Mengitiki di kantin kaca juga tidak apa-apa, mengingat beberapa tahun lalu tempat ini pernah menjadi kantor sementara bidang studi hukum administrasi negara fakultas hukum universitas indonesia. Waktu-waktu yang telah berlalu terasa nyamannya semata karena kita telah berhasil melaluinya dan selamat sampai detik ini. Jadi sebenarnya yang nyaman adalah saat ini, ketika lahir dan batin terasa nyaman maka mengitik-ngitiki begini. Memang mengitiki baru bisa terlaksana ketika badan dan pikiran terasa ringan dan nyaman begini. Jika tak, mengupili pun ta'enak.
Terlebih jika menyukai Chopin seperti ini, duduk-duduk di Gazebo di hari berhujan. Ini adalah suatu teknik bertahan hidup, mengingat-ingat hal-hal yang menyenangkan apapun keadaanmu kini. Meski seekor dementor sudah memonyongkan moncongnya yang lebih seperti kesuwungan eksistensial itu, menyedot seluruh daya hidupmu. Pada saat itu, bukan seruan expecto patronum benar yang akan menyelamatkanmu. Itu hanya pemicu. Daya ledaknya berada pada kemampuanmu untuk memanggil kembali seketika kenangan-kenangan indah dari masa-masa yang berlalu.
Bisa diduga, mengapa entri ini sampai ada, ada bulan. Bulan itu Agustus, dan sebelum adanya entri ini, bulan itu berentri empat. Tidak, aku tidak percaya tahyul Cina mengenai 3A atau apalah itu. Hanya saja empat terasa kurang genap, padahal empat itu bilangan genap. Maka 'ku genapkan ia menjadi lima, padahal lima itu bilangan ganjil. 'Tuh 'kan, kemarin sekali lagi. Memang aku seperti tidak bisa terbebas dari masa lalu meski tidak terperangkap. Aku ini semacam Koko si Gorila yang menunjuk ke depan ketika berbicara mengenai tadi, karena tadi terpampang jelas di depanku.
Lebih tragis lagi Nim Chimpsky, meski 'ku tak yakin mana lebih tragis dariku yang tidak lagi diikutkan dalam perkuliahan asas-asas hukum administrasi negara. Nim, yang dibesarkan seperti seorang anak manusia, yang mungkin berpikir bahwa dirinya adalah manusia, terganggu jiwanya ketika dikembalikan ke dalam kerangkeng. Astaga, tak sanggup 'ku membayangkannya. Sudahlah aku tak mau mengingat-ingatnya, secara aku sendiri secara kejiwaan tidak terlalu kuat. Ya, aku ini sudah jelas keple sak taek. Mungkin yang benar ialah menghipnotis diri sendiri seperti Doc.
Tidak berarti apapun. Tidak sama sekali. Aku hanya berutang pada diriku sendiri dan tidak pada apapun dan siapapun lainnya, ketika dunia ini semakin terasa seperti lembah A Shau atau Proyek Nim ketika berakhir. Di kantin kaca yang dingin berpendingin udara ini, aku sendiri. Ini jauh lebih baik daripada ada orang lain. Namun aku masih harus bertemu dengan beberapa orang hari ini untuk menyelesaikan... apa-apapun yang harus diselesaikan. Ternyata memang banyak sekali. Ini pun masih menyisakan banyak tanda baca. Yasutra'lah les duit again. Sendiriku lagi di kedinginan.
Memilin upil berteman Franz dan anak-anaknya, Charilou, Franzene, dan Dodz mendendangkan betapa aku tak bisa mengatakan padamu mengapa dari elang-elang. Kini 'ku biarkan elang-elang itu sendiri yang berdendang dengan suaranya yang jauh lebih feminim daripada Franzene. Ah, betapa nyaman sendirian ketika badan terasa baik-baik saja atau di sekitar itu. Di hadapanku Jeng Cat berlalu. Ia yang dengan sengaja memilih menjadi banpol untuk menghindari aki-aki genit. Sarapanku bubur entah-entah mengapatah 'ku terpikir nyabu pagi ini. Semoga baik-baik saja seharian'ni.
Jika ini sekadar agar Agustus berentri lima, biarlah ini menjadi kenangan mengenai anak lelaki gojira yang membuat bukan hanya belakang kepala gondrong melainkan badanku kuyup berkeringat di tidurku malam hari. Hanya pada Sang Penyayang 'ku dapat berlindung, memohon belas kasihan. Ada waktunya aku, setelah kurang tidur semalaman, mungkin gara-gara seperti ini juga, lantas pada siang harinya malah ke Ampera demi sebuah janji, akhirnya menderita sesiangan sesorean itu. Namun toh aku baik-baik saja sampai detik ini. Segala puji hanya bagiNya Pengayom.
