekuburan Lemperes. Apakah ia merasa aku membunuhnya secara perlahan-lahan dengan laguku, aku tidak pasti. Jelasnya, lagu itu malam ini tidak ada dalam daftarku.


Daftar? Lucu ya. Masa jaman sekarang mendengarkan lagu dalam daftarmain. (playlist) Dahulu, mendengarkan lagu sepenuhnya terpulang pada selera entah siapa yang main memindahkannya ke dalam format pita kaset, mungkin dari vinyl. Dan selera musik si entah-entah ini biasanya mantap, meski ngeselin karena urutan album aslinya biasanya diacak-acak, sampai-sampai kita tidak mengenali lagi. Yah begitulah jaman kejayaan pembajakan. Jaman kaset bisa dicoba, didengarkan dulu apa isinya, didengarkan lagi yang lainnya, dicoba lagi dan seterusnya hahaha...

Namun malam ini bukan mengenai kaset apalagi file mp3.  Malam ini mengenai perempuan itu, yang duduk di lantai membelakangi pintu yang terbuka. Mungkin ia sedang menonton televisi. Mungkin televisinya masih kondean. Apapun itu, lampu kamarnya temaram sekali meski putih cahayanya. Dekade kedua milenium ketiga dan masih saja ada yang seperti itu. Pasti lebih banyak lagi, banyak sekali. Teramat sangat banyak sekali, saking aja hanya satu ini yang sempat terlihat olehku. Lantas, Bang Hotma FHUI '86 begitu saja mengeluh susah cari uang, dan betapa uang cepat sekali habisnya.

Aku si Tolol ini selalu merasa sebagai bagian dari ibu itu dan kaumnya. Percuma saja semua analisis sosial apalagi teori politik terlebih lagi filsafat hidup. Hanya bertahan hidup itu saja kesibukan sehari-hari. Lalu Aku si Tolol ini masih saja berkhayal hidup di tengah-tengah mereka, bukannya berjualan bubur ayam misalnya, malah merenung-renung berpikir-pikir mengenai berbagai filsafat, teori dan analisis. Tersisa kini hanya filsafat, teori dan analisis, dan mereka semua tidak berhenti tolol. Aku si Tolol ini, sok-sokan miskin, sok punya empati sosial, sok membela kaum yang lemah.

Lemah? Kau 'tu yang lemah! Lemah segala-galanya. Bahkan ketika kau berpikir tekadmu menguat, badanmu kini sudah lemah. Mereka kuat. Mereka hebat. Mereka, di antaranya, sanggup berjalan berkilo-kilometer memikul mainan anak-anak entah-entah dan permen-permen. Illahi Rabbi, berapa yang dihasilkannya dalam sehari? Adakah ia punya keluarga, ia yang selalu berbaju rapi dan berkacamata, mirip potongan Presiden Joko Widodo ketika kuliah? Illahi Rabbi, tidak ada yang bisa kulakukan kecuali merasa kasihan padanya, mungkin memanjatkan doa padaMu dalam hati.

Kerismu, mana kerismu? Keris bohong-bohongan yang kau pakai waktu terpaksa jadi pagar duda? Keriswijoyo Budi Susilo Supandji? Hunus kerismu, kalau ada. Angkat kerismu dengan warangkanya sekali setentang dadamu. Hunus! Amangkan ia di udara. Ancam setan-setan durjana, drubiksa-drubiksa haus darah, takut-takuti mereka dengan kerismu. Hah! Sedangkan pada Bang Hotma saja kau tidak bisa apa-apa. Kau bahkan tidak berani menegaskan pendirianmu, kalau kau punya! Jangan panggil-panggil Tuhanmu, punya malulah sedikit, engkau yang katanya priyayi!

Aku luruh terduduk di atas karpet Persia yang sudah kumuh dan lusuh, meski tiap hari kukebuti dengan sapu ijuk, kadang kebutkan di udara, di depan beranda sangat sederhanaku. Meski kulepa sekujur badanku dengan adonan kapur dicampur minyak kelapa, bola-bola besi meriam Peranggi toh masih sanggup menembus, langsung ke jantung hati. Dalam keadaan seperti ini, bahkan aku masih egois, masih berharap setidaknya badanku terasa nyaman. Biar apa kalau nyaman? Meneruskan perjuangan? Sedangkan mulut Pak Hamid Arif sudah bergerak-gerak siap meludah kejijikan.

"Apa yang dapat kuperbuat," tanyaku menengadah. Mukaku pasti sok memelas begitu, dasar pemain watak. Ternyata yang kulihat bukan lagi wajah Pak Hamid Arif dengan kumis njliritnya a la Clark Gable, melainkan Aishwarya Rai dengan iris matanya yang hijau. Ia menari-nari dalam iringan senandungnya rintihan Manolo Otero. Aish tentu tidak peduli padaku, bahkan tampaknya ia sama-sekali tidak menyadari keberadaanku, apalagi keadaanku. Lantas saja, aku beringsut-ingsut seperti ingus pergi dari sini. [Mungkin ada baiknya aku membuat semacam kultwit atau sinetwit sekali]

Sriti, jangan dengarkan kata-kata mereka

Saturday, May 13, 2017

Waktu yang Tidak Pernah Benar-benar Berlalu


Ini adalah mengenai waktu sekitar sebelum dan sesudah Garuda Pancasila dengan suara lonceng berdentang berkali-kali sebelum kemudian bertut-tut-tut dari masa kecilku. Ini juga mengenai hari ulang tahun Ibuku yang ke-66. Sebelum lebih lanjut, ada baiknya aku mengucap syukur Alhamdulillah atas usiaku yang menjelang 41 tahun ini, Bapak Ibuku yang berusia 66 tahun masih sehat walafiat tiada kurang suatu apa. Semoga, seperti harapan beliau, Ibu masih saget mirsani cucu-cucunya tumbuh besar sampai dewasa. Demikian juga Bapak. Amin.


...karena waktu, Kawan-kawan, tidak pernah benar-benar berlalu. Aku tidak tahu apa yang biasa dilakukan DN Aidit pada waktu sekitar ini. Adakah ia membaca buku, mendengarkan radio atau musik? Lagipula, pada saat itu ia kira-kira seumuranku saat ini dan sudah menjadi menteri. Apakah dia sama modelnya dengan Deputi Badan Ekonomi Kreatif sekarang atau yang lebih okeoce lagi? Kemungkinan besar. Kalau ia membadut saja sepertiku, tidak mungkin ia semuda itu sudah menjadi menteri. Ataukah pada saat itu badut bisa jadi menteri? Hanya Allah yang tahu.

Ini kenapa pula jadi DN Aidit? Ini padahal mengenai waktu yang tidak pernah benar-benar berlalu. Langit masih sama. Kelam, kadang cerah berbintang, kadang dihiasi bulan purnama sekali, kadang berawan mendung kemerahan. Semua selalu saja begini, kecuali asesorisnya. Ya, perhiasan-perhiasannya. Hanya kutahu, sebagai anak kecil ini adalah waktu nyaman menjelang tidur. Bisa jadi Balki Bartokomous atau Angus Witherspoon dengan Shannen Doherty-nya sekali, namun yang penting nyaman. Mungkin belajar sudah selesai, selebihnya menunggu datangnya kantuk.

Lalu dengan PDH Osis tanpa dasi, hampir selalu dengan jaket training. Mungkin sekadar mengerjakan PR, hampir tidak pernah belajar dalam arti mempersiapkan pelajaran besok. Dalam balutan PDH Osis aku selalu menyiapkan hari esok, bukan sekadar pelajaran besok. Biasanya di Perpustakaan, tempat yang sangat kucinta. Pemberi rasa nyaman. Namun biasanya aku sudah di kelas, atau bisa jadi sedang berebut membeli Indomie di Kosinus. Udara malam Magelang pada saat itu memang selalu sejuk-sejuk nyaman. Berjalan di atas konblok, seringkali sendirian.

Lalu dalam pendidikan militer. Bisa jadi dalam balutan PDL atau PDH. Mungkin telah selesai ikut mengecek apakah masih ada noda kotoran di dasar kloset, atau setelahnya bisa jadi menyemir lantai teraso, setelah belajar malam yang biasanya entah-entah. Atau mungkin dalam Ruang Karantina Penyakit Menular atau di luarnya. Uah, ternyata episode ini memang cukup menoreh luka yang dalam padaku. Dapatkah tidak kuingat-ingat lagi? Dapatkah tidak perlu kuceritakan lagi pada siapapun? Bunyi peluit ronda dan derap Tarpaga diiringi Tardanga dan caraka sudah terdengar...

Lalu apa? Bisa jadi kepulan Sampoerna King Size, yang ditingkahi oleh kepulan uap kopi panas. Hitam. Mantap. Bisa jadi bacaan, atau bahkan tulisan. Yang jelas selalu musik, dengan Funai, kemudian Kenwood bahkan Aiwa. Selalu remang-remang, seperti yang selalu kusuka. Ini adalah awal dari malam-malam panjang, seringkali bahkan tanpa terlelap barang sepicing sampai pagi menjelang. Ini adalah kebodohan masa muda. Ini bahkan kengerian! Ini adalah kemudaperkasaan. Bisa jadi pula Pondok Indah Mall dan puntung-puntung panjang, atau tepi kuburan...

Selebihnya, aku tidak pernah benar-benar berubah. Aku berhenti. Aku tetap suka membaca dan menulis. Rokok sudah tidak. Kopi Insya Allah sudah tidak. Malam-malam masih selalu kelam. Kadang cerah berbintang, bahkan dengan bulan purnamanya sekali, atau berawan mendung kemerah-merahan. Begitu jika menatap langit. Tetap saja. Persekitaran, bebauan, bunyi-bunyian memang selalu berubah-ubah. Beberapa nyaman, bahkan meski tinggal kenangan. Beberapa mengilhamkan kengerian, bahkan ketika sekadar terlintas dalam ingatan.

Inilah aku di sisi barat Blok M Plaza, hampir 41 tahun, menengadah menatap langit malam yang tertutup mendung kemerah-merahan. Keponakanku, Satrio Adjie Wibowo, hampir 7 tahun, sedang bermain-main di platform bordes milik warung ayam panggang. Lift barang, katanya. Tidak ada yang membeli, padahal ini malam minggu. Ya Allah, lindungilah, bimbinglah, tolonglah keponakan hamba laki-laki, Satrio Adjie Wibowo. Jadikanlah ia laki-laki yang shalih, yang takut hanya padaMu, dan mencintai kekasihMu sepenuh hati, segenap jiwa. Amin.

