Friday, August 27, 2010

Malam Jumat Malam Turunnya Quran


Wuih, terlalu banyak yang terjadi dalam dua hari terakhir ini (masa siy?), sampai aku kehilangan jejak. Yang kuingat sekarang, pertama, perasaan sedihku karena tidak masuk SIAK, namun, tidak seperti Boy Mardjono, aku tidak bisa menyuruh siapapun untuk memastikan namaku ada di sana. Kedua, pengalamanku bertemu dengan orang-orang dari Forum Reklamasi Hutan pada Lahan Bekas Tambang (RHLBT). Ketiga, yang baru saja kubaca tadi sambil mules, bahwa sebutan Indonesie itu berkonotasi primitif, sedangkan Indie setelah diberadabkan oleh Belanda. Entah harus dibahas tersendiri, aku juga ingin mencatat tentang kegelisahan Farid yang kelihatannya sulit disembuhkan. Oh iya, Cantik, tentu saja, catatan tentang gairahmu berdagang. Aku selalu suka melihatmu bergairah, Sayang.

Masuk topik pertama. Beberapa hari lalu, aku ingat betapa sedihnya ketika menyadari namaku tidak ada di SIAK. Jadi, semester ini aku tidak secara resmi terdaftar di matakuliah mana pun. Aku tahu ini masalah remunerasi. Buat apa berbagi denganku yang tidak butuh cumshot ini. Emangnya bukake. [baru saja kutenggak habis segelas indocafe coffeemix] Di tengah kesedihan itu, aku berjalan ke Bagian Keperdataan, siapa tahu ketemu Bang Idon. Ternyata memang ada beliau di sana. Bahkan ada Bu Mira segala. Akhirnya, aku menemukan diriku ngolor kepada Bang Idon. Aku berbicara mengenai kemungkinan aku sit-in di kelasnya Mbak Meli. Melengkapi catatan, kataku, persiapan untuk menyusun modul kelas internasional. Bang Idon menjelaskan, karena di kelas internasional tidak ada matakuliah Hukum Benda dan Perikatan Adat dan Hukum Waris Adat, maka materi Hukum Adat yang diberikan di sana harus diperkaya dengan bahasan-bahasan terkait yang disebut belakangan itu. That's alright, Mama. Sepotong bolu, kuharap. Akan tetapi, yang membuatku sedih adalah pilihan kata yang terpaksa kugunakan. Hiks, aku masih sit-in.

Aku belum diakui, sedangkan umurku sudah banyak. [Bang Idon juga menjelaskan bahwa di mata kuliah Hukum Adat belum dibahas mengenai norma. Ini menarik] Apakah aku harus meminta sekali lagi kepada Bang Idon agar namaku dimasukkan dalam SIAK? Hmmhhh... akan kutanyakan siang atau sore ini, Insya Allah, kalau beliau ada. Bu Mira, dalam kesempatan itu juga, menyarankan bila ada bukaan PNS aku lebih baik ikut. Bilakah itu? Batas umur untuk diterima sebagai PNS adalah 34, seingatku. Aku sudah 34 dari beberapa hari yang lalu. Masih adakah waktu? Pagi kemarin, sambil berkendara sepanjang Rasuna Said, Ditha berkata ingin mendapatkan ijin advokat, karena bidangnya, persaingan, banyak kasus mahal. Iya ya, kataku. Mumpung bukan PNS. Apapun itu, kalau tidak salah segera setelah aku turun dari Bidang Keperdataan, melewati pintu bagian Rumah Tangga, Pak Sardi mengangsurkan sepucuk surat padaku. Bono Budi Priambodo, SH., M.Sc. Staf Pengajar Program Sarjana, begitu tertulis di situ. Alhamdulillah, sedikit penghiburan di kala sedih.

--Berhenti dulu shalat Shubuh. Bersyukur. Mohon ampun--

Topik kedua, Forum RHLBT. Dari pertemuan pagi itu 26 Agustus 2010 sekitar 09.45 - 11.00, yang kupahami adalah sebagai berikut. Perusahaan pertambangan merasa perlu untuk mengamankan "investasi"-nya ketika menghutankan kembali lahan bekas tambang. Menurut Pak Jeffrey, Ketua Umum Forum RHLBT, petambang tidak berkeberatan untuk mengeluarkan sejumlah (besar) uang untuk mereklamasi lahan bekas tambang, sedangkan itu adalah kewajiban menurut peraturan perundang-undangan. Namun, alangkah baiknya jika, dengan menambahkan sedikit lagi dana, alih-alih menyerahkan "begitu saja" kembali kepada pemerintah, petambang atau pengusaha lainnya dapat terus mengusahakan hutan hasil reklamasi itu. Pak Jeffrey berdalih, petambang telah mengusahakan reforestasi itu dengan sedemikian baiknya, sedangkan, jika kegiatan pasca tambang ini telah selesai dan hutan yang telah tumbuh kembali itu dilepaskan begitu saja, pihak lain belum tentu mampu mengelolanya dengan baik. Ia khawatir, alih-alih membawa manfaat dan keuntungan bagi rakyat dan negara, hutan ini justru akan dimanfaatkan oleh para "pencoleng".

Yang agak menggangguku dalam pertemuan itu adalah pernyataan Pak Jon (Suhardijono?). Jika aku tidak salah tangkap, ia mengatakan hutan hasil reforestasi itu adalah "hak negara". Jadi, terserah negara mau diapakan, apakah dilelang kayunya kepada penawar tertinggi (Ini harus dikonfirmasi pada peraturannya). Jika benar apa yang kudengar itu, siapapun yang akhirnya berbicara tentang adanya "hak ulayat negara" tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Birokrat-birokrat seperti Pak Jon inilah yang, mungkin, mengakibatkannya. Istilah hak ini memang sangat problematik. Kurasa, biar berabad-abad telah berlalu, konsep property tidak akan pernah sepenuhnya dipahami oleh alam pikiran "ketimuran", atau, mungkin lebih tepat, siapapun yang menempatkan Tuhan pada posisi sentral a.k.a. teosentrisme. Yang bisa "memiliki" ya hanya Allah. Tak satu mahluk pun dapat memiliki apapun. Namun orang Barat kafir ini, yang antroposentris, mengemansipasikan manusia sebagai pengemban tidak saja kewajiban-kewajiban, tetapi, yang paling penting, juga hak! Sejak saat itulah urusan milik-memilik, hak-menghaki di Nusantara menjadi "kusut masam" (kata Obbie Mesakh hahaha...).

Dari sini, kita dapat beranjak ke topik ketiga. Segala kekusut-masaman yang ditimbulkan sejak imperialis-imperialis itu menjejakkan lunas kapal dan kaki di bumi air Nusantara bersumber dari pertanyaan: "Alam yang kaya ini, punya siapa?" Sebenarnya, satu-satunya jawaban yang ingin mereka dengar adalah: Punyaku! Akan tetapi, ada juga orang-orang seperti van Vollenhoven, dan lain-lain yang sepikiran dengannya, yang tidak rakus dan ingin membaginya dengan "penduduk asli". Bukan sekadar masalah balas budi atau tanggung-jawab moral, van Vollenhoven berusaha mengonstruksikan "kepemilikan" penduduk asli atas kekayaan alam itu, hence, konstruksi beschikkingsrecht alias hak ulayat. Samakah pengertian konsep ini dengan common property, di manakah letak perbedaannya, harus kuperiksa terlebih dulu. All in all, semoga aku tidak salah di sini. Siapapun van Vollenhoven, apapun yang dipikirkannya, kuharap satu watak yang mendasarinya. Tidak rakus. Jika betul demikian, maka kita sejalan. Just because of this, if I didn't remember a more important signifier, I'd love to call this entry: In the Spirit of van Vollenhoven, or would I make it an entry in Pusaka.info?

Farid bercerita, Anton bercerita, bahkan di Leiden sekalipun, di Van Vollenhoven Instituut sekalipun, masih juga developmentalis. Itu istilah yang digunakan entah Farid entah Anton. Aku berkomentar, mau bagaimana lagi. Aku juga mendengar kalau VVI pun kesulitan dana. Tentu saja ia berusaha memutakhirkan pendekatan, bahkan kalau perlu paradigmanya, agar terus mendapatkan pendanaan (dari pemerintah Belanda?) Aku sudah mengantisipasi hal ini, koq. Sekali lagi, mau bagaimana lagi? Negeri itu indah, harus kuakui, seperti dongeng. Lebih indah lagi euro-nya. Jadi aku tetap harus berusaha untuk kembali ke sana, jika semangat untuk membahagiakan kedua orangtuaku masih kurang cukup mendorongku. Biar kuulangi. Negeri keparat itu betapa permainya, dan euro-nya sedap betul! Lagipula, aku bukan eskapis. Aku pantang lari dari kenyataan! Sungguh aku ingin tertawa mendengar Farid membuat skripsi (hukum) mengenai Derrida(?!), seperti aku selalu ingin menertawakan kekaguman Sofyan pada Jafar Suryomenggolo. Larilah! Lari kemana pun kau suka! Berani kau mengkhianati harapan orangtuamu? Aku pengecut. Aku tidak! [ternyata segini saja tentang kegelisahan]

Dua tahun lalu, dalam rangka yang sama, Nuzulul Qur'an, aku menulis tentang Khadijah r.a. Aisyah r.a. Tahun ini aku juga menulis tentang perempuan, Gadis Kecilku Sayang.

Sampailah pada topik favoritku. Gairah Cinta! Sayang... Cantik... sungguh aku senang mendengarmu bergairah. Meski aku masih berpendapat tiga juta untuk modal awal terlalu berani, dan itu juga membuatku minder karena bahkan aku tidak punya sebanyak itu untuk kupertaruhkan pada ekspres gembolku, tapi aku suka gairahmu. Jumlah yang lebih kecil dari itu mungkin memang tidak sepadan denganmu yang, seperti halnya aku, meledak-ledak. Aah, sungguh aku suka melihatmu bergairah, Sayang. Sungguh tidak sedap dipandang jika kau sampai layu lesu karena tidak ada yang kaukejar. Aku membayangkan diriku sendiri. Betul-betul bencana jika aku sampai tidak punya sesuatu untuk dikejar, untuk diperjuangkan. Gadis Kecilku Sayang, jika pun bukan untuk apa-apa, jika pun bukan untuk bersamaku, gairah itu, semangat itu, sangat kauperlukan. Itu baik untuk kesehatanmu, Cantik. Fisik dan mental. Ya Allah, kumohonkan padaMu kebahagiaan bagi Gadis Kecilku Sayang. Aku sungguh mencintainya.

Wednesday, August 25, 2010

Aku Lelaki yang Lebih Baik


Sahur ini, Ki Macan, setelah hampir dua tahun tidak pernah muncul, begitu saja menjelang dari kegelapan, seperti kebiasaannya [Ugh, koq mules lagi ya... Cepet amat reaksinya kopi ini] Ki Macan memang begitu. Semenjak perutnya terus bertambah gondrong, ia jadi banyak keluhan. Namun, pagi ini Ki Macan sedang tidak mau membicarakan perutnya. Aku menggunakan kesempatan ini untuk memperkenalkan Cantikku kepadanya. Tidak enak. Sudah beberapa kali aku melakukan rujukan eksplisit mengenainya, tetapi belum sekalipun aku mengenalkannya secara resmi pada Ki Macan. Pagi ini, sepertinya waktu yang tepat, sedangkan aku sangat merindukannya, seperti yang selalu kurasakan. Setiap waktu.

"Ki Macan... Aku ingin memperkenalkan Cantikku kepadamu." Ki Macan mengangkat alisnya yang gondrong sebelah, melirikku dengan kepala botaknya yang setengah tertunduk.
"Ia impian seumur hidupku, Ki Macan..." Sepi beberapa menit...
"Aku sudah bermimpi bersamamu jauh sebelum kau menyadari keberadaanku." Gumam Ki Macan memecah kesepian. [Seharusnya "keheningan," tapi sungguh aku malas menggunakan referensi langsung pada kata yang akhirnya menjadi nama istrinya Mayor Nawawi itu]
"Pakde Lenthu kemarin ngendika, tidak baik lama-lama membujang. Rasulullah Muhammad SAW pun membuat rujukan langsung mengenainya [Apa sih, dari tadi rujukan langsung melulu]. Bukan umatku, katanya, yang membenci sunnahku."
"Aku tidak membencinya." Tukasku defensif. "Lagipula ini bukan masalah bujang-membujang. Ini masalah impian. Hanya saja selama ini aku melatih diri sedikit lebih keras dari yang seharusnya untuk tidak menginginkan apapun. Apalagi bermimpi."
Ki Macan terdiam lama.
"Ia impianku sejak lama." Kini aku yang memecah kesepian.
"Aku tahu." Sambil berkata demikian, ia berangsur-angsur menghilang kembali ke dalam kegelapan.

