Wednesday, April 24, 2019

Ingin [Rasanya] 'Kuteriak [Woi!] ...Ambyar!


Jiah... sekarang 'udah Digigit Cinta. Mungkin ada kaitannya juga. Mengapa sampai merasa ingin teriak, tiada lain karena digigit cinta. Kena di situnya. Teriak: Woi!, terus ambyar. Serrr... Gitu. Kekurangan itu tidak banyak berarti jika pumpunan tetap di kekentuan. Memang demikian adanya, karena itu semua semata emosi. Adanya tidak semata di mata. Terutama di pendengaran dan juga mungkin penciuman. Pengecap paling asin-asin getir. Peraba 'ya gitu-gitu 'aja. Ini apa kembali saban-saban 'ngecek pratinjau atau sebodo amat. Ini latihan etnografi 'pala lu peyang.


Tiada lagi di dunia ini yang tersisa untuk memelukku. Tiada lagi di dunia ini yang tersisa untuk menciumku selamat malam. Apa bibir yang mecucu 'gitu. Apa memang cowok [sok] pemalu. Sudah lewat semua itu. Sudah berhari-hari aku ingin mengabadikan yang berkebat-kebit. Abadi. Kurasi. Ini entri tanpa tanda tanya. Jika pun ada tanda seru atau apostrof. Akhirnya kuganti daftar-main. Ini terasa seperti ruang flex, mana dingin-dingin begini. Dengan perut membuncit begini, kalimat-kalimatku di sini pendek-pendek. Seperti sok tegas begitu, dan aku belum periksa pratinjau.

Ternyata aku salah. Dingin-dingin begini bukan ruang flex atau bahkan Amsterdam sekali. Ini ternyata adalah dingin-dingin kemasukan. Apa perlu kuceritakan ketololan kemarin, yang mengakibatkan cabikan ayam, sup ayam, sundae cokelat dan ichik ochak. Apa perlu kuceritakan tentang empat batang oncom goreng lengkap dengan semangkuk mie ayam yang aduhai lezatnya di depan Pasar Kenari. Bahkan sebelumnya siomay Kantin Prima dan malamnya masih bubur stasiun lagi. Apa sudah semua. Bagaimana tidak menggelendut, akan kubaca sambil makan roti gandum.

Hitam itu hitam. Tidak kuteruskan ke arah situ, meski "semua nada seperti bercampur dan rasa-rasanya tidak pernah di stem sejak djoksut, tengkyu loh." Pengamatan jeli! Tahun lalu aku menulis nama-nama. Apakah pada sekitar waktu-waktu seperti ini. Apa tiba-tiba rindu Kees Broekmanstraat ketika harus bekerja begini. Kecuali sejuknya udara dan dengungan pembuang udara, memang ada terasa. Perempuan Guantanamo, perempuan Havana, yang mana saja. Tidak ada. Aku butuh badan enak pikiran enak. Aku harus buat laporan bulanan, malah begini.

Ini entri mengapa ditulis Rabu, apa pernah. Pasti pernahlah, sudah bertahun-tahun. Terlalu banyak yang dipikirkan, harus dikurangi. Kalau tidak bisa semua, paling tidak sisakan satu. Ke mana perginya kefasihan, kalimat yang efektif namun mengalir. Tidak ke mana-mana di sini, karena rasa itu pun tiada. Mau apa. Bisa apa. Terkadang terasa namun segera berlalu begitu saja. Ini bukan sekadar masalah hilangnya kebungahan, kegairahan. Ini mengenai cerah cuaca sekeluarnya dari terowongan sebelum Amstel apalagi Spaklerweg, ternyata benar aduhai antimenstrim.

Ini bukan lagi meracau. Ini terbata-bata. Ini bukan lagi persembunyian. Bahkan citraan dan ragaan mengerikan sampai menjijikkan sudah kehilangan sensasinya. Celine, haruskah aku memanggilmu begitu. Dapatkah kau memalingkanku dari antimenstrim, dari nada campur, dari mecucu. Antimenstrim itu yang susah, ketika yang bukan alis, yang tidak di kurva lengkung harus dicukur. Serta-merta aku teringat pada trio candesartan, amlodipine dan bisoprolol. Lantas empat tiga. Empat Tiga adalah lichting-ku di Akademi Angkatan Laut. Ada darah itu padaku.

Ya, aku memang Si Tolol Yang Biasa. Tidak biasanya aku tidak tolol. Aku biasanya tolol. Aku tidak biasanya duduk kedinginan, sedang setentangku ditinggal Papa mengurus STNK sampai ke Bojong Indah. [Aduh polisi.] Cairan. Rabaan. Melahap slai o'lai seraya menanyakan pendapatku mengenai situasi politik. Ini entri tiada berarti. Sebentar lagi toh aku harus berurusan dengan yang tiga itu. Itu kenyataanku. Seingsut demi seingsut, dari tiga ke tiga berikutnya. Aduh ini entri masih harus diilustrasi. Tidak mengapa asal terlihat rapi, seperti setrikaan Kadet AAL sekali.

Sunday, April 14, 2019

Sepi Saupisau, To Kai Tokaito: To Mato Mato


Diancuk... eh, ini bukan makian. Ini panggilanku untuk blog ini, yang merupakan akronim dari Diari Pincuk, jadi semacam pecel pincuk begitu. Jadi begitulah, Diancuk, ah, masa harus kukomentari dulu, atau sekadar kuindikasikan. Cukuplah kucatat di sini bahwa aku memandang lurus ke estanatong agar mataku tidak plirak-plirik jelalatan ke mana-mana. Padahal aku belum shalat dhuhur. Padahal waktu dhuhur sudah masuk dari dua jam yang lalu, sedang perutku kembung berisi A Fung Phetshop masih ditambah tiga [ya, tiga!]  cabik tak-bertulang. Uwaw, atau nyaw.


Diancuk! [nah, ini makian] Aku jadi saban-saban memeriksa pratinjau lagi. Tidak! Aku berlindung kepadaNya dari yang seperti itu. Biarlah aku begini di sini tolol. Semoga aku tidak disiksa dalam kubur apalagi neraka gara-gara ini. Mungkin aku juga tidak bisa memberitahumu mengenainya. Estanotong nyatanya tidak bisa dipandang. Ke mana pun tidak bisa ditebar pandang. Mau segera ngacir ke mushala minum masih penuh, masih ada dua cabik pula. Satu berlumur, satu sedikit berminyak. Perut, kamu kenapa kembungan, sih. Lebih baik begitu, daripada perut paus.

'Tuh, ditambah "mati" ngeloncok, tidak ditambah rumpang. Kezel 'ga sih! Uwaw, ga nahaaan... Aku gendut botak tua begini memang seharusnya segera menghambur ke sajadah. Lalu apa yang kau terus lakukan di sini. Mengetiki. Mana tahu dalam setengah jam ke depan kembung berkurang. Ribet tauk harus membungkus-bungkus dua cabik dan krampulan es batu ini. Diancuk, sampai lupa. Aku 'tu tadi mau bilang, kalau dalam kurang dari duapuluh empat jam ini aku sudah dua kali dipermalukan, yakni, oleh Pendeta Agus Sutikno dan anaknya Wisnu Kamulyan. Aku menyesaaal...

Hei, Diancuk, mengapa engkau baru tiga paragraf. Memangnya paragrafmu bermakna, memangnya mengandung pokok pikiran, atau, seperti kata Septi Pesek, pokokmen. Hei, Pak Kaji Ibnu Fikri juga pokokmen. Uah, [nah, ini "uah" beneran, tidak sok imut seperti Bunga Edan] hidup macam apa itu. Menunggu M51 yang sekarang mungkin sudah tidak ada atau tidak sampai situ, apalagi Meent. Hidup seperti apa yang tengah dijalani oleh Bang Noor Haryono. Musik macam mana, yang sok cerdik, yang berceloteh dalam lubang telingaku. Hei, tak bertebar?!

Lantas, paragraf macam apa yang ber-hei-hei begitu, aku cinta padamu sampai matahari pagi. Jih! kalimat macam mana pulak! Ini tidak bisa. Bahkan sangat mungkin kutinggal saja aku tidak peduli. Aku ingin menghadap Tuhanku, mengadukan perihalku. Nyatanya, besok aku Insya Allah ke Jalan Radio. Nyata. Cantik sedang ke Kodamar, Insya Allah, merawat Mama dan Tante Lien yang baru jatuh. Nyata. Lantas, apa peduliku jika sudah dua kali "lantas", bahkan tiga, [Mana? lha itu barusan] hanya di paragraf ini saja?! Masbuloh ditebari tanda baca?!

Difilmkan dokumenter begitu memang dapat memukau, mengingatkanku pada etnografi visual yang disuruh ganti jadi fotografi. Bukan aku yang payah dalam bidang fotografi, melainkan fotografinya itu sendiri yang payah. Seperti rayap mati. Merasakanmu, aku peduli padamu, tidakkah kau tahu aku mencintaimu. Tokai! Ah, ashiaaap dengan tiga "a" oleh Fredi Merkuri, lengkapnya aku tak tega menuliskannya di sini. Aku tidak tahan lagi, namun sepertinya aku punya gagasan yang agak menarik. Tidak tahu bisa berhasil atau tidak. Akan kuberitahu sebentar ini. Kucoba!

[Engga, dia 'ngga sakit itu. Tampar.] Ini, paragraf terakhir ini, diterus-ketiki setelah lebih dari duabelas jam dari "Kucoba!" Aku... berhasil. [sambil menunduk, menekur] Plerktekuk... Ambyar! Akan halnya kuterus-ketiki, tiada lebih karena sederhananya gudeg yang 'ngakunya Malioboro, dengan krecek yang tidak lebih jelek dari bikinannya Mbak Lela dan Ade. [mana ada yang bisa lebih jelek lagi dari itu?] Tambahan lagi witte koffie, yang mirip dengan witte roos, akhirnya terbuka juga. Pasti bau. Pasti memuakkan. Orang tidak diapa-apakan saja menguar. [Satu kata: TOKAI]

Thursday, April 11, 2019

Perempuan Menawan dari Arkadia [Dangdut Italia]


Akhirnya kupencet juga itu tombol entri baru, kuketik langsung di editor teks. Padahal ini malam Jumat yang aduhai panasnya. Tadi aku sudah sempat dilanda kantuk yang hebat. Apa yang berdenyut-denyut dalam anganku aku tidak suka. Aku tidak pernah suka yang seperti ini. Terkadang butuh, tapi suka, tidak. Demis Roussos menemaniku di malam Jumat yang gerah ini. Anganku tiba-tiba berkebat ke... ini apa cerita cabul?! Akankah entri seperti ini selesai, dengan pertanyaan-pertanyaan tak berdaya ini. Aku memang tidak berdaya, oh, aku yang tua.


Gendut. Botak. Tidak punya harkat apalagi martabat. Tidak lagi kesenangan. Semua terasa membebani. Apa aku ceritakan saja betapa berdesir seperti membuncah, mendesak. Astaga, begitu benar. Sudah tua. Apa benar yang mendorongnya, aku yang tidak bisa melihat masa depan ini. Untunglah aku diturunkan di dekat Masjid Jami' Matraman. Di depannya, sebuah baliho lumayan besar bergambarkan Habibana Rizieq Shihab, digambarkan seperti semacam pahlawan super begitu. Ah, orang-orang dengan kehidupan menyedihkan. Kalian membutuhkan pahlawan.

Kembali pada kecabulan tadi. Apa aku masih bisa menemukan kesenangan yang cukup berarti darinya, dengan mencabuli diri sendiri. Aduhai, hidupmu tidak pernah berhenti menyedihkan. Dari mana kau sampai dapat gagasan bahwa dirimu ganteng. Lantas ada pula kekerasan dalam rumah tangga terhadap anting-anting pom-pom. [mengapalah yang seperti ini lekat] Menjijikkan. Pasti menjijikkan, yang mana pun. Sedang ini, Suatu Hari, Suatu Tempat pernah begitu mengharu-biru, jelas itu karena remaja. Sekarang bagaimana. Apa yang harus kulakukan.

Jelaslah ini bukan kecabulan. Ini ketololan, seperti tololnya diriku. Apakah terkadang terbersit ketotolan, sedang menunggu lampu hijau bagi pejalan kaki. Pertama ke arah utara dari halte trem Jalan Laut Selatan, lantas ke timur. Ini kesepian, namun lebih terasa. Lebih banyak. Lebih banyak pilihan. Tidak dengan makanan, seraya memakan hidangan entah-entah tanpa adanya apapun yang cukup berharga untuk direkam. Apalagi diabadikan. Ini entri apa. Terasa denyut-denyutnya. Terasa suasana hatinya, sedang terbentang jalan di depan rumah Pak Jiman Tolo.