Wednesday, May 10, 2017

Sore Ini Aku Bertemu Selarik Puisi. Berlarik-larik


Setiap kali begini, harus kuakui, aku selalu teringat seniorku Denny Januar Ali. Mungkin pada dasarnya aku iri padanya. Meski begitu, tidak akan kulakukan apa yang dilakukannya. Insya Allah. Mencari nama selagi hidup. Naudzubillah. Mungkin ini benar yang membuat Koh Ah Jin geram padaku. Alih-alih marak sendiri jadi kaisar, aku malah membadut. Aku menolak berkelahi. Betapatah mau berkelahi jika AC saja begitu mudah mengalahkanku. Akhirnya, hanya segelas air bening panas inilah menemaniku menulis-nulis. Aku tidak berani ambil risiko untuk yang ini.


Apa benar yang mendorongku kembali berurusan dengan editor teks ini? Apakah selarik puisi yang kutemui sore ini, yang nyatanya bukan pertemuan pertama, namun selalu saja kumanfaatkan sebaik-baiknya setiap kali ia menjelang? [aduhai, panjang sekali kalimat tanya berhiaskan kalimat berita ini] Seperti kata Baron Inderanta dePari, berharap mendengarku berorasi politik, aku malah berpuisi. Aku tahu, kau pasti mendamba mengayun gada di sampingku, sedang aku entah berpedang entah berpalu. Ini memang memalukan. Aku memang tidak pernah benar-benar suka puisi.

Seperti yang satu ini, aku tidak pernah sengaja mencari. Hanya saja, memang, jika ia menjelang, tentu kunikmati. Ya, aku memang penikmat puisi, namun bukan pecandu. Pecandu mencari-cari setengah mati agar tidak mati. Penikmat menikmati ketika terhidang. Jika tidak ada, ia tidak mencari, apalagi sampai setengah mati. Alhamdulillah, dunia ini tidak menghidangkan puisi telanjang padaku. Dunia selalu menghidangkannya terbungkus rapi dalam kebetulan-kebetulan. Betul, meski tidak baik. Aha, ini dia satu contoh kebetulan yang bukan kebaikan! Puisi.

Puisi adalah kehendakNya. Itu tidak mungkin dibantah. Bagaimana aku akan menikmati, sepenuhnya berada dalam kendaliku. Keputusanku. Beruntunglah yang membersihkan jiwanya, merugilah yang mengotorinya. Puisi, seperti halnya musik, dan semua saja keindahan dunia dapat membersihkan jiwa, namun dapat juga mengotorinya. Sepertinya aku tahu bedanya, Insya Allah. Jadilah penikmat, tapi tidak pecandu. Nikmatilah ketika ia menjelang dan segera ingat dan camkanlah adaNya Penciptanya. Jangan mencandu sampai-sampai kau lupa ingatan. Naudzubillah.

Lihatlah, aku bahkan tidak bicara mengenai puisi. Aku justru berbicara mengenai lain-lainnya, sedang ini entri mengenai puisi. Itu karena aku tidak membatasi puisi hanya selarik. Aku selalu mencoba menjaga kesadaranku bahwa lumrahnya puisi selalu berlarik-larik, dan mereka semua tetap saja puisi. Bagaimana dengan puisi yang tidak cantik, yang digubah oleh seseorang yang tidak dikaruniai citarasa seni sedikit pun? Hmm, yang seperti itu tetap puisi juga sih, meski mungkin lebih baik kita serahkan urusan ini pada Pencipta penciptanya.

Seperti halnya pelangi, seperti itu juga puisi. Selalu suatu kontinuum, tidak pernah patah-patah. Tidak ada puisi yang merah sekali, karena jika ada pasti tidak tercerap. Demikian pula, tidak ada puisi yang ungu sekali, karena jika pun ada pasti tidak tercerap. Namun yang tidak tercerap itu pun pasti terasa kehadirannya, seperti anak jadah binatang jalang dari induknya yang tidak kalah hina-dinanya. Semua membuang muka darinya, namun bagi induknya, itulah anugerah keindahan terbesar dalam hidupnya. Jadi, jangan pernah sekalipun bermuka masam pada ciptaan apapun.

Dalam alam ciptaan ini, sesungguhnya yang Tampak hanyalah Penciptanya. Pencipta yang Gagah sekaligus Anggun. Pencipta yang Penuh Belas Kasih dan Penyayang. Pencipta yang Mulia, yang Suka Memaafkan. Pencipta yang memuji hambaNya yang dihiasiNya penuh dengan budi bahasa yang mulia, cerminan dari Budi BahasaNya. Lantas ada yang sampai hati menghinakan ciptaanNya? Lantas ada yang tidak habis pikir betapa ciptaan bisa seburuk, sejahat, setidakberguna dalam bayangannya sendiri? Sang Pencipta Maha Adil, Maha Mengetahui, Maha Tinggi!

Maha Suci Ia Sang Pengayom yang memiliki Keperkasaan atas apapun yang disifatkan oleh mereka yang mengingkari dan mendustakanNya! Tuh kan, akhirnya entri ini tidak mengenai puisi. Tidak selarik, apalagi berlarik-larik. Maka tidak heranlah jika saudara-saudara Hindu memahami Sang Hyang Siwa menari. Sungguh Indah Tarian Itu! [mustahillah kutulis ini tanpa mengapitalkan huruf-huruf awalnya!] Sungguh Agung. Maha Besar! Maha Kuasa! [Aduh, aku bisa dituduh toleran jika menulis begini, padahal aku sangat radikal fundamentalis. Takbir! Allahu Akbar!]

Saturday, May 06, 2017

Melodi Bisu Tanpa Nama Bukan Lagu Cinta


Itu adalah judul tadi malam, sedangkan ini sudah terang benderang begini, menjelang tengah hari. Pelajarannya, jangan sampai salah memulai hari. Ingat-ingatlah itu selalu! Mulailah hari selalu dengan yang halal dan toyib, Insya Allah, harimu akan selalu penuh dengan kedamaian, kasih-sayang dan berkah. Semangkuk mie ayam Donoloyo mungkin sebenarnya tidak terlalu salah. Bapak itu tidak memberi micin banyak-banyak pun. Ditambah dengan sepotong risoles ragu ayam pun Insya Allah masih baik-baik saja, karena temannya toh teh melati madu.


Dari sekian banyak melodi dan syair cantik yang selalu merundung benakku sehari-harinya, masih ada beberapa yang bisu tanpa nama. Ini cilaka. Kalau aku masih tahu agak sepotong syairnya masih agak aman lah di jaman gugel begini. Namun kalau sampai sama sekali tidak ada syairnya, atau aku sama sekali tidak tahu, selesailah sudah. Meski demikian, mengingat beberapa kali aku berhasil menemukan yang seperti itu, [atau cuma tiga itu?] tidak pada tempatnya aku berputus asa. Insya Allah akan datang masa-masa di mana kita tak terpisahkan sampai akhir waktu, ya, Cantik.

Sampai hari ini aku belum berhasil menarik kesimpulan. Apakah sebabnya ada hari-hari di mana aku produktif sekali menghasilkan entri, sedangkan di waktu-waktu lainnya bisa sama sekali dorman. Untung saja ada teknologi retroaksi sehingga kemandulan masih bisa diperbaiki. Namun itu bukan jawabannya. Dugaan-dugaan ada, misalnya, ketika aku sedang sibuk mengerjakan sesuatu. Berhubung pekerjaanku pun tidak jauh-jauh dari baca-membaca dan tulis-menulis, tentu saja ia akan menyandera waktu yang biasa kuhabiskan bersama dengan Kemacangondrongan.

Lalu, pertanyaan ini, yang sungguh aku enggan, cenderung takut, untuk menanyakannya. Kemanakah Ki Macan? Dugaan-dugaan yang ada justru lebih menakutkan. Adakah aku sudah menjadi Ki Macan, ataukah aku sendiri Ki Macan. [?!] Melihat kebotakanku, semakin lemahnya tubuhku, uban-uban rambutku, umurku yang sudah lewat lima windu dengan perhitungan apapun, dugaan-dugaan itu sungguh berdasar. Mengerikan! Itukah sebabnya Ki Macan tidak pernah muncul lagi? Haruskah aku kini menggantikan tugas Ki Macan, sedang aku masih membutuhkannya?

Ki Macan adalah mahluk Allah yang besar sekali tirakat dan prihatinnya, sesuai dengan yang selalu dijalani oleh leluhur-leluhurnya. Aku? Boro-boro tirakat dan prihatin, sedang entri-entriku masih terus penuh olok-olok begini. Ki Macan tidak pernah banyak cingcong, bahkan ia hampir selalu diam. Ia selalu mendekam di pojokannya. Mendeham seperlunya saja, menggeram hampir tidak pernah, apalagi mengaum. Jangan-jangan Ki Macan sudah termasuk dalam golongan hambaNya. Aku apa? Berlumur dosa dan kebodohan, ketololan tiada habis dan hentinya!

Siang ini aku sendirian di rumah yang sungguh kotor dan berantakan, dan sungguh aku enggan melakukan apapun terhadapnya. Ini kesedihan. Ya Allah, hamba mohon penyelesaian atas segala yang tidak nyaman, yang merundung baik lahir maupun batin. Berdoa tuh jangan di entri. Berdoa di atas sajadah, di heningnya kedalaman malam. Badanku sekarang terasa kurang enak. Sudah beberapa hari ini beberapa orang mengatakan aku kurus. Aku gendut tidak mau. Kurus takut. Lalu maunya apa? Maunya bermain-main saja, berolok-olok terus sepanjang hari?

Lalu mainan medsos. Illahi Rabbi, jaman apa ini. Sungguh aku selalu iri melihat orang yang berpakaian rapi, bersarung kadang berpecis atau berkopiah, melangkah menuju mesjid ketika waktu shalat sudah menjelang. Namun aku maunya Masjid al-Barkah. Masya Allah itu mesjid enak sekali. Apa karena jamaahnya sedikit maka terasa enak? Masjid Ukhuwah Islamiyah memang terasa kurang enak karena jamaahnya sering banyak. Masjid Qoryatussalam? Aku harus bagaimana? Salahkah aku jika aku tidak merasa nyaman di sana? Salahkah aku jika mencari kenyamanan beribadah?

Sekarang aku punya banyak sekali al-Hikam-nya Ibnu Atha'illah dari berbagai syarah dan versi. Apakah kubaca-baca? Apakah boleh jika alasannya karena harus menulis, meningkatkan publikasi ilmiah dosen? Ini entri kenapa jadi begini? Kena'apa aku? Mengapa tiap kali mengulang-ulang hafalan Yasin perutku bergolak dan kepalaku sakit? Ya Allah hamba mohon ampun. Hamba mohon pertolongan. Aku bisa apa? Aku harus bagaimana? Setelah ini mungkin aku akan berbaring saja, membaca tafsir al-Fatihah sambil memohon karunia kenyamanan lahir batin, dan ketetapan iman.