Aku menyimpul sesungging senyum. Ah, Ki Macan memang begitu. Rasanya memang tidak mungkin berbagi perasaan romantis dengannya. Bukan berarti dia tidak menyukai Cantikku. Bukan. Dia hanya tidak tahu harus bagaimana. Ki Macan memang tidak terlatih untuk itu, atau tepatnya, ia melatih dirinya ke arah yang berkebalikan. Aku tidak bisa menyalahkan. Sepanjang hidupnya, setidaknya begitu dugaanku, ia melatih diri untuk tidak memberi wujud kepada impian-impiannya, karena mustahil Impiannya itu wujud selama dunia ini masih wujud, dalam benaknya, apalagi benakku. Impianku ini, kini berwujud. Ia berwujud gadis kecil, yang suka menangis berlama-lama untuk menarik perhatian. Bila akhirnya diperhatikan, ia akan memperkeras tangisnya, agar perhatian yang baru didapat itu tetap padanya. Ah, gadis kecil yang cantik.

Aku sangat menyukai suaranya. Seperti dalam impian. Suara itu seperti telah kudengar sejak lama. Suara yang membangkitkan gairah untuk mencinta. Gairah yang liar namun syahdu, seperti dua ekor harimau loreng satu jantan satu betina dilanda birahi. Saling menggigit lembut, saling mencakar mesra. Suara itu, seperti suara harimau betina yang tengah mengasuh anak-anaknya. Geraman lembut yang penuh kasih-sayang. Suara itu... sangat kusukai. Suara itu selalu kurindukan. Aku menyukainya sejak entah kapan aku tidak peduli. Maka ketika aku mendengarnya, aku langsung suka. Di sini aku kehabisan citra. Seandainya saja aku tidak harus susah payah merangkai citra. Seandainya saja, pagi ini, suara itu bukan sekadar citra. Seandainya saja suara itu, seperti adanya, hanya gelombang suara yang membentur selaput tipis gendang telinga, pun begitu membangkitkan hasrat yang paling purba. [Tidak boleh. Sudah masuk waktu shubuh. Ini bulan puasa]

Senin pagi sampai siang, kubereskan semuanya. Belum, ding. Hamid Chalid belum, seperti belumnya Kurnia Toha dan Andhika Danesjvara untuk urusan lain. Juga, seperti belumnya John Gunadi, apalagi Samsul. Namun aku merasa sudah, karena sudah atau belum itu masalah perasaan, bukan indikator kinerja apalagi pencapaian. Aku seniman bukan birokrat. Lalu aku pergi ke Pusaka bersama Sofyan sore harinya, naik Taruna. Aku urung menyongklang Vario, padahal Pertamax-nya sudah tiris dan harus kuisi. [Aku jadi ingat. Dia menemukannya lucu sekali, ketika aku mengangkat-angkat alisku sambil tersenyum pongah, berkata: Pertamax. Penuh! Aku suka ia menganggapku lucu. Aku suka ia suka.]

--Berhenti dulu shalat Shubuh--

Di Tanjung Barat membeli tahu petis dan tempe mendoan. Sofyan sedih karena serabinya tidak ada. Sampai di kantor belum buka, aku dan Agam mencoba Smash-nya untuk pergi ke Warung Padang "Mini Indah". Berbuka dengan nasi Padang (lagi?!), Sofyan cukup terlipur dengan kolak UKM yang kubeli. Dasar orang Sumatra! Belum berbuka rasanya kalau belum pakai kolak atau sepupu-sepupunya. Setelah berbuka, Rapat Senin tanpa kehadiran Sandoro. Rapatnya para seniman. Bahkan Sofyan yang paling medioker --dan, karena itu, terorganisir-- pun merasa dirinya seniman. Kalau tidak, mungkin dia tidak akan tahan berlama-lama denganku. Justru itu yang agak mengusikku. Aku. Farid. Sandoro. Aduh, kombinasi macam apa ini. Aku hanya berharap mereka mampu menunjukkan kinerja yang setidaknya setara denganku, terlepas dari dorongan-dorongan untuk berkesenian yang, aku tahu persis, selalu menggoda mereka. Justru itu juga yang pada kesempatan pertama membuat mereka tertarik padaku, kurasa. Okay, kids! Setidaknya lihat aku! Aku bisa sampai sini, kalian pasti bisa lebih jauh lagi!

Itu, jika kalian sepakat untuk membantuku mewujudkan impian-impianku. Beginilah kurang lebihnya notulensi Rapat Senin kemarin. Hahahaha, notulensi macam mana pulak! 'Kan sudah kubilang, ini rapat seniman bukan rapat kajian. Aku hanya bisa berharap, lukisan kami mencapai taraf estetika yang memadai, sehingga tidak seperti lukisan-lukisan murahan yang dijual eceran di pinggir-pinggir jalan, karya seniman-seniman tanggung itu [Maafkan aku, Saudara-saudaraku]. Sungguh, itu nista, dan kami menempuh jalan nista ini! Nista, karena kami sengaja menempuh jalan yang tidak biasa. Jalan yang tidak biasa 'kan biasanya becek berlumpur. Sungguh! Aku tidak menyebutnya jalan pintas! Aku melalui jalan ini karena aku MAU melalui jalan ini. Bukan untuk kemana-mana. Itu juga yang kutekankan pada bocah-bocah ini. Kalian ingin ketenaran? Kekuasaan? Well, aku tidak tahu, tapi aku bisa jamin, JANGAN CARI DI SINI!

Yang kuinginkan adalah PRODUK! Mari berproduksi. Kalian bicara Marxisme tetapi tidak berproduksi. Sama saja COLI! [Ini lecutan untukku juga] Bicara mengenai produksi... dapur kami dingin sekali! Pantas saja bocah-bocah itu pada sakit-sakitan. Sandoro mungkin masih terampil menggunakan akal sehatnya, tetapi aku mengkhawatirkan Farid. Ia sama bebalnya denganku, Si Bodoh ini. Semoga saja ia menemukan sesuatu cara untuk membuat dirinya sedikit teratur. [Sudah terang. Tadi, ketika kegelapan masih mengambang tipis di udara, Ki Macan melirik dari kegelapan, mengucap selamat tinggal. Aku balas melirik. Sampai jumpa, batinku. "Tentu," sahut suara batinnya. Aku lega.] Pula, gara-gara Si Bocah Gemblung ini aku menginap untuk kali pertama di kantor. AC-nya, Mak, mana tahan! Sakit semua badanku. Untung ada yang keluar sahur, jadi aku bisa keluar makan nasi Padang (lagi?!). Enak, sih.

Paginya Ditha Wiradiputra telpon, bertanya padaku, siapa ahli hukum pertambangan. Tidak pakai lama, kutukas: Ya, saya lah, Pak! Begitulah maka Insya Allah Kamis ini jam 09.00 kami akan bertemu Indonesian Mining Association (IMA), begitu kalau tidak salah, untuk membicarakan mengenai konversi kawasan konservasi menjadi wilayah pertambangan. Ahli atau tidak, aku berminat pada topik ini. Ahli atau tidak, aku, katanya, Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Hukum dan Sumberdaya Alam, salah satu subsidiary dari Djokosutono Research Center. Ahli atau tidak, ini dia yang terpenting, aku harus membuat bocah-bocah ngawur ini menjadi dosen, seperti yang seringkali terlintas dalam kepala ngaco mereka. Insya Allah, itu suatu kebaikan buat kedua orangtua mereka. Amin. Ada satu lagi. Ahli atau tidak, Insya Allah, gaji mereka bisa naik. Kata Farid, starting bagi fresh graduate di Ignatius apa begitu lima juta. We will reach that figure! Someday, somehow...

Sepanjang pagi sampai siang kemarin, aku korve di kantor. Sandoro berkomentar, di kantor ini tidak bisa dibedakan antara direktur penelitian dengan opas. Tepat itulah yang akan selalu menjadi ciri khas kantorku selama ada aku, sampai tiba waktunya kami mampu menggaji dengan layak orang yang bersedia melakukan tugas-tugas opas. Sebenarnya tiada seberapa sulit. Orang itu tidak perlu bekerja sepanjang hari. Seperti Pak Aceng, ia hanya harus datang pagi dan sore hari. Ya, nanti jika aliran tunai sudah lebih memungkinkan, akan kutugaskan Agam untuk mencari orang yang bersedia melakukan itu. Kemarin, perlistrikan dibenahi, mungkin masih berlanjut sampai hari ini. Insya Allah hari ini beres. Banyak juga habisnya. Dua ratus ribu lebih. Kabelnya, menurutku, masih terlalu kecil. Seharusnya Sandoro beli yang tembaga solid, bukan rambut. Semoga kuat.

Jikaku dapat menangkap bintang
sebelum ia jatuh ke tanah
Akan kutaruh dalam sebuah kotak
kuikat dengan pita sekeliling

'kan kuberikan padamu
sebagai tanda cinta
dan kesetiaan mendalam

Dunia menjadi lebih baik
jika aku dapat pulang padamu
Aku lelaki yang lebih baik
karena mencintaimu

Cantik, aku mengantuk sekali. Sekarang sudah jam enam. Sudah terang. Selalu aneh kalau berangkat tidur sementara hari sudah terang seperti ini. Akan tetapi, badanku masih agak remuk rasanya gara-gara digebugin AC dan kerasnya permukaan meja. Tidurku harus cukup. Aku mencintaimu. Selalu dalam impianku, suatu hari nanti aku bangun tidur dan menemukanmu masih pulas di sisiku. Mungkin, akan kukecup lembut bibirmu, tanpa membangunkanmu. Mungkin, aku akan berjingkat-jingkat bangun terlebih dulu menyiapkan sarapan untuk kita. Mungkin, anak-anak perempuan kita sudah bangun terlebih-lebih dahulu dan melakukannya. Mungkin, mereka akan membangunkan kita. Mungkin, kalau kau sudah terbangun, entah kau, aku atau kita berdua akan meminta mereka untuk menunggu sebentar... Mungkin. Sampai tiba waktunya, aku tidak keberatan untuk terus terbuai mimpi indah ini. Kini, aku tidak takut bermimpi. Kini, aku tidak takut berharap.

Monday, August 23, 2010

Mungkin, Kali Ini Kau Percaya


Mungkin aku tidak akan pernah dapat memahami sepenuhnya permainan ini. Mungkin karena aku sok-sok'an menyebutnya sebagai "permainan," sementara kebanyakan orang begitu saja melakukannya. Hanya salah satu tahap dalam kehidupan yang harus dilalui. Namun demikian, betapakah aku tidak akan memandangnya sebagai permainan. Jalanku sangat dramatis [Ah, itu 'kan gara-gara kamu sendiri hobi mendramatisir apapun]. Mainkan saja! Bersenang-senang! (Bersenang-senang?) Sepertinya sulit. Aku terlalu serius untuk bersenang-senang. Sudahlah. Percuma saja. Tak dapat lagi kulawan perasaan ini (Ini kata Kevin Cronin lho).

Ada yang penting dan nyaris terlewat dari China Town. Oh ya, China Town itu majalah yang ada di Bakmi Margonda. Boleh dibaca, dibawa pulang jangan. Jadi, ada rubrik yang isinya kata-kata bijak orang Tionghoa. Salah satunya, intinya, celaan terhadap pengeluaran yang sama besar dengan pemasukan. Hal ini dipandang sebagai kesalahan besar. Aku sangat terilhami olehnya, tapi apakah aku mampu menepatinya? Hari ini saja sepertinya aku sudah gagal. Buka tadi, aku makan Bakso Semeru sampai sembilan ribu. Baru saja, aku makan malam pakai nasi Padang seharga sembilan ribu juga. Well, makan memang setidaknya segitu di Depok sekarang. Dapatkah aku lebih hemat dari itu? Haruskah?

Lebih gawat lagi, hari ini aku masih juga tidak menyentuh formulir evaluasi diri dosen-dosen inti itu! Berikan padaku apa saja kecuali itu... dan laporan pertanggungjawaban RKAT mungkin ya... Grrhhh!!! Mana tahan 'dah kerjaan-kerjaan ini. Lihat! Aku lebih tua darimu duabelas tahun 'Rid, dan masih saja aku mengeluhkan hal yang sama dengan yang kau keluhkan sekarang, seperti kukeluhkan duabelas tahun yang lalu. Jadi, memang tidak mungkin melarikan diri dari kenyataan ini. Hadapi! Kamu mau jadi dosen?! Hahaha! Kalau kamu mau tahu, aku jadi asistennya Sofyan karena aku pengecut! Aku tidak seberani Pendekar Hina Kelana [...tapi dia 'kan anak bungsu dalam keluarganya, dan orangtuanya sudah tidak ingin apa-apa lagi...]