Di waktu malam seperti ini, mengapa tiba-tiba ke sini. Lantas Andi Magani Irawan, dia tidak lebih tua dariku namun sudah tahu Helga ada. Adiknya Si Ari Penjol masuk ke dalam daster ibunya yang sedang membungkus nasi uduk sambil memain-mainkan pantat ibunya. "Tai, tai, tai," katanya. Ah, ini mulai terasa. Aku bisa kembali ke sana tadi. Astaga mengapa sampai begitu benar. Cukup ingat kata kuncinya: Papagula. Selesai. Mengocoki, mencoloki, sambil menungging di lantai kamar mandi. Begini caraku melampiaskan. Aku tidak suka. Melodi cantik sudah tidak berdaya.

Musique! Dari dulu seperti ini saja. Si Keparat Sopuyan itu tidak ada gunanya kecuali memanfaatkanku belaka. Aku tukang rundung. Aku tidak bisa berpura-pura 'kan. Kepada siapa kau minta pembenaran. Semua saja nothing to lose. 'Gak ada yang tulus! Semua tidak lucu, termasuk bagian belakang Mess Pemuda di waktu malam setelah lewat jam sembilan. Patah-patah begini. Tidak mengalir. Ini parah. Untung tadi gangguan. Jika tidak mungkin sudah di Stipwong menunggu Istri. Akan halnya malah ke warteg memang tidak mungkin lagi berharap kesenangan darinya.

Malah mendapat kejengkelan. Aku ingin melarikan diri. Selesaikan kewajibanmu dan lanjutkanlah. Apa memandangi lagi kanal. Hanya ini yang bisa dipandangi. Lebih agak pasti. Aduhai apa yang akan menyenangkan hatiku, tidak ada. Ini entri benar-benar. Dipenuhi oleh kalimat-kalimat tidak selesai, patah di tengah-tengah. Biar aku aneh-aneh sedikit di sini, sebelum kututup entri ini. Jangan-jangan itu hanya caranya untuk mengalihkan buncahan, yang diawali desiran, mungkin aliran. Tidak. Ini sudah khusus. Tidak lagi. Tidak ada artinya semua itu.

Saturday, March 23, 2019

Kawa'iba Atraba ...'mBledus! [Terkesingkap]


Biasanya, sebelum menghadapi papan-kunci, lintasan pikiran berkebat-kebit berkesiuran. Beberapa lucu, selebihnya muram, terlebih badan linu-linu begini. Seperti tadi, begitu saja terpikir musikku menye, kopiku ginseng, rokok kretek ‘ku sudah lama tidak. Dari tahun-tahun yang lebih muda. Uah, begitu benar, sedang Salim Said saja sudah menuliskan kisah hidupnya sendiri. Ada yang beli, Pak? Bagaimana penjualannya? Maafkan saya membaca versi digitalnya, atau Bapak memang sudah menyerah? Memang begitu itulah, saya rasa, nasib barang yang sama kita cintai.


Buku. Dua orang muda, bahkan mungkin masih remaja. Keturunan Cina. Duduk berhadap-hadapan menunggu pesanan datang. Tidak saling bercakap-cakap. Mata-mata menatap lekat-lekat gawai masing-masing. Media sosial! Instakeparat! Astaga, yang terpampang menari-nari di hadapanku adalah hancurnya peradaban, kebudayaan, sedang belum pernah tegak berdiri apalagi menguasai. Sekali lagi, yang terasa adalah badan linu-linu. Jangankan menegakkan benang basah, menegakkan rayap sendiri saja sudah tidak sanggup. Setelah ini, yang akan kulakukan paling berbaring bergolek-golek sambil berharap badan enak dengan sendirinya.

Kebiasaan asal goblek begini, [istilah seseorang, yang kemungkinan besar dipinjamnya juga dari seseorang, semacam Bibi dan Cil yang gogoyangan. Anjing!] ternyata tidak berpengaruh banyak ketika tiba waktunya harus pura-pura bener kayak orang-orang. Nyatanya, tulisanku dimuat oleh The Conversation, dwibahasa pula! Dalam proses penyuntingan aku dipandu oleh Mbak Ika Krismantari yang sangat profesional dan menyenangkan. Mungkin aku harus berterima kasih juga kepada Arizha Tiara Mutia, yang entah dapat ide dari mana memintaku menulis mengenai Dwifungsi ABRI.

Wartawan. Seniman. Profesi-profesi yang kukagumi, mungkin sejak lama sekali. Adalah sekolahku keparat di Magelang itu yang menyesatkanku. Jika tidak mungkin sudah dari awal aku mengarahkan diriku menjadi wartawan atau seniman. Untung aku tidak mengarahkan diri ke situ, karena kedua profesi ini sudah kehilangan relevansinya di Abad ke-21 ini. [Mbak Ika bagaimana, Tiara bagaimana?] Itu hanya pendapatku pribadi saja. Mana tahu kenyataannya tidak begitu. Nyatanya Tiara magang di situ, mungkin di bawah bimbingan langsung Mbak Ika.

Wartawan. Songong. Sotoy. Ini saja bukan wartawan begitu. Selain itu aku tidak bisa. Sulit kubayangkan. Lebih mudah bagiku membandingkan antara Deni dan Nawi. Lantas yang model apa, yang canggih begitu, yang penuh dengan pernak-pernik. Tidak. Aku suka yang telanjang apa adanya. Itu berarti aku suka pada diriku sendiri. Untunglah istilah metroseksual sudah tidak terkenal. Jika sampai bertemu pencetusnya, kutempeleng bolak-balik maju-mundur pakai karet pentil! Menjual, jih! [a la Hamid Arif. Di sini kesombongan aristokratikku muncul]

Satu lagi, kebiasaan asal ngomyang [kalau ini lebih elit, dari Umar Kayam] sempat membuatku terkesiap melihat soal-soal sok logik sok analitik dari Tes Kemampuan Dasar Akademik, meski hasilnya ternyata aku tambah cerdas tujuh poin dari lima tahun lalu. Dan apakah harus kutampar Pak Ndul yang menghina Mas Toni dan sebangsanya, kurasa tidak juga. Aku saja yang kurang periksa. Dengan ini, kunyatakan seterbukanya kemaluan dan penyesalanku. [Bapak-tuhan ini entah mengapa terdengar menjengkelkan pagi ini. Salah sendiri]

Ini kembali menjadi eksibisionisme, dan tinggal satu paragraf lagi ini. Lelaki yang Kucintai. Terserah perempuan mana saja mencintai lelakinya yang mana saja, sekadar suka atau kagum juga boleh-boleh saja. Apakah ada yang kagum, suka bahkan cinta kepada Nawi, ya tidak apa-apa. Namun ini tidak akan menghalangiku untuk mengumpat, “Tolol!” dan mendiamkan semua yang patut diumpat begitu. Memang tolol. Mau apa. Biar saja. Memang dunia lebih baik diisi tolol-tolol ini, biar cepat bubar aku tidak peduli!

Saturday, March 16, 2019

Salmonella Semir. Bukan Selai Cokelat Kemir[i]


Kepada siapa harus kubertutur? Yang jelas tidak kepada papan-kunci ini. Tidak juga kepada layar cairan ini. Aku tidak bersama siapa-siapa. Aku sekadar duduk di meja makan ini mengetiki. Kalaupun pernah kulakukan yang seperti ini, pasti sudah lama sekali. Dan susu cokelat Ultra hangat ini, uah, sedapnya, sedang kakiku berselonjor ke kursi di seberangnya, sedang telingaku disumbat serenada cahaya bulan. Lhah bagaimana, ini serenada mengapa ada cahaya bulan. Tidakkah ini seharusnya nokturna jika demikian; atau kalau mau tetap serenada, cahaya matahari 'lah.


Biarlah kita tetap di sini sampai pagi menjelang. Uah, ini semua Amerika, dan betul, Prof. Mungkin aku bisa, namun aku tidak menginginkannya, maka aku tidak jadi! Aku tengah bersedih, kalau-kalau ada yang mau tahu. Rasanya seperti cinta bertepuk sebelah pantat. Tak hendak pula aku meragakannya. Bisa jadi ia sekadar kesepian. Adakah Bapak Ibu kesepian. Uah, aku masih harus menguji kemampuan dasar akademik dan penguasaan Bahasa Inggrisku, sementara koda ini, dengan terompet berpengedam ini, aduhai manisnya. Aku banyak mengeluh pagi ini.

Anak seorang pejuang kemerdekaan yang dibodoh-bodohkan, dan satunya lagi juga semacam itu. Ini lagi mengenai cahaya bulan, yang memang seringnya cantik. Jika demikian banyak kecantikan di sekeliling, mengapa harus mencaci, mengapa menyakiti. Mengapa tidak mencinta saja. [Eh, mengapa di tengah-tengah berubah begini, jadi kersen jambon dan bunga apel putih?!] Ketika cahaya bulan yang manis terlelap di puncak bukit, aduhasyik! Khayalan akan cinta. Seperti apa cinta Sarinah pada Kusno, apakah berbalas, apakah seperti gadis berpantat bahenol.

...dan lagi, dan lagi aku terjebak pada tiap saat memeriksa pratinjau. Ini pasti karena kurang cinta, kering kasih-sayang; bukan kering tempe. Uah, memang manis ini jerman-jerman. Mengingatnya aku berjengit. Haruskah kucoba, sedang Hadi nekat mencoba. Hei, kalian di sana semoga baik-baik saja semua, seperti Insya Allah aku pun akan baik-baik saja sekembalinya ke sana. Aku berani pelan bersenandung begini, bersonata emosional begini, karena aku di sini. Seabai-abainya, masih dekat. Masih tersentuh. Jika aku ketakutan. Jika aku kesepian.

Membayangkan ini di Kees Broekmanstraat atau sebangsanya, kengerian! Apalagi Uilenstede 79C. Tidak. Tidak ada yang sanggup, apapun. Bahkan aku curiga mau jerman-jerman mau hitam-hitam mau apapun tidak ada yang sanggup. Hanya Allah! Kurang ajar benar aku begitu padaNya. Ini Sabtu pagi yang aduhai anehnya. Pagi-pagi malah begini. Sabtu-sabtu malah sendiri. Syukur masih di sini, bayangkan di dinginnya Amsterdam atau bahkan hangatnya sekali. Ini masih mending. Aduhai Dalamnya Malam Ini! Apanya yang dalam?!

Jika empat puluh, empat belas, lantas digebuki, ya memang jijik. Sungguh malang nasibku. Kepada siapa aku harus meminta tolong, meminta belas-kasih. Tiada yang peduli. Tentu saja, selain yang Tidak Pantas Disebut di Sini, hanya ingatan-ingatan, kenangan-kenanganku sendiri yang sanggup menolongku. Itulah sebabnya aku menulisi. Kelak ketika terasa seperti ini, akan kubaca-baca lagi dan kukenangkan semua ini. Ini cinta meski tipis-tipis, walau lamat-lamat. Bagaikan selembar sarung tipis yang sudah rantas dari masa kecilmu, yang kembali lagi, menyamankanmu.

Astaga, ini entri tentang apa. Semoga suasana hatiku jauh, jauh lebih baik menjelang siang sampai malam nanti. Demikian juga badanku segar bugar. Apa yang hendak kuabadikan, sertifikasi dosen?! Aduhnehi! Sok nyeni, menertawakan diri sendiri, tidak ada yang lebih menyedihkan dari ini. Bagiku sendiri. Orang lain akan melihatnya memalukan. Aku sih tidak tahu malu. Daripada menelanjangi, lebih baik aku telanjang sendiri, mempertontonkan rayap mati dirongrong bisoprolol. Jika ini benar sanggup memperpanjang hidupku, biarlah rayap mati aku tidak peduli.

Monday, March 11, 2019

Entri Ketujuh yang Ditulis di Bagasnami


Hiya, akhirnya menulis entri. Dari semua prasyarat, yang terpenuhi hanya sejuk-mendayunya gesekan biolin, biola dan biolonselo; sedang udara panas di tepian badai, perut kembung setelah menyantap ketropak setengah bungkus, semua membuat suasana tidak mendukung untuk bercerdas-cerdas. Sopiwan baru memberitakan ia sudah bertemu Prof. Sri-Edi dan beliau menyambut gembira rancangan bab-bab disertasinya, sedang tadi malam aku menyemangati adikku untuk menulis disertasi saja di Universitas Islam Nusantara. Permalaikat dengan nama besar, ini masalah mutu diri!