Amin Ya Rabbal'alamin

Thursday, May 04, 2017

Artis. Artis. Semua Artis. Padahal Teman-teman


'Tuh 'kan. Begitu lagi. Padahal tadi sempat membatin apa tidak malu terus berceloteh begini. Tidakkah ini merupakan kesia-siaan. Tidakkah banyak yang jauh lebih berguna, sedang engkau bertekad berumur panjang agar dapat menaklukkan dunia. Apa harus seperti Temujin minum ramuan merkuri. Apa harus banyak-banyak ngeseks tanpa kondom tanpa vasektomi, sampai pada bunting perawan ting-ting, sampai berceceran anak di mana-mana. Apa harus sekian banyak kalimat tanya tanpa tanda tanya. Seperti inikah bentuk residu kreativitasmu, atau semata kesakitan-kesakitan.


Sedang kesakitan yang terkadang dipulas gincu, terkadang sekadar pengilat bibir, tampak begitu sendu namun syahdu. Ya, ini rayuan. Aku sedang merayumu. Aku tahu yang kulakukan ini sangat berisiko, di dunia yang penuh matriark ini. Terkadang kau begitu saja tak berbedak, meski segera kauperbaiki itu. Ah, kalian memang sama saja. Seperti kata Kapten entah-siapa-lupa, tokoh rekaan Mas Babas dalam komik bikinannya sendiri: "Perempuan di mana-mana sama. Menggairahkan." Hahaha. Tidak pernah gagal membuat terbahak-bahak, meski perlahan dalam hati.

Lantas apa? Kauperiksa ketiakmu sendiri apakah masih berambut. Kalau berambut memangnya mengapa? Apa lantas akan bercukur? [nah, darimana munculnya begitu saja tanda-tanda tanya ini] Sungguh mengerikan jika hal seperti itu terjadi justru ketika seonggok bangkai yang masih melawan belatung sudah teronggok sampai lama sekali, masih menggeliat-geliat. Dubuk betina hanya dapat memandangi geliatan bangkai melawan belatung dengan seringainya yang terlihat penuh kasih, hanya oleh anak-anaknya. Sudah berkali-kali kuhapus bayangan ini dari benak, entah berapa kali.

Lantas apa? Bahkan satu paragraf terpaksa ditulis ulang karena tidak seperti orang terpenjara, seorang narapidana. Amboi, [awas, bukan amoi] kau perlakukan dunia ini tidak seperti penjara. Kau perlakukan belaian-belaian syahwat tidak seperti belenggu; sedangkan jelas sekali Amoi berjengit ketika mengucapkan kata "syahwat." Aku, jelasnya, tidak suka kenangan, apalagi kenalan, apalagi marah. Aku tidak berkeberatan. Aku memang harus memohon dan itu baik-baik saja. Tentu kulakukan dengan penuh takzim. Tidak ada masalah. Apalah arti diriku, bahkan hidupku sekali.

Jika tadi sempat senapan berburu, maka sekarang adalah sebilah tombak. Senang sekali aku dengan peran ashigaru ini. Meski tuanku tidak memberiku musket, toh aku mampu menggunakan tombak ini dengan baik. Meski kulempar ia, aku masih sanggup berlari menjemputnya dari dada atau perut, jarang sekali paha, tempat ia menancap. Baik-baik saja. Aduhai, betapa bahagia kepala-kepala yang rengkah terbelah atau tertembus tombakku. Kepala-kepala tidak berguna dari manusia-manusia tidak berguna dan hidup-hidup mereka yang sia-sia. [Amboi, mengapa seperti film murahan begini]

Seks dan kekerasan. Masih lebih baguslah daripada seks, sastra, kita; meski yang terbagus mungkin seni, tradisi dan masyarakat. Lebih ironisnya, sekali lagi kuhapus beberapa kalimat sekaligus karena terbaca seperti rengekan... rengekan apa ya. Bahkan pelacur murahan saja mungkin akan terdengar lebih gagah dari itu. Sesungguhnya aku tahu sih rengekan apa, tapi aku tidak punya cukup keberanian untuk menuliskannya di sini. Aduhai Kemacangondrongan, hanya engkaulah tempat sembunyi dari sesaknya hiruk-pikuk dunia jika aku sedang ingin tolol seperti ini. Semoga tidak berdosa.

Sudahlah. Aku sudah lelah menghapus-hapus kalimat bahkan paragraf. Ini sesungguhnya entri mengenai artis, atau mungkin tentang seorang teman. Tentu bukan. Aku tentu saja punya lebih dari seorang teman, karena, seperti yang selalu kukotbahkan, manusia adalah binatang berkawanan. Teman-temanku tentu tidak semua artis, bahkan mungkin sedikit sekali. Entah mereka lebih suka disebut artis atau filsuf, yang jelas mereka semua rata-rata sehat akal pikiran. Mereka semua tentu tidak punya tempat sembunyi seperti Kemacangondrongan ini. [Sembunyi koq di Internet]

Aku juga tidak mau menghina-hina. Mana ada lagipula yang lebih hina dari diriku. Jika aku marah, maka aku berlagu, membawa Telomoyo nama lagunya. Terdengar seperti sebuah nama. Nama yang sungguh mempesona, merundung hati sanubari. Aku tidak percaya kalau Telomoyo suka merengek-rengek. Tidak mungkinlah merundung hati jika begitu. Namun mana aku tahu. Aku belum pernah mencicipi Telomoyo. Mungkin kakaknya Andovi da Lopez sudah. Irikah aku? Aku lebih iri pada permainan flute Telomoyo, bahkan inipun aku tidak iri-iri benar. Aku memang telo, juga keple.

Crit. Sudah.

Sunday, April 30, 2017

Ibu-ibu Muda Berdaster Bahkan Belum Bunting?


Nah, sudah. Sebelumnya aku sempat ragu, adakah judul entri ini Ahok Keren tapi Oke Oce, atau mengenai IMB4. Entah bagaimana, aku merasa terdorong untuk memeriksa Balada Layangan Putus; dan ketika itulah hatiku tetap. Ini entri mengenainya. Tambahan lagi, entah mengapa, dari beberapa hari yang lalu aku merasa ingin mendengarkan radio. Artinya, aku harus siap mendengarkan entah-entah, termasuk selamanya takkan berhenti ini. Rileks dengan seratus persen lagu enak 'pala lo adem! Delta FM 99.5 itu the Best Oldies Station in Town!


Ini Torabika Cappuccino, Bung! Ini numero uno! Ini bukan kopi hitam pahit-pahit jantan. Ini bukan menunggu kelahiran manusia, karena manusiaku tiada akan pernah terlahir, kecuali satu! Sudah, sudah, pagi-pagi jangan marah-marah. Lebih baik dinikmati dulu nasi gudegnya, yang seadanya ini, dengan botok mlandingannya sekali. Ini bukan pelas! Lagu enak sembilanpuluhan yang bikin rileks? Mungkin aku memang harus mencoba rileks. Pengalamanku, kalau pikiranku tidak santai maka kemaluan pun tidak membantai. [Jiah, masih tidak menyimpang dari kekentuan!]

Mbak Anggun ini. Ya, keren. Jauh lebih keren dibanding ketika ia masih gadis kecil bertopi pet besar. Lalu buat apa kalian, gadis-gadis kecil, menjadi ibu-ibu muda berdaster yang ingin bunting?! Ini Jakarta dan pinggir-pinggirannya, Bung! Banyak bukan buatan manusia di sini beserta kemalu-maluannya sekali! [aduh, Pak, mengapa banyak sekali tanda seru?] Sukak-sukak aku, lah! Lalu siapa yang akan menghampiriku, melendotkan lembut badannya padaku sambil membelai kepala saringan airku, seraya berkata: "aku mengerti perasaanmu."

Tidak ada! Tahu lah ini seratus persen lagu enak. Rasanya seperti sedang naik Go-car atau Uber, dan aku tidak suka jalan-jalan! Aduhai, bagaimana meredam perasaan ini sedangkan tidak satupun yang 'kan mengerti. Terkadang aku merasa seperti ingin berteriak, namun berteriak membuat tenggorokanku perih. Belum lagi sakitnya kepala; kepala saringan air yang ada rambut-rambutnya, terkadang karet gelangnya sekali. Artinya, aku harus berdamai dengan kesakitan ini, asalkan jangan dengan kemaluannya sekali. 'Tuh 'kan, betapatah aku tidak memaki "tahu!" jika begini terus?

Sungguh, bukan kamar mandi benar yang kubutuhkan, bukan kakus jamban apapun bentuknya. Aku... tidak tahu lagi apa yang sebenarnya kubutuhkan. Aku hanya menjalani hari-hariku, sampai mana mereka 'kan membawaku, di mana 'ku berakhir. Radio sekarang tidak ada iklannya; sebagaimana tidak ada gunanya terus menengok ke belakang, jika menoleh melalui bahu. Hadapilah masa lalu sepenuh badan. Balik kanan, grak! Kemudian, seperti air panas membasuh sisa-sisa cappuccino, basuhlah masa lalumu. Perlahan atau sekali teguk, sama saja.

Lalu, songsong masa depan! Hahaha, bagaimana mungkin aku berpikir menasihati orang mengenai ini, sedangkan aku selalu berjalan dengan punggung menghadap arah tujuanku? Tampaknya, yang lampau memang identik dengan yang mati, yang ditinggalkan. Tidak usah baper, jangan lebay, merasa ditelantarkan jika lampau, karena memang itulah kodrat, itulah fitrah dari yang lampau. Harumnya aroma tubuh dan lengking nada suara yang lebih tinggi memang semua bagian dari kodrat, dari fitrah. Mungpung sudah Sya'ban, Insya Allah segera Ramadhan, lalu 'Idul Fitri.

Nah, kalau begini 'kan terasa lebih rileks. Ikan apa yang paling tidak bisa dibilangin? Ikan kembung. Kena'apa? Sudah tahu kembung masih saja berenang. [Ini lagi, ada cooking show di radio] Biasanya, yang suka goreng ikan kembung adalah... Ibu-ibu Muda Berdaster, tidak peduli sudah bunting atau belum. [Lhah koq ke sini lagi. Nanti baper lagi...] Biarin! Harum aroma ikan kembung goreng, bercampur harum aroma tengkuk yang dihiasi beberapa helai rambut, karena sisanya digelung seadanya, itulah kenikmatan dunia. Wewangian dan wanita, itulah dia! [terkekeh dan terkikik]

Lalu kau pikir kau melukis? Apa, ikan-ikan koi, atau pemandangan sekali? Gunung-gemunung, sawah terhampar, sungai kecil lengkap dengan gubuknya sekali? Balai-balai bambu? 'Kurasa kau memang koprofil sejati! [ini pujian] Apa? Kau ingin diduduki muka menjijikkanmu? Mulutmu yang kakus jamban itu? Lalu ingin dipukuli perutmu? Pantas saja Daud Santoso meraung sampai muntah-muntah cecek di pagi hari. "Suheeeng!!!" hahaha, antara murka dan muntah-muntah. Lantas kau pecahkan gelas, beling-belingnya kau masukkan dalam kaus tangannya? Kau suka darah?