Bakso Semeru hari ini agak lumayan. Sambelnya kuberi dua sendok. Mungkin bukan itu juga penyebabnya. Mengerikan sekali. Makanan adalah satu-satunya rekreasiku! Menonton... Ya, malam ini aku menonton (atau lebih tepatnya menamatkan) Raiders of the Lost Ark, seperti kemarin aku menamatkan Temple of Doom. Sama saja 'kan? Di Belanda dulu juga begitu. Makan dan nonton. Itu pun lebih untuk lari dari kenyataan. Aku sudah tidak telaten main permainan komputer. Mengerikan! Setidaknya aku tahu pasti bahwa kemarin itu bukan homesickness. Ternyata di sini pun aku begitu. Jalan ke arah Selatan, entah kenapa terpikir Bubur Jagung, ternyata habis. Begitulah akhirnya menyeberang ke Siang Malam. Oh, sebelumnya beli teh Tong Tji dan Antangin di Alfa Midi. How eventful my life is!

Henry W. "Indiana" Jones, Jr. Ph.D. Seorang doktor yang jago lompat-lompat kesana-kemari, tetapi juga mengajar di depan kelas, meski digambarkan mahasiswanya "mengagumi"-nya tidak karena kuliahnya. Tidak apa-apa. Hollywood keparat, biasalah itu. Seperti halnya ketika harus mengerjakan sesuatu yang belum pernah dikerjakan, aku butuh pembanding. Bagaimana sih cara orang mengerjakannya? Oh, begitu. Lantas aku mencoba untuk membuat yang lebih baik darinya. Benar juga kata Khairil Azmi. Sekarang sulit menulis sesuatu yang fenomenal. Saingannya banyak. Namun, yang penting menulis! Dapatkah aku melecut diriku sendiri untuk menulis, sambil menyemangati Sofyan, Farid dan Sandoro? Sofyan jelas sangat membutuhkan semangatku, dan dia benci sekali tragedi-tragediku. Hahahahah!


"It was common for them to lift their skirts and reveal their legs, underwear and occasionally the genitals" (Wikipedia.com on how the courtesans there used to dance in Moulin Rouge's early days)

Aku mencintaimu, Cantik. Sangat! Kamulah yang akan membuatku tidak percaya pada horoskop, karena kamu akan membuktikan betapa kita bisa saling mencinta dengan syahdunya. Jangan salah! Aku selalu siap untuk kaya! Segala yang ada dalam kepalaku ini hanya akan terwujud jika aku kaya, maka aku selalu mempersiapkan diri untuk itu. Aku yakin kamu bisa membantuku menuju kesana, Cantik. Akan kubuktikan kalau impian-impianmu tidak bertentangan dengan jalan yang akan kutempuh. Bersamaku, impian-impianmu akan mendapatkan bentuknya yang tidak pernah kau bayangkan sebelumnya. Aku sudah tidak mampu membayangkan diriku tanpamu, meski aku juga tidak sepenuhnya terbayang apa jadinya bila bersamamu. Kau mungkin bukan orang yang percaya bahwa cinta akan menghidupi kita. Mungkin, kali ini kau akan percaya. [Kalau ternyata aku gagal, bagaimana? Kalau ternyata Carry pun tak terbeli, bagaimana? Akankah kau meninggalkanku?]

Sunday, August 22, 2010

Kau Tahu Kaulah Satu-satunya Bagiku


Sudah setengah satu lebih. Jadi lebih baik cepat saja. Bersama... siapa ini ya? Robin atau Barry? Yang mana saja lah... sambil berandai-andai sekiranya pikiranku bisa mengenai sesuatu yang lain. Kenyataannya sulit. Sialnya aku menemukan diriku sangat percaya padanya. Gak bener banget! Namun aku yakin bisa dilatih. Semua saja bisa dilatih. Bisa jadi, ini semua terjadi atasku agar aku meninggalkan imanku pada hal itu. Halah! Masih saja seperti ini!

Apapun itu, malam ini, setelah berbuka dengan Bakso Semeru baru yang rasanya tidak seberapa itu, aku makan lagi di Bakmi Margonda. Bakmi Sapi Cah Cabe porsi kecil, Pangsit Goreng setengah porsi, teh tawar. Dua puluh ribu lima ratus Rupiah, yang kalau diredenominasi menjadi... dua puluh rupiah lima puluh sen. Masih mahal juga. Sekali makan kalau sampai dua puluh Euro pasti menyesal.

Kau Tahu Kaulah Satu-satunya Bagiku Jadi Jangan Nakal

Aku berjalan di bawah hujan. Dilindungi payung yang salah satu rangkanya sudah rusak, tapi operasional. Gara-garanya nyari Tahu Telor. Ternyata yang bisa masak itu cuma Teh Lilis dan Ujang, dan mereka entah ke mana. Jadilah aku berjalan di bawah hujan. Sempat mempertimbangkan seafood tenda dekat bengkel, tetapi tidak jadi karena lantainya miring. Pasti tidak nyaman. Ini semua gara-gara pelebaran jalan Margonda. Sempat terpikir Siang Malam, tetapi tidak ada keripik kentang. Sepertinya aku tadi cari yang asin-asin. Ternyata Bakmi Margonda pun tidak asin, terutama pangsit goreng lima bijinya itu. Susah payah aku menghabiskannya.

Jika ada yang agak penting, mungkin majalah China Town. Harusnya tidak dipisah, tapi seingatku nama majalah itu memisahkannya. Bisnis! Itulah dia! Bisnis apa coba yang sedang kubangun ini?! Memang ada kemajuan. Sofyan Pulungan sudah berpikir bahwa yang dilakukannya adalah bisnis. Jadi yang penting jadi uang. Sepertinya dia sudah tidak terlalu peduli bersih dan kotor lagi. Namanya bisnis berarti kerja keras, dan kerjaku tidak keras. Belum. Insya Allah akan segera. Di Majalah itu, ada cerita seseorang yang hancur toko pakaiannya gara-gara kerusuhan. Dia memulai lagi dengan menawarkan dari pintu ke pintu, sampai punya toko yang lebih besar dari sebelumnya.

Kemudian Royen, Grudo dan nyonya, Dolyn dan nyonya, Jody. Apakah mereka betul yang membuatku teringat Si Macan Gondrong lagi, atau yang mana, aku tidak pasti. Cerita-cerita jaman dulu saja. Kalau ketemu mereka ya pasti tentang jaman dulu. Akankah aku menyukainya? Entahlah. Royen itu mungkin sisunku yang aku tidak pernah punya. Tentu saja. Aku dikeluarkan ketika kopral. Namun, kalau aku harus punya sisun, ya Royen itulah. Aku memang tidak pandai berteman, mungkin. Aku terlalu sombong untuk membutuhkan teman, bisa jadi. Aku tidak tahu. Aku bahkan tidak pernah tahu cara menyegarkan kembali diriku sendiri. Refreshing. Rekreasi. Aku tidak tahu.

Bismillahi ar-Rahmani ar-Rahimi. Mari kita tata lagi. Insya Allah besok masuk ke kantorku di lantai dua. Mungkin dengan menata fisiknya, mentalnya pun akan tertata. Insya Allah. Setelah itu membereskan dosen inti. Bagaimanapun aku dibayar dua setengah juta untuk itu, salah satunya. Apa lagi sih yang lain? Buku Pedoman. Kurikulum masih harus dikonsultasikan pada Bang Andhika. Kerjaannya John Gunadi masih harus dicek. Hibah Riset, Bang Andhika dan Bang Kurnia belum masuk. Catur disiagakan untuk membuat kontrak, dan tentu saja rapat. Tidak susah. Hanya harus ditata lagi. Insya Allah.

Ya Allah, lapangkanlah dadaku, permudahlah urusanku, lancarkanlah lisanku, baguskanlah ucapanku. Amin.

Thursday, September 24, 2009

Beginikah Caraku Mengenangmu?


Pengaturan full bass and treble-nya Winamp baru terasa sedap jika menggunakan Altec Lansing-nya Parul yang telah integral dengan Lich King entah bagaimana caranya. Gericik dan gerincing simbal dalam After the Love is Gone terdengar begitu jelas. Aku memang belum jelas juga meski September akan segera berlalu. Pun, aku malu untuk mengakuinya bahkan di sini. Memang tidak boleh. Ada tempatnya untuk mengaku. Bukan di sini. Masih di ketinggian lantai 4 Gedung D FHUI Depok, memandang ke arah selatan sambil menulisi Kemacangondrongan. Asli ga ada gunanya! Gunanya... untuk menumpahkan segala racun yang menyumbat saluran-saluran benak.

Padahal ada cara lain yang sudah pasti manjur. Padahal sudah jelas meracau di sini tidak menyelesaikan apa-apa. Pun, ingin kutumpahkan juga. Sungguh aku takut berkuasa, apalagi untukku yang ekstrim ini, karena aku sangat suka mempelajari teknik-teknik genosida. Sungguh suatu kata yang menyebalkan. Hadi si Dosen Hukum dan HAM menyayangkan kehadiranku yang sumir dalam kuliah-kuliahnya, sehingga mengakibatkan nilai B bagiku untuk matakuliah itu. Justru itu, tukasku. Apa kata dunia jika si Pelanggar HAM ini sampai dapat A untuk matakuliah Hukum dan HAM. Aku bukan pelanggar hukum. Aku pelanggar HAM.

Kenyataannya, aku dipaksa oleh nasib untuk menyayangi sasaran-sasaran genosidaku. Ah, kenapa juga harus ada kata khusus untuk ini? Mengapa tidak sekadar pembasmian saja, seperti membasmi hama? Kata "pemurnian," yang lebih menekankan pada tujuan atau akibat dari pembasmian itu, mungkin lebih sesuai digunakan. Keparat-keparat itu menjadikan genosida suatu kategori besar yang menampung segala sesuatunya. Aku sudah tahu pasti mereka akan menyepelekan alasanku untuk melakukan pembasmian. Mereka akan mengatakan aku mencita-citakan genosida dengan dalih agama. Mereka mungkin harus dijadikan sasaran juga, walau aku tidak sepenuhnya sependapat dengan Pol Pot.

Mungkin caranya adalah mempersilakan mereka minggat dalam tenggat tertentu atau menjadi "pahlawan-pahlawan agraria". Tentu saja, aku tidak mau di "Mandala-mandala Agraria" nanti kondisinya buruk. Semua harus tersedia dalam kecukupan yang sewajarnya bagi para pahlawan tersebut. Bagaimana mereka dapat berjuang jika tidak dicukupi kebutuhannya, disediakan kelengkapannya. Kalau sampai ada yang berniat, apalagi sampai berbuat, buruk pada para pahlawan agraria beserta keluarganya, mungkin aku sendiri akan dengan senang hati menembuskan timah panas tepat di antara kedua matanya... Bila waktu mengijinkan, mungkin harus kubeli dan kubaca buku "Mengganti Globalisasi Ekonomi Menjadi Lokalisasi Demokrasi." Mungkin, buku ini mampu menyembuhkanku dari hobi mempelajari teknik-teknik genosida.

Nanti dulu, bagaimana dengan sasaran yang satu ini? Apa yang dapat dilakukan terhadap mereka? Sekadar menyilakan mereka menjadi pahlawan agraria boleh jadi tidak cukup untuk mengobati penyakit-penyakit mereka. Sesungguhnyalah hanya kasih sayang dalam dosis sangat tinggi yang dapat menyembuhkan mereka. Siapa yang dapat memberikannya? Bagaimana melatih sebuah korps pemberi-kasih-sayang dosis-sangat-tinggi? Beberapa divisi mungkin dibutuhkan untuk melaksanakan tugas ini. Kalaupun mungkin, bagaimana cara membiayainya? Apakah fasilitas ini harus dipadukan dalam Mandala-mandala Agraria?

Akan menjadi seberapa mahal mandala-mandala itu jika demikian? Mungkin sama saja dengan para pemikir bebas lainnya, kepada mereka diberi tenggat untuk pergi ke lain tempat yang dapat mengakomodasi pikiran-pikiran bebas mereka. Jika dalam tenggat yang ditentukan mereka masih ditemukan di dalam negeri, maka Mandala-mandala Agraria itulah tempat mereka, tentu saja, yang sudah dilengkapi dengan fasilitas khusus untuk menangani penyakit-penyakit yang mereka derita. Sedikit motivasi seperti timah panas di antara dua mata mungkin akan membuat mereka lebih bersemangat untuk menyembuhkan diri sendiri.