Lantas ada Mochtar Lubis, juga Rosihan Anwar. Jangankan mereka berdua, sedangkan Salim Said saja setua bapakku. Prof. Sri-Edi mengingatkan betapa hukum adat dinamis sesuai dengan perkembangan masyarakat. Di sinilah semakin aku ragu. Betapa hijau penyumbat telinga dan dinding kamar begitu serasi berpadu, sedangkan penyumbat telinga terkadang mendesah acapkali bersenandung. Ini lagi John Fox menyenandungkan cintanya kepada istri. Ini seperti biasa entri yang tidak menceritakan apa-apa kecuali Herlyn yang menurut Mba' Itch mengidap skizofrenia. Kasihan.

Akan halnya aku menulis entri, itu karena memimpin apapun aku tidak becus. [mengguguk] Jangankan sepasukan tentara dari terangnya cahaya, mahluk-mahluk mengerikan dari dalamnya kegelapan, (atau gelapnya kedalaman?) pun aku tidak sanggup. Apa aku pernah berhasil memimpin mayat-mayat hidup, atau hanya perasaanku saja. Jelasnya, aku tidak akan berhasil bila tanpamu. Tanpa siapa? Mayat-mayat hidup yang berjalan sempoyongan, seperti jari-jemari durjana hidung belang merayapi tubuh perawan kencur. Jika kau seorang paraplegik, pastikan lidahmu menari.

Astaga, masa kau bercericau begini rupa di Bagasnami, rumah masa kecil istrimu. Adakah ruang-ruang ini pernah digemangi Hari-hari Anggur dan Mawar, sedang digenangi air banjir tentu pernah, bahkan sampai seleher orang dewasa. Mama adalah seorang mantan anggota Korps Wanita Angkatan Laut berpangkat sersan, sedangkan Tante Lien dahulu menata rambut bertemankan banci-banci, begitu katanya sendiri. Lalu ada Ihza yang masih penuh dengan impian dan harapan. Start up, katanya. Kesehatan mental, katanya. Ia dan Afi adalah anak-anak Kak Nova Rosana Allah yarham...

...yang menurut istriku telah mengisi ruang-ruang di Bagasnami dengan lagu-lagu dan nyanyian dari suaranya sendiri. Ketika ia sudah punya uang sendiri, maka dibelilah karaoke. "Bernyanyilah ia lagu-lagu Panbers, karena itu yang ada di Senen." Hei, ini sudah semacam etnografi. Uah, aku etnografis gadungan. Mengaku-ngaku saja. Uah, ini mengapa cantik sekali, John. Kemana perginya kalian para penggubah kecantikan. Aku suka kecantikan, namun aku lebih seperti A.H. Nasution tinimbang Soekarno. [mengapa pula Salim Said orang Bugis itu suka menggunakan kata tinimbang?]

Etnografi bertumpu dan berkisar pada rincian yang medok, sampai-sampai segala hal yang tidak "penting" diceritakan. Akan tibakah waktunya ketika aku menguliahkan hal ini kepada bocah-bocah yang bulat berbinar-binar matanya, sedang yang kupandang dan terpampang hanya WajahNya. Uah, ngomong apa kau, tolol! Bersihkan dulu dirimu, jiwamu. Kemana perginya semua ratapan dan keluh-kesah, satu-satunya cancang penambatmu. Kau ingin menyembelih anak gendut, kau sendiri apa, hah, Bapak-bapak gendut menjijikkan?! Kau merasa lebih baik dari anak gendut anak serangga itu?!

Ya, sehebat-hebatnya, aku bisa menyamai Salim Said. Terasa benar koq kecerdasannya, meski menurut pengakuannya, kecerdasan itu tidak sanggup mengantarkannya menjadi seniman. Ia, katanya, lantas mengandalkan daya kritisnya saja, karena daya kreasinya kurang. Jadi ternyata Kak Nova adalah wujud cinta Papa Allah yarham kepada baik ibu dan istrinya. Rondan, Syahrul, Aminah. Rosana. Kak Nova telah tiada, meninggalkan Ihza dan Afi tiada beribu, dan karena Kang Sarip harus mencari rezeki jauh-jauh, seakan tiada berbapa juga. [...sedangkan menyeberang sungai berpesiaran.]

Danau Komo, sambil Ibu menjemur pakaian...

Saturday, March 02, 2019

Bijzondere Kaulika, Mama Jambula!


Hnah! Ini adalah suatu judul yang epik sangat! Meski seperti lirik salah dengar, siapa peduli. Ini begitu saja terlintas ketika aku menggelosor keluar dari pelataran berkonblok depan Indomaret. Lantas ada sedikit kedutan, kurasa di kemaluan, seraya otak ngeresku menyenandungkan. Ini lagu bajak-bajakku, entah dari Maria Dolorosa atau Arabella. Aku bukan bajak betul-betul. Aku bukan perompak lanun. Aku bangsawan, meski membusuk. Meski kini jez alus yang membelai indera pendengaran, tetap saja aku menikmati nyanyian bajak-bajakku, lelaki dan perempuan. Arrr!


Dan adakah aku Don Masseria yang menikmati hidangan-hidangan semeja penuh sambil bercerita mengenai kesukaannya akan kucing mungil kepada Charlie Si Beruntung. Apabila karena itu perut gendutnya lantas terburai disembur gotri panas oleh Frank dan Bugsy, mungkin memang setimpal. Dan siapakah FX Adjie Samekto yang menggeser MR Andri G. Wibisana, uah, permainan banci macam mana pulak ini?! Aku tidak akan memainkannya. Aku akan memainkan permainan Habibana Rizieq Shihab, meski beliau, kata Bang Andri, tergantung bohir. (Belanda: bouwheer)

Masih mending daripada Bokir! Engga juga ding. Haji Bokir ini seniman. Besar atau tidak itu relatif. Tetap saja beliau seniman. Apa setanding Haji Bokir dengan Habibana Rizieq, aku tidak hendak membandingkan kedua beliau itu; sama tidak pedulinya dengan perbandinganku antara Imam Khomeini dan Habibana Rizieq Shihab. [Apa aku harus gabung FPI seperti Munarman?] Aku tidak harus gabung apa-apa atas keinginanku sendiri. Aku hanya tidak ingin terlibat permainan banci, bohir atau tidak bohir, mau banci Thailand betul-betul atau wer-ewer kluwer wik-iwik ambyar.

Ngerti ora, Son?! Ini entri menjijikkan mengapa sampai menyebut nama-nama mulia. Cukupkah bagiku pengelola bunyi atau itu sudah keliwatan jauh dari cukup. Ini entri menggila seakan tiada peduli dunia yang tidak memedulikannya. Apa benar yang kauharap dari menulis entri begini. Mengering ia? Tidakkah justru engkau membasah membeceki begini. Kemarahan atau ketidakberdayaan, seperti Borisrawa kehilangan pekerjaannya memahat batu, mungkin dengan nyawanya sekali. Yang biasa saja. Tidak perlu yang mewah. Yang benar-benar biasa saja.

Kalau sedikit menjijikkan bagaimana. Ah, keparat kau. Kuhentak, bukan kuremas, picu senapang lantak, menghambur gotri-gotri panas, memburai otak. Jangan! Jangan kaucium tanganku, jangan kaubuang sikap menghormatmu untukku. Aku ini... bahkan tidak pantas mendaku. Biarkan aku menikmatimu meski sepintas kilas, membelai meski hanya dengan pandang sedang sisanya kuselesaikan di tempat lain, di mana kecoa dan kecoa berhumbalang, kadang cuka-cuka. Ini semua dari hari-hariku yang telah lalu, dari masa mudaku, ketika pohon cempedak masih berbuah nangka.

Ini, Sayang, adalah entri Sabtu pagi, ketika kepalaku tadi sempat pusing bahkan setelah dikopi Kapal Api masih ditambah susu kental manis. Setelah aku marah-marah begini, melampiaskan kekesalan, entah bagaimana pusing itu hilang. Padahal hanya jariku saja yang rampak mengetuk. Padahal perutku berlipat, kata bagaimana pula aku harus menyandinya. Apa yang akan terjadi pada kami tentu tidak akan terjadi apa-apa. Sama mustahilnya dengan Kaulika menamai anaknya Jambula. Dunia ini mau sampai mana. Apa pagi ini aku menyapa Sopiwan yang aduhai sungguh warasnya.

Aku apa? Apa aku akan mengatupkan bibir besar dengan kecilnya sekali, bahkan menukarnya, agar tanaman cabai tumbuh dengan suburnya, atau bahkan mencangkok pisang sekali. Ya, mungkin menyapa Sopuyan bisa meredakanku sedikit. Sopuyan jelas bukan rokok kretek. Ia bukan apa-apa yang kubutuhkan karena aku begitu sombongnya, namun ia pasti akan baik-baik saja. Bisa-bisanya ia bicara mengenai 2025, begitulah caranya memahami dunia dan persekitarannya. Aku bisa apa. Aku yang dilipatgandakan bisoprololnya, aku tidak kuasa apa-apa. Aduhai, segalanya sedap belaka!

Sunday, February 24, 2019

Dahulu Semua Indah, Terasa Bergelora. [Gorengan]


Ya, seperti itulah yang sanggup menggelorakan. Aku memutuskan langsung mengetik di editor ini karena aplikasi pengolah kata sedang terasa aduhai menjengkelkan. Apa yang kuguratkan di sini tentu sesuatu yang tidak pernah penting, kecuali secercah rasa yang sebenarnya harus dilupakan. Namun apa salahnya, demi suatu masa ketika semua indah, semua terasa bergelora; karena segala sesuatu memang ada jamannya. Itu adalah waktu di mana satu sengatan kecil, satu kepakan sederhana dapat memicu prahara yang mengharu-biru dunia. Duniaku. Dunia tololku. Duniaku, Tolol!


Ya, masa begitu saja bergelora. Malu dong sama Hari Anak Planet. Kalau sama Togar anak komplek mah tidak perlu malu, karena aku anak komplek yang kampung sangat. Dengan kelakuan dan, akhirnya, kesenangan-kesenangan seperti anak kampung, dari Planet lagi, seperti Hari begitu. Kadang aku membatin. Mengapa 'lah aku tidak lebih akrab dengan kehidupan kampung. Ya, karena memang kau anak komplek, Tolol! Bagaimana aku tahu kalau di kampung tersedia kesedapan-kesedapan yang entah bagaimana caranya menjadi preferensi sejatiku, dengan istilah apapun aku menyebutnya.

Uah, ini lebih menantang dari apa yang pernah dilakukan Gramsci di dalam bui. Gramsci buinya kecil saja, kurasa, sekitar ukuran buinya Hitler lebih atau kurangnya. Aku dalam bui raksasa! Aku mengungkung diriku sendiri, sedang mereka dikurung penguasa masing-masing. Akulah penguasa diriku sendiri dan dengan kekuasaan itu aku mengurung diriku sendiri pula! Hei, jangan sampai orang menyangka yang tidak-tidak. Ini semata-mata mengenai gorengan dan lontong, dan serabi. Ini adalah sesuatu yang entah bagaimana tidak mau pergi juga dari benakku yang seharusnya sudah tua renta.

Dan aku memang tidak bertujuh-lima lima-dua-lima, namun akibatnya aku mengecek pratinjau setiap satu alinea sekali. Pak 'nDul memang--dengan personanya yang lebih intimidatif, tidak seperti Mas Toni yang cenderung flegmatik--menunjukkan banyak kemiripan. Dan kesia-siaan ini begitu saja diinterupsi oleh Takwa menanyakan kabarku, bercerita mengenai Kolkata. Mengapa aku, seperti biasa, banyak menyela. Tepat sekali nasihat Sopiwan untuk penelitian lapanganku. Kalau mau dapat banyak, diamlah. Pura-pura bego 'lah. Ini pun sebentar lagi akan disela oleh pengabutan (fogging).

Lantas kapan akan kuakhiri jika tidak bertujuh-lima lima-dua-lima begini. Apa menunggu klimaks yang tidak mungkin pula dicapai di sini, sedang Orkestra Filharmonik Kerajaan sudah memainkan Waktu dalam Hidupku dari Tarian Kotor. Bukan tariannya benar. Pikirannya. Sekitar dua menitan lagi maka akan kuperiksa apakah airnya sudah mendidih. Gor-gor atau mulak-mulak, selalu saja dalam benakku. Tidak bisa semuanya! Semua atau tidak sama sekali. Bagaimana dengan satu saja. Atau, ada lagi yang lebih mengerikan. Bagaimana kalau seperti sarapan. Tempo-tempo kepingin nasi uduk bulu ayam, tempo-tempo lontong, gorengan dengan sambal kacangnya sekali.

Ha, mengerikan sekali! Ngeri! Ingat dan ingatlah selalu itu. Aduhai mengapa benar harus kurasakan yang demikian ini. Mana baru saja kusadari kalau je t'aime moi non plus artinya aku juga cinta padamu. Uah, aku tidak sama dengan kalian hai Salim Said dan Gunawan Mohamad. Jika Achmad Sulfikar mau sama dengan kompatriot Bugisnya, itu sepenuhnya urusan dia. Aku tidak. Aku... Pak 'nDul. Hahaha tertawa sesukamulah. Prabowo tidak bakal menang. Tidak begitu caranya menang. Kau seharusnya tahu bagaimana caranya menang, kau 'kan jenderal.