Monday, April 24, 2017

Malunya Manusia. Terbarunya Masa Kemaluan?


Iya. Kurang baik. Padahal ini jelas-jelas Rajab, bulannya Allah. Padahal seharusnya memperbanyak istighfar. Rabbighfirli warhamni watubalayya. Begitu berulang-ulang sembari menunggu datangnya shubuh. Ini apa? Shubuh jam berapa? Malu sama ayam! Nanti kemaluannya dipatuk ayam. Nanti kepala kudanya tertimpa mempelam. Mati nanti. Padahal setiap seperentah-berapa detik nikmat Allah selalu tercurah. Masih durhaka saja. Jangan begitu 'ya. Tidak pantas. Kurang ajar. Perbaikilah adabmu kepada Allah yang Maha Baik, Maha Pengasih lagi Penyayang.


Tidakkah seharusnya berterima kasih telah dimulai beberapa paragraf awal dari Mengapa Mempelajari Hukum Adat? Meski rasanya seperti aneh, tapi tidak tahu harus bagaimana lagi selain itu 'kan? Itulah. Seandainya sepenuhnya terpulang padaku, aku lebih suka, seperti Raden Ajeng Kartini, merguru pada Kyai Sholeh Darat. Meski di jaman seperti ini semua terasa edan saja, akan tetapi, mengapa tidak mencoba membersihkan jiwa; sedangkan ia diciptakan dengan sempurna. Meski diilhamkan padanya taqwa dan fujur, toh manusia dimampukan memilih?

Apa? Cari uang saja? Tetangga meningkat rumah terlihat mewah? Tentu saja. Berapa banyak pilihanku? "Kita semua ini sekadar diperjalankan," begitu ngendikane Pakde Lentu. Seperti bola dipukul ke sana ke mari oleh pemain polo, tanpa bisa melawan, tanpa bisa meminta dipukul ke mana, apalagi sampai berhenti jangan dipukul lagi. Toh masih bisa memilih. Wirid yang biasa kembali dibiasakan dan perjuangkanlah shubuh, masih bisa dipilih. Semua sekadar pilihan, semua sekadar kebiasaan. Maka hati-hatilah, waspadalah dengan kebiasaan-kebiasaan.

Ingin rumah tingkat. Bukan. Bukan itu sebenarnya. Dari dulu selalu hanya gardu belajar, jika ruang belajar terasa terlalu mewah. Tidak pantas seorang marhaenis belajar di ruang, tetapi jangan pula sampai tidak ada sama sekali. Maka gardulah setidaknya. Hanya ini bisanya. Mencangkul tidak sanggup. Memikul tidak kuasa. Hanya membaca dan menulis, seperti diinginkan sejak kanak-kanak. Apakah ingin sendiri, atau diinginkan, tidak penting lagi. Akung mendoakan, meng-gadang-gadang, menjadi pemikir. Apa ada gunanya? Demi Akung, demi Ibu, demi Bapak, Insya Allah ada!

Kasihan Para Pendiri Negara, dilupakan begitu saja oleh anak cucunya. Aku pun terkadang merasa bersalah kepada Pak AB Kusuma. Dulu aku tega berolok-olok mengenai hal itu, ketika jauh lebih muda dari sekarang. Aku sekarang tua, sudah banyak keterbatasan. Dapat kurasakan, yang tersisa hanya semangat. Semangat memang tak kunjung padam. Oleh itu, dengan tenaga yang tersisa, semangat harus diberi wujud, direalisasikan! Semangat tanpa wujud sekadar roh gentayangan. Naudzubillah! Jangan-jangan sudah terlalu banyak sehingga kini.

Penyebabnya, Amanat Penderitaan Rakyat tidak kunjung ditunaikan! Amanat Penderitaan Rakyat yang seharusnya menjadi azimat. Itulah semangatku. Sedangkan kakeknya saja belum berhasil dientaskan dari penderitaan, sudah terburu mati. Bapaknya pun begitu, belum mentas dari penderitaan sudah mati. Anaknya pun begitu, mungkin akan mati dalam penderitaan seperti bapak dan kakeknya. Ini cucunya keleleran di jalan. Daripada sekolah, ia lebih suka mengulurkan tangan di jalanan. Entah mengemis, entah berkecrek-kecrek. Rentan segala macam bahaya jalanan.

Inilah Amanat Penderitaan Rakyat! Hoi, para pemimpin, para penyelenggara negara, para penyelenggara pemerintahan, apa yang kalian kerjakan ke jurusan ini? Heladhalah, kalian malah sibuk sendiri-sendiri. Sibuk dengan bidang keahlian masing-masing. Lebih parah lagi, sibuk menggendutkan rekening masing-masing! Apakah ini jaman edan? Apakah aku sedang tidak ikut-ikutan ngedan? Bagaimana kalau tanpa sepengetahuanku, ternyata aku juga ngedan? Naudzubillah tsumma naudzubillah! ...meski aku takut juga kalau sama sekali tidak keduman...

Jangan-jangan aku sekadar haufs. Jangan-jangan aku hanya perlu minta fefofan. Nah, mustahil-lah sama sekali tidak keduman. Astaghfirullah! Rabighfirli warhamni watubalayya! Wahai Tuhan hamba, hamba bukanlah ahli surga, tapi hamba tidak kuat dalam neraka jahim. Maka karuniakanlah kepada hamba taubat dan ampunilah dosa hamba. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dosa yang besar. Dan lazimkanlah apa yang lebih berharga dari langit dan bumi seisinya itu. Dan panjangkanlah wirid setelahnya. Dan songsonglah segera apa yang telah disediakan untukmu oleh Sang Maha Baik.

Saturday, April 22, 2017

Uneg-uneg Kemaluan Manusia Sehari-hari


1. Di Sabtu pagi yang berkabut tipis ini, aku ingin merenungi kemaluan manusia, sedangkan lubang-lubang telingaku disumbat dengan kejeniusan musik asal Tuban. Keriangan musik mereka memang seharusnya sesuai untuk suasana pagi, namun jelas tidak cocok untuk merenung. [Salah sendiri mengapa pagi-pagi sudah merenung] Betapatah tidak akan merenung, bubur ayam yang barusan kumakan ya as-Salaam asinnya. Edan! Aku sampai tidak sanggup menghabiskannya. Bagaimana kemarin-kemarin aku bisa habis satu mangkuk, bahkan dengan tambahan kerupuk?


2. Apa tadi? Oh ya, kemaluan. Aduh, keriangan ini sungguh mengganggu usaha kemaluanku untuk malu. Mungkin kuganti dulu dengan sesuatu yang sendu. Aha! Aku punya yang kubutuhkan! Bulik Sundari! Hahaha aduhai cucok betul! Meski terasa aneh, matahari pagi sudah tinggi begini masih kelon bergelut dengan Bulik Sundari, tapi memang ini yang pas untuk kemaluanku. Anjrit, suara senar-senar violoncello yang dibetot-betot ini memang bagaimanapun sensual, apalagi jika ditingkahi dengan riangnya lonjak-melonjak cak dan cuk; benar-benar meremangkan bulu roma.

3. Segelas besar teh hijau pahit bersanding denganku kini, setelah sebelumnya teh melati manis segelas besar juga. Bisa jadi tak lama lagi akan ada secangkir cappuccino. Memang agak brutal, namun bagaimana lagi jika engkau harus mencurahkan uneg-uneg kemaluanmu? Tidak banyak pilihan. Usaha sudah ditempuh, dayung telah berkayuh. Daripada sudah gila mendoktrin diri sendiri dengan musik-musikan a la ngak ngik ngek gila-gilaan, malam tadi aku berusaha Menyingkap Rahasia Qolbu; dan tahukah kau apa yang kupilih? Budi Pekerti yang Baik!

4. Jih! [a la Hamid Arif] Budi Pekerti yang Baik, sedangkan bayangan anak perempuan kecil bunting tidak kunjung hilang dari uthek lethek-mu? Bagaimana anak perempuan kecil bisa bunting? Ya, pasti gara-gara kemaluan! Itulah akibatnya jika kemaluan memancarkan uneg-uneg-nya! Ini bagaimana juga Tanah Kerinduan terdengar seperti Aku 'kan Berjalan Seorang Diri? Kalau ini bisa jadi tidak ada kaitannya dengan kemaluan. Ini mungkin lebih berhubungan badan dengan kreativitas musikal. [Amboi, aku iri pada Prof. Djojodigoeno yang sanggup menemukan padanan dalam bahasa ibunya]

5. Itu karena... aku tidak punya kemaluan. [mengguguk. Hahaha sudah lama tidak kugunakan kata ini] Aku punyanya... rayap. [tertawa terbahak-bahak, yang padahal dapat menyebabkan matinya hati, sambil berusaha menyingkap perut yang sudah ndlewet agar tampak itu "rayap"] Ini lebih tepat! Daripada kemalu-maluan, lebih baik kehati-hatian, meski jika dikatakan begini terdengar seperti disertasinya Dr. Andri G. Wibisana, yang karenanya bisa tersulut itu smaradahana. Ahaha si Tolol! [Gara-gara itu 'kan kau menyapa anak perempuan kecil bunting?!]

6. "Fitnah! Sekali lagi, fitnah! Di mana-mana fitnah! Fitnah lebih kejam dari pembunuhan!" Demikian kata Jenderal A.H. Nasution yang pada waktu itu belum Besar, sedangkan meski hanya Kolonel Abdulkadir selalu Besar. Mungkin itu cucunya yang berkuliah di FHUI, Amanda Besar namanya. Meski perlu disesali, dikasihani, atau ditertawa-terbahak-bahakkan sekali mengapa ia harus membuat Pusstukrasi entah apa-apa, ini tidak ayal membuatku teringat pada Firman M. Dharma alias Mang Imas. [Hahaha bahkan ngomyang begini bisa jadi satu paragraf]

7. "Sudah. Sudah cukup 'kelahinya. Nanti Bercanda." Demikian kata Jenderal Kancil yang kemaluannya kecil. Aha! Ini ada hubungannya dengan Ratu Malu! Ini ada kaitannya dengan artis cilik. Ah, biarlah kemaluanku menyemburkan uneg-unegnya di sini, saat ini juga! Untunglah tepat pada saat ini juga Bulik Sundari mengangkangkan guagarbanya sehingga tersembur darinya sapu tangan yang harum baunya. Aduhai sungguh mendayu-dayu baunya membelai sanubari, menenangkan kemaluanku dari ketegangannya, sehingga berdenyut-denyut mengisut.

8. [Ini baru edan, mengapa dinomori setiap paragrafnya seperti Garis-garis Besar Pola Pembangunan Semesta Berencana Tahap Pertama, yang terdiri dari 17 jilid 8 buku 1945 paragraf?] Boa Edan! Jika bukan karena Dewi Murni, sudah berceceran belepetan ke mana-mana ini uneg-uneg kemaluan! Ini bahkan Dewi Murni-nya Bulik Sundari sekali! Aduhai mana tahan! Dalam hidupku yang menyedihkan ini, apa lagi yang dapat kulakukan selain mencecer-cecer uneg-uneg kemaluan di sembarang tempat, aku Sang Pelukis Aliran Eksibisionis? Tahi macan gondrong-gondrong!