Akhirul kalam, sesungguhnyalah terserah Allah mau diapakan mereka semua. Aku hanya tahu berbagai gimmicks seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah pasti gagalnya di tanah ini. Sulapan seperti itu hanya akan mengundang tepuk tangan dan decak kagum mereka yang cukup banyak waktu untuk itu. Entah berapa biaya yang sudah dikeluarkan untuk membangun institusi yang sudah pasti gagal bahkan semenjak disainnya. Namun, jika segala sesuatunya terus berjalan seperti ini tanpa ada perubahan penting ke arah yang lebih berarti, mungkin itu pertanda Allah telah mencabut kembali kekhalifahan manusia di atas bumi-Nya.

Mungkin, bumi sendiri nanti yang diijinkan Allah untuk mengurus dirinya sendiri, membersihkan punggungnya dari mahluk-mahluk kecil yang hiruk-pikuk dan membenamkan mereka ke dalam perutnya. Semua ini menjadikannya jelas betapa aku tidak cakap untuk melakukan pekerjaan apapun. Tidak ada kantor yang mau mempekerjakan seorang fatalis yang tidak punya cita-cita apalagi ambisi bahkan untuk dirinya sendiri. Tidak ada perusahaan yang mau menggaji seseorang yang menghabiskan banyak waktunya untuk mengolah semua paradoks yang dicerapnya dalam suatu konspirasi eskatologis (Wow, tidakkah terdengar ilmiah kalimatku? Tidak!).

Occupation: Part-time Unemployed

Tuesday, September 22, 2009

Sudah Tidak Panas di Maastricht


Mendekati Maghrib terakhir pada Ramadhan 1430H kemarin, seorang pemulung masih memanggul karungnya. Matanya masih awas memindai setiap sudut jalan di Kompleks Yado, Radio Dalam, kalau-kalau ada gelas atau botol plastik, kardus dan sejenisnya yang masih bernilai uang. Aku baru saja dari ATM BCA, mampir sebentar di penjual pulsa sebelum menuju ke Masjid al-Falah Kompleks TNI-AL guna membayar zakat fitrah, kemudian ke Grand Lucky membeli pepaya dan belimbing serta dua bungkus Nutrijell. Dalam dompetku ada dua lembar uang seratus ribuan. Ketika itu aku berpikir, seandainya ada limapuluh ribuan, akan kuberikan pada pemulung itu. Hatiku berat untuk memberinya seratus ribu Rupiah, karena keadaanku juga sedang tiada berapa lapang.

Akhirnya ia berlalu ke arah Jalan Yado III sementara aku belok kanan. Satu hal yang terpikir olehku pada saat itu adalah perbedaan standar. Aku tidak mungkin menggunakan ukuran-ukurannya sebagai seorang pemulung, seperti halnya ia tidak mungkin mengukur segala sesuatu dari kacamata seorang M.Sc. lulusan Maastricht, Belanda. Perbedaan keberadaan sosial kami menentukan kesadaran sosial kami masing-masing. Segera saja kusadari kerangka berpikir itu musykil bagiku saat ini. Setidaknya, aku merasa terganggu dengan pemandangan itu. Dengan ringannya ratusan ribu Rupiah kukeluarkan dari dompetku, entah seberapa berartinya uang sebanyak itu baginya.


Malbergsingel di Musim Dingin

KH. Zainuddin Mz. berbicara mengenai cinta. Menurutnya, dalam mencinta setidaknya ada dua gejalanya. Pertama, jika kita mencintai sesuatu, maka kita akan sering menyebut-nyebutnya. Kedua, jika kita mencintai sesuatu, maka kita akan bersedia mengorbankan apa-apa yang kita sukai demi menyenangkannya. Apakah dua gejala ini dapat diterapkan pada kasus cinta kepada Allah? Aku, Insya Allah, yakin tidak ada yang mampu mencinta seperti Allah. Sederhananya, jika kita saja merasa kewalahan dengan cinta orangtua pada kita, dan merasa tidak berdaya dan tidak akan mampu untuk membalasnya secara sepadan, ingatlah bahwa cinta yang demikian itu Allah yang menciptakan.

Cinta antara orangtua dan anak kiranya dapat menjadi acuan jika kita ingin membayangkan bagaimana adanya cinta antara Sang Khaliq dengan mahluk-Nya. Mardhatillah, mencari keridhaan-Nya, kiranya dapat dibayangkan sebagai upaya seorang anak untuk melegakan hati orangtuanya, melakukan segala sesuatu yang menyenangkan hati mereka kendati mengurangi kesenangan-kesenangannya sendiri. Seperti itu kiranya, Insya Allah, penghambaan. Itulah yang kucari. Aku ingin Allah memandangku dengan kelegaan hati, perasaan puas, seperti ketika orangtuaku merasa lega dan puas melihatku.

Kudengar, dalam Injil banyak ditemukan perumpamaan mahluk sebagai "anak" sedang Khaliq sebagai "orangtua." Seperti itulah kurang dan lebihnya. Gusti, hamba berlindung kepada-Mu dari angan-angan disayangi oleh-Mu, sedang hamba masih berlumur berbagai maksiat dan kedurhakaan. Hamba berlindung kepada-Mu dari yang seperti itu. Jika hamba harus merasa disayang oleh-Mu, hiasilah hamba dengan amal tha'ah dan shalih, dan tanamkanlah dalam keyakinan hamba bahwa itu semua adalah karunia-Mu semata. Tiada daya upaya kecuali dengan-Mu, Maha Tinggi, Maha Mulia.

Andai terus begini suasana hatiku,
maka bagai musim gugur sepanjang tahun.
Musim gugur yang menghapus penatnya musim panas.

Andai terus begini suasana hatiku,
maka bagai perjalanan menuju shangrila di ketinggian sana.
Ketinggian yang mengatasi kerendahan penuh sesak dan nestapa.

Nyatanya tidak terus begitu.
Indahnya perhiasan dunia terus menyandera indriaku.

Nyatanya tidak terus begitu.
Jasadku terus meronta demi gelegak kedirianku.

Ya, hal itu terus memberati hatiku. Sungguh tidak sabar rasanya untuk segera berbuat sesuatu atasnya, padahal hanya sabar yang dapat kulakukan kini. Bukan sekadar angan-angan semu yang terus kuulang-ulang, melainkan, Insya Allah, sugesti bagi diriku sendiri terutama untuk terus bergerak ke arah itu, meski kini aku tidak tahu harus melangkah ke mana dan bagaimana caranya. Masa itu akan datang padaku, menjelang seperti terbitnya matahari di ufuk timur setiap hari tanpa ada campur-tanganku sama sekali.

Satu-satunya yang dapat kulakukan adalah menunggu datangnya fajar, sambil mengisi malam dengan kegiatan-kegiatan yang berguna. Tidur, misalnya. Jika tidur menyegarkan jasad, meningkatkan kualitas penghambaan, Insya Allah, menyegarkan jiwa. Betapa jiwa tidak akan penat jika terus-menerus dipaksa menyalahi fitrahnya. Pun demikian, demikianlah fitrahnya jiwa, yaitu menyalahi fitrahnya. Itulah makna dari perumpamaan titian rambut dibelah tujuh, siapa juga yang tidak akan jatuh dari atasnya? Pun demikian, al-Mutakabbir sudah mempersiapkan aturan main yang bila kita mematuhinya menjamin keselamatan kita di atas titian itu.

Maha Suci Ia yang mengajarkan kepada segenap mahluk-Nya yang lemah, melalui perantaraan kekasih-Nya, shalawat dan salam semoga senantiasa atasnya dan keluarganya, cara memuji yang patut bagi-Nya. Segala puji pada kenyataannya memang hanya bagi-Nya karena tiada sesembahan kecuali-Nya, Maha Besar-lah Ia. Masa itu, Insya Allah, akan datang padaku. Aku hanya harus mengerjakan apa yang harus kukerjakan sebagai seorang sahaya. Sungguh, tiada daya upaya kecuali dengan-Mu, Maha Tinggi, Maha Mulia. Ampunilah hamba.

Tonight, evening clouds will give way to clearing overnight. Low 9C. Winds ESE at 5 to 10 mph. Tomorrow, areas of fog early, becoming mostly sunny in the afternoon. High 21C. Winds SW at 10 to 15 mph.

Saturday, September 19, 2009

Ramadhan yang Pergi Karena Kuabaikan 2009!


Pertama-tama (kata bentukan ini pasti nggak bener), aku akan memulai entri ini dengan ihwal (ini kumaksudkan sebagai terjemahan bagi "concern") ga penting mengenai berat badanku, ho ho ho. Aku menginjakkan kakiku lagi untuk kali pertama setelah setahun di Belanda di timbangan Rumah Yado pada 1 September 2009. Timbangan itu meregister angka 76. Kini, setelah hampir tiga minggu, timbangan yang sama meregister angka 81! Suatu prestasi!

Ihwal kedua yang ingin kukemukakan (ribet amat yak kata ini...) adalah ketuaanku yang bacin sedangkan uthekku sik lethek wae. Apa karena semakin bacin itu maka uthekku tambah lethek? Begini atau begitu sama saja! Toh malam ini aku sedang tidak mau sedih tapi juga tidak ada alasan untuk gembira. Eh, ada ding alasan untuk sedih. Itulah juga yang akan menjadi judul dari entri ini: Ramadhan yang Pergi Karena Kuacuhkan 2009!

Ibu Kadek Adi Wartini dengan ternak babinya (sumber: www.kiva.org)

Ramadhan ini, seperti halnya tiga Ramadhan sebelumnya, berlalu begitu saja karena kuacuhkan. Ramadhan ini, seperti halnya tiga Ramadhan sebelumnya, kuiisi dengan urusan-urusan yang macam betoool (Coba ada Bang Herman di sini, pasti dia akan menanggapinya dengan pernyataan-pernyataan menyebalkan khas Herman Abubakar). Kenyataannya tidak ada urusan yang benar-benar betul sepanjang Ramadhan ini, meski aku tahu persis perasaan ini timbul karena lemahnya iman semata.

Jangan-jangan dari sejak tiga Ramadhan yang lalu kualitas penghambaanku terus saja menurun. Hiy, ngeriy! Memang betul aku sekarang Bono Budi Priambodo, S.H., M.Sc., dan tidak mungkin terdengar lebih manis lagi dari kedengarannya kini. Pun demikian, aku menemui diriku menginginkan lebih, sedang sudah lama betul aku tidak pernah betul-betul menginginkan apa-apa. Determinasi, satu hal yang belum pernah sungguh-sungguh kumiliki.

Buktinya, aku malah menulis entri ini. Seperti biasa aku menganggap pekerjaanku sebagai kerja seni yang membutuhkan suasana hati tertentu. Jika aku harus menulis naskah tragedi, hatiku harus turut tersayat-sayat. Jika aku sedang menulis tragedi, dadaku harus membuncah dengan ledakan air mata. Jika aku ingin menulis naskah tragedi, aku harus menjadi bagian dari tragedi itu sendiri. Ho ho ho, tragedi thok pikirane. Aku memang spesialis tragedi, setidaknya seperti yang ingin kupercaya.

Tragedi atau bukan, aku harus menuntaskannya minggu depan (seperti inilah caraku mengelola waktu). Jika tidak, semua ini tentu akan menjadi omong kosong belaka. Terlalu mahal, terlalu penting untuk menjadi sekadar omong kosong! Seberapa mahal? Seberapa penting? Jangan tanya! Betapa lunglai hasratku ketika mendengar kata "indicator," karena aku lebih suka merasa daripada mengukur. Aku seniman bukan petarung (tidak tahu malu!).

Lihat, betapa lemahnya imanku. Sudah begitu saja tentang Ramadhan yang segera berlalu. Satu dari empat berturut-turut. Tidak ada penyesalan apalagi rintihan. Keras terasa hatiku. Allah Illahi Rabbi, tidak ada yang lebih perkasa dari Engkau Maha Perkasa dan Berkehendak. Hamba mohon ketetapan hati untuk meningkatkan kualitas penghambaan hamba, Insya Allah, dimulai dengan perawatan yang lebih baik terhadap jasad hamba, segera setelah Hari Raya.

Ya Rabb, hamba mohon dicukupkan kebutuhan duniawi hamba, dan lebih penting lagi, hati yang mengetahui dan bersyukur atas segala kecukupan itu. Ya Rabb, jangan biarkan hamba mengeluhkan kekurangan hamba atas segala kebutuhan duniawi kepada mahluk-Mu yang mana pun. Tetapkanlah hati hamba untuk itu, Maha Perkasa, Maha Lembut, Maha Memberi Rejeki dan Karunia. Tolonglah hamba, Illahi Rabbi. Mudahkanlah hati hamba untuk merintih memohon pertolongan pada-Mu dan hanya pada-Mu.

