Seperti biasa, isi kelapa-mudaku meledak-ledak, mencelat-celat, karena bukan sekadar melompat-lompat, seperti jagung-ledak ditaruh di atas penggorengan panas. 'Ku rasa sudah dari dulu seperti itu, karena seingatku sudah lama sekali aku melihat pantulan wajahku pada cermin sambil berkata "yes, Sir", meski 'yes'-nya nyaris tak terdengar, menyisakan hanya bunyi 'e' pepet yang lemah. Aku berkata pada pantulan wajahku sendiri di cermin: "Yes, Sir! No, Sir! Yes or no doesn't make any difference, Sir!" Kelas 9 'ku bisa membuat kalimat semacam itu dalam bahasa Inggris.
Ini kisah tentang Feromon Chinta, meski, ya, meski seharusnya 'ku ketahui sejak lama bahwa aku tidak cocok jadi tentara, setidaknya tidak di Indonesia. Seperti kata Mayor (ketika itu) Harmin, mungkin kalau di Amerika sana bisa. Itu yang diingat Ibuku. Ah, aku baru ingat mengapa namanya begitu, Feromon Chinta: ya, karena feromonnya. Jika kau bekerja demikian keras, bergegas ke sana ke mari, naik turun tangga lantai satu dan dua, mau tidak mau feromon pasti menguar. Ketika itulah cuping hidung berkembang-kempis menghirup-hirup tiap kali berlalu berkesiur.
Aku yang masih saja mencoba berdamai dengan perempuan dari mulai anakan, muda, tidak-lagi-muda, sampai tua; sedang dunia sudah berkelebat begitu cepat sampai pernah memacari perempuan yang punya pacar perempuan juga. Mungkin memang tidak akan pernah ada damai. Di punggung bumi ini selalu orang saling mengucap salam damai satu sama lain. Mungkin itu cara mereka mengingatkan betapa damai tidak akan ditemukan di bumi. Damai itu nanti, tujuan kita semua. Maka jangan sampai menuju lainnya, amit-amit. Damai Indonesiaku tujuan kita semua.
Ini kisah tentang Feromon Chinta, meski, ya, meski aku tidak berapa ingat di mana 'h'-nya harus diletakkan. Hanya tiga 'h' yang 'ku ingat tepat di mana harus meletakkannya seumur hidupku. 'H' pertama di suku kata kedua. 'H' kedua dan ketiga di suku kata pertama. 'Ku ingat, Insya Allah, seperti mengingat 'lailatil' pertama, lalu 'lailatul' kedua dan ketiga. Mungkin sampai matiku takkan pernah kuasai Nahwu apalagi Shorof, seperti Bapakku mungkin tidak pernah benar-benar bisa membaca huruf Hijaiyah sampai meninggalnya. Akan tapi aku tahu di mana tempatnya 'h'.
Gondrongkah, pendekkah, tidak akan pernah ada bedanya bagiku, kecuali rambut kasar bergelombang yang tidak pernah berhenti lucu bagiku. Aku suka rasa sayang itu. Berhubung aku tidak punya kucing apalagi anjing, aku tidak akan tahu apa bedanya rasa itu dengan rasa sayang pada kucing atau anjing. Rasa itu melebihi rasa sayangku pada diriku sendiri, sedang yang terakhir ini aku tidak yakin punya. Aku sudah lupa rasanya menggendong Schmong apalagi anakku sendiri. Mungkin ini hanya khayalanku saja mengenai rasa sayang. Apalah bedanya khayal dan nyata.
Ini kisah tentang Feromon Chinta, meski, ya, meski rambut (sering dikata bulu) ketiaknya aduhai gondrong kriwil-kriwil begitu, seperti rambut (yang ini mengapa tidak pernah dikata bulu?) kepalanya jika tidak di-smooth di-wolf cut begitu. Betapa yang seperti ini menyakitiku. Namun buat apa bertanya ketika apapun bisa menyakitiku, apapun kecuali kesakitanku sendiri. Bahkan ketika orangnya yang 'ku pikir kesakitan merasa biasa-biasa saja, aku tetap kesakitan. Jadi, ya, mungkin memang kesakitanku sendiri. Kesentimentilanku sendiri. Keromantisanku sendiri.