Jika ini kutambah satu alinea lagi, semata karena aku ingin segera mengakhirinya. Sepanjang Rahayu Theatre itu ke arah Apotek Windu Mukti, yang sangat bisa jadi kedua-duanya milik pengusaha-pengusaha keturunan Cina, demi apapun Prabowo tidak akan menang. Hei, mengapa jadi ini. Mengapa tidak bakpao kelebihan soda pengembang yang sebenarnya didapatkan dari ibunya, yang mengembang di tempat-tempat yang kurang semestinya. Mengapa ditertawakan. Terima kasih, Sayang. Ini satu kesakitan. Satu kejahatan yang nyatanya hanya khayalan. Mengapa menyakiti?

Aku 'kan hanya kopral. Keple pula. Asli.

Thursday, February 14, 2019

Semua Cintaku dan Ia Tersenyum. Dikecup


Tidak perlu terlalu dipikirkan. Lagipula rasa koq dipikirkan. Ini juga bukan suatu kepura-puraan, apalagi kesal kepuncakan. Ini sekadar, apa. Masa jatuh cinta lagi. Apa kau tidak punya lain di luar jatuh cinta. Kebacinan, kebusukan sudah tidak waktunya ketika kau benar-benar, secara harafiah, membusuk. Ketika suasana kimiawi tubuhmu cenderung asam, itu berarti kau sedang membusuk. Jadi suatu sekarang bersambungan. (present continuous) Aku toh lebih Pak 'nDul daripada Mas Toni, haruskah kupanjangkan jenggotku. Tidakkah kasihan pada Cantik.


Lantas begitu saja dari pagi-pagi yang lampau, aroma sedap Minak Djinggo yang terbuat oleh Nojorono disembur-semburkan Engkong. Kepada siapa aku dapat berpaling, ketika di kamar mandi pojokan belakang itu aku menungging sambil mengeles. Mas Toni pun. Pak Ndul pun. Malu hati jika celananya dilucuti, dibuang ke tanah pekuburan, di belakang koperasi. Sakit ‘kan. Cintai aku pagi ini. Tolonglah cintai aku. Mengapa tidak sekarang. Ini lebih baru. Ini setelah insap, setelah tidak terlalu sarap. Apa mungkin.

Seperti pagi ini aku mencari nasi uduk bulu ayam, yang terngiang adalah Dengan Tangan Ini. Ternyata tidak ada bulu ayamnya, jadi aku parkir pas di tempat ia biasa ada. Profesor Imam Khomeini jika memang menjadi kehendakNya. Kembali lagi ke Amsterdam sambil meratap merintih-rintih dalam hati. Begitu saja di semua tempat tinggal dijalani. Aku bahkan tidak berani merinci. Rinciannya. Bila suatu kalimat diakhiri, kapan ia diawali. Bass biarlah Ajo. Aku bisa macam-macam meski tiada yang peduli.

Etnografi sudah gila apa, sementara diingatkan pada turlap bisa berjengit. Lalu Penyejuk Mata yang meledak-ledak. Apa mau dikata. Memang mungkin lebih baik aku di sini menyanding Pak Ihin, Pak Yudi, Mas Afif dan satu lagi. Biar terbaca, Insya Allah, suatu hari nanti sedangkan badan sehat hati hangat belaka. Perut nyaman diisi roti gandum lapis isi keju, filet kalkun atau ayam dan uborampenya sekali. Itu masih nanti, yang penting turlap. Apa yang ada sementara dinikmati saja.

Bapak bisa jadi Hamilkar Barka. Aku bisa jadi Hannibal. Adik mungkin Hasdrubal. Bukan. Itu malah nama adikku. Aku hanya fasih berbicara dan manis bertutur-kata. Ah, buat apa cerita hebat mengenai orang-orang hebat itu. Para jenderal yang sebenarnya, bukan jenderal yang sebenarnya mengurus urusan privat sendiri. Lalu apa gunanya bicara begini, bahkan memikirkannya. Lebih baik kau pikirkan bagaimana mencapai Salemba sebelum jam delapan pagi di beberapa Kamis ke depan ini. Bisa jadi nasi rames itu ganjarannya.

Ini apa menulisi, bukannya menata-letak. Aku menikmati. Aku mensyukuri? Semoga. Aku menggantikan. Ada urusan dengan Ali dan Fadhil, atau Nira. Ini Waktu Mencinta, sedang perut agak mulas-mulas manja. Semua tidak ada gunanya. Apalagi. Uah, bahkan tidak berhak atas kata ganti apapun. Mengapa aku mengutuk turunan Rano Karno. Mengenai apakah semua ini. Ini mungkin mengenai wajah berambut yang diterpa polusi. Ini mengenai pori-pori yang tentu saja lebih besar. Ini bisa jadi mengenai perawatan wajah, tidak peduli.

Aku tahu, ini mengenai sesuatu yang lebih besar, meski aku tidak akan menenggang para pendusta. Seekor cicak begitu saja menjulur-julurkan lidahnya, membaui udara di sekitarnya. Adakah ia mencium bau bacin yang menguar dari benakku. Cicak begitu saja melompat ke lubang yang dibuat tikus di kasa, sedang aku menutup mata, membiarkan ia mengecupku. Siapa, apa benar yang kurindukan. Aku hanya berpura-pura. Aku tidak benar-benar rindu. Aku tidak tahu lagi apa yang kurasakan... [Cicak itu sudah tiada]

Memang Cantik [Puas, sambil mengancing celana]

Friday, January 18, 2019

Pagi Hari Setelah Semalam Debat Copras-capres


Aku juga tidak ingin ini menjadi kebiasaan. Pukul setengah delapan pagi masih di rumah, berkaus oblong, bercelana pendek bolong di pantat, menyanding secangkir kopi Kapal Api Mantap. Apanya yang mantap, manisnya. Sudah sejak lama kuketahui bahwa kopi sasetan yang ini tidak kusukai, karena manisnya lebay. Apakah akan menjadi kebiasaanku ngopi hitam, terlebih pagi-pagi, aku tidak ingin juga. Saking saja kopi ini juga diminum oleh Pak Ihin dan kawan-kawan. Aku tidak ingin sama dengan anggota-anggota kelas menengah penggemar kopi itu. Aku bukan bagian dari mereka.


Ini pun sesuatu yang kurang patut. Sedang Syekh Ghamidi melantunkan al-Kahfi dengan suaranya yang lembut melangutkan, aku malah mengetik-ngetik begini. Apa tidak sebaiknya aku berolahraga. Tepat di sini, Cantik keluar kamar, bertanya siapa yang cuci piring. Uah, memang lebay manisnya. Apa aku harus membeli kopi bubuk sesungguhnya, daripada minum yang berkrimer-krimer entah-entah. Apa bedanya dengan minum santan. Kopi pahit. Siapa tahu ini kebiasaan baik, tapi kopi pahitnya orang kebanyakan. Kopi pahitnya penjual pesor alias lontong sayur, yang dipikul.

Jelasnya, ini pagi yang indah sekali, meski tidak membawa hati bernyanyi. Bisa saja kurinci segala sesuatu yang telah kulakukan sepagian ini, tapi aku memilih tidak. Tidak ada satupun yang sanggup membuatku sedih atau khawatir, kecuali dosa-dosaku yang menggunung, sedang amalku serba sedikit dan memalukan. Bahkan debat copras-capres tidak kuasa merusak suasana hatiku, meski tadi aku sempat berseru: "Tidak ada radikalisme, intoleransi!" Namun apa peduliku. Masa depanku terlalu cerah untuk diganggu radikalisme intoleransi. Tidak akan, sampai kapanpun, ikut permainan mereka.

Dan kurasa aku tidak perlu terlalu khawatir jika entri-entriku tidak koheren. Bacalah cerpen-cerpennya Pram. Dia dahsyat menulis roman, epos atau apapun yang panjang-panjang itu. Untuk cerpen, kurasa Ahmad Tohari lebih bagus menulisnya ketimbang ia menulis panjang. Sejurus kemudian, pret-pret datang, jadi aku beli dulu. Kali ini si Abang mengangkat tema debat copras-capres. Pak Ihin sebenarnya suka acara itu, namun di kontrakannya tidak ada tivi. Aku agak menyesal memberitahukan sikapku kepada orang-orang baik ini, warganegara-warganegara yang patuh. Semoga Allah tidak menyia-nyiakan amal mereka. Semoga Allah menolong kami semua. Aamiin.

Kenyataannya, pemilihan serba langsung membuat orang-orang baik ini merasa melakukan sesuatu yang penting, dilibatkan dalam sesuatu yang lebih besar dari diri dan kehidupan mereka sehari-hari yang seringkali nirdrama. Kurasa memang sejak jaman prasejarah itulah gunanya drama, kesenian dalam bentuk apapun. Apakah itu seni rupa maupun seni pertunjukan. Hampir saja aku goyah melihat kesungguhan orang-orang baik ini ikut serta dalam politik tingkat tinggi. Namun segera kutemukan dalih. Ada bentuk pelibatan yang jauh lebih bermutu dari sekadar ini. Banyak malah.

Mau tidak mau aku jadi teringat Orde Baru. Aku jadi teringat penelitian Mbak Vita, yang ketika dipaparkan di depan Kelompok Riset MoMat tempo hari, terasa begitu sederhananya. Namun pesan yang dibawanya Insya Allah penting sekali. Memang sebagai ilmuwan sosial kami harus senantiasa menjaga kekritisan. Namun bagiku ada tugas yang lebih besar lagi dari sekadar kritis. Kritis baik untuk menjaga objektivitas dan kewarasan, namun bisa jadi kurang berfaedah dalam tataran bertindak praksis. Bentuk-bentuk pelibatan yang bermutu harus selalu diusahakan, dan itu tidak otoriter.

Sebelum lebih jauh, ada baiknya aku kembali pada Mantap ini. Tidak 'lah. Kurasa setelah ini aku akan memasuki hiatus panjang menikmati Mantap yang agak sulit dinikmati ini. Patiyah, menurut pengakuannya, bisa menikmatinya. Baguslah jika demikian. Aku, kalaupun masih mau mencoba, mungkin akan memberi peluang pada Spesial. Hei, jangan-jangan di Imani Prima ada. Jangan-jangan masih ada Kandar atau Hendri. Bisa minta tolong dibuatkan. Namun mengopi lebih dari secangkir sehari, aku pasti becanda. Ini hari Jumat, penghulunya hari-hari. Mari kita nikmati adanya!

Saturday, January 12, 2019

Jika Koheren Maka Sulit Memikirkan Judul


Sabtu pagi. Masya Allah, betapa mewah, betapa berharga terasa, terdengar. Segala puji hanya bagi Allah Tuhan seru sekalian alam. Betapa aku kini ketakutan. Takut gagal mensyukuri nikmat karunia yang besar ini. Terlebih karena aku memulai pagi yang gilang-gemilang ini seraya menjejali perutku dengan bubur ayam, masih ditambah dengan risoles dua potong. Ya Allah ajarilah hamba mensyukuri nikmatMu yang manapun. Jujur hamba akui, ketakutan ini lebih karena takut kehilangan nikmat, bukan didorong oleh adab yang baik dari seorang hamba nista kepada Tuannya Maha Baik. Ampuni hamba, Ya Ghafuurur Rahiim.

...seperti berkabut di sebelah kiri, padahal cahaya...
Sampai di paragraf kedua ini, sesungguhnya sudah tidak pagi. Sebenarnya, ini sudah jam dua siang dan udara amboi betapa gerahnya. Besar sekali dorongan untuk bereksibisi, namun kutahankan. Aku harus berlatih beretnografi dan itu artinya membuat prosa yang koheren. Deskripsi yang medok, di situlah kekuatan bidang ilmu yang Insya Allah sedang kupelajari. Gerben sudah beberapa kali menekankan, aku tidak perlu mengaku sebagai antropolog. Mengapa demikian, suatu hari nanti mungkin akan kutanyakan. Aku sendiri tidak pernah berniat begitu. Aku adalah sarjana hukum, yang terpaksa meminjam perkakas ilmu sosial untuk mencapai tujuanku.