Susunannya ideal. From Souvenir to Souvenir, dilanjutkan dengan Forever and Ever, ditutup dengan Aufwiedersehn. Sudah nekad saja. Mari kita telanjang! Wow, favoritnya Sleepy Shore! Jadi begitu toh bentuknya kalau suka Sleepy Shore. Ya sudah begitu saja. Tidak ada kelanjutannya? Tidak. Sudah begitu saja. Namun lagu ini... tidak pernah gagal untuk membuatku merasa seperti sedang mencinta. Forever and Ever. Entah dari umur berapa, suatu bentuk cinta yang sangat primordial, sangat purba. Ibuku pasti sudah menyukainya jauh sebelum aku terbentuk dalam rahimnya, dan terlahirlah aku anak sulungnya menyukai melodi yang sama, mungkin hingga kumati.

Jadi ingat percakapan William of Baskerville dan Adso of Melk tentang cinta. Tidak seperti Abi yang ingat redaksi asli dialog Mas Boy dengan seorang janda kesepian, aku tidak segitunya. Yang kuingat, Adso berbicara mengenai cinta yang sangat badani (Ya iya lah. Lha wong dia habis melakukannya), sedang William berbicara mengenai cinta ilahiyah. Cintaku malam ini dengan Forever and Ever sudah barang tentu tidak ilahi. Ini cintaku dengan diriku sendiri, suatu kemampuan yang hanya mungkin dikembangkan oleh orang-orang sombong.

Ibu, engkau telah melahirkan sesuatu yang mengerikan, tapi takkan kubiarkan siapapun mencibirmu karena telah melahirkanku! (lebay mode on which is gaouwl ga sih gue)

Monday, September 14, 2009

Setengah Mati Kehilanganmu


Seperti biasa, aku harus menyembunyikannya di balik permainan kata-kata. Namun malam ini tenaga mentalku sudah sangat terkuras. Hanya "Manja"-nya Ada Band saja yang terus menyeret-nyeret jari-jariku untuk menyentuhi papan kunci. Kini interlude "Rahasia Perempuan"-nya Ari Lasso dengan seksi kuningan (brass section) yang atraktif mencoba memompakan sedikit hasrat ke dalam benakku yang lelah. Aku merasa seperti seorang pecinta renta yang kepadanya dihidangkan gadis belia.

Beruntunglah aku gadis kecil ini tidak memencongkan bibir mungilnya demi melihat kejantananku yang kisut mengerut. Ini pasti pengaruh fantasinya Dan Brown tentang Hashishiyyin yang alih-alih mengonsumsi hashish justru melahap daging mentah. Kenapa lelah? Biasalah. Sudah bertahun-tahun aku begini. Kalaupun ingin sekali kuakhiri, itu karena susahnya hatiku demi melihat mereka yang kusayangi bersusah hati. Untukku sendiri... sudah bertahun-tahun. Aku sendiri sudah tidak tahu lagi kalau ada keadaan lain lagi selain yang ini.

Arif Satria menipuku dengan "Ekologi Politik Nelayan" yang dibungkus plastik. Aku sudah menduga ketika akhirnya memutuskan untuk membelinya. Ini pasti kumpulan tulisan pendek yang di-awur di koran-koran (seperti pakan lele-nya Pak Sawira yang kupancing bersama adikku dan si Tompel). Tebakan itu terkonfirmasi di Pizza Hut Margo City ketika aku benar-benar membuka bungkus plastiknya. Si kampret benar saja! Aku sudah hampir lemas ketika melihat Salim H.S. dari Universitas Mataram menulis satu volume tentang hukum pertambangan.

Berarti sudah dua, dia dan Abrar Salleng. Dua-duanya memang tidak mencapai taraf kecanggihan yang kubayangkan. Namun aku jadi ragu sendiri, kecanggihan seperti apa yang aku sasar? Kurasa masih perlu membadai-otak dengan Rendy lagi. Sore ini lagi di Menara Karya? Mari kita lihat! Setidaknya satu disertasi mantap dari Peter Burns berjudul "The Leiden Legacy. Concepts of Law in Indonesia" membuat seratus ribu menjadi pantas. Ya, dua-duanya memang kubutuhkan. Semoga (seperti Bang Andhika).

Dari hari yang satu ke hari berikutnya, sesungguhnya aku semakin tidak yakin. Sungguh aku menjadi semakin tidak yakin saja dari hari ke hari. Kuulangikah kalimat ini untuk kedua kalinya? Karena memang aku semakin tidak yakin. Untuk yang ini aku benar-benar membutuhkan kepala yang baru bangun tidur, bukan yang baru mau berangkat tidur. Apalagi dengan Johnny meratap-ratap memohon gadis kecil itu untuk segera angkat kaki. Setidaknya dua kali aku meratapkan hal yang sama. Mengapa malam ini aku memandanginya dengan penuh kengerian?

Sederhana saja. Karena aku baru mau berangkat tidur. Tunggu sampai aku bangun tidur. Keyakinanku akan pulih. Malam ini, jangankan menyaingi Mario Teguh, menulis entri bermutu saja sudah tidak mampu. Adakah aku jujur di sini? Tidak! Aku tidak berani telanjang. Itu berarti tidak jujur. Entah apa yang kuperbuat di sini. Seperti model sensual yang masih mengenakan secarik tekstil untuk membiarkan bagian-bagian komersial dari tubuhnya terpapar kilat lampu kamera. Ayo telanjang! Berani?! Tidak.... (kisut mengerut)

I said a koprol sama lo semua! Ngepot, ngepot sama lo semua!

Saturday, September 12, 2009

Fatalissimo Fantastico!


Jika pun tidak, aku tidak tahu lagi. Jika pun tidak, ya tidak apa-apa juga. Sampai kapan aku akan terombang-ambing di tengah lautan fatalisme ini, aku, sebagai seorang fatalis, tidak tahu dan tidak peduli. Maya bertanya, kalau sudah pi-eij-di terus apa. Tidak pakai lama, kutukas, tidak tahu. Siapa juga yang tahu? Aransemen-aransemen Paul Mauriat mewarnai hari-hari dalam hidupku dari begitu lama sampai aku tak ingat lagi. Malam ini pun begitu walau ia menggunakan instrumen-instrumen baru. Aransemen-aransemen yang sama yang telah memberikan kenyamanan di hati Ibu. Apa yang membuat nyaman Bapak? Kenangan masa kecilnya di Lodoyo?

Sungguh terasa di sini tiadanya daya dan sepelenya upaya. Hari ini, dan sudah beberapa hari sebelumnya, kujalani lagi hidup seorang fatalis di rimba belantara Jakarta. Waktu sahur kemarin kucingcongi Adi, hidup di Jakarta itu seperti layaknya ayam. Ketika sinar matahari menjelang maka turunlah dari dahan tempat bertengger di malam hari, yang tentu saja memberikan kenyamanan minimal. Pun, tetap saja Allah memberi istirahat melalui dahan itu. Turunlah ke tanah dan mulai mematuk-matuk. Tak pernah tahu apa yang akan didapat. Sebutir nasi bekas seseorang yang penuh rasa syukur atau berbulir-bulir beras dari seseorang yang penuh rasa iba. Tak pernah tahu. Pun, nasi dan beras itulah pengisi tembolok.


Je pense a toi… tidak sepenuhnya pula aku memikirkanmu. Jika aku benar memikirkanmu, kamu bukan kamu dan aku bukan aku. Harus kuakui, kau adalah bagian dari impian itu, yang tiada seberapa sulit kuhapus dari kenangan. Bukan impian indah maupun buruk, hanya mimpi saja. Mimpi yang senantiasa harus dipertentangkan dengan kenyataan. Tentu saja, ada rasa bersalah menyelinap sekali dua. Sudah barang tentu, kutemukan diriku menyapa sedikit angin demi kata sepatah dua. Tidak. Sejujurnya, aku lebih suka begini. Musim panas pun telah berlalu dan aku tidak mau tahu. Waktuku sedikit untuk mengejar entah apa. Hidupku tidak bahagia? Takkan pernah kulihat dalam hidupku negeri ini bebas dari jembel mudlarat?

Kalaupun “ya” memang kenapa? Akankah kutemukan kedamaian sebagai pengganti kebahagiaan? Apakah bahagia bagiku? Melihat orang-orang yang kusayangi bahagia? Siapa yang kusayangi? Bapak? Ibu? Adik-adikku? Semua orang? Siapapun? Apapun? Nero? Beki? Bambang? Sam? Siapa bilang aku tidak bahagia? Tahukah kau betapa membuncah perasaanku demi mendengar “Michele”-nya Paul Mauriat? Dapatkah kau merasakannya? Jika kau pernah tahu rasanya mencumbu seorang istri yang shalihah lagi rupawan, itulah yang kurasakan kini! Tahukah betapa melayang rasa hatiku tatkala melihat induk kucing menyusui anak-anaknya di trotoar yang ramai oleh pejalan kaki? Jika kau pernah tahu rasanya melihat istrimu menyusui anakmu, itulah yang kurasakan kini!

Hari ini Mbak Desi memberiku buklet NFP yang kutinggalkan di Pisa Café Setiabudi Building, setelah dijadikan tatakan poci teh oleh Maya. Aku belum dapat memberitahunya nomor rekeningku karena diplomaku belum kuterima. Setelah menghabiskan entah berapa ratus ribu untuk taksi, dan sekitar dua juta lebih dalam waktu kurang dari dua minggu, aku infantri dari Menara Jamsostek ke Menara Karya tempat Rendy berkantor. Rendy memberikan harapan untuk melanjutkan proyek impian hukum dan sumberdaya alam khususon yang berkaitan dengan pertambangan karena ini Adaro.

Berani itu Ajaib, kata Mario Teguh. Yeah, salam super aja deh. Pokoknya, aku harus maju terus dan terus berusaha mencari jalan untuk mewujudkannya karena, kata Mario Teguh, berani itu ajaib. Entah apa maksudnya. Sejurus kemudian, episode terbaru dari Setiabudi Building di Goku Shabu yang makanannya ora enak blas tur luarang puol geser ke Pisa Café. Gelato Menta-nya enak. Beberapa ratus ribu lagi. Yah, kalau terlalu dihayati episode ini, kesedihanlah yang kudapat. Jadi, tidak perlu terlalu dihayati. Ramadhan tinggal beberapa hari lagi dan belum sekali pun aku melakukan penghambaan. Mari kita lihat minggu depan. Salam super dahsyat!

Monday, December 01, 2008

Mantra yang Terpenggal itu


Baiklah, saya mengaku. Saya menulis ini, dan bukannya mencoba membaca mengenai tunjangan sosial atau berlatih menggunakan perkakas analisis kebijakan publik, karena saya tidak tertarik pada hal-hal yang saya sebut belakangan itu. Saya akui juga, saya tidak berusaha sekeras yang seharusnya untuk mempelajari hal-hal tersebut. Bukan pula karena jurnal ini sekadar harus dimutakhirkan, melainkan karena beberapa hari ini saya menemui beberapa ihwal dalam surat kabar yang benar-benar mengganggu benak saya.

Pertama, penjelasan Sultan Jogja, Hamengkubuwono X kepada Surat Kabar Kompas mengenai bagaimana ia akan memimpin Indonesia kelak jika ia terpilih menjadi Presiden Republik Indonesia. Kedua, pertanyaan Dik Witri mengenai mengapa saya begitu terobsesi pada “Mengembalikan Kejayaan Nusantara”. Ketiga, ulasan Robertus Robet, juga dimuat oleh Kompas, mengenai buku Orang dan Partai Nazi di Indonesia: Kaum Pergerakan Menyambut Fasisme karya Wilson, terbitan Komunitas Bambu, Depok, 2008. Ketiga penggangu benak ini saya susun secara kronologis, meski tidak mungkin diulas sedemikian.

Sultan Jogja, ketika harus memberikan jawaban ringkas dan spontan terhadap pertanyaan apa yang akan dilakukannya jika memimpin Indonesia, menyatakan bahwa beliau akan menggunakan Bhinneka Tunggal Ika sebagai strategi, dan bukan sekedar simbol seperti yang dikehendaki oleh UUD 1945 hasil amandemen. Menurut beliau, jika sekadar simbol, maka bila terjadi konflik didiamkan saja. Padahal, seharusnya konsep itu menjadi strategi untuk mengintegrasikan berbagai suku bangsa menjadi satu bangsa. Untuk kepentingan itu, maka cara pandang “kontinental” harus diubah menjadi “maritim” agar keutuhan wilayah tetap terjaga.