Tahi Kambing Bulat-bulat! Bukan Buatan Bulatnya!

Thursday, April 20, 2017

Malam Jumat, Sudah Tua, Masa Berolok-olok?


Ada masa-masanya, Kemacangondrongan ini seperti buku harian benar, yang ditulis adalah apa yang sebenarnya terjadi dalam sepanjang hari itu. Kemudian, mungkin aku bosan atau entah mengapa. Tulisannya pun menjadi entah-entah. Sudah lama juga, selain tidak menulis buku harian, aku tidak menulis selarut ini. Apakah ini berarti malam ini aku menulis buku harian? Bisa jadi. Mengapa tidak? Ah, tapi mungkin kuurungkan saja. Hari ini aku sedang tidak ingin eksibisionis, atau memang ada yang ingin kututupi?


Demikianlah sudah berhari-hari ini aku memulai hari dengan nasi kuning menu agak lengkap, bahkan dengan telurnya sekali. Sudah agak beberapa bulan ini padahal aku membatasi makan telur. Beberapa hari terakhir ini sepertinya kendur. Setelah makan aku pergi ke bengkel untuk memeriksakan Parioh. Dengan kemalu-maluan kukatakan kepada montirnya tadi, "Pak, yang penting-penting saja. Anggaran sedang cekak, maklum tanggal tua." Pak Montir sudah mencurigai CVT, atau bahkan belt. Alhamdulillah, ternyata cuma kena Rp. 150,000.

Lantas, aku berbicara, di satu alinea ini saja, tentang kelemahan manusia. [bilakah digunakan "tentang," bilakah "mengenai"?] Ternyata memang lebih mudah mendokumentasikan apa yang kukerjakan sepanjang hari daripada bicara mengenai kelemahan manusia. Lantas apa hubungannya dengan musim dingin dan apartemen Kak Yolan dan Makcik Yufitriana dan Teh Ita yang jauh dan kuno itu? Entah. Begitu saja melintas dalam ingatanku; mungkin karena malam ini aduhai panasnya sedangkan rambutku gondrong.

Sempat terasa tidak nyaman, sempat berbaring di siang hari yang panas sambil berobat hidung. Setelah agak enakan maka shalat Dhuhur dan mencongklang Parioh. Di tengah jalan, sudah hampir sampai tempat bude pakai lupa, tadi pagi sudah minum Canderin belum ya. Sempat putar balik arah, lalu menghitung dengan jari-jari tangan kiri, lalu yakin sendiri, berbalik arah lagi menuju kampus. Hari ini aku ke kampus hanya demi Dwaskoro Syahbanu, meski sempat juga mengurus HAN Blok dengan Once dan SP dengan Sofyan.

Staatsrecht belum beranjak banyak, perut terasa lapar, namun tanggung sebentar lagi Ashar. Sambil menunggu, ngobrol dengan Mas Jo. Selesai shalat langsung beranjak, meski sempat bingung, ke tempatnya Sitok buka kios Bakso Rudal baru di Barel. Semangkuk mie ayam baso tanpa minum, disambung pepaya, total Rp. 15,000. Bergegas kembali ke kampus karena hujan sudah turun. Mencoba menambah Staatsrecht dapat agak satu alinea. Pak Jon sedang mengajari Pak Mono menggunakan MS Excel.

Pamit sama Mbak Itch dan Savit, aku pulang mencongklang Parioh lewat jalan belakang. Sampai rumah langsung mendoktrin diri dengan Tubapi sampai shalat Maghrib. Selesai shalat bergolek-golek sambil terus mendoktrin diri sampai terasa lapar, akhirnya makan nasi kuning yang sedianya kubelikan untuk Cantik. Siap itu, mencongklang Parioh lagi membelikan ketoprak dan Teh Botol 350 ml untuk Cantik. Aku sendiri Liang Teh. Entah mengapa petang ini Indomaret ramai betul sampai agak mengantri.

Sambil Cantik makan, aku ungkep-ungkep di depan pintu belakang mainan medsos. Cantik makan sambil nonton dan mainan medsos. Di situlah aku ragu, apa benar yang ingin kubuat di sisa waktu sebelum tidur malam ini. Entah bagaimana, begitu saja aku menyeduh teh hijau dan mengunyah beberapa butir Cha Cha kacang sambil membaca-baca entri lama. Malam sudah cukup larut ketika aku memutuskan untuk menulis entri ini. Takut tidak bisa tidur, teh hijau yang keras masih agak setengah gelas kubuang di wasbak.

Sudah. Sekarang aku sedang menyelesaikan entri ini. Dehaman saksofon Fausto Papetti menyumpal telingaku. Setengah gelas air hangat di sampingku, dan waktu menunjukkan pukul sepuluh lewat seperempat malam. Illahi Rabbi panas sekali udara malam ini. Mungkin setelah mengunggah entri ini aku akan keluar mendinginkan badan. Seperti biasa, mungkin akan kubawa serta HPku. Mungkin akan kuminum dulu setengah gelas air hangat ini. Ternyata memang mendokumentasikan kegiatan sepanjang hari jauh lebih mudah, meski membosankan.

Seperti halnya hidupku. Membosankan

Monday, April 17, 2017

Secangkir Torabika Cappuccino Bukan Kopi Goya


Padahal sudah habis. Padahal sudah digantikan oleh secangkir air panas namun bisa diminum, tetapi ia bersikeras minta dipanggil kapekaino. [Padahal aku yang berkeras memanggilnya begitu] Padahal ini sudah lampau duapuluh empat jam dari "padahal" yang pertama. Berhubung ini sudah tiga kali plus satu padahal, maka dengan ini saya menghentikannya. Sudah cukup semua kegilaan ini, sedangkan Ahok keren tapi oke oce, kata Adjie. Biarlah jika demikian kulantangkan, "Ave Maria!" bukan ave-ave lainnya, sedangkan neo-nazi pun tidak harus selalu heil hitler lagi.


Lantas mengapa pula kau memulai hari dengan ini? Mengapa tidak kausyukuri nikmat sehat yang sedang kaurasakan sekarang? Orang bilang bersyukur itu tidak cukup hanya di mulut saja, cinta itu bukan hanya di bibir saja, [Uah, bahasa Melayu memang seperti bahasa Spanyol. Lebay!] tetapi, melainkan, harus dibuktikan dengan perbuatan. Tentu bukan perbuatan tidak segera beranjak shalat ketika adzan telah berkumandang. Habis bagaimana? Baju menyerap keringat seperti habis diguyur, gara-gara bawa motor hampir tengah hari. [untung kemarin tidak kupaksakan bermotor ke Salemba]

Bahkan setelah kapekaino sekarang aku seperti ingin secangkir luwak witte koffie yang less sugar dan low acid. Apa-apa'an ini?! Tidak ada kebahagiaan sejati kecuali selalu shalat di awal waktu, bahkan menunggu-nunggu berkumandangnya adzan ketika terasa sudah mendekati waktu. Itulah kebahagiaan di dunia. Musik manis ini juga kebahagiaan sih, seperti ketika mendengarkan Francis Gayo. Ada hubungan apa dengan Iwan Gayo? Dua-duanya membangkitkan kenangan manis akan lantai ubin merah tua dan kuning, kering namun sejuk dingin, di teriknya siang yang menyengat.

Inilah kisah cinta. Dunia memang membutuhkan lebih banyak cinta. Bukan cinta yang menjompak-jompak, melainkan yang lembut mengalun-alun, seperti naik turunnya gelombang air telaga ditiup angin sepoi menyegarkan, di siang hari yang panas. Sedangkan seorang anak perempuan cantik yang sayang pada bapaknya bermain ayunan. Didorong agak keras oleh bapaknya, seakan seperti melayang di atas telaga. Tertawa-tawa. Aku tidak tahu apa-apa. Fase itu tentu harus dilewati oleh siapapun, namun kurasa aku tidak akan pernah tahu.

Pergilah, pergi dengan Tuhan, Sayangku. Anakku bukan satu, bukan dua, melainkan seribu. Laki-laki semua, saleh dan perkasa. Dengan pedang di tangan menyerbu memulihkan harga diri Ibu Pertiwi. Seperti itulah mereka memapas leher para durjana, para durangkara, membuang kepala-kepala nista; sedangkan bibir-bibir mereka selalu basah dengan kalimat-kalimat suci. Seperti itulah anak-anakku lelaki. Anak-anak perempuanku, mereka shalihah. Apapun yang mereka kerjakan, tidak sekejap pun lalai memohon petunjuk, lindungan, pertolongan dan ampunan Sang Maha Perkasa.

Hidup macam apa yang tengah kujalani kini? Apapun ini Insya Allah kujalani. Apapun yang terasa tidak enak adalah akibat amal-amal burukku sendiri. Semua yang terasa enak semata-mata adalah belas-kasihNya. Semoga Tuhan mengajariku untuk bersyukur kepadaNya, atas segala nikmat yang kuterima, besar dan kecil, satu pun tak terlewatkan. Semua kusyukuri, karena Ia mengajariku caranya. Apalah aku pendosa. Tidak pantas aku meminta apapun kecuali maaf dan ampun, itu saja! Tuhan Maha Baik, Maha Belas Kasih, Pencipta belas kasihan itu sendiri.

Aduhai, amboi sungguh nyaman terasa dibelai-belai jiwaku, meski tubuhku penat dan linu. Ia-lah Maha Indah, Pencipta keindahan itu sendiri. Ia pun Maha Perkasa, segala sesuatu tunduk takluk mengiba beringsut di KakiNya. Ia Maha Mengayomi, segala sesuatu bergantung padaNya. Ia Maha Kaya, segala sesuatu berhajat kebutuhan padaNya. Kesejahteraan dan keselamatan semoga senantiasa tercurah pada junjunganku Baginda Nabi Besar Muhammad beserta seluruh ahlul bayt beliau, para sahabat, para pengikut beliau seluruhnya sampai ke akhir jaman!

Aduhai nyaman, amboi, aduhai sedap nian! Hanya Engkau Maha Mengetahui betapa hamba rindu pada kekasihMu. Ya Rabb, pertemukanlah aku dengan yang kurindukan. Aku yakin beliau pasti mencintaiku, menyayangiku yang fakir hina-dina di dunia ini. Ya Allah, ajari aku membalas cintanya. Tuntunlah aku ke sana. Apa lagi yang menarik dari dunia ini, tidak ada! Jika pun ada, aku ingin menghadapnya bersama dengan mereka yang kusayangi ketika di dunia ini. Pertemukanlah hamba dengan kekasihMu, Sang Musthafa, Ya Rabb al-'alamin.