Terpaksa. Seandainya saja aku punya pilihan lain. Seandainya saja dalam studi hukum sudah tersedia perkakas yang kubutuhkan. Ya, apapun dalihku, aku tidak bisa tidak setuju dengan "Profesor Ular"-nya Mas Santo. Berbicara mengenai apapun, seorang "Profesor Ular" akan selalu tergoda untuk menceritakan kesukaannya, yang mana adalah ular itu. Ketika ia, misalnya, harus melukiskan seekor gajah, kemungkinan besar ia akan terpaku pada belalai atau ekornya saja, yang memang seperti ular. Syukurlah, yang seperti ini pun dimaklumi dalam bidang ilmu yang kupelajari. Itulah ularku, keyakinan bahwa perkakas yang kubutuhkan tidak disediakan oleh disiplin asalku.

Siang ini, meski begitu, aku belum siap untuk berpanjang-lebar mengenainya. Lagipula, bukan di sini tempatnya. Sempat terpikir olehku untuk membuat blog tersendiri guna kepentingan penelitianku, seperti yang dilakukan Karim. Namun, email Fajri mengenai masalah etik mengingatkanku, mungkin yang seperti itu akan berpeluang menimbulkan masalah. Akan lebih baik, Insya Allah, jika aku cukup berbagi data dengan para penyeliaku saja. Uah, segala puji kepadaNya, Maha Suci Ia, ampunilah hamba yang demikian bergairah. Tak sabar rasanya untuk segera mengumpulkan data, sebagaimana tujuan utamaku menempuh ini semua.

Apakah ini semua? Siang hari yang berawan, udara yang terasa seperti berada dalam kukusan, hembusan saksofon Kenny G, secangkir air hangat pembasuh sisa-sisa bandrek dari kerongkongan, dan yang terpenting, kantuk yang, Puji Tuhan, masih tertahankan. Sampai sejauh ini aku masih belum memutuskan judul bagi entri ini. Mungkin karena aku masih sibuk menahan diri untuk tidak meracau, sekadar memberondongkan kebatan-kebatan pikiran dalam benakku yang disaput kabut kantuk. Kabut ini lumayan tebal, meski tidak sampai membuatku sama-sekali tidak berfungsi.

Nah, intinya, jangan terburu merasa senang. Nyatanya, kabut ini terasa semakin tebal. Ia muncul tadi sekitar dhuhur dan terus saja menebal. Ini sudah hampir tiga jam, dan sang kabut sepertinya masih belum menunjukkan tanda-tanda pupus. Jangankan pupus, menipis saja sepertinya belum. Aku hanya tidak mau berpikir bahwa ia menebal saja. Akan halnya aku menulis entri ini, bisa jadi semata usaha untuk melawan kabut yang melanda ini. Aku tidak boleh menyerah, jika ini adalah usahaku untuk mematuhi nasihat Ibu dan tidak lebih. Semua orang sudah menasihatiku. Semoga nasihat Ibu inilah yang paling besar keberkahannya, yakni, sedapat mungkin jangan tidur siang.

Lalu, ragaan. Ragaan apa yang cocok untuk entri semacam ini. Uah, mulailah berbagai pikiran berkebat-kebit. Berkesiuran di antara pikiran mengenai ragaan adalah pertanyaan mengenai makan siang. Tepat pada saat itu, timbul pula kekhawatiran, makan hanya akan mempertebal kantuk. Hembusan dan lengkingan saksofon Kenny G yang berbelit-belit meliuk-liuk ini kuharap membantuku melawan kantuk. Kafein? Tidak dulu, meski perutku sepertinya sedang baik-baik saja. Tadi shubuh dihantam dengan Sarimi goreng ayam kecap saja sanggup. Namun tidak berarti aku boleh memaksanya melampaui batas, bukan?

Entri ini... kuakhiri

Thursday, January 10, 2019

Pukul Sepuluh Malam di Amsterdam. Hampir Beku


Etnografi, woi, etnografi! Bagaimana bisa beretnografi jika terus bereksibisi begini. Ada masalah yang lebih mendasar sebenarnya. Jadi ini hampir setengah sepuluh malam waktu Amsterdam, namun mengapa cahayanya neon putih begini. Di sampingku memang terhidang semug besar chai beraroma medok kayu manis, namun mengapa gelas permata. Hawa di kamar memang selalu jauh lebih hangat daripada di luar yang mendekati beku, namun mengapa pintu berkasa besi langsung terhubung dengan udara malam. Lebih dari sekadar eksibisi, ini disorientasi!

Ini, 'Gar. Miso. Pernah makan belum? (sumber gambar dari sini)
Ah, chai dengan manisnya yang lamat-lamat memang cocok sekali menghangatkan badan di malam musim dingin Amsterdam ini. Lucu, baik Ibu maupun Cantik sama-sama tidak menyukai aroma kayu manis. Padahal mereka suka sekali Belanda, tidak sepertiku yang sedikit memaksa untuk suka. Untunglah Allah sungguh Maha Baik kepada hamba nista lagi durhaka ini, tidak terlalu sulit untuk suka kepada Belanda. Amsterdam, setidaknya. Sebagian besar dari tahun lalu, setidaknya. Hei, coba rasakan. Ini lebih baik dari kali pertama.

Kali pertama, aku pulang tanpa tahu kapan kembali. Mengapa kembali, karena nyatanya ada juga yang disuka. Sekarang setidaknya agak tahu. Aku harus segera mengirimkan abstrak jika benar harus kembali sebentar agak Juni nanti. Namun, terus terang, dengan apa yang tengah kualami dan kutahan-tahankan kini, aku agak gamang menuju jeri. Ah, kau pengecut. Tidakkah Allah selalu menyelamatkanmu sejauh ini, kau hamba nista lagi durhaka. Insya Allah, ini pun akan berlalu dengan selamat tiada kurang suatu apa.

Sesampainya di paragraf ini, entah bagaimana aku tidak peduli apakah aku disorientasi atau tidak. Mungkin karena Selamanya menyumpal telinga membelai jiwa. Ayo, semangat, dong. Akan banyak hal-hal baru menggairahkan terjadi di hari-hari yang akan datang. Petualanganmu. Belum lagi perubahan ke arah yang lebih baik. Cinta Sejati, itulah yang tengah kaurasakan kini. Apapun ini, tidak akan lama. Kau tidak akan tahu, akan tiba hari ketika kaubaca kembali ini sambil tersenyum-senyum merasakan nyaman di jiwa, di raga.

Selalu begitu saja, ‘kan. Jiah, ini apa Suara Musik, terutama demi teringat Mas Ber menyukainya. ‘Emang ‘ga boleh. Boleh-boleh saja, tetapi Banser, Anshor. Ya, boleh juga. Achmad Chodjim. Ya, tidak mengapa. Ada beberapa hal, banyak tepatnya, yang aku menahan diri untuk tidak memikirkan, apalagi sampai bereaksi terhadapnya. Hahaha kupegang teguh pesan Shireen Sungkar untuk tidak menyentuh media sosial selama kerja lapangan. Alhamdulillah sudah dua minggu ini. Biarlah ia yang bermedsos-ria, karena sedang merintang musim dingin.

Dan Mack Si Piso dengan siulan begini, dan kocokan gitar dua perempat... Uah, mistis! Hampir pukul sepuluh dan hampir beku di Amsterdam. Duapuluh empat derajat celsius ketika mendekati subuh di tepi Cikumpa, dan Malam Terpesona! Tidak perlu Seekor Merpati Putih jika toh sama-sama tidak bisa diapa-apakan. Menyesal, ‘sih, namun apa daya. Dari kecil, dari jaman ranjang atas di Kemayoran aku sudah begitu. Begini inilah eksibisi. Berkebat-kebat tanpa peduli, karena memang tiada pernah ada yang peduli.

Ada satu lagi yang sempat membuat deg. Ragaan apa yang cocok untuk kejadian ini, ya. Miniso. Ya, seperti miso tetapi bukan. Haruskah begitu ilustrasinya. Haruskah menyakiti diri ketika disorientasi. Ahaha, ini khas eksibisionisme. Kadang dahsyat, kadang menjijikkan. Ada nasi-nasinya, atau mienya begitu. Jijik! Bisa jadi aku lupa suatu hari nanti, mengapa Miniso. Memang lebih baik lupa. Buat apa yang seperti itu diingat-ingat, terlebih jika satu permainan-panjang agak tiga puluh menitan akhirnya usai, hanya untuk eksibisi!

Tuesday, January 01, 2019

Selamat Tahun Baru 2019. Insya Allah Selamat!


Ternyata tidak semua tahun punya entri yang mengucapinya selamat. Jika tahun ini salah satunya, aku tidak punya alasan apapun untuk membenarkannya. Hanya dorongan suasana hati saja, seperti biasa. Lain tidak. Akan halnya aku berusaha membuatnya koheren, ini juga semata melatih diri. Untuk sementara ini saja. Tidak berarti aku tidak akan kembali eksibisionis suatu hari nanti. Ini semata suasana hatiku pada saat ini, yang tidak benar-benar saat ini juga. Harus kuakui, aku sedang menggunakan teknik retroaksi.
Baru sampai sini saja sudah tidak tahan. Ya, ini bukan prosa koheren, meski aku memulainya berpretensi begitu. Ini kembali eksibisionis. Dua Ribu Sembilan Belas kumulai dengan seonggok lagi karya instalasi eksibisionis, yang tentu musykil karena aku sendiri yang menamainya begitu. Bedaku dengan Abang Senior Denny JA hanya ia menggembar-gemborkan puisi esainya dengan sangat serius, aku berolok-olok. Sudah begitu saja. Sejauh ini hanya Togar Tanjung yang menghargai eksibisionismeku. Mungkin ada juga lainnya, hanya aku belum tahu.

Hei, ini adalah ucapan selamat untuk 2019. Adakah ini ucapan selamatku untuknya, atau ucapan entah apa atau siapa padaku. Dalam Jagad Gondrong ini, kontradiksi dan paradoks tidak ada bedanya. Tidak terasa juga (Jawa: ora kerésé) jika Farid menertawakanku mengurusi Bourdieu yang kubaca 'burjo.' Yang jelas, 2019 Insya Allah—seperti tahun-tahun yang sudah-sudah—selamat! Ambisi aku tidak pernah punya. Tujuan hidup yang ekstrim khayali itu saja yang menyeretku menjalani hari-hari. Harapan menemui hari esok sedang senang.

Ini bisa jadi semacam perkenalan, seakan-akan 2019 adalah sesuatu yang sama-sekali baru. Tidak pernah kutemui sebelumnya. Aku sudah kehilangan minat untuk berfilsafat mengenai waktu, sedang itu sudah dilakukan dengan sangat cerlangnya oleh penggubah Bhagavadgita. Lagipula, kalaupun aku harus berfilsafat, kusimpan ia untuk waktu yang tepat, yakni waktu yang berguna. Waktu ketika aku memang harus, suka tidak suka, terpaksa berfilsafat. Aku, nyatanya, tidak lagi suka apa-apa, apalagi filsafat. Kesokcerdikan, kecerdasbarusan, nyatanya hanya buang-buang waktu dan tenaga.

Ketika kibbeling Volendam dan mie ayam Donoloyo tidak banyak berbeda, keduanya kontradiktif. Satu sama lain saling paradoksal. Maka kusapa saja 2019, seakan-akan ia menyapaku lebih dahulu. Seperti seorang teman yang tidak berjenis kelamin. Aku, tentu saja, tidak berani mengaku tidak berjenis kelamin. Aku, bagaimanapun, adalah mutasi; ketika kromosom X seharusnya sepasang dan masing-masing berkaki empat, salah satu kromosom X-ku hanya bercap kaki tiga. Aku tidak suci sebagaimana halnya Ibu Suci. Maka kusapa ia, Hei, 2019!

Kutinggalkan Ruang Flex Lantai 5 Gedung B itu, untuk sementara. Kutinggalkan penghuni-penghuninya, apa saja. Jepit kertas, kibor dan layar yang tidak berguna untukku, keseharianku. Untuk sementara. Jalan masih panjang. Aku masih ada semangat itu. Tidak untuk membuktikan atau meraih apa-apa. Sekadar apapun memang harus dikerjakan sebaik-baiknya, terlebih jika berurusan dengan orang lain. Hanya di Jagad ini aku berurusan dengan diriku sendiri. Sisanya akan selalu mengenai orang lain, bagaimana penerimaan mereka akanku, apakah berterima dan berkenan.

Aku bahkan tidak peduli apakah eksibisionisme dan koherensi bagaikan minyak dengan air. Air aku suka. Minyak, sadar atau tidak, kujejalkan juga ke dalam tubuhku; meski jika sadar aku lebih suka tidak. Minyak pada bala-bala diserap dengan tisu. Lebih baik tisu di samping wasbak pantri, jangan tisu wajah. Demikianlah segala sesuatu itu baik dan ada yang lebih baik lagi. Tahun baru, jadilah yang lebih baik itu dalam segala halnya. Di atas segala-galanya, semoga 2019 ini selamat!