Rasanya seperti terjadi pada diriku sendiri atau seseorang yang 'ku sayangi. Atau memang aku menyayanginya. Aku menyayangi kalian seperti anak-anakku sendiri, mungkin karena anak-anakku sendiri, biologis maupun bukan, tidak ada yang menyayangiku. Sudah lama susah-payah 'ku sayangi diri sendiri. Belajar mencintai diri sendiri, itulah cinta terbesar dari semua, begitu kata Whitney. Itulah maka harus ditulis Chinta, karena memang bukan cinta. Cinta pada diri sendiri, besar ataupun kecil. Seekor lalat hinggap di bibir cangkir berisi teh hitam pahit.
Ini kisah tentang Feromon Chinta, meski, ya, meski seharusnya 'ku ketahui sejak lama bahwa aku tidak cocok jadi tentara, setidaknya tidak di Indonesia. Seperti kata Mayor (ketika itu) Harmin, mungkin kalau di Amerika sana bisa. Itu yang diingat Ibuku. Ah, aku baru ingat mengapa namanya begitu, Feromon Chinta: ya, karena feromonnya. Jika kau bekerja demikian keras, bergegas ke sana ke mari, naik turun tangga lantai satu dan dua, mau tidak mau feromon pasti menguar. Ketika itulah cuping hidung berkembang-kempis menghirup-hirup tiap kali berlalu berkesiur.
Aku yang masih saja mencoba berdamai dengan perempuan dari mulai anakan, muda, tidak-lagi-muda, sampai tua; sedang dunia sudah berkelebat begitu cepat sampai pernah memacari perempuan yang punya pacar perempuan juga. Mungkin memang tidak akan pernah ada damai. Di punggung bumi ini selalu orang saling mengucap salam damai satu sama lain. Mungkin itu cara mereka mengingatkan betapa damai tidak akan ditemukan di bumi. Damai itu nanti, tujuan kita semua. Maka jangan sampai menuju lainnya, amit-amit. Damai Indonesiaku tujuan kita semua.
Ini kisah tentang Feromon Chinta, meski, ya, meski aku tidak berapa ingat di mana 'h'-nya harus diletakkan. Hanya tiga 'h' yang 'ku ingat tepat di mana harus meletakkannya seumur hidupku. 'H' pertama di suku kata kedua. 'H' kedua dan ketiga di suku kata pertama. 'Ku ingat, Insya Allah, seperti mengingat 'lailatil' pertama, lalu 'lailatul' kedua dan ketiga. Mungkin sampai matiku takkan pernah kuasai Nahwu apalagi Shorof, seperti Bapakku mungkin tidak pernah benar-benar bisa membaca huruf Hijaiyah sampai meninggalnya. Akan tapi aku tahu di mana tempatnya 'h'.
Gondrongkah, pendekkah, tidak akan pernah ada bedanya bagiku, kecuali rambut kasar bergelombang yang tidak pernah berhenti lucu bagiku. Aku suka rasa sayang itu. Berhubung aku tidak punya kucing apalagi anjing, aku tidak akan tahu apa bedanya rasa itu dengan rasa sayang pada kucing atau anjing. Rasa itu melebihi rasa sayangku pada diriku sendiri, sedang yang terakhir ini aku tidak yakin punya. Aku sudah lupa rasanya menggendong Schmong apalagi anakku sendiri. Mungkin ini hanya khayalanku saja mengenai rasa sayang. Apalah bedanya khayal dan nyata.
Ini kisah tentang Feromon Chinta, meski, ya, meski rambut (sering dikata bulu) ketiaknya aduhai gondrong kriwil-kriwil begitu, seperti rambut (yang ini mengapa tidak pernah dikata bulu?) kepalanya jika tidak di-smooth di-wolf cut begitu. Betapa yang seperti ini menyakitiku. Namun buat apa bertanya ketika apapun bisa menyakitiku, apapun kecuali kesakitanku sendiri. Bahkan ketika orangnya yang 'ku pikir kesakitan merasa biasa-biasa saja, aku tetap kesakitan. Jadi, ya, mungkin memang kesakitanku sendiri. Kesentimentilanku sendiri. Keromantisanku sendiri.
Rasanya seperti terjadi pada diriku sendiri atau seseorang yang 'ku sayangi. Atau memang aku menyayanginya. Aku menyayangi kalian seperti anak-anakku sendiri, mungkin karena anak-anakku sendiri, biologis maupun bukan, tidak ada yang menyayangiku. Sudah lama susah-payah 'ku sayangi diri sendiri. Belajar mencintai diri sendiri, itulah cinta terbesar dari semua, begitu kata Whitney. Itulah maka harus ditulis Chinta, karena memang bukan cinta. Cinta pada diri sendiri, besar ataupun kecil. Seekor lalat hinggap di bibir cangkir berisi teh hitam pahit.


No comments:
Post a Comment