Saturday, April 08, 2017

Oh, Ternyata Seteguk Indocafe Cappuccino


Oh, ternyata masih ada Indocafe Cappuccino meski seteguk. Hampir saja aku bangkit mengambil air panas untuk kuisikan dalam cangkir 75 tahun Nescafe-ku. Ternyata masih ada seteguk cairan penyebab perih perut ini. Bukan hanya perut yang dibuatnya perih, melainkan hatiku sekali. Kental-kentalnya bunyi ketika kuaduk dalam cangkir berdinding tebal membawa ingatanku pada tepian Ciliwung, perkampungan tempat tinggal orang susah. Orang-orang yang dilupakan oleh anggota-anggota yang terhormat kelas menengah keparat sepertiku. Ketika itu, aku belum. Kini pun, dalam hatiku, aku masih belum.


'Duhai mengapa begini terikat aku pada kalian, atau pada khayalanku mengenai kalian, atau pada romantisme yang kuciptakan sendiri mengenainya? Tidak saja hati, perasaan dan segenap pikiranku, tetapi syahwat birahiku sekali terikat pada kalian, 'duhai, orang-orang susah. Tidak perlu yang di pedalaman sekali. Mungkin karena aku malas pergi-pergi, namun cukup yang di relung-relung metropolitan ini, yang teknologi tinggi ini. Kalian ada di mana-mana, kalian yang selalu membuatku bergejolak, bergairah, sedangkan aku yang memutuskan untuk mati di gurun bersama macan!

Amboi! Ketololan ini bahkan kubawa sehingga kini! Aduhai, kapan kau akan melepas cengkeramanmu pada kejantananku, sedangkan aku tidak jantan lagi?! Lepaskan, biarkan aku pergi menentukan nasibku sendiri! Bau aroma tubuhmu yang menguar tak sedap terasa bagaikan tantangan, bagaikan himbauan bagiku, untuk meradang menerjang! Peluhmu, kilap-kilap berminyak tubuhmu serasa panggilan, serasa ajakan untuk mencerucupmu, memuaskan dahaga syahwatku. Allah Dewa Batara! Bahkan lenganku kini memeluk erat-erat, rapat-rapat enggan melepaskanmu. Persetan dengan nasibku!

Mungkin, ini baru kemungkinan, aku akan berakhir di sebuah kamar kos-kosan, seperti aku bermula. Tidak, mulaku bukan di sebuah barak atau di geladak apalagi anjungan kapal. Aku selalu saja kamar kos-kosan, bisa temaram, bisa lumayan terang, yang pasti dengan alat tulis entah mesin tik entah komputer. Seperti suatu siang yang panas begitu saja aku ke belakang, ke Rina Rini, [ke mana dia sekarang?] memesan kantong untuk Fujitsu pertamaku. Demikian pula entah suatu pagi atau sudah agak siang aku kembali ke Rina Rini untuk menebus kantong itu. Begitu saja.

Seperti saat aku sok-sokan mencari data di DaviNet lantas menulis-nulis email entah-entah yang bahkan kusimpan rancangannya dalam cakram-kilatku. Bahkan ketika aku sudah makan di Mang Kabayan pun, [seingatku] bahkan ketika aku belum mandi pun, kukonsep ia dalam kepalaku, ketololan itu selalu saja mengulang-ulang dirinya. Berulang dan berulang, seperti lagu lama yang sedap ini. Apakah ini semua terasa sedap sekadar karena kemudaanku saat itu? Akankah terasa sama sedapnya setelah aku setua ini, dibuat bergantung pada candesartan xylecetil 16 mg tiap pagi?

Suatu prospek yang mengerikan, sedang Egom meregang nyawa ketika sedang mengendarai motor. Mendiang pasti sama miskinnya denganku sekarang. Illahi Rabbi... hamba tidak tahu lagi. Setelah ini mungkin tidak ada yang lebih baik kecuali menghabiskan waktu untuk hal-hal yang berguna saja. Tidak meracau mengigau begini. [tapi masih dua paragraf lagi...] Tidak ada lagi memang yang kuharapkan. Benar-benar kuinginkan, tidak ada. Bahkan tidak ada kecuali di sini. Bahkan sekelebatan mie goreng dan fuyunghai sekadar kenangan manis yang pahit untuk diingat-ingat.

Aku tidak suka gagasan bunuh diri. Itu menunjukkan kelemahan. Lebih baik membunuh daripada bunuh diri, dan aku tidak mau membunuh. Entah aku suka atau tidak membunuh, yang jelas baru menyilet seekor cicak menjadi dua pada perutnya saja aku sudah muntah-muntah. Berarti yang lebih besar dari itu sudah tentu aku tidak sanggup. Aku suka gagasan memohon ampun sebanyak-banyaknya kepada Allah. Hanya itu yang terpikir olehku. Jika ini suatu hukuman, biarlah kucoba menjalani sesabar dan setabah yang aku sanggup, karena mungkin hanya ini yang aku bisa. Lainnya aku tidak bisa.

Seteguk Indocafe Cappuccino itu sudah tiada, digantikan oleh air yang suam-suam kuku saja, ditingkahi oleh dentingan sedih senar gitar Francis Goya, yang akan segera disusul oleh dentingan piano Richard Clayderman. Ya Allah, sibukkanlah hamba dengan meminta ampun kepadaMu. Apa lagi yang dapat hamba pinta? Ada! Ya Allah, hamba mohon jadikanlah hamba pandai mengingatMu, pandai bersyukur padaMu, dan menjadi hambamu yang lebih baik dan lebih baik lagi. Ini dia! Pak Bakti's Introductory Course to the Principles of Indonesia Adat Law? Amin. Asas-asas Hukum Perikanan Indonesia? Amin.

Wednesday, March 15, 2017

Betapa Indahnya Dunia, Dunianya Indah Betapa


Di suatu hari Rabu, maka yang umum iklim berubah. Benang perak dan jarum emas tidak akan sanggup menyatukan hati yang rengkah karena hidupnya musim panas dan matinya musim dingin. Panas dan dingin berganti-ganti, mulur dan mungkret; kecuali air, karena dengan anomalinya ketika beku justru membelah-rengkah batu-batu. Sedang batu licin tandas oleh belaian air, elusan angin, terlebih hati yang sepi takkan sanggup mengatasi yang demikian itu.


Cinta selalu saja menjadi sumber inspirasi bagi seniman. Mengapa seluruh manusia di muka bumi ini tidak menjadi seniman saja, atau pemabuk? Kesakitan, terlebih yang sangat, memang seringkali tidak terlupakan. Sampai terbawa mimpi, sedangkan mimpi dalam bahasa Jerman sama dengan luka. Luka badan akan sembuh dengan sendirinya, tetapi tidak luka hati. Hati adalah batu, dan cinta, dan dusta adalah air dan angin. Maka jadikanlah hati dari baja, dibakar, ditempa, didinginkan, ulangi lagi.

Puisi sialan ini lantas untuk siapa? Untuk siapapun yang melambaikan tangan di tepi jalan minta tumpangan, tidak peduli apakah ia bercelana jeans atau tidak bercelana sama sekali. Bagaimana kalau bau? Ceboki, mandikan, keramasi. Apapun yang menutup badannya, sehelai pun, renggut. Biarkan begitu, pandangi. Tepat di sinilah gagalnya Begawan Wisrawa, tidak peduli apakah gelandangan atau putri raja, pasti menggagalkan. Begawan Wisrawa pasti akan berakhir menggagahinya.

Apa mau dunia terbolak-balik? Apa mau surga menjadi neraka? Apa mau dewa menjadi manusia? Tidak mungkin. Mustahil. Sedangkan terik matahari terhalang lebat dedaunan pohon durian pun terkadang masih sanggup menembus, mencapai tanah, menghangatkannya. Meski ditutup dengan sandal jepit sekalipun, tetap berkas cahaya menyinari punggung kaki. Matahari, teriknya, berkas cahayanya tidak akan pernah di bawah telapak kaki, apalagi sandal jepit.

Tetes demi tetes peluh membasahi tubuh yang juga basah berpeluh. Peluh bercampur peluh, dan seorang anak kecil dimarahi ibunya karena bertanya mengenai peluh yang menetes. Ia padahal ingin mereguk nikmatnya peluh, dari buah-buah dada wanita dewasa dalam khayalan yang tak pernah terwujud. Khayalan itu, seperti luka, adalah mimpi buruk yang tidak akan berhenti merundung benak. Setua apapun anak kecil itu menjadi, luka itu akan tetap basah, terus bernanah.

Maka selesailah. Dengan kedua tangan dimasukkan saku samping celana, dan perasaan tersimpan rapi dalam saku kemeja, anak kecil melangkah pergi. Tepian pejalan kaki disusuri di bawah remang cahaya toko-toko Cina. Perasaan dan kedua tangan ia tidak punya, setidaknya tak terlihat mata yang hanya peduli pada apa yang ingin dilihat. Maka cobalah termenung, seakan kehilangan sesuatu yang sangat berharga, yang tidak mungkin kembali lagi, sampai selama-lamanya. Begitulah. 

Tuesday, February 14, 2017

Valentine-an, Seperti Dua Tahun Lalu. Lagi


Padahal dua tahun lalu saja tidak palentinan. Padahal hampir selalu tiap tahun tidak palentinan. Lalu mengapa tahun ini harus begitu? Mengapa tahun ini tidak begitu seru? Tidak ada silverqueen berkondom, misalnya. Jawabnya jelas, karena sekarang sedang jaman pilkadal. Betapatah boleh pilkadal mengerukup geletarnya palentinan? Apa karena orang Jakarta sekarang penuh kemarahan dan kehabisan tatih-tayang? Apa iya tinggal Tara Palasara dan Niluh Djelantik?


Hari palentin padahal adalah hari tatih-tayang. Biasanya dirayakan dengan serba merah jambu, yakni, kemerah-merahan dan kejambu-jambuan. Sambil melepas keperawanan maupun keperjakaan, sambil makan berkondomkan coklat. Pantas saja yang seperti ini dikerukup, dikerobongi dengan kondom sekali, karena jelas mungkarnya, jelas bathilnya! Maka dari itu diganti pilkadal, karena pilkadal setidaknya lebih lazim sekarang meski sama dzalimnya. Setidaknya kadal tidak berkondom.

Ada pernah lihat kadal dikerukup, dikerobongi? Jikapun ada, mungkin tidak pakai kurungan ayam, karena mesh-nya terlalu besar-besar. Mungkin cukup dengan tudung saji saja. Jadi pada ketika suatu siang hari yang terik di luar, sejuk di dalam rumah, di meja makan yang lengang ada sebuah tudung saji mengerukup sesuatu. Ketika dibuka dengan pernuh kasih-sayang, dikiranya masakan istri tersayang, tidak tahunya seekor kadal! Coba bayangkan perasaannya. Sekadal ekor, astaga!