Monday, December 31, 2018

Entri Keenam yang Ditulis di Bagasnami


Kami berangkat lumayan pagi. Maafkan jika aku tengah kesulitan mengingat rincian. Aku baru tahu jika penat terbang (jet lag) dapat berakibat begini. Ini pun—mencoba mengingat-ingat rincian—kulakukan dalam rangka mengatasi penat terbang. Tidak juga. Aku hanya tidak suka jika Desember punya sembilan entri. Mengapa tidak sepuluh, sehingga tahun ini genap empat puluh entri. Aku hanya ingat kami berangkat lumayan pagi hari ini. Bahkan sarapan apa pagi ini aku tidak ingat. Ini sebenarnya mengerikan, karena aku benar-benar nyaris mengandalkan ingatanku semata untuk nafkahku.


Sesampainya di rumah Mama, seperti biasa asbah. Tante Lien sedang keluar ke Pipal bersama Afifah dan Nadia. Tiada berapa lama mereka pulang. Kali ini, Afifah dan Nadia yang asbah padaku, paman mereka yang baru datang dari Amsterdam. Tiba-tiba saja aku punya ide untuk memberikan cangkir-cangkir Maastricht 2017 yang tersisa pada mereka. Satu sudah untuk Khaira, maka dua lagi rasanya pas jika kuberikan pada Afifah dan Nadia. Aku masih ingat Afifah mengatakan kepada sepupunya itu, "kita punya cangkir yang sama." Afifah, kurasa, adalah seorang gadis kecil yang ekspresif, tidak seperti kedua saudara sepupu perempuannya sesama cucu-cucu perempuan Nenek.

Lantas, aku tertidur. Kata Istriku aku tertidur nyenyak. Satu pertanyaan yang paling sering kuulang-ulang beberapa hari terakhir ini adalah apakah aku mendengkur. Ya, itu bisa menjadi tanda nyenyak tidaknya tidurku. Kata Istriku, ketika itu aku mendengkur. Aku benar-benar tidak tahu apa-apa mengenai rencana menghabiskan malam tahun baru di Sultan Residence. Yang ada di kepalaku, aku ingin menraktir Afifah makan sop ikan Batam, seperti yang kujanjikan. Ketika terjadi kekusutan mengenai bagaimana pergi ke Sultan Residence, kupikir rencana makan sop ikan inilah yang akan dijalankan.

Nyatanya, beberapa menit setelah anak-anak dijemput taksi daring kiriman Kak Tina, datanglah taksi daring lainnya, dikirim Kak Tina juga, untuk mengangkut yang tersisa dari Kodamar, yakni Mama, Istriku dan aku. Maka berkendaralah kami, melalui tol JORR timur di atas Bypass ke arah selatan, lalu membelok ke arah barat masuk tol dalam kota. Ketika itu yang dibahas adalah sudah akan ditutupnya Sudirman Thamrin untuk keramaian malam ini. Apa pentingnya bahasan ini untukku, sungguh aku sulit mengingatnya. Yang jelas tiada berapa lama sampailah kami di Sultan Residence, yakni menara keduanya.

Sesampainya di Lantai 17, keponakan-keponakan dan anak-anakku sudah ramai ingin berenang. Aku bersalam-salaman dengan kerabat yang sudah berkumpul. Lengkap sampai ada Mbak Endang, yakni kakaknya Mas Heru, dan satunya lagi yang aku tidak sepenuhnya ingat bagaimana ceritanya. Semacam saudara angkat begitu. Duduk mengepung meja adalah yang teraman bagiku yang cuma pura-pura sanggup bersosialisasi. Kurasa aku berhasil menarik simpati Bang Ian dengan menunjukkan ketertarikanku pada kabar Alfrance Berardi. Aku memang benar-benar tertarik.

Semoga benar-benar terjadi suatu hari nanti, aku naik Air Asia atau apapun, sedangkan terdengar dari pengeras suara: "This is your Captain, Alfrance Berardi speaking." Ah, keberhasilan anak, anak siapapun, selalu membuat hati terasa hangat. Kurasa dapat kukenang dengan terang-benderang betapa wajah Bang Ian menunjukkan kepuasan dan kelegaan ketika menceritakan perihal Ardi. Semoga ia menjadi anak yang tahu berbakti kepada orangtuanya, demikian juga semua sepupunya. Selebihnya, aku adalah suami si Anthi alias Kontil, si bungsu, perempuan. Begitulah posisiku di keluarga besar ini, di bawah naungan Sang Patriark Ian Syahlan Martua Nasution van Pematang Siantar.

Kurasa malam ini aku belum sepenuhnya sadar bahwa badanku masih beroperasi dalam waktu musim dingin Amsterdam. Aku masih hanya khawatir tidak bisa tidur jika bukan di rumahku sendiri, kamarku sendiri, kasurku sendiri, bantalku sendiri. Malam ini, sekitar jam sembilan, kantuk yang mengerikan menyerangku. Aku mencoba tidur di lantai beralaskan karpet tebal dari dinding ke dinding, sampai Bang Ian dan Mbak Erni sendiri menurunkan kasur-kasur agar cukup untuk semua. Tidak sampai sejam bahkan kurang dari itu, aku terbangun dan terus terjaga sampai berganti hari.

Berganti tahun, sebenarnya. Ya, aku sepenuhnya terjaga ketika pergantian tahun a la kalender Gregorian terjadi. Kulihat dari Lantai 17 itu, jauh dan dekat di kaki langit, kembang api menyemburat, meletup, berkeretak berdentam-dentam, seperti entah sudah berapa kali dalam hidupku. Demikianlah sebelum jam menunjukkan pukul dua belas tengah malam, sampai beberapa saat juga setelahnya. Tahun 2018 Masehi sudah berakhir bagiku. Tahun yang penuh berkah dan belas-kasihNya. Semoga tahun depan begitu juga, bahkan jauh lebih baik. Penghambaanku, tentu saja, karena lain dari itu sungguh-sungguh tidak terlalu penting. Allah, atas segala sesuatu, berkuasa.
 

Sunday, December 30, 2018

Dibakar di Kompor, Dikecapi Karena Lapar


Mari kita tinggalkan horor itu, kesedihan itu. Bahkan tidak cukup jika sekadar digambarkan sebagai kesedihan, ini kengerian! Masih saja 'kuberusaha keluar dari kungkungan tujuh lima, agar tampak sungguhan seperti prosa. Tujuh lima sesungguhnya bukan mengungkung, justru membebaskan. Seperti jazz, ia memberdayakan otak bukan memasungnya. Nyatanya, aku tetap saja kembali kepadanya: Tujuh lima. Ini seperti beringsut-ingsut masuk kembali dalam zona nyaman. Seperti seekor siput: Bekicot. Betapa tidak dengan belaian begini, meski udara tidak lagi sesejuk biasa.


Apa yang kualami seminggu ini sungguh aneh. Rasanya hampir-hampir seperti cinta remaja, meski aku tahu betul rayapku sudah mati. Bagaimana caraku memasukkan ini semua di akal, tentu aku tidak tahu. Seperti biasa, aku tidak peduli. Seperti halnya kantuk yang dahsyat bergulung-gulung bagai ombak lautan, sebelum maghrib dan sekarang agak jauh selepas isya,’ rasa ini sungguh tiada tara. Aku tua, apa karena aku belum memulai. Aku tetap saja tua, seperti mantel hujan dijemur di pagar geser.

Serasa tiada berguna semua kebijaksanaan ketika dihadapkan pada situasi ini. Semua pakem bukan saja dilanggar, melainkan memang seakan tiada pernah maujud. Apapun yang terjadi aku akan terus berusaha: Mencoba. Ini bukan bondongan roket mewarnai merah langit malam selatan Jakarta. Ini bukan pula getaran-getaran langit-langit yang hampir meruntuhkan neon panjang. Aku tidak tahu dari mana datangnya. Aku hanya dapat berharap ini menandai berakhirnya horor dengan manis. Sampai-sampai aku tidak membutuhkan horor dan kengerian dalam bentuk apapun.

Betapatah aku terpukau melihat awal, musim semi. Bermekaran, merekah, semerbak. Belum saja aku melihat akhir. Kegelisahan. Sakit. Ada waktu-waktunya di mana kau begitu saja diselamatkan. Ada waktu-waktunya harus menunggu barang sejenak. Pada kenyataannya, semua hanya harus dijalani dan ditahankan. Laki-laki. Perempuan. Ada semua. Aku menjadi bagiannya, meski tidak seharusnya di sini. Aku tidak yakin apakah aku sanggup menyelesaikan ini, ataukah ini akan menjadi sesuatu yang cukup bernilai. Ini bukan hidangan imperialis. Ini adalah kenyataan belaka.

Sebelum memulai, sesudah mengakhirinya. Aku suka berwisata kuliner. Semua asal jangan daging hidup kucicipi. Daging olahan masih bolehlah, namun aku suka dari berbagai ragamnya. Keragaman itu yang aku suka karena khayalanku tak berbatas tak bertepi. Terlintas-lintas dalam bayangku, berkebat-kebat dalam benakku. Berangsung-angsur kuperangi horor, kengerian yang terus menyengat-nyengat sanubariku. Takkan kubiarkan. Terangguk-angguk, daripada mengguguk-guguk. Mengapa aku sampai terperangkap dalam suasana ini, entah aku tidak tahu. Ini adalah sebagian dari pura-pura. Tidak benar-benar sebetulnya, hanya seakan-akan.

Ahoi, hoi-ho-hoi, aku seperti Nano berkisah mengenai Jin dari Tanah Parsi, ragaan dari masa mudaku. Ayoh agak semangat, sedang engkau sudah bertemu Siti Kejora pagi atau petang hari lalu. Seperti itu saja. Aku semangat untuk segera kembali bekerja, meski di sini benar tidak ada polisi maupun polisi pamong praja. Siapa tahu aku benar-benar sanggup mencipta, dengan mengerahkan daya cipta. Ragaan dari sengsaranya Buru saja bisa sekuat itu, masa aku di apartemen mewah begini tidak sanggup.

Dibandingkan seminggu yang lalu, memang suasana hatiku tidak beranjak banyak. Masih ada horornya. Ah, dunia apa ini. Seminggu ini horornya diperkuat. Ah, horor mengapa begini. Kesakitan seperti dikecapi. Meminjam kecap untuk dicrotkan ke atas kompor tua. Ini ayam. Pantas aku tidak suka ayam, meski itu original. Meski baru berpuasa, ayam, mungkin karena lapar; kecap, mungkin karena bakar. Demikianlah horor, masih bagus jika demikian. Bisa jadi segera berakhir. Ayam, yang jelas berakhir. Horor, semoga tiada lagi.

Sunday, December 23, 2018

Diganti: Seperti Makan Micin dengan Chiki


Kalau benar itu alasanmu, mengapa bukan Pak Kaji. Iya, ‘kan sudah kukatakan itu. Aku berbohong. Tepatnya aku menutup-nutupi sesuatu. Apa itu. Biasa. Diri-rendahku. Tidak. Ini bukan karena berada belasan ribu mil dari... mana. Ini lebih seperti berada belasan ribu kaki di surga. Maafkan aku, Dokter. Mungkin benar katamu itu. Kelebatan-kelebatan gagasan. (flight of ideas) Kau mau memaafkan kekuranganku ini ‘kan. Kau pasti mau. Kau dokter benar-benar. Ya, tepat seperti yang kubayangkan mengenai seharusnya seorang dokter.


Jelasnya, aku menulis ini karena tidak mau mengawali kalimat dengan “yang”. Aku gagal lagi menjadi cerpenis. Pram juga menjadikan dirinya sendiri sebagai bahan cerita. Tapi ia juga menceritakan banyak sekali orang lain, tentu dibumbui dengan khayalnya sendiri. Bedanya, aku ‘membumbui’ khayalku sendiri dengan cerita mengenai orang lain. Hahaha, seperti makan micin dengan chiki. Ini seharusnya judul entri kali ini. Jangan Dokter Icang. Nah, ini lebih suai dengan Kemacangondrongan; dan aku tidak kuasa mengkhianati tujuh lima.

Sedang orang-orang mencipta berbagai hal yang berfaedah bagi hidup dan kehidupan, aku mencipta eksibisionisme dalam format tujuh lima jadi lima dua lima. Biar aku mati dulu, jangan seperti seniorku Denny JA. Biar aku seperti Vincent. Di Minggu pagi yang sunyi dan mendung ini, aku berkesenian setelah menjejali perutku dengan indomie goreng rendang dua bungkus sekaligus, masih dengan cemilan suiran ayam kebap yang rasa-rasanya sudah tidak terlalu segar. Apa karena anak-anak sekolah sudah libur. Bisa jadi.