Terlebih jika menyukai Chopin seperti ini, duduk-duduk di Gazebo di hari berhujan. Ini adalah suatu teknik bertahan hidup, mengingat-ingat hal-hal yang menyenangkan apapun keadaanmu kini. Meski seekor dementor sudah memonyongkan moncongnya yang lebih seperti kesuwungan eksistensial itu, menyedot seluruh daya hidupmu. Pada saat itu, bukan seruan expecto patronum benar yang akan menyelamatkanmu. Itu hanya pemicu. Daya ledaknya berada pada kemampuanmu untuk memanggil kembali seketika kenangan-kenangan indah dari masa-masa yang berlalu.
Bisa diduga, mengapa entri ini sampai ada, ada bulan. Bulan itu Agustus, dan sebelum adanya entri ini, bulan itu berentri empat. Tidak, aku tidak percaya tahyul Cina mengenai 3A atau apalah itu. Hanya saja empat terasa kurang genap, padahal empat itu bilangan genap. Maka 'ku genapkan ia menjadi lima, padahal lima itu bilangan ganjil. 'Tuh 'kan, kemarin sekali lagi. Memang aku seperti tidak bisa terbebas dari masa lalu meski tidak terperangkap. Aku ini semacam Koko si Gorila yang menunjuk ke depan ketika berbicara mengenai tadi, karena tadi terpampang jelas di depanku.
Lebih tragis lagi Nim Chimpsky, meski 'ku tak yakin mana lebih tragis dariku yang tidak lagi diikutkan dalam perkuliahan asas-asas hukum administrasi negara. Nim, yang dibesarkan seperti seorang anak manusia, yang mungkin berpikir bahwa dirinya adalah manusia, terganggu jiwanya ketika dikembalikan ke dalam kerangkeng. Astaga, tak sanggup 'ku membayangkannya. Sudahlah aku tak mau mengingat-ingatnya, secara aku sendiri secara kejiwaan tidak terlalu kuat. Ya, aku ini sudah jelas keple sak taek. Mungkin yang benar ialah menghipnotis diri sendiri seperti Doc.
Tidak berarti apapun. Tidak sama sekali. Aku hanya berutang pada diriku sendiri dan tidak pada apapun dan siapapun lainnya, ketika dunia ini semakin terasa seperti lembah A Shau atau Proyek Nim ketika berakhir. Di kantin kaca yang dingin berpendingin udara ini, aku sendiri. Ini jauh lebih baik daripada ada orang lain. Namun aku masih harus bertemu dengan beberapa orang hari ini untuk menyelesaikan... apa-apapun yang harus diselesaikan. Ternyata memang banyak sekali. Ini pun masih menyisakan banyak tanda baca. Yasutra'lah les duit again. Sendiriku lagi di kedinginan.
Memilin upil berteman Franz dan anak-anaknya, Charilou, Franzene, dan Dodz mendendangkan betapa aku tak bisa mengatakan padamu mengapa dari elang-elang. Kini 'ku biarkan elang-elang itu sendiri yang berdendang dengan suaranya yang jauh lebih feminim daripada Franzene. Ah, betapa nyaman sendirian ketika badan terasa baik-baik saja atau di sekitar itu. Di hadapanku Jeng Cat berlalu. Ia yang dengan sengaja memilih menjadi banpol untuk menghindari aki-aki genit. Sarapanku bubur entah-entah mengapatah 'ku terpikir nyabu pagi ini. Semoga baik-baik saja seharian'ni.
Jika ini sekadar agar Agustus berentri lima, biarlah ini menjadi kenangan mengenai anak lelaki gojira yang membuat bukan hanya belakang kepala gondrong melainkan badanku kuyup berkeringat di tidurku malam hari. Hanya pada Sang Penyayang 'ku dapat berlindung, memohon belas kasihan. Ada waktunya aku, setelah kurang tidur semalaman, mungkin gara-gara seperti ini juga, lantas pada siang harinya malah ke Ampera demi sebuah janji, akhirnya menderita sesiangan sesorean itu. Namun toh aku baik-baik saja sampai detik ini. Segala puji hanya bagiNya Pengayom.


No comments:
Post a Comment