Di sinilah persinggungan antara Hari Kasih Sayang (Valentine Day) dengan Pemilihan Kepala Daerah. (Pilkada) Santo Valentinus tersinggung oleh Kadal! Dua-duanya sama-sama mungkar, dua-duanya sama-sama kafir! Berkasih-sayanglah, karena kasih-sayang 'kan tidak selalu harus dengan pasangan tidak sah, pasangan belum atau tidak halal. Kasih-sayang 'kan bisa antara ibu dan anak, antara saudara kandung atau tiri sekali. Ah, betul-betul kata-kata yang payah. (lame)

Kadal-kadal juga bisa berkasih-sayang antara induk dengan anaknya, antara saudara-saudara telurnya. [karena kadal bukan vivipar, melainkan ovipar] Kadal pun bermacam ragam bentuknya, yang paling umum mungkin kadal kebun yang kuning kecoklatan, karena yang kuning coklat muda sampai abu-abu kehitaman di dinding maupun langit-langit itu lebih sering disebut cicak. Apalagi yang kelabu terang sampai gelap bertotol jingga cerah sampai ungu, itu tokek. Semuanya kadal.

Jangan sampai lupa, naga komodo! Bukan komodo-nya ya, karena itu nama pulau. Jadi itu naga yang berada di pulau Komodo, maka naga Komodo. Itu pun kadal. Termasuk biyawak alias nyambik, bukan crocodilia melainkan squamata. Ah, jadi ingat buku kesayanganku dulu. Warna kuning dengan gambar-gambarnya yang cantik, berbagai macam reptil. Buku-buku seperti yang menjadi koleksi Istana Anak-anak Taman Mini Indonesia Indah. Berdebu. Lusuh. Tiada yang melirik.

Ya, seperti itu jugalah aku. Itulah sebabnya jarang sekali ada yang merayakan Hari Kasih Sayang denganku, karena aku lebih sayang pada kadal daripada Ahok apalagi Djarot. Terlebih Anies dan Sandi tiada lebih peduli pula. Hidupku selalu saja kadal, sedikit jangkrik atau orong-orong dan selebihnya rumput yang bergoyang. Sedangkan bagi peraya Hari Kasih Sayang, Ahok Djarot, dan mungkin sedikit Anies Sandi, lebih berarti bagi hari-harinya akhir-akhir ini. 'Udah. 'Gitu aja.

Monday, January 02, 2017

Retroaktivitas Obsesif Kompulsif 2017


Ini semata kulakukan karena aku tidak terima pada 2015, tahun yang panas itu. Akankah 2017 menjadi tahun kemarau panjang lagi? Akankah aku kembali sehat sempurna tahun ini? Semua terserah Allah. Jika sampai cenderung aku pada kebiasaan-kebiasaan baik, semata-mata karenaNya. Jika tetap saja aku pada kebiasaan-kebiasaan buruk, itu karena aku sendiri mendengarkan bisikan setan terkutuk, aku berlindung padaNya dari itu. Hamba memohon hanya padaMu, Illahi Rabbi.


Berhubung ini retroaktif, maka tidak apalah digelar taktik lima tujuh, seperti pada angkot atau tuyul bila dijejel-jejel. Duaribu tujuhbelas atau dua ribu tujuh belas? Tidak. Aku tidak akan mendokumentasikannya. Bukan aku percaya tahyul. Tidak. Siapa tahu kalau tidak direkam ia tidak akan terekam. Lagipula sudah ada petunjuk-petunjuknya di mana-mana tempat. Ini adalah entri mengenai awal tahun dua ribu tujuh belas, yang dimulai dengan ledakan dan kedinginan.

Ledakan dan kedinginan, karena kepanasan. Panas, maka pindah ke belakang, sedangkan rumah begitu rapinya. Begitulah jika aku di rumah saja. Rapi, karena aku memang obsesif kompulsif. Sendiri saja di rumah, berusaha tidur agar tidak sampai mendengar ledakan-ledakan. Namun gagal, sampai akhirnya terdengar sekali dua ledakan, jauh dan dekat, meski belum tengah malam. Tepat mendekati atau bahkan setelah lampau sedikit itulah aku pindah ke belakang agar dingin.

Benar saja, dingin yang kubutuhkan. Dingin yang menurunkan suhu tubuh sehingga ia siap beristirahat. Silaunya cahaya lampu membuatku menukar kaki dengan kepala, kepala dengan kaki; dan tidak lama aku pun tidurlah. Rasanya tidak lama, namun ternyata sampai hampir satu jam. Aku tergeragap bangun. Disembur dingin satu jam, aku takut masuk angin. Segera aku pindah lagi ke depan, menyiram kepalaku dengan minyak kayu putih, sekujur badan pula yang terjangkau.

Berdebar-debar namun ternyata tubuh memang sudah berada dalam moda istirahat, maka tidak lama aku kehilangan kesadaran lagi. Sampai pagi pertama di tahun dua ribu tujuh belas menjelang. Demikianlah caraku menemui dua ribu tujuh belas. Lucu jika memikirkan, betapa beberapa hal begitu lekat dalam ingatan sementara beberapa lagi tidak. Apa benar perekatnya? Seandainya saja semua yang baik-baik lekat dalam ingatan, kalimat-kalimat suci, disucikan lagi menyucikan, misalnya...

Seperti itu juga kepercayadirian. "Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia; dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa." (QS 17:83) Ampun Ya Allah, ampun. Jangan biarkan hamba seperti itu. Jangan pula diingatkan hamba tiap-tiap kali dengan kesusahan. Ya Allah hamba mohon lembutkanlah hati hamba agar mudah menerima nasihat bahkan yang paling halus sekalipun.

Ya Allah kasihanilah hamba dengan Qur'an. Jadikanlah Qur'an itu bagiku pemimpin, cahaya, petunjuk dan belas kasihan. Ya Allah ingatkanlah hamba bilamana lupa, karuniakanlah kepada hamba ilmu bilamana bodoh, dan karuniakanlah kami rejeki berupa membaca Qur'an sepanjang malam dan sepanjang siang, dan jadikanlah Qur'an itu argumen bagi hamba, 'duhai Sang Pengayom Alam Semesta. Maha Suci Engkau yang Memiliki Keperkasaan. Segala puji hanya pantas bagiMu.

Saturday, October 15, 2016

Suatu Malam di Ketinggian Cosmo Amaroossa


Meski sama-sama di ketinggian, yang kupandangi ini bukan Monas. Meski sama-sama di ketinggian, ini bukan Menara Pengawas CGK, bukan Sentra Operasi Penerbangan, (Senopen) bukan pas yang ada tulisan shift leader-nya. Meski tetap ini mengenainya, karena yang kupandangi adalah gedung Fedex hampir di kaki langit. [Kali ini akan kucoba tanpa tanda-hubung ganda tolol itu] Entah mengapa aku kesakitan. Tidak bisa lain ini karena dosa-dosaku, ketololanku sendiri. Di ketinggian ini aku merasa tolol dan tidak berdaya. Hanya bersabar yang masih dapat diandalkan.


Ya, karena ini masih di dunia. Kelak di akhirat, [neraka...] sabar tidak ada gunanya. Sama saja engkau sabar atau tidak. Ampun Rabb hamba, ampun. Hanya satu harapan si Tolol ini, mana tahu semua kesakitan ini dapat mengikis habis semua dosa dan kedurhakaan, agar agak pantaslah si Tolol ini menghadapMu. Kutulis ini dalam keheningan malam, kecuali hembusan AC saja yang terdengar di ruangan berjendela kecil ini. Aku tidak suka jendela kecil, meski dari jendela ini kupandangi waktu-waktu, yang tampak begitu jelasnya menari-nari di hadapanku. Masa lalu tidak ada. Yang ada hanya yang di hadapanku ini.

Biarlah di sini kutuliskan betapa aku mulai kehilangan kepercayaanku, keyakinanku. Ya, itu aku di sudut, di bawah siraman lampu sorot, kehilangan kepercayaanku pada... Pancasila dan UUD 1945 hahaha. Menulis delapan alinea itu menguras imajinasi tauk. Namun apa yang sudah kaumulai harus kauselesaikan. Ini adalah, sebagaimana biasa, entri mengenai cinta. Cinta yang tidak pernah disampaikan sebagaimana harusnya cinta, karena tidak ada kata "musti" atau "mesti" dalam Bahasa Indonesia. Satu-satunya penanda bagi gagasan Kebangsaan Indonesia yang sungguh rapuhnya, yang mengeringkan jiwa karenanya.

Pergilah, pergi bersama Tuhan. Bunda Maria pun bersamamu, jadi untuk apa khawatir? Mengapa takut mencelupkan belati ke dalam daging hidup? Amboi, itu lebih baik, jauh lebih baik daripada mencelupkan daging ke dalam lubang berdaging berlendir. Jauh lebih baik, 'Nak. Semua kehidupan berharga, semua kehidupan adalah kehendakNya. Jangan kaucabut sekehendak hatimu, kecuali bila menjadi kehendakNya. Bagaimana aku tahu kehendakNya, Bapa? Sedangkan makan saja aku merasa bersalah. Haruskah aku mempertahankan hidupku dengan bernafas saja? [Aduhai, banyak sekali kata serapan dari bahasa Arab!]

Pada ketika itu aku memutar badan, memunggunginya, lalu melangkah pergi. Dramatis sekali! Sedangkan ia memandangi punggungku bergerak menjauh seakan-akan lesan sasaran bulat-bulat hitam di tengah-tengah. Aku tahu ia membidiknya. Lengannya sudah terangkat mengamangkan belati. Kuhentakkan dalam hati, "Lakukan! Sekarang!" "Bapa maafkan aku! Tuhan maafkan aku! Bunda Maria maafkan aku!" Ia meraung dan hanya seberapa ketika sesuatu kurasakan menghantam punggungku. Suatu bidikan yang sangat terlatih dan sangat tepat, bersarang di antara belikat di antara iga.

Darahku mengering karenanya, meninggalkan nadi-nadiku dengan cepat, mengosongkan otak dan jantungku. Jiwaku mengering karenanya, aku-ku kosong karenanya. "Terima kasih, 'Nak. Terima kasih, Tuhan." Itulah kata-kataku terakhir di minggu pagi yang cerah ini, yang lantas tidak punya arti. Engkau, 'Nak, yang masih harus mencari arti bagi hidupmu. Aku sudah tidak. Tidak ada bedanya kini apakah hidupku kemarin berarti atau tidak. Kau masih harus menjalani hidupmu yang penuh kesia-siaan, kecuali jika diisi dengan perbuatan-perbuatan baik, untuk menunjukkan penghambaanmu padaNya. Semata-mata.