Di sampingku, seperti biasa, mug kelabu pucat berisi ramuan rempah musim dingin berbasuh madu. Aku bahkan menginginkan campuran Wina sekarang. Bila masih ada hariku, Insya Allah, biar kukenang hari ini, hari-hari terakhirku di studio Kees Broekmanstraat 218, barang-barang berserakan sedang aku masih tidak ada gagasan bagaimana cara terbaik untuk mengepaknya. Aku benar-benar menyanding secangkir campuran Wina sekarang! Eh, tadi mengapa Dokter Icang, bukan Pak Kaji katamu. Nah, coba sembunyikan ini. Bukan karena memanjat kursi dapur...

...bukan pula karena medewerker pas. Ah, kau tahu ‘lah. Tidak, aku tidak tahu. Sialan 'lu! Sekali sesapan saja membuatku urung membawa campuran Wina ke rumah. Mungkin sudah benar itu Douwe Egbert saja. Siap ini akan kubongkar lagi koper untuk mengeluarkan plastik-plastik berpenutup. Buat apa pula kau urusi plastik berpenutup. Memang harus kuurusi karena itu penuh dengan kenangan Cantik. Begitulah aku, seorang yang setia. Prek! Tahi! Uah, pas betul berbom-bom-bom Seandainya Aku Tidak Peduli dari mudaku.

Jadi begitu, ya. Seperti biasa ini adalah entri inkoheren. Aku tidak tahu malu. [masih harus kaukatakan juga?] Aku tidak punya kehormatan. Seperti Paman Yat-fei Si Kepala Besi, aku memakai celana dalamku di kepala dan minta dikencingi. Untunglah tidak ada yang melakukannya sampai hari ini. Bisa-bisa kembali lagi kepala besiku. Bisa-bisa main bola lagi aku. Aku jadi kangen Zulkhali Duki. Masih maukah ia mengencingi mulut Rudy Saladin. Mengapa harus mulut. Apa dia sudah pernah nonton begituan.

Yah, biarlah Hari Demi Hari mengembalikan kewarasanku berangsur-angsur. Dalam kesejukan senja hari, badan bersih habis mandi, bersarung, teh hijau satu gelas besar. [yang mungkin telah menggerus dinding lambungku selama bertahun-tahun] Kembali jelas tidak mungkin, namun terkabulnya doa adalah keniscayaan. Ya Allah, kacau benar aku pagi ini. Namun aku tidak mau lagi berdoa di sini. Ini memang tempat kekacauan. [maafkan aku, Ki Macan] Uah, Ki Macan sudah tidak ada! Akulah Ki Macan! Tiada lain aku sendiri!

...dan selalu aku. Sendiri.

Sunday, December 16, 2018

Salju Pertama di Amsterdam 2018


Kemarin… kau masih bersamaku… husy, koq jadi nyanyi. Kemarin ada kukatakan akan kuceritakan apa jadinya ‘kan. Nah, ini kuceritakan. Akhirnya aku benar-benar naik trem ke arah Nieuwe Sloten, tapi turun di Heemstedestraat, untuk dilanjut jalan kaki ke Jacques Veltmanstraat. Turun di Centraal kusempatkan mampir membeli munchkins isi sembilan, masih ditambah yang isi empat. Kumakan satu, tiga sisanya kugabung dengan yang sembilan, jadilah isi duabelas, tiga untuk masing-masing rasa. Suhu udara ketika itu sekitar minus dua.


Naik trem dengan membawa gitar dalam tasnya, plus tentengan munchkins ternyata cukup merepotkan. Terlebih ketika engkau harus bongkar pasang sarung tangan untuk mengecek peta gugel. Sebenarnya tidak perlu se-umek ini jika udara tidak sedingin itu. Tidak berapa jauh dari halte sampailah aku di semacam Smiley tapi untuk keluarga. Nyaman. Besarnya cukupan ‘lah. Ruang depan multifungsi digabung dengan dapur dan satu kamar mandi, dengan dua kamar tidur yang lapang-lapang. Di dalam situ tinggallah Dokter Icang sekeluarga.

Berhubung belum mulai kerja lapangan dan ini belum benar-benar etnografi, maka belum ada keharusan padaku untuk merinci pengamatanku. Hanya saja perlu dicatat di sini bahwa pallumara itu mungkin memang seharusnya bandeng, atau ikang bolu, kata orang Bugis. Jangan salmon apalagi kepalanya. Aku mau ikang bolu pallumara pada bagian perutnya. Selebihnya, seperti guna blog ini, aku akan mencatat perasaanku. Apa benar yang kurasakan. Benar-benar sulit dilukiskan. Hanya saja, aku yakin, perasaan ini, apapun itu, akan mereda.

Pamit agak cepat setelah meninggalkan gitar kesayanganku di sana, sampai rumah apa yang kukerjakan. Bukan karena tidak mau merinci, melainkan karena aku kali ini memang benar-benar lupa. Malam itu dingin, seingatku. Aku bahkan berjaket berkaus kaki, dan aku tidak bisa tidur hingga menjelang jam empat dini hari, jikapun sekadar agar melihat jatuhnya salju pertama di Amsterdam pada 2018 ini. Demikianlah, maka seperti halnya sepuluh tahun yang lalu, entri ini berjudul “Salju Pertama di Amsterdam 2018.”

Jika entri mengenai salju pertama dari sepuluh tahun lalu aduhai relijiusnya, kali ini aku tidak mau begitu; meski lamat-lamat kuingat betapaku berurai air mata ketika menulisnya dulu. Mengapa. Apa karena sama-sama membawa gitar dan batal menyanyikan lagu satu pun. Ketika itu yang kubawa gitar setengah bodi. Kali ini yang kubawa yang tiga perempat. Ketika itu belum minum obat darah tinggi. Sekarang sudah. Selebihnya, mengapa sih harus menangis. Tidakkah kalau mau menangis lebih baik sekarang ini.

…karena perasaan itu. Terkadang heran betapa di entri-entri terdahulu dapat terpikir olehku kata-kata dan kalimat-kalimat puitis, sedang kini kalimat-kalimatku dan kata-kataku tak lebih dari cericau dan cuitan tak bermakna. Baiklah. Tidak menjadi apa. Namun mereka banyak sekali, mau diapakan. Ya tidak harus diapa-apakan. Tepatnya, amit-amit jabang beibeh jangan sampai diapa-apakan. Semua biarkan seperti adanya. Doakan saja, seperti selalu dibatin kemunafikanmu. [aduhai ribet nian Bahasa Indonesia dengan awalan dan akhirannya] Tidak perlu sok minta ampun pula!

Hanya dirimu yang dapat menghentikan hujan [salju] ini. [Mengapa kurung kotak sih, bukan kurung biasa atau kurawal. Memang apa sih arti kurawal jika bukan kurawa ditambah “l”] Hidup macam apa yang akan dijalani oleh mereka, tidak bisa lain kubumbungkan harapan-harapan baik. Agar suatu hari nanti, tidak akan ada lagi kengerian, horor seperti dikenal kini. Semua damai, meski tidak perlu sampai seperti khayalan mengenai jamannya Lenina Huxley. Aku lelaki lemah, susah mulai dan rayap mati. Sudah.

Saturday, December 15, 2018

Hari Ini Bapak Berulang-tahun yang ke-68


Apakah ini pertanda, bendera di ketinggian seberang sana dicabut orang. Tidak ada lagi penanda bagiku, untuk mengetahui ke arah mana angin bertiup dan seberapa kencang. Sedangkan menjelang siang di Sabtu yang mendung ini, kuminum lagi Campuran Wina, yang tampaknya tiada seberapa menyakiti dibanding Torabika Creamy Latte, meski sama-sama gula pisah. Seperti inilah, maka Insya Allah akan ada hari-hari di mana aku tersenyum-senyum mengenangkan bendera dan Campuran Wina, sedang jiwa dan ragaku terasa ringan dan nyaman.


Jika Kang Ucu saja menikmati Pejah Husnul Hotimah, apatah lagi aku. Sungguh aku bersusah hati tidak sanggup menyenangkan Cantik. Apa yang menyenangkan hatinya membuatku berjengit. Apa yang menyenangkan hatiku membuatnya mencelos. Namun semua ini ‘kan sementara saja, Sayang. Berapa banyak di persekitaranku, persekitaran kita yang sudah mendahului, jadi sabar saja. Kuharap ini tidak terbaca seperti catatan bunuh diri, meski ditulis di muramnya cuaca bersuhu minus tiga derajat celsius. Insya Allah aku baik-baik saja. Tidak mengapa.

Ditemani daftarmain dari sekitar lima belasan tahun yang lalu, dengan jari-jari rampak memberondong papankunci, aku baik-baik saja. Memang sedikit sekali dari dunia ini yang menarik perhatianku. Tidak salah jika Pak Kaji mengatakan aku “klempurak klempuruk rak tau metu kos-kosan.” Benar belaka. Terlebih ini kos-kosan mahal. Harus dimanfaatkan semaksimal mungkin hahaha. Alasan. Namun sepertinya hari ini, tepatnya, setiap hari, aku harus ada ‘lah keluar agak barang sebentar. Semata-mata agar enak tidur malam. Sudah itu saja alasannya.

Nah, untuk hari ini aku berencana untuk mengunjungi kembali Namu, untuk mencicipi lagi semangkuk udon rubah, mungkin juga satu skup rum raisin atau rasa lainnya. Entahlah. Belum tahu juga apakah ini akan kejadian, nanti atau besok akan kuceritakan padamu. Kemarin aku sudah menghabiskan senilai semangkuk udon itu juga. Apakah hari ini akan begitu lagi. Hahaha tiba-tiba kebiasaanku berhemat muncul mak pethungul. Sedangkan kemarin aku sudah mengeluarkan uang terbanyak selama ini, kurasa, untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari.

Belum-belum rencana di atas gagal total, karena baru saja Jeng Isdah mengontak agar aku datang berkunjung ke tempat mereka di Jacques Veltmanstraat. Ini Insya Allah akan menjadi pengalaman baru, karena aku belum pernah punya alasan naik trem nomor 2 ke arah Nieuwe Sloten. Siap ini aku harus segera mandi jika demikian, karena aku berjanji setelah dhuhur berangkat. Ahaha, hari ini Kemacangondrongan kembali menjadi seperti situsweb harian, karena ini bukan buku. Lebih praktis, namun kurang romantis.

Aku membilas cangkir bekas campuran Winaku dengan air keran, lalu memanaskannya dengan magnetron. Pemanas airku yang berbadan plastik menghasilkan air panas yang beraroma. Segala kerepotan ini tidak perlu. Di rumah aku tinggal mengambil air panas dari pengser, yang mana sebentar lagi Insya Allah akan kulakukan. Aku jadi ingat keluarga-keluarga di sini, Pak Kaji, Mas Ihsan. Bertualang? Bisa jadi. Namun aku, pada usiaku sekarang ini, sungguh sulit tertarik pada petualangan jenis apapun, terlebih yang semacam itu.

Sesungguhnya masih ada kusimpan tenagaku untuk satu petualangan, yang tentu saja bagiku itu bukan petualangan sama-sekali. Sementara orang mungkin akan menyebutnya sebagai petualangan, yakni mereka yang kemungkinan tidak sepakat denganku, bahkan mencibirku, bahkan mungkin mencoba membunuhku, jika aku beruntung. Aku bisa apa. Begitulah doa Bapakku, yang hari ini berulang tahun ke-68, bagi anak-anaknya, mungkin terutama yang laki-laki. Aku, Bono anak Harnowo, anak laki-laki tertua Bapakku. Bisa apa lagi aku kecuali berusaha mewujudkan harapan Bapakku ini.

Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!

Thursday, December 13, 2018

Cinta adalah Suatu Permainan yang Aneh. Lho?!


Haruskah aku meninggalkan lima dua lima sekadar agar entri-entriku koheren? Lihat! Belum-belum sudah memulai paragraf dengan ini. Amboi, mana mungkin akan menjadi paragraf yang koheren? Entri, nyatanya, memang tidak pernah benar-benar berisi cerita. Entri selalu mengenai letupan-letupan perasaan, dan, aduhai, betapa perasaan memang selalu meletup-letup. Itulah yang kurekam dalam sebuah entri. Akhirnya aku, pada karater kelima puluh, memutuskan untuk kembali pada lima dua lima; karena aku tidak tahan! Biarlah tujuh lima menjadi penanda. Sudah begitu saja.

Ini Sam, tidak dengan sayur kol, tetapi dengan dedaunan kering
Nah, sekarang pindah. Betapa melegakan. Seperti apa. Malam ini aku sedang tidak merasa lega. [atau merasa tidak lega] Apa benar yang kurasakan malam ini. Yang jelas, roti gandum kasar dengan selai jahe saja sudah nikmat. Apalagi roti putih. Makanan mungkin akan menggairahkanku. Akhir pekan ini cuma harus kutahankan. Cuaca mendadak cerah. Awan-awan menghilang. Udara menjadi dingin dan kering. Tetap saja harus shalat Jumat. Pakai celana yang mana. Halah, begitu saja menjadi problema, 'emangnya Gito Rollies.