Dengan demikian, jelas Sultan Jogja merujuk pada idealisasi konsep Nusantara yang sering diasosiasikan dengan era Majapahit. Pertanyaannya kini, tafsir macam mana yang akan digunakan oleh beliau untuk menjadikan “simbol” itu suatu strategi? Kalimat lengkap yang mengandung frasa “simbol” itu dalam Sutasoma adalah “Tantrayana, bhairawa, bhinneka tunggal ika, tan hana dharma mangrwa,” yang terjemahan sangat bebasnya adalah: apapun agama/ keyakinan (atau cara hidup)-nya yang bermacam-macam itu, tetap satu juga, (karena) tidak ada dharma yang mendua.”

Bhinneka Tunggal Ika

Dharma adalah sebuah konsep yang rumit, yang mungkin lebih mudah dijelaskan oleh moral Buddhis yang pada dasarnya menolak berbicara mengenai Tuhan, karena buat apa lagi yang sudah pasti itu masih juga dibicarakan. Buddhisme menerima “hidup bertuhan” sebagai sesuatu yang memang sudah seharusnya, tidak ada alternatif lain. Itulah sebabnya sistem religi yang satu ini lebih tampak sebagai ajaran moral (akhlaq/ buddhi), dan cenderung miskin segi-segi mistik-teologis. Bagi Buddhisme, yang lebih penting adalah bagaimana caranya menjalani “hidup bertuhan” itu.

Ketika seluruh alam ciptaan ini merupakan pengejawantahan dari Sifat-sifat Ketuhanan, maka meski dapat (dan harus!) dibedakan sangat tegas, membedakan Tuhan dengan “hidup bertuhan” bagi manusia menjadi tidak begitu penting—bahkan dalam banyak kasus justru berbahaya bagi manusia itu sendiri. Larangan untuk membaca Weda bagi Sudra, karena itu, menjadi dapat dipahami, karena Sudra “bertuhan” melalui hubungannya dengan bumi, mengolahnya sehingga Tuhan melalui bumi menganugerahkan kasih-sayang dan kekayaannya. Brahmana, di lain pihak, “bertuhan” dengan cara menekuni Sifat-sifat Ketuhanan, antara lain dengan membaca dan mendiskusikan Weda.

Dengan demikian, dapatlah dipahami bahwa Dharma tiada lain adalah hidup bertuhan, dan sampai pada jangkauan yang sejauh-jauhnya, Tuhan itu sendiri. Jika pengertian tentang Dharma ini yang digunakan dalam selarik dari Sutasoma tadi, maka jelaslah sang penggubah membicarakan sesuatu yang sangat transenden. Saya memberanikan diri berspekulasi, itulah sesungguhnya cara orang Jawa mengungkapkan pemahamannya tentang ketauhidan atau monoteisme. Menarik jika dibandingkan dengan cara orang Arab mengungkapkan hal yang sama, Laa ilaaha illa Allah, tiada sebab kecuali Sebab. Kedua ungkapan itu sama-sama menggunakan negasi, hanya saja yang satu lebih menekankan pada hasil (Arab) sedangkan yang lainnya pada proses (Jawa).

Orang Jawa pun memiliki ungkapan ketauhidan yang menekankan pada hasil, yaitu sangkan paraning dumadi (asal dan tujuan kejadian), seperti halnya beribu-ribu larik dalam Qur’an berbicara mengenai proses hidup bertuhan. Seperti halnya banyak surat dan ayat dalam Qur’an, selarik dari Sutasoma itu setelah berabad-abad berubah menjadi semacam mantra yang kebanyakan orang sudah tidak tahu lagi khasiatnya. Orang hanya tahu, itu mantra, itu kalimat at-thayyibat. Orang merapalnya untuk berbagai-bagai keperluan, yang tidak jarang satu sama lain saling bertentangan.

Tersebutlah setelah berabad-abad lamanya, dalam suatu kesempatan kekosongan kekuasaan menurut hukum antarbangsa akibat berakhirnya Perang Pasifik pada 1945, mantra sakti itu dirapal lagi. Singkat cerita, terjadilah sinkretisasi mantra tersebut dengan kebutuhan pragmatis membenarkan klaim kedaulatan atas seluruh Hindia Belanda. Akhirnya, “yang bermacam-macam” bukan lagi “cara hidup” (way of life), tetapi lebih pada entitas-entitas politik tradisional dan historis berupa berbagai kerajaan kecil-kecil, baik yang masih “berdaulat” maupun tidak, di sekujur bekas Hindia Belanda.

Pemahaman ini kemudian diperluas ke arah pengertian “suku bangsa” (ethnicity), sebagai bentuk kompromi atau akomodasi terhadap entitas-entitas politik tradisional dan historis tersebut dalam konteks modern, bahkan juga agama dalam pengertian sistem-sistem religi dominan di dunia, yang kenyataannya memang telah berurat-akar di bekas Hindia Belanda itu. Semua ini dilakukan dalam rangka membenarkan keberadaan sebuah bangsa baru yang akan diberi nama “Indonesia”, yang akhirnya disepakati sebagai semua orang yang lahir dan tinggal di bekas Hindia Belanda itu. Untuk kepentingan ini, kata-kata “tantrayana, bhairawa…” dan “tan hana dharma mangrwa” menjadi tidak banyak berguna dan karena itu boleh dipenggal saja.

Tan Hana Dharma Mangrwa

Kenyataannya, mantra terpenggal “bhinneka tunggal ika” itu ketika dirapal mendorong manusia Indonesia untuk menumpahkan darah sesama manusia Indonesia. Kenyataannya, kompromi dan sinkretisme antara "bangsa Indonesia adalah semua bekas kawula Kerajaan Belanda di Hindia Belanda" dan "bangsa Indonesia adalah pengejawantahan bhinneka tunggal ika” tidak berjalan semulus yang dibayangkan, bahkan justru membawa tulah. Sedikit saja salah pengertian menggoda orang untuk mempertanyakan sampai menantang keabsahan komitmen kebangsaan yang rapuh dan kontradiktif itu. Sekadar perbedaan pendapat mengenai harus dipatuhi atau tidaknya kesepakatan Renville antara Divisi Siliwangi dan Laskar Hizbullah menjalar menjadi isu “separatis” berdalih agama.

Isu yang sama juga terpicu oleh beragam alasan, dari mulai tidak jelasnya komitmen pemerintah pusat mengenai pengukuhan status “istimewa” bagi suatu daerah tertentu dalam hal pelaksanaan Syariat Islam, sampai kebijakan pemerintah untuk mereorganisasi angkatan perang paska revolusi fisik. Belum lagi isu yang nyata-nyata separatis, yang didasari oleh hitung-hitungan ekonomi ultramodern mengenai efisiensi alokasi sumberdaya dalam suatu geopolitik arkipelagik yang sangat unik, yang diboncengi oleh angkara-murkanya kekuatan Adi Daya, membuat saudara dengan saudara tidak segan-segan saling menumpahkan darah.

Ketika kekuatan Adi Daya yang angkara-murka itu akhirnya berhasil menancapkan pengaruhnya di bumi dan air keramat Nusantara, yang motivasinya tiada lain menguras kekayaan ibu pertiwi, mereka menasihati pemimpin-pemimpin Indonesia akan pentingnya menjaga “keutuhan wilayah”. Secara geopolitik-ekonomi, ongkos eksploitasi kekayaan alam akan menjadi terlalu besar bila Indonesia dikelola oleh berbagai-bagai entitas politik. Karena itu, biar Jakarta saja yang menjadi pusat kekuasaan yang menggurita, yang mengendalikan sepenuhnya segenap wilayah kedaulatan Indonesia. Kekuatan Adi Daya itu juga menjanjikan bagian yang lumayan bagi pemerintah Indonesia dari hasil "mengelola bersama" kekayaan alam Indonesia, yang semakin lama akan semakin besar sehingga dapat dibagi merata bagi seluruh bangsa Indonesia.

Untuk sementara waktu, memang baru mereka yang berurusan langsung dengan kongsi itu yang akan menikmati hasilnya, sedangkan sebagian besar lainnya haraplah sabar menunggu sampai hasilnya cukup banyak untuk dibagi rata bagi semua. Untuk itulah mantra terpenggal bhinneka tunggal ika harus kembali dirapal, kali ini karena nasib dan taraf hidup bangsa Indonesia masih bermacam-ragam, tapi tetap harus satu juga sambil menunggu datangnya janji kemakmuran yang adil itu digenapi. Saling berkelahi hanya akan mengganggu upaya sementara saudara yang tengah berusaha memperbesar kue kemakmuran, yang kelak di kemudian hari akan dibagi-bagi itu.

Untuk mencegah agar saudara-saudaranya tidak saling berkelahi, sekelompok elit dilatih untuk merapal penggalan lainnya dari mantra itu, tan hana dharma mangrwa, yang menjadi semboyan dari Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhanas), puncak pelatihan ideologi angkatan perang Republik Indonesia. Sesungguhnya, semua saja yang tergabung dalam angkatan perang sejak dini disugesti sebagai satu-satunya punggawa yang kesetiaannya tidak mendua pada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Akan tetapi, NKRI adalah konsep abstrak yang di dalamnya masih terdapat berbagai kontradiksi tak terpecahkan.

Konsep abstrak ini karena itu perlu diberi wujud, yaitu “kepemimpinan nasional” yang dahulu (harus selalu) berada di tangan “bapak pembangunan”—cara pikir yang sama sesungguhnya juga digunakan ketika “kepemimpinan nasional” masih berada di tangan “pemimpin besar revolusi”. Dengan demikian, pengertian dharma dipersempit lingkupnya menjadi hidupnya prajurit, yang tujuannya tidak boleh mendua, hanya boleh satu yaitu bersetia dan mencurahkan baktinya pada “kepemimpinan nasional”. Dalam rangka bersetia pada “kepemimpinan nasional”, sah-sah saja jika anggota-anggota angkatan perang gineung pratidina (mengkultuskan) dan hanyaken mungsu (melenyapkan musuh) pemimpin nasional, siapa pun itu, bahkan saudara-saudara sebangsa sendiri.

Tantrayana, Bhairawa, dan Lain-lain Cara Hidup Bertuhan

Dalam Pararaton memang pernah dikatakan, tiada dharma tanpa bakti pada seorang raja. Raja bagaimanapun dipahami sebagai wujud kehendak Tuhan di muka bumi. Dengan kata lain, kalau harus ada manusia yang hidupnya “paling” bertuhan, maka itu adalah Raja. Raja diharapkan memberi bentuk pada konsep ketuhanan yang abstrak, dengan sedapat-dapatnya meniru Sifat-sifat Ketuhanan, setidak-tidaknya menganugerahi siapa yang baik atau benar, dan menghukum siapa yang buruk atau salah. Raja-lah yang diharapkan menunjukkan kepada semua manusia, apa pun dan bagaimana pun cara hidupnya, bahwa Tuhan itu memang benar ada dengan segala Sifat-Nya, karena Ada-Nya Tuhan terlalu Kuat bagi manusia yang lemah—ingat kisah “pertemuan” Musa dengan Tuhan, di mana gunung luluh-lantak karena menyaksikan Ada-Nya!

Raja-lah yang diharapkan mampu “memperlembut” Kekuatan-Nya, seperti halnya di lain kesempatan “menguatkan” Kelembutan-Nya. Raja, karena itu, juga harus satu adanya, seperti halnya Tuhan Satu Ada-Nya. Semua rasul diutus sebagai satu diri, satu jiwa berjasad, meski dalam hidupnya seringkali disertai oleh orang-orang terdekat. Tetap saja ia harus mengemban sendiri tugas-tugas kerasulannya, meski kelak ia harus bertanggung-jawab setidaknya atas orang-orang yang hidup sejaman dengannya. Demikianlah kiranya kredo tiada dharma tanpa bakti pada seorang raja seharusnya dipahami.

Akan tetapi, kredo tersebut bukan merupakan esensi dari mantra tantrayana, bhairawa, bhinneka tunggal ika, tan hana dharma mangrwa. Tantrayana adalah cara hidup dan, karena itu, keyakinan kebanyakan brahmana pada jaman Majapahit. Bhairawa adalah cara hidup dan keyakinan satria, orang-orang yang diharapkan menjaga keamanan dan ketertiban hidup bersama, termasuk mengamankan masyarakat dari serangan musuh dan perusuh. Keduanya disebut secara spesifik karena memang besar tanggung-jawabnya pada hidup banyak orang, yang rata-rata “sekadar” bergantung pada belas-kasih ibu pertiwi dalam menganugerahkan perlindungan dan kekayaannya—walau pada kenyataannya sangat vital fungsinya bagi kehidupan secara keseluruhan.