Maka pergilah ia ke tempat ramai, di mana orang berkata-kata sesukanya. Pergilah ia ke pasar di mana orang saling menipu, bahkan meminta meratap agar ditipu habis-habisan. Baik si Penipu maupun si Tertipu tidak ada bedanya bagi ujung belatinya. Ia celupkan dalam-dalam terkadang di tempat-tempat di mana tidak ada pembuluh nadi. "Agar lebih lama ia kehabisan darah," gumamnya selalu sambil mengingatku, mengenang wajahku kala terakhir menatapnya. Dalam ingatannya, wajahku teduh penuh kasih, seakan wajah Bunda Maria sendiri memandangi putranya yang mengorbankan diri menebus dosa manusia.

Sampai suatu hari ia bertemu dengan seorang perempuan. Pertama, dipandanginya lekat-lekat perempuan itu pada dadanya. Selanjutnya, entah bagaimana ia merasakan suatu dorongan kuat untuk menubruknya, dada itu sepasang buahnya. Sungguh ranum di matanya, bagaikan kelapa tua. Ia tidak peduli lagi pandangan mata orang, bahkan mata, bahkan wajah perempuan itu. Matanya terpaku pada dada, dan hanya dada itu saja. Ia merasa selain belatinya ada juga yang mengacung. Ia menatap nanar sampai matanya terasa perih, sehingga tak terasa ia mengerjap-ngerjap. Ketika itulah ia melihat neraka.

Sunday, September 25, 2016

Adakah Cinta di Hatiku? Bisa Juga Tidak


Entri-entri di bulan-bulan 2016 tampak seperti strategi sepak bola saja. Apakah entri ini sekadar agar September tidak satu, atau yang lainnya, di dunia Kemacangondrongan ini tidak ada pentingnya. Di sini pertanyaan tidak untuk dijawab dan jawaban tidak harus atas pertanyaan—meski tanda baca sedapat-dapatnya harus tetap dijaga akurasinya. Malam ini aku bersama Oom Philippe Pagès dengan mini orkestranya—setelah agak beberapa hari terakhir ditemani Opa Fausto Papetti dengan dehaman saksofonnya.


Lantas sekarang Oom Phillipe memainkan gubahan kompatriot dan sebayanya, Jean-Claude Borelly, yakni Dolannes Melody—bah, hari-hariku diisi oleh Perancis-perancis ini—bedanya, Oom Phillipe pianis, Oom Jean-Claude terompetis. Lantas... oh, Einsames Herz, Hati yang Sepi, salah satu lagu yang agak bisa kumainkan pada piano, meski tangan kiriku terlalu ribut. Maka tepatlah apa yang biasa kukatakan, tegangnya senar gitar hanya cocok bagi hati riang—ketika hati sedang rusuh, kelembutan tuts-tuts pianolah penawarnya.

Apa rasanya jika ambiens sebuah lobi hotel dijejalkan pada kedua lubang telingamu, ya, seperti inilah. Hotel-hotel memang sengaja dibuat nyaman karena itulah fungsinya. Semakin nyaman tentu semakin mahal, semakin seadanya semakin murah. Ini sesungguhnya adalah bentuk keputusasaan dalam menemukan persekitaran yang membangun dan mendukung suasana hati, sedangkan hal-hal seperti keharusan untuk bolak-balik ke dan dari bilangan Segitiga Senen betul-betul menggerusnya. Uah, La Mer! Ini di lobi hotel yang nyaman, lengang.

Ini pula adalah kekecewaan yang meronta-ronta meminta penawarnya, yang sehingga kini belum juga kunjung diketemukan. La Mer memang sudah sesuai dengan berkurangnya hiruk-pikuk, akan tetapi rasa badan yang tidak seberapa, lengket karena udara yang berada di tepi hujan deras, malam yang sudah tidak muda lagi menghancurkan semua harapan akan suasana hati yang prima. Apa aku hanya dapat ber-Mimpi [tentang] Cinta (Liebestraum)—sedangkan Ibu sekarang tiap hari menonton dangdut saja kerjanya.

Tentu saja berlebihan jika kukatakan duniaku runtuh sedikit demi sedikit. Ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Yahudi-yahudi yang menjadi korban rezim Nazi atau yang semacamnya—ada juga cerita mengenai keluarga yang hancur tercerai-berai gara-gara ramai-ramai 1965. Ini masih belum melibatkan kejahatan yang tiada tara. Ini masih sekadar dunia yang memang tidak pernah diciptakan sempurna, Insya Allah, agar manusia tidak terlalu cinta kepadanya. Ini sekadar menjalani hari-hari seperti dilakukan semua orang.

Alangkah mahalnya—jika demikian—khayalan mengenai trotoar yang tidak bersih dan tidak rapih—khas trotoar-trotoar di Jakarta—bermandikan cahaya kuning temaram lampu jalan, mungkin di sekitar Terminal Senen. Apakah itu berarti naik PPD nomor 10 atau 11 tidak terlalu menjadi masalah. Apakah ketika itu makan dulu di salah satu warung atau entah penjaja makanan apa di sekitar terminal, bisa jadi. Apakah cukup uangku di dompet untuk itu semua, tidak mengapa.

Terpenting dari itu semua, aku menuju pulang. Malam sudah cukup larut dan mungkin ini adalah bis terakhir yang dapat membawaku ke Terminal Blok M. Sesampainya di sana, maka berjalan kakilah menuju Blok M Plaza, di bawahnya ada McD yang buka 24 jam untuk sekadar membeli ice cream cone—karena untuk yang lain kemungkinan uangku tidak cukup. Apakah saat begitu di benakku menggeremang Moon River yang dimainkan dengan piano, boleh jadi.

Lalu langkah-langkahku menjadi ringan berjalan kaki menuju Radio Dalam, bisa berbelok pas di Hero atau melewati kuburan dulu tidak menjadi masalah. Terlebih penting lagi, suatu pertanyaan: Apakah saat itu di hatiku ada cinta? Apakah sesampainya di rumah Bapak dan/atau Ibu masih wungu—jika tidak, tentu saja aku terpaksa mengetuk-ngetuk pagar dengan gembok agak keras, atau malah lompat pagar. Bisa masuk ke kamar belakang, bisa juga tidak. Adakah cinta di hatiku?

Thursday, September 22, 2016

Sesakit-sakitnya Hatiku, Lebih-lebih Cintaku


Seedan-edannya aku, tidak mungkinlah aku melakukannya terhadap Emma—panggilan dari Emmanuelle. Gila ini! Ini adalah malam-malam sangat larut, atau bahkan dini hari sekali, ketika kabut baru turun dan embun sudah membulir. Bisa jadi karena akulah orang Venesia tak bernama itu. Sangat bisa jadi, karena aku bukan pedagang buah dan tidak dari Napoli. Lagipula, aku tidak pernah menerbangkan Mirage III dari varian apapun; justru kebanyakan pesawat-pesawat pemburunya Angkatan Laut Amerika Serikat.


Akhirnya, Kawan-kawan, aku setua ini dan tidak lagi memiliki keinginan apapun. Dulu pun apakah benar kuinginkan, tidak. Seperti inginnya aku pada sebentuk saksofon, seperti itulah semua keinginanku. Menguap semua, bahkan aku tidak ingin membuat metafora apapun untuk menguapnya semua keinginanku. Tersisa padaku hanya ketololan yang mengerikan, jauh mengerikan dari apapun yang patut membuat ngeri. [Apakah termasuk kemungkinan tertangkap dan disiksa seperti para tertuduh PKI dan Gerwani, aku tidak tahu apa-apa]

Kenyataannya, senandung saksofon Kawan Nyoto ini memang agak merdu. Desahan dan dehamannya, getarnya bilah bambu yang diperkuat getarnya udara dalam ruang pipa kuningan. Ini seperti rasa simpati yang terbit pada kesintingan-kesintingan yang diberondongkan Bang Fahri Hamzah pada sasaran-sasaran empuknya, meski dalam hal Dewan Perwakilan Daerah (DPD) jelas pendirian kami beda. Mungkin karena ia dari Bima aku dari Jakarta. Aku tidak pernah merasakan kedaerahan itu meski lidahku sungguh betapa medok Jawanya.

Ini bukan Amerika, Bung! Di Amerika ada kengerian? Di tiap-tiap lipatan, tiap-tiap belahan pelosok bumi ini kuyakin ada saja kengerian. Kesadisan. Aku belum mengecek apa yang terjadi sepanjang Perang Sipil. Perang melawan Indian yang pakai menguliti kepala dan merebus lidah dalam minyak panas tentu saja sadis. Astajim ini samba dari suatu masa ketika pintu belakang terbuka pada kegelapan, temaram lampu bohlam yang menyinari tali-tali jemuran yang diikat pada lubang-lubang angin.

Jiahaha akhirnya kuketahui ulah siapa. Ah dari hampir duapuluh tahun lalu. Mungkin itu sebabnya aku tadi membeli sekaleng Guinness. Ini seperti sehisap sekepulan entah di pintu belakang maupun pintu depan. Teras dengan bantal-bantal merah kursi rotan, tetap dengan temaramnya bohlam. Oh mengapa semua berakhir? Mengapa pun aku harus mengakhiri mimpi orang lain akan kebahagiaan sepanjang masa, hingga akhir jaman? Aduhai begini benar nasibku, begitu benar nasibmu, Wahai Kecoak Jelek, Mampus!

Kini aku begitu saja tua, masih memberondongkan kata-kata tanpa makna, seperti dahulu di kamar setrikan—yang sekarang kamar Mbak Nung—menulisi buku tebal dengan puisi tolol mengenai orang tua tolol dan asap rokok. Tolol! Astaga, malam ini kurindukan kalian teman-teman lamaku. Kepulan dan kepulan. Asap dan uap. Tolol kalian semua hahaha. Tak satupun akan kutemui kalian meski kurindukan, malam ini saja. Kalian saja, lainnya tidak. Lain-lain yang juga temaram tidak!

Namun malam ini entah bagaimana caranya aku merasa muda... setelah sempat melihat sedikit film tolol tentang pembunuh berantai khas kesukaan Ige, sekarang mendengar Mack Si Piso. Hahaha betapa tololnya kemudaan ini. Sedangkan yang kusanding kini adalah Minuman Botani. Hah, apa pulak?! Selamanya aku akan menjadi Orang Asing di Malam Hari, meski direndisi seperti ini, tanpa romantisme apapun. Selamanya mungkin akan menjadi khayalan, ya, karena kuputuskan begitu! Romantisme semata adalah khayalan!

Mungkin karena seharusnya ada dua orang asing. Ini tidak pernah dua. Ini selalu satu dan itu selalu aku saja. Biarlah aku berdua dengan diriku sendiri, bertiga dengan kesepianku, berempat dengan kesepian diri, berlima dengan kesepian kami, akhirnya jadi beramai-ramai ‘kan. Ramai-ramai kami melonjak-lonjak riang di seputaran Katedral Winchester, sedangkan ia juga merek senapan pendobrak. (shotgun) Aku pasrah saja pada Sang Maha Kuasa. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Aku lelah.