Kurasa kebanyakan orang seperti aku begini. Atau tidak banyak. Atau ge-er. Atau teman. Masa tadi aku membatin tidak ada yang lebih memahamiku daripada Tante Connie. Kenyataannya sekarang Tante Connie sedang menemaniku, seperti halnya aku menggunakan sebutan dengan gelarnya sekali sebagai panggilan. Aku ini apa-apa’an. Ini sudah kembali seperti aku yang biasanya. Begitu Senin atau Kamis malah lupa. Begitu Jumat malah kepengin. Maka celana jadi sempit. Pikiran seringnya tidak menyimpang dari kekentuan. Padahal sudah tua. Bodoh.

Kujalani hari-hariku seperti ini entah sudah berapa lama, entah berapa lama lagi. Akhirnya menulis entri lagi. Entah mengapa makan bakso di sore hari berhujan, di seberang Pasaraya Manggarai, setelah itu shalat maghrib berjamaah, sering sekali menjelang. Apakah itu ketika kali pertama bertemu Laurens. Bukan baksonya yang jelas. Bakso justru Bu Dini, yang mungkin akan kukenang selalu. Kesederhanaannya. Kemantapannya. Betapalah tidak menggelendut begitu caranya. Dipaksa tambah terus sama Pak Kaji. Ah, alasan saja. Padahal memang doyan.

Dalam hidup ini, di dunia ini, segala sesuatu selalu datang dan pergi. Lalu Dugem. Pasti dia ingin cabut dari NMN. Ya, cabut saja. Berat, membuat berat. Aku tidak bisa mengisi waktu luangku dengan yang terlalu berat. Jika ringan tentu saja tidak pantas dibayar. Masa mengisi waktu luang minta dibayar. Ah, mau Tante Connie, mau Oom Cliff, sama cantiknya. Selalu cantik, demikian juga ketika digesek Paolo Mantovani. Aku mau marah. Aku sudah marah. Aku sedang marah.

Nyatanya dipenjara juga tidak produktif. Nyatanya hanya merintang waktu. Nyatanya entri lagi saja hasilnya. Sudah begitu berkhayal minta dikurasi sekali. Ini lagi Suatu Saat di Kehangatan Mentari. Aku malah tidak merasa begitu. Ini adalah hangatnya malam hari. Di mana. Di salah satu kamar Mess Pemuda yang baru saja kurapikan. Di manapun berdinding putih, bercahaya lampu neon putih. Berperabotan kayu model lama berpelitur gelap, dengan bau agak apak, agak lembab. Berkomputer atas meja tapi CPU-nya berdiri.

Banyak bukan hari-hari, malam-malam seperti itu. Banyak sekali. Entah sudah berapa ratus, berapa ribu. Mengerikan di masa mudamu seperti itu. Lalu apa bedanya dengan masa tua. Lihatlah. Begini akhirnya entri yang dicita-citakan koheren. Sudah kukatakan. Mana mungkin koheren, apalagi dengan suasana hati seperti ini. Apakah ketika itu sudah turun salju dengan lebatnya, sangat bisa jadi; karena natal hanya berdua, bertiga dengan Sam yang minta pipis. Maka kuantar sebentar keluar. Segera masuk lagi. Apa kabar, Sam.

Wednesday, December 12, 2018

Boro-boro Cappuccino. Ada juga mules!


Apa iya aku harus memulai dengan secangkir kertas latte macchiatto, atau kali ini cappuccino, sedangkan di pojok kopi tadi ada Willy? Suasana siang ini agak berbeda [apanya?] dari hari kemarin. Apakah karena telingaku disumpal Dari Hari ke Hari atau karena fantasi Pram mengenai Jakarta jaman sekitar Revolusi Fisik? Apa juga karena berusaha menyelami suasana kebatinan Pak AB Kusuma dalam dinginnya dini hari Amsterdam? Apa? [Mengapa kembali lagi ini tanda tanya] Gabungan dari semua ini, kurasa.


Jadi tidak cappuccino-nya. Bagaimana dengan perutmu yang tidak kunjung beres. Aku seperti Idulfitri di Kemacangondrongan ini. Aku ada dua, yakni aku dan diriku sendiri. Terkadang diriku sendiri menanyaiku. Terkadang, sebaliknya, aku yang menanyai diriku sendiri. Seringnya kami bercakap-cakap. Sayangnya, tidak seperti Idulfitri dan Namun, kami tidak lapar. Kami berdua memang sudah cenderung tidak peduli, maka aku begitu saja melepas kancing celana. Padahal jaket kubuka. Padahal agak di belakang sana ada Icha. Habis mau bagaimana lagi.

Lantas Inah dan Aminah. Uah, tidak kreatif Pram membuat nama, seperti nama-nama Portugis karangannya. Ia sendiri mengakui, mengapa Portugis bernama Spanyol. Inah dan Aminah, masing-masing mengerikan dengan caranya sendiri. Untukku yang sok relijius ini mungkin lebih ngeri Inah, meski Aminah kemungkinan mati dengan mulut bernanah terkena rajasinga, karena—dalam khayalan Pram—orang laki sudah tidak mau menidurinya seraya memandang wajahnya. Beginikah moral jaman itu? Hanya dua inikah pilihannya, missionary atau fellatio, dan tanpa “kehormatan”?

Inah bagaimana? Sebenarnya, dibanding khayalannya mengenai Aminah, Inah ini tidak ada apa-apanya. Moral bahkan sudah menerimanya jauh lebih dulu, mungkin, daripada apa yang terjadi pada Aminah. Mungkin ada gunanya bagi ilmuwan sosial sepertiku. [“Ceilah!” cibir Sobi, kakak Inah] Cara berpikir Sobi dan Inah segera mengingatkanku pada diriku sendiri yang normatif. Amboi! Bahkan di antara orang-orang hukum saja aku ekstra normatif, ekstra sok moralis. Aku harus melatih diriku agar dapat seperti Pram, melukiskan tepat seperti adanya.

…sementara mengesampingkan penilaian-penilaian moralku sendiri. Di sini tiba-tiba aku teringat sifat burukku yang lain, yakni pembual. Pembohong ‘lah, mudahnya. Bukan sekadar melebih-lebihkan, aku sering mengada-adakan kenyataan yang sebenarnya cuma ada dalam benakku yang hiperbolik. Seperti kata Iwan Goya, aku naga yang ekstrim, suka membesar-besarkan persoalan. Seperti ketika kukatakan, Fawaz sedang “crying for help.” Aku sampai malu sendiri. Tentu saja bundanya tidak suka kukatakan begitu. Bunda mana yang suka anak bujangnya dikatakan seperti itu? Tidak ada!

Ya sutra 'lah. Biarkan Waltz Terakhir ini membelai-belai hatiku, seperti yang selalu ia lakukan semenjak kecilku. Dengan lampu Funai berkelip-kelip mengindikasikan dentam-dentamnya bass, sedang rumah K28 gelap gulita; mungkin Ibu sedang memanggang kue sekaligus memasak nasi. Kenyataannya memang bukan itu kampung halamanku, seperti Aminah yang dalam sekaratnya pulang ke Kebayoran. Semoga ketika waktu itu datang, yang kulihat adalah kampung halaman yang sejati. Jadi bukan dari masa lalu, bukan pula masa depan. Semoga semata gambar keabadian!

Anjrit dengan sayur kol! Tragis sekali. Kesombonganku serasa ingin berkata: “Biasa.” Tanpa tanda seru. Namun tak ayal ia menghantui juga, hampir seperti ketika aku tidak sengaja menonton Insidious atau yang semacamnya. Aku marah karena ia memanipulasi sisi psikologis audiens. Tidak sekadar menakut-nakuti, ia membuat kelompencapir mempertanyakan kewarasan sendiri; standar-standar moralnya, kepatutannya sendiri. Memang begitulah film horor dan suspens masa kini, bahkan ada istilahnya. Suspens psikologis. Hei, tapi ini ‘kan cerpen, dari pertengahan Abad ke-20 pula!

Tok! Tok! Mengetok Pintu Sorga.

Tuesday, December 11, 2018

Syekuntum Mawar Merah, Merpati Putih


Uah, jadi seperti judul perguruan silat. Tadinya, ketika berjalan dari Kees Broekmanstraat ke halte trem Zuiderzeeweg, sempat terpikir olehku untuk menyudahi kegilaan lima dua lima. Namun, entah mengapa, sesampainya di kantor keinginan itu sirna begitu saja. Mungkin karena begitu masuk ruang flex ada Mas Ichsan dan Jeng Isdah suami istri. Hatiku jadi empuk, seperti daging dibungkus daun pepaya. Intinya, kesenian lima dua lima ini lanjoot. Tidak lanjoot hanya jika aku harus bekerja. Berkesenian ya beginilah.


Yang tetap dari awal perjalanan hari ini adalah keinginan untuk melayang-layang bersama seutas merpati putih. Merpati atau dara, begitu sempat ‘ku membatin tadi. Ah, dua-duanya sama-sama menjengkelkan. Sok imut! Apa itu damai. Aku suka [film] perang. Maksudnya, kalau terpaksa ya mau bagaimana lagi. Siapa yang menghendaki kedamaian harus siap berperang, begitu ‘kan? Pikiran[ku] memang jarang koheren. Baru bisa koheren jika kupaksa. [ada tidak sih sebenarnya awalan berupa kata ganti orang? Ini pasti bukan bentuk baku.]

Seperti begitu saja Tjiang Lexsy mengirim tautan video kuliahnya Pak Yudi Latif memperingati Widjojo Nitisastro, di mana beliau bicara mengenai keajaiban Bahasa Indonesia. Ahai, retorika! Lebih baik syair berlagu sekali, seperti Bang Haji Oma, tung keripit ahai tulang bawang. [tahunya dari Togar Tanjung] Aduhai, merpati! Berani-beraninya aku berkhayal mengenai hidup sesudah mati. Hidup dulu! Aduhai, bukan salah panca indera tentu saja, seperti yang kubatin-batin sambil menunggu datangnya Trem 26 tadi. Salah diri-rendahmu sendiri, tentu saja.

Dan begitu saja Japri menepuk pundakku, mengabarkan bahwa ia sudah secara resmi menyerahkan kertas delapan bulannya. Secara resmi?! Aku? Tidak berani berpikir apa-apa. Mengapa pula lagu temanya beberapa malam yang mempesona begini. Mengapa pula acara kuis tebak kata harus diberi nama “Ragam Pesona,” kurasa sama saja. Apakah aku penyair; aku ingin begitu, meski itu budak penyair pujangga lama. Aha, ini dia keinginanku. Aku ingin menyebut diriku sendiri penyair, atau semacam sastrawan begitu. Ilmuwan biar nanti.

Hari ini aku tidak mendapat mug yang biasa, yang bertuliskan “Sharing our resources and exercising our powers transparently and fairly, we strive for a department where we can enjoy our work, feel included and develop our creative potential to the fullest.” Aku mendapat cangkir bening sehingga aku bisa melihat wiskiku yang berwarna cemerlang keemasan. Ternyata ia tidak segelap yang kukira. Ternyata warnanya sungguh indah memukau hati. Semoga baik pula manfaatnya bagi kesehatan lahir dan batin.

Hidup tidak lain sekadar impian. Impian yang bisa indah, bisa mengerikan, karena ia impian yang berakibat; tepatnya, dapat menyebabkan hal-hal yang mengakibatkan. Mengerikan! Berlalunya cinta saja sudah sakit sekali ditanggungkan, terlebih berlalunya hidup yang sia-sia. Setua ini, aku sudah benar-benar lupa seperti apa rasanya cinta remaja. Terkadang aku masih merasakan sesuatu sih, yang mungkin mirip dengan gejolaknya cinta remaja; namun untuk hal-hal yang sama-sekali berbeda. Semoga saja yang kurasakan itu adalah yang sebenarnya, sebenar-benarnya. Semoga.

Bang Andhika bagaimana, sudah merasakannya? Mas Ari bagaimana? Apapun itu, semoga saja jauh lebih baik daripada Mas Ari harus menerima oleh-oleh dariku yang saru bentuknya; seperti yang mungkin akan menimpa Mas Narno, Mas Gitos, Mas Gondrong dan semua anggota klub sarapan, yang sepertinya tidak pernah benar-benar menerimaku. Namun mereka semua menghilang dari pandangan, karena aku hanya punya mata-mata untukmu. Ya, kamu. Siapa lagi. Aku punyanya cuma kamu. Segala puji hanya bagiNya Tuhan seru sekalian alam.