Selain yang dua itu, terdapat juga cara hidup dan keyakinan yang bhinneka, karena sikap mental penduduk Nusantara yang sangat toleran pada apapun yang tidak sama dengan dirinya. Bukannya dimusuhi, cara hidup dan keyakinan yang bermacam-ragam itu dirangkul, dipahami, dimaklumi, karena pada akhirnya tiada cara hidup yang mendua ketika semua saja hidup bertuhan. Penduduk Nusantara sangat mafhum dan meresapi Sifat Tuhan yang, setidaknya, sangat toleran. Sedurhaka apapun manusia, tetap tiada putus nikmat karunia yang diberikanNya. Jika Tuhan saja begitu, mengapa manusia yang lemah ini harus berlaku sebaliknya? Jelaslah kiranya jika demikian, hidup bertuhan itulah esensi dari tantrayana, bhairawa, bhinneka tunggal ika, tan hana dharma mangrwa!

Mengembalikan kejayaan Nusantara, karena itu, tiada lain adalah kembali pada dharma, kembali pada hidup bertuhan, hidup yang ber-buddhi, ber-akhlaq, sedapat-dapatnya seperti Akhlaq-Nya. Hal ini, tentu saja, hanya dapat dicapai melalui olah diri yang sangat disiplin, dan diri yang paling nyata, paling wujud, bagi setiap manusia adalah dirinya sendiri. Mengembalikan kejayaan Nusantara hanya bisa dilakukan ketika semua anak keturunan para leluhur penghuni Nusantara, tiap-tiap dari antara mereka, tanpa terkecuali apa pun cara hidup dan mata pencaharian mereka, secara sadar melaksanakan wanti-wanti leluhurnya ini. Tanda-tanda kembalinya kejayaan Nusantara baru akan terlihat jelas jika tiap-tiap penghuni Nusantara telah menemukan kedengkian yang menyesakkan dada, ketika ia melihat saudaranya ber-buddhi, ber-akhlaq lebih baik dari dirinya, dan karena itu berusaha sekuat tenaga untuk melampauinya.

Lantas, apa hubungan ini semua dengan membangun kekuatan maritim, fasisme, dan militerisme? Bagi saya, itu semua baru benar jika disandarkan pada keyakinan bahwa apa pun akan ditempuh, meski harus membangun kekuatan maritim, melalui neraka fasisme dan militerisme, atau apa pun, untuk mengembalikan kejayaan Nusantara, agar leluhur-leluhur kita lega menyaksikan anak-cucunya menjadi mercu-suar yang menerangi dunia dengan keluhuran buddhi-nya, ketinggian akhlaq-nya. Sementara ini, ketika masih banyak orang sesak dadanya menyaksikan kebobrokan akhlaq diri sendiri, sementara tiada sesuatu pun yang diperbuatnya, bolehlah kita yakin kalau kejayaan Nusantara masih belum akan kembali dalam waktu dekat.

Saturday, November 29, 2008

Setelah Segala Apa yang Kulalui


Jam Bostonku sudah meregister angka dua tiga tiga puluh, padahal tangan kananku sangat ingin membelai senar-senar gitarku. Dimulai dengan desahan senar bas, dilanjutkan dengan senandung senar-senar trebel, jari-jari tangan kiriku lembut menyentuh. Malam ini, aku merasa sangat ingin bernyanyi. Bahkan jika menilik dari rasa hatiku sekarang, tampaknya aku dapat menghasilkan selantun melodi yang cantik. Bukan tidak mungkin jika terus kuikuti perasaanku, melodi itu dapat kulengkapi dengan syair malam ini juga. Sungguh langka perasaan seperti ini. Sukar dilukiskan, namun teramat berharga. Kuikuti saja detik demi detik ia membawaku, mengalun, mendayu, menghanyutkanku.

Malam ini aku sedang tidak ingin cerdas, gila, atau apapun. Malam ini, aku ingin mencinta. Terserah cinta yang seperti apa saja, yang mewah maupun yang bersahaja, semua aku curahkan dengan hati terbuka. Hanya saja, cintaku malam ini begitu inderawi, dan tidak pada tempatnya jika pada jam dua tiga empat lima ini, di lantai dua Laathofpad Zes ini, aku bercengkerama dengan gitarku, satu-satunya penambat cinta inderawiku. Sebetulnya bisa saja aku meminjam kibor-kiboran yang ada di kamar Laura, lalu memainkannya sambil menyumbat telinga dengan earphone. Ya, kurasa itu pemecahan yang sempurna untuk masalah seperti ini --pemenuhan hasrat cinta inderawi di Laathofpad Zes, di tengah malam buta. Mungkin akan kucoba besok pagi, jika masih tersisa perasaan ini, dari malam ini.

Ngomong-ngomong, shoutout-nya Annelien Ronda menarik juga. Kau akan lebih cepat berteman jika tertarik pada orang, daripada berusaha membuat orang tertarik padamu, begitu kurang-lebihnya. Itulah masalahku. Jika aku mendengarkan orang, kepalaku malah sibuk sendiri sampai tiba-tiba melompatlah dari mulutku tanggapan yang sangat egois dan tidak simpatik, yang ujung-ujungnya adalah mengenai diriku sendiri, sudut pandangku sendiri. Well, kau sudah terlalu tua untuk masih saja berkutat dengan masalah seperti ini. Satu-satunya hal yang harus kau lakukan adalah: Berusaha lebih keras! Jadilah pendengar yang lebih baik. Ambillah pelajaran lebih banyak dari pengalaman orang lain. Beginilah jadinya kalau kurang dzikrullah. Ingat! Bahkan bumi tidak pernah ditakdirkan menjadi pusat apapun, apalagi manusia yang jauh lebih sepele!

Aku masih ingin menambah satu paragraf lagi, dan yang ini akan kudedikasikan pada perasaanku malam ini. Lalu bagaimana dengan kutukanku pada diriku sendiri? Jika kubilang, ah, itu 'kan bisa-bisamu saja, dan tiba-tiba aku ingat pada-Nya, aku takut tepat di situlah menyelinap hasrat-rendahku --meski kutukan itu juga akibat dorongan hasrat-rendahku. Hey, katanya tidak mau cerdas?! Okay, begini saja, kita lihat besok pagi apa yang terjadi. Mungkin begini jugalah sampai Pandawa Sulung suka berjudi mengundi nasib. Sentuhan, belaian, dan dekapan inderawi memang menguatkan jiwa, namun jiwa yang kuat mampu mengolah rasa yang terlatih untuk menguatkan jasadnya. Aku tidak kuat, meski mungkin hanya karena hampir tidak pernah lagi berlatih. Di jaman serba instan ini, mengapa pula masih harus repot-repot menyiapkan segala bumbu...

Woman in love needs only one man

Friday, November 28, 2008

Jika Dibawa Tidak Dipergunjingkan (Aku Jahat!)


Setelah nonton the Flag of our Fathers yang bercerita tentang marinir Amerika Serikat, kemudian dilanjutkan dengan menghancurkan Bonn, Vienna, dan Berlin, terus memaki-maki, aku mendengarkan harmoni Phil dan Don Everly, yang mantan marinir Amerika Serikat juga. Sekarang jam dua tiga tiga enam waktu Limburg Selatan, dan suhu di luar ruangan, kata Yahoo, sekitar empat derajat celsius. Langit agak berawan dan udara sedikit berangin. Sudah seharian ini aku menunggu untuk ngobrol dengan Macan Gondrong, karena aku tidak suka jika dalam satu hari sampai ada dua atau lebih entri. Terlihat sangat tidak rapi, seperti tidak ada disiplin militernya.

Anacani Montoya was a singer in US ABC's Lawrence Welk Variety Show, that was very famous during '60s, '70s, and early '80s. She used to sing Spanish songs.

Dulu, Pak Priyo Waspodo pernah menunjukkan kepada kami, siswa kelas I-2 TN-2, sebuah kliping koran atau majalah --seingatku dari majalah Forum ketika namanya masih Forum Keadilan-- dengan judul "Fenomena Pahalawan-Dosawan." Aku tidak ingat betul mengenai apa artikel itu, namun aku ingat pada kesempatan yang sama ia mengatakan bahwa Soekarno, Semaun, dan Kartosoewirjo pernah tinggal satu atap di rumah HOS Tjokroaminoto di Surabaya. Cerita selanjutnya sudah menjadi bagian dari sejarah, dan semua pun maklum kiranya. Ada yang tidak maklum? Aku hanya tahu yang dari Soekarno, dia mengingatkan kita semua agar jangan meninggalkan sejarah. Jadi, jangan tinggalkan mereka. Aktiflah mencari tahu, begitu kata Teddy Rusdi!

Aku bukan sejarahwan, dan aku tidak terlalu berminat pada akurasi fakta historis. Namun, kurasa aku adalah salah satu penutur "sejarah", karena kesukaanku pada topik ini. Entah sudah berapa orang saja yang kubombardir dengan "fakta-fakta" sejarah sebagaimana kusuka dan ingin kupercaya. Sialnya, aku adalah pendongeng yang baik, bahkan seringkali terlalu baik. Kutanamkan dalam-dalam berbagai fakta sejarah jadi-jadian ke dalam kepala siapa saja yang mau mendengarkan dongenganku. Meski begitu, aku tidak perlu terlalu cemas, karena mereka yang mau mendengarkan dongengku biasanya orang-orang kebanyakan yang tidak punya hasrat berkuasa. Sebaliknya, orang yang berhasrat akan kekuasaan biasanya menjauhi dongeng-dongengku. Jadi, aku tidak perlu khawatir dongengku kelak berubah menjadi "sejarah".

Malam ini, aku bertanya pada Ki Macan Gondrong, mengapa banyak orang begitu yakin pada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Apanya yang "kesatuan" dari subyek hukum internasional ini? Apa makna "republik" dalam selarik mantra ini? Apa pula makna nama "indonesia", yang memang terdengar modern ini? Ki Macan mengibas-ngibaskan perutnya yang gondrong sambil berdehem. "Apapun itu, ia terkutuk," sahutnya. Kita semua memang harus hidup dalam kutukan ini, sementara ini, sampai waktu yang dijanjikan tiba. Serumpun padi tidak akan selamanya hidup nista, meski waktu beratus-ratus tahun tentu saja terasa seperti Keabadian itu sendiri. Betapa tidak terasa abadi ketika yang diingat tentang bapak, dan bapaknya lagi, dan bapaknya lagi, adalah kemudlaratan hidup? Tidak semua pemangku kepentingan NKRI dahulu sepakat pada pengakhiran keabadian ini sebagai satu-satunya tujuan.

Gila juga kita membicarakan hal ini sembari mendengarkan "musik-musikan ngak-ngik-ngek gila-gilaan" --istilah Soekarno dalam Manipol atau Djarek, ya... Ki Macan menyeringai, kemudian melanjutkan, "Ketika segala macam konsep ultramodern dituangkan ke dalam kenangan dan kerinduan akan kejayaan masa lalu, inilah jadinya." Bukan macam-macam yang diinginkan rakyat djembel mudlarat dari generasi ke generasi, hanya cukup makan, tutup yang patut bagi auratnya, dan tempat berteduh dari panas dan hujan. Itulah kejayaan! Bukan sebuah imperium, bukan kekuasaan seluas dunia, bukan dominasi, bukan hegemoni, bukan keserakahan, hanya hidup yang patut bagi semua, sementara berada di bumi-Nya. Itulah kejayaan! Tantrayana, bhairawa, bhinneka tunggal ika, tan hana dharma mangrwa! Namun, jika kekuasaan seluas dunia dibutuhkan untuk mencapai tujuan itu, kita berpantang surut!

Wuih, serius sekali entri malam ini. Ini pasti gara-gara ada Ki Macan Gondrong di sini he he he... Baiklah, terima kasih Ki Macan sudah sudi hadir di tempat sahaya malam ini. Ia pun menghilang di kegelapan. Kini tinggallah kusendiri di kamar lantai dua Laathofpad 6, memandang ke luar jendela, ke arah perbatasan Belanda-Belgia di ufuk barat. Seharian ini aku makan pisang, mie cup ABC rasa seafood, gebakken mosselen, nasi goreng gak jelas... kurasa aku kehilangan kreatifitas. Yah, mau bagaimana lagi, PPA merusak segalanya, dan memang konyol bila bergantung hanya pada satu sumber saja. Memang harus ada diversifikasi, khususnya untuk saat-saat seperti ini. Lagipula, yang benar saja... coba kau lihat dari jarak setidaknya sepuluh meter... Gila apa?!

Thursday, November 27, 2008

Pergi ke Eindhoven Bersama


Hari ini kawan-kawanku pergi ke Eindhoven bersama... Orangutan! Mereka berenam, yaitu Babatunde, Trust, Alice, Dolly, Pim, dan Witri. Sebenarnya mereka bertujuh, tapi satunya lagi Orangutan, jadi buat apa disebut. Herannya, kebanyakan mereka ramah pada Orangutan. Seperti orang Dayak, mereka menganggap Orangutan tak ubahnya orang, hanya saja ia terlalu banyak cingcong, jadi tidak berguna. Namun kebanyakan mereka tetap ramah pada Orangutan. Padahal, Orangutan sedang merasa ekstragila karena harus mengelola perasaannya lebih cermat dari biasanya.

Belum lagi ditambah beban keharusan turut serta menganalisis kebijakan transfer sosial di Bananastan, Orangutan tambah merana. Tidak adakah yang dapat mengatakan pada Francisca bahwa Orangutan sudah hampir punah maka harus dilindungi? Siapa juga yang sudi?! Orangutan tahu, setidaknya satu, tak akan pernah mau melakukannya, meski mungkin itu jugalah yang menjadi harapan Orangutan. Ia berharap agar semua ini berlalu dengan begitu saja. Masih ada setidaknya sembilan bulan dan Orangutan berharap ini semua berlalu begitu saja? Dasar Orangutan!

Baiklah. Jika pergi ke Eindhoven bersama Orangutan terdengar tidak praktis, ada baiknya jika kawan-kawanku membawa serta... Tokek! Oh, ini membawa kenangan sedih bagi Tokek. Meski tidak termasuk satwa langka yang harus dilindungi, kenyataannya Tokek pernah mendapat perlindungan yang begitu hangat dan nyaman, suatu perlindungan yang membawanya sampai pada keadaannya kini. Perutnya tetap gendut dan menjijikkan. Kepalanya tetap besar penuh pikiran mesum. Punggungnya tetap berbintil-bintil jingga membuat semua menjauh darinya.

Meski begitu, Tokek pernah merasakan hidup dalam suaka margasatwa yang teduh dan nyaman, meski ia tahu takkan selamanya di situ. Kini, Tokek harus beringsut meninggalkan keteduhan yang nyaman itu. Kini, keteduhan itu telah berubah menjadi mendungnya temaram senja, meski mendung itu Tokek sendiri juga yang menghendakinya. Tetap Tokek sedih berpisah dari suakanya, bagai awan lembayung berpisah dari ufuk barat. Takkan lagi dapat ia rasakan hangatnya suaka di terang cuaca. Tokek harus melupakannya, tapi ia tidak lupa-lupa... meski sebenarnya mudah saja. Dasar Tokek!

Okay, jika Orangutan dan Tokek bukan teman seperjalanan yang menyenangkan, lalu APA yang dapat membuat perjalanan kawan-kawanku pergi dan pulang, ke dan dari, Eindhoven menyenangkan? Malam ini, aku teringat pada "binatang hewan". Tidak! Itu masa lalu! Tidak mungkin berpaling lagi ke situ! Tidak mungkin menyandarkan apapun di situ. "Binatang hewan" sudah punah! Jika pun belum, mari mencarinya di setiap relung sanubari dan BUNUH di tempat. Sanggupkah kau membunuh sesuatu yang telah menjadi bagian yang sangat berarti bagi dirimu karena telah menghidupimu, meskipun dahulu?

Sanggupkah kau membunuh dirimu sendiri, meskipun kini?! Malam ini, aku harus sanggup. Meski sekuat apapun aku mensugesti diriku sendiri bahwa aku Tikus Comberan, aku harus sanggup. Legenda Tikus Comberan tidak akan berhenti di Maastricht atau di mana pun. Legenda itu akan terus diceritakan, sampai kesombongan luluh bagaikan kelembutan mentega dipanggang perkasanya matahari khatulistiwa. Sampai tiba waktunya, baik aku sajalah yang pergi bersama kawan-kawanku ke Eindhoven. Hari ini. Babatunde, Trust, Alice, Dolly, Pim, Witri, ...dan Bono.

Wednesday, November 26, 2008

Pergilah Gadis Kecil


Tiada sesuatu pun di dunia ini merupakan kebetulan, dan aku masih saja bercerita mengenai diriku sendiri. Tentu saja. Buat apa aku berbicara mengenai yang bukan aku, sedang aku saja belum kupahami sepenuhnya? Beginilah perawakanku, seakan dirancang untuk menanggung beban dunia, seperti yang ingin kupercaya. Beginilah raut wajahku, meluputkanku dari begitu banyak dosa, yang ini kumohonkan kepadaNya. Sungguh semua ini tak kupedulikan benar, aku tidak pernah menyangsikannya. Namun, pengaruhnya pada persekitaranku, pengaruhnya pada orang lain, itu yang terkadang mengkhawatirkanku.

Hah! sebenarnya 'kan sederhana saja. Sembunyikan dirimu! Hmm... tidak, tidak semudah itu, Kawan. Kalau betul semudah itu, sudah kulakukan sejak lama. Memang benar semudah itu! Kau saja yang lemah hati, mudah takluk pada diri sendiri. Ya, itu harus kuakui. Lalu? Tindakan drastis lagi? Apa kau tidak pernah tahu warna lain selain hitam dan putih? Apa kau tidak tahu angka lain selain nol dan satu? (tertunduk) Ya, aku tidak tahu. Sungguh aku butuh bantuan dalam hal itu, atau buang saja aku jauh-jauh. Insya Allah, aku rela.

Tiada sesuatu pun di dunia ini merupakan kebetulan, dan aku meratapi dunia dalam keseriusanku menanggung malu. Aku telanjang, mempertontonkan tubuhku yang tidak sedap dipandang. Tak seorang pun mau memandang, dan aku memang tidak berhasrat. Aku telanjang, karena hanya kulitku yang budukan inilah yang jujur, seperti yang ingin kupercaya. Jika aku berada di tengah-tengah khalayak, pantaskah aku disebut teladan? Tidak! Mengapa? Tidak mengapa! Sayangnya, aku masih suka menebah dada, meski hanya di dalam dada, setidaknya lebih sering dari dahulu kala.

Mama, uuhh... aku tidak mau mati, terkadang aku berharap aku tidak pernah dilahirkan, kata Freddie. Iwan menimpali, "Aku lelaki tak mungkin menerimamu bila ternyata kau mendua membuatku terluka." Ah, kalian ada-ada saja. Aku hanya mahasiswa es dua di Maastricht Graduate School of Governance. Tak banyak dari kawan-kawanku di sini yang tahu apa yang kita bicarakan, kecuali Herman AB, Witri, dan mungkin Fleur. Malam ini, aku tidak mau minum es, meski Chocomelk-nya sedingin es. [tidak ada salju di luar]

Aku bisa! ...jika aku mau. Namun, kenapa aku tidak mau-mau? Heheheh... ini saatnya, Tolol! Ini saatnya! Lupakan omong-kosongmu tentang tidak mau berkelahi melawan yang lebih lemah. Nikmati kemenangan, dan itu hanya akan terjadi jika KAU yakin pada tingkat kepercayaan seratus persen bahwa yang akan kau lawan lebih lemah! Ia sudah menelanjangi dirinya, sedikit. [tidak ada yang lebih telanjang dari kau, Tolol!] Sebenarnya tidak akan pernah ada. Emang iya?

Langkah pertamanya bahkan jauh lebih ringan dibandingkan menggeser pion di depan raja sejauh dua kotak. Oh, dunia, mengapa engkau penuh dengan dendam. Tidakkah kau tahu dendam membuat hawa menjadi panas? Kau suka berkeringat, ya? Geen probleem. Ini bukan dendam. Ini kekejaman! Kau 'kan suka kekejaman?! Siapa bilang?! Semua harus ada aturannya, termasuk kekejaman. Jangan asal kejam saja, dong. Harus artistik. Kau pernah menyembelih ayam, belum? ...Belum. [sambil malu-malu] At my signal, ...unleash hell, kata Maximus.

Tenang saja. Nanti juga berubah lagi.

Saturday, November 22, 2008

Salju Pertama di Maastricht 2008


Kemarin, Jumat 21 November 2008, adalah hari kami mengikuti ujian Risk and Uncertainty. Sebelumnya, aku dan Bang Herman shalat di Masjid al-Fath, di Gentelaan mentok (aduh nama jalannya apa ya...? ada Sint-nya gitu deh... lupa). Waktu itu angin kencang, dan kurasa pada saat itulah salju pertama tahun ini sudah turun di Maastricht.

Malamnya, ketika aku berjalan di sepanjang—monyong... lupa juga nama jalannya, pokoknya di depan tapsiun deh, sama Bang Herman juga, dari Night Shop balik ke (God help me) De Beurs Studentencafe, barulah salju menerpa wajahku, tutup kepala, dan jaket Bad Boy-ku yang terkenal tebal itu. Aku tidak bad koq, dan aku juga bukan boy (terus 'Kin mau dikemanain kalau aku boy?). Aku sudah lama tidak kepingin menyentuh khamr dalam bentuk apapun, dan malam itu juga tidak. Jangankan khamr, rokok juga aku sudah tidak berhasrat. Sepertinya aku sudah cocok masuk PKS niy ;'p

Bicara masalah hasrat... pertama, tiada lain kecuali aku memujiNya, satu-satunya yang pantas dipuji. Allah, Penambat segala kesah. Allah, Penyembuh segala gundah. Allah Illahi Rabbi, yang kasihNya melebihi ibuku sendiri, bahkan kasih ibuku dan semua ibu di alam ciptaan ini Ia-lah yang menciptakan. Rabb hamba, terurai air mataku, semoga ini adalah kerinduan hanya padaMu. Semoga mata ini tercipta hanya untuk memandangMu, dan apapun yang kupandang itu hanya Engkau. Allah Rabb hamba, jadikanlah aku hambamu yang tebal rasa malu.

Jangan biarkan hamba lupa diri lebih dari sekejapan mata, diri-rendah hamba ini, Illahi Rabbi. Demikianlah kehendakMu atas hamba dan semua manusia (anak Adam?), sebagai cerminan DiriMu yang tak terlukiskan. Langit, bumi, dan segala apa yang berada di antaranya tiada sanggup menanggungMu. Hanya hati seorang mukmin yang mukhlis-lah yang mampu. Allah Rabb hamba... dengarlah ratapan hamba pagi ini... Masukkanlah hamba ke dalam golongan itu... Semoga ini semata-mata kerinduan padaMu.

Aku mengidap Sindrom Robin Hood, kata Dik Witri. Dua kata terakhir memang aku sendiri yang memulainya, dia tinggal menambahkan satu di depannya. Betapa mengerikan jika sindrom ini dibarengi pamrih, aku berlindung pada Allah Maha Perkasa dari yang seperti itu. Aku adalah orang yang tinggi hati, dan mementingkan diri sendiri. Aku suka mengagung-agungkan diri sendiri. Sama seperti adikku yang paling kecil, aku suka memandangi pantulan diriku sendiri dalam cermin. Betapa berbahayanya! Amboi, betapa mengerikannya! Semua ini sangat mungkin menjerumuskan ke dalam kenistaan, dan itu sudah dijamin.

Jika sampai terjadi, benar-benar tak tertanggungkan. Di sini, aku mungkin masih dapat mengandalkan kesabaranku. Namun, ketika waktunya tiba, di sana, tak mungkin lagi siapapun bersabar menanggungnya. Aku berlindung pada Allah Maha Pengampun dari yang demikian itu. Illahi Rabbi, hamba mohon karunia kekuatan untuk mampu bersabar dalam memberantas semua pamrih dan menanggalkan semua atribut yang tidak pantas hamba kenakan. Mohon tangguh sebentar saja, tidak akan lama lagi.

Farewell Party February 2008 Cohort

Keindahan dunia yang menyilaukan mata, yang bagi kebanyakan orang bahkan membutakan. Menyergapmu dari segala penjuru inderawi, merasuk ke dalam alat kelengkapan kemanusiaan yang paling asasi... Tak mampu kuteruskan yang satu ini... satu paragraf ini... biarlah berlalu begitu sahaja. Apapun yang ada dalam benakmu, lupakan. Apapun yang ada dalam genggamanmu, berikan. Apapun yang ada di depanmu, hadapi. Mari bersuka-cita, karena tiada lama lagi kita akan sampai di rumah. Rumah yang hangat dan nyaman itu... yang kehangatan dan kenyamanannya saja sudah merupakan daya tarik tak tertahankan.

Di tengah rimba belantara ini, yang terus saja berganti-ganti dengan padang gurun (atau kini padang salju hehehe...), rimba belantara, padang gurun, hutan gelap, padang salju, rimba belantara, padang gurun... begitu saja seterusnya; Ini hanya pengembaraan. Hanya rumahku yang hangat dan nyaman itu yang kuinginkan, hanya itu saja yang mengisi benakku, hanya itu tujuanku! Sungguh aku menanti saatku mengucapkan selamat tinggal pada pengembaraan ini, dengan kata-kata perpisahan yang manis.